Anda di halaman 1dari 127

BU LIM KI SIU – WEN LUNG

ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN

KOLEKTOR E-BOOK 1
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN

KOLEKTOR E-BOOK 2
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN

BU LIM KI SIU
(DENDAM KESUMAT KAUM PERSILATAN)

Lewat Lohor......
Rumah² makan dan warung² arak di kota Siangyang
sudah agak sepi, tak seramai pagi harinya. Namun masih
tak kunjung putusnya menerima tetamu. Ada setengahnya
yang bergegas datang naik kuda, berhenti sebentar untuk
mengisi perut. Ada pula yang ber-kelompok² menjamu
sahabat kenalannya.
Kalau di dalam ruang makan terdengar gelak-tawa
dari percakapan yang diseling dengan berkerincingnya
sendok sumpit beradu dengan mangkuk piring, atau tepuk
tangan si tetamu memesan hidangan pada pelayan, adalah
di luar rumah makan itu penuh berkerumun 'kajem'
(singkatan: kaum jembel). Dengan pakaian compang
camping, muka pucat dan badan kurus, tengah
mengulurkan tangan memohon belas kasihan tetamu² itu
untuk memberikan sisa² makanannya.
Diantara rumah makan dan warung arak dalam kota
Siangyang, yang paling terkenal sendiri adalah rumah
makan "Siong Gwat Lau". Rumah makan itu bertingkat dua
dan menghadap ke selatan. Bukan saja perdagangannya
laris, pun rumah makan itu diramaikan pula oleh tetabuhan
khim (rebab) yang laksana burung kenari merdu mengalun
lagu² pilihan. Di bawah loteng adalah sebuah ruangan
besar yang tak dipergunakan tempat penerimaan tetamu.
KOLEKTOR E-BOOK 3
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Maka begitu ada sisa² hidangan dari sementara tetamu
yang tak habis, para 'kajem' itu segera hiruk-pikuk
menyerbunya.
Banyak kali sudah pegawai² rumah makan itu
melarangnya, tetapi karena jumlah 'kajem' itu sedemikian
banyaknya, terpaksa mereka tak berdaya untuk mencegah
manusia² lapar yang perutnya sudah memberontak itu!
“Tang! Tang! Tang!" tiba² dari sebelah sana
kedengaran bunyi genta kecil ber-talu². Sekejab pula
terdengar suara tongkat me-mukul² tanah, dan pada lain
saat muncullah seorang tua buta berwajah hitam.
Rambutnya terurai dan nampaknya sudah loyo. Dia
memimpin seorang anak perempuan sekira berumur tlga-
empatbelas tahun yang berbaju warna hijau. Mukanya
penuh debu, rambutnya dikepang dua. Sekalipun
dandanannya sebagai 'kajem', tapi di balik debu kotoran
yang menutupi mukanya itu, tersembunyi wajah yang ayu
dengan sepasang biji mata bundar besar yang
memancarkan sinar bening. Karena dalam dandanan
seorang 'kajem' itu, raut wajahnya tersembul gurat²
penderitaan hidup yang getir! Ia mencekal sebatang
seruling perak sembari tangannya yang sebelah me-
ngetuk² sebuah genta kecil, ialah sebuah alat yang biasa
dibawa oleh kaum minta² untuk menarik perhatian orang
yang akan dimintainya.
Berbareng suara ber-dentang² dari genta kecil itu,
kedua jembel tua dan anak itu sudah tiba di muka rumah
makan ,,Siong Gwat Lau". Entah karena dorongan sang
perut atau entah karena ketarik dengan banyaknya ‟kajem‟

KOLEKTOR E-BOOK 4
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
yang berkerumun di situ, maka mereka berduapun datang
ke situ untuk mengadu peruntungan.
“Tuan², tauke² sekalian! Sudilah menaruh belas
kasihan pada kami, seorang anak perempuan kecil lemah
dengan seorang ayah yang buta, yang sudah tak berdaya
untuk mencari penghidupan. Dusun kami tertimpa bencana
paceklik jadi terpaksa kami mengembara mencari untung.
Anakku ini sedikit mengerti nyanyian dusun, maka, sudilah
kiranya tuan² bermurah hati untuk menyuruhnya
bernyanyi kemudian memberikan uang sekedarnya......”
Rupanya ayah dan anak itu tak mengerti akan tata
cara di situ. Sebab untuk mendapat sisa² hidangan tak
perlulah berlaku demikian, cukup menunggu saja. Dan
untuk mengemis, asal ber-pindah² dari satu ke lain rumah,
pasti akan banyak hasilnya. Tapi kalau menjual suara, ah,
tabu! Orang hanya suka mendengarkan suara nyanyian di
rumah pelesiran atau di-gedung² sandiwara saja. Bagi
mereka, tuan² besar kaum pelesiran itu, nyanyian adalah
tabu, hanya pelesiranlah yang betul² mereka gemari!
Meskipun anak perempuan itu cukup sedap
dipandang mata, tapi karena dalam dandanan 'kajem',
tiada seorangpun yang mau memadangnya. Tambahan
pula ia mempunyai seorang ayah yang buta, orang sama
membuang muka!
Tapi suatu kejadian yang tak di-sangka² telah
muncul. Tengah anak perempuan itu mengucapkan kata²
untuk menarik perhatian orang, dari ruangan tengah telah
muncul seorang setengah tua yang berbadan gemuk
buntak. Dilihat dari dandanannya, orang itu seperti seorang
hartawan. Hanya sekali saja dia melirik ke arah si anak

KOLEKTOR E-BOOK 5
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
perempuan tadi, dan itu sudah cukuplah baginya untuk
menentukan langkah.
“Hai, nona kecil! Kau bisa menyanyi? Bagus,
memang aku tengah kesepian, marilah ikut ke atas
loteng!" kata orang gemuk itu yang bermuka ke-merah²an,
kemudian menatap lagi kepada anak perempuan itu,
katanya pula: "Tapi kau begitu kotor, lebih baik cuci
mukamu dahulu!"
Anak perempuan itu menghaturkan terima kasih,
terus memimpin tangan si buta diajak masuk. Tapi si
gemuk tadi lekas menghadang si buta, serunya: “Kau
tunggu di sini saja! Yang kukehendaki dia, bukan seorang
tua bangka seperti kau!"
"Tuan, kau sungguh baik budi. Tapi tanpa ayah yang
meniup seruling, aku tak dapat menyanyi........….," kata si
dara kecil itu.
“Ah...... tidak menyanyi tidak mengapa! Ha-ha, aku
tengah kesepian, asal bisa terhibur.............….."
Kata² yang kasar dan menyeleweng itu dapatlah
ditebak apa maksudnya. Walaupun semuda itu usianya,
tapi se-kurang²nya nona kecil itu tahu pula ke mana
jatuhnya kata² itu. Ia mengawasi muka si gendut, hatinya
terkesiap sekali. Buru² kaki yang sudah hendak
dilangkahkan maju itu ditariknya kembali. Dan secepat itu
pula ia berpaling untuk memimpin ayahnya keluar dari situ.
Tapi sebuah tangan yang kuat telah mencengkeram
bahunya.
“Apa?! Kau berani main gila pada tuanmu besar
ini...… ?! Ha, jangan bikin tuan besarmu Oey hilang sabar,

KOLEKTOR E-BOOK 6
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
atau nanti......... coba kau tanya pada kawan²mu itu
betapa kelihaianku ini.…......”
Memang gertakan si gemuk itu bukan kosong, karena
ia memang seorang tukang mencemarkan isteri orang, iblis
pengrusak anak gadis keluaran baik! Orang memberi
julukan Poan-mo-kun Oey Hiau, Oey Hiau si Iblis Gemuk.
Setiap orang kenal akan sepak terjangnya yang terkutuk
itu. Tapi mereka tiada yang berani menentangnya.
Mengapa?
Kiranya orang she Oey itu mempunyai seorang sanak
dekat yang namanya kesohor di seluruh negeri serta
menggetarkan dunia persilatan, bahkan membanggakan
diri sebagai orang tanpa tanding. Namanya Biau Kong
Hiong, berjuluk ‟kim-ciang‟, Si tombak emas. Kong Hiong
adalah adik ibu Oey Hiau, jadi pernah paman Oey Hiau.
Dengan andalkan pengaruh pamannya inilah maka
Oey Hiau bersimaharajalela di kota Siangyang. Hampir
seluruh wilayah Oupak, tiada orang yang berani cari urusan
dengannya. Sekalipun badannya ke-gemuk²kan itu, namun
ia mempunyai kepandaian ilmu silat yang tak tercela. Dia
gemar mempermainkan orang, siapa yang berani
melawannya, pasti akan dihajar setengah mati.
Misalnya pada setengah bulan yang lalu, telah
kejadian pada diri seorang jembel kecil: Ah! Seorang anak
yang baru berumur belasan tahun, berwajah yang menarik,
entah kesalahan apa, telah digantung dan dirangket oleh
tuan besar gemuk itu, sehingga seluruh badannya babak
belur berlumuran darah…. Itu belum seberapa. Oey Hiau
yang sudah kemasukan setan itu, segera ambil semangkok

KOLEKTOR E-BOOK 7
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
besar air garam, lalu disiramkan ke kepala dan tubuh anak
malang itu.
Tapi bocah itu betul² berhati baja. Penderitaan
sehebat itu dia tahan dengan menggigit giginya kencang²,
sepatahpun dia tak mengeluh atau mengerang! Dengan
paksakan diri, dia meng-isut² berlalu dari tempat itu.
Ada seorang jembel lain yang baik hati telah diam²
mengikutinya. Ternyata anak itu berhenti pada sebuah
biara yang terletak di pinggir kota. Di situ ia nampak duduk
berlutut, entah mengeluarkan benda apa dari dalam
bajunya, lalu menangis ter-sedu². Demikian sayu dan
pedih ratap tangisnya itu, sehingga menimbulkan
keheranan orang:
mengapa dirangket
dan diguyur air
garam, sedikitpun ia
tak mengerang, tapi
kini dia tangisi
sebuah benda dengan
begitu menyayatkan
hati?
‟Kajem‟ yang
menguntitnya tadi
merasa iba, lalu
menghampiri dan
menghiburnya.
Dibaginya pula sedikit
dari sisa makanan
yang diperolehnya.
Anak itu buru²

KOLEKTOR E-BOOK 8
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
menyembunyikan bendanya yang aneh itu, kemudian
menghaturkan terima kasihnya. Sejak itu, anak yang
malang itu jatuh sakit dalam biara tersebut. Hampir
setengah bulan, ia terhampar dalam kesakitan. Seluruh
tulang belulangnya dirasa kaku nyeri, karena rupanya
luka² yang dideritanya itu memang parah! Syukur jembel
yang baik budi itu tiap hari membawakan sisa² makanan
untuknya. Dan berkat pertolongannya itulah, maka jiwa
anak kecil itu bisa diselamatkan dari cengkeram maut.
Kembali pada anak perempuan kecil dengan ayah
buta tadi. Rupanya mereka baru pertama kali datang ke
Siangyang, dan celakanya begitu datang lantas terbentur
dengan iblis macam Oey Hiau itu. Tapi memang sudah
tersurat, bahwa kaum jembel itu harus tahan cacian orang.
Bermula kedua ayah beranak itu hanya ganda tersenyum
mendengar kata² kasar dari tuan besar itu, tapi karena
tingkahnya yang sedemikian memuakkan itu, tak urung
berubahlah wajah si nona kecil. Pengemis buta itu
sebaliknya wajahnya tenang² saja, sehingga orang mengira
kalau dia gemetar jeri mendengar kata² Oey Hiau itu.
Untuk memberi penjelasan, si buta yang sedari tadi tak
mau bicara itu, kini terpaksa membuka mulut:
"Tuan besar, kami berdua adalah orang melarat. Aku
tak dapat berpisah dengan anakku, karena aku buta.
Sedang anakkupun tak mau berpisah dengan aku karena
kasihan. Apabila tuan hendak cari hiburan dan
mengundang kami berdua, sungguh kami merasa
beruntung sekali. Tapi kalau aku disuruh tinggal sendirian,
betul² seperti orang kehilangan mata. Dalam hal ini mohon
tuan suka memberi maaf se-besar²nya!"

KOLEKTOR E-BOOK 9
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
“Aku bukan hendak menelan anakmu perempuan,
tapi pada kebalikannya, aku tak bisa melepaskannya.
Hanya untuk suatu saat saja, apabila aku betul² bisa
merasa puas, soal uang, mudahlah!” Oey Hiau tertawa
iblis.
“Jangan terima uangnya yang busuk! Paman dan
Cici, jangan hiraukan serigala itu, lekaslah pergi.....”
demikian tiba² terdengar suatu suara seruan yang keras,
dan membikin orang² di situ melengak kaget.
Gadis cilik itu menoleh dan dilihatnya seorang bocah
laki² yang wajahnya ke-hitam²an, rambutnya terurai,
pakaiannya compang-camping tengah mengawasi dengan
sinar mata yang penuh kebencian. Dari nada suaranya
yang bergetar tadi, nyata kalau dia itu sedang menderita
sakit.......
Bagi semua 'kajem' yang berada di situ, segera
mengenal bocah itu sebagai anak yang setengah bulan
yang lalu disiksa oleh Oey Hiau. Mereka mengeluh napas
karena kasihan dan kuatir akan kelancangan bocah itu, di
samping itu gegetun juga mengapa bocah itu sudah
berlaku begitu goblok untuk cari gebuk?!
Ada sementara 'kajem' segera menyuruhnya lekas²
menyingkir, jangan cari penyakit di situ, namun tampaknya
bocah itu tenang² saja tak mau pergi. Segera setelah
melihatnya, Oey Hiau tertawa dingin. Terkilas dalam
pikirannya suatu rencana. Sembari berkaok keras
memanggil kedua gundalnya yang bernama The Ing dan
Ngo THiau Bin, dia terus menghampiri bocah itu.
“Bocah kepala keras, kalau tak melihat rupamu yang
minta dikasihani ini, siang² tuan besarmu ini tentu sudah

KOLEKTOR E-BOOK 10
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
membuatmu cacat. Kini kau sendiri yang minta, kalau tak
kululuskan kau tentu belum puas!" kata² itu disusul dengan
tangannya mencengkeram dada si bocah. Berbareng
dengan ketawa iblis, tangannya segera diayukan, "plak!”
dan melosotlah bocah itu mencium tanah. Tapi sedikitpun
dia tak mau mengerang kesakitan, begitu kepalanya
mendongak, dia mengawasi Oey Hiau dengan sorot mata
penuh dendam.
Sesaat itu dari belakang Oey Hiau muncul dua orang
lelaki yang bertubuh kekar, begitu melihat si bocah,
mereka segera perdengarkan suara terkejut lalu
menegurmya: "Apa! Lagi² kau?!"
“The Ing, ikat dia! Thian Bin, lekas ke loteng pinjam
'cui-kau-kiat' pada Poa Sin Ci!" perintah Oey Hiau.
„Cui-kau-kiat‟ adalah cambuk dari tulang binatang
semacam trenggiling. Senjata itu adalah pusaka dari
gunung Tiong-cin-san yang lihai sekali.
"Tuan, 'cui-kau-kiat' kelewat hebat, mana bocah ini
kuat menahan senjata itu, apalagi tenagamu kuat sekali,
dia pasti akan remuk binasa.” jawab Thian Bin dengan
wajan pucat, karena dia tahu bagaimana hebatnya senjata
itu.
“Jngan banyak bicara, lekas kerjakan perintahku!"
bentak Oey Hiau.
Thian Bin tak berani berbantah Lagi. Dengan
terpaksa dia pergi masuk ke dalam rumah makan Siong
Gwat Lau. Dekat di ambang pintu, ia berpaling untuk
memandang si bocah dengan hati yang iba.
Sementara itu di sana, The Ing pun sudah mencekal
bocah itu. Beda dengan kawanannya yang masih

KOLEKTOR E-BOOK 11
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
mempunyai rasa perikemanusiaan itu, The Ing adalah
orang yang kejam. Dia cekal betis si bocah terus
dijungkirkan ke bawah seperti menggantung ayam saja.
“Buk" tiba² sebuah benda menggelinding jatuh dari baju si
bocah. Benda itu warnanya beberapa macam.
Seperti anak kambing yang akan disembelih, bermula
bocah itu menurut saja, karena dia cukup tahu,
melawanpun tiada guna. Tapi demi benda yang
disayanginya itu jatuh ke bawah, merontalah dia dengan
se-kuat²nya! Si The lng karena tak me-nyangka², telah
kewalahan dan terlepaslah kaki bocah itu dari tangannya.
Begitu jatuh ke tanah, bocah itu segera menubruk
bendanya terus didekapnya kencang²!
Dari mimik wajahnya nampaklah bahwa benda itu
disayang seperti nyawanya sendiri. Orang² yang
menyaksikan, sama melongo, begitu pula nona kecil tadi
tak habis ke-heran²an!
Oey Hiau pun mengetahui hal itu, cepat sekali dia
melangkah ke muka si bocah, katanya dengan tertawa
iblis: ”Benda apa itu sih yang kau sayang mati²an? Hayo
mana? Kasihkan pada tuanmu besar ini!"
Bocah itu tak mau menyahut, hanya memandangnya
dengan sorot mata yang dingin sembari kedua tangannya
memegangi benda itu dengan makin eratnya. Oey Hiau
makin beringas. Dengan tertawa seram dia ayunkan lagi
tangannya dan kembali bocah itu terjungkal. Mukanya
bengkak, mulutnya berdarah............ namun tetap dia tak
sesambat. kecuali sepasang matanya yang tetap
memancarkan sinar yang melebihi es dinginnya. Sedang
sepasang tangannyapun tetap mencekali bendanya itu!

KOLEKTOR E-BOOK 12
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Dengan geramnya Oey Hiau maju menghampiri,
sekali mengangkat kakinya, kembali bocah itu jatuh
terjungkir balik.
"Binatang kecil, lepaskan benda itu! kalau tidak,
tuanmu akan membuatmu seperti bola-sepak! Tak usah
pakai ‟cui-kau-kiat', tulangmu pasti akan remuk!"
Namun bocah itu tetap membisu. Dia gigit bibirnya
kencang² untuk menahan kesakitan.
“Tuan, jangan umbar kemarahan. Kita akan tinggal,
tapi biarkan bocah itu berlalu," tiba² kedengaran suara
yang halus berkata. Ternyata itu adalah si nona kecil
penjual suara yang saking tak tahan melihat si bocah
disiksa, ia telah memintakan kelonggaran pada Oey Hiau.
Biar ia nanti menghadapi hinaan asal bocah itu terlepas
dari siksaan!
Tapi ternyata Oey Hiau manusia yang berhati
serigala. Dia hanya tahu menindas orang, tak suka
menerima nasihat apalagi dihalangi maksudnya. Kalau dulu
dihajar babak belur kemudian disiram air garam, anak itu
tetap tak mengeluh, agak siraplah kemarahan Oey Hiau.
Tapi kali ini, ya, kali ini bocah itu telah memakinya sebagai
serigala. Wah, meluaplah kemarahan Oey Hiau sampai di
puncaknya. Apalagi bocah itu membandel tak mau
menyerahkan bendanya.
Maka tawaran si nona kecil tadi diterima dengan
tawar saja, katanya: “Kalau dia tetap tak mau
menyerahkan benda itu, akan kutendangnya
mampus…...…!”
Tahulah si dara apa maksud si gemuk itu. Dengan
memimpin tangan ayahnya, ia menghampiri si bocah

KOLEKTOR E-BOOK 13
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
sambil menghadang di depan Oey Hiau. Kemudian katanya
dengan lemah lembut: “Lebih baik adik serahkan benda itu
pada tuan ini, biarkan dia melihatnya sebentar dan
habislah urusan ini.”
Bocah itu memandang si nona, dengan sorot mata
yang dingin, lalu menyahut dengan gemetar: "Aku berbuat
tadi karena takut kau diperhina, bukan akan minta
dikasihani …....…...."
“Kau pikirkan kepentingan lain orang, tapi bagaimana
dengan keselematanmu sendiri?!" tanya pula si dara.
“Aku dilahirkan untuk menerima hinaan orang, jadi
sudah biasalah. Tapi kalian, seorang tua buta dan seorang
anak perempuan. Aku......... meskipun agak lemah, tapi
lebih kuat daripada kalian berdua! Mengapa kalian tak
lekas² tinggalkan tempat ini........?"
Tergerak hati si nona atas kata² gagah dari si bocah
jembel itu. Ditatapnya muka si bocah sembari mengulurkan
tangan dan katanya: “Berikan benda itu padaku!"
Si bocah menggigit giginya erat², sorot matanya
memancar ketekadan yang bulat, mulutnya berkata
dengan mantep: “Siapapun jangan harap
mendapatkannya, kecuali aku sudah menjadi
bangkai...............”
Begitu tetap suaranya, begitu pula mimik wajah dan
sikapnya sangat meyakinkan sekali sehingga bukan saja si
nona menjadi terkesiap, pun Oey Hiau melengak. Dia
menduga kalau benda itu tentu sebuah "mustika." Dan
sekali terlintas hal itu pada pikirannya, timbullah hati
tamaknya. Biar bagaimana dia harus memiliki benda itu!

KOLEKTOR E-BOOK 14
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
“Binatang, bawa kemari!" bentak Oey Hiau segera.
“Kalau tuanmu besar senang, jiwamu dapat ampun. Kalau
kau tetap membangkang, hm, sekalipun kubunuh jiwamu,
tak nanti ada urusannya, dan kau.....….......”
“Kecuali aku sudah menjadi bangkai, tak nanti
kubiarkan orang lain menjamah benda ini!" tukas si bocah
dengan beraninya.
Dengan gusarnya Oey Hiau melesat ke samping si
nona. Tapi ketika berada di samping nona itu tiba²
dadanya terasa tersambar hawa dingin. Dia melenguh, tapi
teruskan langkahnya berdiri di muka si bocah. Dua jari dia
julurkan untuk menotok buku kedua siku si bocah. Dengan
totokan itu, hendak dia paksa si bocah menyerahkan
bendanya.
Si bocah hanya tahu membandel, pikirnya asal dia
tetap mendekap bendanya kencang², tak nanti orang dapat
merampasnya. Tapi mana dia tahu akan ilmu totokan kaum
persilatan yang lihay itu? Maka begitu jari Oey Hiau
menotok buku tulang sikunya, sepasang tangannya serasa
lemah lunglai tak kuasa mendekap bendanya itu. Disusul
dengan rasa kesemutan, tangannyapun terpentang dan
jatuhlah benda itu ke bawah: sebuah orang²an yang dicat
lima-enam warna!
Oey Hiau buru² membungkuk untuk memungutnya,
tapi segera tangannya terasa sakit sekali. Kiranya saking
marah, bocah itu sudah berlaku nekad dan menggigit
tangan Oey Hiau. Tahu apa yang terjadi, bukan kepalang
gusar si Oey Hiau. Secepat kilat dia kirim pukulan tangan
kirinya ke arah si bocah, aduh kasihan.... dengan menjerit

KOLEKTOR E-BOOK 15
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
hebat, bocah itu tersungkur jatuh sampai beberapa meter
jauhnya!
Baru kini Oey Hiau memungut benda itu dan hampir
saja dia ketawa keras. Karena ternyata benda yang
dipertahankan mati²an oleh si bocah tadi hanyalah sebuah
mainan yang berbentuk seekor kelinci. Kelinci itu dipakai
kopiah hitam yang bercantumkan dua batang kimhua
(bunga²an emas). Badannya memakai jubah kulit ular
warna merah, sayang warnanya sudah agak luntur serta
sudah terdapat beberapa lubang. Hola, itulah sebuah
pepunden kyai kelinci!
Oey Hiau memangnya berasal dari kalangan pengirim
barang (popiau). Dia pernah menjelajah ke berbagai
tempat, banyak sudah asam garam dan barang² di dunia
yang diketahuinya. Mainan kelinci itu adalah binatang²an
yang dipakai pada upacara sembahyangan setiap bulan 8
tanggal 15 di biara Ce-gwat-kiong di kota Pakkhia (Peking).
Jadi, mainan semacam itu sebenarnya tak berharga.
Tapi mengapa bocah itu sedemikian mengukuhinya? Saking
gemasnya, Oey Hiau banting mainan itu ke tanah.........
Mainan yang terbuat dari bahan tanah liat itu segera
hancur ber-keping². Tiba² tampak sesosok tubuh
berkelebat maju, terus mendumprah ke tanah untuk
memeluk kelinci²an itu. Dia bukan lain yakni si bocah,
siapa kedengaran menangis dengan me-ratap²: “O, Kyai
Kelinci......... jangan takut...…. akan kutolong dirimu
lagi..…....…"
Oey Hiau sebal melihatnya, cepat dicekalnya lengan
si bocah terus dilemparkan ke muka, seraya berseru: “The
Ing, ikat dia!"

KOLEKTOR E-BOOK 16
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
The Ing cepat lakukan titah majikannya. Sekali
ringkus, bocah itu segera diikat kencang². Dan tho-ya atau
Kyal kelinci itu terbanting pula ke tanah! Melihat itu, si
bocah meronta lagi hendak menubruknya. tapi tak berdaya
melepaskan diri. Sementara itu Thian Bin pun nampak
datang membawa sebatang jwan-pian (cemeti lemas) yang
panjangnya hampir 3 meter, ber-kilat² ke-hitam²an, ber-
buku² sebesar jari. Jwan-pian itu diserahkan pada Oey
Hiau.
Tanpa tunggu lama², Oey Hiau segera ayunkan
cemeti itu ke arah tubuh si bocah yang terikat pada
sebatang pohon, “tarr....." sekali menjerit hebat maka
pingsanlah bocah itu!
"Tuan, dia sudah pingsan, kali ini dia tentu cacad.
Memang cui-kau-ciat terlalu hebat! Baik tuan jangan
kelewat umbar kemarahan......" demikian THian Bin coba
mencegah tuannya.
Tapi serigala yang berupa manusia Oey Hiau itu
rupanya tiada tahu puas, katanya: “Cambukan tadi hanya
mengenakan tulang kakinya, mungkin tak sampai
meremukkan, aku...........”
“Turut cara tuan menghantam tadi, masa tidak
remuk?" Thian Bin menerangkan dengan bergidik.
Oey Hiau seperti tersadar. Memang sewaktu
menghantam tadi, serasa tenaganya agak lemah, adakah
dia salah mengerahkan tenaga dalamnya? Maka
diulanginya lagi mencambuknya dan kali ini si bocah betul²
tak dapat berkutik. Namun Oey Hiau pun tak kurang
kagetnya, karena gerakan tenaganya makin lemah dari
tadi. Buru² dia empos semangatnya untuk mengerahkan

KOLEKTOR E-BOOK 17
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
tenaga dalam. Tapi segera dia terkejut bukan buatan.
Dirasakannya tenaga dalam tak mau mengalir, kosong
membuyar.
“Aneh!" serunya tertahan dengan ke-heran²an. Tapi
berbareng pada saat itu di belakangnya mendadak
terdengar suara orang tertawa. Buru² dia berpaling, dan
tampaklah 4 orang gagah menghampiri. Tapi mereka itu
adalah empat orang sahabat yang diundangnya, yakni: Ciu
Khim, Yu Piau, In Siang Tin dan Poa Sin Ci. Keempat orang
itu disebut “4 orang gagah dari propinsi Oupak". Ketika
datang, adalah Yu Piau yang per-tama² tertawa berseru:
"Saudara Oey, apa²an kau ini? Berkelahi dengan
seorang bocah?"
Belum kata² itu terjawab, Ciu Khim yang bermata
awas segera berobah mukanya. Serunya: “Saudara Oey,
lekas duduk, empos tenagamu!”
Oey Hiau tergugah pikirannya, tahu kini dia bahwa
dirinya telah kena dibokong orang. Sebagai ahli silat, tahu
dia betapa lihaynya si pembokong itu. Buru² dia duduk
untuk memulihkan semangatnya dengan jalan mengatur
napas untuk menyalurkan peredaran tenaga. Tapi justeru
berbuat begitulah maka dia tambah celaka. Kalau tadi dia
diam saja, sih tak mengapa. Tapi begitu bergerak, tulang
kaki tangannya segera terasa sakit nyeri sekali. Diam² Oey
Hiau tercekat. Teringat dia akan kata² sang paman, bahwa
di kalangan persilatan cabang Swat-san Kun-guan-pay
(Kun-guan-pay dari gunung Swat-san) mempunyai ilmu
istimewa untuk menyerang tulang belulang musuh. Ilmu
itu disebut “hian in thian han chiu" atau ilmu meremas
tulang dari udara gelap berhawa dingin. Ilmu yang ganas

KOLEKTOR E-BOOK 18
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
itu dapat menghancurkan musuh tanpa si orang sadar apa
yang terjadi. Biasanya serangan itu dilakukan dengan
tertawa, suara tertawa itu dapat mengeluarkan hawa
serangan.
Kalau siang² tahu hal itu, pasti Oey Hiau tak nanti
berani bergerak dan ber-kata². Karena begitu orang
bergerak dan ber-kata², tenaga serangan "Thian-han” itu
akan menyusul masuk ke pembuluh darah. Pelan tapi pasti
dia akan menghancurkan pusat induk tenaga dalam. Makin
orang berusaha untuk menolakkan tenaga dalamya, makin
tenaga thian-han itu berpencar menyusup ke-mana². Dan
bila sampai pada tingkat itu, sukarlah untuk meloloskan
diri dari bahaya maut!
Memikir sampai di situ, kuncuplah nyali Oey Hiau.
Terasa hatinya tercengkeram ketakutan membayangkan
iblis maut, dia segera mendumprah ke tanah!
Dari keempat orang gagah Oupak itu, Ciu Kim lah
yang bermata tajam. Karena kepandaiannyapun paling
tinggi sendiri. Buru² dia berjongkok untuk mengangkat Oey
Hiau. Demi dilihat wajahnya, diapun bercekat kaget, lalu
bertanya:
”Saudara Oey, jangan begitu kecil hati. Kau ceritakan
duduknya perkara, mungkin bisaa tertolong!"
”Saudara Ciu, tolong kau jaga tempat ini dan
suruhlah undang pamanku kemari……”
Ciu Khim memandang ke sekeliling tempat itu, tapi di
situ hanya terdapat rombongan „kajem‟ semua. Tiada
seorang yang mencurigakan. Rasanya diapun sudah kenal
akan wajah para kajem itu. Kemudian matanya tertumbuk
akan si buta dan anak perempuan kecil tadi. Ya, mereka

KOLEKTOR E-BOOK 19
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
orang asing baginya. Tapi setelah diawasi seksama rasanya
kedua anak beranak ini bukan macam orang yang patut
dicurigai. Lalu dia memandang ke permukaan tanah. Di situ
terdapat debu tanah liat, sedang kepingan Kyai kelinci tadi
sudah tak nampak di situ. Akh, kesemuanya tak ada yang
mencurigakan! Di sebelah pohon sana, si bocah pun masih
terikat kencang², pingsan tak sadarkan diri! Keadaannya
sangat mengibakan hati. Tiba² Ciu Kim teringat akan
sesuatu: “Cui-kau-kiat berada di mana?"
Thian Bin dan The Ing segera mencari senjata itu ke
sekeliling tempat itu. Yang paling kerupukan sendiri ialah
Sin Ci, karena senjata itu merupakan pusaka dari induk
cabang kaumnya. Juga Yu Piau dan In Siang Tin tersadar
apa yang terjadi di situ. Namun orang² yang berkerumun
di situ hanyalah bangsa kajem, jadi mustahil mereka
berani menyembunyikan senjata itu.
Sebagai kaum persilatan yang banyak pengalaman,
Sin Ci tahu apa yang harus dilakukan. Buru² dia rapatkan
kedua kepalannya ke muka dada untuk mengunjuk hormat
dan ber-putar² menjura ke arah orang di sekeliling situ,
katanya dengan sungguh²:
“Aku yang rendah ini, Poa Sin Ci, tak menyalahi pada
siapa juga, pun belum pernah membantu pada keluarga
Oey. Jadi harap jangan salah mengerti. Senjata cemeti cui-
kau-kiat itu adalah milik kaumku, andaikata ada tuan yang
khilaf mengambilnya, rasanya tiada akan ada gunanya,
malah² nanti bikin kapiran kepentingan orang, maka
dengan ini sangat kumohon agar tuan sudi
mengembalikannya......”

