Anda di halaman 1dari 2

PERAN dan FUNGSI birokrasi

on August 14, 2016

PERAN dan FUNGSI birokrasi

Mengaoa birokrasi kuat secara politis afalah karena peran dan fungsi birokrasi yang sangat

spesifik, tidak dapat dimiliki dan tidak dapat di perankan oleh lembaga lainnya, sehingga

praktis birokrasi menjadi institusi yang paling berkuasa (the most powerfull institution(

secara riil dalam sistempolitik dibandingkan partai berkuasa ( the ruling patry) sekalipun.

Peran pertama : berperan dalam proses input, birokrasi dapat berperan untuk memberikan

usulan dan pendapat ( menyampaikan aspirasi) kepada lembaga legislative untuk di proses

menjadu sebuah kebijakan ( policy) ataupun peraturan (regulation). Peran kedua : berperan

dalam proses legislative. Karena birokrasi memiliki berbagai assset informasi yang sangat di

butuhkan dalam pengambilan keputusan pada lembaga legislative, maka institusi yang

twrkait dengan pembahasan suatu rancangan keputusan biasanya akan di undang untuk

memberikan pendapat sebelum keputusan ( berupa kebijakan atau peraturan) itu

ditetapkan.

Peran ketiga : berperan sebagai interpreter ( penerjemah ) produk legislative, dalam hal ini

birokrasi melakukan penafsiran, penjabaran dan penjelasan akan sebuah kebijakan maupun

peratutan yang telah ditetapkan badan legislative.

Peran ini akan sangat mempengatuhi pelaksanaan implementasi produk output, karena

interprestasi ini dapat mebghitam putihkan objek yang diinteepretasikan. Hampir dapat

dipasstikan bahwa seluruh produk ( output) keputusan dari lembaga legislative adalah

masih dalam tataran global, belum terpwrinci secara teknis.

Peran keempat : birokrasi juga bertindak sebagai eksekutor ( pelaksana) agar keputusan

politik yang dikelurkan oleh lembaga legislative dapat berjalan ditengah masyarakat, maka

birokraai bertugas untuj mengimplementasikan keputusan keputusan itu. Dalam peran

inilah berokrasi dapat bertindak atas nama pemerintah daerah berdasarkan kewenangan

yang diatur.

Peran peran yang multi fungsi itu tidak mungkin diperankan oleh golongan ( institusi) lain.
Partai politik (parpol) misalnya, hanya sapat berperan dalam proses input saja. Kalaupun

partai politik dapat berperan dalam proses output, perannya hanyalahenjadi pengawas

dalam proses implementasi kebijakan. Itupun sifatnya informal (dalam arti tidak diatur

secara eksplisit) begitupun organisasi lainya.