Anda di halaman 1dari 22

ETIKA BERBANGSA

Menurut Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur

dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

Muchammad Jafar Siddik

NIM. 1151030194

JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang paling komprehensif dalam

mengatur kehidupan umatnya melalui kitab suci alquran. Allah selalu

memberikan jalan kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil,

dengan kata lain menjadi umat yang kafah (sempurna). Kita sering

mendengar ajaran islam dikelompokan dalam dua ketegori yaitu Hablum

Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum

Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menyuruh kedua

hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak

dipentingkan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan

dengan manusia, karena hablumminannas lebih komplek dan

komprehensif dalam dalam alquran.1

Menurut Al-Madudi syari’ah Islam tidak mengenal pemisahan

antara agama dan politik antara agama dan negara. Syari’ah merupakan

totalitas pengaturan kehidupan manusia yang tidak mendukung

kekurangan sedikitpun. Negara harus didasarkan pada empat prinsip, yaitu

mengakui kedaulatan Tuhan, menerima otoritas Nabi Muhammad,

memiliki status wakil Tuhan (Khalifah), dan menerapkan musyawarah.2

1
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Jakarta:PT. Mizan Pustaka,2009),
2
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara ; Ajaran, Sejarah, Dan Pemikiran, (Jakarta :
UI Press, 1995) ,166
Pandangan hubungan agama dan negara besifat simbolitik, yaitu

berhubungan secara timbal balik dan saling memerlukan. Dalam hal ini,

negara membutuhkan agama sebagai dasar pijakan kekuatan moral

sehingga ia dapat menjadi mekanisme kontrol, sementara disisi lain agama

memerlukan negara sebagai sarana untuk mengembangkan agama itu

sendiri.3

Kitab suci alquran sebagai pedoman hidup umat manusia yang

haqiqi senantiasa memberikan kontribusi monumental dalam setiap lini

kehidupan, selain itu juga alquran tidak menjadi dirinya sebagai pengganti

usaha manusia, akan tetapi sebagai pendorong dan pemandu, demi

berperannya manusia secara positif dalam berbagai bidang kehidupan4

Kecenderungan umat manusia dalam berinteraksi dan berkumpul

dengan suatu kelompok atau komunitas, suku dan golongan merupakan

fitrah dari jiwa kemanusiaan. Hal tersebut tidak bisa dicopot dari karakter

serta watak dasar manusia sebagai zoon politikon, yaitu makhluk yang

membutuhkan bantuan orang lain tidak bisa hidup sendiri. interaksi

manusia mulai dari kelompok terkecil yakni hubungan keluarga dan

kerabat. Kemudian beranjak membentuk sebuah marga (clan), suku dan

bangsa yang sangat beragam. Dari keberagaman inilah sering terjadi friksi-

friksi yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Hal ini tidak terlepas dari

sikap fanatisme (ashobiyah) yang cukup tinggi dan cenderung berlebihan.

3
Suyuti J . Pulungan, Fiqih Siyasah : Ajaran, Sejarah, Dan Pemikiran, Jakarta : ISIS,
1994, 8
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qu’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
4

Masyarakat, (Jakarta:PT. Mizan Pustaka,2009), cetakan III, 383.


Ini pula yang menjadi akar dari klaim kebenaran (truth claim) dengan

menampilkan superioritas kelompok atau komunitas terhadap kelompol

atau komunitas yang lain, dan sebaliknya menanggapi kelompok lain di

luar komunitasnya adalah salah.5 Sikap inilah yang menjadi sebab

terjadinya keretakan hubungan antara sesama manusia, antar suku, antar

bangsa bahkan antara agama sekalipun.

Seperti kita ketahui bersama, salah satu kritik yang dilontarkan

pada kehidupan berbangsa dan bernegara adalah lunturnya etika

berbangsa, mulai dari elite politik, birokrasi, penegakan hukum, hingga

meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Kondisi sosial kemasyarakatan dan

perilaku elite politik yang merasa paling benar dan paling bisa, menjadi

sala satu penyebab lunturnya etika pada berbagai bidang kehidupan,

sehingga masyarakat menjadi anarkis dalam memperjuangkan hak-haknya.