KOLEKTOR E-BOOK 20
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
"Hi-hi...……" tiba² dari arah sana terdengar suara
orang ketawa. Telinga Sin Ci yang tajam segera dapat
menangkap suar itu. Sekali menjejak, dia segera melesat
memburu ke arah timur sembari berseru keras²: "Sahabat,
kenapa tak mau unjukkan diri untuk memberi
pengajaran......?”
Seruan itu disambut dengan datangnya ketawa dari
arah Selatan, dan malah disusul dengan berkelebatnya
sebuah bayangan! Belum habis terkejutnya Ciu Khim, dari
sebelah utara pun terdengar juga suara ketawa sedingin
tadi. Kini buru² Ciu Khim bersiap seraya menyerukan
kepada ketiga kawannya: "Saudara², bersiaplah! Kita
berhadapan dengan ahli lihay dari cabang Swat-san-pay!"
Yu Piau, In Siang Tin dan Poa Sin Ci melengak
terkejut. Suara ketawa yang dingin tadi adalah ilmu “hum
im hua seng" (memecah suara) dari kaum Swat-san-pay
yang lihay. Ilmu itu serupa dengan ilmu “thuan im jip bi”
(menyusupkan suara ke dalam lebatan) dari kalangan
persilatan. Hanya ,,hun im hua seng" itu lebih halus, lebih
dapat mengaburkan pendengaran orang.
Ciu Khim paling bersikap tenang, jadi dialah yang
dapat mengetahui lebih dahulu. Dan benarlah kiranya,
begitu dia mengeluarkan seruan tadi, suara ketawa itupun
sirap. Kini Oey Hiau pun tak berani buka suara lagi, karena
tahu bahwa dirinya betul² kena serangan istimewa dari
kaum Swat-san-pay.
Begitu keempat orang gagah Oupak itu sudah
berkumpul dan bersiap untuk menghadapi lawan, tiba²
terdengarlah sebuah jeritan yang menyeramkan. Ketika

KOLEKTOR E-BOOK 21
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
ditolehnya, ternyata si bocah tadi sudah tersadar dan
dialah yang mengerang dengan kerasnya itu.
"Ibu!" demikianlah kata² pertama yang terluncur dari
mulut si bocah tatkala dia tersadar. Matanya kembali
berjelalatan mengawasi ke permukaan tanah untuk
mencari bendanya tadi. Ketika tak nampak benda itu, dia
lalu menangis meng-gerung².
Ciu Khim yang cerdas itu, segera dapat menarik
kesimpulan. Bahwa apa yang terjadi tadi tentu disebabkan
peristiwa si bocah itu. Mungkin orang Swat-san-pay tadi
sudah begitu gusar melihat Oey Hiau memperlakukan si
bocah secara begitu se-wenang². Ciu Khim unjuk
kecerdikannya, untuk menghilangkan kemurkaan orang,
dia hendak berlaku menjadi orang baik. Begitu mengambil
putusan, begitu dia sudah apungkan diri loncat ke atas
pohon. Dan pada lain saat dia sudah membawa si bocah
melayang turun. Sesampai di tanah, tali pengikatnya pun
segera dihantam putus dengan kepandaiannya “ciong chiu
hwat", ilmu hantaman berat.
Hebat adalah si bocah itu. Meskipun tadi dia dihajar
habis²an, tapi begitu terlepas dari tali pengikat, segera dia
memburu ke arah tumpukan debu hancuran tanah liat.
Tumpukan debu itu didekapnya, air matanya membanjir
turun membasahi tanah!
Tiada seorang yang memperhatikan tingkah laku si
bocah itu, kecuali nona biduan cilik itu. Timbul rasa kasihan
dan kagum atas diri si bocah. Kini tahu ia bahwa “kyai
kelinci" itu mempunyai pengaruh yang besar sekali atas si
bocah itu. Dan diam² iapun heran, kemana larinya pecahan

KOLEKTOR E-BOOK 22
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kelinci itu tadi? Nyata bahwa Si bocah sedih menangisi
“kyai kelinci”, bukan karena merasakan kesakitan…..
“Nak, tak perlu menyalahkan siapa², kalau kawanku
memukuli kau tadi, mungkin kau kesalahan padanya, atau
mungkin dia lalai! Biar kuwakilkan sahabatku itu untuk
meminta maaf padamu dan sukalah kau habisi perkara ini!"
Kiranya yang berkata itu ialah si Ciu Khim. Dia sudah
berlaku cerdik untuk minta maaf pada si bocah. Tapi
ternyata bocah itu tak menghiraukan, dia hanya ter-
mangu² mengawasi tumpukan debu tanah liat itu saja! Ciu
Khim tak marah karenanya, malah setelah memandang
sekali ke sekeliling situ, dia merogoh sepotong perak
diberikan kepada si bocah, katanya: "Jangan kelewat pikir
barang itu, nak. Terimalah ini untuk pengganti
kerugianmu...........”
Si bocah tetap tak menyahut dan tak bergerak.
Beberapa kajem yang berada di dekat situ segera
menghampiri padanya dan berkata: "Nak, sudahlah!
Terimalah kebaikan hati tuan ini dan segeralah berlalu...”
Tampak si bocah dongakkan kepalanya. Matanya
yang bundar besar itu memandang ke sekeliling tempat itu
dengan sorot yang dingin. Tanpa berkata sepatah kata dia
berbangkit, dengan paksakan diri dia ayunkan langkahnya.
Terhadap ucapan si Ciu Khim tadi, sedikitpun tak dia
hiraukan.
“Nak, ambillah uang ini, mungkin berguna bagimu!"
"Terima kasih! Untuk mengganti apaku? Kerugianku?
Tuan, seluruh kepunyaanmu ditambah pula dengan seluruh
kepunyaan sahabatmu, tak nanti dapat mengganti
kerugianku! Uang itu, meskipun aku seorang jembel,

KOLEKTOR E-BOOK 23
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
namun pernah melihatnya, pun pernah mengemisnya juga!
Kau sangat baik terhadap sahabat, tuan, aku membilang
terima kasih............"
Tidak saja si Ciu Khim, pun semua orang di situ yang
mendengar ucapan perwira dari si bocah itu sama terkejut
dan memuji. Seorang bocah yang baru kira² berumur
empat-limabelas tahun sudah dapat mengeluarkan kata²
yang sedemikian luhurnya! Mungkin anak yang jauh lebih
tua darinya tak dapat mengeluarkan ucapan yang
begituan. Ditilik dari situ, teranglah bahwa dia bukan
sembarang bocah.
Dengan paksakan diri karena menahan sakit, bocah
itu pelan² berjalan di antara rombongan kajem. Dan tak
berapa lama diapun sudah jauh dari situ.
Hari mulai gelap. Di muka rumah makan Song Gwat
Lau kembali penuh dengan orang² yang datang. Beberapa
kajem masih tetap menunggu di luar situ. Hanya sibuta
dan anak perempuannya tadi, sudah tak tampak di situ.
Oey Hiau masih tetap asyik menyalurkan tenaganya,
sementara Ciu Khim tetap berusaha untuk menyerukan
agar si pembokong mau unjukkan diri. Memang dia tak
mengetahui, bahwa orang yang melepaskan tangan kepada
Oey Hiau itu hanya sekedar untuk memakainya sebagai
alat pemberitahu saja. Permainan yang sesungguhnya,
akan dilakukan nanti.
Berulang-ulang Ciu Khim berseru, namun tetap tak
terjawab. Dalam pada itu, In Siang Tin berhasil
menemukan cemeti cui-kau-kiat bergelantungan di atas
pohon tadi. Menyusul Thian Bin pun nampak muncul,
mengiringkan ayah Oey Siau yang bernama Oey Tiang Wi

KOLEKTOR E-BOOK 24
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
bergelar Hek-jiu-liong, si Naga Bertanduk. Disamping itu
ada pula seorang yang kira² berumur empatpuluhan tahun.
Didalam bibirnya yang ke-merah²an itu tampak barisan
giginya yang putih bersih. Alisnya melengkung, bermata
bundar terang. Sekalipun usianya sudah agak tua, namun
sikapnya masih gagah dan berwibawa.
Kiranya orang itu bukan lain ialah orang yang tiada
tandingannya di seluruh negeri. Dan namanya telah
menggetar seluruh dunia persilatan, yakni Kim-ciang Biau
Kong Hiong! Jago jempolan she Biau ini dengan andalkan
ilmu tombak berantainya yang sakti, telah menundukkan
banyak ahlil silat tinggi dan mencundangi tokoh² ternama
dalam dunia persilatan. Peristiwa yang mengesankan ialah
ketika dalam pertemuan di gunung Heng-san, Biau Kong
Hiong telah menantang tokoh cabang Bu-tong-pay: Siang
Ki Hun untuk bertempur dengan tombak, dan berhasil
merobohkannya. Kemudian setelah ber-turut² dapat
mengalahkan Hwa-im song-hiong, dua tokoh utama dari
Hwa-im serta jago lihay dari kota Peking, Co Bong Kau,
maka namanya semerbak menggetar seluruh nusantara.
Itu masih belum mengherankan. Kira² sebulan dari
peristiwa yang menggemparkan itu, jago besar itu
menerima banyak kunjungan dari sementara tokoh² silat
yang hendak menguji kepandaiannya. Penantang² itu
berasal dari berbagal cabang persilatan. Satu demi satu
Kong Hiong melayaninya dan dalam hanya waktu sebulan
saja, dia dapat mengalahkan 7 orang tokoh persilatan
ternama. Dan ternyata ketujuh jago itu adalah tiang²
utama dari pasukan bayangkari istana kaisar Boan.

KOLEKTOR E-BOOK 25
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Sejak peristiwa itu, kabarnya Kong Hiong pernah
mengunjungi kota raja. Untuk apa, tiada seorangpun yang
tahu! Orang hanya tahu bahwa selewatnya 3 tahun
kemudian barulah tampak Kong Hiong pulang ke kampung
halamannya. Dan anehnya, selama tiga tahun itu,
banyaklah sudah pahlawan² yang menentang pemerintah
Ceng telah terbasmi! Kehancuran dari para penentang
pemerintah Ceng itu sangat mengenaskan sekali nasibnya.
Pemimpin² mereka itu terdiri dari tokoh persilatan yang
tinggi kepandaiannya, Tapi dari fihak istana kaisar telah
muncul seorang jago yang luar biasa anehnya. Aneh,
karena tiada seorangpun yang pernah melihat orang itu.
Mereka hanya mengetahui, bahwa orang yang tak
kelihatan wujudnya itu luar biasa lihaynya. Konon,
banyaklah orang² gagah yang terpecundang oleh
“bayangan“ sakti itu. Dan karena itulah maka kaum
persilatan memberi gelaran “bu sing sin mo", setan tanpa
bayangan yang sakti. Orang² sama jerih akan
keganasannya. Siapakah orang itu? Wallahuallah!
Di antara orang² gagah penentang pemerintah Ceng
yang terbasmi itu terdapat itu raja begal dari gunung Kun-
lo-san yang bemama Ong Thing Kau. Sekalipun jago she
Ong itu mempunyai kepandaian yang lihay, tapi tak urung
jatuh juga oleh si Setan Tanpa Bayangan hingga terluka
berat. Muridnya yang benama Giok-bin Sin-eng Tian Yan
Jing _ Tian Yan Jing si Alap² sakti berwajah kumala _ telah
berlaku nekad untuk menolong gurunya. Tapi kasihan, guru
dan murid berdua itu akhirnya harus mandah menerima
kebinasaan di tangan si Setan Tanpa Bayangan.

KOLEKTOR E-BOOK 26
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Syukurlah masih ada beberapa orang gagah yang
sempat menyembunyikan diri sehingga meskipun mereka
menderita kekalahan, namun cita² mereka yang luhur itu
tetap belum terpadamkan.
Nama si Setan Tanpa Bayangan makin menjulang di
angkasa persilatan. Dan justeru pada saat² di puncak
kemasyhuran itu, tiba² secara aneh dia telah menghilang.
Sisa² orang gagah itu bersepakat untuk mencari balas,
namun mereka hanya menubruk bayangan kosong saja.
Tiada seorangpun yang mengetahui siapakah dianya itu!
Namun santerlah suara² yang mendesuskan, bahwa
Setan Tanpa Bayangan itu memang ada orangnya serta
masih hidup di mayapada ini. Dia bukan lain ialah si
Tombak Emas Biau Kong Hiong!
Biau Kong Hiong menyangkal keras tuduhan itu,
namun dan kesimpulan ciri²nya, tuduhan orang masih
condong padanya. Dan memang sudah lazim dalam dunia
persilatan, makin keras menyangkal makin keraslah
tuduhan orang terhadap dirinya. Mata segenap kaum orang
gagah tertuju pada jago Tombak Emas itu.
Sejak kembali ke kampung halamannya, sikap Kong
Hiong berobah seratus derajat. Dia se-olah² menjadi
seekor singa jinak. Beberapa tahun sejak itu, sedikitpun
tak berani dia berbuat suatu keonaran, betapa kecilnya
sekalipun.
Tapi sang keponakan, Oey Hiau, telah mengekploteer
keangkeran nama pamannya itu. Menghina, mengganggu
anak gadis, berlaku ke-raja²an, kesemuanya itu
dipraktekkan besar²an oleh Oey Hiau. Namun orang² sama

KOLEKTOR E-BOOK 27
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
antapkan saja perbuatan² itu karena segan akan sang
paman.
Sebenarnya Biau Kong Hiong pun tak puas dengan
kelakuan sang keponakan itu, tapi karena sejak kecil dia
dirawat oleh tacinya (ibu Oey Hiau) jadi dia merasa
berhutang budi. Bagaimana juga, Oey Hiau adalah putera
satu²nya dari sang taci, jadi terpaksalah dia
melindunginya. Maka, demi Thian Bin datang melapor, ber-
gegas²lah dia datang dan serta tampak wajah Oey Hiau,
hatinya terkejut bukan kepalang. Buru² keponakan itu
diangkatnya dan dipijatnya jalan darah utama, untuk
memeriksanya.
”Ah, tak berguna sudah!" kata Kong Hiong menghela
napas.
Bukan kepalang kaget Oey Tiang Wi, sang ayah,
bahwa puteranya telah menjadi seorang cacat (invalid),
maka tanyanya dengen serta merta: “Apanya yang
tercacat?"
"Anak ini bakal menjadi cacat selamanya, kita
terlambat datang! Ah, tak kusangka kaum Swat-san-pay
masih belum lenyap bersih............”
Atas penegasan Tiang Wi, Kong Hiong membenarkan
bahwa Oey Hiau telah kena serangan ilmu meremas tulang
dari kaum Swat-san-pay. Tengah Kong Hiong memandang
ke sekeliling tempat itu, tiba² tampak 3 bintik cing-hong
(senjata rahasia yang dapat meledak) secepat kilat
meluncur ke arah mukanya. Memang Kong Hiong benar²
tak bernama kosong. Begitu tampak cing-hong, tahulah
fihak kaum mana yang melepaskannya. Dia kaget
terkesiap, jangan² musuh lama akan mencari balas.

KOLEKTOR E-BOOK 28
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Senjata
rahasia cing-hong
(bianglala hijau) itu
tak boleh disambuti.
Karena benda itu
akan meledak dan
memuncratkan api
beracun. Diam² dia
mengeluh dalam
hati. Dia sih dapat
mengatasi, tapi
karena fihaknya
terdiri dari beberapa
orang, kalau sampai
ada seorang dua
yang terkena, ini
berarti suatu
tamparan bagi mukanya. Dan namanya yang begitu megah
sebagai „orang yang tak terlawan di kolong langit‟ akan
terhapus!
Tapi bahaya sudah di depan mata, tak boleh dia
terlalu lama berpikir. Secepat kilat dia membungkuk, tubuh
Oey Hiau dipakainya untuk disodokkan ke kanan kiri.
Betapa pesat cing-hong itu meluncur, namun masih kalah
cepat dengan gerakan jago Tombak Emas itu. Tatkala dia
membungkuk tadi ternyata sudah mengeluarkan tenaga
pukulan dalam, sehingga menerbitkan deru sambaran
angin dahsyat yang dapat menangkis senjata rahasia itu.
Dan tubuh Oey Hiau yang dibolang-balingkan itu, kiranya
untuk menyingkirkan kawan²nya dari situ. Dan untuk ini,

KOLEKTOR E-BOOK 29
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
diapun berhasil. Sekalipun beberapa orang kawannya telah
tersampok jatuh, namun mereka semua dapat terlepas dari
sambaran senjata yang ganas itu.
Tiga bintik senjata peledak yang menyerupai
bianglala telah menemui tempat kosong dan jatuh meledak
di tanah. Bergidiklah hati semua orang ketika.
menyaksikan kedahsyatan bianglala itu. Diam² mereka
bersyukur atas ketangkasan Biau Kong Hiong yang telah
menyelamatkm jiwa mereka dari lubang jarum.
Bahwa orang telah berani memain api di mulut singa,
telah membuat Kong Hiong marah sekali. Tengah dia
membungkuk dan membolang-balingkan tadi, matanya
yang jeli sudah dapat menangkap siapa yang
membokongnya itu. Orang itu temyata seorang jembel
yang usianya antara tigapuluhan tahun lebih, Kong Hiong
perdengarkan ketawanya yang dingin. Sembari meletakkan
Oey Hiau, dia melesat ke arah jembel itu.
Sebenamya jembel itu tergolong orang lama di situ.
Rupanya dia mempunyai dendam besar, sehingga seorang
diri dia berusaha untuk mencari balas. Tapi insyaf bahwa
kepandaiannya masih kalah dengan lawan, terpaksa dia
menyaru sebagal kajem. Malu dan penderitaan yang
bagaimana hebatnya, tetap dia tahankan. Tekadnya hanya
satu, menuntut balas! Malah rencananya, dia mau
menyusup berhamba pada Biau Kong Hiong. Langkah
pertama dia hendak mendekati rapat pada kaki tangan Oey
Hiau. Karena itu diapun sudah kenal pada The Ing dan Ngo
Thian Bin. Seringkali rela dia menjadi pesuruh kedua kaki
tangan keluarga. Oey itu. Maka tak heranlah ketika Kong
Hiong menyerbu kepada orang itu, Thian Bin lah yang

KOLEKTOR E-BOOK 30
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
pertama² berseru kaget: "Budak hina, mengapa kau jadi
pembunuh?"
Mendengar seruan itu, Kong Hiong merobah
rencananya. Dia adalah seorang yang berperangai jahat,
tapi berwatak kuat. Segala rencana dan gerak geriknya
selalu dirahasiakan rapat². Muka sekalipun dia benci akan
jembel itu, namun wajahnya tak mengunjuk sesuatu
perobahan kecuali ganda tertawa saja. Kini dia ambil
putusan akan menangkap kajem itu hidup².
Serasa ada sambaran pukulan dari arah belakang,
kajem itu terkejut sekali. Begitu membungkukkan badan,
dia segera mainkan gerak "ling li kun" rase berjumpalitan.
Dia buang tubuhnya ke muka terus bergelundungan
sampai beberapa puluh kali. Dengan andalkan kelincahan
gerakan itu, dapatlah dia lolos dari serangan yang
berbahaya itu.
Pukulan yang dilancarkan Kong Hiong itu disebut
,,siao thian sing" bintang kecil, sebuah ilmu yang
diandalkan jago itu. Barangsiapa terkena, jangan tanya
dosa lagi. Tapi karena dia bermaksud hendak menangkap
hidup², maka tenaga yang digunakannya hanya 70% saja.
Kalau tadi dia tak merobah rencananya, pasti kajem itu tak
dapat lolos dari bahaya kebinasaan.
Melihat korbannya hendak kabur, Kong Hiong
perdengarkan ketawanya. Sekali enjot kakinya, dia melesat
memburu. Tiba² sebuah senjata peledak cing-hong
menyambar ke arah mukanya. Tapi jago lihay itu sudah
siang² waspada. Dia duga lawan masih mempunyai
beberapa buah dari senjata yang kini sudah tiada orang
yang menggunakannya lagi. Maka tatkala mengudak tadi,

KOLEKTOR E-BOOK 31
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
dia sudah siapkan tenaga dalamnya untuk melindungi diri.
Begitu terkena sambaran penangkis tenaga dalamnya,
bianglala itu meletik dan berhamburan jatuh lenyap ke
empat penjuru.
Tatkala Kong Hiong lanjutkan penguberannya,
bagaikan ular keluar dari goanya, kajem itu membelk pada
sebuah tikungan jalan dan melenyapkan diri. Dengan
masygul, terpaksa Kong Hiong kembali untuk menengok
keadaan Oey Hiau. Keempat orang gagah dari Oupak
itupun buru² menghampiri Kong Hiong untuk haturkan
maaf, siapa hanya tertawa dingin. Sambil memberi isyarat
supaya sang keponakan diangkut pulang, dia berkata
seorang diri: “Rupanya permainan yang sesungguhnya
segera akan berlangsung!”
Demikianlah, pada lain saat, peristiwa di depan
rumah makan Song Gwat Lau yang hampir menghebohkan
seluruh kota Siangyang itu kembali sirap. Orang² sama
berjalan seperti bermula.
Begitu pulang, Kong Hiong segera mengambil sebuah
kotak yang dibungkus kain kuning. Dari situ
dikeluarkannya 10 batang kimcian (panah emas) yang
panjangnya hanya 3 dim. Pada batang kimcian itu terdapat
tanda cap merah. Dipanggilnya keempat orang gagah dari
Oupak tadi, masing² diserahinya 2 batang. Dengan nada
yang ber-sungguh², dipesannya keempat orang itu, siapa
lalu sama mengundurkan diri. Dilihat naga²nya, Kong
Hiong sedang mengatur persiapan yang rapih..........

*Oz*

KOLEKTOR E-BOOK 32
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kini mari kita tengok akan keadaan bocah tadi.
Walaupun dia paksakan diri untuk berjalan, namun karena
luka²nya yang berat itu, pada tiap berselang beberapa
tindak, dia kelihatan ter-huyung² jatuh. Dengan meng-
isut², akhirnya dapat juga dia kembali ke tempat biara
yang rusak itu. Biara itu rusak tak terurus, di sana-sini
terdapat banyak sekali kotoran burung dan tahi tikus.
Kecuali di ruangan besar yang agak lumayan, seluruh
tempat boleh dikata kotor sekali.
Dengan sempoyongan, masuklah bocah itu ke
ruangan besar dan rubuhlah dia di situ. Tapi dasar dia
bocah keras hati, begitu berada di tempat ,,pondok"
sendiri, dia segera menangis ter-bata²:
“Kyai kelinci, ibu mengatakan padaku bahwa kau
dapat melindungi keselamatanku. Tapi kini ternyata kau
sendiri tak mampu melindungi dirimu, jadi mustahil dapat
melindungi diriku! Ber-tahun², kaulah satu²nya yang
kuajak teman bicara, kuanggap kau sebagai bundaku
sendiri. Karena kaulah satu²nya peninggalan dari
almarhum bundaku. Namun sekarang..............”
Begitulah, bocah itu menangis dan meratapi kyai
kelincinya. Padahal ketika itu hari sudah mulai gelap. Biara
rusak itu memang angker hawanya, apalagi kalau hari
sudah malam. Dari situ dapat ditilik, bagaimana besar nyali
anak itu. Jangan kata anak kecil, sedang orang tua saja
kalau berada sendirian di biara situ mungkin sudah
ketakutan setengah mati.
“Kyai, berikanlah padaku sebuah pentung, akan
kupukul mampus bangsat itu. Mengapa dunia penuh
dengan bangsat begitu? Mereka bisa makan se-

KOLEKTOR E-BOOK 33
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kenyang²nya, kerjanya tak lain hanya menindas kaum
seperti kita yang kurang makan kurang sandang..........”
Demikianlah, bocah itu sembari menangis sembari
tangannya merogohi bajunya. Dari sela² cahaya rembulan,
tampak bocah itu tengah memegang secarik kertas yang
sudah kucal² (lusuh). Dia mengawasi kertas itu sembari
mulutnya berkemak-kemik, entah apa yang dikatakan!
Berselang beberapa saat kemudian tampak dia
memasukkan kertas itu ke dalam bajunya dan berkata
seorang diri : “Almarhum ibuku hanya menyerahkan dua
buah benda padaku, ah, hanya tinggal kau saja...........”
Ketika dia hendak memutar tubuhnya, dia melihat
sesuatu benda dan...… “Kyai kelinci.….…." demikian dia
berseru girang. Kiranya entah siapa yang menaruhkan,
tanpa diketahui di belakangnya tadi sudah terletak
beberapa keping tanah liat yang merupakan kepingan dari
kyai kelincinya. Sekali tubruk, didekapnya benda itu
dengan mesranya, serunya dengan gembira: “Kyai kelinci,
kau betul² sakti! Kyai kelinci.....”
Air matanya bercucurah deras membasahi mukanya.
Sekalipun hanya kepingan saja tapi bocah itu tetap
memandanginya. seperti mustika yang tiada terkira
harganya. Sebenarnya keadaan kyai kelinci itu tak keruan,
sepeserpun tiada berharga. Dan inilah yang menyebabkan
hati si bocah hancur luluh....
Tatkala ibunya sakit keras, ia telah menyerahkan
padanya secarik kertas tua dan sebuah mainan kelinci
serta memberi pesanan terakhir begini:
”Anakku, nasibmu malang….. tetapi kita berasal dari
keluarga ternama! Ayahmu seorang yang berbudi luhur,

KOLEKTOR E-BOOK 34
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
mengutamakan kebajikan dan terbuka tangannya kepada
orang² yang membutuhkan pertolongan, tetapi tak nyana,
buah yang kita petik begini pahitnya. Orang serumah
terbinasa, syukur masih ketinggalan aku dan kau berdua
yang atas perintah ayahmu disuruh menyingkir ke rumah
nenekmu. Tapi tak kunyana, nak... bahwa selanjutnya kau
harus hidup sebatang kara di dunia... Mainan kelinci ini
tempo hari adalah ayahmu yang sengaja membelikan
untuk mainanmu. Jangan se-kali² kau merusakkannya.....
Bila kau menghadapi kesulitan, katakanlah pada kiai kelinci
ini...... semoga dia dapat melindungi dirimu......…."
Walaupun sekecil itu usianya, namun anak itu sudah
mengerti apa yang terjadi. Ibunya adalah seorang wanita
yang bijaksana. Asalnya dari kota Peking. Tapi karena
derita kalbunya memikirkan dendam berdarah yang harus
diimpas, kesehatannya terganggu. Sepanjang perjalanan
pulang ke kampung halamannya, dia paksakan diri untuk
mendidik sang putera supaya mengerti akan beban yang
diletakkan di atas bahunya itu. Diajarkan pula tata cara
orang hidup dalam pergaulan, dan akhimya dikesankanlah
pesannya yang harus selalu diingat itu, yaitu: "Ingatlah
pada musuh besar kita itu..…....."
Begitulah, ibunya telah menutup mata di tengah
perjalanan. Selama diejawentah oleh sang ibu itu, pikiran
anak itu makin terbuka. Dia tahu akan asal-usul
keluarganya dan tahu pula bagaimana harus hidup seorang
diri. Yang paling mengesankan sanubarinya ialah ajaran
mendiang ibunya bahwa hidup dalam dunia ini orang harus
”teguh kuat”.

