Anda di halaman 1dari 30

OBSERVASI ESENSIALITAS NUTRISI TERSEDIA TANAMAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN”

JAWA TIMUR

SURABAYA

2018
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam yang ditentukan
oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang menjadi habitat
akar-akar aktif tanaman. Tanah yang kekurangan suatu unsur hara akan
menampakkan gejala secara visual. Tiap hara umumnya menunjukkan gejala
tertentu yang bersifat spesifik. Dilihat gejala yang tampak pada tanaman, maka
dapat diperkirakan adanya kekurangan hara tertentu dalam tanah. Agar dapat
mengetahui dan mengamati keadaan sekitar dengan cepat dan tepat, dapat
mengamati gejala-gejala yang ditunjukkan oleh tanaman yang tumbuh di daerah
tersebut.
Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah.
Dengan mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara,
produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara
pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur
akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan
permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian
pupuk dan pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta
menjaga mutu tanah agar tetap berfungsi secara alami. Unsur hara esensial
merupakan unsur hara yang harus terpenuhi atau tersedia bagi tanaman untuk
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Unsur hara esensial ini meliputi N,
P, K, S, Ca, Mg. Dari kebutuhan esensial tersebutlah dilakukan praktikum minus
one test dengan melihat respon tanaman yang defisiensi unsur hara tersebut yaitu
–N, -P, -K, -Ca, -Mg, dengan perlakuan kontrol unsur hara lengkap yaitu NPK,Ca
dan Mg.
I.2. Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktium atau pengamatan ini yaitu agar:
1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi ingkat kesuburan kimia tanah
2. Mahasiswa mampu memahapi pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan
tanaman cabai, mampu membuat dan menghitung pupuk yang dibutuhkan
oleh tanaman cabai
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Cabai Merah


Cabai merupakan salah satu tanaman yang masuk kedalam jenis anaman
suku terong-terongan (Solanaceae) yang berasal dari amerika selatan. Cabai sejak
lama sudah dibudidayakan di Indonesia karena tanaman tersebut memiliki nilai
ekonomis yang tinggi. Cabai sering kali digunakan untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga yang dimana sebagai bumbu masak. Selain itu cabai banyak
digunakan sebagai bahan baku industry pangan dan farmasi (S. Alex.2011).
Tanaman cabai dapat beradaptasi dengan baik pada tanah berpasir, tanah liat atau
tanah liat berpasir. Bahan organic, baik dapat berupa pupuk kandang maupun
pupuk kompos, yang dangat disukai oleh tanaman cabai. Tanaman cabai dapat
bertoleransi dengan tanah masam dengan kisaran pH 4-5 dan pada tanamah basa
dengan pH 8 (Tjahjadi,1991). Klasifikasi cabai merah atau cabai keriting adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (Tanaman)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyte (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida ( Berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae (Suku terung-terungan)
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annum (Arianto.2010)

Untuk mendapatkan produksi yang optimal pada tanaman cabai harus


dilengkapi unsure hara yang diperlukan tanaman bagi proses pertumbuhan dan
perkembangannya adalah sama, yang membedakan hanyalah dosis bagi setiap
tanaamannya. Tanaman memerlukan unsure hara N,P, dan K yang cukup untuk
digunakan sebagai mensinsis bahan organic seperti asam amino dan asam nukleat
serta bahan-bahan yang berkaitan dengan energy pada tanaman seperti ADP dan
ATP. Pemberian pupuk N,P, dan K yang berimbnag akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman. untuk itu perlu adanya komposisi yang tepa dalam
pemberian pupuk anorganik dengan pupuk organic agar terjadi keseimbangan
unsure hara (Nazri et.al.,2017)
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Cabai
Cabai dapat dengan mudah ditanam, baik di dataran rendah maupun tinggi.
Syarat agar tanaman cabai tumbuh baik adalah tanah berhumus (subur), gembur,
dan pH tanahnya antara 5-6. Cabai dikembangbiakkan dengan biji yang diambil
dari buah tua atau yang berwarna merah. Biji tersebut disemaikan terlebih dahulu
(Sunarjono,2006). Temperatur yang sesuai untuk pertumbuhannya antara 16-23o
C. Temperatur malam di bawah 16oC dan temperatur siang di atas 23o C
menghambat pembungaan (Ashari, 2006).
2.3 Peran Unsur Hara bagi Tanaman
Setiap unsur hara memiliki perannya masing-masing dalam mendukung
proses pertumbuhan tanaman.
1) Nitrogen (N)
Nitrogen adalah unsur hara makro yang berperan terhadap integral penyusun
klorofil sehingga bertanggung jawab dalam proses fotosintesa (Munawar, 2011).
Apabila tanaman tercukupi hara N, maka dapat ditandai dengan brejalannya
proses fotosintesa secara lancar, warna daun tanaman lebih hijau dan pertumbuhan
vegeratifnya yang lebih baik. Menurut Handayanto DKK(2017) menyatakan
bahwa Nitrogen tanah dapat berada dalam bentuk organic maupun an organic,
dalam larutan dan dalam bentuk gas, dan sebagai anion dan kation. Yang diserap
oleh akar tanaman yaitu berbentuk anorganik. Bentuk umum kandungan nitrogen
dalam pupuk buatan dan pupuk kandang meliputi amoniak, urea, ammonium dan