Bahkan, ketika dituntut melaksanakan kewanjiban warga negara

masyarakat menentang dan melawan. Disinilah kita menyaksikan etika

berpolitik runtuh, elite politik dan kekuasaan sengaja memperlihatkan

penyakit mental instant dan suka menerabas, ingin mencapai tujuan (kaya)

tanpa mau bekerja keras. Pada saat ini kita harus segera melakukan

”koreksi diri” atas keadaan ini.6

Kita semua merasakan akhir-akhir ini banyak terjadi keretakan

antar dua kelompok yang saling menjatuhkan satu sama lain yang berada

5
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara ; Ajaran, Sejarah, Dan Pemikiran, (Jakarta :
UI Press, 1995) ,168
6
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik (Jakarta: Kamil Pustaka,
2014), 268
dalam satu negara yaitu bangsa Indonesia. Menjelang pemilihan presiden

republik Indonesia, banyak statemen dari berbagai kelompok yang

menyebabkan kemarahan dari sebagian umat beragama. Bahkan

kemarahan yang datang merupakan bentuk klimaks atas kekecewaan dari

statemen yang bermaksud ingin memecah belah bangsa ini dengan merasa

kelompoknya paling benar dan kelompok lain yag salah, yang

menyebabkan kerenggangan antara umat beragama. Bahkan bukan hanya

umat beragama saja yang mengalami kerenggangan, namun juga

kerenggangan antara etnis (China- Jawa). Hal tersebut dilatarbelakangi

dari adanya fanatisme (ashobiyah) yang cukup kuat diantara kelompok-

kelompok tersebut.

Alquran, sebagaimana diketahui dan diyakini adalah kitab yang

diturunkan sebagai petunjuk dan pembimbing bagi manusia di setiap ruang

dan waktu (Qs. Al-Baqarah (2):2), al-Qur’an juga mengarahkan dan

mengantarkan manusia ke jalan yang peling lurus (Qs. Al-Isra’ (17):9).7

Selain itu, ia adalah kitab yang begitu luas, komprehensif, detail,

berurusan dengan soal besar dan kecil, termasuk bagaimana sebuah sistem

pemerintahan dirumuskan. Oleh karena itu, segala upaya pemahaman dan

pengalaman alquran harus diperhitungkan melalui berbagai faktor yang

rumit dalam sejarah kehidupan manusia. Ia harus diracik dan

7
Abdur Rahman Dahlan, Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an, (Bandung: Mizan,
1991), 19.
diterjemahkan melalui perhitungan-perhitungan sosiologi, kultural,

psikologi, etika juga politik.8

Ajarannya meliputi segala bidang kehidupan dan saling menjaga

antara bangsa dan agama. Maka sudah menjadi konsekuensi logis dari

umat Islam untuk senantiasa mendialogkan teks alquran yang terbatas

realitas yang tak terbatas. Peran signifikan dalam kehidupan inilah yang

membuat alquran tak bisa padam dari upaya penafsiran pesan-pesannya

yang sesuai dengan konteks yang baru atau dengan artikulasi yang baru

pula.9

Ayat-ayat alquran yang penulis gunakan untuk penelitian etika

berbangsa yang kemas dengan prinsip persatuan dan kesatuan, diantara

lain adalah QS. Al-Hujurat ayat 10 dan 13, QS. Ali Imran Ayat 105, QS.

Qasas ayat 77, QS. Al-Ma’idah ayat 2, QS. Al-Hasyr ayat 9, QS. An-Nisa

Ayat 59. Sedangkan kitab tafsir yang akan penulis gunakan adalah Kitab

tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir merupakan tafsir kontemporer yang

dikarang oleh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur. Beliau merupakan seorang

ulama di Tunisia. Metode Penafsiran yang digunakan Ibnu ‘Asyur dalam

kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir adalah metode tahlili karena kitab

tafsir ini memenuhi kriteria syarat-syarat metode tahlili (analisis).