KOLEKTOR E-BOOK 35
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Ternyata walaupun melalui berbagai penderitaan,
anak itu tetap bisa mempertahankan hidupnya. Memang
dalam usianya yang sedemikian muda itu dia sudah
menjadi "masak". Namun ada kalanya kalau berada
seorang diri, dia masih belum terlepas dari sifat kanak²nya.
Ini memang sudah wajar.
Tapi sekalipun terancam siksaan hebat, sedikitpun
dia tak gentar mempertahankan satu²nya benda yang
disayangi dalam hidupnya. Rela dia korbankan jiwanya
daripada menyerahkan benda itu kepada Oey Hiau. Kalau
tadi dia menangis, itu bukan karena tak tahan menderita
siksaan orang she Oey itu, tapi karena menampak
pusakanya dibanting hancur. Biar orang mengatakan dia
tolol tak tahu mati, tapi dia tetap ”teguh kuat”
mempertahankan haknya, warisn satu²nya dari mendiang
ayah bundanya. Maka setelah kini dldapatinya pula kyai
kelincl itu _walaupun sudah menjadi kepingan_ girangnya
sukar dilukiskan.
"Nak, apakah khasiatnya benda itu sehingga kau rela
menerima siksaan daripada menyerahkannya?" tiba²
kedengaran suara orang berkata.
Sekalipun nyalinya besar, tapi tak urung anak itu
terkejut serasa terbang semangatnya. Dengan ketakutan
dia memandang ke arah suara itu, siapa ternyata adalah si
kajem buta yang berpakaian compang-camping itu.
Dikenalnya si buta tua itu sebagai kajem yang hampir
kebentur dengan Oey Hiau di rumah makan siang tadi.
"Pak tua, mana cici kecil itu?" balas bertanya si bocah
tanpa menghiraukan pertanyaan orang.

KOLEKTOR E-BOOK 36
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
"Dia? Ah, dia sudah kena dirampas oleh bangsat
itu...."
Anak itu terkesirap kaget, kemudian mengelah napas
panjang, katanya:
“Di dunia ini, mengapa selalu orang jembel yang
diperhina orang? Pak tua, dengan kehilangan cici kecil itu,
kau tentunya menderita sekali!"
“Ya, dia merupakan tongkat pengunjuk jalanku, aku
masih memerlukan padanya. Sungguh kasihan dia di
sini…...”
Sambil mengemasi kepingan tanah liat itu, si bocah
menghiburnya: “Kalau aku tak sekecil dan selemah ini,
apalagi menderita sakit, pasti aku suka menjadi tongkat
pengunjuk jalanmu!"
“Memang sebenamya aku hendak minta bantuanmu,
entah kau keberatan tidak?"
"Sayang aku sedang luka berat, mungkin tak kuat
berjalan bersamamu, pak! Tapi tak menggapalah......”
Setengah bulan yang lalu anak itu dihajar Oey Hiau
dengan hebatnya. Lukanya maslh belum sembuh,
ketambahan lagi lagi tadi dicambuk dengan jwanpian cui-
kau-ciat yang maha ganas itu. Ya, sekalipun tulangnya tak
sampai remuk namun lukanya cukup memperhentikan
peredaran darahnya. Dan luka² itu menjadi koreng busuk.
Kalau hanya mengandal kekerasan hati saja, mungkin anak
itu sudah remuk dalam. Tapi syukurlah, selain berhati
keras, dia juga dikarunai tulang belulang yang kokoh.
Dalam keadaan begitu, masih dia menyanggupi untuk
menggantikan si anak perempuan kecil menjadi pengunjuk
jalan si tua yang buta tadi.

KOLEKTOR E-BOOK 37
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kalau tadi dia sedihkan kyai kelincinya yang hilang,
kemudian tangisi keadaan sang kyai yang sudah menjadi
keping²an tanah liat itu, kini hal itu secepat kilat sudah
terkikis di dalam pikirannya. Satu²nya hal yang sangat
menjadikan perhatiannya ialah, mudah²an sakitnya
berkurang agar dia dapat menolong bapak tua itu. Ya, pak
tua yang buta itu harus dibantunya........
Haripun makin larut malam. Tiada seorangpun yang
akan datang ke biara rusak situ. Dulu adalah si kajem
muda, pelepas senjatai rahasia cing-hong yang tiap hari
datang menjenguk ke situ dan membawakan sisa²
makanan. Tapi dia sendiri tadi telah kebentrok dengan Biau
Kong Hiong, jadi kini tentu sedang menyembunyikan diri
jauh². Maka malam itu, si anak tentu harus tidur dengan
perut kosong.
Tapi syukurlah, pak tua buta itu masih mempunyai
makanan kering dan dengan rela membaginya. Bermula
anak itu menolak, tapi tiba² pak buta itu tertawa nyaring,
serunya:
“Nak, seperti katamu tadi, di dunia ini selalu orang
jembel yang diperhina orang. Nah, kalau si jembel tak
saling membantu dengan si jembel, apa jadinya dengan
dunia ini?!"
Terbukalah hati si bocah mendengar kata² emas dari
pak buta itu. Tanpa sungkan lagi, dia sambuti pemberian
pak buta itu sembari menghaturkan terima kasih. Malah
sehabis makan, pak buta itu menawarkan guci
minumannya. Kini anak itu sudah tak mau main sungkan
lagi. Ditengaknya arak dalam guci, hampir² giginya
bergemerutuk karena arak yang sudah mendingin itu. Tapi

KOLEKTOR E-BOOK 38
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
begitu masuk ke dalam perut, badannya menjadi panas.
Rasanya seperti pada saat itu dia tengah ber-main² di luar
dengan senang sekali. Tapi tahu² kepalanya pening dan
pada lain saat dia jatuh pulas tak ingat apa² lagi.
Begitu si bocah sudah pulas, pak buta itu segera
berbangkit menghampiri untuk meng-urut² tubuhnya.
Jangan orang mengira dia itu hanya sepert! orang buta
kebanyakan. Karena buta sekalipun dia itu, tapi ternyata
lebih awas dari orang melek.
Kalau orang mengerti, pastilah akan menjadi kaget
melihat kenyataan bahwa pijatan si pak buta itu ternyata
menggunkan ilmu penyalul darah "thian hian cap sa si",
suatu ilmu penotok darah yang tiada bandingannya di
dunia persilatan. Ilmu mujarab untuk menolong jiwa dari
cengkeraman maut.
Di tangan sakti dari seorang ahli silat sebagai si pak
buta itu, maka seluruh hawa busuk dan kotoran darah si
bocah selama ber-tahun² diarak perasaian itu (menderita),
ya, bahkan semua rasa nyeri di tulang sungsumnya, dalam
waktu semalam itu saja, sudah dipulihkan kembali. Dasar
anak itu mempunyai peruntungan yang bagus! Ya,
walaupun hal yang sebenarnya, pak buta itu se-mata²
ketarik akan sifat² keutamaan dari anak itu. Begitulah,
malam itu, bocah yang malang nasibnya itu dapat tidur
dengan nyenyaknya..….…..
Ketika itu tampak si pak buta memeriksa pernapasan
hidung si anak, lalu meng-urut² jalan darah induk,
kemudian ber-ulang² mengangguk dan berseru seorang
diri: "Anak yang sukar dicari keduanya!"

KOLEKTOR E-BOOK 39
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Menjelang tengah malam, pak buta itu tampak
meng-hembus²kan hidung membaui udara, kemudian
menggerutu seorang diri: "Malam sudah larut, mengapa
Siu Sian belum kembali? Adakah terjadi sesuatu dengan
dirinya?"
Tiba² dari kejauhan terdengar suara anjing melolong.
Mendadak si pak tua berbangkit, sembari masih mencekal
tongkatnya, tahu² dia melesat seperti angin cepatnya,
menuju ke ruangan muka. Benar juga, pada saat itu
tampak seorang dengan ter-huyung² menobros masuk ke
dalam biara situ. Sikapnya ber-gegas², seluruh tubuhnya
berlumuran luka, wajahnya mengunjuk kekuatiran hebat.
Dia makin terkejut ketika di ruangan tengah tampak
sesosok tubuh tegak berdiri. Tapi hatinya segera lega
ketika diketahui bahwa orang itu bukan lain ialah si pak
buta yang berada di rumah makan “Siong Gwat Lau" siang
tadi.
Kiranya orang itu tengah dikejar oleh musuh. Dia
masih punya barang² yang ketinggalan di biara situ.
Pikirnya, hendak dia ambil dulu barang² itu, kemudian
akan menyingkir selekas mungkin. Maka tanpa
menghiraukan lagi pada si pak buta, dia terus melesat
hendak menobros masuk ke ruangan tengah. Tapi bukan
kepalang terkejutnya, ketika tiba² ada sebuah benda hitam
menghadangnya. Benda itu ternyata sebatang tongkat,
tongkat dari pak buta siapa kedengaran menegurnya
dengan nada yang mengibakan:
“Tuan siapakah yang datang ini? Kasihanilah aku
seorang buta, supaya dibawa keluar dari tempat angker
ini........”

KOLEKTOR E-BOOK 40
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Sebenarnya orang itu hendak menjelaskan, tapi dari
arah belakang sana kedengaran suara orang ketawa! Kalau
pak buta itu tetap tenang² saja, adalah orang itu makin
gelisah tampaknya. Dan benarlah, begitu dia berpaling,
ternyata pintu reyot dari biara itu sudah terpentang lebar.
Empat orang yang bertubuh tinggi besar muncul
berbareng. Orang tadi segera mengenal mereka sebagai
kawanan yang telah mencegatnya tadi sehingga dirinya
sampai terluka parah. Syukur tadi ada seorang di belakang
layar yang menolongnya, hingga dia dapat meloloskan diri.
Hanya yang dibuatnya heran, tadi dia sudah lari se-
kencang²nya, serta diapun sangat faham akan lika-liku
jalanan di situ. Tapi mengapa secepat itu mereka sudah
dapat mengejarnya sampai di tempat itu? Adakah mereka
itu tergolong ahli² lari cepat yang sukar dicari
tandingannya? Kalau begitu naga²nya, bukan saja
dendamnya tak dapat dia balas, bahkan dirinya pun akan
binasa di sini…...…..
Kini dia mengambil putusan bulat. Daripada mati
sia², lebih baik dia. “berpantang dulu sebelum ajal datang”.
Begitu berpikir, begitu dia terus hendak kembali
menyambut musuh. Saat itu kedengaran salah seorang
berempat itu berkata: “Dugaan Saudara Biau memang
tepat sekali, tak kira kalau kaum Swat-san-pay mengutus
seorang jagonya yang lihay! Saudara Gwat, berlakulah
hati²!"
Wajah pak buta tetap tenang, hanya hatinya serasa
tergetar. Diam² dia men-duga², kalau² orang telah
mengenal dlrinya. Namun dia tak mau berlaku buru²,
hendak dia nantikan keterangan yang lebih jelas. Kalau

KOLEKTOR E-BOOK 41
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
memang orang yang di-buru² itu berada di fihak benar, dia
tentu turun tangan membantunya.
Belum selesai ucapan keempat orang tadi, si orang
muda itu sudah melesat masuk ke dalam ruangan besar.
Bahwa sekalipun buta tapi lebih awas dari orang melék, ini
terbukti dari sikap si pak buta itu. Sejak tadi memang dia
sudah menduga bahwa orang muda itu adalah seorang
sahabat, bukan musuh. Maka dibiarkannya saja dia
melesat lewat di sampingnya.
Keempat orang tadi sudah ada dua yang segera
memburu. Tapi begitu lewat di sisi si buta, yang disebut
belakangan ini terus saja menotokkan tongkatnya. Kedua
pengejar itu adalah ahli² yang ternama. Sebenarnya
mereka sudah lama menyembunyikan diri, tapi karena
menerima kimcian (titah rahasia), terpaksalah turun ke
gelanggang lagi.
Tugas yang per-tama² ialah mencari sisa² dari kaum
penentang pemerintah dari gunung Kun-lo-san yang dapat
meloloskan diri. Salah satu di antaranya yakni murid
kesayangan dari raja gunung Ong Thing Kau yang bernama
Wan Seng Ho. Tapi sampai sekian tahun, buronan penting
itu dapat menyembunyikam diri. Mereka tak mengira
barang serambutpun kalau orang yang dicari itu ternyata
sudah menyaru menjadi seorang kajem di muka rumah
makan Siong Gwat Lau. “Pucuk dicinta ulam tiba,” kali ini
mereka betul² tak mau melepaskan sang korban. Tapi di
luar dugaan ada seorang pak tua buta mengadu biru.
Sebenarnya dalam beberapa tahun ini Seng Ho sudah
banyak mendapat kemajuan dalam ilmu silatnya. Sekalipun
dalam adu kepandaian dia tak dapat mengatasi, tapi dalam

KOLEKTOR E-BOOK 42
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
adu lari untuk menyembunyikan diri, dia dapat melampaui
keempat musuhnya. itu. Hanya saja dia lupa, bahwa kini
kota Siangyang itu sudah penuh jaring² perangkap, di
mana pelosok terdapat kaki tangan musuh. Sejak dia
berhasil lolos dari kejaran Kong Hiong, di tengah jalan
sudah dicegat dengan seorang musuh. Syukur orang itu
bukan tandingannya. Sekalipun demikian orang itu segera
lekas² memberi kabar pada seorang atasannya yang lebih
lihay. Dan atasannya itu bukan lain ialah keempat orang
tinggi besar tadi. Mereka adalah salah empat dari 8
harimau propinsi Siamsay, ialah Nyo Ing, Gwat Ki, Ang Sin
Jee dan To Kiu Bi.
Yang mengejar Seng Ho tadi ialah To Kiu Bi dan Ang
Sin Jee. Kedua jago tua ini mahir dalam ilmu pukulan toa
pat kwa sin ciang. Tenaganya dahsyat sekali. Melihat si
orang buta menyerangnya, mereka berdua segera maju
berbareng. Pikir mereka, betapapun kelihayan si buta itu,
namun mempunyai ciri kekurangan: bermata buta. Kalau
salah seorang melayani si buta dan yang seorang mengejar
buronan tadi, tentu berhasil.
Tapi gerakan tongkat dari si buta itu sedemikian
lihaynya sehingga mau tak mau kedua orang itu harus
merandek. Cepat² keduanya bertindak. Yang seorang
gerakkan tangan merabu dan seorang lagi gunakan
gerakan kaki. Jadi si buta terancam dari dua fihak: muka
dan kakinya. Kedua serangan itu memang merupakan
imbangan, dilancarkan secara kilat dan ganas.

KOLEKTOR E-BOOK 43
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Tapi si buta
itu ternyata lihay
sekali. Sedikitpun
dia tak unjuk
gerakan apa².
Begitu kedua
serangan itu sudah
mendatangi dekat,
baru dia angkat
tongkatnya untuk
menotok dan
menghalau. Terang
gerakan itu bukan
gerakan menangkis,
juga bukan
serangan. Tapi toh
telah memaksa
kedua jago dari
Siamsay itu mundur beberapa tindak.
“Memalukan!" sampai Ang Sin Jee keluarkan jeritan
gemas. Sebaliknya, To Kiu Bi pun tak kurang kagetnya.
Siapakah pak tua yang buta itu? Sedemikian luar
biasa gerakannya, tenang tapi meyakinkan kemenangan.
Itulah ilmu silat istimewa “thian hian hian yang chiu hwat"
yang sifatnya “dengan ketenangan menyambut segala
perobahan lawan”.
Saat itu kedengaran si buta berkata dengan napas
memburu: ”Tak kusangka kalau yang datang ini adalah
tuan² dari fihak Pat-kwa-mui, maaf...... Dan entah dari
golongan manakah kedua tuan yang itu?”

KOLEKTOR E-BOOK 44
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
“Saudara Nyo, apa yang diucapkan saudara Biau
memang tak meleset. Memang benar inilah Bok si buta
yang sudah menghilang berpuluh tahun itu!" salah seorang
yang berada di ambang pintu kedengaran berseru sambil
ketawa.
“Saudara Gwat, kali ini benar² harapan saudara Biau
akan dapat terpenuhi. Tigabelas Ilmu pusaka dalam dunia
persilatan sebentar lagi akan sudah terkumpulkan!"
"Ho. masakan kalian ini adalah sahabat² dari bangsat
yang membelakangi perguruannya itu?” seru si buta
dengan nada gemetar.
Saat itu di sebelah luar sana terdengar suara seruan,
dan telinga si buta yang tajam itu segera dapat menangkap
bahwa di sana telah terjadl pertempuran. Dan dia makin
tercengang, ketika didengarnya bahwa gemerincing senjata
dalam pertempuran itu agak istlmewa. Ya, tak salah lagi,
itulah gemerincingnya senjata istimewa “tok liong so", tali
naga berbisa.
Si buta tampak men-duga², siapakah gerangan
kajem muda itu? Dan pada lain saat dia berseru dengan
kerennya: “Tuan yang memainkan senjata tok-liong-so dari
fihak Ong Thing Kau di Hunlam, katakanlah, lawan atau
kawan? Biar aku si tua ini dapat jelas!"
Memang yang tengah bertempur di ruang sebelah
timur itu ialah kajem yang menobros ke ruang besar tadi.
Setelah mengambil barangnya, dia segera ber-gegas²
hendak molos, tapi segera dihadang oleh Gwat Ki.
Sebenarnya pemuda jembel itu siang² sudah dapat
lolos. Tapi terpaksa harus mengambil dulu dua buah
barangnya yang berharga. Pertama, senjatanya tok-liong-

KOLEKTOR E-BOOK 45
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
so (tali bandul naga berbisa). Tadi karena dia tak
membekal senjata apa², maka sampai kena dihajar lawan
sampai parah. Dan kedua, adalah sebuah peta rahasia
yang secara kebetulan saja dia ketemukan pada 3 hari
yang lalu. Peta itu merupakan tempat simpanan suatu
pusaka di sekitar gunung Siao-si-san. Entah pusaka apa,
belum diketahuinya, tapi yang pasti tentu suatu pusaka
yang luar biasa. Begitulah, setelah mengambil kedua
barang itu, dia terus akan ber-gegas² lolos. Rencananya:
cari dulu pusaka itu, baru nanti tetapkan langkah
pembalasan lebih lanjut. Dia sadar, dengan kepandaian
yang dimilikinya sekarang ini tak mungkin dia dapat
membalas lawan itu. Apalagi dengan cara pembokongan
gelap sudah tak mungkin lagi, karena musuh yang lihay itu
sudah mencium bau.
Begitulah, ketika Gwat Ki menghadang terpaksa dia
layani dengan tok-liong-so. Tiada dinyananya kalau senjata
itu telah dikenal oleh si buta yang me-nyebut² tentang diri
gurunya. Tanpa terasa air matanya bercucuran, sahutnya:
“Siapakah gerangan bapak ini? Mohon dimaafkan,
aku Wan Seng Ho, guruku Hunlam Ong……...…"
Belum lagi selesai nama itu disebut, terdengarlah si
buta tertawa nyaring. Sekali tubuhnya bergerak, bagaikan
kilat menyambar dia sudah melesat ke muka Gwat Ki,
terus menyerangnya dengan salah satu jurus ilmu tongkat
“thian han cap sa ciang.” Begitu cepat, seru dan tepat
setiap gerak serangannya itu, sehingga Gwat Ki, salah
seorang "harimau" Siamsay, telah menjadi keripuhan
dibuatnya.

KOLEKTOR E-BOOK 46
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Mungkin pembaca tak percaya, karena mustahil
seorang buta kedua matanya dapat berkelahi begitu hebat
dan sempurna. Baiklah, penulis berikan sedikit uraian yang
mudah-mudahan dapat bantu menghilangkan kesangsian
pembaca.
Pertama: orang buta itu lebih cermat dan halus
panca inderanya. Kedua: alat pembauannya (indera
penciumannya) pun lebih tajam. Ini disebabkan karena
dengan kerugian indera penglihatannya itu, mereka lalu
melatih sungguh² keempat indera lainnya. Dan alhasil,
pada umumnya indera² (kecuali mata) dari orang buta itu
lebih tajam dari orang melek. Dan pak tua buta itu bukan
sembarang orang. Dia adalah satu²nya orang angkatan tua
dari kaum Swat-san-pay.
Ketika perguruan Swat-san-pay telah dikhianati oleh
seorang muridnya yang murtad, kebetulan si buta itu
sedang menjalani hukuman disiplin perguruan: harus
mengembara selama 7 tahun. Pada waktu dia kembali ke
gunung, kaum perguruannya sudah musnah! Belasan
tahun dia sembunyikan diri. Mengembara dari satu ke lain
tempat untuk menyelidiki musuhnya itu. Dan sembari
begitu, tak henti²nya dia bertekun meyakinkan ilmu
kepandaian yang disebut “dari sambaran angin dapat
membedakan suara, dari hembusan napas dapat mengenal
orang dan dari sentuhan tangan dapat mengetahui benda."
Jerih payahnya itu telah menghasilkan suatu ilmu yang luar
biasa lihay baginya!
Pertama kali Seng Ho datang dengan bermandikan
darah, hidung pak buta itu sudah dapat menciumnya dari
siliran angin yang berbau amis. Begitu pula suara kajem

KOLEKTOR E-BOOK 47
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
muda itu, lekas sekali dikenalnya sebagai salah seorang
kajem yang berkerumun di rumah makan Siang Gwat Lau.
Apalagi gemerincing tok-liong-so, senjata pemakaian
seorang sahabat karibnya, bagai penunjuk jelas bahwa dia
harus berfihak pada kajem muda itu. Mengapa pak tua itu
dapat menggempur Gwat Ki dengan serunya, ini
disebabkan karena kembang kempis hidung Gwat Ki
mengeluarkan napas, se-olah² sudah memberi petunjuk ke
arah mana pak tua itu harus menotokkan ujung
tongkatnya.
Tengah Gwat Ki dilibat sambaran tongkat, tiba² pak
buta itu merasa ada serantai gelombang besar tenaga
menyerangnya. Kiranya itulah ketiga kawan Gwat Ki yang
dengan sigapnya datang menolong. Mereka sama
keluarkan ilmu pukulan pat-kwa sin-ciang.
“Oho, klranya murid² dari Pat Kwa si imam tua. Ber-
tahun² tak berjumpa, tak tahu kalau imam tua itu diam²
„mencetak‟ sekawanan murid jempol!" pak tua bergelak
tawa seraya memutar tongkatnya makin deras. Ya, hanya
beberapa gebrak saja, keempat harimau itu sudah
terpental setombak jauhnya.
Di antara keempat orang itu, Gwat Ki yang ternyata
paling tangguh. Serangan gerak “ular ajaib melibat tubuh”
dari pak buta. tadi hampir² telah membabat kedua
sikunya. Kalau dia memang tak selihay itu, tentu sepasang
lengannya sudah kutung!
Yang per-tama² menjerit kaget adalah Nyo Ing, Ang
Sin Jee dan To Kiu Bi tadi sudah pernah merasakan
kelihayan si buta, nyali mereka sudah kuncup. Tapi dengan
keroyokan empat orang, mereka sangka akan dapat

KOLEKTOR E-BOOK 48
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
membalas. Siapa tahu, dua ditambah dua, tetap tak dapat
berbuat apa², tetap terkurung. Jeritan dan terpaksanya
Gwat Ki berloncat menolong diri sampai setombak jauhnya,
merupakan jawaban tentang jalannya pertempuran itu.
Dalam beberapa jurus lagi, sudah dapat dilihat
kesudahannya.
Dalam terdesak, Nyo Ing segera lepaskan senjata
rahasia hwat-liu-sing (pelor api). Tapi berbareng dengan
itu, tiba² sesosok bayangan warna hijau secepat kilat
menyambar ke arah Nyo Ing, siapa buru² berbalik tubuh
untuk menghantamnya. Sebuah suara mendengung
terdengar, dan berhamburan hwat-liu-sing yang dilepas
Nyo Ing itu. Nyoo Ing ter-mangu² tak dapat me-ngira²kan
cara bagaimana tadi orang telah memunahkan senjata
hwat-liu-singnya itu.
Hendak dia tegaskan lihat siapa gerangan lawan itu,
atau tiba² dari arah belakang terasa ada sambaran angin
meniup. Tahu dia apa artinya itu: suatu pukulan lweekang
(tenaga dalam) yang sukar ditangkis. Karena curahkan
perhatian ke muka, sampai² dia lalai akan bahaya dari
belakang. Namun Nyo Ing pun bukan seorang jago lemah.
Dengan gerak ”angin meniup ke tanah datar” dia melejlt ke
sebelah kiri. Tapi di situ, telinga segera bising dengan
suara yang men-desing². Astaga, kiranya dia telah masuk
dalam lingkar perputaran tok-liong-so Seng Ho.
Seng Ho tak mau hilangkan kesempatan itu.
Senjatanya makin gencar diputarnya sehingga kinu Nyo
Ing seperti terkurung dalam sebuah sangkar hitam yang
bergelombang deru angin dahsyat. Nyo Ing berlaku nekad.
Dengan menggerung keras dia bergelundung menerobos

KOLEKTOR E-BOOK 49
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
keluar. Di situ adalah tempat yang penuh dengan kotoran
burung dan tahi tikus, sudah tentu tubuh Nyo Ing
berlumuran kotoran. Dan sudah barang tentu kulitnyapun
banyak yang lecet luka², namun hal itu tak sampai
membahayakan jiwanya.
Seng Ho tak mau lepas korbannya. Sekali melejit
kemuka dia terus menghantamnya lagi. Tapi tepat pada
saat itu, sesosok bayangan melesat ke belakang Seng Ho.
Seng Ho benci setengah mati pada keempat harimau itu.
Tak mau dia hiraukan pembokangnya itu, dan tetap dia
merangsek Nyo Ing untuk memberi hajaran lagi. Sekali
tangannya mengayun, tok-liong-so melayang ke arah
batok kepala Nyo Ing, siapa terpaksa bergelundungan lagi
sehingga kini pakaiannya habis berlepotan kotoran.
Satu tak berhasil, Seng Ho berniat menyusuli lagi
sebuah serangan ke arah betis Nyo Ing. Tapi pada saat itu
terasa ada sambaran angin dari belakang. Terpaksa dia
batalkan serangannya, berbalik ke belakang dah
hantamkan tok-liong-so kepada pembokongnya itu, yang
bukan lain adalah Ang Sin Jee adanya.
Seng Ho kertak glginya, dia merangsang musuh itu
dengan gunakan ilmu istimewa dari suhunya, yakni
"serangan sakti dari angin mega". Begitulah, keduanya
segera terlibat dalam pertempuran yang seru.
Partai Gwat Ki, To Kiu Bi lawan pak buta pun tak
berimbang. Setelah nampak Nyo Ing terdesak keluar,
kedua orang itu makin terdesak. Buru² mereka lepaskan
hwat-liu-sing. Tapi senasib dengan Nyo Ing, tiba²
berkelebatlah sesosok bayangan hijau dan tahu²
berhamburanlah hwat-liu-sing itu terus padam!

