Anda di halaman 1dari 101

MODUL FIKIH

Kelas X MA
Dr. Rosidin, M.Pd.I
Bab I
KONSEP FIKIH DALAM ISLAM

Kata Kunci: Islam, Fikih, Syariah, Maqashid Syariah, Ibadah


Tiga pilar utama ajaran Islam adalah Iman, Islam dan Ihsan. Iman
berkaitan dengan Akidah, Islam berkaitan dengan Syariah, sedangkan Ihsan
berkaitan dengan Akhlak. Ketiganya sama-sama penting. Iman ibarat akar,
Islam ibarat batang, sedangkan Ihsan ibarat daun dan buah. Inilah kiranya
‘pohon Islam’ yang diilustrasikan dalam Surat Ibrahim [14]: 24

             

)24 :ٍُِٚٔٓ‫ (إِبِسَا‬ 


Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit. (Q.S. Ibrahim [14]: 24)
Dimensi Iman dan Ihsan dipelajari dalam bidang studi Akidah Akhlak,
sedangkan dimensi Islam dipelajari dalam bidang studi Fikih. Oleh sebab itu,
objek bahasan Fikih berhubungan dengan masalah Syariah atau hukum
Islam. Itulah mengapa Fikih identik dengan pemberian status hukum halal-
haram, wajib-haram, sunnah-makruh, mubah, dan sebagainya.
Bab pertama ini membahas seluk beluk Fikih, mulai dari definisi, ruang
lingkup hingga hubungannya dengan konsep-konsep lain, seperti Syariah,
Maqashid Syariah dan Ibadah.

Kompetensi Inti :
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan baksat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.

1
Kompetensi Dasar dan Indikator:
1. Memahami konsep Fikih dalam Islam
1.1. Menjelaskan konsep Fikih dalam Islam
1.2. Menjelaskan ruang lingkup Fikih
1.3. Menjelaskan hubungan Fikih, Syariah dan ibadah
1.4. Menjelaskan macam-macam ibadah dan karakteristiknya
2. Mempresentasikan konsep Fikih Islam

PETA KONSEP

Catatan: Ajaran Islam memiliki


tiga pilar utama: Akidah, Syariah
dan Akhlak. Syariah bersumber
dari al-Qur’an dan Hadis; Fikih
bersumber dari hasil Ijtihad para
ulama terhadap al-Qur’an dan
Hadis. Tujuan Syariah dan Fikih
adalah terwujudnya Maqashid
Syariah melalui Ibadah Mahdhah
maupun Ibadah Ghairu Mahdhah

2
AMATI GAMBAR BERIKUT, KEMUDIAN BERIKAN KOMENTAR ATAU
PERTANYAAN YANG RELEVAN

Gambar sebelah kiri menunjukkan aktivitas tadarus al-Qur’an, sedangkan


gambar sebelah kanan mengilustrasikan fenomena tawuran pelajar

sikupu.wordpress.com; saywithwords.wordpress.com; heaheu.blogspot.com

Gambar 1
Hidup Taat atau Hidup Maksiat?

MENGEMUKAKAN KOMENTAR

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

MENGAJUKAN PERTANYAAN

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

MATERI POKOK
A. KONSEP FIKIH DALAM ISLAM
Para ulama Fikih (Fuqaha’) sepakat bahwa orang yang hendak
mempelajari hukum Islam terlebih dahulu harus memahami makna istilah-
istilah penting, seperti Fikih, Syariah, Maqashid Syariah, Ibadah, Ijtihad,
Taqlid, dan sebagainya. Istilah-istilah ini harus dipahami secara tepat
sebagaimana pengertian yang dimaksudkan para ulama Fikih. Jika tidak
demikian, maka sulit memahami hukum Islam.
Definisi Fikih secara bahasa adalah paham, baik secara mendalam
maupun dangkal. Pola fa’–qaf–ha’ menunjukkan pada pemahaman terhadap

3
sesuatu, sehingga setiap pemahaman terhadap sesuatu dapat disebut Fikih.
Selanjutnya kata Fikih ini mengalami penyempitan makna, yaitu hanya
khusus digunakan untuk menyebut ilmu hukum Islam. Dari sinilah muncul
istilah Fakih yang berarti orang yang mengetahui hukum halal dan haram.
Definisi Fikih secara istilah menunjukkan pola perkembangan, yaitu
dari pemaknaan yang bersifat umum dan luas menuju pemaknaan yang
bersifat khusus dan sempit. Definisi pertama Fikih dikemukakan oleh Imam
Abu Hanifah (w. 150 H) sebagai berikut:

‫َٔا‬ِٚ‫ اهِٖفِظِ ًَا َهَٔا ًََٗا عََو‬ُٞ َ‫ًَعِسِف‬


Pengetahuan seseorang tentang hak-haknya dan kewajiban-kewajibannya
Rintisan definisi Fikih yang diajukan Imam Abu Hanifah di atas bersifat
umum, sehingga mencakup hukum-hukum akidah, akhlak dan amaliah
praktis. Inilah yang dikenal dengan istilah al-Fiqhu al-Akbar (Fikih Makro).
Seiring perkembangan zaman, pengertian Fikih menjadi terbatas pada
hukum amaliah saja. Fikih dalam pengertian terbatas ini disebut al-Fiqh al-
Asghar (Fikih Mikro). Fikih dalam pengertian terbatas itulah yang digunakan
hingga sekarang.
Di antara sekian banyak definisi Fikih, definisi yang paling populer dan
disepakati oleh jumhur ulama adalah definisi versi Imam al-Syafi’i berikut ini:

ٖٔٞٚٔ‫ِو‬ٚ‫ص‬
ٔ ِ‫طبٔ ًِّٔ َادَّٔهٔتَٔا اهتٖف‬
َ َ‫ اهٌُِ ِلت‬ٖٞٔٚ‫ اِهعٌََٔو‬ٖٞٔٚ‫اَِهعٔوٍُِ بٔا َألذِلَاَِ اهػٖ ِس ٔع‬
Ilmu tentang hukum-hukum Syariah praktis yang diperoleh dari dalil-
dalilnya yang terperinci.
Kata ٍُ‫( َاهِعِٔو‬al-‘ilm/ilmu pengetahuan) berarti pemahaman yang mencapai
keyakinan maupun dugaan; mengingat hukum-hukum amaliah praktis
terkadang ditetapkan oleh dalil qath’i–yaqini (pasti dan meyakinkan) dan
umumnya ditetapkan oleh dalil zhanni (kira-kira dan dugaan).
Kata َِ‫( األذِلَا‬al-ahkam/hukum-hukum) adalah bentuk jamak dari kata
‘Hukum’. Pengertian Hukum adalah tuntutan Allah SWT yang berhubungan
dengan perbuatan-perbuatan orang mukallaf. Kata al-ahkam mengecualikan
seluruh jenis pengetahuan yang tidak bersinggungan dengan hukum.
Kata ٖٞٚٔ‫ػسِع‬
ٖ ‫اه‬ (al-syar’iyyah/Syariah) mengecualikan hukum-hukum
inderawi –seperti matahari bersinar–, hukum-hukum logika –seperti
keseluruhan itu lebih besar dari sebagian–, hukum-hukum tata bahasa –
seperti Fa’il itu dibaca Rofa’–, dan hukum-hukum lainnya yang tidak
berkaitan dengan Syariah.
Kata ٖٞٚٔ‫( اه َعٌَو‬al-‘amaliyyah/praktis) berhubungan dengan aktivitas hati –
seperti niat– dan aktivitas anggota tubuh lainnya –seperti shalat–. Kata al-
‘amaliyyah ini juga mengecualikan hukum-hukum ilmiah dan keyakinan,
seperti Ushul Fiqih dan Ushuluddin.

4
Kata ‫( اِهٌُلِتَطَب‬al-muktasab/yang diperoleh) bermakna: ilmu pengetahuan
yang digali melalui penalaran dan ijtihad, sehingga mengecualikan ilmu Allah
SWT; ilmu malaikat; ilmu Rasulullah SAW yang dihasilkan melalui wahyu,
bukan melalui ijtihad; serta ilmu yang bersifat pasti (aksiomatis), yaitu ilmu
yang tidak membutuhkan pada dalil dan penalaran, seperti kewajiban shalat
lima waktu.
Kata ِٖٞٚٔ‫ِو‬ٚٔ‫ اهتٖفِص‬َّٞ‫( األٔده‬al-adillah al-tafshiliyyah/dalil-dalil terperinci) berarti
berdasarkan dalil tertentu yang terdapat dalam al-Qur’an, al-Sunnah, Ijma’
dan Qiyas. Kata al-adillah mengecualikan ilmu orang yang bertaklid, karena
dia memperolehnya dari perkataan orang lain, yakni mujtahid atau ulama
Fikih. Sedangkan kata al-tafshiliyyah mengecualikan ilmu Ushul Fiqih yang
mengkaji dalil-dalil global (ِٖٞٚٔ‫اإلجٌَِاه‬/al-ijmaliyyah). Contoh: Dalil shalat dan
zakat menurut Ushul Fiqih adalah al-Qur’an, sedangkan dalil shalat dan zakat
menurut Fikih adalah Surat al-Baqarah: 43.

B. RUANG LINGKUP FIKIH


Menilik definisi Fikih yang dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa objek kajian Fikih terbagi menjadi dua. Pertama, Pengetahuan tentang
hukum-hukum Syariah mengenai perbuatan manusia yang praktis. Kedua,
Pengetahuan tentang dalil-dalil yang terperinci dan mendetail pada setiap
permasalahan. Contoh: jika dikatakan bahwa setiap penambahan dari harta
pokok itu disebut riba, maka harus disertai dalilnya yang terperinci, misalnya
Surat al-Baqarah: 279, bukan menyebut dalil yang global, misalnya al-Qur’an.
Menurut Abdul Wahhab Khallaf, hukum-hukum Syariah dibagi menjadi
tiga. Pertama, Hukum I’tiqadi (Akidah, Keyakinan), yakni hukum yang
bertalian dengan keimanan kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya
dan Hari Kemudian. Kedua, Hukum Khuluqi (Akhlak, Etika), yakni hukum
yang bertalian dengan sifat-sifat terpuji yang diwajibkan kepada manusia
untuk berhias dengannya, dan sifat-sifat tercela yang diwajibkan kepada
manusia untuk menjauhinya. Ketiga, Hukum ‘Amali (Praktis), yakni hukum
yang bertalian dengan perbuatan-perbuatan para mukallaf berupa ibadah
dan muamalah.
Dari tiga jenis hukum Syariah di depan, objek kajian Fikih secara
khusus adalah hukum ‘Amali, yaitu hukum perbuatan-perbuatan orang
mukallaf dari segi tuntutannya, baik perbuatan positif –seperti shalat–,
perbuatan negatif –seperti menggashab– maupun perbuatan alternatif –
seperti makan–. Kajian Fikih bertujuan untuk mengetahui mana perbuatan
yang diwajibkan, disunnahkan, diharamkan, dimakruhkan dan dimubahkan;
serta mana perbuatan yang sah dan yang batal.
Selanjutnya para ulama membagi perbuatan manusia yang menjadi
objek kajian Fikih ke dalam dua bagian, yaitu ibadah dan muamalah.
Berhubung keduanya memiliki posisi yang sama, yaitu sebagai realisasi
ibadah kepada Allah SWT, maka keduanya perlu diberi istilah yang berbeda.
Dari sinilah muncul istilah ibadah mahdhah –ibadah khusus; ibadah ritual
yang tertuju pada hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum-min-Allah)–

5
dan ibadah ghairu mahdhah –ibadah umum; ibadah sosial, yaitu hubungan
manusia dengan manusia (hablum-min-an-nas) maupun ibadah natural, yaitu
hubungan manusia dengan alam semesta (hablum-min-al-‘alam)–. Kemudian
Fikih yang mengkaji ibadah mahdhah disebut Fikih Ibadah, sedangkan Fikih
yang mengkaji ibadah ghairu mahdhah disebut Fikih Muamalah.
Berikut ini topik bahasan Fikih Ibadah dan Fikih Muamalah:
1. Hukum-hukum Ibadah
Hukum-hukum ibadah meliputi thaharah, shalat, zakat, puasa,
haji, perawatan jenazah, kurban dan akikah, serta hukum-hukum lain
yang bertujuan untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT.
Al-Qur’an menyinggung hukum-hukum ibadah dengan berbagai
jenisnya sekitar 140 ayat.
2. Hukum-hukum Muamalah
Hukum-hukum muamalah meliputi berbagai jenis akad yang
bertujuan untuk mengatur hubungan antar umat manusia, baik secara
individu maupun kolektif. Selanjutnya hukum-hukum muamalah ini
terbagi menjadi:
a. Hukum Keluarga (al-Ahwal al-Syakhshiyyah). Yaitu hukum
terkait keluarga mulai dari awal pembinaan hingga
berakhirnya keluarga. Tema bahasannya antara lain:
pernikahan, perceraian, nasab, nafkah dan warisan. Dalam
al-Qur’an terdapat sekitar 70 ayat yang membahas hukum
keluarga. Antara lain: al-Baqarah: 221, 230, 232, 235; al-
Nisa’: 3, 4, 22, 23, 24, 25, 129; al-Nur: 32, 33; al-
Mumtahanah: 10, 11; dan al-Thalaq: 1, 2.
b. Hukum Perdata (al-Madaniyyah). Yaitu hukum yang
berkaitan dengan muamalah antar individu, masyarakat dan
kelompok yang berkaitan dengan harta atau kekayaan dan
memelihara hak masing-masing. Tema bahasannya adalah:
jual beli, sewa-menyewa, gadai, syirkah, dan lain-lain. Al-
Qur’an membahas hukum perdata pada kisaran 70 ayat.
Misalnya: al-Baqarah: 282, 283; dan al-Nisa’: 29.
c. Hukum Pidana (al-Jinaiyyah). Yaitu hukum menyangkut
kejahatan yang dilakukan mukallaf dan sanksi pidana yang
pantas diterima. Hukum ini dimaksudkan untuk memelihara
ketentraman hidup, harta kekayaan, kehormatan, hak-hak
dan kewajiban manusia. Bahasan hukum pidana ini terdapat
dalam sekitar 30 ayat al-Qur’an. Misalnya: al-Baqarah: 178,
179; al-Nisa’: 92, 93; al-Nur: 2; dan Shad: 40.
d. Hukum Acara (al-Murafa’at). Yaitu hukum yang
berhubungan dengan lembaga pengadilan, masalah saksi
dan sumpah, serta melaksanakan prinsip-prinsip keadilan
antra manusia. Setidaknya ada 20 ayat (versi Wahbah
Zuhaili) atau 13 ayat (versi ‘Abd al-Wahhab Khallaf) yang
terkait bahasan ini. Misalnya: al-Baqarah: 282; al-Nisa’: 65,
105; al-Maidah: 8; dan Shad: 26.

6
e. Hukum Perundang-undangan (al-Dusturiyyah). Yaitu hukum
yang terkait aturan dan dasar-dasar hukum. Hukum yang
memberikan ketentuan-ketentuan bagi hakim dan terdakwa,
serta penetapan hak-hak pribadi dan masyarakat. Hukum ini
tertera dalam al-Qur’an sekitar 10 ayat. Misalnya: Ali ‘Imran:
104, 110, 159; al-Nisa’: 59; dan al-Syura: 38.
f. Hukum Ketatanegaraan (al-Dawliyyah). Yaitu hukum yang
membicarakan tentang hubungan antara Negara-negara
Islam dan Negara-negara non-Islam; serta aturan pergaulan
antar non-Muslim di dalam Negara Islam maupun antara
umat Islam dengan non-Muslim di Negara Islam. Ada sekitar
25 ayat yang relevan dengan hukum ketatanegaraan.
Misalnya: al-Baqarah: 190, 191, 192, 193; al-Anfal: 39, 41; al-
Tawbah: 29, 123; dan al-Hajj: 39, 40.
g. Hukum Ekonomi dan Harta Benda (al-Iqtishadiyyah wa al-
Maliyyah). Yaitu hukum yang memperbicangkan hak-hak
fakir miskin, kewajiban orang kaya serta mengatur sumber-
sumber pendapatan dan pembelanjaannya. Bahasan ini
meliputi harta milik negara, masyarakat, keluarga hingga
milik pribadi. Setidaknya ada 10 ayat yang berhubungan
dengan hukum ini. Misalnya: al-Baqarah: 275, 282, 284; Ali
‘Imran: 130; al-Nisa’: 29; dan al-Muthaffifin: 1, 2, 3.

C. HUBUNGAN FIKIH, SYARIAH DAN IBADAH


Syariah menurut bahasa adalah sumber mata air; tempat mengalirnya
air dari sungai; jalan yang terang-benderang; jalan ketuhanan. Menurut
istilah, Syariah adalah apa yang disyariatkan oleh Allah SWT melalui lisan
Nabi Muhammad SAW maupun para nabi sebelumnya, tentang urusan
agama. Menurut pendapat lain, Syariah adalah hukum-hukum yang diperoleh
Nabi Muhammad SAW melalui jalur wahyu.
Meskipun dalam penggunaannya sering disamakan antara Fikih dengan
Syariah, sebenarnya kedua istilah ini memiliki pengertian yang berbeda.
Pengertian Syariah mengalami perkembangan, kalau semula Syariah
dipahami sebagai segala peraturan yang datang dari Allah SWT, baik berupa
hukum akidah, amaliah maupun akhlak, tetapi kemudian diartikan hanya
sebagai hukum amaliah. Perbedaannya dengan Fikih adalah: Syariah
merupakan hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis, sedangkan
Fikih merupakan hasil pemahaman dan penafsiran para ulama terhadap
teks-teks al-Qur’an dan Hadis serta hasil ijtihad mereka terhadap peristiwa
yang hukumnya tidak ditemukan di dalam kedua sumber tersebut.
Jasser Auda mengklarifikasi bahwa Fikih mencerminkan dimensi insani
(kemanusiaan) dalam hukum Islam, sedangkan Syariah mencerminkan
dimensi Ilahi (ketuhanan) dalam hukum Islam. Oleh sebab itu, istilah Faqih
(ahli Fikih) ditujukan kepada manusia yang memiliki pemahaman dan tidak
boleh ditujukan kepada Allah SWT. Di sisi lain, istilah al-Syari’ (Pemilik
Syariah) hanya ditujukan kepada Allah SWT dan tidak boleh ditujukan

7
kepada manusia, kecuali kepada Nabi Muhammad SAW, ketika berperan
untuk menyampaikan wahyu dari Allah SWT.
Berikut ini pokok-pokok perbedaan antara Syariah dengan Fikih:
SYARIAH FIKIH
Ilahi (ketuhanan) Insani (manusiawi)
Abadi (permanen) Dinamis (berubah-ubah)
Al-Qur’an dan Hadis Kitab-kitab Fikih
Luas, memuat hukum Akidah, Sempit, hanya memuat hukum
Amaliah (praktis) dan Akhlak Amaliah (praktis)
Berlaku universal-homogen Berlaku heterogen
Bersifat qath’i (pasti) Bersifat zhanni (dugaan)

Contoh Praktis Perbedaan Syariah dan Fikih


Al-Qur’an memerintahkan shalat, sedangkan Hadis menjelaskan bahwa
shalat yang diwajibkan adalah Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Ini
adalah Syariah yang sifatnya universal-homogen. Dalam konteks Fikih yang
sifatnya heterogen, ada yang membaca Basmalah dalam shalat Maghrib
dengan suara keras (jahr) dan ada pula yang membacanya dengan suara lirih
(sirr). Keduanya sama-sama benar, karena memiliki landasan dalil Hadis.

Maqashid Syariah
Syariah Islam memiliki tujuan-tujuan agung yang disebut Maqashid
Syariah. Menurut hasil kesepakatan ulama, ada lima Maqashid Syariah dalam
Islam: Hifzh al-Din, Hifzh al-Nafs, Hifzh al-‘Aql, Hifhz al-Nasl dan Hifhz al-Mal.
Masing-masing Maqashid Syariah tersebut memiliki dua konteks, yaitu
proaktif dan protektif. Proaktif berarti usaha untuk mewujudkan,
mengokohkan atau mengembangkan, sedangkan protektif berarti usaha
untuk menjaga atau mempertahankan. Berikut uraian lebih lanjut:
1. Hifzh al-Din (pelestarian agama). Dalam konteks proaktif, Allah
SWT mewajibkan umat muslim agar melaksanakan rukun Islam.
Dalam konteks protektif, Allah SWT melarang kemusyrikan,
kekafiran, kemurtadan, kemunafikan hingga kefasikan.
2. Hifzh al-Nafs (pelestarian jiwa-raga). Dalam konteks proaktif,
Allah SWT memerintahkan makan, minum, berpakaian dan
berolahraga untuk kesehatan jasmani dan ruhani. Dalam konteks
protektif, Allah SWT melarang pembunuhan, bunuh diri,
pertengkaran hingga melukai orang lain.
3. Hifzh al-‘Aql (pelestarian akal). Dalam konteks proaktif, Allah SWT
memerintahkan aktivitas belajar-mengajar yang berfungsi untuk
mengembangkan akal dengan ilmu pengetahuan. Dalam konteks
protektif, Allah SWT melarang manusia untuk mengonsumsi
makanan dan minuman yang dapat merusak atau melemahkan
kemampuan otak, misalnya mengonsumsi narkotika. Bahkan
pelakunya akan mendapatkan hukuman yang berat.
4. Hifzh al-Nasl (pelestarian keluarga/keturunan). Dalam konteks
proaktif, Allah SWT mensyariahkan pernikahan agar manusia
terus menerus berkembang-biak. Dalam konteks protektif, Allah

8
SWT melarang perzinahan [termasuk pacaran], tuduhan zina,
hubungan sesama jenis, dan lain-lain.
5. Hifzh al-Mal (pelestarian harta). Dalam kontotasi proaktif, Allah
SWT memerintahkan bekerja mencari nafkah yang halal,
mensyariahkan berbagai akad muamalah yang halal, seperti jual
beli. Dalam konteks protektif, Allah SWT melarang pencurian
[termasuk korupsi], perampokan, praktik riba dan akad-akad
yang mengandung penipuan.
Berikut ini tabel yang memuat contoh-contoh Maqashid Syariah dalam
konteks proaktif maupun protektif:
Tabel 1
Contoh-contoh Maqashid Syariah

KONTEKS PROAKTIF KONTEKS PROTEKTIF


MAQASHID SYARIAH
[Perintah, Anjuran] [Larangan, Ancaman]
Hifzh al-Din  Shalat  Meninggalkan shalat
(Pelestarian Agama)  Membaca al-Qur’an  Percaya horoskop
Hifzh al-Nafs  Olahraga  Merokok
(Pelestarian Jiwa-Raga)  Makanan bergizi  Berkelahi
 Mengonsumsi
Hifzh al-‘Aql  Membaca-Menulis
narkoba
(Pelestarian Akal)  Penelitian
 Menyontek
Hifzh al-Nasl  Menikah  Berpacaran
(Pelestarian Keluarga)  Silaturrahim  Berzina
Hifzh al-Mal  Bekerja  Pengangguran
(Pelestarian Harta)  Menabung  Korupsi

Selanjutnya seluruh aktivitas sehari-hari yang selaras dengan Maqashid


Syariah tergolong ibadah, baik dalam konteks ibadah mahdhah maupun
ghairu mahdhah, sebagaimana sub bahasan berikutnya.

D. IBADAH
1. Pengertian Ibadah
Menurut bahasa, ibadah berasal dari kata َ‫ِ – عَبَد‬ٖٞٙٔ‫ عَبِِ٘د‬yang berarti
menampakkan kepatuhan. Makna ibadah lebih dalam dari itu, yaitu
puncak kepatuhan sehingga hanya pantas diberikan kepada Allah SWT.
Menurut istilah, ibadah adalah ketaatan yang dituntut oleh Allah
SWT agar dilaksanakan oleh para hamba-Nya, dengan cara tertentu,
dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, mensyukuri atas
karunia-Nya, serta mencari pahala di dunia dan akhirat.
2. Sumber Hukum Ibadah
Begitu pentingnya ibadah dalam Islam, tercermin dari banyaknya
ayat al-Qur’an yang memuat kata “ibadah” dan bentukannya, yaitu
disebutkan sebanyak 275 kali dalam 251 ayat. Surat al-Dzariyat: 56
merupakan ayat yang populer dijadikan sebagai dalil ibadah:

9
      
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S. al-Dzariyat [51]: 56)
Rasulullah SAW memotivasi umat muslim agar melatih anak-
anaknya beribadah sejak kecil, misalnya memerintahkan anak-anak
agar mengerjakan shalat pada usia 7 tahun. Bahkan dalam sebuah
Hadis, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh
golongan yang dijanjikan memperoleh perlindungan di akhirat nanti
adalah generasi muda yang rajin ibadah. Berikut kutipannya:

‫ظُّٔؤٍُُ اهللُ يف‬ُٙ َْٞ‫ضِبع‬


َ " :ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬ٚ‫ اهللُ عََو‬َّٟ‫ضِ٘يُ اهللٔ صَو‬
ُ َ‫ قَايَ ز‬:ُِٕ‫َ اهللُ َع‬ٛٔ‫َ زَض‬ٝ‫ِ َس‬َٙ‫ِ ُٓس‬ٛٔ‫َعِّ اَب‬

‫ َٗ َزجُىْ قَِوبُُٕ ًُعَوَّ ْق‬،َٟ‫ٔ اهللٔ َتعَاه‬ٝ‫ ٔعبَا َد‬ٛٔ‫ َٗغَابْ َُػَأَ ف‬، ْ‫ إًَاَْ عَأدي‬: ُُّٕ‫ِ٘ َ ال ظٔىٖ إِالَّ ظٔو‬َٙ ِّٕٔ‫ظٔو‬

)ٕٚ‫" (ًتفق عو‬... ٔ‫ اهِ ٌَطَاجٔد‬ٟٔ‫ف‬


Abu Hurairah RA meriwayatkan. Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh
(golongan) yang akan dinaungi oleh Allah SWT di bawah naugan-Nya,
pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya: “Pemimpin yang
adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT; pemuda
yang hatinya terikat oleh masjid-masjid…” (H.R. Muttafaq ‘Alaih).
3. Tujuan Ibadah
Allah SWT telah mensyariahkan ibadah untuk menjalin hubungan
antara hamba dan Sang Khaliq serta mengajarkan kepada manusia
bagaimana cara berhubungan dengan Allah SWT. Melalui ibadah, jiwa
dan hati manusia akan jernih, ruhnya akan meningkat, lalu dapat
menjaganya dari berbagai jenis keburukan dan kerusakan.
4. Jenis Ibadah
Dari segi ruang lingkupnya, ibadah dibagi menjadi dua jenis:
a. Ibadah Mahdhah (ibadah murni; khusus) adalah ibadah yang
mencerminkan hubungan antara manusia dengan Allah SWT
(Habl min Allah). Tata caranya diatur dan ditentukan dalam
al-Qur’an maupun Hadis secara khusus, sehingga bersifat
permanen (tsawabit), tidak berubah-ubah. Biasanya disebut
Fikih Ibadah. Contoh: Shalat, Zakat, Puasa, Haji.
b. Ibadah Ghairu Mahdhah (ibadah tidak murni; umum) adalah
ibadah yang mencerminkan hubungan antara manusia
dengan sesama manusia (Habl min al-Nas) dan hubungan
antara manusia dengan alam semesta (Habl min al-‘Alam).
Tata caranya diatur dan ditentukan dalam al-Qur’an dan
Hadis secara umum, sehingga bersifat dinamis, dapat
berubah-ubah (mutaghayyirat). Biasanya disebut Fikih
Muamalah. Contoh: Jual beli dan pelestarian lingkungan.

10
Dari segi bentuknya, ibadah dibagi menjadi tiga:
a. Ibadah Badan Murni (َِٞ‫رط‬
ِ ًَ َُِٖٞٚٔ‫ِ بَد‬َٝ‫) ٔعبَاد‬. Tidak boleh diwakilkan.
Misalnya: Shalat dan Puasa.
b. Ibadah Harta Murni (َِٞ‫رط‬
ِ ًَ َِٞٚٔ‫ِ ًَاه‬َٝ‫) ٔعبَاد‬. Boleh diwakilkan.
Misalnya: Zakat.
c. Ibadah Badan dan Harta (َِٞٚٔ‫ِ ًَاه‬َُٖٞٚٔ‫ِ بَد‬َٝ‫) ٔعبَاد‬. Boleh diwakilkan
ketika tidak mampu. Misalnya: Haji.
5. Prinsip-prinsip Ibadah
Agar ibadah diterima di sisi Allah SWT, maka ada sejumlah
prasyarat yang harus dipenuhi. Pertama, Muraqabah, yaitu seseorang
beribadah seakan-akan Allah SWT mengawasinya. Dia yakin bahwa
Allah SWT senantiasa bersamanya dalam setiap aktivitas, gerak
maupun diam. “Dan Dia bersama kalian, di manapun kalian berada”
(Q.S. al-Hadid: 4). Kedua, Ikhlas, yaitu seseorang beribadah semata-
mata karena mengharapkan ridha Allah SWT; tidak begitu
mempedulikan harapan mendapatkan pahala maupun takut siksa.
Termasuk juga, mencegah diri dari riya’, yaitu beramal agar
mendapatkan perhatian dari manusia. Ketiga, disiplin waktu.
Hendaknya seseorang mengerjakan ibadah sesuai dengan waktunya,
bahkan yang lebih baik adalah bergegas beribadah di awal waktu.

RANGKUMAN
1. Pilar utama ajaran Islam adalah Iman, Islam dan Ihsan. Iman terkait
Akidah, Islam terkait Syariah dan Ihsan terkait Akhlak.
2. Definisi Fikih yang paling populer dan disepakati oleh jumhur ulama
adalah definisi versi Imam al-Syafi’i berikut ini:

ٖٔٞٚٔ‫ِو‬ٚ‫ص‬
ٔ ِ‫طبٔ ًِّٔ َادَّٔهٔتَٔا اهتٖف‬
َ َ‫ اهٌُِ ِلت‬ٖٞٔٚ‫ اِهعٌََٔو‬ٖٞٔٚ‫اَِهعٔوٍُِ بٔا َألذِلَاَِ اهػٖ ِس ٔع‬
Ilmu tentang hukum-hukum Syariah praktis yang diperoleh dari dalil-
dalilnya yang terperinci.
3. Syariah mencerminkan dimensi Ilahi (ketuhanan) karena bersumber
dari al-Qur’an dan Hadis, sedangkan Fikih berdimensi Insani (manusia)
karena bersumber dari hasil ijtihad para ulama.
4. Maqashid Syariah adalah tujuan-tujuan agung dalam Syariah Islam yang
meliputi Hifzh al-Din (pelestarian agama), Hifzh al-Nafs (pelestarian
jiwa-raga), Hifzh al-‘Aql (pelestarian akal), Hifzh al-Nasl (pelestarian
keluarga/keturunan) dan Hifzh al-Mal (pelestarian harta).
5. Ibadah terbagi menjadi dua macam. Pertama, Ibadah mahdhah adalah
ibadah yang berhubungan antara manusia dengan Allah SWT (habl min
Allah). Kedua, Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang berhubungan
antara manusia dengan manusia (habl min al-nas) atau antara manusia
dengan alam semesta (habl min al-‘Alam).

11
TUGAS
1. Project Based Learning: Buatlah jadwal ibadah berbasis Maqashid
Syariah seperti contoh di bawah ini, kemudian isilah dengan aktivitas
sehari-hari yang Anda lakukan dalam satu pekan ke depan:

Hifzh al-Din Hifzh al-Nafs Hifzh al-‘Aql Hifzh al-Nasl Hifzh al-Mal
Tahajjud Jogging Membaca Silaturrahim Menabung
…………… …………… …………… …………… ……………
…………… …………… …………… …………… ……………
…………… …………… …………… …………… ……………

2. Problem Based Learning: Susunlah artikel singkat yang membahas


tentang problematika fikih modern beserta jawabannya menurut al-
Qur’an, Hadis atau ijtihad ulama. Contoh: hukum tayammum di pesawat
terbang, hukum shalat jamak karena faktor kemacetan, dll.
3. Discovery Learning: Temukanlah alasan-alasan rasional mengapa
manusia diperintahkan agar beribadah kepada Allah SWT melalui
ibadah mahdhah, berinteraksi sosial dan melestarikan alam semesta
melalui ibadah ghairu mahdhah.

KEGIATAN
1. Buatlah kliping dari media cetak (koran, buletin, majalah), elektronik
(televisi, radio) maupun internet (berita digital, grup bbm, whatsapp,
instagram, facebook, twitter, dll.) yang memuat berita tentang kisah
nyata seorang muslim yang ahli ibadah, baik ibadah mahdhah maupun
ghairu mahdhah.
2. Buatlah slide (power point) tentang konsep Fikih dalam Islam dengan
sistematika penulisan: judul, latar belakang masalah, rumusan masalah,
pembahasan dan simpulan. Agar lebih menarik, lengkapi pula dengan
ilustrasi gambar, musik pengiring, video yang relevan, dll.
3. Buatlah postingan di media sosial tentang konsep Fikih dalam Islam
untuk memotivasi ibadah kepada sesama umat muslim.

