Anda di halaman 1dari 17

serial kenotariatan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keberadaan lembaga notaris dilandasi oleh kebutuhan masyarakat


dalam membuat akta otentik sebagai suatu alat bukti yang mengikat.
Menurut Pasal 1 Ayat (1) Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004
tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut Undang-Undang
Jabatan Notaris), Notaris adalah pejabat umum yang berwenang
untuk membuat akta otentik dan memiliki kewenangan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau berdasarkan
undang-undang lainnya.

Keberadaan lembaga notaris dikehendaki oleh aturan hukum dengan


tujuan untuk melayani dan membantu masyarakat yang
membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik. Tugas seorang
notaris adalah menjadi pejabat umum, sedangkan wewenangnya
adalah membuat akta otentik. Pasal 15 Ayat (2) Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, menegaskan bahwa
Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai: semua
perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan
per undang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang
berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik; menjamin
kepastian tanggal pembuatan akta; menyimpan akta; memberikan
grosse; salinan dan kutipan akta. Semuanya sepanjang pembuatan
akta itu tidak ditugaskan atau dikesesuaikan kepada pejabat lain
yang telah ditetapkan oleh undang-undang.

Notaris juga berwenang untuk mengesahkan tanda tangan dan


menetapkan kepastian tanggal surat dibawah tangan dengan
mendaftarkan dalam buku khusus; membukukan surat dibawah
tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus; membuat kopi dari
asli surat di bawah berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana
ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan; melakukan
pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya; memberikan
penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta; membuat

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


1
akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau membuat akta risalah
lelang.

Kebutuhan akta otentik adalah untuk menjamin kepastian dan


perlindungan hukum bagi masyarakat yang mengadakan suatu
perjanjian atau perbuatan hukum. Pengaturan mengenai akta otentik
telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Menurut
Pasal 1868 KUHPerdata, akta otentik adalah suatu akta yang dibuat
dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau
dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di
tempat dimana akta dibuatnya.

Notaris sebagai pejabat umum berwenang untuk membuat akta


otentik sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor
2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris. Akta otentik pada hakikatnya
memuat kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan
para pihak kepada notaris. Notaris mempunyai kewajiban
menerapkan apa yang termuat dalam akta notaris sungguh-sungguh
telah dimengerti dan sesuai dengan kehendak para pihak, yaitu
dengan cara membacakannya, sehingga isi dari akta notaris menjadi
jelas.

Akta otentik yang dibuat oleh notaris tak jarang dipermasalahkan oleh
salah satu pihak atau oleh pihak lain karena dianggap merugikan
kepentingannya, baik dengan pengingkaran akan isi akta,
tandatangan maupun kehadiran pihak di hadapan notaris, bahkan
adanya dugaan dalam akta otentik tersebut ditemukan keterangan
palsu. Perbuatan notaris yang diduga telah memasukkan keterangan
palsu ke dalam suatu akta otentik dapat dikenakan sanksi pidana
sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana. Hal ini dimungkinkan dengan begitu banyaknya jenis akta
otentik yang dapat dibuat oleh notaris, dan atas dasar tersebut
dibutuhkan suatu perlindungan hukum terhadap notaris dalam
menjalankan jabatannya selaku pejabat umum.

Apabila ada notaris yang diduga melakukan kesalahan dalam proses


pembuatan akta otentik, sedangkan notaris tersebut telah melakukan
tugas dan kewenangannya sesuai dengan aturan hukum, maka
Majelis Kehormatan Notaris (selanjutnya disebut MKN) harus
memberikan suatu perlindungan hukum kepada notaris yang

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


2
bersangkutan dengan memanggil dan memeriksa notaris tersebut
untuk diminta keterangannya sebelum memberikan persetujuan atau
menolak permintaan yang diajukan oleh penyidik yang hendak
memeriksa notaris tersebut.

Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa ada pihak-pihak


atau klien yang datang menghadap notaris mempunyai maksud yang
tidak baik seperti, sewaktu ia menghadap notaris untuk memohon
dibuatkan suatu akta otentik, ia menggunakan identitas palsu atau
surat atau dokumen palsu, sehingga notaris yang mencoba
membantu memformulasikan kehendak pihak tersebut ke dalam
suatu akta otentik justru menjadi terlibat masalah hukum dan bahkan
dapat dituduh turut serta atau membantu melakukan suatu tindak
pidana dalam proses pembuatan akta otentik tersebut, sedangkan
notaris tidak berwenang atau berkewajiban untuk memeriksa keaslian
segala dokumen yang diserahkan oleh para pihak kepada notaris.

Apabila dalam hal tersebut MKN tidak menemukan adanya bukti


terkait dengan adanya dugaan malapraktek yang dilakukan oleh
notaris, maka MKN wajib memberikan suatu bentuk perlindungan
hukum kepada notaris yang bersangkutan dengan tidak memberikan
persetujuan kepada penyidik, jaksa maupun hakim untuk memanggil
dan memeriksa notaris tersebut dalam persidangan.

Oleh sebab itu, notaris perlu mendapat pengawasan terhadap


pelaksanaan tugas notaris. Sisi lain dari pengawasan terhadap
notaris adalah aspek perlindungan hukum bagi notaris di dalam
menjalankan tugas dan fungsi yang oleh undang-undang telah
diberikan dan dipercayakan kepadanya, sebagaimana disebutkan
dalam butir konsideran yaitu notaris merupakan jabatan tertentu yang
menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat
yang perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi tercapainya
kepastian hukum.

Selain itu, selaku pejabat umum notaris juga memiliki hak-hak


istimewa sebagai konsekuensi predikat jabatan yang dimilikinya.
Hak-hak istimewa yang dimiliki notaris menjadi pembeda perlakuan
dibandingkan masyarakat biasa. Bentuk-bentuk perlakuan itu
diantaranya, berkaitan dengan hak ingkar notaris yang harus

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


3
diindahkan, perlakuan dalam hal pemanggilan, pemeriksaan, proses
penyelidikan dan penyidikan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, keberadaan dan


kehadiran seorang notaris senantiasa diperlukan oleh masyarakat.
Notaris dalam menjalankan jabatannya sebagai pejabat umum selain
pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah diperlukan juga suatu
mekanisme hukum yang dapat digunakan oleh notaris untuk
melindungi dirinya sehingga profesi notaris tetap di percaya oleh
masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pertanggung jawaban notaris secara perdata


terhadap akta-akta yang dibuatnya berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku?
2. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum bagi notaris
sebagai pejabat umum apa bila terjadi kesalahan dalam
pembuatan akta berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Notaris sebagai Pejabat Umum

Hukum positif di Indonesia saat ini telah mengatur dengan tegas


mengenai jabatan notaris dalam suatu undang-undang khusus yaitu
yang diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris. Dalam Pasal 1
Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan
Notaris, disebutkan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang
berwenang untuk membuat akta otentik dan memiliki kewenangan
lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau
berdasarkan undang-undang lainnya. Dapat diketahui bahwa,
kewenangan notaris selain diatur di dalam Undang-Undang Jabatan
Notaris juga diatur dalam undang-undang yang lain, sepanjang
kewenangan tersebut tidak diberikan kepada pejabat umum yang
lainnya, maka kewenangan tersebut menjadi kewenangan notaris.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


4
Notaris dikualifikasikan sebagai pejabat umum, yang merupakan
orang yang menjalankan sebagian fungsi publik dari negara,
khususnya dibidang hukum perdata. Pejabat umum merupakan suatu
jabatan yang disandang atau diberikan kepada mereka yang diberi
wewenang oleh aturan hukum dalam pembuatan akta otentik. Notaris
sebagai pejabat umum memiliki kewenangan untuk membuat akta
otentik. Hal inilah yang membedakan notaris dengan profesi lainnya,
oleh karena itu, jabatan notaris memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Sebagai jabatan
Jabatan notaris merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang
sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi
tertentu serta bersifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan
pekerjaan tetap. Notaris sebagai jabatan, maka ia wajib diangkat dan
diberhentikan oleh Menteri (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia), sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

2) Diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah


Seorang notaris meskipun secara administratif diangkat dan
diberhentikan oleh pemerintah, tidak berarti bahwa notaris
merupakan suboordinasi (bawahan) dari pemerintah yang
mengangkatnya. Jadi, dalam hal ini seorang notaris dalam
menjalankan tugas jabatannya harus bersifat mandiri, artinya
seorang notaris dalam menjalankan tugas jabatannya sebagai
pejabat umum harus mampu bekerja dan bertanggung jawab secara
pribadi. Selain itu seorang notaris dalam melaksanakan jabatannya
tidak boleh memihak kepada siapa pun. Seorang notaris harus
mampu bekerja secara profesional dan tidak boleh memihak kepada
siapa pun, selain itu notaris juga harus berperilaku adil dan jujur
kepada para pihak yang datang menghadap kepadanya.

3) Notaris mempunyai kewenangan tertentu


Setiap wewenang yang diberikan kepada jabatan harus ada aturan
hukumnya, sebagai batasan agar jabatan dapat berjalan dengan baik,
dan tidak berbenturan dengan wewenang jabatan lainnya. Jadi, jika
seseorang pejabat (notaris) melakukan suatu tindakan di luar
wewenang yang telah ditentukan, dapat dikatagorikan sebagi
perbuatan melanggar wewenang

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


5
4) Tidak menerima gaji atau pensiun dari yang mengangkatnya
Notaris meskipun diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah tapi
tidak menerima gaji, maupun pensiun dari pemerintah. Notaris hanya
menerima honorarium dari masyarakat yang telah dilayaninya atau
dapat memberikan pelayanan secara cuma-cuma untuk mereka yang
tidak mampu.

5) Akuntabilitas atas pekerjaannya kepada masyarakat


Kehadiran notaris untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang
memerlukan dokumen hukum (akta) otentik dalam bidang hukum
perdata, sehingga notaris mempunyai tanggung jawab untuk
melayani masyarakat. Masyarakat dapat menggugat secara perdata
kepada notaris, dan menuntut biaya ganti rugi dan bunga jika
ternyata akta tersebut dapat dibuktikan dibuat tidak sesuai dengan
aturan hukum yang berlaku, hal ini merupakan bentuk akuntabilitas
notaris kepada masyarakat.

Pejabat Umum adalah seorang yang diangkat dan diberhentikan oleh


pemerintah dan diberi wewenang dan kewajiban untuk melayani
publik dalam hal-hal tertentu karena ia ikut serta melaksanakan suatu
kekuasaan yang bersumber pada kewibawaan dari pemerintah.

Dalam jabatannya tersimpul suatu sifat atau ciri khas yang


membedakannya dan jabatan-jabatan lainnya dalam masyarakat.
Kedudukan notaris sebagai pejabat umum merupakan suatu jabatan
terhormat yang diberikan oleh negara secara atributif melalui undang-
undang kepada seorang yang dipercayainya.

Diangkatnya seorang notaris maka ia dapat menjalankan tugasnya


dengan bebas, tanpa dipengaruhi badan eksekutif dan badan lainnya
dan dapat bertindak netral dan independen. Tugas notaris adalah
untuk melaksanakan sebagian fungsi publik dari negara dan bekerja
untuk pelayanan kepentingan umum khususnya dalam bidang hukum
perdata, walaupun notaris bukan merupakan pegawai negeri yang
menerima gaji dari negara.

Pelayanan kepentingan umum tersebut adalah dalam arti bidang


pelayanan pembuatan akta dan tugas-tugas lain yang dibebankan

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


6
kepada notaris, yang melekat pada predikat sebagai pejabat umum
dalam ruang lingkup tugas dan kewenangan notaris. Akta notaris
yang diterbitkan oleh notaris memberikan kepastian hukum bagi
masyarakat.

Notaris mempunyai peran serta dalam aktivitas menjalankan profesi


hukum yang tidak dapat dilepaskan dari persoalan-persoalan
mendasar yang berkaitan dengan fungsi serta peranan hukum itu
sendiri, bahwa hukum diartikan sebagai kaidah-kaidah yang
mengatur segala kehidupan masyarakat. Lembaga notariat
merupakan lembaga yang ada dalam masyarakat dan timbul karena
adanya kebutuhan anggota masyarakat yang melakukan suatu
perbuatan hukum, yang menghendaki adanya suatu alat bukti tertulis
jika ada sengketa atau permasalahan, agar dapat dijadikan bukti
yang paling kuat di pengadilan. Itulah alasan masyarakat
membutuhkan jasa notaris untuk membuat akta otentik.

