Anda di halaman 1dari 68

PEKERJAAN:

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Bandara Sultan Syarif Kasim II yang terletak ± 10 km dari pusat Kota Pekanbaru pada posisi 00°27”23’
LS dan 101°26”36’BT. Dengan memiliki landasan dengan ukuran 2.240 m x 30 m yang mampu
melayani pesawat setara jenis B 737-900ER.

Lalu lintas transportasi udara menuju dan dari Kota Pekanbaru mengalami perkembangan yang
pesat, baik penerbangan domestic maupun internasional. Situasi akan terus berlanjut ke depan,
sehingga diperlukan tindak lanjut terhadap perencanaan kawasan bandara.

Namun demikian perencanaan pengembangan tetap mengacu pada Materplan Bandar Udara Sultan
Syarif Kasim II.

Melihat situasi di atas maka diperlukan kesiapan dari pengelola bandara. Gedung kantor dan
operasional saat ini dianggap sudah tidak mampu untuk menjawab tantangan perkembangan
bandara ke depan, sehingga perlu dilakukan perencanaan pengembangan

untuk Gedung Kantor dan Operasional Bandara. Selain itu nantinya diharapkan dapat

merancang bangunan yang lebih representative dan memutakhirkan fasilitas pelayanan sehingga
dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

I.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Tujuan utama dari pekerjaan ini adalah membuat Detail Engineering Drawing (DED) bangunan
gedung kantor yang akan difungsikan oleh PT. Angkasa Pura II (Persero) Bandara SSK II yang terdiri
dari:

a. Gambar Perencanaan Site Plan

b. Gambar Detail Engineering Drawing (DED) bangunan gedung kantor, yang

mencakup :

Gambar Rencana Lansekap

Gambar Rencana Arsitektural

Gambar Rencana Struktur


Gambar Rencana Mekanikal Elektrikal

c. Dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB)

d. Dokumen Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)

Manfaat dari adanya Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan
Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019 ini adalah:

a. Dapat menjadi dokumen master Pembutan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa
Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019 meskipun dalam pelaksanaannya dijadikan
beberapa tahap pengembangan, sehingga tetap menjadi satu kesatuan.

b. Dapat menjadi faktor pendorong untuk program-program yang berfokus pada masalah sosial dan
kultural guna meningkatkan kualitas kawasan yang kontekstual.

I.3. LOKASI PEKERJAAN

Lokasi pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana
Konstruksi Bank BJB thun 2019 dilaksanakan di daerah lingkungan kerja Bandar Udara Sultan Syarif
Kasim II Pekanbaru

I.4. SUMBER DANA

Pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana
Konstruksi Bank BJB thun 2019 dibiayai melalui Dana PT. Angkasa Pura II Pekanbaru Tahun Anggaran
2010.

I.5. MASA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Masa pelaksanaan pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa
Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019 ini adalah 5 bulan atau sekitar 150 (seratus lima
puluh) hari kalender.
BAB II
PENGALAMAN PERUSAHAAN

II.1. UMUM

Kami Konsultan Perencana, CV. Imaya Consulting Engineers berkeinginan untuk berperan serta
dalam proses persiapan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan
Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019.

Maka kami akan ikut serta dalam proses pelelangan pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik
Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019. Dan salah satu
persyaratan ikut pelelangan tersebut adalah membuat Usulan Teknis.

Usulan Teknis ini kami susun sesuai dengan apa yang telah ditentukan dalam Kerangka Acuan Kerja
(Term of Refference) tetapi terbatas pada hal tercantum dalam Kerangka Acuan Kerja tersebut.
Usulan Teknis ini dibuat atas Undangan Pengadaan Jasa Konsultan.

Untuk memberikan suatu gambaran yang lebih jelas terhadap pandangan proyek tersebut maka
Usulan Teknis ini juga merinci pelayanan jasa konsultan yang dibutuhkan berupa penanganan
perusahaan dalam menangani suatu pekerjaan, metodologi, rencana kerja, organisasi dan personil
yang dibutuhkan.

II.2. LATAR BELAKANG KONSULTAN

CV. Imaya Consulting Engineers memiliki kemampuan dalam pelaksanaan konstruksi dan
perencanaan khusunya dalam bidang Arsitektural.CV. Imaya Consulting Engineers juga memiliki
beberapa tenaga ahli yang sudah berpengalaman luas dalam Bidang Arsitektur.

Sejak berdiri CV. Imaya Consulting Engineers telah banyak memiliki pengalaman baik dalam bidang
perencanaan, pengawasan serta studi kelayakan yang berhubungan dengan konstruksi dan
perencanaan.

Kami, CV. Imaya Consulting Engineerssebagai Jasa Pelayanan Konsultan yang ikut serta dalam
“Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank
BJB thun 2019” merasa perlu untuk menyampaikan Usulan Teknis yang dibuat berdasarkan Kerangka
Acuan Kerja (term of Refference).

Usulan ini dibuat untuk memberikan gambaran terhadap kegiatan tersebut sehingga Pengguna Jasa
dapat memberikan penilaian sesuai dengan standarisasi yang diharapkan untuk kegiatan
selanjutnya.
II.3. PENGALAMAN PERUSAHAAN

Sejak berdiri CV. Imaya Consulting Engineers telah mempunyai pengalaman yang banyak dan
mempunyai tenaga ahli yang mampu mengerjakan pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik
Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019
BAB III
PEMAHAMAN DAN TANGGAPAN
TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

III.1. UMUM

Secara garis besar, Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang diberikan sudah cukup memberikan informasi
dan data-data mengenai pekerjaan pada proyek ini sehingga Konsultan dapat menyusun
proposal/usulan berdasarkan Kerangka Acuan Kerja, maka secara umum kami dapat memahami
dengan lengkap maksud dan tujuan serta ruang lingkup pekerjaan yang merupakan tanggung jawab
konsultan dalam melaksanakan pekerjaan perencanaan maupun dalam menyiapkan usulan
sebagaimana dimaksud dalam KAK.

Mengingat pentingnya peran dari konsultan, maka sudah sepatutnya pihak konsultan siap dengan
pandangan dan pemahaman lingkungan tugas, tanggung jawab perangkat dan mampu
menginterprestasikan pekerjaan yang akan ditangani sehingga mengahasilkan produksi yang
optimal.

Setelah membaca dan memahami seluruh isi dokumen Pengadaan Jasa Konsultan,

Pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana
Konstruksi Bank BJB thun 2019 Tahun Anggaran 2010, yang telah diberikan berikut Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan, maka dapat disimpulkan bahwa isi dari penjelasan yang diberikan, merupakan
gambaran apa yang harus dilaksanakan baik dalam persiapan, mobilisasi, pelaksanaan pekerjaan
maupun akhir pekerjaan baik itu menangani lingkup tugas, tanggung jawab maupun perangkat
konsultan, yang harus disediakan guna melaksanakan pekerjaan perencanaan.

Dokumen berikut addendum tersebut di atas cukup jelas dan lengkap untuk dipakai sebagai
pegangan/acuan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Meskipun demikian kemungkinan dalam pelaksanaan fisik pekerjaan nanti perlu penyesuaian
dengan permasalahan / kondisi yang ada dilapangan, misalnya adalah pekerjaan tambah dan kurang
karena dalam Dokumen dan Addendum belum termasuk hal tersebut diatas.

Dokumen dan Addendumnya yang telah diberikan cukup mudah dimengerti dan jelas dalam rangka
konsultan menyiapkan, membuat Usulan Dokumen Administrasi, Usulan Dokumen Teknis dan
Usulan Dokumen Biaya.
A. DOKUMEN ADMINISTRASI

Materi dokumen administrasi yang dipersiapkan pada Kerangka Acuan Kerja adalah sesuai peraturan
yang berlaku berikut petunjuk teknisnya dan sesuaidengan surat Keputusan Menteri Pekerjaan
Umum tentang standar dokumen lelang, pengadaan barang dan jasa di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum, sehingga persyaratan tersebut cukup jelas untuk dipahami dan dimengerti.

B. USULAN TEKNIS

Materi yang tercantum dalam Kerangka Acuan Kerja ditambah rapat penjelasan pekerjaan berikut
Berita Acara Penjelasan yang diterbitkan telah dapat member gambaran umum dengan jelas
terhadap lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab personil konsultan dalam melaksanakan
pekerjaan perencanaan maupun dalam memberikan pelaporan-pelaporan sebagaimana diminta
oleh proyek. Isi dari Kerangka Acuan Kerja dapat dijadikan titik tolak dalam penyusunan rencana
kerja, penyiapan personil, metodologi dan manajemen yang akan diterapkan dalam melaksanakan
pekerjaan perencanaan.

C. USULAN BIAYA

Bentuk usulan biaya dalam KAK beserta contoh formatnya walaupun dengan sistem pembiayaan
Lump Sump sudah dapat dimengerti meskipun belum lengkap item-itemnya.

III.2. LINGKUP KEGIATAN

III.2.1. LINGKUP KEGIATAN

Sebagaimana dijelaskan di atas mengenai maksud dan tujuan pekerjaan maka lingkup tugas yang
akan dilakukan meliputi secara pokok sebagai berikut:

A) Kegiatan inventarisasi data dan survey lapangan, terdiri dari:

(a) Survey primer topografi

(b) Survey primer penyelidikan tanah

(c) Inventarisasi data (Kapasitas gedung)

B) Analisa Data

Analisa data juga menghasilkan progam fasilitas Rancangan Teknik Tlrinci (Detail
Enginering Design/ DED) yang mencakup perancangan fasitiras-fasilitas sarana dan
prasarana serta pentahapan pelaksa pekerjaan konstruksi berdasarkan studi rencana
induk master plan, meliputi:

(a) Analisa kebutuhan dan kapasitas bangunan gedung (Ruang, penataan lahan,
eksterior, struktur bangunan, serta penataan lansekap pada lasilitas perparkiran)

(b) Analisa kebutuhan dan kapasitas prasarana sisi darat (jalan akses, transportasi
antar fasilitas, perparkiran dan drainase)

(c) Analisa kebutuhan bangunan perkantoran dan administrasi, fasilitas mekanikal


elektrikal, gudang teknik dan bangunan pertemuan atau rapat serta semua
gedung perkantoran dan operasional.

C) Perancangan Pekerjaan perencanaan yang terkoordinasi satu sama lain, mencakup


perancangan bangunan gedung, jalan, drainase, pergudangan dan taman, serta
pentahapan pelaksanaan pekerjaan konstruksi berdasarakan studi rencana Induk master
plan, meliputi:

(a) Pekerjaan arsitektural

(b) Pekerjaan sipil struktur gedung

(c) Pekerjaan mekanikal

(d) Pekerjaan elektrikal

(e) Pekerjaan lansekap

(f) Pekerjaan sipil infrastruktur

(g) Rincian volume pekerjaan, rencana anggaran biaya dan spesifikasi tiap-tiap item
pekerjaan.

D) Penyiapan dokumen tender meliputi penyiapan seluruh dokumen tender, termasuk


gambar-gambar kerja yang telah disahkan.

III.2.2. LINGKUP TUGAS

Lingkup tugas yang akan dilaksanakan adalah Jasa Konstruksi perencanaan pembuatan Desain
Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019 yang
akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2019. Terdiri atas :

A) Tahap Konsepsi Perencanaan

(a) Pengumpulan Data Informasi Lapangan, meliputi :

Data Studi rencana induk


Data Hidrologi, suhu dan kelembaban

Rencana pengembangan wilayah

Rencana lokasi bangunan gedung

(b) Interpretasi Terhadap KAK

B) Penyusunan Pra Rancangan

(a) Membuat Pra Rencana Tampak

(b) Membuat Pra Rancangan Denah, Tampak, Potongan

(c) Konsultasi dengan pemakai/ pemilik sampai mendapat ijin prinsip

C) Penyusunan Pengembangan Rancangan

(a) Rencana Arsitektur beserta uraian perencanaannya

(b) Rencana Struktur beserta uraian perencanaannya

(c) Rencana Penempatan Utilitas beserta uraiannya (Blok Plan)

D) Penyusunan Rancangan Gambar Detail

(a) Membuat Rencana Detail Arsitektur

(b) Membuat Rencana Detail Struktur

(c) Membuat Rencana Detail Utilitas

(d) Membuat Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (Rks)

(e) Membuat Perincian Volume Pekerjaan

(f) Membuat Rencana Anggaran Biaya Konstruksi (Berdasarkan Sni)

(g) Membuat Dokumen Perencanaan

E) Pelaksanaan Pelelangan

(a) Membantu menyusun dokumen pelelangan


(b) Membantu Menyusun Program Pelelangan

(c) Membantu Memberikan Penjelasan Pekerjaan Termasuk Ba Penjelasan

(d) Membuat Dokumen Pelaksanaan

F) Pengawasan Berkala

(a) Pemberi kerjan dapat meminta penyedia jasa untuk memeriksa Pelaksanaan
Pekerjaan secara berkala dan menyediakan persoalan yang timbul yang
berkaitan dengan hasil kerja perencanaan tanpa meminta biaya tambahan untuk
melakukan kegiatan dimaksud.

