Anda di halaman 1dari 6

Journal of Physics: Conference Series

PAPER • OPEN ACCESS

Macrozoobenthos diversity as bioindicator of water quality in the


Bilah river, Rantauprapat
Keanekaragaman Makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas air di Kalimantan
sungai Bilah, Rantauprapat

Arman Harahap1 *, Ternala Alexander Barus2, Miswar Budi Mulya2 dan


Syafruddin Ilyas2
1 Departemen Biologi STKIP Labuhanbatu
2 Departemen Biologi, Universitas Sumatera Utara

* E-mail: armanhrp82@yahoo.co.id

Abstrak. Sungai Bilah adalah sungai terbesar dan terletak tepat di perkotaan yang
padat penduduk daerah Rantauprapat Labuhanbatu, Sumatera Utara. Ada begitu
banyak kegiatan komunitas yang terjadi seperti pemandian, perusahaan supplay
air, penambangan pasir, pertanian,
transportasi dan perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
keanekaragaman macrozoobenthos sebagai bioindikator kualitas air serta
menentukan kualitas air. Penelitian ini dilakukan dari November 2016 hingga
Oktober 2017, sampel diambil dari lima stasiun penelitian. Dari hasil penelitian
diperoleh makrozoobentos yang terdiri dari 4 kelas, 7 pesanan, 11 keluarga dan
12 genera. Nilai kepadatan tinggi adalah genus Neanthes sp (18.519 individu /
m2) ditemukan di stasiun 4. Nilai indeks keanekaragaman (H ') tertinggi
macrozoobenthos ditemukan di stasiun 1 (2.052) dan terendah di stasiun 5
(0.965). Orang analisis korelasi menunjukkan bahwa DO, BOD5, nitrat, fosfat,
COD, substrat, cahaya penetrasi, kelarutan oksigen, TSS, dan TDS berkorelasi
positif dengan keanekaragaman indeks makrozoobentos.

1. Perkenalan
Sungai Bilah adalah air yang telah digunakan oleh beberapa sektor seperti penambangan pasir, pertanian,
perikanan, transportasi dan juga sumber air minum untuk masyarakat di daerah Rantauprapat. Keberadaan
berbagai aktivitas manusia di sekitar sungai yang menyebabkan sungai Bilah diduga terkontaminasi.
Benthos sebagai biota dasar perairan yang relatif tidak bermigrasi adalah kelompok biota yang paling
menderita dari polusi air. Menurut [1] komponen biotik dapat memberikan gambaran fisik, kondisi kimia
dan biologis air.
Satu biota yang dapat digunakan sebagai parameter biologis di menentukan kondisi perairan
adalah Macrozoobenthos. Menurut [2] perubahan kualitas air sangat mempengaruhi kehidupan biota yang
hidup di dasar dari perairan di antara mereka adalah Macrozoobenthos. Menurut [3] Macrozoobenthos
adalah organisme yang sebagian besar atau seluruh siklus hidupnya ada di dasar perairan, sessil hidup
merayap atau menggali lubang.
Makrozoobentos paling baik digunakan sebagai bioindikator di perairan karena habitatnya yang
relatif tetap kehidupan. Perubahan kualitas air dan substrat hidupnya sangat mempengaruhi kelimpahan
dan keanekaragaman macrozoobenthos. Kelimpahan dan keanekaragaman ini sangat tergantung pada
toleransi dan sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Kisaran toleransi makrozoobentos terhadap
lingkungan bervariasi [3]. Komponen lingkungan hidup (biotik) dan mati (abiotik) mempengaruhi
kelimpahan dan keanekaragaman biota air hadir di perairan, sehingga kelimpahan individu masing-
masing spesies bisa tinggi digunakan untuk menilai kualitas air. Perairan yang berkualitas baik biasanya
memiliki keanekaragaman jenis dan
begitu pula sebaliknya di perairan yang miskin atau tercemar [4]. Sejauh ini, keanekaragaman
Macrozoobenthos dan air kualitas Sungai Bilah belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui fisik, sifat kimia dan biologis perairan Sungai Bilah dalam kaitannya dengan standar kualitas
air.