UJI KOMPETENSI
Soal Pilihan Ganda
1. Hubungan antar pilar ajaran Islam yang benar adalah…
a. Iman = Akidah, Islam = Akhlak, Ihsan = Amaliah
b. Iman = Akhlak, Islam = Amaliah, Ihsan = Akidah
c. Iman = Amaliah, Islam = Akidah, Ihsan = Akhlak
d. Iman = Akidah, Islam = Amaliah, Ihsan = Akhlak
e. Iman = Akhlak, Islam = Akidah, Ihsan = Amaliah
2. Siapakah nama ulama yang menyatakan bahwa Fikih itu memuat
Akidah, Amaliah dan Akhlak….
a. Imam Hanafi d. Imam Hambali
b. Imam Maliki e. Imam Ghazali
c. Imam Syafii

12
3. Redaksi yang menunjukkan bahwa Fikih merupakan hasil ijtihad para
ulama adalah…
a. ٍُِ‫اهعٔو‬ d. ُ‫اهٌِلِتَطَب‬

b. ُٖٞٚٔ‫ػسِع‬
ٖ ‫األذِلَاَُ اه‬ e. ُٖٞٚٔ‫ِو‬ٚٔ‫ُ اهتٖٓفِص‬ٞ‫األَٔدَّه‬

c. ُٖٞٚٔ‫اهِ َعٌَو‬
4. Istilah bagi Fikih yang hanya memuat hukum Amaliah adalah…
a. Fikih Mikro d. Fikih Manhaji
b. Fikih Makro e. Fikih Qauli
c. Fikih Prioritas
5. Arti kata “Fikih” secara bahasa adalah…
a. Sumber air d. Paham
b. Tujuan e. Patuh
c. Yakin
6. Arti kata “Syariah” secara bahasa adalah…
a. Sumber air d. Paham
b. Tujuan e. Patuh
c. Yakin
7. Al-Ahwal al-Syakhshiyyah adalah hukum Fikih yang membahas…
a. Hukum keluarga d. Hukum tata negara
b. Hukum perdata e. Hukum ekonomi
c. Hukum pidana
8. Hukum Fikih yang membahas tentang hukum ekonomi adalah…
a. Al-Ahwal al-Syakhshiyyah d. Al-Dusturiyyah
b. Al-Madaniyyah e. Al-Iqtishadiyyah wa al-
c. Al-Jina’iyyah Maliyah
9. Persamaan antara Syariah dan Fikih adalah…
a. Sama-sama bersifat pasti (qath’i)
b. Sama-sama bersifat Ilahi (ketuhanan)
c. Sama-sama bersifat permanen (tsawabit)
d. Sama-sama menyangkut hukum praktis (amaliah)
e. Sama-sama bersifat universal-homogen
10. Perbedaan antara Syariah dan Fikih adalah…
a. Syariah bersifat Ilahi, Fikih bersifat Insani
b. Syariah bersifat dinamis, Fikih bersifat permanen
c. Syariah bersifat zhanni, Fikih bersifat qath’i
d. Syariah bersifat heterogen, Fikih bersifat universal-homogen
e. Syariah bersifat bersumber dari ijtihad, Fikih bersumber dari al-
Qur’an dan Hadis
11. Urutan Maqashid Syariah yang benar adalah…
a. Hifzh al-Din – Hifzh al-Nafs – Hifzh al-‘Aql – Hifzh al-Nasl – Hifzh al-
Mal
b. Hifzh al-Nafs – Hifzh al-‘Aql – Hifzh al-Nasl – Hifzh al-Mal – Hifzh al-
Din
c. Hifzh al-‘Aql – Hifzh al-Nasl – Hifzh al-Mal – Hifzh al-Din – Hifzh al-
Nafs

13
d. Hifzh al-Nasl – Hifzh al-Mal – Hifzh al-Din – Hifzh al-Nafs – Hifzh al-
‘Aql
e. Hifzh al-Mal – Hifzh al-Din – Hifzh al-Nafs – Hifzh al-‘Aql – Hifzh al-
Nasl
12. Contoh Hifzh al-Nafs adalah….
a. Shalat jamaah di masjid d. Menikahi pasangan yang
b. Mengonsumsi air putih shalih-shalihah
c. Menjadi penulis buku e. Rajin berinvestasi yang
halal
13. Contoh Hifzh al-Nasl adalah…
a. Shalat jamaah di masjid d. Menikahi pasangan yang
b. Mengonsumsi air putih shalih-shalihah
c. Menjadi penulis buku e. Rajin berinvestasi yang
halal
14. “Mengikuti olimpiade sains tingkat provinsi” adalah contoh dari…
a. Hifzh al-Din d. Hifzh al-Nasl
b. Hifzh al-Nafs e. Hifzh al-Mal
c. Hifzh al-‘Aql
15. “Berwiraswasta yang halal” adalah contoh dari….
a. Hifzh al-Din d. Hifzh al-Nasl
b. Hifzh al-Nafs e. Hifzh al-Mal
c. Hifzh al-‘Aql
16. Redaksi yang menunjukkan perintah ibadah adalah…
a. ُ‫ًََٗا خَوَقِت‬ d. َّ‫إِال‬

b. َ‫اإلُِظ‬ e. ُِِْٗ‫َعِبُد‬ٚٔ‫ه‬

c. ‫ٗاإلُِظ‬
17. Contoh ibadah mahdhah adalah…
a. Membaca al-Qur’an d. Merawat tanaman
b. Rajin belajar e. Menjaga kebersihan
c. Bekerja yang halal
18. Contoh ibadah ghairu mahdhah adalah…
a. Shalat d. Haji
b. Zakat e. Silaturrahim
c. Puasa
19. “Mengharapkan rahmat dari Allah SWT” adalah pengertian dari…
a. Ikhlas d. Raja’
b. Muraqabah e. Khauf
c. Mahabbah
20. “Beribadah semata-mata karena mengharapkan ridho Allah SWT”
adalah pengertian dari…
a. Ikhlas d. Raja’
b. Muraqabah e. Khauf
c. Mahabbah

14
Soal Esai
1. Apa saja tiga pilar utama ajaran Islam?
2. Tuliskan definisi Fikih yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i!
3. Jelaskan perbedaan antara Fikih dan Syariah dalam bentuk matrik!
4. Sebutkan lima Maqashid Syariah dalam Islam!
5. Berikan contoh Hifzh al-‘Aql dalam konteks positif maupun negatif!
6. Artikan dalil ibadah berikut ini!

      


7. Jelaskan macam-macam ibadah dari segi ruang lingkupnya!
8. Sebutkan hukum-hukum Fikih yang termasuk hukum muamalah!
9. Bagaimana tips-tips agar ibadah diterima oleh Allah SWT?
10. Gambarkan hubungan antara Syariah, Fikih dan Ibadah dalam bentuk
peta konsep (mind-mapping)!

15
Bab II
PENGURUSAN JENAZAH

Kata Kunci: Sakit, Sakaratul Maut, Kematian, Ta’ziyah, Jenazah


Kematian merupakan suatu keniscayaan bagi umat manusia, “Setiap
yang bernyawa akan merasakan kematian” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 185).
Kematian adalah misteri yang hanya diketahui oleh Allah SWT, “Jiwa tidak
mengetahui di bagian bumi mana ia meninggal dunia” (Q.S. Luqman [31]: 34).
Manusia tidak bisa menghindari kematian, di manapun manusia
bersembunyi, kematian pasti akan menemukannya, “Di manapun kalian
berada, niscaya kematian akan menyusul kalian, meskipun kalian berada di
benteng yang kokoh” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 78). Oleh sebab itu, sia-sia saja jika
manusia berusaha melarikan diri dari kematian, “Katakanlah, tidak akan
bermanfaat bagi kalian melarikan diri dari kematian” (Q.S. al-Ahzab [33]: 16).
Kematian tidak akan datang lebih cepat maupun lebih lambat, kematian
akan tiba ketika memang sudah ajalnya, yakni masuk waktu yang ditetapkan
oleh Allah SWT, “Jiwa tidak akan mengalami kematian, kecuali atas izin Allah”
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 145). Ketika itu, datanglah Malaikat Maut, “Katakanlah,
yang mewafatkan kalian adalah malaikat maut yang diwakilkan kepada
kalian” (Q.S. al-Sajdah [32]: 11), kemudian manusia akan merasakan
sakaratul maut, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Qaf [50]: 19

          
Dan datanglah sakaratul maut dengan nyata. Itulah yang kamu selalu lari
daripadanya.
Bab kedua ini membahas seluk beluk amalan khas Islam terkait
kematian, mulai dari menjenguk orang yang sakit, sakaratul maut, ta’ziyah
dan perawatan jenazah yang meliputi memandikan, mengafani, menshalati
dan menguburkan.

Kompetensi Inti :
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan

16
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan baksat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar dan Indikator:


3. Menganalisis tata cara pengurusan jenazah dan hikmahnya
3.1. Menjelaskan kewajiban umat Islam terhadap orang yang
meninggal
3.2. Menjelaskan tata cara memandikan jenazah
3.3. Menjelaskan tata cara mengkafani jenazah
3.4. Menjelaskan tata cara menshalati jenazah
3.5. Menjelaskan tata cara menguburkan jenazah
4. Memperagakan tata cara penyelenggaraan jenazah
4.1. Mempraktikkan pengurusan jenazah

PETA KONSEP Catatan: Sakit merupakan sebab


kematian yang paling dominan,
sehingga umat muslim dianjurkan
menjenguk orang sakit. Sebelum
meninggal, manusia mengalami
sakaratul maut. Jika ada orang
wafat, umat muslim disunahkan
untuk ta’ziyah, lalu dilanjutkan
perawatan jenazah, yang dimulai
dari memandikan, mengafani,
menshalati dan menguburkan.

17
AMATI GAMBAR BERIKUT, KEMUDIAN BERIKAN KOMENTAR ATAU
PERTANYAAN YANG RELEVAN

Gambar sebelah kiri adalah jenazah wanita dalam keadaan tersenyum yang
wafat ketika sedang menunaikan ibadah haji, sedangkan gambar sebelah
kanan adalah mayat Fir’aun (Minephtah [1232-1224 SM], putra Ramses II)
yang diinformasikan jasadnya utuh sebagai peringatan bagi umat manusia
(Q.S. Yunus [10]: 92)

www.tulisanistrisholihah.blogspot.co.id; www.darkofmystery. blogspot.com


Gambar 2.1
Perbandingan Jenazah yang Wafat dalam Keadaan Tersenyum dan
Mayat Firaun (Minephtah, Putra Ramses II) yang Jasadnya Utuh

MENGEMUKAKAN KOMENTAR

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

MENGAJUKAN PERTANYAAN

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

18
MATERI POKOK
A. MENJENGUK ORANG SAKIT
Menjenguk orang sakit hukumnya sunah. Berdasarkan Hadis al-Barra’
yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan para shahabat
untuk mengiringi jenazah dan menjenguk orang sakit.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasululah SAW bersabda: “Hak
orang muslim atas muslim lain ada enam: Jika engkau bertemu dengan orang
muslim, maka ucapkanlah salam kepadanya; jika dia mengundangmu, maka
datangilah; jika dia meminta nasihat kepadamu, maka nasihatilah; jika dia
bersin, lalu mengucap Hamdalah, maka doakanlah; jika dia sakit, maka
jenguklah; jika dia wafat, maka iringilah”.
Berikut adalah akhlak yang disunahkan ketika menjenguk orang sakit:
1. Mendoakan si sakit agar mendapatkan kesembuhan. ‘Aisyah RA
meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW pergi menjenguk
orang sakit –atau beliau yang dijenguk ketika sedang sakit– maka
Rasulullah SAW berdoa:

َ‫ غٔفَاءّ ال‬،َ‫ الَ غٔفَاءَ إِالَّ غٔفَاؤُن‬،ٛٔ‫ اغِفٔ َٗأَُِتَ اهػٖاف‬،ِ‫ا َّهؤٍُٖ زَبٖ اهِٖاعِ ًُرِٓٔبَ اهِبَاع‬

)ِٜٗ‫ػَأدزُ ضَقٌَّا ( َزَٗاُٖ اِهُبخَاز‬ُٙ


Ya Allah, Tuhan manusia, Dzat yang menghilangkan penyakit.
Mohon sembuhkanlah, karena Engkau adalah Dzat Yang Maha
Menyembuhkan. Tiada kesembuhan, kecuali kesembuhan yang
Engkau anugerahkan. Kesembuhan yang tidak lagi dihinggapi
sakit. (H.R. Bukhari)
2. Membacakan Surat al-Fatihah di dekat si sakit.
3. Menanyakan kesehatan si sakit dan memberinya motivasi yang
menyenangkan hatinya.
4. Tidak berlama-lama ketika menjenguk si sakit dan memilih waktu
yang tepat, yaitu pagi, sore atau malam, bukan di tengah siang.

B. SAKARATUL MAUT
Berikut ini tanda-tanda sakaratul maut sebagaimana disarikan dari
berbagai sumber:
1. Nafasnya cepat dan dangkal seperti orang yang tengah lari.
2. Suhu badan naik tiba-tiba dan denyut jantung lebih cepat, lalu
suhu tubuh dingin dikuti frekuensi denyut nadi yang menurun.
3. Merasa resah dan gelisah serta keringat bercucuran.
4. Tangan berwarna kebiru-biruan dan sekujur tubuh akan
mendingin mulai dari ujung kaki hingga ke seluruh tubuh.
5. Mulutnya mengeluarkan kata-kata (jika orang shalih, maka
mengucapkan kalimat thayyibah atau zikir; sebaliknya orang yang
zalim akan mengucapkan kata-kata kotor).
6. Hilangnya penginderaan dan gerakan secara berangsur-angsur
dimulai dari ujung kaki, tangan, dan ujung hidung yang terasa
dingin.

19
7. Kulit tubuh nampak kebiru-biruan agak abu-abu atau pucat.
8. Tekanan darah menurun, otot rahang terlihat mengendur dan
wajah terlihat penuh kepasrahan.
Menurut Syekh Nawawi Banten, di antara tanda-tanda jenazah yang
husnul-khatimah (akhir yang terpuji) adalah keningnya berkeringat; kedua
matanya mengeluar-kan air mata; janur hidungnya mengembang dan
wajahnya ceria (tersenyum). Sedangkan tanda-tanda jenazah yang su’ul
khatimah (akhir yang tercela) adalah wajahnya kelihatan sedih dan takut;
ruhnya sulit keluar, bahkan sampai seminggu; kedua sudut bibirnya berbusa.
Adapun akhlak terhadap orang yang mengalami sakaratul maut adalah:
1. Menidurkan miring ke kanan dengan menghadap kiblat.
2. Selalu mengingatkan waktu-waktu shalat.
3. Menalqin dengan kalimat syahadat atau minimal dengan kalimat
Jalalah (Allah).
4. Memberi wewangian dan menyiwaki.
5. Membaca al-Qur’an di samping orang yang sekarat mati.
6. Memberi minum, terutama jika ada tanda bahwa orang yang
sekarat mati (muhtadhar) meminta minum.
Jika seorang muslim meninggal dunia, maka seseorang dari mahramnya
atau orang yang sama jenis kelaminnya segera melakukan hal-hal berikut ini:
a. Memejamkan matanya dengan membaca:

ٛٔ‫ ا َّهؤٍُٖ اغِفٔسِ هَُٕ (َهَٔا) َٗازِفَعِ َدزَ َجتَُٕ ( َد َزجََتَٔا) ف‬.ٔ‫ضِ٘يِ اهلل‬
ُ َ‫ٔ ز‬َّٞ‫ ًٔو‬َٟ‫ٔبطٍِِ اهللٔ َٗعَو‬

.ٌََِّٚٔ‫ب اِهعَاه‬
ٖ َ‫َا ز‬ٙ )‫ِِّ َٗاغِفٔ ِس َهَِا َٗهَُٕ (َٗهَٔا‬َٚٙٔ‫اهِ ٌَِٔد‬
Dengan menyebut nama Allah dan agama Rasulullah. Ya Allah,
mohon Engkau ampuni dia, Engkau angkat derajatnya dalam
golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk; mohon
Engkau ampuni kami dan dia, wahai Tuhan alam semesta.
b. Tangan disedekapkan.
c. Kedua rahang diikat dengan tali lebar.
d. Sendi-sendi yang kaku diluruskan dengan minyak atau air teh
yang hangat.
e. Perut ditindih bantal (atau sesuatu yang agak berat) agar tidak
membesar dan kotoran bisa mudah keluar.
f. Mengganti pakaian dan menutupinya dengan kain panjang.
g. Diletakkan di balai-balai [tempat duduk atau tempat tidur yang
terbuat dari bambu atau kayu] atau dipan yang agak tinggi.
h. Menyegerakan perawatan jenazah.
i. Mengumumkan berita duka atas kematiannya.
j. Mengurusi hutang-hutangnya, termasuk membayarkan fidyah,
zakat dan wasiatnya.
k. Setiap mengangkat dan memindahkan jenazah selalu membaca:

.ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬ٚ‫ اهللُ عََو‬َّٟ‫ضِ٘ ِي اهللٔ صَو‬


ُ َ‫ٔ ز‬َّٞ‫ ًٔو‬َٟ‫ٔبطِ ٍِ اهللٔ َٗعَو‬
Dengan menyebut nama Allah dan agama Rasulullah SAW

20
C. TA’ZIYAH
Secara etimologi, ta'ziyah berasal dari akar kata ‘aza–ya‘zi, yang berarti
menghibur atau mendorong agar sabar. Sehubungan dengan meninggalnya
seseorang, ta'ziyah berarti mengunjungi keluarga yang tertimpa musibah
kematian dengan tujuan menghibur dan membesarkan hati agar bersabar.
Jadi, ta’ziyah adalah menghibur keluarga jenazah, membesarkan hati
mereka agar bersabar, menyarankan agar ridha terhadap qadha’-qadar Allah
SWT, dan mendoakan jenazah yang berstatus muslim.
Ta’ziyah hukumnya sunah dilakukan selama tiga hari sejak terjadinya
musibah kematian, baik sebelum jenazah dikuburkan maupun sesudahnya.
Akan tetapi, yang lebih utama ta’ziyah dilakukan sebelum jenazah
dikuburkan. Jika lebih dari tiga hari, maka hukum ta’ziyah makruh, kecuali
bagi orang yang memang tinggalnya jauh dari rumah duka. Demikian
keterangan dalam Hadis Bukhari Muslim. Hal ini dimaksudkan agar tidak
menimbulkan perasaan sedih di hati keluarga jenazah.
Seseorang yang berta’ziyah kepada keluarga yang tertimpa musibah
kematian hendaklah menerapkan tata krama berikut:
a. Menunjukkan sikap berbela sungkawa atas musibah yang
menimpa, baik perilaku maupun perkataan, seperti doa:

َ‫ِّتٔم‬ٌَٚٔ‫طِّ عُصٖاءَنَ َٗغَفَ َسه‬


ٔ ِ‫هلل َأجِسَنَ ََٗأذ‬
ُ ‫َأ ِعظَ ٍَ ا‬
Semoga Allah menganugerahkan pahala yang agung kepadamu;
memberi kebaikan atas dukamu; dan memberi ampunan kepada
(anggota keluarga)-mu yang meninggal dunia.
b. Tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung atau tidak
menyenangkan pihak keluarga yang sedang tertimpa musibah.
c. Memberikan nasihat agar tetap tabah dan bersabar dalam
menghadapi musibah, karena musibah ini semata-mata dari
kebijaksanaan Allah SWT.

D. PERAWATAN JENAZAH DALAM ISLAM


Perawatan jenazah dalam Islam ada empat: memandikan, mengafani,
menshalati dan menguburkan. Hukum seluruh perawatan jenazah tersebut
adalah fardhu kifayah.
1. Memandikan Jenazah
Dalil memandikan jenazah antara lain:

:ِٖٔ‫ِس‬ٚ‫ِ ضَقَطَ َعِّ َبٔع‬ٜٔ‫ اهَّر‬ٟٔ‫ ف‬، ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬ٚ‫ اهللُ عََو‬َّٟ‫ٗ صَو‬ٛٔ‫ قَايَ اهِٖب‬:َ‫َ اهللُ عٌََُِٔا قَاي‬ٛٔ‫َعِّ ابِِّ َعبٖاعٍ زَض‬

.)ٍُٔ‫ٗ ًَُٗطِو‬ِٜ‫ ( َزَٗاُٖ اِهُبخَاز‬.ٍ‫ِإ ِغطُٔوُِٖ٘ بٌَٔاءٕ َٗضٔ ِدز‬


Ibnu Abbas RA berkata: Nabi SAW bersabda perihal orang yang meninggal
dunia karena terjatuh dari untanya: “Mandikanlah dia dengan air dan daun
bidara”. (H.R. Bukhari–Muslim).
Sebelum memandikan jenazah, perlu dipahami ketentuan tentang orang
yang berhak memandikan jenazah. Pertama, jika jenazahnya laki-laki, maka
yang berhak memandikannya adalah anak laki-lakinya, laki-laki lain,

21
sementara itu wanita tidak diperbolehkan memandikannya, kecuali istri,
anak wanita atau mahramnya. Kedua, jenazah wanita harus dimandikan oleh
anak wanita atau orang wanita lain, adapun laki-laki yang boleh
memandikannya adalah suami, anak laki-laki atau mahramnya. Ketiga, untuk
jenazah anak-anak, maka yang memandikannya boleh orang laki-laki atau
wanita. Apabila pada anggota badan jenazah terdapat cacat, maka orang yang
memandikan harus merahasiakan hal tersebut, demi menjaga nama baik
keluarga jenazah tersebut. Sebaliknya, apabila melihat hal-hal yang positif
pada jenazah tersebut, maka diperkenankan untuk menyebar-luaskan,
sebagai motivasi bagi orang lain agar meniru perilaku terpuji si jenazah.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa jenazah yang akan
dimandikan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Jenazah itu orang muslim atau muslimah, bukan bayi yang mati
dalam kandungan.
b. Anggota badannya masih ada, sekalipun sedikit atau sebagian.
c. Jenazah itu bukan mati syahid, karena orang mati syahid tidak
wajib dimandikan.

www.fiqhindonesia.com
Gambar 2.2
Proses Memandikan Jenazah
Tata cara memandikan jenazah adalah:
a. Jenazah ditempatkan pada tempat yang terlindung dari sengatan
matahari, hujan atau pandangan orang banyak. Diletakkan pada
tempat yang lebih tinggi, seperti balai-balai atau dipan.
b. Jenazah diberikan pakaian (pakaian basahan), seperti sarung atau
kain supaya memudahkan memandikannya, dan auratnya tetap
tertutup, sementara orang yang memandikan hendaknya
memakai sarung tangan.
c. Air untuk memandikan jenazah hendaknya air dingin, kecuali
dalam keadaan darurat, misalnya di daerah yang sangat dingin
atau karena sebab-sebab lain.

22
d. Setelah segala keperluan mandi telah disiapkan, maka langkah-
langkah memandikan Jenazah adalah sebagai berikut:
1) Kotoran dan najis yang melekat pada anggota badan jenazah
dibersihkan sampai hilang najisnya dan kotorannya.
2) Jenazah diangkat (agak didudukkan), perutnya diurut
supaya kotoran yang mungkin ada di perutnya keluar.
3) Kotoran yang ada pada kuku-kuku jari tangan dan kaki
dibersihkan, termasuk kotoran yang ada di mulut dan gigi.
4) Membaca niat memandikan jenazah:

)ََٞ‫ت‬ٌَِِّٚ‫تَ (َٓرٖٔٔ اه‬ٌَِِّٚ‫ِتُ أَِْ ُأ ِغطٔىَ َٓرَا اه‬ََُٙ٘ .ٔ‫ٔ زَضُ ِ٘يِ اهلل‬َّٞ‫ ًٔو‬َٟ‫ٔبطٍِِ اهللٔ َٗعَو‬

.ٔ‫ ا َّهؤٍُٖ ا ِغطٔوُِٕ (َٓا) بٔاهٌَِاءٔ َٗاهثٖوِخِ َٗاِهبَ َسد‬.َٟ‫هلل تَعَاه‬


ٔ َٔٔٞٙ‫ض اهِلٔفَا‬
َ ‫فَ ِس‬
Dengan menyebut nama Allah dan agama Rasulullah. Saya
niat memandikan jenazah laki-laki (wanita) ini, fardhu
kifayah, karena Allah Ta’ala. Ya Allah, mohon Engkau
mandikan dia dengan air, salju dan embun.
5) Menyiram air ke seluruh badan sampai merata, dimulai dari
ujung rambut terus ke bawah sampai kaki, sambil berdoa
berikut sebanyak tiga kali:

ُ‫ِس‬ٚ‫ص‬
ٔ ٌَِ‫م اه‬
َ َِٚ‫َا اهللُ زَبَِٗا َٗإِه‬ٙ َ‫غُفِسَاَُم‬
(Mohon) ampunan-Mu, Ya Allah, Wahai Tuhan kami; dan
hanya kepada-Mu, tempat kembali
6) Mendahulukan anggota wudhu dan anggota tubuh bagian
kanan ketika menyiramkan air.
7) Menyiramkan dan memandikannya disunahkan tiga kali
dengan urutan: seluruh tubuh disiram basah, segera
memakai sabun sampai bersih benar, sesudah itu
diwudhukan dan terakhir disiram dengan air yang sudah
dicampur dengan kapur barus atau bahan lain yang wangi.
8) Membaca doa setelah memandikan jenazah:

َٟ‫تُ َٗ َُٓ٘ عَو‬ٌَُِٚٔٙٗ ٛٔٚ‫ر‬


ِ ُٙ ُ‫ هَُٕ اهٌُِِومُ َٗهَُٕ اِهرٌَِد‬،َُٕ‫مَ ه‬ِٙ‫الَ إِهََٕ إِالَّ اهللُ َٗذِدَُٖ الَ غَس‬

ًَّٔ )‫ٖاُٖ (َٓا‬ِٙ‫ َٗإ‬ِِٛٔ‫َِّ َٗا ِجعَو‬ٚ‫ٖاُٖ (َٓا) ًَّٔ اهٖتٖ٘أب‬ِٙ‫ َٗإ‬ِٛٔ‫ ا َّهؤٍُٖ ا ِجعَِو‬.ْ‫ِس‬ٙٔ‫ِئٍ قَد‬َٚ‫كُىِّ غ‬

.َِّٙ‫اهِ ٌَُتطَِّٔس‬
Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa Yang tiada sekutu bagi-
Nya. Segala puji hanya bagi-Nya, Dia yang menghidupkan
dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, mohon Engkau jadikan aku dan dia (jenazah ini)
termasuk orang-orang yang bertaubat serta orang-orang
yang suka bersuci.

23
9) Disunahkan untuk memandikan jenazah sebanyak 3 (tiga), 5
(lima) atau 7 (tujuh) kali.

2. Mengafani Jenazah
Dalil mengafani jenazah antara lain:

َ ‫ض َّوٍَ بٔ َس ُج ىٍ َٗقَصَ تُِٕ زَاذَٔوتُ ُٕ فٌََ ا‬


َ َٗ ٕٔ َِٚ‫ اهللُ عَو‬ٟ‫ص َّو‬
َ ٟٗ ‫َ اهِٖٔب‬ٛ ‫ أُٔت‬:َ‫َ اهللُ َعَِٕ قَاي‬ٛٔ‫َعِّ اِبِّ عَبٖاعٍ زَض‬

)َ‫ِٕٔ ( َزَٗاُٖ اَُبِ٘ دَا ُٗد‬ٚ‫ َثَِ٘ب‬ٟٔ‫ ك َِّفُُِٖ٘ ف‬:َ‫ فَقَاي‬،َِْ‫َٗ َُٓ٘ ًُرِس‬
Ibnu ‘Abbas RA berkata: Seorang laki-laki yang sedang ihram meninggal
dunia karena jatuh dari binatang tunggangannya dan didatangkan ke
hadapan Nabi SAW, lalu beliau bersabda: “Kafanilah dia dalam kedua
pakaian (ihram)nya” (H.R. Abu Dawud).
Kain kafan diambil dari harta benda yang ditinggalkan jenazah. Jika
jenazah tidak meninggalkan harta benda, maka ditanggung oleh orang yang
menanggung belanja jenazah ketika masih hidup. Bila tidak ada juga, maka
wajib bagi kaum muslimin dan orang-orang yang mampu untuk mencukupi
kain kafan bagi jenazah tersebut.
Kain kafan yang diutamakan berwarna putih. Bila tidak ada, maka
warna apapun diperbolehkan dan diberi kapur barus serta harum-haruman.
Niat mengafani jenazah:

.َٟ‫ٔٔهللٔ َتعَاه‬َٞٙ‫ض اهِلٔفَا‬


َ ‫ٔ) فَ ِس‬َٞ‫ت‬ٌَِِّٚ‫ِّتٔ (َٓرٖٔٔ اه‬ٌَِٚ‫َّ َٓرَا اه‬ِٚ‫ت تَلِٔف‬
ُ ََُِٙ٘ .ٔ‫ضِ٘ ِي اهلل‬
ُ َ‫ٔ ز‬َّٞ‫ ًٔو‬َٟ‫ٔبطِ ٍِ اهللٔ َٗعَو‬
Dengan menyebut nama Allah dan agama Rasulullah. Saya niat mengkafani
jenazah laki-laki (wanita) ini, fardhu kifayah, karena Allah Ta’ala. Ya Allah,
mohon Engkau mandikan dia dengan air, salju dan embun.
Sedangkan doa mengafani jenazah adalah:

ُ‫ َٗاِهرٌَِد‬.ٌَِّٚٔٔ‫َا َأ ِزذَ ٍَ اهسٖاذ‬ٙ َ‫طُت ِ٘زّا بٔ َسذِ ٌَتٔم‬


ِ ًَ ‫ّ َُُٗ ِ٘زّا َٗ ٔذحَابّا‬ٌَِٞ‫ب هَ ُٕ (َهَٔا) َزذ‬
َ ِٖ٘‫ا َّهؤُ ٍٖ ا ِجعَىِ َٓرَا اهث‬

. ٌََِّٚٔ‫َب اهِعَاه‬
ِّ ‫ٔهللٔ ز‬
Ya Allah, mohon Engkau jadikan pakaian (kafan) ini menjadi rahmat,
cahaya, pelindung dan penutup baginya; atas nama rahmat-Mu, wahai Dzat
Yang Maha Pengasih. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Sebaiknya, laki-laki dikafani dengan 3 (tiga) helai kain putih, tanpa
gamis dan serban. Satu helai sebagai sarung, satu lagi menutupi badan dari
leher hingga kaki, dan yang terakhir menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan
untuk jenazah wanita, sebaiknya digunakan 5 (lima) helai; masing-masing
untuk sarung, kerudung dan gamis, ditambah dua helai untuk membalut
seluruh tubuhnya. Pada dasarnya, semua bahan yang boleh dipakainya
sewaktu hidup, boleh dijadikan sebagai kafan dan dipilih bahan yang terbaik.

24
microcyber2.blogspot.com
Gambar 2.3
Perlengkapan Mengafani Jenazah
Berikut ini penjelasan terperinci tentang tata cara mengafani jenazah
sesuai jenis kelaminnya:

Mengafani Jenazah Laki-laki

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3

a. Kain kafan untuk jenazah laki-laki berjumlah tiga lapis, dan tiap
lapisan kain yang telah terhampar, ditaburi wewangian.
b. Letakkan jenazah di atas kain kafan. Kedua tangannya diletakkan
di atas dada, seperti ketika sedang berdiri shalat, yakni dengan
posisi tangan kanan di bawah tangan kiri.
c. Kain kafan lapisan pertama (yang langsung mengenai tubuh
jenazah) dilingkupkan ke tubuh jenazah, dimulai dari sebelah kiri,

25
kemudian sebelah kanan. Kemudian menyusul lapisan berikutnya.
Jadi, mengkafaninya secara satu persatu, bukan mengkafaninya
secara langsung 3 (tiga) lapis sekaligus.
d. Ikatlah tubuh jenazah yang sudah terbungkus ketiga kain kafan itu
dengan tali yang diambilkan dari kain kafan tersebut (yakni
sobekan kain kafan, sekedar cukup untuk tali pengikat). Ikatan
pertama di ujung kepala, ikatan kedua di tengah badan, ikatan
ketiga di tengah atau di arah lutut, dan ikatan keempat di ujung
kaki. Semua ikatan adalah ikatan sementara, karena sesudah
dimasukkan ke liang lahad, ikatan-ikatan tersebut harus dibuka
kembali.

Mengafani Jenazah Wanita

3
2

Keterangan:
1 = Sarung 4 = Kain
4 5
2 = Baju Kurung 5 = Kain
3 = Kerudung

a. Mula-mula dihamparkan dua lapis kain pembungkus (gambar 4 dan 5) yang


sudah ditaburi wewangian.
b. Kenakan sarung (gambar 1) ke tubuh jenazah, lalu baju kurung (gambar 2),
dilanjutkan kerudung (gambar 3).
c. Kain pembungkus yang dua lapis, dilingkupkan ke tubuh jenazah selapis
demi selapis. Kemudian diikat empat atau lima ikatan memakai tali dari
sobekan kain kafan dengan ikatan sementara.

