Anda di halaman 1dari 25

RESUME UNDANG-UNDANG NO.

4 TAHUN 2019
TENTANG KEBIDANAN
Resume ini disusun untuk memenuhi tugas remedial mata kuliah Etikolegal dalam
Kebidanan
Dosen Pengampu: Desi Hidayati SST., MPH

Oleh:

Lidya Rizky Ramdhanisa


P17324118049

Tingkat 1-A

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG


JURUSAN KEBIDANAN BANDUNG
2019

1
BAB I
KETENTUAN UMUM
Kebidanan, dalam memberikan pelayanan sama halnya dengan bidan yaitu
pelayanan yang diberikan kepada perempuan selama masa sebelum hamil, masa
kehamilan, persalinan, pasca persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, balita, dan anak
prasekolah, termasuk kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sesuai
dengan tugas dan wewenangnya. Pelayanan yang diberikan ini merupakan bagian
integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan baik secara
mandiri, kolaborasi, dan/atau rujukan. Sebelum seorang bidan dapat memberikan
pelayanan kebidanan yang berupa asuhan kebidanan yaitu pelayanan yang
berkesinambungan dan menyeluruh, dimana pada proses pengambilan keputusan serta
tindakan yang dilakukan sesuai dengan ruang lingkup dan berdasar ilmu juga kiat
kebidanannya. Bidan merupakan seorang perempuan yang telah menyelesaikan
program penddidikan kebidanan baik dalam negeri maupun luar negeri yang diakui
secara sah oleh pemerintah pusat dan telah memenuhi syarat untuk melakukan praktik.
Uji kompetensi dilakukan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku seseorang. Selain itu, uji kompetensi juga dilakukan kepada seorang bidan.
Bidan yang lulus uji kompetensi akan diberikan surat pengakuan tehadap kompetensi
bidan tersebut. Ketika bidan sudah memiliki sertifikat kompetensi, maka bidan dapat
diakui sebagai bidan yang kompeten yaitu bidan yang memiliki kemampuan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik. Sedangkan sertifikat profesi
merupakan surat tanda pengakuan untuk melakukan praktik kebidanan yang diperoleh
lulusan pendidikan profesi. Setelah memiliki sertifikat kompetensi selanjutnya bidan
melakukan registrasi yaitu bentuk pencatatan resmi sehingga memiliki pengakuan
secara hukum untuk mejalankan praktik kebidanan. Selanjutnya bidan tersebut akan
diberikan STR (Surat Tanda Registrasi) sebagai bukti tertulis yang diberikan konsil
kebidanan kepada bidan yang telah teregistrasi.
Seorang bidan yang akan mendirikan praktik kebidanan harus memiliki SIPB
(Surat Izin Praktik Bidan) yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota.
Fasilitas praktik kebidanan ini sebagaimana dimaksud berupa tempat atau alat untuk

2
menyelenggarakan pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif.
Bidan Warga Negara Asing adalah bidan yang berstatus bukan Warga Negara
Indonesia. Organisasi Profesi Bidan adalah wadah yang menghimpun bidan secara
nasional dan berbadan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Konsil Kebidanan yang selanjutnya disebut Konsil adalah bagian dari Konsil
Tenaga Kesehatan Indonesia yang tugas, fungsi, wewenang, dan keanggotaannya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Wahana Pendidikan
Kebidanan adalah Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang digunakan sebagai tempat
penyelenggaraan pendidikan Kebidanan. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang
dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah Daerah adalah
kepala daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom, Menteri
adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
Penyelenggaraan kebidanan berdasarkan perikemanusiaan, nilai ilmiah, etika
dan profesionalitas, manfaat, keadilan, perlindungan serta keselamatan klien.

BAB II
PENDIDIKAN KEBIDANAN
Pendidikan kebidanan terdiri dari pendidikan akademik, vokasi, dan profesi.
Pendidikan akademik meliputi program sarjana, magsiter dan doktor. Sebagai bidan jika
sudah menyelesaikan pendidikan di tingkat akademik maka bisa melanjutkan program
pendidikan profesi. Pendidikan vokasi yaitu pendidikan bidan dengan lulusan D3 profesi
yaitu program lanjutan dari program pendidikan setara sarjana atau program sarjana.
Pendidikan bidan diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Pusat atau masyarakat yang telah memenuhi syarat undang-undang yang
harus menyediakan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai Wahana Pendidikan
Kebidanan.

