Anda di halaman 1dari 25

Contoh Resep Dan Cara Pengerjaannya ( salep ).

dr. Hadi S
SIP : 123/DU-01/VII/2005
Jl. Tekukur 41 Samarinda
Samarinda, Feb 2015

R/ Salep 2-4 10
Adde
Camphora 0,5
m.f. ungt.
S.u.e

Pro. Hana

Alamat : Jl. Ceremai 33 Samarinda

Terjemahan Latin :
 R/ : Recipe = ambilah
 Adde : Tambahkan
 m.f.ungt : misce fac Unguentum : Campur dan buatlah salep
 s.u.e : Signa usus externus = tandailah untuk pemakaian luar
 pro : untuk.

I. Kelengkapan Resep :
1. Nama, SIP, alamat dokter = ada
2. Nomor resep = tidak ada
3. Incriptio = tidak ada
4. Invecatio = ada
5. Praescriptio= ada
6. Signatura = ada
7. Subcriptio = tidak ada
8. Nama,, alamat pasien= ada
II. Keterangan : ( Resep Standart, Buku referensi, Isi Zat Aktif, Keterangan Dosis, OTT,
Usul Perbaikan, dll )
 FMS Unguentum 2- 4 hal 48
R/ Acid Salicyl 2
Sulf praceipitat 4
Vaselin Flavum ad 100
 Buku referensi : FI edisi III, IMO, FMS, IRES KLS X
 Isi zat aktif : asam salisilat, sulfur praecipitatum, champora.
 Permasalahan :
1. Kamfer diberi etanol 95%, kemudian digerus dengan dasar salep. ( ires hal 42)

III. Monografi Kelarutan :


1. Asam Salisilat : larut dalam 4 bagian etanol (95%)p
2. Camphora: larut dalam 1 bagian etanol (95%) p.

IV. Penggolongan Obat :

No. Nama Bahan Golongan Obat


1. Asam Salisilat Obat Bebas
2. Sulfur Praecipitat Obat Bebas
3 champora Obat bebas

V. Perhitungan Dosis : -

VI. Penimbangan Bahan :

Jumlah E.D
No. Nama Bahan Perhitungan
Ditimbang Bahan
1. Asam Salisilat 10/100 x 2 = 0,2 g 0,2 g
2. Sulfur Praecipitat 10/100 x 4 = 0,4 g 0,4 g
3. Vaselin Flavum 10 – 0,6 g = 9,4 g 9,4 g
4. Camphora - 0,5 g
VII. Cara Kerja :
1. Ditimbang asam salisilat 0,2 g dan champora 0,5 g kemudian dimasukkan kedalam lumpang ditetesi
dengan etanol digerus ad larut
2. Ditimbang sulf praecip. 0,4 g, dimasukkan kedalam lumpang digerus ad homogen
3. Ditambahkan Vaselin Flavum sedikit demi sedikit kedalam mortir gerus sampai homogen.
4. Dikeluarkan dari mortir dan dimasukkan kedalam pot salep , Diberi etiket biru dan dikemas dengan
rapi.
5. serahkan ke pasien.

APOTEK SMKF TENGGARONG


JL. W. MONGINSIDI no 17
No. Tgl. Feb 2015
HANA
Dioleskan pada bagian yang sakit
OBAT LUAR

I. Informasi Yang Disampaikan :


 Aturan Pakai : untuk obat luar
 Cara pakai : dioleskan pada kulit yang sakit/ iritasi ( topical)
 Khasiat Obat : anti iritan, Antijamur.

terima kasih telah mengunjungi blog ini... :p semoga artikel ini bermanfaat... :D....
BAB 1

PENDAHULUAN

1. Maksud Praktikum

Adapun maksud dari praktikum farmasetika dasar ini yaitu :

a. Agar dapat mengetahui proses pembuatan sediaan salep (unguenta)

b. Agar dapat terampil mengerjakan resep-resep sediaan salep (ungenta)

2. Tujuan praktikum

Adapun tujuan praktikum ini yaitu :

1. Dapat membuat sediaan salep dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip kerja.

2. Dapat mengetahui fungsi dari masing-masing salep, efek samping salep, serta memberikan
informasi kepada pasien (edukasi)

BAB II

TINJAUAN PUSAKA

Menurut Farmakope Indonesia ed. III, salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep
yang cocok untuk mencapai hasil yang dimaksud harus memperhatikan peraturan-peraturan pembuatan
salep. Seperti yang tertera pada FI ed. III.

