Anda di halaman 1dari 8

Budaya Akademik, Etos Kerja, Sikap Terbuka Serta Adil

Dalam Kalangan Mahasiswa


I Putu Andreas Adi Astawa, Ni Ketut Dian Pratiwi, Ni Made Yuliana Pratiwi
e-mail : putu.andreas15@yahoo.co.id
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Triatma Mulya

ABSTRAK
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan
politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dalam
dunia pendidikan khususnya Perguruan Tinggi, Budaya Akademik yang baik
amatlah diperlukan, etos kerja yang tinggi juga sangat dibutuhkan untuk
menjalankan pekerjaan sehari-hari. Sikap Terbuka menunjuk pada tindakan yang
memungkinkan suatu persoalan menjadi jelas, mudah dipahami dan tidak
disangsikan lagi kebenarannya dan orang yang bersikap Adil selalu bersikap
imparsial, suatu sikap yang tidak memihak terkecuali kepada kebenaran.

Kata Kunci : Budaya, Akademik, Budaya akademik, Etos Kerja, Sikap Terbuka,
Adil.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Manusia diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup
berdiri sendiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya. Disadari atau tidak, setiap
manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya untuk
memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan
hidupnya). Akal budi merupakan kelebihan yang dimiliki oleh semua manusia.
Akal juga adalah kemampuan dari manusia guna untuk berfikir sebagai kodrat.
Budi artinya akal juga atau suatu bagian dari kata hati manusia yang berupa
panduan akal serta perasaan yang mampu membedakan baik atau buruk. Pada
akhirnya terdapat suatu konsepsi tentang kebudayaan manusia yang menganalisis
masalah-masalah hidup sosial dan kebudayaan manusia. Konsepsi tersebut ternyata
memberikan gambaran bahwa hanya manusia yang mampu berkebudayaan,
sedangkan pada hewan tidak memiliki kemampuan tersebut.
Dunia perguruan tinggi yang dikenal sebagai komunitas yang senantiasa
menjunjung tinggi obyektifitas, kebenaran ilmiah dan uketerbukaan mempunyai
tanggung jawab dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai jawaban dari
setiap permasalahan yang muncul di masyarakat dengan metode yang modern. Ilmu
pengatahun sendiri merupakan pengetahuan yang sistematik, rasional, empiris,
umum dan komulatif yang dihasilkan oleh akal pikiran manusia yang dibatasi oleh
ruang dan waktu. Tugas ini menjadi penting karena termasuk bagian dari
pelaksanaan “Tri Dharma” perguruan tinggi.
Untuk dapat mewujudkan “Tri Dharma” dalam perguruan tinggi sangatlah
sulit dan kemungkinan untuk gagal pun sangat besar, dan untuk mewujudkan ke
tiga fungsi itu berjalan dengan baik dibutuhkan etos kerja yang sangat kuat untuk
mencapai keberhasilan. Maka etos kerja tidak dapat diabaikan, etos kerja
merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan mahasiswa
dalam merintis karir di kehidupan bermasyarakat. Namun Etos kerja seseorang erat
kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan juga karakternya. Untuk itu mahasiswa
harus memiliki jati diri yang mampu merumuskan siapa dia. Selanjutnya jati diri
menetapkan respon, atau reaksi terhadap tuntutan external. Respon internal
terhadap tuntutan external dunia kerja akan menetapkan etos kerja seseorang.
Mahasiswa dalam perguruan tinggi terdiri dari kumpulan orang yang
memiliki tujuan, kebutuhan, dan kepentingan yang bermacam-macam. Dalam
perkuliahan, kita berinteraksi dengan orang yang berbeda latar belakang dan
karakter pribadi masing-masing. Sikap terbuka diperlukan dalam kehidupan
perguruan tinggi untuk menghindari konflik antar kepentingan. Keterbukaan
dijadikan landasan atau dasar untuk melakukan interaksi dan komunikasi dalam
pergaulan di dalam perguruan tinggi. Sikap keterbukaan dapat mewujudkan sikap
yang saling memahami, menghormati, menghargai dan bekerja sama antar
mahasiswa. Sikap adil juga sangat penting kaitannya dengan kehidupan dalam
perguruan tinggi, contoh sederhana saja pada saat mengerjakan tugas kelompok,
sikap adil atau keadilan sangatlah diperlukan dalam mengerjakan tugas agar tidak
terjadi berat sebelah atau memberatkan salah satu pihak.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka penulis merumuskan masalah dalam
pembahasan ini sebagai berikut : yang Pertama, Pemahaman Mengenai Budaya
Akademik, Etos Kerja, Sikap Terbuka, Serta Adil.

