Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR REKAYASA PROSES

Sabun Cuci Piring Cair

Oleh :

Arya Nugraha Bimanto (04)

Dela Adelia (07)

Prayoga Adi Permana (17)

Rizky Kartika S (20)

Tsamara Aulia A (24)

2A-D4/Teknologi Kimia Industri

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2018
Judul : Pembuatan Sabun Cuci Piring Cair.

Tujuan Praktikum : Untuk mengetahui cara pembuatan sabun cuci piring cair.

Dasar Teori :

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan
membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang
tapi sekarang penggunaan sabun cair telah meluas, terutama pada sarana-sarana
publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif
mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara
berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu
mencuci atau membersihkan.
Sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak
yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali
(seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu
proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa,
menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang
digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari
arang kayu. Sabun dapat dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak
zaitun.
Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah
adalah reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan
sabun dan gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut :
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH → C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR
Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai
produk utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk
samping juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari
asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah
larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan
yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil,
melainkan larut dalam bentuk ion.
Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun
sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan
campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.Bahan pembuatan sabun
terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam
pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan
pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk
sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum
dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium
karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna.
Fungsi utama dari sabun sebagai zat pencuci adalah sifat surfaktan yang
terkandung di dalamnya. Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus
polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang
suka minyak (hidrofobik) sekaligus, sehingga dapat mempersatukan campuran
yang terdiri dari minyak dan air.

Alat dan Bahan :

1. Alat :
- Pengaduk kayu/stainless steel
- Wadah plastik/beaker glass
- Magnetic stirer
2. Bahan :
- Air bersih
- Soda Ash
- Tepol
- Garam NaCl
- Pewangi/Parfume
- Pewarna
Skema Kerja :

Masukkan tepol
Tambahka soda Masukkan larutan
Timban baha sesuai ke dalam wadah,
ash sedikit demi garam NaCl
ketentuan variabel tambahkan air
sedikit, aduk sedikit demi
kelompok dan aduk hinga
hingga rata sedikit, aduk rata
rata

Data Pengamatan :

MINGGU PERTAMA :

NO BAHAN SATUAN JUMLAH

I II III

1 AIR MINERAL Ml 25 25 25

2 SODA ASH Gr 100 100 100

3 TEPOL Gr 10 10 10

4 NaCl Gr 5 7 5

5 PEWARNA Secukupnya

Keterangan :

Percobaan (I) : larutan menggumpal, tidak homogen karena bahantidak silarutkan


terlebih dahulu.

Percobaan (II) : larutan menggumpal, tidak berbusa karena tidak homogen.

Tidak dilarutkan terlebih dahulu dan pengadukan terlalu kencang.

Percobaan (III) : Berhasil, karena bahan dilarutkan terlebih dahulu sehingga


ketika pengadukan

Semua bahan tercampur sempurna (homogen).

MINGGU KE DUA :
NO BAHAN SATUAN JUMLAH

I II III

1 AIR MINERAL Ml 100 100 50

2 SODA ASH Gr 10 10 3

3 TEPOL Gr 25 32 10

4 NaCl Gr 7 5 10

5 PEWARNA Secukupnya

Keterangan :

Percobaan (I) : Larutan encer, sedikit berbusa, dan PH 9

Percobaan (II) : Larutan encer, sedikit berbusa, PH 9

Percobaan (III) : Larutan sedikit kental, berbusa, PH 9

Data kelompok Putri dita :

Pengamatan Hari 1

No. Bahan Satuan Jumlah

I II III

1. Soda Kue Gram 9 11 11,01

2. Teepol Gram 35 35 35,01

3. Air Gram 100 65 65

4. Garam Gram 11 15,04 25,01

5. Pewarna Hijau Tetes 1 1 1

6. Pewangi Semprot 3 3 3
Pengamatan Hari 2

No. Bahan Satuan Jumlah

I II III

1. Soda Kue Gram 11,02 11,01 -

2. Teepol Gram 35,05 35,05 -

3. Air Gram 65 65 -

4. Garam Gram 25 30 -

5. Pewarna Hijau Tetes 1 1 -

6. Pewangi Semprot 3 3 -

Data kelompok deasy :