Peraturan-peraturan pembuatan salep:

1. Peraturan salep pertama

Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan
pemanasan

2. Peraturan salep kedua

Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada peraturan-peraturan lain, dilarutkan lebih
dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep :
jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis

3. Peraturan salep ketiga


Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian yang dapat larut dalam lemak dan air harus diserbuk lebih
dahulu, kemudian diayak dengan no. B40

4. Peraturan salep keempat

Salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin

Penggolongan Salep

• Menurut konsistensinya salep dibagi :

1) Unguenta : Salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega tidak mencair pada suhu biasa,
tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga

2) Cream : Suatu salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang dapat
dicuci dengan air

3) Pasta : Suatu salep yang banyak megandung lebih dari 50 % zat padat (serbuk). Suatu salep tebal
karena merupakan penutup/pelindung bagian kulit yang diberi

4) Cerata : Suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes), hingga
konsentrasi lebih keras

5) Gelones Spumae (Gel) : suatu salep yang lebih halus umumnya cair dan sedikit mengandung atau
tanpa mukosa, sebagai pelicin atau basis, biasanya terdiri dari campuran sederhana dari minyak dan
lemak dari titik lebur yang rendah. Washable jelly mengandung mucilagines, misalnya : gom, tragakan,
amylum.contoh : starch jellies (10 %) amylum dengan air mendidih

• Menurut efek terapinya salep dibagi :

1) Salep Epidermic

Melindungi kulit dan menghasilkan efek local.

Tidak diabsorpsi; kadang-kadang ditambahkan antiseptica, astringen, meredakan rangsangan.

Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin)

2) Salep Endodermic

Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam, tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian.

Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi local iritan

Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.

3) Salep Diadermic
Salep-salep supaya bahan-bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang
diinginkan. Misalnya pada salep yang mengandung senyawa mercuri, yodida, belladonnae.

Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao.

• Menurut dasar salepnya salep dibagi :

1) Salep hydropobic adalah salep-salep dengan bahan dasar berlemak.

Misalnya : campuran dari lemak-lemak, minyk lemak, malam tak tercuci dengan air.

2) Salep hydrophilic adalah salep yang kuat menarik air biasanya dasar salep tipe O/W atau seperti
dasar salep tipe hydropobic tetapi konsistensinya lebih lembek kemungkinan juga dengan tipe W/O
antara lain, campur sterol-sterol dan petrolatum.

Kualitas dasar salep yang baik ialah :

• Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruhi oleh suhu dan
kelembaban kamar.

• Mudah dipakai

• Dasar salep yang cocok

• Dapat terdistribusi merata ( Ilmu Resep;49-54)

Uraian bahan yang sering dipakai sebagai dasar salep

1. Vaselin, terdiri dari vaselin kuning dan vaselin putih.

Nama lain yang sering ditulis di dalambuku-buku Amerika dan Inggris ialah Petrolatum atau soft
Paraffin.

White petrolatum= white soft paraffin= vaselin putih

Yellow petroletum= yellow soft paraffin= vaselin kuning

Vaselin putih adalah bentuk yang dimurnikan/dipucatkan warnanya. Dalam pemucatan digunakan asam
sulfat, maka supaya hati-hati menggunakan vaselin putih untuk mata, akan terjadi iritasi mata oleh
kelebihan asam yang dikandung kalau tidak dinetralkan dulu dengan KOH atau base lain.

Vaselin hanya dapat menyerap air sebanyak 5 %. Dengan penambahan surfaktan seperti
Natriumlaurylsulfat, tween, maka akan mampu menyerap air lebih banyak, juga penambahan
cholesterol span kemampuan mendukung air dapat dinaikkan.
2. Jelene, Terdiri dari minyak hidrokarbon dan malam yang tersusun sedemikian hingga fase cair
mudah bergerak dengan demikian terbentuk gerakan dalam, hingga difusi obat ke sekelilingnya dapat
terjadi lebih baik.