KOLEKTOR E-BOOK 50
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Ang Sin Jee yang ber-gegas² menolong Nyo Ing tak
mau banyak menghiraukan, lain halnya dengan Gwat Ki
dan Kiu Bi yang segera memandang tegas² pada bayangan
lihay itu, siapa ternyata adalah seorang anak perempuan
sekira berumur 14 tahun. Sudah tentu hal itu menimbulkan
kegusaran harimau² tua itu, namun menegurlah anak
perempuan itu dengan seenaknya:
"Ayah, bangsat itu rupanya sudah memiliki 12
macam ilmu pusaka kita, baiklah kita berlalu untuk
merencanakan lagi!"
Pak buta melengak kaget, sambil mulutnya mengia,
dia perhebat desakan. Rupanya dia masih mau memberesi
kedua lawannya itu.
“Lekas, ayah, kita pergi dari sini selagi bangsat itu
sedang dihadang orang......…" seru si dara lagi.
Pak buta merangsek hebat sehingga kedua lawannya
itu terpencar jauh, kemudian dia berseru keras pada si
jembel muda: “Saudara Wan, lekas ikut padaku, jangan
ber-lambat² di sini. Ingat: seorang ksatria yang hendak
menuntut balas, sekalipun menunggu sampai 8 tahun,
masih tak terlambat..…!" Setelah itu dia berseru kepada
kedua lawannya. tadi: "Sayang kita tak berjodoh, tapi lain
kali masih bisa berjumpa lagi. Tolong kau sampaikan berita
pada bangsat itu, si buta Bok dari Swat-san-pay 3 tahun
lagi akan minta balik 12 macam pusaka dari kaum kita.
Nah, sampai berjumpa lagi!"
Gwat Ki dan To Kiu Bi tahu diri. Paling perlu tolong
diri dan kedua kawannya tadi. Soal ancaman pak buta itu,
serahkan saja pada Biau Kong Hiong, tentu beres. Maka
menyahutlah mereka:

KOLEKTOR E-BOOK 51
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
“Sahabat, memang "tak lari gunung dikejar",
penyelesaian tentu terjadi kelak. Sampai ketemu pula!"
Habis mengucap itu ber-gegas² mereka
mendapatkan Ang Sim Jee den Nyo Ing. Dan tak berapa
lama kemudian, dalam malam yang kelam itu tampak
empat sosok bayangan berlari cepat meninggalkan biara
rusak itu.
Sedang Seng Ho yang bermandikan darah, hendak
minta keterangan lebih lanjut pada bapak buta, tapi telah
dicegah oleh si buta, katanya: “Lekas panggul bocah itu,
jangan banyak unjuk penghormatan kosong, nanti saja
kujelaskan lagi........."
Walaupun dilamun keheranan, namun Seng Ho tak
mau membantah. Terus dia melesat ke ruangan besar.
Anak itu ternyata masih tidur menggeros. Tanpa hanyak
bicara, anak tsb terus dipanggulnya. Hendak dia
membawanya pergi, tapi tiba² matanya tertumbuk akan
beberapa kepingan tanah liat rerangka kyai kelinci. Tahu
betapa kecintaan bocah itu terhadap kyainya, Seng Ho
perlukan memungutinya, kemudian baru berangkat.
“Keluar dari samping kanan!" perintah pak buta.
Seng Hopun menurut, terus menuju ke tempat luar sebelah
kanan. Tapi sebaliknya, si pak buta menuju ke sebelah kiri.
Begitu Seng Ho sudah loncat keluar dari tembok pagar,
tiba² dari arah belakang terdengar suara jeritan yang
menyeramkan. Seng Ho melengak dan kendorkan
langkahnya. Tak antara lama, tampaklah gadis cilik itu
tengah memimpin bapaknya yang buta. Namun yang aneh,
pada belakang mereka terdengar suara benda terseret di
tanah. Makin Seng Ho menjadi heran ketika diketahuinya

KOLEKTOR E-BOOK 52
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
bahwa suara itu ternyata seorang tubuh manusia yang
sudah setengah mati, diseret si pak buta.
Di bawah cahaya sang dewi malam, tahulah Seng Ho
bahwa yang diseret itu adalah kaki tangan si durjana Oey
Hiau, ialah si The Ing, orang yang bantu majikannya
menyiksa bocah itu. Muka The Ing sudah tak berwujud
orang lagi karena tertutup seluruhnya dengan darah
merah. Pelupuk matanya complong karena biji matanya
sudah tak ada lagi. Ketika Seng Ho hendak menanyakan,
telah didahului oleh pak Bok, katanya: “Mengapa berhenti?
Nanti toh akan kujelaskan.........…."
Seng Ho tak mau berayal lagi, terus lari dengan
pesatnya menuju ke dalam hutan kecll di sebelah muka.
Memang anak muda itu boleh juga dalam ilmu lari cepat.
Sekalipun dia sendiri terluka dan memanggul seorang anak
tanggung, namun kecepatan larinya tak menjadi kurang.
Sekejap saja dia sudah menyusup ke dalam hutan. Dan
karena hutan kecil tak berapa luasnya, pada lain saat dia
sudah keluar ke sebelah sana. Dan pada saat itulah dia
menjadi kaget karena di atas batu karang di sebelah muka
sana tampak ada sesosok benda putih dan benda tengah
hijau tengah ber-cakap² dengan asyiknya. Begitu dekat,
baru diketahuinya bahwa mereka itu tak lain adalah si
gadis cilik dan si pak buta. Tanpa terasa, Seng Ho menjerit
kagum. Menggeletak di dekat ayah dan anak itu, adalah si
The Ing. Begitu Seng Ho sudah tiba, segera pak buta
menyambutnya dengan sebuah perintah: ”Kembali ke
tempat tadi!"
Habis memberi perintah, ayah dan anak itu sudah
mendahului melesat pergi. Seng Ho buang pandangannya

KOLEKTOR E-BOOK 53
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
sebentar ke arah The Ing, dengan penuh pertanyaan dalam
hati, diapun mengikuti jejak mereka. Dan tak berapa lama
kemudian kembalilah mereka ke dalam biara tua tadi.
Tiba² Seng Ho mengerti akan maksud pak buta itu, diam²
dia memuji kecerdikan si buta yang dianggap sebagai
"orang tua yang berperhitungan masak".
Sekalipun Seng Ho tahu bahwa si buta sedang
menjalankan siasat "memikat penjahat supaya bingung",
tapi sebagai seorang muda yang cerdas dan kritis dia
memberi ulasan begini: andaikata Biau Kong Hiong
mengetahui siasat itu, bukantah hal itu seperti .”harimau
mencari perangkap"? Mereka berjumlah banyak, tambahan
pula dengan seorang pimpinan macam Biau Kong Hiong
yang begitu tangguh, rasanya mereka bertiga tak
mempunyai banyak harapan lagi. Jadi hanya sebagai ”ular
cari penggebuk" sajalah!
Begitu memasuki ruang besar, si gadis cilik segera
jejak kaki meloncat ke arah penglari kemudian
bersembunyi di situ. Bok buta pun mengikuti teladannya.
Dengan kecekatan macam kucing hutan, gadis cilik itu ajak
ayahnya menyusur tiang penglari untuk bersembunyi di
balik papan nama-merk yang tergantung di atas ruangan
besar. Keduanya se-olah² tak menghiraukan Seng Ho lagi,
juga tak memberikan petunjuk apa² cara bagaimana dia
harus bertindak. Sudah tentu hal itu menimbulkan
keheranan Seng Ho. Hendak dia berkaok menanyakan, tapi
tiba² di atas udara yang kelam itu tampak ada sinar api
yang me-layang². Kalau Seng Ho was² tak keruan, adalah
bocah dalam panggulannya itu sudah bangun. Demi
melihat dirinya dipanggul Seng Ho, berkatalah bocah itu

KOLEKTOR E-BOOK 54
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
dengan herannya: “Ai, bukankah kau paman Go
(kelima)......?
Hendak Seng Ho mencegahnya, tapi sebuah tertawa
nyaring telah mendahului melayang di udara. Dan malah
disusul dengan berkelebatnya sebuah bayangan. Daun
pintu terpentang lebar, dan muncullah di situ seorang yang
tubuhnya tinggi, tindakannya gesit.
Dalam keremangan malam, tampak biji mata orang
itu tajam ber-api². Dia tampak berjelalatan mengawasi ke
sekeliling ruang biara itu, kemudian tertawa tawar sekali,
katanya: “Saudara² Ho dan Kim, kalian jaga empat penjuru
ruang ini, jangan sampai si tikus dapat keluar dari
lubangnya....”
Sambil berkata begitu, dengan langkah yang tetap
dia menuju ke ruang besar. Nampak siapa adanya orang
itu, Seng Ho seperti terpagut ular. Tapi hanya sepintas saja
dia sudah dapat menguasai detak jantungnya, raut
mukanya menjadi tenang. Malah dengan tertawa sabar dia
menegur: "Setan Tanpa Bayangan betul² tajam
pancainderanya......”
Ya, memang yang datang itu bukan lain adalah si
Setan Tanpa Bayangan, momok yang paling ditakuti di
seluruh gelanggang persilatan. Dan kalau selama ini orang
hanya mendengarnya sebagai tokoh mythos yang tiada
pernah terlihat orang, kini ternyata bukan lain adalah Biau
Kong Hiong adanya. Diakah gerangan si Setan Tanpa
Bayangan itu?
Benar! Memang Biau Kong Hiong adalah si
Yamadipati yang telah mencabut nyawa sekian banyak
pendekar² dan pahlawan² rakyat yang hendak

KOLEKTOR E-BOOK 55
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
menggulingkan kekuasaan pemerintah Ceng. Dia adalah
tiang penglari dari kubu² kekuasaan asing di bumi
Tiongkok. Kepandaian ilmu silat yang tinggi, ketangkasan
bicara, kelicinannya bertipu muslihat, serta. rapihnya
mengatur jerat telah menjadikan dirinya menjadi seorang
kepercayaan pemerintah Ceng. Sekalipun tempat
tlnggalnya di kota Siangyang, tapi dia tetap berhamba
pada junjungannya!
”Kalau aku berada di Siangyang, tentu mereka akan
mencari aku, dengan begitu cukuplah aku yang melayani,
tak usah baginda menjadi sibuk²........" demikian Kong
Hiong. Dan hal itu memang benar, karena banyaklah sudah
jiwa dari kaum pergerakan penentang kekuasaan asing
yang karena hendak menyatrui ke dalam istana, telah
binasa di tangan pasukan bayangkari, atau begitu
pemerintah Ceng mencium bau gerak-gerik mereka, telah
kirim jago² bayangkari untuk menumpasnya. Kesemua
rencana ini diorganisir oleh Biau Kong Hiong, si Setan
Tanpa Bayangan itu.
"Hutang jiwa, bayar jiwa", demikian hukum kaum
persilatan. Tumpas dulu si Setan Tanpa Bayangan itu, baru
nanti bikin perhitungan pada kaisar Ceng. Demikian
permufakatan kaum persilatan pencinta negeri, untuk itu
mereka akan mencarinya ke Siangyang. Dan karena
Siangyang jauh dari kotaraja, maka bahaya yang
mengancam keselamatan istana pun menjadi berkurang.
Sepuluh tahun yang lalu, tiada seorangpun yang tahu
akan gerak-gerik Kong Hiong. Baru setelah sepeninggal
Ong Thing Kau, orang mulai mencium bau jejaknya. Dan ini
atas jasa murid dari jago tersebut yang bernama Giok-bin

KOLEKTOR E-BOOK 56
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Sin-eng Tian Yan Jing. Namun sekian banyak sudah orang
coba mencari balas, tapi kesemuanya dapat dikalahkan
oleh Kong Hiong. Begitulah, selekas diketahui akan tanda
kedatangannya beberapa musuh, cepat sekali si Kong
Hiong yang cerdas keji itu segera bertindak.
Pada gelombang pertama, Seng Ho sudah terus
dikurung oleh empat harimau Siamsay. Tapi di luar
dugaan, anak muda itu dapat lolos. Gelombang kedua pun
segera muncul, yang berupa sepasang pria dan wanita.
Kedua orang itu merupakan duri yang keras bagi Kong
Hiong. Sekalipun ilmu tombak Kong Hiong “kun-kwan-cap-
sa-jiang” sakti, dan tambahan pula dia memiliki ilmu sakti
”thian han sin kang", timpalan dari ilmu “bu heng cin bu"
(yang kosong berisi, yang berisi kosong), namun dia tak
mampu melukai lawannya yang ternyata lihay juga ilmu
pedangnya. Jadi sekalipun menang, tapi dia tak dapat
mengejar jejak kedua orang yang telah meloloskan diri itu.
Tentang kelihayan si Setan Tanpa Bayangan, tak
perlu disangsikan lagi. Tapi ternyata sepasang pria-wanita
itu mempunyai senjata gaib. Begitu tahu dirinya dalam
bahaya, mereka segera lepaskan senjata rahasia dan tanah
seluas 3 tombak di sekeliling tempat pertempuran itu
segera tertutup dengan asap tebal, sehingga kaburlah
mata Kong Hiog. Setelah asap buyar, maka sepasang pria-
wanita itu sudah lenyap. Bagaimana kemarahan Kong
Hiong ketika itu, sukarlah dilukiskan.
Kemarahan Kong Hiong makin me-luap² ketika pada
saat itu dia diberi laporan bahwa keempat pembantunya
utama (Nyo Ing cs) telah menderita kekalahan di tangan
seorang tua buta. Cepat Kong Hiong mengetahui siapa

KOLEKTOR E-BOOK 57
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
adanya si tua buta itu. Baginya, orang merupakan bisul
penyakit maut. Si buta itulah satu²nya sisa kaum Swat-
san-pay yang berkepandaian dalam, dan pada diri si buta
itulah terdapat kitab pusaka nomor 13 dari induk persilatan
Swat-san-pay. Ber-tahun² Kong Hiong sebar mata² untuk
mencarinya, tapi tak berhasil. Jadi teranglah kalau
keponakannya tadi (Oey Hiau), tentu dilukai oleh si buta
lihay itu. Teringat dia akan kata² sang adik seperguruan
(sumoay), apabila kitab pusaka “Khun-gwan-capsa-poo”
keluar dan mempersatukan diri dengan kitab pelajaran
Thay-it-hian-kang, maka di situlah nanti datangnya orang
yang akan menumpas dirinya!
Dengan adanya hal itu, Kong Hiong tak dapat dengan
tenteram menikmati kesenangan hidup atau jasamya
menjadi kaki tangan pemerintah Ceng. Dia selalu
mencemaskan peristiwa itu. Biar bagaimana, dia harus
dapat merampas kitab pusaka nomor 13 itu. Maka demi
didengarnya orang yang menyimpan kitab itu sudah berada
di dekat hidungnya, tanpa ber-lambat² lagi dia segera
menuju ke sana.
Dalam pengejaran, dia segera dapat mengenali ciri²
siasat pak buta. Tanpa banyak pikir, segera dia balik
menuju ke arah biara rusak. Dan benar kiranya dugaannya
tadi, disitu dia berjumpa dengan Seng Ho dan si bocah,
tapi si buta tak tampak. Sekalipun kecewa, dia tetap tak
mau gampang² melepaskan Seng Ho begitu saja. Karena
hal itu berarti suatu bencana di kemudian hari.
Tahu maksud siasat pak buta, Seng Ho tampak
tenang² saja menghadapi Kong Hiong yang dia tahu pasti
bukan lawannya.

KOLEKTOR E-BOOK 58
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
"Paman Go, mengapa seluruh badanmu terluka?"
tiba² si bocah bertanya. Dia tak mengerti kalau sang
"paman” itu tengah menghadapi bahaya besar.
“Ha, bocah kecil.…. luka itu belum seberapa, karena
aku masih menghendaki jiwanya! Hanya kau........."
Itulah Kong Hiong, tapi sebelum dia menyelesaikan
kata²nya, bocah tersebut sudah menukasnya. "Memang di
dunia ini selalu orang jembel yang di-sia² dan dihina.
Paman Go, lepaskan saya, biar kuikut tempur dia!“
Tertawa saja si Kong Hiong melihat tingkah si bocah
sebagai anak
kambing yang tak
takut kepada
harimau,
katanya: “Tuh,
macammu masa
mau unjuk
tingkah tengik di
hadapanku........?

"Bagaimana
kalau aku si tua
yang
menempurmu?"
tiba² terdengar
suara nyaring
berkumandang.
Malah seketika itu
segera tampak
sesosok

KOLEKTOR E-BOOK 59
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
bayangan putih berkilat menotok ke arah alis Kong Hiong.
Dan berbareng itu, ada lagi sesosok bayangan hijau yang
melepaskan benda² berkemerlapan melayang dari atas
terus menghujani Kong Hiong........
Betapa Kong Hiong mahir dalam pelbagai ilmu silat,
namun menghadapi serangan ber-tubi² yang datangnya
secara mendadak itu, diapun kaget tak terkira. Apalagi si
penyerang pertama itu telah menggunakan gerak serangan
fatal (maut) dan pula taburan senjata rahasia itu rapat dan
deras bagai hujan mencurah dari langit. Semestinya,
sekalipun Kong Hiong mempunyai 3 kepala dan 6 lengan
serta mempunyai ilmu lindung (dapat menghilang), juga
takkan dapat menghindar. Namun ternyata Kong Hiong si
Setan Tanpa Bayangan itu betul² dapat membuktikan
dirinya dengan apa yang disohorkan orang sebagai “orang
yang tiada lawannya di kolong dunia". Ketangkasan dan
kemahirannya menguasai setiap gerak perubahan ilmu
menjaga diri itu telah dapat menolong dirinya dari
cengkeraman maut. Sesaat perdengarkan suara tertawa
yang keras, tubuhnya segera bergerak memutar-mutar dan
terdengar beberapa kali suara gemerincing dari benda²
logam yang tertampar jatuh. Dan pada lain saat, dia sudah
menerobos keluar terus menyerang ke arah bayangan
putih dan hijau tadi!
Bok Buta tak menyangka sama sekali kalau Kong
Hiong sampai setingkat begitu kepandaiannya. Dia lalu
kerahkan seluruh jurus ilmu tombak “thian-han-capsa-
jiang” yang dahsyat mengerikan. Walau si bangsat Kong
Hiong kenal akan permainan itupun, namun masih ada
anak perempuannya yang bergerak menyerang dengan

KOLEKTOR E-BOOK 60
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
ilmu taburan berantai "han kim capsa jwan" sebagai
keseimbangan. Jadi biar bagaimana, tentunya si bangsat
itu tak nanti dapat lolos. Bahwa kenyataan Kong Hiong
dapat memecahkan serangan² maut itu telah
menyebabkan pak buta hilang faham. Benar² dia tak habis
mengerti, ilmu apa yang digunakan si bangsat ini!
Kiranya Kong Hiong tadi telah bergerak dengan ilmu
tombak “han kim liancu jiang" disertai dengan pengerahan
tenaga dalam “thian hian cin bu”. Pada hakekatnya, kedua
macam ilmu itu adalah serumpun, berasal dari perguruan
Swat-san-pay. Mungkin si Bok buta lupa bahwa ilmu
tombak itu adalah salah satu ilmu pusaka dari gaya Khun-
gwan (Swat-san-pay). Dan justeru ilmu tombak "han kim
jiang" tersebut adalah memang diperuntukkan
memunahkan serangan ilmu menabur senjata rahasia “han
kim capsa jwan" itu. Maka ibarat keris pulang ke
kerangkanya, musnahlah senjata² rahasia yang dilepas
oleh bayangan hijau tadi atau gadis cilik anak pak Bok.
Meskipun Kong Hiong dapat lolos dari taburan
senjata rahasia, tapi tak dapat lolos dari totokan tongkat
pak Bok. Sayang pak tua ini buta matanya, suatu handicap
besar. Meskipun dalam pertempuran dia berhasil menotok
jalan darah “in ciang hiat" si bangsat, tapi tak sampai
menyebabkan kematiannya. Karena Kong Hiong telah
mahir dalam ilmu “thian han cin bu", ilmu sakti pelindung
diri dari Swat-san-pay. Totokan pak Bok itu hanya dapat
memecahkan pengerahan tenaga dalam untuk menutup
lubang jalan darah saja, tapi tak sampai membinasakan
jiwa si bangsat. Andaikata pak Bok tidak buta, dapatlah dia
mendesakkan tongkatnya rapat² untuk mengurung Kong

KOLEKTOR E-BOOK 61
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Hiong sehingga dia tak sempat untuk meloloskan diri dan
menggunakan ilmu tombaknya. Dapat dipastikan, si
bangsat tentu akan mati konyol karena kecapean. Tapi apa
mau dikata, memang kenyataannya si Bok itu buta.
Sekalipun Kong Hiong tadi terlempar beberapa meter dari
kedudukannya, tapi dia tak menderita kerugian besar.
Kong Hiong pun menginsyafi kekalahannya itu, dia
sangat kecewa sekali. Terang kalau kitab pusaka nomor 13
dari ajaran Khun-gwan (Swat-san-pay) sudah di depan
mata, begitu dia berhasil dapat memilikinya, maka akan
sudah lengkaplah senjatanya. Dia sudah menguasai 12
macam ilmu pusaka Khun-gwan, itu saja sudah dapat dia
malang-melintang tanpa tanding di dunia persilatan. Kalau
ditambah lagi dengan kitab pusaka nomor 13 itu, dia pasti
dapat merajai kaum persilatan. Tapi dia tak menyangka
kalau sampai kena dibokong oleh si buta yang sedemikian
lihay ilmu totokannya sehingga dia kena tertotok pecah
pemusatan tenaga dalam “thian han cin bu".
Kini bukan saja dia harus lepaskan hasratnya
memiliki pusaka itu, pun dirinya menghadapi tekanan berat
dari hajaran tongkat Bok buta dengan dibantu anak
gadisnya yang menyerang dengan giok-tiok (seruling
kumala). Benar masih ada dua orang pembantunya yang
menunggu di luar, tapi mereka itu terang bukan
tandingannya si buta dan anaknya itu. Tengah dia me-
nimbang² pikirannya itu sambil bertempur mati²an
melayani desakan si buta dan anaknya, tiba² terdengar
tombaknya tergetar keras ditimpa oleh sebuah benda yang
berat. Bukan main terkejutnya sewaktu diketahui bahwa
benda itu ternyata adalah senjata bandul tok-liong-so. Dan

KOLEKTOR E-BOOK 62
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kagetnya makin men-jadi² demi tampak si pemain tok-
liong-so itu bukan lain yakni si jembel muda. Kini yakinlah
dia sudah, bahwa ternyata Ong Thing Kau itu masih
mempunyai ahli waris murid...........
Begitu serangan lawan dapat Kong Hiong tangkis,
tahu² seruling kumala dari gadis cilik itu sudah
memagutnya. Tapi Kong Hiong tetap dapat menguasai
permainannya. Dengan gerakan kaki yang ber-pindah², dia
miringkan tubuhnya ke samping untuk menghindar. Tapi
pada saat itu, dari arah muka tongkat pak Bok ber-kilap²
seperti halilintar menyambar. Mau tak mau dia geleng²
kepala karena kagum. Kaum persilatan yang dapat
menggunakan tongkat seperti menggunakan jwan-pian
(ruyung lemas) dan dapat pula menggunakannya sebagai
alat penotok macam senjata pedang, hanya boleh dihitung
dengan jari jumlahnya. Benar² pak buta itu bukan
sembarang ahli, malah² yang nomor wahid rupanya!
Cepat Kong Hiong bungkukkan tubuh, sambil ulurkan
tangan kirinya untuk menekan ujung tongkat, dia
hantamkan tombak di tangan kanan dengan se-
kuat²nya.... trang! Sesaat itu kedengaran pak buta
menggeram dan dua sosok bayangan putih dan hitam (si
Bok dan Kong Hiong) masing² sama terpental mundur
beberapa tindak. Kong Hiong dengan cepat dapat
memperbaiki posisinya dan terus putar tombaknya untuk
menyerang dada lawan. Tapi pada saat itu, dari samping
kanan berkelebat sebuah benda hitam dan dari samping
lain melesat sesosok bayangan hijau, menotok bahu Kong
Hiong.

KOLEKTOR E-BOOK 63
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Sebenarnya
Kong Hiong tak
menghendaki dirinya
terlibat lama² dalam
pertempuran itu.
Dalam detik² yang
mengancam itu dia
perdengarkan suara
ketawanya yang
panjang lantang,
tombaknya diputar
untuk menangkis dan
menahan serangan²
itu, lalu bagaikan
ikan meletik dia
melesat ke ambang
pintu. Lagi² dia
ketawa panjang
lantang dan berseru:
"Malam ini kutangguhkan kematianmu sekalian. Hal
ini karena aku masih mengingat hubungan sekaum dengan
kalian. Tapi ingat, lambat laun kalian pasti takkan lolos dari
tanganku........….."
Karena mengkal, si gadis berpakaian hijau itu terus
akan mengudaknya tapi segera dicegah oleh pak buta,
siapa tampak memandang ke muka dengan mimik yang
berkesan dalam. Tiba² dia membungkuk dan tempelkan
telinganya ke tanah, kemudian berseru: “Hayo, kita lekas
berangkat......"

KOLEKTOR E-BOOK 64
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Hendak si gadis pertanyakan halnya, tapi si buta
memberi isyarat supaya berangkat dengan segera!
Kini Seng Ho takluk benar pada pak buta. Karena
diapun bingung hendak mencari tempat perlindungan,
maka dengan adanya seorang pelindung seperti pak Bok
itu, kiranya tak perlu dia berbanyak pikiran lagi. Dengan
tak bertanyakan apa² lagi, dia terus menghampiri si bocah
untuk dipanggulnya. Juga bocah ini baru terbuka matanya,
siapakah gerangan ketiga pelindungnya itu. Diapun tak
mau banyak bicara lagi dan rela dibawa.
Pak Bok tampak letakkan tangannya di bahu anak
gadisnya, hanya sekali kakinya bergerak, dan bergerak
kedua anak beranak itu dengan cepatnya menuju keluar
biara. Seng Ho mengikutinya darl belakang.
Hari sudah terang tanah, di jalan pun sudah tampak
ada orang. Tiba² pak Bok berpaling kepada Seng Ho,
katanya: "Baik kau ganti pakaianmu yang berlumuran
darah itu. Kita cari tempat mengaso dulu untuk
berunding........."
Begitulah, tak berselang berapa lama mereka sudah
jauh dari kota Siangyang. Tiba di sebuah desa, mereka
mencari sebuah rumah penginapan. Disewanya dua buah
kamar, satu untuk pak Bok dan puterinya dan yang satu
untuk Seng Ho dan si bocah. Syukur tempat itu agak sepi,
jadi sedikit ada apa² tentu mereka dapat mendengarnya.
Waktu akan beristirahat, pak Bok pesan agar Seng Ho dan
bocah itu mengaso baik² untuk memulangkan kesegaran
badan.
Syukur Seng Ho banyak membekal uang, karena
sebenarnya dia itu seorang pedagang. Hanya karena untuk

KOLEKTOR E-BOOK 65
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
menyembunyikan dirilah, maka dia telah menyaru sebagai
pengemis. Disuruhnya pelayan hotel membelikan beberapa
stel pakaian untuk mereka berempat. Demikian pak Bok
dan anak gadisnya: Siu Sian, si bocah dan dirinya sendiri
masing² lalu berganti pakaian. Ketika pak Bok dan Siu Sian
masih belum bangun, Seng Ho pun tak berani mengganggu
dan hanya ajak si bocah ber-cakap². Dia menyatakan
sesalnya karena sewaktu si bocah disiksa oleh Oey Hiau,
dia tak buru² menolong: “Seharusnya aku hendak turun
tangan dengan lekas tapi urusanku yang maha penting itu
tak mengijinkan diriku diketahui orang. Ah, nak...… kau
maafkanlah!"
"Paman Wan, aku tak jerihkan itu. Memang di dunia
ini, kita kaum jembel selalu diperhina orang! Benar, paman
Wan, aku telah mengalami pelbagai penderitaan. Aku tak
persalahkan mereka, tapi persalahkan kaisar itu. Kalau
tidak karena gara²nya, tak sampai kuterlantar begini, tak
nanti ayah sampai tak ketahuan rimbanya. Karena tak kuat
menahan penderitaan itu, maka ibuku sampai mati
merana........ ibu pesan padaku supaya keraskan hati
melayari hidup dan harus membalas sakit hati itu..….
Kukira apa yang dapat kukerjakan, ialah berunding dengan
kyai Kelinci. Dia senantiasa tertawa, dan ini kuanggap dia
selalu memberkahi daku!"
Seng Ho menatap bocah itu dengan seksama,
kemudian katanya dengan sayu, “Aku belum bertanyakan
asal usulmu."
“Aku she Ceng, ayahku mengusahakan percetakan
buku. Turut keterangan ibu, ayah telah menerbitkan buku²
yang menentang kekuasaan pemerintah Ceng sekarang ini.