NO BAHAN SATUAN JUMLAH

I II III

1 Texapon Gram 10 7 7

2 Soda kue Gram 5,1 3 3,01

3 NaCl Gram 3 3 4

4 Air ml 80 80 80

5 Asam sitrat Gram 6 6 6,5

Data kelompok Aldila :

NO BAHAN SATUAN JUMLAH

I II III

1 AIR Ml 150 125 100


MINERAL

2 SODA ASH Gr 5,00 5,02 5,01

3 TEPOL Gr 10,02 10,02 10,01

4 NaCl Gr 2,08 5,04 7,03

5 PEWARNA secukupnya

I = sabun masih cair, garam yang digunakan 2 gram, PH 7

II = sabun sudah kental, garam yang digunakan 5gr, PH 7

III = sabun kental, garam yang digunakan 7gr, PH 8

Data kelompok yasmin :

NO BAHAN SATUAN JUMLAH

I II III

1 AIR MINERAL Ml 100 100 100

2 SODA ASH Gr 10 10 10

3 TEPOL Gr 25 25 25

4 NaCl Gr 8 11 12,5

5 PEWARNA secukupnya

- Hasil dari percobaan III sangat encer


- PH percobaan :
 I=8
 II = 9
 III = 9
 Pembahasan Kelompok Dela :

Pada percobaan pembuatan sabun cuci piring cair, langkah pertama yang
dilakukan yaitu menimbang teepol lalu memasukkannya ke dalam beaker glass
dan tambahkan air sedikit demi-sedikit. Teepol merupakan bahan utama untuk
membuat sabun. Tepol dalam sabun berfungsi untuk membentuk busa dan
mengangkat kotoran. Air ditambahkan sedikit demi sedikit karena texepol
merupakan surfaktan yang mempunyai ujung berbeda, yaitu hidrofilik (suka air)
dan hidrofobik (suka lemak). Jika air ditambahkan sekaligus, akan terjadi
kesulitan dalam mencampurkan bahan karena ujung texapon yang bersifat
hidrofob akan sulit untuk berikatan dengan air. Air berfungsi sebagai pelarut.
Kemudian tambahkan soda ash pada campuran lalu aduk hingga rata, soda ash
yaitu bahan kimia berbentuk serbuk yang biasa digunakan sebagai penjernih air
kolam yang keruh akibat lumut mati.
Langkah berikutnya yaitu Setelah itu ditambahkan NaCl sedikit demi sedikit.
NaCl berfungsi untuk mengentalkan sabun yang dibuat.
Langkah terakhir yaitu menambahkan pewarna, gliserin dan parfum. Pewarna
berfungsi untuk mempercantik produk yang dibuat sehingga terlihat lebih
menarik. Untuk gliserin dan parfum, sebelum ditambahkan bahan tersebut
dicampur terlebih dahulu lalu dimasukkan kedalam campuran. Gliserin berfungsi
untuk melembutkan tangan, sedangkan parfum berfungsi untuk member aroma
pada sabun sehingga lebih harum.
Pada minggu pertama kami melakukan tiga kali percobaan dalam percobaan ini
didapatkan hasil yang berbeda karena berbedanya komposisi pada NaCl. Pada
percobaan pertama dengan menggunakan NaCl 5gr dan hasilnya larutan
menggumpal, tidak homogen karena bahan tidak silarutkan terlebih dahulu. Pada
percobaan kedua kami menggunakan NaCl yaitu 7gr dan hasilnya larutan
menggumpal, tidak berbusa karena tidak homogen. Tidak dilarutkan terlebih
dahulu dan pengadukan terlalu kencang. Pada percobaan ketiga kami
menggunakan NaCl yang sama seperti percobaan pertama yaitu sebanya 5gr dan
hasilnya Berhasil, karena bahan dilarutkan terlebih dahulu sehingga ketika
pengadukan. Kesalahan kelompok kami yaitu, pada percobaan pertama dan kedua
bahan tidak diencerkan terlebih dahulu dan terlalu banyak air yang ditambahkan
pada saat pengadukan, dan pada percobaan ketiga kami berhasil karena bahan
dilarutkan terlebih dahulu sehingga ketika pengadukan terjadi penggumpalan
larutan.

