Anda di halaman 1dari 52

MAKALAH PERANCANGAN ANTENA

Perancangan Antena LPDA sebagai Pemantau Hama Bagi Petani


dalam Frekuensi 300-900 MHz

Disusun oleh:
Fina Dwirani Balqist (1317030087)
Velsya Millena Fathiya (1317030098)
TT-3A

Dosen Pembimbing:
Yenniwarti Rafsyam, SST. MT.

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT berkat karunia dan rizki-Nya,
sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah antena yang berjudul,
“Perancangan Antena LPDA sebagai Pemantau Hama Bagi Petani dalam Frekuensi 300-900
MHz" dengan baik. Dalam makalah ini kami membahas tentang antena Log Periodik Dipole
Array dan pengaplikasiannya.
Di dalam makalah ini disertai kumpulan penjelasan beberapa sumber yang menurut
kami cocok untuk di publikasikan kepada para mahasiswa/i.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, saran
atau kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk pemahaman yang lebih baik pada
kelanjutan riset untuk makalah kedepannya. Akhir kata, kami harap makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.

Depok, Desember 2018

Penulis
ABSTRAK

PERANCANGAN ANTENA LPDA SEBAGAI PEMANTAU HAMA BAGI PETANI DALAM


FREKUENSI 300-900 MHz

1. Fina Dwirani Balqist 2. Velsya Millena Fathiya

Pembangunan pertanian di Indonesia mengalami periode pasang surut yang berhubungan dengan kondisi
ekonomi, kebijakan pemerintah dan kondisi pada sawah itu sendiri. Pada budidaya tanaman padi, sering kali
mengalami penurunan produktivitas atau bahkan puso akibat terserang hama. Hama yang mendominasi dalam
penyerangan sawah adalah tikus sawah,wereng,dan burung. Dengan demikian, akan dibuat sensor pemantau hama
padi yang dirancang untuk memperintahkan perangkat yang sudah ada di pasaran dan mengirimkan data hasilnya
kepada petani di rumah. Berdasarkan kondisi tersebut, digunakan frekuensi gelombang yang bekerja pada
komunikasi radio dan GSM yaitu 300 MHz hingga 900 MHz. Proses ini akan direalisasikan dengan melibatkan
antena. Antena merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengirim dan menerima sinyal. Peran terpenting dari
antena adalah untuk menyalurkan energi gelombang elektro magnetik berupa sinyal radio dari media kabel ke
udara atau sebaliknya. Antena dibuat dengan berbagai bentuk sesuai dengan fungsi dan penerapannya. Pada
penelitian ini antena yang digunakan adalah Log Periodic Dipole Array (LPDA) yang merupakan salah satu dari
jenis antena yang dapat bekerja pada frekuensi tinggi. Selain itu, dari sisi harga antena ini tergolong lebih murah.
Antena ini memperlihatkan impedansi input, VSWR dan karakteristik radiasi pada rentan frekuensi tinggi.
Perancangan antena LPDA digunakan sebagai pemantau hama dengan menggunakan software CST Studio Suite
2018.

Kata Kunci : Log Periodic Dipole Array, VSWR, CST Studio Suite 2018
DAFTAR ISI

JUDUL
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Sistematika Penyusunan
BAB II. LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Antena
2.2. Gelombang Elektromagnetik
2.3. Parameter Antena
2.4. Antena Log Periodik Dipole Array
2.5. Karakteristik Antena Log Periodik
2.6. Jenis Antena Log Periodik
2.7. Dasar Log Periodik Dipole Array (LPDA)
2.8. Fungsi dan Kegunaan Antena Log Periodik
2.9. Langkah – Langkah Merancang Antena LPDA
BAB III. PERANCANGAN ANTENA
3.1. Perhitungan Ukuran-Ukuran Antena LPDA
3.2. Simulasi Antena di CST STUDIO SUITE 2014
BAB IV. HASIL SIMULASI DAN ANALISA
4.1. Hasil Simulasi..........................................................................................................
4.1.1 S Parameter.....................................................................................................
4.1.2 VSWR.............................................................................................................
4.2. Konversi Hasil Simulasi ke Excel.......................................................................................
4.2.1 S Parameter................................................................................................................
4.2.2 VSWR.......................................................................................................................
4.3. Konversi Hasil Simulasi ke Visio...........................................................................
4.4. Analisa
BAB V. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Dasar Log Periodik Dipole Array


Gambar 2.2. Kontur Gain Antena LPDA
Gambar 3.1. Gain Antena LPDA 8 dB
Gambar 3.2. Desain Antena LPDA 7 Elemen
Gambar 3.3. Create Project
Gambar 3.4. Menu Select Template Anntenas
Gambar 3.5. Menu Select Template Wire
Gambar 3.6. Menu Solvers
Gambar 3.7. Menu Set Units
Gambar 3.8. Menu Settings
Gambar 3.9. Review
Gambar 3.10. Local WCS
Gambar 3.11. Parameter List
Gambar 3.12. Membuat Boom 1
Gambar 3.13. Memindahkan WCS
Gambar 3.14. Menggeser WCS
Gambar 3.15. Membuat Elemen L1
Gambar 3.16. Membuat Spasi D1
Gambar 3.17. Membuat Elemen L2
Gambar 3.18. Membuat Spasi D2
Gambar 3.19. Membuat Elemen L3
Gambar 3.20. Membuat Spasi D3
Gambar 3.21. Membuat Elemen L4
Gambar 3.22. Membuat Spasi D4
Gambar 3.23. Membuat Elemen L5
Gambar 3.24. Membuat Spasi D5
Gambar 3.25. Membuat Elemen L6
Gambar 3.26. Membuat Spasi D6
Gambar 3.27. Membuat Elemen L7
Gambar 3.28 .Membuat Spasi D7 .....................................................................................
Gambar 3.29 Membuat Elemen L8....................................................................................
Gambar 3.30. Menggeser WCS ke Bagian Tengah Boom1
Gambar 3.31. Membuat Boom 2
Gambar 3.32. Mengubah Nama menjadi Boom2
Gambar 3.33. Menggeser Boom2
Gambar 3.34. Memindahkan WCS ke Sisi Atas
Gambar 3.35. Menggeser WCS untuk Membuat Port
Gambar 3.36. Membuat Port
Gambar 3.37. Mengisi Range Frekuensi
Gambar 3.38. Mengatur Field Monitor
Gambar 3.39. Mengisi Range Frekuensi
Gambar 3.40. Memulai Simulasi
Gambar 3.41. VSWR
Gambar 3.42. S-Parameter
Gambar 4.1. Farfield 3D
Gambar 4.2.
Gambar 4.3. S-Parameter minimum di Frekuensi Kerja
Gambar 4.4. Farfield 3D
Gambar 4.5. Polar
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pesatnya perkembangan informasi di era globalisasi saat ini memicu setiap
orang untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal dari seluruh dunia secara
cepat dan mudah. Salah satu media yang memenuhi kriteria tersebut adalah televisi.
Televisi merupakan media informasi yang paling umum saat ini. Melalui televisi,
masyarakat mengetahui beragam informasi, baik dari program berita maupun program
hiburan. Televisi sudah menjadi barang pokok bagi setiap masyarakat. Televisi adalah
salah satu media komunikasi yang prosesnya dibantu oleh suatu perangkat yang disebut
antena.
Antena adalah salah satu alat atau media penunjang proses komunikasi yang
berguna dan penting bagi berjalannya proses komunikasi. Makin tinggi kualitas antena
maka makin baik pula kualitas komunikasi tersebut. Saat ini banyak beredar berbagai
macam model antena untuk pesawat penerima TV kanal Ultra High Frequency (UHF).
Pada proses pembelajaran mata kuliah Antena dan Propagasi, terdapat suatu
tugas untuk merancang sebuah antena. Hal inilah yang melatar belakangi proses
perancangan antenna ini, dan antena yang akan dibuat adalah antena Log Periodik
Dipole Array (LPDA).