Corak (laun) penafsiran dalam kitab tafsir ini adalah dengan tafsir bi al-

ra’yi yaitu dengan menggunakan aspek kebahasaan. Walaupun demikian

beliau juga ada menafsirkan alquran dengan alquran, dengan Hadits,


8
Emha Ainun Nadjib, Surat Kepada Kanjeng Nabi, (Bandung: Mizan, 1997),335.
9
Farichatul liqo’, “Enkulturasi al-Qur’an & Radikalisme Agama” dalam Alqur’an dan
Isu-isu Aktual Kontemporer. Ed. Taufik Akbar. Yogyakarta: IDEA Press, 2014, 1.
perkataan sahabat pandangan ulama, dan kesemua itu adalah untuk

menjadi pendukung pendapat mufassir. Sedangkan pendekatan (madkhal)

yang beliau gunakan adalah adabi atau sastra, karena beliau lebih banyak

menjelaskan kajian kebahasaan yaitu gramatikal dan sastra dan juga beliau

lebih menjelaskan kata perkata dalam lafazh alquran dan mengungkapkan

makna-makna suatu mufradat dalam ayat-ayat alquran.

Melihat karakteristik kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir yang

bercorak lugowi (Analisis bahasa) serta tingkat kebahasaannya tinggi.

Kitab tafsir tersebut sangat relevan dengan penelitian penulis yang

cendrung pada teori-teori kebahasaan untuk mengetahui makna yang

sebenarnya dan semoga mendapatkan pemahaman baru dari tafsir ini

dengan tingkat kebahasaannya. Dengan demikian penulis memberi judul

penelitian ini dengan “Etika Berbangsa Menutut Muhammad Thahir

Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir .”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas

maka permasalahannya dapat dirumuskan yaitu Bagaimana etika

berbangsa menurut Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya dalam

tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir ?


C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari peneliatian ini untuk mengetahui etika berbangsa

menurut Muhammad Thahir Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-

Tanwir.

D. Kerangka Pemikiran

Term “Etika” secara harfiyah berasal dari bahsa yunani kuno,

Ethikos, berarti “timbul dari kebiasaan.” Etika merupakan cabang utama

filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas. Etika mencakup analisis dan

penerapan konsep seperti benar, salah, buruk dan tanggung jawab.

Sementara “bangsa” adalah suatu kelompok manusia yang dianggap

memiliki identitas bersama dan mempunyai kesamaan bahasa, agama,

ideologi, budaya dan sejarah yang bertempat tinggal dikawasan yang sama

secara teritorian, yang dikenal dengan “negara”.10

Sehingga etika berbangsa secara sederhana bisa dipahami sebagai

upaya untuk bersatu diantara warga negara dalam satu wilayah yang

dilandasi atas nilai-nilai kebenaran, yang diterapkan dengan penuh

tanggung jawab. Karena persoalan etika menyangkut nilai-nilai moralitas

agama, maka erika berbangsa harus didasarkan pada nilai-nilai universal

dan masing-masing agama yang ada di Indonesia (khususnya) serta nilai-

nilai luhur budaya bangsa sebagai acuan dasar dalam bepikir, bersikap dan

bertingkah laku. Islam sebagai agama mayoritas seharusnya berada di

10
Ayyub, Hasan. Etika Islam, (Bandung: Trigenda Karya), 1994
garda terdepan dalam mengawal terealisasinya etika berbangsa tersebut.