(b) Membuat Laporan Akhir Perencanaan setelah pelaksanaan pekerjaan fisik


selesai.

(c) Penyusunan Petunjuk Penggunaan dan Perawatan Bangunan Gedung

III.3. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan ini sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, terhitung sejak
dikeluarkannya SPMK oleh Pengguna Anggaran. Selama jangka waktu tersebut Konsultan harus
menyelesaikan dan menyerahkan semua hasil pekerjaan sebagaimana diuraikan dalam Kerangka
Acuan Tugas (Term of Reference).
BAB IV
APRESIASI DAN INOVASI

Berdasarkan pertimbangan dari jenis pekerjaan ini nantinya akan mengeluarkan Pembuatan Desain
Rancangan Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB tahun 2019,
maka konsultan mengusulkan beberapa hal, yaitu:

1) Menerapkan konsep Green Building / bangunan hijau yang saat ini sudah marak dikembangkan
dilingkungan perencanaan di Indonesia. Konsep ini diterapkan sebagai respons terhadap krisis
energi dan keprihatinan masyarakat tentang lingkungan hidup.

Inovasi untuk mengembangkan green building terus dilakukan sebagai upaya untuk menghemat
energi dan mengurangi masalah-masalah lingkungan.

2) Kebijakan penyusunan tata ruang dan sirkulasi dari perencanaan pembangunan agar tetap
mengacu pada kepentingan masyarakat dan tetap memasyarakat. Sehingga dihasilkan sebuah
tatanan ruang yang memudahkan pengguna maupun tamu dan tidak menyesatkan.

3) Dalam penyusunannya agar memperhatikan pelayanan umum yang telah disusun Pemerintah
Provinsi Jaw Barat yang orientasinya adalah untuk kebutuhan pelayanan parsial dengan
pertimbangan perencanaan yang komprehensive, meskipun pelayanan tersebut harus tetap dikaji
untuk dilakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan scenario pengembangan yang
direncanakan serta tetap memperhatikan asas legalitas terhadap perijinan yang telah
dikeluarkan.

4) Memperhatikan kebijaksanaan dan perencanaan sektoral yang terdapat atau yang direncanakan
di wilayah perencanaan.

5) Melengkapi dengan tampilan-tampilan perspektive atau bentuk tiga dimensi lainnya untuk
memperjelas kondisi lapangan dan rencana pengembangan yang dilakukan
BAB V
PENDEKATAN DAN METODOLOGI

Untuk mencapai tujuan sesuai sasaran yang ditentukan di dalam kerangka Acuan Kerja maka
sebelum dibuat metode terperinci perlu ditentukan lebih dahulu prinsip-prinsip dasar dan
penyederhanaan pelaksanaan. Harus lebih dahulu dipastikan tujuan dan prinsip yang benar sehingga
keputusan yang akan diambil dapat mencapai sasaran. Tanpa hal ini maka program yang
dilaksanakan kemungkinan akan gagal dan tidak efisien selama pelaksanaannya sehingga tujuan
akhir tidak tercapai.

Sangat diperlukan membuat identifikasi dan mengerti ruang lingkup, pekerjaan yang akan
dilaksanakan nantinya sebelum memutuskan metode pelaksanaan yang diperlukan.

Untuk mencapai tujuan sesuai sasaran yang ditentukan di dalam Kerangka Acuan Kerja maka
sebelum dibuat metode terperinci perlu ditentukan lebih dahulu prinsip-prinsip dasar dan
penyederhanaan pelaksanaan. Harus lebih dahulu dipastikan tujuan dan prinsip yang benar sehingga
keputusan yang akan diambil dapat mencapai sasaran. Tanpa hal ini maka program yang
dilaksanakan kemungkinan akan gagal dan tidak efisien selama pelaksanaannya sehingga tujuan
akhir tidak tercapai.

Sangat diperlukan membuat identifikasi dan mengerti ruang lingkup, pekerjaan yang akan
dilaksanakan nantinya sebelum memutuskan metode pelaksanaan yang diperlukan.

IV.1. METODOLOGI PELAKSANAAN

Berdasar dari lingkup pekerjaan yang telah disampaikan melalui Kerangka Acuan Kerja agar didapat
hasil yang sesua dengan tujuan utama pekerjaan, maka dalam penyusunan desain ini akan dilakukan
metode :

1) Studi Observasi Studi ini berupa pengumpulan data untuk diolah dalam perancangan ini. Pada
proses pekerjaan perencanaan ini data yang dibutuhkan antara lain, diagram rancangan kebutuhan
ruang, satuan keperluan ruang sehingga didapatkan luas bangunan yang dibutuhkan, dan
penggunaan ruang.

2) Studi Literatur

Adalah kajian penulis atas referensi-referensi yang ada baik berupa buku maupun karya-karya ilmiah
yang berhubungan dengan pekerjaan perenceanaan ini. Beberapa referensi yang dibutuhkan untuk
perancangan ini antara luasan kebutuhan yang dibutuhkan setiap orang yang dibutuhkan untuk
melakukan aktifitasnya disesuaikan dengan tingkat pekerjaannya.
Studi literature juga dilakukan melalui internet untuk mencari literature mengenai contoh bangunan
kantor yang baiks dan mampu diterapkan di Indonesia dan tentu saja menyesuaikan dengan kondisi
Indonesia.

3) Analisa data dan Perancangan

Pengolahan data dan analisa data yang kemudian digunakan sebagai masukan dalam penghitungan
secara manual dan dengan program simulasi bangunan seperti Autodesk Ecotect Analysis maupun
Design Builder untuk menganalisi kesesuaian suhu dengan kebutuhan serta perancangan instalasi
dengan program AutoCad.

4) Studi Bimbingan

Konsultan dalam proses perencanaan pembangunan ini bersama pemberi tugas yang merupakan
pengguna gedung kantor merupakan sumber data dan masukan sebagai penyesuaian desain dengan
keinginan pengguna bangunan.

IV.2. PENDEKATAN PERENCANAAN

IV.2.1. PENDEKATAN ENVIRONMENTAL (Green Building Concept)

I) Permasalahan Konsumsi Energi dan Polusi di Indonesia Masyarakat modern yang berbasis pada
teknologi mengkonsumsi energy dalam jumlah yang besar. Di Indonesia, bagian terbesar dari energi
yang digunakan berasal dari energy fosil yang tidak dapat diperbarui untuk memproduksi listrik.
Kondisi ini menimbulkan beberapa problem, yaitu:

(1) Nasional

Laju pertumbuhan pemakaian energi di Indonesia dalam kurun waktu 1985-2000 mencapai rata rata
7%/tahun (bandingkan dengan pemakaian energi di dunia rata rata 1,2%/tahun, negara negara APEC

2,6%/tahun) yang diakibatkan beberapa faktor yaitu jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi dan
tingkat kehidupan masyarakat.

(2) Global

Proses pembakaran energi fosil menjadi listrik menimbulkan gas buang CO2 dalam jumlah besar
yang dilepaskan ke atmosfer secara konstan dan terus menerus yang pada akhirnya menimbulkan
efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global (global warming).

Saat ini Jakarta merupakan kota dengan kualitas udara yang berada pada urutan ketiga terburuk
dunia setelah Meksiko dan Panama, dan peningkatan polusi udara tersebut mengakibatkan
penurunan produkifitas dan peningkatan pembiayaan kesehatan yang berarti terjadinya
pemborosan anggaran keuangan negara.
II) Sustainable Design

Sustainable design (desain berkelanjutan) merupakan reaksi dari krisis lingkungan global. Sustainable
design (juga mengarah pada green design, eco design, atau design for environment) adalah seni
mendesain objek fisik dan lingkungan sekitarnya untuk keseimbangan prinsip berkelanjutan dengan
aspek ekonomi, sosial, dan ekologi.

III) Sustainable Construction Elements

Sumber: Sustainable Design and Constructions

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mendorong pembangunan


bangunan ber-arsitektur lokal terasa lebih ramah lingkungan dan selaras dengan lingkungan asal.
Desain bangunan (green building) hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana,
ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan (green
product).

Bangunan hijau mensyaratkan layout desain bangunan (10 persen), konsumsi dan pengelolaan air
bersih (10 persen), pemenuhan energy listrik (30 persen), bahan bangunan (15 persen), kualitas
udara dalam (20 persen), dan terobosan inovasi (teknologi, operasional) sebesar 15 persen.

Skala bangunan dan proporsi ruang terbuka harus memerhatikan koefisien dasar bangunan (KDB)
dan koefisien dasar hijau (KDH) yang berkisar 40-70 persen ruang terbangun berbanding 30-60
persen untuk ruang hijau untuk bernapas dan menyerap air.

IV) Tingkat Sustainable Bangunan

Ke-sustainable-an suatu bangunan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Diantaranya adalah tolak ukur yang digunakan The Leadership in Energy and Environment Design
(LEED) System menggunakan beberapa factor yang harus dianalisa terlebih dahulu sebelum
merencanakan sebuah desain bangunan beserta lingkungannya, yaitu:

a. Site planning

b. Efficient water consumption

c. Energy and atmosphere

d. Materials and resource protection

e. Indoor air quality Innovativeness and design/contruction process

V) Penerapan Teori Sustainable

Desain arsitektur adalah sebuah proses untuk mewujudkan sebuah visi.


Menerapkannya dalam langkah nyata dengan pemilihan material dan penentuan sistem struktur
yang layak dan sesuai dengan karakter site-nya. Hal yang dapat dilakukan dengan beberapa tahapan,
yaitu:

a. Menganalisa keadaan lingkungan alamnya, seperti topografi, karakter iklim, keadaan tanah dan
hidrologinya, flora dan faunanya, serta keadaan udaranya.

b. Belajar dengan mengamati spirit of the place, lansekap, dan kebudayaannya.

c. Harmonisasi dengan masyarakat setempat, hal ini karena biasanya bangunan tidak berdiri sendiri

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam suistenable desain adalah:

1. PENDEKATAN PERENCANAAN

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam suistenable desain adalah:

1. Site

Site merupakan faktor besar dalam penentuan sebuah desain. Berbagai factor berpengaruh
tergantung pada site.

a. Landform/Microclimate

Sumber panas utama bagi permukaan bumi adalah matahari (Jacobson, 2002). Setelah melewati
atmosphere bumi sinar matahari diurai menjadi komponen-komponen antara lain sinar inframerah
yang menyebabkan naiknya suhu dipermukaan bumi. Semua bagian setting yang menghambat sinar
matahari baik dalam bentuk gelombang panjang maupun energi thermal dianggap dapat
mengurangi suhu di permukaan bumi. Oleh karena itu dapat dihipotesakan bahwa suhu di suatu
lingkungan akan dipengaruhi oleh bayangan yang ditimbulkan oleh bangunan dan vegetasi.

Topography

Dengan mengetahui topografi lahan akan memudahkan penentuan solusi desain bangunan.
Perataan lahan akan mempermudah desain bangunan yang sama tinggi.

Namun disisi lain dengan adanya perbedaan ketinggian tanah, akan memberi kesan yang menarik
dan berfariasi pada lingkungan. Pada tapak yang memiliki perbedaan ketinggian atau topografi
miring, pengelompokan bangunan cenderung ditempatkan secara informal sesuai dengan kondisi
konturnya. Dalam pemecahan perancangan secara tradisional (konvensional) pada puncak bukit,
efek dari bentuk bangunan terlihat secara nyata yaitu jalan-jalan dan bagian depan bangunan
berbentuk kurva yang secara teratur mengikuti kontur.

Light-colored surfacing

Penggunaan warna dinding diberi warna muda karena mampu menyerap sebagian radiasi matahari
dengan baik daripada warna gelap. Bahan pelapis dengan warna terang dapat mengurangi cooling
load hingga 40 %. Untuk permukaan gedung dapat dipilih material yang cenderung memantulkan
panas daripada menyerapnya. Atau material yang mempunyai kemampuan insulasi yang tinggi
sehingga panas tidak masuk ke dalam interior bangunan.