1.2. Perumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Merancang antena LPDA pada software CST Studio Suite 2015
2. Merancang antena LPDA dengan menggunakan bahan aluminium yang
berdiameter 1 mm
3. Melakukan pengukuran yang meliputi parameter antena yaitu VSWR, Return Loss,
Bandwith, dan PolaRadiasi
4. Menganalisa hasil pengukuran dan perancangan antena LPDA.
1.3. Tujuan
Adapun tujuan penulisan laporan ini antara lain:
1. Mengetahui cara merancang sebuah antena yang berfungsi untuk menangkap sinyal
yang baik pada televisi.
2. Mendesain dan merealisasikan antena LPDA pada frekuensi 500 MHz – 790 MHz.
3. Menambah pengetahuan tentang antena Log Periodik Dipole Array.
4. Menambah keterampilan tentang antena yang akan dirancang.
5. Mampu menggunakan software CST Studio Suite 2015 untuk melakukan
perancangan antena.

1.4. Sistematika Penyusunan


Sistematika penyusunan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
BAB I. PENDAHULUAN
 Bab ini membahas tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan, dan
sistematika penyusunan dari makalah antena yang dibuat.

BAB II. LANDASAN TEORI


 Bab ini berisi tentang landasan teori yang menunjang pembuatan antena, baik
mengenai teori antena secara umum dan teori antena yang dirancang yang berasal
dari refrensi-refrensi lain dan jurnal yang didapat.
BAB III. PERANCANGAN ANTENA
 Bab ini berisi tentang perancangan antena baik melalui rumus dan perancangan
menggunakan software CST Studio Suite 2015.

BAB IV. HASIL SIMULASI DAN ANALISA


 Bab ini membahas tentang hasil perancangan antena yang disimulasikan melalui
software CST Studio Suite 2015 serta analisanya.

BAB V. KESIMPULAN
 Bab ini berisi kesimpulan dari proses dan hasil yang didapatkan dari perancangan
antena yang telah dilakukan.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Antena


Di bidang elektronika, definisi antena adalah transformator atau struktur
transmisi antara gelombang terbimbing (saluran transmisi) dengan gelombang ruang
bebas atau sebaliknya. Antena adalah salah satu elemen penting yang harus ada pada
sebuah teleskop radio, TV, radar, dan semua alat komunikasi nirkabel lainnya. Sebuah
antena adalah bagian vital dari suatu pemancar atau penerima yang berfungsi untuk
menyalurkan sinyal radio ke udara. Bentuk antena bermacam macam sesuai
dengan desain, pola penyebaran dan frekuensi dan gain. Panjang antena secara efektif
adalah panjang gelombang frekuensi radio yang dipancarkannya. Antena dipol
setengah gelombang adalah sangat populer karena mudah dibuat dan mampu
memancarkan gelombang radio secara efektif.

2.2. Gelombang Elektromagnetik


Gelombang elektromagnet adalah gelombang yang mempunyai sifat listrik dan
sifat magnet secara bersamaan. Gelombang radio merupakan bagian dari gelombang
elektromagnetik pada spectrum frekuensi radio. Gelombang dikarakteristikkan oleh
panjang gelombang dan frekuensi. Panjang gelombang (λ) memiliki hubungan dengan
frekuensi (ƒ) dan kecepatan (ν) yang ditunjukan oleh persamaan :
𝑣
λ=
𝑓
Kecepatan (ν) bergantung pada medium. Ketika medium rambat adalah hampa
udara (free space), maka :
v = c = 3 x 108 m/s

2.3. Parameter Antena


Antena memiliki parameter yang bisa mempengaruhi kualitas antena yaitu
polaradiasi atau pancaran, polarisasi antenna, resiprositas antena, Front to Back Ratio
(FBR), daya teradiasi, Return Loss (RL), impedansi input, Voltage Standing Wave
Ratio (VSWR), koefisien refleksi, direktivitas, effisiensi antenna, gain, bandwith,
tahanan radiasi antenna, distribusi arus dan tegangan pada antenna.
1. Polaradiasi atau Pancaran merupakan gambaran kekuatan pancaran atau
penerimaan sinyal suatu antena dalam fungsi sudut atau sebagai besaran yang
menetukan ke arah sudut sebuah antena memancarkan atau mendistribusikan
energinya.

2. Polarisasi Antena merupakan polarisasi gelombang yang diradiasikan oleh antena


pada arah yang diberikan atau menyatakan arah dan orientasi dari medan listrik
dalam perambatannya dari antena

3. Resiprositas Antena menunjukkan bahwa suatu antena bisa berfungsi sebagai


pengirim dan antena yang sama juga bisa sebagai penerima.