Etika seharusnya mampu melewati batas-batas suku, ras, kelompok,

golongan maupun aliran politik.11

M. Natsir mengatakan man is born as sosial being (manusia

dilahirkan sebagai makhluk sosial). Sebagai makhluk sosial manusia tidak

bisa melepaskan dirinya dari sebuah komunitas dan hubungan pergaulan

terhadap sesama. Pada tataran ini akan terjadi proses pembauran yang

tidak mungkin dihindari.12

Yang jelas dalam pelaksaannya diperlukan keteladanan dari para

pemimpin negara, pemimpin politik dan tokoh masyaraka, yaitu dengan

mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan budaya luhur dalam kehidupan

pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara melalui berbagai

terobosan seperti pendidikan formal, informal, dan non formal. Dengan

demikian, agar tidak terjadi benturan, ketidakadilan, kesewenang-

wenangan, dan ketidaknyamanan yang membuat perpecahan diantara

kelompok masyarakat atau bangsa.

Rogert H. Soltou, seperti dikutip oleh Muin Salim, menjelaskan:


“Berdasarkan penghampiran sosiologis ia mengemukakan bahwa
kekuasaan itu adalah hubungan antara manusia yang sangat penting
untuk mengatur kehidupan manusia. Menurut pandangannya, di dalam
diri manusia memang terdapat hasrat-hasrat yang masing-masing
merupakan kekuatan yang diperlukan untuk membentuk, mengembangkan
atau menguatkan bahkan melemahkan masyarakat. Hasrat-hasrat tersebut
merupakan kekuatan sosial yang menjadi masyarakat bergerak sehingga

11
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik (Jakarta: Kamil
Pustaka, 2014), 270
12
Thohir Luth, Masyarakat Madani: Solusi Damai dalam Peradaban (Jakarta,
Mediacita,2006), hal. 76
kepentingan-kepentingan manusia dapat terpenuhi melalui penggabungan
dan penyelarasan.13

Kutipan diatas menunjukan, bahwa peran pemerintah dalam

membangun suatu etika bangsa sangat diperlukan, karena dengan begitu

jaminan atas tata kehidupan yang tertib, bertindak berdasarkan hukum,

sikap saling percaya sesama warga, akan terwujud. Dalam Bowling Alone,

Robert D. Putnam, menulis, diantara modal sosial yang sangat penting

bagi tegaknya sebuah pemerintahan yang demokratis, adalah sikap saling

percaya antara sesama warga (trust), disamping civil society sebagai satu

jaringan keterlibatan warga dan norma hubungan timbal balik

(reciprocity).14

Paham kebangsaan lahir dari kesadaran bahwa seorang individu

mempunyai hak-hak dasar sehingga ada persamaan anta satu dengan yang

lain, terlepas dari apa yang menjadi basis sosialnya. Bangsa menunjukan

pada suatu kelompok sebagai satu kesatuan kehidupan bersama yang

mencakup berbagai unsur yang berbeda dalam aspek etnik, sosial, agama,

kebudayaan, bahasa dan lain-lain. Semua terintegrasi dari unit-unit

teritorial kecil dalam perkembangan sejarah sebagai kesatuan sistem

13
Liat Muin salim, Konsepsi kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an, (Cet. 1, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 56
14
Untuk jelasnya, dapat dibaca dalam Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Callape
and Revival of American Communit. (New: York: Simon & Schuster, 2000), hal. 170. Hal ini
berarti ketidak percayaan warga (citizen distrust) terhadap otoritas atau pemerintah merupakan hal
yang sangat krusial dalam sebuah negara yang berdaulat, guna memberikan tekanan kepada
pemerintah tersebut, dan agar demokrasi dapat berjalan dengan baik. Ketidakpercayaan terhadap
otoritas bukan lebih krusial lagi dalam proses tranformasi politik dari otoritarianisme menuju
demokrasi. Sikap saling percaya sesama warga, sebagai bentuk dari budaya politik, telah menjadi
faktor menentukan bagi stabilitas demokrasi. Sikap saling percaya antar sesama warga sangat
diperlukan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dalam interaksi diantara sesama dan untuk
mengurangi ongkos sebuah transaksi pelayanan Negara bagi rakyat.
berdasarkan solidaritas yang ditopang dalam kepentingan bersama. Hal