Kewenangan notaris dalam membuat akta otentik mengenai semua


perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan
perundangundangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang
berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin
kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan
salinan, dan kutipan akta, semua itu sepanjang pembuatan akta-akta
itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau
orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.

Notaris mendapat kuasa dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi


Manusia untuk mengesahkan dan menyelesaikan berbagai surat
perjanjian, surat wasiat, akta, dan sebagainya. Apa yang
diperjanjikan dan dinyatakan di dalam akta itu adalah benar, seperti
apa yang diperjanjikan dan dinyatakan oleh para pihak, sebagai yang
dilihat, didengar oleh notaris, terutama benar mengenai tanggal akta,
tanda tangan di dalam akta, identitas yang hadir sebagai penghadap
dan tempat akta itu dibuat.

2.2 Tugas dan Wewenang Notaris


Tugas utama seorang notaris berada pada ranah hukum privat,
membuat akta atau perjanjian antar anggota masyarakat, atau
masyarakat dengan pemerintah. Misalnya dalam bidang agraria,
kekeluargaan, dan perkawinan. Inti dari tugas notaris bila dilihat dari

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


7
Undang-Undang Jabatan Notaris adalah membuat akta otentik,
melegalisasi akta dibawah tangan dan membuat grosse akta serta
berhak mengeluarkan salinan atau turunan akta kepada pihak yang
berkepentingan.

Sesuai dengan Undang-Undang Jabatan Notaris, notaris memiliki


tanggung jawab yang sangat erat kaitannya dengan tugas dan
pekerjaan notaris, karena selain untuk membuat akta otentik notaris
juga ditugaskan dan bertanggung jawab untuk melakukan
pendaftaran dan mensyahkan (waarmerken dan legalisasi) surat-
surat/akta-akta yang dibuat di bawah tangan.

Pasal 1 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang


Jabatan Notaris menegaskan bahwa Tugas pokok dari notaris adalah
membuat akta otentik dan akta otentik itu akan diberikan kepada
pihak-pihak yang membuatnya menjadi suatu pembuktian yang
sempurna.

Hal ini dapat dilihat sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1870
KUHPerdata yang menyatakan bahwa Suatu akta otentik
memberikan kepastian hukum diantara para pihak berserta ahli waris
ahli warisnya atau orang-orang yang mendapat hak daripada mereka,
suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat di dalamnya.

Dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris S 1860 Nomor 3


disebutkan bahwa tugas notaris bukan hanya membuat akta, tetapi
juga menyimpannya dan menerbitkan grosse, membuat salinan dan
ringkasannya. Notaris hanya mengkonstantir apa yang terjadi dan
apa yang dilihat, di dalamnya serta mencatatnya dalam akta.

Notaris tidak hanya berwenang untuk membuat akta otentik dalam


arti verlijden, yaitu menyusun, membacakan dan menandatangani
dalam arti membuat akta dalam bentuk yang ditentukan oleh
Undang-Undang sebagaimana yang dimaksud oleh Pasal 1868
KUHPerdata, tetapi juga berdasarkan ketentuan terdapat dalam
Pasal 16 Ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Jabatan Notaris, yaitu Adanya kewajiban terhadap notaris
untuk memberi pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam Undang
Undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya.

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


8
Notaris juga memberikan nasehat hukum dan penjelasan mengenai
ketentuan Undang Undang kepada pihak-pihak yang bersangkutan.
Notaris diberi wewenang menciptakan alat pembuktian yang
sempurna, dalam pengertian bahwa apa yang tersebut dalam akta
otentik itu pada pokoknya dianggap benar.

Menurut G.H.S. Lumban Tobing wewenang utama notaris yaitu untuk


membuat akta otentik. Otentisitas dari akta notaris bersumber dari
Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris dimana notaris dijadikan sebagai
pejabat umum, sehingga akta yang dibuat oleh notaris karena
kedudukannya tersebut memperoleh sifat sebagai akta otentik.
Dan kewenangan notaris ini meliputi 4 hal, yaitu:

• Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta


yang dibuatnya itu.
• Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang -orang,
untuk kepentingan siapa akta itu dibuat.
• Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat, dimana
akta itu dibuat.
• Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu
pembuatan akta itu.