nitrat. Amoniak ) yang berbentuk gas, dapat bereaksi cepat dengan air tanah

dalam membentuk kation ammonium yang bermuatan positif ). Urea [CO(

] cepat dikonversi dari bentuk padat atau cair oleh enzim urase menjadi

amoniak. Jika urea diberikan pada permukaan tanah dapat terjadi kehilangan N
dalam bentuk gas amoniak, terutama pada konsisi kering pada tanah dengan pH
tinggi. Jika dibenamkan atau dialirkan ke dalam tanah, urea akan diubah menjadi
ammonium yang bermuatan positif kemudian akan di tahan oleh muatan negaif
tanah. Hal tersebut dapat mencegah terjadinya pencucian ammonium, kecuali
kapasitas tukar kation (KTK) yang dimiliki oleh tanah tersebut rendah.
2) Fosfor (P)
Menurut Atmajaya (2017) menyatakan bahwa fosfor yang diperlukan oleh
tanaman dalam pembentukan ATP dan Energi yang dihasilkan oleh ATP tersebut
memiliki peran penting dalam penyerapan unsure hara lain seperti P, K dan Cu.
Hal tersebut disebabkan karena penyerapan unsure hara tersebut berlangsung
melalui proses difusi, yang dimana pergerakan unsure hara yang berasal dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dan dalam proses tersebut perlu adanya
bantuan dari energy ATP. Pengamatan secara visual terhadap tanaman yang
mengalami difisiensi unsure hara P akan menunjukkan gejala berupa daun tua
akan berwarna ungu atau kemerahan. Hal tersebut disebabkan karenya adanya
pembentukan pigmen antosisanin yang disebabkan adanya akumulasi gula pada
daun sebagai akibat dari terhambattnya proses sintesa protein. (Tamad, et.al.,
2013)
Fosfor memiliki peran penting dalam proses metabolisme tanaman yang
keberadaannya tidak dapat tergantikan dengan unsure yang lainnya. Fosfor juga
merupakan komponen penting asam nukleat, karena iu menjadi bagian esensial
untuk semua sel hidup. Fosfor sanga berpengaruh terhadap perkembangan
tanaman baik perkembangan akar, pertumbuhan awal tanaman, luas daun, dan
mempercepat hasil panen. (Yuliyanti dkk. 2013)
3) Kalium (K)
Kalium merupakan unsure hara dalam tanah memiliki peran dalam
pengangkutan hasil fotosintesis yang berasal dari daun ke organ reproduktif dan
penyimpanan, diantaranya ada buah, biji, umbi (Havin et. Al., 2005). Jumlah
nutrisi K yang cukup dapat menjamin fungsi daun dalam pertumbuhan buah dan
jumlah gula pada buah, sehingga nutrisi K dapat berperan dalam memperbaiki
ukuran, rasa dan warna buah (Munawar, 2011)
4) Kalsium (Ca)
Kalsium merupakan komponen lamella tengah dari dinding sel bagian Ca-
pektat yang berperan untuk memperkokok jaringan tanaman. kalsium juga
mempertahankan keutuhan membrane dan membatasi sitoplasma, vakuola, inti sel
dan sebagainya dalam lingkungan pH yang rendah, dan apabila kandungan Na
dalam laruan tinggi. Ca tidak bergerak di dalam tanaman (floem tanaman). Ca
mmerupakan bagian dari enzimamilase, dan terdapat dalam bentuk Kristal Ca-
oksidat dan Ca-karbonat.
Pengangkutan kalsium dari akar ke bagian atas tanaman melalui xylem
dengan mengikuti aliran transpirasi. Kalsium terutama dibutuhkan didaerah pucuk
yang membelah. Selama proses pembelahan tersebut kalsium berperan sebagai
spindle mitotic (Taiz & Zaiger, 1991). Kalsium diperlukan dalam mensistesis
dinding sel baru, terlebih khusus untuk bagian lamella tengah.pada membrane
terjaga oleh kalsium yang berperan sebagai jalur penghubung antara fosfat dan
gugus karboksilat fosfolipid (Caldwell dan Hwang dalam Marcshners, 1995), dan
protein permukaan dengan membrane (Legge et al. dalam fosfat dan gugus
karboksilat fosfolipid (Caldwell dan Hwang dalam Marcshners, 1995). Kalsium

melindungi membrane dari efek yang dapat merusak dan mempertahankan

keutuhan membrane, serta menekan kebocoran sitosol (Salisbury dan Ross,

1992).
Khusus di akar, dengan adanya Ca di lingkungan yang mendukung
pemanjangan sel akar tanaman. pembentukan formasi dinding sel yang

dipengaruhi oleh adanya bebas pada sitosol, melalui sekresi formasi

mucilage atau kalose (Marschner, 1995). Kalium juga dapat berfungsi untuk
menstimulasi pengikatan energy oleh membrane akar tanaman (kuiper dalam

Marschner, 1995). Pada tanah yang memiliki pH tinggi akan discounter oleh

konsentrasi dan pada tanah yang memiliki pH rendah akan discounter

oleh konsentrasi . Tingkat sitoplasma juga menentukan system transpo

anion membrane plasma dan membrane tonoplas.


Pada buah dan tuber, kalsium disuplai lebih banyak melalui daun. Salah satu
contoh peran kalium pada buah yaitu sebagai konstituen α-amilase disintesis di
dalam sel aleuron (Mitsui et al. dan Bush et al. dalam Marschner, 1995).
Konstituen Ca α-amilase akan disintesis di reikulum endoplasma (RE) kasar.

Sedangkan transpor melalui RE yang kemudian di stimulasi oleh asam

gibrelin (GA) dan dihambat oleh asam absizat (ABA).


Tamnaman menyerap kalsium dalam bentuk kation bifalen secara pasif

mengikuti pergerakan aliran trasnpirasi.(Marschner, 1995)


5) Magnesium (Mg)

Salah satu sumber hara Mg adalah kapu Dolomit ( Hardjowigeno,2019).


Manfaat dari pemberian kapur dolomite yaitu dapat meningkatkan tinggi tanaman
dan lingkar batang, akan ttetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah pelepah dan
luas daun. Unsure hara Mg dapat meningkatkan jumlah klorofil yang ada dalam
tanaman, akan tetapi tidak dapat meningkatkan Mg pada daun (Sudradjat dan
Fitriya, 2015). Mg merupakan kation divalent yang sangat elektropositif. Mg
emiliki peran dalam mensintesis klorofil, control pH sel, sintesis protein, aktivasi
enzim, dan transfer energy (Marschner, 1989). Mg berfungsi dalam pembentukan
klorofil, system enzim (activator), dan pembentukan minyak. Mg diperlukan
dalam jumlah yang cukup banyak dalam proses fotosintesis (Sutarta et al., 2007).