Keuntungan pengguanaan jelene, dalam penyimpanan tetap dan cukup lunak. Jelene 50 W dikenal
sebagai plastibase (Squibb)

Tidak tercampurkan dengan Pix liquida, kamfer, mentol, gandapura, karena akan membuat jelene
encer.

3. Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25 %. Digunakan sebagai pelumas dan penutup
kulit dan lebih muda dipakai (Anief, 2004)

Dasar salep menurut FI IV

1. Dasar salep hidrokarbon

• Juga disebut dasar salep berlemak

• Hanya dapat bercampur dengan sejumlah kecil komponen berair

• Dimasukkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut
penutup

• Digunakan sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering, dan tidak tampak berubah dalam waktu
lama.

• Contoh : vaselin, paraffin cair, minyak nabati.

2. Dasar salep serap

Dibagi dalam 2 kelompok :

• Dasar salep yang bercampur dengan air membentuk emulsi w/o. Contoh : lanolin anhidrat

• Emulsi w/o yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan. Juga berfungsi sebagai
emolien.

Contoh : lanolin

3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air

• Dapat dicuci dengan air, cocok untuk dasar kosmetik

• Beberapa bahan obat lebih efektif dengan dasar salep ini daripada salep hidrokarbon

• Dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan pada kelainan dermatologis
• Contoh : dasar salep emulsi o/w, emulsifying ointment BP

4. Dasar salep larut air

• Disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air

• Keuntungan dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan yang tak larut air. Lebih tepat
disebut gel

• Contoh : gom arab, PEG, tragakan

BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

RESEP 12

I. Resep Asli/ Standar

A. Resep Standar

R/ Unguentum 2-4 (sulfur salicylatum) (Anonim, 1966)

Asam salisilat 2

Belerang endap 4

Vaselin 94

Unguentum peruvianum (Anonim, 1966)

Balsam peru 3

Vaselin kuning 27

B. Kelengkapan Resep

- Paraf dokter tidak tertera

C. Penggolongan Obat

O :

G :

W :
B : Asam alisilat, belerang endap, balsam peru (Haryanto, 2007)

D. Komposisi Bahan

Asam salisilat 0,2

Belerang endap 0,4

Vaselin 9,4

Balsam peru 1

Vaselin kuning 9

II. Uraian Bahan

1. Asam Salisilat

a. Sinonim : Acidum salicylicum (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Keratolitikum, anti fungi

c. Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih;

hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam

d. Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah larut dalam
kloroform P dan dalam eter P; larut dalam ammonium asetat P, dinatrium hidrogenfospat P, kalium
sitrat P dan natriumsitrat P

2. Belerang Endap

a. Sinonim : Sulfur praecipitatum (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Antiskabies

c. Pemerian : Tidak berbau; tidak berasa

d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida P; sukar larut
dalam minyak zaitun P, sangat sukar larut dalam etanol (95%) P

3. Vaselin Putih

a. Sinonim : Vaselinum album (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep


c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan
dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir
tidak berasa.

d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam
eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.

4. Balsam Peru

a. Sinonim : Balsamum peruvianum (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Antiseptikum ekstern

c. Pemerian : Cairan kental, lengket tidak bersekat; coklat tua, dalam lapisan tipis berwarna coklat,
transparan kemerahan; bau aromatic khas menyerupai vanillin

d. Kelarutan : Larut dalam kloroform P; sukar larut dalam eter P, dalam eter minyaktanah P dan
dalam asam asetatglasial P. Dalam etanol (90%) P Campur 1 bagian volume dengan 1 volume bagian
etanol (90%) P; terjaddengi larutan jernih yang dengan penambahan 2 bagian volume etanol (90%) P,
larutan menjadi keruh.

5. Vaselin Kuning

a. Sinonim : Vaselinum flavum (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep

c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak
berbau; hampir tidak berasa.

d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam
eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.

