Anda di halaman 1dari 123

DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN

UNTUK PERGURUAN TINGGI UMUM

i
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NO 19 TAHUN 2002
TENTANG HAK CIPTA
PASAL 72
KETENTUAN PIDANA SANGSI PELANGGARAN

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpahak mengumumkan atau memperbanyak suatu
Ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) bulan dan denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun da denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima
milyar rupiah)

2. Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mendengarkan,


atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil planggaran Hak Cipta atau
Hak terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kesempatan
untuk menyelesaikan Buku Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan ini dengan tepat waktu. Buku ini
ditulis sebagai salah satu fasilitas untuk menghasilkan mahasiswa yang berilmu
pendidikan.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, maka buku ini menampilkan materi


perkuliahan dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir mengenai hakekat manusia,
hakekat pendidikan, landasan peniikan, komponen pendidikan, pilar pendidikan, pemikiran
tentang pendidikan, permasalahan pokok pendidikan, faktor yang mempengaruhi
berkembangnya permasalahan pendidikan, upaya-upaya penanggulangan pendidikan, dan
pendidikan di era teknologi, informasi dan komunikasi.

Sebelumnya perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen


pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan yang telah membimbing penulis
dalam menyelesaikan buku ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesaikan buku ini.

Penyusunan buku ini dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dimengerti, diharapkan semua yang membacanya dapat memahami tentang materi tersebut.
Sebagaimana upaya peningkatan kualitas yang tak akan pernah selesai, demikian pula buku
ajar ini memerlukan revisi berdasarkan masukan dari pembaca. Oleh karena itu setiap
pengguna buku ini diharapkan dapat memberikan balikan, yang pada gilirannya akan
dimanfatkan sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan buku ini. Atas perhatian dan
waktunya penulis mengucapkan terima kasih.

Padang, 23 Desember 2015


Penulis,

Defindo Efendi
NIM. 15067039

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………..…. iii


DAFTAR ISI……………………………….………………………………………..…... iv
BAB I HAKEKAT MANUSIA DAN HAKEKAT ILMU PENDIDIKAN……….. 1
A. HAKEKAT MANUSIA………………………..………………..………… 2
B. HAKEKAT ILMU PENDIDIKAN……………………………..……..….. 7
BAB II LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN……………………..…… 13
A. LANDASAN PENDIDIKAN……………………………………………... 13
B. ASAS-ASAS PENDIDIKAN……………………………..………………. 18
BAB III PILAR-PILAR PENDIDIDKAN DAN KOMPONEN PENDIDIKAN...... 24
A. PENGERTIAN PILAR PENDIDIKAN………………………………….... 24
B. JENIS-JENIS PENDIDIKAN…………………………...………………… 25
C. IMPLIKASI MASING-MASING PILAR PENDIDIKAN…...…………… 29
D. PENGERTIAN PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM……..…….. 31
E. KOMPOEN PENDIDIKAN…………………………………………..…... 31
BAB IV PENYELENGGARAAN SISTEM PENDIDIKAN………………………... 38
A. JALUR JENJANG DAN JENIS PENDIDIKAN…………………………. 40
B. STANDAR PENDIDIKAN NASIONAL………………………………..... 45
C. DASAR, FUNGSI, TUJUAN DAN PRINSIP PENDIDIKAN NASIONAL 47
BAB V BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG PENDIDIKAN…………………... 50
A. PEMIKRAN KLASIK TENTANG PENDIDIKAN…………………..…... 50
B. PEMIKIRAN BARU TENTANG PENDIDIKAN……………………....... 52
C. IMPLIKASI PEMIKIRAN KLASIK DAN PEMIKRAN BARU DALAM
PENDIDIKAN…………………………………………………......…..….. 56
BAB VI TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN………………………………….......…... 59
A. TOKOH PENDIDIKAN YANG BERPENGARUH DRI LUAR NEGERI 59
B. TOKOH PENDIDIKAN YANG BERPENGARUH DI INDONESIA….... 60
C. PENGARUH TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN TERHADAP
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN……………………………………... 66
BAB VII PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN…………………………….. 71
A. PEMERATAAN………………………………………………………..….. 71
B. KUANTITAS………………………………………………………..…….. 72
C. KUALITAS……………………………………………………..……......... 73
D. EFISIENSI………………………………………………………..……...... 74
E. EFEKTIFITAS………………………………………………………..….... 75
F. RELEVANSI………………………………………………………..…….. 76
G. TENAGA PENDIDIIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN……………... 77

iv
BAB VIII FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA
PERMASALAHAN PENDIDIKAN………………………………………... 80
A. PERKEMBANGAN IPTEK DAN SENI………………………………….. 81
B. LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK…………………………………... 83
C. ASPIRASI MASYARAKAT…………………………………………….... 86
D. KETERBELAKANGAN BUDAYA DAN SARANA…………………..... 87
BAB IX UPAYA-UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH PENDIDIKAN….. 92
A. PERUBAHAN KURIKULUM…………………………………………..... 93
B. PENGELOLAAN PENDIDIKAN…………………………………..…….. 93
C. INOVASI DALAM PENDIDIKAN……………………………………..... 95
D. PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH…………………105
BAB X PENDIDIKAN DI ERA TEKNOLOI, INFORMASI DAN
KOMUNIKASI...................................................................................................108
A. PENGERTIAN ERA GLOBALISASI…………..………………………...108
B. CIRI-CIRI ERA GLOBALISASI…………………………..……………...109
C. PENDIDIKAN BERBASIS TIK……………………………..…….………111
D. KEUNGGULAN DAN MANFAAT TIK………………………...………..112
E. KELEMAHAN TIK DAN SOLUSINYA…………………………...……..112

v
BAB I
HAKEKAT MANUSIA DAN
HAKEKAT ILMU PENDIDIKAN

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk


ciptaan Allah SWT di bumi ini. Yang menjadikan alasan manusia adalah makhluk yang
paling sempurna karena manusia mempunyai akal dan fikiran. Itulah yang membedakan
kita sebagai manusia dengan makhluk penghuni bumi yang lain. Akan tetapi manusia
juga memiliki keterbasan fisik seperti ukuran, kekuatan, kecepatan, dan pancaindera
bila dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Pendidikan merupakan sebagian dari kehidupan masyarakat dan juga sebagi


dinamisator masyarakat itu sendiri. Memang kita semua mengatahui betapa sektor
pendidikan selalu terbelakang dalam berbagai sektor pembangunan lainnya, bukan saja
karena sektor itu lebih dilihat sebagi sektor konsumtif, juga karena definisinya
pendidikan adalah penjaga status quo masyarakat itu sendiri. Bayangkan betapa
runyamnya kehidupan ini apabila tidak ada dasar pijakan dan tidak ada bintang
penunjuk jalan.

Banyak hal yang menjadi persoalan pendidikan memiliki keterikatan dengan


filssafat. Salah satunya adalah pendidikan selalu berusaha membentuk kepribadian
manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan. Dalam konteks itu pendidikan
dihadapkan pada perumusan tujuan yang akan dicapai seseorang setelah pendidikan itu
berlangsung.

Pada dasar nya hakikat pendidikan sangatlah luas. Hakikat pendidikan bukanlah
hanya sekedar pengertian serta definisi pendidikan semata. Didalam hakikat pendidikan
banyak hal menarik untuk dipelajari contohnya saja seperti konsep ilmu pendidikan
sebagai ilmu. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk menulis
dan membahas tentang hakikat manusia dan hakikat ilmu pendidikan.

Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali
melalui peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu
bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting
artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa
depan. Manusia yang dapat bergumul dalam masa dimana dunia semakin sengit tingkat
kompetensinya adalah manusia yang berkualitas. Manusia demikianlah yang
diharapkan dapat bersama-sama manusia yang lain turut bepartisipasi dalam percaturan
dunia yang senantiasa berubah dan penuh teka-teki. Sebagai mahasiswa jurusan
keguruan dan ilmu pendidikan sudah selayaknya kita mengetahui tentang pendidikan itu
sendiri

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 1


A. Hakekat Manusia

1. Pengertian Hakekat Manusia

Menurut bahasa, hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya


atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala
sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Dikalangan tasawuf orang mencari hakikat
diri manusia yang sebenarnya, karena itu muncul kata-kata diri mencari sebenar-
benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan
rahasia.
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah
swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi
dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan
bahwa manusia berasal dari tanah.
Jadi hakekat manusia adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai
makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.

2. Manusia sebagai Makhluk Individu, Sosial, Etika, dan Agama

a. Manusia sebagai Makhluk Individu


Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda walaupun manusia
tersebut dilahirkan secara kembar. Karenanya setiap manusia yang dilahirkan di
dunia ini memiliki sifat atau karakter, keinginan, kebutuhan dan cita-cita yang
berbeda dengan manusia lainnya, sehingga dapat dibedakan dengan manusia
lainnya.
Manusia sebagai makhluk individu artinya manusia sebagai perseorangan atau
pribadi yang terpisah dari pribadi lain. Manusia secara individu adalah bebas, ia
bisa menetukan sendiri apa yang dilakukan berdasarkan kehendaknya.
Paham yang mengembangkan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya
adalah individu yang bebas dan merdeka adalah paham individualisme. Paham
individulaisme menekankan pada kekhususan, martabat, hak, dan kebebasan
orang perorang.
Paham individualisme tumbuh dan berkembang di dunia barat oleh beberapa
filsuf, diantaranya Jean Jaques Rousseau. Dasar semangat individualisme adalah
lahir secara bebas dan merdeka, manusia boleh berbuat apa saja asalkan tidak
mengganggu keamanan orang lain.
Semangat individulisme menimbulkan revolusi besar, yaitu Revolusi Prancis
pada tahun 1789. Dengan semboyan liberty, egality, fraternity (kebebasan,
persamaan dan persaudaraan) Revolusi Prancis menjadi sumber kekuatan bagi
demokrasi barat.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 2


b. Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia adalah makhluk sosial, yang dimana setiap manusia membutuhkan
bantuan orang lain. Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau
makhluk bermasyarakat, selain itu manusia juga diberikan akal pikiran yang
berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia
sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya.
Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya
dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu
bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial,
juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan
(interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai
manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan
tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa
berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi
kemanusiaannya. Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai
makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
 Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
 Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
 Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain.
 Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

c. Manusia sebagai Makhluk Susila (Etika)


Manusia sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai potensi dan
kemampuan untuk berfikir, berkehendak bebas, bertanggung jawab, serta punya
potensi untuk berbuat baik. Karena itulah, eksistensi manusia memiliki aspek
kesusilaan. Menurut Immanuel Kant, manusia memiliki aspek kesusilaan karena
pada manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah mutlak
(categorical imperative). Sebagai makhluk otonom atau memiliki kebebasan,
manusia selalu dihadapkan pada satu alternatif tindakan yang harus dipilihnya.
Adapun kebebasan berbuat ini juga selalu berhubungan dengan norma-
norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia
mempunyai kebebasan memilih dan menentukan perbuatannya secara otonom
maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan pertanggung jawaban atas
perbuatannya.

d. Manusia sebagai Makhluk Beragama


Aspek Keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi
manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan
kebenaran suatu agama yg diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Keberagamaan
menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh atas suatu
agama, adapun yang dimaksud dengan agam ialah : “satu sistem credo (tata
keimanan atau keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia, satu
sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu, dan
satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manuisa dengan

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 3


manusia dan alam lainnya yang sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata
peribadatan termaksud di atas.
Manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, Tuhan pun telah menurunkan wahyu
melalui utusan-utusan-Nya, dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta
untuk dipikirkan oleh manusia agar (sehingga) manusia beriman dan bertakwa
kepada-Nya. Manusia hidup beragama kerana agama menyangkut masalah-
masalah yang bersifat mutlak maka pelaksanaan keberagamaan akan tampak
dalam kehidupan sesuai agama yang dianut masing-maswing individu. Dalam
keberagamaan ini manusia akan merasakan hidupnya menjadi bermakna. Ia
memperoleh kejelasan tentang dasar hidupnya, tata cara hidup dalam berbagai
aspek kehidupannya, dan menjadi jelas pula apa yang menjadi tujuan hidupnya.

3. Pengertian Pendidikan menurut pakar luar negeri dan dalam negeri

a. Pengertian Pendidikan menurut pakar luar negeri


1) Prof. Dr. John Dewey
Menurutnya pendidikan merupakan suatu proses pengalaman. Karena
kehidupan merupakan pertumbuhan, maka pendidikan berarti membantu
pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan
adalah proses penyesuaian pada setiap fase dan menambah kecakapan
dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan.
2) M.J. Langeveld
Pendidikan merupakan upaya dalam membimbing manusia yang belum
dewasa kearah kedewasaan. Pendidikan adalah suatu usaha dalam
menolong anak untuk melakukan tugas-tugas hidupnya, agar mandiri dan
bertanggung jawab secara susila. Pendidikan juga diartikan sebagai usaha
untuk mencapai penentuan diri dan tanggung jawab.
3) Stella van Petten Henderson
Pendidikan yaitu suatu kombinasai dari pertumbuhan dan perkembangan
insani dengan warisan sosial.
4) Kohnstamm dan Gunning
Pendidikan merupakan suatu pembentukan hati nurani manusia, yakni
pendidikan ialah suatu proses pembentukan dan penentuan diri secara etis
yang sesuai dengan hati nurani.
5) H.H Horne
Dalam pengertian luas, pendidikan merupakan perangkat dengan mana
kelompok sosial melanjutkan keberadaannya memperbaharui diri sendiri,
dan mempertahankan ideal-idealnya.
6) Frederick J. Mc Donald
Mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan ialah suatu proses yang
arah tujuannya adalah merubah tabiat manusia atau peserta didik.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 4


7) Carter V. Good
Mengartikan pendidikan sebagai suatu proses perkembangan kecakapan
seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakat.
Proses dimana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan yang terpimpin
khususnya didalam lingkungan sekolah sehingga dapat mencapai kecakapan
sosial dan dapat mengembangkan kepribadiannya.
8) Encyclopedia Americana 1978
Pendidikan adalah proses yang digunakan setiap individu untuk
mendapatkan pengetahuan, wawasan serta mengembangkan sikap dan
keterampilan.
9) Theodore Brameld
Pendidikan memiliki fungsi yang luas yaitu sebagai pengayom dan
pengubah kehidupan suatu masyarakat jadi lebih baik dan membimbing
masyarakat yang baru supaya mengenal tanggung jawab bersama dalam
masyarakat. Jadi pendidikan adalah sebuah proses yang lebih luas dari
sekedar periode pendidikan di sekolah. Pendidikan adalah sebuah proses
belajar terus menerus dalam keseluruhan aktifitas sosial sehingga manusia
tetap ada dan berkembang.
10) Edgar Dalle
"Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga,
masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan
latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat
untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan
dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan
datang.
11) Prof. Richey
Dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’
menjelaskan bahwa "Pendidikan adalah yang berkenaan dengan fungsi yang
luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama
membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian
kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.
12) Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H-
143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah)
Menjelaskan bahwa “Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk
mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti
makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai
peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.”
13) Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M)
Menjelaskan bahwa "Pendidikan adalah membantu perkembangan
masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan
tercapainya kesemurnaan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 5


b. Pengertian Pendidikan menurut pakar dalam negeri
1) Prof. H. Mahmud Yunus
Pendidikan ialah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk
mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan
ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa
mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar
memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat
bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
2) Prof. Herman H. Horn
Beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses dari
penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik
dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan
dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.
3) Driyarkara
Pendidikan diartikan sebagai suatu upaya dalam memanusiakan manusia
muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf yang insani.
4) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Pendidikan yaitu sebuah proses pembelajaran bagi setiap individu untuk
mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek
tertentu dan spesifik. Pengetahuan yang diperoleh secara formal tersebut
berakibat pada setiap individu yaitu memiliki pola pikir, perilaku dan
akhlak yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya.
5) Ki Hajar Dewantara
Menurutnya pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya
anak-anak. Maksudnya ialah bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan
kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang
setinggi-tingginya.
6) Ahmad D. Marimba
Mengemukakan bahwa pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang
dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yang tujuannya agar
kepribadian peserta didik terbetuk dengan sangat unggul. Kepribadian yang
dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar,
pandai secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter.
7) Ensiklopedi Pendidikan Indonesia
Menjelaskan mengenai pendidikan, yaitu sebagai proses membimbing
manusia atau anak didik dari kegelapan, ketidaktahuan, kebodohan, dan
kecerdasan pengetahuan.
8) UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 6


dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang
baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan,dan keterampilan
yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat.
9) Soekidjo Notoatmodjo (2003 : 16)
Menjelaskan bahwa "Pendidikan secara umum adalah segala upaya
yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu,
kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang
diharapkan oleh pelaku pendidikan.
10) Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2002 :263)
Menjelaskan bahwa "Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan
tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan
mendidik.
11) UU RI No 2 th 1989. Bab 1, pasal 1. butir 1
Pendidikan ialah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranan masa yang
akan datang.

B. Hakekat Ilmu Pendidikan

1. Pengertian Ilmu Pendidikan

Ilmu Pendidikan adalah dua kata yang dipadukan, yakni Ilmu dan Pendidikan
yang masing-masing memiliki arti dan makna tersendiri. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka disebutkan, bahwa Ilmu adalah
Pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di
bidang (pengetahuan) itu.
Senada dengan Nur Ubiyati yang mengemukakan, bahwa Ilmu ialah suatu
kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-
metode tertentu yang bersifat ilmiah. Ada lagi yang mengemukakan, bahwa Ilmu
adalah suatu uraian yang tersusun dengan lengkap tentang salah satu dari
keberadaan. Uraian tersebut adalah tentang segi-segi dari keberadaan tertentu.
Segi-segi ini saling berkait, mempunyai hubungan sebab akibat, tersusun logis dan
diperoleh melalui cara atau metode tertentu.
Endang Saifuddin Anshari, mengatakan bahwa Ilmu berasal dari kata bahasa
Arab “‘Alima” yang memiliki pengertian “Tahu”. Dan dalam bahasa Inggris dan
Perancis disebut dengan “Science”, dalam bahasa Jerman “Wissenscaft” dan dalam
bahasa Belanda “Wetenschap”. Yang kesemuanya sama memiliki arti “tahu”.
“Science” berasal “scio, scire (bahasa Latin) yang berarti “tahu”. Jadi, baik “ilmu”
maupun “science” secara etimologis berarti “pengetahuan”. Namun, secara
terminologis “ilmu” dan “science” itu semacan pengetahuan yang mempunyai ciri-

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 7


ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas. Jadi, ilmu adalah semacam
pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu sistematik,
rasional, empiris, umum dan kumulatif, lukisan dan keterangan yang lengkap dan
konsisten mengenai hal-hal yang distudinya dalam ruang dan waktu sejauh
jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia.
Mohammad Hatta menjelaskan, bahwa tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang
teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama
tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurutnya
bangunnya dari dalam.
Prof. Drs. Harsoyo menjelaskan, bahwa ilmu itu merupakan akumulasi
pengetahuan yang disistemasikan, juga merupakan pendekatan atau suatu metode
pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor
ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera
manusia. Dan merupakan suatu cara menganalisa yang mengizinkan kepada ahli-
ahlinya untuk menyatakan sesuatu proposisi dalam bentuk “jika …., Maka … “.
Berdasarkan uraian di atas, maka bisa diambil suatu kesimpulan bahwa ilmu
adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai
kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal-
ihwal yang diselidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya
pemikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang kebenarannya diuji secara
empiris, riset dan eksperimental
Sedangkan arti Pendidikan, adalah merupakan proses upaya meningkatkan
nilai peradaban individu atau masyarakat dari suatu keadaan tertentu menjadi
suatu keadaan yang lebih baik. Serta dalam Undang-undang RI Nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab I Pasal 1 dikemukakan, bahwa
Pendidikan adalah usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Sedangkan dalam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) Kata
Pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai
Pustaka menjelaskan, bahwa kata Pendidikan berasal dari kata dasar didik, yang
artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai
akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan arti dari Pendidikan adalah Proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara,
dan perbuatan mendidik.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 8


Menurut Redja Mudyahardjo, bahwa Ilmu Pendidikan merupakan sebuah
sistem pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset. Oleh karena
pengetahuan yang dihasilkan riset tersebut disajikan dalam bentuk konsep-konsep
pendidikan, maka Ilmu Pendidikan dapat pula dibataskan sebagai sebuah sistem
konsep pendidikan yang dihasilkan melalui riset. Dengan mengutip May Brodbeck
dalam Ligic and scientific Method in research, yang dimuat dalam Handbook of
Research on teaching, yang menjelaskan bahwa setiap ilmu berisi sejumlah besar
istilah yang disebut konsep, yang tidak lain merupakan apa yang kita pikirkan
berdasarkan pengalaman. Sehingga unsur yang menjadi isi setiap ilmu termasuk
Ilmu Pendidikan adalah konsep. Keseluruhan konsep yang menjadi isi sebuah ilmu
ditata secara sistematis menjadi suatu kesatuan. Sekelompok konsep yang
berkenaan dengan sekelompok hal, yang merupakan satu kesatuan disebut skema
konseptual. Dan setiap ilmu termasuk Ilmu Pendidikan, terbentuk dari beberapa
skema konseptual yang merupakan bagian-bagian atau komponen-komponen isi
ilmu. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa organisasi isi Ilmu Pendidikan,
sebagai sebuah sistem konsep, terbentuk dari unsur-unsur yang berupa konsep-
konsep tentang variabel-variabel pendidikan, dan bagian-bagian yang berupa
skema-skema konseptual tentang komponen-komponen pendidikan.
Menurut Ngalim Purwanto, bahwa ada dua istilah yang hampir sama
bentuknya, yaitu Paedagogie dan Paedagogiek. Paedagogie artinya pendidikan
sedangkan Paedagogiek adalah ilmu pendidikan. Paedagogiek atau ilmu
pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-
gejala perbuatan mendidik. Paedagogiek berasal dari bahasa Yunani, yakni
Paedagogia yang berarti ‘pergaulan dengan anak-anak’. Sedangkan Paedagogos
ialah ‘orang yang menjadi pelayan atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang
pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah’. Selain
itu juga, di rumah anak-anak tersebut paedagogos selalu mengawasi dan menjaga
mereka. Jadi, pendidikan pada zaman Yunani Kuno diserahkan pada paedagogos.
Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing,
memimpin). Perkataan paedagogos yang mulanya berarti ‘rendah’ (pelayan,
bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan mulia. Paedagoog (pendidik atau ahli
didik) ialah seseorang yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhanya
agar dapat berdiri sendiri.

2. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu, Teoritis, Empiris, Praktis, dan Normatif

a. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu


Pendidikan sebagai ilmu yaitu teori pendidikan, perenungan tentang
pendidikan, dalam arti luas ilmu pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang
mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 9


b. Ilmu Pendidikan Sebagai Teoritis
Pendidikan sebagai ilmu teoritis adalah pendidikan dilaksanakan
berdasarkan teori yang sudah ada untuk mempermudah jalanya pendidikan.

c. Ilmu Pendidikan Sebagai Empiris


Ilmu pengetahuan empiris memiliki arti objeknya adalah situasi
pendidikanyang terdapat pada dunia pengalaman manusia

d. Ilmu Pendidikan Sebagai Praktis


Praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan
pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik.

e. Ilmu Pendidikan Sebagai Normatif


Ilmu pengetahauan normatif berdasarkan atas pemilihan antara yang baik
dan buruk untuk menuju kemanusiaan yang baik.

3. Peranan dan Kedudukan Ilmu Pendidikan dalam Penyelenggaraan


Pendidikan

a. Peranan Ilmu Pendidikan Dalam Penyelenggaraan Pendidikan


Ilmu pendidikan mempunyai Peranan sebagai perantara dalam membentuk
masyarakat yang mempunyai landasan individual, sosial dan nsurei dalam
penyelenggaraan pendidikan. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan
kelompok kecil beralngsung dalam skala nsurei tebatas seperti antara nsurei
sahabat, antara seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta
dalam keluarga antara suami dan isteri, antara orang tua dan anak serta anak
lainnya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai
individu berkembang semua potensinya dalam arti perangkat pembawaanya
yang baik dengan lengkap.
Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta
meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka
upaya mewujudkan tujuan nasional dan Penyelenggaraan
pendidikan.Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman
dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,
nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pendidikan diselenggarakan sebagai
satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Pendidikan
sistem terbuka: fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 10


satuan dan jalur pendidikan. Pendidikan multimakna: proses pendidikan yang
diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan,
pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup.

b. Kedudukan Ilmu Pendidikan dalam Penyelenggaraan Pendidikan


Kedudukan ilmu pendidikan itu berada di tengah-tengah ilmu yang lain
dalam penyelenggaraan pendidikan. Ilmu pendidikan ialah suatu llmu
pengetahuan yang membahas masalah yamg berhubungan dengan pendidikan,
sedangkan, definisi yang terpenting dari suatu pendidikan itu sendiri yaitu:
 Meningkatkan pengetahuan, pengertian, kesadaran, dan toleransi.
 Meningkatkan questioning skills dan kemampuan menganalisakan sesuatu -
termasuk pendidikannya.
 Meningkatkan kedewasaan individu.
 Untuk perkembangan Negara, diperlukan pendidikan yang menghargai
kreativitas dan supaya negara dapat membuat sesuatu yang baru dan lebih
baik, dan tidak hanya meng-copy dari negara lain.
 Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup
manusia dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan
 Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu
sendiri.
 Dalam perkembangan adanya tuntutan adanya pendidikan lebih baik, teratur
untuk mengembangkan potensi manusia, sehingga muncul pemikiran teoritis
tentang pendidikan.
 Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang
dimiliki manusia, melahirkan teori-teori pendidikan.

Kesimpulan

Pada hakikatnya Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam


kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam
rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang
mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.Manusia sebagai mahluk yang
diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha watta’alla dengan suatu bentuk akal pada
diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa
untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses
pembelajaran.
Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan
kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral.
Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya
akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata
masyarakat dunia

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 11


Latihan

1. Jelaskan pengertian Hakekat Manusia!


2. Jelaskan pengetian Ilmu Pendidikan!
3. Sebutkan 5 pengertian Pendidikan menurut pakar luar negeri!
4. Apa yang dimaksud Ilmu Pendidikan sebagai ilmu teoritis, empiris, praktis, dan
normatif?
5. Bagaimana peranan ilmu pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan?

Daftar Pustaka

http://habiebiemustofa.blogspot.com/2013/09/pengertian-pendidikan-dan-ilmu.html
http://blogsedukasi.blogspot.com/2012/05/pendiidkan-sebagai-ilmu.html
http://wanipintar.blogspot.com/2009/10/pengertian-ilmu-pendidikan.html
https://fandhy20.wordpress.com/2012/11/11/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-
makhluk-sosial/
http://patriciaselanno.blogspot.com/2011/12/makalah-isbd-manusia-sebagai-
makhluk.html
http://rafki.staincurup.ac.id/pengertian-pendidikan-dan-ilmu-pendidikan/
http://www.apapengertianahli.com/2015/01/pengertian-pendidikan-pendapat-ahli-
pendidikan.html

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 12


BAB II
LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN

Pendahuluan
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sestematik-sistemika selalu bertolak dari
sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah landasan serta mengindahkan
sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena
pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat
suatu bangsa tertentu.
Beberapa diantara landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofi,
sosiologis, dan cultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan
tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong
pendidikan itu menjemput masa depan. Kajian berbagai landasan landasan pendidikan
itu akan membentuk wawasan yang tepat tentang pendidikan. Dengan wawasan dan
pendidikan yang tepat , serta dengan menerapkan asas-asas pendidikan yang tepat pula,
akan dapat member peluang yang lebih besar dalam merancang dan menyelenggarakan
program pendidikan yang tepat wawasan itu akan memberikan perspektif yang lebih
luas terhadap pendidikan, baik dalam aspek konseptual maupun operasional.

A. Landasan Pendidikan

Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar atau alas, karena itu landasan
merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar
pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula
bersifat koseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan bersifat konseptual identik
dengan asumsi, adapun asusmsi dapat dibedakan menjadi tiga mcam asumsi, yaitu
aksioma, postulat dan premis tersembunyi.
Pendidikan antara lain dapat dibedakan dari dua sudut pandang, pertama dari sudut
praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi
sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.
Praktek pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau
lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan
pendidikan. Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan (makro maupun mikro), dan
dapat berupa kegiatan pendidikan (bimbingan, pengajaran dan latihan).
Studi pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka
memahami pendidikan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa landasan pendidikan adalah
asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak dalam rangka praktek
pendidikan atau studi pendidikan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 13


1. Landasan Religius Pendidikan

Landasan religius pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari ajaran


agama yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Carilah ilmu sejak dari
buaian hingga masuk liang lahat”; “Menuntut ilmu adalah fardlu bagi setiap
muslim”. Implikasinya, bagi setiap muslim bahwa belajar atau melaksanakan
pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu kewajiban. Silakan Anda cari contoh
asumsi-asumsi yang lainnya yang bersumber dari ajaran agama yang Anda anut.