tersebut bisa dilihat dari perkembangan sejarah, munculnya negara-negara

baru seperti di Benua Afika dan Asia. Hal tersebut dilalui dengan

penyatuan dan integitas dalam satu bangsa.15

Ibnu Khaldun diantara para cendikiawan muslim yang membahas

secara jelas dan gamblang tentang konsep ashabiyah dalam membangun

sebuah bangsa dan kekuasaan (negara). Secara jelas ia mengatakan dalam

muqaddimahnya, bahwa ashabiyah adalah rasa cinta terhadap nasab dan

golongannya yang diciptakan oleh Allah SWT di hati setiap hambanya

untuk cinta kasih tehadap keluarga dan kerabatnya. Dari perasaaan inilah

kemudian mendorong mereka membentuk komunitas yang kemudian

menjadi bangsa (masyarakat).16

Surat Al-Hujurat ayat 13

ُ ‫اس ِإنَّا َخلَ ْقنَا ُك ْم ِم ْن ذَ َك ٍر َوأ ُ ْنثَى َو َج َع ْلنَا ُك ْم‬


‫شعُوبًا َوقَ َبا ِئ َل‬ ُ َّ‫َيا أَيُّ َها الن‬

ٌ ‫ع ِلي ٌم َخ ِب‬
‫ير‬ َّ ‫َّللاِ أَتْقَا ُك ْم ِإ َّن‬
َ َ‫َّللا‬ َّ َ‫ارفُوا ِإ َّن أ َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْند‬
َ ‫ِلت َ َع‬
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.”

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menjelaskan perbedaan

antara as-syu’ub yang merupakan jamak dari kata sya’b (sekelompok

15
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara ; Ajaran, Sejarah, Dan Pemikiran, (Jakarta :
UI Press, 1995) ,187
16
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, ter. Ahmadie Thoha (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000).
Cet.II, Hlm 151
besar manusia) dan al-qaba’il jamak dari qabilah, berkaitan dengan hal ini

mereka memiliki beragam asumsi. Pendapat yang pertama mengatakan

bahwa cakupan as-sy’ab lebih luas cakupan qabilah sebagaimana yang

populer pada saat ini as-sy’ab bermakna bangsa tentu cakupannya besar.

Sedangkan ada sebagian lainnya mengatakan bahwa kata as-sya’b

digunakan untuk sekelompok orang Ajam, adapun al-qabilah adalah

isyarat untuk orang Arab. Sebagian lainnya mengatakan bahwa as-sya’b

adalah isyarat untuk orang-orang yang dinisbatkan keringat dan darah.

Tapi tafsiran yang pertama lebih cocok dari pada yang lainnya

sebagaimana dzahir ayatnya.17

Menurut Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur ayat ini menjelaskan

tentang suatu kabilah yang mempunyai nasab baik tidak boleh

menyombongkan akan kabilahnya terhadap kabilah yang lain yang

nasabnya kurang baik, maka berta’aruflah untuk saling mengenal antara

kabilah. Gabungan dari kedua kabilah atau lebih yang dimaksud dengan

bangsa, yang cakupannya lebih luas dari satu kelompok atau komunitas.18

Ta’aruf pada prinsipnya untuk menegakkan sikap saling

menghargai dan menghormati diantara sesama. Sehingga demikian,

masing-masing anggota masyarakat akan senantiasa merasa aman dan

nyaman tanpa diganggu oleh pihak lain, walaupun ia berbeda identitas

atau kelompok minoritas. Dengan ini yang paling berperan dalam

17
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Jakarta:PT. Mizan Pustaka,2009),
18
Ibnu ‘Asyur, at-Tahrir, jilid 8, 161
perealisasian konsep ta’aruf ini adalah yang paling kuat, dominan, dan

