Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IAS 1

PRESENTATION OF FINANCIAL STATEMENTS

Diajukan untuk memenuhi Tugas Individu mata kuliah Seminar Akuntansi


Keuangan yang diampu oleh Dr. Reschiwati, S.E., Ak., M.M.

Oleh :

STEPHANI FELDA SHABILLAH


NIM 1811070027

INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN DAN INFORMATIKA ASIA


(ASIA BANKING FINANCE AND INFORMATICS INSTITUTE)

PERBANAS
JAKARTA
PROGRAN STUDI AKUNTANSI

2019
IAS 1
PRESENTATION OF FINANCIAL STATEMENTS

I. Pendahuluan

IAS (International Accounting Standard) 1 tentang penyajian laporan


keuangan mengatur persyaratan secara keseluruhan dari laporan keuangan,
termasuk bagaimana suatu laporan keuangan suatu entitas harus terstruktur,
persyaratan minimum untuk isi dari laporan keuangan dan konsep-konsep
yang digunakan seperti going concern, akuntansi berbasis akrual, dan
perbedaan current / non-current. International Accounting Standard 1
awalnya dikeluarkan oleh Komite Standar Akuntansi Internasional pada
tahun 1997, menggantikan tiga standar pengungkapan dan penyajian
persyaratan, dan merupakan standar akuntansi komprehensif pertama untuk
menangani penyajian standar keuangan.

Dalam IAS 1 menguraikan tentang penyajian laporan keuangan, yaitu :


1. Penyajian secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK;
2. Disusun atas dasar kelangsungan usaha;
3. Disusun dengan menggunakan dasar akrual;
4. Materialitas dan Penggabungan;
5. Tidak memperkenankan Saling Hapus antara Aset dan Liabilitas
6. Disajikan minimal secara tahunan
7. Infomasi komparatif dengan periode laporan keuangan sebelumnya
8. Disajikan secara secara konsisten pada setiap periode

Standar ini mengharuskan secara lengkap bagi laporan keuangan untuk


menyajikan laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan pendapatan
komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Di
Indonesia sendiri, IAS 1 dikonvergensi kedalam PSAK 1. Namun di dalam
konfergensi itu sendiri, tidak semua hal di dalam IAS di masukkan kedalam
PSAK.
Berikut adalah yang menjadi pembeda antara IAS 1 dan PSAK 1:

1. IAS 1 paragraf 2 yang menjadi PSAK 1 paragraf 02 tentang ruang


lingkup dengan penambahan kalimat yang menyatakan bahwa PSAK 1
tidak berlaku untuk entitas syariah, karena penyajian laporan keuangan
syariah diatur dalam PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
2. IAS 1 paragraf 5 yang menjadi PSAK 1 paragraf 05 tentang ruang
lingkup dengan menghilangkan kemungkinan penerapan bagi entitas
sektor publik karena pelaporan keuangan entitas sektor publik diatur
dalam standar akuntansi pemerintah bukan Standar Akuntansi Keuangan.
3. IAS 1 paragraf 7 yang menjadi PSAK 1 paragraf 07 tentang definisi
Standar Akuntansi Keuangan dengan menambahkan peraturan regulator
pasar modal untuk entitas yang berada di bawah pengawasannya, karena
untuk sinkronisasi dengan peraturan perundang-undangan di pasar
modal.
4. IAS 1 paragraf 10 yang menjadi PSAK 1 paragraf 11 dengan
menghilangkan kalimat yang memperkenankan entitas menggunakan
judul lain untuk komponen laporan keuangan, supaya menciptakan
keseragaman untuk judul komponen laporan keuangan.
5. Tambahan di paragraf 16 tentang tanggung jawab atas laporan keuangan,
karena peraturan perundang-undangan tidak mengatur pihak yang
bertanggung jawab atas laporan keuangan untuk semua entitas, tetapi
hanya untuk sebagian entitas.
6. IAS 1 paragraf 19–22 tentang penerapan penyimpangan dari suatu
Standar Akuntansi Keuangan tidak diadopsi, karena tidak sesuai dengan
konteks di Indonesia. Pengaturan IAS 1 paragraf 23–24 diadopsi menjadi
PSAK 1 paragraf 21–22 mengenai pengungkapannya, tetapi dengan
menghilangkan kalimat “but the relevant regulatory framework prohibits
departure from the requirement” dalam IAS 1 paragraf 23.
7. IAS 1 paragraf 54(f) tentang aset biolojik tidak diadopsi, karena IAS 41
Agriculture belum diadopsi.
8. IAS 1 paragraf 139 yang menjadi PSAK 1 paragraf 139 tentang tanggal
efektif dengan meniadakan penerapan dini, karena penerapan dini
tersebut hanya akan dapat dilakukan dengan tepat jika seluruh pengaturan
dalam IFRS diadopsi secara bersamaan menjadi SAK. Adopsi IFRS
menjadi SAK di Indonesia dilakukan secara bertahap.
9. IAS 1 paragraf 139A, 139B, dan 139C tentang ketentuan transisi tidak
diadopsi karena paragraf tersebut tidak relevan.
10. IAS 1 paragraf 140 tentang penarikan IAS 1 (2003) karena hal tersebut
tidak relevan.