KOLEKTOR E-BOOK 66
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Ini melanggar hukum, ditangkap dan dibuang entah ke
mana. Dengan membawa diriku, ibu cepat² tinggalkan
rumah untuk melarikan diri dari Peking. Beliau bermaksud
untuk pulang ke tempat nenek di kota Siangyang. Tapi apa
lacur, nenek serumah tanggapun telah ditangkap oleh
pemerintah. Agar aku jangan lupakan peristiwa berdarah
akibat kerja ayah itu, maka beliau memilih nama "Ji Hiat"
(huruf berdarah) untukku. Jadi setiap huruf yang ditulis
ayah itu berarti setetes darah beliau yang mengucur.... tapi
selamanya Ibu memanggilku Hiat-ji (anak darah)......."
Tampak oleh Seng Ho, ketika menuturkan kisah
hidup keluarganya itu wajah anak itu berobah sungguh,
sikapnya tegang keras. Tiba² terbangunlah semangat Seng
Ho. Berapa banyak sudah darah mengalir, jiwa melayang.
Darah dan jiwa dari para pahlawan yang hendak
menumbangkan kekuasaan pemerentah asing. Pernah guru
Seng Ho berkata: “Semangat cinta tanah air belum padam,
perjuangan pembebasan ini tetap berjalan, patah tumbuh
hilang berganti. Kalau tidak begitu, akan sia² sajalah
pengorbanan suci dari kaum gagah kita itu. Dan dendam
darah itu akan tetap terkubur se-lama²nya."
Teringat pula Seng Ho, bagaimana sang guru dahulu
senantiasa memupuk tunas² dari angkatan muda. Hiat-ji
ternyata seorang tunas harapan yang berperibadi. Ya, aku
harus membimbingnya untuk menjadikannya tunas
penyambung cita² kaum kita ..….. Memikir sampai di situ,
timbullah rasa sayang yang mendalam dari Seng Ho
kepada anak itu.
Ketika Hiat-ji rebah di dalam biara tua karena luka²
hajaran si jahanam Oey Hiau, Seng Ho lah yang setiap hari

KOLEKTOR E-BOOK 67
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
mengunjunginya untuk membawakan makanan dan
obat²an. Dan memang anak itu dapat membedakan mana
dendam mana persahabatan. Budi Seng Ho itu tertanam
dalam² di kalbunya. Lebih² ketika Seng Ho menyerahkan
kepingan tubuh kyai Kelinci yang dibanting Oey Hiau,
makin dekatlah rasa persahabatan itu. Demikianlah, kini
antara Seng Ho dan Hiat-ji telah tergalang persatuan hati
yang amat mesra. Sedikitpun tak terlintas dalam hati Seng
Ho, bahwa detik² itu amat penting sekali dalam sejarah
kehidupannya nanti. Karena adanya hal itulah maka dia
dapat mati dengan puas, jika tiada hal itu maka dendam
darahnya pasti se-lama²nya takkan terhimpas. Tapi hal itu
terjadi di kemudian hari, baik pembaca nanti ikuti jalannya
cerita ini dengan sabar.
Pada saat itu, pak Bok dan Siu Sian pun sudah
bangun. Juga Siu sian suka dengan Hiat-ji, sebaliknya anak
itupun begitu. Terutama dia sangat kagum akan
kepandaian si nona. Ingin benar dia mempunyai
kepandaian begitu. Pernah almarhum ibunya berkata:
"Sedapat mungkin kau harus belajar ilmu silat, agar dapat
melaksanakan pembalasan sakit hati negara dan keluarga!”
Lama nian Hiat-ji berharap dapat berjumpa dengan
seorang berilmu yang suka menerimanya sebagai murid.
Sayang, selama dalam perantauannya itu belumlah dia
bersua dengan orang yang di-idam²kannya itu. Satu²nya
pelajaran yang diyakinkan, yakni menjadi “orang yang
teguh hati dan keras kemauan", serta dapat mengenal
seluk-beluk kehidupan dan masyarakat.
Adalah mungkin sudah suratan nasibnya bahwa Hiat-
ji bakal menjadi seorang pahlawan besar (tayhiap) di

KOLEKTOR E-BOOK 68
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kemudian hari, sehingga dia tak mempunyai peruntungan
berjumpa dengan orang² gagah yang berkaliber rendah.
Sekali ini pada pikirannya, dia telah bertemu dengan orang
yang di-cita²kan itu. Tapi sedikitpun dia tak mengira, kalau
dengan penolong²nya yang ternyata ahli² silat luar biasa,
itupun dia tak mempunyai peruntungan untuk
mendapatkan bimbingan mereka. Ya, bukan saja tak
mendapat ajaran suatu apa², malah² jiwanya sendiripun
hampir melayang. Adakah itu sudah menjadi garis
hidupnya, atau memang masih harus mengalami ujian
hidup dulu sebelum mendapat kebahagiaan itu? wallahu
a’lam!
Panjang lebar Siu Sian bertanya tentang diri Hiat-ji,
lalu diperkenalkan juga anak itu kepada ayahnya. Dalam
kesempatan itu, Seng Ho pun memperkenalkan dirinya. Dia
menuturkan kisah kebinasaan sang kakek guru, yakni Ong
Thing Kau. Jago ini telah dikerubuti lima jago bayangkari
dari istana yang disebut “Lima Tua” (Ngo Lo). Ong Thing
Kau ternyata seorang jago yang tangguh. Dia dapat
membunuh empat jago dari Lima Tua itu, namun
dirinyapun terluka berat oleh Kong Hiong. Syukur, berkat
kenekatan sang murid, Tian Yan Jing, ia berhasil loloskan
Ong Thing Kau dari kepungan musuh. Namun karena luka
parah, akhirnya diapun menemui ajalnya.
Demi mendengar kisah sedih itu, pak Bok menghela
napas dalam², katanya: “Ketika itu aku dihukum harus
tinggalkan rumah perguruan selama 7 tahun. Sekembaliku
ke gunung, barulah kuketahui tentang peristiwa berdarah
itu. Sekalipun dalam perguruan kita terdapat catatan
rahasia tentang kejadian itu dari mula sampai akhir, tapi

KOLEKTOR E-BOOK 69
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
yang kuketahui hanyalah bahwa murid murtad itu orang
she Biau, nama Sam Wa! Dia mencemarkan kehormatan
sumoaynya (adik seperguruan), mengganas di daerah
Kangtang, berserikat dengan penjahat asing dan yang
paling hebat membumi-darahkan gunung Swat-san.
Kurang lebih 28 orang murid Swat-san-pay dari angkatan
ketiga telah habis dibinasakan semua. Sampai kini,
rerangka² dari korban² itu masih tetap disimpan di lembah
Kun-gwan-kok, di gua batu yang ketiga belas di lembah
itu. Ber-tahun² kuselidiki, baru kuketahui kalau penghianat
itu telah merobah namanya sebagai Biau Kong Hiong.
Sayang, dia sudah berhasil memiliki 12 macam kitab
pusaka dari perguruan kita. Tadi, aku berdua dengan
anakku telah mengerubutinya, tapi tak berhasil
mengalahkan. Mungkin ini sudah menjadi peruntungan dari
kaumku. Kini jejakku telah diketahuinya, kalau bangsat itu
tak mengejarnya, itu sih tak mengapa. Tapi kalau dia tak
mau lepaskan kita, berbahayalah. Aku tengah mencari akal
rencana langkah kita yang mendatang ini. Apabila
kukembali ke gunung Swat-san, mungkin bangsat itu akan
mengejarnya. Tadi telah kutetapkan keputusan, kita
menuju ke Tiong-goan (Tiongkok tengah) dulu, dari situ
terus menuju Kwan-gwa (luar perbatasan), untuk
kemudian dengan memutar kita kembali ke gunung. Hanya
saja, bangsat itu kelewat waspada. Rasanya sukarlan bagi
kita untuk lolos dari bahaya sergapnya. Kita hanya dapat
menyesuaikan diri dengan gelagat nanti!"
Demikianlah, malam itu juga mereka berangkat,
menyeberang sungai menuju ke kota Wulung. Pada hari

KOLEKTOR E-BOOK 70
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
ketiga mereka sudah melintasi propinsi Oupak. Tapi pada
saat itu tentara pemerintah sudah nampak mengejarnya!
Klranya setelah Kong Hiong terpukul ilmu-pelindung-
diri (tenaga dalam “cin bu"), dia bergegas pulang. Segera
dia keluarkan perintah penting, mengirim pasukan
pengejar. Di sepanjang jalan, telah penuh dipasangi
pertandaan rahasia. Walaupun pak Bok bersikap waspada,
tapi sayangnya dia itu buta. Jadi penandaan rahasia musuh
di sepanjang jalan itu, dia tak berdaya mengetahuinya.
Karena itulah, maka dengan leluasanya anak buah Kong
Hiong dapat mengikuti jejak keempat orang itu. Andaikata
Kong Hiong tak terluka, mungkin pada hari kedua saja, dia
sudah dapat menyergapnya.
Bok buta pun tahu betapa sukarnya untuk lolos dari
jaring perangkap musuh, karena biar bagaimana bangsat
itu pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan kitab
pusaka yang dibawanya itu. Diapun bersiap sedia.
Diberikannya kitab itu kepada Siu Sian untuk disimpan
dengan dipesannya wanti²: apabila sampai terjadl apa²,
dia (Siu Sian) harus berusaha keras untuk menyelamatkan
pusaka itu. Kemudian harus berusaha sedapat mungkin
untuk mencari kitab “Thay-i-keng". Dengan memahami
ilmu dalam kedua kitab itu sajalah baru nanti dapat
menumpas bangsat itu. Bok buta minta sang puteri ingat
betul pesan itu.
Benar mulut Siu Sian tak membantah, tapi dalam
hati anak dara yang tengah menjelang dewasa itu, dia tak
mau mengaku kalah dengan si bangsat. Dan yang paling
celaka, dara itu tak percaya kalau Kong Hiong mampu
menyusul jejak mereka.

KOLEKTOR E-BOOK 71
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Beda dengan pikiran Seng Ho. Anak muda ini cukup
insyaf akan kelihayan si bangsat mengatur tipu rencana.
Dia percaya, kalau bangsat itu tentu dapat mengejar
mereka. Satu²nya harapannya, muda²han Kong Hiong
salah perhitungan, hingga dapatlah sekawan orang itu lolos
dari cengkeramnya. Tapi dia tak berani banyak mengharap
akan terkabulnya harapannya itu!
Selama dalam perjalanan, Hiat-ji telah diangkat
sebagai murid oleh Bok buta. Pak Bok cukup mengetahui
jelas akan pribadi Hiat-ji, tambahan pula ketika menguruti
tubuh anak itu dahulu, diapun mengetahui bahwa anak itu
dikaruniai tulang² bakat menjadi ahli silat. Ingin benar pak
Bok mendapatkan tunas muda itu sebagai muridnya, tapi
dia masih belum tenang memikirkan bahaya yang
mengancam setiap saat itu. Namun akhirnya diambilnya
juga anak itu sebagai muridnya, katanya:
”Nak, aku suka padamu. Tapi tentang dapat tidaknya
aku memberi pelajaran silat padamu, itu tergantung jodoh
kita nanti. Asal aku tak keburu meninggal, kawanan
bangsat itu tak berhasil mengejar, nah, tugas berat dari
kaum Swat-san-pay akan kuletakkan di atas bahumu!"
Hiat-ji menghaturkan terima kasih, katanya: "Murid
mengerti maksud suhu itu. Murid tak percaya suhu sampai
kena apa². Sekalipun nanti terjadi apa², selama murid
masih bernapas, murid tentu akan membalaskan sakit hati
itu..….."
Tergeraklah hati pak Bok mendengar kata² si bocah
itu, katanya: ”Bagus, nak. Ingatlah, tugas membangun
kubu² perguruan Swat-san-pay terletak di bahumu! Kau
sudah menyanggupi hal itu!"

KOLEKTOR E-BOOK 72
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Sekalipun belakangan ikatan guru dan murid itu
belum menjadi kenyataan, namun ikrar yang telah
diucapkan dalam percakapan itu, telah terpateri kuat².
Sekalipun Hiat-ji tak pernah mendapat pelajaran silat dari
pak Bok buta, namun kelak dialah yang akan membangun
kubu perguruan Swat-san-pay. Dalam pergolakan kaum
persilatan belakang hari, banyaklah terjadi peristiwa²
besar. Tapi menilik jalannya kejadian, kesemuanya itu
pararel (segaris) dengan isi percakapan pak Bok dengan
Hiat-ji itu!
Diluar dugaan, malam itu Kong Hiong sudah dapat
menyusul rombongan pak Bok. Di tengah sebuah jalan
pegunungan di sekitar hutan Sin-ya, tampak Kong Hiong
menghadang di muka. Dia rupanya. seorang diri saja.
Sambil tertawa, berkatalah jago bayangkari itu:
“Bok buta, kupercaya tentunya kaupun sudah
mengetahui bahwa aku ini adalah murid Swat-san-pay.
Hanya Ha Kun Gwan ada sedikit salah faham padaku. Hal
ini tak perlu kau mengatakan sekarang, karena toh kau
sudah mengetahui sendiri. Kaupun tentunya mengetahui
juga, bahwa dalam tata ketentuan perguruan Swat-san-
pay telah dicantumkan bahwa kitab pusaka ke tigabelas itu
tak boleh hilang. Kini aku telah memiliki yang 12 buah.
Sisanya yang satu, kau bawa. Mengingat kita sama²
sekaum, kita selesaikan hal itu dengan jalan damai saja.
Kitab ilmu totokan ”thian han tiam hiat" itu, kau berikan
padaku dan aku takkan melakukan apa² padamu, artinya
kau bebas. Apabila usulku ditolak, terpaksa kita tempuh
dengan kekerasan. Dan ini berarti kamu yang cari
kesusahan sendiri!"

KOLEKTOR E-BOOK 73
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Tak sangka Bok buta kalau sedemikian cepatnya
Kong Hiong sudah dapat menyusul, malah berani membuka
suara temberang. Atas itu, dia me-nimbang² sejenak. Dia
memiliki kepandaian yang tangguh, mahir dalam “thian
han tiam hiat", ilmu tutukan Swat-san-pay serta ilmu
meremas tulang menghancurkan urat nadi. Tapi bangsat
itu memiliki ilmu tombak “han kim ciang", yakni ilmu
pusaka pertama dari kaum Swat-san-pay. Dengan ilmu
pembelaan “khun wan tho" dan ketiga belas jurus dari ilmu
tombak yang sakti itu, rasanya sukarlan untuk Bok buta
mendekati lawan guna menggerakkan ilmu meremas
tulang. Ilmunya tongkat “capsa tiang", terang tertindih
oleh ilmu tombak “capsa jiang” dari lawan. Jadi menurut
balans, sekalipun dia maju dengan anaknya ditambah ikut
sertanya Seng Ho, tetap masih sukar melawan si bangsat.
Tempo hari dalam pertempuran di biara tua, dia telah
kehilangan kesempatan bagus untuk membinasakan lawan.
Kalau kini mereka berhadapan pula, tentu si bangsat itu
sudah siap sedia. Terang, bahwa untuk lolos kali ini,
rupanya sukarlah!
Kong Hiong menunggu jawaban! Pak Bok sebenarnya
seorang yang cerdas. Sayang, dia dihadang di tempat
semacam itu. Karena dia tak dapat melihat akan keadaan
di sekelilingnya, maka dia tak berdaya untuk mencari jalan
lolos. Tiba² dari arah samping kiri terdengar suatu suara
yang lemah, namun hal itu cukup dapat ditangkap oleh
pendengaran pak Bok. Dia tenangkan plkirannya.
Walaupun belum diketahui jelas, tapi dia yakin suara itu
adalah suara orang. Entah lawan, entah kawan. Tapi
karena urusan sudah berlarut sampai sedemikian

KOLEKTOR E-BOOK 74
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
hebatnya, mau tak mau dia harus bertindak. Dengan suara
lembut dia tanyakan pada Siu Sian tempat apakah arah kiri
situ. Setelah itu dia lalu menjawab Kong Hiong:
"Bangsat she Biau, kau menghina suhu, membasmi
kaum sendiri, menghianati rakyat. Jangan kata ilmu
tutukan pusaka kaum kita, sedang barang kita yang
bagaimana tak berharganya pun tak nanti rela kuberikan
padamu! Jangan kau mengimpi mau seperti "harimau
tumbuh sayap"! Mau mengumbar angkara murkamu! Aku
orang she Bok ini kalau selama masih hidup tak dapat
makan dagingmu, nanti kalau mati dan menjadi setan pun
tetap tak mengampuni kau!"
Dalam pada itu, Siu Sian memberi keterangan bahwa
arah kiri mereka itu ada sebuah jalan kecil yang mestinya
dapat dipakai untuk jalan lolos. Setelah memperhitungkan,
berkata pulalah Bok buta kepada Kong Hiong. Malah kali ini
suaranya lantang sekali: “Jahanam, lain kali kita bertemu
lagi!"
Begitu selesai mengucap, dengan sebatnya dia bawa
Hiat-ji dan Seng Ho melesat ke arah samping kiri. Gerakan
Bok buta itu cepat sekali, tapi si Kong Hiong lebih cepat
lagi. Tapi syukurlah, secara gaib tiba² segulung asap tebal
muncul di tengah, menghadang Kong Hiong.
Juga pak Bok sedikitpun tak menyangka bahwa di
balik tumpukan rumput situ terdapat dua orang
bersembunyi, siapapun tampak mengikuti rombongan pak
Bok. Kiranya kedua orang asing itu, sudah kenal Seng Ho.
Ingin sekali mereka menegur Seng Ho, tapi karena suasana
masih diliputi ancaman maut, terpaksa mereka bungkam
dulu. Mereka berniat untuk secara diam² membantu

KOLEKTOR E-BOOK 75
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
perjuangan pak Bok, tapi karena yang tersebut belakangan
itu berusaha cepat untuk loloskan diri, maka akibatnya
kedua penolong itu dan Seng Ho telah menderita.
Kong Hiong cepat mengejar, dan yang lebih dulu
kecandak adalah kedua orang itu beserta Seng Ho. Lagi²
kedua orang itu lepaskan kiu-yan-tan, pelor asap. Asap
tebal segera ber-gulung² membubung ke atas, memegat
penglihatan orang. Tapi kali ini Kong Hiong tak mau
berlaku sebodoh tadi. Cepat dia jejakkan kaki, membubung
ke atas. Di tengah udara dia tendangkan kakinya dalam
gerak "dalam awan naik tangga". Badannya mencelat lagi
kira² tiga tombak ke atas. Dari situ dia lepaskan
pandangannya. Ternyata di sebelah kiri dari pegunungan
situ, tampak tiga sosok tubuh bergerak pesat. Dia geram
sekali dengan mereka. Dengan gerak ”burung elang
meluncur ke dalam air”, dia lanjutkan gerakan tubuhnya
untuk melayang ke muka. Begitu berhasil melampaui
gulungan asap, dia terus mengudaknya.
Kiranya ketiga sosok tubuh itu bukan lain adalah
Seng Ho dan sepasang pria wanita yang hendak mencari
balas padanya itu. Sedang pak Bok dan anaknya sudah tak
ketahuan lagi. Kong Hiong tumpahkan kemarahannya
kepada sepasang pria-wanita yang telah melepaskan
peluru asap itu. Tiada pak Bok, mereka pun boleh juga,
karena kalau tidak dibasmi tentulah mereka itu akan
mengadu biru lagi. Setelah mengambil ketetapan, Kong
Hiong percepat pengejarannya.
Tadi sewaktu menyaksikan asap ber-gulung² itu Seng
Ho kaget dalam hatinya, tanpa terasa dia berseru: “Adakah
kanda Sing Je yang datang ini?!"

KOLEKTOR E-BOOK 76
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Seruan itu disambut dengan munculnya seseorang
dari tengah gulungan asap. Orang itu terus menyeret
tangan Seng Ho untuk diajak lari. Ternyata orang itu
memang seperti yang diduga oleh Seng Ho, yakni menantu
kesayangan dari suhunya yang bernama Hu Sing Je. Dan
wanita yang mengikuti di belakangnya bukan lain adalah
puteri angkat suhunya yang bernama Ong Gwat Kwan. Hati
Seng Ho girang tercampur kaget. Namun dia tak sempat
untuk ber-kata², karena harus mengikuti keduanya lari
dengan pesatnya. Jadi sambil lari, mereka sambil ber-
cakap².
Kini baru Seng Ho mengetahui bahwa sepasang
suami-isteri itu telah menetap di gunung Tiam-jong-san
untuk meyakinkan ilmu pedang “hun kong kiam", pedang
membelah sinar. Karena anggap peyakinannya sudah
cukup mahir, mereka lalu turun mencari Kong Hiong untuk
membalas dendam. Tapi ternyata, dalam pertarungan
pertama kali mereka telah kena dikurung oleh ilmu silat
serba tiga belas jurus dari si bangsat. Untunglah Sing Je
dapat bertindak cepat. Dia lepaskan 3 buah pelor asap
untuk mengaburkan penglihatan lawan. Dan tipu itu
ternyata berhasil sehingga mereka dapat meloloskan diri.
Seng Ho pun lalu tuturkan pengalamannya yang
pahit selama ini. Diapun gagal dalam usahanya mencari
balas kepada si bangsat. Untunglah dia berjumpa dengan
pak Bok tua yang ternyata adalah jago terdendam dari
Swat-san-pay. Tapi mereka tetap dikejar oleh si bangsat
itu. Tepat pada saat Seng Ho membicarakan hal bangsat
Kong Hiong, mereka rasakan di udara ada angin meniup
keras, dan sesosok tubuh tampak melayang ke muka.

KOLEKTOR E-BOOK 77
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Itulah Biau Kong Hiong, dan dia kini sudah tegak
menghadang di tengah jalan. “Ai.............!" Seng Ho dan
Sing Je berbareng mengeluarkan jeritan tertahan. Tanpa
kata ba atau bu, tombak Kong Hiong ber-kilat² menyambar
ketiga orang itu.
Tahu kalau sepasang suami isteri itu membekal pelor
asap, Kong Hiong terus saja mendesak mereka supaya
jangan mempunyai kesempatan melepaskan pelornya. Dan
karena kepandalan jago bayangkari itu memang beberapa
tingkat lebih tinggi dari lawan²nya, maka dalam sekejab
saja mereka bertigapun segera menjadi sibuk dibuatnya.
Seng Ho telah mendapat pelajaran ilmu bandul tok-
liong-so dari sang suhu yang disebut “hong hun sin cau",
permainan sakti dari angin dan awan. Gelombang
serangannya men-deru² bagai ombak mendampar.
Memang anak muda itu sudah menetapkan tekad, bahwa
hari ini dia hendak bertempur mati atau hidup. Ketika pada
lain saat tombak Kong Hiong menjuju ke badannya, anak
muda itu tak mau berkelit atau menangkis. Dia hanya
barengi menyerang dengan tok-liong-so-nya. Biar dia
terkena tombak, asal diapun dapat menghantam lawan.
Dia hendak mengajak mati berbareng pada Kong Hiong.
Tapi Kong Hiong bukan jago kemaren sore. Tak mau
dia pertukarkan jiwanya dengan anak muda yang tak
bernama itu. Maka, demi nampak cara bertempur dari
lawannya itu, tertawalah dia dengan tawarnya. Cepat
tombak ditariknya pulang, sambil mengincar ke arah si
anak muda, dia berseru : “Kajem bangsat, kau sendirilah
yang minta di kirim ke akherat, jangan kau sesalkan aku!
Kini mari kuantarkan kau ke sana...........!"

KOLEKTOR E-BOOK 78
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kata²nya itu segera ditutup dengan bergeraknya
tombak. Sesaat itu segera tampak sebuah bianglala emas
me-layang² bagaikan gelombang yang menimpa ke arah
Seng Ho. Meskipun tadi Seng Ho sudah bulat tekadnya
untuk mempertaruhkan jiwanya, namun demi nampak
permainan tombak lawan yang sedemikian dahsyatnya, dia
melengak kesima. Tapi insyaf apa artinya itu, dia terus
kibaskan tok-liong-so. Sebuah suara gerontangan yang
dahsyat segera kedengaran dan menggerunglah Seng Ho
dengan murkanya, serta darahpun muncrat. Apakah
gerangan yang terjadi?
Kiranya telah terjadi benturan hebat antara tombak
dan tok-liong-so, dengan kesudahan, rantai naga berbisa
itu telah putus. Separuh dari rantai yang berujung bandul
itu terlempar jauh hingga beberapa meter. Sedang
orangnya pun terhuyung jatuh ke tanah. Dan membarengi
dengan itu, Kong Hiong susulkan tombaknya dengan gerak
“thian bun gay", membuka pintu langit. Dada Seng Ho
diguratnya memanjang seperti sebuah sungai darah.
Setelah berhasil membereskan si anak muda, lagi² si
Setan Tanpa Bayangan itu keluarkan ketawa panjang yang
temberang. Tapi berbareng pada saat itu, tampak segulung
asap tebal membubung ke udara. Kong Hiong berkeluh
menjerit, tapi sudah terlambat, penglihatan matanya
segera tertutup dengan asap itu. Cepat dia loncat ke atas,
dan tampak di sebelah muka sana ada orang berkelebat
pergi. Buru² dia buang dirinya ke muka melampaui
gulungan asap terus hendak mengejarnya. Tapi baru saja
dia berhasil melampauinya, kembali sebondong asap tebal
ber-gulung².

KOLEKTOR E-BOOK 79
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Bukan kepalang
mendongkolnya Kong
Hiong. Lagi² dia
meloncat ke atas, tapi
ternyata di sekeliling
arah muka sana sudah
tak tampak bayangan
suatu apa. Dia geram
sekali kepada
sepasang pria-wanita
itu, tapi apa daya,
sang burung sudah
mabur jauh.
Kalau hanya tak
dapat menangkap
sepasang burung itu,
sih tak mengapa.
Yang paling dibuat gegetun ialah karena gara² kedua orang
itulah maka sampai pak Bok dapat meloloskan diri. Padahal
si buta itulah yang paling utama. Karena hanya pada dialah
nantinya impian Kong Hiong untuk menjagoi seluruh dunia
persilatan dapat terlaksana.
Terpaksa Kong Hiong kembali ke kota Sin-ya untuk
menunggu laporan² dari berbagai fihak tentang jejak pak
Bok. Sedikitpun dia tak menghiraukan akan keadaan Seng
Ho, karena diduganya si anak muda itu pasti sudah
melayang jiwanya. Dan kelalaian inilah, yang walaupun
nampaknya soal kecil, tapi akan merupakan bencana
baginya di kemudian hari.

KOLEKTOR E-BOOK 80
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kiranya meskipun Seng Ho menggeletak dengan
bermandikan darah, tapi dia belum mati dan hanya terluka
parah saja. Ketika ditusuk tadi, Seng Ho tak sempat
mengeluarkan jeritan, terus rubuh tak sadarkan diri. Untuk
melampiaskan kekejiannya, Kong Hiong susuli lagi
menggurat sepanjang dada Seng Ho, hingga dada anak
muda itu melowak (menganga) besar sehingga hampir
sampai ke bahunya.
Tempat pertempuran itu jarang sekali didatangi
orang. Jadi tiada seorangpun yang lewat di situ dan
mengetahui ada orang menggeletak. Tiba² udara berobah
mendung dan tak antara lama kemudian turunlah hujan
lebat. Air hujan itu telah mengguyur muka dan tubuh Seng
Ho sehingga dia sadar dari pingsannya. Tapi dikarenakan
lukanya kelewat parah, dia hanya dapat membuka
sepasang matanya, tapi sedikitpun tak dapat berdaya apa².
Seluruh tubuhnya dirasakan lemas tak bertulang, seluruh
daya kekuatannya lumpuh. Ingatannya masih lemah kabur,
sedang benak otaknya berdenyut keras seperti hendak
memecah kepalanya. Dadanya yang terluka itu, jangan
dikata lagi, nyeri sakitnya terasa menyusup ke dalam
sunsumnya. Insyaflah dia, bahwa kali ini dia pasti tak
dapat hidup lebih panjang lagi. Bayang² si Malaikat Maut
sudah tampak me-lambai²kan tangannya. Memikir sampai
di situ, dia, menghela napas, namun untuk keheranannya,
embusan napasnya pun tak kedengaran. Ya, walaupun dia
sudah merasa telah bernapas. Benar di bajunya dia ada
menyimpan obat mujijat, tapi jangan kata untuk
menggerakkan kedua tangannya, sedang untuk bergerak
sedikit saja, rasanya sudah tak mempunyai kekuatan lagi.

