Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Perekayasaan Budidaya Air Payau dan Laut No.

14 Tahun 2019
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

SISTEM BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA TAMBAK


HDPE DENGAN SUMBER AIR BAWAH TANAH SALINITAS TINGGI
DI KABUPATEN PASURUAN
Agus Suriawan1, Sarman Efendi2, Sugeng Asmoro3, Jaka Wiyana4

Abstrak
Intensifikasi budidaya udang vaname di Kabupaten Pasuruan terkendala pencemaran
limbah industri pada sumber air untuk budidaya udang. Sumber air tanah dapat menjadi solusi
walaupun terkendala salinitas dan kandungan logam (Fe) yang tinggi. Tujuan dari
kerekayasaan ini adalah untuk mendapatkan informasi teknologi sistem budidaya udang
vanname skala intensif dengan tambak Plastik HDPE di Kabupaten Pasuruan dengan
menggunakan sumber air tanah bersalinitas tinggi. Dua petak budidaya udang persegi
panjang dengan luas masing-masing 2500 m2 disiapkan sebagai petak budidaya dan tandon.
Alur kegiatan budidaya meliputi: Persiapan tambak, Persiapan air, Penebaran benur,
Pemberian pakan, Manajemen kualitas air. Parameter pengamatan: Average Daily Growth
(ADG), Survival Rate (SR), Feed Conversion Ratio (FCR) dan Kualitas air (salinitas, suhu, pH,
Fe). Hasil pada periode pertama dengan padat tebar 125 ekor/m 2 mendapatkan hasil 4.200
kg dengan berat rata-rata 13,3 – 20 gram (panen parsial); SR 82,66 % ; FCR 1,37 ; ADG 0,24
; masa pemeliharaan 120 hari. Hasil pada periode kedua dengan padat tebar 100 ekor/m 2
mendapatkan hasil 4.800 kg dengan berat rata-rata 15,3 – 22,2 gram (panen parsial); SR 90,4
%; FCR 1,26; ADG 0,33 ; masa pemeliharaan 110 hari. Profil kualitas air: salinitas 38 – 40
ppt; suhu 25 – 30 oC; pH 7,7 – 8,1; Fe air budidaya 0,10 - 0,15. Penggunaan air tanah salinitas
tinggi dengan kandungan logam (Fe) tinggi, tidak menjadi kendala teknis dalam budidaya
udang vaname intensif di Kabupaten Pasuruan.

Kata Kunci: Udang Vaname, Air Bor, Salinitas Tinggi

Abstract : White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Culture System on The Pond Of HDPE
with Underground Water and High Salinity in Pasuruan Regency

Intensification of white shrimp Culture in Pasuruan Regency is constrained by pollution of


industrial waste in water sources. The source of saline underground water can be a solution
even though it is constrained by high salinity and metal (Fe) content in groundwater. The aim
of this research is to obtain information on the technology of intensive scale white shrimp
culture systems with HDPE plastic pond in Pasuruan Regency by using high salinity
underground water sources. Two rectangular ponds with an area of 2500 m2 each were
prepared as Culture pond and reservoir. The flow of aquaculture activities includes Pond
preparation, water preparation, stocking fry, feeding, water quality management. The
parameters are Average Daily Growth (ADG), Survival Rate (SR), Feed Conversion Ratio
(FCR) and water quality (salinity, temperature, pH, Fe). The Result in the first period with a
stocking density of 125 PL / m2 was 4,200 kg with an average weight of 13.3 - 20 grams (partial
harvest); SR 82.66 %; FCR 1.37; ADG 0.24; maintenance period of 120 days. In the 2nd period
with stocking density of 100 PL / m2 resulted in 4,800 kg with an average weight of 15.3 - 22.2
grams (partial harvest); SR 90.4%; FCR 1.26; ADG 0.33; maintenance period 110 days. The

1 Perekayasa pada BPBAP Situbondo


2 Pengawas Perikanan pada BPBAP Situbondo
3 Pengawas Perikanan pada BPBAP Situbondo
4 Pengawas Perikanan pada BPBAP Situbondo

6
7 SURIAWAN, ET AL. Jurnal Perekayasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

important water quality profiles are salinity 38 - 40 ppt; temperature 25-30 oC; pH 7.7 - 8.1; Fe
0.01 - 0.15 mg/L. The use of high salinity underground water with high (Fe) metal content does
not become a technical obstacle in intensive white shrimp production in Pasuruan Regency.