3
Penyelenggara pendidikan kebidanan hanya dapat menerima mahasiswa
dengan kuota nasional yang didasarkan pada kebutuhan bidan di daerah masing-
masing. Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan kebidanan harus
memiliki dosen dan tenaga kependidikan yang sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Dosen pendidikan kebidanan melakukan pendidikan, penelitian,
pengabdian kepada masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Tenaga pendidik atau
dosen boleh berasal dari PNS maupun non PNS. Mahasiswa Kebidanan pada akhir
masa pendidikan vokasi harus mengikuti Uji Kompetensi yang merupakan syarat
kelulusan. Uji Kompetensi diselenggarakan sesuai peraturan perundang-undangan oleh
perguruan tinggi dan bekerjasama dengan organisasi profesi. Uji Kompetensi ditujukan
untuk mencapai standar kompetensi bidan yang disahkan oleh menteri. Setelah
mahasiswa lulus dari Uji Kompetensi maka akan mendapatkan sertifikat kompetensi
yang diterbitkan oleh perguruan tinggi.

BAB III
REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK
Jika seorang bidan ingin menjalankan praktik kebidanan maka ia wajib memiliki
STR (Surat Tanda Register) yang diberikan oleh Konsil kepada Bidan yang telah
memenuhi syarat tertentu, masa berlaku STR ini hanya 5 tahun dan dapat diregistrasi
ulang setelah memenuhi persyaratan. Konsil harus menerbitkan STR paling lama 30
hari kerja terhitung sejak pengajuan STR diterima. Untuk menjalakan praktik, Bidan
juga wajib memiliki izin praktek yang disebut SIPB (Surat Izin Praktik Bidan) yang
diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten atau kota. SIPB didapatkan dengan cara
bidan harus memiliki STR dan tempat praktik. SIPB sendiri berlaku apabila STR masih
berlaku dan bidan berpraktik di tempat yang tercantum dalam SIPB. Seorang Bidan
memiliki paling banyak 2 SIPB yang berlaku di Tempat Praktik Mandiri Bidan dan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan selain di Tempat Praktik Mandiri Bidan. SIPB tidak akan
berlaku apabila bidan meninggal dunia, habis masa berlakunya, dicabut berdasarkan
peraturan, dan permintaan sendiri. Bidan yang tidak menjalankan praktek sesuai

4
dengan SIPB maka akan dikenakan sanksi berupa teguran tertuklis, penghentian
kegiatan atau pencabutan izin.

BAB IV
BIDAN WARGA NEGARA INDONESIA
LULUSAN LUAR NEGERI
Setiap bidan warga negara Indonesia lulusan luar negeri yang akan menjalankan
praktik kebidanan di Indonesia wajib memiliki STR dan SIPB yang diperoleh setelah
mengikuti evaluasi kompetensi berupa penilaian kelengkapan administrasi dan
penilaian kemampuan melakukan praktik kebidanan. Evaluasi kompetensi yang
dilakukan adalah penilaian kelengkapan administratif dan penilaian kemampuan
melakukan praktik kebidanan.

BAB V
BIDAN WARGA NEGARA ASING
Bidan Warga Negara Asing dapat melaksanakan praktik kebidanan di Indonesia
berdasarkan permintaan pengguna Bidan Warga Negara Asing dan harus
mendapatkan izin Pemerintah Pusat untuk mempertimbangkan ketersediaan Bidan
yang ada di Indonesia. Bidan Warga Negara Asing wajib memiliki STR sementara dan
SIPB, dengan cara melakukan evaluasi kompetensi seperti: penilaian kelengkapan
administratif, keabsahan ijazah; surat keterangan sehat fisik dan mental; dan surat
pernyataan akan mematuhi ketentuan etika profesi. Mengikuti evaluasi kompetensi
seperti; uji kemampuan melakukan praktik kebidanan meliputi, Uji kompetensi. Setelah
melakukan evaluasi kompetensi dan mendapatkan sertifikat kompetensi maka Bidan
Warga Negara Asing dapat mengajukan STR sementara dan SIPB. STR sementara
dan SIPB berlaku hanya 1 tahun dan dapat di perpanjang 1 tahun berikutnya.