Metode Kajian
Metode kajian yang digunakan penulis dengan library research, yaitu
dengan mencari data – data via internet dan buku-buku terkait dengan Budaya
Akademik, Etos Kerja Sikap Terbuka dan Adil.

PEMBAHASAN
Budaya
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas: “Budaya atau
kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi, dan akal manusia.Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa
diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama
oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana
juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu
dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial
manusia
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi
dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu
perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung
pandangan atas keistimewaannya sendiri.”i
Konsep Fundamental dalam ilmu sosial dan filsafat, budaya mengumpulkan
semua produksi manusia dari kelompok tertentu atau masyarakat pada saat tertentu.
Apa yang dikenal sebagai budaya termasuk bahasa tertentu, seni dan sastra, sejarah,
tradisi, keyakinan agama, media, dan terdiri dari cara orang hidup. Biasanya,
kelompok mengenali diri mereka sendiri dan mengidentifikasi pada budaya mereka
sendiri. Namun, budaya berbeda dari peradaban, misalnya: peradaban Yunani Kuno
tidak ada lagi karena semua orang sudah mati, tapi budaya mereka tetap dapat
diakses karena monumen mereka, seni, dan pengetahuan para filsuf dan penyair
mereka melalui buku-buku sejarah.
Sebuah budaya sering khusus untuk sebuah negara, bangsa, atau kelompok;
kebudayaan merupakan bagian dari identitas kelompok. Budaya tidak terbatas pada
suatu negara. Memahami budaya begitu penting untuk memahami bagaimana
individu mengandalkan kelompok atau masyarakat mereka.
“Perbedaan antara budaya dan ideologi yang mendasar dalam filsafat dan
ilmu-ilmu sosial. Untuk meringkas, dapat dikatakan bahwa ideologi adalah apa
yang biasanya Anda pikirkan dan percaya, sedangkan budaya adalah apa yang
biasanya Anda lakukan. Dengan kata lain, ideologi adalah seperangkat ide yang
koheren yang terkait bersama-sama, sedangkan budaya adalah seperangkat praktek
yang berkaitan dengan kelompok. Ada banyak ideologi yang berlawanan terkait
dengan perubahan iklim dan pemanasan global: mereka yang setuju dengan
gagasan perubahan iklim dan mereka yang menolak gagasan tentang pemanasan
global. Keyakinan ini diatur dalam ideologi yang memandu sikap kita, perilaku, dan
tindakan” (Laberge, Y. (2008)).ii
Budaya itu sendiri sering berarti hal yang berbeda untuk orang yang
berbeda, kata budaya juga sering berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda
pula. “Dalam antropologi, budaya sering dimaksudkan sebagai pola-pola perilaku
dan berpikir bahwa orang yang hidup dalam kelompok sosial belajar, membuat dan
berbagi. Budaya juga mendefinisikan kelompok atau masyarakat. Sekelompok
orang yang berbagi budaya umum (kepercayaan umum, aturan perilaku, bahasa,
beberapa bentuk organisasi sosial) merupakan suatu masyarakat. Dua aspek
hubungan antara budaya dan etika yang baik etika relatif terhadap waktu dan ruang
dan pertanyaan etika dan kebijakan apakah 'budaya' seharusnya dilindungi"
(Boggio, C. A. (2006)).iii