besar.19

Secara tektual kata berbangsa dalam alquran hanya ada satu yaitu

dalam surat Al-Hujurat ayat 13, namun dalam membangun etika bangsa

banyak ayat-ayat yang ma’nanya kontektual serta relevan, sehingga harus

ada yang disepakati dan dianggap penting untuk dipahami secara

mendalam dan proporsional etika berbangsa itu. Yaitu, secara umum

menyangkut, antara lain perlindungan, persaudaraan, dan loyalitas.20

Jadi dalam etika berbangsa harus banyak memahami setiap

kelompok yang ada dalam lingkungan bernegara yang menghasilkan

perlindungan, persaudaraan, dan loyalitas dalam berbangsa yang sesuai

dengan alquran. Namun dari keriga trem tersebut yang paling urgent untuk

saat ini adalah memberikan makna yang sebenarnya dalam persaudaraan

agar terwujudnya persatuan dan kesatuan dalam etika berbangsa.

E. Tinjauan Pustaka

Berikut ini sejumlah tulisan yang penulis cantumkan baik dalam bentuk

skripsi, tesis, desertasi, jurnal maupun buku-buku yang bersangkutan

dengan tema penelitian. Diantaranya:

Jurnal dengan judul Pemerintah dalam Perspektif Al-Qu,an karya

Fahrul Abd. Muid. Dijurnal ini dijelaskan Pemerintah sangat penting

dalam suatu komunitas bangsa, karena dengan pemerintah jaminan atas


19
As-Syaukani, Fathul-Qadir, jilid 7, h. 11
20
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik (Jakarta: Kamil Pustaka,
2014), Hal 268
tata kehidupan yang tertib akan terwujud. Dalam Islam dikenal term”al-

siyasah al-syar’iyyah (politik keagamaan) dan kepemimpinan formal yang

disebut khilafah, sultan, imamah, dan uli al-amr. Alquran hanya

mengandung nilai-nilai dasar etika dan moalitas politik sebagai landasan

dalam berbangsa dan bernegara.

Skripsi dengan judul Pesan Moral dalam Ayat- ayat Qital, karya

Arif Chasbullah. Dalam skipsi ini dijelaskan pesan moral dalam ayat-ayat

Qital, dalam dekade terakhi ini, praktek radikalisme agama mengalami

eskalasi yang cukup signifikan. Ada dua faktor mengenai radikalisme

yaitu faktor internal dan faktor eksternal, secara internal Al-Qur’an

memiliki multi interpretasi. Sedangkan secara eksternal bisa saja

munculnya radikalisme disebabkan faktor ekonomi, sosial maupun politik.

Namun fokus kajian skripsi ini adalah bagaimana pesan moral dalam ayat-

ayat Qital ditinjau dari aspek historis.

Ada pula skripsi dengan judul Konsep ASWAJA dalam Politik

Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) karya Saprudin. dalam

skripsi ini dijelaskan analisi pelaksanaan politik Islam ahlussunnah wal-

jamaah oleh PKNU di NKRI yang meluputi analisis terhadap pandangan

PKNU dalam politik ahlussunnah wal-jamah, analisis terhadap politik

ahlussunnah wal-jamaah di NKRI.

Berdasarkan beberapa kaya ilmiah yang telah penulis paparkan

diatas, jelas tidak ada yang membahas tentang Konsep Etika Berbangsa
yang mengacu pada penafsiaran Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dengan

kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir.

F. Metode dan Langkah-langkah Penelitian

a. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Analisis Deskriptif,

yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat (deskripsi) mengenai

situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Metode ini juga bertujuan untuk

mengumpulkan data serta informasi untuk disusun, dijelaskan dan

dianalisis.21 Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat

mendeskripsikan dan menganalisa penafsiran Muhammad Ali Ash

Shabuni terhadap etika berbangsa dalam alquran.

b. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat

kualitatif. Yang dimaksud kualitatif disini adalah suatu pendekatan

yang proses pengukurannya tidak melalui angka-angka atau ukuran

lain yang bersifat eksak. Bogdan dan taylor mendefinisikan kualitatif

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data sektiptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang

diamati.22

21
Sumardi Suryabrata, ”Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
1998)
Lexy J Moleong, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Bandung: PT Remaja
22