5
BAB VI
PRAKTIK KEBIDANAN
Praktik kebidanan di lakukan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan sesuai kompetensi, kewenangan, kode etik, standar profesi,
standar pelayanan profesi dan SOP. Bidan lulusan pendidikan D-III hanya dapat praktik
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan lulusan Profesi dapat melaksanakan praktik di
PMB dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan. PMB hanya dapat di satu tempat dan wajib
memasang papan nama praktik, dan jika tidak akan di kenakan sanksi. Sarana dan
prasarana di PMB harus sesuai dengan standar.
Dalam menyelenggarakan praktik kebidanan, bidan bertugas untuk memberikan
pelayanan kesehatan kepada Ibu (Dari pra-konsepsi hingga nifas, kegawat daruratan
dan deteksi dini), memberikan pelayanan kesehatan kepada Anak (Seperti asuhan
untuk BBL, memberikan imunisasi, dan memantau tumbuh kembang anak),
memberikan pelayanan kesehatan Reproduksi perempuan dan pemberikan KB
(memberikan edukasi, konseling, dan pelayanan kontrasepsi), melaksanakan tugas
berdasarkan wewenang dan di lakukan bersama/sendiri, dengan tanggung jawab dan
akuntabel (seperti pelimpahan mandat secara tertulis oleh dokter kepada bidan dan
mandat delegatif dari pemerintah pusat kepada bidan).
Dalam menyelenggarakan praktik kebidanan, bidan berperan untuk pemberi
pelayanan kebidanan, pengelola pelayanan kebidanan, penyuluhan, konselor, pendidik,
pembimbing, fasilitator klinik, pemberdayaan masyarakat, dan peneliti.

BAB VII
HAK DAN KEWAJIBAN
1. Hak Bidan :
a. Memperoleh pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
kompetensi,kewenangan, dan mematuhi kode etik, standar profesi, standar
pelayanan profesi, dan standar prosedur operasional.
b. Memperoleh informasi yang benar, jelas, jujur, dan lengkap dari Klien dan/atau
keluarganya.

6
c. Menolak keinginan Klien atau pihak lain yang bertentangan dengan kode etik,
standar profesi,standar pelayanan, standar prosedur operasional, dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
d. Menerima imbalan jasa atas Pelayanan Kebidananyang telah diberikan.
e. Memperoleh fasilitas kerja sesuai dengan standar; dan mendapatkan
kesempatan untuk mengembangkan profesi.
2. Kewajiban Bidan :
a. Memberikan Pelayanan Kebidanan sesuai dengan kompetensi, kewenangan,
mematuhi kode etik, standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur
operasional.
b. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan lengkap mengenai tindakan
kebidanan kepada klien dan/atau keluarganya sesuai kewenangannya.
c. Memperoleh persetujuan dari klien atau keluarganya atas tindakan yang akan
diberikan.
d. Merujuk Klien yang tidak dapat ditangani ke dokter atau Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
e. Mendokumentasikan Asuhan Kebidanan sesuai dengan standar.
f. Menjaga kerahasiaan kesehatan Klien.
g. Menghormati hak Klien.
h. Melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari dokter sesuai dengan
Kompetensi Bidan.
i. Melaksanakan penugasan khusus yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
j. Meningkatkan mutu Pelayanan Kebidanan.
k. Mempertahankan dan meningkatkan pengetahuandan/atau keterampilannya
melalui pendidikan dan/atau pelatihan.
l. Melakukan pertolongan gawat darurat.
3. Hak Klien :
a. Memperoleh Pelayanan Kebidanan sesuai dengan kompetensi, kode etik,
standar profesi, standar pelayanan, dan standar operasional prosedur.
b. Memperoleh inforrnasi secara benar dan jelas mengenai kesehatan Klien,
termasuk resume isi rekam medis jika diperlukan.