III. Penimbangan

1. Asam Salisilat : 10/100 x 2 = 0,2 g

2. Belerang Endap : 10/100 x 4 = 0,4 g

3. Vaselin Putih : 10/100 x 94 = 9,4 g

4. Balsam Peru : 10/30 x 3 = 1 g

5. Vaselin Kuning :10/30 x 27 = 9 g

IV. Cara Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan

2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai penimbangan

3. Asam salisilat ditetesi etanol 95 %, lalu ditambahkan belerang digerus hingga halus dan homogen,
disisihkan

4. Digerus sebagian vaselin kuning, kemudian ditambahkan campuran (3) sedikit-sedikit, dan
ditambahkan sisa vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen.

5. Ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol 95 % , digerus hingga halus dan homogen

6. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah
diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya

7. Diberi etiket biru

VI. Penandaan

Etiket biru

VII. Edukasi

1. Obat ini berkhasiat sebagai obat anti jamur pada kulit

2. Obat ini digunakan pada bagian yang sakit

3. Simpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya

RESEP 13

I. Resep Asli/ Standar

A. Resep Standar

R/ Kampora Spirinsa (kampora solution spiritu) (Anonim, 1966)

Kamper 10

Etanol (70 %) 100


Ungt. Acidi Boric (CMN,178)

Acid boric 5

Vaselin flavum 45

B. Kelengkapan Resep

- Paraf dokter tidak tertera

C. Penggolongan Obat

O :

G :

W :

B : Kamper, acid boric (Haryanto, 2007)

D. Komposisi Bahan

Kamfer 1g

Etanol 11,4 ml

Acid boric 1g

Vaselin flavum 9 g

II. Uraian Bahan

1. Kamper

a. Sinonim : Camphora (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Antiiritan

c. Pemerian : Hablur putih atau massa hablur; tidak berwarna atau putih; bau khas; tajam; rasa
pedas dan aromatic

d. Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian etanol (95%) P, dalam 0,25 bagian
kloroform P; sangat mudah larut dalm eter P; mudah larut dalam minyak lemak.

2. Etanol

a. Sinonim : Aethanolum, alcohol (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Zat tambahan


c. Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa
panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru tidak berasap

d. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.

3. Acid Boric

a. Sinonim : Asam borat, acidum boricum (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Antiseptikum ekstern

c. Pemerian : Hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilat tidak berwarna; kasar; tidak berbau;
rasa agak asam dan pahit kemudian manis

d. Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol (95%)
P dan dalam 5 bagian gliserol P.

4. Vaselin kuning

a. Sinonim : Vaselinum flavum (Anonim, 1979)

b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep

c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak
berbau; hampir tidak berasa.

e. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam
eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.

III. Penimbangan

1. Kamfer : 10/100 x 10 = 1 g

2. Etanol : 100 – 10 = 90 g

90/100 x 10 = 9 g

V = m / p = 9 g/ 0,7904 = 11,386 = 11,4 ml

3. Acid boric : 10/50 x 5 = 1 g

4. Vaselin kuning : 10/50 x 45 = 9 g

IV. Cara Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan


2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan

3. Kamfer ditetesi sedikit etanol, digerus, ditambahkan acid boric, gerus hingga halus dan homogen

4. Ditambahkan vaselin kuning pada campuran (3) digerus hingga halus dan homogen

5. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan timbanglah berat pot yang telah
diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya

6. Diberi etiket biru

VI. Penandaan

Etiket biru

VII. Edukasi

1. Obat ini berfungsi untuk membasmi mikroorganisme yang berada dipermukaan kulit

2. Obat ini digunakan pada bagian yang sakit

3. Simpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya

RESEP 14

I. Resep Asli/ Standar

A. Resep Asli

R/ iodoform

Aqua aa 0,5

Vaselin flavum ad 10

B. Kelengkapan Resep

- Paraf dokter tidak tertera

C. Penggolongan Obat

O :

G :
W : Iodoform (Haryanto, 2007)

B :

D. Komposisi Bahan

Iodoform 0,5

Aqua 0,5

Vaselin Flavum 9 g

II. Uraian Bahan

1. Iodoform

a. Sinonim : Formene tri-iode, tri-iodo methane (Anonim, 1929)

b. Khasiat : Antiseptik

c. Pemerian : Seperti Kristal atau serbuk kuning, kasar, keras, tidak berasa

d. Kelarutan : Tidak dapat larut dalam air, larut dalam 1 bagian dalam 60 bagian alcohol, 1 dalam 3
bagian karbondisulfida, 1 dalam 1 bagian kloroform, 1 dalam 8 bagian eter, 1 dalam 100 bagian gliserol,
larut dalam kolodion.