Rosdakarya, 2010).
c. Sumber Data

Sasaran atau objek penelitian ini adalah penafsiran teks-teks terkait

dengan Etika berbangsa, penafsiran Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur

serta data-data yang sesuai dengan tema dari berbagai sumber yang

berkaitan dengan pokok pembahasan yang penulis angkat. Adapun

sumber data pada penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Sumber Data Primer

Dalam penelitian ini penulis menggunakan sumber sumber

dari Alquran dan terjemahannya, kemudian tentang tafsir yang

menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah Tafsir At-

Tahrir wa At-Tanwir.

2. Sumber Data Sekunder

Sedangkan sumber data sekunder yang diambil dalam

penelitian ini yaitu dari data tertulis yang berupa buku-buku,

jurnal, skripsi, tesis, disertasi, internet maupun artikel serta media

informasi lainnya

d. Teknik Pengumpulan Data

Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode

perpustakaan/library research, yaitu mencari data dari berbagai macam

buku, kitab-kitab tafsir atau hadits dan lain-lain, untuk diklasifikasikan

menurut materi yang dibahas. Metode perpustakaan/library research

dalam pengambilan datanya dengan analisis teks /dokumen yaitu

mencari dan menelaah dari berbagai macam buku dan sumber-sumber


yang tertulis lainnya yang mempunyai hubungan dengan pembahasan

ini. Adapun yang menjadi sumber primer yaitu Tafsir Shafwah At-

Tafsir dan sumber sekundernya yaitu buku-buku yang berkaitan

dengan jihad dan buku-buku serta media informasi yang lainnya.

e. Teknik Analisa dan Interpretasi Data

Upaya yang dilakukan dengan mencari data yang relevan,

mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang

dapat dikelola, mensistensiskannya, mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, den

memutuskan apa yang dapat dihasilkan kepada orang lain.23

f. Sistematika Penulisan Skripsi

Agar skripsi ini menjadi lebih mudah untuk cicermati, maka dipelukan

sistematika penulisan yang jelas dan runtut. Maka dari itu penulis

merencanakan skripsi ini terdiri dari lima Bab dengan penjelasan

sebagai beikut:

Bab pertama merupakan pendahuluan yang membahas tentang latar

belakang masalah, terkait dengan alasan diangkatnya judul skripsi ini,

kemudian pokok masalah, yang menjadi pesoalan yang akan diteliti.

Kemudian tujuan dan kegunaan, tintauan pustaka, kerangka pemikiran

dan sistematika penulisan.

23
Bogdan, Biklen, Pengantar Studi Penelitian, (Bandung: PT Alfabeta, 1982).
Bab II Landasan Teoretis. Dalam bab ini akan dibahas pengertian

etika, pembagian etika, urgensi etika, pengertian berbangsa, serta

pendapat para tokoh tentang etika berbangsa dalam al-Qur’an

Bab III Biografi Mufasir. Dalam bab ini berisi tentang biografi

Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur, pada bagian ini akan diungkap

riwayat hidup Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur serta telaah terhadap

karyanya yang meliputi karakteristik tafsir tersebut.

Bab IV Interpretasi ayat, di mana dalam sub bab ini dijelaskan

penafsiran Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur terhadap ayat-ayat etika

berbangsa yang mencakup pada persaudaraan dalam berbangsa, Dan

temuan penelitian yang di dalamnya terdapat hasil dari penelitian

penulis tentang persaudaraan antara muslim dengan muslim dan

persaudaraan antar sebangsa menurut Muhammad Ali Ash Shabuni

dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir

Bab V Penutup. Bab ini berisi kesimpulan dari seluruh uraian yang

telah dikemukakan dan merupakan jawaban atas permasalahan yang

ada, dan saran-saran yang dapat disumbangkan sebagai rekomendasi

untuk kajian lebih lanjut.