7
c. Meminta pendapat Bidan lain.
d. Memberi persetujuan atau penolakan tindakan Kebidanan yang akan dilakukan.
e. Memperoleh jaminan kerahasiaan kesehatan Klien.
4. Kewajiban Klien :
a. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujurmengenai kondisi
kesehatannya.
b. Mematuhi nasihat dan petunjuk Bidan.
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di FasilitasPelayanan Kesehatan.
d. Memberi imbalan jasa atas Pelayanan Kebidananyang diterima.
Bidan memberikan kerahasiaan klien hanya atas dasar kepentingan kesehatan
Klien, permintaan aparatur penegak hukum dalamrangka penegakan hukum,
persetujuan Klien sendiri, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VIII
ORGANISASI PROFESI BIDAN
Bidan berhimpun dalam satu wadah organisasi profesi bidan. Apabila di
Indonesia disebut dengan Ikatan Bidan Indonesi (IBI). Fungsinya antara lain untuk
meningkatkan/mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, martabat, etik profesi
serta bertujuan untuk mempersatukan, membina dan memberdayakan bidan dalam
menunjang pembangunan kesehatan. Untuk mengembangkan ilmu dan standar
pendidikan kebidanan Organisasi Profesi Bidan dapat membentuk Badan Otonom
dalam Organisasi Profesi.

BAB IX
PENDAYAGUNAAN BIDAN
Dalam rangka pemerataan dan pemenuhan kebutuhan Pelayanan Kebidanan,
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat melakukan penggunaan
Bidan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pendayagunaan Bidan
sebagaimana dimaksud yaitu memperhatikan aspek pemerataan, pemnfaatan, dan

8
pengembangan. Pendayagunaan Bidan terdiri atas penyandagunaan di dalam dan luar
negeri dan dilaksanakan melalui penempatan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB X
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pemerintahan Pusat dan pemerintahan daerah melakukan pembinaan dan
pengawasan Bidan dengan melibatkan Konsil dan Organisasi Profesi Bidan sesuai
dengan kewenangan masing-masing. Pembinaan dan pengawasan diarahkan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, melindungimasyarakat dari tindakan bidan
yang tidak sesuai standar, dan memberikan kepastian hukum bagi bidan dan
masyarakat. Pembinaan dan pengawasan ini dilaksanakan dengan ketentuan
perundang-undangan.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, setiap orang yang sedang
mengikuti pendidikan Kebidanan diploma empat dapat berpraktik sebagai Bidan lulusan
diploma empat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan setelah lulus pendidikan kecuali
praktik mandiri Bidan. Penerbitan STR yang masih dalam proses, diselesaikan
berdasarkan prosedur sebelum Undang Undang ini diundangkan. Sebelum Undang-
Undang ini mulai berlaku. STR dan SIPB yang telah dimiliki oleh Bidan sebelum
Undang-Undang ini diundangkan, dinyatakan tetap berlaku sampai jangka waktu
STR dan SIPB berakhir. Bidan lulusan pendidikan Kebidanan di bawah diploma tiga
Kebidanan yang telah melakukan Praktik Kebidanan sebelum Undang-Undang ini
diundangkan masih tetap dapat melakukan Praktik Kebidanan untuk jangka waktu
paling lama Bulan Oktober Tahun 2020. Bidan lulusan pendidikan diploma tiga dan
Bidan lulusan pendidikan diploma empat dapat melaksanakan.

9
Praktik Kebidanan secara mandiri di Tempat praktik Mandiri Bidan untuk jangka
waktu paling lama 7 (tujuh) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan. Bidan
lulusan pendidikan diploma tiga juga dapat mengikuti penyetaraan Bidan lulusan
pendidikan profesi melalui rekognisi pembelajaran lampau. Rekognisi pembelajaran
lampau dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perllndang-undangan.
Pelaksanaan Registrasi ulang untuk Bidan yang lulus pendidikan sebelum Tahun 20l3
melampirkan ijazah sebagai pengganti Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi.

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP
Peraturan pelaksanaan dari undang-undang ini harus ditetapkan paling lama 2
tahun terhitung sejak Undang-undang ini diundangkan. Pada saat undang-undang ini
mulai berlaku, dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
berdasarkan undang-undang ini. Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan. Perundang-undangan ini penempatannya di dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia agar setiap orang mengetahuinya.