2. Aqua Destillata

a. Sinonim : Air suling (Anonim, 1979)

b. Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa

3. Vaselin kuning

a. Sinonim : Vaselinum flavum (FI III,633)

b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep

c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak
berbau; hampir tidak berasa

d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam
eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.
III. Penimbangan

1. Iodoform : 0,5 g

2. Aqua destillata : 0,5 g

3. Vaselin kuning : [ 10 – (0,5 + 0,5)] = 9 g

IV. Cara Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan

2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan

3. Iodoform digerus, lalu ditetesi dengan aqua, digerus hingga halus dan homogen

4. Ditambahkan vaselin kuning pada campuran (3) digerus hingga halus dan homogen

5. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah
diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya

6. Diberi etiket biru

VI. Penandaan

Etiket biru

VII. Edukasi

1. Obat ini berkhasiat sebagai obat koreng

2. Obat ini digunakan pada bagian yang sakit

3. Simpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya


BAB IV

PEMBAHASAN

RESEP 12

Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang
kebetulan berada di permukaan kulit dan digunakan untuk pemakaian luar. Resep ini mengandung dua
bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.

I. Zat aktif yang terkandung

a. Asam Salisilat

Mempunyai khasiat sebagai keratolitikum yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi
5-10 %, dan berkhasiat sebagai anti fungi yaitu fungsid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6 %
dalam salep.

b. Balsam Peru

Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern yaitu mikrobisida yang luas terhadap kuman, jamur,
dan spuranya, ragi, virus, serta protozoa.

c. Belerang Endap

Elemen ini memiliki khasiat bakterisid dan fungisid lemah berdasarkan dioksidasinya menjadi asam
penta thionat oleh kuman tertentu dikulit.

2. Zat tambahan yang terkandung

a. Vaselin kuning

Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep

Dalam pelaksanaan resep keduabelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah menyiapkan alat yang
diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta
anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian
diambil bahan-bahan yang diperlukan, setelah itu ditimbang asam salisilat sebanyak 200 mg, belerang
400 mg, vaselin kuning 9 gr, dan balsam peru 1 g sebelum ditimbang setarakan dulu timbangan dengan
biji gotri karena balsam peru ini bersifat cairan kental sehingga ditaruh dalam kaca arloji. Lalu
dimasukkan asam salisilat ke dalam mortir, ditetesi etanol secukupnya, lalu digerus, sebelum menguap
ditambahkan belerang, digerus hingga halus dan homogen, disisihkan. Kemudian dimasukkan sebagian
vaselin kuning, digerus dan ditambahkan hasil gerusan asam salisilat dan belerang, dan dimasukkan lagi
sisa vaselin kuning, digerus hingga halus. Lalu yang terakhir ditambahkan balsam peru yang sudah
ditetesi etanol, dimasukkan sedikit-sedikit, digerus hingga halus dan homogen. Balsam peru
ditambahkan terakhir karena jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya. Salep dikemas ke dalam
pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui
bobot bersihnya. Dikemas dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral.

RESEP 13

Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang
kebetulan berada di permukaan kulit dan digunakan pada bagian yang sakit. Resep ini mengandung dua
bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.