2.4 Definisi dan Gejala Defisiensi Unsur Hara Pada Tanaman


Kehilangan hasil yang cukup besar dengan kualitas produk yang rendah
disamping kerusakan lingkungan sering pula disebabkan akibat informasi
penggunaan pupuk yang tidak memadai (Romheld & Kirkby, 2010, dalam M, S,
Sitompul. 2016). Berikut merupakan konsep dasar yang perlu diperhatikan dalam
diagnosis dan toxisitas unsure hara yaitu:
1) Perlu tersedianya semua unsure hara dalam tingkat yang optimum untuk
pertumbuhan dan perkembangan taaman dengan hasil yang optimal. Respon
pertumbuhan tanaman terhadap peningkatan penyediaan unsure hara, yang
ditandai dengan konsentrasi defisiensi kitis (Romheld, 2012, dalam M, S,
Sitompul. 2016), dibagi menjadi tiga fase yaitu:
A. Pertumbuhan tanaman yang meningkat pesat dengan peningkatan
penyediaan unsure hara sehingga konsentrasi kritis (fase defisiensi).
a) Konsentrasi defisiensi kritis merupakan konsentrasi yang dibutuhkan
untuk mencapai suatu tingkat yang mendekati tingkat optimum
b) Konsentrasi kritis dapat juga dibatasi dengan pengertian konsentrasi
unsure hara dalam jaringan tanman dengan tingkat pertumbuhan tanaman yang
tidak meningkat banyak dengan peningkatan konsentrasi unsure hara lebih lanjut,
tetapi menurun sangat besar dengan penurunan sedikit konsentrasi unsure hara.
c) Konsentrasi defisiensi kritis dipengaruhi oleh umur dan bagian tanaman,
konsentrasi unsure hara lain, dan factor lingkungan.
B. Pertumbuhan mencapai tingkat optimum dengan penyediaan unsuur hara
pada tingkat tertentu, dan tetap pada tingkat optimum dengan peningkatan
penyediaan unsure hara (fase optimum).
C. Pertumbuhan menurun dengan peningkatan penyediaan unsure hara lebih
lanjut (fase keracunan/toxis).
2) Tanaman akan menunjukkan gejala tertentu pada kandisi yang dimana
tanaman mengalami defisiensi atau keracunan akibat tanah yang terkena cekaman
unsure hara baik itu kekurangan atau kelebihan.
3) Tingkat defisiensi unsure hara dengan pertumbuhan dan hasil yang
menurun sedikit akan tidak mengakibatkan gejala defisiensi visual yang lebih
spesifik.
4) Gejala defisiensi pada tanaman akan berbeda akibat setiap sumbernya
yaitu unsure hara, spesies atau varietas tanaman dan lingkungan.
Menurut (M, S, Sitompul. 2016) Berikut gejala umum difisiensi unsure hara
pada tanaman:
1. Defisiensi Nitrogen
Gejala defisiensi N adalah korosis (hijau pucat sampai kuning) yang terjadi
pada daun tua, mengalami pertumbuhan yang lambat (kerdil), dan mengalami
nekrosis pada daun yang lebih bawah jika mengalami kekurangan N yang berat.
2. Defisiensi Fosfor
Gejala defisiensi P antara lain ada tanaman dapat berbuah namun buahnya
cenderung kerdil, buah akan mudah masak sebelum tumbuh maksimal, warna
daun menjadi gelap atau kelabu disertai munculnya pigmen warna ungu mulai dari
ujung pada tanaman akan berubah ungu atau kecoklatan hingga menyebar,
pertumbuhan akar akan terganggu, tulang daun muda berwarna hijau gelap.
3. Defisiensi Kalium
Gejala defisiensi K antara lain ada terjadinya khorosis yang bermula pada
ujung daun dan akan berkembang pada tepi daun danterus kea rah bawah (pangkal
daun) dengan tulang daun utama pada bagian tengah daun masih tetap berwarna
hijau yang membentuk V untuk warna kuning. Daun yang mengalami defisiensi K
dapat juga menunjukkan bercak-bercak kecil setempat atau area khorosis dengan
daun terbakar pada bagian tepinya.
4. Defisiensi Kalsium
Gejala desiensi Nampak pada bagian tanaman yang tumbuh, akar tanaman
lebih sedikit kaarena mangalami keterhambatan dalam pertumbuhan akar.
5. Defisiensi Magnesium
Gejala mulai terlihat pada bagian bawah daun yang mengalami khlorosis
diantara tulang-tulang daun, akan tetapi tulang daun masih berwarna hijau, pada
tingkat yang lebih lanjut daun tanaman akan berubah warna menjadi kuning dan
akhirnya mengalami nekrotik
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