2. Landasan Filosofis Pendidikan

Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari


filsafat yang menjadi titik tolak pendidikan. Didalam khasanah teori pendidikan
terdapat berbagai aliran filsafat pendidikan antara lain Idealisme, Realisme,
Pragmatisme, Scholatisme, konstruksivisme, dll. Namun demikian kita mempunyai
filsafat pendidikan nasional tersendiri, yaitu Pancasila.

a. Idealisme dan Realisme


1) Konsep Filsafat Umum Idealisme
Para filsuf Idealisme mengklaim bahwa hakikat realitas bersifat spiritual. Hal
ini sebagaimana dikemukakan Plato, bahwa dunia yang kita lihat, kita sentuh
dan kita alami melalui indera bukanlah dunia yang sesungguhnya, melainkan
suatu dunia bayangan (a copy world).
2) Implikasi terhadap Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri
pribadi (self) siswa. Sebab itu, sekolah hendaknya menekankan aktifitas-
aktifitas intelektual, pertimbangan-pertimbangan moral, pertimbangan-
pertimbangan estetis, realisasi diri, kebebasan, tanggungjawab, dan
pengendalian diri demi mencapai perkembangan pikiran dan diri pribadi
(Callahan and Clark, 1983). Dengan kata lain pendidikan bertujuan untuk
membantu pengembangan karakter serta mengembangkan bakat manusia dan
kebajikan social” (Edward J.Power, 1982).

b. Realisme
1) Konsep Filsafat Umum
Jika filsuf Idealisme menekankan pikiran, jiwa/spirit/roh sebagai hakikat
realitas, sebaliknya para filssuf Realisme bahwa dunia terbuat dari sesuatu
yang nyata, substansial dan material yang hadir dengan sendirinya (entity).
2) Implikasi terhadap Pendidikan
Tujuan pendidikan. Pendidikan bertujuan agar para siswa dapat bertahan
hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh keamanan dan hidup
bahagia.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 14


3. Landasan Sosiologi Pendidikan

a. Individu, Masyarakat, dan Kebuayaan


Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat
dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik, serta
bebas mengambil keputusan atau tindakan lainnya sehingga bersifat unik, serta
bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung jawabnya
(otonom). Adapun masyarakat didefinisikan oleh Ralp Linton sebagai ‘setiap
kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga
mereka dapat mengatur diri mereka dan menggangp diri mereka sebagai satu
kesatuan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.”
Dari dua definisi tersebut, dapat diidentifikasi adanya empat unsure di dalam
masyarakat yaitu:
1) Manusia (individu-individu) yang hidup bersama
2) Melakukan mempunyai social dalam waktu yang cukup lama
3) Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan
4) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan
kebudayaan, sehingga setiap individu di dalamnya merasa terikat satu dengan
yang lainnya.

b. Pendidikan Sosial dan Enkulturasi


Sebagaimana kita maklumi, manusia berbeda dengan hewan yang seluruh
perilakunya dikendalikan oleh naluri yang diperoleh sejak kelahirannya. Saat
kelahirannya, manusia dalam keadaan tak berdaya, karena naluri yang dibawa
ketika kelahirannya relative tidak lengkap. Ia belum memiliki sistem nilai,
norma, pengetahuan, adat kebiasaan, serta belum mengetahui dan belum dapat
menggunakan dengan tepat berbagai benda sebagai hasil karya masyarakatnya.
Anak manusia harus belajar dalam waktu yang relative lebih panjang untuk
mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai statusnya dan sesuai kebudayaan
masyarakatnya.

c. Pendidikan sebagai Pranata Sosial


Pranata Sosial. Theodorson G.A mendefinisikan pranata social sebagai an
interrelated system of social roles and norms organized about the satisfaction of
an important social need or function” (Sudardja Adiwikarta, 1998). Pranata
social adalah suatu sistem peran dan norma social yang saling berhubungan dan
terorganisasi disekitar pemenuhan kebutuhan atau fungsi social yang penting.
Pendidikan Formal (Sekola). Pendidikan formal adalah pendidikan yang
terstrukutr dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. (Pasal 1 ayat 11 UU RI No. 20 Tahun 2003).
Fungsi pendidikan Sekolah. Pendidikan sekolah dapat dikemukakan fungsi-
fungsi sebagai berikut:
1) Fungsi transmisi kebudayaan masayarakat

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 15


2) Fungsi sosialisasi (memilih dan mengajarkan peranan social)
3) Fungsi integrasi social
4) Fungsi mengembangkan kepribadian individu/anak
5) Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
6) Fungsi inovasi/men-transformasi masyarakat dan kebudayaan

4. Landasan Hukum/ Legalitas

Pendidikan merupakan peristiwa multidimensi, bersangkut paut denga berbagai


aspek kehidupan manusia dan masyarakat. Kebijakan, penyelenggaraan, dan
pengembangan pendidikan dalam masyarakat perlu disalurkan oleh titik tumpu
legalistic yang jelas dan sah.
Aliansar, dkk (2008: 72) mengatakan dengan landasan legalistic, kebijakan,
penyelenggaraan, dan pengembangan pendidikan dapat terhindar dari berbagai
benturan kebutuhan. Setidaknya dengan landasan legalistic segal hak dan kewajiban
pendidika dan peserta didik dapat terpelihara.

5. Landasan Kultural

Pendidikan merupakan peristiwa sosial yang berlangsung dalam latar interaksi


sosial. Pendidikan tidak dapat dilepas dari upaya dan proses saling pengaruh
mempengaruhi antara individu yang terlibat didalamnya. Aliansar (2008: 57)
mengatakan bahwa pendidikan tidak akan terjadi tanpa interaksi antar individu,
antara satu generasi dengan generasi yang lainnya, dan bahkan antara satu
kelompok dengan kelompok lainnya. Oleh karena itu, pendidikan membawa misi
normative, maka keluasan interaksi dibatasi oleh tata nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakat. Ardhem (dalam Aliansar, dkk, 2008: 68) mengemukakan secara
sosiologis pendidikan perlu dikembangkan dalam 4 bidang, yaitu:
a. Hubungan sistem pendidikan dengan berbagai aspek kemasyarakatan,
mencakup:
1) Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
2) Hubungan sistem pendidikan dan proses control sosial dengan sistem
kekuasaan yang menentukan kebijakan pendidikan
3) Fungsi sistem dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan
kebuadayaan
4) Hubungan pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status
5) Fungsionalisasi sistem pendidikan dalam hubungannya dengan ras,
kebudayaan, atau kelompok – kelompok dalam masyarakat
b. Hubungan kemanusiaan di sekolah
Sifat kebudayaan sekolah yang berbeda dengan kebudayaan diluar sekolah. Hal
tersebut dikarenakan peserta didik yang data ke sekolah berasal dari berbagai
latar belakang sosial budaya yang masing – masingnya berbeda.
c. Pengaruh sekolah terhadap perilaku anggotanya.
Kajian pengaruh perilaku sekolah terhadap anggotanya ini mencakup:

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 16


1) Peranan sosial guru
2) Sifat kepribadian guru
3) Pengaruh kepribadian guru terhadap perilaku peserta didik
d. Interaksi antar kelompok sosial sekolah dengan kelompok lain dalam
komunitasnya
1) Lukisan tentang komunitas, seperti yang tampak pengaruhnya terhadap
organisasi sekolah
2) Analisis tentang proses pendidikan dalam hubungannya dengan sistem sosial
setempat
3) Faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah

6. Landasan Psikologi Pendidikan

Keberhasilan pendidik dalam berbagai peranannya antara lain akan dipengaruhi


oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik, serta kemampuan
mengaplikasikannya dalam praktek pendidikan. Pernyataan ini mengacu kepada
asumsi bahwa :
a. Peranan pendidik adalah membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan
tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya.
b. Tahap perkembangan peserta didik mengimplikasikan kemampuan dan kesiapan
belajarnya.
c. Keberhasilan peserta didik menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada
tahapnya akan mempengaruhi keberhasilan penyelesaian tugas-tugas
perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya.
d. Pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas
perkembangan peserta didik memungkinkan akibat negative bagi perkembangan
peserta didik selanjutnya.

7. Landasan Ilmiah Pendidikan.

Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin


ilmu tertentu yang dijadikan titik tolak pendidikan. Sebagaimana Anda ketahui
terdapat berbagai disiplin ilmu, seperti: psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi,
sejarah, dsb. Sebab itu, ada berbagai jenis landasan ilmiah pendidikan, antara lain:
landasan psikologi pendidikan, landasan sosiologi pendidikan, landasan antropologi
pendidikan, landasan histori pendidikan, dsb.

8. Landasan Ekonomi Pendidikan

Landasan Ekonomi adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah


ekonomi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: “Kalkulasi ekonomi selalu

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 17


berkenaan dengan modal, produksi, distribusi, persaingan, untung atau laba dan
rugi”. Implikasinya, pendidikan dipandang sebagai penanaman modal pada diri
manusia (human investment) untuk mempertinggi mutu tenaga kerja sehingga dapat
meningkatkan produksi. Selain itu, pemilihan sekolah atau jurusan oleh seseorang
akan ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan biaya/modal yang
dimilikinya, prospek pekerjaan serta gaji yang mungkin diperolehnya setelah lulus
dan bekerja. Jika sekolah ingin laku (banyak memperoleh siswa), maka harus
mempunyai daya saing tinggi dalam hal prestasi.

9. Landasan Histori Pendidikan

Landasan Historis adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari


konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang menjadi titik tolak
perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh: Semboyan “tut wuri
handayani” sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan oleh para pendidik,
dan dijadikan semboyan pada logo Kementerian Pendidikan Nasional, adalah
semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa
pada tgl 3 Juli 1922 di Yogyakarta) yang disetujui hingga masa kini dan untuk masa
datang karena dinilai berharga.

B. Azas-Azas Pendidikan

1. Azas Tut Wuri Handayani

Sebagai azas pertama, Tut Wuri Handayani merupakan inti dari sitem Among
perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian
dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan
lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas
yaitu:
Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)

Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan


semangat)

Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 18


2. Azas Kemandirian dalam Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian


dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu suiap
untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam
peran utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang
memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem
CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).

3. Azas Belajar sepanjang Hayat

Azas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari
sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang
dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu
dimensi vertikal dan horisontal.
Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan
antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa
depan.
Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

4. Alam Takambang Jadi Guru

Guru di daerah Sumatera Barat dan guru-guru penutur bahasa Melayu pada
umumnya akan langsung mengerti makna pepatah tersebut. Di Ranah Minang
ungkapan tersebut sangat komunikatif. Sementara itu, mereka yang tidak mengerti
bahasa Melayu dan bahasa Minang, hanya bisa mengira dan mendiskusikan
pengertiannya kepada teman sejawat. Namun mereka tidak akan banyak menemui
kesulitan untuk itu. Lagi pula konsep alam takambang jadi guru sangat praktis dan
universal. Cakupannya meliputi semua dimensi. Pepatah AlamTakambang jadi
guru ini sangat dipahami oleh setiap orang yang berasal dari Sumatra Barat.
Pewarisannya secara oral. Pepatah ini diajarkan turun temurun. Dewasa ini
penyebarannya selain secara lisan juga melalui berbagai karya tulis, termasuk di
dalamnya karya sastra. Pepatah atau ungkapan ini bermakna ‘agar kita belajar pada
alam yang menyajikan berbagai fenomena. Alam terbentang luas senantiasa
mengabarkan sebuah kearifan’. Sejatinya pepatah atau ungkapan filosofi ini
mengandung makna, pertama menunjukan sikap seseorang terhadap tanggung
jawab yang seharusnya ia dilaksanakan dalam rangka pengembangan diri. Kedua
ungkapan ini bermakna menunjukan kepada kita apa sesungguhnya sumber dari
pengetahuan dan teknologi atau keterampilan.
Alam Takambang yakni menujukan sumber belajar yang sesungguhnya, yakni
sumber belajar yang sungguh-sungguh dapat memenuhi “kebutuhan kita semua”
yang sifatnya selalu ada sepanjang zaman.Alam diciptakan Allah untuk

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 19


dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Dapat dirinci, diantaranya sangat banyak
pelajaran yang bisa diambil darinya. Karena itu muncul ungkapan orang
Minangkabau yang mengatakan “Alam Takambang jadi Guru” itu. Banyak sudah
teknologi canggih yang kita gunakan sekarang ini mengambil prinsip kerjanya dari
alam ini. Untuk itu kita selalu bersahabat dengan alam (lingkungan dimana kita
berada) agar kita selalu dapat memetik pelajaran darinya.Alam Takambang Sebagai
Sumber Belajar Alam Takambang Jadi Guru pengertian yang paling pas untuk itu
adalah “alam” (sama juga dengan bahasa Indonesia) yang “Takambang”
(membentang luas) ini atau alam raya ini dengan segala isinya. Jadi Guru diartikan
di jadikan sebagai “guru ” ( sama dengan bahasa Inonesia ). “ Guru ” maksudnya
adalah apa yang ada yang dapat memberikan pelajaran kepada kita atau apa yang
dapat kita pelajari padanya. Maka guru disini bermakna luas, berlaku untuk semua
baik berupa orang dan alam sekitar di segala tempat dan keadaan. Dengan kata lain
maksud guru itu adalah sumber belajar, baik untuk disekolah maupun diluar
persekolahan. Anak dapat belajar dirumah dengan buku dan internet, anak dapat
belajar dengan binatang piaraan dan tanaman dikebun atau air yang mengalir
disungai. Orang dewasa juga demikian belajar kapan saja dan dimana saja sumber
belajarnya tetap saja apa yang ada di lingungannya.
AECT (Association for Education and Communication Technology) menyatakan
bahwa sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data,
orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara
terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam
mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar adalah
bahan-bahan yang dimanfaatkan dan diperlukan dalam proses pembelajaran, yang
dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik, narasumber, lingkungan
sekitar, dan sebagainya yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses
pembelajaran.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang tersedia di sekitar atau di lingkungan
belajar yang berfungsi untuk membantu optimalisasi aktifitas belajar. Optimalisasi
aktifitas belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar saja, namun juga
dilihat dari proses pembelajaran yang berupa interaksi siswa dengan berbagai
sumber belajar. Sumber belajar dapat memberikan rangsangan untuk belajar dan
mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajari. Kegiatan
belajarnya dapat berlansung dimana saja dan kapan saja, dengan kata lain dengan
sumber belajar yang bersifat sangat luas itu anak belajar tidak terikat oleh ruang dan
waktu.
Hal ini berarti bahwa bahwa alam sekitar yang dijadikan sumber belajar bermakna
jauh lebih luas dan lebih bervariasi jika dibandingan “guru” di sekolah sebagai
sumber belajar. Dengan hal yang seperti itu semua orang akan mendapat peluang
untuk belajar sepanjang hayat, karena didukung dengan ketersediaan sumber belajar
dimana-mana. Hal ini juga mengandung makna bahwa seorang guru yang mengajar
mengambil bahan pelajaran juga berasal dari Alam Takambang ini. Alam
Takambang Jadi Guru tantu saja merupakan sumber belajar yang maha lengkap,
jauh lebih lengkap jika dibandingkan dengan sumber belajar pendidikan formal yang

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 20


berupa pustaka, labortoriun dan work shop. Belajar dengan Alam Takambang akan
selalu serasi dan selaras dengan perkembangan anak, perkembangan anak dan
perkembangan ilmu dan teknologi. Karena belajar dengan Alam Takambang tidak
akan ada dijumpai apa yang disebut dengan keterikatan, keterbelakangan,
keterbatasan , kadaluarsa dan lain sebagainya. Alam Takambang dijadikan guru
tidak jadi soal jauh atau dekat karena dengan bantuan teknologi banyak hal menjadi
sangat mudah.
Dengan prinsip-prinsip belajar dengan Alam Takambang akan menumbuhkan
jiwa kemerdekaan, seseorang hanya patuh dan hormat kepada kebenaran dan patuh
dan hormat kepada kebajikan, bukan patuh kepada siapa-siapa.

5. Penerapan (Implementasi) Asas-Asas Pendidikan

Sebagaimana telah dibicarakan dalam bahasan terdahulu ada dua asas-azas utama
yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan, yakni:
a. Azas Belajar Sepanjang Hayat
b. Azas Tut Wuri Handayani
c. Azas Kemandirian dalam Belajar
d. Untuk memberi gambaran bagaimana penerapan asas-asas tersebut di atas
berturut-turut akan dibicarakan:

 Keadaan yang ditemui sekarang


 Permasalahan yang ada
 Pengembangan penerapan asas-asas pendidikan.
 Keadaan yang Ditemui Sekarang

Dalam kaitan azas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa


keadaan yang ditemui sekarang:
Usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami
peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun
yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan
informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK
sampai perguruan tinggi
Usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga
kependidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan
tugsnya secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil
pendidikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik
didalam negeri maupun diluar negeri.
Usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi
pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan
Usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin
meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana
pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 21


Pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan
masyarakat yang bertujuan untuk:
1. Meningkatkan sumber penghasilan keluarga secara layak dan hidup
bermasyarakat secara berbudaya melalui berbagai cara belajar.
2. Menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya
Usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi muda: kepemimpinan
dan ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, sikap patriotisme dan
idealisme, kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur
Usaha pengadaan berbagai program pembinaan keolahragaan dengan
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anggota masyarakat untuk
melakukan berbagai macam kegiatan olahraga untuk meningkatkan kesehatan dan
kebugaran serta prestasi di bidang olahraga.
Usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan
memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat,
sejahtera dan bahagia peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta
ketahanan mental.
Sesuai dengan uraian di atas, maka secara singkat pemerintah secara lintas
sektoral telah mengupayakan usaha-usaha untuk menjawab tantangan asas
pendidikan sepanjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana,
kesempatan serta sumber daya manusia yang menunjang.
Dalam kaitan penerapan asas Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan beberapa
keadaan yang ditemui sekarang, yakni :
1. Peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan
yang diminatinya di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan
oleh pemerintah sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik
bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri
2. Peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang
diminatinya agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja
bidang tertentu yang diinginkannya
3. Peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk
memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama
belajarnya
4. Peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh
kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat
yang disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri
5. Peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh
pendidikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang
memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang
beragam dari potensi dibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal
Pendidikan,1989).

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 22


Kesimpulan

Pendidikan selalu berkaitan dengan manusia, dan hasilnya tidak segera tampak.
Diperlukan satu generasi untuk melihat suatu akhir dari pendidikan itu. Oleh karena itu
apabila terjadi suatu kekeliruan yang berakibat kegagalan, pada umumnya sudah
terlambat untuk memperbaikinya. Kenyataan ini menuntut agar pendidikan itu
dirancang dan dilaksanakan secermat mungkin dengan memperhatikan sejumlah
landasan dan asas pendidikan.

Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan Landasan Pendidikan?


2. Sebutkan jenis-jenis landasan pendidikan!
3. Apa perbedaan landasan religius pendidikan dengan landasan filososfis pendidikan?
4. Apa yang dimaksud dengan Alam Takambang Jadi Guru?
5. Sebutkan keadaan dalam penerapan Asas Tut Wuri Handayani!

Daftar Pustaka

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka
Cipta

Abu Hanifah. 1950. Rintisan Filsafat, Filsafat Barat Ditilik dengan Jiwa Timur, Jilid I.
Jakarta: Balai Pustaaka.
Conny Seniawan, et. al. 1951. Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana
Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: Gramedia.
Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Asdi
Mahasatya.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 23


BAB III
PILAR-PILAR PENDIDIKAN DAN
KOMPONEN PENDIDIKAN

Pendahuluan
Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen terjadi
sebagai hasil dari pengalaman. Seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi
tidak pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut adalah teoritis, dan dengan demikian
tidak secara lansung dapat diobservasi.
Kita telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku
dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan kita semua telah belajar dalam
suatu tahap dalam hidup kita. Dengan perkataan lain, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon
sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku
sebelumnya. Hal-hal inilah yang akan mendidik seorang untuk menjadi orang yang
terdidik.
Di dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa tujuan kita membentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia diantaranya adalah untuk mencerdasakan kehidupan bangsa.
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dapat bangkit di dalam menghadapi berbagai
kesulitan. Kenyataanya dewasa ini bangsa Indonesia sedang dilanda dan masih berada
di tengah-tengah krisis yang menyeluruh, termasuk di dalam bidnag pendidikan.
Sesungguhnya semenjak jaman perjuangan kemerdekaan dahulu, para pejuang serta
perintis kemerdekaan telah menyadari bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat
vital dalam usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali
melalui peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan bagi suatu
bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab kualitas pendidikan sangat penting
artinya, karena hanya manusia yang berkualitas saja yang bisa bertahan hidup dimasa
depan.
Dari latar belakang diatas, melalui buku ini penulis bermaksud membahas lebih
jelas mengenai pembelajaran sebagai lima pilar pendidikan tersebut.

A. Pengertian Pilar Pendidikan

Pilar merupakan sebuah penopang atau penyangga, dalam sebuah bangunan pilar
yang dapat membuat bangunan berdiri tegak dan kokoh. Dalam sistem pendidikan juga
demikian terdapat pilar yang menjadi penyangga sehingga sebuah sistem pendidikan
dapat berdiri untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pada saat ini telah ada rumusan mengenai pilar tersebut yang paling terkenal adalah
4 (empat) pilar pendidikan yang dirumuskan oleh Unesco. Namun pilar yang
diungkapkan Unesco ini tidak mengakomodasi tujuan dari sistem pendidikan nasional

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 24


di Indonesia yang tercantum dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 1 Ayat 1 yang berbunyi:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa, dan negara.” Dapat ditarik kesimpulan pilar pendidikan yaitu sendi pendidikan
yang ditopang oleh semangat belajar yang kuat melalui pola belajar yang bervisi
kedepan dengan melihat perubahan-perubahan kehidupan agar menjadi suatu yang utuh.

B. Jenis-Jenis Pilar Pendidikan

Ada 4 pilar-pilar pendidikan universal yang dirumuskan oleh UNESCO


(Geremeck, 1986) yaitu, belajar untuk mengetahui ( learning to know) , belajar untuk
melakukan (learning to do) , belajar menjadi ( learning to be), belajar dengan
berkerjasama ( learning to live together) merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap
peserta didik.

1. Learning to Know (belajar untuk menguasai)

Learning to know mengandung makna bahwa belajar tidak hanya berorientasi


pada produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi pada proses
belajar. Dalam proses belajar, peserta didik bukan hanya menyadari apa yang harus
di pelajari tetapi juga diharapkan menyadari bagaimana cara mempelajari apa yang
seharusnya dipelajari. Kesadaran tersebut, memungkinkan proses belajar tidak
terbatas di sekolah saja, akan tetapi memungkinkan peserta didik untuk belajar
secara berkesinambungan. Inilah hakekat dari semboyan "belajar sepanjang hayat".
Apabila hal ini dimiliki peserta didik, maka masyarakat belajar (learning society)
sebagai salah satu tuntutan global saat ini akan terbentuk. Oleh sebab itu belajar
untuk mengetahui juga dapat bermakna belajar berpikir karena setiap individu akan
terus belajar sehingga dalam dirinya akan tumbuh kemauan dan kemampuan untuk
berpikir. Learning to know, dengan memadukan pengetahuan umum yang cukup
luas dengan keseempatan untuk mempelajari secara mendalam pada sejumlah kecil
mata pelajaran. Pilar ini juga berarti learning to learn (belajar untuk belajar),
sehingga memperoleh keuntungan dari kesempatan-kesempatan pendidikan yang
disediakan sepanjang hayat.
Tidak hanya memperoleh pengetahuan tapi juga menguasai teknik memperoleh
pengetahuan tersebut. Pilar ini berpotensi besar untuk mencetak generasi muda
yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi. Secara implisit,
learning to know bermakna belajar sepanjang hayat (Life long education). Asas
belajar sepanjang hayat bertitik tolak atas keyakinan bahwa proses pendidikan
dapat berlangsung selama manusia hidup, baik didalam maupun diluar sekolah.
Sehubungan dengan asas pendidikan seumur hidup berlangsung seumur hidup,

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 25


maka peranan subjek manusia untuk mendidik dan mengembangkan diri sendiri
secara wajar merupakan kewajiban kodrat manusia.
Dengan kebijakan tanpa batas umur dan batas waktu untuk belajar, maka kita
mendorong supaya tiap pribadi sebagai subjek yang bertanggung jawab atas
pedidikan diri sendiri menyadari, bahwa:
1) Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak dalam kandungan
hingga manusia meninggal.
2) Bahwa untuk belajar, tiada batas waktu. Artinya tidak ada kata terlambat atau
terlalu dini untuk belajar.
3) Belajar/ mendidik diri sendiri adalah proses alamiah sebagai bagian integral/
totalitas kehidupan (Burhannudin Salam, 1997:207).

Konsep learning to know ini menyiratkan makna bahwa pendidik harus mampu
berperan sebagai berikut:
 Guru berperan sebagai sumber belajar
Peran ini berkaitan penting dengan penguasaan materi pembelajaran.
Dikatakan guru yang baik apabila ia dapat menguasai materi pembelajaran
dengan baik, sehingga benar-benar berperan sebagi sumber belajar bagi anak
didiknya
 Guru sebagai Fasilitator
Guru berperan memberikan pelayanan memudahkan siswa dalam kegiatan
proses pembelajaran.
 Guru sebagai pengelola
Guru berperan menciptakan iklim blajar yang memungkinkan siswa dapat
belajar secara nyaman

2. Learning to do (belajar untuk menerapkan)

Learnning to do mengandung makna bahwa belajar bukanlah sekedar


mendengar dan melihat untuk mengakumulasi pengetahuan, akan tetapi belajar
dengan dan untuk melakukan sesuatu aktivitas dengan tujuan akhir untuk
menguasai kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Kompetensi akan dapat dimiliki oleh peserta didik apabila diberikan kesempatan
untuk belajar dengan melakukan apa yang harus dipelajarinya secara langsung.
Dengan demikian learning to do juga berarti proses pembelajaran berorientasi pada
pengalaman langsung (learning by experience). Learning to do, untuk memperoleh
bukan hanya suatu keterampilan kerja tetapi juga lebih luas sifatnya, kompetensi
untuk berurusan dengan banyak situasi dan bekerja dalam tim. Ini juga belajar
berbuat dalam konteks pengalaman kaum muda dalam berbagai kegiatan sosial dan
pekerjaan yang mungkin bersifat informal, sebagai akibat konteks lokal atau

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 26


nasional, atau bersifat formal melibatkan kursus-kursus, program bergantian antara
belajar dan bekerja.
Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih
jauh untuk terampil berbuat/ mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu
yang bermakna bagi kehidupan. Sasaran dari pilar kedua ini adalah kemampuan
kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industry
(Soedijarto, 2010). Dalam masyarakat industri tuntutan tidak lagi cukup dengan
penguasaan keterampilan motorik yang kaku melainkan kemampuan untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan seperti “controlling, monitoring, designing,
organizing”. Peserta didik diajarkan untuk melakukan sesuatu dalam situasi konkrit
yang tidak hanya terbatas pada penguasaan ketrampilan yang mekanitis melainkan
juga terampil dalam berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, mengelola dan
mengatasi suatu konflik. Melalui pilar kedua ini, dimungkinkan mampu mencetak
generasi muda yang intelligent dalam bekerja dan mempunyai kemampuan untuk
berinovasi.
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar hendaknya memfasilitasi siswanya
untuk mengaktualisasikan ketrampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar
“Learning to do” dapat terealisasi.

3. Learning to be (belajar untuk menjadi)

Learning to be mengandung arti bahwa belajar adalah proses untuk membentuk


manusia yang memiliki jati dirinya sendiri. Oleh karena itu, pendidik harus
berusaha memfasilitasi peserta didik agar bealajar mengaktualisasikan dirinya
sendiri sebagai individu yang berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai
individu sekaligus sebagai anggota masyarakat. Dalam pengertian ini terkandung
makna bahwa kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yakni
makhluk hidup yang memiliki tanggung jawab sebagai khalifah serta menyadari
akan segala kekurangan dan kelemahannya. Learning to be, sehingga dapat
mengembangkan kepribadian lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat
pertimbangan dan rasa tanggung jawab pribadi yang semakin besar, ingatan,
penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik, dan keterampilan berkomunikasi.
Konsep learning to be perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih
siswa agar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal
utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan
keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be)
(Atika, 2010). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap
kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang
berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya
merupakan proses pencapain aktualisasi diri.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 27


4. Learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama)

Learning to live together adalah belajar untuk bekerjasama melalui proses


bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam
masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara
kelompok tidak mungkin dapat hidup sendiri atau mengasingkan diri dari
masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini termasuk juga pembentukan masyarakat
demokratis yang memahami dan menyadari akan adanya perbedaan pandangan
antar individu. Learning to live together, learning to live with others, dengan jalan
mengembangkan pengertian akan orang lain dan apresiasi atas interdependensi—
melaksanakan proyek-proyek bersama dan belajar memenej konflik—dalam
semangat menghormati nilai-nilai kemajemukan, saling memahami dan
perdamaian.
Dari keempat pilar pendidikan di atas terlihat bahwa pilar learning to live
together, learning to live with others, dalam konteks kemajemukan merupakan
suatu pilar yang sangat penting. Pilar ini sekaligus juga menjadi pembenar
pentingnya pendidikan multikultur yang berupaya untuk mengkondisikan supaya
peserta didik mempunyai kemampuan untuk bersikap toleran terhadap orang lain,
menghargai orang lain, menghormati orang lain dan sekaligus yang bersangkutan
mempunyai tanggunga jawab terhadap dirinya serta orang lain. Sehingga bila
proses pembelajaran di sekolah diarahkan tidak hanya pada learning to know,
lerning to do dan leraning to be, tetapi juga diarahkan ke learning to live together.
Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk memberikan pengetahuan dan
kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman
tersebut terdapat persamaan. Itulah sebabnya Learning to live together menjadi
pilar belajar yang penting untuk menanamkan jiwa perdamaian.

5. Learning to believe and convince the almighty God (Belajar untuk Beriman
dan Bertakwa kepada tuhan YME)

Dari pilar inilah Negara Indonesia akan mewujudkan cita-cita bangsanya yang
termaktub dalam UUD 1945 Alinea ke-4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan berdasarkan kepada ketuhanan yang maha Esa.

Garis Besar Mengenai ke Lima Pilar Pendidikan UNESCO


a. Kekuatan
Ke empat pilar pendidikan tersebut dirancang sangat bagus, dengan tujuan
yang bagus pula, dan sesuai dengan keadaan zaman sekarang yang menuntut
pesera didik tidak hanya diajarkan IPTEK, kemudian dapat bekerja sama dan
memecahkan masalah, akan tetapi juga hidup toleran dengan orang lain
ditengah-tengah maraknya perbedaan pendapat dimasyarakat. Dengan ke
kempat pilar ini akan bisa tercapai pendidikan yang berkualitas.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 28


b. Kelemahan
Meskipun ke empat pilar pendidikan ini dirancang sedemikian bagusnya,
namun perlu diingat, masih banyak aspek penghalang dalam pelaksanaan
tersebut, seperti kurangnya SDM guru yang benar-benar “mumpuni”,
perbedaan pola pikir setiap masyarakat atau daerah dalam memandang arti
penting pendidikan, kemudian ada lagi fasilitas, fasilitas yang masih minim
akan sangat menghambat kemajuan proses belajar mengajar, dan kendala-
kendala lain.
c. Peluang
Apabila pendidikan di Indonesia diarahkan pada ke empat pilar pendidikan
ini, maka pada gilirannya masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang
bermartabat di mata masyarakat dunia.
d. Ancaman
Ke empat pilar pendidikan UNESCO ini bisa menjadi bumerang bagi
peserta didik dan pengajar apabila tujuan atau keinginan yang hendak dicapai
tidak kunjung terwujud. Bisa jadi akan muncul sikap pesimis dan putus asa
kehilangan kepercayaan diri.

C. Implikasi Masing-Masing Pilar dalam Pendidikan

Dalam konteks pemahaman tentang proses belajar-mengajar, guru dihadapkan pada


sesuatu yang secara conditio sine qua non harus diaktualisasikan dalam bentuk
pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Fenomena yang berkembang di
lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru terbiasa mendesain pembelajaran
yang “memenangkan” guru. Artinya, guru lebih senang dianggap sebagai satu-satunya
sumber belajar bagi siswa (teacher centered).

1. Learning to know
Guru adalah orang yang identik dengan pihak yang memiliki tugas dan
tanggung jawab membentuk karakter generasi bangsa. Di tangan gurulah tunas-
tunas bangsa ini terbentuk sikap dan moralitasnya, sehingga mampu memberikan
yang terbaik untuk anak negeri ini di masa yang akan datang.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas
dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru harus
memikirkan dan membuat perencanaan secara saksama dalam meningkatkan
kemampuan belajar bagi siswanya, dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Hal
ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan
metode mengajar, strategi belajar-mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru
dalam mengelola proses belajar-mengajar. Guru bisa dikatakan unggul dan
profesional bila mampu mengembangkan kompetensi individunya dan tidak
banyak bergantung pada orang lain.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 29


2. Learning to do
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar hendaknya memfasilitasi
siswanya untuk mengaktualisasikan ketrampilan yang dimiliki, serta bakat dan
minatnya agar “Learning to do” dapat terealisasi. Secara umum, bakat adalah
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan datang. Sedangkan minat adalah kecendrungan dan kegairahan
yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Meskipun bakat dan
minat anak dipengaruhi factor keturunan namun tumbuh dan berkembangnya
bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan .

3. Learning to be
Konsep learning to be perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih
siswa agar memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal
utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan
keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be)
(Atika, 2010). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap
kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang
berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya
merupakan proses pencapain aktualisasi diri.