2. Bahan dan Metode

Berdasarkan zona lingkungan yang ada 5 stasiun pengamatan yang berbeda ditugaskan. Pengambilan
sampel makrozoobentos dilakukan sebanyak 9 ulangan di setiap stasiun. Contoh
Stasiun 1 adalah daerah di mana tidak ada aktivitas masyarakat di hulu sungai, secara geografis terletak di
2o06'20.78 "N 99 o49'31" E. Stasiun pengambilan sampel 2 adalah pemandian komunitas dan aktivitas
pertanian, yang terletak di DAS hulu, secara geografis terletak di 2o06'29.72 "N, 99o49'.35 "E. Stasiun
Pengambilan Sampel 3 adalah situs penambangan pasir, secara geografis terletak di 2 o06'22.71" N
99o45'49.82 "E. Stasiun pengambilan sampel 4 adalah tempat sumber air perusahaan diambil, secara
geografis terletak di 2o06'23.17 "N, 99o49'26.20" E. Stasiun pengambilan sampel 5 adalah situs
penambangan pasir dan terletak hilir sungai, secara geografis terletak di 2o06'22.71 "N 99o49'34.92" E.

2.1. Metode pengambilan sampel


Sampel makrozoobentos diambil menggunakan surber mesh dan mesh ditempatkan di bagian bawah dari
sungai, maka substrat dikeruk sehingga macrozoobenthos terjaring di jala surber.
Sampel yang diperoleh disortir dengan tangan untuk sampel besar dan metode apung untuk sampel kecil
(yang tidak dapat disortir). Sampel dibersihkan dengan air dan direndam dengan formaldehida 4% selama
1 hari, lalu dicuci dan dikeringkan, sampel dimasukkan ke dalam botol sampel yang diisi alkohol 70%
sebagai pengawet, lalu diberi label. Sampel dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi menggunakan
buku referensi.

3. Hasil dan Diskusi

3.1. Jenis Macrozoobenthos


Makrozoobentos diidentifikasi dalam penelitian ini terdiri dari 3 filum invertebrata: Annelida terdiri dari
2 kelas, Arthropoda terdiri dari 1 kelas dan Molusca terdiri dari 1 kelas, seperti yang ditunjukkan pada
Tabel 1.

3.2. Indeks Keanekaragaman (H ')


Berdasarkan analisis data, nilai indeks keanekaragaman (H ') dari makrozoobentos di setiap stasiun
sebagai bahwa nilai indeks keanekaragaman (H ') yang diperoleh dari 5 stasiun penelitian berkisar dari H'
antara 2.052-0.965. Nilai indeks keanekaragaman tertinggi (H ') ada di stasiun 1 yaitu 2.052. Indeks tinggi
keragaman di stasiun 1 diduga karena substrat pada dasarnya adalah pasir berlumpur lunak dan Kehadiran
rock yang mendukung kehidupan macrozoobenthos. Dan tidak adanya aktivitas masyarakat
yang terjadi di stasiun 1. Menurut [5] substrat berlumpur halus dan batu adalah yang terbaik
habitat bagi makrozoobentos untuk mendapatkan makanan, berlindung dari arus dan menempelkan diri
sementara substrat kerikil dengan pasir mudah dibawa oleh arus air sehingga menyulitkan
makrozoobentos untuk melampirkan diri mereka atau untuk menetap di substrat.

3.3. Kualitas air


Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lima stasiun penelitian di perairan sungai Rantauprapat
diperoleh nilai rata-rata faktor fisika kimia pada Tabel 2.

*) Berdasarkan PP 82 tahun 2001 tentang Manajemen Kualitas Air dan Pengendalian


Pencemaran Air (untuk kelas) 2 Kualitas Air standar).

Dalam Tabel 2 dapat dilihat bahwa suhu air di lima stasiun penelitian berkisar dari 23 - 24.50C. Suhu di
lima stasiun relatif sama, tidak berfluktuasi, karena kondisi cuaca selama pengukuran suhu relatif sama,
begitu pula suhutidak berubah. Secara umum kisaran suhu adalah kisaran normal untuk makhluk hidup
akuatik termasuk macrozoobenthos. Nilai suhu air perairan sungai dibandingkan dengan kriteria Air
Standar Kualitas I dan kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2011 masih cocok
untuk rumah tangga, perikanan, peternakan dan pertanian karena suhu air masih dalam batas yang dapat
ditoleransi.
Nilai oksigen terlarut (DO) yang diperoleh dari lima stasiun penelitian berkisar antara 6,9-7,2 mg
/ l, dengan nilai tertinggi ditemukan di stasiun 1 dan 2 7,2 mg / l, ini disebabkan oleh stasiun yang lebih
rendah suhu dan kandungan organiknya terlalu rendah. nilai oksigen terlarut terendah di stasiun 5 adalah
6.9 mg / l. nilai oksigen terlarut yang rendah di stasiun 1 dan 2 menunjukkan bahwa ada banyak organic
senyawa dan senyawa kimia yang masuk ke dalam badan air, sehingga keberadaannya organik
Senyawa akan mengarah pada proses akuatik yang dilakukan oleh mikroorganisme yang akan langsung
aerobic (membutuhkan oksigen). Menurut [6] masuknya bahan organik seperti limbah makanan
menyebabkan meningkatkan mikroorganisme dalam air dan mengkonsumsi O2 yang dilarutkan dalam air
untuk menghasilkan respirasi penurunan kadar O2. Berdasarkan Standar Kualitas Air I dan kelas II
menurut Pemerintah Peraturan Nomor 82 Tahun 2001 untuk kelas I batas DO minimum yang diijinkan
adalah 6 mg / l dan untuk kelas II batas minimum yang diperbolehkan ada 4 mg / l. Level DO di stasiun
pengamatan lebih besar dari DO Pada kriteria kualitas air kelas I dan kelas II maka perairan ini layak
digunakan sebagai kelas I dan II air.