1.1. Waktu dan Tempat


Praktikum “Minus One Test" dilakukan pada hari Rabu, 26 September
2018 pukul 11.10 – 12. 50 WIB di Laboratorium Sumber Daya Lahan,
Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran" Jawa
Timur.
1.2. Alat dan Bahan
1.2.1. Alat
1. Polibag
2. Gembor
3. Timbangan
4. Plastik
1.2.2. Bahan
1. Tanaman Cabai
2. Pupuk Urea
3. Pupuk SP36
4. Pupuk KCl
5. Pupuk CaCO3
6. Pupuk Mg(OH)2
7. Kompos
8. Tanah
1.3. Cara Kerja
1.3.1. Perlakuan Kontrol
a. Menimbang 8 kg tanah dan 200 gram kompos
b. Memasukkan tanah dan kompos ke dalam polybag lalu diaduk
hingga rata
c. Menyiram tanah dengan air hingga mencapai kapasitas lapang
d. Menanam bibit tanaman cabai yang berumur 2 mst
e. Satu minggu kemudian, menimbang pupuk urea 5,6 gram,
pupuk KCl 3,44 gram, pupuk SP36 4 gram, Pupuk CaCO3 1, 28
gram, Pupuk Mg(OH)2 1,04 gram
f. Melarutkan pupuk dengan air secukupnya
g. Mengamati selama 5 minggu dengan parameter yang
digunakan antara lain tinggi tanaman dan jumlah buah
h. Membongkar tanaman dari dalam polybag kemudian diukur
tinggi tanama, berat basah dan berat kering dari ujung akar,
ujung akar hingga pangkal batang dan pangkal batang hingga
ujung batang
i. Mengkalkulasikan data hasil pengamatan
1.3.2. Perlakuan –Ca
a. Menimbang 8 kg tanah dan 200 gram kompos
b. Memasukkan tanah dan kompos ke dalam polybag lalu diaduk
hingga rata
c. Menyiram tanah dengan air hingga mencapai kapasitas lapang
d. Menanam bibit tanaman cabai yang berumur 2 mst
e. Satu minggu kemudian, menimbang pupuk urea 5,6 gram,
pupuk KCl 3,44 gram, pupuk SP36 4 gram, Pupuk Mg(OH)2
1,04 gram
f. Melarutkan pupuk dengan air secukupnya
g. Mengamati selama 5 minggu dengan parameter yang
digunakan antara lain tinggi tanaman dan jumlah buah
h. Membongkar tanaman dari dalam polybag kemudian diukur
tinggi tanama, berat basah dan berat kering dari ujung akar,
ujung akar hingga pangkal batang dan pangkal batang hingga
ujung batang
i. Mengkalkulasikan data hasil pengamatan
1.3.3. Perlakuan –Mg
a. Menimbang 8 kg tanah dan 200 gram kompos
b. Memasukkan tanah dan kompos ke dalam polybag lalu diaduk
hingga rata
c. Menyiram tanah dengan air hingga mencapai kapasitas lapang
d. Menanam bibit tanaman cabai yang berumur 2 mst
e. Satu minggu kemudian, menimbang pupuk urea 5,6 gram,
pupuk KCl 3,44 gram, pupuk SP36 4 gram, Pupuk CaCO3 1, 28
gram,
f. Melarutkan pupuk dengan air secukupnya
g. Mengamati selama 5 minggu dengan parameter yang
digunakan antara lain tinggi tanaman dan jumlah buah
h. Membongkar tanaman dari dalam polybag kemudian diukur
tinggi tanama, berat basah dan berat kering dari ujung akar,
ujung akar hingga pangkal batang dan pangkal batang hingga
ujung batang
i. Mengkalkulasikan data hasil pengamatan
1.3.4. Perkakuan –N
a. Menimbang 8 kg tanah dan 200 gram kompos
b. Memasukkan tanah dan kompos ke dalam polybag lalu diaduk
hingga rata
c. Menyiram tanah dengan air hingga mencapai kapasitas lapang
d. Menanam bibit tanaman cabai yang berumur 2 mst
e. Satu minggu kemudian, menimbang, pupuk KCl 3,44 gram,
pupuk SP36 4 gram, Pupuk CaCO3 1, 28 gram, Pupuk Mg(OH)2
1,04 gram
f. Melarutkan pupuk dengan air secukupnya
g. Mengamati selama 5 minggu dengan parameter yang
digunakan antara lain tinggi tanaman dan jumlah buah
h. Membongkar tanaman dari dalam polybag kemudian diukur
tinggi tanama, berat basah dan berat kering dari ujung akar,
ujung akar hingga pangkal batang dan pangkal batang hingga
ujung batang
i. Mengkalkulasikan data hasil pengamatan
1.3.5. Perlakuan –P
a. Menimbang 8 kg tanah dan 200 gram kompos
b. Memasukkan tanah dan kompos ke dalam polybag lalu diaduk
hingga rata
c. Menyiram tanah dengan air hingga mencapai kapasitas lapang
d. Menanam bibit tanaman cabai yang berumur 2 mst
e. Satu minggu kemudian, menimbang pupuk urea 5,6 gram,
pupuk KCl 3,44 gram, Pupuk CaCO3 1, 28 gram, Pupuk
Mg(OH)2 1,04 gram
f. Melarutkan pupuk dengan air secukupnya
g. Mengamati selama 5 minggu dengan parameter yang
digunakan antara lain tinggi tanaman dan jumlah buah
h. Membongkar tanaman dari dalam polybag kemudian diukur
tinggi tanama, berat basah dan berat kering dari ujung akar,
ujung akar hingga pangkal batang dan pangkal batang hingga
ujung batang
i. Mengkalkulasikan data hasil pengamatan
1.3.6. Perlakuan –K
a. Menimbang 8 kg tanah dan 200 gram kompos
b. Memasukkan tanah dan kompos ke dalam polybag lalu diaduk
hingga rata
c. Menyiram tanah dengan air hingga mencapai kapasitas lapang
d. Menanam bibit tanaman cabai yang berumur 2 mst
e. Satu minggu kemudian, menimbang pupuk urea 5,6 gram,
pupuk SP36 4 gram, Pupuk CaCO3 1, 28 gram, Pupuk Mg(OH)2
1,04 gram
f. Melarutkan pupuk dengan air secukupnya
g. Mengamati selama 5 minggu dengan parameter yang
digunakan antara lain tinggi tanaman dan jumlah buah
h. Membongkar tanaman dari dalam polybag kemudian diukur
tinggi tanama, berat basah dan berat kering dari ujung akar,
ujung akar hingga pangkal batang dan pangkal batang hingga
ujung batang
i. Mengkalkulasikan data hasil pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Pengamatan

4.1.1 Tabel 1. hasil Pengamatan minggu 1-4 perlakuan Minus One Tes

Hasil Observasi
Aplikasi
Tinggi
No. minus Pertumbu Gejala Jumlah Berat Gambar
tanam
nutrisi han akar Defisiensi Buah Buah
an
Daun
Perakaran berwarna
bertumbuh hijau muda
baik, serta sampai
1. - N (A2) 90 cm 11 29,0 gr
akar kuning,
sangat kecepatan
lebat pertumbuhan
lambat
Perakaran
kurang
Warna daun
baik
menjadi
dengan
gelap bahkan
Panjang
2. - P (B3) 76 cm kelabu. 6 14 gr
16 cm
Produksi
namun
lambat dan
tumbuh
sedikit.
jarang dan
rapuh
3. -K (B1) 85 cm Memiliki Tepi daun 5 20,6 gr
Panjang menguning
akar yaitu hingga
10 cm berubah
cokelat,
menurunkan
daya tahan
terhadap
hama dan
penyakit
sehingga
layu
Daun
berukuran
Panjang
kecil dan
4. -Ca (D2) 86 cm akar 28,5 1 2,4 gr
mengering
cm
setiap
minggunya
Daun
menggulung,
dan jarang,
terdapat
bercak
coklat
Panjang
namun
29 cm dan
warna daun
tidak
86,5 tetap hijau.
5. -Mg (C1) terlalu 4 15,3 gr
cm Kegagalan
lebat, akar
proses
mudah
pertumbuhan
patah
dan
perkembang
an bunga
sehingga
produksi
sedikit.
6. NPK 69,5 Akar Tumbuh - -
(control) cm bertumbuh normal
(A1) panjang
dan
mudah
rapuh