26
3. Menshalati Jenazah
Dalil menshalati jenazah antara lain:

ُٖ‫ ( َزَٗا‬.ّ‫ضَ٘اء‬
َ ٕ ‫ِىِ َٗاهَِٖٔازِ َأزِبَعَ تَ ِلبٔريَا‬ٚ‫ ًَِ٘تَاكٍُِ بٔا َّهو‬َٟ‫ صَوُّ٘ا عَو‬:َ‫ِٕٔ َٗضََّوٍَ قَاي‬َٚ‫ اهللُ عَو‬ٟ‫َعِّ جَابٔسٍ أَْٖ زَضُ٘يَ اهؤَّٕ صََّو‬

)ََٕ‫اِبُّ ًَاج‬
Jabir RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Shalatilah orang-orang
yang meninggal dunia di antara kalian [umat muslim] pada malam dan siang hari
dengan empat takbir” (H.R. Ibn Majah)
Orang yang paling berhak menyalatkan jenazah adalah ayahnya, lalu kakeknya,
para ashabah-nya secara berurutan, yaitu anak, cucu, saudara, anak saudara, paman dan
anak paman. Alasannya, karena merekalah yang paling berduka atas kematian itu.
Apabila terdapat dua orang atau lebih pada derajat yang sama, dahulukanlah yang
tertua, atau yang lebih baik bacaannya dan lebih faqih (ahli Fikih), karena dia lebih
mulia dan shalatnya lebih sempurna.
Pada awalnya, usahakan barisan (shaf) disusun menjadi tiga baris. Setiap shaf
paling sedikit terdiri dari dua orang. Apabila jenazah laki-laki, maka posisi imam shalat
berada lurus dengan kepala jenazah. Apabila jenazah wanita, maka posisi imam shalat
lurus dengan pusar jenazah.

khairunnisakuwait.blogspot.com
Gambar 2.4
Perbedaan Posisi Imam dalam Shalat Jenazah Laki-laki (Gambar Kiri) dan Jenazah
Wanita (Gambar Kanan)

Setelah itu, shalat jenazah dimulai dengan seruan:

ٔ‫ِّت‬ٌَِٚ‫ اه‬َٟ‫ُ عَو‬ٝ‫ال‬


َ ٖ‫اَهص‬
“Mari (kita) menshalati mayat”
Adapun tata cara shalat jenazah adalah:
a. Niat menyengaja melakukan shalat jenazah, dengan empat takbir menghadap
kiblat karena Allah SWT.

َٟ‫هلل َتعَاه‬
ٔ ٔ‫ًَ ِأ ًُ ًِّ٘ا‬/‫ٔ ِإًَاًّا‬َٞٙ‫ض اهِلٔفَا‬
َ ‫ِسَا ٕ فَ ِس‬ٚ‫ٔ) َأزِبَ َع تَلِٔب‬َٞ‫ت‬ٌَِِّٚ‫ت (اه‬
ٔ ٌَِِّٚ‫ َٓرَا اه‬َٟ‫ عَو‬ِّٛ‫أُصَو‬
Saya niat menshalati jenazah laki-laki (wanita) ini, empat kali takbir,
fardhu kifayah, sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.

27
b. Takbiratul Ihram bersamaan dengan niat.
c. Takbir pertama, lalu membaca Surat al-Fatihah sebagaimana shalat yang lain
(tanpa membaca Surat al-Qur’an lainnya).
d. Takbir kedua, kemudian membaca shalawat Nabi SAW:

َٟ‫ َٗبَازِنِ عَو‬،ٍَِٚٓٔ ‫ آيِ إِبِسَا‬َٟ‫ َٗعَو‬،ٍَِٚٓٔ ‫ إِبِسَا‬َٟ‫ِتَ عَو‬َّٚ‫ كٌََا صَو‬،ٕ‫ آيِ ًُرٌَٖد‬َٟ‫ َٗعَو‬،ٕ‫ ًُرٌَٖد‬َٟ‫اهوٍَُّٖٓٔ صَىِّ عَو‬

ْ‫ِد‬ٌَٚٔ‫َِّ إُِٖمَ ذ‬ٌَٚٔ‫ِ اهعَاه‬ٛٔ‫ ف‬،ٍَِٚٓٔ ‫ آيِ إِبِسَا‬َٟ‫ َٗعَو‬،ٍَِٚٓٔ ‫ إِبِسَا‬َٟ‫ كٌََا بَازَ ِكتَ عَو‬،ٕ‫ آيِ ًُرٌَٖد‬َٟ‫ َٗعَو‬،ٕ‫ًُرٌَٖد‬

ْ‫ِد‬ٚ‫ح‬
ٔ ًَ
Ya Allah, mohon Engkau limpahkan rahmat yang agung kepada (Nabi)
Muhammad (SAW) dan keluarga beliau, sebagaimana Engkau pernah
memberi rahmat yang agung kepada (Nabi) Ibrahim (AS) dan keluarga
beliau. Dan mohon Engkau limpahkan berkah kepada (Nabi) Muhammad
(SAW) dan keluarga beliau, sebagaimana Engkau pernah memberi berkah
kepada (Nabi) Ibrahim (AS) dan keluarga beliau. Di seluruh alam ini,
sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.
e. Takbir ketiga, lalu membaca doa:

َُٕ‫ َٗأَكِسَِِ ُُصُهَُٕ ( َٔا) ََٗٗضِّعِ ًُدِخَو‬.)‫ا َّهؤٍُٖ ا ِغفٔسِ هَُٕ (َهَٔا) َٗا ِزذٌَُِٕ ( َٔا) َٗعَافٕٔٔ ( َٔا) َٗاعِفُ َعُِٕ ( َٔا‬

ًَّٔ َ‫َض‬ٚ‫تَ اهثٖ ِ٘بَ األِب‬ِٚ‫َا كٌََا ُ ََّق‬ٙ‫خطَا‬


َ ‫ ََُٗقِّٕٔ ( َٔا) ًَّٔ اِه‬.ٔ‫( َٔا) َٗا ِغطٔوُِٕ ( َٔا) بٔاهٌَِاءٔ َٗاهثٖوِخِ َٗاِهبَسَد‬

ٕٔٔ‫ِسّا ًِّٔ َش ِٗج‬ٚ‫ِسّا ًِّٔ أَِٓؤٕٔ ( َٔا) َٗ َشِٗجّا َخ‬ٚ‫ِسّا ًِّٔ دَازِٖٔ ( َٔا) َٗأَِٓالّ َخ‬َٚ‫ َٗأَبِدٔهُِٕ ( َٔا) دَازّا خ‬.ِ‫اهدَُٖظ‬

.ِ‫ب اهِٖاز‬
ٔ ‫ب اهِ َقبِ ِس أَِٗ ًِّٔ عَرَا‬
ٔ ‫َ ََٗأعٔرُِٖ ( َٔا) ًِّٔ عَرَا‬ِٖٞ‫ح‬
َ ‫ َٗأَ ِدخٔوُِٕ ( َٔا) اِه‬.)‫( َٔا‬
Ya Allah, mohon ampunilah, rahmatilah, sejahterahkanlah dan dan
maafkanlah dia. Mohon Engkau muliakan tempatnya, Engkau luaskan
kuburnya, Engkau mandikan dengan air, salju dan embun. Mohon Engkau
bersihkan dia dari segala dosa sebagaimana Engkau bersihkan pakaian
putih dari noda. Mohon Engkau berikan pengganti bagi dia, rumah yang
lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik daripada keluarganya,
dan pasangan yang lebih baik daripada pasangannya. Mohon Engkau
masukkan dia ke dalam surga dan Engkau jauhkan dia dari adzab kubur
dan adzab neraka.

Jika jenazah laki-laki, semua berakhiran hu atau hi )ٕٔ / ُٕ (; jika jenazah laki-

laki, maka semua berakhiran ha )‫( َٔا‬.


Jika jenazah anak-anak, maka doa di atas diganti sebagai berikut:

.‫ّ ََٗأجِسّا‬َٞ‫ِٕٔ ( َٔا) ضَوَفّا َٗفَسَطّا َٗدُخِسّا َٗ ٔعظ‬َٙ‫ا َّهؤُ ٍٖ ا ِجعَوُِٕ ( َٔا) َهَِا َٗٔهَ٘اهٔد‬
Ya Allah, mohon Engkau jadikan dia bagi kami dan bagi kedua
orangtuanya, sebagai jaminan, simpanan, penebus, nasihat serta pahala.
f. Takbir keempat, lalu membaca doa:

)‫ا َّهؤٍُٖ َال َترِ ِسًَِِا َأجِسَُٖ (َٓا) َٗالَ تَ ِفٔتِٖا َبعِدَُٖ (َٓا) َٗاغِفٔ ِس هََِا َٗهَُٕ (َٓا‬
28
Ya Allah, mohon jangan Engkau haramkan kami untuk mendapatkan
pahalanya, janganlah Engkau timpakan fitnah bagi kami sepeninggalnya,
dan mohon ampunilah segala kesalahan kami dan kesalahannya.
g. Mengucapkan salam sambil memalingkan muka ke kanan dan ke kiri. Lalu
berdoa:

ٖٔٔ‫تٔ (َٓر‬ٌَِِّٚ‫ٔ ا ِعتٔقِ زِقَاَبَِا َٗزِقَابَ َٓرَا اه‬َٞ‫ ا َّهؤٍُٖ ٔبرَقِّ اهِفَأتر‬.ٕ‫ آيِ ًُرٌَٖد‬َٟ‫ ًُرٌَٖدٕ َٗعَو‬َٟ‫ا َّهؤٍُٖ صَىِّ عَو‬

)‫ٔ) َٗا ِجعَىِ َقبِسَُٖ (َٓا‬َٞ‫ت‬ٌَِِّٚ‫ِّتٔ (َٓرٖٔٔ اه‬ٌَِٚ‫َ َٓرَا اه‬ٟ‫َ عَو‬ٝ‫َ َٗاهِ ٌَػِفٔ َس‬ٌَِٞ‫ ا َّهؤٍُٖ أَُِ ِصيِ اه ٖسذ‬.×3 ِ‫ٔ) ًَّٔ اهِٖاز‬َٞ‫ت‬ٌَِِّٚ‫اه‬

ٕٔٔ‫ِسِ خَوِق‬ٚ‫ َخ‬َٟ‫ اهللُ عَو‬َّٟ‫ َٗصَو‬.ِْ‫ِسَا‬ِٚ‫ّ ًَّٔ ذُفَسِ ا ِّه‬َٝ‫ َٗالَ َتحِعَوُِٕ هَُٕ (َهَٔا) ذُفِس‬،ِْ‫حَِا‬
ٔ ِ‫َاضِ اه‬ِٙ‫ّ ًَّٔ ز‬َٞ‫َزِٗض‬

.ٌََِّٚٔ‫َب اِهعَاه‬
ِّ ‫ َٗاِهرٌَِدُٔهللٔ ز‬.َِّٚ‫ربٕٔٔ َأجِ ٌَٔع‬
ِ َ‫ آهٕٔٔ َٗص‬َٟ‫ًُرٌَٖدٕ َٗعَو‬
Ya Allah, mohon Engkau limpahkan rahmat yang agung kepada (Nabi)
Muhammad (SAW) dan keluarga beliau. Ya Allah, atas nama Surat al-
Fatihah, mohon Engkau bebaskan ‘leher’ kami dan leher jenazah ini dari
neraka (dibaca 3 kali). Ya Allah, mohon Engkau limpahkan rahmat dan
ampunan kepada jenazah ini. Mohon Engkau jadikan kuburnya sebagai
taman surga, dan mohon jangan Engkau jadikan kuburnya sebagai lubang
neraka. Semoga Engkau limpahkan rahmat yang agung kepada makhluk
terbaik, (Nabi) Muhammad), keluarga beliau dan para Sahabat beliau
sekalian. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
4. Menguburkan Jenazah
Dalil menguburkan jenazah antara lain:

ِ‫ٔ زَضُ٘ي‬َّٞ‫ ًٔو‬َٟ‫ فَقُ٘هُ٘ا ٔبطٍِِ اهؤَّٕ َٗعَو‬،ِ‫ اهِ َقبِس‬ٛٔ‫ضعِتٍُِ ًَِ٘تَاكٍُِ ف‬
َ َٗ ‫ ِإذَا‬:َ‫ِٕٔ َٗضََّوٍَ قَاي‬َٚ‫ اهللُ عَو‬ٟ‫ِّ صََّو‬ٟٔ‫َعِّ ابِِّ عٌَُسَ عَِّ اهِٖب‬

.)ُ‫اهؤَّٕ ( َزَٗاُٖ َأذٌَِد‬


Ibnu ‘Umar RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Jika kalian meletakkan
jenazah-jenazah kalian di dalam kubur, maka ucapkanlah: ‘Dengen menyebut nama
Allah dan agama Rasulullah” (H.R. Ahmad).
Tata cara menguburkan jenazah adalah:
a. Dibuatkan liang kubur yang cukup dalam, sepanjang badan jenazah,
dalamnya setinggi orang berdiri ditambah setengah lengan (sekitar 2 meter),
lebar kurang lebih 1 (satu) meter. Di dasar lubang dibuat lebih miring lebih
dalam ke arah kiblat. Maksudnya agar tidak mudah dibongkar binatang buas
dan tidak bau setelah jenazah itu membusuk.
b. Bentuk lubang kubur disunatkan memakai lubang lahad [lubang yang digali
di bawah kubur sebelah kiblat, kira-kira muat untuk jenazah, kemudian
ditutup dengan papan atau bambu]. Jika tanahnya gembur dan mudah
runtuh, lebih baik dibuatkan lubang tengah [lubang kecil di tengah-tengah
kubur kira-kira muat jenazah, disebut dengan istilah syaq] kemudian ditutup
dengan papan atau bambu, seterusnya dengan tanah.
c. Setelah jenazah diusung dan sampai kubur, maka masukkanlah ke dalam
liang lahad dengan miring ke kanan dan menghadap kiblat.
d. Cara memasukkan jenazah adalah terlebih dahulu memasukkan kepala
jenazah dari arah kaki makam (di Indonesia, arah selatan).

29
e. Tali-tali pengikat kain kafan dilepas semua, pipi kanan dan ujung kaki
ditempelkan ke tanah.
f. Setelah itu, jenazah ditutup dengan papan, kayu, atau bambu yang disebut
“dinding ari” kemudian di atasnya ditimbun tanah sehingga lubang itu rata
dan ditinggikan seperlunya, kira-kira sejengkal. Para ulama tidak menyukai
meninggikan kubur dari permukaan tanah, kecuali sekedar sebagai tanda
bahwa itu adalah kubur, agar tidak diinjak atau diduduki.
g. Kemudian meletakkan pelepah yang masih basah atau menyiramnya dengan
kembang di atas kubur tersebut. Hal ini sesuai dengan perbuatan Rasulullah
SAW pada saat selesai menguburkan putra beliau, Ibrahim.

www.mediasalaf.com
Gambar 2.5
Perbedaan Jenis Liang Lahad (Gambar Kanan) dengan Liang Syaq (Gambar
Tengah) disertai Ilustrasi Posisi Jenazah (Gambar Kiri)

E. HIKMAH SEPUTAR FIKIH JENAZAH


Beranjak dari keterangan di atas, maka seorang muslim yang bijak dapat memetik
banyak hikmah yang berguna bagi kehidupannya.
1. Hikmah Ta'ziyah
a. Bagi yang mengunjungi maupun yang dikunjungi, ta'ziyah dapat
menyadarkan dan mengingatkan diri, bahwa kematian itu pasti akan
menimpa kepada setiap orang, meskipun waktunya tidak ada yang
mengetahui. Dengan menyadari ini, maka seorang muslim akan bersungguh-
sungguh mempersiapkan diri dengan berbagai amal shalih, sebagai bekal
kehidupan setelah kematian.
b. Ta'ziyah dapat menumbuhkan sikap tolong-menolong dan gotong royong
serta membina sifat kedermawanan dan kasih sayang di antara sesama
anggota masyarakat.
c. Khusus bagi keluarga yang mengalami musibah kematian, ta'ziyah dapat
menghibur hati dari kesedihan yang berarti akan mengurangi beban berat
yang dipikulnya, terutama beban mental.
2. Hikmah Perawatan Jenazah
a. Senantiasa merenungkan sabda Rasulullah SAW yang menyeru kepada
umatnya agar banyak-banyak mengingat kematian:

)ٗٛٔ‫طائ‬
َ ِٖ‫اَ ِكثٔ ُسِٗا ًِّٔ ذٔكِسِ َٓاذَِٔ اهوَّرٖا ٔ ( َزَٗاُٖ اه‬

30
Perbanyaklah dari mengingat pemutus kenikmatan-kenikmatan (yaitu
kematian) (H.R. al-Nasa’i)
b. Merupakan manifestasi dari perasaan persaudaraan Islami (Ukhuwah
Islamiyah).
c. Mewujudkan ketinggian agama Islam, sebab seorang muslim bukan hanya
menghormati orang yang hidup saja, tapi juga kepada yang sudah meninggal
dunia.
d. Lebih mempertegas ajaran Islam tentang persamaan kedudukan manusia di
hadapan Allah SWT. Semua itu tergambar dalam pengurusan jenazah yang
tidak membedakan status sosial (kaya-miskin).

RANGKUMAN
1. Menjenguk orang sakit hukumnya sunah, bahkan merupakan salah satu hak
seorang muslim atas muslim lainnya.
2. Setiap kematian selalu diawali oleh sakaratul maut yang memiliki tanda-tanda
khusus menurut medis maupun riwayat Hadis.
3. Ta’ziyah merupakan ungkapan belasungkawa kepada keluarga jenazah agar
merasa terhibur dan bersabar atas qadha-qadar Allah SWT.
4. Memandikan jenazah oleh orang yang berhak, dengan menggunakan air bersih, air
bercampur sabun, daun bidara dan kapur barus (kamper). Disunahkan
memandikan tiga kali, lima kali atau tujuh kali.
5. Mengafani jenazah laki-laki disunahkan tiga lapis kain, sedangkan mengafani
jenazah wanita disunahkan lima lapis kain. Disunahkan menggunakan kain kafan
berwarna putih.
6. Menshalati jenazah dimulai dengan niat, kemudian takbiratul ihram (takbir
pertama), lalu membaca Surat al-Fatihah; takbir kedua, lalu membaca shalawat;
takbir ketiga, lalu membaca doa khusus untuk jenazah; takbir keempat, lalu
membaca doa untuk orang-orang yang ditinggalkan jenazah; diakhiri salam.
7. Menguburkan jenazah di liang kubur yang panjangnya sepanjang badan jenazah,
dalamnya setinggi orang berdiri ditambah setengah lengan (sekitar 2 meter),
lebarnya kurang lebih 1 (satu) meter. Di dasar liang kubur dibuatkan liang lahad
yang posisinya ke arah kiblat.

TUGAS
1. Project Based Learning: Lakukanlah studi lapangan dengan berkunjung ke sebuah
rumah sakit, kemudian lakukan observasi terhadap perilaku pasien, dokter atau
perawat, hingga orang-orang yang menjenguk di rumah sakit. Kemudian tulislah
dalam sebuah portofolio atau catatan harian yang memuat hasil observasi
tersebut.
2. Problem Based Learning: Lakukanlah studi pustaka untuk menjawab beberapa
pertanyaan seputar fikih jenazah. Misalnya:
a. Bagaimana cara memandikan korban kecelakaan yang jasadnya sudah tidak
utuh lagi?
b. Bagaimana hukum mengafani jenazah dengan kain yang mahal, seperti kain
sutra?
c. Bagaimana hukum shalat ghaib terhadap jenazah yang sudah dimakamkan
berbulan-bulan sebelumnya?
d. Bagaimana cara menguburkan jenazah dalam jumlah banyak, semisal korban
perang atau bencana alam?

31
3. Discovery Learning:
Lakukan wawancara dengan tokoh masyarakat yang bertugas mengurusi
perawatan jenazah, kemudian buat laporan tertulis sesuai dengan format di bawah
ini:
Langkah ke-1: ………..
Pra Perawatan Jenazah Langkah ke-2: ………..
[Sebelum]
Langkah ke-3: ………..

Langkah ke-1: ………..


Proses Perawatan Jenazah Langkah ke-2: ………..
[Ketika]
Langkah ke-3: ………..

Langkah ke-1: ………..


Pasca Perawatan Jenazah Langkah ke-2: ………..
[Setelah]
Langkah ke-3: ………..

KEGIATAN
1. Implementasikan metode drama dalam rangka memvisualisasikan materi
perawatan jenazah. Tentukan siswa yang berperan sebagai sutradara, kamerawan
dan pemain drama. Drama terdiri dari empat babak, yaitu adegan menjenguk
orang sakit, adegan sakaratul maut, adegan ta’ziyah dan adegan perawatan
jenazah. Setelah latihan yang mencukupi, adegan drama tersebut direkam dengan
kamera video, lalu diedit, kemudian hasil editan sudah berupa tayangan ‘film
pendek’ yang siap untuk diupload di internet (semisal youtube) atau media sosial.
2. Bentuklah kelompok kecil untuk latihan praktik perawatan jenazah (memandikan,
mengafani, menshalati dan menguburkan) di bawah bimbingan guru Fikih,
kemudian adakanlah lomba praktik perawatan jenazah tingkat kelas bahkan
tingkat sekolah. Selanjutnya kelompok yang meraih juara berhak mendapatkan
hadiah bahkan mewakili sekolah, jika sewaktu-waktu ada perlombaan praktik
jenazah yang diadakan oleh pihak lain.
3. Diskusikanlah bersama kelompok kecil tentang bentuk-bentuk perawatan jenazah
yang dilakukan oleh kebudayaan lain, semisal perawatan jenazah Islami di
Malaysia, Saudi Arabia, Turki dan Mesir atau perawatan jenazah non-Islami di
India, Jepang, Italia dan Meksiko.

UJI KOMPETENSI
Soal Pilihan Ganda
1. Etika yang disunahkan ketika menjenguk orang sakit adalah…
a. Berlama-lama dalam menjenguk orang sakit
b. Menjenguk orang sakit di tengah-tengah siang
c. Mendoakan kesembuhan bagi si sakit
d. Mengajak tertawa si sakit agar cepat sembuh
e. Membawakan buah-buahan dan bunga untuk si sakit
2. Apakah tanda-tanda jenazah memperoleh su’ul-khatimah (akhir yang buruk)
menurut Syekh Nawawi Banten?

32
a. Keningnya berkeringat
b. Kedua matanya mengeluarkan air mata
c. Janur hidungnya mengembang
d. Wajahnya ceria (tersenyum).
e. Kedua sudut bibirnya berbusa.
3. Di antara tanda-tanda sakaratul maut menurut medis adalah rigor mortis yang
berarti...
a. Mengeluarkan suara mengerikan.
b. Mengalami gangguan saat bernapas.
c. Kekakuan setelah kematian.
d. Temperatur tubuh turun.
e. Keluar cairan merah kecoklatan.
4. Hukum takziyah kepada tetangga yang meninggal dunia lebih dari tiga hari
adalah…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
5. Bacaan yang dibaca ketika berta’ziyah adalah…
a. َ‫ِّتٔم‬ٌَٚٔ‫أَعِ َظٍَ اهللُ َأجِسَنَ ََٗأ ِذطِّٔ عُصٖا َءنَ َٗ َغفَسَه‬

b. ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬َٚ‫ اهللُ عَو‬َّٟ‫ٔ زَضُِ٘يِ اهللٔ صَو‬َّٞ‫ ًٔو‬َٟ‫طٍِ اهللٔ َٗعَو‬
ِ ‫ٔب‬

c. ٛٔ‫ اغِفٔ ََٗأُِتَ اهػٖاف‬،ِ‫ا َّهؤٍُٖ زَبٖ اهِٖاعِ ًُرِٓٔبَ اهِبَاع‬

d. ُ‫ِس‬ٚٔ‫ِمَ اهٌَِص‬َٚ‫َا اهللُ زَبَِٗا َٗإِه‬ٙ َ‫ُغفِسَاَُم‬

e. ٌَِّٚٔٔ‫َا أَ ِز َذٍَ اهسٖاذ‬ٙ َ‫ّ َُُِٗ٘زّا َٗذٔحَابّا ًَطِتُِ٘زّا بٔ َسذٌَِتٔم‬ٌَِٞ‫ا َّهؤٍُٖ اجِعَىِ َٓرَا اهثِٖ٘بَ هَُٕ (َهَٔا) زَذ‬
6. Perhatikan hadis berikut!

.ٍ‫ِإ ِغطُٔوُِٖ٘ بٌَٔاءٕ َٗضٔ ِدز‬


Hadis di atas adalah dalil pensyariatan...
a. Memandikan jenazah d. Menguburkan jenazah
b. Mengafani jenazah e. Mentalqin jenazah
c. Menshalati jenazah
7. Larangan yang berlaku ketika memandikan jenazah adalah…
a. Meletakkan jenazah pada tempat yang terlindung dari sengatan matahari
b. Meletakkan jenazah pada tempat yang lebih tinggi, seperti dipan
c. Jenazah diberi pakaian basan seperti sarung
d. Memandikan jenazah dengan air panas
e. Membaca niat memandikan jenazah
8. Air yang terakhir kali digunakan untuk memandikan jenazah adalah…
a. Air dingin d. Air bercampur daun bidara
b. Air hangat e. Air bercampur kapur barus
c. Air bercampur sabun (kamper)
9. Hukum memandikan jenazah yang mati syahid di medan perang membela agama
Islam adalah…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
33
10. Perbedaan mengafani jenazah laki-laki dengan jenazah wanita adalah…
a. Jenazah laki-laki dikafani 3 lapis, jenazah wanita dikafani 5 lapis
b. Jenazah laki-laki dikafani 5 lapis, jenazah wanita dikafani 3 lapis
c. Jenazah laki-laki dikafani kain putih, jenazah wanita dikafani kain selain
putih
d. Jenazah laki-laki dikafani kain selain putih, jenazah wanita dikafani kain
putih
e. Jenazah laki-laki dikafani dengan disertai ikatan, jenazah wanita dikafani
tanpa disertai ikatan
11. Posisi ikatan kain kafan yang benar adalah…
a. Ikatan di ujung kepala, tengah badan, arah lutut dan ujung kaki
b. Ikatan di ujung kepala, arah leher, arah lutut dan ujung kaki
c. Ikatan di ujung kepala, arah leher, tengah badan dan ujung kaki
d. Ikatan di ujung kepala, arah leher, tengah badan dan arah lutut
e. Ikatan di arah leher, tengah badan, arah lutut dan ujung kaki
12. Posisi kedua tangan jenazah ketika hendak dikafani adalah…
f. Tangan kanan di atas tangan kiri dan berada di bawah dada
g. Tangan kanan di atas tangan kiri dan berada di atas dada
h. Tangan kiri di atas tangan kanan dan berada di bawah dada
i. Tangan kiri di atas tangan kanan dan berada di atas dada
j. Tangan kanan di atas tangan kiri dan berada di atas pusar
13. Orang yang paling berhak menshalati jenazah adalah…
a. Ayahnya d. Adiknya
b. Kakeknya e. Pamannya
c. Kakaknya
14. Perhatikan bacaan shalat jenazah berikut!

)‫ا َّهؤٍُٖ َال َترِ ِسًَِِا َأجِسَُٖ (َٓا) َٗالَ تَ ِفٔتِٖا َبعِدَُٖ (َٓا) َٗاغِفٔ ِس هََِا َٗهَُٕ (َٓا‬
Bacaan di atas dibaca setelah takbir...
a. Takbiratul Ihram
b. Takbir pertama
c. Takbir kedua
d. Takbir ketiga
e. Takbir keempat
15. Perhatikan bacaan shalat jenazah berikut!

.‫ّ ََٗأجِسّا‬َٞ‫ِٕٔ ( َٔا) ضَوَفّا َٗفَسَطّا َٗدُخِسّا َٗ ٔعظ‬َٙ‫ا َّهؤُ ٍٖ ا ِجعَوُِٕ ( َٔا) َهَِا َٗٔهَ٘اهٔد‬
Bacaan di atas dibaca ketika menshalati jenazah…
a. Jenazah banci
b. Jenazah anak-anak
c. Jenazah orang dewasa
d. Jenazah orang lanjut usia
e. Jenazah mati syahid
16. Posisi imam ketika menshalati jenazah wanita adalah…
a. Sejajar dengan kepala jenazah
b. Sejajar dengan leher jenazah
c. Sejajar dengan perut jenazah
d. Sejajar dengan pusar jenazah
e. Sejajar dengan kaki jenazah

34
17. Ukuran makam yang tepat adalah…
a. Panjangnya sesuai panjang jenazah, tingginya sekitar 2 meter, lebarnya
sekitar 2 meter
b. Panjangnya sesuai panjang jenazah, tingginya sekitar 1 meter, lebarnya
sekitar 1 meter
c. Panjangnya sesuai panjang jenazah, tingginya sekitar 2 meter, lebarnya
sekitar 1 meter
d. Panjangnya 2 meter, tingginya sesuai tinggi jenazah, lebarnya sekitar 1 meter
e. Panjangnya 2 meter, tingginya sekitar 2 meter, lebarnya sesuai lebar jenazah
18. Cara memasukkan jenazah ke liang kubur adalah…
a. Dimasukkan dari arah barat
b. Dimasukkan dari arah timur
c. Dimasukkan dari arah utara (arah kepala makam)
d. Dimasukkan dari arah selatan (arah kaki makam)
e. Dimasukkan dari arah mana saja
19. Hukum meletakkan pelepah yang masih basah atau menyiramnya dengan
kembang di atas kuburan adalah…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
20. Nama tokoh yang terkenal sebagai Sayyidusy-Syuhada’ (penghulu orang-orang
yang mati syahid) adalah…
a. Ali ibn Abi Thalib RA
b. Khalid ibn al-Walid RA
c. Umar ibn al-Khaththab RA
d. Abu Ubaidah ibn al-Jarrah RA
e. Hamzah ibn Abdul Muththalib RA

Soal Esai
1. Tuliskan doa ketika menjenguk orang sakit!
2. Sebutkan tanda-tanda sakaratul maut!
3. Apa saja akhlak yang seharusnya dilakukan ketika bertakziyah?
4. Artikan sabda Rasulullah SAW di bawah ini!

)ََٕ‫ ( َزَٗاُٖ اِبُّ ًَاج‬.ّ‫ضَ٘اء‬


َ ٕ ‫ِىِ َٗاهَِٖٔا ِز َأزِبَ َع تَ ِلبٔريَا‬ٚ‫ ًَِ٘تَاكٍُِ بٔا َّهو‬َٟ‫صَوُّ٘ا عَو‬
5. Jelaskan tata cara memandikan jenazah!
6. Mengapa orang yang mati syahid tidak wajid dimandikan?
7. Apa perbedaan antara mengafani jenazah laki-laki dengan mengafani jenazah
wanita?
8. Jelaskan tata cara menshalati jenazah beserta doanya!
9. Apa hukum menguburkan jenazah pada malam hari?
10. Buatlah ilustrasi gambar yang menjelaskan perbedaan liang lahad dan liang syaq!

35
Bab III
FIKIH ZAKAT

Kata Kunci: Zakat Fitrah, Zakat Mal, Nishab, Haul, Mustahik


Islam bukan sekedar agama ritual yang bersifat individual, melainkan juga agama
ritual yang bersifat sosial. Zakat merupakan bukti konkrit bahwa Islam tidak
mengajarkan monopoli harta untuk kepentingan diri sendiri (kapitalis), melainkan
harus disebarkan kepada pihak yang membutuhkan.
Ada dua kategori zakat dalam Islam, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah
dimaksudkan untuk menghilangkan noda dalam diri, sehingga tumbuh menjadi manusia
yang bersih-suci, sedangkan zakat mal bertujuan untuk menghilangkan noda dalam
harta benda, sehingga menjadi harta benda yang bersih-halal.
Bab ketiga ini akan mengkaji ketentuan seputar zakat, mulai dari zakat fitrah, zakat
mal, nishab dan haul, muzakki dan mustahik zakat, penerapan zakat sesuai undang-
undang, hingga hikmah syariat zakat.

Kompetensi Inti :
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-jawab, peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan baksat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar dan Indikator:


5. Menelaah ketentuan Islam tentang zakat, undang-undang pengelolaan zakat dan
hikmahnya
5.1. Menjelaskan ketentuan zakat dalam Islam
5.2. Menjelaskan macam-macam zakat
5.3. Memberikan contoh penerapan zakat sesuai dengan undang-undang
5.4. Menjelaskan hikmah zakat
6. Menunjukkan contoh penerapan ketentuan zakat
6.1. Mempraktikkan penghitungan zakat

36
PETA KONSEP
Catatan: Jika memenuhi syarat
sah dan syarat wajib, seperti
nishab dan haul dalam zakat mal,
maka statusnya menjadi muzakki
yang wajib mengeluarkan zakat
fitrah dan zakat mal dengan
kadar tertentu, semisal 2,5%
dalam zakat mal, kepada delapan
golongan mustahik zakat. Baik
secara langsung maupun melalui
jasa amil atau panitia zakat.

 AMIL
ZAKAT
 PANITIA
ZAKAT

37
AMATI GAMBAR BERIKUT, KEMUDIAN BERIKAN KOMENTAR ATAUPERTANYAAN
YANG RELEVAN

Gambar sebelah kiri memotivasi umat muslim untuk mengeluarkan zakat, sedangkan
gambar sebelah kanan menunjukkan banyaknya mustahik zakat yang berebut zakat,
kendati harus berdesak-desakan.

brahmanto.warungfiksi.net; youtube.com
Gambar 3.1
Ilustrasi Problematika Seputar Zakat

MENGEMUKAKAN KOMENTAR

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

MENGAJUKAN PERTANYAAN

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………..