Keywords: White Shrimp, High Saline Groundwater

I. PENDAHULUAN miliar; 2,60 miliar; 2,16 miliar; 1,98 miliar; dan


1,67 miliar (Suhana, 2017).
1.1. Latar Belakang Tercatat produksi udang tahun 2016
sebesar 698.138 ton dan 70 % dari total
produksi dang berasal dari udang vaname. Akan
Budidaya udang vaname (Litopenaeus tetapi, pada tahun 2017, volume produksi
vannamei) di Indonesia sudah berkembang udang mengalami penurunan yang signifikan
dengan pesat dan menjadi andalan utama sampai 20 % menjadi 555.138 ton. Salah satu
ekspor hasil budidaya perikanan untuk penyebabnya adalah penyakit White Feces
mendatangkan devisa negara. Udang vannamei Syndrome (WFS), White Spot Syndrome (WSS)
memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dan Infectious Mionecrosis Virus (IMNV)
dengan spesies lainnya, beberapa keunggulan (https://news. trubus.id,2017).
tersebut adalah: Budidaya pola intensif dan super intensif
▪ Laju pertumbuhan bisa mencapai 1-1,5 udang vaname di Indonesia hingga kini telah
gr/minggu berkembang dan menggunakan berbagai jenis
▪ Bisa dibudidayakan dengan padat tambak yaitu tambak tanah, tambak semen dan
penebaran tinggi (125 – 250 ekor/m2) tambak HDPE. Masing-masing jenis tambak
▪ Toleransi salinitas relatif luas (0,5 – 45 %0) tersebut mempunyai keunggulan dan
▪ Kebutuhan protein pakan lebih rendah (20 – kelemahan secara teknis dan ekonomis. Untuk
30%) dibandingkan spesies lain, FCR lebih lokasi budidaya udang dengan tingkat porositas
rendah (1 : 1,1 – 1,2) yang tinggi dan tingkat resiko serangan penyakit
▪ Ukuran panen relatif seragam, jumlah yang yang tinggi karena faktor lingkungan yang
under size relatif rendah kurang ideal, tambak plastik menggunakan
▪ Udang vaname relatif mudah dibudidayakan HDPE merupakan pilihan yang tepat.
dan bisa dilakukan diseluruh dunia. Wyban Kabupaten Pasuruan meliputi wilayah
dan Sweeney (1991). perairan laut yang terbentang sepanjang ± 48
Total nilai ekspor komoditas perikanan km mulai dari Kecamatan Nguling sampai
tahun 2012 mencapai USD 3,59 miliar dan tahun Bangil, yang terdiri atas kawasan danau,
2016 meningkat menjadi 3,86 miliar dollar AS. perikanan air tawar dan perikanan air payau
Jika dilihat dari jenis komoditasnya, terlihat yang sangat potensial untuk
bahwa besarnya nilai ekspor komoditas dikembangkan. Kegiatan utama usaha
perikanan didominasi oleh komoditas udang perikanan adalah penangkapan ikan di laut dan
vaname beku. Berdasarkan data International budidaya ditambak. Kedua usaha tersebut
Trade Center (2017), terlihat bahwa kontribusi memberikan kontribusi yang besar dalam
nilai ekspor udang vaname beku (Whiteleg peningkatan produksi perikanan. Produksi
shrimps) terhadap total nilai ekspor perikanan perikanan budidaya di Kabupaten Pasuruan
tahun 2016 mencapai lebih dari 27 persen. pada tahun 2016 mengalami peningkatan dari
Berdasarkan hal tersebut, tampak bahwa udang 15.261,24 ton tahun 2015 menjadi 16.390,60 ton
memiliki peranan yang besar terhadap kinerja pada tahun 2016 atau terjadi peningkatan 7,40
ekonomi perikanan Indonesia.Namun demikian, %. Produksi perikanan budidaya memberikan
sampai saat ini nilai ekspor udang Indonesia kontribusi sebesar 64,03% dari total produksi
masih lebih rendah dibandingkan dengan hasil kelautan dan perikanan tahun 2016
negara-negara produsen udang dunia lainnya, (http://pasuruankab.go.id, 2017).
seperti India, Vietnam, Ekuador, China, dan Hampir seluruh kawasan budidaya
Thailand.Dari data International Trade Center perikanan di Kabupaten Pasuruan merupakan
(2017), pada tahun 2016 India tercatat sebagai kawasan budidaya yang mengadopsi pola
negara yang memiliki nilai ekspor udang tertinggi tradisional (ekstensif) dengan luas lahan
di dunia, yaitu mencapai 3,70 miliar dollar AS. budidaya minimal 1 - 2 ha dan padat penebaran
Berikutnya Vietnam, Ekuador, China, Thailand, yang rendah. Untuk meningkatkan produksi
dan Indonesia yang masing-masing memiliki perikanan budidaya di Kabupaten Pasuruan
nilai ekspor dalam dollar AS sebanyak 2,71
No. 14 Tahun 2019 SISTEM BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA 8
TAMBAK HDPE DENGAN SUMBER AIR BAWAH TANAH SALINITAS
TINGGI DI KABUPATEN PASURUAN