4. Front to Back Ratio (FBR) merupakan perbandingan kuat pancaran antena pada
arah depan dan belakang antena.

5. Daya Teradiasi
𝑃𝑟 = 𝐼 2 × 𝑅𝑟
Dengan :
I = Arus Antena (A)
Rr = Resistansi Radiasi (Ω)

6. Return Loss merupakan koefisien refleksi dalam bentuk logaritmik yang


menunjukkan daya yang hilang karena antena dan saluran transmisi tidak matching.
Sehingga tidak semua daya diradiasikan melainkan ada yang dipantulkan kembali.
Return Loss dapat dirumuskan sebagai berikut :

𝑠−1
𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝐿𝑜𝑠𝑠 (dB) = 20 log ( )
𝑠+1

Jika daya dari tegangan input dipancarkan semua, maka besar nilai koefisien
refleksi adalah nol. Sebaliknya, jika semua daya dari tegangan input direfleksikan
(dipantulkan), maka besar nilai koefisien refleksi adalah 1.
7. Impedansi input (masukan) didefinisikan sebagai impedansi yang diberikan kepada
rangkaian di luar oleh antena pada suatu titik acuan teretntu. Impedansi masukan
antena harus mendekati nilai impedansi gelombang saluran transmisi supaya tidak
terjadi refleksi. Impedansi antena penting untuk pemindahan daya dari antena ke
penerima. Jiak Return Loss diketahui, impedansi input dinyatakan dalam
persamaan:

𝑉
𝑍𝑖𝑛 = 𝑅𝑖𝑛 + 𝑗𝑋𝑖𝑛 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑍𝑖𝑛 = 𝐼

Dengan:
Zin = Impedansi Input (Ω)
Rin = Resistansi Input (Ω)
I = Arus Input (A)
V = Tegangan Input (Volt)

8. Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) adalah ketidaksesuaian antara beban dan
saluran transmisi pada antenna.
Jika impedansi beban tidak sesuai dengan impedansi saluran, maka sebagian energi
pad gelombang datang akan dipantulkan kembali oleh beban.
Harga VSWR anatra 1 sampai dengan ∞. Bernilai 1 jika tidak ada pantulan di dalam
antena. Jika VSWR dinyatakan dalam desibel disebut standing wave rasio (SWR).

1 + |𝜏|
𝑉𝑆𝑊𝑅 =
1 − |𝜏|

9. Koefisien Refleksi berfungsi ntuk memaksimumkan perpindahan daya dari antena


ke penerima, maka impedansi antena haruslah conjugate match (besarnya resistansi
dan reaktansi sama tetapi berlawanan tanda). Jika hal ini tidak dipengaruhi maka
akan terjadi pemantulah energi yang dipancarkan atau diterima, sesuai dengan
persamaan berikut:
𝑍𝐿 − 𝑍0
𝜏=
𝑍𝐿 + 𝑍0

Dimana:
ZL = Impedansi Beban (Ω)
Z0 = Impedansi Masukan (Ω)
10. Direktivitas suatu antena didefinisikan sebagai perbandingan antara harga
maksimum intensitas radiasi (Im) dengan intensitas radiasi rata-rata yang
dipancarkan (Iev). Directivity (keterarahan) merupakan suatu karakteristik yang
menggambarkan seberapa besar energi dikonsentrasikan pada arah tertentu.
𝐼𝑚 𝑃 4𝜋𝑈𝑚𝑎𝑥
𝐷= 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐷 = 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐷 =
𝐼𝑒𝑣 𝑃𝑟𝑒𝑓 𝑃𝑟𝑎𝑑

Dengan :
D = Directivity
P = Daya pada antena yang diukur
Pref = Daya pada antena refrensi
Umax = Intensitas radiasi max

11. Effisiensi Antena


Efesiensi antena disini merupakan efisiensi total yang diperoleh sebagai akibat
adanya rugi-rugi (losses), rugi-rugi tersebut antara lain:
 Karena mismatch antara saluran transmisi dengan antena.
 Rugi-rugi pada konduktor.
 Rugi-rugi pada bahan dielektrik.

Efisiensi penting bagi antena pemancar, kurang penting bagi antena penerima. Ini
menjelaskan mengapa sebuah kabel dengan sembarang panjang dapat dibuat
menjadi antena penerima yang baik tetapi bukan sebuah antena pemancar yang
baik.

Apabila suatu antena dipakai sebagai antena pemancar, pada umumnya daya yang
diradiasikan sedikit kurang jika dibandingkan dengan daya yang diberikan oleh
transmitter diterminal catunya, hal ini disebabkan adanya faktor efisiensi () pada
setiap antena, yang dinyatakan dengan:

𝑃𝑟𝑎𝑑 𝐼 2 𝑅𝑟 𝑅𝑟 𝑃𝑟𝑎𝑑
𝜂= × 100% 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜂 = = 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜂 = × 100%
𝑃𝑖𝑛 𝐼(𝑅𝑟 + 𝑅𝑒) 𝑅𝑟 + 𝑅𝑒 𝑃𝑟𝑎𝑑 + 𝑃𝑙𝑜𝑠𝑠

Dengan :
Prad = Daya Radiasi (W)
Pin = Daya Input (W)
Ploss = Daya yang teradiasi ketika resistansi DC muncul
I = Arus Antena (A)
Rr = Tahanan Radiasi (Ω)
Re = Ro = Tahanan Efektif Antena (Ω)

12. Gain antena merupakan perbandingan daya pancar suatu antena terhadap daya
pancar antena referensi. Gain menentukan seberapa besar sebuah antena
memfokuskan energy pancarnya. Gain antena mempunyai hubungan erat dengan
directivity dan faktor efisiensi ini, dimana pada gain efisiensi antena ikut
diperhitungkan. Pada praktisnya besaran gain antena merupakan besaran relatif
terhadap acuan gain antena yang mudah dihitung.
Karena daya yang dipancarkan sama dengan perkalian antara efisiensi dengan daya
yang masuk ke antena, maka hubungan antara gain dan directivity adalah sebagai
berikut:
G = .D