Pada minggu kedua, kami melakukan tiga percobaan dan juga menghasilkan hasil
yang berbeda. Percobaan pertama dengan komposisi Air sebanyak 100ml, soda
ash 10gr, teepol 25gr, dan NaCl 7gr didapatkan hasil Larutan encer, sedikit
berbusa, dan PH 9. Pada percobaan kedua dengan komposisi air 100ml, soda ash
10gr, teepol 32gr, dan NaCl 5gr dan hasilnya Larutan encer, sedikit berbusa, PH 9
sama seperti percobaan pertama dikarenakan perbedaan komposisi teepol dan
NaCl hanya selisih sedikit, sehingga hasilnya sama seperti percoban yang
pertama. Percobaan ketiga yaitu menggunakan air 50ml, soda ash 3gr, teepol
18gr, dan NaCl 10gr dan hasilnya Larutan sedikit kental, berbusa, PH 9,
percobaan kami yang ketiga berbusa dan hamper sempurna karena pengurangan
bahan, sehingga terjadi pengentalan pada larutan.

 Pembahasan kelompok putri dita :

Pada Praktikum kali ini kelompok 1 melakukan percobaan pembuatan sabun cuci
piring. Di praktikum ini kita mengenal bahan akan yang digunakan dalam
pembuatan sabun cuci piring dengan berbagai tekstur seperti tepol yang kental
dan ini harus di larutkan dalam air dan diaduk terus menerus karena sukar larut,
soda ash berbentuk seperti padatan halus jadi harus di larutkan didalam air
terlebih dahulu. Dan bahan lain yang umum dipergunakan di praktikum kimia
sebelum sebelumnya. Untuk praktikum pembuatan sabun cuci piring di bagi 2 kali
pertemuan dengan 6 hasil percobaan.
Praktikum hari pertama :
Proses pembuatannya kita menggunakan 3 kali percobaan dengan komposisi awal
yaitu soda ash 9 gram, tepol 35 gram, air 100 ml, garam 11 gram, pewarna hijau
secukupnya, dan pewangi secukupnya dan di dapatkan hasilnya gagal dikarenakan
tidak terpisah dengan sempurna kemungkinan disebabkan salah jumlah
komposisinya dan pada saat pencampuran bahan keseluruhan di campur jadi satu
kemudian di aduk.
Percobaan ke 2 menggunakan komposisi berbeda hanya tepol saja yang sama
yaitu soda kue 11 gram, tepol 35 gram, air 65 ml, garam 15,04 gram, pewarna
hijau secukupnya, pewangi secukupnya. Untuk langkah awalnya 65 ml air di bagi
ke masing masing bahan di tempat yang berbeda kemudian di aduk supaya larut
kedalam air. Setelah masing masing tercampur pertama mengaduk soda kue yang
sudah larut dalam air dengan magnetic stirrer, kemudian ditambahkan tepol yang
sudah dilarutkan dalam air, kemudian tambahkan garam yang sudah larut dan
pada saat penambahan garam ini akan terjadi pengentalan jadi kecepatan magnetic
stirrernya bisa di tambah, kemudian menambahakan pewarna dan pewangi tunggu
hingga semua tercampur dan terdapat 2 lapisan yaitu di bawah yang cairan kental
dan di atas busa yang sangat lembut untuk mengetahui jadi tidaknya produk bisa
di amati dari 2 lapisan tersebut jika belum yakin bisa di diamkan untuk
menghilangkan busanya kemudian menjadi sabun dan langkah terakhir yaitu
diukur phnya dan untuk percobaan ini kelalaianya yaitu tidak mengukur ph
dengan hasil produk berhasil.