khususnya budidaya udang vaname diperlukan permasalahan yang ada. Tujuan dari
intensifikasi budidaya udang vaname. kerekayasaan ini adalah untuk mendapatkan
Permasalahan yang timbul adalah ketersediaan informasi teknologi sistem budidaya udang
sumber air baku untuk budidaya udang sering vanname skala intensif dengan tambak Plastik
terkendala dikarenakan pencemaran limbah HDPE dengan menggunakan sumber air tanah
industri yang banyak terdapat di Kabupaten (bor) bersalinitas tinggi di Kabupaten Pasuruan.
Pasuruan. Hal ini menyebabkan potensi
terserang penyakit menjadi sangat besar. II. METODOLOGI
Beberapa uji coba telah dilakukan
menggunakan tambak tanah dengan pola semi
2.1. Alat dan Bahan
intensif selalu mengalami kegagalan. Umur
budidaya maksimal yang dicapai 30 hari. Untuk Peralatan yang digunakan dalam
itu upaya memanfaatkan sumber air tanah (bor) perekayasaan ini adalah dua buah tambak
sebagai sumber bahan baku air budidaya udang budidaya udang dengan lapisan plastik HDPE
intensif merupakan usaha alternatif yang perlu 0,75 mm dengan luas 2.500 m2 disiapkan
dilakukan untuk kelangsungan budidaya udang. sebagai petak budidaya dan tendon. Peralatan
Pada beberapa kawasan di Kabupaten pompa, kincir 1 HP (8 buah) dan peralatan
Pasuruan sumber air tanah memiliki karakteristik lapang lainya seperti ancho, siphon, saringan,
dengan salinitas yang tinggi (35-38 ppt) dan timbangan disiapkan dengan terklebih dahulu
terbatas akan ketersediaan air tawar. Sebagian dilakukan sterilisasi pada peralatan yang
petani masih ragu untuk melakukan kegiatan langsung bersentuhan dengan air budidaya.
budidaya udang vaname secara intensif pada Peralatan lapangan kualitas air juga disiapkan
kondisi sumber air dengan salainitas yang tinggi dan telah dikalibrasi untuk memastikan
(35-40 ppt). Karena petani lebih biasanya keakuratannya.
melakukan budidaya udang pada salinitas yang Adapun bahan yang dibutuhkan adalah
lebih rendah (10-20 ppt). udang vaname PL 12, Pakan udang protein
Hasil penelitian yang dilakukan Robertson, minimal 32 %, Kaporit70 % sebagai bahan
L., et al, 1993. Menyatakan adanya keterkaitan sterilisasi, Probiotik dengan kandungan utama
antara level protein pakan dengan level salinitas Lactobacillus sp. 109, Desinfektan, Kapur,
pada budidaya udang vaname. Budidaya udang Molase sebagai sumber carbon, dan bahan
dengan salinitas tinggi memiliki level pengkaya pakan (Vitamin C, selenium organik
pertumnuhan yang lebih rendah pada kondisi danBinder).
hypersalinitas (46 ppt). Hasil yang sama juga
diperoleh oleh Perez-Velazquez et al. (2007) 2.2. Metode Kerja
dan Sui, Ma and Deng (2015). Akan tetapi Perekayasaan budidaya udang vaname
beberapa studi lainnya menyatakan bahwa sistem intensif di Tambak Plastik HDPE di
salinitas tinggi tidak mempunyai efek pada Pasuruan dilakukan pada dua periode budidaya
pertumbuhan udang (Perez-Velazquez, et al., dengan padat tebar 125 ekor/m2 dan 100
2007; Villarreal & Hewitt, 2003). Disamping ekor/m2. Adapun urutan kegiatan budidaya
permasalahan salinitas yang tinggi pada air sebagai berikut:
tanah, juga mengandung besi (Fe) yang cukup
tinggi sehigga cukup mengganggu dalam proses a. Persiapan petak budidaya
persiapan air budidaya maupun penggantian air. • Petak tendon dan budidaya dibersihkan
Selama 2 tahun terakhir budidaya udang dari sisa-sisa pakan lumpur dan endapan
sistem busmetik (budidaya udang skala mini sedimen lainnya.
empang plastik) mulai berkembang dengan luas • Selanjutnya disterilisasi dengan
lahan 400-1000 m2 dengan hasil yang cukup menggunakan kaporit 20 ppm
baik. Akhir tahun 2017 budidaya udang intensif • Bagian luar petak budidaya dan tandon
di Kabupaten Pasuruan mengalami kegagalan dipasang jarring hitam (waring) dan
yang disebabkan karena serangan penyakit plastik LLDPE sebagai pagar biosecurity.
terutama WFS, WS dan IMNV. Selain itu pola
budidaya masyarakat dengan padat tebar yang b. Persiapan air budidaya di petak
tinggi 150 – 250 ekor PL/m2 menjadi salah satu tandon
penyebab dimana daya dukung lahan dan • Media air pemeliharaan udang
kualitas air yang kurang mendukung dipersiapkan di petak tendon.
memberikan kontribusi pada kegagalan • Petak tandon yang telah diisi air yang
budidaya. Untuk itu diperlukan suatu kajian berasal dari sumur bor (30-34 ppt)
kerekayasaan untuk mendapatkan solusi dari
9 SURIAWAN, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