Dimana:
 = Efisiensi antena
D = Directivity

13. Suatu range frekuensi dimana antena dapat beroperasi dengan baik dinamakan
Bandwith. Bandwith dinyatakan sebagai pembanding antara frekuensi atas terhadap
frekuensi bawah dalam level yang dapat diterima. Bandwith antena dapat diukur
berdasarkan hubungan antara VSWR terhadap frekuensi atau menggunakan
hubungan gain terhadap frekuensi. Karakteristik gain frekuensi ini sangat penting
karena antena yang tinggi akan memiliki bandwith yang sempit.
𝑓ℎ 𝑓ℎ − 𝑓𝑙
𝐵𝑊 = 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐵𝑊 = × 100%
𝑓𝑙 𝑓𝑐
𝑓ℎ + 𝑓𝑙
𝑓𝑐 =
2
Dengan :
fh = Frekuensi Tinggi (Hz)
fl = Frekuensi Rendah (Hz)
fc = Frekuensi Kerja (Hz)
14. Tahanan Radiasi Antena
Tahanan Radiasi adalah tahanan fiktif yang mendisipasikan daya yang akan
diradiasikan jika antena tersebut dialiri gelombang elektromagnetik. Ro atau
tahanan sebenarnya akan menghasilkan kerugian (losses) berupa panas dan
diharapkan bernilai sekecil mungkin. Sedangkan tahanan radiasi Rr akan
menimbulkan disipasi berupa radiasi dan diusahakan mempunyai nilai sebesar-
besarnya.
Antena dengan L = ½ λ mempunyai nilai Ro <<< Rr, yang berarti hampir seluruh
energi dipancarkan atau antena dengan l = ½ λ merupakan radiator yang baik.

15. Distribusi Arus Tegangan pada Antena


Antena kawat dengan ukuran ½ λ mempunyai distribusi arus dan tegangan seperti
gambar dibawah ini.

 Distribusi arus akan maksimum pada titik tengah antena (titik catu) dan
minimum pada bagian ujung-ujung antena.
 Sedangkan distribusi tegangan pada antena akan maksimum pada kedua ujung
antena dan minimum pada titik tengah atau catuan antena.
 Jadi dapat dibayangkan bahwa antena mempunyai impedansi Z yang semakin
maksimun pada kedua ujungnya dan minimum pada bagian tengah antena.
2.4. Antena Log Periodik
Dalam telekomunikasi, antena log-periodik (LP, juga dikenal sebagai log-periodik
array atau log periodik balok antena/udara) adalah broadband, multi-elemen,
unidirectional. beamwidth antena yang memiliki impedansi dan radiasi karakteristik
yang secara teratur berulang-ulang sebagai fungsi logaritma dari frekuensi eksitasi.
Salah satu komponen dipole, seperti log-periodik dipole array (LPDA). Log-periodik
antena dirancang untuk menjadi diri yang sama dan juga fractal antena array. Antena
log periodik diciptakan oleh Dwight E. Isbell, Raymond Duhamel dan varian oleh Paul
Mayes. University of Illinois di Urbana-Champaign telah dipatenkan Isbell dan Mayes-
Carrel antena dan berlisensi desain sebagai sebuah paket eksklusif untuk elektronik JFD
di New York. Tuntutan hukum mengenai paten antena yang hilang UI Foundation,
berkembang menjadi doktrin Blonder-Lidah. Preseden ini mengatur litigasi paten.
Merupakan hal yang normal untuk mendorong elemen bergantian dengan 180 ° (π
radian) pergeseran fasa dari satu sama lain. Hal ini biasanya dilakukan dengan
menghubungkan elemen-elemen individu untuk kabel saluran transmisi
seimbang.Panjang dan jarak dari elemen antena log-periodik meningkatkan logaritmis
dari satu ujung ke ujung. Sebuah plot impedansi masukan sebagai fungsi dari logaritma
dari frekuensi eksitasi menunjukkan variasi periodik. Desain antena ini digunakan di
berbagai frekuensi. Hal ini kadang-kadang digunakan untuk antena televisi (VHF atau
UHF).

2.5. Karakteristik Antena Log Periodik Dipole Array


Adapun karakteristik pada antenna Log Periodik Dipole Array yaitu:
 Bekerja pada frekuensi 3 MHz s/d 18 GHz.
 Bandwidth = 163% atau ratio 1: 10.
 Typical Gain-nya 6-8 dB.
 Mempunyai polarisasi linier.
 Typical half power beamwidth = 60deg × 80deg.
 Pola radiasinya adalah unidirectional.
2.6. Jenis Antena Log Periodik
Ada beberapa format di mana antena log periodik dapat direalisasikan. Jenis yang tepat
yang paling berlaku untuk setiap aplikasi yang diberikan akanbergantung pada
persyaratan. Jenis utama dari antena Log Periodik Dipole Array adalah :
 Log Periodik Dipole Array (LPDA)
 Zig-zag log periodic array
 Slot log periodic
 V log periodic

2.7. Dasar Log Periodik Dipole Array (LPDA)


Log periodic dipole array (LPDA pada dasarnya terdiri dari sejumlah elemen dipole.
Ini mengurangi ukuran dari belakang ke arah depan. Sinar utama dari antena RF yang
datang dari depan lebih kecil. Elemen pada bagian belakang dari array dimana elemen
yang terbesar adalah setengah panjang gelombang pada frekuensi terendah operasi.
Jarak elemen juga menurunkan ke arah depan dari array di mana elemen-elemen
terkecil berada. Dalam operasi, karena perubahan frekuensi ada transisi mulus
sepanjang array dari elemen-elemen yang membentuk daerah aktif. Untuk memastikan
bahwa pentahapan dari unsur-unsur yang berbeda adalah benar, fase terbalik dari satu
elemen ke yang berikutnya.Antena Log-Periodic Dipole Array (LPDA) adalah antena
undirectional yangmempunyai pola radiasi satu arah.