Budaya Akademik
“Cara hidup masyarakat ilmiah yang majemuk, multikultural yang bernaung dalam
sebuah institusi yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kebenaran ilmiah dan
objektifitas”.iv
Pengembangan budaya akademik menjadi titik temu antara upaya
pembinaan karakter dengan peningkatan kualitas dari hasil dari proses pendidikan.
Karakter merupakan bagian integral dari budaya akademik, mengingat karakter
diperlukan dan berpotensi dikembangkan dari setiap aktivitas akademik terhadap
individu. Karakter memiliki korelasi dengan latar belakang (background) dan
sosiokultural yang membentuk sebuah tindakan secara konseptual/kebiasaan
(Habitus).
“Budaya Akademik (Academic Culture) dapat dipahami sebagai suatu
totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai dan
diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di lembaga pendidikan tinggi dan
lembaga penelitian”. (Seperti Aku Seperti Jiwaku, Selasa, 6 Maret 2012).v
Kehidupan dan kegiatan akademik diharapkan selalu berkembang, bergerak maju
bersama dinamika perubahan dan pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman.
Perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan dan kegiatan akademik menuju
kondisi yang ideal senantiasa menjadi harapan dan dambaan setiap insan yang
mengabdikan dan mengaktualisasikan diri melalui dunia pendidikan tinggi dan
penelitian, terutama mereka yang memegang teguh idealisme dan gagasan tentang
kemajuan. Perubahan dan pembaharuan ini hanya dapat terjadi apabila digerakkan
dan didukung oleh pihak-pihak yang saling terkait, memiliki komitmen dan rasa
tanggung-jawab yang tinggi terhadap perkembangan dan kemajuan akan budaya
akademik.
Budaya akademik sebenarnya adalah budaya universal. Artinya, dimiliki
oleh setiap orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik. Membangun
budaya akademik bukan perkara yang mudah. Diperlukan upaya sosialisasi
terhadap kegiatan akademik, sehingga terjadi kebiasaan di kalangan akademisi
untuk melakukan norma-norma kegiatan akademik tersebut.( Pintar Sejenak Just
another WordPress.com)vi
Pemilikan budaya akademik ini seharusnya menjadi idola setiap insan
akademisi perguruaan tinggi, yaitu dosen dan mahasiswa. Derajat akademik
tertinggi bagi seorang dosen adalah dicapainya kemampuan akademik pada tingkat
guru besar (profesor). Sedangkan bagi mahasiswa adalah apabila ia mampu
mencapai prestasi akademik yang setinggi-tingginya.
Khusus bagi mahasiswa, faktor-faktor yang dapat menghasilkan prestasi
akademik tersebut ialah terprogramnya kegiatan belajar, kiat untuk berburu
referensi dari berbagai sumber, aktual dan mutakhir, diskusi substansial akademik,
dan sebagainya. Dengan melakukan aktivitas seperti itu diharapkan dapat
dikembangkan budaya mutu (quality culture) yang secara bertahap dapat menjadi
kebiasaan dalam perilaku tenaga akademik dan mahasiswa dalam proses
pendidikan di perguruaan tinggi.
Oleh karena itu, tanpa melakukan kegiatan-kegiatan akademik, mustahil
seorang akademisi akan memperoleh nilai-nilai normatif akademik. Bisa saja ia
mampu berbicara tentang norma dan nilai-nilai akademik tersebut didepan forum
namun tanpa proses belajar dan latihan, norma-norma tersebut tidak akan pernah
terwujud dalam praktik kehidupannya. Bahkan sebaliknya, ia tidak segan-segan
melakukan pelanggaran terhadap peraturan tertentu, baik disadari ataupun tidak.
“Kiranya, dengan mudah disadari bahwa perguruan tinggi berperan dalam
mewujudkan upaya dan pencapaian budaya akademik tersebut. Perguruan tinggi
merupakan wadah pembinaan intelektualitas dan moralitas yang mendasari
kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi dan budaya dalam pengertian
luas disamping dirinya sendirilah yang berperan untuk perubahan tersebut” (Seperti
Aku Seperti Jiwaku, Selasa, 6 Maret 2012).vii
Dilihat secara logika, bagaimana bisa mengharapkan adanya output yang
berkompeten dan berkarakter jika di lingkungan pendidikan tersebut seolah tidak
pernah menanamkan ilmu dasar untuk itu. Padahal, jika budaya akademik kampus
yang positif dan mampu diterapkan dengan maksimal, akan mampu mendorong
tumbuhnya iklim sosial dan interaksi yang sehat antar civitas akademika. Serta
mampu menggali potensi diri para mahasiswa, dan mampu untuk membentuk
mereka tidak hanya dari oleh pikir, tapi juga dari olah hati, olah raga, dan olah
rasa/karsa.
“Nilai-nilai utama karakter inilah yang sebenarnya menjadi penyokong
utama dalam proses terciptanya budaya akademik. Budaya akademik sendiri adalah
budaya universal yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan
dirinya dalam aktivitas akademik. Budaya ini seharusnya melekat dalam diri semua
insan akademisi perguruaan tinggi, baik itu dosen ataupun mahasiswa. Karena, pada
dasarnya budaya akademik juga merujuk pada cara hidup masyarakat ilmiah yang
majemuk dan multikultural yang bernaung dalam sebuah institusi yang
mendasarkan diri pada nilai-nilai kebenaran ilmiah dan objektifitas.
Ciri-ciriperkembangan budaya akademik mahasiswa, dapat dilihat dari
berkembangnya; (1) Kebiasaan membaca dan penambahan ilmu dan wawasan, (2)
Kebiasaan menulis, (3) Diskusi ilmiah, (4) Optimalisasi organisasi kemahasiswaan,
(5) Proses belajar-mengajar
Norma-norma akademik merupakan hasil dari proses belajar dan latihan.Hal
tersebut dapat dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari
lingkungan akademik melalui rekayasa faktor lingkungan. Diantaranya, dapat
dilakukan melalui strategi yang meliputi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3)
pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4) penguatan” (Zuchdi, 2010:
29).
“Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan budaya akademik
memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses
pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang
dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai
luhur yang diterapkan oleh Perguruan Tinggi” (Masruroh, A., & Mudzakkir, M.
(2013)).viii