1. Zat aktif yang terkandung

a. Kamfer

Mempunyai khasiat sebagai anti iritan

b. Acid boric

Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan
berada di permukaan kulit

2. Zat tambahan yang terkandung

a. Vaselin kuning

Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep

b. Etanol

Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai pelarut

Dalam pelaksanaan resep ketigabelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah disiapkan alat yang
diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta
anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian
diambil bahan-bahan dan dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Dimasukkan kamfer ke dalam
mortir, lalu digerus hingga halus, ditambahkan acid boric, digerus hingga halus dan homogen, disisihkan.
Kemudian dimasukkan sebagian vaselin kuning, digerus dan ditambahkan hasil gerusan kamfer dan acid
boric, dan dimasukkan lagi sisa vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. Salep dikemas ke
dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk
mengetahui bobot bersihnya. Dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral..
RESEP 14

Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai obat koreng. Resep ini mengandung dua bahan obat
yaitu zat aktif dan zat tambahan.

I. Zat aktif yang terkandung

a. Iodoform

Mempunyai khasiat sebagai antiseptic yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan berada di
permukaan kulit, dan untuk membersihkan luka di tempat infeksi.

2. Zat tambahan yang terkandung

a. Vaselin kuning

Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep

b. Aqua destillata

Mempunyai khasiat sebagai pelarut

Dalam pelaksanaan resep keempatbelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah disiapkan alat yang
diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta
anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian
diambil bahan-bahan dan dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Dalam pengambilan bahan
iodoform harus lebih cermat karena iodoform bersifat oksidator sehingga harus ditutup agar tidak
terkena cahaya matahari. Lalu dimasukkan iodoform ke dalam mortir, digerus dan ditetesi dengan aqua
destillata, gerus hingga halus dan homogen. Aqua destillata disini berfungsi sebagai pelarut karena
iodoform bersifat oksidator sehingga bila digunakan etanol sebagai pelarutnya iodoform dapat terbakar.
Kemudian dimasukkan vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. Salep dikemas ke dalam pot
yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui
bobot bersihnya. Dikemas dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral.

BAB V

PENUTUP

1. Kesimpulan

a. Pada resep ke-12 mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada
di permukaan kulit. Dan hasilnya berupa sediaan salep berwarna coklat kehitaman yang komposisi
bahannya terdapat dua dasar salep yaitu vaselin kuning dan vaselin putih, sehingga dalam pembuatan
salepnya hanya digunakan salah satu dari dasar salep tersebut.

b. Pada resep ke-13 salep mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan
berada di permukaan kulit. Hasilnya berupa sediaan salep berwarna kuning keputihan yang
pembuatannya tidak menggunakan etanol karena jumlahnya yang terlalu besar sehingga dapat
memecahkan kamper.

c. Pada resep ke-14 salep mempunyai khasiat sebagai obat koreng. Hasilnya berupa sediaan salep
berwarna ungu. Dalam resep ini zat aktifnya bersifat oksidator sehingga memiliki perlakuan khusus. Dan
harus digerus hingga benar-benar homogen.

2. Saran

Agar praktikan dapat membersihkan alat-alat yang digunakan dengan baik sehingga tidak ada sisa-sisa
bahan yang dapat mempengaruhi hasil sediaan selanjutnya.
3.2. Bahan
 Chloramphenicol 200 mg
 Propilen glikol 1 gr
 Adeps lanae 1 gr
 Vaselin Album ad 10
3.3. Formula
R/ Chloramphenikol 200 mg
Propilen glikol 1 gr
Adeps lanae 1r
Vaselin Albumm ad 10
#
Pro : Liana

3.4. Perhitungan Bahan


Chloramphenikol 200 mg
Propilen glikol 1 gr
Adeps lanae 1 gr
Vaselin album ad 10
Vaselin album yang di perlukan : 10 – (0,2 + 1 + 1 ) = 7,8 gr
3.5. Prosedur
3.5.1. Pembuatan Salep Antibiotik
 Ditimbang Chloramphenikol , Propilen glikol , Adeps lanae , vaselin album masing-masing 200
mg , 1 gr, 1 gr, dan 7,8 gr .
 Digerus Chloramphenikol dan propilen glikol didalam lumpang hingga homogen kemudian
masukkan Adeps lanae dan Vaselin album kedalam lumpang tersebut dan gerus kembali hingga
homogen
 Diletakkan salep yang telah homogen di atas kertas perkamen dengan bantuang sudip
 Digulung kertas perkamen yang telah terdapat salep hingga muat masuk ke dalam tube yang
telah di sediakan
 Dimasukkan kertas perkamen ke dalam tube kemuadian jepit lubang tube dengan bantuan pinset
dan keluarkan kertas perkamen secara perlahan hingga salep tetap berada di dalam tube
 Dilipat lubang tube
3.5.2. Evaluasi Homogenitas
 Diambil dua objek glass
 Diletakkan sampel salep yang telah di gerus ke atas objek glass
 Ditutup dengan objek glass kedua kemudian amati penyebaran partikel pada objek glass