Gambar 2.1. Dasar Log Periodik Dipole Array

2.8. Fungsi dan Kegunaan Antena Log Periodik


 Dapat digunakan pada frekuensi HF (3–30 MHz), VHF (30–300 MHz) dan UHF
(300–3000MHz) untuk berbagai aplikasi termasuk digunakan sebagai antena
televisi dan Radio amatir (3,5-7 MHz).
 Antena Log Periodik juga digunakan untuk keperluan militer terutama untuk
keperluan komunikasi, biasanya antena log periodik yang digunakan untuk
keperluan militer adalah log periodik yang bekerja pada gelombang HF.
Gelombang radio HF biasanya digunakan untuk hubungan jarak jauh antar pulau.
Dengan sistem ini satu saluran dapat digunakan untuk banyak percakapan tanpa
saling mengganggu. Sistem ini memiliki jangkauan yang luas hanya saja
memerlukan daya yang tinggi dan geometri yang cukup besar.
 Antena Log Periodik juga digunakan untuk keperluan wireless network. Log
Periodik dapat bekerja pada 700MHz sampai 11000MHz, dalam interval ini
termasuk frekuensi yang digunakan untuk wireless networking pada 2.4 GHz
(802.11b/g) dan 5.8GHz (802.11a) serta dapat juga digunakan untuk cellular, PCS,
Wimax.

2.9. Langkah – Langkah Merancang Antena LPDA


Dalam perancangan antena LPDA, panjang elemen antena akan ditentukan oleh
nilai τ (factor skala), sedangkan spasi antar elemen ditentukan oleh nilai σ (factor spasi).
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1) Menentukan frekuensi kerja
𝑓ℎ+𝑓𝑙
𝑓𝑐 =
2
2) Menentukan gain antena (dB)
3) Menentukan faktor skala (τ) dan faktor spasi (σ)
Penentuan nilai τ dan σ dapat menggunakan bantuan diagram kontur gain antena
LPDA berikut sesuai dengan gain antena yang diharapkan.

Gambar 2.2. Kontur Gain Antena LPDA


4) Menghitung nilai ⍺

⍺ adalah sudut yang dibentuk dari perpanjangan garis yang menyinggung masing-
masing ujung tiap elemen.
1−𝜏
⍺ = 2 tan−1 ( 4𝜎 )

5) Menentukan ukuran panjang dari setiap elemen


a. Menentukan ukuran dipole LPDA terpanjang berdasarkan frekuensi lower (𝑓𝐿 )
𝑐
dengan : 𝑳𝑳 = 𝟎. 𝟓 × 𝝀𝑳 dimana 𝜆𝐿 = 𝑓𝐿

b. Menentukan ukuran dipole LPDA terpendek berdasarkan frekuensi upper (𝑓𝑈 )


𝑐
dengan : 𝑳𝑼 = 𝟎. 𝟓 × 𝝀𝑼 dimana 𝜆𝑈 = 𝑓𝑈

c. Menentukan ukuran panjang dipole antena yang lain


𝐿𝑛 = 𝐿𝑛−1 × 𝜏
d. Menentukan ukuran spasi antar elemen
𝑑𝑛 = 2. 𝜎. 𝐿𝑛
BAB III
PERANCANGAN ANTENA

3.1. Perhitungan Ukuran-ukuran Antena LPDA


Dalam perancangan antena LPDA 6 elemen yang akan digunakan sebagai
Penerima Gelombang Televisi dalam frekuensi 300 – 900 MHz, perhitungannya adalah
sebagai berikut:
a. Menentukan frekuensi kerja
𝑓𝐿 = 300 Mhz
𝑓𝑢 = 900 MHz
𝑓ℎ+𝑓𝑙
𝑓𝑐 =
2
300 𝑀𝐻𝑧 +900 𝑀𝐻𝑧
=
2
= 600 MHz

b. Menentukan gain antena


Gain = 8 dB

c. Menentukan faktor skala (τ) dan faktor spasi (σ)


Penentuan nilai τ dan σ dapat menggunakan bantuan diagram kontur gain antena
LPDA berikut sesuai dengan gain antena yang diharapkan.
Gambar 3.1. Gain Antena LPDA 8 dB
τ = 0,865
σ = 0,16

d. Menghitung nilai ⍺

⍺ adalah sudut yang dibentuk dari perpanjangan garis yang menyinggung masing-
masing ujung tiap elemen.
1−𝜏
⍺ = 2 tan−1( )
4𝜎
1−0,865
⍺ = 2 tan−1( 4×0,16 )
0,135
⍺ = 2 tan−1( 0,64 )

⍺ = 23.82°
e. Menentukan ukuran panjang dari setiap elemen
1) Menentukan ukuran dipole LPDA terpanjang berdasarkan frekuensi lower (𝑓𝐿 )
dengan : 𝑳𝑳 = 𝟎. 𝟓 × 𝝀𝑳
𝑐 3×108 𝑚/𝑠
𝜆𝐿 = = = 1 𝑚 = 1000 𝑚𝑚
𝑓𝐿 400×106 𝐻𝑧

Maka, panjang dipole terpanjang :

𝐿𝐿 = 0.5 × 𝜆𝐿 = 0.5 × 1 𝑚 = 0.500 𝑚 = 500 𝑚𝑚

2) Menentukan ukuran dipole LPDA terpendek berdasarkan frekuensi upper (𝑓𝑈 )


dengan : 𝑳𝑼 = 𝟎. 𝟓 × 𝝀𝑼
𝑐 3 × 108 𝑚/𝑠
𝜆𝑈 = = = 0.333 𝑚 = 333 𝑚𝑚
𝑓𝑈 900 × 106 𝐻𝑧

Maka, panjang dipole terpendek :

𝐿𝑈 = 0.5 × 𝜆𝑈 = 0.5 × 0.333 𝑚 = 0.167 𝑚 = 167 𝑚𝑚

3) Menentukan ukuran panjang dipole antena yang lain


𝑳𝒏 = 𝑳𝒏−𝟏 × 𝝉
 𝐿1 = 𝐿𝐿 = 500 𝑚𝑚
 𝐿2 = 𝐿1 × 𝜏 = 500 𝑚𝑚 × 0.865 = 432.5 𝑚𝑚
 𝐿3 = 𝐿2 × 𝜏 = 432.5 𝑚𝑚 × 0.865 = 374.1 𝑚𝑚
 𝐿4 = 𝐿3 × 𝜏 = 374.1 𝑚𝑚 × 0.865 = 323.6 𝑚𝑚
 𝐿5 = 𝐿4 × 𝜏 = 323.6 𝑚𝑚 × 0.865 = 279.9 𝑚𝑚
 𝐿6 = 𝐿5 × 𝜏 = 279.9 𝑚𝑚 × 0.865 = 242.2 𝑚𝑚
 𝐿7 = 𝐿6 × 𝜏 = 242.2 𝑚𝑚 × 0.865 = 209.4 𝑚𝑚
 𝐿8 = 𝐿7 × 𝜏 = 209.2 𝑚𝑚 × 0.865 = 181.1 𝑚𝑚

Array berakhir pada elemen ke-9 karena L9= 156 mm lebih kecil dari
dipole terpendek yaitu Lu = 167 mm.