KOLEKTOR E-BOOK 81
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Bahkan nyeri sakitnya makin lama terasa menyerang hebat
dan napasnya pun makin lemah.
Begitulah keadaan Wan Seng Ho yang sangat
mengenaskan itu. Dia hanya menanti saat kedatangan si
Malaikat Maut saja. Tapi dasarnya dia belum ditakdirkan
mati pada saat itu, tiba² dari arah kejauhan terdengar
suara ber-detak² dari roda kereta yang tengah
mendatangi. Makin lama makin dekat ke tempat situ. Seng
Ho kerahkan sisa² tenaganya untuk bergerak, tapi kasihan
dia…... makin bergerak makin sakit, sedang untuk
bernapas sedikit saja, dadanya terasa bukan kepalang
sakitnya. Kembali dia mengeluh napas putus asa.
Syukurlah, pada saat itu hujan mulai reda. Dan entah
kebetulan atau entah memang melihatnya, tiba² kereta itu
berhenti di dekat situ. Ingin sekali Seng Ho berseru, tapi
bukan saja sang suara tak mau keluar, bahkan kepalanya
terasa pening dan hampir saja dia jatuh pingsan. Dalam
keadaan ingat tak ingat, samar² terdengar olehnya langkah
kaki orang mendatangi. Pada lain saat, terdengar suara
orang ber-kata²:
"Paman, orang ini sudah mati. Rupanya dia
membawa apa². Di tempat sepi seperti ini, tentu tiada
seorang yang mengetahuinya. Tiada jeleknya kita periksa
badannya, mungkin ada sesuatu yang dapat kita ambil.
Kan kita tak berdosa namanya!"
“Siao Gu, jangan kau berpikiran serendah itu." sahut
seorang lain yang dari nada suaranya seperti seorang tua.
“Kusuruh kau turun ialah supaya kau memeriksanya
apakah dia itu masih bernapas? Kalau sudah meninggal,
haruslah kita laporkan pada kepala desa. Kalau dia masih

KOLEKTOR E-BOOK 82
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
hidup, kita harus berusaha menolongnya. Ingat: „Menolong
jiwa seorang manusia, lebih mulia dari tujuh kali
bersembahyang potong babi!‟ Kalau kau mempunyai
pikiran setamak tadi, Yamadipati pasti takkan mengampuni
jiwamu........."
Habis mengucap itu, orang tua tersebut segera
membungkuk untuk memeriksa keadaan Seng Ho. Seng Ho
jatuh tertelungkup, lukanya tertutup di bawah tubuhnya,
berselimutkan darah tercampur air yang sudah mengental.
Maka begitu tubuhnya dibalikkan, dia samar² dapat
menampak seorang tua tengah memandangnya.
Berkatalah orang tua itu: ”Wahai, rupanya orang ini
dianiaya penyamun. Astaga, kenapa dadanya kerowak
besar…....?"
Seng Ho kicup²kan matanya. Melihat itu, si orang tua
pakai tangannya untuk memeriksa hidung si anak muda.
Kini diketahuinya bahwa anak muda itu belum meninggal.
Di balik kegirangannya, tampak si orang tua menghela
napas, katanya: "Sekalipun dia belum mati, tapi jika
kuangkutnya dengan keretaku ke kota Sin-ya, jalanannya
yang begitu buruk legak-legok itu, tak urung dia tentu
meninggal...…."
Seng Ho ngangakan mulutnya untuk mengecup
tetesan air hujan. Rasa nyaman menyelubungi tubuh dan
semangatnya pun agak segar. Dia, tak mau mati sekarang,
karena sakit hatinya masih belum terhimpas. Maka dengan
kuatkan sakitnya, dia berkata dengan lemah: "Ba.…pak.…..
to ....long….. am.…bil…... obat… di…... da.….. lam … ba.…..
ju...... ku.….. dan…… bu.... buhkan .... pa…. da…. lu.…..
ka.… ku……!"

KOLEKTOR E-BOOK 83
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Beruntung orang tua itu dapat mendengar apa yang
diucapkan. Buru² dia kerjakan permintaan anak muda itu.
Dari bajunya dikeluarkannya beberapa benda: dua tail
perak hancur dan sebuah buntelan yang kebetulan tak
kena lumuran darah. Dalam buntelan Seng Ho itu terdapat
beberapa fles dari batu giok (kumala) yang kesemuanya
masih kering ringkai. Setelah diperiksa, orang tua itu
mendapatkan salah sebuah fles itu, tersimpan obat
bubukan. Dan sebuah fles terisi beberapa butir pil merah.
Dengan hati² orang tua itu mengambil obat bubukan
kemudian dibubuhkan pada luka si anak muda. Celakanya,
karena luka itu kelewat panjang, jadi obat itu tak cukup
dipakainya. Maka hanya pada bagian pusat luka yang
ditaburi obat.
Meskipun obat bubukan itu adalah obat dewa
(manjur sekali), tapi karena sudah terlambat jadi tak
banyak menolong. Seng Ho hanya dapat hidup sepuluh hari
lamanya! Sekalipun hanya 10 hari, tapi dalam waktu yang
sesingkat itu merupakan kunci perkisaran yang amat
penting dari sejarah kehidupan dunia persilatan. Andaikata
dia tak dapat bertahan hidup sampai 10 hari itu, bukan
saja dia akan mati dengan sia², pun dendam darah kaum
persilatan takkan terbalas untuk se-lama²nya! Karena
dalam sepuluh hari itu, Biau Kong Hiong telah berhasil
membinasakan pak Bok dan puterinya. Kitab pusaka yang
ke tigabelas “Kun-gwan capsah-po", yakni kitab pusaka
dari kaum Swat-san-pay yang terakhir, pun telah kena
dirampasnya. Dengan begitu, dapat dipastikan: jago
bayangkari yang telah menghianati perguruan dan
bangsanya itu kini sukar dilawan oleh siapapun juga.

KOLEKTOR E-BOOK 84
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Masih ada lagi sebuah hal yang perlu dicatat di sini,
ialah selain buntelan yang terisi fles obat²an, Seng Ho
masih menyimpan lagi sebuah benda yang tiada tara
harganya, yakni: sebuah peta rahasia. Peta itu merupakan
sebuah pusaka yang maha penting. Manakala dia sampai
binasa dan peta itu jatuh ke tangan lain orang, maka
ludaslah seluruh harapan kaum persilatan umumnya dan
Wan Seng Ho khususnya. Jadi waktu 10 hari itu, benar²
merupakan detik² yang penting dari kesudahan kisah ini,
karena di situlah nantinya Biau Kong Hiong akan menemui
ajalnya. Tapi karena hal itu terjadi belakangan, baiknya
kami pertangguhkan dan silahkan pembaca mengikuti
jalannya cerita ini dengan menurut urutannya........….
Kembali pada keadaan Seng Ho, ternyata setelah
dilumuri obat bubuk, dia merasa agak enakan. Kemudian
diminumnya pula pil merah, dan ini makin menyegarkan
semangatnya. Sekalipun nyeri lukanya masih menghebat,
tapi dia dapat kerahkan semangatnya untuk memusatkan
jalan darahnya, dan dapatlah kini dia bangun serta ber-
kata². Katanya dengan ter-putus²:
"Bapak yang berbudi, terima kasih atas
pertolonganmu...... Aku seorang tuan tanah desa. Karena
di desaku terjadi keributan, maka aku disuruh ke kota
untuk mengadu pada pembesar negeri. Tapi di tengah
perjalanan aku telah dipegat oleh kaum perusuh lawanku
itu dan dipukuli setengah mati begini...., untunglah aku tak
sampai binasa! Hanya saja entah bagaimana dengan nasib
keponakanku kecil itu......"
Sengaja Seng Ho tak mau berlaku terus terang
karena kuatir kalau jejaknya nanti tercium lagi oleh

KOLEKTOR E-BOOK 85
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kawanan kaki tangan si penghianat itu. Untunglah si orang
tua yang ternyata seorang sais (kusir) tak mau bertanya
lebih jauh. Karena diapun cukup mengetahui akan keadaan
propinsi Holam, di mana memang sering terjadi keributan
antara orang dusun dengan pemilik² tanah. Dan dengan
begitu, rahasia Seng Ho pun tiada sampai terbuka.
Orang tua itu segera menghibur Seng Ho, kemudian
bertanyakan adakah si anak muda itu suka diangkat ke
dalam keretanya untuk dibawa kekota Sin-ya. Seng Ho
menerima baik tawaran itu. Diambilnya dua potong perak
untuk diberi pada pemuda anak sais tua itu selaku
ongkosnya naik kereta. Begitulah, dia segera dipapah si
sais tua untuk naik ke dalam kereta.
Keesokan harinya tibalah mereka di kota Sin-ya. Si
sais tua mencarikan sebuah hotel yang layak. Syukurlah
Seng Ho masih membekal uang cukup. Teringat akan
penuturan tadi, si sais tua menanyakan Seng Ho perihal
keponakannya itu serta ciri²nya. Dia berjanji hendak
mendengarkan kabar² di luaran sembari memberi pesanan
pada pemilik hotel jangan sampai membocorkan hal anak
muda itu kepada lain orang. Karena dikuatirkan nanti
orang² perusuh itu akan datang lagi ke situ untuk
menganiayanya...... Jadi si sais itu betul² percaya bahwa si
anak muda itu adalah pemilhk tanah desa!
Bermula hendak Seng Ho mengatakan tentang diri
pak Bok dan puterinya, tapi dia kuatir orang berbalik
menaruh curiga padanya, karena kedua ayah beranak itu
tak sesuai dengan kedudukan dirinya. Maka dia lalu sebut
Hiat-ji sebagai keponakannya. Ciri² anak itu
diberitahukannya dengan jelas, dan apabila berjumpa

KOLEKTOR E-BOOK 86
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
supaya mengatakan bahwa "paman kelima mencarinya”.
Anak itu pasti akan percaya.
Pada alam pikiran Seng Ho, dia tak banyak
mengharap akan dapat berjumpa dengan Hiat-ji. Tapi apa
yang diduga tak bakal terjadi itu malah terjadi! Hiat-ji
masih sempat datang untuk menungkuli saat²
kematiannya. Dan karena hal itulah maka roda cerita ini
berganti arah. Memang dalam dunia persilatan seringkali
terjadi hal² yang nampak mustahil!
Meskipun selama di hotel Seng Ho mendapat
perawatan yang baik, tapi karena lukanya kelewat berat,
jadi keadaannya tidak bertambah baik. Pemilik hotel
mengundangkan beberapa tabib, tapi obat² buatan mereka
itu tak nempil dengan obat buatannya sendiri, kalau saja
faktor² mengijinkan. Sebenarnya dia sendiri dapat meramu
obat bubukan "kim joang thay i san" dan pil “liong hou gan
li wan", ramuan obat dewa yang amat manjur. Tapi karena
resepnya ketinggalan, dan andaikata ada pun ramuan itu
sukar didapatnya serta lama sekali membuatnya. Mungkin
pada waktu pembuatannya selesai, dia sudah tak bernyawa
lagi.
Pikiran Seng Ho me-layang² akan kejadian yang
telah lampau. Ber-tahun² dia berjerih payah untuk
menuntut pelajaran ilmu silat. Untuk membalas kematian
gurunya, dia menyaru sebagai pengemis di kota
Siangyang. Kesengsaraan kehidupan pengemis telah
kenyang dideritanya. Namun di balik penderitaannya itu,
dia telah memperoleh sesuatu yang amat berharga. Hal itu
terjadi begini:

KOLEKTOR E-BOOK 87
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kira² setengah bulan sebelum dia lolos dari kota
Siangyang, sewaktu sedang “bekerja" memeriksa sampah,
tiba² dia menampak pecahan batu merah. Karena setiap
hari dia harus menanak nasi sendiri, pikirnya batu merah
itu dapat dipergunakan untuk tungku penanak nasi. Maka
dipungutnyalah pecahan batu merah itu hendak dibawa
pulang ke biara rusak, di mana dia akan memasak air
panas untuk Hiat-ji (sewaktu Hiat-ji jatuh sakit karena
dihajar oleh si durjana Oey Hiau). Diluar dugaan, di dalam
batu merah itu terdapat sebuah benda yang disimpan
dengan amat rapinya. Kiranya karena batu merah itu lebih
besar ukurannya dari batu merah kebanyakan, maka
hendak dipotongnya menjadi dua. Sekali hantam, batu
merah itu hancur. Hanya anehnya, belahan batu merah itu
tak mau terlepas. Setelah diperiksanya ternyata di
tengahnya terdapat segulung benda yang berwarna putih.
Buru² belahan batu merah itu dipisahkannya dan dengan
hati² diambilnya benda itu. Kiranya benda itu adalah
sebuah pipa kecil yang berwarna putih. Di dalam pipa itu
terdapat selembar sutera setipis sayap tongkat. Di atas
sutera halus itu terdapat tulisan yang berbunyi: Peta
simpanan pusaka dari Siao-sit.
Itulah suatu penemuan berharga yang tak ter-
sangka². Seng Ho yang cerdas otaknya itu segera
mengetahui bahwa barang yang tersimpan sedemikian
rahasianya itu tentulah maha penting gunanya. Begitulah,
peta itu lalu disimpannya dengan hati² sekali.
Itu waktu sebelum terluka Seng Ho berkeras hendak
melaksanakan rencana pembalasannya. Dia tak mau
tinggalkan kota Siangyang sebelum cita²nya tercapai. Dan

KOLEKTOR E-BOOK 88
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kini setelah dirinya tak mempunyai harapan lagi, tiba² dia
teringat akan peta itu dan tanpa terasa tangannya meraba
pinggang bajunya!
Bercucuran air mata Seng Ho membasuh sepasang
pipinya. Samar² tampak wajah gurunya: Ong Thing Kau
dan seperguruan Tian Yan Jing, tengah tertawa padanya.
Kepalanya terasa ber-putar², tiba² kedua wajah orang
yang dihormatinya itu ikut ber-putar², lama-kelamaan
menjadi satu, dan berganti pula bentuk wajahnya,
manunggal menjadi wajah Hiat-ji! Sepasang mata anak itu
memancarkan cahaya yang dingin menyeramkan orang.
Begitu memandang Seng Ho, wajah Hiat-ji itu tampak
tersenyum. Tapi sinar matanya yang dingin itu tetap tak
kunjung surut!
Seng Ho mengerang kesakitan karena dadanya
terasa sakit merangsang. Dia terkejut. Kaki dan tangannya
terasa dingin sekali, sukar digerakkan. Pada saat itu dia
menghela napas. Rupanya malaikat elmaut sudah
mengetuk pintu.... Tiba² dari arah luar jendela terdengar
orang ber-kata²:
"Malam ini tiada rembulannya, tapi langit bertaburan
bintang, dirasa kita masih dapat melanjutkan perjalanan
nanti.“
Kembali Seng Ho menghela napas. Jadi sudah
setengah bulan lamanya dia menetap di hotel situ. "Ah,
untuk apakah aku menderita kesengsaraan begini ini?"
katanya seorang diri. Memang tiada dia menemukan
jawaban untuk itu, namun dalam hatinya dia rasakan se-
olah² sedang menunggu sesuatu yang di-harap². Dan
harapan inilah yang mendorongnya supaya bertahan dulu,

KOLEKTOR E-BOOK 89
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
biar bagaimana dia harus tak boleh mati dulu. Begitulah,
setiap kali timbul pertanyaan terhadap dirinya sendiri,
setiap kali itu pula sang hati nurani menjawabnya.
Demikanlah, dari hari ke hari dia lewatkan dengan
menahan kesakitan yang hebat, baik rohani maupun
jasmaniah.
Tapi pada hari itu penderitaannya sudah memuncak.
Tangan dan kakinya terasa kaku dingin. Betapa sang
keinginan ingin bertahan, namun sang jasmani sudah tak
kuat lagi. Dan tak dapat menolak kedatangan Yamadipati,
sang Dewa pencabut nyawa.
Keadan Seng Ho sudah berat, jiwanya tengah
meregang hendak meningalkan sang tubuh. Pikirannya
merana dalam lamunan. Bayang dari orang² yang
dikenalnya silih berganti ter-bayang² di mukanya.
Akhirnya, wajah Hiat-ji tampak juga. Matanya yang bundar
besar itu tetap tak pernah pudar dari sinarnya yang begitu
dingin.
“Hiat-ji! Tempat ini sudah kelewat dingin sekali,
jangan kau memandang orang begitu dingin," dia
mengigau sendirian. Namun sinar mata Hiat-ji yang dingin
itu berobah dan makin mendekati. Nyata biji mata yang
bundan besar itu ber-linang² air mata. Dan tiba²
pendengaran Seng Ho terganggu dengan
berkumandangnya sebuah suara yang gemetar seperti
orang menangis:
“Go-cek (paman kelima), mengapa kau jadi begini?!"
Mata Seng Ho ber-kunang², cepat dia
memejamkannya. Selang beberapa saat kemudian, tampak
dia membuka mata lagi, dan.…. kembali mata bundar dari

KOLEKTOR E-BOOK 90
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Hiat-ji itu tetap masih berada di situ, mengawasinya
dengan tak berkesip. Suara ratapan yang sangat
merawankan tadi kembali terdengar: "Paman Ngo, aku ini
Hiat-ji!”
Pening Seng Ho pudar seketika, dan tersadarlah dia.
Sambil gemetar dia berseru: “Hiat-ji?! Apakah kau benar
Hiat-ji?!"
"Paman Ngo, tadi aku ditegur oleh paman tua ini
yang menanyakan namaku serta mengatakan bahwa
pamanku sedang menunggui. Kuduga, tentu kaulah,
paman Ngo! Make aku lalu mengikutinya kemari, tak
apalah andaikata keliru alamat. Kuberitahukan pada paman
tua itu bahwa namaku adalah Hiat-ji. Mendengar itu, dia
bersyukur kegirangan karena telah menemukan orang
yang dicarinya. Kemudian dia tuturkan keadaanmu, dan
sampai di situ kuyakin betul² kalau dugaanku tadi memang
benar......”
Seng Ho tampak segar pada saat itu. Dengan
paksakan diri, dia bangun. Melihat itu buru² Hiat-ji
merangkulnya, katanya:
"Paman Ngo, begini rupa kau dicelakai oleh bangsat
itu, sudahlah jangan bangun, rebahan sajalah! Kau masih
mendingan, paman Ngo, karen. suhu dan cici Siu Sian
sudah dibinasakan oleh bangsat itu! Sewaktu hendak
menutup mata, enci Siu Sian mengatakan padaku bahwa
kitab pusaka itu sudah dirampas oleh si bangsat…...…"
Tampak Seng Ho membelalakkan matenya, setelah
itu dia melolos sabuk sutera yang melilit di pinggangnya,
kemudian diterimakan pada Hiat-ji, katanya:

KOLEKTOR E-BOOK 91
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
”Nah, inilah satu²nya barang peninggalan untukmu.
Di dalamnya terdapat sebuah peta gunung Siao-sit-san.
Kau seorang anak yang cerdas, tentu kau dapat
menangkap maksudku. Aku, paman kelima ini, sungguh
benasib malang. Mungkin sebentar malam atau paling
lambat besok pagi aku sudah akan menyusul suhu dan
cicimu. Apabila aku sudah tiada, lekaslah kau berangkat ke
gunung Siao-sit-san. Ingatlah selalu akan dendam darah
kita. Asal kau berhasil menemukan pusaka itu, kau harus
cari balas pada bangsat itu: Biau Kong Hiong dan kaisar
yang jahat itu....... Jangan kau lepaskan mereka.......
maukah kau berjanji?"
"Ai, paman Ngo, kau takkan meninggal, jangan kau
mengucap begitu! Aku tak dapat menyaksikan kematian
suhu Bok, tapi beruntung dapat mendampingi ci Siu Sian
mengembuskan napas terakhir. Itu sudah lebih dari cukup,
jangan mataku menyaksikan kematianmu, paman
Ngo….…."
Memang begitulah jalan kehidupan Hiat-ji. Ber-
ulang² dia harus saksikan kematian orang² yang
dikasihinya. Ibunya, pak Bok tua, Siu Sian...… Dan kini dia
hanya mempunyai seorang paman Ngo di dalam dunia ini.
Dia satu²nya "bumi tempat berpijak, beringin tempat
berlindung" baginya. Sewaktu meloloskan diri dari kejaran
Biau Kong Hiong, terpaksa mereka berpencar. Dan
beruntunglah mereka kini dapat saling berjumpa pula.
Hanya saja, kebahagiaan itu bagaikan hilang tertutup awan
kedukaan yang besar. Dia dipaksa nasib untuk kesekian
kalinya mendampingi dan menyaksikan kematian orang
yang dikasihinya. Biar bagaimana keras hati Hiat-ji, namun

KOLEKTOR E-BOOK 92
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
dia tetap seorang anak yang haus dengan kecintaan ayah
bunda. Seorang anak yang masih membutuhkan rasa kasih
dari orang² yang menganggap sebagai anak kandung.
Benar dia seorang anak yang dibesarkan oleh penderitaan
hidupnya, namun hati manusia, khusus seorang anak²,
tetap terdiri dari daging dan darah. Betapapun halnya,
pada saat itu hatinya hancur luluh seperti disayat sembilu.
Kata²nya tadi merupakan jeritan hatinya yang merana
duka............
Mendengar ratap rintih Hiat-ji yang merawankan itu,
jantung Seng Ho berdenyut keras. Dia paksakan
bersenyum, lalu katanya:
“Nak, kelak kalau memandang orang harus lebih
dingin lagi. Kita telah dianiaya oleh manusia binatang, kau
harus balaskan sakit hatiku ini..…. kau, adalah duta kami,
kita orang yang membela kebenaran...... nak, ingatlah
pesan suhumu, dan jangan lupakan pula pesan pamanmu
Ngo ini!"
Hiat-ji adalah seorang anak yang sudah matang
dalam penderitaan. Sekalipun dia belum dapat
meninggalkan sifat ke-kanak²annya, namun dia telah
"dewasa" untuk menerima petuah orang. Dia anggukkan
kepalanya selaku tanda mengerti akan ucapan Seng Ho.
Namun mulutnya tak putus²nya me-rintih² memintanya:
“Paman Ngo, kau takkan meninggal! Kau takkan
meninggal di hadapanku.........”
“Nak, mumpung aku masih dapat mendengarkan,
kau tuturkan perihal suhu dan cicimu itu.…..… biarlah
hutang darah itu, walau aku tak berdaya membalas, akan
kubawa ke liang kubur......... ya, nak!"

KOLEKTOR E-BOOK 93
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Dengan masih sesenggukan, sebelah tangan Hiat-ji
menggenggam erat² kantong sutera pemberian Seng Ho
tadi, dan sebelah tangannya lain memegang kepala kyai
Kelincinya, air matanya bercucuran, berkatalah dia seorang
diri:
“Kyai Kelinci, biarlah kau menjadi saksi dari kata²
Hiat-ji ini! Aku akan mencari balas, akan menuntut sakit
hati suhu!"
Habis itu, dia lalu menuturkan kisahnya selama ikut
dengan pak Bok dan Siu Sian, demikianlah penuturannya
itu:
Setelah tak dapat mengejar sepasang suami isteri
Hu, Biau Kong Hiong beristirahat di kota Sin-ya. Tak lama
kemudian, dia mendapat laporan kilat tentang
diketemukannya jejak seorang tua buta, seorang anak
gadis dan seorang anak lelaki kecil tanggung. Itulah yang
dinantikan oleh Kong Hiong.
Betapa cerdik pak Bok mengatur rencana
pelolosannya dari barat dia balik memutar ke timur untuk
menyesatkan pengejaran musuh, namun di seluruh
propinsi Holam sudah penuh ditanami orang²nya Kong
Hiong, ibarat dikatakan setiap tembok, setiap pohon dan
setiap jalan, merupakan telinga Kong Hiong. Disamping itu
Kong Hiong gunakan berbagai cara untuk perhubungan
berita, misalnya: api pertandaan, kurir berkuda, panah api
berantai dll. Maka tak heranlah, dalam 7 hari saja, Kong
Hiong sudah dapat mencegat rombongan pak Bok di
gunung Hok-gu-san............
Selama 7 hari dalam perjalanan itu, makin erat
hubungan antara Siu Sian dengan Hiat-ji yang dianggapnya

KOLEKTOR E-BOOK 94
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
sebagai adiknya sendiri. Siu Sian seorang dara yang cantik
rupawan, luhur budi, berilmu silat tinggi. Semuda itu
umurnya, dia sudah pengalaman, banyak menyaksikan
perkara² di dunia.
Selama dalam perjalanan itu, dia selalu melindungi
Hiat-ji. Bagi Hiat-ji, kecuali ibunya, kiranya hanya Siu Sian
lah yang bersikap begitu menyayang kepadanya. Diapun
segera begitu menyayang sekali kepada. ”sang cici" itu.
Apalagi setelah Siu Sian menerangkan bahwa ialah yang
menggunakan ilmu “bu heng chiu", tangan gaib untuk
merampas kyai Kelinci dari bantingan Oey Hiau di depan
rumah makan Siang Gwat Lau dulu. Dan ayahnya lah yang
menotok jalan darah durjana itu secara diam². Mendengar
itu, makin bersyukurlah Hiat-ji atas penolong²nya yang
budiman itu.
Kiranya untuk mencari jejak Kong Hiong, Siu Sian
telah ajak sang ayah ke kota Siangyang. Dan dilukainya
Oey Hiau itu, yakni untuk memancing Kong Hiong keluar.
Tipu itu telah berhasil, namun hasilnya tidak seperti yang
diharap.
Sepanjang perjalanan itu pak Bok berlaku hati²
sekali. Dia sangat prihatin sekali bagaimana supaya dapat
keluar dari mulut harimau itu. Tapi di lain fihak, justeru
Kong Hiong bernafsu sekali untuk mendapatkan kitab
pusaka yang dibawanya itu. Dari itu, perangkappun
dipasangnya lebih keras.
Begitu terpegat di gunung Hok-gu-san, pak Bok
sudah cemas. Tahu dia sampai di mana keunggulan sang
lawan. Untuk lolos kali ini, tipis harapannya. Namun

KOLEKTOR E-BOOK 95
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
sebagai ksatria, dia berpantang ajal. Tanpa banyak bicara,
tongkat segera diserangkan ke arah lawan.
“Ah, kau cari kematian sendiri. Baik kuantar kau ke
pintu akherat!" Kong Hiong tertawa menghina. Begitu
tombak digerakkan maka sebuah bianglala emas
berkelebat menyambar. Hanya dalam beberapa gebrak
saja, tongkat pak Bok sudah tergubat dalam sinar bianglala
emas itu. Kalau tidak Siu Sian lekas² menolong dengan
totokan seruling kumalanya, mungkin pada jurus gerak-
kibas, Kong Hiong akan sudah dapat menghantam
terpental tongkat pak Bok.
Memang pak Bok cukup jelas akan kekuatan lawan
itu. Bukan saja 12 buah kitab pusaka Kun-gwan dari Swat-
san-pay sudah dimilikinya, pun bangsat itu sudah
menguasai dengan mahirnya pelajaran² di dalam situ. Ilmu
tenaga dalam “Kun-gwan-kang" dan “hou-sim-cin-bu” yang
dapat melindungi diri seteguh baja telah diyakinkan dengan
sempurna.
Pertempuran di biara tua dahulu itu, pak Bok hanya
dapat memecahkan ilmu hou-sim-cin-bu dari bangsat itu.
Tapi hal itu tak banyak mempengaruhi kekuatan lawan.
Andaikata kini dia beruntung memperoleh kesempatan lagi
seperti tempo hari, paling² pertandingan akan seri: musuh
dan dia sendiri dua²nya akan binasa! Tapi kalau menilik
kelihayan si bangat itu, kesempatan itu tipis sekali
kemungkinannya. Menimbang sampai di sini, dada pak Bok
berombak mengeluarkan helaan, kemudian bisiknya
kepada sang puteri :
“Siu Sian anakku, kau tentunya ingat akan peraturan
dari kaum perguruan kita Swat-san-pay, begitu juga