disterilisasi dengan menggunakan kaporit g. Parameter pengamatan


(70 %) 20 ppm. • Average Daily Growth (ADG) atau rata-
• Kincir air dihidupkan untuk pemerataan rata pertumbuhan harian yang diukur
penyebaran kaporit kemudian kincir air setiap 7– 10 hari sekali.
dimatikan untuk mengendapkan partikel
bahan organik maupun endapan logam Pengukuran ADG
yang terkandung dalam air bor selama 4 – ADG diukur dengan menimbang berat
5 hari. calon induk udang vanname (g) dan
• Setelah 7 hari air tandon yang sudah dihitung dengan menggunakan
netral dicek kandungan chlornya dengan persamaan berikut:
menggunakan chlorin test.
ADG (g/hari)= (Wt – Wo) /t,
c. Persiapan air pada petak budidaya
• Air steril dari petak tendon dipompa ke Dimana,
petak budidaya hingga ketinggian minimal ADG adalah Average Daily Growth dalam
100 cm. berat gram/hari. Wt dan Wo adalah berat
• Kincir dihidupkan untuk menambah udang pada waktu pengukuran (t) dan
kandungan oksigen terlarut. pada saat berat awal udang vanname (o).
• Probiotik (Lactobacillus sp.) ditebarkan T adalah lama waktu pemeliharaan
sebanyak 20 ppm selama 7 hari berturut- (sampling).
turut. • Kualitas air yang meliputi suhu, salinitas,
• Jika plankton belum tumbuh maka oksigen terlarut (DO), Amonia, Nitrit, pH,
dilakukan pemberian pupuk campuran ZA kadar logam berat, bahan organik dan
dan Urea 5 ppm. total bakteri vibrio yang diukur 3 - 7 hari.
• Survival Rate (SR), dan
d. Penebaran benur • Feed Convertion Ratio (FCR)
• Penebaran benur vaname harus segera
dilakukan setelah petakan tambak siap
untuk pemeliharaan. Waktu penebaran III. HASIL DAN PEMBAHASAN
dilakukan pada sore hari pukul16.00.
• Benur yang baru datang dimasukkan 3.1. Profil Sumber Air Budidaya di Lokasi
dalam petakan tambak untuk Instalasi Pasuruan
diaklimatisasi. Kawasan budidaya perikanan di Kabupaten
• Sampling jumlah benur dilakukan untuk Pasuruan dilewati beberapa aliran sungai yang
mengetahui jumpah pasti benur yang bermuara di pantai utara Kabupaten Pasuruan.
akan ditebar. Banyak industri yang terdapat dikawasan sekitar
area budidaya yang tentu saja membawa
e. Manajemen Pakan konsekuensi menurunnya kualitas lingkungan
• Pada umur DOC 0 – DOC 30, metode budidaya. Hasil pengujian sampel air sungai
pemberian pakan menggunakan metode Welang yang melalui area instalasi BPBAP
blind feeding. Situbondo di Pasuruan dan kawasan budidaya
• Setelah DOC 30 jumlah pemberian pakan tambak tradisional, yang dilakukan saat musim
diberikan berdasarkan sampling dan kemarau menunjukkan kadar logam berat yang
target ADG. cukup tinggi diatas standar minimum bagi
• Pemberian pakan dilakukan sebanyak 6 budidaya perikanan (Tabel 1). Sedangkan pada
kali yaitu pukul 06.00, 08.30, 11.00, 14.30, saat musim hujan tidak terdeteksi
17.00 dan 19.30 Kondisi ini menunjukkan kondisi perairan
sungai tidak dapat lagi digunakan sebagai
f. Manajemen Kualitas Air sumber air budiidaya. Standar maksimum untuk
• Pergantian air dilakukan secara bertahap budidaya laut yang diperkenankan adalah 0,4
sesuai dengan umur udang yang berkisar µg/L untuk Pb, 0,3 µg/L untuk Cd, dan 0,1 µg/L
antara 5 – 20 % untuk Hg, (Huguenin and Colt 2002). Hasil
• Sifon dilakukan secara periodik setelah penelitian Ernawati, et al, 2018, menunjukkan
udang berumur diatas DOC 25 bahwa secara umum kandungan Pb, Cu, Cd, Hg
• Probiotik diberikan sebanyak 20 ppm dan Fe di perairan Bangil Pasuruan (daerah
setiap 3 hari dan dilakukan penambahan dekat lokasi BPBAP Situbondo Instalasi
molase setiap 3 hari (bergantian). Pasuruan) sudah melebihi ambang batas yang
No. 14 Tahun 2019 SISTEM BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA 10
TAMBAK HDPE DENGAN SUMBER AIR BAWAH TANAH SALINITAS
TINGGI DI KABUPATEN PASURUAN

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kadar Logam Berat Di Area Tambak Instalasi Pasuruan
Hasil Pengukuran
No Parameter Satuan
Petak Budidaya Air Bor *) Sungai
1 Timbal (Pb) mg/L 0,025 0,029 0,043
2 Kadmium (Cd) mg/L 0,002 0,015 0,001
3 Merkuri (Hg) µg/L <0,01 <0,01 <0,01
*) note : - Pengujian dilakukan pada musim kemarau (September – Oktober)
- Pb, Cd, dan Hg pada musim penghujan (Januari – Februari) tidak terdeteksi