Vegetative cooling

Membuat hijau di sekitar gedung/bangunan dengan memberi banyak lahan tanaman, hal in dapat
dilakukan dengan memberikan pepohonan di halaman depan, belakang atau tengah
gedung/bangunan (bila sudah terlanjur tidak ada halaman tanahnya, dapat diberikan tanaman
dalam pot) agar terjadi penyaringan udara yang masuk ke gedung tersebut, sehingga terdapat udara
yang lebih segar. Dapat juga dengan memberikan unsur tanaman/pepohonan pada atap
gedung/bangunan, hal ini sudah mulai banyak dilakukan. Sehingga berguna agar sinar matahari tidak
dipantulkan tapi dapat dserap oleh tumbuhan tersebut dan udara di bawah atap juga tidak terlalu
panas.

Wind buffering/channeling

Dalam perencanaan orientasi tidak hanya perlu memperhatikan sinar matahari yang mengakibatkan
panas saja, melainkan juga arah angin yang memberi kesejukan.

Udara yang bergerak atau angin mampu menurunkan suhu dan mempercepat proses penguapan
sehingga memberikan efek penyegaran. Kecepatan angin yang nikmat yaitu yang memiliki batas
kecepatan 0,1-0,15m/secon.

menempatkan vegetasi sebagai penyegar dan penghalang matahari

2. Peletakan Vegetasi Sebagai Penyejuk

sumber : Dasar-dasar eko-arsitektur

Pemakaian kisi-kisi pada bukaan

Pemanfaatan wing-wall, untuk mengarahkan angin masuk ke dalam bangunan.

3. Wing Wall Pada Jendela

Sumber: Ecology of The Sky

Evaporative cooling

Kecepatan aliran udara yang lebih rendah menghasilkan penurunan temperatur dan efektifitas lebih
tinggi serta memerlukan laju penguapan air lebih rendah. Semakin tinggi temperatur dan semakin
rendah RH, udara masuk semakin besar penurunan temperatur dan efektifitas evaporative cooler;
temperatur air yang rendah membuat laju penguapan air berkurang. Evaporative cooler dan Air
Conditioner dapat dikolaborasikan untuk membuat pendingin ruangan yang ramah lingkungan dan
hemat energi serta udara yang dihasilkan karena kaya Oksigen sangat baik dipakai terutama di
rumah sakit.

4. Cara kerja Evaporative cooling

Sumber: www.pinnacleint.com

1. Site Design

Solar orientation

Orientasi bangunan terhadap sinar matahari yang paling cocok dan menguntungkan terdapat
sebagai kompromi antara letak gedung berarah dari timur ke barat dan yang terletak tegak lurus
terhadap arah angin. Dari hasil penelitian Ken Yeang didapatkan bahwa untuk iklim tropis, bangunan
umumnya memiliki orientasi ke utara - selatan dan serong 5 o dari sumbu utara - selatan. Maka,
mengorientasikan bangunan pada arah utara-selatan di iklim tropis dengan menegakluruskan arah
datangnya angin bisa menjadi salah satu solusi.

5. Orientasi Bangunan Pada Iklim Tropis

Sumber: analisa

Pemakaian beranda (veranda) sebagai ruang transisi dan ruang pelindung dari panas matahari serta
penggunaan sunshading juga dapat menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan dalam
mensiasati arah datangnya sinar matahari dan angin.

6. Horizontal Shade (Kiri) dan Louvre System (Kanan)

Sumber: solarviews.com

Pedestrian orientation

Orientasi pedestrian didefinisikan sebagai rancangan lingkungan dalam sekala manusia. Bangunan
harus didesain untuk menciptakan perbedaan level dengan jalan dan memberi kenyamanan bagi
pejalan kaki.Pintu, pedestrian, jendela, dan elemen pendukung jalan harus diperhitungkan untuk
memciptakan kenyamanan bagi pejalan kaki dan memberi ruang yang cukup.

7. Pedestrian

Sumber: unionco.org

Kenyamanan pedestrian dapat ditingkatkan dengan memperhatikan desain bangunan, lokasi,


empadan, dan orientasi.
8. Perletakan pedestrian

Sumber: unionco.org

Berjalan akan terasa nyaman jika pembangunan memakai dimensi yang tepat. Kesesuaian ini dapat
dilihat ketika seorang anak berjalan dengan aman atau seseorang merasa nyaman bersepeda dan
juga seseorang berjalan menuju kantor nya. Sebuah pedestrian harus menawarkan berbagai rute
untuk menuju keberbagai tempat pilihan. Diperlukan ruang khusus pemberhentian pada pedestrian
untuk mengatasi kepadatan dan juga sebagai tempat istirahat bagi yang kelelahan.

Pohon perindang sepanjang jalan akan menambah rasa nyaman bagi pejalan kaki. Ruang pedestrian
yang lapang akan memudahkan dan terasa menyenangkan.

Beberapa hal yang diperlukan dalam pedestrian:

Keselamatan dan kenyamanan; pedestrian yang dekat dengan tempat tujuan dan jelas antara
batasan pedestrian dan juga terdapat tempat penyeberangan.

Tujuan; berbagai pilihan tujuan yang ditawarkan yang dapat diakses melalui pedestrian.

Menyenangkan; terdapat pohon, tempat pemberhentian dan elemen-elemen pendukung jalan.

Micro climatic building/siting

Iklim mikro adalah variasi iklim di suatu tempat di sekitar bangunan. Iklim mikro memiliki dampak
yang sangat penting dalam penggunaan energi dan kinerja dari sebuah bangunan.

Solusi ideal untuk merancang bangunan yang hemat energi adalah dengan mendapatkan akses
matahari penuh namun mendapat perlindungan dari unsur-unsur alam yang berbahaya.

Beberapa hal yang mempengaruhi iklim mikro adalah:

Orientasi bangunan

Lokasi objek disekitarnya

Kondisi landskap sekitar

Iklim mikro berpengaruh terhadap penentuan bentuk bangunan dan bagaimana bangunan tersebut
diletakkan disuatu lokasi dan perletakan lokasi ruangan dalam gedung.

Zonasi dan orientasi bangunan dapat memiliki dampak yang besar pada pola konsumsi energi
bangunan. Pohon dapat memberikan naungan ketika cahaya dan panas matahari terlalu kuat.

1. Infrastructure Efficiency

Water supply and use

Sumber air pada umunya berasal dari PDAM dan juga sumur air.
Sumber air dimanfaatkan se-efisien mungkin sehingga dapat mengurangi pemakaian air yang tidak
perlu. Sumber air baik dari PDAM maupun dari sumur setempat merupakan air tanah. Pemanfaatan
dengan efisien akan mengurangi dampak pengurangan air tanah secara berlebihan.

Sumber air yang berasal dari air olahan limbah selain mengurangi biaya pembelian di PDAM juga
mengurangi pemakaian yang berlebihan.

Wastewater collection

Membuat sistem pengolahan limbah domestik seperti air kotor (black water, grey water) yang
mandiri dan tidak membebani sistem aliran air kota.

Sistem pengolahan limbah ini berdiri sendiri dan memiliki sistem pengolahan limbah mandiri.
Limbah-limbah yang sudah terolah akan diresapkan kembali ke area pengolahan. Sistem ini
menguntungkan karena menambah jumlah air tanah di dearah tersebut.

Berbeda dengan sistem saluran air kota yang mengalirkan air ke sistem pembuangan sehingga air
tidak teresap ke tanah didearah tersebut.

9. Wastewater collection

Sumber: ww2.co.fulton.ga.us

Storm drainage

Strorm drainage bisa juga disebut sebagai saluran pembuangan kota. Saluran ini memuat segala
limbah buangan cair yang ada di jalan.

Saluran pembuangan ini berfungsi menampung air hujan yang turun dijalan untuk mengatasi banjir.
Saluran ini terpisah dengan saluran pembuangan limbah rumah tangga.

Saluran pembuangan (storm drainage) selain menampung air hujan, biasanya juga bercampur
dengan oli atau bahan bakar bensin atau solar yang tercecer di jalan.

Pada bukaan penerimaan saluran diberi penutup agar sampah sampah tidak masuk kedalam saluran.
Sehingga tidak mengganggu pembuangan.

10. Storm drainage

Sumber: townofbethlehem.org

4. Energy Conservation

Terdapat enam prinsip dalam konstruksi yang berkelanjutan (Kibert, 1994), yaitu:

1. Meminimalkan konsumsi sumber daya

2. Memaksimalkan pemanfaatan kembali (re-use) sumber daya


3. Menggunakan sumber daya yang terbarukan (renewable) dan didaur ulang (recycleable)

4. Melestarikan lingkungan alam

5. Menciptakan lingkungan yang sehat dan tidak berbahaya

6. Menjadikan kualitas sebagai tujuan dalam membangun

Building Form and Configuration

Iklim Indonesia adalah iklim tropis. Sebuah bentuk bangunan diharapkan mengacu pada aturan-
aturan yang ada dalam membangunan bangunan tropis. Sehingga meminimalisir bentuk yang
merugikan dan menyesuaikan ukuran ruang sesuai dengan kebutuhan namun tetap mengacu
standard bangunan tropis. Sehingga didapat efisiensi dalam bentuk, dan ukuran bangunan.

Bangunan jangan sampai memiliki bangunan yang gemuk. Sebisa mungkin memiliki bangunan yang
memanjang sehingga pengudaraan dan pencahayaan alami dapat berjalan baik.

11. Alternative bentuk bangunan

Sumber: analisis

Materials

Memilih material ramah lingkungan menjadi penting karena tidak hanya semata-mata demi
kelestarian alam, tetapi juga sebenarnya jauh lebih efisien dan hemat dari segi estimasi biaya jangka
panjang. pemilihan material yang ramah dapat dijabarkan menjadi dua hal yakni dari sisi teknologi
dan penggunaan. Dari sisi teknologi, pemilihan bahan sebaiknya menghindari adanya toksin atau
racun dan diproduksi tidak bertentangan dengan,alam. Sebagai contoh, minimalkan penggunaan
material kayu, batu alam ataupun bahan bangunan yang mengandung racun seperti asbeston.

Sedangkan dari sisi penggunaan, pemilihan material yang ramah lingkungan misalnya menggunakan
lampu hemat energi seperti semen instan yang praktis dan efisien, atau pun memilih keran yang
memakai tap yang hanya mengeluarkan air dalam volume tertentu.

Selain memiliki sifat ramah lingkungan dan tidak mencemarkan material ramah lingkungan
sebaiknya terbuat dari bahan daur ulang, atau setidaknya tidak menghabiskan sumber daya alam,
bahkan dapat memberikan nilai tambah pada lingkungan dan harus didukung 3R yaitu Reused
(memanfaatkan kembali material yang masih bisa dipakai) Reduce (mengurangi pemakaian material
yang berlebihan) serta Recycle (mendaur ulang material agat bermanfaat kembali).

1. Energy Efficiency

Glazing

Kaca yang dapat menghemat energi merupakan kaca yang didesain khusus. Beberapa penelitian
mengklaim bahwa terdapat beberapa jenis kaca yang dapat menyaring radiasi panas matahari,
hingga menghemat penggunaan pendingin udara.
Terdapat tiga jenis kaca yang dikategorikan penghemat energi.

Kaca Warna

Dari namanya nampak jelas, kaca ini tidak murni bening. Biasanya berwarna biru kehijauan, perak
atau abu-abu. Kaca ini dapat menyaring panas hingga suhu dalam ruang tetap terjaga. Jenis kaca
warna yang baik mempunyai sifat seperti kaca film pada mobil. Ia mampu membuat Anda melihat
pemandangan luar nampak jernih, namun menyaring jumlah cahaya yang masuk ke dalam ruangan.

Kaca Pantul

Kaca ini sering dijumpai di gedung perkantoran. Kaca ini menyaring panas lebih banyak daripada
jenis lain. Ada satu kekurangan dari kaca pantul adalah pandangan dari dalam akan kurang indah
karena terjadi distorsi.

Kaca Low-e, Low Emissivity

Diartikan kaca rendah emisi. Kaca ini menjaga suhu di dalam ruang tetap tinggi. Terdiri dari dua lapis.
Pada bagian tengah diisi lapisan udara kosong dan lapisan metal transparan.Kaca jenis ini pun
memantulkan sinar ultraviolet. Untuk iklim Indonesia, kaca macam ini tidak disarankan, karena
hawa panas tetap berada di dalam ruang. Menjadikan ruang bertambah panas. Jenis ini populer
digunakan di negara sub tropis.