II. Tujuan
Tujuan IAS 1 adalah untuk memastikan penyajian informasi yang
dapat diperbandingkan dengan laporan keuangan entitas pada periode
sebelumnya dan dengan menyajikan laporan keuangan entitas lainnya.
Laporan keuangan disusun atas dasar kelangsungan hidup usaha (going
concern), jika tidak maka manajemen bermaksud untuk melikuidasi atau
menghentikan perdagangan.

Menurut IAS no 1, tujuan dibuat laporan keuangan untuk mencari


tiga hal, yaitu :

1) Financial position, yaitu posisi keuangan pada saat tertentu laporan


keuangan dibuat, laporan yang mendukung untuk itu adalah Statement
of Financial Position atau Neraca;
2) Financial Performance, yaitu kondisi kinerja keuangan yang
sedang berjalan, laporan yang mendukung adalah Statement of
Comprehensive Income atau Laporan Laba Rugi dan Statement of
Changes in Equity atau Laporan Perubahan Modal;
3) Cash Flow, yang diketahui dengan laporan arus kas, bertujuan
untuk melihat posisi kas.
Serta didukung oleh Notes to The Financial Statement atau Catatan
atas Laporan Keuangan yang memberikan penjelasan terhadap ketiga
laporan sebelumnya.
III. Perangkat Laporan Keuangan Yang Lengkap

1. laporan posisi keuangan pada akhir periode


Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah
pos-pos berikut:
a. aset tetap m. liabilitas keuangan
b. properti investasi n. liabilitas dan aset untuk
c. aset takberwujud pajak kini sebagaimana
d. aset keuangan didefinisikan dalam PSAK
e. investasi dengan 46: Pajak
menggunakan metode o. Penghasilan
ekuitas p. liabilitas dan aset pajak
f. persediaan tangguhan, sebagaimana
g. piutang dagang dan didefinisikan dalam PSAK
piutang lain 46
h. kas dan setara kas q. liabilitas yang termasuk
i. total aset yang dalam kelompok lepasan
diklasifikasikan sebagai yang diklasifikasikan
aset yang dimiliki untuk sebagai
dijual dan aset yang r. dimiliki untuk dijual
j. termasuk dalam s. kepentingan nonpengendali,
kelompok lepasan yang disajikan sebagai bagian
diklasifikasikan sebagai dari ekuitas
dimiliki untuk dijual t. modal saham dan cadangan
k. utang dagang dan utang yang dapat diatribusikan
lain kepada pemilik entitas
l. provisi induk

Entitas menyajikan pos-pos tambahan, judul, dan subtotal dalam


laporan posisi keuangan jika penyajian tersebut relevan untuk
pemahaman posisi keuangan entitas.
2. laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain selama periode
Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain (laporan
penghasilan komprehensif) menyajikan, sebagai tambahan atas bagian
laba rugi dan penghasilan komprehensif lain:
a. laba rugi
b. total penghasilan komprehensif lain
c. penghasilan komprehensif untuk periode berjalan, yaitu totallaba
rugi dan penghasilan komprehensif lain
Entitas menyajikan pos-pos berikut, sebagai tambahan atas bagian
laba rugi dan penghasilan komprehensiflain, sebagai alokasi dari laba
rugi dan penghasilan komprehensif lain untuk periode berjalan:
a. laba rugi untuk periode yang dapat diatribusikan kepada kepentingan
non-pengendali dan pemilik entitas induk
b. penghasilan komprehensif untuk periode yang dapat diatribusikan
kepada kepentingan non pengendali dan pemilik entitas induk

3. laporan perubahan ekuitas selama periode


Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagaimana
disyaratkan IFRS. Laporan perubahan ekuitas memuat informasi sebagai
berikut:
a. total penghasilan komprehensif selama periode berjalan, yang
menunjukkan secara terpisah jumlah total yang dapat diatribusikan
kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan
nonpengendali.
b. untuk setiap komponen ekuitas, dampak penerapan retrospektif atau
penyajian kembali secara retrospektif sesuai dengan PSAK 25:
Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan
Kesalahan.
c. untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat
pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan
masing-masing perubahan yang timbul dari:
1) laba rugi
2) penghasilan komprehensif lain
3) transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik,
yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari dan distribusi
kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas
anak yang tidak menyebabkan hilangnya pengendalian.
Untuk setiap komponen ekuitas, entitas menyajikan, baik dalam
laporan perubahan ekuitas atau dalam catatan atas laporan keuangan,
analisis penghasilan komprehensif lain berdasarkan pos.