Tabel 2. Profil Kualitas Air Bawah Tanah (Bor) Di Area Tambak Instalasi Pasuruan
No Parameter Satuan Hasil
Fisika dan Kimia
1 pH - 6,85 – 8,33
2 Salinitas ‰ 33 - 35
3 Nitrit mg/L <0,001
4 TAN (NH3-N) mg/L 0,611- 1,675
5 Amoniak mg/L 0,011 – 0,032
6 Alkalinitas mg/L 136 - 284
7 Bahan Organik mg/L 64,64 - 87,22
8 Kesadahan mg/L 8700
9 Fe mg/L 0,44 – 1,25
10 Timbal (Pb) mg/L ttd -0,029
11 Kadmium (Cd) mg/L ttd - 0,015
12 Merkuri (Hg) µg/L ttd - <0,01
Biologi
13 Total Bakteri CFU/ml 2 - 8 x 103
Total Vibrio CFU/ml <2,5 - 4,2 x 102
14 - Koloni Kuning CFU/ml 0 - 4,0 x 102
- Koloni hijau CFU/ml 0 - 2,0 x 101
>99 % diatom (Chaetoceros, Navicula,
15 Phytoplankton %
Coscinodiscus, Coconeis)
16 Zooplankton 0,08 – 0,25 % (Stentor, Rotifer)

diijinkan pemerintah berdasarkan PP No. 82 bentuk senyawa feri hidroksida atau koloid
Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air senyawa kompleks Fe-organik (Edhy, W.A., et
Dan Pengendalian Pencemaran Air. Kandungan al,2010). Sedangkan standar maksimum Fe
Pb dalam air berkisar 0,79–0,81 mg/L, berada di untuk budidaya laut yang diperkenankan adalah
ambang batas yang diperbolehkan yaitu 0,03 0,1mg/L (Huguenin and Colt, 2002). Hasil
mg/L. Sementara itu kandungan Cu yaitu 1,18- analisa mikrobiologi sumber air tanah (bor)
1,22 mg/L (maksimum ≤ 0,02 mg/L). Cd 0,05- menunjukkan kisaran bakteri dan phytoplankton
0,09 mg/L (maksimum 0,01 mg/L). Hg 0,08-0,12 yang masih cukup baik. Phytoplankton
mg/L (maksimum 0,002 mg/L). Sebagai didominasi oleh jenis diatom yang sangat
alternatif sumber air budidaya yaitu air tanah bermanfaat sebagai pakan alami bagi larva
dengan kedalaman 25 – 30 m menunjukkan udang.
profil kimiawi kualitas air yang ditunjukkan pada
tabel 2. Secara umum kondisi air tanah secara 3.2. Manajemen Budidaya
fisik cukup jernih dan tidak berbau dan masih Budidaya udang vaname dengan pola
dalam batas normal. Yang menjadi intensif di Kabupaten Pasuruan khususnya
permasalahan adalah kandungan logam berat disekitar kawasan budidaya di daerah
yang masih terdeteksi dan kandungan kadar Kecamatan Keraton merupakan kawasan
besi (Fe) yang cukup tinggi dengan kisaran 0,44- industri dimana dua sungai utama disekitar
1,25mg/L. Konsentrasi besi dalam perairan alam kegiatan perekayasaan merupakan lokasi
berkisar antara 0,05- 0,2 mg/L dan berada dalam pembuangan limbah. Pada musim kemarau,
11 SURIAWAN, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

Tabel 3. Hasil Pengukuran Kisaran Kualitas Air Selama Proses Budidaya Udang Pada Periode Berbeda
di Instalasi Pasuruan
Periode Budidaya
No Parameter Satuan
Periode 1 Periode 2
1 pH - 7,94 - 8,15 7,72 - 8,12
2 Salinitas ‰ 35 - 38 38 - 40
O
3 Suhu C 24 - 30 25 - 30
4 TAN (NH3-N) mg/L < 0,01 - 1,42 0,055 - 1,445
5 Amoniak mg/L 0,017 - 0,093 0,2 – 0,4
6 Nitrit mg/L 0,01 - 1,47 0,024 – 1,0
7 Bahan Organik mg/L 104,91 – 121,34 112,5 – 117,6
8 Alkalinitas mg/L 168 - 227 201 - 226
9 Fe mg/L 0,13 – 0,15 0,01- 0,10
10 Total Bakteri CFU/ml 1,4 x 104 -1,9 x 105 1,2 x 104 -1,9 x 105
11 Total Vibrio CFU/ml 2
5,8 x 10 -9,2 x 10 3
1,2 – 5,6 x 103