Nilai BOD5 di lima stasiun penelitian berkisar 0,6 hingga 5 mg / l dengan nilai tertinggi ditemukan
di stasiun 1 dari 5 dan terendah di stasiun 5 sebesar 2,9 mg / l. perbedaan nilai BOD5 dalam setiap
penelitian Stasiun disebabkan oleh jumlah bahan organik yang berbeda di setiap stasiun, yang terkait
dengan defisit oksigen karena oksigen digunakan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan
organik sehingga nilai BOD5 meningkat. Nilai BOD5 yang tinggi di stasiun 1 diduga karena banyaknya
kegiatan masyarakat di hulu Sungai Bilah, sehingga meningkatkan
konten organik di perairan ini. BOD5 rendah di stasiun 3 adalah karena lokasi kecil ini kegiatan
komunitas ditemukan di stasiun ini. Nilai rata-rata nitrat (NO3-N) di wilayah sungai Raganuprapat, mulai
dari 0,386 hingga 2,248 mg / l. nilai nitrat tertinggi ditemukan di lokasi stasiun 1 dan terendah di lokasi
stasiun 4. Kandungan nitrat optimal untuk pertumbuhan makrozoobentik adalah 3,9-15,5 mg / l [7]. Nitrat
tinggi Unsur di lokasi stasiun 1 diduga berasal dari banyaknya kegiatan masyarakat itu
menghasilkan limbah domestik dan limbah pertanian menggunakan pupuk yang menghasilkan
peningkatan level nitrat dalam tubuh air. Air yang mengandung nitrat tinggi sering ditemukan di dekat
peternakan. –nya konsentrasi di dalam air akan meningkat ketika semakin dekat dari titik pembuangan
(menurun menjadi jauh dari titik pembuangan yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme).

Fosfat yang terukur dalam bilah sungai selama penelitian berkisar antara 0,258 hingga 0,614 mg / l.
itu fosfat tertinggi ditemukan di lokasi stasiun 1 sedangkan nilai terendah ditemukan di stasiun 5. Ini
adalah karena masuknya limbah yang masuk ke badan air, sehingga meningkatkan nilai fosfat. Fosfor
terutama berasal dari sedimen yang kemudian akan menyusup ke dalam air tanah dan akhirnya masuk ke
sistem perairan terbuka (badan air). Apalagi itu bisa datang dari atmosfer dan seiring dengan curah hujan
yang masuk ke sistem air [1]. Secara keseluruhan, kandungan fosfat dari pengukuran di lima stasiun
pengamatan masih di bawah Standar Kualitas Air kelas I dan kelas II yang dibolehkan menjadi 0,2 mg / l,
sehingga air cocok untuk kelas I dan kelas II.

Dari data yang terkandung dalam Tabel di atas dapat dilihat nilai hasil pengukuran pH di lima
stasiun pengamatan berkisar antara 7,8-8,1. Nilai pH di lima stasiun pengamatan yang berbeda adalah
berbeda, tetapi ada juga yang sama tergantung kondisi perairan pada masing-masing penelitian stasiun.
Nilai pH tertinggi berada di stasiun 4 dan 5 dari 8.1 dan terendah di stasiun 1 dan 2 dari 7.8. Nilai pH
yang diperoleh dari lima stasiun penelitian masih mendukung kehidupan dan pengembangan
macrozoobenthos. Nilai pH normal menunjukkan bahwa jumlah bahan organik terlarut kecil.