4.1.2 Tabel 2. Hasil pengamatan mingguan tinggi tanaman

Aplikasi Rata rata Tinggi


Minus Tinggi tanaman per minggu
No Nutrisi (cm)
1 2 3 4
1 -Ca 26 31,5 35,5 41,75 33,6875
2 -N 38 42,5 46,55 50,5 44,3875
3 -P 32 36,75 38,5 40 36,8125
4 -K 43,75 50,25 56,25 63,5 53,4375
5 -Mg 45,5 51,25 56,5 63,5 54,1875
6 Lengkap 36,65 45,5 48,5 53 45,9125
Rata rata tertinggi 54,1875
Rata rata terendah 33,678

4.1.3 Tabel 3. Hasil pengamatan mingguan jumlah buah

No Jumlah buah per minggu Rata-rata buah


1 2 3 4
1
0 0 1 1 1
2
3 4 7 7 5
3
1 2 3 4 4
4
0 3 4 5 3
5
3 3 4 4 4
6
0 0 0 6 6
Rata rata tertinggi
6
Rata rata terendah
1
4.1.4 Tabel 4. Hasil Pengamatan Akhir
Aplikasi
No Minus Panjang (cm) Jml Buah
Mutrisi
Seluruh Batang Akar
1 -Ca 69,55 48,3 21,25 1
2 -N 71,9 49,6 24,4 7
3 -P 75 40,5 24,5 4
4 -K 82,75 67,25 15,5 5
5 -Mg 72,25 47,25 25 4
6 Lengkap 69,75 46,75 23 6

Aplikasi Berat Batang


Berat Batang (g) Berat Akar (g)
No Minus (g)
Nutrisi Basah Kering Basah Kering
1 -Ca 2,4 16,75 0,26 2 0,15
2 -N 16,25 24,2 4,95 3,75 1,1
3 -P 8,85 24,3 4,06 4,15 0,56
4 -K 16,75 36 5,22 10,05 0,92
5 -Mg 13,5 36,55 6,75 1,99 0,68
6 Lengkap 5,5 24,9 4,3 2,9 1,1

4.1.5 Tabel 5. Biomassa


Aplikasi
No. Minus
Nutrisi Indeks Biomassa
Batang Akar
1 -Ca 0,02 0,08
2 -N 0,2 0,29
3 -P 0,17 0,12
4 -K 0,14 0,09
5 -Mg 0,18 0,34
6 Lengkap 0,17 0,38