12. Frame double wall

Sumber: sklenarstvinonstop.cz

Insulation

Isolasi termal pada bangunan adalah faktor penting untuk mencapai kenyamanan termal untuk
penghuninya. Insulasi panas yang tidak diinginkan akan merugikan dan dapat menurunkan efektifitas
energi sistem pemanas atau pendingin. Dalam pengertian lain isolasi dapat hanya penyesuaian pada
bahan isolasi yang digunakan untuk menghambat hilangnya panas ruang, seperti: selulosa, kaca wol,
wol batuan, plastik, busa urethane, vermikulit, dan tanah. Tetapi dapat juga menggunakan desain
khusus dan teknik khusus untuk mengatasi perpindahan panas atau konduksi, radiasi dan konveksi.

Masalah kualitas konstruksi termasuk uap memadai hambatan, dan masalah dengan rancangan-
pemeriksaan. Selain itu, sifat dan densitas bahan isolasi itu sendiri sangat penting. Sebagai contoh,
menurut Leah Twings, Kualitas Manager Kepatuhan Textrafine Isolasi, fiberglass bahan isolasi yang
terbuat dari serat-serat pendek berlapis kaca tidak begitu tahan lama seperti isolasi yang terbuat
dari untaian serat panjang kaca.

Efficient Lighting

Lampu pijar pada dasarnya merupakan lampu ruang yang menghasilkan panas selain juga
mengeluarkan cahaya. Hal ini sangat tidak efisien, membuang sebagian besar energi yang di
konsumsi dan menjadikannya sebagai panas yang tidak diinginkan.
Salah satu lampu yang merupakan lampu hemat energy adalah lampu LED. Lampu LED menghemat
energi yang digunakan sampai 48% (berarti penghematan tagihan listrik) ditambah dengan kecilnya
panas yang dihasilkan oleh lampu LED. Hal ini membuat bangunan tidak perlu menyalakan mesin
pendingin ruangan (AC) dalam posisi maksimal, yang berarti terjadi penghematan lagi.

Keuntungan dari lampu LED:

Lampu LED tidak mengandung Mercury

Jauh lebih hemat dalam hal pemakain listrik

Daya tahan lebih lama, yaitu 60x lebih lama dibanding dengan tipe lampu Incandescent dan 10x
lebih lama dibanding tipe Fluorescent.

Lampu LED juga tidak menghasilkan panas sehingga dapat menghemat pemakaian AC (air
conditioning).

13. LED

Sumber:mt2-stage.ecohomeresource.com

Daylighting

Sistem pencahayaan alami terutama dipakai pada siang hari dengan memanfaatkan cahaya
matahari, pemasukan sinar matahari ke dalam ruangan diusahakan mencapai tingkat kenyamanan
pencahayaan tertentu seperti yang diharapkan. Pada prinsipnya, dalam ruangan dengan lubang
pencahayaan yang tetap, semakin ke dalam semakin menurun intensitas cahaya yang diterima. Guna
mencapai kualitas kenyamanan yang diisyaratkan semakin lebar ruangan/bangunan, semakin luas
pula lubang pencahayaannya.

Untuk menanggulangi radiasi panas sinar matahari yang akan mengurangi kenyamanan penghawaan
dan menyebabkan kesilauan di daerah iklim tropis, selain diusahakan sesedikit mungkin sisi
bangunan dan bukaan-bukaan ruangan yang terkena sinar matahari langsung, juga dengan membuat
penghalang sinar matahari (sun shading, sun screen).

1. Water

Zero-run-off

Air limbah buangan sebisa mungkin dimanfaatkan tanpa harus ada yang terbuang ke saluran
pembuangan kota. Air limbah buangan dimanfaatkan sebagai penyiram tanaman sekaligus dapat
sebagai pupuk. Air limbah diresapkan di area tanaman.

Kalau muatan resapan berlebihan, baru dilakukan pembuangan ke saluran pembuangan kota.

Grey water system Pemanfaatan grey water akan mengurangi pembebanan pada air tanah.
Dengan memanfaatakan lagi grey water sama halnya memanfaatkan air dua kali atau lebih namun
tepat dalam penggunaannya.
Pemanfaatan grey water misalanya air buangan dari wastafel dapat dimanfaatkan untuk penyiraman
tanaman. Ataupun air bekas cucian setelah mengalami proses penyaringan dapat pula dimanfaatkan
untuk menyirami taman.

2. Waste Management

Pengelolaan sampah merupakan proses pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, daur ulang atau
pembuangan dan pemantauan bahan-bahan limbah. Istilah ini digunakan berkaitan dengan bahan-
bahan buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan umumnya dilakukan untuk mengurangi
dampak negatif pada kesehatan, di lingkungan atau estetika lingkungan. Pengelolaan sampah juga
dilakukan untuk memulihkan sumber daya yang terbuang atau terkurangi. Sistem pengelolaan
limbah ini mengolah limbah padat, cair, gas atau radioaktif zat, dengan metode yang berbeda dan
bidang keahlian untuk masing-masing.

Konsep pengelolaan limbah

Ada sejumlah konsep pengolahan limbah yang paling umum, konsep-konsep luas yang digunakan
meliputi:

Waste hierarchy

Mengacu pada mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang, yang mengklasifikasikan
strategi pengelolaan limbah sesuai dengan keinginan mereka dalam hal minimisasi limbah. Hirarki
limbah merupakan landasan dari berbagai strategi meminimisasi limbah. Tujuan dari hirarki ini untuk
memaksimalkan manfaat dari produk dan meminimalisasi jumlah limbah.

Extended producer responsibility

Adalah suatu strategi yang untuk mempromosikan menyatukan semua biaya yang berkaitan dengan
produk selama produk tersebut masih ada (termasuk akhir biaya pembuangan akhir) ke dalam harga
produk. Hal ini dimaksudkan untuk memaksakan tanggung jawaban atas seluruh siklus hidup produk
dan kemasan yang dipasarkan.

Berarti perusahaan yang memproduksi, impor dan atau menjual produk yang diperlukan untuk
bertanggung jawab atas produk.

Polluter pays principle

Prinsip di mana pihak yang mencemari membayar terhadap dampak terhadap lingkungan yang
terjadi. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, umumnya ini mengacu pada persyaratan limbah
untuk membayar sesuai limbah yang dibuang.
2. PENDEKATAN KEBUTUHAN RUANG KANTOR

Umumnya ruang kerja gedung perkantoran tidak berpindah-pindah, karenanya gedung perkantoran
tersebut dilengkapi pula dengan ruang-ruang untuk mesin-mesin, kantin, ruang rapat arsip,
perpustakaan, dan aktivitas penunjang lainnya, yang menyita 1/3 luas ruang yang dibutuhkan oleh
suatu organisasi.

Berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam pendekatan kebutuhan fisik bangunan kantor

adalah sebagai berikut:

1. Pembagian ruang

Pembagian ruang yang dimaksud adalah pembagian pengelompokan ruang antara ruang public,
ruang khusus, ruang service, ruang pengelola, dan lahan parker.

2. Fasilitas utama dalam gedung perkantoran

Merupakan pendekatan untuk mengetahui kebutuhan utama dalam perancangan kebutuhan sebuah
gedung perkantoran.

3. Program ruang kantor

Pendekatan mengenai berbagai ruangan dalam kantor yang tidak dapat dipisahkan dan letaknya tak
boleh berjauhan sehingga efektif dalam pemakaian ruang.

4. Syarat fisik interior kantor

Syarat-syarat dalam interior sebuah kantor memiliki ketentuan yang harus diikuti.

5. Standar ruang

Ukuran-ukuran ruang ditentukan oleh standar ruang yang mengalokasikan bidang dan ruang
tertutup menurut tingkatan status tingkatan pengguna ruang.

6. Sistem interior

Sistem interior merupakan penilaian terhadap sebuah bangunan dilihat dari segi pencahayaan,
penghawaan, akustik, kemananan bangunan dan perawatan yang perlu dilakukan.

Segala aktivitas yang berkenaan dan terjadi dalam sustainable building dapat digambarkan dalam
skema berikut:

3. PENDEKATAN AKSESIBILITAS

1. PENCAPAIAN BANGUNAN

Pencapaian bangunan atau aksesbilitas adalah suatu kemudahan yang disediakan bagi semua orang,
termasuk yang memiliki ketidak-mampuan fisik—seperti misalnya, penyandang cacat, lanjut usia, ibu
hamil dan penyandang cacat akibat penyakit tertentu—guna mewujudkan kesamaan kesempatan
dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan pada suatu lingkungan terbangun.

Aksesibel : menggambarkan kondisi suatu tapak, bangunan, fasilitas, atau bagian darinya yang
memenuhi standar pedoman ini.

Elemen Bangunan : komponen arsitektural atau mekanikal dari suatu bangunan, fasilitas, ruang atau
tapak. Contoh-contoh elemen tersebut seperti telepon, curb-ramp, pintu, tempat duduk atau WC.

RuteAksesibel : suatu jalur lintasan tanpa penghalang yang langsung menghubungkan suatu elemen
dan ruang aksesi dari bangunan. Rute aksesibel interior dapat termasuk koridor, lantai, ramp, lift.
Rute aksesibel eksterior dapat termasuk ruang akses parkir, ramp-curb, trotoir pada jalan kendaraan,
ramp, dan lain.

Bangunan : setiap struktur yang digunakan atau dimaksudkan untuk menunjang atau mewadahi
suatu penggunaan atau kegiatan.

Bagian bangunan : bagian ruang dari bangunan seperti kamar, koridor, ruang untuk kegiatan
tertentu dsb.

Ruang Lantai Bebas : ruang lantai atau tanah yang tidak terhalang, minimum diwajibkan untuk
menampung sebuah kursi roda dan penggunanya.

Rambu : tanda-tanda yang bersifat verbal ( informasi yang dapat didengar), bersifat visual (informasi
yang berupa gambar), simbol, atau yang dapat dirasa/diraba, atau.

Ruang : suatu daerah yang dapat ditentukan batasnya, seperti kamar, toilet, hall, tempat pertemuan,
jalan masuk, gudang, dan lobby.

Jalur Pemandu : jalur yang digunakan bagi pejalan kaki, termasuk untuk penyandang cacat yang
memberikan panduan arah dan tempat tertentu.

A. Persyaratan Teknis Aksesbilitas

Dalam rangka menciptakan lingkungan binaan yang memenuhi persyaratan aksesibilitas maka
diperlukan persyaratan bangunan gedung dan lingkungannya yang didasarkan kepada prinsip-prinsip
sebagai berikut:

a. Kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan bangunan umum, tapak bangunan, dan
lingkungan di luar bangunan harus dilakukan secara terpadu untuk menciptakan lingkungan
aksesibel yang menyeluruh.

b. Setiap kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan lingkungan di luar bangunan yang
dikunjungi dan digunakan masyarakat umum secara luas harus memperhatikan persyaratan
aksesibilitas terutama pada :
o Ukuran dasar

o Jalur pedestrian

o Jalur pemandu

o Area parkir

o Landaian (ramp)

o Rambu

a. Setiap kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan tapak bangunan umum yang
memiliki luas lantai sama atau lebih besar dari 300 m2 perlantai harus memperhatikan persyaratan
aksesibilitas terutama:

o Ukuran dasar

o Jalan pedestrian

o Jalur pemandu

o Area parkir

o Ramp

o Rambu

a. Setiap kegiatan perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan bangunan umum yang memiliki luas
lantai sama atau lebih besar dari 300 m2 perlantai harus memperhatikan persyaratan aksesibilitas
terutama:

o Ukuran dasar

o Ramp

o Pintu

o Tangga

o Lift

o Kamar kecil

o Pancuran

o Wastafel

o Perabot

o Perlengkapan
o Rambu

e. Persyaratan aksesibilitas suatu fasilitas dalam bangunan dimungkinkan digunakan pada tapak
bangunan, atau lingkungan di luar bangunan. Demikian pula sebaliknya, jika dalam persyaratan
aksesibilitas fasilitas di luar bangunan atau tapak bangunan digunakan di dalam bangunan, maka
butir-butir persyaratan aksesibilitas dalam pedoman ini bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya: kamar kecil atau telepon umum yang berada di taman, area parkir yang berada di dalam
bangunan, dan kasus-kasus sejenis.

f. Pada kondisi lingkungan di luar bangunan yang belum aksesibel, setiap perencanaan, perancangan,
dan pelaksanaan konstruksi bangunan umum beserta tapaknya tetap diwajibkan memenuhi
persyaratan aksesibilitas, sehingga akan mendorong terciptanya lingkungan yang aksesibel di masa
mendatang.