Nilai rata-rata bilah sungai COD dalam penelitian ini berkisar antara 49,92 hingga 72,12 mg / l.
Tertinggi COD diperoleh di stasiun 1 dan terendah di Stasiun 5. Berdasarkan kemampuan oksidasi, the
penentuan nilai COD sebaiknya dipertimbangkan dalam menggambarkan keberadaan bahan organik, baik
secara biologis atau terurai. Perairan yang mengandung COD tingkat tinggi, membutuhkan oksigen untuk
bahan kimia proses oksidasi, ini mengurangi cadangan oksigen dalam air. Berdasarkan Standar Kualitas
Air I dan kelas II sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 untuk Kelas I, batas
maksimum COD yang diizinkan adalah 10 mg / 1 dan grade 11 25 mg / I. dengan demikian stasiun
1,2,3,4 dan 5 telah melampaui nilai standar sehingga tidak layak untuk digunakan sebagai air kelas I
tetapi cocok untuk kelas III. ini adalah disebabkan oleh banyaknya kegiatan masyarakat seperti mandi,
pertanian, penambangan pasir dan limbah sawit Pabrik Minyak terletak di hulu sungai. Nilai konten
organik substrat yang diperoleh di lima stasiun pengamatan berkisar 2.317- 8,153%.

Konten organik substrat tertinggi diperoleh di stasiun 1 dari 8,153%, sedangkan yang terendah di
stasiun 2 adalah 2,317%. Secara keseluruhan, nilai konten organik substrat diperoleh dari lima stasiun
penelitian di sungai sungai ini tergolong sangat tinggi. Substrat dasar suatu perairan merupakan faktor
penting bagi kehidupan hewan makrozoobentos habitat hewan. Setiap spesies memiliki kisaran toleransi
yang berbeda untuk substrat dan konten organic substrat. Keberadaan berbagai jenis dasar media juga
menyebabkan berbagai jenis media macrozoobenthos diperoleh di setiap stasiun penelitian. Ini sesuai
dengan pernyataan [8, 9], bahwa keberadaan substrat yang berbeda menyebabkan fauna yang berbeda
atau komunitas macrozoobenthic struktur.

3.4. Korelasi Pearson


Berdasarkan pengukuran faktor fisiko-kimia yang telah dilakukan di masing-masing stasiun penelitian,
dan korelasi dengan Diversity Index, indeks korelasi diperoleh seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa hasil uji analisis korelasi pearson antara beberapa Faktor fisika kimia air
sungai berbeda dengan tingkat korelasi dan arah korelasinya indeks keanekaragaman. Nilai-nilai indeks
korelasi PO43-dan COD dengan keragaman macrozoobenthos adalah 0,948 (*) dan 0,927 (*) dengan
tingkat korelasi yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa PO43- dan COD memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap indeks keanekaragaman makrozoobentik, sehingga meningkatkan PO43- dan COD
tingkat dapat menyebabkan nilai indeks keanekaragaman makrozoobenthik yang lebih rendah.

4. Kesimpulan

Komposisi dan jumlah makrozoobentos yang diperoleh semuanya adalah 4 kelas: Oligochaeta,
Polychaeta, Insecta, dan Gastropoda. Jenis komposisi makrozoobentos tertinggi adalah Insecta diikuti
oleh Gastropoda, Oligochaeta dan Polychaeta. Jenis-jenis yang ditemukan di sungai Bilah Rantauprapat
berjumlah 12 spesies. Nilai indeks keanekaragaman makrozoobenthik (H ') di lima stasiun berkisar antara
0,965 hingga 2,052, menunjukkan bahwa dari semua stasiun penelitian milik yang tercemar ringan
kelompok.

References
[1] Yanigina L V 2017 Russian Journal of Ecology 48 185
[2] Kottelat M 2013 The Raffles Bulletin of Zoology Suppl. 27 1
[3] Oktarina A and Syamsudin T S 2015 Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1(2)
https://doi.org/10.13057/psnmbi/m010210
[4] Hakiki T F, Setyobudiandi I and Sulistiono 2017 Omni-Akuatika 13 163
[5] Choi J W, Seo J Y and An S 2013 OJMS 3 190
[6] Lumbantobing D N 2014 Zootaxa 3764
[7] Dar S H, Dar F A, Khan A A, Rashid A, Teli A R and Bashir M 2017 TPI Int. Journal 6
734
[8] Wang Jun and Zhou Q 2014 cje 33 2420
[9] Sameera S, Yousuf A R and Muni P 2017 SKUAST Journal of Research 19 240