Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua manusia menginginkan hidup dan berkembang menjadi manusia

normal, namun kenyataannya tidak demikian. Sebagian dari manusia mengalami

hambatan dalam perkembangan. Hambatan dalam perkembangan tersebut terjadi

pada penyandang tunagrahita. Sebenarnya tidak semua perkembangan penyandang

tunagrahita terhambat. Perkembangan fisik dan seksual penyandang tunagrahita

sama seperti individu pada umumnya, sehingga perubahan fisik dan seksual remaja

tunagrahita juga sama seperti remaja pada umumnya (Retnaningtias, 2011).

Masalah disabilitas khususnya pada anak dan remaja perlu menjadi fokus

utama tiap upaya peningkatan sumber daya manusia, mengingat anak dan remaja

merupakan generasi yang perlu disiapkan sebagai kekuatan bangsa. Jika ditinjau dari

proporsi penduduk, UNICEF memperkirakan bahwa sedikitnya ada 150 juta anak

penyandang disabilitas termasuk tunagrahita, sementara WHO dan Bank Dunia

memperkirakan jumlah anak usia 0-14 tahun dengan tingkat disabilitas sedang atau

berat mencapai 93 juta jiwa, dimana 13 juta anak diantaranya, menyandang

disabilitas berat (Organisasi Perburuhan Internasional, 2011).

Hasil sensus penduduk 2010 menunjukan dari 237.641.326 orang di

Indonesia bahwa jumlah penyandang disabilitas adalah 0,92% atau sekitar 2 juta jiwa

termasuk tunagrahita. Seperlima (20,64%) dari total disabilitas adalah penduduk

berusia 0-17 tahun (Profil Anak Indonesia, 2011). Menurut Susenas tahun 2003

jumlah penyandang tunagrahita di Indonesia adalah 237.590 jiwa. Sedangkan


1
berdasarkan Data Pokok Sekolah Luar Biasa di seluruh Indonesia, dilihat dari

kelompok usia sekolah, jumlah penduduk di Indonesia yang menyandang tunagrahita

adalah 62.011 orang, 60% diderita laki-laki dan 40% diderita anak perempuan

(Napolion, 2010).

Jumlah penyandang tunagrahita di Sumatera Barat saat ini tercatat

menduduki peringkat ke sembilan dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Data

PPLS (2008) menunjukan bahwa di Sumatera Barat jumlah penyandang tunagrahita

yaitu 5.123 orang. Dilihat dari kelompok usia sekolah, jumlah siswa Pendidikan Luar

Biasa yang menyandang tunagrahita relatif lebih besar dibandingkan dengan jenis

kelainan lainnya yaitu 1.320 orang, kemudian diikuti siswa dengan kelainan

tunarungu 376 orang, serta tunadaksa ringan sebanyak 311 orang. Di Kota

Bukittinggi jumlah siswa Pendidikan Luar Biasa yang menyandang tunagrahita

tercatat 180 orang (Irwanto, 2010).

Masa remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa anak dan

masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial-emosional.

Perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional yang terjadi berkisar dari

perkembangan fungsi seksual, proses berfikir abstrak sampai pada kemandirian yang

dimulai kira-kira usia 10 sampai 13 tahun dan berakhir antara usia 18 sampai 22

tahun (Santrock, 2003). Sedangkan Sarwono (2005) mengungkapkan bahwa batasan

umur untuk remaja adalah usia 11 sampai 24 tahun dan belum menikah.

Tunagrahita merupakan salah satu bentuk gangguan pada anak dengan

keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai dengan

2
terbatasnya kemampuan fungsi kecerdasan yang terletak dibawah rata-rata (IQ 70

atau kurang) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku adaptif

minimal di dua area atau lebih (tingkah laku adaptif berupa kemampuan komunikasi,

merawat diri, menyesuaikan dalam kehidupan rumah, keterampilan sosial,

pemamfaatan sarana umum, mengarahkan diri sendiri, area kesehatan dan keamanan,

fungsi akademik, pengisian waktu luang, dan bekerja) (wibowo, 2008 dalam

Napolion, 2010).

Berdasarkan teori diatas maka pengertian remaja tunagrahita adalah individu

yang berusia 11-24 tahun dan mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata

sehingga tidak mampu mengembangkan keterampilan dan perilaku adaptif dengan

baik.

Sebenarnya tidak semua perkembangan penyandang tunagrahita terhambat.