1. Persyaratan Teknis Aksesbilitas

Sumber: Analisis

A. Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

a. Jalur Pedestrian

Jalan yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi penyandang cacat, dirancang
berdasar perbedaan terbesar orang untuk bergerak aman, bebas dan tak terhalang.

Syarat:

i. Permukaan

Permukaan jalan harus stabil, kuat, tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak licin.

Hindari sambungan atau konstraksi pada permukaan, kalaupun terpaksa ada, tingginya harus tidak
lebih dari 1,25 cm. Apabila menggunakan karpet ujungnya harus kencang dan mempunyai trim yang
permanen.

ii. Kemiringan/gradient

Gradient di bawah 5% dan tiap-tiap 90m terdapat pemberhentian untuk istirahat.

iii. Area istirahat

Membantu pengguna jalan terutama bagi mereka yang menggunakan alat.


iv. Cahaya/penerangan

Berkisar antara 15-150 cm.kandela tergantung pada intensitas pemakaian, tingkat bahaya dan
kebutuhan relatif keamanan.

v. Perawatan

Diharuskan untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan karena adanya kerusakan.

vi. Drainasi

Tidak mengganggu dan membahayakan. Dibuat tegak lurus dengan arah jalan dengan lubang
maksimal 1,5 cm. Mudah dibersihkan dan lubang dijauhkan dari tepi ramp sehingga tidak
mendatangkan bahaya .

vii. Ukuran dan penghalang

Lebar minimum 95 cm untuk jalur searah dan 150 cm untuk dua arah. Jalur pedestrian bebas dari
pohon, rambu dan benda-benda pelengkap jalan yang melintang.

viii. Tepi ramp dan trailing tongkat tuna netra

Penting bagi penghentian roda kendaraan dan tongkat tuna netra ke arah area yang
berbahaya.Penyetop dibuat setinggi minimum 10 cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur pedestrian.

ix. Bebas dari pohon, rambu, dan benda-benda pelengkap jalan.

2. Prinsip jalur pedestrian

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK

INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

b. Jalur Pemandu

Jalur yang memandu tuna netra untuk berjalan dengan memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan
tekstur ubin peringatan terhadap situasi di sekitar jalur yang bisa membahayakan tuna netra.

Syarat:

i. Tekstur ubin garis-garis menunjukkan arah yang benar untuk diikuti.

ii. Tekstur ubin dot (bulat) memberi peringatan terhadap situasi di sekitar jalur pemandu.
iii. Daerah-daerah yang harus menggunakan ubin tekstur pemandu (guiding blocks) :

o Di depan jalur lalu-lintas kendaraan.

o Di depan pintu masuk/keluar dari dan ke tangga atau fasilitas persilangan dengan perbedaan
ketinggian lantai.

o Di pintu masuk/keluar pada terminal transportasi umum atau area penumpang.

o Pada pedestrian yang menhubungkan antara jalan dan bangunan.

o Pada pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat.

iv. Pemasangan ubin tekstur untuk jalur pemandu pada pedestrian yang telah ada perlu
memperhatikan tekstur dari ubin eksisting sedemikian sehingga tidak terjadi kebingungan tuna netra
dalam merasakan tekstur ubin pemandu dan tekstur ubin lainnya.

3. Tipe tekstur ubin pemandu

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

c. Area Parkir

Fasilitas parkir adalah tempat parkir kendaraan yang dikendarai oleh penyandang cacat, sehingga
diperlukan tempat yang lebih luas untuk naik turun kursi roda, daripada tempat parkir yang biasa.
Sedangkan daerah untuk menaik-turunkan penumpang (Passenger Loading Zones) adalah tempat
bagi semua penumpang, termasuk penyandang cacat, untuk naik atau turun dari kendaraan.

Syarat:

i. Fasilitas parkir kendaraan :

o Tempat parkir penyandang cacat terletak pada rute terdekat menuju bangunan/ fasilitas yang
dituju, dengan jarak maksimum 60 meter.

o Atau jika parkir tidak berhubungan langsung dengan bangunan, misalnya pada parkir taman dan
tempat terbukla lainnya, maka tempat parkir harus diletakkan sedekat mungkin dengan pintu
gerbang masuk dan jalur pedestrian.

o Area parkir harus cukup mempunyai ruang bebas di sekitarnya sehingga pengguna berkursi roda
dapat dengan mudah masuk dan keluar dari kendaraannya.

o Area parkir khusus penyandang cacat ditandai dengan simbol/tanda umum yang berlaku.
o Pada lot parkir penyandang cacat disediakan ramp trotorir di kedua sisi kendaraan.

o Ruang parkir mempunyai lebar 370 cm untuk parkir tunggal atau 670 cm untuk parkir ganda dan
sudah dihubungkan dengan ramp dan jalan menuju fasilitas-fasilitas lainnya.

o Dilarang meletakkan kursi roda di belakang mobil yang diparkir .

ii. Daerah menaik-turunkan penumpang :

o Kedalaman minimal dari daerah naik turun penumpang dari jalan atau jalur lalu-lintas sibuk adalah
360 cm dan dengan panjang minimal 600 cm.

o Dilengkapi dengan fasilitas ramp, jalur pedestrian dan tanda-tanda bagi penyandang tuna netra.

o Kemiringan maksimal 1 : 20 dengan permukaan yang rata di semua bagian.

o Diberi rambu yang biasa digunakan untuk mempermudah dan membedakan dengan fasilitas
serupa bagi umum

4. Tipikal ruang parkir

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

d. Pintu

Pintu adalah bagian dari suatu tapak, bangunan atau ruang yang merupakan tempat untuk masuk
dan keluar.Pada umumnya dilengkapi dengan penutup (daun pintu).

Syarat:

i. Pintu pagar ke tapak bangunan harus mudah dibuka dan ditutup oleh penyandang cacat.

ii. Pintu keluar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 90 cm, dan pintu-pintu yang kurang
penting memiliki lebar bukaan minimal 80 cm.

iii. Di sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

iv. Jenis pintu yang penggunaannya tidak dianjurkan:

o Pintu geser.

o Pintu yang berat, dan sulit untuk dibuka/ditutup.

o Pintu dengan dua daun pintu yang berukuran kecil


o Pintu yang terbuka kekedua arah ( “dorong” dan “tarik”)

o Pintu dengan bentuk pegangan yang sulit dioperasikan terutama bagi tuna netra

v. Penggunaan pintu otomatis diutamakan yang peka terhadap bahaya kebakaran karena sangat
praktis bagi penyandang cacat. Pintu tersebut tidak boleh membuka lebih cepat dari 3 detik dan
mudah menutup kembali.

vi. Hindari penggunaan bahan lantai yang licin di sekitar pintu

vii. Alat-alat penutup pintu otomatis perlu dipasang agar pintu dapat menutup dengan sempurna.
Pintu terbuka sebagian berbahaya bagi penyandang cacat

viii. Plat tendang yang diletakkan di bagian bawah pintu diperlukan bagi pengguna kursi roda

5. Ukuran pintu dua daun

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

e. Ramp

Merupakan alternatif rute/ jalan untuk orang-orang yang tidak bisa menggunakan tangga

Syarat:

i. Kemiringan suatu ramp di dalam bangunan tidak boleh melebihi rasio 1:12, perhitungan
kemiringan tersebut tidak termasuk awalan/ akhiran ramp(curb ramps/landing). Sedangkan
kemiringan suatu ramp yang ada di luar bangunan adalah 1:15 .

ii. Maksimum panjang mendatar dari satu ramp (dengan kemiringan 1:12) tidak boleh lebih dari 900
cm. Ramp dengan kemiringan yang lebih rendah bisa menjadi lebih panjang.

iii. Lebar minimum dari ramp adalah 95 cm. Untuk ramp yang juga digunakan sekaligus untuk pejalan
kaki dan pelayanan angkutan barang harus dipertimbangkan secara seksama lebarnya, sedemikian
sehingga bisa dipakai untuk kedua fungsi tersebut, atau dilakukan pemisahan ramp dengan fungsi
sendiri-sendiri. Untuk ramp atau ramp dengan fungsi ganda melayani angkutan barang, harus
diperhitungkan secara tersendiri.
iv. Landing atau muka datar pada awalan atau akhiran ramp dari suatu ramp harus bebas dan datar
sehingga memungkinkan, sekurang-kurangnya untuk memutar kursi dengan ukuran minimum 150
cm.

v. Permukaan datar dari landing (baik awalan atau akhiran ramp) harus memiliki tekstur sehingga
tidak licin baik diwaktu hujan atau tidak.

vi. Pembatas rendah pinggir ramp (low curb) dirancang untuk menghalangi roda kursi roda agar tidak
terperosok atau keluar dari jalur ramp. Apabila berbatasan langsung dengan lalu-lintas jalan umum
atau persimpangan harus dibuat sedemikian rupa agar tidak mengganggu jalan umum.

vii. Ramp harus diterangi dengan pencahayaan yang cukup yang akan membantu penggunaan ramp
saat malam hari. Penerangan khususnya disediakan pada bagian-bagian ramp yang memiliki
ketinggian terhadap muka tanah sekitarnya dan bagian-bagian yang membahayakan.

viii. Ramp harus dilengkapi dengan pegangan (handrail) yang dijamin kekuatannya dan dengan
ketinggian yang sesuai untuk pengguna ramp.

6. Kemiringan ramp

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

f. Tangga

Ruang dan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan mempertimbangkan ukuran dan
kemiringan pijakan dan tanjakan dengan lebar yang cukup untuk berpapasan dan aman

Syarat:

i. Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam

ii. Harus memiliki kemiringan yang kurang dari 600

iii. Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan pengguna tangga.

iv. Harus dilengkapi dengan handrail pada kedua sisinya

v. Handrail (pegangan rambat) harus mudah dipegang dengan ketinggian 70-90 cm dari lantai dan
bebas dari elemen konstruksi yang mengganggu dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan
dengan baik ke arah lantai, dinding atau tiang vi. Handrail harus ditambah panjangnya pada bagian
ujung-ujungnya (puncak dan bagian bawah) dengan 10-15 cm.
vii. Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, maka tangga harus dirancang sehingga tidak ada air
hujan yang menggenang.

7. Tipikal tangga

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

g. Lift

Elevator dan lift adalah alat mekanis-elektris untuk membantu pergerakan vertikal di dalam
bangunan baik yang digunakan khusus bagi penyandang cacat atau kombinasi dengan lift barang.

Syarat:

i. Umum

Paling tidak satu elevator/ lift yang aksesibel harus ada pada jalur aksesibel dan memenuhi
Peraturan Keselamatan yang telah ditetapkan secara umum.

ii. Sistem otomatis

Elevator harus menggunakan sistem kerja bersifat otomatis membawa penumpang ke setiap lantai
yang dikehendaki. Toleransi perbedaan muka lantai bangunan dengan muka lantai ruang lift adalah
1,25 mm.

iii. Koridor/lobby lift

o Ruang perantara yang digunakan untuk menunggu kedatangan lift sekaligus mewadahi
penumpang yang baru keluar dari lift harus disediakan. Lebar ruangan ini minimal 130cm tergantung
pada konfigurasi ruang yang ada.

o Perletakan tombol dan layar tampilan yang mudah dilihat dan dijangkau.

o Panel luar yang berisikan tombol lift harus dipasang di tengah-tengan ruang lobby atau hall lift
dengan ketinggian 90-110 cm dari muka lantai bangunan.

o Panel dalam dari tombol lift dipasang dengan ketinggian 90-110 cm dari muka lantai ruang lift.

o Semua tombol pada panel harus dilengkapi dengan panel huruf Braille dipasang tanpa
mengganggu panel biasa.

o Layar/ tampilan yang secara visual menunjukkan posisi lift harus dipasang di atas panel kontrol dan
di atas pintu lift, baik di dalam atau di luar lift (hall/koridor)

o Ruang lift juga harus dilengkapi dengan voice indicator untuk menerangkan secara auditif posisi
lift.
8. Standard lift

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

h. Kamar Kecil

Merupakan fasilitas sanitasi yang disediakan untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang
cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) yang sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.