4. Learning to live together

Learning to know merupakan instrument pemahaman akan diri sendiri dan


orang lain, serta wawasan untuk dapat belajar hidup kebersamaan. Learning to do
memungkinkan pembelajar untuk mengaplikasikan pemahamannya dan bertindak
secara kreatif terhadap lingkungan sehingga tercapai kehidupan kebersamaan
yang damai, learning to be menggaris bawahi dimensi penting dalam
pengembangan hubungan sosial manusia yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan kebersamaan. Learning to live together menjadi
penting khususnya menghadapi dunia yang penuh konflik dan banyaknya
pelanggaran akan hak-hak asasi manusia.

5. Learning to believe in God

Pengetahuan yang dicari oleh seseorang harus dapat memberi manfaat


untuk isi alam itu sendiri, dan bagaimana mengelolanya untuk kebaikan bersama
secara berkelanjutan (sustainable), yang secara religius dapat
dipertanggungjawabkannya kepada Yang maha Kuasa.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 30


D. Pengertian Pendidikan sebagai Suatu Sistem

Apabila pendidikan dipandang sebagai suatu system, lalu apakah yang dimaksud
dengan sistem itu? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa system adalah suatu
totalitas yang terbentuk dari elemen-elemen yang mempunyai hubungan fungsional
dalam mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan. Hubungan fungsional dari
setiap elemen menyebabkan setiap system berjalan serta bersifat adaptif terhadap
lingkngannya sesuai dengan arah yang jelas dan berkesinambungan yang disebut supra
system.
Jika demikian, apakah yang dimaksud dengan pendidikan sebagai suatu system?
Pendidikan sebagai suatu sisitem adalah suatu keseluruhan kerja manusia yang
terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam membantu
terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah laku seseorang dalam
keseluruhan kehidupan bangsa.
Semua aspek dari kehidupan bangsa, merupakan lingkungan kehidupan dan supra
system dari system pendidikan yang bekerja bersama-sama dengan system lainnya
seperti; ekonomi, politik, hokum, agama, dan sebagainya dalam rangka mencaapai
tujuan nasional.

E. Komponen Pendidikan

Dalam kegiatan atau proses pendidikan terdapat komponen-komponen pendidikan


yang dapat membentuk pola interaksi atau saling mempengaruhi. Komponen tersebut
ialah :

1. Tujuan

Tujuan merupakan komponen pendidikan yang memiliki posisi penting dalam


proses pendidikan. Bermacam-macam tujuan pendidikan yang diinginkan oleh
pendidik supaya dapat dicapai oleh subjek didik. Semua tujuan-tujuan itu harus
normatif baik, artinya tidak bertentangan dengan hakekat perkembangan peserta
didik dan dapat diterim sebagai nilai hidup yang baik.
Tujuan pendidikan ada yang sifatnya ideal dan ada yang sifatnya nyata. Tujuan
yang sifatnya ideal biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan pendidikan yang
sifatnya umum, sedangkan tujuan yang sifatnya nyata dirumuskan dalam bentuk
tujuan khusus.
Dalam system pendidikan nasional, tujuan umum pendidikan dijabarkan dari
falssafah bangsa, yakni Pancasila. Makna tujuan pendidikan nasional itu adalah
membentuk manusia Indonesia yang bias mandiri dalam konteks kehidupan
pribadinya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berkehidupan
sebagai makhluk yang beragama (Ketuhanan Yang Maha Esa). Manusia Indonesia
yang dicita-citakan dan harus diupayakan melaluipendidikan adalah manusia yang

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 31


bermoral, berilmu, berkepribadian dan beramal bagi kepentingan manusia,
masyarakat, bangsa dan Negara.
Kita mengenal empat jenjang tujuan pendidikan, yaitu:
a. Tujuan umum pendidikan, yakni manusia Pancasila
b. Tujuan institusional pendidikan (tujuan lembaga pendidikan, misalnya
tujuan Sekolah Dasar, tujuan Universitas Negeri Padang)
c. Tujuan kulikuler (tujuan standard kompetensi bidangstudi atau mata
pelajaran), misalnya tujuan IPA, IPS, Bahasa, ataupun Agama
d. Tujuan instruksional kompetensi dasar (tujuan untuk setiap kegiatan) proses
belajar mengajar.

2. Pendidik

Siapakah sebenarnya pendidik itu? Pendidik ialah orang yang mempunyai


tanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan. Pendidik bertugas membimbing
dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik itu pada tiap-
tiap tahapnya. Orang tua biasanya disebut pendidikan menurut kodrat, sedangkan
guru dan tenaga-tenaga lainnya yang sejenis disebut pendidik menurut jabatan.
Orang tua sebagai pendidik menurut kodrat adalah pendidik pertama dan utama.
Hubungan orang tua dengan anaknya dalam hubungan edukatif mengandung dua
unsure dasar, yaitu:
1) Unsur kasih sayang orang tua terhadap anak
2) Unsure kesadaran akan bertanggung jawab dari pendidik untuk menuntut
perkembangan anak
Guru sebagai pendidik menurut jabatan menerima tanggung jawab mendidik
dari tiga pihak, yaitu orang tua, masyarakat, dan Negara. Seyogyanyalah guru
diharapkan sikap-sikap dan sifat-sifat yang normatif baik sebagai kelanjutan dari
sikap orang tua pada umumnya, antara lain :
1) Kasih sayang kepada subjek didik\
2) Tanggung jawab kepada tugas mendidik
Sehubungan dengan tanggung jawab ini Prayitno (2000) mengemukakan,
“Kewajiban pendidik ialah menyelenggarakan praktek pendidikan terhadap
(sejumlah) anak (peserta didik) yang menjadi tanggung jawabnya untuk
memperkembangkan semua potensi yang dikaruniakan Allah SWT kepada anak
secara normal.”
Untuk itu pendidik dituntut harus :
a. Menggunakan bahasa yang sopan dan mempunyai kepribadian yang kuat
b. Disenangi dan disegani oleh peserta didik, yang berarti ia harus mempunyai
kewibawaan, emosi yang stabil untuk menghadapi bermacam-macam pola
peserta didik
c. Harus bersusila, jujur, dan adil
d. Memahami potensi anak untuk dikembangkan secara optimal

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 32


e. Memahami kondisi anak untuk mengadakan penyesuaian
programprogrampendidikan bagi anak
f. Bekerjasama dengan orang tua anak dan pihak-pihak lain yang terkait dengan
pendidikam anak seoptimal mungkin
g. Memahami dan menjalankan dengan sebaik-baiknya segenap peraturan dan
kebijakan yang dikeluarkn oleh pihak-pihak berwenang dalam
menyelenggarakan pendidikan anak
h. Mengadaknan hubungan erat antara pendidik dan peserta didik di luar kelas

3. Peserta Didik

Peserta didik ialah manusia yang memiiliki potensi yang selalu mengalami
perkembangan sejak terciptanya sampai meninggal dunia dan perubahan-perubahan
terjadi secara bertahap, tetapi secara wajar.
Prayitno (2000) berpendapat bahwa, “Hak anak ialah memperoleh pendidikan yang
layak memperkembangkan segenap potensi yang dikaruniai Allah SWT kepadanya
secara optimal.”
Untuk itu harus diuupayakn agar anak :
a. Memperoleh kesempatan, fasilitas, dan pelayanan pendidikan dari orang tua
maupun pendidik Negara
b. Terhindar dari pemaksaan kehendak dari orang tua atau pihak lain yang
mengganggu penyelenggraan pendidikan anak
c. Terhindar dari hambatan yang mengterhidarhalangi penyelenggaraan
pendidikan anak
d. Terhindar dari perlakuan yang merugikan penyelenggaraan penddik
e. Terhindar dari peraturan dan atau kebijakan yang memaksakn kehendak,
menghalangi dan atau merugikan pendidikn anak

4. Materi

Berdasarkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai ditetapkan isi/materi


pendidikan yang relevan dan memiliki beberapa kriteria/syarat utama yang harus
dipertimbangkan, yakni:
 Bahan/materi harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
 Bahan/materi harus sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik
 Bahan/materi harus mengandung nilai-nilai sesuai pandngan hidup bangsa
 Bahan/materi harus disesuaikan dengan kemapuan peserta didik, menarik
perhtian, minat, umur, bakat, jenis kelamin, latar belakang dan pengalaman
 Bahan/materi harus diorganisasikan menurut urutannya, sehingga dapat
menuntun para pelajar secara sistematis
 Bahan/materi harus meruapakan bahan wajib, sesuai dengan kurikulum
 Bahan/materi merupakan landasan untuk mempelajari bahan berikutnya
 Nilai praktis atau kegunaanya diartikan sebagai makna bahan itu bagi
kehidupannya sehari-hari

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 33


5. Metode, media dan alat pendidikan

a. Metode
Metode adalah cara yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Beberapa factor dalam menetapkan suatu metode tepat atau kurang tepat
digunakan:
 Tujuan yang ingin dicapai; kalau tujuan yang ingin dicapai adalah
supaya murid dapat melakukan sesuatu, dapat menggunakan metode
demonstrasi, simulasi atau bermain peran.
 Factor murid. Pada kelaas yang muridnya aktif dapat menggunakan
metode diskusi. Pada kelas yang umumnya muridnya pasif, metode
tersebut kurang berhasil.
 Factor guru. Ada metode yang berhasil pada seorang guru namun kurang
berhasil digunakan oleh guru lain.

b. Media
Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk
menyampaikan informasi atau pesan untuk memudahkan pembelajaran dalam
pendidikan.

c. Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah suatu upaya atau tindakan atau perbuatan atau situasi
atau benda/alat yang dengan sengaja digunakan untuk mencapai suatu tujuan
dalamm proses pendidikan. Dua macam pengertian alat pendidikan, yaitu:
 Alat pendidikan yang bersifat tindakan
Yaitu berupa upaya dan siasat dalam kaitan dengan kewibaawaan. Alat
ini berfungsi preventif (pencegahan) mencakup teladan, anjuran,
suruhan, pengarahan, dan pembinaa. Sedaangkan yang berfungsi represif
(reaksi setelah aada perbuatan) mencakup syrat, pujian, hadiah/ganjaran,
teguran dan hukuman.
 Alat pendidikan yang berupa benda
Yaitu berupa kebendaan sebagai alat bantu yang lazim disebut sarana
pengajaran seperti alat pengajaran

6. Lingkungan Pendidikan

Pengertian lingkungan pada hakekatnya merupakan sesuatu yang ada di luar diri
individu, walaupun ada juga yang mengatakan bahwa ada lingkungan yang terdapat
dalam diri individu.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 34


Lingkungan dibedakan menjadi dua jenis:
a. Lingkungan Alam
Segala sesuatu yang ada di dunia ini yang berapda di luar diri anak yang bukan
manusia, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, iklim, air, gedung dan rumah.

b. Lingkungan Sosial
Yang termasuk lingkungan sosial adalah semua manusia yang beraada di luar
diri seseorang yang dapat mempengaruhi diri orang tersebut, baik secara
langsung maupun tidak langsung.

Menurut tempat pendidikan, lingkungan dibedakan atas :


a. Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi
anak, karena di lingkungan itulah pertama-tama anak menerima pendidikan
yang diberikan oleh orang tua.

b. Sekolah
Sekolah disebut lingkungan pendidikan yang kedua, yang bertanggung
jawab melaksanakan pendidikan di lembaga ini adalah guru.

c. Masyarakat
Pendidikan yang diberikan biasanya tergantung kepada kebiasaan yang
terjadi di lingkungan itu. Oleh sebab itu hasil pendidikannya akan dipengaruhi
oleh lingkungan masyarakat tersebut. Alam sekitar member pengaruh tertentu
kepada pendidikan anak dengan segala sifat dan kondisi tempat tinggalnya.
Karena setiap masyarakat itu lingkungannya sangat bervariasi, makaa
pengaruh yang dihasilkannya pun berbeda terhadap proses pendidikan anak.

Kesimpulan
Hakikat pendidikan sesungguhnya adalah belajar. UNESCO mulai tahun 1997
sudah mulai menggali kembali dan memperkenalkan The Five Pillars of Education.
Kelima pilar ini masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda namun saling
keterkaitan. Learning to Know mengajarkan seseorang untuk tidak mengetahui saja
materi ataupun ilmu yang mereka dapat, tetapi mereka juga harus tau makna yang
terkandung didalamnya. Learning to Do mengajarkan seseorang untuk lebih banyak
melakukan tindakan daripada bicara. Sedangkan Learning to Be mengajarkan Belajar
untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan
bersama. Learning to Live Together menuntun seseorang untuk hidup bermasyarakat
dan menjadi “educated person yang bermanfaat baik bagi diri dan masyarakatnya,
maupun bagi seluruh ummat manusia sebagai amalan agamanya. Learning to believe in
God mengajarkan seseorang untuk belajar kebaikan dan mempertanggung jawabkannya
kepada Tuhan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 35


Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai
agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan
zaman. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang
saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan di
Indonesia mempunyai landasan ideal adalah Pancasil, landasan konstitusional ialah
UUD 1945, dan landasan operasional ialah ketetapan MPR tentang GBHN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa implementasi
pilar-pilar pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan dalam pendidikan.
Dalam pengertian tersebut mutlak diterapkan dalam proses belajar-mengajar. Pilar-pilar
pendidikan tersebut dirancang dengan sangat bagus dan dengan tujuan yang sangat
bagus pula. Dengan mengaplikasikan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan yang
berlangsung di seluruh dunia termasuk Indonesia dapat menjadi lebih baik.
Namun masih banyak aspek penghalang dalam pelaksanaan tersebut, baik
mengenai SDM nya, fasilitasnya, perbedaan pola pikir setiap masyarakat atau daerah
dalam memandang arti penting pendidikan, dan kendala-kendala lain.
Persoalan pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama, karenanya tentu
secara bersama-sama pula kita mencari alternative pemecahannya. Mudah-mudahan ke
empat pilar tersebut dapat kita realisasikan dan akan nampak hasinya.
Mari melakukan introspeksi diri sejauh mana kita sudah melakukan yang terbaik
untuk perubahan dan perbaikan terhadap persoalan pendidikan yang melilit negeri ini.
Satu harapan kita semua, agar dunia pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik
dan berkualitas.

Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan Pilar Pendidikan?


2. Sebutkan jenis-jenis Pilar Pendidikan? dan jelaskan masing-masingnya!
3. Jelaskan pengertian pendidikan sebagai suatu sistem?
4. Sebutkan apa saja komponen-komponen pendidikan?
5. Jelaskan yang dimaksud dengan Metode, Media dan Alat pendidikan

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 36


Daftar Pustaka

Ihsan. Fuad, Dasar Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

http://fahmiapurna.blogspot.co.id/2014/06/makalah-4-pilar-pendidikan_23.html

http://ludisahendriza.blogspot.com/2013/12/pilar-pilar-pendidikan.html

http://oyikyu.blogspot.com/2013/03/makalah-4-pilar-pendidikan-24.html

http://rian-priyadi.blogspot.co.id/2012/09/pendidikan-sebagai-suatu-sistem.html

Kusuma, Rahayu Pratiwi, “Makalah Sistem Pendidikan Nasional”,

http://rahayukusumapratiwi.blogspot.com/2013/01/makalah-sistem-pendidikan-
nasional.html

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 37


BAB IV
PENYELENGGARAAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Pendahuluan
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat serta dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem
pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional.
Sistem pendidikan Indonesia yang telah dibangun dari dulu sampai sekarang ini,
ternyata masih belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan tantangan global
untuk masa yang akan datang. Program pemerataan dan peningkatan kualitas
pendidikan yang selama ini menjadi fokus pembinaan masih menonjol dalam dunia
pendidikan di Indonesia ini.
Sementara itu jumlah penduduk usia pendidikan dasar yang berada di luar sistem
pendidikan nasional ini masih sangatlah banyak jumlahnya, dunia pendidikan kita
masih berhadapan dengan berbagai masalah internal yang mendasar yang bersifat
komplek, selain itu pula bangsa Indonesia ini masih menghadapi sejumlah problematika
yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan mendasar sampai pendidikan tinggi.
Kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan, menurut hasil
penelitian The Political and Economic Risk Consultacy (PERC) sistem pendidikan di
Indonesia ini berada di urutan 12 dari 12 negara di Asia, bahkan lebih rendah dari
Vietnam.
Dari latar belakang diatas, melalui buku ini penulis bermaksud membahas lebih
jelas mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.
Sehubungan dengan pendidikan nasional Sunarya W. (1963) merumuskan:
“Pendidikan Nasional adalah suatu sistem pendidikan yang berlandaskan dan dijiwai
oleh suatu falsafah hidup suatu bangsa dan bertujuan mengabdikan pada kepentingan
dan cita-cita nasional bangsa tersebut ini berarti bahwa Pendidikan Nasional suatu
bangsa dlam pelaksanaan pendidikannya berdasarkan pda filsafat budaya bangsa demi
kelangsungan kehidupan dan cita-cita bangsa dan negara baik jangka pendek maupun
jangka panjang.”

Di Indonesia, dalam UUSPN Bab 1 ayat (2) dicantumkan “Pendidikan Nasional


ialah pendidikan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada
nilai-nilai agama, kebudayaan Nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman.” Pernyataan itu mengandung makna bahwa semua aspek yang
terdapat dalam sistem pendidikan nasional akan mencerminkan aktivitas yang dijiwai

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 38


oleh Pancasila UUD 1945 dan berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan bangsa
Indonesia, serta sesuai dengan perkembangan zaman.

Pendidikan nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk membangun manusia
seutuhnya. Oleh sebab itu arah dan fungsi utama sistem pendidikan nasional itu adalah
mengembangkan manusia, masyarakat dan lingkungannya. Dengan demikian
pendidikan nasional mempunyai fungsi sebagai alat yang bertujuan untuk
mengembangkan pribadi, pengembangan masyarakat, pengembangan kebudayaan dan
pengembangan bangsa Indonesia. Untuk meningkatkan kehidupan dan martabatnya
sehingga tercapai kebahagiaan batiniah dan lahiriah seperti tertuang dalam UUSPN No.
20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang bertujuan sebagai berikut: “Pendidikan Nasional
berfungsi mengembangkan kemauan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Dalam ketentuan umum UUSPN Bab I Pasal 3, juga dicantumkan bahwa sistem
pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling tekait secara
terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dapat diidentifikasi konsep-konsep
tentang pendidikan Nasional Indonesia sebagai berikut :

1) Pendidikan nasional merupakan usaha sadar untuk membangun masyarakat


Pancasila.
2) Sistem pendidikan nasional merupakan salah satu bagian/sistem dari
pembangunan nasional, yang ada bersama-sama dengan sistem kehidupan
lainnya (seperti: ekonomi, politik, agama, dan sebagainya).
3) Sumber masukan sistem pendidikan nasional Indonesia adalah masyarakat.
4) Proses yang diharapkan terjadi dalam sistem pendidikan nasional dewasa ini
adalah proses sosialisasi.

Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan melalui undang-undang berupa Undang-


Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan ditetapkan pada tanggal 27
Maret 1989. Bab I Ketentuan Umum pasal (1). Dalam Undang-undang ini yang
dimaksud dengan:

1) Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan
datang
2) Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa
Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
3) Sistem pendidikkan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua
satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk
mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 39


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bagsa dan negara.
Menurut Pasal 31 ayat (2); Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pendidikan nasional yang diatur dengan Undang-Undang, dalam hal ini UUSPN
seperti sudah dikemukakan sebelumnya.

A. Jalur Jenjang dan Jenis Pendidikan

1. Jalur Jenjang

Pendidikan nasional dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik


dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar. Jalur pendidikan
terdiri atas: pendidikan formal, nonformal, dan informal.

a. Pendidikan formal
Pendidikan formal terdiri atas:
 pendidikan dasar
 pendidikan menengah
 dan pendidikan tinggi

b. Pendidikan Nonformal
Pendidikan Nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang
memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah,
dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan
sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi
peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan
keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian
profesional.
Pendidikan nonformal meliputi:
 pendidikan kecakapan hidup,
 pendidikan anak usia dini,
 pendidikan kepemudaan,
 pendidikan pemberdayaan perempuan,
 pendidikan keaksaraan,
 pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,
 pendidikan kesetaraan,
 pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik.

Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 40


 lembaga kursus,
 lembaga pelatihan,
 kelompok belajar,
 pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
 majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

c. Pendidikan Informal
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan
lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan
informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta
didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. Pendidikan Anak
Usia Dini, Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang
pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan
formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk: Taman
Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk
pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan


bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk
mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri,
dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk: Kelompok Bermain
(KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Hasil
pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan
formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang
ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada
standar nasional pendidikan.

Penyelenggaraan terwujud pada jalur jenjang dan jenis pendidikan


berfungsi menyiapkan sumber daya manusia untuk pembanguanan
pengembangan sistem pendidikan nasional mesti berdasar kepada aspek legal.

Jenjang pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan


yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik serta
keluasaan dan ke dalam bahan pengajaran (UU No. 52 Tahun 1989 Bab I,
pasal 1 ayat 5) dasar untuk memberikan bekal dasar atau pendidikan pertama/
setara sampai tamat jenjang pendidikan.

Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional dilaksanakan melalui 2 jalur


yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 41


1) Jalur pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara
berjenjang dan berkesinambungan (pendidikan dasar, pendidikan menengah
dan pendidikan tinggi), sifatnya formal di atur berdasarkan ketentuan-
ketentuan pemerintah ada keseragaman pola yang bersifat nasional.
2) Jalur pendidikan luar sekolah (PLS) merupakan pendidikan yang bersifat
kemasyarakatan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan
belajar mengajar yang tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan seperti
kursus-kursus di luar sekolah, kelompok-kelompok bekajar, pendidikan
dalam keluarga dan pendidikan sejenisnya yang bersifat tidak formal.

2. Jenis Pendidikan

Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat


dan kekhususan tatanannya (UU RI no 2 tahun 1989 Bab I ayat 4 No. 2 Tahun
1989). Jenis pendidikan mencakup: pendidikan umum, kejuruan, akademik,
profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.

a. Pendidikan Umum dan Kejuruan


Pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan
pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Yang termasuk pendidikan umum
adalah Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Universitas.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik
untuk dapat bekerja pada bidang pekerjaan tertentu seperti bidang teknik, tata
boga dan busana, perhotelan, perbankan, penerbangan, kerajinan, administrasi
dan lain-lain. Yang termasuk sekolah kejuruan antara lain Sekolah Menegah
Kejuruan (SMEA, STM, SKKA, SMIK) dan lain sebagainya.
Baik pendidikan umum maupun kejuruan, jalur pendidikan sekolah
dilaksanakan melalui perjenjangan yang penyelenggaraannya untuk setiap
jenjang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

1) Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan
kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang
diperlukan untuk hidup dalam masyarakat dan mempersiapkan peserta
didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi
jenjang pendidikan menengah. Setiap warga negara yang berusia 7-12
tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pemerintah dan Pemerintah
Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara,
dinyatakan dalam UUPS ayat (1) “Warga Negara yang berumur 6 (enam)
tahun berhak mengikuti pendidikan dasar.” Pendidikan dasar berbentuk:
Sekolanah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain
yang sederajat.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 42


2) Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan menegah berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik untuk
melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta
didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan
mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan
alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam
dunia kerja atau pendidikan tinggi. Pendidikan menengah terdiri atas
pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan, dapat
berbentuk: Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiayah
(Mts), Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau
bentuk lain yang sederajat. Ketentuan pendidikan menengah mengenai
sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ) ayat (2) dan ayat (3) di atur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah

3) Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional
yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. Pendidikan tinggi
diselenggarakan dengan sisitem terbuka yang mencakup program
pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doctor yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi, dapat berbentuk akademik,
politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.
 Akademi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan terapan dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu
pengetahuan, teknologi, atau kesenian tertentu.
 Politeknik merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.
 Sekolah tinggi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan akademik dan/atau profesional dalam satu disiplin ilmu
tertentu.
 Institut merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah
fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau
profesional dalam sekelompok disiplin ilmu yang sejenis.
 Unversitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah
fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau
profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu.

Misi “TriDharma” adalah pendidikan tinggi yang meliputi pendidikan,


penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ketentuan mengenai perguruan

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 43


tinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) ayat (2) dan ayat (3) di atur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah.

b. Pendidikan Khusus
Pendidikan khusus berfungsi secara khusus menyiapkan pendidikan
yang sesuai dengan tujuan masing-masing program tersebut. Dapat berbentuk
Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Kedinasan, Pendidikan Teknis, dan
Pendidikan Keagamaan.

1) Pendidikan Luar Biasa

Pendidikan Luar Biasa merupakan pendidikan khusus yang di


selenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik/mental
yang termasuk pendidikan luar biasa adalah SDLB untuk jenjang dasar dan
PLB untuk jenjang pendidikan menengah memiliki program khusus yaitu
program untuk anak tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, dan tuna grahita,
untuk pendidikan gurunya disediakan SGPIB (Sekolah Guru Pendidikan
Luar Biasa) serta dengan diploma 3, tetapi kini disebut dengan Pendidikan
Luar Biasa (PLB) dengan strata 1.

2) Pendidikan Kedinasan

Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan khusus yang


diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas
kedinasan bagi pegawai atau calon pegawai suatu Departemen Pemerintah
atau Lembaga Pemerintah non Departemen. Pendidikan khusus kedinasan
dilaksanakan di sekolah kedinasan atau pusat-pusat latihan (PUSDIKLAT)
dan lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah
maupun oleh swasta.

3) Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan khusus yang


mempersiapkan peserta didik dalam melaksanakan peranan yang khusus
dalam pengetahuan ajaran agama yang terdiri dari tingkat pendidikan
dasar,menengah dan pendidikan tinggi, seperti: Madrasah Ibtidaiyah (MI),
Taman Pendidikan Agam (TPA), Institut Agama Negeri Islam Negeri
(IAIN), Pesantren, Pendidikan Guru Agama, Biara, dan Institut Ilenda
Dharma.

4) Pendidikan Teknis

Pendidikan khusus teknis dilaksanakan di pusat-pusat atau lembaga


pendidikan khusus yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun oleh
swasta.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 44


5) Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang,


dan jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan
pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti
pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pendidikan jarak jauh
diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang
didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang
menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

B. Standar Pendidikan Nasional

Untuk mewujudkan cita-cita luhur tesebut, pemerintah menetapkan 8 Standar


Nasional Pendidikan Indonesia yang menjadi pedoman bagi Pendidik dan Tenaga
Kependidikan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Berikut ini penjelasan 8 Standar Nasional Pendidikan Indonesia:

1. Standar Kompetensi Lulusan


Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.
Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal
satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal
kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

2. Standar Isi
Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal
untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu. Standar isi tersebut memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban
belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan.

3. Standar Proses
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Selain itu, dalam proses pembelajaran pendidik
memberikan keteladanan. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan
pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang
efektif dan efisien.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 45


4. Standar Sarana dan Prasarana
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai,
serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran
yang teratur dan berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana
yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang
pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel
kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat
berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat
lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan

5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan


Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen
pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan
di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang
pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen
pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak
usia dini meliputi: Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi
Profesional, dan Kompetensi Sosial.
Pendidik meliputi pendidik pada TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA,
SDLB/SMPLB/SMALB, SMK/MAK, satuan pendidikan Paket A, Paket B dan
Paket C, dan pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan. Tenaga kependidikan
meliputi kepala sekolah/madrasah, pengawas satuan pendidikan, tenaga
administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi, pengelola
kelompok belajar, pamong belajar, dan tenaga kebersihan.

6. Standar Pengelolaan Pendidikan


Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan oleh
satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar
pengelolaan oleh Pemerintah.

7. Standar Pembiayaan Pendidikan


Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya
personal. Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya penyediaan sarana dan
prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. Biaya
personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk
bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya operasi
satuan pendidikan meliputi: Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala
tunjangan yang melekat pada gaji, Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai,

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 46


dan Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi,
pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak,
asuransi, dan lain sebagainya.

8. Standar Penilaian Pendidikan


Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
Penilaian hasil belajar oleh pendidik, Penilaian hasil belajar oleh satuan
pendidikan, dan Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. Penilaian pendidikan pada
jenjang pendidikan tinggi terdiri atas: Penilaian hasil belajar oleh pendidik, dan
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi. Penilaian pendidikan pada
jenjang pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud di atas diatur oleh masing-masing
perguruan tinggi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

C. Dasar, Fungsi, Tujuan dan Prinsip Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional

1. Dasar Pendidikan Nasional


Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia mulai dari PAUD sampau Perguruan
Tinggi berlandaskan dengan Pancasila;
 Landasan Idiil dijadikan tumpuan dasar dan pemberi arah dalam merumuskan
tujuan nasional untuk memilih isi kurikulum apa yang harus diberikan untuk
anak didik sesuai jenjang pendidikannya dan dijadikan dasar dalam proses
belajar dan megajar.
 Landasan Konstitusional dalam pendidikan adalah UUD 1945
 Landasan yang berada dibawah UUD adalah Peraturan Pemerintah.

2. Fungsi Pendidikan Nasional


Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa

3. Tujuan Pendidikan Nasional


Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan , kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 47


4. Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan
a. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,
nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
b. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan
sistem terbuka dan multi makna.
c. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
d. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
e. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,
menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
f. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
layanan pendidikan.

Kesimpulan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajararan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara
Sistem pendidikan nasional adalah suatu sistem dalam suatu negara yang
mengatur pendidikan yang ada di negaranya agar dapat mencerdaskan kehidupan
bangsa, agar tercipta kesejahteraan umum dalam masyarakat.
Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional disusun sedemikian rupa, meskipun
secara garis besar ada persamaan dengan sistem pendidikan nasional bangsa-bangsa
lain, sehingga sesuai dengan kebutuhan akan pendidikan dari bangsa itu sendiri yang
secara geografis, demokratis, historis, dan kultural berciri khas.
Sistem pendidikan nasional adalah suatu sistem dalam suatu negara yang mengatur
pendidikan yang ada di negaranya agar dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, agar
tercipta kesejahteraan umum dalam masyarakat. Penyelenggaraan sistem pendidikan
nasional disusun sedemikian rupa,meskipun secara garis besar ada persamaan dengan
sistem pendidikan nasional bangsa-bangsa lain, sehingga sesuai dengan kebutuhan akan
pendidikan dari bangsa itu sendiri yang secara geografis, demokrafis, histories, dan
kultural berciri khas.
Jenjang pendidikan diawali dari jenjang pendidikan dasar yang memberikan dasar
yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat dan berupa prasyarat untuk mengikuti
pendidikan menengah. yang diselenggarakan di SLTA. Pendidikan menengah berfungsi
memperluas pendidikan dasar. Dan mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ke
jenjang pendidikan tinggi.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 48


Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Pendidikan Nasional?


2. Jelaskan yang dimaksud dengan pendidikan formal, nonformal, dan informal!
3. Sebutkan jenis-jenis pendidikan! Dan berikan contoh masing-masingnya!
4. Sebutkan standar-standar pendidikan nasional!
5. Sebutkan prinsip-prinsip penyelanggaraan pendidikan!