KOLEKTOR E-BOOK 96
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
peraturan² dalam keluarga kita! Ingatlah baik² kata²ku itu
dan persiapkanlah dirimu!"
Mendengar ucapan ayahnya, hati Siu Sian seperti di-
remas². Melihat cara Kong Hiong bertempur, ia
menginsyafi kata² ayahnya itu. Kenyataan mengunjuk,
betapa berat sekalipun dia harus teguhkan hatinya
berpisah dengan sang ayah serta harus segera meloloskan
diri. Peraturan Swat-san-pay menyatakan dengan jelas:
"Tugas melindungi ilmu perguruan lebih penting daripada
melindungi kepentingan keluarga". Sedang ajaran sang
ayah dulu mengatakan: “perintah ayah tak boleh
dibantah!"
Bok buta insyaf bahwa dia bakal tak dapat terhindar
dari bencana, di lain fihak dia berkeras agar kitab pusaka
itu jangan sampai jatuh ke tangan si bangsat, jadi dengan
ucapannya tadi dia memberi perintah agar Siu Sian
berusaha untuk tinggalkan medan pertempuran itu dan
lari.
Dengan keraskan sang hati. Siu Sian putar seruling
kumalanya dengan hebat, men-deru² bagaikan hujan
angin. Mengetahui hal itu, puaslah hati pak Bok dan
wajahnya mengunjuk senyuman! Kini diapun lalu keluarkan
ilmu pusaka dari Swat-san-pay yang disebut sebuah
bayangan putih yang ber-gerak² dengan pesatnya laksana
angin menebar awan. Pada saat itu, Siu Sian tusukkan
serulingnya ke arah ujung tombak Kong Hiong. Begitu
ujung tombak lawan berkisar ke samping, secepat itu Siu
Sian mencelat keluar kalangan, dan sekali dia menjejak,
tubuhnya mengapung ke atas dan orangnya pun sudah
berada di mulut gunung. Di situ Hiat-ji munculkan diri dari

KOLEKTOR E-BOOK 97
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
tumpukan rumput. Dengan air mata ber-linang², Siu Sian
pondong anak itu untuk diajak pergi.
Tahulah Kong Hiong bahwa kitab pusaka itu berada
pada Siu Sian, dan si Bok buta memang sengaja melibat
Kong Hiong agar puterinya dapat membawa lari kitab itu.
Dia memutuskan, lebih dulu membereskan si buta itu, baru
nanti mengejar lagi anak perempuan itu. Dan lagi, dengan
hilangnya si buta lihay itu, berarti lenyapnya suatu
penghalang yang merupakan ancaman bencana. Asal
kepalanya sudah terbasmi, ekornya sih mudah dicekal. Dan
bagaimana anak perempuan itu tak nanti dapat lolos dari
cengkeramnya.
Kini Kong Hiong curahkan perhatiannya kepada sang
lawan, nampaknya dia tak ambil pusing akan kaburnya Siu
Sian. Tombak diputar ke bagian pinggang, terus dia loncat
ke atas, kemudian dia tegak pula menurut garis per-kaki-
an (bhe-si) Kun-gwan dan menjalankan ilmu istimewa yang
paling diandalkan, yakni jurus² “to hwan ngo heng" dan "to
loan pat-kwa". Jurus² ini adalah bagian yang terhebat dari
ilmu silat “capsa chiu". Ini untuk melayani dan
mengacaukan permainan musuh.
Memang permainan pak Bok sukar dilukiskan
kehebatannya. Tubuhnya bergerak se-olah² angin
menyambar. Tongakatnya men-deru² seperti badai
meniup. Namun berhadapan dengan seorang jago yang
sukar dicari tandingannya di kalangan persilatan seperti
Biau Kong Hiong itu, dia tak dapat berbuat banyak. Dengan
bakat otaknya yang cerdas, memiliki kepandaian silat yang
tinggi, ditambah pula telah memahiri 12 pusaka pelajaran
dari Kun Gwan, telah menempatkan Setan Tanpa Bayangan

KOLEKTOR E-BOOK 98
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
itu dideret yang terkemuka dari barisan bintang²
persilatan.
Ilmu pukulan tangan kosong “Kun-gwan-chiu"
mempunyai ciri keistimewaan tersendiri. Ilmu itu
mengutamakan gerak kelemasan dan kellncahan, dan
sebagai imbangan, “kun gwan-chiu" itu didampingi dengan
ilmu "yau loan chiu" atau mengacaukan musuh dengan
serangan². Kesemuanya ini adalah garis² inti ilmu silat Kun
Gwan. Meskipun dia (Kong Hiong) belum memperoleh
pelajaran ilmu totok "Thian han tiam hiat” yang dimiliki
oleh pak Bok, namun dengan mendasarkan diri dalam
garis² ilmu silat Kun Gwan itu, Kong Hiong dapat melayani
dengan ulet. Dengan ketenangan, menindas serangan.
Betapapun berbahaya serangan Bok buta, namun dia se-
olah² menghadapi tembok karet yang ulet, membal dan
sukar ditoblos.
Bukan tidak tahu Bok buta bahwa gerakannya ”sinar
mengejar bayangan" itu takkan dapat membobol
pertahanan Kong Hiong, tapi karena memang sengaja ia
hendak mengulur waktu saja. Tapi rencana Bok buta itu
ketahuan juga oleh Kong Hiong, siapa kedengaran tertawa
menghina:
"Bok buta, jangan kira dapat memperdayakan aku.
Orang tersebar luas di-mana². Tanpa susah payah aku
tentu dapat mencarimu. Dengan caramu bertempur seperti
“anjing menjejak kucing" itu, kau hendak menghambat aku
agar anakmu mempunyai kesempatan untuk lari jauh. Tapi
walaupun budak itu hendak terbang ke manapun, jangan
mengimpi dia dapat lolos dari jaring perangkapku. Kalau
dulu kau sembunyikan diri saja, mungkin aku tak tahu.

KOLEKTOR E-BOOK 99
Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Tetapi kini kamu adalah seperti ular cari penggebuk
sendiri, jangan sesalkan orang, mari, Tua Buta, kau
keluarkan ilmu totokmu thian-hian-chiu yang konon
mempunyai beratus perobahan, aku pasti takkan
mengecewakan harapanmu!”
Pedih dan geram Bok Buta mendengarkan
ketemberangan si bangsat Kong Hiong itu. Dia menghela
napas dalam² karena nyata² kini tiang satu²nya dari kaum
Swat-san-pay yang masih hidup pun akan dibinasakan oleh
penghianat itu. Dan dengan demikian, jiwa mereka ayah
dan gadisnya itu pun akan binasa dengan sial!
Kematiannya dengan sang anak bukan yang dia
sesalkan. Karena lambat laun toh dia akan menuju ke pintu
kematian juga. Hanya saja yang paling dibuat sesalan
yakni, dengan tiadanya mereka itu berarti juga kaum
Swat-san-pay ludes murid penyambung ilmu perguruan itu,
dan yang paling menjadi penasarannya: sakit hati kaum
Swat-san-pay itu akan tiada berbalas se-lama²nya.....
Benar tongkatnya itu tetap menjadi pelindung diri
yang boleh diandalkan, tapi di sana kini sudah kedengaran
deru sambaran angin dari suatu gerakan serangan yang
luar biasa. Sebagai murid Swat-san-pay tahulah dia bahwa
kini si bangsat tengah mengeluarkan ilmu istimewa dari
kaum Swat-san-pay, yakni yang disebut Kun-gwan-sin-cao
(llmu sakti dari Kun Gwan). Tombak rantai dari Kong Hiong
men-deru² laksana badai menerjang. Ya, kuat berapa
juruskah dia bertahan........?
Benar Bok buta memiliki kepandaian mendengar
suara dapat membedakan benda, tapi menghadapi deru
sambaran tombak rantai si bangsat yang sedemikian sakti

KOLEKTOR E-BOOK 100


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
dan ganasnya, dia agak kewalahan. Apalagi dia sudah
sibuk menghadapi serangannya, jadi sukarlan dia
memusatkan pendengarannya. Kedua kali, dia sudah
insyaf, bahwa kali ini dia tak dapat mengatasi gerakan
musuh. Karena pikiran² itulah telah menurunkan semangat
tempurnya.
Di lain fihak, memang kali ini Kong Hiong akan
menuntut balas kekalahannya di biara rusak tempo hari.
Dltumpleknya seluruh kepandaian dan tenaganya untuk
menghantam lawan. Setiap jurus gerakannya selalu
merangsang, melibat, menebas dan melekat. Dalam
keganasannya itu, tersembunyi maksudnya untuk memper-
olok² pak Bok. Kecuall maukan jiwa lawan, dia juga
berbareng akan menghancurkan senjatanya dan menindas
kepandaian pak Bok. Pendek kata, dia akan membuka
mata lawan, bahwa dalam segala hal dia jauh lebih unggul.
Dan diandaikan perang, dia maukan kemenangan total,
menghancurkm musuh habis²an!
Pak Bok pun seorang murid Swat-san-pai yang
berkepandaian tinggi, tahu dia betapa ganas perbuatan
penghianat itu. Dia gusar bukan kepalang. Saat itu
kedengaran Kong Hiong berkata lagi: “Ho, kau mau melibat
aku, baik akan kulayanimu secara begini, boleh kau
berkelahi sesukamu toh nantinya kau akan mati
konyol….....…!"
Kemarahan pak Bok meluap hebat. Tapi apa daya
karena dia tak dapat mengatasi kepandaian musuh.
Daripada malu, lebih baik dia bunuh diri sendiri! Baru dia
dirangsang pikiran nekad begitu, tiba² dia dikejutkan oleh
tenaga. “bu-hing” (tanpa bayangan) yang mengurungnya.

KOLEKTOR E-BOOK 101


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Ini memaksanya harus menangkis, dan begitu dia lakukan,
segera dia terkejut bukan kepalang. Kiranya ia kini digubat
oleh ilmu “Kun-gwan-kang“ dari si bangsat.
Diam² pak Bok mengeluh dalam hati. Tak kira kalau
dalam pertempuran pertama dia beruntung dapat memberi
pukulan pada musuh, tapi kini akhirnya dia harus menelan
pil pahit dari lawan. Dengan menggertak gigi, dia kerahkan
tenaga dalam “thian han keng", dengan sekuat tenaga dia
berusaha menarik tongkatnya dari libatan “kun-gwan-
kang" lawan. Begitu dapat dia lepas dari libatan itu,
pikirnya hendak bunuh diri.
Saat itu terdengarlah suara berkretekan dari tulang²
lengannya. Kembali pak Bok melengak kaget. Nyata dia tak
dapat melepaskan tongkatnya dari cengkeraman tenaga
“Kun-gwan-kang" yang sakti itu, sehingga sampai
lengannya tergetar dan tulang²nya ber-derak². Dia
merubah rencananya, hendak dilepaskan saja tongkat itu
dengan cepat. Tapi inipun sudah terlambat......…...
Pada saat itu terdengar suara krak-krak yang keras
sekali. Tongkat pak Bok yang terbuat dari hati pohon li-
salju, hasil tanaman istimewa dari gunung Swat-san, telah
patah menjadi dua! Pak Bok masih mencekal dua buah
ujung dari tongkat kayu li-salju itu. Cepat dia loncat ke
belakang, tapi secepat itu pula dari arah belakangnya
sudah terasa ada sambaran angin menyerang. Kali ini dia
akan memasang perangkap. Sengaja dia pura² berlaku
kalah. Begitu tubuhnya diturunkan ke bawah, sekali incar,
dia timpukkan dua buah bonggol ujung tongkat tadi ke
arah lawan. Dua titik benda hitam melesat kearah Kong
Hiong.

KOLEKTOR E-BOOK 102


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kong Hiong
tertawa ber-derai²,
sekali tombak
rantainya
dikibaskan, maka
terdengarlah angin
menderu hebat,
menampar jatuh
kedua bonggol
ujung tongkat itu.
Menggunakan
kesempatan selagi
lawan sibuk
menangkis
timpukannya tadi,
pak Bok hendak
menerjangnya. Tapi heran dia mengapa tiada terasa lawan
menggerakkan tenaga dalamnya untuk menghalau. Dia
curiga, dan buru² hendak melangkah balik, tapi sudah
kasip. Segera dari muka terasa ada suatu daya penarik
yang luar biasa kuatnya. Terang lawan telah
menggerakkan tenaga “Kun-gwan-kang" untuk membetot
dia. Sudah tentu pak Bok sibuk bukan kepalang. Karena hal
itu berarti tarikan maut..........!
Pada puncak kegusarannya itu, terkilaslah suatu
keputusan pada pak Bok: “Dia sudah begini temberang dan
ganas, mengapa aku tak coba rebut kemenangan dalam
kekalahan........?” Secepat ia mengambil keputusan, segera
ia salurkan tenaga dalam “hian han keng” ke arah
tangannya untuk dipusatkan pada kedua jari telunjuk dan

KOLEKTOR E-BOOK 103


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
tengah. Sekali bergerak, ia melesat maju, kedua
tangannya disodorkan untuk menotok jalan darah lawan.
Serangan ini dimaksud selagi musuh tak menduganya.
Persentasi-nya, tentu berhasil. Tapi alhasil, dia
kecewa...........
Sewaktu Oey Hiau kena totokan tempo hari, sebagai
ahli tahulah sudah Kong Hiong bahwa penotoknya pastilah
seorang ahli “thian-han-tiam-hiat" yang jempol. Siang²
Kong Hiong sudah bersiaga. Sesaat pak Bok mengunjuk
tanda² hendak mengerahkan tenaga dalam itu, Kong Hiong
sudah dapat menduganya. Begitu pak Bok lompat
menyerang, Kong Hiong sudah bersiap. Tak mau dia
tersentuh dengan ilmu meremas tulang dari lawan yang
tiada tara kelihayannya itu, dengan lincahnya dia turunkan
tubuh untuk menghindar. Krak! Krakk!
Buru² Kong Hiong berpaling kebelakang dan,
wahai..…, dia bersorak kegirangan! Apakah gerangan yang
terjadi?
Kiranya sepasang jari tangan dari pak Bok itu
menotok sebuah pohon besar, menyusup masuk hingga
beberapa senti. Sedang pada saat itu tubuh pak Bok masih
berada di udara.
Sebagai ahli kekejaman, Kong Hiong tak mau sia²kan
kesempatan yang begitu bagus. Begitu tombak-rantai
disimpan, dia terus gerakkan sepasang tangannya untuk
menggempur. Gempuran itu disertai dengan kerahan
tenaga dalam dahsyat dan dimaksud untuk mendorong pak
Bok ke muka. Didahului oleh jeritan yang seram, sepasang
jari pak Bok menyusup masuk, terus sehingga sampai ke
batas lengannya. Setelah membuat lawan tak berdaya

KOLEKTOR E-BOOK 104


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
begitu, Kong Hiong susuli pula dengan gempuran tenaga
dalam yang makin hebat. Ai, kasihan, mengenaskan!
Satu²nya ahli angkatan tua dari kaum Swat-san-pay yang
masih hidup, telah dibinasakan oleh penghianat Kong
Hiong secara keji sekali. Karena digempur hebat, maka
tubuhnya ter-putar² mengelilingi pohon itu. Ketika rubuh,
tubuh itu sudah tak berlengan lagi, karena sepasang
lengannya telah putus dan masih menyusup di dalam
pohon. Demikian nasib pak Bok, seorang jago tua, yang
walaupun sudah cacad mata, tapi tetap hendak
melaksanakan pembalasan kepada orang yang telah
menghianati dan membinasakan saudara² seperguruannya!
Setelah membinasakan pak Bok, Kong Hiong tertawa
dengan puasnya. Segera dia lepaskan sebuah pelor api
“hwat liu cee" (api pertandaan) ke udara, kemudian
ayunkan langkah menuju ke mulut gunung dengan
pesatnya. Kini dia mulai lakukan pengejaran pada Siu Sian.
Sementara itu keadaan Siu Sian dengan Hiat-ji
sekeluarnya dari gunung Hok-gu-san, mereka terus
menuju ke biara Ji-long-bio. Dalam pada itu, si Hiat-ji yang
cerdik sudah lantas menegurnya:
“Cici, mengapa kau tinggalkan suhu? Mengapa kau
tak mau membantunya tempur bangsat itu?”
"Dik, ketahuilah! Aku lakukan itu karena terpaksa!
Kitab pusaka kaum kita berada padaku. Kitab itu se-kali²
tak boleh jatuh ke tangan bangsat itu. Lain hari kita masih
ada kesempatan untuk menggempurnya. Tapi jika kita
turutkan nafsu, akibatnya kita tentu mati sia² dan sakit
hati pasti takkan terbalas! Korban seorang dua orang jiwa

KOLEKTOR E-BOOK 105


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
bukan soal. Pokok kita harus selamatkan kitab pusaka ini.
Dan ini menjadi tugas suci bagi kita.........”
Kini Hiat-ji agak jelas akan seluk-beluk kehidupan
kaum persilatan. Sekalipun begitu, dia tetap masih gelisah
memikirkan keselamatan pak Bok. Mana dia tahu bahwa
kedudukan Siu Sian lebih besar dari dia! Hiat-ji masih
seorang kanak², mana dia tahu ujung pangkalnya ilmu
persilatan. Lain halnya dengan Siu Sian, dara persilatan
yang dibesarkan dalam kalangan itu. Sekali bergebrak,
tahulah sudah dia bagaimana kekuatan sang ayah dengan
si bangsat. Jadi pesan ayahnya tadi merupakan pesan
terakhir, karena rasanya mereka bakal berpisah untuk se-
lama²nya: Dengan air mata bercucuran, tangannya meraba
kitab yang berada di dalam bajunya seraya berkata
seorang diri:
“Kitab pusaka kaum kita, jika kau betul sakti,
lindungilah diriku berdua dan anjurkanlah supaya kitab
pusaka Thay-i-hian dapat muncul menjadi jodohmu. Kitab
pusaka, tegak rubuhnya kaum kita Swat-san-pay, hanya
tergantung padamu..........."
Kala Siu Sian mengucap doanya itu, Hiat-ji berdiri di
sampingnya. Sedikitpun dia tak mengerti apa yang
diucapkan oleh Siu Sian tentang “kitab pusaka, kitab Thay-
i-hian, kaum perguruan Swat-san, dan sebagainya itu...…”
Pada lain saat, Siu Sian menatap wajah Hiat-ji, katanya
dengan rawan:
“Kudoakan kau, dik, menjadi bintang harapan kaum
persilatan. Semoga kau mendapatkan jodoh guru yang tak
ter-duga². Kiranya pesan ayah padamu itu pasti tak ter-
sia²......"

KOLEKTOR E-BOOK 106


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Meskipun Hiat-ji berotak terang, tapi sedikitpun dia
tak mengerti akan urusan dunia persilatan. Untuk kedua
kalinya, Siu Sian mengulanginya memberi penjelasan, tapi
penjelasan itu sengaja ditekankan kepada pengertian agar
Hiat-ji mengetahui bahwa di dunia ini ada dua buah kitab
pusaka pelajaran ilmu silat. Dua buah kitab itu merupakan
sumber kepandaian ilmu silat yang tiada lawannya dalam
dunia persilatan. Hanya itu saja yang diterangkan, lain
tidak. Jadi Hiat-ji pun tetap gelap akan seluk-beluk dunia
persilatan.
Hari mulai malam, yang perlu mereka harus cari
tempat penginapan. Oleh karena kini mereka sudah tak
menyaru lagi sebagai pengemis, jadi gerak geriknya pun
agak tak leluasa. Tapi kalau menyaru lagi sebagai
pengemis, pun resikonya besar. Siu Sian pun cerdas, dia
hendak mencari penginapan di sebuah hotel besar saja.
Rencananya, untuk menyesatkan pengejaran musuh. Dan
nantinya kalau sudah melalui biara Ji-long-bio, ia akan
balik kembali. Siasat ini Siu Sian tiru sang ayah, ialah yang
disebut siasat “membuang bekas". Dengan siasat itu
pikirnya hendak lolos dari jaring musuh.
Tapi betapa cerdik siasat diatur, namun jaringan
Kong Hiong yang terdiri dari ribuan mata² yang tersebar
luas di seluruh daerah, sangatlah rapatnya. Siasat "suara di
sini, orangnya di sana" tetap tak terlepas dari pendengaran
alat² Kong Hiong itu.
Siu Sian menginap di hotel Li Jing. Tapi jejaknya itu
siang² sudah diketahui oleh kaki tangan Kong Hiong. Dan
Siu Sian yang selalu waspada itupun tahu juga akan hal
itu. Ia membisiki Hiat-ji, bahwa diri mereka sudah

KOLEKTOR E-BOOK 107


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
diketahui musuh dan bahwa rasanya sukarlah untuk
meloloskan diri. Sembarang saat bahaya bisa datang,
maka harus berlaku hati².
“Tak nyana, maksud kita untuk menolongmu itu
berbalik mencelakai padamu. Rasanya kita takkan lolos
dari kematian." berkata pula Siu Sian dengan nada yang
berat.
"Biarlah aku mati, toh hidup hanya berarti
penderitaan bagiku. Harapan dan tugas yang ditimpahkan
padaku sedemikian beratnya, rasanya satupun tak ada
yang dapat kulaksanakan. Lebih lekas mati lebih aman
rasanya. Dan lagi, apabila kau tak menolongku mungkin
aku sudah mati dulu²…...”
Kata² Hiat-ji lekas² diputus oleh Siu Sian yang
menghiburinya dengan bersemangat: “Asal ada setitik
harapan, kau harus tetap hidup, dik. Kecuall dalam
keadaan memaksa, akupun tak mau mati. Sakit hati yang
begitu besar bagai lautan, pekerjaan begitu banyak yang
harus kita kerjakan.....”
”Akupun tak ingin mati. Tapi menurut keterangan cicl
tadi, rasanya kita sukar bisa hidup. Akh, dunia! Memang
kau tiada tempat bagi kaum jembel seperti kita ini....."
Siu Sian menghela napas panjang. Hiat-ji disuruh
tidur di kamar sebelah, sedang ia tetap duduk menghadapi
pelita. Air matanya bercucuran. Sampai di manakah
seorang anak perempuan dari belasan tahun umurnya, bisa
bertahan menghadapi percobaan hidup yang sedemikian
beratnya itu?! Tengah ia dalam keadaan begitu, tiba² pintu
terbuka dan sesosok bayangan kecil masuk. Betapa

KOLEKTOR E-BOOK 108


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
terkejutnya Siu Sian ketika diketahui bahwa yang datang
itu adalah Hiat-ji.
“Cici, kau menangis? Ibuku mengatakan, apabila ada
kesusahan, disuruh berunding dengan kyai Kelinci.......
Kyai Kelinci adalah sahabatku yang paling baik. Dan kau
adalah ciciku. Marilah, ci, kau bicarakan pada kyai
Kelinci….…"
Sembari berkata begitu, Hiat-ji sudah terus
mengeluarkan kyai Kelincinya yang kini hanya tinggal
kepalanya saja.
"Dia punya telinga, punya mulut, punya mata dan
punya hidung. Dia tentu dapat mendengarkan kata²mu dan
melihat kau menangis......... ci, kau peganglah!"
Siu Sian tahu bagaimana perasaan Hiat-ji akan
kyainya itu. Nampak Hiat-ji mengangsurkan benda itu
dengan sungguh², terpaksalah Siu Sian menerimanya.
Airmatanya masih tetap bercucuran. Ketika ia hendak
mengucapkan kata², Hiat-ji berjalan keluar untuk kembali
ke kamarnya sendiri. Mungkin dia sudah ngantuk.
Kini Siu Sian berada seorang diri. Kyai Kelincl yang
terletak di atas mejanya situ, nampak tertawa kepadanya.
Topi cong-goan (pembesar tinggi) yang menutupi
kepalanya hanya ketinggalan secarik saja. Mukanya penuh
bintik² gempilan. Tapi biar bagaimana keadaannya, kyai itu
tetap merupakan benda kesayangan Hiat-ji.
Dipinjamkannya benda itu kepadanya, walaupun bersifat
ke-kanak²an, tapi terang keluar dari perasaannya yang
tulus ikhlas. Memikir tentang rasa kasih, teringatlah Siu
Sian akan ayahnya. Tanpa dapat dicegah lagi, air matanya
bercucuran dengan derasnya.…..…...

KOLEKTOR E-BOOK 109


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
“Nona kecil, silahkan keluar! Kita berunding!" tiba²
Siu Sian dikejutkan oleh suatu suara. Buru² kepala kelinci
itu disimpan dalam baju, dan ketika berpaling ke arah
suara tadi ternyata pada jendela situ tampak seorang
menonjolkan kepalanya sambil tertawa kecut! Dan orang
itu bukan lain adalah Biau Kong Hiong. Dengan munculnya
bangsat itu. teranglah sudah bahwa tentu sudah terjadi
apa² pada ayahnya. Hati Siu Sian seperti di-sayat²
perihnya. Dalam kesedihannya itu, timbullah kemarahan
tekadnya. Betapapun jadinya, karena musuh sudah datang,
dia harus bertempur. Begitu bergerak, Siu Sian sudah
menerobos keluar dari jendela. Dengan perdengarkan
ketawanya yang sinis, Kong Hiong pun segera menyusul.
Bertempur dengan bangsat itu terang hanya mencari
kematian. Maka Siu Sian memikirkan rencana untuk lolos.
Tapi begitu teringat akan Hiat-ji, hatinya berduka sekali.
Dengan mengertak gigi, ia lari menghampiri sebuah hutan.
Sebelum lawan tiba, Siu Sian sudah akan melarikan diri,
tapi secepat itu Kong Hiong sudah menghadang dan
berkata:
"Nona kecil, jangan coba² lari. Ketahuilah, bahwa kau
takkan dapat lolos juga. Mari kita berunding. Kau serahkan
kitab itu, dan kuberi kau jalan hidup!”
Hati Siu Sian tertusuk pedih. Memang kata² bangsat
itu benar, asal ia mau menyerahkan kitab itu, jiwanya pun
tertolong. Tapi apabila kitab pusaka yang ke 13 itu sudah
berada di tangan si bangsat, tiada nanti ada orang yang
dapat menandinginya lagi. Pikirannya bekerja keras,
terombang-ambing dalam kebimbangan.

