Anda di halaman 1dari 12

KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN
WAHAM

Oleh

EVA PUSPITA SARI


C121 13 017

PRESEPTOR INSTITUSI PRESEPTOR LAHAN

(................................................. ) (................................................. )

PROFESI NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
A. KASUS (MASALAH UTAMA)
Gangguan proses pikir : waham
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
1. Definisi
Menurut Gail W. Stuart (2007), Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan
realitas sosial. Waham merupakan keyakinan seseorang berdasarkan penelitian
realitas yang salah, keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektua dan
latar belakang budaya. Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan
kenyataan tetapi dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain,
keyakinan ini berasal dari pemikiran klien dimana sudah kehiangan kontrol
Jenis-jenis waham :
a. Waham kejaran, misalnya pasien yakin bahwa ada orang atau komlpotan yang
sedang mengganggunya atau bahwa ia sedang di tipu, dimata-matai, atau dikejar
b. Waham somatic atau hipondrik, adalah keyakinan tentang (sebagian) tubuhnya
yang tidak mungkin benar, misalnya ususnya sudah busuk, ada seekor kuda dalam
perutnya
c. Waham kebesaran, adalah bahwa ia mempunyai kekuatan, pendidikan,
kepandaian atau kekayaan yang luar biasa, misalnya : mempunyai puluhan rumah
atau mobil, atau dapat membaca pikiran orang lain
d. Waham keagamaan : waham dengan tema keagamaan
e. Waham dosa, adalah keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang
besar, yang tidak dapat diampuni atau bahwa ia bertanggung jawab atas suatu
kejadian yang tidak baik, misalnya kecelakaan keluarga, karena pikiran yang tidak
baik
f. Waham pengaruh, adalah bahwa pikirannya, emosi atau perbuatannya diawasi
atau dipengaruhi oleh orang lain atau suatu kekuasaan yang aneh
g. Waham sindiran (ideas of reference) : ia dibicarakan orang lain
h. Waham nihilistic adalah bahwa dunia ini sudah hancur atau bahwa ia sendiri
dan/atau orang lain sudah mati, (Maramis, 2009)
2. Etiologi
Penyebab
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah.
Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri
sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai
keinginan.
Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang
ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi,
pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain
yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

3. Rentang respon

Respon adaptif Respon Maladaptif

Pikiran logis Distorsi pikian Gangguan

Persepsi akurat Ilusi pikiran/delusi


Emosi konsisten
Reaksi emosi -/+ Halusinasi
Perilaku sosial
Perilaku aneh Sulit berespon emosi
Berhubungan sosial
Menarik diri Perilaku disorganisasi

Isolasi sosial

a. Pikiran logis: yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren
b. Persepsi akurat: yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang
didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang
ada di dalam maupun di luar dirinya
c. Emosi konsisten dengan pengalaman: yaitu manifestasi perasaan yang konsisten
atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung
tidak lama
d. Perilaku sesuai hubungan sosial: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya
umum yang berlaku
e. Hubungan sosial harmonis: yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan
antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama
f. Proses pikir kadang terganggu (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi impuls
eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada
area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah
dialami sebelumnya
g. Emosi berlebihan atau kurang: yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar
berlebihan atau kurang
h. Perilaku tidak sesuai atau biasa: yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata
dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma – norma sosial atau
budaya umum yang berlaku
i. Perilaku aneh atau tidak biasa: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya
umum yang berlaku
j. Menarik diri: yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain.
k. Isolasi sosial: menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam
berinteraksi
4. Tanda dan gejala
a. Usaha bunuh diri atau membunuh orang lain
b. Menolak makan/obat
c. Gembira atau takut
d. Gerakan tidak terkontrol
e. Mudah tersinggung
f. Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan
g. Tidak bisa membedakan antara yang nyata dan tidak nyata
h. Menghindar dari orang lain
i. Mendominasi pembicaraan
j. Mengajukan kegiatan keagamaan secara berlebihan atau sama sekali tidak
melaksanakannya
k. Permusuhan dan curiga
l. Perwatan diri terganggu
m. Merasa dirinya kaya, walaupun sebenarnya tidak punya
5. Fase-fase waham
Berdasarkan fase-fasenya maka proses terjadinya waham dibagi menjadi 6 fase yaitu
sebagai berikut:
a. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien baik secara
fisik maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-
orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat
miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan
selft ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan
dipandang sebagai seorang dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dn
diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya
pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya
penghargaan saat tumbuh kembang (life span history).
b. Fase lack of self esteem
Tidak adanta pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara
self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan
kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui
kemampuannya. Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya,
menggunakan teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta
memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal yang
melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek
pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya
sangat rendah.
c. Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa
yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai
dengan kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang
sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap
penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena
kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan
sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien
itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya
toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar
pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan
klien tidak merugikan orang lain.
d. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu
yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang.
Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya
norma ( Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat
berbohong.
e. Comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri
dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan menghindar
interaksi sosial (Isolasi sosial).
f. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang
tidak terpenuhi ( rantai yang hilang ). Waham bersifat menetap dan sulit untuk
dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting
sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta
memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan
menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
C. POHON MASALAH