Menurut Habib Adji, kewenangan notaris dibagi menjadi 3 bagian,


yaitu seperti yang tercantum dalam Pasal 15 Ayat (1) sampai dengan
Ayat (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan
Notaris, yang dapat dibagi menjadi:

1) Kewenangan umum notaris


Secara umum kewenangan notaris terletak pada Pasal 15 Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang
menegaskan bahwa aalah satu kewenangan notaris yaitu membuat
akta secara umum yaitu, notaris berwenang membuat akta otentik
mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan penetapan yang
diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang
dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta
otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan
akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu
sepanjang pembuatan akta itu tidak juga ditugaskan atau

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


9
dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh
undang-undang.

2) Kewenangan khusus notaris

Kewenangan notaris ini dapat dilihat dalam Pasal 15 Ayat (2)


Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang
mengatur mengenai kewenangan khusus notaris untuk melakukan
tindakan hukum tertentu, seperti :

1. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal


surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
2. membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam
buku khusus;
3. membuat kopi dari asli surat di bawah tangan berupa salinan
yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan
dalam surat yang bersangkutan;
4. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat
aslinya;
5. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan
pembuatan akta;
6. membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan;
7. membuat akta risalah lelang.

3) Kewenangan notaris yang akan ditentukan kemudian


Menurut Pasal 15 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Jabatan Notaris, selain kewenangan sebagaimana dimaksud
pada Ayat (1) dan Ayat (2), notaris mempunyai kewenangan lain
yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud
dalam dengan kewenangan yang akan ditentukan kemudian tersebut
adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga
negara (pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat) atau
pejabat negara yang berwenang dan mengikat secara umum.
Dengan batasan seperti ini, maka peraturan perundang-undangan
yang dimaksud harus dalam bentuk undang-undang dan bukan di
bawah undang-undang.

Namun ada juga wewenang notaris untuk membuat akta otentik


menjadi wewenang atau pejabat instansi lain seperti:

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


10
1. Akta pengakuan anak diluar kawin (Pasal 281 KUHS).
2. Akta berita acara tentang kelalaian penyimpan jabatan hipotik
(Pasal 1127 KUHS).
3. Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan
konsinyasi (Pasal 1405 dan Pasal 1406 KUHS).
4. Akta protes wesel dan cek (Pasal 143 dan 218 KUHD).
5. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (Pasal 15 Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan)
6. Membuat akta risalah lelang (Pasal 8 Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor 338/ KMK.01/ 2000).

Berkaitan dengan wewenang yang harus dimiliki oleh notaris hanya


diperkenankan untuk menjalankan jabatannya di daerah yang telah
ditentukan dan ditetapkan dalam Undang-Uundang Jabatan Notaris
dan di dalam daerah hukum tersebut notaris mempunyai wewenang.
Apabila ketentuan itu tidak diindahkan, akta yang dibuat oleh notaris
menjadi tidak sah. Adapun wewenang yang dimiliki oleh notaris
meliputi empat (4) hal yaitu sebagai berikut :

1. Notaris harus berwenang sepanjang yang menyangkut akta itu


dibuat;
2. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang-orang
untuk kepentingan siapa akta itu dibuat;
3. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat dimana
akta itu dibuat;
4. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu
pembuatan akta itu.

Perbuatan hukum yang tertuang dalam suatu akta notaris bukanlah


perbuatan hukum dari notaris, melainkan perbuatan hukum yang
memuat perbuatan, perjanjian dan penetapan dari pihak yang
meminta atau menghendaki perbuatan hukum mereka dituangkan
pada suatu akta otentik. Jadi pihak-pihak dalam akta itulah yang
terikat pada isi dari suatu akta otentik. Notaris bukan tukang
membuat akta atau orang yang mempunyai pekerjaan membuat akta,
tetapi notaris dalam menjalankan tugas jabatannya didasari atau
dilengkapi berbagai ilmu pengetahuan hukum dan ilmu-ilmu lainnya
yang harus dikuasai secara terintegrasi oleh notaris dan akta yang

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


11
dibuat dihadapan atau oleh notaris mempunyai kedudukan sebagai
alat bukti.

