Anda di halaman 1dari 4

7 Kabinet Indonesia Pada Masa Demokrasi Liberal (1950-1959)

A. Kabinet Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951)

Pada tanggal 22 Agustus 1950, Presiden Soekarno mengangkat Muhammad Natsir dari
Masyumi sebagai formatur kabinet. Lima belas hari kemudian kabinet berhasil dibentuk dengan
nama Kabinet Natsir.
Program kerja Kabinet Natsir, antara lain sebagai berikut :
1. Mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilu
2. Konstituante dalam waktu singkat.
3. Menggiatkan usaha mencapai keamanan dan ketentraman.
4. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.
5. Memperkuat konsolidasi dan penyempurnaan pemerintah
6. Penyempurnaan angkatan perang
7. Mengembangkan dan memperkuat perekonomian rakyat.

Keberhasilan yang pernah dicapai oleh Kabinet Natsir yaitu:


1) Di bidang ekonomi, ada Sumitro Plan yang mengubah ekonomi kolonial ke ekonomi
nasional.
2) Indonesia masuk PBB.
3) Berlangsung perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai
masalah Irian Barat.

Penyebab jatuhnya Kabinet Natsir dikarenakan kegagalan Kabinet ini dalam menyelesaikan
masalah Irian Barat dan adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan
Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah
No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui
parlemen sehingga Kabinet Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.

B. Kabinet Sukiman (27 April 1951 - 23 Februari 1952)

Dengan jatuhnya Kabinet Natsir, Presiden Soekarno menunjuk Dr. Sukiman Wiryosanjoyo dari
Masyumi dan Dr. Suwiryo dari PNI untuk membentuk kabinet. Atas usaha dua orang formatur
ini terbentuklah kabinet yang diberi nama Kabinet Sukiman dengan perdana menteri Dr.
Sukiman dan wakil perdana menteri Dr. Suwiryo.
Program kabinet Sukiman, antara lain sebagai berikut :
1. Menjalankan tindakan-tindakan yang tegas sebagai negara hukum untuk menjamin
keamanan dan ketentraman.
2. Mempercepat usaha penempatan bekas pejuang dalam lapangan pembangunan.
3. Menyelesaikan persiapan pemilihan umum konstituante.
4. Menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang menuju perdamaian.
5. Memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia.
Kejatuhan Kabinet Soekiman merupakan akibat dari ditandatanganinya persetujuan bantuan
ekonomi dan persenjataan dari Amerika Serikat kepada Indonesia atas dasar Mutual Security
Act ( MSA ). Persetujuan ini menimbulkan tafsiran bahwa Indonesia telah memasuki Blok Barat,
yang berarti bertentangan dengan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik
dukungannya pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman
harus mengembalikan mandatnya kepada presiden.

C. Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 30 Juli 1953)

Kabinet Wilopo merupakan koalisi dengan pendukung PNI, PSI, Masyumi Natsir. Program
kabinet Wilopo, antara lain sebagai berikut :
1. Bidang pendidikan dan pengajaran adalah mempercepat usaha perbaikan untuk
pembaruan pendidikan dan pengajaran.
2. Bidang perburuhan adalah melengkapi undang-undang perburuhan.
3. Bidang keamanan adalah menyempurnakan organisasi- organisasi alat-alat kekuasaan
negara.
4. Bidang luar negeri adalah meneruskan perjuangan merebut Irian Barat.
5. Melaksanakan pemilihan umum
6. Meningkatkan kemakmuran rakyat
7. Upaya menciptakan keamanan dalam negeri
8. Melaksanakan politik luar negeri bebas aktif

Adapun beberapa kegagalan yang dialami kabinet Wilopo, yaitu :


1. Peristiwa pada tanggal 17 Oktober 1952 yang disebabkan oleh masalah ekonomi,
reorganisasi atau profesionalisasi tentara, dan adanya campur tangan parlemen atas
permasalahan militer
2. Adanya kondisi krisis ekonomi sehingga menyebabkan jatuhnya harga barang ekspor
Indonesia
3. Peristiwa Tanjung Morawa, yaitu peristiwa dimana rakyat protes kepada pemerintah
yang telah mengerjakan lahan perkebunan kepada para investor asing dengan alasan
untuk meningkatkan hasil devisa negara

D. Kabinet Ali - Wongso - Arifin atau Kabinet Ali (1 Agustus 1953 - 24 Juli 1955)

Kabinet Ali-Wongso-Arifin dibentuk pada tanggal 30 juli 1953. Kabinet Ali Satroamidjojo I ini
dipimpin oleh Mr. Ali Sastroamidjojo. Kabinet ini juga merupakan koalisi antara PNI dan NU.
Sedangkan Masyumi menjadi oposisi (partai penentang). Program kerja kabinet Ali-Wongso-
Arifin sebagai berikut :
1. Pelaksana pemilu
2. Usaha pembebasan Irian Barat secepatnya
3. Upaya pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif dan melakukan peninjauan kembali
persetujuan KMB
4. Penyelesaian pertikaian politik
Keberhasilan Kabinet Ali adalah pada masa pemerintahannya berhasil melaksanakan
Konferensi Asia Afrika di bandung.