Perkembangan fisik dan seksual penyandang tunagrahita sama seperti individu pada

umumnya, sehingga perubahan fisik dan seksual remaja penyandang tunagrahita juga

sama seperti remaja pada umumnya (Retnaningtias, 2011). Ketidakberfungsian pada

kapasitas intelegensinya, menyebabkan anak tunagrahita tidak bisa mengolah

berbagai norma atau standar kehidupan yang pada akhirnya tidak dapat membedakan

prilaku yang baik dan yang buruk. Remaja tunagrahita tidak dapat mengendalikan

dorongan seksualnya sehingga muncul perilaku seksual yang tidak wajar (Ekawati,

2011).

Perilaku seksual adalah beralihnya perhatian remaja ke lawan jenisnya

kemudian diikuti saling tertarik, saling mendekati dan berkeinginan untuk

mengadakan kontak fisik yang diwarnai dengan nafsu seksual (Praptiningrum, 2005

dalam Retnaningtias, 2011). Sedangkan menurut Sarwono (2005) perilaku seksual


3
adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan

jenisnya ataupun dengan sesama jenis. Berdasarkan pendapat tokoh diatas, maka

dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual adalah segala sesuatu yang didorong oleh

hasrat seksual untuk memperoleh kenikmatan seksual. Tahap-tahap perilaku seksual

adalah ketertarikan, menyatakan cinta, berciuman (kissing), berciuman sambil

berpelukan (necking), bercumbu (petting), berhubungan seksual (intercourse)

(Yudiati dan Ekowarni, 2004 dalam Retnaningtias, 2011).

Masalah perilaku seksual remaja tunagrahita merupakan masalah yang cukup

kompleks. Perilaku seksual pada remaja tunagrahita yang sering dijumpai adalah

melakukan masturbasi di tempat umum, membuka baju di sembarang tempat,

menyentuh orang lain dengan cara yang tidak pantas, misalnya menepuk pantat,

memeluk, jatuh cinta pada guru (Ciptono, 2006).

Menurut pendapat Widjanarko perilaku seksual remaja tunagrahita

dipengaruhi oleh keadaan fisiologisnya, yaitu adanya kelenjar-kelenjar hormon

pendorong, meningkatnya hasrat seksual remaja yang bersifat laten dan

meningkatnya hasrat seksual ini memerlukan penyaluran. Selain adanya dorongan

seksual yang menyebabkan perilaku seksual remaja tunagrahita pengaruh tayangan

televisi dan keadaan lingkungan sekitar juga dapat menyebabkan perilaku seksual

remaja tunagrahita. Ciptono (2006) mengatakan bahwa perilaku seksual remaja

tunagrahita tersebut muncul karena mereka meniru apa yang mereka lihat seperti

tayangan sinetron di televisi dan pengalaman yang dilihat oleh mereka. Perubahan

seksual tidak dipengaruhi oleh keterbatasan intelektual, namun keterbatasan

intelektual tersebut membuat anak mudah terpengaruh dengan lingkungan atau

situasi sekitar. ”Penyandang tunagrahita memiliki karateristik yang mudah

4
terpengaruh oleh keadaan lingkungan dan kurang mampu mengendalikan diri

sehingga apa yang mereka lihat dan didengarnya menyerap begitu saja bahkan

mereka menirukannya tanpa merasa sungkan terhadap orang lain” (Praptiningrum,

2005 dalam Retnaningtias, 2011).

Berdasarkan survey awal pada bulan November diketahui terdapat lima SLB

yang berada di Kota Bukittinggi, SLB yang mempunyai murid tunagrahita terbanyak

adalah di SLB Manggis Ganting yang berjumlah 49 murid. Berdasarkan hasil studi

pendahuluan melalui wawancara dengan beberapa guru di SLB Manggis Ganting

menunjukkan bahwa remaja tunagrahita memiliki permasalahan lain yang dapat

dikaitkan dengan ketidaktahuan akan perkembangan yang terjadi dalam dirinya.

Contohnya, banyak di antara remaja tunagrahita ini yang belum mengetahui cara

berpakaian yang bersih dan sopan, tidak bisa bertata krama dalam pergaulan, suka

melakukan masturbasi di umum, teman sebaya atau dengan benda-benda, pacaran

yang sangat over acting, berkata kotor dan seronok. Berdasarkan pengamatan

peneliti ada beberapa anak remaja tunagrahita yang selalu mengejar lawan jenisnya

sesama remaja tunagrahita untuk menyalurkan dorongan seksualnya. Ada anak yang

merasakan senang dan tenang ketika sudah bertemu dengan teman atau orang yang

disenangi dengan menunjukan berbagai macam ekspresi. Seksualitas anak

tunagrahita juga tidak terfokus pada orang lain. Keinginan seksualnya hanya untuk

diri sendiri. Tidak berminat terhadap hubungan seksual tetapi lebih berminat

terhadap ciri-ciri seseorang, seperti keharuman tubuhnya, keindahan rambutnya, atau

kehalusan kulitnya. Beberapa perilaku tersebut menimbulkan reaksi dari guru yang

melihatnya, mereka langsung melarang dan menghentikan perilaku yang ditunjukan

oleh salah satu siswanya, sehinggga siswa tersebut pun menghentikan perilakunya.