KOLEKTOR E-BOOK 110


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
"Melindungi ilmu lebih berharga dari jiwa orang,
jangan sampai bangsat itu bisa mendapatkan kitab ini.
Untuk membalas sakit hati, lebih dahulu harus
menyelamatkan kitab pusaka ini.....”
Itulah pesan terakhir dari sang ayah. Dan pesan itu
sesaat berkumandang jelas, Siu Sian telah memberikan
janjinya, tak mau ia menghianati. Serentak dia kertak gigi
berseru:
"Bangsat! Kau menghianati suhu, membasmi kaum
perguruan kita. Kelakuanmu itu lebih rendah dari anjing.
Kau hendak mendapatkan kitab itu? Jangan ngimpi!
Masakan kau tak tahu kalau kitab itu berada pada
ayahku.......?“
Kong Hiong tertawa mengejek, katanya:
”Bok buta. sudah binasa. Pada saat menarik napas
penghabisan dia mengatakan kalau kitab itu berada
padamu. Lebih jauh dia mengejek aku, katanya aku
menubruk bayangan kosong dengan mengira kitab itu ada
padanya! Ha, jadi kau masih mau membangkang?!"
Memang Siu Sian sudah menduga kalau
keterangannya tadi bakal tak terpercaya. Tapi ia memang
mau mengulur waktu untuk mencari jalan lolos. Maka demi
nampak si bangsat tertawa sambil mendongakkan
kepalanya, Siu Sian tak mau sia²kan kesempatan itu.
Begitu tangannya bergerak, ia tawurkan serangkum kim-
jwan (senjata rahasia berbentuk seperti mata uang yang
dapat mengeluarkan api). Sembari berbuat begitu, ia terus
menyelinap ke samping hendak lolos!
Tapi Kong Hiong tadi sudah membuat persiapan. Dia
telah salurkan tenaga dalamnya untuk melindungi diri

KOLEKTOR E-BOOK 111


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
terhadap sesuatu kemungkinan. Begitu orang melepas
senjata rahasia, begitu dia terus acungkan tangan sembari
kakinya berjengket, dan suatu tenaga sambaran yang
dahsyat terasa menderu. Han-kim-jwan, senjata rahasia
istimewa dari Swat-san-pay, dalam sekejap saja sudah
berhamburan tak berguna menjadi letikan api! Dan secepat
kilat, sesosok bayangan hitam melesat mengejar dan
mengirim serangan ke punggung Siu Sian.
Melihat dirinya terancam, dengan sigapnya Siu Sian
berpaling menghantamkan seruling kumalanya. Tapi Kong
Hiong terlalu tangguh untuk serangan begitu. Begitu
seruling menyambar datang, dia segera ulurkan tangannya
untuk menjepit. Seketika itu tangan dan kaki Siu Sian
terasa terpaku ke bumi, sedikitpun tak dapat digerakkan.
Kembali Kong Hiong perdengarkan tertawa dinginnya yang
terkenal itu, kemudian katanya:
"Nona cilik, sebenarnya aku masih punya kasihan
padamu. Tapi kau sendiri yang tak tahu diri. Seumur hidup,
aku paling benci kalau ditipu orang. Dan kau telah
melanggar pantanganku itu, Kalau kubiarkan kau hidup,
tentu aku bakal ditertawai orang......."
Habis mengucap, tangannya yang ganas segera
bekerja. Seketika itu Siu Sian rasakan punggungnya
kesemutan. Insyaflah ia, bahwa dirinya telah dicelakai
dengan “thian han sin ciang" pukulan sakti dari Swat-san-
pay! Jadi teranglah, bahwa selembar jiwanya yang kecil itu
sudah dicabut oleh si bangsat.........
Jatuhlah Siu Sian tersungkur ke tanah. Tapi
pikirannya yang cerdas itu segera bekerja. Tangannya
merogoh ke dalam baju, pikirnya daripada jatuh ke tangan

KOLEKTOR E-BOOK 112


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
si bangsat, kitab itu lebih baik dihancurkan saja. Tapi yang
pertama disentuhnya bukan kitab, melainkan kepala dari
kyai Kelinci. Hatinya lemas sayu.....…. Berpaling pula ke
belakang, di sana Kong Hiong sudah nampak mendatangi
rupanya hendak melanjutkan lagi kekejamannya. Dia tentu
akan paksa minta kitab itu atau tentu akan
membinasakannya. Siu Sian mengeluh napas, air matanya
mengucur deras, sesaat dia berseru: ”Orang she Biau, aku
hendak bicara!"
Kong Hiong melengak, tapi serenta nampak wajah
Siu Sian pucat lesi. dia merasa aman.
"Katakanlah!" serunya dengan menganggukkan
kepala.
“Kitab pusaka Thian Han sin-coat ini adalah pusaka
terakhir dari Swat-san-pay. Kalau kuserahkan padamu,
berarti menyerahkan seluruh Swat-san-pay."
“Tidak salah!”
"Ketahuilah, kita kaum Swat-san-pay berpantang
menyerah!“
“Itupun benar!”
“Kini aku sudah menjadi mayat hidup, jiwaku sudah
menganggur dari pernapasanku. Memangnya, kitab pusaka
ini harus kuhancurkan, biar semua tak ada yang
mendapatkan!"
“Itu tiada jeleknya juga!"
"Tapi kitab pusaka Swat-san-pay ini adalah hasil jerih
payah dari leluhur perguruan kita! Aku tak dapat
menghancurkannya! Akh, kau yang mujur! Tapi, kau harus
biarkan aku mati dalam ketenangan. Disamping itu,

KOLEKTOR E-BOOK 113


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
jenazahku biar dikubur oleh anak itu, jangan kau ganggu
padanya......”
“Akur!"
Seluruh perhatian Kong Hiong hanya tercurah pada
kitab pusaka itu. Memang dia mempunyai alasan untuk
berlaku demikian. Sekali kitab sudah berada di tangannya,
siapakah yang berani menentangnya? Ha, seorang anak
kecil yang tak kuat memotes leher ayam, bisa berbuat apa
padanya? Demikianlah dia serentak menyetujuinya.
Sebenarnya, kalau Siu Sian sampai mau
menyerahkan kitab itu adalah karena untuk keselamatan
Hiat-ji. Anak yang begitu muda usianya dan hidup
sebatang kara, bukan lagi sanak kadangnya. Kalau dia
(Hiat-ji) juga sampai turut binasa tanpa dosa, bukankah
penasaran sekali?! Sebetulnya ia dapat menghancurkan
kitab itu, toh paling banyak tubuhnya akan dicincang oleh
si bangsat. Namun hal itu sama artinya, karena toh kini
keadaannya sudah tinggal menunggu ajal saja. Kalau tadi
ia tak meraba kepala kyai Kelinci, tentu ia akan tetap
lakukan penghancuran kitab itu. Tapi kini, rencananya
berobah karena mengingat Hiat-ji. Apalagi toh tak berguna
ia melawan dengan kekerasan pada orang yang bukan
menjadi tandingannya. Dan disamping itu, dapatlah ia
melindungi jiwa dari seorang anak kecil. Dan itu berarti
masih ada setitik harapan.
Sebenarnya kalau ia mau berbuat begitu, urusan
menjadi beres. Jiwanya sendiripun tak sampai binasa. Tapi
karena ia taat akan peraturan Swat-san-pay dan sudah
pula berjanji kepada sang ayah, maka biarpun binasa ia
takkan mau menyerahkan. Hanya karena Hiat-ji

KOLEKTOR E-BOOK 114


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
seoranglah, ia baru mau mengingkari janji. Karena
pikirnya, kalau anak itu ikut binasa, ludeslah seluruh
harapan untuk membalas sakit hati. Jadi dengan
perubahan rencana secara mendadak itu, ia dapat
menghidupkan sebuah exponen untuk menghancurkan
Kong Hiong!
Begitulah, dengan kehancuran hati dan siraman air
mata, Siu Sian memberikan kitab pusaka itu pada Kong
Hiong. Betapa girang Kong Hiong menerima pusaka itu,
sukar dilukiskan. Di-balik²nya beberapa lembar dan
puaslah dia. Karena nyata memang kitab itu adalah aseli
adanya. Setelah itu dia lalu perdengarkan ketawanya yang
terkenal, katanya:
"Nona cilik, kalau tadi² kau serahkan, tentulah kau
takkan begini jadinya. Sayang sudah terlambat, kini kau
hanya tinggal tunggu saat untuk menyusul ayahmu saja."
Sesaat itu, di tegal hutan yang luas situ, segera
terdengar tawa yang panjang, dan sesosok bayangan
segera berkelebat menghilang. Siu Sian rasakan kepalanya
pening dan dadanya sesak karena ditekan oleh suatu
tenaga penggempur. Tahulah ia bahwa si bangsat Kong
Hiong itu telah melepaskan suara tawa yang mengandung
serangan tenaga dalam untuk menghancurkan dirinya.
Darahnya makin pelahan berdenyut, jiwanya sentak-sentik.
Dipandangnya kepala kyai Kelinci, katanya dengan senyum
tawar: “Kyai Kelinci, rupanya kau hanya mau melindungi
Hiat-ji! Karena kau, dulu kita telah menolong jiwa anak itu.
Dan kini, juga karena kau, maka kurobah rencanaku!
Kuyakin jiwa Hiat-ji pun pasti tetap terlindung..….…."

KOLEKTOR E-BOOK 115


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Sembari ber-kata², Siu Sian paksakan diri untuk
bangun. Dengan menahan kesakitan hebat ia kembali ke
hotel. Malam itu, angin bertiup. Siu Sian rasakan sepasang
matanya dingin, namun dengan menggenggam kyai kelinci,
Siu Sian ber-ingsut² menghampiri hotelnya. Karena sudah
larut malam, maka hotel tersebut pun sudah tutup.
Berulang kali dia meminta pintu, tapi pengurus hotel tak
mendengarnya. Atas pengunjukan seorang kacung kecil,
beruntung ia dapat masuk ke kamarnya melalui tembok.
Hal itu dapat menimbulkan kehebohan, namun ia terpaksa
berbuat begitu.
Keesokan harinya Hiat-ji masuk ke kamar Siu Sian
dan tampak keadaan cicinya begitu mengenaskan sekali.
Wajahnya putih seperti kertas, sedang tangannya masih
memegangi kepala kyai Kelinci. Hiat-ji terkejut, tapi segera
Siu Sian memberi tanda padanya supaya lekas
membereskan rekening hotel, kemudian berangkat lagi.
Hendak Hiat-ji mencegah, tapi Siu Sian mendesaknya.
Begitulah dengan menggelendot pada bahu Hiat-ji,
keduanya lalu teruskan perjalanannya. Tahu Hiat-ji bahwa
ada apa² yang kurang beres pada Siu Sian, tapi dia tak
berani menanyakannya. Menjelang tengah hari, mereka
tiba di gunung Ho-gu-san pula. Karena sudah tak kuat lagi,
Siu Sian beristirahat di sebuah goa yang bersih. Begitu
berbaring, Siu Sian merasa agak lega. Kemudian
dituturkannya kejadian semalam itu. Begitu pula tentang
hubungan yang sebenarnya dari Biau Kong Hiong dengan
perguruan Swat-san-pay. Betapa pedih dan benci Hiat-ji,
setelah mengetahui riwayat dari si bangsat yang
berlumuran darah dosanya itu. Tapi sebaliknya, Siu Sian

KOLEKTOR E-BOOK 116


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
tampak tertawa riang sambil mengusap kepala kyai Kelinci,
berkatalah ia:
“Kyai Kelinci menemani aku, sedang kau, dik,
pergilah cari sedikit air, aku sangat haus..........."
Dengan hati seperti di-iris², Hiat-ji berbangkit untuk
mencari air. Tapi baru kakinya melangkah di ambang mulut
gua tiba² Siu Sian meneriakinya:
“Adik, tak usahlah, aku sudah tak kuat lagi.
Berjanjilah padaku! Bila aku sudah meninggal, katakanlah
pada kiai Kelinci supaya dia memberi kesaksiannya bahwa
kau akan menuntutkan balas sakit hati klta........."
“Cici, kau takkan meninggal!
“Ya, dik, aku hanya menjagai kemungkinan
saja......."
Dengan ber-linang² air mata, Hiat-ji berangkat
mencari air. Sampai di mulut gua, kembali seruan Hiat-ji
me-ngiang² di telinga Siu Sian: “Cici, kiai Kelinci akan
menemani dan melindungimu, kau takkan meninggal..."
Siu Sian tersenyum, dua butir tetesan air mata
menitik keluar. Napasnya makin lemah, dan makin lemah,
untuk akhirnya berhentilah sang jantung berdenyut.
Seorang gadis kecil yang masih putih bersih dan lincah
cerdas, seorang lihiap (pendekar wanita) dari dunia
persilatan, telah mengakhiri hldupnya dalam sebuah goa
pegunungan. Hanya si kepala kyai kelinci dengan topi
kebesarannya itu saja yang masih selalu tampak
bersenyum. Hening sunyi di keliling tempat itu......
Setelah berhasil mendapat air, pulanglah Hiat-ji
dengan ber-gegas². Di luar goa dia sudah ber-seru²
memanggil Siu Sian. Tapi demi masuk ke dalam dan

KOLEKTOR E-BOOK 117


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
nampak keadaan yang menyedihkan dari Siu Sian, dia se-
olah² terpaku di tanah. Entah sampai berapa saat dia
berdiri seperti patung. Yang nyata, dia tak menangis,
karena air matanya sudah kering dibawa sang penderitaan.
Hiat-ji berlutut di samping jenazah Siu Sian, tangannya
masih mencekal tempat air.
Sesaat pula terdengarlah kata² Hlat-ji berkumandang
memenuhi goa itu:
“Cici, kyai kelinci melindungimu.….. Ci, ini airnya.
Minumlah seteguk..... minumlah........."
Dengan tangan bergemetaran. porong air itu
dilewatkan ke mulut Siu Sian. Air menetes turun ke leher
Siu Sian. Dengan hati² sekali, Hiat-ji pakai lengan bajunya
untuk menghapusnya bersih, lalu katanya:
“Cici..........kyai Kelinci melindunglmu..…..... ci,
tertawalah...... hanya........."
Mengucap sampai di situ, tiba² Hiat-ji tertawa
keras.….. suaranya berkumandang menggetarkan goa itu:
“Ci, kau takkan mati,.....…ya, kubilang,........kau takkan
mati......kenapa......... huk, huk........."
Pecahlah kini suara tangis Hiat-ji. Pe-lahan² kyai
kelinci diambilnya, kemudian katanya seorang diri dengan
ter-bata²:
“Cici, kau menangis?......... butir airmata masih
mengembang di pelupuk! Jangan menangis ci.... kyai
Kelinci mengatakan tak boleh menangis...… kau......
menatap mukaku......... kenapa....….."
Tiba² kyai Kelinci diangkatnya ke atas, dan
berkatalah Hiat-ji dengan nada ber-sungguh²: “Kyai

KOLEKTOR E-BOOK 118


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Kelinci! Biarlah kau menjadi saksi dari sumpahku ini. Aku
mau membalas sakit hati, sakit hati dari guruku......”
Entah karena arwahnya puas mendengar sumpah
Hiat-ji ini, atau entah karena soal lain, maka demi Hiat-ji
selesai mengucap sumpahnya itu, kalau tadi pelapuk mata
Siu Sian masih belum rapat, kini pe-lahan² dapat meram
dengan rapatnya. Sementara mulutnya pun menyungging
senyum kepuasan!
Hiat-ji tengkurap ke bawah, didekapnya kyai Kelincl
dan menangislah dia meng-gerung². Entah sampai berapa
lama suasana yang mengharukan itu berlangsung. Hanya
pada lain saat, tiba Hiat-ji berbangkit, dia teringat akan
pesan almarhum ibunya: "Kau harus keraskan hati untuk
hidup!” Memang benar, sekalipun hidup di dunia ini
baginya tiada berarti, tapi kenyataan dia masih hidup.
Apalagi dia telah bersumpah di hadapan kyai Kelinci untuk
menuntut balas. Bagaimana dia dapat melaksanakan
sumpahnya itu bila dia tak tabah untuk hidup?! Kembali
pengalaman pahit mengisi lembaran sejarah kehidupan
Hiat-ji.
Hiat-ji segera cari batu² besar untuk menutup lubang
mulut goa. Setelah itu, dia tanam sebuah tanda peringatan
yang hanya diketahui oleh dia sendiri. Bagian sisa tubuh
kyai Kelinci yang sudah keropos itu, ditinggalkan di dekat
jenazah Siu Sian. Kemudian dengan membawa kepala kyai
Kelinci, dia tinggalkan tempat itu. Berat nian hatinya ketika
sang kaki melangkah.
Sepeninggalnya dari Hok-gu-san, haripun mulai
gelap. Angin malam terasa dingin. Sepeserpun Hiat-ji tak
membawanya. Ini salahnya sendiri! karna tidak tega, dia

KOLEKTOR E-BOOK 119


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
sudah tak merogohi kantong baju Siu Sian. Padahal di situ
terdapat sejumlah uang yang lumayan banyaknya. Yang
dibawa hanyalah seruling kumala, Siu Sian. Hanya saja,
seruling itu tak dapat ditukarkan dengan makanan.
Begitulah hari itu dia keripuhan sekali. Karena
berjalan jauh, perutnya terasa lapar sekali. Untungnya dia
sudah biasa berperut kosong se-hari²nya, “Lebih baik
kujadi kajem lagi,” demikian dia berkata seorang diri. Tapi
pada lain saat hatinya berontak. Bukanlah dia bersumpah
hendak menuntut balas? Ya, sumpah telah diucapkan, tapi
bagaimana hendak melaksanakannya?!
Memang sudah menjadi jalannya nasib, kebetulan
Hiatji pun menuju ke kota Lam-yang dan berjumpa dengan
sais tua itu, siapa karena melihat ciri² Hiat-ji seperti yang
diterangkan oleh Seng Ho, lalu diajaknya ke Sin-ya.
Sedikitpun tak terlintas dalam pikiran Hiat-jl, bahwa di situ
dia bakal bertemu dengan paman Ngo, atau Seng Ho. Dan
yang paling membuatnya tak habis mengerti ialah
bahwasanya Seng Ho pun sedang menderita luka parah.
Dari satu ke lain kedukaan, membuat Hiat-ji makin
hancur hatinya. Saking tak tahan, sampan mulutnya
mengatakan bahwa biar bagaimana Seng Ho pasti takkan
mati. Tapi ini hanya curahan kalbu seorang anak kecil saja.
Kenyataanya, pada waktu itu keadaan Seng Ho sudah tak
punya harapan lagi. Dia kuat bertahan hidup sampai
sepuluhan hari itu, berkat mempunyai obat dewa. Sayang,
bekal obatnya itu tak cukup banyak.
Setelah mendengarkan kisah penuturan Hiat-ji, Seng
Ho makin berduka, katanya:

KOLEKTOR E-BOOK 120


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
“Konon
kabarnya kitab
pusaka ke 13 dari
Swat-san-pay itu,
memuat ilmu silat
yang dapat
menjagoi dunia
persilatan. Dengan
memiliki yang 12
buah saja, bangsat
itu sudah dapat
malang-melintang di
kolong dunia tanpa
ada yang mampu
mengalahkan. Kini
dengan
mendapatkan kitab
yang ke 13 itu,
bangsat yang
berotak cerdas itu
pasti dalam waktu yang singkat saja, tentu dapat menepuk
dada. Ini.......”
Adanya Seng Ho sampai dapat bertahan sepuluh hari
itu, karena dia jaga betul² supaya pikiran dan jasmaninya
dapat beristirahat dengan tenang. Tapi kala dia memikirkan
kejayaan si bangsat, hatinya mendidih geram. Inilah
pantangan. Karena dengan begitu, denyut darahnya
menjadi panas deras, dan bengkaklah nadi lukanya!

KOLEKTOR E-BOOK 121


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Tiba² dia menatap Hiat-ji kembali, katanya: "Nak,
kau . ........ tak punya senjata apa²….. ilmu silat sama
sekali kau tak mengerti..... mana bisa ......... "
Nampak wajah SengHo pucat pasi dan suaranya pun
terputus ter-sengal², Hiat-ji bingung tak keruan. Buru² dia
berlutut di samping pembaringan dan berkata dengan
separoh meratap :
“Paman......... kau ...... takkan tinggalkan aku.…
sungguh ......... jangan tinggalkan aku."
Sakit Seng Ho makin merangsang, matanya mulai
ber-kunang², telinganya ber-desing² dan napasnya mulai
mengangsur keras. Sekalipun hatinya masih terang tapi
tenggorokannya sudah terasa berat. Tiba² terkilas sesuatu
pada pikirannya:
“Mungkin pada peta rahasia dari gunung Siao-sit-san
itu mengandung pusaka yang luar biasa," berpikir sampai
di sini dia mengumpulkan ingatannya akan kejadian²
dahulu, dan benaknya pun mulai ber-putar², mengapa aku
harus tunggui anak ini! Mengapa dulu² aku tak lekas
tinggalkan kota Siangyang saja dan baru setelah
berkenalan dengan anak itu aku ingat lagi untuk tinggalkan
Siangyang? Pak Bok telah tiada, putrinya pun sudah
meninggal. Tapi anak itu sungguh besar rejekinya hingga
dapat terus hidup sampai sekarang. Dan mengapa tak
kukatakan pada si sais tentang ayahku atau adikku, tetapi
menyebutkan dia sebagai keponakanku? Dan mengapa
akhirnya sais itu berhasil juga menemukannya! Mungkin di
situ terdapat karma, atau lebih tegas, memang sudah
suratan takdir. Peta rahasia telah dapat kutemukan, tapi
dalam keadan begini, rasanya hanya anak itu sajalah yang

KOLEKTOR E-BOOK 122


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
dapat mencar pusaka itu! Dan kuyakin, pusaka itu tentu
menjadi alat pembasmi bangsat itu. Kalau tidak demikian,
mengapa jalannya begini ber-belit².....
Disamping memikirkan segi positifnya, pun Seng Ho
memikirkan juga segi negatifnya. Bahwasanya karena anak
itu sedikitpun tak mempunyai kepandaian ilmu silat,
sekalipun pusaka itu dapat diketemukan_ yang kebanyakan
tentu sebuah senjata sakti atau gambar² pelajaran ilmu
silat_ toh tiada gunanya sama sekali.... ah, mungkin juga
pusaka itu berupa zamrud mutu manikam dari jaman
dahulu yang harganya tiada takerannya..... Dan kalau hal
itu benar, dia betul² kecewa di atas kecewa!
Tapi peta rahasia itu merupakan kesempatan yang
terakhir! Berhasil tidaknya tergantung atas peruntungan
anak itu. Begitu pula soal dapat tidaknya terlaksana
pembalasan sakit hati itu, tergantung akan dia. Tapi, ah,
baik benda itu merupakan senjata pusaka kah, gambar
pelajaran ilmusilat kah atau ratna mutu manikam kah, toh
kesemuanya itu bermanfaat bagi si anak...........
Seng Ho rasakan dirinya makin payah. Seluruh
tulang belulangnya lemas terkulai. Insyaflah dia bahwa
saat kematiannya sudah mendekat. Dalam detik²
peregangan jiwanya itu Seng Ho paksakan untuk
meninggalkan pesan:
”Kalau hendak melakukan...... pembalasan ...... lekas
pergi ............Siao-sit............"
Seorang pemuda yang berhati baja, dan berambekan
perwira telah mengakhiri hidupnya di sebuah hotel di Sin-
ya. Di sampingnya Hiat-ji masih mendoa pada sang kyai
Kelinci: "Kyai, jangan biarkan paman meninggal........

KOLEKTOR E-BOOK 123


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
kalau dia sampai meninggal, kawan hidupku hanya tinggal
kau separo badan...... ”
Tiba² dia dikejutkan oleh kata² yang ter-putus² dari
Seng Ho, kata² pesan terakhirnya. Sebat dia berbangkit
untuk memeriksa pembaringan. Di situ ternyata tubuh
Seng Ho sudah lurus membujur. Kaki tangannya dingin,
mulut dan matanya sudah terkancing rapat.
"Paman......!" Hiat-ji menjerit. Tapi sang paman
sudah tiada dapat menyahut lagi. Dalam keheningan saat
itu, jelas masih berkumandang kata pesan terakhir dari
paman Ngo tadi! Darahnya tersirap. Ya, dia harus lakukan
pembalasan! Tapi......... bagaimana jalannja?!
Kepala kyai Kelinci yang masih digenggamnya itu
tampak tetap tertawa memandangnya. Dengan kertak gigi,
diangkatnya mainan itu ke atas mukanya sambil
menghadap ke arah jenazah Seng Ho, dia mendoa: "Kyai
Kelinci menjadi saksi di sini..........”
Doa sumpah Hiat-ji itu selalu ter-putus² dengan
tangis sengguknya. Dan akhirnya dia menangis keras. Hal
itu telah membikin kaget orang² yang menumpang dalam
hotel situ. Yang pertama-tama muncul ialah pak sais tua,
siapa setelah menyaksikan pemandangan yang
mengenaskan itu, lalu menghela napas kedukaan.........
Syukurnya, Seng Ho masih meninggalkan sejumlah uang.
Segera Hiat-ji suruh orang membelikan peti mati. Peti
jenazah Seng Ho diangkut ke sebuah biara di luar kota.
Meskipun ongkos penguburannya berjumlah besar, tapi
akhinya Hiat-ji dapat juga menyelesaikannya.
Setelah penguburan selesai, kini Hiat-ji mulai
memikirkan rencananya sendiri. Untuk melaksanakan cita²

KOLEKTOR E-BOOK 124


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
pembalasan itu, tak tahu dia harus menuju ke mana.
Sesaat mengianglah kata² Siu Sian: "Harus membalas sakit
hati!" Dan pada lain saat, berkumandang di telinganya
pesan terakhir dari Seng Ho itu: "Kalau mau lakukan
pembalasan, lekas pergi ke Siao-sit-san!"
Menilik bahwa dirinya toh sudah sebatang kara hidup
dalam kelana penderitaan, akhirnya dia mengambil
keputusan untuk pergi ke gunung Siao-sit-san sesuai
dengan petunjuk sang paman. Toh di sana, sama djuga,
dia bisa hidup dengan minta². Tapi..… di mana letak
gunung itu? Memikir sampai di sini, dia ter-mangu²!
Pada saat itu tiba² datanglah pak sais. Dia nasehati
dan ajak Hiat-ji kembali ke hotel untuk tinggal smalam
lagi. Hiat-ji pun menurut. Setibanya di dalam kamar, dia
kumpulkan beberapa benda peninggalan: seruling kumala,
kyai Kelinci, ikat pinggang Seng Ho dan beberapa potong
uang emas. Dari ikat pinggang itu dikeluarkannya selembar
peta, yang dari garis²nya merupakan suatu perjalanan
yang jauh sekali. Pada sepanjang garis itu, dituliskan nama
jalanannya dan malah terdapat juga keterangan tentang
mata anginnya. Akhir ujung dari garis² itu ada setitik
bundaran merah yang bertuliskan namanya “Bu-cong-tong"
atau gua tak berujung. Di sampingnya terdapat sebaris
huruf² kecil yang berbunyi demikian: "Tiada ujung, tiada
peristirahatan, tiada sebuah benda. Barangsiapa yang
melihatnya, akan mendapat pusaka berharga!”
Hiat-ji tak mengerti apa maksud kata² itu, tapi se-
olah² kedengaran pula suara berkumandang: “lekas pergi
ke Siao-sit-san!" Hiat-ji tak mau berbanyak hati lagi.
Keputusannya: besok dia akan berangkat ke Siao-sit-san.

KOLEKTOR E-BOOK 125


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Dan untuk itu dia sudah mendapat kesanggupan dari pak
sais untuk menumpang keretanya. Demikianlah, setelah
mengemasi barang²nya itu, dia lalu masuk tidur.
Keesokan harinya, Hiat-ji berunding dengan pak sais.
Dengan memberikan sejumlah uang, pak sais suka
mengantarkannya ke kota Teng-hong. Karena menurut
keterangan yang diperolehnya, Siao-sit-san itu berada di
pegunungan Ko-san, dan gunung Ko-san itu berada di
wilayah Teng-hong. Hiat-ji hanya mengatakan dia mau
mengunjungi seorang pamannya yang bertempat tinggal di
Teng-hong. Pak sais tak mau menanyai lebih lanjut, karena
kasihan pada anak itu, maka diantarkannya dia kesana!
Demikianlah, kereta yang membawa Hiat-ji itu mulai
berjalan menuju ke Teng-hong. Nun di sana, gunung Siao-
sit-san dari kota Teng-hong itu, se-akan² tengah menanti
kedatangan Hiat-ji.
Hari itu cerah sekali. Se-olah² mengatakan pada
Hiat-ji bahwa jalan hidupnya mulai bersinar. Habis gelap,
terbitlah terang! Perjalanan hari itu adalah langkah
pertama dari kejayaannya di kemudian hari!
Disepanjang perjalanan itu, sebenamya penuh
dengan pemandangan alam yang indah permai. Tapi bagi
Hiat-ji, pikirannya tak sempat menikmati kesemuanya itu.
Lubuk otaknya penuh diliputi cara bagaimana dia dapat
melaksanakan sumpah yang telah diucapkan di hadapan
pak Bok, Siu Sian dan Seng Ho. Menuntut balas,
membangunkan kejayaan Swat-san-pay. Ya, tugas yang
maha berat itu diletakkan pada bahu Hiat-ji. Seorang anak
kecil. Ah, dia berharap mudah²an di gunung Siao-sit-san
nanti dia berhasil dapat menemukan pusaka itu.

KOLEKTOR E-BOOK 126


Pdf Maker : Oz
BU LIM KI SIU – WEN LUNG
ADITYA INDRA JAYA & AWIE DERMAWAN
Dunia persilatan pada masa itu telah digenggam oleh
Biau Kong Hiong, si Setan Tanpa Bayangan, berkat dia
telah berhasil mendapatkan kitab pusaka ke 13 dari kaum
Swat-san-pay. Dia menyimarajalelai kaum persilatan
dengan keganasan dan kelalimannya.
Ah, mengapa dunia merelakan orang yang kejam
berangkara-murka?
Tidak! Hukum alam tetap berlaku! Soalnya hanya
lambat atau lekas. Tapi bagaimanapun juga, tetap saat² itu
akan datang nanti. Ya, saat² di mana si angkara itu akan
mendapatkan pembalasannya yang setimpal............

-TAMAT-

Cara bagaimana Hiat-ji memperoleh pelajaran ilmu silat


dan menuntut balas?
Bacalah: PUSAKA ke 13
Satu buku tamat. Lebih seru dan tegang!

Pojokdukuh, 15 Juli 2019; 06:56 WIB

KOLEKTOR E-BOOK 127


Pdf Maker : Oz