4) Menentukan ukuran spasi antar elemen


𝒅𝒏 = 𝟐. 𝝈. 𝑳𝒏
 𝑑1 = 2. 𝜎. 𝐿1 = 2 × 0.16 × 500 𝑚𝑚 = 160 𝑚𝑚
 𝑑2 = 2. 𝜎. 𝐿2 = 2 × 0.16 × 432.5 𝑚𝑚 = 138.4 𝑚𝑚
 𝑑3 = 2. 𝜎. 𝐿3 = 2 × 0.16 × 374.1 𝑚𝑚 = 119.7 𝑚𝑚
 𝑑4 = 2. 𝜎. 𝐿4 = 2 × 0.16 × 323.6 𝑚𝑚 = 103.6 𝑚𝑚
 𝑑5 = 2. 𝜎. 𝐿5 = 2 × 0.16 × 279.9 𝑚𝑚 = 89.6 𝑚𝑚
 𝑑6 = 2. 𝜎. 𝐿5 = 2 × 0.16 × 242.1 𝑚𝑚 = 77.5 𝑚𝑚
 𝑑7 = 2. 𝜎. 𝐿6 = 2 × 0.16 × 209.4 𝑚𝑚 = 67 𝑚𝑚

Diperoleh total spasi seluruh elemen sebesar 755.8 mm.

f. Gambar desain antenna

755.8 mm
500 mm

374.1 mm

279.9 mm

181.1 mm

156.7 mm
209.4 mm
432.5 mm

242.2 mm

50.1 mm
67 mm
77.5 mm
89.6 mm
103.6 mm
160 mm 138.4 mm

Gambar 3.2. Desain Antena LPDA

3.2. Simulasi Antena di CST STUDIO SUITE 2015


Dalam merancang antena LPDA 7 elemen, kita dapat mensimulasikan terlebih dahulu
antena yang akan dibuat menggunakan software CST Studio Suite 2015. Berikut adalah
langkah-langkah perancangan antena menggunakan CST Studio Suite 2015 :
1. Membuka CST Studio Suite 2014 dan pilih Create Project, seperti Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Create Project

2. Memilih MW & RF & OPTICAL, kemudian pilih Antenas, seperti Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Menu Select Template Anntenas


3. Memilih template Waveguide, seperti Gambar 3.5.
Gambar 3.5. Menu Select Template Wire

4. Memilih Time Domain, seperti Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Menu Solvers

5. Mengatur dimensi satuan menjadi mm dan mengatur frekuensi menjadi MHz,


seperti Gambar 3.7.
Gambar 3.7. Menu Set Units

6. Memasukkan nilai frekuensi minimum dan frekuensi maksimum, dan mencentang


hasil yang ingin dilihat, yaitu E-Field, H-Field, dan Farfield, seperti Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Menu Settings


7. Setelah mengatur Antenas, Wire, Solvers, Units, Settings maka akan muncul
tampilan hasil pengaturan yang telah dilakukan, jika sudah sesuai klik finish seperti
Gambar 3.9.
Gambar 3.9. Review

8. Muncul tampilan Workspace dalam 3 dimensi pada layar. Untuk memulai simulasi
dapat mengatur titik koordinatnya pada menu Modelling, dengan fitur WCS lalu pilih
Local WCS, seperti Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Local WCS


9. Memasukkan nilai parameter yang telah dihitung sebelumnya pada kolom Parameter
List untuk memudahkan dalam membuat komponen antena, seperti Gambar 3.11.
Gambar 3.11. Parameter List

10. Membuat Boom pertama. Pada menu Modelling, pilih icon Cylinder kemudian
menekan esc pada keyboard untuk memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih
orientasi menjadi V, Outer Radius diisi RB dan Inner Radius diisi RB/2 , Vmin diisi
dengan -PB, dan memilih material menjadi Aluminum, seperti Gambar 3.12.

Gambar 3.12. Membuat Boom 1


11. Menggeser WCS dengan Transform WCS. Pilih move, mengisi DU dengan DB/2 dan
DV dengan -DE, seperti gambar 3.13.
Gambar 3.13. Menggeser WCS

12. Membuat elemen antena dimulai dari L1. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc
pada keyboard untuk memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U,
Outer Radius diisi DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umax diisi dengan L1/2 dan
memilih material menjadi Aluminum, seperti Gambar 3.14.

Gambar 3.14. Membuat Elemen L1


13. Memberikan spasi antara L1 dengan L2. WCS harus dipindahkan dengan memilih menu
Transform WCS lalu mengisi DU sebesar –DB, dan DV sebesar -D1, seperti Gambar
3.15.

Gambar 3.15. Membuat Spasi D1

14. Membuat elemen L2. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard untuk
memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer Radius diisi
DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umin diisi dengan –(L2/2) dan memilih material
menjadi Aluminum seperti Gambar 3.16.
Gambar 3.16. Membuat Elemen L2

15. Memberikan spasi antara L2 dengan L3. WCS harus dipindahkan dengan memilih
menu Transform WCS lalu mengisi DU sebesar DB/2, dan DV sebesar –D2, seperti
Gambar 3.17.

Gambar 3.17. Membuat Spasi D2

16. Membuat elemen L3. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard untuk
memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer Radius diisi
RL dan Inner Radius diisi DE/2, Umax diisi dengan L3/2 dan memilih material menjadi
Aluminum, seperti Gambar 3.18.
Gambar 3.18. Membuat Elemen L3

17. Memberikan spasi antara L3 dengan L4. WCS harus dipindahkan dengan memilih menu
Transform WCS lalu mengisi DU sebesar –DB/2, dan DV sebesar –D3, seperti Gambar
3.19.