5
Lebih lanjut guru menginformasikan bahwa “Terkadang siswa tidak patuh dan

menunjukan ekspresi marah jika ditegur, dan perilaku seksual seperti yang

dikemukan tersebut tidak semua siswa tunagrahita melakukan penyimpangan

seksual”.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka perlu diketahui bentuk-bentuk

perilaku seksual remaja tunagrahita, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya

perilaku seksual dan penanganan penyaluran dorongan seksual remaja tunagrahita

dari berbagai perspektif nara sumber sesuai dengan keahliannya. Hal inilah yang

mendorong peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Perilaku

Seksual Remaja Tunagrahita di SLBN Manggis Ganting Kota Bukittinggi Tahun

2013”.

1.2 Rumusan Masalah

Remaja tunagrahita menampakkan perilaku seksual yang tidak wajar karena

kurangnya kontrol diri. Adanya keterbatasan yang dimiliki anak tunagrahita

mengakibatkan individu tunagrahita sering menampakkan perilaku seksual yang oleh

kebanyakan masyarakat dianggap sebagai penyimpangan perilaku seksual,

berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan masalah yaitu “Bagaimanakah

Analisis Perilaku Seksual Remaja Tunagrahita di SLBN Manggis Ganting Kota

Bukittinggi Tahun 2013”.

1.3 Tujuan Penelitian

6
1.3.1 Tujuan Umum

Diketahuinya analisa perilaku seksual remaja tunagrahita di SLBN Manggis

Ganting Kota Bukittinggi Tahun 2013.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Diketahuinya bentuk-bentuk perilaku seksual yang sering dilakukan remaja

tunagrahita apabila adanya dorongan seksual.

1.3.2.2 Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya perilaku seksual

yang dilakukan remaja tunagrahita.

1.3.2.3 Diketahuinya upaya penanganan yang dilakukan oleh orangtua dan guru

apabila terjadi perilaku seksual remaja tunagrahita.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Peneliti

Menambah pengalaman dan wawasan penulis dalam mengumpulkan,

mengolah, menganalisa data dan menginformasikan hasil temuan serta

mampu mengaplikasikan teori perkuliahan dilapangan.

1.4.2 Tempat Penelitian

Sebagai dasar pijakan bagi orangtua dan guru dalam memberikan bimbingan

dan pendampingan kepada anak tunagrahita usia remaja dalam penyaluran

dorongan seksual, dan memberikan masukan penanganan jika terjadi

penyimpangan perilaku seksual remaja tunagrahita.

1.4.3 Instansi Pendidikan

7
Menambah bahan bacaan diperpustakaan Prodi Kebidanan Bukittinggi dan

penelitian ini dapat dijadikan data masukan dalam mengembangkan

penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Remaja tunagrahita menampakkan perilaku seksual yang tidak wajar karena

kurangnya kontrol diri. Adanya keterbatasan yang dimiliki anak tunagrahita

mengakibatkan individu tunagrahita sering menampakkan perilaku seksual yang oleh

kebanyakan masyarakat dianggap sebagai penyimpangan perilaku seksual. Melihat

keadaan seperti ini penulis ingin menganalisis bagaimana bentuk-bentuk perilaku

seksual pada remaja tunagrahita jika ada dorongan seksual, apa faktor-faktor yang

mempengaruhi timbulnya perilaku seksual dan bagaimana penanganannya jika

terjadi penyimpangan perilaku seksual pada remaja tunagrahita di SLBN Manggis

Ganting Kota Bukittinggi tahun 2013.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian

kualitatif. Akan dilakukan pada bulan April 2013 sampai dengan Juni 2013.

Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara mendalam dengan menggunakan

pedoman wawancara kepada guru dari remaja tunagrahita di sekolah, melakukan

Focus Group Discussion kepada orangtua dari remaja tunagrahita dan melakukan

observasi terhadap remaja tunagrahita untuk mengetahui gambaran realistik perilaku

seksual dari remaja tunagrahita tersebut.