10
MALPRAKTIK DALAM ASUHAN NIFAS
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas remedial mata kuliah Etikolegal dalam
Praktik Kebidanan.
Dosen pengampu: Desi Hidayati SST., MPH

Oleh:

Lidya Rizky Ramdhanisa


P17324118049

Tingkat 1-A

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG

JURUSAN KEBIDANAN BANDUNG

2019

11
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat
dan karunia-Nya, penyusunan makalah dengan judul “Malpraktik dalam Asuhan Nifas”
sebagai salah satu tugas remedial mata kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan
dapat diselesaikan.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Desi Hidayati SST., MPH selaku
dosen pengampu mata kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan, serta kepada
seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Saya menyadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna
untuk itu saya harap pembaca dapat memberi kritik dan saran yang membangun demi
penyempurnaan makalah.

Bandung, Juni 2019

Penyusun

12
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................12


DAFTAR ISI .....................................................................................13
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................14
1.1 Latar Belakang ....................................................................14
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................14
1.3 Tujuan .................................................................................14
BAB II TINJAUAN TEORI ...............................................................15
2.1 Refleksi Praktik Kebidanan ... Error! Bookmark not defined.
2.2 Model Praktik Kebidanan ...... Error! Bookmark not defined.
2.3 Prinsip Bidan dalam Praktik KebidananError! Bookmark not defined.
2.4 Malpraktik ............................. Error! Bookmark not defined.
2.5 Jenis-Jenis Malpraktik dan HukumnyaError! Bookmark not defined.
2.6 Masa Nifas ............................ Error! Bookmark not defined.
BAB III STUDI KASUS ....................................................................22
3.1 Kasus Malpraktik dalam Asuhan NifasError! Bookmark not defined.
3.2 Pembahasan Hukum ............. Error! Bookmark not defined.
BAB IV PENUTUP ...........................................................................24
4.1 Kesimpulan .........................................................................24
4.2 Saran ..................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................24

13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akhir–akhir ini sering kita menemukan dalam pemberitaan media massa adanya
peningkatan dugaan kasus malpraktik dan kelalaian medis di Indonesia, terutama yang
berkaitan dengan kesalahan diagnosis bidan yang berdampak buruk terhadap
pasiennya. Media massa marak memberitahukan tentang kasus gugatan/tuntutan
hukum (perdata dan pidana) kepada bidan, dokter dan tenaga medis lain, dan
manajemen rumah sakit yang diajukan masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi
korban dari tindakan malpraktik atau kelalaian medis.
Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus–kasus
itu terkatagori malpraktik medis ataukah sekedar kelalaian (human error) dari
bidan/dokter. Perlu diketahui dengan jelas, sejauh ini di negara kita belum ada
ketentuan hukum tentang standar profesi kebidanan yang bisa mengatur kesalahan
profesi.
Malpraktik masih menjadi topik utama dalam dunia kesehatan teruatama di
Indonesia akhir-akhir ini. Berbagai praktik kesehatan temasuk kedokteran dan
keperawatan kini diarahkan untuk mencegah terjadinya malpraktik. Malpraktik
merupakan suatu tindakan tenaga profesional yang bertentangan dengan Standard
Operating Procedure (SOP), kode etik profesi, serta undang-undang yang berlaku (baik
disengaja maupun akibat kelalaian) yang mengakibatkan kerugian dan kematian
terhadap orang lain. Standar pelayanan kesehatan adalah suatu pernyataan tentang
mutu yang diharapkan, yaitu yang menyangkut masukan, proses, dan luaran dari
sistem pelayanan kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah yang dimaksud dengan malpraktik?
b. Bagaimana kasus malpraktik kebidanan dalam asuhan masa nifas?
c. Bagaimana hukum dalam melakukan malpraktik kebidanan?