Sebagai pejabat umum notaris berwenang membuat akta otentik.


Sehubungan dengan kewenangannya tersebut notaris dapat dibebani
tanggung jawab atas perbuatannya/pekerjaannya dalam membuat
akta otentik. Tanggung jawab notaris sebagai pejabat umum meliputi
tanggung jawab profesi notaris itu sendiri yang berhubungan dengan
akta, diantaranya:

a. Tanggung jawab notaris secara perdata atas akta yang dibuatnya


dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kebenaran materiil
akta, dalam konstruksi perbuatan melawan hukum.

Perbuatan melawan hukum disini dalam sifat aktif maupun pasif.


Aktif, dalam artian melakukan perbuatan yang menimbulkan
kerugian pada pihak lain. Sedangkan pasif, dalam artian tidak
melakukan perbuatan yang merupakan keharusan, sehingga pihak
lain menderita kerugian.
Jadi unsur dari perbuatan melawan hukum disini yaitu adanya
perbuatan melawan hukum, adanya kesalahan dan adanya
kerugian yang ditimbulkan. Perbuatan melawan hukum disini
diartikan luas, yaitu suatu perbuatan tidak saja melanggar undang-
undang, tetapi juga melanggar kepatutan, kesusilaan atau hak
orang lain dan menimbulkan kerugian. Suatu perbuatan
dikategorikan perbuatan melawan hukum apabila perbuatan
tersebut :

1. Melanggar hak orang lain;


2. Bertentangan dengan aturan hukum;
3. Bertentangan dengan kesusilaan;
4. Bertentangan dengan kepatutan dalam memperhatikan
kepentingan diri dan harta orang lain dalam pergaulan hidup
sehari-hari.

b. Tanggung jawab notaris secara pidana atas akta yang dibuatnya.

Pidana dalam hal ini adalah perbuatan pidana yang dilakukan oleh
seorang notaris dalam kepastian sebagai pejabat umum yang
berwenang membuat akta, bukan dalam konteks individu sebagai

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


12
warga negara pada umumnya. Unsur-unsur dalam perbuatan pidana
meliputi :

1. Perbuatan manusia;
2. Memenuhi rumusan peraturan perundang-undangan, artinya
berlaku asas legalitas, nullum delictum nulla poena sine praevia
lege poenali (tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam
dengan pidana jika hal tersebut tidak atau belum dinyatakan
dalam undang-undang);
3. Bersifat melawan hukum;
4. Tanggung jawab notaris berdasarkan UUJN;
5. Tanggung jawab notaris dalam menjalankan tugas jabatannya
berdasarkan kode etik notaris.

Hal ini ditegaskan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 2 Tahun


2014 tentang Jabatan Notaris tentang sumpah jabatan notaris.

Notaris harus menjalankan jabatannya sesuai dengan kode etik


notaris, yang mana dalam melaksanakan tugasnya notaris itu
diwajibkan :

1. Senantiasa menjunjung tinggi hukum dan asas negara serta


bertindak sesuai makna sumpah jabatannya,
2. Mengutamakan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat
dan negara.

Untuk itu notaris harus berhati-hati dalam membuat akta agar tidak
terjadi kesalahan atau cacat hukum. Karena akta yang dibuat notaris
harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan tidak luput
dari penilaian hakim. Rumusan pasal dalam Undang-Undang Jabatan
Notaris tidak menjelaskan tentang tanggungjawab notaris terhadap
akta yang dibuatnya.

Namun dalam Pasal 16 Ayat (1) huruf (a) Undang-Undang Nomor 2


Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris dikatakan bahwa dalam
menjalankan jabatannya, notaris berkewajiban bertindak jujur,
seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak
yang terkait dalam perbuatan hukum. Dari ketentuan pasal tersebut
di atas tergambar kewajiban notaris untuk bertindak seksama dalam
arti berhati-hati dan teliti dalam menjalankan tugasnya. Menjaga

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


13
kepentingan para pihak yang terkait dalam perbuatan hukum
mewajibkan notaris menjalankan prosedur yang semestinya dalam
proses pembuatan akta agar tidak ada pihak yang dirugikan atas akta
tersebut.