Bab II

Kajian teoritis tentang etika berbangsa

A. Pengertian Etika

B. Pembagian Etika

1. Hati nurani

2. Nilai dan norma

3. Hak dan kewajiban

4. Menjadi manusia yang baik

C. Pengertian Berbangsa

D. Etika berbangsa dalam Islam

1. Perlindungan

2. Persaudaraan

3. Loyalitasa

Bab III

Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur dan Tafsirnya

A. Biografi Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur

1. Riwayat hidup

2. Riwayat pendidikan

3. karya

B. Tafsir

1. Latar belakang penafsiran


2. Karakteristik tafsir

3. Pendapat Ulama

Bab IV

Penafsiran Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur tentang Etika berbangsa

A. Inventarisasi ayat-ayat yang berkaitan dengan etika berbangsa

1. Ayat-ayat yang berkenaan dengan persaudaraan sebangsa

2. Ayat-ayat yang berkenaan dengan Saling menghormati (Ihtiram)

3. Ayat-ayat yang berkenaan dengan Saling tolong menolong (Ta’awun)

4. Ayat-ayat yang berkenaan dengan Berani berkorban (Isar)

5. Ayat-ayat yang berkenaan dengan Loyalitas (al-wala wa al-bara)

B. Penafsiran Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur tentang etika berbangsa

1. Penafsiran tentang ayat-ayat Persaudaraan sebangsa

2. Penafsiran tentang ayat-ayat Saling menghormati (Ihtiram)

3. Penafsiran tentang ayat-ayat Saling tolong menolong (Ta’awun)

4. Penafsiran tentang ayat-ayat Berani berkorban (Isar)

5. Penafsiran tentang ayat-ayat Loyalitas (al-wala wa al-bara)

C. Analisa Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur tentang etika berbangsa

Bab V

Penutup

A. Kesimpulan

B. Saran
Daftar pustaka

al-Ghazali, Muhammad. Induk Al-Qur’an, Jakarta: Cedikia Sentral

Muslim, 2003

al-Qattan, Manna’ Khalil. Srtudi ilmu-ilmu Al-Qur’an, Bogor: Pustaka

Litera Antar Nusa,2015

Assiba’i, Husni Musthafa. Kehidupan Sosial Menurut Islam, Bandung:

Diponegoro, 1993

Ayyub, Hasan. Etika Islam, Bandung: Trigenda Karya, 1994

Bogdan, Biklen. Pengantar Studi Penelitian, Bandung: PT Alfabeta, 1982

Dahlan, Rahman Abdur. Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an, Bandung:

Mizan, 1991

Ibn Ashur, Thahir, Muhammad. At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Dar

Suhunun li al-Nasyri wa al-Tauzi, 1997

Imam, Suprayo dan Tobroni. Metodologi Penelitian Sosial Agama,

Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001


Liqo’, Farichatul. “Enkulturasi al-Qur’an & Radikalisme Agama” dalam

Alqur’an dan Isu-isu Aktual Kontemporer. Ed. Taufik Akbar.

Yogyakarta: IDEA Press, 2014

Luth, Thohir. Masyarakat Madani: Solusi Damai dalam Peradaban,

Jakarta: Mediacita, 2006

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2010

Mushaf Al-Qur’an, Pentashihan Lajnah. Tafsir Al-Qur’an Tematik, Jakarta:

Kamil Pustaka, 2014

Nadjib, Ainun Emha. Surat Kepada Kanjeng Nabi, Bandung: Mizan, 1997

Nazir, Muhammad. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988

Salim, Abdul Mu’in. Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an”,

Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995

Salim, Muin Liat. Konsepsi kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an, Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada, 1994

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qu’an Fungsi dan Peran Wahyu

dalam Kehidupan Masyarakat, Jakarta:PT. Mizan Pustaka,2009

Tafsir, Ahmad. Pesan Moral Ajaran Islam, Bandung: Maestro, 2008