Etos Kerja
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas: “Etos berasal
dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak,
karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu,
tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat”. Gagasan etos kerja mengacu pada
karakter pribadi yang merupakan atribut mendasar untuk sikap individu terhadap
pekerjaan. Dua komponen utama dari konsep ini adalah kualitas internal yang
dimiliki oleh individu dan kualitas eksternal yang diwujudkan dalam perilaku kerja.
“Kerja, setiap kegiatan yang menghasilkan jasa dan produk dari nilai kepada orang
lain. Juga tidak semua pekerjaan yang dibayar, seperti, misalnya, penitipan anak di
rumah. Namun pekerjaan sebagai status dan bekerja sebagai kegiatan yang sering
bingung.” (Raymond, D. C. (2001))
Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang
menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. kebiasaan kerja,
sikap, nilai, dan etika semua saling terkait. Etos kerja pada individu
mengungkapkan bagaimana individu memahami nilai kerja, serta tanggung jawab
pribadi untuk melakukan tugas – tugas dengan cara yang dapat diterima dan
bertanggung jawab.
“Menurut Daniel Goleman yang di kutip oleh Anthony, tahun 2008 dalam
bukunya yang berjudul Emotional Quality Management kemampuan dalam
mengendalikan emosi mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kesuksesan
dan Emosional Quality berpengaruh besar terhadap keberhasilan. Demikian pula
akan bisa terlihat pada seorang perawat magang yang mempunyai kecerdasan emosi
yang baik, akan selalu bersemangat dalam menjalankan kegiatan kerja yang telah
diputuskan menjadi bagian dalam hidupnya. Istilah semangat bekerja yang
demikian di sebut Etos Kerja” (Cahaya, 2008) ix
“Menurut Yousef, 2000 yang di kutip oleh Istijanto, M.M. M.Com. Etos
Kerja merupakan konsep yang memandang pengabdian atau dedikasi terhadap
pekerjaan sebagai nilai yang sangat berharga. Karyawan yang memiliki etos kerja
tinggi tercermin dalam perilakunya seperti suka bekerja keras, bersikap adil, tidak
membuang – buang waktu selama jam kerja, keinginan memberikan lebih dari
sekedar yang disyaratkan, mau bekerja sama, hormat terhadap rekan kerja, dan
sebagainya” (Istijanto, M.M. M.Com. ,2002)x
Seperti halnya dengan kecerdasan emosional yang tinggi, tentunya etos
kerja yang tinggi juga sangat dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari.
“Menurut Jansen Sinamo, 2005 untuk meningkatkan etos kerja perlu
memperhatikan delapan paradigma kerja professional, yaitu : kerja adalah rahmat,
kerja adalah amanah, kerja adalah panggilan, kerja adalah aktualisasi, kerja adalah
ibadah, kerja adalah seni, kerja adalah kehormatan, dan kerja adalah pelayanan”.