14
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana malpraktik dalam asuhan kebidanan selama masa
nifas dan mengetahui bagaimana hukum tentang malpraktik yang dilakukan.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Refleksi Praktik Kebidanan

Refleksi praktik dalam pelayanan kebidanan dimaksudkan sebagai bentuk


pedoman/acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan, dipengaruhi oleh filosofi yang dianut bidan (filosofi asuhan
kebidanan) meliputi unsur-unsur yang terdapat dalam paradigma kesehatan (manusia-
perilaku, lingkungan & pelayanan kesehatan).
Dalam praktek kebidanan, pemberian asuhan kebidanan yang berkualitas sangat
dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara bidan membina hubungan, baik
sesama rekan sejawat ataupun dengan orang yang diberi asuhan. Upaya meningkatkan
kualitas pelayanan kebidanan juga ditentukan oleh ketrampilan bidan untuk
berkomunikasi secara efektif dan melakukan konseling yang baik kepada klien.
Bidan merupakan ujung tombak memberikan pelayanan yang berkuliatas dan
sebagai tenaga kesehatan yang professional, bekerja sebagai mitra masyarakat,
khususnya keluarga sebagai unit terkecilnya, yang berarti bidan memiliki posisi strategis
untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat holistik komprehensif
(berkesinambungan, terpadu, dan paripurna), yang mencakup upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam upaya mencapai terwujudnya paradigma sehat.
Jadi seorang bidan dituntut untuk menjadi individu yang professional dan handal
memberikan pelayanan yang berkualitas karena konsep kerjanya berhubungan dengan
nyawa manusia.

15
2.2 Model Praktik Kebidanan
a. Primary Care
Bidan sebagai pemberi asuhan bertanggung jawab sendiri dalam memberikan
asuhan yang berkesinambungan sejak hamil, melahirkan dan post partum,sesuai
kewenangan bidan.

b. Continuity of Care

Diselenggarakan oleh sekelompok bidan dengan standard praktik yang sama


filosofi dan proses pelayanannya adalah partneship dengan perempuan.

Setiap bidan mempunyai komitmen sebagai berikut :

a. Mengembangkan hubungan yang baik dengan pasien sejak hamil

b. Mampu memberikan pealyanan yang aman secara individu

c. Memberikan dukungan pada pasien dalam persalinan

d. Memberikan perawatan yang komprehensif kepada ibu dan bayi

c. Collaborative Care

Bidan perlu berkolaborasi dengan professional lain untuk menjamin kliennya


menerima pelayanan yang baik bila terjadi sesuatu dalam asuhan. Kolaborasi
dilaksanakan dengan informed choice demi keuntungan ibu dan bayi.

Pelayanan kebidanan berfokus pada upaya pencegahan, promosi kesehatan,


pertolongan persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, melaksanakan
tindakan asuhan sesuai dengan kewenangan atau bantuan lain jika diperlukan, serta
melaksanakan tindakan kegawat daruratan. Bidan mempunyai tugas penting dalam
konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga
kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal
dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan,
kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Pelayanan kebidanan merupakan salah satu kegiatan dalam pembangunan


kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan, hidup sehat dan

16
mengambil bagian dalam pelayanan kesehatan masyarakat, turut membantu
menghasilkan generasi bangsa yang cerdas.

Pelayanan yang demikian karena pelayanan kebidanan ditujukan kepada


perempuan sejak masa sebelum konsepsi, masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi
baru lahir dan balita. Tentu saja pelayanan kebidanan yang berkualitas akan member
hasil yang berkualitas, yaitu kepuasan pelanggan maupun provider dan pelayanan yang
bermutu. Untuk pelayanan yang berkualitas tersebut diperlukan seorang pemimpin
yang dapat meningkatkan terus mutu pelayanan kebidanan yang diberikan oleh
organisasinya dan pelayanan yang diberikan harus berorientasi pada mutu.

Bidan adalah profesi yang benar-benar harus dijiwai karena sangat menuntut
tanggung jawab. Bidan juga nantinya akan menjadi pemberi asuhan di tengah
masyarakat. Bidan adalah orang yang berperan penting dalam terciptanya ibu dan anak
yang sehat dan keluarga bahagia serta generasi bangsa yang sehat.

2.3 Prinsip Bidan dalam Praktik Kebidanan


Adapun tugas dan prinsip bidan dalam praktik kebidanan ketika melakukan
tugasnya yaitu:

1. Cintai yang anda lakukan, lakukan yang anda cintai (love your do, do your love).

Profesi bidan harus dihayati. Banyak orang yang memilih bidan karena dorongan
orangtua, dengan harapan cepat bekerja dengan masa pendidikan yang singkat dan
dapat membuka praktek mandiri. Oleh karena itu terlepas dari apapun motivasi
seseorang menjadi bidan, setiap bidan harus mencintai pekerjaannya.