Efek Resiko tinggi perilaku


kekerasan

Core Problem Perubahan proses pikir: waham

Etiologi Isolasi sosial

D. MASALAH KEPERAWATANDAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Data yang perlu di kaji adalah:
1. Faktor Predisposisi
 Genetis; diturunkan
 Neurobiologis; adanya gangguan pada kosteks pre frontal dan kosteks limbik
 Neurotransmiter; abnormalitas pada dopamin, serotonin, dan glutamat
 Virus: paparan virus influenza pd trimester III
 Psikologis: ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tdk peduli
2. Faktor Presipitasi
 Proses pengolahan informasi yang berlebihan
 Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
 Sosial-Budaya
Teori ini menyatakan bahwa stres lingkungan dapat menyebabkna terjadinya respons
neurobiologis yang mal-adaptif, misalnya : lingkungan yang penuh dengan kritik
(rasa bermusuhan); kehilangan kemandirian dalam kehidupan atau kehilangan harga
diri; kerusakan dalam hubungan interpersonal dan gangguan dalam hubungan
interpersonal; kesepian; tekanan dalam pekerjaan; dan kemiskinan. Teori ini
mengatakan bahwa stres yang menumpuk dapat menunjang terhadap terjadinya
gangguan psikotik tetapi tidak diyakini sebagai penyebab utama gangguan.
3. Mekanisme Koping
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi klien dari pengalaman yang menakutkan
berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi:
 Regresi : berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk
mengatasi ansietas
 Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi
 Menarik diri
 Pada keluarga, mengingkari
4. Perilaku Waham
 Waham agama: percaya bahwa seseorang menjadi kesayangan supranatural atau
alat supranatural
 Waham somatik: percaya adanya gangguan pada bagian tubuh
 Waham kebesaran: percaya memiliki kehebatan atau kekuatan luar biasa
 Waham curiga: kecurigaan yang berlebihan atau irasional dan tidak percaya
dengan orang lain
 Siar pikir: percaya bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar
 Sisip pikir: percaya ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya
 Kontrol pikir: merasa perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain
Dari ke empat poin tersebut maka dapat disimpulkan data yang perlu dikaji baik subjektif
maupun objektifnya adalah sebagai berikut
Masalah Keperawatan Data yang perlu dikaji
Gangguan proses pikir:Waham Subjektif:
 Klien mengatakan bahwa dirinya adalah
orang yang paling hebat
 Klien mengatakan bahwa ia memiliki
kebesaran atau kekuasaan khusus
Objektif:
 Klien terus berbicara tentang kemampuan
yang dimilikinya
 Pembicaraan klien cenderung berulang-
ulang
 Isi pembicaraan tidak sesuai dengan
kenyataan

E. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Risiko tinggi perilaku kekerasan
2. perubahan proses pikir: Waham
3. Isolasi Sosial
F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Klien
Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga
dirinya.
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1) Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu,
tempat dan topik pembicaraan)
2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
3) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
4) Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
1) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2) Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi
pujian yang realistis
3) Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
c. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
1) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2) Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
d. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki
Tindakan :
1) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
2) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
3) Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
1) Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
2) Beri pujian atas keberhasilan klien
3) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
1) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
2) Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
3) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
4) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Keluarga
1. Keluarga mampu mengidentifikasi waham klien
2. Keluarga mampu memfasilitasi klien untuk memenuhi kebutuhan yang belum
dipenuhi oleh wahamnya
Tindakan:
1. Diskusikan dengan keluarga :
a. Gejala waham
b. Cara merawatnya
c. Lingkungan keluarga
d. Follow-up dan obat.
Anjurkan keluarga melaksanakan tindakan di atas dengan bantuan perawat
2. Diskusikan dengan klien tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping, dan akibat
penghentian
3. Diskusikan dengan keluarga kondisi klien yang memerlukan bantuan
DAFTAR PUSTAKA

Budiana keliat. (1999). Proses keperawatan kesehatan jiwa. EGC: Jakarta

Nita. 2009. Prinsip dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan untuk S1: Salemba Medika: Jakarta

Rasmun. (2001). Keperawatan kesehatan mental psikiatri terintegrasi dengan keluarga. Jakarta :
Fajar Interpratama

Stuart, Gail Tomb, David A. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. 2003. EGC: Jakarta

Wiscarzt. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. 2002. EGC: Jakarta