Percobaan ke 3 yaitu menggunakan bahan yang sama yang membedakan


hanyalah perbandingan lebih banyak yaitu 25,01 dan proses pencampuran bahan
yang benar dan didapati hasil produk juga berhasil.
Percobaan hari ke 2 :
Percobaan hari ke 2 menggunakan 2x percobaan yaitu dengan komposisi garam
yang berbeda tetapi komposisi yang lain tetap sama dan di dapatkan hasilnya.
Praktikum pertama menggunakan garam 25 gram tekstur pada sabun sedikit encer
tetapi tetap kental dengan ph yaitu 8. Kemudian percobaan kedua dengan
menggunakan garam 30 gram dengan kekentalan lebih kental dari percobaan
pertama jadi bisa di ambil kesimpulan bahwa jumlah garam mempengaruhi
kekentalan dalam pembuatan sabun cuci piring.

Pembahasan data kelompok deasy :

Sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang
dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan
dengan alkali (natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui
proses saponifikasi. Pada percobaan ini kami membuat sabun pencuci piring,
sabun pencuci piring merupakan cairan kental bening berwarna yang berfungsi
untuk membersihkan peralatan makan seperti piring, gelas, sendok/garpu dan
peralatan dapur pada umumnya. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
sabun cuci piring cair memiliki fungsi masing masing contohnya :

Texapon

Texapon merupakan nama dagang dari senyawa kimia Sodium Lauryl Sulfate
(SLS). Texapon mempunyai bentuk berupa gel dengan warna bening. Texapon
merupakan bahan yang menghasilkan busa.

Natrium sulfat

Natrium sulfat atau biasa juga disebut sodium sulfat dan salt cake merupakam
padatan berbentuk kristal putih yang larut dalam air dan gliserol. Natrium sulfat
tidak beracun dan tidak mudah terbakar.
Natrium klorida
Natrium klorida biasa dikenal sebagai garam dapur. Merupakan senyawa ionik
dengan rumus NaCl. NaCl adalah garam yang paling bertanggung jawab atas
salinitas dari laut dan dari cairan extrakulikuler dari multiser banyak organisme
sebagai bahan utama dalam garam yang dapat dimakan ini, biasanya digunakan
sebagai bumbu makan dan makanan pengawet. Dalam pembuatan sabun cair
fungsinya sebagai pengental sabun yang masih berupa air.
Air
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun
atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air
bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar. Air
sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia.
Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah
tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan
sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion
hidroksida (OH-).
Pada percobaan pertama menggunakan Emal 70c sebanyak 17,03gram texapone
sebanyak 17,06gram dan NaCl sebanyak 8,20gram. Semua bahan di larutkan ke
dalam air sebanyak 62,2ml di dapatkan hasil yang tidak maksimal. Produk ber-pH
6 dan memiliki tekstur yang sangat kental, tekstur yang kental hal ini dikarenakan
penambahan NaCl yang tidak tetes demi tetes dan pH terlalu asam di karenakan
penambahan asam sulfat yang terlalu banyak.
Pada percobaan kedua jumlah emal dan texapone disamakan yaitu 17,08gram
dengan massa NaCl sebanyak 24gram. Produk yang di dapatkan dengan pH
sebesar 8 dan kekentalan yang baik. Namun pada percobaan ketiga dimana massa
emal dikurangi hingga 14,01gram dan texapone sebanyak 17,31gram dan NaCl
sebanyak 20,05gram produk yang di dapat kurang baik. Hal ini di karenakan
penggunaan asam sulfat yang terlalu banyak hingga di hasilkan produk ber pH 3.
Meski begitu kekentalan yang di hasilkan sudah baik.

Pembahasan kelompok Aldila :

Pada praktikum kali ini dilakukan untuk hasil percobaan pembuatan sabun cuci
piring cair. Pada percobaan yang pertama dilakukan sabun yang memiliki busa
yang cukup saat digunakan untuk mencuci wadah atau alat dapur yang kotor dapat
dibersihkan dengan baik. Namun masih terlalu cair , hal ini dikarenakan pada
waktu pencampuran texapone terlalu banyak penambahan air, sehingga tekstur
sabun belum sempurna. PH pada percobaan ini adalah 7.