2. Jangan membuat kesalahan (don’t make mistake).

Dalam memberi asuhan, usahakan tidak ada kesalahan. Bidan harus bertindak sesuai
dengan standar profesinya. Untuk itu bidan harus terus menerus belajar dan
meningkatkan keterampilan. Kesalahan yang dilakukan memberi dampak sangat fatal.

3. Orientasi kepada pelanggan (customer oriented).

Apapun yang dilakukan harus tetap berfokus pada pelanggan. Siapa yang anda beri
pelayanan, bagaimana karakter pelanggan anda, bagaimana pelayanan yang anda

17
berikan dapat mereka terima dan dapat member kepuasan sehinga anda tetap dapat
memberi pelayanan yang sesuai engan harapan dan keinginan pelanggan.

4. Tingkatkan mutu pelayanan (improved your service quality).

Bidan harus terus menerus meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada
kliennya. Dalam memberi pelayanan, jangan pernah merasa puas.

5. Lakukan yang terbaik (do the best).

Jangan pernah memandang klien/pelanggan sebagai individu yang ‘tidak penting’ atau
mengklasifikasikan pelayanan yang anda berikan kepada pelanggan dengan
memandang status ekonomi, kondisi fisik, dan lain-lain.

6. Bekerja dengan takut akan tuhan (work with reverence for the Lord).

Sebagai bangsa indonesia yang hidup majemuk dan beragama, bidan harus
menghormati setiap kliennya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Bidan juga harus
percaya segala yang dilakukan dipertanggungjawabkan kepada Sang pencipta.

7. Berterima kasih kepada setiap masalah (say thanks to the problem).

Bidan dalam menjalankan tugas, baik secara individual (mandiri) sebagai manajer
maupun dalam kelompok (rumah sakit, puskesmas, di desa) tentu saja menghadapi
dan melihat banyak masalah pada proses pelaksanaan pelayanan kebidanan. Setiap
masalah yang dihadapi akan menjadi pengalaman dan guru yang paling berharga.

8. Perubahan perilaku (behavior change).

Mengubah perilaku sangat sulit dilakukan. H. L. Blum mengatakan bahwa ada empat
faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan yaitu tenaga kesehatan, lingkungan,
keturunan, dan perilaku. Hal yang paling sulit dilakukan adalah perubahan perilaku.

2.4 Malpraktik

Malpraktik merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu
berkonotasi yuridis. Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah” sedangkan “praktik”
mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”, sehingga malpraktik berarti
“pelaksanaan atau tindakan yang salah”. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi
18
kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang
salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.

Sedangkan definisi malpraktik profesi kesehatan adalah “kelalaian dari seorang


dokter atau tenaga keperawatan dari seseorang (perawat dan bidan) untuk
mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan
merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran dilingkungan yang sama” (Valentin v. La Society de Bienfaisance
Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).

Berlakunya norma etika dan norma hukum dalam profesi bidan. Di dalam setiap
profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum. Oleh
sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur
atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang
etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical
malpractice. Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga bidan berlaku norma
etika dan norma hukum, sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain
apa yang dilanggar. Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang
mendasar menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif
yang dipakai untuk menentukan adanya ethica malpractice atau yuridical malpractice
dengan sendirinya juga berbeda. Yang jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan
yuridical malpractice akan tetapi semua bentuk yuridical malpractice pasti merupakan
ethical malpractice (Lord Chief Justice, 1893).

2.5 Jenis–jenis Malpraktek dan Hukumnya


Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori
sesuai bidang hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice,Civil malpractice dan
Administrative malpractice.
1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice
manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni perbuatan
tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela dan

19
dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence).
a. Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional):
Pasal 344 KUHP, tentang Euthanasia, yang berbunyi:
“Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri,
yang disebutkannya dengan nyata dan sunguh-sunguh, dihukum penjara
selama-lamanya dua belas tahun.”
b. Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness)
Misalnya melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent.
c. Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai)
Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP, pasal-pasal karena lalai
menyebabkan mati atau luka-luka berat.
Pasal 359 KUHP, Karena kelalaian menyebabkan orang mati :
“Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan mati-nya orang lain, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu
tahun”.
2. Civil malpractice
Seorang bidan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang
telah disepakati (ingkar janji).
Tindakan bidan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan
dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dengan
prinsip ini maka rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas

20
kesalahan yang dilakukan karyawannya (bidan) selama bidan tersebut dalam
rangka melaksanakan tugas kewajibannya.
3. Administrative malpractice
Bidan dikatakan telah melakukan administrative malpractice jika bidan tersebut
telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police
power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di
bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi bidan untuk menjalankan
profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban
bidan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan
dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.