Daftar Pustaka

Zelhendri Zen, Syafril, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Sukabina Press: Padang
http://diporifaldo.blogspot.co.id/2014/01/penyelenggaraan-sistem-pendidikan.html
http://guruidaman.blogspot.co.id/2012/11/sistem-pendidikan-nasional.html
http://nur-afifah-nugraheni.blogspot.co.id/2013/06/makalah-sistem-pendidikan-
nasional.html
http://makalahsistempendidikanasional.blogspot.co.id/

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 49


BAB V
BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG PENDIDIKAN

Pendahuluan
Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika
manusia dan masyarakat. Sejak dulu, kini, maupun di masa depan pendidikan itu selalu
mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial-budaya dan
perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan itu
disebut aliran-aliran pendidikan.
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap
kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang
memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai
kepustakaan aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah
dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini.
Pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai zaman Yunani kuno,
berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Aliran-aliran klasik maupun gerakan-gerakan
baru dalam pendidikan pada umumnya berasal dari dua kawasan ini. Pemikiran-
pemikiran itu tersebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, dengan berbagai cara
seperti dibawa oleh bangsa penjajah ke daerah jajahanya, melalui bacaan buku dan di
bawa oleh orang yang pergi belajar ke Eropa atau Amerika dan sebagainya. Penyebaran
itu menyebabkan pemikiran-pemikiran dari kedua kawasan ini pada umumnya menjadi
acuan dalam penerapan kebijakan di bidang pendidikan di berbagai negara.

A. Pemikiran Klasik (aliran klasik) tentang Pendidikan


Pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai pada zaman Yunani
Kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya, akhirnya berkembang
dengan pesat di Eropa dan Amerika Serikat.
Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran-aliran empirisme, nativisme,
naturalisme, dan konvergensi merupakan benang merah yang menghubungkan
pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang.
Selanjutnya terdapat beberapa gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam
pendidikan yang pengaruhnya masih terasa sampai kini, yakni gerakan-gerakan
pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja dan pengajaran
proyek. Gerakan-gerakan tersebut mendapat reaksi yang berbeda-beda di berbagai
negara, namun terdapat beberapa asa yang mendasarinya yang diterima secara luas.
Gerakan-gerakan ini sangat mempengaruhi cara-cara guru dalam mengelola
kegiatan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, gerakan-gerakan itu dapat dikaji
untuk memperkuat wawasan dan pengetahuan tentang pengajaran.
Seperti telah dikemukakan bahwa pengajaran merupakan pilar penting dari
kegiatan pendidikan di sekolah, utamanya kalau dilakukan pengajaran yang sekaligus
mendidik.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 50


Beberapa pemikiran atau aliran Klasik tentang Pendidikan:

1. Aliran Empirisme
Aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan
stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa
perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak
dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari
didapat dari dunia sekitanya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal
dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program
pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama
John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabulasi Rasa”, yakni akan
lahir didunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang
diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan
perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme pendidik memegang peranan
yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan
kebaypada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman.
Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan
peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar
yang di bawa anak sejak lahir dianggap tidak menetukan, menurut kenyataan dalam
kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun
lingkungan sekitanya tidak mendukung. Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya
kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan
keras, anak berusaha mendepatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat
atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya.

2. Aliran Nativisme
Aliran nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan
kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor
pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil
perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak
kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan
anak. Hasil pendidikan tergantung pada pembawaan. Schopenhauer (filsuf Jerman
1788-1860) berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan
pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh
pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka
keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Diteekankan
bahwa”yang jahat akan menjadi jahat, dan yang baik akan menjadi baik”
Meskipun dalam kenyataannya sehari-hari sering ditemukan anak mirip
orang tuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada
orang tuanya. Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang
menentukan perkembangan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 51


3. Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran
naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseau (1712-1778).
Berbeda dengan Schopenhauer, Rausseau berpendapat bahwa semua anak yang
baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan
menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Rousseau juga berpendapat
bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak
pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini juga disebut negativisme, karena
berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi
dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan.

4. Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan
bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah
disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini
berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan
maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.
Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembangan dengan baik tanpa
adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu.
Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak
yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan
untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia
berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Pada anak manusia ada
pembawaan untuk berbicara melalui situasi lingkungannya, anak belajar berbicara
dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam
mengembangkan pembawaan bahasanya.
Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen arinya
memuasat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi :
1) Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada
anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah
berkembangnya potensi yang kurang baik.
3) Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

B. Pemikiran Baru tentang Pendidikan


Pemikiran baru dalam pendidikan pada umumnya termasuk yang kedua yakni
upaya peningkatan mutu pendidikan hanya dalam satu atau beberapa komponen saja.
Seperti pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan
pengajaran proyek. Beberapa Pemikiran baru tentang pendidikan:

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 52


1. Pengajaran alam sekitar
Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitanya adalah
gerakan pengajaran alam sekitar, perintis gerakan ini antara lain : Fr.A finger
(1808-1888) di Jerman dengan Heimatkunde (pengajaran alam sekitar). Beberapa
prinsip gerakan Heimatkunde adalah :

a. Dengan pengajaran alam sekitar itu guru dapat meragakan secara langsung.
Betapa pentingnya pengajaran dengan meragakan atau mewujudkan itu sesuai
dengan sifat-sifat atau dasar-dasar orang pengajaran.
b. Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar
anak aktif atau giat tidak hanya duduk, dengan , dan catat saja
c. Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran
totalitas, yaitu suatu bentuk pengajaran dengan ciri-ciri dalam garis besarnya
sebagai berikut :
 Suatu pengajaran yang tidak mengenai pembagian mata pengajaran dalam
daftar pengajaran, tetapi guru memahami tujuan pengajaran dan
mengarahkan usahanya untuk mencapai tujuan.
 Suatu pengajaran yang menarik minat , karena segala sesuatu dipusatkan
atas suatu bahan pengajaran yang menarik perhatian anak dan diambilkan
dari alam sekitarnya.
 Suatu pengajaran yang memungkinkan segala bahan pengajaran itu
berhubung-hubungan satu sama lain seerat-eratnya secara teratur.
d. Pengajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual
yang kukuh dan tidak verbalistis. Yang dimaksud dengan apersepsi intelektual
ialah segala sesuatu yang baru dan masuk di dalam intelek anak, harus dapat
luluh menjadi satu dengan kekayaan pengetahuan yang sudah dimiliki anak.
Harus terjadi proses asimilasi antara pengethuan lama dengan pengetahuan
baru.
e. Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karena alam sekiat
mempunyai ikatan emosional dengan anak.

2. Pengajaran pusat perhatian


Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly (1871-1932)
dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat (Centeres D’interet). Dari
penelitian secara tekun, Decroly menyumbangkan dua pendapat yang sangat
berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yang merupakan dua hal yang khas dari
Decroly, yaitu :
a. Metode Global (keseluruhan). Dari hasil yang di dapat dari obsevasi dan tes,
dapatlah ia menetapkan, bahwa anak-anak mengamati dan mengingat secara
global (keseluruhan).
b. Centre d’interet (pusat-pusat minat). Dari penyelidikan psikologik, ia
menetapkan bahwa anak-anak mempunyai minat yang spontan (sewajarnya).
Pengajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan tersebut. sebab

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 53


apabila tidak, yaitu misalnya minat yang ditimbulkan oleh guru, maka
pengajaran itu tidak akan banyak hasilnya, anak mempunyai minat-minat
spontan terhadap diri sendiri dan minat spontan terhadap diri sendiri itu dapat
kita bedakan menjadi :

 Dorongan mempertahankan diri.


 Dorongan mencari makan dan minum
 Dorongan memelihara diri\

Sedangkan minat terhadap masyarakat (biososial) ialah :


 Dorongan sibuk bermain-main
 Dorongan meniru orang lain.

3. Sekolah Kerja
Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari
pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam
pendidikan. J. A. Comenius (1592-1670) menekankan agar pendidikan
mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa, dan tangan (ketermapilan, kerja tangan).
Perlu dikemukakan bahwa sekolah kerja itu bertolak dari pandangan bahwa
pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demik kepentingan
masyarakat. Dengan kata lain, sekolah berkewajiban menyiapkan warga negara
yang baik, yaitu :
 Tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan jabatan.
 Tiap orang wajib menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan negara
 Dalam menunaikan kedua tugas tersebut haruslah selalu diusahakan
kesempurnaannya,
agar dengan jalan itu tiap warga negara ikut membantu mempertinggi dan
menyempurnakan kesusilaan dan keselamatan negara. Berdasarkan hak itu, maka
menurut G. Kerschensteiner tujuan sekolah adalah:
1) Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang di dapat dari buku atau
orang lain, dan yang didapat dari pengalaman sendiri.
2) Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu.
3) Agar anak dapat memiliki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam
mengabdi negara.

4. Pengajaran Proyek
Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran-pengajaran proyek diletakkan
oleh John Dewey (1859-1952), namun pelaksanaannya dilakukan oleh
pengikutnya, utamanya W. H. Kilpatrick. Dewey menegaskan bahwa sekolah
haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat (becomes microcosm of society);
oleh karena itu, pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukannya
penyiapan untuk kehidupan di masa depan. Perlu dikemukakan bahwa Dewey
merupakan peletak dasar dari falsafah pragmatisme dan penganut behaviorisme.
Khususnya dalam bidang pengajaran, Dewey menegaskan pengajaran proyek
anak bebas menentukan pilihannya (terhadap pekerjaan), merancang, serta

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 54


memimpinnya. Proyek yang ditentukan oleh anak, mendorongnya mencari jalan
pemecahan bila ia menemui kesukaran. Anak dengan sendirinya giat dan aktif
karena sesuai dengan apa yang diinginkannya. Proyek itulah yang menyebabkan
mata pelajaran itu tidak terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain.

5. Home Schooling
Sedangkan pengertian Homeschooling (HS) sendiri adalah model alternatif
belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai
homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah “home education”, atau “home-
based learning” yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.Dalam
bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah “sekolah rumah”. Ada juga
orangtua yang secara pribadi lebih suka mengartikan homeschooling dengan istilah
“sekolah mandiri”. Tapi nama bukanlah sebuah isu. Disebut apapun, yang
terpenting adalah esensinya.

6. Sekolah Alam
Sekolah Alam adalah sebuah sekolah di Indonesia yang berberapa kota
memiliki sekolah alam dengan nama sendiri. Salah satu yang terkenal adalah
Sekolah Alam Indonesia dari Jakarta. Biasanya tingkat sekolah di sekolah jenis ini
adalah SD. Namun dalam perkembangannya telah melebar ke beberapa jenjang,
mulai dari tingkat KB (Kelompok Bermain) hingga tingkat menengah.

7. Pendidikan Berasrama (Boarding School)


Boarding school terdiri dari dua kata yaitu boarding dan school. Boarding
berarti asrama. Dan school berarti sekolah. Boarding School adalah sistem sekolah
berasrama, dimana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal
di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu
biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan
sekolahnya.
Boarding school atau sekolah berasrama, para murid mengikuti pendidikan
reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan
agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik
berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing.
Boarding school adalah lembaga pendidikan di mana para siswa tidak hanya
belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup menyatu dengan di lembaga
tersebut. Boarding School mengkombinasikan tempat di rumah, dipindah ke
institusi sekolah, di mana di sekolahb tersebut disediakan berbagai fasilitas tempat
tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang belajar dan tempat olah raga, perpustakaan,
kesenian.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 55


C. Implikasi pemikiran Klasik dan Pemikiran Baru dalam Pendidikan

1. Implikasi aliran Klasik terhadap Pendidikan di Indonesia


Aliran-aliran pendidikan yang klasik mulai dikenal di Indonesia melalui
upaya-upaya pendidikan, utamnya persekolahan, dari penguasa penjajah Belanda
dan disusul kemudian oleh orang-orang Indonesia yang belajar di negeri Belanda
pada masa penajajahan. Setelah kemerdekaan Indonesia, gagasan-gagasan dalam
aliran-aliran pendidikan itu masuk ke Indonesia melalui orang-orang Indonesia
yang belajar di berbagai negara di Eropa, Amerika Serikat, dan lain-lain. Seperti
diketahui, sistem persekolahan diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di
Indonesia, sebelum masa itu pendidikan di indonesia terutama oleh keluarga dan
oleh masyarakat (kelompok belajar/padepokan, lembaga keagamaan/pesantren, dan
lain-lain).
Khusus dalam latar persekolahan, kini terdapat sejumlah pendapat yang lebih
menginginkan agar peserta didik lebih ditempatkan pada posisi yang seharusnya,
yakni sebagai manusia yang dapat dididik dan juga dapat mendidik dirinya sendiri.
Hubungan pendidik dan peserta didik seyogianya adalah hubungan yang setara
antara dua pribadi, meskipun yang satu lebih berkembagan dari yang lain.
Hubungan kesetaraan dalam interaksi edukatif tersebut seyogianya diarahkan
menjadi suatu hubungan transaksional, suatu hubungan antar pribadi yang memberi
peluang baik bagi peserta didik yang belajar, maupun bagi pendidik yang ikut
belajar (colearner). Dengan demikian, cita-cita pendidikan seumur hidup dapat
diwujudkan melalui belajar seumur hidup.

2. Implikasi atau pengaruh pemikiran baru dalam pendidikan


Telah dikemukakan bahwa gerakan baru dalam pendidikan tersebut terutama
berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, namun dasar-dasar
pikirannya tentulah menjangkau semua segi dari pendidikan, baik aspek konseptual
maupun operasional.
Sebab itu, mungkin saja gerakan-gerakan itu tidak diadopsi seutuhnya di
suatu masyarakat atau negara tertentu, namun asas pokoknya menjiwai kebijakan-
kebijakan pendidikan dalam masyarakat atau negara itu. Sebagai contoh yang telah
dikemukankan pada setiap paparan tentang gerkan itu, untuk Indonesia, seperti
muatan lokal dalam kurikulum untuk mendekatkan peserta didik dengan
lingkunganya, berkembangnya sekolah kejuruan, pemupukan semangat kerja sama
multidisiplin dalam menghadapi masalah, dan sebagainya.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 56


Kesimpulan

Pemikiran tentang pendidikan sejak dulu, kini, dan masa yang akan datang terus
berkembang. Hasil-hasil dari pemikiran itu disebut aliran-aliran atau gerakan baru
dalam pendidikan. Aliran/gerakan tersebut mempengaruhi pendidikan di seluruh dunia,
termasuk pendidikan di Indonesia. Dari sisi lain, di Indonesia juga muncul gagasan-
gagasan tentang pendidikan, yang dapat dikategorikan sebagai aliran pendidikan, yaitu
Taman Siswa dan INS Kayu Tanam.
Kajian tentang berbagai aliran atau gerak pendidikan itu akan memberikan
pengetahuan dan wawasan historis kepada tenaga kependidikan. Hal itu sangat penting,
agar para pendidik dapat memahami, dan pada gilirannya kelak dapat memberi
kontribusi terhadap dinamika pendidikan itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah
bahwa dengan pengetahuan dan wawasan historis tersebut, setiap tenaga kependidikan
diharapkan memiliki bekal yang memadai dalam meninjau berbagai masalah yang
dihadapi, serta pertimbangan yang tepat dalam menetapkan kebijakan dan atau tindakan
sehari-hari.
Dari aliran-aliran pendidikan di atas kita tidak bisa mengatakan bahwa salah satu
adalah yang paling baik. Sebab pengguaannya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan,
situasi dan kondisinya pada saat itu, karena setiap aliran memiliki dasar-dasar
pemikiran sendiri. Aliran-aliran pendidikan baru yang berkembang sebenarnya adalah
pengembangan dari keempat aliran-aliran klasik yang ada yaitu, (1) aliran empirisme,
(2) aliran Nativisme, (3) aliran naturalisme, dan (4) aliran konvergensi. Pada dasarnya
aliran-aliran pendidikan kritis mempunyai suatu kesamaan ialah pemberdayaan
individu. Inilah inti dari masyarakat pedagogik. Inilah inti dari masyarakat pedagogik.
Sudah tentu aliran-aliran pedagogik di atas mempunyai keterbatasan.
Pemikiran baru tentang pendidikan juga terdiri dari beberapa macam, yaitu :
pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, pengajaran proyek,
home schooling, sekolah alam, pendidikan berasrama.

Adapun saran-saran yang dapat disampaikan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
a. Setiap tenaga kependidikan seharusnya memiliki bekal yang memadai dalam
menghadapi permasalahan (dinamika) pendidikan yang akan terjadi di masa yang
akan datang.
b. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, sebaiknya guru (tenga
pendidik) harus mempunyai wawasan dan pengetahuan yang mendukung dari
setiap pembelajaran yang akan dibawakan dalam penyampaian materi kepada
murid-muridnya.
c. Tenaga pendidik seharusnya tidak hanya menyampaikan materi saja kepada
muridnya, melainkan setiap guru juga harus tahu bagaiman mempraktekkannya
atau menerapkan dari apa yang disampaikan kepada muridnya itu dalam kehidupan
sehari-hari.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 57


Diharapkan untuk tidak menyepelekan adanya pengetahuan tentang aliran-aliran
pendidikan, Diharapkan lebih bijak memilih atau mengaplikasikan teori-teori tersebut
dalam mendidik anak karena dengan kita tahu maka kita bisa menalaah sisi baik dan sisi
buruk, sisi yang cocok untuk diterapkan dalam pendidikan di zaman sekarang itu seperti
apa proses pembelajaran, terlebih pada tahap-tahap pembelajaran, diharapkan anak
tersebut mampu menghasilkan sesuatu yang optimal pada dirinya dan lingkungannya.

Latihan
1. Apa yang dimaksud dengan Pemikiran Klasik tentang Pendidikan?
2. Apa yang dimaksud dengan Pemikiran Baru dalam Pendidikan?
3. Sebutkan beberapa prinsip gerakan Heimatkunde!
4. Apa yang dimaksud dengan Metode Global dan Centre d’internet?
5. Apa perbedaan Sekolah Alam dengan Boarding School?

Daftar Pustaka
Tirtarahardja,Umar & La Sulo, S, L. 1984. “Pengantar Pendidikan” Bandung : CV.
Pustaka Jaya
Bloom, B. S. 1971. “Taxonomy of Educational Objectives.
Drijarkara. 1970. Percikan Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.
Hasan, Fuad. 1985. Manusia dan Citranya. Surabaya : Express
Mardiatmadja, B. S. 1984. Tantangan Dunia Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius.
Purwanto, Ngalim, Drs. M., 1972, Ilmu Pendidikan, Paket Pengajaran pada Proyek
Kerjasama PT Stanvac-Indonesia, Pendopo, dengan IKIP Jakarta (Di akses pada
hari Rabu, tanggal 26 September 2012)
http://diporifaldo.blogspot.co.id/2014/01/beberapa-pemikiran-tentang-pendidikan.html
Syafril, Zelhendri Zen, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang. UNP
http://arafah127.blogspot.co.id/p/aliran-aliran-pendidikan.html

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 58


BAB VI
TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN

Pendahuluan
Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika
manusia dan masyarakat, Sejak dulu, kini, maupun di masa depan pendidikan itu selalu
mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial-budaya dan
perkembangan iptek.
Dunia pendidikan di Indonesia selama ini kekurangan tokoh, terkait dalam dunia
pendidikan. Pendidikan di Indonesia lebih condong hanya mendewakan tokoh-tokoh
pendidikan luar negeri. Orang Indonesia akan lebih paham dengan tokoh pendidikan
asal Brasil, Paolo Freire atau seorang Ivan Illich dibandingkan dengan tokoh-tokoh
pendidikan lokal. Selain kurangnya sosialisasi, kekurangsadaran orang Indonesia untuk
mencoba mengkaji tokoh-tokoh pendidikan lokal masih sangat minim. Tokoh
pendidikan luar dipandang lebih mempunyai pemikiran pemikiran yang lebih genuin
dibandingkan dengan tokoh pendidikan lokal. Padahal dalam kenyataannya, pemikiran
lokal tidak kalah saing dengan tokoh pendidikan luar, sebagai contoh Ki Hajar
Dewantara, Mohammad Syafei, Kiyai H. Ahmad Dahlan.
Disamping kurangnya tokoh pendidikan lokal, Indonesia juga tidak punya tokoh
pendidikan perempuan, selain figur seorang Kartini, yang terkenal dengan kata-katanya,
yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Selain seorang Kartini orang-orang Indonesia
pasti akan sangat kebingungan jika ditanya tokoh pendidikan perempuan Indonesia
selain Kartini. Padahal selain Kartini, Indonesia masih punya Rahmah El Yunusiah.
Dari latar belakang diatas, melalui makalah ini penulis bermaksud mengkaji
tokoh-tokoh pendidikan dari luar negeri dan tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia agar
pengetahuan orang Indonesia akan tokoh pendidikan Indonesia tidak minim lagi, serta
untuk mengkaji tentang tokoh-tokoh pendidikan Indonesia yang juga terdiri dari tokoh
perempuan yang tidak kalah berpengaruhnya terhadap pengembangan pendidikan di
Indonesia.

A. Tokoh Pendidikan yang berpengaruh dari luar negeri

1. Tokoh Pestalozzi (1746-1827)


a. Pestalozzi adalah tokoh pertama yang dipengaruhi oleh Rousseau yang
mencoba, ia katakana sendiri, mempsikologikan pendidikan (to psychologize
education)
b. Perjalan hidupnya
Ia dilahirkan di Zurich. Ayahnya seorang dokter, dan meninggal pada waktu ia
masih berusia lima tahun. Kasih saying ibunya sangat berkesan dan
mempengaruhi pemikirannya tentang pendidikan. Ia mendapatkan pendidikan

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 59


disekolah dasar, sekolah latin, serta Colegium Humanitatis dan collegiums
Carolinum.
c. Percobaan di Neuhop (1774-1780)
Ia mendirikan pertanian di Neuhop, dalam rangka mewujudkan anjuran
Rousseau untuk hidup mendekati alam. Anak – anak yang terlantar di bawah
asuhannya dalam percobaan pertanian di Neuhop mendapat pelajaran
membaca, menulis dan berhitung, serta berada dalam susasana religious dan
kasih sayang.
d. Masa menulis buku (1780-1798)
Karena kegagalannya dalam percobaan Neuhop, ia meyerahkan kegiatannya
dalam menulis buku-bukutenal.tang pendidikan dan reformasi social. Ia
menulis “Leonard und Gestrude”, sebuah tulisan berbentuk roman seperti
Emile, yang berisi gagasan tentang pembaharuan pendididkan dan social; dan
Die Abenstrundeeines Eiensiedlers (saat – saat malam hari dari seseorang
pertapa), yang berisi cita-cita membangun masyarakat.
e. Percobaan di Sekolah Dasar
Percobaan dan metode dilaksanakan di Stanz,Burgdorf, dan Yverdun. Ia
mencobakn sekolah dasar yang menekankan pada pekerjaan tangan yang
ditambah dengan pengajaran formal. Namun percobaan itu gagal karna ada
serangan dari tentara prancis.

2. Maria Montessori (1870-1952)


Metode Montessori adalah suatu metode pendidikan untuk anak-anak,
berdasar pada teori perkembangan anak dari Dr. Maria Montessori, seorang
pendidik dari Italia di akhir abad 19 dan awal abad 20. Metode ini diterapkan
terutama di pra-sekolah dan sekolah dasar, walaupun ada juga penerapannya
sampai jenjang pendidikan menengah.
Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak dan
pengamatan klinis dari guru (sering disebut "direktur" atau "pembimbing"). Metode
ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan
tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep
akademis dan keterampilan praktik.
Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan otodidak (koreksi diri)
untuk memperkenalkan berbagai konsep.
Walaupun banyak sekolah-sekolah yang menggunakan nama "Montessori," kata itu
sendiri bukan merupakan merk dagang, juga tidak dihubungkan dengan organisasi
tertentu saja.

B. Tokoh Pendidikan yang berpengaruh di Indonesia

1. Ki Hajar Dewantara
Suwardi Suryaningrat, demikian nama kecil Ki Hajar Dewantara adalah
putera kedua dari KPH Suryaningrat (cucu Paku Alam III), lahir di Yogyakarta

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 60


pada tanggal 2 Mei 1889. Setelah genap 40 tahun ia diganti nama Ki Hajar
Dewantara. Ia memasuki sekolah rendah Belanda dan kemudian pindah ke OSVIA
di Magelang. Berbagai macam pekerjaan telah dicobanya. Dari menjadi pegawai
pabrik gula di Banyumas, pindah menjadi pegawai di apotek Rathkamp (Raja
Farma), kemudian menjadi wartawan dan memasuki gelanggang politik.
Karena pendirian dan sikapnya yang tegas menentang penjajah Belanda, Ia
dan teman-temannya dibuang diluar Jawa, termasuk juga Cipta Mangunkusuma,
dibuang di Bandaria, Dr.Ernest Francois Eugene Deuwes Dekker diasingkan ke
Timor Kupang, sedang Ia sendiri harus menjalani pengasingan ke Bangka.
Kemudian ketiganya dibuang ke Belanda, disitulah Suwardi Suryaningrat
memperdalam soal-soal pendidikan.
Pada tahun 1919 ia dikembalikan ke Indonesia (oleh Pemerintah Belanda),
kembali ketanah air tetap meneruskan perjuangannya. Beliau menjabat sebagai
Sekretaris Pedoman Besar NIP (National Indische Partij) dan juga sebagai redaktur
surat kabar De Beweging, Persatuan dan Penggugah. Dua tahun kemudian ia
menjabat guru sekolah Adidharma, suatu perguruan yang didirikan oleh kakaknya
sendiri yang bernama Raden Mas Suryapranata. Pada tanggal 3 Juli 1922 Suwardi
Suryaningrat mendirikan yayasan Perguruan Nasional taman siswa, di Yogyakarta.
Pada permulaannya, didirikannya Taman Indria (TK) dan kursus guru. Kemudian
dalam perkembangannya dikuti dengan didirikannya Taman Muda (Sekolah Dasar)
dan pada tanggal 7 Juli 1924 didirikanlah bagian Mulo-Kweekschool (Taman
Dewasa merangkap taman guru). Lama pelajaran tingkat ini adalah 4 tahun setelah
Taman Muda. Demikianlah lembaga- lembaga pendidikan yang didirikannya
semakin meluas dan berkembang, sehingga Taman Siswa mempunyai taman
Indria, Taman Muda, Taman Dewasa, Taman Madya, Taman Guru, Pra Sarjana
dan Sarjana Wiyata.
Pada tanggal 3 februari 1928, genap berusia 40 tahun, ia berganti nama yang
kemudian menjadi sangat tenar.

2. Mohamad Syafei
Mohamad Syafei mendirikan sekolah INS (Indonesisch Nederlandse School)
di Sumatra Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah
Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayutanam. Maksud utama Syafei
adalah mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan
jiwa yang merdeka.
Dengan berdirinya sekolah ini berarti Ia menentang sekolah-sekolah Hindia
Belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk menjadi pegawai-pegawai
mereka saja.
Tujuan pendidikan INS adalah sebagai berikut :
a. Mendidik anak-anak kearah hidup yang merdeka, melalui pendidikan hidup
mandiri.
b. Menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri, membina kemauan keras, dan
membiasakan berani bertanggung jawab.
c. Membiayai diri sendiri dengan semboyan cari sendiri dan kerjakan sendiri.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 61


d. Mengembangkan anak secara harmonis, yang mencakup aspek perasaan,
kecerdasan, dan keterampilan.
e. Mengembangkan sikap sosial, agar dapat bermasyarakat dengan baik.
f. Menyesuaikan pendidikan dengan masing-masing bakat anak.
g. Membiasakan bekerja menurut kebutuhan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka model sekolahnya diatur sebagai berikut:
a. Sekolah itu berbentuk asrama, anak-anak hidup bersama-sama melalui bekerja
nyata atau belajar melalui bekerja.
b. Belajarnya diatur menjadi sebagian belajar teori dan sebagian lagi belajar
praktek.
c. Ada bermacam-macam perlengkapan belajar, seperti tanah dan alat-alat tukang
kayu, alat bercocok tanam, alat-alat menganyam, alat-alat mengolah karet,
koperasi, lapangan olahraga, dan tempat pentas seni.
d. Disamping bekerja anak-anak juga berupaya mencari uang sendiri dengan cara
antara lain: menjual barang-barang hasil karya sendiri, berkoperasi,
mengadakan pentas seni berkeliling.

Organisasi pendidikannya mencakup ruang bawah dan ruang atas, keduanya terdiri
dari sekolah dasar, sekolah menengah, dan kemasyarakatan.
a. Ruang bawah sama dengan SD yang lama belajarnya 7 tahun. Disini teori
dipelajari 75% dan praktek 25%, dipilih sesuai dengan kemampuan anak-anak
tingkat SD.\
b. Ruang atas, mempelajari teori 50% dan praktek 50%. Ruang atas berlangsung
selama 6 tahun, yang terdiri dari : ruang antara 1 tahun, ruang remaja 4 tahun,
ruang masyarakat 1 tahun.

3. Kyai H. Ahmad Dahlan


Ahmad Dahlan adalah orang yang mendirikan organisasi Islam pada tahun
1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan agama islam.
Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada
pengembangan agama Islam. Asas pendidikannya adalah islam dengan tujuan
mewujudkan orang-orang yang berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri
sendiri, dan berguna bagi masyarakat serta negara.

Ada 5 butir yang dijadikan dasar pendidikan yaitu:

a. Perubahan cara berpikir, ialah kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran untuk


mengubah cara berpikir dan bertindak dari kebiasaan lama yang kurang tepat,
untuk mencapai tujuan pendidikan.
b. Kemasyarakatan, artinya janganlah hanya mengembangkan aspek individu saja,
melainkan juga aspek kemasyarakatan, agar pengembangan individu dan
kemasyarakatan berimbang.
c. Aktivitas, anak harus menggunakan aktiviotasnya sendiri untuk memperoleh
pengetahuan. Dan harus pula melaksanakan serta mengamalkan semua hal
yang telah diketahuinya.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 62


d. Kreativitas ialah untuk memperoleh kecakapan, keterampilan, dan kiat guna
menghadapi situasi baru secara tepat dan cepat.
e. Optimisme, anak-anak diberi keyakinan bahwa melalui pendidikan cita-cita
mereka akan tercapai, asal dengan semangat dan berdedikasi mengerjakannya
sesuai dengan yang digariskan oleh Tuhan.

Dan fungsi lembaga pendidikan ciptaan Ahmad Dahlan adalah sebagai berikut :
a. Sebagai alat dakwah, baik kedalam maupun keluar anggota organisasi
Muhammadyah.
b. Tempat pembibitan dan pembinaan kader, yang dilaksanakan secara sistematis
dan selektif sesuai dengan kebutuhan.
c. Merupakan wahana untuk melaksanakan amal para anggota organisasi.
d. Mensyukuri nikmat Tuhan, artinya apa pun kemampuan anak-anak, pendidik
harus memberi kesempatan berkembang, menjaga, dan merawatnya dengan
sebaik-baiknya.
4. Rahmah El Yunusiyyah
Rahmah El Yunusiyyah (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 20
Desember 1900 –meninggal di Padang Panjang, 26 Februari 1969 pada umur 68
tahun) adalah seorang tokoh pembaharu pendidikan Islam di Indonesia.[1] Dia
merupakan pendiri sekolah Diniyyah Puteri di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Rahmah merupakan adik dari Zainuddin Labay El-Yunusy, yang juga merupakan
seorang pembaharu pendidikan Islam di Indonesia.
Rahmah lahir dari pasangan Moh. Yunus dan Rafiah dari suku Minang.
Ayahnya merupakan seorang ulama besar yang menjabat sebagai kadi di Pandai
Sikek, Tanah Datar. Kakeknya Imanuddin merupakan seorang ahli ilmu falak dan
pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah.
Sejak kecil Rahmah sudah ditinggal ayahnya. Ia dibesarkan dan diasuh oleh
ibu dan kakak-kakaknya. Lingkungannya yang taat kepada ajaran agama, telah
membentuk kepribadiannya untuk menjadi seorang yang sabar dan berpendirian
teguh.
Rahmah adalah seorang otodidak. Dia belajar dari kakak-kakaknya Zainuddin
Labay dan M. Rasyad. Ketika Zainuddin mendirikan Diniyyah School, Rahmah
ikut pula belajar di sana. Dia belajar agama kepada Abdul Karim Amrullah,
Tuanku Mudo, dan Abdul Hamid. Di samping belajar agama, antara tahun 1931-
1935 Rahmah mengikuti kursus ilmu kebidanan di Rumah Sakit Umum
Kayutanam.