Gambar 3.19. Membuat Spasi D3


18. Membuat elemen L4. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard untuk
memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer Radius diisi
DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umin diisi dengan –(L4/2) dan memilih material
menjadi Aluminum seperti Gambar 3.20.

Gambar 3.20. Membuat Elemen L4

19. Memberikan spasi antara L4 dengan L5. WCS harus dipindahkan dengan memilih menu
Transform WCS lalu mengisi DU sebesar DB/2, dan DV sebesar –D4, seperti Gambar
3.21.
Gambar 3.21. Membuat Spasi D4

20. Membuat elemen L5. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard untuk
memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer Radius diisi
DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umax diisi dengan L5/2 dan memilih material menjadi
Aluminum, seperti Gambar 3.22.

Gambar 3.22. Membuat Elemen L5

21. Memberikan spasi antara L5 dengan L6. WCS harus dipindahkan dengan memilih menu
Transform WCS lalu mengisi DU sebesar –(DB/2), dan DV sebesar –D5, seperti
Gambar 3.23.
Gambar 3.23. Membuat Spasi D5

22. Membuat elemen L6. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard untuk
memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer Radius diisi
DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umin diisi dengan –(L6/2) dan memilih material
menjadi Aluminum seperti Gambar 3.24.

Gambar 3.24. Membuat Elemen L6


23. Memberikan spasi antara L6 dengan L7. WCS harus dipindahkan dengan memilih
menu Transform WCS lalu mengisi DU sebesar DB/2, dan DV sebesar –D6, seperti
Gambar 3.25.

Gambar 3.25. Membuat Spasi D6

24. Membuat elemen L7. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard
untuk memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer
Radius diisi DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umin diisi dengan L7/2 dan memilih
material menjadi Aluminum seperti Gambar 3.26.

Gambar 3.26. Membuat Elemen L7


25. Memberikan spasi antara L7 dengan L8. WCS harus dipindahkan dengan memilih
menu Transform WCS lalu mengisi DU sebesar DB/2, dan DV sebesar –D7, seperti
Gambar 3.27.

Gambar 3.27. Membuat Spasi D7

26. Membuat elemen L8. Pilih icon Cylinder kemudian menekan esc pada keyboard
untuk memunculkan Dialog Box Cylinder, memilih orientasi menjadi U, Outer
Radius diisi DE dan Inner Radius diisi DE/2, Umin diisi dengan L8/2 dan memilih
material menjadi Aluminum seperti Gambar 3.28.

Gambar 3.28. Membuat Elemen L8


27. Menggabungkan semua elemen dengan Boom 1. Tekan ctrl pada keyboard,
kemudian klik Boom 1 sampai L7 kemudian pilih menu add pada Boolean, seperti
Gambar 3.29.

Gambar 3.29. Menggabungkan Semua Elemen

28. Menggeser WCS ke tengah Boom1 menggunakan menu Transform WCS, dan
memasukan nilai DU dengan DB/2 seperti Gambar 3.30.

Gambar 3.30. Menggeser WCS ke Bagian Tengah Boom1


29. Membuat Boom 2 dengan menu Transform. Klik Boom 1 pada bagian Components.
Pada menu Transform, Pilih Rotate, centang Copy, kemudian pada bagian Rotation
Angles isikan 180 pada sumbu V, seperti Gambar 3.31.

Gambar 3.31. Membuat Boom 2

30. Mengubah nama Boom yang telah digandakan menjadi Boom 2. Klik kanan pada
nama komponen, kemudian pilih Rename, seperti Gambar 3.32.

Gambar 3.32. Mengubah Nama menjadi Boom 2


31. Menggeser Boom 2 menggunakan menu Transform. Pilih Translate, pada bagian
Translation Vector, isikan JAB+JDB pada sumbu W, seperti Gambar 3.33.

Gambar 3.33. Menggeser Boom2

32. Memindahkan WCS untuk membuat Port. Melihat bentuk antena dari posisi bawah,
dengan memilih Bottom pada menu Perspective, kemudian memindahkan WCS ke
posisi seperti Gambar 3.34. menggunakan Transform WCS.

Gambar 3.34. Memindahkan WCS ke Sisi Atas


33. Membuat Port menggunakan Discrete Ports pada menu Simulation. Pilih S-Parameter
kemudian isi jarak port ke arah sumbu W sebesar JAB, seperti Gambar 3.36.

Gambar 3.36. Membuat Port

34. Mengatur Range Frekuensi yang akan digunakan. Memilih menu Frequency pada
Simulation, kemudian mengisi Frekuensi sesuai dengan perhitungan, seperti
Gambar 3.37.

Gambar 3.37. Mengisi Range Frekuensi


35. Mengatur Field Monitor. Untuk menampilkan Farfield yaitu jarak pancaran terjauh
antena yang masih bekerja dengan baik dan untuk menampilkan frekuensi tengah,
pilih Field Monitor dan pilih Farfield/RCS, seperti Gambar 3.38.

Gambar 3.38. Mengatur Field Monitor

36. Memulai Simulasi. Setelah selesai merancang bentuk antena, maka dapat
dilakukan simulasi. Pilih Setup Solver dan Start, seperti Gambar 3.39.

Gambar 3.39. Memulai Simulasi


37. Aplikasi sedang mensimulasikan hasil dari antena yang dirancang, seperti Gambar
3.40.

Gambar 3.40. Simulasi sedang berjalan


38. Melihat S-Parameter dan VSWR dari antena yang telah dibuat dengan memilih menu
pada sebelah kiri

Gambar 3.41. VSWR


Gambar 3.42. S-Parameter
BAB IV
HASIL SIMULASI DAN ANALISA

4.1. HASIL SIMULASI


Setelah beberapa kali melakukan optimasi, maka didapat hasil S-Parameter dan VSWR
minimum berada pada frekuensi kerja, yaitu dengan mengubah diameter boom menjadi
6.75 mm, diameter elemen menjadi 2.25mm dan panjang boom menjadi 760.3 mm.

ANTENA YANG TELAH DI OPTIMASI (TAMPAK DEPAN)


ANTENA YANG TELAH DI OPTIMASI (TAMPAK SAMPING)
Gambar 4.1.1 Farfield 3D

Gambar 4.1.2. Polar


4.2 Konversi Hasil Simulasi ke Excel

Setelah melakukan Optimasi Lalu VSWR dan S – Parameters nya sesuai yang diinginkan maka
selanjutnya Data yang berada di CST diekspor ke Ms Excel.