2.3 Perlindungan Hukum Terhadap Notaris

Perlindungan hukum merupakan unsur yang harus ada dalam suatu


negara. Setiap pembentukan negara pasti di dalamnya ada hukum
untuk mengatur warga negaranya. Dalam suatu negara, terdapat
hubungan antara negara dengan warga negaranya. Perlindungan
hukum menjadi unsur esensial serta menjadi konsekuensi dalam
negara hukum, bahwa negara wajib menjamin hak-hak hukum warga
negaranya. Hubungan inilah yang melahirkan hak dan kewajiban.

Perlindungan hukum akan menjadi hak bagi warga negara, namun di


sisi lain perlindungan hukum menjadi kewajiban bagi negara. Negara
wajib memberikan perlindungan hukum bagi warga negaranya,
sebagaimana di Indonesia yang mengukuhkan dirinya sebagai
negara hukum yang tercantum di dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
berbunyi, Indonesia adalah negara hukum.

Perlindungan hukum merupakan suatu perlindungan yang diberikan


terhadap subyek hukum (dari tindakan sewenang-wenang seseorang)
dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif maupun
yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
Perlindungan hukum merupakan suatu gambaran dari fungsi hukum,
yaitu bahwa hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban,
kepastian, kemanfaatan dan kedamaian.

Menurut pendapat Phillipus M. Hadjon bahwa perlindungan hukum


bagi rakyat terhadap suatu tindakan pemerintah dapat bersifat
preventif dan represif, yaitu sebagai berikut :

a) Perlindungan hukum yang bersifat preventif bertujuan untuk


mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan
pemerintah untuk bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan
berdasarkan kewenangan. Dalam hal ini notaris sebagai pejabat
umum harus berhati-hati dalam menjalankan tugas jabatannya

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


14
berdasarkan kewenangan yang diberikan negara kepadanya untuk
membuat suatu akta otentik guna menjamin kepastian hukum bagi
masyarakat.

b) Perlindungan hukum yang bersifat represif bertujuan untuk


menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk penanganannya di
lembaga peradilan. Dalam hal ini, dengan begitu banyaknya akta
otentik yang dibuat oleh motaris, tidak jarang notaris tersebut
dipermasalahkan oleh salah satu pihak atau pihak lainnya karena
dianggap telah merugikan kepentingannya, baik itu dengan
pengingkaran akan isi akta, tanda tangan maupun kehadiran pihak
dihadapan notaris.

Perlindungan hukum harus berdasarkan atas suatu ketentuan dan


aturan hukum yang berfungsi untuk memberikan keadilan serta
menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan tersebut ditujukan pada
subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban, tidak terkecuali
bagi seorang notaris. Notaris sebagai pejabat umum dalam
menjalankan jabatannya perlu diberikan perlindungan hukum, antara
lain pertama, untuk tetap menjaga keluhuran harkat dan martabat
jabatannya termasuk ketika memberikan kesaksian dan berproses
dalam pemeriksaan dan persidangan.

Kedua, menjaga minuta atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta


akta atau protokol notaris dalam penyimpanan notaris. Ketiga,
merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam
pembuatan akta. Rahasia yang wajib disimpan ini dikenal dengan
sebutan rahasia jabatan. Jabatan notaris dengan sendirinya
melahirkan kewajiban untuk merahasiakan itu, baik yang menyangkut
isi akta ataupun hal-hal yang disampaikan klien kepadanya, tetapi
tidak dimuat dalam akta, yakni untuk hal-hal yang diketahuinya
karena jabatannya.

Notaris sebagai pejabat pembuat akta otentik, jika terjadi kesalahan


baik disengaja maupun karena kelalaiannya mengakibatkan orang
lain akibat dibuatnya akta menderita kerugian, yang berarti notaris
telah melakukan perbuatan melanggar hukum. Jika suatu kesalahan
yang dilakukan oleh notaris dapat dibuktikan, maka notaris dapat

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


15
dikenakan sanksi berupa ancaman sebagaimana yang telah
ditentukan oleh undang-undang.

Sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 84 Undang-Undang


Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang menyatakankan
bahwa Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Ayat (1) huruf i,
Pasal 16 Ayat (1) huruf k, Pasal 41, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49,
Pasal 50, Pasal 51 atau Pasal 52 yang mengakibatkan suatu akta
hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah
tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi
alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut
penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada notaris. Ganti rugi
atas dasar perbuatan melanggar hukum di dalam hukum perdata
diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yang menyebutkan, Tiap
perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian
itu, menggantikan kerugian tersebut.

Pasal 41 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan


Notaris menentukan adanya sanksi perdata, jika notaris melakukan
perbuatan melawan hukum atau pelanggaran terhadap Pasal 38,
Pasal 39, dan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang Jabatan Notaris maka akta notaris hanya akan mempunyai
pembuktian sebagai akta di bawah tangan. Akibat dari akta notaris
yang seperti itu, maka dapat menjadi alasan bagi pihak yang
menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan
bunga kepada notaris.

Perihal kesalahan dalam perbuatan melanggar hukum, dalam hukum


perdata tidak membedakan antara kesalahan yang ditimbulkan
karena kesengajaan pelaku, melainkan juga karena kesalahan atau
kurang hati-hatinya pelaku. Notaris yang membuat akta tidak sesuai
dengan wewenangnya dapat terjadi karena kesengajaan maupun
karena kelalaiannya, yang berarti telah salah sehingga unsur harus
ada kesalahan telah terpenuhi. Notaris dapat dimintakan
pertanggung jawabannya apabila terdapat unsur kesalahan yang
dilakukannya dan perlu diadakannya pembuktian terhadap unsur-
unsur kesalahan yang dibuat oleh notaris tersebut, yaitu meliputi:

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


16
a) Hari, tanggal, bulan, dan tahun menghadap;
b) Waktu (pukul) menghadap;
c) Tanda tangan yang tercantum dalam minuta akta.

Akta notaris yang batal demi hukum tidak dapat dimintakan untuk
memberikan penggantian biaya, ganti rugi dan bunga. Penggantian
biaya, ganti rugi dan bunga dapat digugat kepada notaris dengan
mendasarkan pada hubungan hukum notaris dengan para pihak yang
menghdap notaris. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dari
akta yang dibuat oleh notaris, maka yang bersangkutan dapat secara
langsung mengajukan tuntutan secara perdata terhadap notaris
tersebut sehingga notaris tersebut dapat bertanggung jawab secara
perdata atas akta yang dibuatnya.

Tuntutan penggantian biaya, ganti rugi dan bunga terhadap notaris,


tidak didasarkan pada kedudukan alat bukti yang berubah karena
melanggar ketentuan-ketentuan tertentu dalam Undang-Undang
Jabatan Notaris, tetapi didasarkan kepada hubungan hukum yang
terjadi antara notaris dan para pihak yang menghadap notaris
tersebut. Notaris tersebut tetap harus bertanggung jawab secara
perdata terhadap akta yang pernah dibuatnya.

Perihal kerugian dalam perbuatan melanggar hukum secara perdata


notaris dapat dituntut untuk menggati kerugian-kerugian para pihak
yang berupa kerugian materiil dan dapat pula berupa kerugian
immaterial. Kerugian dalam bentuk materiil, yaitu kerugian yang
jumlahnya dapat dihitung, sedangkan kerugian immaterial, jumlahnya
tidak dapat dihitung, misalnya nama baiknya tercemar,
mengakibatkan kematian.

Dengan adanya akta yang dapat dibatalkan atau batal demi hukum,
mengakibatkan timbulnya suatu kerugian, sehingga unsur harus ada
kerugian telah terpenuhi. Gugatan ganti kerugian atas dasar
perbuatan melanggar hukum apabila pelaku melakukan perbuatan
yang memenuhi keseluruhan unsur Pasal 1365 KUHPerdata,
mengenai siapa yang diwajibkan untuk membuktikan adanya
perbuatan ini.

***

Arsip/Dokumentasi Notaris Herman Adriansyah


17

Anda mungkin juga menyukai