5. Willem Iskander
Willem Iskander adalah salah satu diantara orang Indonesia pertama yang
telah berhasil membuktikan kemampuannya memimpin lembaga pendidikan yang
penting. Liku-liku perjuangan Willem Iskander mengangkat martabat bangsa
melalui jalur pendidikan memang penuh tantangan dan tanggung jawab.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 63


Ketekunannya bekerja keras, kreativitas yang produktif dan semngat pembaharuan
yang menyala-nyala telah berhasil merubah cara berpikir orang Tapanuli Selatan
untuk meraih kemajuan. Ini semua dilakukan Willem Iskander satu perempat abad
yang lalu, ketika sarana pendidikan dalam keadaan serba sederhana dan
kekurangan.
Pada tahun 1869 telah direncanakan suatu tugan bagi Willem Iskander untuk
membawa 8 orang guru muda msing-masing 2 orang dari Mandailing, Sunda, Jawa
dan Minahasa. Pada tahun 1873 sudah diketahui calon-calon penerima beasiswa
itu. Tetapi ternyata bukan 8 orang. Yang berhasil memperoleh beasiswa itu hanya 3
orang, yakni Banas Lubis dari Mandailing (Kweekschool), Ardi Sasmita dari Sunda
(Kweekschool) da Raden Mas Surono dari Jawa (Kweekschool Tanobato
Surakarta). Jadi tidak benar apabila ada keterangan yang selama ini kita dengar
bahwa Willem Iskander dibuang kenegeri Belanda. Yang benar adalah bahwa
perjalanan ke negeri Belanda itu adalah rencana matang yang telah lama
dipersiapkan oleh Willem Iskander. Ia bukan saja menghubungi pejabat-pejabat
resmi di Indonesia, tetapi juga beberapa orang yang berpengaruh di negeri Belanda
untuk melicinkan jalan pelaksanaan rencana itu. Antara lain dengan minta
kesediaan mereka memberikan rekomendasi kepada pejabat-pejabat yang
menentukan di Hindia Belanda ketika itu. Orang yang dihubungi antara lain
D.Hekkar Jr, bekas gurunya di Oefenschool di Amsterdam.

6. Slamet Iman Santoso


Penerima penghargaan sebagi tokoh pendidikan nasional dari IKIP Jakarta
(UNJ) pada tahun 1978, ini selain sebagai perintis dan pendiri fakultas psikologi UI
juga ikut mendirikan Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas
Airlangga dan Universitas Hasanuddin. Menurut Conny Semiawan, Slamet adalah
tokoh pendidikan yang berani. Dia adalah orang pertama yang mengusulkan
perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Usul yang Ia
lontarkan sepanjang tahun 1979-1981 ini membuat heboh dunia pendidikan. Dia
juga orang yang mengkritik keras minimnya gaji guru yang dia sebut dapat
merusak dunia pendidikan. Dia membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua
kali lipat daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan
dunia pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.

7. RA.Kartini
Raden Ajeng (RA) Kartini lahir di Mayong (Jepara), pada tanggal 21 April
1879. Hari kelahiranya ini sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Kartini.
Beliau terkenal sebagai seorang tokoh yang dengan gigih memperjuangkan
emansipasi wanita, yakni suatu upaya memperjuangkan hak-hak wanita agar dapat
sejajar dengan kaum pria.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 64


Jenis sekolah yang dirintis dan didirikan oleh RA Kartini adalah:
1) Sekolah Gadis di Jepara, dibuka tahun 1903.
2) Sekolah Gadis di Rembang.

Pada dasarnya apa yang dicita-citakan dan dilakukan oleh Kartini hanyalah
sebagai perintis jalan, yang nantinya harus diserahkan oleh Kartini-kartini baru.
Pada awalnya, pergerakan wanita dilakukan secara perseorangan, dan R.A. Kartini
(1879-1904) adalah pelopornya. Setamat dari E.L.S. pada usia 12 tahun terus
dipingit dan tidak melanjutkan sekolah karena adat istiadat yang berlaku pada masa
itu.
Meskipun demikian tidak memadamkan semangatnya untuk maju. Ia banyak
belajar dari membaca buku dan surat menyurat dengan teman dan kenalanya. Atas
bantuan ikhtiyar teman dan kenalanya seperti Ovink Soer dan lain-lainya, pingitan
menjadi longgar.
Kartini berhasrat menjadi guru untuk anak-anak perempuan para bupati yang
diusulkan oleh Abendanon, tetapi gagal karena gagasan sekolah tersebut ditolak
pemerintah kolonial Belanda, berdasarkan penolakan dari para bupati. Beasiswa
belajar di negeri Belanda yang berhasil diajukan oleh van Kol untuk Kartini dan
Rukmini, adiknya, juga tidak dapat dilaksanakan. Meskipun banyak mengalami
kekecewaan. Kartini berhasil membuka Sekolah wanita yang pertama di Indonesia.
R.A. Kartini meninggal dalam usia cukup muda yaitu empat hari setelah
melahirkan, tepatnya tanggal 17 September 1904.

8. Raden Dewi Sartika


Raden Dewi Sartika lahir di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884.
sebagaimana halnya dengan RA. Kartini, Dewi Sartika juga merupakan seorang
tokoh wanita yang menyalurkan perjuanganya melalui pendidikan.
Cita-cita Dewi Sartika yaitu mengangkat derajat kaum wanita Indonesia
dengan jalan memajukan pendidikanya. Sebab ketika itu masyarakat cukup
menghawatirkan, dimana kaum wanita tidak diberikan kesempatan untuk mengejar
kemajuan. Untuk merealisasikan cita-cita pendidikanya, maka pada tahun 1904
didirikanlah sebuah sekolah yang diberi nama “Sekolah Istri”. Ketika pertama
dibuka sekolah ini mempunyai murid sebanyak 20 orang, kemudian dari tahun ke
tahun terus bertambah. Dan pada tahun 1909 baru dapat mengeluarkan out putnya
yang pertama dengan mendapat ijazah. Pada tahun 1914 Sekolah Istri diganti
namanya menjadi “Sakola Kautamaan Istri”.

9. Rohana Kudus
Rohana Kudus dilahirkan pada tanggal 20 Desember 1884 di Kota Gedang,
Sumatera Barat. Beliau adalah seorang wanita Islam yang sangat taat menjalankan
ajaran agamanya, dengan giat sekali mempelopori emansipasi wanita. Ia seorang
pendidik wanita yang berusaha untuk memperbaiki nasib kaum wanita Indonesia,

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 65


disamping itu juga ia adalah seorang Guru Agama, Guru Kerajinan wanita, serta
seorang wartawan wanita pertama di Indonesia.
Usaha-usaha Rohana Kudus adalah:
1) Tahun 1896 saat usianya baru 12 tahun, sudah mengajar teman-teman gadis di
kampungnya dalam bidang membaca dan menulis, huruf Arab dan Latin.
2) Tahun 1905 mendidikan “Sekolah Gadis” di Kota Gedang, yang kemudian
pada tahun 1911 diubah namanya menjadi “Sekolah Kerajinan Amai Satia”.
3) Tahun 10 Juli 1912 ikut melahirkan sekaligus menjadi Pemimpin Redaksi
Surat Kabar Wanita dengan nama “Soenting Melajoe” di Padang.

10. K.H. Hasym Asy’ari


Organisasi keagamaan yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari ini bernama
Nahdlatul Ulama (NU). N.U adalah organisasi keagamaan yang dipimpin oleh para
ulama, dan berorentasi tradisional. Maksud perkumpulan N.U. adalah memegang
teguh salah satu mazhab dari madzhab Imam yang berempat, yaitu : 1. syafi’I, 2.
maliki, 3. Hanafi, 4. Hambali, dan mengerjakan segala yang menjadikan
kemaslahatan untuk agama Islam.
Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Pebruari 1871 di Jombang Jawa
Timur. Beliau berjasa besar dalam mendirikan organisasi Islam terbesar di
Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada tanggal 31 Januari
1926. Di samping mendirikan NU, KH. Hasyim Asy’ari dalam rangka
merealisasikan cita-citanya, mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang pada
tahun 1899. Mula-mula ia belajar agama Islam pada ayahnya sendiri Kyi Asy’ari.
Kemudian ia belajar ke pondok pesantren di Purbolinggo, kemudian pindah lagi ke
Plangitan, Semarang, Madura, dan lain-lain.

C. Pengaruh tokoh-tokoh Pendidikan terhadap pengembangan Pendidikan

1. Pengaruh tokoh pendidikan dari luar negeri

a. Johann Heinrich Pestalozzi (1746-1827)


Johan Heinrich Pestalozzi dipengaruhi oleh pendapat Comenius dan
Rousseau. Pestalozzi meyakini bahwa semua pendidikan berdasar pada kesan
sensorik dan lewat pengalaman sensorik yang tepat, anak-anak dapat mencapai
potensi alami mereka. Untuk mencapai tujuan ini Pestalozzi mengembangkan
"pelajaran dan objek", alat bantu yang mendukung kegiatan seperti
menghitung, mrngukur, merasakan, dan meraba. Pestalozzi juga menulis dua
buku "How Gertrude Teaches Her Children" (Cara Gertrude mengajari anak-
anaknya) dan "Book for Mothers" (Buku untuk para ibu) buku ini untuk
membantu para orangtua mengajari anaknya dirumah, Heinrich lah yang
mempelopori Home Schooling

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 66


b. Maria Montessori (1870-1952)
Maria Montessori mengembangkan sebuah sistem untuk mendidik anak
usia dini yang berpengaruh besar pada pendidikan anak usia dini. Sebagai
wanita pertama di Italia yang mendapat gelar sarjana kedokteran, ia tertarik
untuk mencari solusi pendidikan untuk masalah-masalah keterlambatan
mental. Pada waktu itu ia mengatakan "Saya berbeda dengan rekan-rekan saya,
karena saya secara instingtif merasa bahwa cacat mental lebih merupakan
masalah pendidikan daripada kedokteran". Ketika sedang mempersiapkan diri
untuk mendidik anak-anaknya. Montessori ditawari untuk mengelola sekolah
anak-anak yang berasal dari keluarga-keluarga yang menempati rumah-rumah
petak di Roma. Di sekolah pertama, yang diberi nama Casa Dei Bambini, atau
rumah anak-anak, ia menguji coba ide-ide nya dan mendapat pengetahuan dari
anak-anak dan pengajaran yang mengarahkannya kepada kesempurnaan
sistemnya.

2. Pengaruh tokoh pendidikan dari dalam negeri

a. Ki Hajar Dewantara
pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara
keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat,
kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus
didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.
Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang
terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya
mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa
sungtulada (di depan memberi teladan).

b. Mohammad Syafei
Pemikiran Syafei diatas menyarankan kesempurnaan lahir dan batin yang
harus selalu diperbaharui.Hal ini terungkap dalam pemikiran G. Revesz seperti
yang dikutip oleh Syafei :bahwa lapangan pendidikan mesti berubah menurut
zamannya,seandainya orang masih beranggapan,bahwa susunan pendidikan
dan pengajaran yang berlaku adalah sebaik-baiknya dan tidak akan berubah
lagi,maka orang atau lembaga yang berpendirian dan berpikir demikian telah
jauh menyimpang dari kebenaran. Demikianlah,tujuan pendidikan berupa
kesempurnaan lahir dan batin,harus selalu terus disempurnakan sesuai dengan
tuntutan perubahan zaman. Dan kesempurnaan yang cocok untuk bangsa
Indonesia ? Syafei mengajukan pemikiran yang masih relevan untuk zaman
kita ini.
Manusia yang sempurna lahir dan batin atau aktif kreatif itu,apa saja
unsur-unsur atau aspek-aspeknya? Ia menyatakan bahwa yaitu jiwa dan hati
yang terlatih dan otak yang berisi pengetahuan (Thalib Ibarahim,1978;20 ).
Orang yang jiwa dan hatinya terlatih itu tekun,teliti,rajin,giat,berperhatian,dan

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 67


apik dalam segala bidang perbuatan. Pelatihan jiwa dan hati ini diperoleh
melalui pelatihan bebuat atau bekerja mengerjakan pekerjaan sehari-hari atau
bahkan pekerjaan tangan.Bahkan untuk pengisian otakpun,pelajaran pekerjan
tangan dapat turut dimanfaatkan.

c. Kiyai H. Ahmad Dahlan


Ahmad Dahlan adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang luas.
Meskipun usianya baru dua puluh tahun, ia mulai merintis jalan pembaruan di
kalangan umat Islam. Misalnya, membetulkan arah kiblat shalat pada masjid
yang dipandang tidak tepat arahnya yang sesuai dengan perhitungan menurut
ilmu falakiyah yang dikuasainya. Usaha ini sempat menimbulkan insiden yang
membuat diri dan istrinya hampir saja meninggalkan Kauman Yogyakarta
selamanya. Kemudian memberikan pelajaran agama di sekolah negeri yang
saat itu tidak pernah dilakukan oleh kyai lainnya.
Ahmad Dahlan juga sangat memperhatikan kaum dhuafa, anak yatim,
dan fakir miskin agar selalu diperhatikan dan diayomi. Hal ini selalu ia
ingatkan kepada murid-muridnya agar selalu memperhatikan dan menolong
kaum dhuafa tersebut. Pernah suatu ketika beliau memberikan pelajaran
kepada murid-muridnya tentang surat Al-Ma’un. Namun, surat Al-Ma’un ini
selalu beliau ulang-ulang dalam setiap pertemuan pengajian sehingga
menimbulkan protes dari murid-muridnya. Setelah dijelaskan lalu setelah
pengajian selesai dan murid-muridnya masing-masing membawa anak yatim
dan disantuni secukupnya.

d. Rahmah El Yunusiah
Bentuk realisasi dari pemikiran pendidikan Rahmah el-Yunusiyah adalah
berupa pendirian sekolah–sekolah bagi perempuan. Hal ini merupakan
tanggapan dari situasi pada masa itu dan sejalan pula dengan teorinya Arnold
J. Toynbee yaitu : “Challenge and Respons”. Sedangkan tujuan pendidikannya
untuk mencerdaskan kaum perempuan agar pendidikan pada masa itu tidak
berpusat pada laki–laki, dengan demikian hal ini sejalan dengan teori
Feminisme, yaitu teori poststrukturalis dan postmodernisme.
Beberapa hambatan pada kaum perempuan Indonesia. Pendidikan yang
belum berpihak pada kaum perempuan dapat pula ditemui dalam bidang lain.
Misalnya dalam bidang kesehatan dan pekerjaan. Perusahaan masih banyak
yang belum memberi lapangan kerja pada perempuan. Angka perempuan
menganggur lebih tinggi dapat ditemui dimana-mana dibanding laki-laki.
Kalaupun perempuan banyak ditemui bekerja disektor informal (pabrik) itu
bukan berarti hilangnya diskriminasi. Angka kaum perempuan upahnya tidak
dibayar oleh perusahaan mencapai 41,3% lebih tinggi dibanding laki-laki yang
hanya 10% menjadi bukti beban yang diterima perempuan diluar rumah.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 68


Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan.


Pertama, Bahwa Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sangatlah bnyk tokoh-tokoh yg
berperan antara lain, Mohamad Syafei, Ki Hajar Dewantara, Kyai H. Ahmad Dahlan,
Willem Iskander, Slamet Iman Santoso, RA.Kartini, Rohana Kudus, K.H. Hasyim
as’hari.
Kedua, Pemikiran-pemikiran yg dicetuskan para tokoh pendidikan itu sangat
berpengaruh dengan kemajuan yg dialami masyarakat Indonesia saat ini,meskipun
Indonesia masih mengalamai kemeresotan dalam bidang pendidikan.
Pendidikan yang terjadi di Negara kita yaitu Indonesia masih jauh harapan untuk
menjadi yang terdepan, karena diperlukan pembenahan pada system – system yang
terdapat didalamnya. Baik pengajar, peserta didik dan juga pemerintahan maupun
semuanya harus bisa mengintropeksi diri hal apa yang membuat pendidikan di
Indonesia masih jauh tertinggal oleh Negara-negara lain. Dan kami sebagai generasi
penerus bangsa penyambung perjuangan para pahlawan pendiri pendidikan wajib untuk
ikut serta mempertahankan atau menjalankan warisan meraka mengantarkan Indonesia
pada kearifa dan kemajuan kependidikan di Negara ini.
Dari tokoh-tokoh pendidikan tersebut boleh menjadi acuan bagi kita untuk
mengikuti motode-motode pembelajaran yang para tokoh telah kemukakan, tetapi dari
hal yang mereka kemukakan pasti ada kelebihan dan kekurangannya, kembali pada diri
kita sendiri mau mengikuti motede yang mana, atau kita mempunyai motode sendiri
tetapi harus bisa kita pertanggungjawabkan apa yang akan kita kemukakan dan bisa
meyakinkan masayarakat luas.
Pemikiran tentang pendidikan sejak dulu, kini dan masa yang akan datang terus
berkembang. Dan tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia maupun dari luar negeri juga
sangat banyak. Kita dapat mengambil ilmu dan pembahasan dari tokoh-tokoh tersebut.
Serta kita juga dapat mengetahui siapa saja tokoh-tokoh yang berperan dalam
pendidikan serta pengaruhnya terhadap pendidikan.

Latihan

1. Sebutkan Tokoh pendidikan yang berpengaruh dari luar negeri!


2. Jelaskan 5 butir yang dijadikan dasar pendidikan oleh Kiyai H. Ahmad Dahlan!
3. Mohammad Syafei mendiririkan INS, apa tujuan didirikannya INS tersebut?
4. Sebutkan pengaruh tokoh pendidikan dari luar negeri!
5. Sebutkan pengaruh tokoh pendidikan dari dalam negeri!

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 69


Daftar Pustaka

Basyral Hamidy Harahap, Saheta dkk ,Solusi jitu menghadapi ulangan BI,untuk Sd
kelas 5,,Jakarta,Grasindo,2010

http://ipie3.wordpress.com/2008/12/20/sati-nasution-willem-iskander-1840-1876-
pelopor-pendidikan-dari-sumatera-utara-

Marwati djoened poesponegoro,Sejarah nasional Indonesia,Balai pustaka,Jakarta,2008.


Redaksi Jogja Bangkit,100 Great women,Yogyakarta:jogja Bangkit Publisher,2010.

Salman iskandar,99 tokoh muslim Indonesia,Bandung :PT.Mizan pustaka,2009

http://equatoronline.blogspot.com/2013/03/mohammad-syafei-tokoh-pendidikan-
asal.html
http://wikipedia.com/2011/11/11. tokoh sejarah pendidikan indonesia zaman
kemerdekaan
http://mardanes.blogspot.co.id/2013/03/makalah-pengantar-ilmu-pendidikan.html

http://diporifaldo.blogspot.co.id/2014/01/beberapa-pemikiran-tentang-pendidikan.html

Syafril, Zelhendri Zen, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang. UNP

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 70


BAB VII
PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN

Pendahuluan

Permasalahan pokok pendidikan merupakan suatu kendala yang menghalangi


tercapainya tujuan pendidikan. Pada bab ini akan dibahas beberapa hal yang merupakan
permasalahan pendidikan di Indonesia. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai
berikut.

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia di
muka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi
apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan. Pendidikan
diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan menjadi mendidik. Mendidik
berarti memelihara atau memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dari
pengertian ini didapat beberapa hal yang berhubungan dengan pendidikan.

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk


pembangunan. Langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan
zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru. Sebagai
konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Oleh
karena itu, perlu ada rumusan sebagai masalah-masalah pokok yang dapat dijadikan
pegangan oleh pendidik dalam mengemban tugasnya.

Sistem pendidikan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
sosial budaya dan masyarakat. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti
apa-apa jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Permasalahan intern sistem
pendidikan itu sangat kompleks. Artinya, suatu permasalahan intern dalam sistem
pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah diluar sistem pendidikan itu
sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari
sosial budaya dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Berdasarkan kenyataan tersebut
maka penaggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak
komponen, dan melibatkan banyak pihak.

A. Pemerataan Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pemerataan berasal dari
kata dasar rata, yang berarti: 1) meliputi seluruh bagian, 2) tersebar kesegala penjuru,
dan 3) sama-sama memperoleh jumlah yang sama. Sedangkan kata pemerataan berarti
proses, cara, dan perbutan melakukan pemerataan. Jadi dapat disimpulkan bahwa
pemerataan pendidikan adalah suatu proses, cara dan perbuatan melakukan pemerataan
terhadap pelaksanaan pendidikan, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat
merasakan pelaksanaan pendidikan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 71


Pelaksanaan pendidikan yang merata adalah pelaksanaan program pendidikan
yang dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara
Indonesia untuk dapat memperoleh pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan
atau biasa disebut perluasan keempatan belajar merupakan salah satu sasaran dalam
pelaksanaan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang mempunyai
kesempatan yang sama unutk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh
pendidikan tersebut tidak dapat dibedakan menurut jenis kelamin, status sosial, agama,
amupun letak lokasi geografis.

Dalam propernas tahun 2000-2004 yang mengacu kepada GBHN 1999-2004


mengenai kebijakan pembangunan pendidikan pada poin pertama menyebutkan:

“Mengupayakan perluasan dan pemeraatan memperoleh pendidikan yang bermutu


tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya Manusia Indonesia berkualitas
tinggi dengan peninggakatan anggaran pendidikan secara berarti“. Dan pada salah satu
tujuan pelaksanaan pendidikan Indonesia adalah untuk pemerataan kesempatan
mengikuti pendidikan bagi setiap warga negara.

Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa Pemerataan Pendidikan merupakan


tujuan pokok yang akan diwujudkan. Jika tujuan tersebut tidak dapat dipenuhi, maka
pelaksanaan pendidikan belum dapat dikatakan berhasil. Hal inilah yang menyebabkan
masalah pemerataan pendidikan sebagai suatu masalah yang paling rumit untuk
ditanggulangi.

Permasalahan Pemerataan dapat terjadi karena kurang tergorganisirnya koordinasi


antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga daerah terpencil
sekalipun. Hal ini menyebabkan terputusnya komunikasi antara pemerintah pusat
dengan daerah. Selain itu masalah pemerataan pendidikan juga terjadi karena kurang
berdayanya suatu lembaga pendidikan untuk melakukan proses pendidikan, hal ini bisa
saja terjadi jika kontrol pendidikan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah tidak
menjangkau daearh-daerah terpencil. Jadi hal ini akan mengakibatkan mayoritas
penduduk Indonesia yang dalam usia sekolah, tidak dapat mengenyam pelaksanaan
pendidikan sebagaimana yang diharapkan.

Permasalahan pemerataan pendidikan dapat ditanggulangi dengan menyediakan


fasilitas dan sarana belajar bagi setiap lapisan masyarakat yang wajib mendapatkan
pendidikan. Pemberian sarana dan prasrana pendidikan yang dilakukan pemerintah
sebaiknya dikerjakan setransparan mungkin, sehingga tidak ada oknum yang dapat
mempermainkan program yang dijalankan ini.

B. Kuantitas
Kuantitas yaitu masalah yang menyangkut banyak murid yang harus ditampung di
dalam sistem pendidikan atau sekolah. Masalah ini timbul karena calon murid yang
tidak tertampung di suatu sekolah, karena terbatasnya daya tampung. Kesempatan

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 72


memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Permasalahan ini
mencuat terutama di SD pada tahun-tahun lampau. Tapi saat ini masalah itu sudah bisa
diatasi. Sisa permasalahan ini ada pada anak-anak yang tinggal didaerah terpencil

C. Kualitas
Kualitas sama halnya dengan memiliki mutu dan bobot. Jadi pendidikan yang
bermutu yaitu pelaksanaan pendidikan yang dapat menghasilkan tenaga profesional
sesuai dengan kebutuhan negara dan bangsa pada saat ini.

Sejalan dengan proses pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas untuk setiap


jenjang pendidikan melalui persekolahan juga dilaksanakan. Peningkatan mutu ini
diarahkan kepada peningkatan kualitas masukan dan lulusan, proses, guru, sarana dan
prasarana, dan anggaran yang digunakan untuk menjalankan pendidikan.

Seiring perkembangan zaman yang sangat cepat dan modern membuat dunia
pendidikan semakin penuh dengan dinamika, Di Indonesia sendiri dinamika itu tampak
dari tidak henti-hentinya sejumlah masalah yang melingkupi dunia pendidikan.
Permasalahan-permasalahn yang melingkupi dunia pendidikan kita saat ini menurut
Suryati Sidharto (Dirto Hadisusanto, Suryati Sidharto, dan Dwi Siswoyo, 1995),
problem yang dihadapi bangsa Indonesia mencakup lima pokok problem, yaitu:
Pemerataan Pendidikan, Daya Tampung Pendidikan, Relevansi Pendidikan,
Kualitas/Mutu Pendidikan, dan Efisiensi & Efektifitas Pendidikan (Memahami
Pendidikan & Ilmu Pendidikan, Arif Rohman, Hal: 245)

Dalam Masalah mutu pendidikan ini tampaknya dari sejak kita merdeka hingga
kini memasuki era millennium belum juga dapat terselesaikan dengan baik. Masalah
mutu pendidikan di Indonesia memang sangat komplek dan rumit, ini tidak semudah
membalikkan kedua telapak tangan kita. Menurut penulis sendiri mutu pendidikan
merupakan cerminan dari mutu sebuah bangsa. Manakala mutu pendidikannya bagus,
maka bagus pula kualitas peradaban bangsa tersebut. Untuk itu seyogyanya masalah
mutu pendidikan harus menjadi perhatian serius Pemerintah sebagai pembuat kebijakan.
Tentu dalam pengimplementasian-nya upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi
tanggungjawab kita bersama, dan bukan hanya Pemerintah.

Menurut Achmad (1993), mutu pendidikan di sekolah dapat diartikan sebagai


kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap
komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai
tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku. Engkoswara
(1986) melihat mutu/keberhasilan pendidikan dari tiga sisi; yaitu: prestasi, suasana, dan
ekonomi. Dalam hubungan dengan mutu sekolah, Selamet (1998) berpendapat bahwa
banyak masyarakat yang mengatakan sekolah itu bermutu atau unggul dengan hanya
melihat fisik sekolah, dan banyaknya ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Ada juga
yang melihat banyaknya tamatan yang diterima di jenjang sekolah yang lebih tinggi,
atau yang diterima di dunia usaha.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 73


Di sisi lain Heyneman dan Loxley dalam Boediono & Abbas Ghozali (1999)
menyimpulkan bahwa kualitas sekolah dan guru nampaknya sangat berpengaruh pada
prestasi akademis di seluruh dunia; dan semakin miskin suatu negara, semakin kuat
pengaruh tersebut. Menurut Penulis, mutu pendidikan merupakan tolok ukur
keberhasilan sebuah proses pendidikan yang bisa dirasakan oleh masyarakat mulai dari
input (masukan), proses pendidikan yang terjadi, hingga output (produk keluaran) dari
sebuah proses pendidikan.

D. Efiesensi
Efisiensi adalah apabila sasaran dalam bidang pendidikan dapat dicapai secara
efisien atau berdaya guna. Artinya pendidikan akan dapat memberikan hasil yang baik
dengan tidak menghamburkan sumberdaya yang ada, seperti uang, waktu, tenaga dan
sebagainya.

Pelaksanaan proses pendidikan yang efisien adalah apabila pendayagunaan


sumber daya seperti waktu, tenaga dan biaya tepat sasaran, dengan lulusan dan
produktifitas pendidikan yang optimal. Pada saat sekarng ini, pelaksanaan pendidikan di
Indonesia jauh dari efisien, dimana pemanfaatan segala sumberdaya yang ada tidak
menghasilkan lulusan yang diharapkan. Banyaknya pengangguran di Indonesia lebih
dikarenakan oleh kualitas pendidikan yang telah mereka peroleh. Pendidikan yang
mereka peroleh tidak menjamin mereka untuk mendapat pekerjaan sesuai dengan
jenjang pendidikan yang mereka jalani.

Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan


mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah :

1) Bagaimana tenega kependidikan difungsikan


2) Bagaimana sarana dan prasarana difungsikan
3) Bagaimana pendidikan difungsikan
4) Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga

Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembangan tenaga.


Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia
dengan jatah pengangkatan yang terbatas. Masalah penempatan guru, khususnya guru
bidang penempatan studi, sering mengalami ke[incangan, tidak disesuaikan dengan
kebutuhan dilapangan. Gejala tersebut membawa ketidakefektifan dalam memfungsikan
tenaga guru.

Masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat,


khusus pada pad saat menyonsong hadirnya kurikulum baru.Proses pembekalan untuk

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 74


dapat siap melaksanakan kurikulum baru memakan waktu. Akibatnya terjadi
kesenjangan antara saat dicanangkan berlakunya kurikulum dengan saat mulai
dilaksanakan.

E. Efektifitas

Pendidikan yang efektif adalah pelaksanaan pendidikan dimana hasil yang dicapai
sesuai dengan rencana / program yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika rencana
belajar yang telah dibuat oleh dosen dan guru tidak terlaksana dengan sempurna, maka
pelaksanaan pendidikan tersebut tidak efektif.

Tujuan dari pelaksanaan pendidikan adalah untuk mengembangkan kualitas SDM


sedini mungkin, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya. Dari tujuan
tersebut, pelaksanaan pendidikan Indonesia menuntut untuk menghasilkan peserta didik
yang memeiliki kualitas SDM yang mantap. Ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan
tidak akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Melainkan akan
menghasilkan lulusan yang tidak diharapkan. Keadaan ini akan menghasilkan masalah
lain seperti pengangguran.

Penanggulangan masalah pendidikan ini dapat dilakukan dengan peningkatan


kulitas tenaga pengajar. Jika kualitas tenaga pengajar baik, bukan tidak mungkin akan
meghasilkan lulusan atau produk pendidikan yang siap untuk mengahdapi dunia kerja.
Selain itu, pemantauan penggunaan dana pendidikan dapat mendukung pelaksanaan
pendidikan yang efektif dan efisien. Kelebihan dana dalam pendidikan lebih
mengakibatkan tindak kriminal korupsi dikalangan pejabat pendidikan. Pelaksanaan
pendidikan yang lebih terorganisir dengan baik juga dapat meningkatkan efektifitas dan
efisiensi pendidikan. Pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti ini akan lebih bermanfaat
dalam usaha penghematan waktu dan tenaga.