MATERI POKOK
A. KETENTUAN ZAKAT DALAM ISLAM
1. Pengertian
Zakat menurut bahasa artinya menambah, berkembang atau bisa juga mensucikan.
Sedangkan menurut istilah, ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa zakat adalah istilah
bagi sesuatu yang dikeluarkan dari harta [Zakat Mal] maupun badan [Zakat Fitrah]
dengan cara tertentu [dan diberikan kepada orang-orang tertentu, yakni para mustahik
zakat].

38
2. Hukum dan Dasar Hukum
Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Hukum zakat adalah Fardhu ‘Ain bagi
setiap orang yang mampu dan mencukupi syarat-syaratnya. Secara historis, zakat mulai
diwajibkan pada bulan Syawal tahun ke-2 Hijriyah.
Di antara dasar hukum kewajiban zakat adalah Surat al-Baqarah: 110

)110 :ٝ‫ (اهبقس‬    


Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.
Demikian juga Surat al-Taubah: 103

                

)103 :ٞ‫ (اهت٘ب‬ 


Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
Sedangkan Hadis yang menjadi dasar hukum kewajiban zakat adalah:

َ‫ٔ أَِْ ال‬َٝ‫غَٔاد‬


َ ،ٍ‫ خٌَِظ‬َٟ‫َ اإلِضِالََُ عَو‬ِٛٔ‫ ُب‬:ٍَ‫ِٕٔ َٗضََّو‬َٚ‫ اهللُ عَو‬ٟ‫ قَايَ زَضُ٘يُ اهؤَّٕ صََّو‬:َ‫َ اهللُ عٌََُِٔا قَاي‬ٛٔ‫َعِّ ابِِّ عٌَُسَ زَض‬

ِٜٗ‫ ( َزَٗاُٖ اِهُبخَاز‬.َْ‫صَِِ٘ زًََطَا‬


َ َٗ ،ِّ‫ َٗاِهرَخ‬،ٔٝ‫تَاءٔ اهصٖكَا‬ِٙ‫ َٗإ‬،ٔٝ‫ال‬
َ ٖ‫ َٗإِقَاَِ اهص‬،َّٕٔ‫إِهََٕ إِالَّ اهوَُّٕ َٗأَْٖ ًُرٌَٖدّا زَضُ٘يُ اهو‬

.)ٍُٔ‫َٗ ًُطِو‬
Ibn ‘Umar RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Islam dibangun di atas lima
(dasar): bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa Ramadhan”. (H.R. Bukhari
dan Muslim).
Kedudukan dan arti penting zakat dapat dilihat dari beberapa hal berikut:
a. Zakat adalah rukun Islam yang ketiga, sehingga menjadi salah satu pilar
bangunan Islam yang agung.
b. Allah SWT menyandingkan perintah menunaikan zakat dengan perintah
melaksanakan shalat sebanyak 28 kali dalam al-Qur’an. Ini menunjukkan
betapa urgen (penting) dan tinggi kedudukan zakat dalam Islam. Selain itu,
penyebutan kata shalat dalam banyak ayat terkadang disandingkan dengan
iman dan terkadang disandingkan dengan zakat, bahkan terkadang ketiga-
tiganya disandingkan dengan amal shalih dalam urutan yang logis. Jelasnya,
iman yang merupakan perbuatan hati adalah dasar, sedangkan amal shalih
yang merupakan perbuatan anggota tubuh menjadi bukti kebenaran iman. Di
samping itu, amal perbuatan pertama yang dituntut dari seorang mukmin
adalah shalat yang merupakan ibadah badaniyah (ibadah dengan gerakan
badan) kemudian zakat yang merupakan ibadah harta. Oleh karena itu,
setelah ajakan kepada iman, didahulukan ajakan shalat dan zakat sebelum
rukun-rukun Islam lainnya.

39
3. Orang yang Wajib Mengeluarkan Zakat (Muzakki)
Kewajiban zakat berlaku apabila sudah memenuhi 5 (lima) syarat wajib berikut:
a. Islam
b. Merdeka
c. Harta milik sendiri
d. Sudah mencapai satu nishab
e. Sudah genap satu tahun (haul) harta tersebut telah dimiliki
4. Orang yang Berhak Menerima Zakat (Mustahik)
Pengertian Mustahik zakat adalah orang-orang yang berhak menerima zakat.
Mustahik zakat ada 8 (delapan) golongan, sebagaimana termaktub dalam Surat al-
Taubah: 60

          

)60 :ٞ‫ (اهت٘ب‬             
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)
budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang
dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Berikut ini penjelasan tentang 8 (delapan) Mustahik zakat di atas:
a. Fakir. Yaitu orang yang tidak memiliki harta maupun pekerjaan yang
mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia juga tidak memiliki pasangan, orang tua
maupun anak yang mencukupi nafkah sehari-hari. Dia tidak mampu
memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan; ibaratnya dia butuh 10,
namun hanya memiliki 3.
b. Miskin. Yaitu orang yang memiliki harta atau pekerjaan yang mencukupi
setengah kebutuhannya bahkan lebih, meskipun tidak mencapai seluruh
kebutuhannya sehari semalam. Ibaratnya dia butuh 10, namun hanya
memiliki 6.
c. Amil. Yaitu para petugas atau panitia pengumpul zakat. Para amil ini
disyaratkan memiliki sikap adil [dalam pembagian zakat] dan mengetahui
Fiqih Zakat. Termasuk kategori Amil antara lain pengumpul, sekretaris dan
pembagi zakat yang berbadan hukum dengan dibuktikan SK (Surat
Keputusan) dari pemerintah yang berwenang, dalam hal ini Kementrian
Agama (Kemenag).
d. Muallaf. Yakni orang yang baru masuk Islam, sehingga niatnya dalam
beragama Islam dinilai masih lemah. Oleh karena itu, mereka perlu diberi
zakat demi memperkuat keislaman mereka.
e. Riqab. Yakni para budak mukatab muslim yang tidak mampu melunasi biaya
untuk memerdekakan dirinya sendiri, meskipun dia memiliki kemampuan
dan pekerjaan.
f. Gharim. Yaitu orang yang berhutang, baik hutang untuk drinya sendiri
maupun orang lain. Selanjutnya orang tersebut tidak mampu membayar
hutangnya, sehingga berhak menerima zakat.
g. Sabilillah. Yakni orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT. Misalnya para
mujahid yang berperang membela Syariat Islam. Menurut Imam Qafal,
masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan sosial, keagamaan dan lain-
lain termasuk kategori Sabilillah, sehingga menurut sebagian ahli Fiqih, zakat
boleh ditasarufkan kepada sektor-sektor tersebut.
40
h. Ibnu Sabil. Yaitu orang yang sedang atau hendak mengadakan perjalanan
yang tidak tergolong maksiat dan dia tidak mampu mencapai tujuannya,
kecuali jika diberi bantuan.
5. Orang yang Tidak Berhak Menerima Zakat
Orang yang tidak berhak menerima zakat ada 5 (lima) golongan, yaitu:
a. Orang yang mampu (kaya)
b. Budak
c. Bani Hasyim (orang yang masih termasuk keluarga Nabi SAW)
d. Bani Mutholib (termasuk keluarga dan anak cucu Nabi SAW)
e. Orang kafir.

B. MACAM-MACAM ZAKAT
1. Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan bagi tiap-tiap muslim laki-laki
dan perempuan, besar atau kecil, merdeka atau budak, yang memiliki kelebihan harta
(makanan pokok) bagi keperluan dirinya dan keluarganya pada Hari Raya Idul Fitri.
Yang wajib dibayarkan dalam zakat fitrah adalah bahan makanan pokok (semisal
beras) sebesar 1 sha’ yaitu 2176 gram atau 2,2 kg makanan pokok. Dalam praktiknya,
jumlah ini digenapkan menjadi 2,5 kg, karena untuk kehati-hatian. Menuut jumhur
ulama dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah al-Zuhaili, 1 sha’ itu kurang
lebih 2,75 kg.
Menurut Mazhab Hanafi, zakat fitrah berupa beras dapat diganti dengan uang yang
senilai harga beras tersebut. Tampaknya, zakat fitrah dengan menggunakan uang ini
lebih efektif dan efisien bagi umat muslim masa kini.
Syarat wajib zakat fitrah adalah:
a. Islam
b. Masih hidup pada saat matahari terbenam di malam Idul Fitri. Jadi orang
yang meninggal dunia sebelum matahari terbenam di malam Idul Fitri, tidak
wajib membayar zakat fitrah. Demikian pula bayi yang baru lahir sesudah
terbenamnya matahari di malam Idul Fitri.
c. Orang yang memiliki kelebihan harta (makanan pokok) baik untuk dirinya
maupun keluarganya pada malam Idul Fitri dan siang harinya.
Sedangkan waktu mengeluarkan zakat fitrah
a. Waktu Mubah: Mulai dari awal bulan hingga akhir bulan Ramadhan.
b. Waktu Wajib: Mulai terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan.
c. Waktu Sunnah: Setelah shalat Shubuh hingga sebelum shalat Idul Fitri.
d. Waktu Makruh: Setelah shalat Idul Fitri sampai sebelum waktu Zhuhur pada
Hari Raya Idul Fitri. Jika mengeluarkan zakat fitrah setelah shalat Idul Fitri
maka dianggap sedekah sunah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa mengeluarkan (zakat fitrah) sebelum shalat (Idul Fitri) maka
zakatnya sah. Baransiapa mengeluarkan (zakat fitrah) setelah shalat (Idul
Fitri), maka dianggap sedekah sunah”. (H.R. Ibnu Majah)
e. Waktu Haram: Setelah shalat Zhuhur di Hari Raya Idul Fitri. Zakat fitrah yang
dikeluarkan pada waktu haram ini tidak dihitung sebagai zakat fitrah,
melainkan sebagai shadaqah biasa.

41
Berikut ini rincian bacaan niat zakat fitrah:
a. Niat untuk diri sendiri

َٟ‫هلل تَعَاه‬
ٔ ٔ‫ فَسِضّا‬ٛٔ‫ اهِٔفطِسِ َع ِّ َُ ِفط‬َٝ‫ت أَ ِْ ُأخِسِ َد شَكَا‬
ُ ََُِٙ٘
Saya berniat mengeluarkan zakat titrah dari diri saya, fardhu karena Allah
Ta’ala.
b. Niat untuk suami atau istri

َٟ‫هلل َتعَاه‬
ٔ ٔ‫ فَسِضّا‬ٛٔ‫ َشِٗجَت‬/ ِٛٔ‫ اهِٔفطِسِ َعِّ شَ ِٗج‬َٝ‫ت أَ ِْ ُأخِسِ َد شَكَا‬
ُ ََُِٙ٘
Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah dari suami atau istri saya, fardhu
karena Allah Ta’ala.
c. Niat untuk anak laki-laki atau wanita

َٟ‫هلل َتعَاه‬
ٔ ٔ‫) فَسِضّا‬nama( ِٛٔ‫ إِبَِت‬/ ِِٛٔ‫ اهِٔفطِسِ َعِّ إِب‬َٝ‫ت أَ ِْ ُأخِسِ َد شَكَا‬
ُ ََُِٙ٘
Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah dari anak laki-laki atau anak
wanita saya (yang bernama ….), fardhu karena Allah Ta’ala.
d. Niat untuk bapak atau ibu

َٟ‫هلل َتعَاه‬
ٔ ٔ‫) فَسِضّا‬nama( ًُِِّٛ‫ أ‬/ ِٛٔ‫ اهِٔفطِسِ َعِّ أَب‬َٝ‫ت أَ ِْ ُأخِسِ َد شَكَا‬
ُ ََُِٙ٘
Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah dari bapak atau ibu saya (yang
bernama ….) fardhu karena Allah Ta’ala.
e. Niat untuk pembantu (Pegawai) laki-laki atau wanita

َٟ‫هلل َتعَاه‬
ٔ ٔ‫) فَسِضّا‬nama( ِٛٔ‫ِ ٌَت‬ٙٔ‫ خَد‬/ ٌِِٛٔٙٔ‫ اهِٔفطِسِ َعِّ خَد‬َٝ‫ت أَ ِْ ُأخِسِ َد شَكَا‬
ُ ََُِٙ٘
Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah dari pegawai laki-laki atau
pegawai wanita saya (yang bernama ….) fardhu karena Allah Ta’ala.
Sedangkan do’a yang dibaca oleh penerima zakat, baik panitia zakat maupun amil zakat
adalah:

ٔ‫ َٗاِهرٌَِدُٔهلل‬.َِّٚ‫ربٕٔٔ َأجِ ٌَٔع‬


ِ‫ص‬َ َٗ ٕٔٔ‫ آه‬َٟ‫ِّدَُٔا ًُرٌَٖدٕ َٗعَو‬َٚ‫ ض‬َٟ‫ اَهؤٍَُّٖ صَىِّ َٗضَوٍِِّ َٗبَازِنِ عَو‬.ٍِِٚ‫ٔبطٍِِ اهللٔ اه ٖسذِ ٌَِّ اهسٖ ٔذ‬

ٍََ‫َا َأ ِزذ‬ٙ َ‫ِتَ َٗ َجعَوَمَ اهللُ هَمَ َطُٔ ِ٘زّا بٔ َسذٌَِتٔم‬َٚ‫ٌَِا أَبِق‬ٚ‫ِتَ َٗبَازَنَ اهللُ ٔف‬َٚ‫ٌَِا أَ ِعط‬ٚ‫ اَ َّهؤٍُٖ آجَسَنَ اهللُ ٔف‬.ٌََِّٚٔ‫زَبِّ اِهعَاه‬

.ٌَِّٚٔٔ‫اهسٖاذ‬
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga
Allah mencurahkan rahmat yang agung dan keselamatan serta keberkahan kepada
junjungan kami, Muhammad, keluarga dan para Shahabat beliau seluruhnya. Segala
puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Ya Allah.. Semoga Allah memberimu pahala atas
apa (harta) yang engkau berikan, dan semoga Allah memberi berkah atas apa (harta)
yang masih ada padamu. Semoga Allah menjadikanmu bersih, atas nama rahmat-Nya
wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

42
2. Zakat Mal
Ketentuan zakat mal dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1
Ketentuan Zakat Mal

Nishab Haul
No Jenis Harta (Batas (Batas Kadar Zakat
Jumlah) Waktu)

1 Emas 93,6 gr 1 Tahun 2,5 %

2 Perak 624 gr 1 Tahun 2,5 %

3 Perdagangan Standar Emas 1 Tahun 2,5 %

10%

Pertanian (Padi, 5 Wasaq = (jika irigasi gratis)


4 Setiap Panen
Jagung, Gandum, dll.) 750 kg 5%

(jika irigasi berbayar)

121-200 2 Ekor
Ekor Tidak Ada
Peternakan (umur 2 tahun lebih)
5 Ketentuan
(Kambing / Domba)
Tiap Tambah Haul
Tambah 1 Ekor
100

1 Ekor
30-39 Ekor
(umur 1 tahun lebih)

1 Ekor
40-59 Ekor
(umur 2 tahun lebih)

2 Ekor
60-69 Ekor Tidak Ada
Peternakan (umur 1 tahun lebih)
6 Ketentuan
(Sapi / Kerbau) Haul 2 Ekor
70-79 Ekor
(umur 2 tahun lebih)

3 Ekor
80-89 Ekor
(umur 2 tahun lebih)

Tiap Tambah
Tambah 1 Ekor
30

Tidak ada 1 ekor kambing (umur


7 Unta 5 Ekor
ketentuan 2 tahun)

43
Haul 1 ekor unta (umur 2
25-24 Ekor
tahun)

1 ekor unta betina


35-45 Ekor
(umur 2 tahun)

1 ekor unta betina


46-60 Ekor
(umur 3 tahun)

1 ekor unta betina


61-75 Ekor
(umur 4 tahun)

2 ekor unta betina


76-90 Ekor
(umur 2 tahun)

2 ekor unta betina


91-124 Ekor
(umur 3 tahun)

8 Perikanan Standar Emas 1 Tahun 2,5 %

Pasca
9 Pertambangan Standar Emas 2,5 %
Menambang

10 Profesi Standar Emas 1 Tahun 2,5 %

Tidak Ada
Barang Terpendam Tidak Ada
11 Ketentuan 20%
(Rikaz) Nishab
Haul

Terkait zakat kambing dan domba, berikut ini disajikan gambaran pertumbuhan
gigi kambing atau domba berdasarkan usianya:

www.startimes.com
Gambar 3.2
Gambaran Pertumbuhan Gigi Kambing atau Domba Sesuai Usianya

44
Kendati terlihat mirip, namun ada perbedaan yang jelas antara kambing dengan
domba sebagaimana tabel di bawah ini:
Tabel 2
Perbedaan Kambing dengan Domba

ternak-kambing-gibas.blogspot.com

3. Contoh Penghitungan Zakat


Zakat Profesi (Gaji). Yang dimaksud gaji adalah upah kerja yang dibayar tepat pada
waktunya. Zakat profesi hukumnya wajib dengan syarat penghasilan (gaji) sudah
melebihi kebutuhan pokok dan keluarga.
Untuk ukuran nishab zakat profesi sama dengan nishab zakat emas yaitu 93,6
gram dan telah genap selama satu tahun dimiliki. Sedangkan besaran zakat yang harus
dikeluarkan adalah 2,5 %.
Contoh Kasus: Pak Ahmad adalah seorang dokter spesialis kandungan. Dia
memiliki keluarga yang terdiri dari istri dan dua orang anak. Pak Ahmad memiliki
penghasilan setiap bulan sebagai berikut:
Penerimaan
Gaji resmi dari Pemerintah 5.000.000,00
Praktik swasta sore-malam 15.000.000,00
Lain-lain 2.000.000,00
Jumlah 22.000.000,00
Pengeluaran per Bulan
Keperluan pokok keluarga 7.500.000,00
Keperluan lain-lain 2.500.000,00
Jumlah 10.000.000,00
Saldo Setiap Bulan 12.000.000,00
Saldo Setiap Tahun 144.000.000,00
Sedangkan harga emas ketika itu adalah:
 Harga Emas 20 karat = Rp. 402.000 per gram
 Harga 93,6 gram emas = Rp. 37.627.200
Karena sisa penghasilan Pak Ahmad mencapai Rp 144.000.000, berarti telah
mencapai nishab. Oleh karena itu, Pak Ahmad wajib mengeluarkan zakat profesi
sebesar:
Zakat = Saldo penghasilan 1 tahun x 2,5 %
= Rp. 144.000.000 x 2,5 %
= Rp. 3.600.000
Jadi zakat yang harus dikeluarkan bapak Ahmad adalah Rp. 3.600.000.

45
C. PENERAPAN ZAKAT SESUAI UNDANG-UNDANG
1. Kilas Sejarah Pengelolaan Zakat dalam Pemerintahan Indonesia
Menurut catatan sejarah, sebagaimana dituturkan Muchtar Zarkasyi, mantan
pejabat senior Kementerian Agama dan Ketua Dewan Pertimbangan BAZNAS, sejak
masuknya Islam ke Indonesia, zakat telah tertata dengan baik. Kesultanan Islam
mengelola zakat dan mengatur pemanfaatannya untuk kepentingan umat Islam. Setelah
lenyapnya kesultanan Islam dihancurkan oleh kolonialisme, maka sejak itulah zakat
diperankan oleh masyarakat melalui masjid-masjid dan ulama di tingkat lokal.
Karel A. Steenbrink mengungkapkan bahwa pada tahun 1866, pemerintah
mengeluarkan peraturan yang melarang keras kepala desa sampai bupati turut campur
dalam pengumpulan zakat. Peraturan tersebut mengakibatkan penduduk di beberapa
tempat enggan mengeluarkan zakat atau tidak memberikannya kepada penghulu dan
naib, melainkan kepada ahli agama yang dihormati, yaitu kyai atau guru mengaji. Dalam
kegelapan zaman penjajahan, zakat dikelola secara individual oleh umat Islam.
Setelah kemerdekaan, Kementerian Agama diperjuangkan oleh umat Islam dalam
rangka pelaksanaan asas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam ideologi negara Pancasila dan
ketentuan pasal 29 UUD 1945. Kementerian Agama dibentuk dalam Kabinet Sjahrir II
pada 3 Januari 1946 dengan Menteri Agama Pertama, H.M. Rasjidi. Sejak Menteri Agama
H.M. Rasjidi hingga sekarang, masalah zakat dan wakaf menjadi perhatian dan kebijakan
Kementerian Agama.
Muhammad Daud Ali menulis bahwa setelah Indonesia merdeka, terdapat
“hambatan politis” dalam penyelenggaraan pengumpulan zakat. Semasa Menteri Agama
K.H. Saifuddin Zuhri, Kementerian Agama tahun 1964 menyusun Rancangan Undang-
Undang tentang Pelaksanaan Zakat dan Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang tentang Pelaksanaan Pengumpulan dan Pembagian Zakat serta
Pembentukan Baitul Mal. Akan tetapi, entah apa sebabnya rancangan produk legislasi
tersebut batal diajukan ke DPR. Kementerian Agama tahun 1967 kembali menyiapkan
Rancangan Undang-Undang Zakat. Tetapi karena tidak mendapat dukungan dari Menteri
Keuangan sebagai kementerian terkait, maka pembahasannya dihentikan.
Setahun kemudian lahir Peraturan Menteri Agama No 4 Tahun 1968 tentang
Pembentukan Badan Amil Zakat dan Peraturan Menteri Agama No 5 Tahun 1968
tentang Pembentukan Baitul Mal di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kotamadya.
Namun dalam waktu berdekatan, Presiden Soeharto di Istana Negara 26 Oktober 1968
mengumumkan bahwa sebagai pribadi, beliau bersedia untuk mengurus pengumpulan
zakat secara besar-besaran.
Pernyataan Presiden Soeharto tahun 1968 menganulir pelaksanaan Peraturan
Menteri Agama terkait dengan zakat dan baitul mal. Tidak lama kemudian Instruksi
Menteri Agama No 1 Tahun 1969, menyatakan pelaksanaan Peraturan Menteri Agama
No 4 dan No 5 Tahun 1968 ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Pada tahun 1969 pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No 44 tahun
1969 tentang Pembentukan Panitia Penggunaan Uang Zakat yang diketuai Menko Kesra
Dr. K.H. Idham Chalid. Perkembangan selanjutnya di lingkungan pegawai
kementerian/lembaga/BUMN dibentuk pengelola zakat dibawah koordinasi badan
kerohanian Islam setempat. Di tingkat wilayah pelembagaan zakat dipelopori BAZIS DKI
Jakarta yang dibentuk dengan keputusan Gubernur Ali Sadikin tanggal 5 Desember 1968
yang dilatarbelakangi rekomendasi pertemuan 11 orang alim ulama di ibukota yang
dihadiri antara lain oleh Buya Hamka. Keberadaan pengelola zakat semi-pemerintah
secara nasional dikukuhkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam
Negeri dan Menteri Agama No 29 dan No 47 Tahun 1991 tentang Pembinaan BAZIS.
Undang-Undang Pengelolaan Zakat (UU No 38 Tahun 1999) lahir di masa Presiden
RI Ke-3 B.J. Habibie dan Menteri Agama H.A. Malik Fadjar. Undang-Undang Pengelolaan
46
Zakat tahun 1999 diubah dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2011 dan diterbitkan
Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2014. Pemerintah di masa Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menerbitkan Instruksi Presiden No 3 Tahun 2014 tentang Optimalisasi
Pengumpulan Zakat di Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, BUMN dan BUMD
melalui BAZNAS.
Dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang ini, diharapkan peran
dan dukungan negara secara konkrit terhadap pengelolaan zakat lebih meningkat,
apalagi di tengah persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih terjadi di
negara kita di waktu sekarang.
2. Pengelolaan Zakat sesuai Undang-Undang
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Penunaian zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu sesuai dengan
syariat Islam. Zakat merupakan pranata keagamaan yang bertujuan untuk
meningkatkan keadilan, kesejahteraan masyarakat, dan penanggulangan kemiskinan.
Dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna, zakat harus dikelola secara
melembaga sesuai dengan syariat Islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian
hukum, terintegrasi, dan akuntabilitas sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan
efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat.
Selama ini pengelolaan zakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Zakat dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan
kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu diganti. Pengelolaan zakat yang
diatur dalam Undang-Undang ini meliputi kegiatan perencanaan, pengumpulan,
pendistribusian, dan pendayagunaan.
Dalam upaya mencapai tujuan pengelolaan zakat, dibentuk Badan Amil Zakat
Nasional (BAZNAS) yang berkedudukan di ibu kota negara, BAZNAS provinsi, dan
BAZNAS kabupaten/kota. BAZNAS merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang
bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri. BAZNAS
merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara
nasional.
Untuk membantu BAZNAS dalam pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan
pendayagunaan zakat, masyarakat dapat membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Pembentukan LAZ wajib mendapat izin Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh
Menteri. LAZ wajib melaporkan secara berkala kepada BAZNAS atas pelaksanaan
pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat yang telah diaudit syariat dan
keuangan.
Zakat wajib didistribusikan kepada mustahik sesuai dengan syariat Islam.
Pendistribusian dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip
pemerataan, keadilan, dan kewilayahan. Zakat dapat didayagunakan untuk usaha
produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat apabila
kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi.
Selain menerima zakat, BAZNAS atau LAZ juga dapat menerima infak, sedekah, dan
dana sosial keagamaan lainnya. Pendistribusian dan pendayagunaan infak, sedekah, dan
dana sosial keagamaan lainnya dilakukan sesuai dengan syariat Islam dan dilakukan
sesuai dengan peruntukan yang diikrarkan oleh pemberi dan harus dilakukan
pencatatan dalam pembukuan tersendiri.
Untuk melaksanakan tugasnya, BAZNAS dibiayai dengan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara dan Hak Amil. Sedangkan BAZNAS provinsi dan BAZNAS
kabupaten/kota dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Hak
Amil, serta juga dapat dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

47
D. HIKMAH ZAKAT
Di antara hikmah dan tujuan ditunaikannya zakat adalah:
1. Membuktikan penghambaan diri kepada kepada Allah SWT. Zakat bukan
pajak. Zakat adalah ketaatan dan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla yang
dilakukan oleh seorang mukmin demi meraih pahala dan balasan di sisi Allah
Azza wa Jalla.
2. Mensyukuri nikmat Allah SWT. Dengan menunaikan zakat atas harta yang
telah Allah SWT limpahkan sebagai karunia kepada manusia, berarti telah
mensyukuri nikmat. Adapun mensyukuri nikmat itu sendiri hukumnya wajib
bagi seorang muslim. Di antara manfaatnya adalah agar nikmat langgeng dan
bertambah.
3. Menyucikan orang yang menunaikan zakat dari dosa-dosa dan sifat bakhil
(kikir).
4. Membersihkan harta yang dizakati. Zakat yang belum dizakati, dinilai masih
ada keterkaitan dengan hak orang lain –semisal fakir miskin–, sehingga
dalam pandangan Syariat, harta tersebut masih dinilai kotor dan keruh. Jika
hak-hak orang itu sudah ditunaikan melalui pemberian zakat, berarti harta
itu telah dibersihkan. Hal ini juga diisyaratkan oleh sabda Nabi SAW ketika
beliau menjelaskan alasan mengapa zakat tidak boleh diberikan kepada
keluarga beliau. Nabi SAW menilai bahwa zakat itu ibarat ‘kotoran’ harta
manusia. Artinya, jika harta sudah dikeluarkan zakatnya, berarti telah
dibuang ‘kotoran’ harta, sehingga harta yang dizakati tersebut menjadi
bersih; sedangkan harta yang belum dizakati, dinilai sebagai harta yang
masih menyimpan ‘kotoran’.
5. Membersihkan hati orang miskin dari iri hati terhadap orang kaya. Bila orang
fakir melihat orang di sekitarnya hidup senang dengan harta yang melimpah,
sementara dia sendiri harus memikul derita kemiskinan, bisa jadi kondisi ini
menjadi sebab timbulnya rasa iri hati, dengki, permusuhan dan kebencian
dalam hati orang miskin terhadap orang kaya. Perasaan-perasaan negatif
tersebut tentu melemahkan hubungan antar sesama Muslim, bahkan
berpotensi memutus tali persaudaraan. Iri hati, dengki dan kebencian adalah
penyakit berbahaya yang mengancam masyarakat dan mengguncang
pondasi-nya. Oleh sebab itu, Islam berupaya untuk mengatasinya dengan
menjelaskan bahayanya dan dengan pensyariatan kewajiban zakat. Ini adalah
metode praktis yang efektif untuk mengatasi penyakit-penyakit hati tersebut
sekaligus menyebarkan rasa cinta dan kasih sayang di antara umat muslim.
6. Menghibur dan membantu orang miskin.
7. Mengembangkan harta yang dizakati. Allah SWT berfirman:

)39 :‫ (ضباء‬          
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan
menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.
Artinya, Allah SWT menggantinya di dunia dengan yang semisalnya dan di
akhirat dengan pahala dan balasan.
8. Mewujudkan solidaritas dan kesetia-kawanan sosial. Zakat adalah bagian
utama dari rangkaian solidaritas sosial yang berpijak kepada penyediaan
kebutuhan dasar kehidupan. Kebutuhan dasar kehidupan itu berupa
sandang, pangan, papan, terbayarnya hutang-hutang, memulangkan orang-
orang yang tidak bisa pulang ke negara mereka dan bentuk-bentuk
solidaritas lainnya yang ditetapkan dalam Islam.

48
9. Menumbuhkan perekonomian Islam. Zakat mempunyai pengaruh positif
yang sangat signifikan dalam mendorong gerak roda perekonomian Islam
dan mengembangkannya. Alasannya, pertumbuhan harta individu para
pembayar zakat (Muzakki) memberikan kekuatan dan kemajuan bagi
ekonomi masyarakat. Zakat juga dapat menghalangi penumpukan harta di
tangan orang-orang kaya saja.

RANGKUMAN
1. Secara garis besar, zakat dibagi menjadi dua, yaitu zakat fitrah dan zakat mal.
2. Zakat fitrah adalah zakat badan yang wajib diberikan oleh setiap orang Islam
setahun sekali (pada Idul Fitri) berupa makanan pokok sehari-hari (beras, jagung,
dan sebagainya).
3. Zakat Mal: Zakat harta yang wajib diberikan karena menyimpan (memiliki) harta
(uang, emas, dan sebagainya) yang cukup syarat-syaratnya.
4. Mustahik zakat menurut Surat al-Taubah: 60 adalah Fakir, Miskin, Amil, Muallaf,
Riqab, Gharim, Sabilillah dan Ibnu Sabil.
5. Pengelolaan zakat diatur dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999, kemudian
diperbarui dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014.
6. BAZNAS adalah badan amil zakat yang mengelola zakat oleh pihak pemerintah,
sedangkan LAZ adalah badan amil zakat yang mengelola zakat oleh pihak
masyarakat.

TUGAS
1. Project Based Learning: Lakukanlah penelusuran buku-buku tentang zakat,
kemudian buatlah resensi atas buku tersebut. Resensi diketik dalam font Times
New Roman 12, maksimal satu halaman ukuran A4 dengan margin kiri-atas = 4 cm,
kanan-bawah = 3 cm.
2. Problem Based Learning: Lakukanlah penelitian lapangan tentang problem-
problem yang dialami oleh amil zakat atau panitia penerima zakat di daerah
tempat tinggalmu, sekaligus altenatif solusi yang ditawarkan dalam menyelesaikan
problem-problem tersebut.
3. Discovery Learning: Lakukanlah penelitian pustaka tentang model pengelolaan
zakat yang diusulkan oleh para pakar dalam rangka meningkatkan perkembangan
ekonomi umat muslim di Indonesia.

KEGIATAN
1. Buatlah kelompok kecil untuk melatih keterampilan penghitungan zakat profesi,
baik penghitungan secara manual maupun menggunakan aplikasi atau software
penghitungan zakat.
2. Buatlah diagram alir yang menggambarkan prosedur pengelolaan zakat, mulai dari
penerimaan, pendistribusian hingga pelaporan.
3. Bentuklah kelompok kecil. Kemudian tentukan anggota kelompok yang diberi
tugas sebagai amil zakat, muzakki dan mustahik zakat. Setelah itu, simulasikan
proses pengelolaan zakat yang melibatkan ketiga pihak tersebut (amil, muzakki
dan mustahik).

49
UJI KOMPETENSI
Soal Pilihan Ganda
1. Perhatikan ayat berikut


 
   
 
 
         
 
  
 
    
 
 
      
  
 

Arti dari lafal yang bergaris-bawah adalah…
a. Ambillah zakat d. Kamu mensucikan mereka
b. Ambillah sedekah e. Kamu mendoakan mereka
c. Kamu membersihkan mereka
2. Apa hukum zakat fitrah bagi orang yang meninggal dunia setelah tenggelamnya
matahari pada malam Idul Fitri..
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
3. Apa hukum mengeluarkan zakat setelah shalat Idul Fitri...
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
4. Waktu disunahkan mengeluarkan zakat fitrah adalah...
a. Mulai dari awal bulan hingga akhir bulan Ramadhan
b. Mulai terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan
c. Setelah shalat Shubuh hingga sebelum shalat Idul Fitri
d. Setelah shalat Idul Fitri sampai sebelum waktu Zhuhur pada Hari Raya Idul
Fitri.
e. Setelah shalat Zhuhur di Hari Raya Idul Fitri
5. Pengertian gharim adalah...
a. Orang yang tidak memiliki harta maupun pekerjaan yang mencukupi
kebutuhan hidupnya
b. Para petugas atau panitia pengumpul zakat
c. Orang yang berhutang, baik hutang untuk drinya sendiri maupun orang lain
d. Orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT
e. Orang yang sedang atau hendak mengadakan perjalanan yang tidak
tergolong maksiat
6. “Orang yang baru masuk Islam, sehingga niatnya dalam beragama Islam dinilai
masih lemah” adalah pengertian dari ...
a. Fakir d. Gharim
b. Amil e. Ibnu Sabil
c. Muallaf
7. Apa hukum mengeluarkan zakat fitrah dengan menggunakan uang menurut
mazhab Hanafi...
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
8. Berapa ukuran zakat fitrah menurut Wahbah Zuhaili dalam kitab al-Fiqhu al-Islami
wa Adillatuhu....
a. 2,2 Kg d. 2,65 Kg
b. 2,5 Kg e. 2,75 Kg
c. 2,55 Kg

50
9. Perhatian bacaan di bawah ini

َٟ‫هلل َتعَاه‬
ٔ ٔ‫ِ فَسِضّا‬ًُِّٛ‫ اهِٔفطِسِ َعِّ أ‬َٝ‫ت أَ ِْ ُأخِسِ َد شَكَا‬
ُ ََُِٙ٘
Bacaan di atas adalah niat zakat fitrah untuk...
a. Diri sendiri d. Anak
b. Ayah e. Pembantu
c. Ibu
10. Nishab zakat emas dan perak adalah…
a. Nishab emas 96,3 gram dan perak 624 gram
b. Nishab emas 96,3 gram dan perak 625 gram
c. Nishab emas 93,6 gram dan perak 624 gram
d. Nishab emas 93,6 gram dan perak 625 gram
e. Nishab emas 93,6 gram dan perak 626 gram
11. Berapa kadar zakat jika memiliki peternakan 70-79 ekor sapi....
a. 1 ekor sapi umur 1 tahun lebih
b. 1 ekor sapi umur 2 tahun lebih
c. 2 ekor sapi umur 1 tahun lebih
d. 2 ekor sapi umur 2 tahun lebih
e. 3 ekor sapi umur 2 tahun lebih
12. Kadar zakat hasil pertanian yang irigasinya berbiaya adalah...
a. 1% d. 10 %
b. 2,5 % e. 20 %
c. 5%
13. Kadar zakat yang tertinggi adalah 20% yang ditujukan pada zakat...
a. Emas dan Perak d. Profesi
b. Perdagangan e. Rikaz
c. Pertanian
14. Undang-undang lama yang mengatur pengelolaan zakat adalah...
a. UU Nomor 38 Tahun 1999
b. UU Nomor 39 Tahun 1999
c. UU Nomor 40 Tahun 1999
d. UU Nomor 41 Tahun 1999
e. UU Nomor 42 Tahun 1999
15. Undang-undang baru yang mengatur pengelolaan zakat adalah...
a. UU Nomor 21 Tahun 2011
b. UU Nomor 22 Tahun 2011
c. UU Nomor 23 Tahun 2011
d. UU Nomor 24 Tahun 2011
e. UU Nomor 25 Tahun 2011
16. Apa nama lembaga yang melakukan pengelolaan zakat secara nasional...
a. LAZIS (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah)
b. LAZ (Lembaga Amil Zakat)
c. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional)
d. Panitia Zakat
e. Rumah Zakat
17. “Lembaga yang dibentuk masyarakat yang memiliki tugas membantu
pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat” adalah pengertian
dari...
a. LAZIS (Lembaga Amil Zakat, b. LAZ (Lembaga Amil Zakat)
Infak dan Shadaqah)

51
c. BAZNAS (Badan Amil Zakat d. Panitia Zakat
Nasional) e. Rumah Zakat
18. Apakah yang dimaksud dengan asas akuntabilitas dalam pengelolaan zakat...
a. Pengelola zakat harus dapat dipercaya
b. Pengelolaan zakat dilakukan untuk memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya bagi mustahik
c. Pengelolaan zakat dalam pendistribusiannya dilakukan secara adil
d. Pengelolaan zakat memiliki jaminan kepastian hukum bagi mustahik dan
muzaki
e. Pengelolaan zakat dapat dipertanggungjawabkan dan diakses oleh
masyarakat
19. Dalam melaksanakan tugas, BAZNAS menyelenggarakan fungsi berikut:
1) perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat
2) pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat
3) pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat
4) pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat
Urutan fungsi BAZNAS yang benar adalah…
a. 1–2–3–4
b. 1–2–4–3
c. 1–4–2–3
d. 1–4–3–2
e. 4–3–2–1
20. Persamaan zakat dan pajak adalah…
a. Sama-sama menjadikan orang muslim sebagai objeknya
b. Sama-sama berdasarkan al-Qur’an dan Hadis
c. Sama-sama berstatus ibadah mahdhah (murni)
d. Sama-sama ditujukan kepada delapan mustahik
e. Sama-sama mengharuskan nishab dan haul

Soal Esai
1. Apa saja yang menjadi syarat wajib zakat?
2. Sebutkan 8 kelompok mustahik zakat secara berurutan berdasarkan Surat al-
Taubah: 60!
3. Mengapa Bani Hasyim dan Bani Mutholib tidak boleh menerima zakat?
4. Jelaskan perbedaan antara zakat fitrah dengan zakat mal!
5. Tulislah niat zakat fitrah untuk diri sendiri beserta artinya!
6. Apa hukum mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri?
7. Apakah arti dari doa berikut ini:

ٍََ‫َا أَ ِزذ‬ٙ َ‫ِتَ َٗجَعََومَ اهللُ َهمَ َطُٔ ِ٘زّا بٔ َسذِ ٌَتٔم‬َٚ‫ٌَِا أَبِق‬ٚ‫تَ َٗبَازَنَ اهللُ ٔف‬ِٚ‫ٌَِا أَعِ َط‬ٚ‫اَ َّهؤٍُٖ آجَسَنَ اهللُ ٔف‬

.ٌَِّٚٔٔ‫اهسٖاذ‬
8. Berapa nishab zakat emas dan perak?
9. Sebutkan jenis-jenis zakat mal berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2011 Pasal 4!
10. Pak Muhammad memperoleh gaji bulanan sebesar Rp. 20.000.000. Jumlah
pengeluaran rutin Pak Muhammad setiap bulan adalah Rp. 8.000.000. Hitunglah
zakat profesi yang harus dikeluarkan oleh Pak Muhammad!

52
Bab IV
HAJI DAN UMRAH

Kata Kunci: Haji, Umrah, Rukun Haji, Wajib Haji, Muharramat, Dam
Tiada satu tempat pun di dunia ini yang begitu didambakan dan dirindukan oleh
setiap umat muslim, melebihi Al-Haramain, kota suci Mekah al-Mukarramah dan
Madinah al-Munawwarah. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kedua kota tersebut
tidak pernah sepi dari umat muslim yang menunaikan ibadah haji dan umrah.
Selain harus berstatus muslim, baligh dan berakal, prasyarat lain yang harus
dipenuhi setiap peminat ibadah haji dan umrah adalah kemampuan (ِٞ‫)إِضِٔتطَا َع‬.
Kemampuan di sini meliputi kemampuan fisik, materi, dan media dengan berbagai
dimensinya. Akan tetapi, dimensi kemampuan yang kerap diabaikan bahkan dilupakan
adalah kemampuan keilmuan. Artinya, harus memiliki pemahaman tentang fikih haji
dan umrah. Di sinilah letak urgensi pembahasan bab keempat ini.
Bab keempat menguraikan ketentuan haji dan umrah dalam Islam, undang-undang
penyelenggaraan haji dan umrah, macam-macam manasik haji dan umrah, kerjasama
serta hikmah haji dan umrah.

Kompetensi Inti :
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-jawab, peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan baksat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar dan Indikator:


7. Menelaah ketentuan Islam tentang haji dan umrah, Undang-undang
penyelenggaraan haji dan umrah beserta hikmahnya
7.1. Menjelaskan ketentuan Islam tentang haji dan umrah
7.2. Mengidentifikasi Undang-undang penyelenggaraan haji dan umrah
7.3. Menunjukkan contoh penerapan macam-macam manasik haji
7.4. Menunjukkan contoh kerjasama dan tolong-menolong dalam pelaksanaan
ibadah haji
7.5. Menjelaskan hikmah pelaksanaan ibadah haji
8. Memperagakan simulasi manasik haji dan umrah
8.1. Mempraktikkan pelaksanaan manasik haji sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan tentang haji

53
PETA KONSEP

Catatan: Umat muslim yang


baligh-berakal (mukallaf) dan
mampu, wajib menunaikan ibadah
haji-umrah. Ketika berhaji-umrah,
dia harus menjalankan rukun dan
wajib haji, ditambah sunah haji,
serta menghindari hal-hal yang
diharamkan (muharramat) dalam
haji-umrah, karena menyebabkan
dia terkena dam (denda).

54
AMATI GAMBAR BERIKUT, KEMUDIAN BERIKAN KOMENTAR ATAU PERTANYAAN
YANG RELEVAN

Gambar sebelah kiri menunjukkan jemaah haji [Emad al-Husseini] yang rela
menggendong jemaah haji lansia, meskipun bukan ayahnya; sedangkan gambar sebelah
kanan menggambarkan tragedi crane yang terjadi di Masjidil Haram pada 11 September
2015 dan memakan korban jiwa ratusan jemaah.

www.salam-online.com; www.aktual.com
Gambar 4.1
Contoh Kerjasama dan Risiko dalam Pelaksanaan Haji dan Umrah

MENGEMUKAKAN KOMENTAR

…………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………………………………

MENGAJUKAN PERTANYAAN

…………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………………………………………

55
MATERI POKOK
A. KETENTUAN HAJI DALAM ISLAM
1. Pengertian
Menurut bahasa, haji berasal dari akar kata hajja yang berarti ‘menyengaja
berziarah’ (َٝٔ‫َاز‬ِّٙ‫صدُٔهوص‬
ِ َ‫ )اهق‬atau menyengaja secara umum (‫)اهِقَصِدُ ًُطِوَقّا‬.
Menurut istilah Syariat, pengertian haji adalah:

ٍ‫ بٔفٔعِىٍ ًَخِصُِ٘ص‬،ٍ‫ِ شًََاٍْ ًَخِصُِ٘ص‬ٛٔ‫ ف‬،ٍ‫ ًَلَاٍْ ًَخِصُِ٘ص‬َُٝ‫َاز‬ِٙ‫ش‬


Menyengaja berkunjung ke tempat tertentu, pada waktu tertentu, dengan aktivitas
tertentu.
Pengertian “tempat tertentu” adalah Baitullah (Ka’bah) dan ‘Arafah. “Waktu
tertentu” adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. “Aktivitas tertentu” adalah
orang yang ihram berniat melakukan haji dengan mendatangi tempat-tempat yang
sudah ditentukan, misalnya Ka’bah, Arafah, Shafa dan Marwah, dan lain-lain.
2. Permulaan Syariat Haji
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, ibadah haji diwajibkan pada akhir tahun ke-9
Hijriyah dengan diturunkannya Surat Ali ‘Imran: 97. Akan tetapi, Rasulullah SAW harus
menunda pelaksanaan haji karena ada uzur, sehingga beliau melaksanakan haji pada
tahun ke-10 H. Demikian menurut riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
3. Dasar Hukum
Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dikerjakan oleh umat muslim yang
sudah mampu, sekali dalam seumur hidup. Allah SWT berfirman dalam Surat al-
Baqarah: 196:

)196 :ٝ‫ (اهبقس‬    


Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.

)97 :ْ‫ (اي عٌسا‬         
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang
sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Hadis Nabi Muhammad SAW:

ُ‫ قَ ِد فَ َسضَ اهلل‬،ُ‫ََُٔا اهِٖاع‬َٙ‫َا أ‬ٙ :َ‫ فَقَاي‬،ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬ٚ‫ اهللُ عََو‬َّٟ‫ خَ َطبَ زَضُ ِ٘يُ اهللٔ صَو‬،َُِٕ‫َ اهلل ع‬ٛٔ‫َ زَض‬َٝ‫ِس‬َٙ‫ ُٓس‬ٛٔ‫َعِّ أَب‬

ُ‫ اهلل‬َّٟ‫ٗ صَو‬ٛٔ‫ فَقَايَ اهِٖب‬.‫ قَاَهَٔا ثَالَثّا‬ٟٖ‫ َذت‬،َ‫َا زَضُ ِ٘يَ اهللٔ؟ َفطَ َلت‬ٙ ،ٍَ‫ أَكُىٗ عَا‬:ْ‫ فَقَايَ َزجُى‬.‫حِ٘ا‬
ٗ‫ر‬َ َ‫ ف‬،ٖ‫ِلٍُُ اِهرَخ‬ٚ‫عََو‬

.)ٍُٔ‫ ًَا تَسَ ِكتُلٍُِ (زََٗاُٖ ًُطِو‬ُِٛٔٗ‫ضتَ َط ِعتٍُِ ذَ ُز‬


ِ ‫ ٗهٌََا ا‬.ِ‫ َهَ٘جََبت‬،ٍَِ‫ت َُع‬
ُ ِ‫ هَ ِ٘ قُو‬:ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬ٚ‫عََو‬
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam khutbah
baliau: “Wahai manusia! Sungguh Allah telah mewajibkan Haji kepada kalian, maka
berhajilah!”. Seorang Shahabat bertanya: “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?”.
Nabi SAW diam (tidak menjawab), hingga Shahabat tersebut bertanya sampai tiga kali.
Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya aku menjawab ‘ya’, niscaya Haji akan
wajib (dilakukan tiap tahun). Mengingat kalian tidak akan mampu, maka terima saja
apa yang sudah saya tinggalkan untuk kalian [yakni kewajiban haji hanya sekali
seumur hidup, bukan sekali setiap tahun]" (H.R. Muslim).

56
Dalam riwayat lain, terdapat tambahan redaksi:

.)ُ‫ فٌََِّ شَا َد فَُٔ َ٘ َت َط٘ٗعْ ( َزَٗاُٖ َاذٌَِد‬،ْٝ‫ اِهرَخٗ ًَ ٖس‬...


… Haji itu sekali. Barangsiapa menambahnya [lebih dari sekali], maka dia telah
melakukan kesunahan (H.R. Ahmad).
Kesimpulannya, hukum haji adalah fardhu ‘ain bagi umat muslim yang sudah
memenuhi syarat-syarat wajib haji.
4. Hukum Haji
Menurut ijma para ulama, kewajiban haji ini berlaku sekali seumur hidup. Apabila
berhaji lebih dari sekali, maka statusnya sunah, kecuali ada faktor tertentu yang
membuatnya menjadi wajib, semisal nazar haji.
Kewajiban haji adakalanya fardhu ‘ain, yaitu bagi orang yang belum menunaikan
ibadah haji, padahal sudah memenuhi syarat-syaratnya; adakalanya fardhu kifayah,
yaitu bagi umat muslim secara umum, dalam rangka menyemarakkan Ka’bah setiap
tahun sekali; dan adakalanya sunah, yaitu bagi anak-anak yang masih belum baligh.
Haji bisa menjadi haram apabila dilakukan dengan menggunakan ongkos yang
haram, misalnya hasil korupsi.
Haji berstatus makruh apabila dilakukan tanpa seizin orang yang wajib dimintai
izin, misalnya izin seorang anak kepada kedua orang tuanya yang masih membutuhkan
pelayanannya.
5. Syarat-syarat Wajib Haji
Syarat-syarat wajib haji ada yang bersifat umum, yaitu berlaku bagi kaum laki-laki
maupun wanita dan ada yang bersifat khusus, yaitu berlaku bagi kaum wanita saja.
Syarat-syarat wajib haji secara umum adalah:
a. Islam
b. Mukallaf (baligh dan berakal sehat)
c. Mempunyai kebebasan dan kemerdekaan penuh
d. Mampu (istitha’ah). Pengertian mampu dipilah lagi menjadi beberapa bagian:
1) Mampu dari segi Jasmani: Sehat dan kuat, agar tidak sulit melaksanakan
ibadah haji.
2) Mampu dari segi Rohani: (a) Mengetahui dan memahami manasik haji;
(b) Berakal sehat dan memiliki kesiapan mental untuk melaksanakan
ibadah haji dengan perjalanan yang jauh.
3) Mampu dari segi Ekonomi: (a) Mampu membayar Biaya Penyelenggaraan
Ibadah Haji (BPIH) yang ditentukan oleh pemerintah yang berasal dari
usaha/harta yang halal; (b) BPIH bukan berasal dari satu-satunya sumber
kehidupan yang apabila dijual menyebabkan kemudaratan bagi diri dan
keluarganya; (c) Memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan.
4) Mampu dari segi Keamanan: (a) Aman dalam perjalanan dan pelaksanaan
ibadah haji; (b) Aman bagi keluarga dan harta benda serta tugas dan
tanggung jawab yang ditinggalkan; (c) Tidak terhalang seperti
pencekalan/mendapat kesempatan atau izin perjalanan haji termasuk
mendapatkan kuota tahun berjalan.
Syarat-syarat wajib haji secara khusus adalah:
a. Bersama dengan suami atau mahramnya. Apabila tidak ada, maka wanita
tidak wajib menunaikan haji.
b. Tidak sedang menjalani ‘iddah, baik karena faktor cerai maupun ditinggal
wafat oleh suaminya.

57
6. Rukun Haji
a. Ihram. Yaitu berniat memulai mengerjakan haji dari miqat zamani (batas
waktu) dan miqat makani (batas tempat) yang sudah ditentukan. Orang yang
berihram harus memakai pakaian ihram.

manasikhajiumrah.com
Gambar 4.2
Pakaian Ihram Laki-laki Khusus Waktu Thawaf (Gambar Kiri); Pakaian
Ihram Laki-laki di Luar Waktu Thawaf (Gambar Tengah); Pakaian
Thawaf Wanita (Gambar Kanan)
Berbeda dengan pakaian ihram wanita yang mudah dipakai, pakaian ihram
laki-laki relatif lebih sulit dipakai. Oleh sebab itu, perlu diketahui tata cara
memakai pakaian ihram bagi laki-laki, sebagaimana ilustrasi gambar berikut:

www.daftarhajiumroh.com
Gambar 4.3
Tata Cara Memakai Pakaian Ihram

58
b. Wukuf di Arafah. Yaitu Hadir di Padang Arafah pada waktu Zhuhur tanggal 9
Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Rasulullah SAW
bersabda:

.)ٜٗٔ‫ ( َزَٗاُٖ اهتِّ ِسًٔر‬.ٖ‫َ جٌَِعٍ َقبِىَ طُوُ٘ ِع اهِ َفحِ ِس فَقَ ِد أَ ِدزَ َن اهِرَخ‬َٞ‫ِو‬ٚ‫ُ ًَِّ جَا َء َه‬َٞ‫اِهرَخٗ عَسَف‬
“Haji itu (intinya) di ‘Arafah. Barangsiapa datang pada malam sepuluh (10
Dzulhijjah) sebelum terbit fajar, maka sungguh dia telah dinilai
menyempurnakan haji” (H.R. al-Tirmidzi).

www.daftarhajiumroh.com
Gambar 4.4
Suasana Wukuf di Arafah
c. Thawaf. Yaitu bentuk ibadah dengan berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali
(arahnya berlawanan dengan jarum jam atau Ka’bah berada di sebelah kiri
kita) sambil berdoa. Thawaf diawali dan diakhiri di Hajar Aswad.

gyannara.wordpress.com
Gambar 4.5
Suasana Thawaf dan Tanda Hajar Aswad

Syarat-syarat sah thawaf adalah:


1) Menutup aurat.
2) Suci dari hadats kecil dan besar; serta suci dari najis, baik pada badan,
pakaian maupun tempat Thawaf.
3) Baitullah (Ka’bah) berada di sisi kirinya.

59
4) Dilakukan 7 kali (putaran) secara sempurna dan yakin.
5) Berniat mengelilingi Baitullah.
6) Memulai dari (posisi yang sejajar dengan) Hajar Aswad.
7) Meluruskan (menyejajarkan) diri pada setiap akhir putaran Thawaf
dengan bagian Hajar Aswad.
8) Dilakukan di Masjidil Haram, walaupun di udara atau loteng Masjidil
Haram, semisal di lintasan thawaf lantai kedua.
9) Thawaf dilakukan di luar Baitullah (Ka’bah), sekira seluruh badan
berada di luar Baitullah. Yang termasuk bagian Baitullah adalah Hijir
Isma’il.
10) Tidak ada perkara yang memalingkan. Jika seseorang cepat-cepat
berjalan karena khawatir tersentuh wanita, atau agar dia dapat melihat
temannya, maka hal itu membahayakan (yakni dapat membatalkan
Thawaf).
Macam-macam thawaf:
1) Thawaf Qudum (thawaf ketika baru sampai di Mekah)
2) Thawaf Ifadhah (thawaf rukun haji)
3) Thawaf Tahallul (menghalalkan sesuatu yang sebelumnya diharamkan
sebab ihram) ketika tidak bisa melakukan rukun haji seperti wukuf.
4) Thawaf Nazar (thawaf yang dinazarkan)
5) Thawaf Sunah
6) Thawaf Wada’ (thawaf ketika akan meninggalkan Mekah).
d. Sa’i, yakni berlari-lari kecil di antara dua bukit Shafa dan Marwah tujuh kali.
Garis ‘start’ dari bukit Shafa dan garis ‘finish’ di bukit Marwah. Allah SWT
berfirman dalam Surat al-Baqarah [2]: 158

               

)158 :ٝ‫ (اهبقس‬   


Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka
Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak
ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya.
Syarat sah sa’i adalah:
1) Didahului dengan thawaf.
2) Dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah.
3) Memotong atau memutus setiap perjalanan antara Shafa dan Marwah
4) Menyempurnakan 7 (tujuh) kali perjalanan. Perjalanan dari Shafa ke
Marwah dinilai 1 kali; dan perjalanan kembali dari Marwah ke Shafa
juga dinilai 1 kali.
5) Dimulai dari Shafa pada bilangan ganjil; dan dimulai dari Marwah pada
bilangan genap. Yang dimaksud bilangan ganjil adalah sa’i ke-1, ke-3,
ke-5 dan ke-7; sedangkan yang dimaksud bilangan genap adalah sa’i ke-
2, ke-4 dan ke-6.
6) Dilaksanakan di tempat sa’i (‫ اْلمَسْعَى‬/ mas’a).

60
Sa’i tidak disyaratkan suci dari hadas besar dan hadas kecil.

ppih2012.blogspot.com
Gambar 4.6
Sa’i dilakukan dengan cara berjalan. Sa’i dilakukan dengan cara berlari-
lari kecil oleh jama’ah laki-laki ketika melewati dua pilar yang ditandai
lampu hijau
e. Tahallul, yakni mencukur (ٌ‫ )حَلْق‬atau menggunting rambut (ٌ‫)تَقْصِيْر‬, sekurang-
kurangnya tiga helai rambut. Abu Hurairah RA meriwayatkan sebuah Hadis:

ِ‫ ا َّهؤٍُٖ اغِفٔس‬:َ‫ قَاي‬.َِّٙ‫ َٗهٔوٌُِقَصِّس‬:‫ قَاهُ٘ا‬.َ‫ ا َّهؤٍُٖ اغِفٔسِ هٔوِ ٌُرَوِّقٔني‬:ٍَ‫ِٕٔ َٗضََّو‬َٚ‫ اهللُ عَو‬ٟ‫قَايَ زَضُ٘يُ اهؤَّٕ صََّو‬

)ِٜٗ‫ ( َزَٗاُٖ اهُِبخَاز‬.َِّٙ‫ َٗهٔوٌُِقَصِّس‬:َ‫ قَاي‬.‫ قَاَهَٔا ثَالَثّا‬.َِّٙ‫ َٗهٔوٌُِقَصِّس‬:‫ قَاهُ٘ا‬.َ‫هٔوِ ٌُرَوِّقٔني‬
Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, mohon Engkau ampuni orang-orang
yang mencukur rambutnya [ketika tahallul]”. Para sahabat berkata: “Dan
bagi orang-orang yang menggunting rambutnya [ketika bertahallul]”.
Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, mohon Engkau ampuni orang-orang
yang mencukur rambutnya [ketika tahallul]”. Beliau bersabda sebanyak
tiga kali, kemudian beliau menambahkan: “Dan bagi orang-orang yang
menggunting rambutnya [ketika tahallul]”. (H.R. Bukhari).

bimbingan-manasik-haji.blogspot.com.info
Gambar 4.7
Tahallul dengan mencukur rambut (Gambar Kiri) dan tahallul dengan
menggunting rambut (Gambar Kanan)
f. Tertib, yaitu mengerjakan rukun-rukun haji yang telah ditentukan secara
berurutan.

61
7. Wajib Haji
Dalam Fikih Haji, dibedakan antara wajib haji dan rukun haji. Rukun haji ialah
rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti
dengan yang lain, walaupun dengan dam (denda). Jika ditinggalkan maka tidak sah
hajinya. Sedangkan wajib haji adalah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam
ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus membayar dam; berdosa
jika sengaja meninggalkan dengan tidak ada uzur syar’i.
Di antara wajib haji adalah:
a. Ihram dari Miqat.
b. Bermalam (Mabit) di Muzdalifah. Penempatan jemaah haji di areal Mabit
Muzdalifah terbagi 2 (dua), yaitu sebagian besar berada dalam areal terbuka
yang dipagar dengan besi dan sebagian lagi langsung ke kemah Muzdalifah di
luar pagar.

www.arrahmah.com
Gambar 4.8
Jemaah haji mabit dan mengambil batu di Muzdalifah untuk jamarat
(lempar jumrah) di Mina
c. Bermalam (Mabit) di Mina. Waktu mabit di Mina adalah sepanjang malam
hari, dimulai dari waktu maghrib sampai dengan terbit fajar. Namun, kadar
lamanya mabit di Mina adalah mendapatkan sebagian besar waktu malam.

egadioniputri.wordpress.com
Gambar 4.9
Tenda-tenda di Mina yang disiapkan untuk tempat mabit para jemaah
haji
d. Melontar jumrah ‘Aqabah pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)
e. Melontar jumrah pertama (Ula), kedua (Wustha) dan ketiga (‘Aqabah) pada
tiap-tiap hari tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah

62
www.fiqhindonesia.com
Gambar 4.10
Tiga tugu tempat lempar jumrah

yallaorient.com
Gambar 4.11
Suasana lempar jumrah
f. Melakukan Thawaf Wada’
g. Menjauhkan diri dari segala larangan yang diharamkan pada waktu
melaksanakan haji atau umrah.
8. Miqat Haji
Haji memiliki dua Miqat, yaitu Miqat Zamani dan Miqat Makani.
a. Miqat Zamani (batas waktu). Dasar hukumnya adalah Surat al-Baqarah [2]:
197

   


(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan bulan-bulan haji adalah
bulan Syawal dan Dzulqa’dah. Mereka berbeda pendapat mengenai bulan
Dzulhijjah, apakah semua bulan Dzulhijjah masuk dalam kategori bulan-
bulan haji atau hanya sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah saja. Jumhur sahabat
dan tabi’in, Ibn Umar, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan
Ahmad berpendapat bahwa yang termasuk bulan-bulan haji adalah sepuluh
hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Sedangkan Imam Malik dan Ibn Hazm
berpendapat bahwa seluruh bulan Dzulhijjah adalah bulan haji.

63
Apabila seseorang berniat haji di luar miqat zamani, maka hajinya tidak sah
dan statusnya menjadi umrah. Miqat Zamani ini berlaku umum bagi seluruh
umat manusia, tidak ada perbedaan antara orang yang berada di Mekah
maupun di luar Mekah.
b. Miqat Makani (batas tempat). Miqat Makani berbeda-beda, sesuai dengan
perbedaan tempat tinggal jemaah haji. Berikut ini peta miqat makani:

rafiqjauhary.com
Gambar 4.12
Peta Miqat Makani
Bagi jemaah haji asal Indonesia, ketentuan Miqat Makaninya adalah:
1) Jemaah haji yang tiba di Madinah gelombang I adalah di Bir Ali (Dzul
Hulaifah / Abyar ‘Ali).
2) Jemaah haji gelombang II adalah di atas Yalamlam/Bandar Udara King
Abdul Aziz Jeddah.
3) Jemaah haji yang sudah berada di Mekah ialah: Ji’ranah, Tan’im, dan
tanah halal lainnya.
9. Sunnah Haji
a. Haji Ifrad, yaitu ihram untuk haji lebih dahulu dari miqatnya hingga selesai
melaksanakan haji, kemudian ihram untuk umrah.
b. Membaca Talbiyah dengan suara keras bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita
cukup didengar dirinya sendiri. Disunahkan membaca Talbiyah selama ihram
sampai melontar jumrah ‘Aqabah. Bacaan Talbiyah adalah:

ُٖ‫ِمَ َهمَ (زََٗا‬ٙ‫َ َهمَ َٗاهٌُِِومَ َهمَ الَ غَس‬ٌَِٞ‫مَ إِْٖ اهِرٌَِدَ َٗا ِّهِع‬ِٚ‫مَ َهمَ هَٖب‬ِٙ‫مَ الَ غَس‬ِٖٚ‫ َهب‬،َ‫م‬ِٖٚ‫مَ ا َّهؤٍُٖ َهب‬ِٚ‫َهٖب‬

.)ٍُٔ‫ ًَُٗطِو‬ٜٗ ِ‫اهِبُخَاز‬


Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, Aku datang memenuhi
panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,
Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan
kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. (H.R. Bukhari-Muslim)
c. Disunahkan membaca shalawat dan doa. Terutama doa memohon ridha Allah
SWT dan surga-Nya.

64
َ‫خ ٔطم‬
َ‫ض‬َ ًِّٔ َ‫ َُٗ ُع ِ٘ذُ ٔبم‬،َِٖٞ‫ح‬
َ ‫ اَ َّهؤٍُٖ إُِٖا َُطِأَُهمَ زِضَانَ َٗاِه‬.ٕ‫ َايِ ًُرٌَٖد‬َٟ‫ ًُرٌَٖدٕ َٗعَو‬َٟ‫اَ َّهؤٍُٖ صَىِّ عَو‬

ِ‫ب اهِٖاز‬
َ ‫ّ َٗٔقَِا عَرَا‬َِٞ‫ط‬
َ َ‫ٔ ذ‬َٝ‫ اِآلخٔس‬ٛٔ‫ّ َٗف‬َِٞ‫ط‬
َ ‫ َذ‬ُِٛٗ‫ اهد‬ٛٔ‫زَٖبَِا آٔتَِا ف‬.ِ‫َٗاهِٖاز‬
Ya Allah, mohon Engkau anugerahkan rahmat yang agung kepada (Nabi)
Muhammad dan keluarga (Nabi) Muhammad. Ya Allah, sesungguhnya kami
memohon kepada-Mu, ridha-Mu dan surga; serta kami berlindung kepada-
Mu dari amarah-Mu dan neraka. Wahai Tuhan kami, mohon
anugerahkanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka.
d. Berdzikir sewaktu Thawaf.
e. Shalat dua rakaat sesudah thawaf.
f. Masuk ke Ka’bah. Termasuk bagian Ka’bah adalah Hijir Isma’il.
10. Larangan Ketika Ihram atau Haji
a. Dilarang memakai pakaian yang berjahit bagi laki-laki.
b. Dilarang menutup kepala bagi laki-laki.
c. Dilarang menutup muka dan telapak tangan bagi wanita.
d. Dilarang memakai wangi-wangian pada waktu ihram, baik laki-laki maupun
wanita.
e. Dilarang menghilangkan rambut atau bulu badan maupun memakai minyak
rambut.
f. Dilarang memotong kuku.
g. Dilarang mengakadkan nikah (menikahkan orang lain; menikah; maupun
menjadi wali nikah).
h. Dilarang bersetubuh atau becumbu rayu dengan istri, apalagi dengan orang
lain. Allah SWT berfirman:

)197 :ٝ‫ (اهبقس‬           
Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan
haji, maka tidak boleh rafats [bersetubuh atau hal-hal yang bersifat vulgar-
seksual], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa
mengerjakan haji. (Q.S. al-Baqarah [2]: 197)
i. Dilarang membunuh binatang.
11. Jenis-Jenis Dam (Denda)
Agar lebih mudah memahami bahasan ini, berikut ini dikutipkan tabel jenis dam
berdasarkan pelanggaran terhadap larangan ihram:
JENIS DAM/DENDA MENURUT JENIS PELANGGARAN TERHADAP
LARANGAN IHRAM (Disarikan dari al-Majmu’ karya Imam al-Nawawi)
Kategori Dam dan Jenis
No Dam/Denda Waktu pelaksanaan
Pelanggaran
1 2 3 4
I Dam Tartib dan Taqdir  Menyembelih Mulai saat terjadi
1. Haji Tamattu’ seekor kambing pelanggaran secara tertib
2. Haji Qiran  Jika tidak mampu, (berurutan sesuai
3. Tidak berniat (ihram) berpuasa 10 hari kemampuan)
dari Miqat Makani dengan ketentuan
4. Tidak mabit di 3 hari dilaksanakan
Muzdalifah tanpa alasan selama dalam
syar’i ibadah haji dan 7
5. Tidak Mabit di Mina hari setelah di
65
tanpa alasan syar’i kampung halaman
6. Tidak melontar jamrah  Kalau tidak
7. Tidak melaksanakan sanggup berpuasa,
thawaf wada’ membayar untuk
setiap 1 hari puasa
sebesar 1 mud
(675 gr/0.7 liter)
makanan pokok
II Dam Tartib dan Ta’dil  Menyembelih Ditunaikan sejak
1. Melakukan hubungan seekor unta pelanggaran terjadi
suami-istri sebelum  Kalau tidak dengan ketentuan amalan-
tahallul awal (dalam mampu, amalan haji/umrahnya
ibadah haji) dan sebelum menyembelih tetap harus diselesaikan
selesai seluruh seekor sapi/lembu dengan kewajiban
rangkaian umrah (dalam  Kalau tidak mengulang haji/umrahnya
ibadah umrah) mampu, karena haji/umrahnya
menyembelih 7 tidak sah
ekor kambing
 Kalau tidak
mampu, memberi
makan fakir miskin
senilai seekor unta
 Kalau tidak
mampu, berpuasa
sebanyak hitungan
mud (1 mud/75
gr/0.7 liter = 1
hari) dari makanan
yang dibeli dengan
harga seekor unta
2. Tertahan (gagal)  Menyembelih Dilaksanakan di tempat ia
melaksanakan haji seekor kambing tertahan atau setelah
karena suatu halangan dan langsung kembali ke kampung
yang merintangi di menggunting halaman
tengah jalan, sedangkan (mencukur)
dia sudah ihram rambut sebagai
tahallul dari
ihramnya
 Jika tidak mampu,
memberi makan
kepada fakir
miskin senilai
harga kambing
 Jika tidak mampu,
berpuasa sebanyak
hitungan jumlah
mud (1 mud/675
gr/0.7 liter = 1
hari) yang dibeli
dengan harga
seekor kambing.
66
III Dam Takhyir dan Ta’dil Memilih di antara dua Dilaksanakan sejak
1. Berburu/membunuh macam dam: pelanggaran dilakukan
binatang buruan saat di  Menyembelih dan dibayar sesuai dengan
Tanah Haram atau Halal binatang yang bentuk dam yang dipilih
2. Menebang/memotong sebanding dengan
atau mencabut binatang yang
pepohonan di Tanah diburu. Kalau unta
Haram Mekah (kecuali perbandingannya
pepohonan yang sudah sapi, kalau
kering) rusa/kijang
perbandingannya
adalah kambing
 Memberi makan
dengan nilai harga
binatang
bandingan dan
dibagikan kepada
fakir miskin
Mekah, atau
berpuasa sejumlah
bilangan mud yang
senilai binatang
perbandingan. (1
mud/675 gr/0.7
liter = 1 hari).
IV Dam Takhyir dan Taqdir Memilih di antara tiga Dilaksanakan sejak
1. Membuang/mencabut/ macam dam: pelanggaran dilakukan
meggunting rambut atau  Menyembelih dan dibayar sesuai dengan
bulu dari anggota tubuh seekor kambing; bentuk dam yang dipilih
2. Memakai pakaian yang atau
dilarang dalam ihram  Bersedekah kepada
3. Mengecat/memotong 6 orang fakir
kuku miskin (tiap orang
4. Memakai wangi-wangian berupa dua mud)
atau
 Berpuasa 3 hari
5. Melakukan perkosaan, Memilih di antara tiga Dilaksanakan sejak
percumbuan macam dam: pelanggaran dilakukan
6. Melakukan hubungan  Menyembelih dan dibayar sesuai dengan
suami istri selepas seekor unta; atau bentuk dam yang dipilih
tahallul awal  Bersedekah
seharga seekor
unta; atau
 Berpuasa sebanyak
hitungan setiap
mud makanan yang
dibeli seharga satu
ekor unta

67
Catatan:
 Pengertian dam tartib adalah seseorang tidak boleh berpindah pada dam tingkatan
kedua, kecuali jika dia tidak mampu melaksanakan dam tingkatan pertama.
 Pengertian dam taqdir adalah dam dibatasi dengan ukuran tertentu yang tidak
boleh lebih dan tidak boleh kurang.
 Pengertian dam takhyir adalah seseorang bebas memilih dam yang sudah
ditentukan.
 Pengertian dam ta’dil adalah dam yang dapat dihitung nilainya dengan mengacu
pada jenis dam sebelumnya.

B. KETENTUAN UMRAH DALAM ISLAM


1. Pengertian
Menurut bahasa, pengertian umrah adalah ziarah atau menyengaja pergi ke
tempat yang ramai. Menurut istilah syariat, pengertian umrah adalah menyengajar pergi
ke Baitullah (Ka’bah) dengan tujuan menunaikan ibadah, yaitu berthawaf, sa’i dan
tahallul.
2. Dasar Hukum
Dasar hukum umrah sama dengan haji, yaitu Surat al-Baqarah: 196:

)196 :ٝ‫ (اهبقس‬    


Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. (Q.S. al-Baqarah [2]: 196)
3. Hukum Umrah
Hukum umrah wajib sekali seumur hidup. Umrah dilakukan dengan niat berihram
dari miqat, kemudian thawaf, sa’i, dan diakhiri dengan memotong rambut/bercukur
(tahallul umrah) dan dilaksanakan dengan berurutan (tertib).
Umrah terbagi menjadi 2 (dua), umrah wajib dan umrah sunah. Umrah wajib
meliputi: a) Umrah yang pertama kali dilaksanakan, disebut juga umratul Islam;
b)Umrah yang dilaksanakan karena nazar. Sedangkan umrah sunah ialah umrah yang
dilaksanakan setelah umrah wajib, baik yang kedua kali dan seterusnya, dan bukan
karena nazar.
4. Syarat Umrah
a. Islam
b. Baligh (dewasa)
c. Berakal sehat)
d. Merdeka
e. Mampu (Istitha’ah)
5. Rukun Umrah
a. Ihram (niat). Bacaan ihram umrah antara lain:

َٟ‫َ هللٔ َتعَاه‬ٝ‫ِتُ اِهعٌُِ َس‬ََُٙ٘


Saya niat umrah karena Allah Ta’ala

َٟ‫ٔ هللٔ تَعَاه‬ٝ‫َأذِ َسًِتُ بٔاِهعٌُِ َس‬


Saya berihram umrah karena Allah Ta’ala

ّٝ‫م ا َّهؤٍُٖ عٌُِ َس‬


َ ِٚ‫َهٖب‬
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berumrah
b. Thawaf
c. Sa’i
68
d. Tahallul
e. Tertib
Rukun umrah harus dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan. Apabila tidak
terpenuhi, maka umrahnya tidak sah.
6. Wajib Umrah
a. Ihram dari miqat.
b. Menjauhkan diri dari segala larangan ketika sedang umrah, yaitu sama
dengan apa yang dilarang ketika haji.
Apabila wajib umrah ini dilanggar, maka umrahnya tetap sah, tetapi harus
membayar dam.
7. Miqat Umrah
Dari segi miqat zamani, umrah dapat dilaksanakan kapan saja, kecuali ada
beberapa waktu yang dimakruhkan melaksanakan umrah bagi jemaah haji, yaitu pada
saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah, pada hari Arafah, hari Nahr (10 Dzulhijjah)
dan hari-hari Tasyriq.
Dari segi miqat makani, pada dasarnya sama dengan miqat makani haji. Akan
tetapi, bagi orang yang berada di Mekah, miqat makani mereka adalah daerah di luar
tanah haram, misalnya Tan’im dan Ji’ranah.
8. Tahallul Umrah
Tahallul umrah adalah keadaan seseorang yang telah dihalalkan (dibolehkan)
melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama berihram umrah, ditandai
dengan mencukur atau menggunting rambut.

C. MACAM-MACAM MANASIK HAJI DAN UMRAH


Menurut tata cara pelaksanaannya, haji dibagi menjadi tiga bagian, yaitu haji ifrad,
haji tamattu’ dan haji qiran. Mengingat jemaah haji Indonesia mayoritas menggunakan
haji tamattu’, maka bahasan ini diawali dengan haji tamattu’.
1. Haji Tamattu’
Yaitu mengerjakan umrah terlebih dahulu, baru mengerjakan haji. Cara Tamattu’
ini wajib membayar dam.
Pelaksanaan Umrah
Pelaksanaan ihram umrah dengan mengambil miqat di Bir Ali Madinah bagi
jemaah haji gelombang I dan di atas Yalamlam atau di Bandar Udara King Abdul Aziz
Internasional Jeddah bagi jemaah haji gelombang II dengan urutan sebagai berikut :
a. Bersuci dengan mandi dan berwudhu.
b. Berpakaian Ihram, jika keadaan memungkinkan melaksanakan shalat sunah
ihram.
c. Niat umrah dengan mengucapkan:

ّٝ‫م ا َّهؤٍُٖ عٌُِ َس‬


َ ِٚ‫َهٖب‬
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berumrah

َٟ‫َ ََٗاذِسًَِتُ ٔبَٔا هللٔ تَعَاه‬ٝ‫ِتُ اِهعٌُِ َس‬ََُٙ٘


Saya niat haji dengan berihram karena Allah Ta’ala
d. Selama dalam perjalanan menuju Mekah, dianjurkan membaca talbiyah,
shalawat, dan do’a sampai hendak memulai thawaf.
e. Masuk Mekah dan berdo’a.
f. Masuk Masjidil Haram melalui pintu yang mana saja dan berdo’a.
g. Melihat Ka’bah dan berdo’a.

69
h. Ketika melintas di Maqam Ibrahim waktu hendak mulai thawaf disunahkan
berdo’a.
i. Thawaf. Tata cara pelaksanaan thawaf adalah:
1) Tempat mulai thawaf adalah searah Hajar Aswad. Bila tidak mungkin
mencium Hajar Aswad, cukup dengan mengangkat tangan ke arah Hajar
Aswad dan mengecupnya. Pada saat memulai thawaf putaran pertama,
mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad dan disunahkan menghadap
Ka’bah dengan sepenuh badan; apabila tidak mungkin, cukup dengan
menghadapkan sedikit badan ke Ka’bah. Pada thawaf putaran kedua
dan seterusnya cukup dengan menghadapkan muka ke arah Hajar
Aswad dengan mengangkat tangan dan mengecupnya sambil
mengucapkan:

ُ‫هلل اَ ِكبَس‬
ُ ‫ ا‬،ٔ‫ٔبطٍِِ اهلل‬
Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar.
2) Pelaksanaan thawaf sebanyak 7 (tujuh) kali putaran mengelilingi
Ka’bah dengan memposisikan Ka’bah sebelah kiri badan. Selama thawaf
disunahkan berdo’a dan berzikir.
3) Setiap sampai di Rukun Yamani mengangkat tangan (istilam) tanpa
mengecup dan mengucapkan:

ُ‫هلل اَ ِكبَس‬
ُ ‫ ا‬،ٔ‫ٔضٍِِ اهلل‬
Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar.
4) Usahakan thawaf beregu atau berombongan.
5) Selama thawaf jangan menyentuh Ka’bah, Hijir Ismail, dan Syadzarwan.
6) Sesudah thawaf apabila keadaan memungkinkan hendaknya:
a) Berdo’a di Multazam, yaitu suatu tempat di antara Hajar Aswad
dan pintu Ka’bah.
b) Shalat sunah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim atau
sekitarnya dan sesudah shalat berdo’a. Sedangkan shalat sunah
Hijir Ismail adalah shalat sunah mutlak yang tidak ada kaitannya
dengan thawaf dan dapat dilaksanakan kapan saja bila keadaan
memungkinkan.
c) Setelah selesai shalat sunah thawaf sebaiknya minum air zamzam
di tempat yang telah disediakan (kran dan galon) kemudian
berdo’a. Jika situasi dan kondisi di sekitar Hajar Aswad sangat
padat, jangan memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad
dengan berdesakan. Karena berdesakan antara lelaki dan wanita
dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain
hukumnya haram, terlebih lagi jika sampai membayar kepada
seseorang demi mencium Hajar Aswad.
d) Setelah selesai thawaf menuju ke bukit Shafa untuk melakukan
sa’i.
j. Sa’i. Tata cara pelaksanaan sa’i adalah:
1) Berdo’a ketika hendak mendaki bukit Shafa.
2) Setibanya di atas bukit Shafa menghadap kiblat dan berdo’a.
3) Memulai perjalanan sa’i dari bukit Shafa menuju bukit Marwah dan
berdo’a.
4) Perjalanan yang dimulai dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah
sebanyak tujuh kali perjalanan.
70
5) Perjalanan dari bukit Shafa ke Marwah dihitung satu kali perjalanan,
demikian juga dari bukit Marwah ke bukit Shafa dihitung satu kali
perjalanan, sehingga hitungan ketujuh berakhir di Marwah.
6) Setiap melintasi antara dua pilar hijau (lampu hijau), khusus bagi laki-
laki disunahkan berlari-lari kecil, dan bagi perempuan cukup berjalan
biasa sambil berdo’a.
7) Setiap mendaki bukit Shafa dan bukit Marwah dari ketujuh perjalanan
sa’i tersebut hendaklah membaca do’a.
k. Tahallul (bercukur/memotong rambut). Dengan selesainya sa’i kemudian
bercukur/memotong rambut (tahallul), maka selesailah pelaksanaan umrah.
Ketentuan cara memotong rambut adalah:
1) Bagi laki-laki dengan memotong sebagian rambut kepala atau
mencukur. Jika mencukur dimulai dari separuh kepala bagian kanan
kemudian separuh bagian kiri.
2) Bagi perempuan hanya memotong sebagian rambut kepala (minimal 3
helai).
3) Bagi jemaah yang tidak tumbuh rambut kepala (botak), cukup dengan
menempelkan pisau cukur/gunting sebagai isyarat
mencukur/memotong rambut.
Pelaksanaan Haji
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, jemaah haji yang melaksanakan Haji Tamattu’
mempersiapkan pelaksanaan hajinya dengan mengambil miqat di pemondokan Mekah.
Dengan kegiatan sebagai berikut:
a. Di Mekah
1) Bersuci yaitu mandi dan berwudhu
2) Berpakaian ihram, jika keadaan memungkinkan melaksanakan shalat
sunah ihram.
3) Niat dengan mengucapkan:

‫م ا َّهؤٍُٖ َذح٘ا‬
َ ِٚ‫َهٖب‬
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berhaji

َٟ‫ِتُ اِهرَخٖ ََٗاذِسًَِتُ بٕٔٔ هللٔ َتعَاه‬ََُٙ٘


Saya niat haji dengan berihram karena Allah Ta’ala
4) Berangkat menuju Padang Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah.
Keberangkatan lebih awal ini sebagai persiapan dan demi menjaga
kelancaran dan kemaslahatan jemaah, mengingat jumlah jemaah haji
yang sangat besar. Bagi jemaah yang ingin ke Mina pada hari Tarwiyah
(8 Dzulhijjah), agar berkoordinasi dengan Maktab dan Ketua Kloter.
5) Membaca talbiyah, shalawat, dan berdo’a (lafaznya sama seperti ketika
waktu umrah).
6) Waktu masuk Padang Arafah hendaknya berdo’a.
b. Di Padang Arafah
1) Di Arafah (pada tanggal 8 Dzulhijjah hingga 9 Dzulhijjah menjelang
wukuf):
a) Menunggu waktu wukuf dengan berzikir, tasbih dan membaca Al-
Qur’an.
b) Memperbanyak bacaan talbiyah dan berdo’a.
2) Wukuf tanggal 9 Dzulhijjah dimulai ba’da zawal hingga terbit fajar
tanggal 10 Dzulhijjah. Kadar lama wukuf menurut Mazhab Syafi’i cukup
71
sesaat baik siang maupun malam. Menurut Mazhab Maliki dan Mazhab
Hanafi, wukuf harus menemui waktu siang dan waktu malam. Kegiatan
wukuf adalah:
a) Didahului dengan mendengarkan khutbah wukuf.
b) Shalat Zhuhur dan Ashar jama’ taqdim qasar, dilanjutkan dengan
melaksanakan wukuf.
c) Selama wukuf memperbanyak talbiyah, zikir, membaca al-Qur’an
dan berdo’a.
d) Wukuf diakhiri dengan shalat Maghrib dan Isya’ jama’ taqdim dan
qasar, selanjutnya bersiap-siap menuju Muzdalifah.
3) Berangkat menuju Muzdalifah:
a) Sesudah Shalat Maghrib dan Isya meninggalkan Arafah menuju
Muzdalifah, dan akhir waktunya adalah sebelum fajar tanggal 10
Dzulhijjah kecuali ada udzur syar’i boleh setelah fajar.
b) Waktu berangkat dari Arafah dianjurkan membaca talbiyah dan
do’a.
c. Di Muzdalifah
1) Di Muzdalifah pada malam tanggal 10 Dzulhijjah.
2) Selama di Muzdalifah jemaah diharap membaca talbiyah, zikir, do’a, dan
membaca Al-Qur’an.
3) Mabit di Muzdalifah cukup sejenak (kadar lamanya cukup turun
sebentar, mengambil batu kerikil, kemudian naik kendaraan dan
berangkat lagi). Bagi jemaah yang tiba di Muzdalifah sebelum tengah
malam, harus menunggu sampai lewat tengah malam.
4) Mencari dan mengambil kerikil.
5) Setelah lewat tengah malam menuju Mina.
6) Jemaah haji yang karena sesuatu hal langsung ke Mekah maka
sebaiknya melakukan thawaf ifadhah dan sa’i terlebih dahulu kemudian
memotong rambut/ cukur (tahallul awal), baru menuju mina untuk
melontar jamrah aqabah (tahallul tsani).
d. Di Mina
1) Memasuki kemah yang telah disiapkan sambil istirahat menunggu
pelaksanaanmelontarjamrah sesuai jadwal dan waktu yang telah
ditetapkan.
2) Tanggal 10 Dzulhijjah melontar Jamrah Aqabah sebanyak 7 (tujuh) kali
lontaran kemudian memotong rambut/bercukur (tahallul awal) dan
melepas ihram kemudian berganti pakaian.
3) Tanggal 11 Dzulhijjah mabit di Mina dan melontar ke 3 Jamarat (Ula,
Wustha dan Aqabah) masing-masing 7 (tujuh) kali lontaran.
4) Tanggal 12 Dzulhijjah mabit di Mina dan melontar ke 3 Jamarat (Ula,
Wustha dan Aqabah). Bagi yang akan mengambil Nafar Awal dianjurkan
meninggalkan Mina menuju Mekah sebelum terbenam matahari.
5) Tanggal 13 Dzulhijjah mabit di Mina dan melontar ke 3 Jamarat (Ula,
Wustha dan Aqabah) kemudian meninggalkan Mina menuju Mekah bagi
yang melakukan Nafar Tsani.
6) Waktu mabit di Mina adalah sepanjang malam hari, dimulai dari waktu
maghrib sampai dengan terbit fajar. Akan tetapi kadar lamanya mabit di
Mina adalah mendapatkan sebagian besar waktu malam.
7) Waktu melontar Jamrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah dimulai
sejak matahari terbit, namun mengingat padatnya jemaah haji yang
melontar pada waktu itu, maka dianjurkan melontar mulai siang hari.
72
8) Waktu melontar pada hari tasyriq tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah menurut
jumhur ulama dimulai setelah tergelincir matahari. Namun Imam Rofi’i
dan Imam Isnawi dalam Mazhab Syafi’i membolehkan melontar
sebelum tergelincir matahari (qobla zawal) yang dimulai sejak terbit
fajar. Pendapat tersebut dapat diamalkan meskipun sebagian ulama
menilai dhaif/lemah.
9) Bagi jemaah yang membadalkan lontar, meniatkan lontarannya untuk
jemaah yang dibadalkan setelah melontar untuk dirinya sendiri.
10) Bagi jemaah haji yang mengambil Nafar Awal, maka meninggalkan Mina
tanggal 12 Dzulhijjah, sedangkan yang mengambil Nafar Tsani,
meninggalkan Mina tanggal 13 Dzulhijjah.
e. Di Mekah (setelah wukuf)
1) Setelah tiba di Mekah agar melaksanakan thawaf ifadhah dan sa’i
(tahallul tsani).
2) Dengan demikian berarti telah selesai rangkaian pelaksanaan Haji
Tamattu’.
f. Pemberangkatan ke Tanah Air
Menjelang keberangkatan ke Tanah Air bagi gelombang I dan ke Madinah
bagi gelombang II, jemaah haji diwajibkan melakukan thawaf wada’.
Haji Tamattu’ bisa diubah menjadi Haji Qiran dengan mengubah niat ihram umrah
menjadi niat ihram haji dan umrah sekaligus, karena suatu alasan yang dibenarkan
syara’ dan yang bersangkutan dikenakan dam, antara lain:
a. Perempuan karena haid/nifas setibanya di Mekah tidak dapat melaksanakan
thawaf umrah sampai datang waktu wukuf.
b. Jemaah haji yang karena sakit setibanya di Mekah tidak dapat melaksanakan
thawaf umrah sampai tibanya waktu wukuf.
2. Haji Ifrad
Yaitu mengerjakan haji saja. Cara ini tidak wajib membayar dam, pelaksanaan haji
dengan cara Ifrad ini dapat dipilih oleh jemaah haji yang kedatangannya mendekati
waktu wukuf ± 5 (lima) hari sebelum wukuf.
Pelaksanaannya:
a. Bersuci yaitu mandi dan berwudhu.
b. Berpakaian ihram.
c. Shalat sunah 2 (dua) rakaat.
d. Niat untuk berhaji dengan mengucapkan:

‫م ا َّهؤٍُٖ َذح٘ا‬
َ ِٚ‫َهٖب‬
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berhaji

َٟ‫ِتُ اِهرَخٖ ََٗاذِسًَِتُ بٕٔٔ هللٔ َتعَاه‬ََُٙ٘


Saya niat haji dengan berihram karena Allah Ta’ala
Berikut ini beberapa amaliah Haji Ifrad ketika tiba di Mekah:
a. Bagi jemaah haji yang bukan penduduk Mekah, yang menunaikan haji Ifrad,
pada waktu kedatangannya di Mekah disunahkan mengerjakan thawaf
qudum.
b. Thawaf qudum ini bukan thawaf umrah, bukan thawaf haji dan hukumnya
sunah, boleh dengan sa’i atau tidak dengan sa’i. Kalau dikerjakan dengan sa’i,
maka sa’inya sudah termasuk sa’i haji dan pada waktu thawaf ifadhah tidak
perlu lagi melakukan sa’i.

73
c. Setelah melakukan thawaf qudum tidak diakhiri dengan bercukur/
memotong rambut sampai selesai wukuf dan melontar jamrah aqabah
tanggal 10 Dzulhijjah
d. Urutan kegiatan dan bacaan do’a pada pelaksanaan haji ifrad sejak dari
wukuf sampai selesai sama dengan pelaksanaan Haji Tamattu’.
e. Apabila selesai melaksanakan ibadah haji dan ingin melaksanakan ibadah
umrah, dapat mengambil miqat dari Tan’im, Ji’rnah, atau miqat lainnya.
f. Sebelum berangkat ke Madinah (bagi gelombang II), supaya melaksanakan
thawaf wada’.
Haji Ifrad bisa diubah menjadi Haji Tamattu’ dengan ketentuan masa tinggal di
Mekah masih cukup lama untuk menunggu wukuf dengan adanya alasan syar’i yang
menjadi pertimbangan untuk mengubah niat seperti khawatir melakukan pelanggaran
ihram dan adanya niatan untuk keluar Tanah Haram sebelum masa wukuf.
3. Haji Qiran
Yaitu mengerjakan haji dan umrah di dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus.
Cara ini wajib membayar dam.
Pelaksanaan haji dengan cara Qiran ini dapat dipilih, bagi jemaah haji karena
sesuatu hal tidak dapat melaksanakan umrah sebelum dan sesudah hajinya, termasuk di
antaranya jemaah haji yang masa tinggal di Mekah sangat terbatas.
Pelaksanaannya sebagai berikut:
a. Bersuci yaitu mandi dan berwudhu.
b. Berpakaian ihram.
c. Shalat sunah 2 (dua) rakaat.
d. Niat untuk berhaji dan umrah dengan mengucapkan:

َّٝ‫م ا َّهؤٍُٖ َذح٘ا َٗعٌُِس‬


َ ِٚ‫َهٖب‬
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk berhaji dan berumrah

َٟ‫َ ََٗاذِسًَِتُ ٔبٌَِٔا هللٔ َتعَاه‬ٝ‫ِتُ اِهرَخٖ ِٗاِهعٌُِ َس‬ََُٙ٘


Saya niat haji dan umrah dengan berihram karena Allah Ta’ala
Berikut ini beberapa amaliah Haji Qiran ketika tiba di Mekah:
a. Bagi jemaah haji yang bukan penduduk Mekah, yang menunaikan Haji Qiran,
pada waktu kedatanganya di Mekah disunakan mengerjakan thawaf qudum.
b. Thawaf qudum ini bukan thawaf umrah, bukan thawaf haji dan hukumnya
sunah, boleh dengan sa’i atau tidak dengan sa’i. Kalau dikerjakan dengan sa’i
maka sa’inya sudah termasuk sa’i haji dan pada waktu thawaf ifadhah tidak
perlu lagi melakukan sa’i.
c. Selesai mengerjakan thawaf qudum, tidak diakhiri dengan
bercukur/memotong rambut sampai selesai wukuf dan melontar Jamrah
Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah.
d. Pelaksanaan ibadah dan do’a Haji Qiran sejak dari wukuf sampai dengan
selesai sama dengan pelaksanaan Haji Tamattu’.
e. Pada waktu melaksanakan thawaf ifadhah harus dengan sa’i, bagi yang belum
sa’i pada waktu thawaf qudum.
f. Pada waktu akan meninggalkan Mekah, supaya melakukan thawaf wada’.
Haji Qiran juga bisa diubah menjadi Haji Tamattu’ dengan ketentuan masa tinggal
di Mekah masih cukup lama untuk menunggu wukuf dengan adanya alasan syar’i yang
menjadi pertimbangan untuk mengubah niat seperti khawatir melakukan pelanggaran
ihram dan adanya niatan untuk keluar Tanah Haram sebelum masa wukuf.

74
D. HIKMAH HAJI DAN UMRAH
1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT
2. Memupuk rasa persatuan dan kesatuan di antara berbagai suku dan bangsa-
bangsa di dunia
3. Memperkuat keimanan dengan melihat kebesaran-kebesaran Allah SWT
yang ada di Baitullah
4. Menjalin hubungan serta mengenal berbagai suku bangsa yang ada di dunia
5. Menyempurnakan rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban bagi
orang-orang yang sudah dinilai mampu
6. Mendapat pahala berupa surga yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi mereka
yang hajinya mabrur, sesuai Hadis:

‫هٔ ٌَ ا‬ْٝ‫ٔ ك ََّف ا َز‬ٝ‫ اِهعٌُِ َس‬َٟ‫ُ إِه‬ٝ‫ اِهعٌُِ َس‬:َ‫ِٕٔ َٗضَوٍََّ قَاي‬ٚ‫ اهللُ عََو‬َّٟ‫َ اهللُ َعُِٕ أَْٖ زَضُِ٘يَ اهللٔ صَو‬ٛٔ‫َ زَض‬ٝ‫ِ َس‬َٙ‫ِ ُٓس‬ٛٔ‫َعِّ أَب‬

.)َِٕٔٚ‫ُ (ًُتٖفَ ْق عَو‬ِٖٞ‫ح‬


َ ‫ِظَ هَُٕ جَصَا ْء إِالَّ اِه‬ٚ‫اَِهرَخٗ اهِ ٌَبِ ُس ِٗزُ َه‬.‫ٌََُِٔا‬ِٚ‫َب‬
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ”Dari ‘umrah ke
‘umrah itu merupakan pembebasan dosa diantara keduanya. Haji yang
mabrur (diterima Allah) tidak ada balasannya kecuali surga”. (H.R.
Muttafaq ‘Alaih).

KESIMPULAN
1. Ibadah haji dan umrah merupakan kewajiban bagi umat muslim yang memenuhi
syarat, agar dilaksanakan sekali dalam seumur hidup.
2. Rukun haji dan umrah adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan
umrah, serta tidak boleh diganti dengan pembayaran dam (denda), sedangkan
wajib haji dan umrah adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan
umrah, namun boleh diganti dengan pembayaran dam.
3. Penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yang
disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai revisi atas Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1999 yang disahkan oleh Presiden
Bacharuddin Jusuf Habibie.
4. Tata cara manasik haji terbagi menjadi tiga, Haji Ifrad [haji lalu umrah], Haji
Tamattu’ [umrah lalu haji] dan Haji Qiran [haji dan umrah sekaligus]. Sedangkan
mayoritas jemaah haji asal Indonesia melakukan Haji Tamattu’.
5. Setiap amaliah haji dan umrah memiliki hikmah luhur dalam konteks Hablum min
Allah (hubungan manusia dengan Allah SWT), Hablum min al-Nas (hubungan
manusia dengan sesama manusia), maupun Hablum min al-‘Alam (hubungan
manusia dengan alam semesta).

TUGAS
1. Project Based Learning: Buatlah data perbandingan jumlah jemaah haji Indonesia
dengan jemaah haji mancanegara, seperti Malaysia, Mesir, Turki, terutama pada
periode tahun 2010-2015.
2. Problem Based Learning: Diskusikan dalam kelompok kecil tentang bagaimana
alternatif solusi bagi kasus-kasus di bawah ini:
a. Lamanya masa tunggu calon jemaah haji di Indonesia yang mencapai puluhan
tahun.
b. Ancaman atas keamanan jiwa-raga dalam melaksanakan ibadah haji, seperti
peperangan di Timur Tengah.
75
3. Discovery Learning: Lakukanlah studi lapangan dengan mewawancarai responden
yang sudah pernah menunaikan ibadah haji atau berstatus calon jemaah haji,
untuk mengetahui motif yang melandasi mereka menunaikan ibadah haji.

KEGIATAN
1. Tontonlah video haji yang secara resmi dikeluarkan oleh Kemenag untuk
mengetahui proses ibadah haji yang dilakukan oleh jemaah haji asal Indonesia,
mulai dari pemberangkatan hingga pemulangan.
2. Lakukanlah studi observasi ke KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang
lokasinya terjangkau, untuk mengetahui tentang bimbingan praktik manasik haji
atau umrah, mulai dari Ihram hingga Tahallul.
3. Praktikkanlah manasik haji atau umrah bersama rekan sekelas, dengan didampingi
oleh guru yang sudah berpengalaman menunaikan ibadah haji atau umrah.