4.2.1 S-Parameter

Gambar 4.2.1 Hasil data s-parameter pada Excel

4.2.2 VSWR
Gambar 4.2.2 Hasil data VSWR pada Excel

4.3 Konversi Hasil Simulasi ke Visio

Setelah melakukan nya Ekspor ke Ms Excel selanjutnya mengekspor gambar di CST ke Ms Visio untuk
membuat Desain.

Gambar 4.3 Hasil data desain pada Visio

4.4 ANALISA
 Pada tugas ini dilakukan perancangan sebuah antenna, yaitu antenna Log Periodik
Dipole Array (LPDA) 8 elemen dengan menggunakan software CST Studio Suite
2018.
 Terdapat beberapa langkah dalam merancang sebuah antenna LPDA. Langkah
pertama yang harus dilakukan adalah menentukan frekuensi kerja, dan gain pada
antena yang akan dirancang. Pada perancangan ini digunakan frekuensi kerja
sebesar 300 MHz hingga 900 MHz dan gain sebesar 8 dB. Setelah menentukan
frekuensi kerja dan gain, perlu menentukan panjang elemen yang lain dan spasi
antar elemen dengan menghitungnya sesuai rumus antena LPDA, untuk mengisi
parameter yang akan dimasukkan ke dalam software CST. Tentukan pula nilai
satuan yang akan digunakan.
 Dalam perancangan ini digunakan 2 buah boom yang terhubung dan saling
berhadapan. Pada tiap boom terdapat 8 buah elemen dipole dengan panjang
berbeda-beda.
 Pada perancangan ini, material yang digunakan adalah bahan alumunium. Karena
memiliki sifat penghantar listrik dan panas yang baik untuk antena. Boom pada
antena ini berbentuk silinder dengan diameter berukuran sebesar 6.75 mm, diameter
elemen dipole dibuat sebesar 2.25 mm, dan jarak antar boom diatur sebesar 0.5 mm.
Nilai parameter tersebut adalah nilai parameter paling sesuai yang ditemukan
setelah optimasi beberapa kali.
 Dalam prosesnya, jika diameter boom semakin besar maka akan berpengaruh
terhadap nilai VSWR yang didapatkan yaitu akan semakin besar dan jika diameter
boom semakin kecil maka VSWR yang didapatkan akan semakin kecil.
 Jika diameter elemen semakin besar maka akan berpengaruh terhadap nilai VSWR
yang didapatkan yaitu akan semakin besar dan jika diameter elemen semakin kecil
maka VSWR yang didapatkan akan semakin kecil.
 Jika jarak antar boom semakin jauh maka akan berpengaruh terhadap nilai VSWR
yang didapatkan yaitu akan semakin besar dan jika jarak antar boom semakin dekat,
maka VSWR yang didapatkan akan semakin kecil.
 Jika ukuran panjang elemen semakin panjang maka akan berpengaruh terhadap nilai
VSWR dan besarnya gain, dimana nilai VSWR yang didapatkan akan semakin
besar dan besarnya gain akan semakin besar juga, dan jika ukuran panjang elemen
semakin pendek maka akan didapatkan nilai VSWR yang semakin besar dan
besarnya gain akan semakin kecil juga.
 Jika spasi antara elemen pertama dengan elemen kedua dibuat semakin dekat maka
akan berpengaruh terhadap nilai VSWR, dimana nilai VSWR nya akan mudah jatuh
di frekuensi kerja dengan nilai VSWR dibawah 2.
 Penempatan port juga berpengaruh terhadap nilai VSWR, jika penempatan port
diletakkan pada elemen terpanjang maka nilai VSWR akan besar. Penempatan port
harus diletakkan pada elemen terpendek, jika port diletakkan pada elemen
terpendek maka nilai VSWR akan efektif.
 Banyaknya elemen akan berpengaruh terhadap besar gain dari antenna LPDA,
karena semakin banyak jumlah elemen maka besar gain dari antenna tersebut akan
semakin baik.
BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil perancangan antena LPDA (Low Periodic Dipole Array) yang bekerja sebagai
Pemantau Hama bagi Petani dalam Frekuensi 300-900 MHz, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Antenna LPDA dapat dioperasikan pada sinyal UHF dan VHF serta distimulasikan
menggunakan program CST Studio Suite yang menyediakan kebutuhan antenna
broadband.
2. Parameter antenna pada perhitungan sesuai rumus tidak selalu efektif untuk membuat suatu
antenna yang baik, maka dari itu perlu dilakukan optimasi yang dapat dilakukan secara
otomatis maupun manual.
3. Diameter boom, diameter elemen, panjang elemen, jarak antar boom, spasi anter elemen
merupakan parameter yang mempengaruhi nilai VSWR dan return loss dari sebuah antenna
LPDA.
4. Pola radiasi antenna LPDA adalah Unidirectional, jadi harus memperkecil minorlobe dan
menghilangkan sidelobe.
5. S-Parameter (Return Loss) yang baik paling minimum bernilai -10 dB sedangkan antenna
yang ideal memiliki VSWR = 1 atau minimal mendekati.
6. Semakin sering melakukan optimasi, biasanya proses simulasi dan optimasi selanjutnya
akan semakin lama prosesnya. Dapat memakan waktu yang cukup lama bahkan
mempengaruhi kondisi isi laptop seperti memperlambat kerja laptop.
7. Dari sekian percobaan, pada banyak kejadian, hasil simulasi pada setiap laptop akan
berbeda walaupun menggunakan parameter yang sama. Kemungkinan salah satu faktor
yang membuatnya seperti itu adalah spesifikasi dan kemampuan laptopnya yang juga
berbeda-beda.
8. Besar gain yang dihasilkan bergantung dengan banyaknya elemen antenna.
DAFTAR PUSTAKA

1. Log periodic dipole Array Antenna – Antenna Theory


www.antenna-theory.com
2. Hermawan, Ilham Setya. (2014). Antena Log Periodik.
http://ilhamsetyahermawan.blogspot.co.id/2012/06/antena-log-periodik.html
3. Wikipedia. Log-periodic antenna
https://en.wikipedia.0rg/.../log-periode-antenna