Berbicara masalah efisiensi dan efektifitas pendidikan, jika kita kaitkan dengan
kondisi pendidikan di Negara kita Indonesia, layak kita lemparkan sebuah pertanyaan,
sudah efektifkah pendidikan di Indonesia? Dari pandangan pemakalah, jawabanya
adalah relatif tergantung dari sudut pandang (main of view) mana, kita melihatnya.
Jika kita melihatnya dari sudut pandang persekolah, maka secara khusus, pendidikan
di Indonesia sudah dapat dikatakan efektif, hal ini bisa kita lihat sudah ada bebrapa
lembaga pendidikan (sekolah) yang bisa dikatakan berkualitas, waaupun jumlahnya
masih relative sedikit. Hal ini bisa kita amati dari hasil prestasi belajar siswa yang
selalu meningkat setiap tahunnya.

Akan tetapi, ketika kita melihatnya dari sudut pandang secara luas, pada
umumnya pendidikan di Negara kita belum bisa dikatakan efektif dan juga efisien. Hal
ini bisa kita amati dari kualitas pendidikan di Negara kita. Jika kita bandingkan dengan
Negara-negara lain, kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini dapat
dibuktikan bahwa saat ini Indonesia menempati peringkat 69 dari 127 negara di dunia.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 75


Kita masih kalah dengan Negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan brunei
Darussalam.

F. Relevansi

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan


perkembangan di masyarakat.

Misalnya:

 Lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai.


 Tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan
perkembangan ekonomi.
Untuk mengatasinya:

 Membuat kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha


 Mengganti kurikulum yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Relevan berarti bersangkut paut, kait mangait, dan berguna secara langsung.
Rendahnya relevansi pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor terpenting
yang mempengaruhi adalah mutu proses pembelajaran yang belum mampu
menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas. Hasil-hasil pendidikan juga belum
didukung oleh sistem pengujian dan penilaian yang melembaga dan independen,
sehingga mutu pendidikan tidak dapat dimonitor secara ojektif dan teratur. Uji banding
antara mutu pendidikan suatu daerah dengan daerah lain belum dapat dilakukan sesuai
dengan yang diharapkan. Sehingga hasil-hasil penilaian pendidikan belum berfungsi
unutk penyempurnaan proses dan hasil pendidikan.

Selain itu, kurikulum sekolah yang terstruktur dan sarat dengan beban menjadikan
proses belajar menjadi kaku dan tidak menarik. Pelaksanaan pendidikan seperti ini tidak
mampu memupuk kreatifitas siswa unutk belajar secara efektif. Sistem yang berlaku
pada saat sekarang ini juga tidak mampu membawa guru dan dosen untuk melakukan
pembelajaran serta pengelolaan belajar menjadi lebih inovatif.

Akibat dari pelaksanaan pendidikan tersebut adalah menjadi sekolah cenderung


kurang fleksibel, dan tidak mudah berubah seiring dengan perubahan waktu dan
masyarakat. Pada pendidikan tinggi, pelaksanaan kurikulum ditetapkan pada penentuan
cakupan materi yang ditetapkan secara terpusat, sehingga perlu dilaksanakan perubahan
kearah kurikulum yang berbasis kompetensi, dan lebih peka terhadap perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan juga disebabkan oleh rendahnya


kualitas tenaga pengajar. Penilaian dapat dilihat dari kualifikasi belajar yang dapat
dicapai oleh guru dan dosen tersebut. Dibanding negara berkembang lainnya, maka

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 76


kualitas tenaga pengajar pendidikan tinggi di Indonesia memiliki masalah yang sangat
mendasar.

Melihat permasalahan tersebut, maka dibutuhkanlah kerja sama antara lembaga


pendidikan dengan berbagai organisasi masyarakat. Pelaksanaan kerja sama ini dapat
meningkatkan mutu pendidikan. Dapat dilihat jika suatu lembaga tinggi melakukan
kerja sama dengan lembaga penelitian atau industri, maka kualitas dan mutu dari
peserta didik dapat ditingkatkan, khususnya dalam bidang akademik seperti tekonologi
industri.

G. Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan

1. Pendidik bukan berasal dari lulusan yang sesuai. Maksudnya terkadang terdapat
tenaga pendidik yang mengajar tidak sesuai dengan jurusannya. Contoh, pendidik
yang merupakan lulusan metematika mengajar bahasa Indonesia. Hal ini secara
tidak langsung akan menjadi masalah pendidikan di Indonesia.
2. Padahal dalam PP NO.19 tahun 2005 tentang standar pendidik dan tenaga
kependidikan pasal 28 ayat 2, dijelaskan bahwa pendidik harus sesuai dengan
ijazah dan sertivikat keahlian yang relevan dengan perundang-undangan yang
berlaku.
Pendidik kurang menguasai dari 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik
maupun tenaga kependidikan sehingga hal ini menyebabkan adanya masalah
kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang kurang baik.
Dalam UU RI no.14 Tahun 2005 pasal 8 ayat dijelaskan bahwa guru wajib
memiliki kualifikasi yang salah satu diantaranya kompetensi , dan diperjelas dalam
pasal 10 ayat 1 yang berbunyi “ kompetensi guru sebagai mana dalam pasal 8
meliputi kopetensi pedagogic, kepribadian, social dan professional yang diperoleh
melalui pendidikan profesi.
Selain itu juga dijelaskan dalam PP No.19 Tahun 2005 pasal 28 ayat 3 mengenai
kometensi yang harus dimiliki oleh pendidik.
3. Pendidik terkadang menjadikan mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban
sebagai pendidik, sehingga dia mengajar secara tidak maksimal.
Hal ini tidak sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 pasal 28 ayat 3 yang seharusnya
pendidik memiliki kompetensi professional, yang mengharuskan pendidik wajib
bertanggung jawab dengan tugas dan pembinaan terhadap peserta didik.
4. pendidik belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Fenomena itu
ditandai dari rendahnya mutu lulusan, penyelesaian masalah pendidikan yang tidak
tuntas, bahkan lebih berorintasi proyek. Akibatnya, seringkali hasil pendidikan
mengecewakan masyarakat. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan
dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi, politik , sosial,
dan budaya.
5. Pendidik mengajar tidak sesuai dengan silabus sehingga target dari tujuan
pembelajaran tidak sepenuhnya tercapai. Hal ini tidak sesuai dengan kompetensi
pedagogic yang harus dimiliki oleh guru sesuai dengan PP No.19 Tahun 2005 Pasal
28 (3) yang berbunyi “Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
Kompetensi pedagogic, Kompetensi kepribadian, Kompetensi professional dan
Kompetensi sosial.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 77


6. Masih banyak pendidik yang belum memenuhi ketentuan sesuai dengan PP No. 19
tahun 2005 seperti pengajar di tingkat SD/MI minimal berijazah S1/ D4. Tapi
dalam kenyataan di masyarakat masih terdapat pendidik yang belum berijazah D4
atau dengan kata lain masih D3.
7. Tenaga kependidikan biasanya masih berasal dari tenaga pendidik yang merangkap
tugas menjadi tenaga kependidikan seperti guru merangkap menjadi tenaga
administrasi atau tenaga perpustakaan.

Kesimpulan

1. Dalam usaha pemerataan pendidikan, diperlukan pengawasan yang serius oleh


pemerintah. Pengawasan tidak hanya dalam bidang anggaran pendidikan, tetapi
juga dalam bidang mutu, sarana dan prasarana pendidikan. Selain itu, perluasan
kesempatan belajar pada jenjang pendidikan tinggi merupakan kebijaksanaan yang
penting dalam usaha pemerataan pendidikan.
2. Pendidikan (dengan Bidang terkait) dalam usaha pengendalian laju pertumbuhan
penduduk sangat diperlukan. Pelaksaaan program ini dapat ditingkatkan dengan
mengakampanyekan program KB dengan sebaik-baiknya hingga pelosok negeri
ini.
3. Pelaksanaan program belajar dan mengajar dengan inovasi baru perlu diterapkan.
Hal ini dilakukan karena cara dan sistem pengajaran lama tidak dapat diterapkan
lagi.
4. Sistem pendidikan Indonesia dapat berjalan dengan lancar jika kerja sama antara
unsur-unsur pendidikan berlangsung secara harmonis. Pengawasan yang dilakukan
pemerintah dan pihak-pihak pendidikan terhadap masalah anggaran pendidikan
akan dapat menekan jumlah korupsi dana di dalam dunia pendidikan.
5. Peningkatan mutu pendidikan akan dapat terlaksana jika kemampuan dan
profesionalisme pendidik dapat ditingkatkan
6. Perlu dilakukan perubahan yang lebih mengarah pada kurikulum berbasis
kompetensi, serta lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Dan
teknologi, serta kebutuhan masyarakat pada saat ini.
7. Perlunya ditingkatkan kualitas pendidik dalam usaha Peningkatan mutu
pendidikan. Hal ini dapat dilakukan dengan meggunakan metoda baru dalam
pelaksanaan pembelajaran.

Pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan. Pendidikan


berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Karena
pembangunan sealu berubah mengikuti tuntutan zaman, maka pendidikan pun juga
harus bisa mengimbangi. Sebagai akibatnya, permasalahan yang dihadapi oleh dunia
pendidikan pun semakin luas. Hal ini dikarenakan sasaran pendidikan adalah manusia
yang merupakan pelaku dalam kegiatan pembangunan serta usaha pendidikan yang
mempunyai orientasi ke depan dan harus dapat dijangkau oleh pemikiran manusia.
Permasalahan yang timbul antara lain seperti masalah pemerataan, kuantitas, kualita,
efisiensi, efektivitas, relevansi, serta tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 78


Secara garis besar, solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahaan
tersebut yaitu solusi sistemik dan solusi teknis. Solusi sistemik adalah solusi dengan
mengubah sistem-sistem sosial ekonomi yang berkaitan dengan sistem pendidikan.
Kedua, solusi teknis adalah solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait
langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas
guru dan prestasi siswa.

Latihan

1. Apa yang dimaksud dengan permasalahan pokok pendidikan?


2. Sebutkan macam-macam pokok permasalahan pendidikan!
3. Jelaskan pengertian Pemerataan Pendidikan!
4. Jelaskan perbedaan Efisiensi dengan Efektifitas dalam pendidikan?
5. Sebutkan permasalahan-permasalahan dari Tenaga Pendidik dan Tenaga
Kependidikan!

Daftar Pustaka

Syafril, Zelhendri Zen, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang. UNP

Mudyahardjo, Redja. 2001. Pengantar Pendidikan : Sebuah Studi Awal tentang Dasar-
Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Raja
Grafindo.

Munib, Achmad. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Unnes Press


http://gioakram13.blogspot.com/2013/05/permasalahan-pokok-pendidikan-
dan.html#ixzz3qzpFQDc3

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 79


BAB VIII
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNYA
PERMASALAHAN PENDIDIKAN

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia di
muka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi
apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan. Pendidikan
diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan menjadi mendidik. Mendidik
berarti memelihara atau memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dari
pengertian ini didapat beberapa hal yang berhubungan dengan pendidikan.

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk


pembangunan. Langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan
zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru. Sebagai
konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Oleh
karena itu, perlu ada rumusan sebagai masalah-masalah pokok yang dapat dijadikan
pegangan oleh pendidik dalam mengemban tugasnya.

Sistem pendidikan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
sosial budaya dan masyarakat. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti
apa-apa jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Permasalahan intern sistem
pendidikan itu sangat kompleks. Artinya, suatu permasalahan intern dalam sistem
pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah diluar sistem pendidikan itu
sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari
sosial budaya dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Untuk tetap mewujudkan sistem pendidikan yang baik, maka kesemua pokok
pendidikan haruslah dipahami bersamaan dengan faktor-faktor penyebabnya. Sehingga
oleh berbagai pihak yang terkait dapat mengupayakan pemecahan atau penanggulangan
yang terbaik agar pendidikan di Indonesia tetap bisa berjalan dengan baik dan mencapai
tujuannya. Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan
juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen, dan melibatkan banyak pihak.

Permasalahan pokok pendidikan merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu


masalah-masalah yang berlangsung di dalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro
tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem
pendidikan. Masalah makro ini berupa masalah peerkembangan internasional, masalah
demografi, politik, ekonomi, dan sosial budaya, serta masalah perkembangan regional.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 80


A. Perkembangan IPTEK dan Seni

1. IPTEK
Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi).
 IP (Ilmu Pengetahuan)
Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan
terorganisir mengenai alam semesta. Berkembangnya IP (Science), apakah
bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya jelas akan
membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya saja, materi/bahan ajar
yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah/disesuaikan. Hal ini
disinggung dalam butir 3 masalah efisiensi pendidikan tentang perubahan
kurikulum. Selain itu, penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu
untuk melakukan tindak kriminal. Kita tahu bahwa kemajuan di badang
pendidikan juga mencetak generasi yang berepngetahuan tinggi tetapi
mempunyai moral yang rendah. Contohnya dengan ilmu komputer yang
tinggi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbangkan dan lain-lain.
Cybercrime adalah kejahatan yang di lakukan seseorang dengan sarana
internet di dunia maya yang bersifat melintasi batas negara, perbuatan
dilakukan secara illegal, kerugian sangat besar, dan sulit pembuktian secara
hukum.

 TEK (Teknologi)
Teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan
untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Perkembangan teknologi,
misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi akan
menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan
kerja, dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga kerja atau jam kerja,
sistem pelayanan baru, kebutuhan bahan-bahan baru, berkembangnya gaya
hidup baru, kondisi tersebut minimal dapat mempengaruhi perubahan isi
pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan
pendidikan, otomatis juga sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium
dan ketenangan. Semua tersebut tentu membawa masalah dalam skala
nasional yang tidak sedikit memakan biaya.. Perkembangan seperti ini akan
menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada mungkin
tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu
ditanggulangi.
Selain itu dampak negatif teknologi terhadap dunia pendidikaan adalah
sebagai berikut:
a. Semakin dimanjakan dengan teknologi. Karena tanpa disadari kita
berada dalam pola konsumtif yang selalu dimanjakan dengan
kecanggihan teknologi, misalnya seorang pelajar yang hanya menyalin

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 81


artikel untuk tugas sekolah/kuliah tanpa membaca atau memahami isi
artikel tersebut.
b. Mengganggu perkembangan anak di lingkungan kelas. Dengan
canggihnya fitur-fitur yang tersedia di handphone (HP) seperti:
kamera, games (permainan) akan mengganggu siswa dalam menerima
pelajaran di sekolah. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima
telepon, sms dan lainnya dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka
sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek
(curang) dalam ulangan/ujian, bermain HP saat guru menjelaskan
pelajaran dan sebagainya.
c. Pelajar lebih banyak mengahabiskan waktunya untuk bermain game
yang ada di internet, laptop, handphone, atau gadget lain yang
dimilikinya sehingga lupa membuat tugas sekolah/kuliah, bahkan nyaris
tidak menyisakan waktu untuk belajar. Ada juga yang begadang karena
menonton tv atau bermain game dan akhirnya terlambat bangun di pagi
hari dan terlambat pula berangkat sekolah/kuliah.
d. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku siswa. Jika tidak
ada kontrol dari guru dan orang tua. HP bisa digunakan untuk
menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur pornografi yang
tidak mendidik moral generasi muda.
e. Kemerosotan moral bagi generasi bangsa. Pada internet masih banyak
situs-situs yang tidak seharusnya dilihat oleh pelajar. Karena dengan
situs buruk tersebut akan merusak moral remaja. Maka diharapkan
saling terjadi pertanggungjawaban antara semua pihak agar moral suatu
bangsa tetap terjaga.
f. Anak kita akan sulit diawasi, khususnya ketika masa-masa pubertas,
disaat sudah muncul rasa ketertarikan dengan teman cowok/ceweknya,
maka HP menjadi sarana ampuh bagi mereka untuk komunikasi, tetapi
komunikasi yang tidak baik, hal ini akan mengganggu aktifitas yang
seharusnya mereka lakukan, makan, belajar bahkan tidur! Karena mereka
asyik sms-an dengan teman lawan jenisnya.
g. Timbulnya kriminalitas. Dengan kemajuan iptek berkembang pula ide-
ide untuk menciptakan bom dengan tujuan penghancuran oleh kalangan
penjahat.
h. Jasa komunikasi yang dimanfaatkan oleh jaringan teroris untuk
mempengaruhi dan menarik para remaja dan pelajar agar bergabung
dengan jaringan teroris tersebut.

Kecepatan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)


pada dasarnya akan selalu dibarengi oleh perubahan-perubahan sosial dan
ekonomi, dan lebih-lebih akan mengubah secara mendasar kondisi-kondisi
pekerjaan. Menghadapi gejala ini pendidikan dituntut untuk benar–benar
bertindak inovatif dalam rangka mempersiapkan perserta didik dalam

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 82


menghadapi perubahan dalam memberikan seperangkat kemampuan kepada
mereka agar dapat menjawab tantangan–tantangan lingkungan secara efektiif.

2. Perkembangan Seni
Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun
kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Manusia juga membutuhkan
seni.
Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya,
aktivitas kesenian mempunyai andil yang cukup besar karena dapat
mengembangkan domain/aspek afektif dari peserta didik. Melalui kesenian
manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta) yang bersifat orisinil
(bukan tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Dilihat dari
segi lapangan kerja, dewasa ni duna seni dengan segenap cabangnya telah
mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan
masyara
Dengan memperhatikan alasan-alasan diatas maka dapat kita lihat pula di
jaman sekarang ini kesenian sudah banyak disalurkan melalui media televisi, radio,
internet, buku komik, maupun majalah. Permasalahannya adalah dengan adanya
seni peran, musik, tari, dan sulap yang disiarkan lewat televisi, radio, atau internet
malah membuat para penikmat seni dari kalangan anak-anak hingga dewasa,
khususnya bagi pelajar generasi bangsa yang terus menikmatinya tanpa mengenal
waktu sehingga lupa/lalai akan kewajiban dan tugas-tugas yang harus
dilakukannya. Contohnya, karena terlalu asyik menonton tv, atau bermain game,
atau membaca komik, maupun membaca majalah tentang fashion terkini, seorang
pelajar lupa/lalai dengan kewajibannya beribadah, belajar, mengerjakan tugas
sekolah/kuliah, membantu orang tua, bahkan terlambat bangun pagi karena
begadang menonton tv dan terlambat juga berangkat ke sekolah/ ke kampus. Ada
pula kasus dimana seorang pelajar asyik menggambar disaaat gurunya memberikan
pelajaran di depan kelas, akibatnya pelajar tersebut tidak berkonsentrasi dalam
belajar dan tidak dapat memahami materi pelajaran tersebut.
Untuk itu, diperlukan penanganan bagi permasalahan dalam pendidikan yang
sedang merajalela akibat dari perkembangan seni ini, bukan berarti perkembangan
seni harus dihambat apalagi dihentikan karena bagaimanapun juga Indonesia
terkenal dengan beragam kesenian yang ada di dalamnya.

B. Laju Pertumbuhan Penduduk


Definisi dari laju pertumbuhan penduduk itu sendiri adalah angka yang
menunjukan tingkat pertambahan penduduk pertahun dalam jangka waktu tertentu.
Angka ini dinyatakan sebagai persentase dari penduduk dasar. Laju pertumbuhan
penduduk dapat dihitung menggunakan tiga metode, yaitu aritmatik, geometrik, dan
eksponesial. Metode yang paling sering digunakan di BPS adalah metode geometrik.
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 83


1. Pertambahan penduduk
Jumlah penduduk Indonesia di Tahun 2014 berkaitan dengan keadaan jumlah
dan pertumbuhan penduduk Indonesia jika dibandingkan dengan keadaan
penduduk
di negara-negara lain, Indonesia masih masuk posisi 5 besar negara dengan
jumlah penduduk terbanyak di dunia (Berdasarkan data dari Departemen
Perdagangan AS). Indonesia berada di nomor 4 dengan jumlah penduduk mencapai
253,60 juta jiwa
Jumlah penduduk Indonesia Tahun 2015 Jumlah penduduk Indonesia
diperkirakan akan terus bertambah sehingga diproyeksikan pada tahun 2015
penduduk Indonesia berjumlah 255 juta jiwa hingga mencapai 305 juta jiwa pada
tahun 2035
Kita dapat melihat tabel Perkembangan Jumlah Populasi Penduduk
Indonesia dari tahun ke tahun yang sumber datanya diambil dari Badan Sensus
Penduduk, berikut ini;

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 84


Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2000-2025

2. Penyebaran Penduduk
Akan tetapi meskipun jumlah penduduk dalam tahun ke tahun semakin pesat,
namun persebaran penduduk Indonesia tidak merata ke seluruh wilayah Indonesia
yang terdiri dari 33 provinsi. Ada daerah yang padat penduduk, terutama dikota-
kota besar dan daerah yang penduduknya jarang yaitu didaerah pedalaman
khususnya di daerah terpencil yang berlokasi di pegunungan dan pulau-pulau.
Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam hal
penyediaan dan penempatan guru maupun bagaimana merencanakan dan
menyediakan sarana pendidikan lainnya yang dapat melayani daerah padat (kota)
dan daerah terisolir yang anak usia sekolahnya tidak seberapa orang (jarang).
Disamping sebaran penduduk seperti digambarkan itu dengan pols yang static (di
kota padat, di desa jarang) juga adanya arus perpindahan penduduk dari desa ke
kota (urbanisasi) yang terus-menerus terjadi. Peristiwa ini menimbulkan pola yang
dinamis dan labil yang lebih menyulitkan perencanaan penyediaan sarana
pendidikan. Pola yang labil ini juga merusak pola pasaran kerja yang seharunya
menjadi acuan dalam pengadaan acuan dalam pengadaan tenaga kerja.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 85


Diagram Persebaran Penduduk Indonesia

Setelah kita melihat gambar diagram diatas kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa meskipun pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang selalu meningkat
terus, akan tetapi tidak dibarengi dengan upaya persebaran penduduk secara
merata. Terlihat bahwa pulau Jawa merupakan wilayah yang memiliki populasi
penduduk Indonesia paling banyak. Dan populasi penduduk yang paling sedikit
yaitu berada di wilayah timur Indonesia yakni Maluku dan Papua.
Jadi, laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan menyebabkan
perkembangan masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan. Dengan
pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia sekolah akan semakin
besar/banyak. Jika daya tampung sekolah tidak bertambah maka sebagian dari
mereka terpaksa antri atau tidak sekolah. Jika ditampung juga (misalnya karena
wajib belajar) maka rasio guru siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan
munculnya masalah lain seperti masalah mutu.

C. Aspirasi Masyarakat
Aspirasi merupakan harapan, cita-cita yang akan dicapai di masa depan. Aspirasi
bangsa Indonesia dalam dunia pendidikan telah di tegaskan dalam UU No.20 Th. 2003
bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan bertujuan
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya
yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berbudi pekerti
luhur, memiliki pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Kecenderungan aspirasi masyarakat dalam berbagai hal semakin meningkat dari
tahun ke tahun sudah terlihat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan, hidup yang
sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi
terhadap pendidikan. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan lebih
menjamin bagi peningkatan taraf hidup dan meningkatkan status sosial mereka seperti

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 86


memperoleh pekerjaan tetap dan layak. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi
terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar
nantinya anak-anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya
sendiri. Apa akibat yang timbul dari perubahan social tersebut? Peningkatan aspirasi
masyarakat terhadap pendidikan ini akan mengakibatkan arus pelajar menjadi
meningkat sehingga anak-anak, remaja dan dewasa akan menyerbu dan membanjiri
sekolah (lembaga pendidikan). Di kota-kota, disamping pendidikan formal mulai
bermunculan beraneka ragam pendidikan nonformal. Kondisi seperti ini akan
menimbulkan berbagai masalah seperti sistem seleksi siswa/mahasiswa baru, rasio
guru-siswa, waktu belajar, permasalahan akan terus berkembang karena saling terkait.
Namun demikian, tidaklah berarti bahwa aspirasi terhadap pendidikan harus
diredam, justru sebaliknya harus tetap dibangkitkan dan ditingkatkan, utamanya pada
masyarakat yang belum maju dan masyarakat di daerah terpencil, sebab aspirasi
menjadi motor penggerak roda kemajuan

D. Keterbelakangan Budaya dan Sarana


Faktor-faktor keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan adalah sangat erat
kaitanya dengan faktor kependudukan, IPTEK, dan aspirasi masyarakat. Faktor-faktor
tersebut berinteraksi dengan pendidikan dan dipengaruhi pula oleh pendidikan, yang
disetiap masyarakat bersifat khas faktor budaya yang paling tampak adalah di bidang
sistem nilai dan sebagai corak adat dan kebiasaan masyarakat.
bagaimana sistem pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga
mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

1. Keterbelakang Budaya
Keterbelakang budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok
masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain
pendukung suatu budaya, kebudayaanya dipadang sebagai sesuatu yang bernilai
dan baik. Terlepas dari kenyataan apakah kebudayaannya tersebut tradisional atau
sudah ketinggalan zaman. Oleh karena itu penilaian dari masyarakat luar itu
dianggap subjektif.
Semestinya masyarakat luar bukan menilainya hanya karena melihat
bagaimana kesesuaian kebudayaan tersebut dengan tuntutan zaman. Dan bukankah
pendidikan mempunyai misi sebagai transformasi budaya (dalam hal ini adalah
kebudayaan nasional). Sebab sebagai system pendidikan yang tangguh adalah yang
bertumpu pada intinya sehingga tidak pernah ketinggalan zaman. Jika system
pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaannya berarti
melibatkan mereka untuk berperan serta dalam pembangunan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 87


2. Sarana dan Prasarana
Rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi masalah di
dunia pendidikan. Kita tentu sudah banyak mendengar tentang sekolah roboh atau
sekolah rusak karena bangunannya yang sudah lapuk namun tidak mendapat
bantuan dari pemerintah. Inilah salah satu bukti betapa rendahnya kualitas sarana
dan prasarana pendidikan di Indonesia.
Kerusakan bangunan pendidikan jelas akan mempengaruhi kualitas
pendidikan karena secara psikologis seorang anak akan merasa tidak nyaman
belajar pada kondisi ruangan yang hampir roboh. Demikian pula di daerah
terpencil, betapa sulitnya membangun sarana pendidikan standar karena kesulitan
komunikasi atau langkanya alat-alat bantu proses belajar mengajar, begitu pun
dengan tuntutan sistem pendidikan serta kurikulum “nasional” menghambat daerah
terpencil untuk mulai merangkak karena dipaksa untuk langsung berlari.
Penyediaan sarana dan prasarana haruslah memadai keperluan anak/peserta didik
yang memerlukan pelayanan pendidikan.
Demikianlah faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah
pendidikan di Indnesia. Nah, pertanyaannya adalah apakah sekarang ini banyak
orang-orang tidak dapat mengecap pendidikan? Dari segi pemerataan, kesempatan
memperoleh pendidikan bagi anak-anak Indonesia sudah cukup luas. Baru pada
dekade akhir ini kita mulai melihat usaha pemerintah dalam pemerataan pendidikan
baik lewat Departemen maupun Instruksi Presiden. Sehingga pengadaan sekolah
yang dahulunya hanya terbatas untuk daerah di perkotaan sekarang tidak hanya di
kota-kota sekolah dibangun tetapi sampai di pelosok-pelosok pun sudah banyak
didirikan sekolah, tenaga pendidik pun juga sudah ditugaskan untuk mengajar di
daerah-daerah terpencil, sehingga anak-anak di kota maupun di desa dapat
memperoleh pendidikan.
Alasan anak-anak tidak bersekolah dipengaruhi juga oleh masalah financial
keluarga sehingga orang tua tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, bahkan
anak-anak harus dibebani dengan membantu orang tua bekerja mencari nafkah
daripada harus sekolah. Namun, untuk era sekarang ini alasan seperti itu sudah
tidak berlaku lagi karena pemerintah sudah memberi bantuan terhadap masalah
financial keluarga seperti mengeluarkan jaminan kesehatan dengan kartu (ASKES/
JAMKESMAS/ BPJS) dan untuk pendidikan pemerintah sudah lama mengeluarkan
dana BOS untuk anak-anak yang kurang mampu, pemerintah juga sudah
mengeluarkan kebijakan dengan jalur bidikmisi dengan dana subsidi silang dan
banyak juga program beasiswa yang ditawarkan untuk anak-anak berprestasi dan
tidak mampu. Perkara ini sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar republic
Indonesia tahun 1945 (amandemen) pasal 31 ayat (1) “Setiap warga negara berhak
mendapat pendidikan” dan pasal (2) “Setiap warga negara wajib mengikuti
pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya” dan negara juga
mempriorotaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN
dan APBD.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 88


Jadi, harusnya di era sekarang ini tidak ada alasan lagi bagi anak-anak
Indonesia untuk tidak mengecap pendidikan. Namun, melihat fakta saat ini di
Indonesia masih saja banyak anak-anak yang tidak bersekolah karena segudang
alasan yang tidak habis-habisnya. Menurut data pemerintah, sekitar 4 juta anak usia
13 – 15 tahun di Indonesia tidak bersekolah dan 1,5 juta anak-anak yang tidak
bersekolah usia 10 hingga 14 tahun masuk ke dalam angkatan kerja
Akhirnya, Pendidikan merupakan tiang pancang kebudayaan dan fondasi
utama untuk membangun peradaban sebuah bangsa. Arti penting kesadaran
pendidikan menentukan kualitas kesejahteraan sosial lahir batin masa depan.
Pendidikan memiliki peranan strategis menyiapkan generasi berkualitas untuk
kepentingan masa depan. Sudah saatnya kita lebih peka terhadap nasib anak-anak
Indonesia saat ini. Kalau penerus masa depan kita tidak mendapatkan pendidikan
yang layak, siapa yang akan menahkodai negara ini nanti.

Kesimpulan
Misi Pendidikan adalah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan,
karena itu pendidikan selalu menghadapi masalah. Itulah sebabnya, karena
pembangunan sendiri selalu mengikuti tuntutan zaman yang selalu berubah. Masalah
yang dihadapi dunia pendidikan sangat luas dan kompleks seperti pengaruh IPTEK dan
Seni, laju pertumbuhan penduduk, aspirasi masyarakat, dan keterbeelakangan budaya
dan sarana kehidupan.
Pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan. Pendidikan
berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Karena
pembangunan sealu berubah mengikuti tuntutan zaman, maka pendidikan pun juga
harus bisa mengimbangi. Sebagai akibatnya, permasalahan yang dihadapi oleh dunia
pendidikan pun semakin luas. Hal ini dikarenakan sasaran pendidikan adalah manusia
yang merupakan pelaku dalam kegiatan pembangunan serta usaha pendidikan yang
mempunyai orientasi ke depan dan harus dapat dijangkau oleh pemikiran manusia.
Permasalahan-permasalahan tersebut tentu membutuhkan upaya-upaya untuk
penanggulangannya sehingga tujuan pendidikan itu tercapai.

Penanggulangan masalah pendidikan secara umum dikemukakan yaitu sebagai


berikut:
1. Pendidikan harus senantiasa diperbaharui (direnovasi) sesuai dengan
perkembangan yang terjadi di luar bidang pendidikan itu sendiri. Misalnya
kurikulum harus fleksibel, jika perlu diperbaharui. Kurikulum jangan
mengakibatkan para pelakunya (siswa) selalu tertinggal dibanding dengan
kemajuan IPTEK di luar dunia pendidikan tersebut.
2. Pendidikan (bersama bidang terkait) berusaha menahan laju pertumbuhan
penduduk atau pendidikan harus mencari sistem baru yang dapat melayani semua
orang yang memerlukan pendidikan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 89


3. Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan didukung dan didorong terus agar lebih
meningkat lagi. Sementara itu sistem pendidikan dibaharui/dikembangkan sehingga
dapat memenuhi aspirasi tersebut.
4. Sistem pendidikan meningkatkan peran/fungsinya sebagai pengembangan
kebudayaan di seluruh pelosok tanah air. Sejalan dengan itu pihak lain yang terkait
harus dapat membuka keterisolasian sebagian desa kita dan membuka sarana
kehidupan yang lebih baik.