4. laporan arus kas selama periode


Informasi arus kas entitas berguna sebagai dasar untuk menilai
kemampuan entias dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai
kebutuhan kas entitas untuk menggunakan arus kas tersebut.
Laporan arus kas menggambarkan perubahan historis dalam kas
dan setara kas yang diklasifikasikan atas aktivitas operasi, investasi dan
pendanaan selama satu periode
Laporan arus kas melaporkan arus kas selama periode tertentu dan
diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
Penyajian ketiga aktivitas terebut dengan cara yang paling sesuai dengan
bisnisnya. Suatu transaksi tunggal dapat diidentifikasikan ke dalam lebih
dari satu aktivitas misal pelunasan pinjaman dan bunganya sebagai
pendanaan dan operasi.
Metode yang dapat digunakan dalam menyusun laporan arus kas
adalah:
a. Metode langsung, kelompok utama dari penerimaan dan pengeluaran
kas bruto diungkapkan;
b. Metode tidak langsung, laba disesuaikan dengan mengoreksi
transaksi non kas, penangguhan atau akrual dan unsur
penghasilan/beban yang terkait aktivitas investasi dan pendanaan.
Dianjurkan melaporkan dengan metode langsung.
5. catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan
akuntansi penting dan informasi penjelasan lainnya
Catatan atas laporan keuangan menyajikan informasi tentang dasar
penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi spesifik yang
digunakan sesuai dengan IAS 1.
Entitas umumnya menyajikan catatan atas laporan keuangan
dengan urutan sebagai berikut, untuk membantu pengguna memahami
dan membandingkan dengan laporan keuangan entitas lain:
a. pernyataan kepatuhan terhadap SAK
b. ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan
c. informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan dan laporan !aha rugi dan penghasilan komprehensif
lain, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas, sesuai dengan
urutan penyajian laporan dan penyajian masing-masing pos; dan
d. pengungkapan lain

6. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang


disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi
secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos
laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangannya.

IV. Ketentuan Umum


Kententuan umum laporan keuangan Standar IAS no 1 sama dengan
PSAK no 1, yaitu :

 Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap IFRS


Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan
penyajian secara jujur dampak dari transaksi, peristiwa lain, dan kondisi
sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan yang diatur dalam
kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan (dapat
dimengerti, relevan, dapat diandalkan, dapat dibandingkan) dengan
pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan
penyajian laporan keuangan secara wajar. Entitas tidak dapat
memperbaiki kebijakan akuntansi yang tidak tepat, baik dengan
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan maupun
pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan atau materi
penjelasan.

 Going concern atau Kelangsungan Usaha


Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat
penilaian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan
kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan
asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk
melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak
mempunyai alternatif lain yang realistis selain melakukannya. Jika
manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya
ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi
yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan
entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas
mengungkapkan ketidakpastian tersebut. Asumsi kelangsungan usaha
adalah minimal selama 12 bulan ke depan sejak akhir periode pelaporan
atau satu tahun periode pelaporan ke depan.

 Dasar akrual
Entitas akan mengakui dan mencatat setiap kejadian atau peristiwa
dalam laporan keuangan jika peristiwa atau kejadian tersebut memenuhi
kriteria pengakuan, tanpa mempertimbangkan apakah peristiwa tersebut
akan mengakibatkan kas masuk atau kas keluar.

 Materialitas dan Agregasi


Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang
material. Entitas menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat
atau fungsi berbeda kecuali pos tersebut tidak material. Jika suatu
klasifikasi pos tidak material, maka dapat digabungkan dengan pos lain
sejenis dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan
keuangan. Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan
terpisah dalam laporan keuangan tetapi cukup material untuk disajikan
terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.

 Saling Hapus (Offsetting)


Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas
atau penghasilan dan beban, kecuali disyaratkan atau diizinkan oleh
IFRS. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan
posisi keuangan mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan
baik untuk memahami transaksi, peristiwa dan kejadian lain yang terjadi
maupun untuk menilai arus kas entitas di masa depan, kecuali saling
hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa. Entitas
menyajikan keuntungan dan kerugian transaksi sejenis secara neto
semisal keuntungan / kerugian dari foreign exchange, atau instrument
trading. Namun entitas menyajikan keuntungan dan kerugian tersebut
secara terpisah jika bersifat material.