2.6 Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung
selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam
waktu 3 bulan (Anggraini, Y, 2010).
Masa Nifas atau Puerperium adalah masa setelah persalinan selesai sampai 6 minggu
atau 42 hari. Asuhan selama periode nifas perlu mendapat perhatian karena sekitar
60% angka kematian ibu terjadi pada periode ini (Martalina D., 2012)

21
BAB III
STUDI KASUS
3.1 Kasus Malpraktik dalam Asuhan Nifas
Seorang ibu muda mengalami luka robek di bagian anusnya, hingga tidak bisa
buang air. Diduga korban yang kini harus buang air besar melalui organ kewanitannya,
disebabkan kelalaian bidan yang masih magang di puskesmas setempat yang
menangani persalinannya.
Kasus ini dialami Ika Agustinawati, Ibu muda berusia 22 tahun ini menjadi korban
dugaan malpraktek, usai menjalani proses persalinan anak pertamanya, Irza Praditya
Akbar, yang kini berusia 1 bulan.
Diduga karena kecerobohan bidan yang masih magang saat menolong
persalinannya di Puskesmas, Ika mengalami luka robek di bagian organ vital hingga ke
bagian anus. Akibatnya, selain terus-terusan mengalami kesakitan, sejak sebulan lalu
korban terpaksa buang kotoran melalui alat kelaminnya.
Saat menjalani proses persalinan, korban dibantu oleh beberapa bidan magang,
atas pengawasan bidan puskesmas. Namun, salah seorang bidan magang diduga
melakukan kesalahan saat menggunting dinding kemaluan korban.

3.2 Pembahasan Hukum


Malpraktik yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati melakukan
proses kelahiran akan mendapatkan hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku,
seperti yang tercantum dalam Pasal 360 KUHP Ayat (1) yaitu Barangsiapa karena
kealpaannya menyebakan orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.

Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat


individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain
atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.

Diharapkan bidan dapat berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya dan tetap


berpedoman terhadap Standar Pelayanan Asuhan agar meminimalisir terjadinya

22
kesalahan. Dan juga bidan diharapkan untuk selalu berpegang pada kode etik profesi
agar kepercayaan masyarakat tidaklah hilang begitu saja.

23
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang bidan harus berhati-hati
dalam memberikan pelayanan pada pasiennya. Sehingga pelayanan atau tindakah
yang kita berikan tidak merugikan pasien dan berdampak pada kesehatan pasien.

Oleh karena itu bidan harus selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan pasien
sehingga kita mampu memberikan pelayanan yang komprehensif dan berkualitas.
Bidan harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup mendalam agar
setiap tindakannya sesuai dengan standar profesi dan kewenangannya.

4.2 Saran
Dengan adanya makalah ini, saya mengharapkan agar para pembaca dapat lebih
memahami materi tentang praktik dalam pelayanan kebidanan terutama dalam Asuhan
Kebidanan Masa Nifas.

24
DAFTAR PUSTAKA
Depkes, 1992. Rencana Pengembangan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010.
Jakarta: Depkes RI.

Pratama R. Pengertian dan Unsur-Unsur Malpraktik.

http://raypratama.blogspot.co.id/2012/02/pengertian-dan-unsur-unsur-
malpraktek.html

Lisna, Muhidah, dkk. Refleksi Praktik dalam Pelayanan Kebidanan. Diakses pada
tanggal 28 Juni 2019.

http://lisnamegaresky.blogspot.co.id/2012/12/makalah-refleksi-praktik-
dalam.html

http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/14202/2/T1_462011006_
BAB%20%20II.pdf

25