Syarat:

i. Toilet/kamar kecil umum yang aksesibel harus dilengkapi dengan tampilan tanda/gambar simbol
universal (“kursi roda”) pada bagian luarnya.

ii. Toilet/kamar kecil umum harus memiliki ruang gerak yang cukup untuk masuk dan keluar
pengguna kursi roda.

iii. Ketinggian dari tempat duduk kloset harus sesuai dengan ketinggian pengguna kursi roda.

iv. Toilet/kamar kecil umum harus dilengkapi dengan pegangan yang memiliki posisi dan ketinggian
disesuaikan dengan pengguna kursi roda dan penyandang cacat yang lain. Pegangan disarankan
merupakan bentuk siku-siku mengarah ke atas untuk membantu pergerakan/perpindahan
menyamping dari tubuh pengguna kursi roda.

v. Letak kertas tissu, air, kran air atau shower dan perlengkapan-perlengkapan seperti tempat sabun,
pengering tangan harus dipasang sedemikian hingga mudah digunakan oleh orang yang memiliki
keterbatasan-keterbatasan fisik/cacat dan bisa dijangkau dengan baik oleh pengguna kursi roda.

vi. Wastafel harus aksesibel dan disesuaikan dengan ketinggian pengguna kursi roda.

vii. Kran pengungkit sebaiknya dipasang pada wastafel

viii. Bahan dan penyelesaian lantai harus tidak licin

ix. Pintu harus membuka keluar untuk memudahkan pengguna kursi roda untuk membuka dan
menutup.

x. Kunci-kunci toilet atau grendel dirancang/dipilih sedemikian sehingga bisa dibuka dari luar jika
terjadi kondisi darurat.

9. Tinggi perletakan closed

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998


i. Wastafel

Fasilitas cuci tangan, cuci muka, berkumur atau gosok gigi yang bisa digunakan untuk semua orang,
khususnya bagi pengguna kursi roda.

Syarat:

i. Wastafel harus dipasang sedemikian sehingga posisinya baik tinggi maupun lebarnya dapat
dimanfaatkan oleh pengguna kursi roda.

ii. Ruang gerak bebas yang cukup harus disediakan di depan wastafel.

iii. Wastafel harus memiliki ruang gerak di bawahnya sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki
pengguna kursi roda.

iv. Pemasangan ketinggian cermin harus juga diperhitungkan terhadap pengguna kursi roda

10. Ruang gerak wastafel

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

j. Telepon

Merupakan fasilitas komunikasi yang disediakan untuk semua orang (tanpa terkecuali penyandang
cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil) yang sedang mengunjungi suatu bangunan atau fasilitas umum.

Syarat:

i. Telepon umum harus terletak pada lantai yang aksesibel bagi semua orang termasuk

penyandang cacat, orang tua dan ibu-ibu hamil.

ii. Ruang gerak yang cukup harus disediakan di depan telepon umum sehingga

memudahkan pengguna kursi roda untuk mendekati dan menggunakan telepon.

iii. Ketinggian telepon dipertimbangkan terhadap dasar-dasar penggunaan pesawat

telepon misalnya; keterjangkauan gagang telepon, tombol-tombol angka atau sistem

dialing. Sebaiknya telepon umum menggunakan tombol tekan angka.

iv. Bagi pengguna yang memiliki pendengaran yang kurang, perlu disediakan kontrol

volume suara yang terlihat dan mudah terjangkau.


v. Bagi tuna rungu sebaiknya disediakan faksimili sebagai alat komunikasi yang lebih

bernilai, khususnya pada kantor pos, fasilitas komersial, dan fasilitas publik.

vi. Bagi tuna netra sebaiknya disediakan petunjuk dalam huruf Braille dan dilengkapi

juga dengan talking sign (isyrat bersuara) yang terpasang di dekat telepon umum.

vii. Panjang kabel gagang telepon harus memungkinkan pengguna kursi roda untuk

menggunakan telepon dengan posisi yang nyaman. (+ 75cm).

PT. Kencana Mandiri IV - 42

viii. Teleponboks (booth) dilengkapi dengan kursi yang disesuaikan dengan area gerak

pengguna.

11. Perletakan telepon

Sumber: KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAN UMUM

REPUBUK INDONESIA NOMOR: 468/ KPTS/ 1998

k. Perlengkapan dan Peralatan

Merupakan perlengkapan-perlengkapan tambahan yang bisa

mempermudah semua orang (tanpa terkecuali penyandang cacat,

orang tua, dan ibu-ibu hamil) untuk melakukan suatu kegiatan

tertentu.

Syarat:

i. Sistem alarm/ peringatan

o Harus tersedia peralatan peringatan yang dapat terdiri dari dari sistem

peringatan suara (vocal alarms), sistem peringatan bergetar (vibrating


alarms) dan berbagai petunjuk dan penandaan untuk melarikan diri pada

situasi darurat .

o Stop kontak harus dipasang dekat tempat tidur untuk mempermudah

pemasangan sistem alarm, termasuk peralatan bergetar (vibrating devices) di

bawah bantal,

o Semua peralatan pengontrol peralatan listrik harus dapat dioperasikan dengan

satu tangan dan tidak memerlukan pegangan yang sangat kencang atau

sampai dengan memutar lengan.

ii. Tombol dan stop kontak

Tombol dan stop kontak dipasang pada tempat yang posisi dan tingginya sesuai dan

mudah dijangkau oleh pengguna kursi roda

PT. Kencana Mandiri IV - 43

iii. Pencahayaan

Semua ruang harus memiliki pencahayaan yang merata dan cukup yang tidak

menimbulkan silau. Ruang tangga harus dilengkapi dengan peralatan pencahayaan

yang cukup

l. Perabot

Perletakan barang-barang perabot/ furniture dengan menyisakan

ruang gerak dan sirkulasi yang cukup bagi penyandang cacat.

Syarat:

i. Sebagian dari perabot yang tersedia dalam bangunan dapat digunakan oleh pengguna
yang berkursi roda, termasuk dalam keadaan darurat.

ii. Dalam bangunan yang digunakan untuk penggunaan oleh masyarakat banyak, seperti

bangunan pertemuan, konferensi, pertunjukan dan kegiatan yang sejenis maka jumlah

tempat duduk aksesibel yang harus disediakan adalah :

1.

2.

3.

4.

1. Perbandingan tempat duduk yang aksesibilitas

KAPASITAS TOTAL

TEMPAT DUDUK

JUMLAH TEMPAT DUDUK

YANG AKSESIBEL

4 – 25

26 – 50

51 – 300

301 – 500

> 500

6
6, +1 untuk setiap ratusan

m. Rambu

Fasilitas dan atau elemen yang digunakan untuk untuk memberikan

informasi, arah, penanda atau petunjuk.

Syarat:

i. Penggunaan rambu, terutama dibutuhkan pada:

o Arah dan tujuan jalan pedestrian

o KM/WC umum, telepon umum dsb

o Parkir khusus penyandang cacat

PT. Kencana Mandiri IV - 44

o Nama fasilitas dan tempat.

ii. Beberapa Rambu yang digunakan :

o Rambu huruf timbul atau huruf Braille yang dapat dibaca oleh tuna netra dan

dapat penyandang cacat lain.

o Rambu yang berupa gambar dan simbol yang mudah dan cepat ditafsirkan

artinya.

o Rambu yang berupa tanda dan simbol internasional

o Rambu yang menerapkan metode khusus (misal; pembedaan perkerasan

tanah, warna kontras, dll) Karakter dan latar belakang rambu harus dibuat

dari bahan yang tidak silau. Karakter dan simbul harus kontras dengan latar

belakangnya, apakah karakter terang di atas gelap atau sebaliknya.


o Proporsi huruf atau karakter pada rambu harus mempunyai rasio lebar dan

tinggi antara 3 : 5 dan 1 : 1 dan ketebalan huruf antara 1: 5 dan 1: 10

o Tinggi karakter huruf dan angka pada rambu harus diukur sesuai dengan

jarak pandang dari tempat rambu itu dibaca.

iii. Lokasi penempatan rambu :

o Penempatan yang sesuai dan tepat serta bebas secara vertkal dan horizontal.

o Satu kesatuan sistem dengan lingkungannya

o Cukup mendapat penerangan termasuk penambahan lampu pada kondisi

gelap.

o Bisa dimasukkan dalam street furniture.

o Tidak mengganggu arus (pejalan kaki, dll) dan sirkulasi (buka/tutup pintu,

dll).

2. FITUR-FITUR YANG RAMAH BAGI PENGGUNA

Pencapaian bangunan mengaplikasikann prinsip-prinsip dari desain secara

umum, yaitu:

a. Kesetaraan penggunaan

Meja resepsionis yang mudah diakses oleh semua pengunjung didukung dengan

denah lokasi sehingga mempermudah pengunjung dalam mengidentifikasi suatu

bangunan.

Pintu dengan sensor memberikan kenyamanan bagi pengunjung karena memudahkan

cilamana mereka membawa banyak bawaan ataupun sedang duduk di kursi roda,

tanpa perlu repot membuka pintu.

Ukuran saklar yang lebih lebar, dilengkapi dengan lampu led ketika dinyalakan dan

atau dilapisi dengan fosfor sangat memudahkan pengoperasian.


PT. Kencana Mandiri IV - 45

b. Fleksibel dalam penggunaan

Desain dapat digunakan oleh pengunjung secara luas dengan berbagai

background pendidikan dan kemampuan.

Penggunaan computer kampus yang tersedia dalam mode standar ataupun pilihan

easy acces.

Tersedianya ramp pada bangunan yang memudahkan kaum difabel dalam mengakses

bangunan.

Pintu dengan dua daun pintu mengakomodir pengguna biasa dan kidal.

Dimensi angka pada lift ataupun huruf pada papan nama yang mudah terbaca.

Pintu utama dengan penanda yang sudah umum dipahami, misalnya gapura,

memudahkan pengunjung untuk mengidentifikasinya.

c. Sederhana dan mudah digunakan

Desain mudah digunakan secara umum, berdasar pengalaman individu,

prosedur penggunaan yang mudah dipahami.

Tombol dalam lift diberi keterangan menggunakan alphabet yang umum dipahami,

bukan menggunakan huruf romawi.

Memberikan petunjuk penggunaan yg mudah dipahami pada setiap peralatan kampus

yang berteknologi, sehingga mudah dioperasikan.

d. Informasi yang mudah dicerna pengguna


Informasi penggunaan disajikan secara informatif kepada pengguna dan

mudah dipahami oleh indera mereka.

Warna signage yang kontras dengan warna background nya.

Kabel merah dan putih membedakan mana yang bermuatan positif dan negatif.

e. Meminimalisir kesalahan dalam penggunaan

Desain harus meminimalisir kerugian ataupun kecelakaan bila terjadi

kesalahan dalam penggunaan.

Tombol cancel pada printer untuk mengurangi kertas yang terbuang percuma karena

kesalahan printing.

Kemasan benda beracun diberikan warna mencolok dengan keterangan di luarnya.

f. Hanya memerlukan sedikit usaha fisik.

Desain harus efisisen dan nyaman digunakan, serta memberikan seminim

mungkin efek lelah.

Keyboard lengkung yang merespon posisi alamiah jari-jari tangan lebih nyaman

dibandingkan ke board horizontal yang cenderung membuat pergelangan tangan

terasa pegal.

Otomatisasi fasilitas kampus dengan sensor-sensor tertentu. PIntu dapat terbuka

sendiri bila ada pengunjung masuk, presensi digital, mesin penjawab, dll.

PT. Kencana Mandiri IV - 46

Permukaan lantai yang rata memudahkan perpindahan peralatan berat yang


memerlukan roda.

g. Dimensi yang mudah digunakan, dijangkau maupun dilihat.

Dimensi dan ruang pelingkup yang menyediakan kemudahan untuk

mengakses segala fasilitas.

Pintu dengan lebar yang memungkinkan diakses oleh pengguna dengan berbagai

postur tubuh.

4. PENDEKATAN RENCANA TAPAK

Pendekatan rencana tapak ini biasa dilakukan pada awal perencanaan suatu bangunan

atau kawasan.Dalam kegiatan ini, kondisi tapak perencanaan telah terbentuk, sehingga

konsultan perencana hanya melakukan beberapa usulan desain yang bertujuan untuk

meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar bangunan. Maka aspek-aspek lingkungan

yang harus diperhatikan adalah:

A. Pendekatan konservasi lingkungan dilakukan dengan tetap mempertahankan

rasio ruang terbuka, dengan tetap memperhatikan kemungkinan resapan-

resapan air.