Latihan
1. Apa yang dimaksud dengan Faktor yang mempengaruhi berkembangnya
permasalahan pendidikan?
2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permasalahn pendidikan!
3. Apa yang dimaksud dengan IPTEK?
4. Sebutkan 5 dampak negatif dari Teknologi!
5. Jelaskan pengertian laju pertumbuhan penduduk!

Daftar Pustaka
Amadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2007. Ilmu Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta
Faturrahman, Drs, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Prestasi Pustaka Publisher:
Jakarta
Tilaar, H.A.R, Prof. 2004. Manajemen Pendidikan Nasional. PT Remaja Resdakarya:
Bandung
Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2000. Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta
Zelhendri Zen, Syafril, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Sukabina Press: Padang
https://dwiseptianingsih498.wordpress.com/2013/04/20/dampak-penyalahgunaan-
ipteks- terhadap-pendidikan-anak-bangsa/
http://ukiparner.blogspot.co.id/2012/03/dampak-negatif-teknologi-di-bidang.html
http://technoupdate27.blogspot.co.id/2015/02/data-jumlah-penduduk-indonesia-
terbaru.html
http://www.academia.edu/13176634/Anak_anak
http://ipsgampang.blogspot.co.id/2014/08/jumlah-dan-pertumbuhan-penduduk.html
http://medanbisnisdaily.com/news/read/2013/10/24/58003/tingginya_jumlah_anak_putu
sekolah

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 90


https://tieraalta.wordpress.com/2013/05/24/laju-pertumbuhan-penduduk/
canonservisleri.com
Syafril, Zelhendri Zen, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang. UNP
http://susksesseluruhtest.blogspot.com/2014/07/makalah-pengantar-
pendidikan.html?m=1
https://id.wikipedia.org/wiki/Kursus
http://www.kejarpaket.com/paket-a-setara-sd/
http://www.kejarpaket.com/paket-b-setara-smp/
https://arifsulistyo.wordpress.com/jurusan-pls/kejar-paket-c/
http://fithriazni.blogspot.co.id/2011/06/pendidikan-luar-sekolah.html
http://pakdirman.blogspot.co.id/2008/03/perkembangan-sma-terbuka.html

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 91


BAB IX
UPAYA-UPAYA PENANGGULANGAN
MASALAH PENDIDIKAN

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia di
muka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi
apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan. Pendidikan
diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan menjadi mendidik. Mendidik
berarti memelihara atau memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dari
pengertian ini didapat beberapa hal yang berhubungan dengan pendidikan.

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk


pembangunan. Langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan
zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru. Sebagai
konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Oleh
karena itu, perlu ada rumusan sebagai masalah-masalah pokok yang dapat dijadikan
pegangan oleh pendidik dalam mengemban tugasnya.

Sistem pendidikan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan
sosial budaya dan masyarakat. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti
apa-apa jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Permasalahan intern sistem
pendidikan itu sangat kompleks. Artinya, suatu permasalahan intern dalam sistem
pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah diluar sistem pendidikan itu
sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari
sosial budaya dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Untuk tetap mewujudkan sistem pendidikan yang baik, maka kesemua pokok
pendidikan haruslah dipahami bersamaan dengan faktor-faktor penyebabnya. Sehingga
oleh berbagai pihak yang terkait dapat mengupayakan pemecahan atau penanggulangan
yang terbaik agar pendidikan di Indonesia tetap bisa berjalan dengan baik dan mencapai
tujuannya. Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan
juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen, dan melibatkan banyak pihak.

Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membuat sebuah makalah yang
berjudul “Upaya-upaya Penanggulangan Masalah Pendidikan” dengan membahas lebih
lanjut mengenai upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan
pendidikan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 92


A. Perubahan Kurikulum
Dalam mewujudkan tujuan pendidikan berbagai upaya dalam pelaksanaan proses
pendidikan di sekolah terus diupayakan. Kurikulum sebagai seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai isi bahan pelajaran dan proses selama kegiatan belajar mengajar,
memiliki fungsi yang sangat penting. Rencana dan pengaturan yang baik sangat
berpengaruh pada pencapaian visi dan misi dalam target pendidikan kita. Harapan-
harapan untuk pencapaian kemajuan di masa depan sangat dipengaruhi oleh mutan-
muatan yang terkandung didalam kurikulum. Perubahan kurikulum yang sudah
beberapa kali dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan di Negara kita mulai dari tahun
1975 sampai tahun 2004, dalam kenyataannya belum mampu mengakomodir setiap
tujuan yang ingin di capai. Padatnya jumlah bahan ajar ternyata cukup membebani para
peserta didik. Efek dari beban ini siswa tidak dapat mengembangkan dirinya sesuai
kompetensi yang dimilikinya secara maksimal. Pada kurikulum tahun 2004 lahirlah
KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi) dengan jumlah beban yang agak longgar.
Tetapi sayangnya kurikulum ini tidak dapat bertahan lama, sebelum menunjukan hasil
yang signifikan perubahan kurikulum kembali terjadi. Sosialisasi dilapangan yang baru
saja usai hanya menambah kebingungan guru dalam upaya peningkatan mutu
pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau lebih dikenal dengan KTSP yang
memasukan unsur muatan lokal dan pengembangan diri yang mulai digulirkan tahun
2006, juga belum mampu menampung aspirasi sesuai dengan fungsi dari kurikulum itu
sendiri. Kecenderungan guru untuk menyelesaikan bahan/materi ajar dengan cepat juga
ternyata tidak memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan dirinya hingga
memiliki kompetensi yang maksimal. Disamping itu keterlibatan orang tua dan pihak-
pihak yang berperan sebagai stakeholders juga belum menunjukan perannya secara
maksimal. Hal ini semakin menambah biasnya pelaksanaan dari fungsi-fungsi
kurikulum yang digulirkan di Negara kita.
Pembentukan kasta baru dalam system pendidikan kita (meminjam istilah dari
kolom editorial Harian Media Indonesia, salah satu edisi di bulan mei), yang muncul
sebagai efek dari adanya Sekolah Berstandar Internasional, dalam satu sisi mungkin
berdampak posistif untuk penempatan kurikulum sesuai fungsinya. Tetapi ini
sepertinya hanya berlaku bagi sekolah yang sudah berstandar Internasional, tetapi
bagaimana untuk sekolah yang belum termasuk kategori ini?. Pada umumnya sekolah
ini rata-rata memiliki alokasi biaya yang kurang mendukung, berbagai keterbatasan
menjadi pembatas bagi mereka dalam mengembangkan potensi anak didik secara
maksimal.

B. Pengelolaan Pendidikan
Kegiatan dalam sistem pendidikan nasional secara umum meliputi dua jenis yaitu
pengelolaan pendidikan dan kegiatan pendidikan. Pengelolaan pendidikan berasal dari
kata manajemen, sedangkan istilah manajemen sama artinya dengan administrasi

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 93


(Oteng Sutisna:1983). Dapat diartikan pengelolaan pendidikan sebagai supaya untuk
menerapkan kaidah-kaidah adiministrasi dalam bidang pendidikan.
Pengelolaan pendidikan meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, pengawasan dan pengembangan. Pengelolaan pendidikan. Pengelolaan
adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian
upaya anggota organisasi dimana keempat proses tersebut mempunyai fungsi masing-
masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Menurut Griffin pengelolaan adalah
sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisien.
Terdapat beberapa fungsi dari pengelolaan itu sendiri adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu
hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencanaan
merupakan penetapan pada tindakan apa yang harus dilakukan? Apakah sebab
tindakan itu harus dikerjakan? Dimanakah tindakan itu harus dikerjakan?
Kapankah tindakan itu harus dikerjakan? Siapakah yang akan mengerjakan
tindakan itu? Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu?

2. Pengorganisasian (Organizing)
Oganisasi adalah dua orang atau lebih yang bekerjasama dalam cara yang
terstruktur untuk mencapai sasaran specific atau sejumlah sasaran. Dalam sebuah
organisasi membutuhkan seorang pemimpin, pekerjaan pemimpin meliputi
beberapa kegiatan yaitu mengambil keputusan, mengadakan komunikasi agar ada
saling pengertian antara atsan dan bawahan, memberi semangat, inspirasi dan
dorongan kepada bawahan agar supaya mereka melaksanakan apa yang
diperintahkan.

3. Pengarahan (Directing )
Pengarahan adalah fungsi pengelolaan yang berhubungan dengan usaha
memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam
melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik
dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.

4. Pengawasan
Pengawasan adalah fungsi pengelolaan yang berhubungan dengan usaha
pemantauan kinerja agar supaya kinerja tersebut terarah dan tidak melenceng dari
aturan yang sudah ditetapkan dan pemantauan berfungsi sebagai media agar kinerja
tersebut terarah dan tersampaikan secara tepat.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 94


5. Pengembangan
Pengembangan adalah fungsi pengelolaan yang harus dijadikan tolak ukur
keberhasilan suatu pengelolaan, dengan adanya pengembangan pengelolaan akan
berjalan sesuai dan melebihi target yang akan diperoleh.
Tanpa suatu program yang baik sulit kiranya tujuan pendidikan akan tercapai.
Oleh karena itu, pengelolaan harus disusun guna memenuhi tuntutan, kebutuhan,
harapan dan penentuan arah kebijakan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan.
Pengelolaan kerja SMP merupakan penjabaran tugas dan pelaksanaan kebijakan
Depdiknas yang di sesuaikan dengan kondisi obyektif. Dalam pelaksanaannya
setiap kegiatan mengacu pada pengelolaan yang ada sehingga proses dan
pelaksanaan aktifitas di sekolah lebih terukur, terpantau dan terkendali.
Pengelolaan pendidikan berfungsi sebagai acuan bagi sekolah dalam
mengukur, mengevaluasi dan merevisi kegiatan-kegiatan yang di anggap perlu.
Selain itu pengelolaan pendidikan bertujuan sebagai upaya sekolah dalam
mendukung dan menjabarkan wajib belajar 9 tahun.

C. Inovasi dalam Pendidikan

1. SD Kecil
a. Pengertian
SD Kecil adalah sekolah dasar yang pada umunya terdapat di daerah
terpencil dengan sistem pendidian yang berbeda dengan SD Konvensional.
Jumlah siswa maksimal 60 orang kelas I sampai dengan kelas IV dengan dua
orang guru kelas dan satu kepalaa sekolah, proses belajar mengajar di
selenggarakan dengan menggunakan modul.
Murid yang pintar dijadikan tutor untuk mengajar murid-murid yang
lain. Sisitem guru pamong System guru kunjung dilaksanakan juga untuk
daerah terpencil dimana guru mengunjungi SD induk yang sudah ditetapkan
Kurikulum sama dengan SD biasa Dibina oleh guru biasa yang disajikan SD
induk, mengunjungi SD yang telah ditetapkan. Jumlah 3 sampai 10 orang
System belajar klasikal, kelompok, dan belajar mandiri dengan menggunakan
modus.
Didirikan untuk memberikan tempat belajar bagi siswa yang tidak bisa
sekolah di SD reguler karena jaraknya terlalu jauh. SDK biasanya didirikan di
daerah terpencil jauh dari perkotaan dengan kondisi jalan terjal, becek, atau
berbatuan. SDK menampung anak-anak warga dengan kondisi ekonomi yang
sangat miskin. Siswa belajar tanpa sepatu, seragam, dan tanpa biaya apapun.
SD kecil realisasi dari Undang-Undang Wajib belanja dan pemerataan
pendidikan bagi anak-anak 7-12 tahun, terutama bagi daerah-daerah terpencil.
SD kecil mempunyai ciri-ciri yaitu :

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 95


b. Tujuan
SDK didirikan oleh warga secara gotong-royong didaerah terpencil yang
jauh dari perkotaan. Jarak dari pusat kota kecamatan tidak kurang dari 15 km.
dengan kondisi jalan terjal, tanah becek atau bebatuan serta sulit dilewati
dengan kendaraan bermotor roda dua. Tujuannya untuk memberikan tempat
belajar bagi siswa yang tidak bisa sekolah di SD reguler karena jaraknya
terlalu jauh.
Lokasi SDK di tengah-tengah hutan atau diatas pegunungan yang sulit
di-akses oleh masyarakat pada umumnya. SDK untuk manampung anak-anak
warga dengan kondisi ekonomi sangat miskin. Siswa belajar tanpa
sepatu,seragam, dan biaya apapun.

c. Ciri-ciri SD kecil
 Kelas yang ada lebih seddikit dari SD biasa (tiga kelas)\
 Jumlah murid lebih kecil (20/30 orang)
 Jumlah guru lebih sedikit dari guru SD biasa(tiga orang termasuk kepala
sekolah)
 Pendekatan belajar meliputi belajar sendiri,yaitu mempelajari modul,
belajar kelompok,klasikal.
 Murid yang pandai dijadikan tutor untuk mengajar murid-murid lain.

d. Pelaksanaan belajar mengajar


Siswa mulai belajar pukul 08:00 WIB, dan pulang pukul 12:00 WIB.
Apabila pukul 08:00 belum ada guru yang datang,maka siswa yang lebih tinggi
membantu belajar siswa yang dibawahnya. Siswa kelas VI membantu siswa
kelas III, siswa kelas V membantu kelas II dan kelas IV membantu belajar
siswa kelas I
Selanjutnya, apabila guru yang ditunggu belum datang juga sampai jam
10:00 WIB, maka semua siswa pulang ke rumah masing0masing secara
bersama-sama.

e. Kurikulkum
Untuk kurikulum yang digunakan biasanya sama dengan kurikulum SD
Regular umumnya. Namun, biasanya yang banyak diajarkan adalah materi
pelajaran Ujian Nasional seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS.
Setelah kelas VI, siswa yang akan mengikuti UN/UNAS harus bergabung
dengan SD reguler terdekat, karena SDK tidak mengadakan UN/UNAS
sendiri. Bahkan tidak sedikit siswa yang baru kela V bisa diikutkan
UN/UNAS, bila mana siswa dianggap mampu mengikuti UN/UNAS. Jadi
SDK seperti sekolah akselari di kota-kota besar.

f. Media dan sumber belajar


Sama dengan SD regular, umumnya menggunakan buku-buku yng ada
dan media-media yang membantu dalam proses penyampaian pesan ilmu
pengetahuan.

g. Tenaga pendidik

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 96


Guru tetap(PNS) satu orang sekaliigus sebagai kepala sekolah dibantu
oleh tenaga guru honorer atau sukarelawan pemuda-pemudi warga setempat
yang berpendidikan lulusan SLTP atau SLTA.
h. Sumber dana
Pemerintah membiayai pendanaan pada SDK, karena ditujukkan untuk
anak-anak yang tidak mampu dan terpencil. Siswa tidak di pungut biaya aapun.

2. SD Pamong
a. Pengertian
SD Pamong adalah lembaga pendidikan yang di selenggarakan oleh
masyarakat, orang tua, dan guru untuk memberikan pelayanan bagi anak putus
sekolah, atau anak yang tidak dapat dengan secara teratur belajar di sekolah.
Banyak anak-anak di desa-desa Asia Tenggara ternyata putus sekolah.
Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka tidak bisa bersekolah seperti
biasa. Mereka harus membantu orang tuanya justru ketika kam sekolah, maka
lahirlah di indonesia sistem sekolah SD Pamong, di terapkan di Kebak Kramat
sejak 1974, dan di Gianyar sejak 1977.
b. Tujuan
 Membantu anak-anak yang tidak sepenuhnya dapat mengikuti pendidikan
sekolah atau membantu siswa yang drop-out.
 Membantu anak-anak yang tidak mau trikat oleh tempat dan waktu dalam
belajar. Oleh karena itu belajar bisa sambil menggembalakan ternak,
waktu istirahat, dll.
 Mengurangi penggunaan tenaga guru sehingga rasio guru terhadap murid
dapat menjadi 1:200. Pada SD biasa 1:40 atau 1:50
 Meningkatkan pemerataan kesempatan belajar, dengan pembiayaan yang
sedikit dapat di tampung sebanyak mungkin siswa
Dengan demikian, tujuan proyek pamong untuk menentukan alternatif
sistem penyampaian pendidikan dasar yang bersifat efektif, ekonomis, dan
merata yang sesuai dengan kondisi kebanyakan daerah di indoneia.
c. Ciri-ciri SD Pamong
 Pada umunya Guru dan Pengelola Lembaga pencari murid, berbeda
dengan SD reguler yang muridnya telah tersedia.
 Pembelajaran di tentukan oleh kemauan siswa. Misalnya, dia bisa belajar
malam hari, maka guru pamong harus mengajarnya pada malam tersebut.
 Biasanya pengelolaan kelasnya terbatas, misalnya hanya untuk kelas IV,
V, dan VI saja
 Kegiatan belajarnya di tentukan dalam setiap minggunya, misalnya belajar
hanya di laksanakan selama 2 hari, selanjutnya hanya di beri tugas sesuai
dengan modul.

d. Pelaksanaan belajar mengajar.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 97


Hari belajar siswa di tentukan sesuai dengan kemauan siswa itu sendiri.
Jam belajarnya pun juga ditentukan
e. Kurikulum.
Umumnya sama dengan kurikulum SD reguler. Namun, terdapat
perbedaan dalam hal lamanya waktu belajar siswa.
f. Media dan Sumber Belajar.
Modul di anggap efektif dalam sumber belajar. Karen amodul dianggap
mampu memperjelas dan mempermudah cara belajar siswa.
g. Tenaga pendidik
o Biasanya terdiri dari 5 orang guru. Bisa guru tetap (PNS) ataupun guru
honorer.
o Terdiri dari 3 orang guru kelas, 1 guru gama dan 1 orang guru bertinda
sebagai kepala sekolah.
o Sumber dana
o Karena sifatnay membantu anak-anak yang putus sekolah karena harus
membantu orang tua mereka untuk bekerja, maka pendanaan SD pamong
masih di biayai oleh pemerintah setempat.

3. Sekolah menengah pertama Terbuka (SMP T)


a. Pengertian
SMP Terbuka merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak brdiri
sendiri tetapi merupakan bagian dari SMP Induk yang dalam
menyelenggarakan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri.
Trilogi Pembangunan memberikan tekanan pada pemerataan
pembangunan yang hasilnya menuju pada terciptanya keadilan sosial
bagiseluruh rakyat. Sesuai dengan prinsip konsep pemerataan perwujudan
pelaksanaan kewajiban belajar.
Adapun gambaran umum latar belakang berdirinya SMP terbuka adalah :
Kekurangan fasilitas pendidikan dan tempat belajar
Tenaga kependidikan yang tidak cukup
Memperluas kesempatan belajar dalam rangka pemerataan pendidikan
Menanggulangi anak terlantar bagi anak yang tidak diterima di SMP Negeri
b. Tujuan
Permasalahan dalam pendidikan sangat kompleks. Salah satu alternative
pemecahan dimulai dari penemuan konsep SMP terbuka oleh pemerintah yang
diilhami oleh berbagai aspirasi masyarakat lapis bawah.
Mereka mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap pendidikan. Salah
satu dari keinginan mereka adalah agar anak-anaknya dapat melanjutkan
pendidikan setelah tamat dari sekolah dasar meskipun berbagai kendala
menghimpit mereka.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 98


Mulai dari kendala keuangan, waktu, letak geografis dan kendala
transportasi. Mereka mempunyai kemungkinan yang sangat keciluntuk
mengeyam pendidikan di SMP reguler.
c. Ciri-ciri SMP Terbuka
o Tebuka bagi siswa tanpa pembatasan umur dan tanpa syarat-syarat
akademik.
o Terbuka dalam memilih program belajar untuk mencapai ijazah formal,
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jangka pendek yang bersifat
praktis, insidensial dan perorangan.
o Terbuka dalam proses belajar mengajar yaitu tidak selalu diselenggarakan
di ruang kelas secara tatap muka, akan tetapi juga media seperti radio,
media cetakan, kaset, slide, model dan gambar-gambar.
o Terbuka dalam keluar masuk kelas/sekolah sesuai waktu yang tersedia
oleh siswa.
o Terbuka dalam pengelolaan sekolah. Sekolah dikelola oleh pegawai negri
dari orang-orang lain yang diperlukan partisipasinya seperti warga dan
pimpinan masyarakat, orang tua siswa, dan pamong pemerintah setempat.
d. Pelaksanaan belajar mengajar
Rancangan operasional. Sebagai subsistem pendidikan yang baru di
indonesia perlu diadakn persiapan yang matang.
 Penyusuna bahan belajar. Penyusunan bahan ajar disusun oleh tim
pengembangan kurikulum yang sudah ditugaskan.
 Modul. Suatu pelajaran terkecil yang disusun menjadi suatu buku yang
lengkap.
 Program radio, kaset dan film bingkai. Naskah-naskah tersebut disusun
oleh tim pengembangan kurikulum. Setelah di review oleh ahli bidang
studi bersama ahli media kemudian di produksi dalam bentuk rekaman
oleh balai produksi PUSTEKOM.
 Perintisan. Karena merupakan subsistem pendidikan baru perlu diadakan
perintisan untuk mengetahui cara penyelenggaraan dan pengelolaan
sebaik-baiknya menurut keadaan dan kondisi setempat.
 Lokasi daerah perintisan. Yang dijadikan kriteria memilih lokasi perintisan
adalah keteserdiaan guru pembimbing dan pembina di daerah
bersangkutan.
 Penataran pelaksana. Penataran dapat dilakukan secara berantai artinya
mereka yang telah pernah ditatar dapat menatar calon pelaksana SMP
terbuka di daerah masing-masing.
e. Organisasi dan pengelolaan
Penyelenggaraan Smp terbuka menjadi tanggung jawab direktorat
Dikmenum, Direktorat Jenderal Dikdasmen.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 99


f. Evaluasi system.
Selain evaluasi hasil belajar dilakukan juga evaluasi sistem SMP
Terbuka.
g. Kurikulum.
Kurikulum yang dipakai pada SMP terbuka adalah kurikulum yang
berlaku pada saat itu, sama halnya dengan kurikulum yang dipakai pada SMP
Negeri pada umumnya.
h. Media dan sumber belajar.
Modul masih menjadi pilihan utama sumber belajar. Bahan belajar yang
digunakan peserta didik SMP terbuka memang di rancang secara khusus agar
dapat dipelajari secara mandiri, baik secara individual maupun dalam
kelompok-kelompok kecil oleh para peserta didik.
Dikatakan secara khusus dengan menpelajari modul, para peserta didik
dikondisikan seolah-olah berintekrasi dengan guru. Bahasa yang digunakan di
dalam modul adalah bahasa yang komunikatif, mudah dipahami, dan
memungkinkan para peserta didik untuk mengevaluasi diri sendiri, baik
melalui umpan balik segera (imediate feedbacks) maupun kunci jawaban soal-
soal latihan/tugas yang tersedia di dalam modul dan akan ditunjang oleh media
noncetak yang terdiri dari program audio, video dan media lainnya.
Jadi kualitas bahan belajar perlu mendapat perhatian untuk dapat
meningkatkan mutu pembelajaran di SMP Terbuka. Oleh karena itu,
pengembangan bahan belajar dilakukan secara sistematis sehingga dihasilkan
bahan belajar yang berkualitas, baik segi isi materi, penyajian, maupun
tampilan. Dengan demikian bahan belajar tersebut menarik dan mudah untuk
di pelajari.
i. Tenaga pendidik.
Tenaga kependidikan kepala sekolah, kepala sekolah dari SMP Terbuka
adalah kepala sekolah induk.
 Guru Bina. Guru bina adalah guru pada sekolah induk yang diberi tugas
untuk mengajar di SMP Terbuka sesuai mata pelajaran yang ditentukan.
 Guru Pamong. Guru pamong adalah pembimbing belajar mandiri siswa
yaitu anggota masyarakat yang peduli akan pendidikan. Dengan ketentuan
minimal SMA, dan berada pada lingkungan sekitar tempat kegiatan belajar.
j. Sumber Dana
Siswa SMP Terbuka sepenuhnya dibebaskan dari pungutan apapun,. Hal
tersebut dikarenakan biaya operasional SMP Terbuka sepenuhnya dibiayai
oleh pemerintah.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 100


4. Sekolah Menengah Atas Terbuka (SMA T)
a. Pengertian
SMA Terbuka adalah subsistem pendidian pada jenjang pendidikan
menengah yang mengutamakan kegiatan belajar mandiri para peserta didiknya
dengan bimbingan terbatas dari orang lain.
SMA Terbuka merupakan salah satu model layanan pendidikan alternatif
jalur sekoalh tingkat menengah yang diselenggarakan oleh reguler.SMA
Terbuka bukanlah lembaga atau UPT baru yang berdiri sendiri,melainkan
menginduk pada SMA reguler yang telah ada.
Dengan demikian,SMA reguler yang menjadi Sekolah Induk SMA
Terbuka menyelenggarakan pendidikan dengan dual mode system (tugas
ganda).Artinya ,sekolah induk SMU Terbuka sekaligus melayani dua
kelompok peserta didik yang berbeda,dengan cara belajar yang berbeda .
Dalam hal ini, Sekolah Induk SMU Terbuka diberi perluasan atau
tambahan peran ,yaitu berupa layanan pendidikan dengan sisitem belajar jarak
jauh yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki kendala tertentu.

b. Tujuan
Perintisan SMU terbuka dilakukan dengan tujuan memberikan
kesempatan belajar bagi lulusan SLTP/MTS yang karena berbagai kendala
sosial ekonomi,geograsis,waktu dan lainnya maka tidak dapat menikuti
pendidikan pada tingkat SLTA.Pada tahun 2001 dilakukan pemnatapan
perintisan SMU terbuka dengan melibatkan unsur pemerintah daerah dan unsur
dinas pendidikan kabupaten/kota.
Perintisan SMU terbuka dilandasi oleh kerangka konseptual yang cukup
matang bagi dari segi teori,filsafat,pola,pembelajaran,pola
kelembagaan,maupun sisitem jaminan kualitasnya (quality assuranrea)uji coba
SMU terbuka telah dilakukan pada tahun 2002/2003 di 7 lokasi.
c. Ciri-ciri SMA terbuka
SMA terbuka merupakan pola pendidikan yang menerapkan sistem
belajar jarak jauh pada jenjang pendidikan menengah yang kegiatan
pembelajarannya dilaksanakan sevcara fleksibel melalui penerapan prinsi-
prinsip belajar mandiri.pada hakekatnya sma terbuka sama dan sederajat
dengan SMA reguler/konvensional.
Perbedaanya hanya terletak pada aspek pembelajarannya dimana para
peserta didik SMA terbuka belajar secara perseorangan maupun dalam
kelompok kecil,(pustekom-depdiknas 2000)karakteristik pendidikan SMA
terbuka dapat dilihat dari aspek tujan,peserta didik,bahan belajar,stategi
pembelajaran ,evaluasi dan sertifikasi.

d. Pelaksanaan belajar mengajar


1) kegiatan belajar siswa tidak harus dilakukan dalam ruang kelas formal
dengan tatap muka langsung dengan guru mata pelajaran.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 101


2) secara periodik siswa berkonsultasi dengan staf sekolah (kepala sekolah
,wakil kepala sekolah,guru)untuk memecahkan kesulitandan masalah
belajar.
3) secara teratur siswa belajar dan menelesaikan tugas-tugas individual.

Dari informasi tersebut diatas dapat diruuskan bahwa model/sistem


pendidikan SMU terbuka adalah model/sistem pendidikan SMU yang
sebahagian besar kegiatan pembelajarannya dilaksanakan secra
mandiri,dengan menggunakan bahan-bahan belajar yang dapat dipelajari
peserta didik secara mandiri tanpa dengan seminimal mungkin bantuan orang
lain. Karena itulah para peserta didik SMU terbuka setiap harinya belajar
mandiri di tempat kegiatan belajar (TKB) di bawah supervisi guru pamong
,baik secara individual maupun dalam bentuk kelompok-kelompok kelompok
keil .guru pamong tidak bertugas mengajar karena memang mereka bukanlah
orang yang berkualifikasi mengajar di SMU.

e. Kurikulum
Umumnya sam dengan kurikulum SMA biasa .namun terdapat
perbedaan dalam hal waktu belajar.SMU terbuka tidak dituntut untuk datang
setiap hari ke SMU reguler yang ditentukan tetapi mereka hanya datang belajar
setiap sore(pukul 14.00 s/d 17.00)selama 5 hari setiap minggunya di TKB di
bawah supervisi guru pamong. Pada umumnya untuk setiap mata pelajaran
minimal mendapat alokasi tutorial selama 2x45 menit perbulan.sedangkan
untuk mata pelajaran yang sukar seperti bahasa inggris ,matematika, fisika ,dan
mata pelajaran yang penting seperti bahasa indonesia,dalam sebulan minimal
mendapat alokasi waktu tutorial 3x45 menit perbulan namun apabila SMU
terbuka tertentu menganut pola tutorial dua hari seminggu.maka jumlah alokasi
waktu tutorial untuk mata pelajaran yang sulit/penting minimal 4x45 menit
dalam sebulan.
Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan di SMU terbuka yang setara
dengan yang dilaksanakan di SMU reguler adalah :
1) tes akhir modul (TAM) setara dengan tes tformatif atau ulangan harian
pada SMU reguler.
2) Tes akhir unit setara dengan tes tengah semester (mid semester test) pada
SMU reguler.
3) Tes akhir semester yang dilaksanakan pada setiap akhir semester adalah
sama dengan ulangan umum pada SMU reguler.Tujuannya adalah untuk
mengukur tingkat keberhasilan peserta didik setelah mempelajari sejumlah
modul selama satu semester.
4) Ujian akhir merupakan ujian yang diselenggarakan untuk peserta didik
SMU terbuka kelas III pada akhirtahun ajaran yang pelaksanaanya
mengikuti ketentuan yang berlaku di SMU penyelenggara.