Penyebab jatuhnya kabinet Ali I adalah adanya masalah pergantian KASAD (Kepala Staf
Angkatan Darat) yaitu Jenderal Nasution mengundurkan diri dari KSAD yang dikenal dengan
"Peristiwa 27 Juni 1955" menyebabkan beberapa anggota parlemen mengajukan mosi tidak
percaya yang diterima oleh DPR.NU menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga
keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada
presiden.

E. Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956)

Kabinet Burhanuddin Harahap terbentuk pada tanggal 11 Agustus 1955, Program kerja Kabinet
Burhanuddin Harahap, antara lain sebagai berikut :
1. Mengembalikan kewibawaan moral pemerintah.
2. Melaksanakan pemilihan umum.
3. Memberantas korupsi.
4. Meneruskan perjuangan merebut kembali Irian Barat.
5. Melaksanakan kerja sama antara Asia-Afrika
6. Upaya menghilangkan faktor yang menimbulkan inflasi

Keberhasilan Kabinet Burhanuddin Harahap adalah dapat menyelenggarakan pemilu pertama


sejak indonesia merdeka.Berhasil menyelenggarakan Pemilu I, berhasil mengembalikan posisi
Nasution sebagai KSAD dan pembubaran Uni Indonesia-Belanda

Setelah hasil pemungutan suara dan pembagian kursi di DPR diumumkan, pada tanggal 2
Maret 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri dan menyerahkan mandatnya
kepada Presiden Soekarno untuk membentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilu.

F. Kabinet Ali II (24 Maret 1956 - 14 Maret 1957)

Kabinet Ali II dibentuk berdasarkan keputusan Presiden No. 85 Tahun 1956. Program kerja
Kabinet Ali II, antara lain sebagai berikut :
1. Pembatalan KMB
2. Upaya perjuangan mengembalikan Irian Barat ke Pangkuan Republik Indonesia
3. Melaksanakan keputusan KAA ( Konferensi Asia Afrika )
4. Upaya pemulihan keamanan
5. Usaha dalam memperbaiki nasib kaum buruh dan pegawai

Keberhasilan Kabinet Ali II adalah membatalkan hasil KMB, membentuk provinsi Irian Barat
yang beribukota di Soasiu, Maluku Utara, dan pengiriman misi garuda I ke Mesir.

Sebab-sebab kejatuhan Kabinet Ali II, antara lain sebagai berikut :


1. Adanya Konsepsi Presiden 21 Februari 1957.
2. Adanya pemberontakan antara PRRI-Permesta
3. Terjadi perpecahan dalam kabinet antara PNI dan Masyumi
4. Adanya konflik dalam badan konstituante
5. Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi (Januari 1957), membuat kabinet hasil
Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada Presiden pada tanggal 14 Maret
1957.

G. Kabinet Djuanda (9 April 1957 - 10 Juli 1959)

Kabinet Juanda atau Kabinet Karya dilantik pada tanggal 9 April 1957 dengan Program Kerja
yang serius disebut sebagai Pancakarya:
1. Pembentukan Dewan Nasional.
2. Normalisasi keadaan Republik Indonesia.
3. Melanjutkan pembatalan KMB.
4. Memperjuangkan Irian Barat.
5. Mempercepat pembangunan.

Keberhasilan Kabinet Karya ialah mengadakan rapat umum pembebasan Irian Barat di Jakarta
pada tanggal 18 November 1957. Rapat ini diikuti dengan tindakan-tindakan pemogokan kaum
buruh di perusahaan Belanda dan pembentukan Front Nasional Pembebasan Irian Barat, dapat
mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui deklarasi Juanda, terbentuknya
Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan untuk menampung dan menyalurkan
pertumbuhan kekuatan masyarakat dan diketuai oleh presiden, diadakannya Musyawarah
Nasional Pembangunan yang bertujuan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri.

Pada Tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden, yang isinya
kembali ke UUD 1945 dan UUDS 1950 tidak berlaku. Kabinet Djuanda secara otomatis harus
diganti, sehari kemudian Ir. Djuanda menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno