Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

FARMASI INDUSTRI

FORMULASI TABLET ASPIRIN SECARA CETAK LANGSUNG

Disusun Oleh,

Kelompok 1

Mutiarahmi 1808020246
Retno Deni Purwati 1808020251
Tasya Maharani D 1808020253

Kelas PSPA 30 B

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desain dan formulasi obat harus mempertimbangkan karakteristik fisika,
kimia, dan biologi semua zat aktif dan eksipien yang digunakan dalam pembuatan
suatu produk. Zat aktif dan eksipien yang digunakan harus kompatibel satu sama lain
untuk menghasilkan suatu sediaan yang stabil, menarik, mudah digunakan dan aman.
Tujuan Formulasi Sediaan Obat yaitu agar jumlah zat aktif yang benar
mencapai tempat yang benar dalam tubuh, dihantarkan dalam jangka waktu yang
memadai, sedangkan keutuhan kimia zat aktif terlindung sampai ketempat yang
dinginkan, formulasi tablet dapat digunakan untuk memodifikasi kerja zat aktif dalam
hal kecepatan atau keruangan, memberikan zuatu zat aktif yang dapat diterima oleh
pasien dan sesuai bagi dokter penulis resep dan bentuk sedian dapat dibuat dengan
mudah, ekonomis, dan reprodusibel.
Pada makalah ini, akan di jelaskan bagaimana cara memformulasi tablet mulai
dari preformulasi, formulasi, metode pembuatan dan evaluasi sediaan tablet.
BAB II
MATERI
A. Tinjauan pustaka
1. Pengertian Tablet
Menurut FI edisi IV Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan
obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram
pipih/gepeng, bundar, segitiga, lonjong, dan sebagainya.
2. Keuntungan dan kerugian
a. Keuntungan
1) Tablet dapat diproduksi dalam skala besar
2) Memiliki ketepatan dosis tiap tablet/tiap unit pemakaian
3) Lebih atau tidak mudah ditumbuhi mikroba
4) Pasien dapat dengan mudah membawa tablet kemanapun
b. Kerugian
1) Onsetnya lebih lambat dibandingkan dengan sediaan parenteral, larutan oral
dan kapsul
2) Jumlah zat aktif dalam bentuk cairan yang dapat dijerat/trup ke dalam tablet
sangat kecil
3) Kesulitan menelan kepada anak-anak, orang sakit, parah dan pasien lanjut
usia
4) Terdapat kendala dalam memformulasikan zat aktif yang sulit terbasahi dan
tidak larut, serta disolusinya rendah (Sulaiman, 2007).
3. Pengkajian Preformulasi
a. Uraian Fisik
Kebanyakan (sebagian besar) zat obat yang digunakan sekarang adalah bahan
padat. Kebanyakan obat tersebut merupakan senyawa kimia murni yang berbentuk
amorf atau kristal. Obat cairan digunakan dalam jumlah yang jauh lebih kecil, gas
bahkan lebih jarang lagi. Berikut contoh bahan farmasi resmi :
1) Zat Penyalut : digunakan untuk melapisi tablet yang telah berbentuk untuk tujuan
melindungi terhadap peruraian obat dengan oksigen atmosfer/ kelembapan untuk
memberikan pola penglepasan yang dikehendaki untuk zat obat setelah
pemberian, untuk membungkus rasa dan bau dari zat obat, atau untuk tujuan
estetik. Contohnya selulosa asetat, ftalat, sukrosa, pemoles sediaan farmasi.
2) Penghancur Tablet : digunakan dalam bentuk sediaan padat untuk mendorong
hancurnya massa padat menjadi partikel-partikel yang lebih kecil yang mudah
terdispersi atau melarut. Contohnya tepung jagung, natrium alginat.
3) Pelincir Tablet : zat yang digunakan dalam formulasi tablet dan kapsul untuk
memperbaiki sifat aliran dari campuran serbuk. Contohnya silika koloid, tepung
jagung, talk.
4) Pelumas Tablet : zat yang digunakan dalam formulasi tablet untuk mengurangi
gesekan selama kompresi tablet. Contohnya kalsium stearat, magnesium stearat,
asam stearat
5) Zat Pengkilap : digunakan untuk mengkilapkan tablet salut sehingga menarik.
Contohnya malam carnauba, malam putih.
b. Pengujian Mikroskopik
Pengujian mikroskopik dari zat murni (bahan obat) merupakan suatu tahap
penting dalam kerja (penelitian) preformulasi. Ia memberikan indikasi indikasi
(petunjuk) ukuran partikel dari zat murni seperti juga struktur kristal.
Fotomikrograf dari lot-lot batch awal dan berikutnya dari zat murni dapat
memberikan informasi penting jika masalah timbul dalam proses formulasi,
diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam karakteristik partikel atau kristal
dari obat tersebut.
c. Ukuran Partikel
Sifat-sifat fisika dan kimia tertentu dari zat obat dipengaruhi oleh distribusi
ukuran partikel, termasuk laju disolusi obat, bioavaibilitas, keseragaman isi, rasa,
texture, warna dan kestabilan. Tambahan pula, sifat-sifat seperti karakteristik
aliran dan laju sedimentasi, di antara lainnya juga merupakan faktor-faktor
penting yang berhubungan dengan ukuran partikel adalah penting untuk
memantapkan sedini mungkin bagaimana ukuran partikel dari zat murni tersebut
yang dapat mempengaruhi formulasi dan kemanjuran (efikasi) produk. Khususnya
yang menarik adalah efek ukuran partikel terhadap absorpsi obat. Ukuran partikel
terbukti secara bermakna mempengaruhi profil absorpsi oral dari obat-obat
tertentu seperti spironolakton, penisilin, dan lainnya.
d. Kelarutan
Suatu fisika-kimia yang penting dari suatu zat obat adalah kelarutan, terutama
kelarutan sistem dalam air. Suatu obat harus mempunyai kelarutan dalam air agar
menuju secara terapi. Agar suatu obat masuk ke sistem sirkulasi dan menghasilkan
suatu efek terapeutik, ia pertama-tama harus berada dalam larutan. Senyawa-
senyawa yang relatif tidak larut seringkali menunjukkan absorpsi yang tidak
sempurna atau tidak menentu. Jika kelarutan dari zat obat kurang dari yang
diinginkan, pertimbangan harus diberikan untuk memperbaiki kelarutannya.
Metode untuk membantu ini tergantung dari sifat kimia dari obat tersebut dan tipe
produk obat di bawah pertimbangan. Sebagai contoh, jika zat obat adalah asam
atau basa, kelarutan dapat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam pH.
Tetapi, untuk banyak zat penyesuaian pH bukan merupakan suatu cara efektif
dalam memperbaiki kelarutan. Obat asam lemah atau basa lemah mungkin
membutuhkan pH yang ekstrrem yang diterima di luar batas-batas fisiologi atau
mungkin menyebabkan masalah-masalah kestabilan dengan bahan-bahan
formulasi. Penyesuaian pH biasanya mempunyai efek kecil terhadap kelarutan
nonelektrolit. Dalam banyak hal, dikehendaki untuk menggunakan kosolven atau
teknik-teknik lain seperti kompleksasi, mikroniasi, atau dispersi padatan untuk
memperbaiki kelarutan dalam air.
Kelarutan obat biasanya ditentukan dengan metode kelarutan kesetimbangan,
dengan mana kelebihan obat ditempatkan dalam suatu pelarut dan diaduk pada
suatu temperatur konstan selama periode waktu yang diperpanjang sampai
kesetimbangan diperoleh. Analisis kimia dari isi obat dalam larutan ditampilkan
untuk menentukan derajat kelarutan.
e. Disolusi
Perbedaan aktivitas biologis dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju
di mana obat menjadi tersedia untuk organisme tersebut. Dalam banyak hal, laju
disolusi, atau waktu yang diperlukan bagi obat untuk melarutkan dalam cairan
pada tempat obsorpsi, merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses
absorpsi. Ini benar untuk obat-obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padat
seperti tablet, kapsul atau suspensi, seperti juga obat-obat yang diberikan secara
intramuskular dalam bentuk pelet atau suspensi. Bila laju disolusi merupakan
tahap yang menentukan laju apa pun yang mempengaruhinya akan berpengaruh
pada absorpsi.
Laju disolusi obat dapat ditingkatkan dengan meningkatkan ukuran partikel
obat. Ia bisa juga ditingkatkan dengan meningkatkan kelarutannya dalam lapisan
difusi. Cara-cara yang paling efektif dalam memperoleh laju disolusi yang lebih
tinggi adalah menggunakan suatu garam yang larut dalam air dan zat induknya.
Walaupun garam yang larut dari suatu asam lemak akan secara berurutan
mengendap sebagai asam bebas dalam fase bulk dari suatu larutan asam, seoerti
cairan lambung, ia akan berlaku demikian dalam bentuk partikel-partikel kecil di
mana suatu suspensi dari zat tersebut ditambahkan ke sejumlah pelarut tertentu
tanpa pengontrolan luas permukaan yang tepat.
Metode permukaan konstan menggunakan suatu lempeng yang dikompresi
dengan luas yang diketahui. Metode ini mengeliminasi luas permukaan dan
muatan listrik permukaan sebagai variabel disolusi. Laju disolusi yang diperoleh
dengan metode dinamakan laju disolusi intrinsik, dan merupakan karakteristik dari
masing-masing senyawa padat dan suatu pelarut yang diketahui pada kondisi
eksperimen yang tetap (tertentu). Harga tersebut umumnya dinyatakan sebagai
milligram yang dilarutkan per menit sentimenter persegi (mg/menit cm2 ) telah
disarankan bahwa harga ini adalah berguna dalam menaksir masalah absorpsi
yang paling mungkin karena laju disolusi. Dalam disolusi partikel-partikel kecil
sejumlah sampel serbuk yang ditimbang ditambahkan ke medium disolusi dalam
suatu sistem pengadukan yang konstan. Metode ini seringkali digunakan untuk
mengkaji pengaruh ukuran partikel, luas permukaan, dan bahan-bahan penambah
ke zat aktif. Kadang-kadang dalam hubungan kebalikan dari ukuran partikel ke
disolusi dicatat karena ssifat-sifat permukaan dari obat tersebut. Dalam hal ini,
muatan permukaan dan/atau hasil-hasil penggumpalan dalam bentuk ukuran
partikel tereduksi dari obat tersebut memperlihatkan suatu luas permukaan efektif
yang lebih rendah terhadap pelarut karena pembasahan yang tidak sempurna atau
penggumpalan. Pengkajian awal harus meliputi efek bahan-bahan farmasetik
terhadap karakteristik-karakteristik disolusi dari zat obat.
f. Kestabilan
Salah satu aktivitas yang paling penting dalam kerja preformulasi adalah
evaluasi kestabilan fisika dan kimia dari zat obat murni adalah perlu bahwa
pengkajian awal ini dihubungkan dengan menggunakan sampel obat dengan
kemurnian yang diketahui. Adanya pengotoran dapat mengakibatkan kesimpulan
yang salah dalam evaluasi tersebut. Pengkajian kestabilan yang dihubungkan
dalam fase preformulasi termasuk kestabilan obat itu sendiri dalam keadaan padat,
kestabilan fase larutan, dan kestabilan dalam adanya zat penambah yang
diharapkan.
4. Metode Pembuatan
Metode pembuatan tablet dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Granulasi basah
Granulasi basah dilakukan dengan cara mencampurkan zat berkhasiat,
zat pengisi, dan zat penghancur sampai homogen, kemudian dibasahi dengan
bahan pengikat. Setelah itu diayak menjadi granul, dan dikeringkan dalam
lemari pengering pada suhu 40-50º C. Setelah kering, diayak untuk
mmeperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan dengan
bahan pelicin (Lubrikan) kemudian dicetak dengan mesin tablet.
Keuntungannya yaitu menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat
disimpan lebih lama dibandingkan dengan cara granulasi kering (Syamsuni,
2013).
b. Granulasi kering
Mencampurkan zat aktif, zat pengisi, zat penghancur, serta jika perlu
ditambahkan dengan zat pengikat dan pelicin hingga menjadi masa serbuk
yang homogen, lalu dikempa cetak tekanan tinggi, sehingga menjadi tablet
besar (slug) yang tidak berbentuk baik, kemudian digiling dan diayak hingga
diperoleh ukuran partikel yang diinginkan. Dan di kempa cetak lagi sesuai
dengan ukuran tablet yang diinginkan. Keuntungannya tidak diperlukan
panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering, penggunaan alatnya
sederhana. Kerugiannya tablet yang kurang tahan lama dibandingkan dengan
cara granulasi basah (Syamsuni, 2013).
c. Cetak atau kempa langsung
Metode kempa langsung, persyaratan bahan pengisi-bahan pengikat
kempa langsung yaitu memiliki kompaktibiltas yang tinggi, mampu sifat alir
yang baik, sifat pencampuran yang baik, kepekaan lubrikan yang rendah,
sifat stabilitas yang bai, bersifat inert, ketercampuran, tidak mempengaruhi
ketersediaan hayati, mempunyai efek pelepasan zat aktif, dapat dikerjakan
ulang tanpa kehilangan karakteristik, selalu tersedia dalam kontinu,
keefektifan biaya relatif (Siregar, 2010).
Keuntungan metode cetak yaitu dari segi kelebihan ekonomi, dalam
hal ini lebih hemat. Penghematan dapat terjadi yaitu pengurangan waktu,
proses yang dapat mengurangi biaya tenaga kerja, tahap manufaktur, dan
jenis peralatan yang lebih sedikit, memvalidasi proses lebih sedikit, dan
konsumsi energi lebih rendah. Pemrosesan tanpa memerlukan lembab dan
panas yang merupakan sifat melekat dari kebanyakan prosedur granulasi
basah. Optimasi desintegrasi tablet lebih mudah karena tiap partikel zat aktif
utama dibebaskan dari masa tablet dan tersedia untuk disolusi Metode
tercepat dan paling langsung memproduksi tablet. Menghasilkan produk
yang paling tersedia hayati.
Kerugian yang terdapat pada metode cetak langsung yaitu harus
mengerti teknologi, masalah ekonomi dan kebijakan dari industri farmasi.

B. Formulasi sediaan
1. Preformulasi
a. Aspirin (FI V hal 144-145)

Asam asetilsalisilat C9H8O4 BM 180,16


Asam asetilsalisilat mengandung tidak kurang dari 99,5 % dan idak lebih dari
100,5 % C9H8O4, dihitung terhadap zat yang dikeringkan. Tablet asam
asetilsalisilat mengandung asam salisilat, C9H8O4 tidak kurang dari 90% dan tidak
lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket (tablet yang berukuran lebih
besar dari 81 mg tidak mengandung pemanis atau pengaroma lain).
1) Pemerian hablur, umumnya seperti jarum atau lempengan bersusun atau
serbuk hablur, putih, tidak berbau atau berbau lemah. Stabil diudara
kering, di udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat
dan asam asetat.
2) Kelarutan sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut dalam
kloroform dan dalam eter, agak sukar larut dalam eter mutlak.
3) Suhu lebur 141-1440 C
4) Penyimpanan dalam wadah tertutup baik
5) Khasiat sebagai analgetikum; antipiretikum
6) Dosis maksimum sekali 325-500 mg, sehari 8 g
b. Laktosa (FI V hal 752)
Laktosa anhidrat C12H22O11 BM 342,30
Laktosa anhidrat terutama adalah beta laktosa atau campuran dari alfa dan beta
laktosa
1) Pemerian serbuk putih atau hampir putih
2) Kelarutan mudah larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol.
3) Stabilitas pada kondisi lembab dapat terjadi pertumbuhan kapang. Selama
disimpan, laktosa dapat berubah menjadi kecoklatan. Reaksi ini dipercepat
oleh panas dan kondisi lembab
4) Inkompatibilitas laktosa dapat berubah menjadi coklat jika bereaksi
dengan senyawa yang mengandung gugus amin primer
5) OTT asam amino, aminofilin, amfetamin, dan lisinopril
6) Kegunaan sebagai bahan pengisi pada tablet

c. Avicel PH 102 (HOPE 5th hal 132-135)


Avicel atau mikrokristalin selulosa C6H10O5
1) Pemerian serbuk kristalin, putih, tidak berbau, tidak berasa, tersusun atas
partikel berpori, higroskopis
2) Kelarutan sukar larut dalam NaOH 0,5% b/v, praktis tidak larut dalam air,
asam encer dan sebagian besar pelarut organic.
3) Stabilitas avicel stabil, meskipun higroskopis. Harus disimpan dalam
wadah tertutup baik pada tempat sejuk dan kering
4) Inkompatibilitas dengan agen pengoksidasi kuat
5) Kegunaan pengisi atau pengikat pada sediaan tablet, mempunyai
kegunaan sebagai desintegran
6) Konsentrasi untuk pengisi 20-50%, pengikat 10-20%, penghancur 5-15%

d. Asam stearate (FI III hal 57)


Asam stearate adalah campuran asam organic padat yang diperoleh dari lemak,
sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat dan asam heksadekanoat.
1) Pemerian zat padat keras mengkilat menunjukan susunan hablur, putih
atau kuning pucat, mirip lemak lilin
2) Kelarutan praktis tidka larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol
(95%) P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
3) Suhu lebur tidak kurang dari 54oC
4) Penyimpanan dalam wadah tertutup baik

e. Talcum (FI III hal 591)


Adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang mengandung sedikit
aluminium silikat
1) Pemerian serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu, berkilat,
mudah melekat pada kulit dan bebas butiran.
2) Kelarutan tidak larut dalam hampir semua pelarut
3) Penyimpanan dalam wadah tertutup baik
2. Zat Aktif
Aspirin adalah obat yang umum digunakan untuk mengatasi rasa sakit,
menurunkan demam, atau peradangan. Aspirin juga sering digunakan untuk
mengurangi risiko serangan jantung, stroke, dan angina, karena dapat menghambat
terjadinya penggumpalan darah. Aspirin untuk mengatasi nyeri dan demam, dosisnya
adalah 325-500 mg diberikan sebanyak 3 hingga 4 kali dalam sehariAspirin
merupakan obat antiplatelet yang paling banyak diteliti. Dengan dosis 75-150 mg per
hari mempunyai efektivitas sama dengan dosis yang lebih tinggi. Aspirin dosis rendah
bersifat protektif terhadap kejadian vaskuler oklusif, termasuk infark miokard akut
atau stroke iskemik, angina stabil atau tidak stabil. Aspirin dihidrolisis menjadi asam
salisilat dan asam asetat di dalam plasma, dengan waktu paruh 15-20 menit.

3. Eksipien
a. Bahan pengisi
Laktosa digunakan sebagai bahan pengisi. Laktosa menunjukan stabilitas yang
baik dalam kombinasinya dnegan hamper seluruh bahan obat dan dari sisi
ekonomi, laktosa relative murah.

b. Bahan pengikat kering


Avicel digunakan sebagai bahan pengikat kering dalam cetak langsung.
Penggunaan avicel PH 102 lebih baik karena memiliki ukuran partikel 100 mcm
yang lebih besar dibandingkan dengan avicel PH 101, sehingga sifat alir avicel PH
102 lebih baik dibandingkan dengan avicel PH 101. Selain itu, avicel PH 102
memiliki potensi disolusi yang baik dalam formulasi cetak langsung. Tetapi
kekurangannya, harga avicel relative mahal. Selain sebagai bahan pengikat, avicel
juga dapat berfungsi sebagai penghancur, karena bahan ini merupakan tipe ikatan
hydrogen dimana ikatan tersebut segera lepas oleh adanya air. Range avicel
sebagai bahan pengikat adalah 10%-20% sedangkan avicel sebagai penghancur
yang baik adalah pada konsentrasi minimum 10%. Dalam hal ini, maka
konsentrasi avicel yang digunakan dalam formulasi adalah 10%.

c. Lubrikan
Asam stearate merupakan lubrikan, yaitu eksipien yang berfungsi untuk
mengurangi gesekan antara permukaan tablet dengan dinding lubang kempa
selama proses pengempaan dan pengeluaran tablet dari lubang kempa. Asam
stearate digunakan sebagai alternative saat penggunaan magnesium stearate tidak
cocok jika digunakan dalam suatu formula. Pada formulasi tablet aspirin,
magnesium stearate dalam meningkatkan pH linkungan dan menciptakan suasana
basa sehingga mempercepat hidrolisis atau laju degradasi aspirin. Menurut Fouda
et al, magnesium stearate dapat digantikan dengan asam stearate karena dapat
melindungi aspirin dari degradasi tersebut. Konsentrasi asam stearate sebagai
lubrikan yaitu 1%-5%, dalam formulasi digunakan 1%, karena bahan pelican yang
digunakan dalam formulasi ini ada dua eksipien, maka diberikan asam stearate
dalam range konsentrasi terendah.

d. Glidan
Talcum merupakan glidan yang baik, karena dapat meningkatkan fluiditas
massa yang akan dikempa, sehingga massa tersebut dapat mengisi die dalam
jumlah yang seragam (Sulaiman, 2007). Jika jumlah dalam die seragam, maka
bobot akan seragam sehingga efek terapetik dapat tercapai. Talcum dipilih juga
karena dapat berfungsi sebagai anti adherent, yaitu mencegah penempelan tablet
pada punch atau pada dinding die. Konsentrasi talcum sebagai glidan yaitu pada
range 1%-5%. Pada formulasi ini diberikan talcum pada konsentrasi 1% yaitu
sama dengan konsentrasi asam stearate, harapannya agar bahan pelicin dalam
formulasi tidak terlalu banyak sehingga tidak menyulitkan saat pengempaan.

4. Metode pembuatan
Aspirin yang memiliki titik lebur 141oC – 143oC, dicetak menjadi tablet
dengan metode kempa langsung. Hal ini disebabkan karena Aspirin memiliki sifat
stabil dalam udara kering, tidak tahan panas, mudah terhidrolisis menjadi asam asetat
dan asam salisilat jika dalam keadaan lembab. Aspirin juga memiliki fluiditas dan
kompresibilitas yang baik (Wang, 2003).
Metode kempa langsung merupakan metode paling mudah, praktis dan cepat
pengerjaannya, tetapi kekurangannya adalah hanya dapat digunakan pada kondisi
dimana zat aktif maupun eksipiennya memiliki aliran yang bagus, serta zat aktif
tersebut tidak tahan terhadap pemanasan dan lembab. Metode kempa langsung
didefinisikan sebagai proses pembuatan tablet dengan langsung mengempa campuran
serbuk (zat aktif dan eksipien), dan tidak ada proses sebelumnya kecuali penimbangan
dan pencampuran. Material yang dapat dikempa langsung hanya material yang
mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang baik (Sulaiman, 2007).
a. Rancangan Formula
Bobot tablet 650 mg
R/ Aspirin 500 mg
Avicel 10%
As stearate 1%
Talcum 1%
Laktosa ad 650 mg

Perhitungan bahan
1. Aspirin =500 mg
2. Avicel = (10/100) x 650 mg = 65 mg
3. As stearate = (1/100) x 650 mg = 6,5 mg
4. Talcum = (1/100) x 650 mg = 6,5 mg
5. Laktosa = 650 – (500+65+6,5+6,5)
= 650 – (578)
= 72 mg
Penimbangan bahan
Jumlah tablet 200 tablet
1. Aspirin = 500 mg x 200 = 100.000 mg = 100 gram
2. Avicel = 65 mg x 200 = 13.000 mg = 13 gram
3. As stearate = 6,5 mg x 200 = 1300 mg = 1,3 gram
4. Talcum = 6,5 mg x 200 = 1300 mg = 1,3 gram
5. Laktosa = 72 mg x 200 = 14.400 mg = 14,4 gram

b. Cara pembuatan
Tablet Aspirin dibuat dengan metode kempa langsung, yaitu semua bahan
ditimbang terlebih dahulu, yaitu asetosal sebanyak 100 gram, avicel 13 gram, as
stearate dan talcum masing-masing 1,3 gram, dan laktosa 14,4 gram. Kemudian
Aspirin dicampur dengan Avicel PH 102 dan laktosa. Lalu talk dan magnesium
stearat ditambahkan dan dicampur sampai homogeny. Setelah itu massa tablet
dicetak. Setelah dicetak, lakukan evaluasi pada tablet.

C. Evaluasi Sediaan
1. Evaluasi Granul
Beberapa parameter uji sediaan granul diantaranya adalah granulometri, BJ, kadar
pemampatan, metode alir, kompresibilitas dan kelembaban.
a. Granulometri
Granulometri adalah analisis ukuran dan repartisi granul (penyebaran
ukuran-ukuran granul). Dalam melakukan analisis granulometri digunakan
susunan pengayak dengan berbagai ukuran. Mesh terbesar diletakkan paling
atas dan dibawahnya disusun pengayak dengan mesh yang makin kecil.
Tujuan granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari ukuran granul.
Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda. Granulometri berhubungan
dengan sifat aliran granul. Jika ukuran granul berdekatan, aliran akan lebih
baik. Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva distribusi normal.
b. Pengetapan
Pengetapan dilakukan dengan mengamati pengurangan volume granul
yang terjadi selama pengamatan. Alat yang digunakan disebut
volumenometer, yang terdiri dari sebuah gelas ukur yang diletakkan pada
suatu alas yang dapat bergerak naik turun secara mekanis dengan bantuan
motor penggerak. Granul dengan volume tertentu dimasukkan dengan hati-
hati ke dalam gelas ukur, lalu diletakkan diatas alat. Kemudian motor
dijalankan. Gelas ukur akan bergerak keatas dan kebawah dengan kecepatan
tertentu. Pengurangan granul akibat pengetapan dicatat dan hasilnya
dinyatakan dengan harga Tap T (%).
T (%) = { (Vo – Vt) / Vo } x 100 %
Keterangan : T (%) : Harga tap
Vo : Volume awal
Vt : Volume akhir
Semakin besar harga T(%) maka sifat alir semakin jelek. T(%) < 20%.
c. Metode corong
Mengukur kecepatan aliran 100 g granul menggunakan corong kaca
dengan dimensi sesuai. Metode corong dapat dilakukan dengan cara
menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan dengan
ketinggian tertentu. Awalnya granul ditimbang, berat granul dicatat sebagai
m. Lalu granul tersebut dialirkan melalui corong dan ditampung pada bagian
bawahnya. Waktu yang diperlukan granul untuk melewati corong dicatat
sebagai t.
d. Sudut diam
Sudut diam diartikan sebagai sudut yang terbentuk oleh setumpuk partikel
terhadap bidang datar pada kondisi stabil. Sudut diam dapat diukur dengan
mengamati tinggi kerucut yang terbentuk diatas alas dengan diameter
tertentu. Menggunakan corong yang dipasang pada statif yang diletakkan
dengan ketinggian tertentu. Kemudian granul dialirkan melalui corong dan
ditampung pada bagian bawahnya. Gundukan yang tertampung lalu diukur
tinggi (dicatat sebagai h) dan diameternya (dicatat sebagai d).
e. Bobot Jenis
1) Bobot jenis sejati
BJ sejati dapat dilakukan dengan menggunakan alat piknometer, yaitu
dengan cara ditimbang bobot piknometer kosong, masukka 1 gram
granul pada piknometer yang telah ditimbang tadi, kemudian masukkan
1 gram granul dan cairan pendispersi pada piknometer yang kedua, dan
berikutnya masukkan cairan pendispersi pada piknometer ketiga, catat
hasil yang diperoleh kedalam rumus sebagai berikut :
Bj = (B – a) x Bj cairan pendispersi
(B+d)–(a+c)
Keterangan :
a = Bobot piknometer kosong
B = Bobot piknometer 1 gram granul
c = Bobot piknometer 1 gram granul dan cairan pendispersi
d = Bobot piknometer cairan pendispersi.
2) Bobot jenis nyata
BJ nyata dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu gelas
ukur, dengan cara ditimbang bobot granul, misalnya 50 gram
dimasukkan kedalam gelas ukur. Kemudian dimasukkan kedalam rumus
sebagai berikut :
P = W/V
Keterangan :
W = Bobot granul setelah ditimbang
V = Volume granul tanpa pemampatan
3) Bobot jenis nyata setelah pemampatan
BJ mampat dapat dilakukan dengan alat gelas ukur, dengan cara
ditimbang bobot ganul yang akan dilakukan evaluasi, kemudian
dimasukkan kedalam gelas ukur, dan lihat volume granul setelah
dilakukan 500 kali katuk pada gelas ukur tersebut. Dengan rumus sebagai
berikut :
Pn = W/ Vn
Keterangan :
W = Bobot granul setelah ditimbang
Vn = Bobot granul setelah dilakukan pemampatan

2. Evaluasi Fisis Tablet


Prosedur ini dilakukan dalam IPC (In Process Control) pada pembuatan tablet.
IPC adalah pengujian yang dilakukan selama proses produksi dalam industri
farmasi. Pengujian yang dilakukan adalah:
a. Keseragaman ukuran (FI III)
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 kali
tebalnya tablet.
b. Keseragaman Bobot
Keseragaman bobot ditetapkan sebagai berikut (FI III):
1) Ditimbang 20 tablet dan dihitung bobot rata-ratanya
2) Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan
pada kolom “A” dan tidak boleh ada satu tablet pun yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom “B”.
3) Jika perlu dapat diulang dengan 10 tablet dan tidak boleh ada satu
tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata
yang ditetapkan dalam kolom “A” maupun kolom “B”.
Tablet 2.1: Syarat keseragaman bobot tablet
Penyimpangan bobot rata-rata dalam %
Bobot rata-rata tablet A B
< 25mg 15 30
26 - 150 mg 10 20
151 - 300 mg 7,5 15
>300 mg 5 10
4) Dapat pula dengan menimbang 20 tablet satu persatu pada neraca
analitik dan kemudian dihitung harga purata (X) dan keofisien
variasinya. CV yang baik adalah <5%.
CV = (SD/X) x 100 %
Keterangan CV : Koefisien variasi
SD : simpangan baku
X : harga purata
Tujuan uji keseragaman bobot yaitu untuk melihat keseragaman
zat aktif pada hasil CV dan dari keseragaman kolom A dan B.
keseragaman bobot ini harus terpenuhi parameternya karena
mempengaruhi kadar obat didalam nya dan juga efek terapinya.
c. Waktu Hancur dan Disolusi (FI III dan FI IV)

Gambar 1.1 : Desintegration Tester


Penetapan waktu hancur dengan cara masukkan 5 tablet (menurut FI
III) atau 6 tablet (menurut FI IV) ke dalam keranjang, turun-naikkan
keranjang secara teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika
tidak ada bagian tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen berasal
dari zat penyalut. Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk
menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak
bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan bersalut
selaput. Jika tablet tidak memenuhi syarat ini, ulangi pengujian
menggunakan tablet satu persatu, kemudian ulangi menggunakan 5 tablet
dengan cakram penuntun. Dengan pengujian ini tablet harus memenuhi
syarat diatas.
Waktu hancur penting dilakukan jika tablet diberikan melalui mulut,
kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan dan beberapa jenis
tablet lepas-lambat dan lepas-tunda. Tujuan uji waktu hancur ini yaitu untuk
melihat kecepatan obat atau tablet tersebut dapat larut didalam tubuh.
d. Kekerasan Tablet (FI III)

Gambar 1.2 : Hardness Tester


Pengukuran kekerasan tablet digunakan untuk mengetahu
kekerasannya, agar tablet tidak terlalu rapuh atau terlalu keras. Kekerasan
tablet ini erat hubungannya dengan ketebalan tablet, bobot tablet dan waktu
hancur tablet. Alat yang digunakan untuk pengukuran kekerasan tablet
adalah Hardness tester, caranya dengan meletakkan tablet secara vertical
pada atas alat, kemudian memutar skrup pada ujung bawah dan
menghentikan pemutaran pada saat tablet pecah. Parameternya adalah 4-8
kg. kekerasan tablet kurang dari 4 kg masih dapat diterima dengan syarat
kerapuhannya tidak melebihi batas yang ditetapkan.
Tujuan evaluasi kekerasan tablet adalah untuk mengetahui
kekompakan tablet pasca produksi, karena untuk dpat sampai ke tangan
pasien, obat harus menempuh jalur produksi. Kekerasan adalah parameter
yang menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik
selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian.

e. Kerapuhan Tablet (Friability)


Friability adalah persen bobot yang hilang setelah tablet diguncang.
Penentuan keregasan atau kerapuhan tablet dilakukan terutama pada waktu
tablet akan dilapis (coating). Alat yang digunakan disebut Friability tester.
Uji kerapuhan ini bertujuan untuk mengetahui daya ikat dalam bahan di
permukaan tablet. Hal ini juga sama dengan uji kekerasan bahwa uji
kerapuhan juga menggambarkan ketahanan pasca produksi.

Gambar 1.3 : Friability Tester


Cara kerjanya yaitu bersihkan 20 tablet dari debu dengan
menggunakan aspirator, kemudian ditimbang (W1 gram). Kemudian
masukkan tablet ke dalam alat. Putar alat tersebut selama 4 menit
(kecepatan 20 rpm). Keluarkan tablet, bersihkan dari debu, dan ditimbang
(W2 gram). Kerapuhan tablet yang didapat adalah (W1 - W2 / W1) x 100%.
Batas kerapuhan yang diperbolehkan maksimal 1%.
f. Uji disolusi
Uji disolusi menggunakan alat disolusi model USP apparatus 2 dengan
pengaduk dayung dengan cara sebagai berikut:
1) Tablet aspirin yang diformulasikan diukur dengan metode dayung
dalam disolusi aparat menggunakan 0,05 M larutan buffer asetat
500 mL (pH 4,5) pada 50 rpm, dipertahankan pada 37 ± 0,2 ° C.
2) Setelah 45 menit ambil 5 ml sampel di ukur absorbansi yang
diencerkan dengan tepat bagian dalam medium yang sama
ditentukan terhadap absorbansi persiapan standar di 265nm
menggunakan Spektrofotometer UV-VIS
3) Hasil C45 >80% dinyatakan baik
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

---------. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

---------. 2014. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Erum, Saima et al. 2011. Formulation Of Aspirin Tablets Using Fewer Excipients By Direct
Compression. Pakistan Journal of Pharmacology. Volume 28 (1): 31-46

Lachman, L H A Lieberman dan J L Kanig. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi
Ketiga. Jakarta: UI Press.
Leesawat, Phuriwat et al. 2004. Optimization of Direct Compression Aspirin Tablet Using
Statistical Mixture Design. CMU Journal. Volume 3 (2): 97-107
Li, Jinjiang and Wu, Youngmei. 2014. Lubricants in Pharmaceutical Solid Dosage Forms.
Lubricants. Volume 2 : 21-43
NR, Jadhav et al. 2013. Talc: A Versatile Pharmaceutical Excipient. Worls Journal Of
Pharmaceutical Sciences. Volume 2 (6): 4639-4660.
Okprastowo, Rizki. 2011. Optimasi Penggunaan Spray Dried Lactose Dan Avicel Ph 102
Sebagai Fillerbinders Tablet Aspirin. Pharmacy. Volume 8 (3): 42-54
Siregar, C.J.P., dan Wikarsa, S. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar
Praktis. Jakarta: EGC.
Sulaiman, N. Saifullah. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Yogyakarta : UGM Press

Syamsuni, 2013. Ilmu Resep. Jakarta : EGC

Wang X., Cui F., Yonezawa, Y., Sunada H. 2003. Preparation and Evaluation of
Combination Tablet Containing Incompatible Active Ingredients. Chem. Pharm. Bull.
51 (7). China: Shenyang Pharmaceutical University.