Sikap Terbuka
“Pengertian Keterbukaan : Istilah keterbukaan atau transparansi berasal dari
kata dasar terbuka atau transparan yang berarti suatu keadaan yang tidak tertutupi,
tidak ditutupi, keadaan yang tidak ada rahasia sehingga semua orang memiliki hak
untuk mengetahui. Istilah transparansi berasal dari kata bahasa Inggris transparent
yang berarti jernih, tumbuh cahaya, nyata, jelas, mudah dipahami, tidak ada
kekeliruan, tidak ada kesangsian atau keragu-raguan” ( Agus Hariyanto, Materi
BAB III Keterbukaan dan Keadilan )xi
“Sikap terbuka adalah sikap untuk bersedia memberitahukan dan sikap
untuk bersedia menerima pengetahuan atau informasi dari pihak lain. Keterbukaan
atau transparansi menunjuk pada tindakan yang memungkinkan suatu persoalan
menjadi jelas, mudah dipahami dan tidak disangsikan lagi kebenarannya”(
Pengertian dan Prinsip Keterbukaan, 8 Agustus 2015 ).xii
Terbuka merupakan perwujudan dari sikap jujur, rendah hati, adil, serta mau
menerima pendapat atau masukan dari orang lain dengan senang hati. Orang yang
bersikap terbuka menunjukkan kebesaran dan keramahan hati. Ia dengan lapang
dada akan menerima masukan dari orang lain, termasuk juga ketidaksenangan
ataupun keraguan terhadap dirinya oleh orang lain. “Untuk mengenali kekurangan
diri kita, butuh perhatian dari orang lain. Mereka bisa teman kita, saudara, bahkan
orang yang belum kita kenal” (IPM SMK Muhammadiyah 4 Sragen).xiii
Terbuka menerima pendapat yang benar artinya bahwa kita tidak boleh
mengklaim diri kita yang paling benar atau hebat. Kalau ada pendapat lain yang
lebih benar atau tepat, hendaknya kita harus menerimanya.
Adil
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, “Adil berasal dari bahasa Arab yang
berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminologis adil
bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan
demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik
hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat)
yang berlaku”.xiv
Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap
yang tidak memihak terkecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena
pertemanan, persamaan suku, bangsa ataupun agama.
Penilaian, kesaksian dan keputusan hukum hendaknya berdasar pada
kebenaran walaupun kepada diri sendiri, saat di mana berperilaku adil terasa sangat
berat dan sulit.
Keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang suku,
agama, status jabatan ataupun strata sosial. Di bidang yang selain persoalan hukum,
keadilan bermakna bahwa seseorang harus dapat membuat penilaian obyektif dan
kritis kepada siapapun dan apapun. Mengakui adanya kebenaran, kebaikan dan hal-
hal positif yang dimiliki kalangan lain yang berbeda agama, suku dan bangsa dan
dengan lapang dada, membuka diri untuk belajar serta dengan bijaksana
memandang kelemahan dan sisi-sisi negatif mereka dengan tidak membandingkan
dengan diri sendiri atau kalangan lain.
Perilaku adil, sebagaimana disinggung di muka, merupakan salah satu tiket
untuk mendapat kepercayaan orang lain, untuk mendapatkan reputasi yang baik.
Karena dengan reputasi yang baik harusnya kita akan memiliki otoritas untuk
berbagi, menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dengan orang lain.
Tanpa itu, kebaikan dan apapun yang kita bagikan dan sampaikan hanya akan
masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. Karena, perilaku adil itu
identik dengan konsistensi terhadap perilaku dan perkataan.
Adil dapat diartikan menempatkan berbagai kekuatan batiniah secara tertib
dan seimbang (al-Hufiy, 2000 :26). Untuk mewujudkan sikap adil harus dilatih
terus menerus secara berkesinambungan, yang bererti pembiasaan berlaku adil.
“Mulai sekarang, mulai yang sederhana, dan mulai dari diri sendiri”,Inilah
komitmen untuk mulai pembiasaan berlaku adil. Jika langkah awal ini dapat dilalui
dengan baik, tentu mudah menjalar kepada orang lain, apalagi kalau yang memulai
komitmen itu adalah orang yang memiliki pengaruh di masyarakat di mana ia
berada karena salah satu naluri manusia adalah meniru idola. Jika idola tidak
bersikap adil, tentu para fansnya akan meniru tidak adil pula.xv