Pada percobaan kedua sabun yang dihasilkan sudah sempurna, dibandingkan pada
percobaan yang pertama. Pada percobaan kedua sabun sudah kental teksturnya.
Dan memiliki memiliki ph yang sama dengan hasil percobaan pertama yaitu ph
nya 7.

Pada percobaan ketiga menghasilkan sabun yang bagus dari pada sabun percobaan
pertama dan kedua. Karena karena memiliki kekentalan bagus (sudah pas) busa
yang dihasilkan banyak, mudah larut dalam air dengan ph 8.

Pembahasan kelompok yasmin :

Percobaan dengan bahan utama Tepol dengan penambahan air, soda ash dan
NaCl. Sabun pertama dengan komposisi air 100 ml dan Tepol 25 ml ditambah
Soda Ash 10 gram. Saat ditambah dengan NaCl 8 gram larutan menjadi kental
tetapi busa semakin berkurang, sabun bertekstur lembut dengan PH berniali 8.
Sabun kedua dengan komposisi air 100 ml dan Tepol 25 ml Karena tekstur tepol
yang seperti gel tetapi encer, digunakan stirrer untuk pengadukan otomatis agar
terlarut sempurna kemudian ditambah soda ash 10 gram. Laruta tepol
ditambahkan soda ash akan berpengaruh terhadap tingkat kekentalan sabun
berubah menjadi kental, bertekstur seperti foam sehingga pengadukan dilakukan
manual. Lalu ditambah NaCl dengan jumlah 11 gram, sabun yang dihasilkan
lembut,dan tidak encer dengan PH bernilai 9. Sabun ketiga dengan komposisi air
100 ml dan tepol 25 ml ditambah soda ash 10 gram dan saat ditambah NaCl 12,5
gram. Penambahan NaCl pada tahap selanjutnya berpengaruh terhadap kekentalan
sabun yang sedikit turun. Sabun terasa sedikit encer dan kasar karena ada
beberapa NaCl yang tidak terlarut sempurna karena larutan kelewat jenuh dan PH
bernilai 9.

Perbedaan variabel pada percobaan pertama, kedua dan ketiga dengan komposisi
air 100 ml dan Tepol 25 ml ditambah soda ash 10 gram dan NaCl 8 gr pada
percobaan pertama dan NaCl 11 gr pada percobaan kedua dan NaCl 12,5 gr pada
percobaan ketiga. Dan pada percobaan ketiga Sabun encer dan sedikit kasar
karena ada beberapa NaCl yang tidak terlarut sempurna karena larutan kelewat
jenuh.
Kesimpulan :

- Pembuatan sabun cuci piring dapat menggunakan bahan yaitu teepol


yang sangat berpengaruh terhadap kekentalan hasil produk.
- Sabun cuci piring ini baik digunakan saat menghasilkan busa yang
lebih dan berbau harum, sehingga sabun dapat bekerja secara
maksimal membersihkan kotoran sebagai fungsi utamanya.
- Pembuatan sabun melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan
larutan alkali.setelah proses saponifikasi, sabun cair disempurnakan
dengan penambahan bahan pendukung berupa garam. Pada proses
saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, reaktan tidak mudah
bercampur. Reaksi saponifikasi ini dapat mengkatalisis dengan
sendirinya pada kondisi tertentu.
- Penambahan Soda Ash dan NaCl yang cukup mengkasilkan kekentalan
yang baik.
- Semakin banyak soda ash yang ditambahkan pada larutan Tepol dan
air, maka pH sabun semakin tinggi.

Daftar Pustaka :

- Desi Rosita, senin 03 maret 2014, Lulusan sarjana jurusan pendidikan


Kimia Universitas Mulawarman, Pembuatan Sabun Cuci Piring.
Diakses pada 31 desember 2017
- Juju Amin, Jum’at 18 april 2014, Muara Badak-Kalimantan Timur,
Indonesia, Pembuatan Sabun Cuci Piring Cair.
Diakses pada 31 desember 2017