UJI KOMPETENSI
Soal Pilihan Ganda
1. Hukum haji bagi orang yang sudah pernah menunaikah haji adalah…
a. Fardhu ‘Ain d. Makruh
b. Fardhu Kifayah e. Haram
c. Sunah
2. Hukum menunaikan haji dengan biaya dari hasil korupsi adalah…
a. Fardhu ‘Ain d. Makruh
b. Fardhu Kifayah e. Haram
c. Sunah
3. Urutan rukun haji yang benar adalah….
a. Ihram-Wuquf-Thawaf-Sa’i-Tahallul-Tertib
b. Ihram-Thawaf-Waqaf-Sa’i-Tahallul-Tertib
c. Ihram-Thawaf-Sa’i-Wuquf-Tahallul-Tertib
d. Ihram-Thawaf-Sa’i-Tahallul-Wuquf-Tertib
e. Ihram-Wuquf-Thawaf-Sa’i-Tahallul-Tertib
4. Perhatikan ayat berikut

      


Ayat di atas adalah dasar hukum bagi…
a. Ihram d. Sa’i
b. Thawaf e. Tahallul
c. Wuquf
5. “Berniat mengerjakan ibadah haji atau umrah sesuai dengan miqatnya” adalah
pengertian dari…
a. Ihram d. Sa’i
b. Thawaf e. Tahallul
c. Wuquf
6. Thawaf diawali dan diakhir di…
a. Hajar Aswad d. Multazam
b. Hijir Isma’il e. Pintu Ka’bah
c. Maqam Ibrahim
7. Kisah Hajar yang berlari-lari antara Shafa dan Marwah hingga menemukan sumur
zamzam untuk Nabi Isma’il diabadikan dalam rukun haji….
a. Ihram c. Thawaf
b. Wuquf d. Sa’i

76
e. Tahallul
8. Rukun haji yang tidak termasuk rukun umrah adalah…
a. Ihram d. Sa’i
b. Thawaf e. Tahallul
c. Wuquf
9. Perhatikan Hadis berikut

.َ‫ ا َّهؤٍُٖ اغِفٔسِهٔوِ ٌُرَوِّقٔني‬:ٍََّ‫ِٕٔ َٗضَو‬ٚ‫ اهللُ عََو‬َّٟ‫قَايَ زَضُ ِ٘يُ اهللٔ صَو‬
Arti kata “al-Muhalliqin” adalah…
a. Orang yang berhaji
b. Orang yang berumrah
c. Orang yang berthawaf
d. Orang yang bertahallul dengan mencukur seluruh rambut
e. Orang yang bertahallul dengan menggunting tiga helai rambut
10. Miqat zamani ibadah haji adalah…
a. Rajab-Sya’ban-Ramadhan
b. Sya’ban-Ramadhan-Syawwal
c. Ramadhan-Syawwal-Dzulqa’dah
d. Syawwal-Dzulqa’dah-Dzulhijjah
e. Dzulqa’dah-Dzulhijjah-Muharram
11. Miqat makani bagi jamaah haji asal Indonesia adalah…
a. Dzul Hulaifah d. Qarnul Manazil
b. Juhfah e. Dzatu ‘Irqin
c. Yalamlam
12. Lokasi lempar jumrah adalah…
a. Mekah d. Muzdalifah
b. Madinah e. Mina
c. Arafah
13. Waktu pelaksanaan wuquf di Arafah adalah…
a. Maghrib tanggal 8 Dzulhijjah hingga maghrib tanggal 9 Dzulhijjah
b. Mulai terbit fajar hingga tenggelamnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah
c. Setelah terbit fajar tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10
Dzulhijjah
d. Setelah zawal tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah
e. Setelah zawal tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbit matahari tanggal 10
Dzulhijjah
14. Tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah adalah waktu pelaksanaan…
a. Ihram d. Melempar jumrah ‘Aqabah
b. Wuquf e. Melempar jumrah Ula,
c. Mabit di Muzdalifah Wustha, ‘Aqabah
15. Jenis dam bagi orang yang tidak melakukan mabit di Muzdalifah dan Mina tanpa
uzur syar’i adalah…
a. Dam tartib dan taqdir d. Dam takhyir dan ta’dil
b. Dam takhyir dan taqdir e. Dam tartib dan takhyir
c. Dam tartib dan ta’dil
16. Dam berpuasa 10 hari dengan ketentuan 3 hari dilaksanakan selama dalam ibadah
haji dan 7 hari setelah di tanah air, diberikan pada kategori pelanggaran…
a. Melakukan hubungan suami-istri sebelum tahallul
b. Membunuh binatang di tanah haram
c. Memakai wewangian

77
d. Melakukan Haji Tamattu’
e. Melakukan Haji Ifrad
17. Undang-undang yang mengatur penyelenggaraan haji di Indonesia adalah…
a. UU RI Nomor 11 Tahun 2008 d. UU RI Nomor 14 Tahun 2008
b. UU RI Nomor 12 Tahun 2008 e. UU RI Nomor 15 Tahun 2008
c. UU RI Nomor 13 Tahun 2008
18. Menurut Undang-undang, warga negara beragama Islam yang berhak menunaikan
ibadah haji adalah…
a. Usia 16 tahun atau sudah menikah
b. Usia 17 tahun atau sudah menikah
c. Usia 18 tahun atau sudah menikah
d. Usia 19 tahun atau sudah menikah
e. Usia 20 tahun atau sudah menikah
19. Menurut Undang-undang, penyelenggaraan ibadah haji dikoordinasi oleh…
a. Presiden, Menteri Agama, Gubernur, Bupati/Wali Kota
b. Presiden, Menteri Agama, Gubernur, Kepala Perwakilan Republik Indonesia
untuk Kerajaan Arab Saudi
c. Presiden, Menteri Agama, Bupati/Wali Kota, Kepala Perwakilan Republik
Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi
d. Menteri Agama, Gubernur, Bupati/Wali Kota, Kepala Perwakilan Republik
Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi
e. Presiden, Menteri Agama, Gubernur, Bupati/Wali Kota, Kepala Perwakilan
Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi
20. “Mengerjakan umrah terlebih dahulu, kemudian mengerjakan haji” adalah
pengertian dari…
a. Haji Ifrad d. Haji Sunah
b. Haji Tamattu’ e. Haji Nazar
c. Haji Qiran

Soal Esai
1. Tuliskan dasar hukum kewajiban haji dan umrah!
2. Jelaskan perbedaan rukun haji dan wajib haji!
3. Mengapa dilarang mengerjakan thawaf di dalam Hijir Isma’il?
4. Apa hukum lari-lari kecil bagi jemaah laki-laki maupun wanita, ketika melakukan
sa’i melewati pilar hijau yang ditandai lampu hijau?
5. Tentukan kapan waktu pelaksanaan dari amaliah haji berikut:
a. Mabit di Muzdalifah
b. Mabit di Mina
c. Melempar Jumrah Ula, Wustha, Aqabah
6. Apa dam bagi orang yang membunuh binatang di tanah haram?
7. Sebutkan hak-hak jemaah haji berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun
2008 Pasal 7!
8. Buatlah diagram alir yang menggambarkan tata cara manasik Haji Tamattu’!
9. Apakah arti dari Hadis di bawah ini:

.)َِٕٔٚ‫ُ (ًُتٖفَ ْق عَو‬ِٖٞ‫ح‬


َ ‫ِال اِه‬
َّ ‫ظ هَُٕ جَصَا ْء إ‬
َ ِٚ‫اَِهرَ ٗخ اهِ ٌَبِ ُسِٗ ُز َه‬
10. Apa hikmah yang dapat dipetik dari amaliah haji dan umrah berikut:
a. Memakai pakaian ihram
b. Wukuf di Arafah
c. Tahallul

78
Bab V
KURBAN DAN AKIKAH

Kata Kunci: Kurban, Akikah, Hari Nahr, Hari Tasyriq, Nazar


Islam mengajarkan umat muslim agar menjalin tiga jenis hubungan, yaitu
hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum min Allah), hubungan manusia dengan
sesama manusia (hablum min al-nas) dan hubungan manusia dengan alam semesta
(hablum min al-‘alam). Ketiga hubungan tersebut dapat ditemui dalam syariat kurban
dan akikah.
Jika ditelisik dari awal sejarahnya, baik kurban maupun akikah, sama-sama
dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Dengan demikian,
kurban dan akikah bernuansa hablum min Allah. Kurban dan akikah juga sama-sama
bernuansa hablum min al-nas, karena daging kurban dan akikah harus dibagikan kepada
pihak-pihak yang membutuhkan. Bahkan nuansa hablum min al-‘alam juga tampak pada
keharusan untuk menjadikan binatang sebagai objek kurban dan akikah. Jadi, lengkap
sudah ketiga jenis hubungan versi Islam terdapat dalam syariat kurban dan akikah. Oleh
sebab itu, bab kelima ini akan membahas kurban dan akikah, baik dari segi teori, praktik
maupun hikmahnya.

Kompetensi Inti :
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-jawab, peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta
dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan baksat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar dan Indikator:


9. Menganalisis tata cara pelaksanaan kurban dan akikah serta hikmahnya
9.1. Menjelaskan tata cara pelaksanaan kurban
9.2. Menjelaskan tata cara pelaksanaan akikah
9.3. Menjelaskan hikmah kurban
9.4. Menjelaskan hikmah akikah
10. Mendemontrasikan pelaksanaan kurban dan akikah sesuai syaria
10.1. Mempraktikkan cara pelaksanaan kurban
10.2. Mempraktikkan cara pelaksanaan akikah

79
PETA KONSEP

AWAL KISAH
Nabi Muhammad-Hasan dan
Nabi Ibrahim-Nabi Isma'il
Husain

SUBYEK
Umat Muslim yang Mampu, Umat Muslim yang Mampu dan
Berkeluarga maupun Tidak Berkeluarga (memiliki anak)

OBJEK
Unta, Sapi, Kambing/Domba Kambing/Domba, Unta, Sapi

WAKTU
Tanggal 10-13 Dzulhijjah Hari ke-7, 14, 21 Kelahiran Bayi
[Setahun Sekali] [Seumur Hidup Sekali]

PENERIMA
Subyek dan Keluarga Fakir Miskin Masyarakat/Disimpan

KETENTUAN PEMBAGIAN DAGING


Daging Mentah Daging Masak

nuurislami.blogspot.com; mitra-mandiri-aqiqoh.blogspot.com

80
AMATI GAMBAR BERIKUT, KEMUDIAN BERIKAN KOMENTAR ATAU PERTANYAAN
YANG RELEVAN

Kambing yang dijadikan sebagai kurban maupun akikah harus memenuhi sejumlah
kriteria sebagaimana tertera dalam gambar di bawah ini:

jual-hewan-kurban-akikah.blogspot.com
Gambar 5.1
Syarat-syarat Kambing Kurban atau Akikah

MENGEMUKAKAN KOMENTAR

………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………….

MENGAJUKAN PERTANYAAN

………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………….

MATERI POKOK
A. TATA CARA PELAKSANAAN KURBAN
1. Pengertian
Menurut bahasa, kurban berasal dari bahasa Arab َ‫( َقسُب‬qaruba) yang berarti ‘dekat’.

Yang dimaksud di sini adalah ‘dekat kepada Allah SWT’. Istilah lainnya adalah ِٖٞٚٔ‫اُضِر‬
(udhhiyyah) yang berarti hewan kurban yang disembelih pada waktu dhuha.

81
Menurut istilah, kurban atau udhhiyyah adalah menyembelih hewan ternak
tertentu (unta, sapi, kerbau, kambing) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT
pada hari-hari Nahr (penyembelihan), yaitu Idul Adha hingga hari Tasyriq (10-13
Dzulhijjah).
2. Dasar Hukum
Kurban disyariatkan pada tahun ke-2 H, sama dengan disyariatkannya zakat dan
shalat hari raya.
Perintah berkurban dijelaskan dalam Surat al-Kautsar: 2

)2 :‫ (اهل٘ثس‬   


Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.
3. Hukum Kurban
Hukum menyembelih kurban menurut Imam Hanafi adalah wajib berdasarkan
Hadis riwayat Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

)ََٕ‫َقِسََبّٖ ًُصَالََُّا (زََٗاُٖ إبُِّ ًَاج‬ٙ ‫َح فَوَا‬


ِّ ‫ُط‬ٙ ٍَِ‫ْ َٗه‬َٞ‫ضع‬
َ َُٕ‫ًَ ِّ كَا َْ ه‬
Barang siapa memiliki keluasan (rezeki), dan tidak berkurban, maka jangan sekali-kali
dia mendekati tempat shalat kami (H.R. Ibnu Majah).
Sedangkan tiga Mazhab lainnya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) menghukumi sunah
muakkad, sehingga orang yang mampu berkurban makruh meninggalkannya.
Lebih dari itu, Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa kurban merupakan ibadah sunah
perorangan yang seyogianya dilaksanakan paling tidak sekali dalam seumur hidup.
Namun demikian, jika anggota keluarganya banyak, lalu hanya ada satu orang yang
berkurban mewakili keluarganya, maka hal itu sudah mencukupi. Dalil kesunahan
kurban adalah Hadis Ibnu ‘Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

.)ُ‫ (زََٗاُٖ َأذٌَِد‬َٟ‫طر‬


ٗ ‫ اه‬ُٝ‫ فَسَائٔضُ َُٗٓ ّٖ هَلُ ٍِ َت َط٘ٗ ْع اِهَ٘تِسُ َٗاهِٖرِسُ َٗصَوَا‬ٛ
ٖ َ‫ثَوَاثْ ُّٖٓ عَو‬
Tiga hal yang wajib bagiku, dan sunah bagi kalian: shalat witir, menyembelih kurban
dan shalat dhuha (H.R. Ahmad).
4. Syarat Orang yang Berkurban
Syarat orang yang berkurban adalah mampu. Pengertian mampu menurut Mazhab
Syafi’i adalah orang yang memiliki kelebihan uang di luar biaya hidup untuk dirinya dan
keluarganya selama Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Menurut Mazhab Hambali, yang
dimaksud mampu adalah orang yang memungkinkan baginya untuk berkurban
walaupun dengan cara berhutang terlebih dahulu, jika dia berkeyakinan dapat
melunasinya. Misalnya: Jika ada yang orang memiliki gaji bulanan, sedangkan gajinya itu
lebih dari cukup untuk biaya hidupnya, maka dia boleh berhutang terlebih dahulu untuk
membeli hewan kurban dan segera melunasinya setelah memperoleh gaji bulanan.
Selain itu, ada lagi cara agar orang muslim dapat berkurban, yaitu dengan cara
patungan sebanyak 7 (tujuh) orang untuk membeli sapi. Namun dalam hal ini
disyaratkan biaya yang dikeluarkan masing-masing orang harus sama, yaitu 1/7
(sepertujuh) harga sapi. Misalnya sapi seharga 7 (tujuh) juta, maka masing-masing
harus membayar 1 (satu) juta, tidak boleh kurang atau lebih. Demikian persyaratan
menurut Mazhab Maliki.
5. Syarat Binatang Kurban
Syarat binatang kurban adalah: Selamat dari cacat yang menyebabkan dagingnya
berkurang atau bisa membahayakan kesehatan bagi orang yang hendak makan
dagingnya. Jadi, tidak boleh berkurban dengan binatang yang buta, pincang, jelas-jelas
berpenyakit, atau terlalu kurus.

82
Al-Barra’ ibn ‘Azib RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

َ‫ ال‬ٟٔ‫ َٗاهِلَطٔريُ اَّهت‬،‫ِّّْ ظَِو ُعَٔا‬َٚ‫ َٗاِهعَ ِسجَاءُ ب‬،‫ضَٔا‬


ُ َ‫ِّّْ ًَس‬َٚ‫ُ ب‬َٞ‫ط‬ِٙ‫ َٗاهٌَِس‬،‫ّْ َعَ٘زَُٓا‬َِّٚ‫ اِه َع ِ٘زَاءُ ب‬:ٛٔ‫ األَضَاذ‬ٛٔ‫َأزِبَعْ الَ َتحُ٘شُ ف‬

.)َ‫ ( َزَٗاُٖ اَبُِ٘ دَا ُٗد‬َٟ‫َتِق‬


Empat (hal) yang tidak diperbolehkan dalam binatang kurban: Buta atau juling yang
jelas kebutaannya; sakit yang jelas penyakitnya; pincang yang jelas kepincanganya;
dan kurus yang hilang lemak tulangnya (dagingnya). (H.R. Abu Dawud)
Para ulama sepakat bahwa hewan kurban yang sah hanyalah binatang ternak,
yaitu unta, sapi (termasuk kerbau), kambing, domba dan sejenisnya; baik jantan
maupun betina.
Menurut Mazhab Maliki, hewan yang utama untuk dikurbankan adalah kambing,
karena Allah SWT dulu mengganti posisi Nabi Isma’il AS dengan kambing. Namun bagi
Mazhab Syafi’i dan Hambali, yang paling utama adalah unta, sapi, lalu kambing (domba).
Dalam hal ini, yang dijadikan patokan adalah banyaknya daging. Semakin banyak
dagingnya, semakin banyak orang-orang yang dapat menikmatinya.
Ulama Syafi’iyyah juga menambahkan bahwa binatang jantan lebih utama
dibandingkan betina, karena lebih lezat rasanya; yang gemuk lebih baik daripada yang
kurus; dan warna putih lebih baik dibandingkan warna lain. Semua ini dimaksudkan
untuk mengagungkan syiar-syiar Allah SWT.
Berkaitan dengan batasan usia, ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa batas usia
unta adalah lima tahun dan memasuki tahun keenam, batas usia sapi dan kambing (‫)ًَعِص‬

adalah dua tahun dan memasuki tahun ketiga, sedang batas usia domba (ْ‫ )ضأ‬adalah
satu tahun dan memasuki tahun kedua.
Memang benar jika dikatakan bahwa satu kambing untuk satu orang, sedangkan
satu unta atau sapi untuk tujuh orang. Hal ini sesuai dengan Hadis dalam Al-Muwaththa’
yang diriwayatkan Jabir ibn ‘Abdillah RA:

.)ُ‫ٕ ( َزَٗاُٖ ًَأهم‬َٞ‫ضِبع‬


َ َِّ‫َ ع‬ٝ‫ٕ َٗاِهبَقَ َس‬َٞ‫ضِبع‬
َ ِّ‫َ َع‬َُٞ‫ اِهبَد‬َٞٔٚ‫ٔب‬َِٙ‫ِٕٔ َٗضَوٍََّ عَاَ اِهرُد‬ٚ‫ اهوَُّٕ عََو‬َّٟ‫َُرَسَُِا ًَعَ زَضُ٘ ِي اهؤَّٕ صَو‬
Kami menyembelih hewan kurban bersama Rasulullah SAW pada tahun (perjanjian)
Hudaibiyyah, berupa 1 ekor unta untuk 7 orang dan 1 ekor sapi untuk 7 orang (H.R.
Malik).
Kendati demikian, jika salah seorang anggota keluarga sudah ada yang berkurban,
sebenarnya kurbannya itu sudah menjadi sunah kifayah atau sunah yang mencukupi
bagi seluruh anggota keluarga. Bahkan Mazhab Hambali menegaskan seseorang boleh
berkurban dengan seekor kambing untuk seluruh anggota keluarganya. Pendapat ini
dilandasi oleh Hadis ‘Aisyah RA yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah berkurban
dengan dua kambing, satu untuk diri beliau sendiri dan satu lagi untuk umat beliau.

.)ٍُٔ‫ِ ( َزَٗاُٖ اِهرَاك‬ٛٔ‫َطَحِّ ًٔ ِّ ُأًٖت‬ٙ ٍَِ‫ِ َٗعَّ ًَ ِّ ه‬َِِّٛ‫اَ َّهؤٍُٖ َٓرَا ع‬


Ya Allah, (kurban) ini adalah dari saya dan dari umatku yang tidak sempat berkurban
(H.R. al-Hakim).
Hadis di atas sekaligus kabar gembira bagi kaum muslimin yang hingga kini masih
belum sempat berkurban; karena Rasulullah SAW telah berkurban atas nama seluruh
umat beliau secara umum.

83
6. Waktu Penyembelihan dan Pembagian Daging Kurban
Waktu penyembelihan kurban yang paling baik adalah hari pertama (sesudah
shalat Idul Adha) hingga matahari terbenam di akhir hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah).
Dalilnya adalah Hadis riwayat al-Barra’ ibn ‘Azib RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

َُ٘ٓ ‫ َٗ ًَِّ ذَبَحَ َقبِىُ فَإٌَُِٖا‬،‫ ًَِّ َفعَوَُٕ فَقَدِ أَصَابَ ضُِٖتََِا‬،َ‫َ ثٍُٖ َُ ِسجٔعَ َفَِِرَس‬ِّٛ‫ًَِِ٘ٔا َٓرَا أَِْ ُُصَو‬َٙ ٛٔ‫إِْٖ َأ ٖٗ َي ًَا َُبِدَأُ بٕٔٔ ف‬

.)ِٜٗ‫ِءٕ ( َزَٗاُٖ اِهُبخَاز‬َٛ‫ غ‬ٛٔ‫م ف‬


ٔ‫ط‬ُ ِٗ‫ِظَ ًٔ ِّ اه‬ٚ‫َهرِ ٍْ قَ ٖدًَ ُٕهٔأَِٓؤٕٔ َه‬
Sesungguhnya permulaan sesuatu yang kami lakukan pada hari ini (Idul Adha) adalah
shalat kemudian pulang; setelah itu menyembelih kurban. Barang siapa melakukannya,
maka dia telah mendapatkan kesunahan; dan barang siapa menyembelih (kurban)
sebelum itu, maka sembelihannya itu hanyalah daging yang dihidangkan untuk
keluarganya dan sama sekali bukan termasuk binatang kurban. (H.R. Bukhari).
serta dalam riwayat Jubair ibn Muth’im RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW
bersabda:

.)ٍْ‫ِقِ ذَبِحْ ( َزَٗاُٖ ابُِّ ذٔبٖا‬ٙ‫ٖاَِ اهتٖػِس‬َٙ‫ كُىِّ أ‬ٛٔ‫ ف‬...


…. Dalam seluruh hari tasyriq merupakan (waktu diperbolehkan) menyembelih (hewan
kurban) (HR. Ibn Hibban).
Yang perlu diingat adalah makruh menyembelih hewan kurban pada malam hari,
karena dikhawatirkan melakukan kesalahan ketika sedang menyembelih atau
dikhawatirkan jumlah orang-orang fakir yang datang ke tempat penyembelihan lebih
sedikit, dibandingkan jika penyembelihan dilakukan pada waktu siang hari.
Bagi umat muslim yang berkurban, sunah untuk tidak memotong rambut dan
kukunya hingga hewan kurbannya disembelih. Berdasarkan Hadis riwayat Ummu
Salamah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

.)ٍُٔ‫غعِسِٖٔ َٗأَظِفَازِٖٔ ( َزَٗاُٖ ًُطِو‬


َ َِّ‫ُ ٌِطٔمِ ع‬ٚ‫ فَِو‬ٛ
َ ِّ‫ُطَر‬ٙ َِْ‫ٔ َٗأَزَا َد َأذَدُكُ ٍِ أ‬ٖٞ‫رح‬
ٔ ِ‫ اه‬ٜٔ‫تٍُِ ٓٔالَيَ ذ‬َِٙ‫ِإذَا زَأ‬
Apabila kalian melihat hilal Dzulhijjah; dan salah seorang di antara kalian ingin
menyembelih kurban, maka hendaklah dia membiarkan rambut dan kukunya (H.R.
Muslim).
Selain itu, bagi umat muslim yang yakin bahwa penyembelihannya baik menurut
syari’at, sebaiknya menyembelih sendiri hewan kurbannya, sebagaimana yang pernah
dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun, bagi yang tidak berkenan, boleh mewakilkan
kepada ahli penyembelih kurban. Yang demikian ini juga berdasarkan Hadis di mana
Rasulullah SAW menyembelih 100 ekor unta, namun sebagiannya dipasrahkan kepada
Ali RA.
Berkenaan dengan pembagian daging kurban, Mazhab Syafi’i menggariskan bahwa
jika tergolong kurban wajib, misalnya kurban karena nazar, maka orang yang berkurban
maupun keluarga yang wajib dia nafkahi, tidak boleh makan dagingnya sedikitpun;
semuanya wajib disedekahkan. Sedangkan jika berupa kurban sunah, maka orang yang
berkurban sunah ikut memakannya –setidaknya satu suapan– semata-mata untuk
memperoleh barakah. Sikap ini sesuai dengan Surat al-Hajj: 28

               

)28 :‫ (احلخ‬     

84
Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka
menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah
berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian
daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang
sengsara dan fakir.
Serta Hadis riwayat Buraidah ibn al-Hushaib RA:

.)ٗٛٔ‫َٔق‬ِٚ‫تٕٔٔ ( َزَٗاُٖ اِهَب‬َٚ‫ر‬


ٔ ِ‫ َٗكَا َْ ِإذَا َزجَ َع أَكَىَ ًٔ ِّ َكبٔ ٔد أُض‬،َ‫َ ِسجٔع‬ٙ ٟٖ‫ئّا َذت‬َِٚ‫َأِكُىِ غ‬ٙ ٍَِ‫ ه‬َٟ‫ضر‬
ِ َ‫َِٗإذَا كَاَْ األ‬
Pada saat Idul Adha, beliau (Nabi SAW) tidak makan apapun hingga pulang (dari
shalat idul adha); dan ketika pulang, beliau makan limpa hewan kurban beliau (H.R. al-
Baihaqi).
Demikian juga boleh memberikan sebagian daging kepada rekan-rekan atau
tetangga yang sebenarnya kaya dengan niat sebagai hadiah untuk mempererat
persaudaraan. Dalam Qaul Jadid (pendapat baru Imam Syafi’i) disebutkan bahwa orang
yang kurban boleh ikut makan 1/3 (sepertiga) daging hewan kurbannya. Wajib pula
menyedekahkan sebagian daging kurban kepada fakir miskin, walaupun hanya seorang
saja.
Yang lebih utama adalah orang yang berkurban hanya makan sedikit hewan
kurbannya dengan niat mencari barakah semata. Orang yang berkurban boleh memilih,
antara mengambil kulitnya untuk dirinya sendiri maupun untuk disedekahkan, namun
yang lebih utama adalah disedekahkan.
7. Proses Penyembelihan
Bagi hewan yang mudah disembelih, cara penyembelihannya adalah di bagian atas
dan bagian bawah leher depan. Sedangkan penyembelihan yang sempurna adalah
memotong tenggorokan (saluran atau urat pernafasan), kerongkongan (saluran atau
urat makanan) dan dua buah urat darah di dua sisi leher. Memotong semua urat ini
dengan sempurna adalah sunah, karena lebih memudahkan keluarnya ruh dan
merupakan bentuk berbuat baik kepada hewan yang disembelih. Inilah salah satu
contoh bentuk hablum min al-‘alam (hubungan manusia dengan semesta alam), yaitu
memperlakukan binatang dengan sebaik-baiknya.

www.ehthalal.com
Gambar 5.2
Bagian-bagian Tubuh Binatang yang Harus Disembelih
Bagi hewan yang sulit disembelih, misalnya karena liar, maka cara
penyembelihannya adalah dengan melukainya sesuai kemampuan. Luka tersebut harus
dapat menghilangkan ruhnya di bagian manapun yang memungkinkan dari badannya.

85
Alat penyembelihan adalah segala sesuatu yang bisa melukai, kecuali dengan gigi dan
kuku. Sebab menyembelih dengan keduanya dapat menyiksa hewan.
Menyembelih induk binatang dianggap juga menyembelih janin itu, kecuali jika
janin lahir dalam keadaan hidup, maka janin harus disembelih.
Hal-hal yang disunahkan dalam penyembelihan hewan adalah:
a. Membaca Basmalah
b. Membaca Shalawat
c. Menghadap kiblat
d. Berdoa agar diterima.

B. TATA CARA PELAKSANAAN AKIKAH


1. Pengertian
Akikah menurut bahasa adalah membelah dan memotong. Pada mulanya, akikah
adalah sebutan bagi pemotongan rambut yang ada di kepala bayi ketika kelahirannya.
Kemudian sebutan akikah juga ditujukan pada hewan yang dipotong (disembelih)
berkenaan dengan pemotongan rambut bayi tersebut.
2. Dasar Hukum
Menurut mazhab Hanafi, hukum akikah adalah mubah, bukan sunah. Sedangkan
menurut mazhab lainnya (Maliki, Syafi’i dan Hambali) hukum akikah adalah sunah
muakkad bagi orang yang dikaruniai anak. Hukum akikah menjadi wajib apabila
dinazarkan.
Dasar hukum akikah adalah Hadis riwayat Samurah ibn Jundub RA bahwa
Rasulullah SAW bersabda:

.)ِٜٗ‫ ( َزَٗاُٖ اهُِبخَاز‬ٌَٟٖ‫ُط‬َٙٗ ُ‫ُرِوَق‬َٙٗ ٕٔٔ‫َِِ٘ ضَأبع‬َٙ ٛٔ‫ِ َقتٕٔٔ تُرِبَحُ َعِ ُٕ ف‬ٚ‫الٍَ ًُسَِتِّْٔ ٔبعَٔق‬
َ ُ‫كُىٗ غ‬
Setiap anak itu tergadai dengan akikahnya, yang disembelih pada hari ketujuh (dari
kelahirannya), dicukur rambutnya dan diberi nama (pada hari ketujuh tersebut) (H.R.
al-Bukhari).
3. Ketentuan Binatang Akikah
Sebenarnya binatang akikah sama dengan binatang kurban, yaitu unta, sapi dan
kambing. Akan tetapi, pendapat yang populer adalah akikah hanya boleh menggunakan
kambing.
Menurut Mazhab Maliki, akikah untuk anak laki-laki maupun wanita adalah 1
(satu) ekor kambing. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali, akikah untuk anak laki-laki
adalah 2 (dua) ekor kambing, sedangkan akikah untuk anak wanita adalah 1 (satu) ekor
kambing. Pendapat ini didasarkan pada Hadis riwayat ‘Aisyah RA berikut:

.)ََٕ‫ (زََٗاُٖ إِبُّ ًَاج‬.ٕٝ‫ٔ ٔبػَا‬َِٞٙ‫ِّ َٗ َع ِّ اهِحَاز‬ِٚ‫ِٕٔ َٗضَوَّ ٍَ أَ ِْ َُعُقٖ عَ ِّ اهِػُالََِ بٔػَاَت‬َٚ‫ اهللُ عَو‬َّٟ‫ضِ٘ ُي اهللٔ صَو‬
ُ َ‫َأًَسََُا ز‬
“Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengakikahkan anak laki-laki dengan
(menyembelih) dua ekor kambing dan mengakikahkan anak wanita dengan
(menyembelih) seekor kambing”. (H.R. Ibn Majah).
Demikian juga diperkenankan akikah dengan seekor unta atau sapi untuk 7 (tujuh)
anak.
Selain itu, disunahkan untuk memotong rambut bayi pada hari ketujuh, lalu
bersedekah dengan emas dan perak sesuai dengan timbangan rambut yang dipotong.
Hal ini berlaku bagi anak laki-laki maupun wanita. Ketentuan ini didasarkan pada Hadis
riwayat ‘Ali ibn Abi Thalib RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW mengakikahi
Husain dengan seekor domba dan beliau bersabda, “Wahai Fatimah, potonglah
rambutnya dan bersedekahlah dengan timbangan rambutnya”.

86
www.slideshare.net
Gambar 5.3
Ilustrasi Prosesi Akikah dan Jumlah Binatang untuk Akikah
Disunahkan pula memberi nama yang terbaik kepada bayi di hari ketujuh dan
melumuri kepala bayi dengan minyak wangi, seperti za’faran.
Pada hari kelahiran, sunah dikumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah
di telinga kirinya. Hal ini dimaksudkan agar kalimat yang pertama kali didengar oleh
bayi adalah kalimat tauhid.
4. Waktu Akikah
Pelaksanaan akikah disunahkan pada hari ke-7 (tujuh) dari kelahiran anak.
Perhitungan dimulai dari hari kelahiran. Jika lahir pada malam hari, maka perhitungan
dimulai pada hari berikutnya.
Jika seseorang kurang mampu, maka akikah boleh dilaksanakan pada hari
sesudahnya, sebelum anak dewasa. Yang lebih utama adalah hari ke-14 dan ke-21
kelahiran anak. Oleh sebab itu, jika bayi meninggal dunia sebelum hari ketujuh, maka
tidak diakikahi.
5. Doa Akikah
Doa ketika menyembelih akikah berdasarkan Hadis riwayat ‘Aisyah RA, bahwa
Rasulullah SAW bersabda:

.)ٗٛٔ‫َٔق‬َِٚ‫ُ فُالٍَْ ( َزَٗاُٖ اِهب‬َٞ‫ق‬ٚٔ‫مَ َٓرٖٔٔ عَق‬َِٚ‫ ا َّهؤُ ٍٖ هَمَ َٗإِه‬،ُ‫ َٗاهوَّ ُٕ أَ ِكبَس‬،َّٕٔ‫ ٔبطِ ٍِ اهو‬:‫ اضٌِٕٔٔ َٗقُ٘هُ٘ا‬َٟ‫اذَِبرُ٘ا عَو‬
Sembelihlah atas nama-Nya dan ucapkanlah: “Dengan menyebut nama Allah; Allah
Maha Besar; Ya Allah, milik-Mu dan bagi-Mu, ini adalah akikah Fulan (disebutkan
nama anak yang diakikahi)” (H.R. al-Baihaqi).
6. Pembagian Daging
Sebagaimana kurban, daging akikah boleh dimakan, disedekahkan dan tidak boleh
diperjual-belikan. Disunahkan untuk memasak daging akikah, lalu anggota keluarga ikut
makan daging tersebut. Disunahkan pula untuk tidak memecah tulang binatang akikah,
sebagai harapan atas keselamatan anak yang diakikahi.

C. HIKMAH KURBAN DAN AKIKAH


1. Hikmah Kurban
a. Kurban pada dasarnya untuk menguji kualitas keimanan manusia kepada
Allah SWT, dengan mengorbankan sebagian harta demi kepentingan
kemanusiaan, khususnya fakir miskin.
c. Dengan kurban dapat diciptakan suasana yang gembira antara yang kaya dan
yang miskin.
d. Menghidupkan sunah Nabi Ibrahim AS sekaligus mensyukuri keberadaan
umat manusia hingga kini. Seandainya saja dulu Allah SWT tidak mengganti
Nabi Isma’il AS dengan hewan kurban, bisa jadi setiap manusia wajib

87
menyembelih anaknya sebagai kurban. Dalam Surat al-Shaffat ayat 107-109
disebutkan:

            

)109-107 : ‫(اهصافا‬
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami
abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang
yang datang kemudian. (Yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim"
e. Mencontoh betapa harmonisnya hubungan antara Nabi Ibrahim AS sebagai
ayah, Nabi Ismail AS sebagai anak, dan Hajar sebagai ibu, terutama dalam
melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
f. Mendidik manusia dan masyarakat guna mencapai kesadaran untuk
memajukan agama, bangsa dan negara.
2. Hikmah Akikah
a. Merupakan perwujudan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas kehadiran
seorang anak dan keselamatannya sejak dalam rahim hingga terlahir ke
dunia.
b. Diharapkan akan menambah erat jalinan rasa kasih dan sikap hormat
seorang anak kepada orang tuanya, karena dia telah mengetahui bahwa
kehadirannya di dunia ini diharapkan dan disyukuri oleh orang tuanya
melalui akikah.
c. Dengan menyantap bersama-sama daging akikah, diharapkan akan terjalin
hubungan akrab antara keluarga dan tetangga, sehingga pada gilirannya akan
tercipta kebersamaan.
d. Mengikuti sunah Rasulullah SAW.
e. Membiasakan dan mendidik kedermawanan, sebab dengan pendidikan dan
pembiasaan ini kita akan mudah berkorban demi kepentingan agama dan
masyarakat.