IV.2. Pembahasan
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui peranan fungsi N,
P,K,Ca dan Mg bagi tanaman adalah dengan melakukan uji Minus One Test.
Metode ini dilakukan dengan menghilangkan salah satu unsur dari beberapa
unsur tersebut sehingga didapat perlakuan yang memberikan hasil terendah.
Perlakuan yang yang terdiri dari pengurangan unsur dan kemudian memberikan
produksi terendah menunjukkan bahwa unsur yang hilang merupakan faktor
pembatas pertumbuhan dan produksi.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa perlakuan minus one tes menunjukkan
beberapa gejala kekurangan unsur hara yang di uji diantaranya adalah kekurangan
N, P, K, Ca, Mg, dan NPK sebagai kontrol. Gejala ini dapat diketahui dari adanya
pertumbuhan ataupun perkembangan yang tidak seharusnya. Setiap kekurangan
unsur juga berbeda gejalanya, karena tiap unsur mempunyai tugas masing-masing
pada tubuh tanaman. Sehingga gejala yang ditimbulkan juga berbeda dan cara
mengatasinya akan berbeda pula. Jika dalam suatu tanaman terdapat defisiensi
nutrisi atau unsur hara tertentu akan mengakibatkan metabolism dalam tanaman
menjadi terganggu yang selanjutnya akan terdapat kenampakan gejala defisiensi
nutrisi atau unsur hara essensial tertentu.
Praktikum minus one test diaplikasikan pada tanaman Cabai (Capsicum
annuum) dengan perlakuan control, (-N), (-P), (-K), (-Ca), dan (-Mg). setiap
perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Selain perlakuan, beberapa
factor mempengaruhi pertumbuhan antara genetic tanaman, kondisi tanah, iklim
dan pemeliharaan yang dilakukan.
Tanaman cabai perlakuan minus Nitrogen (N) menunjukkan gejala defisiensi
berupa daun bagian bawah berwarna kuning, tulang daun dibawah permukaan
daun muda tampak pucat, pertumbuhan tanaman terhambat, dan produksi bunga
ataupun buah terhambat. Tanaman cabai perlakuan minus Fosfor (P)
menunjukkan gejala berupa munculnya warna merah keunguan pada bagian
bawah daun, daun tua berubah menjadi keunguan dan tanaman seperti terbakar.
Tanaman cabai perlakuan minus Kalium (K) menunjukkan gejala defisiensi
berupa mengerutnya daun, tepi dan ujung daun menguning kemudian menjadi
bercak coklat, bunga mudah rontok. Tanaman cabai perlakuan minus Kalsium
(Ca) menunjukkan gejala defisiensi berupa daun mongering lalu kenudian rontok,
titik tumbuh nampak lemah, produksi bunga terhambat. Tanaman cabai perlakuan
minus Magnesium (Mg) menunjukkan gejala defisiensi berupa muncul bercak
kuning pada permukaan daun tua, daun tua menjadi lemah (terlihat layu), mudah
terserang hama dan penyakit. Secara umum dalam skala kecil tidak dapat terlihat
secara jelas karakteristik gejala visualnya. Gejala akan terlihat jelas apabila
tingkat defisiensi atau toksitasnya tinggi atau berat sehingga gejala visualnya akan
nampak jelas. Parameter pengamatan pada praktikum Observasi Esensial Nutrisi
Tersedia Tanaman antara lain:
1. Tinggi Tanaman
Grafik 1. Grafik Pengamatan Tinggi Tanaman
Berdasarkan hasil Pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 2 MST
(masa setelah Tanam) dan 4 MST tanaman belum menujukkan respon
pertumbuhan terhadap pemberian pupuk. Hal ini dikarenakan sampai pada umur 4
MST akar tanaman sebagai organ tanaman yang memiliki kontak langsung dengan
unsur hara yang tersedia di dalam tanah belum sepenuhnya melakukan
penyerapan unsur hara yang diberikan melalui pemupukan, setelah diatas 6 MST
tanaman memberikan respon terhadap Pemberian Pupuk, hal ini dapat dilihat dari
hasil pengamatan minggu pertama terlihat jelas perbedaan yang signifikan
terhadap tinggi tanaman dan jumblah buah cabai. Dari pengamatan tinggi tanaman
yang dilakukan selama 4 minggu dapat diketahui apabila tinggi tanaman tertinggi
terdapat pada perlakuan minus Mg dan tinggi terendah pada perlakuan minus Ca.
tanaman yang diberikan perlakuan Mg memiliki rata-rata 54,1875 cm. Hal ini
menunjukkan bahwa unsur Mg tidak mempengaruhi tinggi tanaman Menurut
Sutarta et al., 2007 fungsi Mg adalah pemeliharaan keseimbangan metabolisme,
produksi protein, metabolisme karbohidrat.
Tanaman yang diberikan perlakuan kontrol memiliki rata rata tinggi
tanaman 45,9125 cm dimana akarnya bertumbuh panjang akan tetapi rapuh. Hal
ini menunjukkan bahwa dengan pemberian pupuk N, P dan K membantu tanaman
dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatifnya.
Tanaman yang diberikan perlakuan minus N memiliki rata-rata tinggi
tanaman 44,3875 cm Perakaran bertumbuh baik, serta akar sangat lebat. Hal ini
disebabkan karena N sudah tersedia di dalam tanah, tetapi secara mofologi
tanaman perlakuan minus N menyebapkan tanaman cabai Daun berwarna hijau
muda sampai kuning, hal tersbut menunjukan N tersedia di tanah tidak cukup
dalam memenuhi N untuk tanaman cabai. Menurut (Munawar, 2011) Nitrogen
adalah unsur hara makro yang berperan terhadap integral penyusun klorofil
sehingga bertanggung jawab dalam proses fotosintesa.
Tanaman yang diberikan perlakuan minus P memiliki rata-rata tinggi
tanaman 36,8125 cm, dimana akar dengan perlakuan ini kurang baik, tumbuh
jarang dan rapuh. hal ini karena peran unsure P di tanaman itu lebih mengarah
pada perkembangan tanaman. Menurut Atmajaya (2017) menyatakan bahwa
Fosfor sangat penting untuk pertumbuhan, pembelahan sel, terutama untuk
pemanjangan akar tanaman.
Tanaman yang diberikan perlakuan minus K memiliki rata-rata tinggi
tanaman 53,4375 cm, pada perlakuan minus K memberi dampak tinggi tanaman
dimana unsur lain dapat menggantikan fungsi K pada fase vegetatifnya. Hal ini
menunjukkan bahwa unsur K tidak mempengaruhi tinggi tanaman. Menurut
(Munawar, 2011) Kalium dalam tanah memiliki peran dalam pengangkutan hasil
fotosintesis yang berasal dari daun ke organ reproduktif dan penyimpanan,
diantaranya ada buah, biji, umbi.
Tanaman yang diberikan perlakuan minus Ca memiliki rata-rata tinggi
tanaman 33,6875 cm, dimana pada perlakuan ini merupakkan tinggi tanaman
terendah disbanding dengan perlakuan lain. Hal ini menunjukkan bahwa unsur
hara Ca memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman. Menurut (Taiz & Zaiger,
1991) kahat Kalsium dapat menyebapkan terhambatnya mersitem apical dan
pembesaran dan panjang batang.

2. Jumlah Buah
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada tanaman cabai dapat
diperoleh grafik seperti dibawah ini :
Grafik 2.Grafik Jumlah Buah

Tanaman cabai yang telah memasuki fase pembungaan artinya telah


memasuki fase generative dimana unsur hara yang dibutuhkan antara lain unsur
fosfor (P), kalsium (Ca), kalium (K), dan magnesium (Mg). jumlah buah
terbanyak terdapat pada perlakuan lengkap dengan jumlah buah sebanyak 6 buah.
Hal ini disebabkan oleh unsur nitrogen yang tersedia dalam tanah telah digunakan
pada fase vegetative dan ransangan pembungaan dipengaruhi oleh unsur kalsium,
kalium, dan magnesium. Ketiga unsur ini memiliki sifat antagonis dimana jika
salah satu unsur ini tidak seimbang maka akan menyebabkan kekalahan salah satu
unsur untuk diserap tanaman. Jumlah buah paling sedikit terdapat pada perlakuan
–Ca yaitu 1 buah. Kalsium berperan sebagai peransang pertumbuhan bulu – bulu
akar, yang menyebabkan metabolisme terganggu akibat berkurangnya penyerapan
unsur hara dari dalam tanah. Pada perlakuan minus kalsium pada minggu ketiga
dan keempat ditemukan adanya daun yang rontok. Daun yang rontok
menyebabkan berkurangnya fotosintat yang berpengaruh pada proses
pembentukan buah.