efek pencemaran air lebih tampak terlihat Selama proses budidaya kualitas air yang
dengan indikator matinya ikan disepanjang terukur selama periode 1 dan 2 dapat dilihat
daerah aliran sungai yang mendekati muara. pada table 3. Fluktuasi pH cenderung normal
Sehingga dibutuhkan suatu sistem budidaya untuk budidaya udang yang berada pada
yang dapat mengatasi masalah kekurangan kisaran 7,7-8,1. Hal ini ditunjang dengan
pasokan air baku untuk kegiatan budidaya konsentrasi alkalinitas yang cukup tinggi diatas
udang. 160 mg/L. Data kualitas air pada proses kegiatan
Penggunaan air tanah bersalinitas tinggi budidaya pada kedua periode dilakukan pada
untuk kegiatan budidaya udang secara teknis musim kemarau sehingga salinitas cenderung
sudah banyak dilakukan di beberapa kawasan lebih tinggi dengan kisaran 38 – 40 ppt. Salinitas
budidaya udang di Indonesia. Akan tetapi yang terlalu tinggi (> 40 ppt) atau rendah (< 5
asumsi masyarakat sekitar jika salinitas terlalu ppt) memberikan potensi yang lebih besar pada
tinggi (diatas 30 ppt) akan banyak menimbulkan serangan penyakit (Santiago Ramos -Carreño,
masalah dalam proses budidaya. Hasil analisa 2014).
kualitas air tanah (Tabel 1), menunjukkan Suhu tambak relatif normal untuk budidaya
kondisi kualitas air tanah memiliki kandungan pada musim kemarau dengan fluktuasi suhu
besi (Fe) yang cukup tinggi. Hal ini sering terjadi siang dan malam mencapai 5-6 OC. Efek
didaerah yang sebelumnya merupakan kawasan fluktuasi suhu ini terhadap udang yang
mangrove yang dijadikan kawasan dengan ciri dipelihara dapat di minimalisir dengan kondisi
khas kandungan Fe yang tinggi. Beberapa uji phytoplankton yang stabil. Dari data yang
coba sebelumnya menunjukkan penggunaan air diperoleh kepadatan phytoplankton didominasi
bor langsung tanpa mengalami proses oleh diatom dengan jumlah hingga 10 3 - 105
sedimentasi menyebabkan kondisi udang sel/ml. Edhy, W.A. 2010 menyatakan kepadatan
mudah terserang penyakit. Sedangkan phytoplankton dapat mengurangi fluktuasi suhu,
pemberian desinfektan seperti kaporit yang sehingga mengurangi stress pada udang dan
dapat mengikat Fe dilakukan pada awal terhindar dari serangan penyakit. White Spot
budidaya untuk menjaga agar udang tidak Syndrom Virus (WSSV) dapat menyerang udang
mudah stress. Akan tetapi penggunaan kaporit dengan cepat pada kisaran suhu 23 - 28 OC
menjadi tidak efektif untuk penggantian air (Guan Y, et al., 2002).
secara terus menerus (DOC 30 keatas).
Langkah yang dilakukan adalah dengan 3.3. Pertumbuhan dan Hasil Panen
memanfaatkan air tandon yang telah Pemeliharaan udang vaname pada periode
diendapkan tanpa menggunakan desinfektan, pertama dengan padat tebar 125 ekor/m2
dengan terlebih dahulu mengukur kandungan mendapatkan hasil 4.200 kg dengan berat rata-
bakteri air sumur bor harus dibawah standar rata 13,3 – 20 gram (panen parsial). Tingkat
terutama total bakteri vibrio. Penggunaan kelangsungan hidup (SR) yang diperoleh 82,66
tandon dengan aerasi sangat membantu untuk % dengan nilai Feed Convertion Ratio (FCR)
mengoksidasi Fe, karena dari hasil pengujian 1,37 dan masa pemeliharaan 120 hari. Laju
kandungan Fe dapat turun menjadi kisaran 0,01 pertumbuhan harian (ADG) rata-rata yang
– 0,1 mg/L. diperoleh pada 2 sampling tertinggi adalah 0,24
No. 14 Tahun 2019 SISTEM BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA 12
TAMBAK HDPE DENGAN SUMBER AIR BAWAH TANAH SALINITAS
TINGGI DI KABUPATEN PASURUAN

ADG (g/hari) Berat (g)

25 0,30

20 0,24 20,14 0,25


0,23

ADG (g/hari)
0,20 0,20
Berat (g)

15 0,18 15,15
13,01 0,15
11,15 0,13
10
0,10
5 0,05
3,63
1,805
0 0,00 0,00
DOC 30 DOC 40 DOC 71 DOC 78 DOC 95 DOC 120

Gambar 1. Grafik Pertambahan Berat dan ADG Periode 1 dengan Padat Tebar 125 PL/M2

Berat (g) ADG (g/hari)

25,00 0,45
0,39 22,22 0,4
20,00 20,33
0,35
0,31 17,82
0,30 0,3

ADG (g/hari)
15,00
Berat (g)

14,82
0,25 0,25 0,25
11,72 0,2
10,00 0,19 0,19
7,80 0,15
5,00 5,31 0,1
3,67
0,05
1,81
0,00 0 0
30 40 50 60 70 80 90 100 108
DOC (Hari)