Sertifikasi yang diterima oleh para peserta didik SMU reguler yang telah
berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMU adalah sama dengan yang
diberikan kepada peserta didik SMU terbuka.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 102


f. Media dan sumber belajar
Bahan belajar utama yang digunakan para pesrta didik SMU terbuka
berbeda dengan yang digunakan di SMU reguler sekalipun acuan yang
digunakan untuk pengembangan bahan belajar adalah sama yaitu kurikulum
SMU yg berlaku.
Bahan belajar yang digunakan para peserta didik SMU terbuka adalah
bahan belajar mandiri cetak yang disebut modul dan bahan ajar dalam bentuk
media lainnya atau penunjang
Bahan belajar yang digunakan peserta didik SMU terbuka memang
dirancang secara khusus agar dapat dipelajari secaara mandiri baik secara
individual atau kelompok-kelompok kecil oleh peserta didik.bahasa yang
digunakan dalam modul adalah bahasa yang komunikativ mudah dipahami dan
para peserta didik untuk mengevalusi diri sendiri baik melalaui unpan balik
segera (imediate feedbacks).
Maupun kunci jawaban-jawaban soal latihan tugas yang tersedia dalam
modul yang akan ditu njang oleh media non cetak yangterdiri dari program
audio, vidio/vcd, dan media lainnya yang perlu mendapat perhatian untuk
dapat meningkatkan mutu pembelejaran SMU terbuka

g. Tenaga pendidik
Salah satu prinsipnya adalah mengoptimalkan pendayagunaan berbagai
sumber daya yang ada di masyarakat termasuk tenaga gurunya,guru mata
pelajaran yang terdapat d SMU reguler yang dijadikan sebagai sekolah induk
SMU terbuka dengan memberikan konorarium tambahan

5. Universitas terbuka (UT)


a. Pengertian Universitas Terbuka
Universitas tebuka adalah perguruan tingggi negeri (PTN) KE-45 di
indonesia yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh, sistem
belajar ini terbukti efektif untuk meningkatkan daya jangkau dan pemerataan
kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara
indonesia, termasuk mereka yang tinggal di negara-negara terpencil, baik di
seluruh nusantara maupun di berbagai belahan dunia.
Adanya keterbatasan waktu dan tempat dalam mengembangkan dan
meningkatkan pendidikan serta meningkatkan kemampuan profesional. Latar
belakang tersebut akhirnya membuat universitas terbuka memberikan
kesempatan seluasnya kepada siapa saja untuk meningkatkan
pengetahuan,keterampilan,dan kompetensi.
b. Tujuan dari Universitas Terbuka
 Memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara indonesia dan
warga negara asing. Dimanapun tempat tinggalnya untuk memperoleh
pendidikan tinggi.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 103


 Mengembangkan pelayanan pendidikan tinggi bagi mereka, yang karena
bekerja atau karena alasan lain, tidak dapat melanjutkan belajar di
perguruan tinggi tatap muka.
 Mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional yang
disesuaikan dengan kebutuhan nyata pembangunan, yang belum banyak
dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.
 Melaksanakan tridarma perguruan tinggi dengan cara yang lebih terbuka
yaitu melalui sistem belajar jarak jauh (SBJJ)
c. Ciri-ciri universitas terbuka
 Tidak ada pembatasan jangka waktu penyelesaian studi dan tidak
memeberlakukan sistem drop out.
 Tidak ada pembatasan, baik tahun kelulusan ijazah SLTA maupun umur.
 Waktu pendaftaran (registrasi) leluasa sepanjang tahun.
 Ruang,waktu,dan tempat belajar yang fleksibel sesuai kondisi mahasiswa.
 Penggunaan materi belajar multimedia, termasuk bahan belajar cetak baik
yang dilengkapi dengan kaset audio dan video/CD,CD-ROM, siaran radio
dan TV, maupun bahan belajar berbasis komputer dan internet.
d. Pelaksanaan Belajar Mengajar
UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh
berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan
menggunakan media, baik media cetak (modul)maupun non-cetak
(audio/video, komputer/internet,siaran radio dan televisi).
Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia,tahun, ijazah,masa
belajar,waktu registrasi, frekuensi mengikuti ujian,dan sebagainya batasan
yang ada hanyalah bahwa, setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan
jenjang pendidikan menengah atas ( SMA atau yang sederajat).
Mahasiswa UT diharapkan dapat belajar secara mandiri. Cara belajar
mandiri menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa atau inisiatif
sendiri. Belajar mandiri dapat dilakukan secara sendiri ataupun berkelompok,
baik dalam kelompok belajar maupun dalam kelompok tutorial. UT
menyediakan bahan ajar yang dibuat khusus untuk dapat di pelajari secara
mandiri.
Selain menggunakan bahan ajar yang disediakan oleh UT, mahasiswa
juga dapat mengambil inisiatif untuk memamfaatkan perpustakaan, mengikuti
siaran radio,mengikuti tutorial, serta-menggunakan sumber belajar lain seperti
bahan belajar berbatuan komputer dan program audio/video. Apabila
mengalami kesulitan belajar, mahasiswa dapat meminta informasi atau
bantuan tutorial kepada ketua jurusan masing-masing.
Ketetapan presiden no.41 tahun 1984 tanggal 11 juni 1984 UT bersetatus
universitas Negeri dengan 4 fakultas ( fakultas keguruan dan pendidikan ,
fakultas ekonomi, fakultas ilmu social, fakultas politik, fakultas matematika
dan pengetahuan alam.
UT memiliki puast penelitian dan pengabdian masyarakat, pusat
produksi media pendidikan, informasi dan pengolahan data, pusat pengolahan
penujian dan unit program belajar jarak jauh. Peresmian Ut dilakukan oleh
presiden Suharto di Bima Graha Jakarta pada tanggal 4 September 1984 terdiri
atas tiga program yaitu program Diploma, program Akta V, dan Program
Sarjana. Sebagai rector pertama tahun1984 di tunjuk Prof.Dr. Setijadi MA.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 104


D. Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah

 Pendidikan Luar Sekolah sebagai Subtitute dari pendidikan sekolah.


Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dapat menggantikan pendidikan jalur
sekolah yang karena beberapa hal masyarakat tidak dapat mengikuti pendidikan di
jalur persekolahan (formal). Contohnya: Kejar Paket A, B dan C
 Pendidikan Luar Sekolah sebagai Supplement pendidikan sekolah.
Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk menambah
pengetahuan, keterampilan yang kurang didapatkan dari pendidikan sekolah.
Contohnya: private, les, training
 Pendidikan Luar Sekolah sebagai Complement dari pendidikan sekolah.
Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk melengkapi
pengetahuan dan keterampilan yang kurang atau tidak dapat diperoleh di dalam
pendidikan sekolah. Contohnya: Kursus, try out, pelatihan dll.

1. Program Paket A
Program Paket A adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan
nonformal setara SD/MI bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal atau
berminat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan.
Pemegang ijazah Program Paket A memiliki hak eligibilitas yang sama dengan
pemegang ijazah SD/MI.

2. Program Paket B
Program Paket B adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan
nonformal setara SMP/MTs bagi siapapun yang terkendala ke pendidikan formal
atau berminat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk ketuntasan pendidikan
dasar. Pemegang ijazah Program Paket B memiliki hak eligibilitas yang sama
dengan pemegang ijazah SMP/MTs.

3. Program Paket C
Program Paket C adalah program pendidikan menengah pada jalur
pendidikan nonformal setara SMA/MA bagi siapapun yang terkendala ke
pendidikan formal atau berminat dan memilih pendidikan kesetaraan untuk
ketuntasan pendidikan menengah. Pemegang ijazah Program Paket C memiliki hak
eligibilitas yang sama dengan pemegang ijazah SMA/MA.

4. Kursus
Kursus adalah lembaga pelatihan yang termasuk ke dalam jenis pendidikan
nonformal. Kursus merupakan suatu kegiatan belajar-mengajar seperti halnya
sekolah. Perbedaanya adalah bahwa kursus biasanya diselenggarakan dalam waktu
pendek dan hanya untuk mempelajari satu keterampilan tertentu. Misalnya, kursus
bahasa Inggris tiga bulan atau 50 jam, kursus montir, kursus memasak, menjahit,
musik dan lain sebagainya. Peserta yang telah mengikuti kursus dengan baik dapat

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 105


memperoleh sertifikat atau surat keterangan. Untuk keterampilan tertentu seperti,
kursus ahli kecantikan atau penata rambut, peserta kursus diwajibkan menempuh
ujian negara. Ujian negara ini dimaksudkan untuk mengawasi mutu kursus yang
bersangkutan, sehingga pelajaran yang diberikan memenuhi syarat dan peserta
memiliki keterampilan dalam bidangnya.

5. Diklat
Diklat adalah singkatan dari kata pendidikan dan pelatihan. Istilah
pendidikan dan pelatihan apabila disingkat yaitu menjadi Diklat. Akronim Diklat
(pendidikan dan pelatihan) merupakan singkatan/akronim resmi dalam Bahasa
Indonesia.

Kesimpulan

Pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan. Pendidikan


berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Karena
pembangunan sealu berubah mengikuti tuntutan zaman, maka pendidikan pun juga
harus bisa mengimbangi. Sebagai akibatnya, permasalahan yang dihadapi oleh dunia
pendidikan pun semakin luas. Hal ini dikarenakan sasaran pendidikan adalah manusia
yang merupakan pelaku dalam kegiatan pembangunan serta usaha pendidikan yang
mempunyai orientasi ke depan dan harus dapat dijangkau oleh pemikiran manusia.
Permasalahan-permasalahan tersebut tentu membutuhkan upaya-upaya untuk
penanggulangannya sehingga tujuan pendidikan itu tercapai.
Penanggulangan masalah pendidikan secara umum dikemukakan sebagai berikut:
1. Pendidikan harus senantiasa diperbaharui (direnovasi) sesuai dengan perkembangan
yang terjadi di luar bidang pendidikan itu sendiri. Misalnya kurikulum harus
fleksibel, jika perlu diperbaharui. Kurikulum jangan mengakibatkan para pelakunya
(siswa) selalu tertinggal dibanding dengan kemajuan IPTEK di luar dunia
pendidikan tersebut.
2. Pendidikan (bersama bidang terkait) berusaha menahan laju pertumbuhan penduduk
atau pendidikan harus mencari sistem baru yang dapat melayani semua orang yang
memerlukan pendidikan.
3. Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan didukung dan didorong terus agar lebih
meningkat lagi. Sementara itu sistem pendidikan dibaharui/dikembangkan sehingga
dapat memenuhi aspirasi tersebut.
4. Sistem pendidikan meningkatkan peran/fungsinya sebagai pengembangan
kebudayaan di seluruh pelosok tanah air. Sejalan dengan itu pihak lain yang terkait
harus dapat membuka keterisolasian sebagian desa kita dan membuka sarana
kehidupan yang lebih baik.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 106


Latihan

1. Apa upaya-upaya penanggulangan masalah Pendidikan?


2. Jelaskan apa itu SD kecil!
3. Sebutkan tujuan dari SD Pamong?
4. Sebutkan ciri-ciri Universitas Terbuka?
5. Jelaskan perbedaan paket A, paket B dan paket C!

Daftar Pustaka

Suparman, M. Atwi (2004), “Desain Instruksional”, (Jakarta: Pusat Penerbitan


universitas Terbuka)
Ahmad Zein, H,2011, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Jember.
Syafril, Zelhendri Zen, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang. UNP

http://susksesseluruhtest.blogspot.com/2014/07/makalah-pengantar-
pendidikan.html?m=1
https://id.wikipedia.org/wiki/Kursus
http://www.kejarpaket.com/paket-a-setara-sd/
http://www.kejarpaket.com/paket-b-setara-smp/
https://arifsulistyo.wordpress.com/jurusan-pls/kejar-paket-c/
http://fithriazni.blogspot.co.id/2011/06/pendidikan-luar-sekolah.html
http://pakdirman.blogspot.co.id/2008/03/perkembangan-sma-terbuka.html

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 107


BAB X
PENDIDIKAN DI ERA TEKNOLOGI,
INFORMASI, DAN KOMUNIKASI

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia
di muka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam
kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan.
Pendidikan diambil dari kata dasar didik, yang ditambah imbuhan menjadi mendidik.
Mendidik berarti memelihara atau memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan
pikiran. Dari pengertian ini didapat beberapa hal yang berhubungan dengan pendidikan.

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk


pembangunan. Langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan
zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru. Sebagai
konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah yang
berhubungan dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Oleh
karena itu, perlu ada rumusan mengenai era globalisasi dan Teknologi Informasi dan
Komunikasi.

Teknologi Infromasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat berkembang di


masyarakat. Umumnya Teknologi Informasi adalah sebuah teknologi yang
dipergunakan untuk mengelola data, meliputi didalamnya : memproses, mendapatkan,
menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan berbagai macam cara dan prosedur
guna menghasilkan informasi yang berkualitas dan bernilai guna tinggi. Perkembangan
TIK pun terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Saat ini
tren pengguna e- yang berarti elektronik bermunculan. Seperti e-education, e-
government, e-learning dan lain sebagainya. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang
telah mengglobal mampu mencakupi segala aspek yang ada dalam kehidupan.

Dalam bidang pendidikan, TIK banyak memiliki peranan, Teknologi Informasi


seakan telah menjadi pengalihfasihan buku, guru dan sistem pengajaran yang
sebelumnya masih bersifat konvensional. Teknologi Informasi menyebabkan ilmu
pengetahuan menjadi kian berkembang dan berkembang. Namun, TIK juga memiliki
dampak negatif terhadap kehidupan, salah satunya yang menonjol adalah di bidang
pendidikan. Kenyataan ini yang mendorong penulis untuk mengungkap lebih jauh
tentang Pendidikan di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 108


A. Pengertian era globalisasi
Pengertian era globalisasi dapat dijelaskan dari dua kata yang membangunnya
yakni kata “era” dan “globalisasi”. Era berarti zaman atau kurun waktu, sementara
globalisasi berarti proses mengglobal atau mendunia. Dengan demikian era globalisasi
berarti zaman yang di dalamnya terjadi proses mendunia.
Proses mendunia ini yang terjadi sejak tahun 1980-an itu terjadi di berbagai
bidang atau aspek kehidupan manusia, misalnya di bidang politik, sosial, ekonomi,
agama, dan terutama sekali globalisasi di bidang teknologi.
Proses mendunia tersebut di atas, secara konkret dapat dijelaskan sebagai berikut.
Perkembangan budaya manusia dewasa ini telah mencapai taraf yang luar biasa, yang di
dalamnya manusia bergerak menuju ke arah terwujudnya satu masyarakat manusia yang
mencakup seluruh dunia; satu masyarakat global. Dengan teknologi transportasi dan
komunikasi serba canggih yang berhasil diciptakannya, manusia telah berhasil
mengatasi jarak yang dahulu misahkan manusia yang satu dari yang lain, suku bangsa
yang satu dari yang lain, bangsa yang satu dari yang lain, budaya dan agama yang satu
dari yang lain. Berkembangnya teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan
jarak antar kota, antar pulau, antar negara, dan antar benua seolah tidak ada lagi. Di
zaman ini, manusia dengan mudahnya berkomunikasi satu sama lain di seluruh penjuru
dunia dengan memanfaatkan satelit-satelit yang berada di atas Indian Ocean Region,
Pacific Ocean Region, dan Atlantic Ocean Region. Dengan kata lain, berkembangnya
teknologi transportasi dan komunikasi, dunia seolah semakin sempit, ruang dan waktu
menjadi semakin relatif, dan batas-batas negara seakan begitu mudah untuk diterobos.
Pengertian era globalisasi sebagai kurun waktu yang di dalamnya terjadi proses
mendunia secara nyata menyebabkan apa yang ada di Jakarta ada pula di New York;
apa yang dibisikkan di Jakarta terdengar pula di New York dan sebaliknya. Contoh
konkretnya: “Jeans” ada baik di New York maupun Jakarta. Fenomena ini sebenarnya
hendak berkata bahwa teknologi transportasi dan teknologi komunikasi yang semakin
canggih mampu menghubungkan umat manusia di seluruh belahan dunia, sehingga
terciptalah satu kehidupan bersama; satu masyarakat, yang meliputi seluruh umat
manusia dengan sejarah kehidupan bersama, sejarah umat manusia.

B. Ciri-ciri era Globalisasi


Ciri-ciri globalisasi antara lain:
1. Terjadinya Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu.
Berkembangnya barang-barang seperti televisi satelit, telepon genggam dan
internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya,
sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita
merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
2. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling
bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional,
peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam
World Trade Organization (WTO).

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 109


3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama
televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). Saat ini, kita
dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-
hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion,
literatur, dan makanan.
4. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis
multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
5. Adanya keterbukaan di berbagai bidang.
Keterbukaan di berbagai bidang yang terjadi pada era globalisasi saat ini, tidak
terlepas dari adanya kemajuan dalam berbagai bidang komunikasi dan informasi.
Globalisasi memang identik dengan era keterbukaan. Melalui berbagai macam
media massa, kejadian atau peristiwa sekecil apapun bisa diketahui samapai ke
ujung dunia, karena kecanggihan tersebut. Pada era keterbukaan ini juga ditandai
dengan adanya kebebasan dalam mengungkapkan pikiran dan argumentasi baik
lisan maupun tulisan. Setiap orang memiliki kebebasan dan bisa melakukan apapun
sesuai apa yang diinginkannya serta menyampaikan rasa ketidak puasan atas segala
kebijakan yang ada. Semua itu terjadi tidak lain karena kecanggihan teknologi
sehingga keterbukaan di berbagai sektor bidang tidak dibatasi.
6. Meningkatnya ketergantungan ekonomi antarbangsa.
Globalisasi ekonomi mencakup beberapa bidang, diantaranya yaitu tenaga kerja,
bidang pembiayaan, perdagangan dan jaringan informasi. Globalisasi ekonomi
disebut juga dengan era pasar bebas. Dalam globalisasi ekonomi, perdagangan
tidak hanya antar wilayah, antar provinsi akan tetapi perdagangan internasionalpun
semakin meningkat. Jadi, dalam memenuhi kebutuhannya, tidak mesti suatu negara
memproduksi sendiri segala kebutuhannya, tetapi bisa melalui negara lain dengan
pemilihan harga yang sesuai dengan budget yang dimiliki. Dalam kegiatan
ekonomi tidak terbatas pada skala nasional, akan tetapi internasional atau seluruh
dunia.
7. Meningkatnya interaksi budaya antarbangsa
Dengan adanya globalisasi mampu meningkatkan hubungan kultur antarbangsa.
Melalui adanya perkembangan pesat dari media massa seperti handphone,
telephone, televisi, majalah, koran, internet, dls. Kita akan lebih mengenal tentang
budaya suatu negara, misalnya seperti film, musik yang banyak diminati dari
kalangan anak-anak sampai yang dewasa, fashion, gaya hidup dan kebiasaan
mereka, dengan media-media tersebut tentu secara tidak sadar kita lebih mengenal
tentang suatu budaya dari suatu negara di berbagai belahan dunia. Pada saat ini
aktivitas berskala internasional semakin banyak dan sering dilaksanakan seperti
piala dunia, kegiatan pariwisata, dan bahkan sampai perpindahan penduduk dari
suatu negara ke negara lain sering dilakukan.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 110


C. Pengertian TIK
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memuat semua teknologi yang
berhubungan dengan penanganan informasi. Penanganan ini meliputi pengambilan,
pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Jadi,
TIK adalah teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan,
pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi.Ditinjau dari susunan
katanya, teknologi informasi dan komunikasi tersusun dari 3 (tiga) kata yang masing-
masing memiliki arti sendiri. Kata pertama, teknologi, berarti pengembangan dan
aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan
masalahnya. Istilah teknologi sering menggambarkan penemuan alat-alat baru yang
menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik. Kata kedua dan ketiga, yakni
informasi dan komunikasi, erat kaitannya dengan data. Informasi berarti hasil
pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian sekelompok data yang memberi nilai
pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya. Komunikasi adalah suatu proses
penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar
terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara keduanya.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berasal dari bahasa Inggris yaitu
Information and Communication Technologies (ICT), yang mencakup seluruh peralatan
teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi.
Jadi teknologi informasi dan komunikasi adalah hasil rekayasa manusia
terhadap proses penyampaian informasi dan proses penyampaian pesan (ide, gagasan)
dari satu pihak kepada pihak lain sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih
lama penyimpanannya.

TIK mencakup dua aspek yaitu:


1) Teknologi informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
2) Teknologi komunikasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat
bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Terdapat banyak pengertian mengenai TIK atau Teknologi informasi dan


komunikasi, namun jika dapat disimpulkan dari berbagai sumber Teknologi Informasi
dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang
mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan,
manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media
Namun, ada pula yang mengartikan bahwa, TIK adalah sebuah media atau alat
bantu yang digunakan untuk transfer data baik itu untuk memperoleh suatu data /
informasi maupun memberikan informasi kepada orang lain serta, dapat digunakan
untuk alat berkomunikasi baik satu arah ataupun dua arah.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 111


D. Pendidikan berbasis TIK

Pendidikan Berbasis TIK - Teknologi komunikasi dan informasi (TIK)


saat ini memang sudah tak bisa lagi kita pisahkan dari kehidupan manusia
modern. Setiap harinya kehidupan kita selalu dipenuhi dengan perangkat-
perangkat TIK tersebut. Berlatar belakang hal tersebutlah maka akhirnya
muncul sebuah gagasan dari kalangan yang peduli terhadap kegiatan
pembelajaran yang berlangsung bagi peserta didik di sekolah untuk
mencanangkan sebuah kegiatan pendidikan berbasis TIK.
Media merupakan sebuah perangkat atau alat. Sedangkan pendidikan
memiliki arti sebagai sebuah kegiatan penyampaian informasi terkait ilmu
pengetahuan dari tenaga pendidik kepada para peserta didik yang dimilikinya.
Dengan demikian dapat kita simpulkan sebuah pengertian mengenai media
pendidikann berbasis TIK adalah sebuah alat atau perangkat yang diperlukan
dalam proses kegiatan penyampaian informasi berupa ilmu pengetahuan dari
seorang tenaga pendidik kepada para peserta didik yang menggunakan teknologi
komunikasi dan informasi.
Model pembelajaran ini lebih menarik karena menggunakan TIK. Hal tersebut
memungkinkan bagi para tenaga pendidik maupun para peserta didik untuk lebih kreatif
dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran
yang menyenangkan.
Dengan pembelajaran berbasis TIK ini maka kegiatan pembelajaran akan semakin
berkembang. Seperti yang anda ketahui bahwa saat ini perangkat teknologi ini terus
berkembang, sehingga dengan menyisipkannya dalam kegiatan pembelajaran maka baik
peserta didik maupun tenaga pendidiknya akan sama-sama berjuang untuk mengikuti
perkembangan teknologi yang digunakan.

E. Keunggulanan dan Manfaat TIK

1. Keunggulan TIK

a. Kecepatan (speed), komputer dapat mengerjakan sesuatu perhitungan


kompleks dalam hitungan detik, sangat cepat, jauh lebih cepat dari yang dapat
dikerjakan manusia.
b. Konsistensi (consistency), hasil pengolahan lebih konsisten tidak berubah-ubah
karena formatnya (bentuknya) sudah standar, walaupun dilakukan berulang
kali, sedangkan manusia sulit untuk menghasilkan yang persis sama.
c. Ketepatan (precision), komputer tidak hanya cepat, tetapi juga lebih akurat dan
tepat (presisi). Komputer dapat mendeteksi suatu perbedaan yang sangat kecil,
tidak dapat dilihat dengan kemampuan manusia, dan juga dapat melakukan
perhitungan yang sulit.
d. Keandalan (reliability), apa yang dihasilkan lebih dapat dipercaya
dibandingkan dengan dilakukan oleh manusia. Kesalahan yang tejadi lebih

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 112


kecil dilakukan kemungkinannya jika menggunakan komputer. Informasi yang
dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah di akses untuk kepentingan
pendidikan.

2. Manfaat TIK

a. TIK sangat membantu dalam proses pembelajaran dimana segala informasi


pendidikan dapat diakses dengan cara lebih mudah dan cepat.
b. Inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang dengan adanya inovasi e-
learning yang semakin memudahkan proses pendidikan.
c. Kemajuan TIK juga akan memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau
kelas yang berbasis teleconference yang tidak mengharuskan sang pendidik
dan peserta didik berada dalam satu ruangan.
d. Sistem administrasi pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan
lancar karena penerapan sistem TIK.
e. Mereduksi biaya yang harus dikeluarkan (cost displacement).
f. Menghindari biaya yang harus dikeluarkan (cost avoidance).
g. Memperbaiki kualitas yang diambil (decision analysis).
h. Menghasilkan dampak positif yang diperoleh perusahaan (impact analysis).

F. Kelemahan TIK dan solusinnya

1. Kelemahan TIK

a. Kemajuan TIK juga akan semakin mempermudah terjadinya pelanggaran


terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) karena semakin mudahnya
mengakses data menyebabkan orang yang bersifat plagiatis akan melakukan
kecurangan.
b. Walaupun sistem administrasi suatu lembaga pendidikan bagaikan sebuah
system tanpa celah, akan tetapi jika terjadi suatu kecerobohan dalam
menjalankan sistem tersebut akan berakibat fatal. Karena akan cepat tersebar
kemana-mana.
c. Salah satu dampak negatif tik adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan
bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention)
d. Dengan pelayanan TIK yang menawarkan kemudahan didalam proses
pembelajaran, membuat kita menjadi malas untuk membaca buku-buku
pendidikan. Karena terpengaruh dengan hal-hal yang instan.

2. Solusinnya

Agar penggunaan TIK lebih optimal dan di jalankan dengan baik dan benar,
berikut ada beberapa metode pemecahan masalah agar dampak negatif dari TIK
dapat tertanggulangi.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 113


a. Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak
di bawah umur yang masih harus dalam pengawasan ketika sedang melakukan
pembelajaran dengan TIK. Analisis untung ruginya pemakaian.
b. Tidak menjadikan TIK sebagai media atau sarana satu-satunya dalam
pembelajaran, misalnya kita tidak hanya mendownload e-book, tetapi masih
tetap membeli buku-buku cetak, tidak hanya berkunjung ke digital library,
namun juga masih berkunjung ke perpustakaan.
c. Pihak-pihak pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-
pengajaran etika dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal
tanpa menghilangkan etika.
d. Perlu ada kesadaran peran dan kerjasama antara seluruh pengguna lanyanan
TIK.
e. Menggunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’
anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat
memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan
kekerasan.
f. letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang
keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam
kamar anak, menurut Nina akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan.
Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang
berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada
di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas
karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
g. Untuk mencegah kecanduan orang tua perlu membuat kesepakatan dengan
anak soal waktu bermain komputer. Sehingga pada usia yang lebih besar,
diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
h. Pemerintah sebagai pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka
dan menyaring apa-apa saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh
rakyat Indonesia di dunia maya. Selebihnya, Kementrian juga bisa
menyebarkan filter berupa program software untuk menekan dampak buruk
teknologi informasi. Kedua, perlu adanya dukungan dari orangtua, tokoh
budaya hingga kalangan agamawan, untuk mensosialisasikan tentang saran,
manfaat dan sisi positif facebook.

Jadi solusinya adalah kita jangan sampai mengatakan tidak pada teknologi
(say no to technology) karena jika kita berbuat demikian, maka kita akan
ketinggalan banyak informasi yang sekarang ini informasi-informasi tersebut
paling banyak ada di internet. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan kita
terhadap teknologi, mempertimbangkan baik-buruknya teknologi tersebut dan tetap
menggunakan etika, juga tidak lupa jangan terlalu berlebihan agar kita tidak
kecanduan denagn teknologi.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 114


Selain itu dengan teknologi yang sederhana asal dimanfaatkan dengan
maksimal, maka teknologi itu akan menghasilkan kualitas yang optimal. Seperti
juga facebook dan jejaring sosial lainnya apabila dimanfaatkan dengan baik, maka
akan bisa memberikan manfaat bagi kita. Yang terpenting adalah dari diri kita
sendiri untuk menggunakan teknologi moderen ini secara sehat. Facebook pada
dasarnya adalah sarana, sebuah hasil karya teknologi informasi komunikasi yang
bertujuan memudahkan hidup kita. Facebook dapat menjadi sarana berbagi
informasi, hiburan, menambah jaringan pertemanan, dan banyak hal positif lainnya.
Facebook di tangan yang salah adalah juga alat untuk melakukan kekerasan,
pelecehan, bahkan tindak kriminal seperti penipuan, pemerasan, dan sebagainya.

Kesimpulan

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus, bahkan dewasa ini


berlangsung dengan pesat. Perkembangan itu bukan hanya dalam hitungan tahun, bulan,
atau hari, melainkan jam, bahkan menit atau detik, terutama berkaitan dengan teknologi
informasi dan komunikasi yang ditunjang dengan teknologi elektronika. Dengan adanya
teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan
mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa
saja. Pengaruhnya meluas ke berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan.
Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi informasi mulai dirasa
mempunyai dampak yang positif karena dengan berkembangnya teknologi informasi
dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Akan tetapi
semua itu tidak terlepas dari sisi negatifnya. Menyikapi keadaan ini, maka peran
pendidikan sangat penting untuk mengembangkan dampak positif dan memperbaiki
dampak negatifnya. Pendidikan tidak antipati atau alergi dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, namun sebaliknya menjadi subyek atau pelopor dalam
pengembangannya.
Menurut pendapat para pakar informasi, dampak negative dari berbagai fasilitas
komunikasi, termasuk internet, sama sekali tidak dapat dipandang sebelah mata, karena
dampak negatif tersebut sangat mempengaruhi aktivitas penggunanya. Maka dari itu
dalam hal ini peranan orang tua pun sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Dapat juga melakukan beberapa contoh solusi dibawah ini dalam
menanggulangi beberapa dampak negative Teknologi Komunikasih yaitu;

a. Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di


bawah umur.
b Tidak menjadikan TIK sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran.
c. Pihak-pihak pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-
pengajaran etika dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa
menghilangkan etika.
d. Perlu ada kesadaran peran dan kerjasama antara seluruh pengguna layanan TIK.
e. Menggunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak.

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 115


f. letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga,
dan bukan di dalam kamar anak.
g. Untuk mencegah kecanduan, orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak
soal waktu bermain komputer.
Pemerintah sebagai pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka dan
menyaring apa-apa saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh rakyat
Indonesia di dunia maya.

Karena sangat pentingnya komunikasi dalam kehidupan kita maka sangat


penting pula alat komunikasi dalam kehidupan kita di masa kini.
Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi maka
layanan informasi dan komunikasipun semakin cepat dan mudah. Hal tersebut menuntut
manusia untuk memiliki alat komunikasi yang mendukung semua itu.
Selain media elektronik dan media cetak dengan perkembangannya, jaringan
seluler dan internet merupakan alat komunikasi masa kini yang lebih maju dalam
perkembangannya.
Teknologi Informasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan TIK tersebut
harus kita manfaatkan dan kekurangannya harus kita hindari. Kita harus lebih bijak
dalam menyikapi perkembangan TIK di era globalisasi saat ini.

Latihan

1. Jelaskan pengertian Era Globalisasi!


2. Sebutkan ciri-ciri Era Globalisasi?
3. Apa yang dimaksud dengan TIK?
4. Sebutkan 5 manfaat dari TIK?
5. Sebutkan 5 kelemahan dari TIK?

Daftar Bacaan

Dr. Deni Darmawan, S,Pd., M.Si. Teknologi pembelajaran, Cet Pertama, Agustus-2011
PT. Remaja Rosdakarya, Bandug.
Drs. Rudi Susilana, M.Pd, Media Pembelajaran, Cetakan 2009, CV. Wahana Prima,
Bandung.
http://www.seputarpengetahuan.com/2015/05/pengertian-dan-ciri-ciri-globalisasi-i.html
http://seribubukit.com/berita-tujuan-manfaat-dan-keuntungan-pemanfaatan-
tik.html#ixzz3shPdRjvT

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 116


Eti Rochaety, dkk. 2005. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Bumi Aksara:
Jakarta.
Setiadi, A, Julianto, et. al. 2009. Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SMP/MTs
kelas VII. Kementrian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
Syafril, Zelhendri Zen, dkk. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: UNP
https://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi
https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi
http://na2zaoldyeck.blogspot.co.id/2010/12/teknologi-informasi-dan-komunikasi.html
http://www.ristizona.com/2011/01/ciri-ciri-globalisasi.html

Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan 117