3. Berat Batang Basah, Berat Batang Kering, Berat Akar Basah dan Berat Akar
Kering
Grafik 3. Berat Basah dan Berat Kering Batang
Setelah dilakukan pengamatan visual dilahan, tanaman cabai dicabut lalu
dipotong pada bagian akar dan batang kemudian ditimbang yang disebut dengan
berat basah. Bagian tanaman yang telah dipotong tersebut dioven selama 24 jam
lalu ditimbang kembali yang digunakan sebagai berat kering. Berat batang basah
terbanyak terdapat pada perlakuan -Mg yaitu sebesar 36,55 gram. Defisiensi
terhadap unsur magnesium menyebabkan unsur hara yang terangkut hanya unusr
yang memiliki bobot ringan seperti nitrogen. Nitrogen berpengaruh dalam
pembentukan sel batang. Berat basah teringan terdapat pada perlakuan -Ca yaitu
16,75 gram. Hal ini disebabkan oleh tidak terbentuknya bulu – bulu akar secara
optimum sehingga proses penyerapan unsur hara tidak maksimum yang
menyebabkan unsur hara seperti nitrogen, kalium dan fosfor yang dibutuhkan
dalam fase vegetative tidak terserap dengan baik. Berat kering batang tertinggi
terdapat pada perlakuan minus Mg (magnesium) yang beratnya mencapai 6,75
gram. Hal ini ditunjang dengan kadar air pada batang yang mencapai 82,73%.
Kadar air yang cukup tinggi menandakan bahwa tanaman mampu menyerap unsur
hara dengan baik. Sedangkan berat kering batang terendah terdapat pada
perlakuan minus Ca yaitu 0,26, karena tidak dapat menyerap unsur hara dengan
baik sehingga yang terserap hanya air dalam tanah. Hal ini menyebabkan ketika
tanama dioven beratnya turun secara significant.
Grafik 4. Grafik Berat Basah dn Berat Kering Akar
Berat basah pada akar terbaik terdapat pada perlakuan –K yaitu 10,05 gram.
Pada perlakuan ini unsur yang berfungsi dalam pembentukan akar tanaman seperti
nitrogen dan kalsium menjadi tetap tersedia. Berat kering akar tertinggi terdapat
pada perlakuan minus nitrogen (N) yang mencapai 3,75 gram yang dipengaruhi
oleh unsur hara perangsang akar. Perlakuan minus Ca (kalsium) memiliki berat
basah dan kering akar yang rendah disebabkan tidak terdapat ransangan
pertumbuhan bulu – bulu akar yang terkandung dalam unsur hara kalsium.
Pengovenan dilakukan untuk mengetahui kadar air di dalam tanaman. Kadar
air diperoleh dari pengurangan berat basah dengan berat kering lalu dibagi dengan
berat basah. Kadar air batang pada perlakuan minus nitrogen sebanyak 79,5%,
pada perlakuan minus P (fosfor) sebanyak 83,3%, pada perlakuan minus K
(kalium) sebesar 85,5%, pada perlakuan minus Ca (kalsium) sebesar 98,4%, pada
perlakuan minus Mg (magnesium) sebesar 81,5% dan pada perlakuan control
sebesar 82,73%. Sedangkan kadar air pada akar diperoleh hasil sebagai berikut
pada perlakuan minus nitrogen sebanyak 70,67%, pada perlakuan minus P (fosfor)
sebanyak 86,54%, pada perlakuan minus K (kalium) sebesar 90,85%, pada
perlakuan minus Ca (kalsium) sebesar 92.5%, pada perlakuan minus Mg
(magnesium) sebesar 65,83% dan pada perlakuan control sebesar 62,1%.
4. Indeks Biomassa
Grafik 5. Grafik Indeks Biomassa Batang

Grafik 6. Grafik Indeks Biomassa Akar


Indeks biomassa dipengaruhi oleh berat basah dan berat kering pada tiap
tanaman dalam perlakuan minus one test. Setiap perlakuan kekurangan unsur hara
tertentu akan mempengaruhi pertumbuhan akar, batang, daun, bunga dan buah
yang berbeda – beda. Indeks biomassa batang pada perlakuan minus N (nitrogen)
memiliki indeks biomassa terbesar sebanyak 0,2 dan indeks biomassa terendah
pada minus Ca (kalsium) yaitu sebesar 0,02. Indeks biomassa akar pada perlakuan
kontrol memiliki indeks biomassa terbesar sebanyak 0,38 dan indeks biomassa
terendah pada minus Ca (kalsium) yaitu sebesar 0,08.
Apabila tanaman tidak mendapatkan hara atau nutrisi yang cukup dan
dibutuhkan oleh tanaman maka proses pertumbuhan dan perkembangan pada
tanaman akan ikut terhambat atau laju pertumbuhannya menjadi lambat akibat
proses-proses yang ada dalam tanaman ikut terganggu. Seperti pendapat
(Grundon, 1987; Marschner, 1986; Baligar dan Duncan, 1990) yang menyatakan
bahwa jika tanaman tidak mendapatkan hara dalam keadaan cukup atau kurang
dalam kebutuhannya maka tanaman tersebut dalam proses pertumbuhannya akan
lemah dan perkembangannya tampak abnormal. Pertumbuhan abnormal juga akan
terjadi bila tanaman menyerap hara melebihi untuk kebutuhannya
metabolismenya.
Hasil pengamatan tanaman cabai merah dengan perlakuan minus one test
menunjukkan bahwa perlakuan tersebut memberikan pengaruh terhadap
karakteristik tanaman dan hasil produksi tanaman tersebut. Terbukti dari setiap
perlakuan memiliki karakteristik dan produksi yang berbeda-beda, hal tersebut
menunjukkan bahwa energi dari tanaman untuk menyerap hara memiliki tingkat
energi yang berbeda. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Salisbury dan Rosss
(1992) yang menyatakan bahwa fosfor yang diperlukan oleh tanaman dalam
pembentukan ATP dan Energi yang dihasilkan oleh ATP tersebut memiliki peran
penting dalam penyerapan unsure hara lain seperti P, K dan Cu. Hal tersebut
disebabkan karena penyerapan unsure hara tersebut berlangsung melalui proses
difusi, yang dimana pergerakan unsure hara yang berasal dari konsentrasi tinggi
ke konsentrasi rendah dan dalam proses tersebut perlu adanya bantuan dari energi
ATP.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diambil kesimpulan bahwa :


1. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabe menunjukan hasil yang
berbeda berdasarkan pengurang salah satu unsur.
2. Tinggi tanaman, perlakuan NPK Mg Ca memiliki damapak yang signitif
dimana tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan minus Mg dan tinggi
tanaman terendah pada perlakuan Ca sedangkan perlakuakn control (NPK)
memiliki tinggi tanaman yang stabil.
3. Jumlah buah terbanyak terdapat pada perlakuan minus N (nitrogen) sebanyak
7 buah dan paling sedikit pada perlakuan pada minus Ca (kalsium) sebanyak
1 buah. Berat buah per tanaman terbaik terdapat pada perlakuan control
dengan berat rata – rata 3,75 gram per buah dan berat per buah rata – rata
terkecil terdapat pada perlakuan minus P(fosfor) yaitu sebesar 2,21 gram per
buah
4. Jumblah buah dan berat buah, perlakuan kontrol memberikan dampak
terhadap jumblah buah dan berat buah, dimana perlakuan kontrol
menghasilkan jumblah buah terbanyak, hal ini karena pada perlakuan kontrol
sudah mampu mengarah pada pertumbuhan generative tanaman cabai.
5. Berat kering dan berat basah, Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh
bahwa perlakuan minus K memiliki selisih berat basah dan berat kering yang
tertinggi, hal ini karena Unsur lain mampu menggantikan peran K dalam
fotosintesis, salah satunya adalah N, nitrogen adalah bagian dari klorofil
(pigmen hijau pada daun) dan sangat penting konstituen dari semua protein
dan sangat penting untuk fotosintesis. Ini terkait dengan aktivasi enzim.
6. Indeks biomassa batang tertinggi yaitu pada minus N sebesar 0,2 dan
terendah minus Ca sebesar 0,02. Indeks biomassa akar tertinggi yaitu pada
perlakuan kontrol sebesar 0,38 dan terendah minus Ca sebesar 0,08.
7. Kadar air batang dan akar tertinggi terdapat pelakuan minus Ca yaitu 98,44%
dan 92,5%. Kadar air batang terendah terdapat pada minus Mg (magnesium)
yaitu sebesar 81,5% dan kadar air akar terendah terdapat perlakuan control
yaitu 62,1%.
DAFTAR PUSTAKA

Arianto.2010.Budidaya Tanaman Cabai. Dalam. Tri .A.H,.2010. Budidaya Cabai


Keriting (Capsicum annum L.). Universitas sebelas maret. Surakarta.

Atmajaya, I. S. W. (2017). Pengaruh Minus One Test pada Pertumbuhan Vegetatif


Tanaman Mentimun. Jurnal Logika, 19(1), 63-68

Grundon, N. J. 1987. Hungry Crops: A Guide to Nutrient Deficiencies in Field


Crops. Department of Primary Industries, Queensland Government.
Information Series Q187002. 242p.

Hardjowigeno S. 2010. Ilmu Tanah. CV Akademika Pressindo, Jakarta.

Marschner, H. 1995. Mineral Nutrition of Higher Plant. Second Edition. Acad.


Press. London.

Munawar, Ali. 2011. Kesuburan Tanah dan Nutrisi Pemupukan. IPB Press. Dalam
Setya. I.W.A., 2017. Pengaruh Uji Minus One Test pada Pertumbuhan
Vegetative Tanaman Mentimun. Jurnal Logika, Vol XIX No.1 Hal: 64

Nursyamsi. D, A. Budianto., L. Anggria.2002, Pengelolaan Kahat Hara pada


Inceptisols untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Jagung. Jurnal
Tanah dan Iklin No.20 Hal: 57

Rozi Ahmad. H dan M. izhak, 2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah Badan Kerjasama
Perguruan Tinggi Bagian Timur. Ujung Padang

S.Alex,2011.Usaha Tani Cabai Kiat Jitu Bertanam Cabai di Segala


Musim.Pustaka Baru Press.Yogyakarta. Dalam Tyas .N.A., Fadlil. A.2013.
system identifikasi citra jenis cabai(Capsicum annum L.) menggunakan
metode klasifikasi city block distance. Jurnal sarjana teknik informatika,
Vol. 1, No. 2, Hal. 410.

Rosmarkam, A. Widya N, Y,. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. yogyakarta

Salisburry, F. B and C. W. Ross. 1992. Plant Fisiology. Balmont, California:


Wadsworth Publising Company. Dalam Setya. I.W.A., 2017. Pengaruh Uji
Minus One Test pada Pertumbuhan Vegetative Tanaman Mentimun. Jurnal
Logika, Vol XIX No.1 Hal: 64

Sudrajat dan fitriya. 2015. Optimasi dosis pupuk dolomite pada tanaman kelapa
sawit (Elaeis guineensis Jac.) belum menghasilkan umur satu tahun.
Agrovigor. 8: 1-8

Sutarta E.S., Rahutomo S., Darmsarkoro W. dan Winarna. 2007. Peranan unsure
hara dan sumber hara pad apemupukan tanaman kelapa sawit. Dalam: W.
Darmosarkoro, E.S. Sutarta, Winarna. (Eds). Lahan dan Pemupukan
Kelapa Sawit. Edisi ke-1. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan

Taiz, L and E. Zeiger. 1991. Plant Physiology. The Benjamin/Cumming Pub. Co.
Inc. New York.

Tamad. et. Al., 2013. Dalam Setya. I.W.A., 2017. Pengaruh Uji Minus One Test
pada Pertumbuhan Vegetative Tanaman Mentimun. Jurnal Logika, Vol
XIX No.1 Hal: 64

Yuliyanti, S. 2013. PENGARUH PUPUK FOSFOR PADA PERTUMBUHAN


DAN PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.).
Gorontalo.
LAMPIRAN GRAFIK

Grafik 7. Grafik Panjang Tanaman

Grafik 8. Grafik Panjang Batang Tanaman


Grafik 9. Grafik Panjang Akar
LAMPIRAN