Gambar 2. Grafik Pertambahan Berat ADG Periode 2 dengan Padat Tebar 100 PL/M2

(Gambar 1). Sedangkan hasil budidaya pada dibandingkan dengan kondisi budidaya udang di
periode kedua dengan padat tebar 100 ekor/m2 lokasi instalasi BPBAP Situbondo yang lain
mendapatkan hasil 4.800 kg dengan berat rata- (Situbondo dan Tuban rata-rata 2,5 – 3 g), rata-
rata 15,3 – 22,2 gram (panen parsial). Nilai SR rata berat yang diperoleh lebih rendah. Hal ini
yang diperoleh 90,4 % dengan FCR 1,26 dan dimungkinkan karena pengaruh ketidak
masa pemeliharaan 110 hari. ADG rata-rata sesuaian nutrisi pakan (level protein) yang
yang diperoleh pada 2 sampling tertinggi adalah digunakan untuk salinitas yang tinggi. Selain itu
0,33 (Gambar 2). kondisi kualitas air terutama salinitas yang lebih
Dari dua periode budidaya yang telah tinggi dibandingkan dengan dua lokasi instalasi
dilakukan, 30 hari pertama sejak penebaran BPBAP Situbondo dengan kisaran 20 – 30 ppt,
berat udang yang diperoleh berada pada kisaran berpengaruh pada fisiologi udang.
di bawah 2 gram dengan ADG dibawah 0,2 Hasil penelitian yang dilakukan Robertson,
gram/hari. Hal ini terjadi dimungkinkan karena L., et al, 1993. Menyatakan adanya keterkaitan
30 hari pertama pemeliharaan, merupakan antara level protein pakan dengan level salinitas
masa penyesuain post larvae (PL) / benur pada budidaya udang vaname. Udang vaname
dengan lingkungan sekitar. Akan tetapi jika yang dibudidayakan pada salinitas 46 ppt
13 SURIAWAN, ET AL. Jurnal Perkeyasaan Budidaya Air Payau dan Laut
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. © 2019.

memiliki pertumbuhan yang lebih baik pada IV. KESIMPULAN DAN SARAN
protein pakan 45 % dibandingkan pada protein
pakan 35 % dan 25 %. Akan tetapi pada salinitas Penggunaan air tanah (bor) salinitas tinggi
12 ppt pertumbuhan pada protein pakan 45 % dengan kandungan logam (Fe) tinggi tidak
lebih rendah pada protein pakan 35 % dan 25 %. menjadi kendala teknis dalam budidaya udang
Untuk setiap level protein pertumbuhan pada vaname intensif di Kabupaten Pasuruan.
salinitas 12 ppt lebih baik dibandingkan pada Fasilitas tandon untuk budidaya intensif mutlak
salinitas 46 ppt. Perez-Velazquez et al. (2007) diperlukan untuk memperbaiki kualitas air. Padat
melaporkan hasil berat akhir (2.84 ± 0.47 g) tebar optimal untuk kawasan budidaya intensif di
pemeliharaan juvenile L. vannamei yang kawasan budidaya udang Pulekerto Pasuruan
dipelihara pada salinitas 50 ppt lebih rendah dari adalah 100 PL/m2.
35 ppt (3.40 ± 0.33 g) dengan nilai Survival Rate
yang sama (87.5 ± 27.9%). Hasil yang sama
DAFTAR PUSTAKA
diperoleh oleh Sui, Ma and Deng (2015), dimana
udang yang dipelihara pada salinitas 30 ppt
tumbuh lebih cepat dibanding dipelihara pada 60 BBAP Situbondo, 2006. Juknis Udang Vaname.
ppt dengan rata-rata specific growth rates (SGR) Seksi Standarisasi dan Informasi BBAP
berturut-turut 5.8 ± 0.4% dan 4 ± 0.4% , dengan Situbondo. 51 hal.
hasil survival rate yang lebih tinggi 60 ppt (73 ± Edhy, W.A., Azhari K., Pribadi J., Chaerudin, K.,
2.8%) dibandingkan 30 ppt (61 ± 11.3%). 2010. Budidaya Udang Putih (Litopenaeus
Penurunan pertumbuhan diasosiasikan dengan Vanamei. Boone, 1931). CV. Mulia
konsentrasi ammonium pada media budidaya Indah.194 p.
dan konsumsi energi ekstra untuk proses Ernawati, Eddy Suprayitno, Hardoko, Uun
osmoregulasi pada kondisi salinitas tinggi. Pada Yanuhar, 2018. Kajian Pencemaran
kondisi salinitas tinggi udang menhabiskan Ekosistem Mangrove Jenis Rhizophora
banyak energy untuk menjaga osmolalitas mucronata Di Perairan Desa Kalianyar
haemolymph. Diharapkan pada kondisi fisiologis Bangil Pasuruan Jawa Timur. Jurnal Ilmu-
yang ideal dapat berkontribusi untuk Ilmu Pertanian “AGRIKA”, Volume 12,
meningkatkan pertumbuhan udang (Luis Daniel Nomor 1, Mei 2018. 67 p.
Moreno-Figueroa, et. al, 2017). Beberapa studi Guan, Y. et al.2002. The effects of temperature
lainnya menyatakan bahwa salinitas tinggi tidak on white spot syndrome infection in
mempunyai efek pada pertumbuhan udang Marsupenaus japonicas. Key Laboratory of
(Perez-Velazquez, et al., 2007; Villarreal & Marine Ecology & Environmental Sciences,
Hewitt, 2003). Institute of Oceanology.Chinese Academy
Selanjutnya kenaikan ADG terus of Sciences, Qingdao, PR. China.
berlangsung hingga usia 70 hari dan selanjutnya Huguenin, J.E. and Colt, J. 2002. Development
mengalami penurunan. Jika dibandingkan in Aquaculture and Fisheries Science.
kondisi padat penebaran yang berbeda pada “Design and Operating Guide for
dua periode budidaya ini menunjukkan hasil Aquaculture Seawater System”. 2nd
panen periode kedua jauh lebih baik yang. Hal Edition.Elsevier.
ini menunjukkan bahwa carrying capacity yang Luis Daniel Moreno-Figueroa, Jose Naranjo-
optimal untuk kawasan budidaya intensif di Paramo, Alfredo Hernandez Llamas, Mayra
kawasan budidaya udang Pulekerto Pasuruan Vargas-Mendieta, Jose Andres Hernandez-
adalah 100 PL/m2. Padat tebar merupakan salah Gurrola, | Humberto Villarreal-Colmenares,
satu faktor pembatas dalam budidaya udang. 2017. Performance of a photo-
Dengan input daya dukung budidaya yang heterotrophic, hypersaline system for
optimal akan menghasilkan hasil panen yang intensive cultivation of white leg shrimp
maksimal dengan nilai FCR yang lebih kecil dan (Litopenaeus vannamei) with minimal water
waktu budidaya yang lebih singkat. Dari hasil replacement in lined ponds using a
dua periode budidaya yang dilakukan stochastic approach. Aquaculture
menunjukkan penggunaan air tanah (bor) Research. 2018;49:57–67. John Wiley &
salinitas tinggi dengan kandungan logam (Fe) Sons Ltd.
tinggi tidak menjadi kendala teknis dalam Pemda Kab. Pasuruan, 2017.Potensi Kelautan
budidaya udang vaname intensif di Kabupaten dan Perikanan.
Pasuruan. http://pasuruankab.go.id/potensi-43-
kelautan-perikanan.html
No. 14 Tahun 2019 SISTEM BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA 14
TAMBAK HDPE DENGAN SUMBER AIR BAWAH TANAH SALINITAS
TINGGI DI KABUPATEN PASURUAN