B. Penciptaan iklim mikro (micro climate) yang nyaman, dicapai melalui

penempatan vegetasi-vegetasi perindang.

1. PENDEKATAN NON FISIK

Pendekatan non fisik yang dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna

bangunan dapat dilihat dari berbagai hal yang menyangkut organisasi koperasi.

Pendekatan non fisik yang dilakukan adalah pendekatan kepada:

1. Sifat organisasi dalam pekerjaan ini adalah keolahragaaan sebagai pengguna


bangunan

2. Fungsi dan peran dari organisasi tersebut

3. Prinsip Kerja

4. Jenis-jenis Bidang atau bagian dari organisasi.

PT. Kencana Mandiri IV - 47

BAB VI

RENCANA KERJA

Program pelaksanaan pekerjaan ini disusun dengan tujuan sebagai berikut:

1. Terciptanya sistem koordinasi yang baik antara Konsultan dengan Pemberi Tugas;

2. Terciptanya koordinasi yang baik antara unit-unit kerja yang terlibat dalam

penanganan pekerjaan ini;

3. Terjaminnya fungsi kontrol/pengawasan yang diperlukan;

4. Terjaminnya kelancaran pelaksanaan setiap unit kerja;

5. Terjaminnya kualitas hasil pekerjaan.

Apabila faktor-faktor tersebut diatas dapat dipenuhi, maka berarti juga kelancaran jalannya

pekerjaan dapat secara keseluruhan terjamin.

Rencana pelaksanaan pekerjaan memuat penetapan masing-masing item pekerjaan sesuai

dengan lingkup pekerjaan yang tertera di dalam Kerangka Acuan Kerja. Rencana kerja yang

dimaksud dibuat agar tahapan-tahapan pekerjaan dapat dilaksanakan tanpa ada yang

terlewatkan sehingga sasaran pekerjaan ini dapat dicapai dengan waktu yang juga telah

direncanakan.

Tahap pelaksanaan pekerjaan dibedakan menjadi 5 (lima) tahap sebagai berikut:


5.

1.

2.

3.

4.

5.

1. TAHAP PEKERJAAN PERSIAPAN

Program kerja ini mencakup tahap persiapan awal, seluruh proses perencanaan dan

perancangan serta kewajiban yang harus dilaksanakan konsultan pada tahap

pelaksanaan konstruksinya/secara keseluruhan program kerja konsultan mencakup:

1.

2.

3.

4.

5.

1. Mobilisasi

Dalam tahap mobilisasi ini akan dilakukan persiapan-persiapan yang

menyangkut pengerahan tenaga ahli dan tenaga pelaksanaan, baik yang

PT. Kencana Mandiri IV - 48

bersifat teknis maupun administratif dengan kualitas dan kuantitas yang

sesuai dengan beban kerja, pengadaan perlengkapan kantor, bahan dan alat-

alat tulis, dan pengadaan alat transportasi.

2. Penyusunan Program Kerja


Sebagai langkah awal dari pelaksanaan pekerjaan ini. Konsultan akan

menyusun program kerja dan pedoman penugasan / pengelolaan tugas,

penyediaan sumber daya dan lain-lain yang harus dilaksanakan oleh semua

pihak yang terlibat. Usulan ini harus mendapat persetujuan dari pengelola

proyek.

3. Persiapan Survei

Tahap ini merupakan langkah persiapan pelaksanaan survei lapangan maupun

institusional yang mencakup:

a. Mempelajari denah bangunan eksisting beserta kondisi di lapangan

b. Pengadaan peralatan survai lapangan dan laboratorium.

c. Mempelajari karakteristik dan spesifikasi masing-masing kegiatan

dan fungsi bangunan.

4. Pengamatan Karakteristik arsitektur

Pengamatan dan pengkajian arsitektur dan budaya serta perilaku merupakan

hal yang esensial sebagai dasar bagi pengembangan gagasan/idea

perancangan suatu bangunan.

5. Studi Literatur

Studi literatur semua aspek yang berkaitan dengan perancangan bangunan.

Studi yang dilakukan akan meliputi program ruang, kegiatan, persyaratan

environment, serta persyaratan-persyaratan teknis lainnya.

Hasil studi akan disesuaikan dengan kondisi Kantor Pemerintahan di

kompleks Pemerintahan.

6. Diskusi dengan pemberi tugas dan pemakai

Diskusi dengan calon pemakai (users) dilakukan untuk mendapatkan

gambaran yang lebih terinci akan spesifikasi dan karakteristik program,

peralatan kegiatan serta kebutuhan-kebutuhan khusus lainnya untuk masa


sekarang maupun masa akan datang.

7. Survei Pengumpulan Data

Data dari Pemberi Tugas Beragam data, baik primer maupun sekunder, yang

banyak berkaitan dengan kegiatan administrasi kepemerintahan yang akan

menempati bangunan ini serta memenuhi kebutuhan pengembangan di masa

mendatang, serta aspirasi staf akan di kumpulkan melalui diskusi/wawancara

dan observasi lapangan.

PT. Kencana Mandiri IV - 49

Secara rinci kebutuhan data dari pemberi tugas yang akan dikumpulkan

meliputi:

a. Organisasi operasional kantor dan rencana pengembangannya,

b. Pengukuran dan perekaman kondisi bangunan yang ada.

c. Identifikasi bagian-bagian bangunan yang penting dan harus

dipertahankan.

d. Kebutuhan ruang dan rencana pengembangannya.

e. Persyaratan teknis ruang.

f. Aspirasi staff dan pimpinan.

g. Leveling setiap lantai.

h. Sistem drainasi kota dan lingkungan.

i. Kondisi tapak dan lingkungan (bangunan sekitar dsb).

j. Jaringan Air bersih.

k. Drainage dan Sewage systems.

l. Elevasi dasar saluran-saluran.

m. Sistem daya dan jaringannya.


n. Sistem jaringan telepon.

2. TAHAP PENYUSUNAN PRA PERANCANGAN

Tahap Pra Perancanganmerupakan tahapan penting dimana semua konsep-konsep dasar

dirumuskan. Semua staff senior dari berbagai disiplin yang dibutuhkan akan dilibatkan

dalam diskusi intensif untuk menyusun landasan perencanaan dan perancangan. Proses

perencanaan dan perancangan yang dilakukan lebih bersifat sintesis dengan

menggabungkan berbagai alternatif dan kombinasi alternatif yang semuanya akan

dituangkan dalam laporan dengan bentuk diagramatis yang sederhana.

Berbagai pekerjaan yang akan dilakukan pada tahap Pra perancangan mencakup:

1. Penyusunan Konsep Perancangan

Konsep perancangan yang akan menjadi arahan bagi semua pertimbangan

perencanaan dan perancangan tahap berikutnya, akan dirumuskan oleh

Arsitek Utama dibantu oleh semua staf ahli dari masing-masing divisi.

Konsep perancangan merupakan uraian diskriptif yang mencakup bidang

arsitektur, sistem mekanikal, sistem elektrikal, sistem utilitas, sistem struktur,

equipment, interior, exterior dan pengembangan lahan.

2. Pra Rancangan Arsitektur

Berisi gagasan awal rancangan arsitektural dan lansekap yang merupakan

hasil transformasi dari konsep perancangan arsitektur serta site

developmentnya.

3. Pra-Rancangan Struktur, Mekanikal, Elektrikal dan Utilitas.

PT. Kencana Mandiri IV - 50

Equipment operasional, Interior dan Exterior/Pengembangan lahan. Berisi

uraian dan diagram skematis sistem-sistem struktur, mekanikal, elektrikal,


utilitas, equipment operasional, Interior dan Exterior/Pengembangan lahan

yang diterapkan sesuai dengan fungsi dan karakteristik bangunan. Selain itu

juga akan dijelaskan fungsi dan cara penerapannya masing-masing sistem

dalam sistem bangunan secara keseluruhan.

4. Pengembangan Sistem dan Rancangan

Pengembangan sistem dan rancangan mencakup gambar-gambar hasil

pengembangan rancangan arsitektural, lansekap struktur, mekanikal,

elektrikal, utilitas, equipment operasional, Interior dan

Exterior/Pengembangan lahan.

Sebagai satu sistem bangunan yang utuh. Oleh karena penentuan dan

penempatan setiap sistem harus memperhitungkan sistem-sistem lainnya,

sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada dalam konsep perancangannya.

Sistem yang dipilih juga harus memperhitungkan kemudahan

pelaksanaannya.

5. Cost Limit

Cost limit akan disusun pada tahap pra-rancangan maupun tahap

pengembangan rancangan sebagai alat kontrol agar hasil rancangan sesuai

dengan kelas atau kualitas bangunan yang diinginkan.

3. TAHAP PENYUSUNAN DETAIL ENGINEERING DESAIN

Dalam tahapan ini semua hasil pra-rancangan yang telah dikomunikasikan dan disetujui

oleh pihak pemberi tugas akan diolah lebih lanjut menjadi dokumen tender yang akan

di jadikan dasar bagi pelaksanaan konstruksi. Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam

tahap ini mencakup:

1. Perhitungan dan Pembuatan Detail Rancangan

Dalam tahap ini akan didahului dengan perhitungan-perhitungan pada


masing-masing sistem beserta dasar-dasarnya sesuai dengan peraturan dan

persyaratan yang berlaku.

2. Perhitungan Struktur

Berisi perhitungan-perhitungan struktur yang diterapkan dalam rancangan

sesuai dengan peraturan dan persyaratan yang berlaku perhitungan struktur

akan merupakan bagian dari dokumen lelang.

3. Penyusunan Spesifikasi Teknis (RKS)

Spesifikasi teknis berisi penjelasan terinci tentang jenis, ukuran dan

karakteristik teknis setiap material (bahan) yang akan digunakan, mencakup

PT. Kencana Mandiri IV - 51

bidang pekerjaan, untuk memudahkan kemungkinan pelaksanaan konstruksi

oleh beberapa sub kontraktor.

4. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)

RAB berisi penjelasan terinci tentang harga setiap pekerjaan yang akan

dilaksanakan di lapangan beserta item dan volume pekerjaannya. Setiap

material (bahan) yang akan digunakan, mencakup bidang pekerjaan, untuk

memudahkan kemungkinan pelaksanaan konstruksi oleh beberapa sub

kontraktor.

4. KELUARAN

Hasil yang diharapkan dari pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci

Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019 adalah:

a. Laporan Pekerjaan Perencanaan yang dibagi menjadi 3 tahap yaitu Laporan

Pendahuluan, Laporan Antara dan Laporan Akhir

b. Dokumen Lelang yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu Dokumen Gambar DED,

Rencana Kerja dan Syarat, dan Rencana Anggaran Biaya.


c. Dokumen Volume Pekerjaan (BoQ)

d. Laporan Ringkasan Akhir Perencanaan

PT. Kencana Mandiri IV - 52

BAB VII

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

No Uraian kegiatan

Waktu Pelaksanaan (Bulan-Minggu)

I II III IV V

12341234123412341234

I Tahap Persiapan

1 Pemahaman Materi

Pekerjaan

2 Pemantapan Jadwal

Pelaksanaan Pekerjaan

Pemantapan sistem dan

organisasi pelaksanaan

pekerjaan
4

Melengkapi dan

memobilisasi tenaga

ahli

5 Kajian Awal (Studi

Literatur)

6 Pembuatan rencana /

metodologi survey

Pembuatan

Rancangan/Metodologi

Pembahasan

II Tahap Konsep Desain

1 Survei Lapangan
a. Kondisi Tata

PT. Kencana Mandiri IV - 53

Guna Lahan

b. Kondisi

Struktur

c. Kondisi

pengguna

d. Kondisi Sarana

Prasarana

e. Kondisi

Kelembagaan

2 Penyusunan Data

Eksisting

3 Konsep Skematik

Desain

III Tahap Pra Rencana

1 Penyusunan Gambar

Pra Rencana
e. Gambar Pra

Rencana

Lansekap

f. Gambar Pra

Rencana

Arsitektur

g. Gambar Pra

Rencana

Struktur

h. Gambar Pra

Rencana

Utilitas

PT. Kencana Mandiri IV - 54

(Mekanikal

Elektrikal)

2 Perkiraan Biaya

Pembangunan

3 Draft Rencana Kerja

dan Syarat

IV

Tahap
Pengembangan

Rencana

Gambar

Pengembangan

Rencana

a. Gambar

Rencana

Lansekap

b. Gambar

Rencana

Arsitektur

c. Gambar

Rencana
Struktur

d. Gambar

Rencana

Utilitas

(Mekanikal

Elektrikal)

Konsep Perhitungan

Struktur dan utilitas

bangunan

PT. Kencana Mandiri IV - 55

3 Draft Rencana

Anggaran Biaya

4 Draft Rencana Kerja

dan Syarat

V Tahap Detail

1 Gambar Perencanaan

Detail
a. Gambar

Rencana

Lansekap

b. Gambar

Rencana

Arsitektur

c. Gambar

Rencana

Struktur

d. Gambar

Rencana

Utilitas

(Mekanikal

Elektrikal)

2 Rencana Anggaran

Biaya

3 Rencana Kerja dan

Syarat

4 Dokumen Perhitungan

Struktur

5 Dokumen Perhitungan

PT. Kencana Mandiri IV - 56

Utilitas

6
Dokumen Perhitungan

Volume Pekerjaan

(BoQ)

VI Penyerahan Laporan

1 Laporan Pendahuluan

2 Laporan Antara

3 Laporan Akhir

Dokumen Lelang

(Gambar DED, RAB,

RKS)

PT. Kencana Mandiri IV - 57

BAB VIII

TENAGA AHLI DAN TANGGUNG JAWAB

1. UMUM

Bentuk organisasi kerja ini bertitik tolak dari tujuan yang hendak dicapai, yaitu

diselesaikannya Pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Gedung

Operasi dan Perkantoran Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.