 Informasi Komparatif
Entitas yang mengungkapkan informasi komparatif menyajikan
minimal dua laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis
laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan. Jika entitas
menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atas pos-pos dalam
laporan keuangan atau mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan,
maka entitas minimal tiga jenis laporan posisi keuangan, dua laporan
untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan.
Entitas menyajikan laporan posisi keuangan pada :

a. Akhir periode berjalan;


b. Akhir periode sebelumnya (yang sama dengan awal periode berjalan),
Permulaan dari periode komparatif terawal.
 Konsistensi penyajian.
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan
antarperiode dilakukan secara konsisten, kecuali :

1. Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas


atau mengkaji ulang atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa
penyajian atau pengklasifikasian yang lain akan lebih tepat untuk
digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan
penerapan kebijakan akuntansi.
2. Perubahan tersebut diperkenankan oleh IFRS

 Frekuensi pelaporan (Reporting Period)


Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi
komparatif) setidaknya secara tahunan. Umumnya entitas secara
konsisten menyiapkan laporan keuangan untuk periode satu tahun.
Namun, untuk alasan praktis, beberapa entitas lebih memilih untuk
melaporkan misalnya periode 52 minggu. Pernyataan ini tidak
menghalangi praktek tersebut.

V. Laporan Laba Rugi Komprehensif


Laporan laba rugi komprehensif mencakup pendapatan komprehensif
lain yang berisipos-pos pendapatan dan beban yang tidak diakui dalam
laporan laba rugi yaitu:
1. Perubahan dalam surplus revaluasi
2. Keuntungan/kerugian aktuarial dalam manfaat pasti
3. Keuntungan dan Kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan
dari entitas asing
4. Keuntungan dan Kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan
tersedia untuk dijual
5. Bagian Efektif dari keuntungan dan Kerugian Instrumen Lindung nilai
dalam rangka lindung nilai arus kas.
Perusahaan mempunyai pilihan untuk menyajikan pos pendapatan dan
beban dalam bentuk:
1. Dua laporan yang terpisah antara:
a. Laporan laba rugi yang menunjukkan komponen laba rugi terpisah
dan;
b. Laporan pendapatan komprehensif yang dimulai dengan laba rugi
dan pendapatan komprehensif lain.
2. Satu laporan laba rugi komprehensif (gabungan dua laporan terpisah di
atas)
Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif harus
disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara
retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan,
atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.
Dalam laporan laba rugi komprehensif, perusahaan mengungkapkan pos-
pos berikut sebagai alokasi laba rugi dalam periode:
1. Laba rugi periode berjalan dari kepentingan non-pengendali dan pemilik
entitas induk.
2. Laba rugi komprehensif dari kepentingan non-pengendali dan pemilik
entitas induk.
Kepentingan non pengendali (hak minoritas) disajikan sebagai bagian
dari ekuitas. Pajak penghasilan terkait dengan masing-masing komponen
pendapatan komprehensif lain harus diungkapkan dalam laporan
pendapatan komprehensif atau catatan atas laporan keuangan.

VI. Pengungkapan Kebijakan Akuntansi


Suatu entitas harus mengungkapkan secara ringkas kebijakan akuntansi
yang signifikan :

a) Dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan


keuangan dan kebijakan akuntansi lainnya yang digunakan relevan
bagi suatu pemahaman laporan keuangan

b) Pertimbangan, bagian dari estimasi yang terkait bahwa manajemen


melaksanakan proses penerapan kebijakan akuntansi entitas dan yang
mempunyai dampak yang paling signifikan atas jumlah yang diakui di
dalam laporan keuangan

c) Informasi mengenai asumsi yang terjadi di masa dating, dan sumber


utama lainnya tentang ketidakpastian pada akhir periode pelaporan

Pengungkapan Lain-Lain

Suatu entitas harus mengungkapkan dalam catatan :

a) Jumlah dividen yang diusulkan atau dideklarasikan sebelum laporan


keuangan diotorisasi untuk diterbitkan tetapi tidak diakui sebagai suatu
distribusi kepada pemilik selama periode yang bersangkutan, terkait
dengan jumlah perlembar saham

b) Jumlah akumulasi dividen saham preferen yang tidak diakui,

c) Informasi yang menjadikan pengguna laporan keuangannya untuk


mengevaluasi tujuan, kebijakan dan proses entitas untuk pengelolaan
modal

Hal yang harus diungkapkan suatu entitas jika tidak diungkapkan


dalam informasi yang diterbitkan oleh laporan keuangan :

a) Domisili dan bentuk hokum entitas, negara asal perusahannya, alamat


kantor terdaftar

b) Suatu deskripsi sifat kegiatan opersional entitas dan aktivitas utamanya

c) Nama entitas induk dan entitas induk utama dari kelompok


Berikut ini Ilustrasi IAS 1 :