Perez-Velazquez, M., Gonzalez-Felix, M. L., Sui, L., Ma, G., & Deng, Y. (2015). Effect of
Jaimes-Bustamante, F., Martınez-Cordova, dietary protein level and salinity on growth,
L. R., & Trujillo-Villalba, D. A. (2007). survival, enzymatic activities and amino-
Investigation of the effects of salinity and acid composition of the white shrimp
dietary protein level on growth and survival Litopenaeus vannamei (Boone, 1931)
of pacific white shrimp Litopenaeus juveniles. Crustaceana, 88(1), 82–95.
vannamei. The Journal of the World Suhana, 2017.Jokowi dan Ekonomi Udang
Aquaculture Society, 38(4), 475–485 Indonesia. http:// ekonomi.
Robertson,L.A., Lawrence., L and Castille, F., kompas.com/read/2017/11/07/
1993. Interaction of Salinity and Feed 142435426/jokowi-dan-ekonomi-udang-
Protein Level on Growth of Penaeus indonesia?
vannamel, Journal of Applied Aquaculture, Trubus, 2017. https://news.trubus.id/post/
Volume 2, 1993 - Issue 1, Pages 43-54 | produksi-udang-menurun-kkp-genjot -
Published online: 18 Oct 2010 dengan-dukungan-escavator- 6697
Santiago Ramos - Carreño, Ricardo Valencia- Villarreal, H., Hernandez-Llamas, A., & Hewitt,
Yáñez, Francisco Correa-Sandoval, R. (2003). Effect of salinity on growth,
Noé Ruíz- García, Fernando Díaz-Herrera, survival and oxygen consumption of
Ivone Giffard-Mena., 2014. White spot juvenile brown shrimp, Farfantepenaeus
syndrome virus (WSSV) infection in shrimp californiensis (Holmes). Aquaculture
(Litopenaeus vannamei) exposed to low Research, 34, 187–193
and high salinity. Archives of Virology. Wyban, J. A dan Sweeney, J. 1991 Intensif
September 2014, Volume 159, Issue 9, Shrimp Production Technology. Honolulu,
pp 2213–222 hawaii, USA 96825..