Untuk menangani tugas pelaksanaan pekerjaan, Konsultan mengusulkan Daftar Tenaga

seperti tercantum pada tabel halaman berikut dimana personil tersebut masing-masing

sudah berpengalaman di dalam bidangnya sehingga kami yakin akan dapat

menyelesaikan tugas dan pekerjaan ini dengan hasil yang memuaskan.

Dengan struktur dan tata kerja tersebut maka diharapkan pekerjaan akan dapat

diselesaikan dengan sempurna dan tepat pada waktunya sesuai Kerangka Acuan Kerja.

2. URAIAN TUGAS

Tugas- tugas para tenaga ahli dapat dilihat sebagai berikut:

a. Team Leader

Disyaratkan harus sarjana minimal S-2 jurusan Teknik Arsitektur / Sipil lulusan

universitas negeri/ swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang

bangunan Arsitektur/ Sipil khususnya pekerjaan perencanaan sekurang-

kurangnya 12 tahun. Sebagai Team Leader tugas utamanya memimpin dan

mengkoordinasi seluruh kegiatan anggota TIM Kerja dalam pelaksanaan

pekerjaan semenjak ditanda-tanganinya Kontrak sampai dengan pekerjaan

dinyatakan selesai.

b. Tenaga Ahli Arsitektur

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan arsitektur lulusan universitas

negeri/ swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang bangunan

Arsitektur/ Sipil khususnya pekerjaan perencanaan sekurang-kurangnya 8 tahun.

Sebagai Tenaga Ahli Arsitektur tugas utamanya mengkoordinasi kegiatan

arsitektural dalam pelaksanaan pekerjaan semenjak ditanda-tanganinya Kontrak

sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.


c. Tenaga Ahli Struktur

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan sipil lulusan universitas negeri/

swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang bangunan Arsitektur/ Sipil

khususnya pekerjaan perencanaan sekurang-kurangnya 8 tahun. Sebagai Tenaga

PT. Kencana Mandiri IV - 58

Ahli Struktural tugas utamanya mengkoordinasi kegiatan struktural dalam

pelaksanaan pekerjaan semenjak ditanda-tanganinya Kontrak sampai dengan

pekerjaan dinyatakan selesai.

d. Tenaga Ahli Mekanikal

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan mesin lulusan universitas negeri/

swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang mekanikal khususnya

pekerjaan perencanaan sekurang-kurangnya 8 tahun. Sebagai Tenaga Ahli

Mekanikal tugas utamanya mengkoordinasi kegiatan mekanikal bangunan dalam

pelaksanaan pekerjaan semenjak ditanda-tanganinya Kontrak sampai dengan

pekerjaan dinyatakan selesai.

e. Tenaga Ahli Elektrikal

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan elektro lulusan universitas negeri/

swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang elektrikal bangunan

sekurang-kurangnya 8 tahun. Sebagai Tenaga Ahli elektrikal tugas utamanya

mengkoordinasi kegiatan elektrikal bangunan dalam pelaksanaan pekerjaan

semenjak ditanda-tanganinya Kontrak sampai dengan pekerjaan dinyatakan

selesai.

f. Ahli Geodesi

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan geodesi lulusan universitas

negeri/ swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang geodesi/ pengukuran


sekurang-kurangnya 8 tahun. Sebagai Tenaga Ahli Geodesi tugas utamanya

mengkoordinasi kegiatan pengukuran/ survey dalam pelaksanaan pekerjaan

semenjak ditanda-tanganinya Kontrak sampai dengan pekerjaan dinyatakan

selesai.

g. Ahli Lingkungan

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan lingkungan lulusan universitas

negeri/ swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang teknik lingkungan

khususnya pekerjaan perencanaan sekurang-kurangnya 8 tahun. Sebagai Tenaga

Ahli Lingkungan tugas utamanya mengkoordinasi kegiatan perencanaan

lingkungan bangunan dalam pelaksanaan pekerjaan semenjak ditanda-tanganinya

Kontrak sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

h. Ahli Estimasi Biaya

Disyaratkan harus sarjana minimal S-1 jurusan ekonomi lulusan universitas

negeri/ swasta, berpengalaman dalam pelaksanaan dibidang estimasi biaya

khususnya pekerjaan perencanaan sekurang-kurangnya 5 tahun. Sebagai Tenaga

Ahli Estimasi Biaya tugas utamanya mengkoordinasi kegiatan perhitungan/

PT. Kencana Mandiri IV - 59

estimasi biaya bangunan dalam pelaksanaan pekerjaan semenjak ditanda-

tanganinya Kontrak sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

Tenaga pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah:

a. Asisten Tenaga Ahli Arsitektur

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 2 orang.

b. Asisten Tenaga Ahli Struktural

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 2 orang.

c. Asisten Tenaga Ahli Mekanikal


Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 1 orang.

d. Asisten Tenaga Ahli Elektrikal

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 1 orang.

e. Asisten Tenaga Ahli Geodesi

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 1 orang.

f. Asisten Tenaga Ahli Lansekap

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 1 orang.

g. Asisten Tenaga Ahli Lingkungan

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 1 orang.

h. Asisten Tenaga Estimasi Biasa

Minimal pengalaman minimal 6 (enam) tahun dengan jumlah 1 orang.

i. Tenaga Administrasi/ Keuangan

Minimal S-1 Ekonomi Akuntansi pengalaman minimal 4 (empat) tahun 1 dengan

jumlah 1 orang.

j. Drafter

Minimal lulusan D-3 jurusan Teknik Sipil/ Arsitektur pengalaman minimal 4

(empat) tahun dengan jumlah 1 orang.

k. Juru Ukur

Minimal lulusan D-3 jurusan Teknik Sipil/ STM pengalaman minimal 4 (empat)

tahun dengan jumlah 1 orang.

l. Operator Komputer

Minimal lulusan D-3 jurusan Teknik Sipil/ STM pengalaman minimal 4 (empat)

tahun dengan jumlah 1 orang.

m. Office Boy

Minimal lulusan SMU/SMEA pengalaman minimal 4 (empat) tahun dengan

jumlah 1 orang.
PT. Kencana Mandiri IV - 60

BAB IX

JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI

NO Tenaga Nama Man

Month

Waktu Pelaksanaan

(Bulan – Minggu)

Waktu Pelaksanaan

(Bulan – Minggu)

Waktu Pelaksanaan

(Bulan – Minggu)

Waktu Pelaksanaan

(Bulan – Minggu)

Waktu Pelaksanaan

(Bulan – Minggu)

I II III IV V

12341234123412341234

1 Team Leader

2 Tenaga Ahli

a. TA. Arsitektur
b. TA. Struktur

c. TA. Mekanikal

d. TA. Elektrikal

e. TA. Geodesi

f. TA. Lansekap

g. TA. Lingkungan

h. TA. Cost Estimator

3 Asisten Tenaga Ahli

PT. Kencana Mandiri IV - 61

a. Asisten TA. Arsitektur

b. Asisten TA. Struktur

c. Asisten TA. Mekanikal

d. Asisten TA. Elektrikal

e. Asisten TA. Geodesi

f. Asisten TA. Lansekap

g. Asisten TA. Lingkungan

h. Asisten TA. Cost Estimator

4 Tenaga Pendukung

a. CAD Operator

b. Juru Ukur

c. Operator Komputer

d. Tenaga Administrasi

e. Office Boy
PT. Kencana Mandiri IV - 62

BAB X

ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN

PT. Kencana Mandiri IV - 63

BAB XI

LAPORAN

Sesuai dengan yang dinyatakan dalam Kerangka Acuan Tugas, bahwa Konsultan diwajibkan

untuk menyiapkan laporan-laporan yang direncanakan akan dilaksanakan sebagai berikut:

1. Laporan Konsep Perancangan

2. Laporan Pra Rencana

a. Membuat Pra Rencana Tampak

b. Membuat Pra Rancangan Denah, Tampak, Potongan

c. Konsultasi dengan pemakai/ pemilik sampai mendapat ijin prinsip

1. Laporan Pengembangan Rancangan

a. Rencana Arsitektur beserta uraian perencanaannya

b. Rencana Struktur beserta uraian perencanaannya

c. Rencana Penempatan Utilitas beserta uraiannya (Blok Plan)

1. Laporan Gambar Detail


a. Membuat Rencana Blok Plan Kawasan

b. Membuat Rencana Detail Arsitektur

c. Membuat Rencana Detail Struktur

d. Membuat Rencana Detail Utilitas

e. Membuat Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (Rks)

f. Membuat Perincian Volume Pekerjaan

g. Membuat Rencana Anggaran Biaya Konstruksi (Berdasarkan Sni)

h. Membuat Dokumen Perencanaan

5. Dokumen Pelelangan Untuk Kontraktor Pelaksana

6. Laporan Pengawasan Berkala

7. Laporan Akhir Perencanaan

8. Menyerahkan Hasil Kerja dalam bentuk Soft Copy Cd atau

Flash Disc dan dapat di edit Pemberi Kerja tanpa menyimpan

dalam bentuk Program PDF.

PT. Kencana Mandiri IV - 64

BAB XII

PERALATAN PENUNJANG

Setelah mempelajari dan memahami KAK, dalam Perencanaan Pembuatan Desain Rancangan

Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019

dibutuhkan peralatan yang akan digunakan sebagai berikut :

No. Peralatan Jumlah


1 Kantor

2 Peralatan Kantor

Komputer 23 Buah

Printer A4 2 Buah

Printer A3 2 Buah

Scanner A4 1 Buah

Alat Komunikasi 1 Ls

3 Peralatan Lapangan

Perlengkapan Survey (meteran, GPS) 1 Ls

Perlengkapan Dokumentasi 2 Ls

Bahan dan Alat Tulis 3 Ls

4 Kendaraan Operasional 3 Buah

Dengan perlengkapan di atas kami yakin pekerjaan Pembuatan Desain Rancangan

Teknik Terinci Pengadaan Jasa Konsultan Perencana Konstruksi Bank BJB thun 2019

akan dapat dilaksanakan dan diselesaikan tepat waktu waktu dan memenuhi persyaratan

sesuai dengan Kerangka Acuan Tugas.

PT. Kencana Mandiri IV - 65

BAB XIII

PENUTUP

Dengan adanya Pembuatan Desain Rancangan Teknik Terinci Gedung Operasi dan

Perkantoran Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, maka realisasi dari pekerjaan ini

diharapkan dapat memudahkan pengguna jasa untuk melakukan pelaksanaan pembangunan


Kawasan Kota Pekanbaru.

Diharapkan nantinya hasil yang telah dicapai dari pekerjaan ini dapat diimplementasikan pada

masa mendatang guna menunjang ketersediaan sarana dan prasarana bagi Pemerintah Kota

Pekanbaru guna mengoptimalkan pelayanan public dan penyediaan sarana public kepada

masyarakat setempat. Oleh karena itu pihak konsultan berusaha untuk konsisten dalam

melaksanakan tugas yang akan dilimpahkan secara profesional dan tepat waktu.