RANGKUMAN
1. Kurban atau udhhiyyah adalah menyembelih hewan ternak tertentu (unta, sapi,
kerbau, kambing) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada hari-hari
Nahr (penyembelihan), yaitu Idul Adha hingga hari Tasyriq (10-13 Dzulhijjah).
2. Akikah adalah penyembelihan ternak (kambing) sebagai pernyataan rasa syukur
orang tua atas kelahiran anaknya, lazimnya dilaksanakan pada hari ketujuh,
dengan disertai pencukuran rambut bayi.
3. Hikmah kurban dan akikah adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang
dapat berfungsi mendekatkan diri kepada-Nya maupun kepada masyarakat.

TUGAS
1. Project Based Learning: Buatlah kliping kisah-kisah inspiratif yang memotivasi
umat muslim untuk giat melaksanakan kurban maupun akikah. Sumber kliping
bisa berasal dari sumber internet, koran, majalah, dan lain-lain.
2. Problem Based Learning: Diskusikanlah alternatif solusi terhadap kasus-kasus
berikut ini:
a. Bagaimana cara pembagian daging kurban yang adil?
b. Bagaimana hukum berakikah dengan memanfaatkan katering yang
menyediakan jasa penyembelihan hewan akikah?

88
c. Apabila seseorang mempunyai dana terbatas, manakah yang lebih utamakan,
kurban ataukah akikah?
3. Discovery Learning: Carilah penjelasan tentang perbandingan antara binatang yang
disembelih secara syar’i dengan binatang yang disembelih secara non-syar’i,
semisal disetrum.

KEGIATAN
1. Kreasilah kegiatan penggalangan dana sosial dari teman-teman sekolah yang
sekiranya cukup untuk membeli seekor kambing. Kemudian sedekahkanlah
kambing tersebut kepada fakir miskin sekitar sekolah yang belum pernah
berkurban, agar dijadikan sebagai binatang kurban atas namanya.
2. Kreasilah kegiatan kuliah tamu di sekolah dengan mengundang tokoh yang
terbiasa mengurusi penyembelihan binatang kurban dan akikah sebagai
narasumber. Lalu adakanlah diskusi ilmiah tentang fikih kurban dan akikah
dengan narasumber tersebut
3. Kreasilah nama-nama bayi laki-laki dan wanita, setidaknya masing-masing 10
nama, yang bernuansa Islami sekaligus modern, sehingga dapat dimanfaatkan oleh
orang-orang yang membutuhkan inspirasi nama untuk bayi-bayi yang diakikahi.

UJI KOMPETENSI
Soal Pilihan Ganda
1. Kapan kurban disyariatkan dalam Islam…
a. Tahun 1 H d. Tahun 4 H
b. Tahun 2 H e. Tahun 5 H
c. Tahun 3 H
2. Mazhab yang mewajibkan kurban adalah…
a. Mazhab Hanafi d. Mazhab Hambali
b. Mazhab Maliki e. Mazhab Zhahiri
c. Mazhab Syafi’i
3. Hukum menyembelih binatang kurban pada malam hari adalah…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
4. Syariat kurban merupakan napak tilas dari kisah…
a. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW
b. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS
c. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ishaq AS
d. Nabi Ibrahim AS dan Hajar
e. Nabi Isma’il AS dan Hajar
5. Penyembelihan kurban tidak sah jika dilakukan pada tanggal…
a. 9 Dzulhijjah d. 12 Dzulhijjah
b. 10 Dzulhijjah e. 13 Dzulhijjah
c. 11 Dzulhijjah
6. Dasar hukum syariat kurban adalah…
a. َ‫َِِانَ اهِلَ ِ٘ثَس‬َٚ‫ِإُٖا أَعِط‬ d. َ‫غأُئَم‬
َ ِْٖ‫إ‬

b. َ‫َىهٔسَبِّم‬
ِّ ‫فَص‬ e. ُ‫َُٓ٘ اهِأَبِتَس‬

c. ِ‫َٗاُِرَس‬

89
7. Menurut Mazhab Maliki, hewan apakah yang lebih utama untuk dijadikan kurban…
a. Unta d. Kambing
b. Sapi e. Ayam
c. Kerbau
8. Apa hukum menyembelih binatang kurban dengan gigi atau kuku…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
9. Perhatikan Hadis berikut

.)ٗٛٔ‫َٔق‬ِٚ‫تٕٔٔ ( َزَٗاُٖ اهَِب‬َٚ‫ر‬


ٔ‫ض‬ِ ُ‫َٗكَا َْ ِإذَا َزجَ َع أَكَىَ ًٔ ِّ َكبٔدٔ أ‬
Berdasarkan Hadis di atas, bagian binatang kurban yang disunahkan untuk
dimakan oleh orang yang berkurban sunah adalah…
a. Kepala d. Dada
b. Paha e. Limpa
c. Kaki
10. Apakah hukum akikah menurut Mazhab Syafi’i…
a. Fardhu ‘Ain d. Sunah Ghairu Muakkad
b. Fardhu Kifayah e. Mubah
c. Sunah Muakkad
11. Menurut Hadis Abu Dawud, contoh cacat yang tidak diperbolehkan dalam binatang
kurban adalah…
a. Berwarna hitam d. Telinganya tuli
b. Terlalu gemuk e. Tubuhnya terluka
c. Terlalu kurus
12. Waktu pelaksanaan akikah yang paling utama adalah…
a. Hari ke-1 kelahiran d. Hari ke-9 kelahiran
b. Hari ke-3 kelahiran e. Hari ke-12 kelahiran
c. Hari ke-7 kelahiran
13. Hukum berakikah dengan menyembelih sapi adalah…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
14. Perhatikan Hadis berikut

.)ِٜٗ‫ ( َزَٗاُٖ اهُِبخَاز‬ٌَٟٖ‫ُط‬َٙٗ ُ‫ُرِوَق‬َٙٗ ٕٔٔ‫َِِ٘ ضَأبع‬َٙ ٛٔ‫ِ َقتٕٔٔ تُرِبَحُ َعِ ُٕ ف‬ٚ‫كُىٗ غُالٍََ ًُسَِتِّْٔ ٔبعَٔق‬
Arti lafal yang bergaris bawah (ٌٟٖ‫ط‬
َ ُٙ) adalah…
a. Memotong hewan akikah
b. Mencukur rambut bayi
c. Memberi nama bayi
d. Mengumandangkan azan di telinga bayi
e. Mengumandangkan iqamah di telinga bayi
15. Orang yang dibebani syariat akikah adalah…
a. Suami atau istri d. Kakek atau nenek
b. Kakak atau adik e. Paman atau bibi
c. Ayah atau ibu
16. Perbedaan antara kurban dan akikah adalah…
a. Kurban dengan unta, sedangkan akikah dengan kambing

90
b. Kurban dilaksanakan kapan saja, sedangkan akikah pada hari ketujuh
kelahiran
c. Kurban dilaksanakan pada hari-hari tertentu, sedangkan akikah
dilaksanakan kapan saja
d. Daging kurban dibagikan dalam keadaan matang, sedangkan daging akikah
dalam keadaan mentah
e. Daging kurban dibagikan dalam keadaan mentah, sedangkan daging akikah
dalam keadaan matang
17. Menurut mazhab Syafi’i, ketentuan akikah adalah…
a. Dua ekor kambing untuk anak laki-laki, dua ekor kambing untuk anak wanita
b. Seekor kambing untuk anak laki-laki, seekor kambing untuk anak wanita
c. Dua ekor kambing untuk anak laki-laki, seekor kambing untuk anak wanita
d. Dua ekor sapi untuk anak laki-laki, seekor kambing untuk anak wanita
e. Dua ekor sapi untuk anak laki-laki, dua ekor kambing untuk anak wanita
18. Hukum tidak memecah tulang binatang akikah adalah…
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
19. Tata cara penyembelihan yang sempurna menurut standar MUI (Majlis Ulama
Indonesia) adalah melalui pemotongan…
a. Saluran makanan dan pembuluh darah
b. Saluran pernafasan dan pembuluh darah
c. Saluran pernafasan, tenggorokan dan pembuluh darah
d. Saluran makanan, pernafasan dan satu pembuluh darah
e. Saluran makanan, pernafasan dan dua pembuluh darah
20. Agar lebih memudahkan penyembelihan binatang, biasanya dilakukan stunning.
Apakah yang dimaksud dengan stunning…
a. Dibius d. Dipegangi
b. Diikat e. Dibuat pingsan
c. Dipukul

Soal Esai
1. Apakah maksud dari Hadis berikut ini

.َٕٞ‫ضِبع‬
َ َِّ‫َ ع‬ٝ‫ٕ َٗاِهبَقَ َس‬َٞ‫ضِبع‬
َ ِّ‫َ َع‬َُٞ‫ اِهبَد‬َٞٔٚ‫ٔب‬َِٙ‫ِٕٔ َٗضَوٍََّ عَاَ اِهرُد‬ٚ‫ اهوَُّٕ عََو‬َّٟ‫َُرَسَُِا ًَعَ زَضُ٘ ِي اهؤَّٕ صَو‬
2. Tulislah doa ketika menyembelih akikah!
3. Sebutkan empat cacat yang tidak boleh terdapat pada binatang kurban!
4. Apakah hukum mengakikahi anak laki-laki dengan satu kambing saja?
5. Kapan waktu pelaksanaan penyembelihan kurban?
6. Jelaskan tata cara penyembelihan hewan kurban yang sesuai dengan syariat Islam!
7. Berikan contoh amalan-amalan sunah terkait akikah!
8. Buatlah tabel perbandingan antara kurban dan akikah, baik dari segi
persamaannya maupun perbedaannya!
9. Bagaimana ketentuan pembagian daging kurban sunah?
10. Apa saja hikmah yang dapat dipetik dari syariat akikah?

91
UJI KOMPETENSI
SEMESTER GASAL
SOAL PILIHAN GANDA
1. Apakah tugas lembaga yang memiliki logo berikut ini:

a. Mengurusi Manasik Haji d. Mengurusi Zakat


b. Mengurusi Manasik Umrah e. Mengurusi Jenazah
c. Mengurusi Ekonomi Syariah
2. Apa rukun Haji yang diilustrasikan dalam gambar berikut:

a. Ihram d. Sa’i
b. Wuquf e. Tahallul
c. Thawaf
3. Gambar berikut adalah doa yang dibaca ketika mengerjakan shalat jenazah untuk

a. Orang yang tidak dikenal d. Wanita dewasa


b. Sekelompok orang e. Anak kecil
c. Laki-laki dewasa
4. Gambar horoskop ini tidak selaras dengan Maqashid Syariah, karena bertentangan
dengan prinsip …
a. Hifzh al-Din d. Hifzh al-Nasl
b. Hifzh al-Nafs e. Hifzh al-Mal
c. Hifzh al-‘Aql

92
5. Foto fisikawan muslim kontemporer peraih nobel, Abdussalam, berikut ini selaras
dengan Maqashid Syariah, karena mendukung terwujudnya prinsip …
a. Hifzh al-Din d. Hifzh al-Nasl
b. Hifzh al-Nafs e. Hifzh al-Mal
c. Hifzh al-‘Aql

6. Ilustrasi yang tepat menyangkut hubungan Akidah-Akhlak-Fikih adalah…


a. Akidah = Iman, Akhlak = Islam, Fikih = Ihsan
b. Akidah = Islam, Akhlak = Ihsan, Fikih = Iman
c. Akidah = Ihsan, Akhlak = Iman, Fikih = Islam
d. Akidah = Islam, Akhlak = Iman, Fikih = Ihsan
e. Akidah = Iman, Akhlak = Ihsan, Fikih = Islam
7. Urutan perawatan jenazah yang tepat adalah …
a. Mengkafani – Menshalati – Memandikan – Menguburkan
b. Mengkafani – Memandikan – Menshalati – Menguburkan
c. Memandikan – Mengkafani – Menshalati – Menguburkan
d. Memandikan – Menshalati – Mengkafani – Menguburkan
e. Menshalati – Memandikan –Mengkafani – Menguburkan
8. Berdasarkan Surat al-Taubah: 60, urutan mustahiq zakat yang tepat adalah …
a. Fakir – Miskin – Amil – Muallaf – Riqab – Gharim – Sabilillah – Ibn Sabil
b. Fakir – Miskin – Amil – Muallaf – Gharim – Riqab – Sabilillah – Ibn Sabil
c. Fakir – Miskin – Muallaf – Amil – Riqab – Gharim – Sabilillah – Ibn Sabil
d. Fakir – Miskin – Muallaf – Amil – Gharim – Riqab – Sabilillah – Ibn Sabil
e. Fakir – Miskin – Riqab – Amil – Muallaf – Gharim – Sabilillah – Ibn Sabil
9. Urutan manasik haji yang tepat adalah …
a. Ihram – Wuquf – Sa’i – Thawaf Ifadhah – Tahallul
b. Ihram – Wuquf – Thawaf Ifadhah – Sa’i – Tahallul
c. Ihram – Thawaf Ifadhah – Wuquf – Sa’i – Tahallul
d. Ihram – Thawaf Ifadhah – Sa’i – Wuquf – Tahallul
e. Ihram – Sa’i – Thawaf Ifadhah – Wuquf – Tahallul
10. Ketentuan pembagian daging kurban yang disunahkan adalah …
a. 1/3 untuk yang berkurban dan keluarganya; 1/3 untuk fakir miskin; 1/3 untuk

hadiah kepada masyarakat sekitar


b. 1/3 untuk yang berkurban dan keluarganya; 2/3 untuk fakir miskin; tidak ada

bagian bagi masyarakat sekitar


c. Tidak ada bagian bagi yang berkurban dan keluarganya; 2/3 untuk fakir
miskin; 1/3 untuk hadiah kepada masyarakat sekitar
d. Tidak ada bagian bagi yang berkurban dan keluarganya; 1/3 untuk fakir
miskin; 2/3 untuk hadiah kepada masyarakat sekitar
e. Tidak ada bagian bagi yang berkurban dan keluarganya; 1/2 untuk fakir
miskin; 1/2 untuk hadiah kepada masyarakat sekitar
11. Dalil yang menunjukkan perintah shalat sesuai waktunya adalah …

a. ٍُِ‫ فَا ِغطٔوُ٘ا ُٗجَُ٘ٓل‬ٝٔ‫ اهصٖوَا‬َٟ‫ِإذَا قُ ٌِتٍُِ إِه‬

b. ‫ اهِ ٌُ ِؤًِٔٔنيَ ٔكتَابّا ًَِ٘قُ٘تّا‬َٟ‫َ كَاَُتِ عَو‬ٝ‫إِْٖ اهصٖوَا‬

93
c. َ‫ْ ًٍُِِٔٔ ًَعَم‬َٞ‫َ فَِوتَقٍُِ َطائٔف‬ٝ‫فَأَقَ ٌِتَ َهٍُُٔ اهصٖوَا‬

d. ‫َٔا‬ِٚ‫ٔ َٗاصِ َطبٔسِ عََو‬ٝ‫َِٗأًُسِ أَِٓوَمَ بٔاهصٖوَا‬

e. ‫حَٔسِ بٔصَوَأتمَ َٗهَا ُتخَافٔتِ ٔبَٔا‬


ِ ‫َٗهَا َت‬
12. Hadis berikut berhubungan dengan …

.َِٔٞٗ‫ فَإُُِٖٕ ًَّٔ اهط‬.‫ِسِ ُكَّؤَا‬ٙ‫َرٌِٔىِ بٔحََ٘أُبٔ اهطٖس‬ِٚ‫ّ فَو‬َٝ‫ًَِّ اتٖبَعَ جََِاش‬
a. Perintah memulai perawatan jenazah dengan anggota sebelah kanan
b. Perintah menshalati jenazah di sambing tempat tidur jenazah
c. Perintah menggunakan kain kafan yang dipotong-potong
d. Perintah memikul jenazah pada setiap sisi keranda
e. Perintah menyegerakan penguburan jenazah
13. Hadis berikut secara khusus berhubungan dengan …

.َْٞ‫ْ ًَقِبُِ٘ه‬ٝ‫َ شَكَا‬َِٛٔ‫ٔ ف‬َٝ‫فٌََِّ أَدٖآَا قَبِىَ اهصٖال‬


a. Waktu wajib zakat d. Waktu makruh zakat
b. Waktu sunah zakat e. Waktu haram zakat
c. Waktu mubah zakat
14. Dalil yang menunjukkan larangan terkait pornoaksi dan pornografi selama
menjalani manasik haji dan umrah adalah …

a. ٍُِ‫َٗهَا َترِؤقُ٘ا زُءُٗضَل‬ d. ًََٞ‫ِصَ َٗاِهعٌََا‬ٌَٚٔ‫ظ اهِ ٌُرِسَُِ اهِق‬


ُ َ‫َِوب‬ٙ َ‫ال‬

b. َ‫ِّٖٔ اِهرَخٖ فَوَا زَفَث‬ٚٔ‫فَ ٌَِّ فَ َسضَ ف‬ e. ُ‫ِلَح‬ُٙ َ‫ِلٔ ُح اهِ ٌُرِسَُِ َٗال‬َٙ َ‫ال‬

c. ِّ‫ اِهرَخ‬ٛٔ‫َٗهَا ُفطُ٘قَ َٗهَا جٔدَايَ ف‬


15. Redaksi bergaris bawah pada Hadis berikut menunjukkan …

... ‫كُُوِ٘ا َٗا ِطعٔ ٌُِ٘ا َٗا ٖدخٔ ُسِٗا‬


a. Perintah untuk berbagi daging qurban
b. Perintah untuk berbagi daging aqiqah
c. Perintah untuk menyimpan daging qurban
d. Perintah untuk menyimpan daging aqiqah
e. Perintah untuk memasak daging aqiqah
16. Apa hukum bertaklid kepada pendapat para ulama tentang masalah Fikih?
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
17. Apa hukum membayar zakat fitrah dengan menggunakan uang?
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah

94
18. Apa hukum pengadaan ‘upacara pemberangkatan’ mayat yang umumnya berlaku
di masyarakat dengan diisi sambutan tentang hikmah kematian?

a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
19. Apa hukum aqiqah dengan menggunakan binatang selain kambing?
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
20. Apa hukum mengonsumsi obat penunda haid bagi wanita dengan tujuan dapat
melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji?
a. Wajib d. Makruh
b. Sunah e. Haram
c. Mubah
21. Yang termasuk penyimpangan terhadap Hifzh al-Nasl adalah …
a. Mengonsumsi narkoba d. Mempercayai horoskop
b. Menyontek waktu ujian e. Tawuran pelajar
c. Berpacaran
22. Yang bukan termasuk tanda-tanda sakaratul maut adalah …
a. Dinginnya ujung-ujung anggota badan
b. Delirium (gangguan mental)
c. Pingsan berkali-kali
d. Aktivitas bernafas lambat
e. Menelan air liur menjadi lebih sulit
23. Yang bukan termasuk kategori zakat profesi adalah …
a. Zakat Perdagangan (penerbitan)
b. Zakat Unggas (ayam potong)
c. Zakat Pendapatan (gaji)
d. Zakat Jasa (notaris)
e. Zakat Real estate (perumahan)
24. Yang termasuk sunah manasik haji atau umrah adalah …
a. Melempar jumrah d. Berihram dari miqat
b. Thawaf Qudum e. Memakai parfum setelah
c. Thawaf Ifadhah Ihram
25. Yang bukan termasuk waktu penyembelihan binatang qurban adalah …
a. 9 Dzulhijjah d. 12 Dzulhijjah
b. 10 Dzulhijjah e. 13 Dzulhijjah
c. 11 Dzulhijjah
26. Perbedaan utama antara Syariat dan Fikih adalah …
a. Syariat bersifat zhanni (dugaan), sedangkan Fikih bersifat qath’i
(keniscayaan)
b. Syariat bersumber dari al-Qur’an, Sunah, sedangkan Fikih bersumber dari
Ijma’ dan Qiyas
c. Syariat bersifat temporer (sementara), Fikih bersifat permanen (abadi)
d. Syariat bersifat Ilahiyah (wahyu), sedangkan Fikih bersifat Insaniyah
(kognisi, ijtihad akal)
e. Syariat memiliki maksud-maksud hukum (Maqashid Syariah), sedangkan
Fikih memiliki sebab-sebab hukum (‘Ilal al-Fiqh)

95
27. Perbedaan antara Nishab, Kadar dan Haul adalah …
a. Nishab itu batas minimal harta wajib dizakati; Kadar itu prosentase zakat
yang dikeluarkan; Haul itu batas waktu disyariatkan mengeluarkan zakat
b. Kadar itu batas minimal harta wajib dizakati; Haul itu prosentase zakat yang
dikeluarkan; Nishab itu batas waktu disyariatkan mengeluarkan zakat
c. Haul itu batas minimal harta wajib dizakati; Nishab itu prosentase zakat yang
dikeluarkan; Kadar itu batas waktu disyariatkan mengeluarkan zakat
d. Nishab itu batas minimal harta wajib dizakati; Haul itu prosentase zakat yang
dikeluarkan; Kadar itu batas waktu disyariatkan mengeluarkan zakat
e. Haul itu batas minimal harta wajib dizakati; Kadar itu prosentase zakat yang
dikeluarkan; Nishab itu batas waktu disyariatkan mengeluarkan zakat
28. Perbedaan antara laki-laki dan wanita ketika ihram haji adalah …
a. Wanita boleh memakai parfum, sedangkan laki-laki tidak boleh
b. Wanita boleh menutup kepala, sedangkan laki-laki tidak boleh
c. Wanita boleh menikah, sedangkan laki-laki tidak boleh
d. Wanita boleh berihram dari selain miqat, sedangkan laki-laki tidak boleh
e. Wanita boleh memotong kuku, sedangkan laki-laki tidak boleh
29. Perbedaan antara jenazah laki-laki dan wanita adalah …
a. Jenazah wanita boleh dimandikan suaminya, sedangkan jenazah laki-laki
tidak boleh dimandikan istrinya
b. Jenazah wanita dikafani 3 lapis kain, sedangkan jenazah laki-laki dikafani 5
lapis kain
c. Jenazah wanita dishalati oleh imam berdiri di dekat kepalanya, sedangkan
jenazah laki-laki dishalati oleh imam yang berdiri di dekat perutnya
d. Jenazah wanita dishalati oleh imam berdiri di dekat perutnya, sedangkan
jenazah laki-laki dishalati oleh imam yang berdiri di dekat kepalanya
e. Jenazah wanita dimasukkan ke kuburan dari arah kaki kubur [di Indonesia =
arah selatan], sedangkan jenazah laki-laki dimasukkan ke kuburan dari arah
kepala kubur [di Indonesia = arah utara]
30. Perbedaan antara Aqiqah dan Qurban adalah …
a. Daging Aqiqah hendaknya diberikan dalam keadaan mentah, sedangkan
daging Qurban hendaknya diberikan dalam keadaan matang
b. Daging Aqiqah tidak boleh diberikan kepada orang kaya, sedangkan daging
Qurban boleh diberikan kepada orang yang kaya
c. Aqiqah wajib berupa kambing, sedangkan Qurban tidak wajib berupa
kambing
d. Aqiqah disyariatkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan Qurban
tidak disyariatkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, melainkan melalui
Nabi Ibrahim AS
e. Aqiqah dilakukan dalam rangka mengungkapkan rasa syukur, sedangkan
Qurban dilakukan dalam rangka mengungkapkan rasa sabar
31. Jawaban yang benar untuk mengisi mind-map yang kosong berikut adalah …

a. Ilmu Tauhid b. Ushul Fiqih


96
c. Qa’idah Fiqih e. Ilmu Tashawwuf
d. Ilmu Fiqih
32. Jawaban yang benar untuk mengisi mind-map yang kosong berikut adalah …

a. (2) Membaca al-Fatihah; (4) Membaca Surat al-Qur’an; (5) Membaca Do’a
untuk jenazah [... ُٕ‫]ا َّهؤٍُٖ اغِٔفسِ َه‬

b. (2) Membaca al-Fatihah; (4) Membaca Do’a untuk jenazah [... ُٕ‫( ;]ا َّهؤٍُٖ اغِٔفسِ َه‬5)

Membaca Do’a untuk jenazah [... َُٖ‫رسًَِِِا اَ ِجس‬


ِ َ‫]ا َّهؤٍُٖ الَ ت‬

c. (2) Membaca Surat al-Qur’an; (4) Membaca Do’a untuk jenazah [... ُٕ‫;]ا َّهؤٍُٖ اغِٔفسِ َه‬

(5) Membaca Do’a untuk jenazah [... َُٖ‫رسًَِِِا اَ ِجس‬


ِ َ‫]ا َّهؤٍُٖ الَ ت‬

d. (2) Membaca al-Fatihah; (4) Membaca Do’a untuk jenazah [... َُٖ‫رسًَِِِا اَ ِجس‬
ِ َ‫;]ا َّهؤٍُٖ الَ ت‬

(5) Membaca Do’a untuk jenazah [... ُٕ‫]ا َّهؤٍُٖ اغِفٔسِ َه‬

e. (2) Membaca Do’a untuk jenazah [... ُٕ‫( ;]ا َّهؤٍُٖ اغِٔفسِ َه‬4) Membaca Do’a untuk

jenazah [... َُٖ‫رسًَِِِا اَ ِجس‬


ِ َ‫( ;]ا َّهؤٍُٖ الَ ت‬5) Membaca Do’a untuk jenazah [... ‫]ا َّهؤٍُٖ اجِعَِوُٕ َفسَطّا‬
33. Jawaban yang benar untuk mengisi mind-map yang kosong berikut adalah …

a. Emas [Nishab = 96,3 gram; Kadar = 2,5%]; Gaji [Nishab = 93,6 gram; Kadar =
2,5%]; Padi [Nishab = 650 kg beras; Kadar = 5% / 10%]
b. Emas [Nishab = 93,6 gram; Kadar = 2,5%]; Gaji [Nishab = 96,3 gram; Kadar =
2,5%]; Padi [Nishab = 650 kg beras; Kadar = 5% / 10%]
c. Emas [Nishab = 93,6 gram; Kadar = 2,5%]; Gaji [Nishab = 93,6 gram; Kadar =
2,5%]; Padi [Nishab = 750 kg beras; Kadar = 5% / 10%]
d. Emas [Nishab = 96,3 gram; Kadar = 2,5%]; Gaji [Nishab = 96,3 gram; Kadar =
2,5%]; Padi [Nishab = 750 kg beras; Kadar = 5% / 10%]
e. Emas [Nishab = 93,6 gram; Kadar = 2,5%]; Gaji [Nishab = 93,6 gram; Kadar =
2,5%]; Padi [Nishab = 750 kg beras; Kadar = 2,5%]

97
34. Jawaban yang benar untuk mengisi mind-map yang kosong berikut adalah …

a. Haji Ifrad adalah melakukan haji dulu, lalu umrah; Haji Tamattu’ adalah
melakukan umrah dulu, lalu haji; Haji Qiran adalah melakukan haji dan
umrah secara bersamaan
b. Haji Ifrad adalah melakukan haji dulu, lalu umrah; Haji Qiran adalah
melakukan umrah dulu, lalu haji; Haji Tamattu’ adalah melakukan haji dan
umrah secara bersamaan
c. Haji Tamattu’ adalah melakukan haji dulu, lalu umrah; Haji Ifrad adalah
melakukan umrah dulu, lalu haji; Haji Qiran adalah melakukan haji dan
umrah secara bersamaan
d. Haji Tamattu’ adalah melakukan haji dulu, lalu umrah; Haji Qiran adalah
melakukan umrah dulu, lalu haji; Haji Ifrad adalah melakukan haji dan umrah
secara bersamaan
e. Haji Qiran adalah melakukan haji dulu, lalu umrah; Haji Ifrad adalah
melakukan umrah dulu, lalu haji; Haji Tamattu’ adalah melakukan haji dan
umrah secara bersamaan
35. Jawaban yang benar untuk mengisi mind-map yang kosong berikut adalah …

a. Dalil ke-1 [Waktu Penyembelihan Aqiqah]; Dalil ke-2 [Syariat Aqiqah]; Dalil
ke-3 [Jenis Hewan Aqiqah]; Dalil ke-4 [Hukum Aqiqah]
b. Dalil ke-1 [Waktu Penyembelihan Aqiqah]; Dalil ke-2 [Syariat Aqiqah]; Dalil
ke-3 [Jenis Hewan Aqiqah]; Dalil ke-4 [Hukum Aqiqah]
c. Dalil ke-1 [Waktu Penyembelihan Aqiqah]; Dalil ke-2 [Jenis Hewan Aqiqah];
Dalil ke-3 [Syariat Aqiqah]; Dalil ke-4 [Hukum Aqiqah]
d. Dalil ke-1 [Waktu Penyembelihan Aqiqah]; Dalil ke-2 [Jenis Hewan Aqiqah];
Dalil ke-3 [Hukum Aqiqah]; Dalil ke-4 [Syariat Aqiqah]
e. Dalil ke-1 [Waktu Penyembelihan Aqiqah]; Dalil ke-2 [Hukum Aqiqah]; Dalil
ke-3 [Jenis Hewan Aqiqah]; Dalil ke-4 [Syariat Aqiqah]
36. Waktu sahnya pelaksanaan ibadah haji adalah ...
a. Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah
b. Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah
c. Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram
d. Dzulhijjah, Muharram, Shafar
e. Muharram, Shafar, Maulid
98
37. Tokoh yang terlibat dalam kisah pensyariatan qurban adalah ...
a. Ibrahim, Isma’il, Sarah d. Ibrahim, Ishaq, Hajar
b. Ibrahim, Ishaq, Sarah e. Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Sarah,
c. Ibrahim, Isma’il, Hajar Hajar
38. Sengaja mengeluarkan zakat setelah terbenamnya matahari pada hari raya Idul
Fitri adalah ...
a. Waktu wajib d. Waktu makruh
b. Waktu sunah e. Waktu haram
c. Waktu mubah
39. Jenazah yang dimandikan bukan mati syahid di medan perang. Pernyataan ini
adalah ...
a. Rukun dalam memandikan jenazah
b. Syarat dalam memandikan jenazah
c. Cara dalam memandikan jenazah
d. Wajib dalam memandikan jenazah
e. Sunah dalam memandikan jenazah
40. Hukum Fikih yang mengatur hubungan dalam keluarga, mulai dari pernikahan,
perceraian, pengasuhan anak, dan lain-lain, disebut dengan istilah ...
a. Fikih Ibadah d. Fikih Jinayah
b. Fikih Muamalah e. Fikih Ahwal al-Syakhshiyyah
c. Fikih Iqtishadiyah

Soal Esai
41. Berikan penjelasan tentang contoh-contoh Maqashid Syariah, dalam konotasi
positif –yaitu selaras dengan tujuan Syariat Islam– maupun negatif –yaitu
menyimpang dari tujuan Syariat Islam–. [dipersilahkan memanfaatkan model
mind-map berikut]

42. Jelaskan langkah-langkah praktik shalat jenazah wanita, lengkap dengan teks doa-
doa yang dibaca!
43. Pak Muhammad adalah seorang penerbit buku. Rata-rata pendapatannya per
bulan adalah IDR 10.000.000, namun pengeluaran per bulan mencapai IDR
6.000.000. Jika harga emas 20 karat adalah IDR 400.000 per gram, maka hitunglah
total zakat profesi yang harus dibayar oleh Pak Muhammad!

99
44. Cocokkan item-item pada kolom kiri dengan item-item pada kolom kanan
ISTILAH MAKNA
1) Niat mengerjakan haji atau umrah a) Thawaf Ifadhah
2) Tempat sahnya memulai rangkaian ibadah haji b) Thawaf Wada’
atau umrah c) Thawaf Qudum
3) Kebolehan memilih dam sesuai kemampuan d) Haji Qiran
4) Thawaf yang dilakukan ketika pertama kali e) Haji Ifrad
tiba di Makkah f) Haji Tamattu’
5) Melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu, g) Miqat Zamani
kemudian melaksanakan ibadah umrah h) Miqat Makani
i) Takhyir
j) Ta’dil
k) Ihram
45. Berikan alternatif solusi terhadap kasus-kasus hukum Qurban dan Aqiqah berikut
dari sudut pandang Fikih:
a. Anggota kelas yang berjumlah 40 siswa-siswi bermaksud untuk berqurban
kambing dan atau sapi. Bagaimana caranya agar seluruh anggota kelas dapat
berqurban tanpa terkecuali? Sajikan argumentasi Anda!
b. Pada momen Idul Qurban, Ahmad memiliki rezeki yang hanya cukup untuk
membeli seekor kambing; padahal orang tuanya dulu belum sempat
beraqiqah untuknya. Apakah Ahmad lebih baik menggunakan dananya untuk
berqurban ataukah untuk beraqiqah? Sajikan argumentasi Anda!
c. Di desa A, mayoritas warganya berstatus ekonomi menengah ke atas,
sedangkan di desa B, mayoritas warganya berstatus ekonomi menengah ke
bawah. Jika warga desa A berqurban 9 ekor sapi dan 42 ekor kambing, maka
bagaimana cara terbaik untuk membagi daging qurban tersebut? Sajikan
argumentasi Anda!

100