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan kami tentang Budaya Akademik tersebut, maka
kami dapat menarik kesimpulkan bahwa : Pertama, Budaya merupakan suatu cara
hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh individu atau lebih, dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,
bangunan, dan karya seni. Kedua, Budaya Akademik tersebut dapat dipahami
sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati,
dimaknai dan diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di lembaga pendidikan
tinggi dan lembaga penelitian.
Ketiga, Gagasan etos kerja mengacu pada karakter pribadi yang merupakan atribut
mendasar untuk sikap individu terhadap pekerjaan. Keempat, Sikap terbuka adalah
sikap untuk bersedia memberitahukan dan sikap untuk bersedia menerima
pengetahuan atau informasi dari pihak lain. Keterbukaan atau transparansi
menunjuk pada tindakan yang memungkinkan suatu persoalan menjadi jelas,
mudah dipahami dan tidak disangsikan lagi kebenarannya. Dan yang terakhir, Adil
berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan
tulus. Adil juga memiliki makna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi dan
ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan
standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum
sosial (hukum adat) yang berlaku
Saran
Jangan lah karena perbedaan budaya tersebut dijadikan sebagai tolak ukur
di dalam menjalin hubungan pertemanan yang berbeda kebudayaannya. Sebelum
mengenal sesorang terlebih dahulu, maka kita wajib memahami makna dari
perbedaan budaya itu sendiri.
DAFTAR PUSAKA
i
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
ii
Laberge, Y. (2008). Culture. In S. G. Philander, Encyclopedia of global warming
and climate change. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
iii
Boggio, C. A. (2006). Culture. In M. Cohen, The essentials of philosophy and
ethics. London, UK: Routledge.
iv
https://nofiputriaw.wordpress.com/2012/12/10/makalah-kebudayaan/
v
http://richoareviant.blogspot.co.id/2012/03/budaya-akademik.html
vi
https://jukurenshita.wordpress.com/2010/10/25/budaya-akademik-dan-etos-
kerja-dalam-islam/
vii
http://richoareviant.blogspot.co.id/2012/03/budaya-akademik.html
viii
Masruroh, A., & Mudzakkir, M. (2013). Praktik Budaya Akademik Mahasiswa.
Jurnal Paradigma, 1(2), 2.
ix
Astarani, K. (2012). Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Etos Kerja
Perawat Magang di Rumah Sakit Baptis Kediri. Jurnal Penelitian STIKES Kediri,
4(1), 17-23.
x
Raymond, D. C. (2001). Work. In L. C. Becker, & C. B. Becker (Eds.),
Encyclopedia of ethics. London, UK: Routledge.
xi
http://agusharriyanto.blogspot.co.id/2013/04/materi-bab-iii-keterbukaan-dan-
keadilan.html
xii
http://pkn-ips.blogspot.co.id/2015/08/pengertian-dan-prinsip-keterbukaan.html
xiii

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=708484219247804&id=66
9739213122305
xiv
https://id.wikipedia.org/wiki/Adil
xv
http://alifviarahma.blogspot.co.id/2015/06/budaya-akademik-etos-kerja-
sikap.html