3.5.3. Evaluasi Kebocoran Tube


 Dibungkus tube yang telah berisi salep dengan tissue, masukkan salep kedalam oven yang telah
di atur suhunya sekitar 80oC
 Ditunggu hingga beberapa menit
 Diamati kebocoran tube
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1 Uji Kebocoran
Uji kebocoran dilakukan dengan menggunakan oven dan kertas penyerap. Tube diletakkan diatas
loyang dengan posisi horizontal kemudian dimasukkan kedalam oven pada suhu 800C selama 1
jam. Tube tidak boleh bocor dan kertas penyerap harus tetap kering,
Pada uji kebocoran salep antibiotik yang dilakukan kertas penyerap tidak basah dan tidak terjadi
kebocoran pada tube.
4.1.2. Uji Homogenitas
Jika dioleskan pada sekeping kaca (gelas objek) harus menunjukkan susunan yang homogen.
Pada salep antibiotik setelah dilakukan uji homogenitas terlihat partikelnya homogen pada kaca
objek.
4.2. Pembahasan
Pada uji homogenitas yang dilakukan dengan menggunakan gelas objek di dapat bahwa
partikelnya menunjukkan susunan yang homogen. Hal ini menunjukkan bahwa salep
menunjukkan susunan homogenitas yang bagus. Dengan demikian praktikan dapat dikatakan
berhasil pada proses pencampuran. Pada saat uji kebocoran di dapati kertas penyerap tidak
basah, hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi kebocoran tube. Dengan demikian salep
antibiotik dapat dikatakan lulus uji kebocoran tube.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
 Hasil evaluasi salep pada praktikum kali ini adalah :
1. Uji homogenitas
Dari hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa salep kelompok telah memenuhi syarat
homogenitas.
2. Uji kebocoran
Dari hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa salep kelompok 1 belum memenuhi syarat uji
kebocoran karena pada tube terdapat kebocoran yang mengakibatkan salep tidak dapat dikemas
dengan baik.
4.2. Saran
 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya lebih memperhatikan kesterilan ruangan sehingga
pembuatan salep antibiotik dapat dilaksanakan dengan baik.
 Sebaiknya praktikan memahami setiap prosedur percobaan yang ada sehingga dapat
melaksanakan praktikum dengan baik.
 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya tetap memperhatikan kondisi tube agar tetap tidak terjadi
kebocoran.
 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya, bahan aktif diganti dengan bahan obat yang lain seperti
golongan anti biotic yang lain, ertomisin, clindamisin dan basitrasil.
 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya dasar salep digantikan dengan dasar salep yang lain,
vaselin flava, liquin parafin dan minyak mineral.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. (1994). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Halaman 125-126.
Anief, Moh. (2007). Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 110.
Ansel, Howard C. (1989). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Halaman 502-
513.
Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Halaman 18,999,1039,1086.
Depkes RI. (2012). Cara Pembuatan Obat Yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Halaman 292.
Jas, Admar. (2004). Perihal Obat dengan Berbagai Bentuk Sediaannya. Medan:Universitas Sumatera
Utara Press. Halaman53,54,56.
Lachman, Leon.(1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi 3. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Halaman 1653.
Paju, Niswah. (2013). “Uji Efektivitas Salep Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.)Steenis)
pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang Terinfeksi Bakteri Staphylococcus aureus”.Jurnal
Ilmiah Farmasi. Manado: Volume (02), Nomor (01), Februari 2013. Halaman 54.