Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Merkantilisme

Menurut KBBI, merkantilisme adalah sistem ekonomi untuk menyatukan dan meningkatkan kekayaan
keuangan suatu bangsa dengan pengaturan seluruh ekonomi nasional untuk pemerintah.

Pengertian lain merkantilisme adalah sebuah sistem dan teori ekonomi, yang diterapkan di benua Eropa
sekitar abad ke 16 sampai ke abad 18.

Kata merkantilisme sendiri berasal dari bahasa Inggris yakni “merchant” yang memiliki arti pedagang.
Sistem merkantilisme ini berupaya meningkatkan kekuatan ekonomi negara sendiri dengan cara
melemahkan kekuatan ekonomi negara pesaing.

Dapat dikatakan bahwa merkantilisme adalah suatu sistem ekonomi yang menyatakan bahwa
kesejahteraan suatu negara hanya ditentukan oleh banyaknya aset atau modal yang disimpan oleh
negara tersebut dan begitu pentingya besarnya volume perdagangan global.

Gagasan Inti Merkantilisme

Pemerintahan suatu negara dalam mencapai tujuan dengan cara melakukan perlindungan terhadap
perekonomiannya, dengan cara mendorong ekspor ( dengan berbagai program dan insentif) dan
mengurangi impor (pada umumnya dengan pemberlakuannya tarif yang besar).

Latar Belakang Merkantilisme

Latar Belakang MerkantilismeBanyak sekali faktor yang mendorong terciptanya paham merkantilisme ini.
Menurut Eatwell (1987:445), bahwa salah satu faktor yang mendorong diantaranya adalah
perkembangan pemikiran ekonomi Eropa yang dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi Nasional.

Merkantilisme lahir di Inggris dan Perancis. Dipengaruhi oleh kepercayaan dan kemampuan manusia,
hasrat intelektual, serta penghargaan atas disiplin intelektual. Pedagang yang terlibat dalam
perdagangan internasional terlibat persaingan yang sengit dan tak jarang berujung konflik. Pedagang
membutuhkan perlindungan negara, dan negara juga membutuhkan pedagang agar perekonomiannya
tumbuh dan berkembang.

Kemudian sampailah pada saat neraca perdagangan surplus. Selanjutnya, muncul kesadaran bahwa SDA
yang diperdagangkan bersifat terbatas. Bahkan, ukuran kemakmuran dan kekuatan (power) suatu negara
dilihat dari seberapa banyak negara tersebut berhasil mengumpulkan sumber sumber daya yang terbatas
itu.

Kebijakan merkantilisme mengakhiri kolonialisme Inggris di Amerika. Dalam perkembangannya,


kebijakan merkantilisme ikut melatarbelakangi lahirnya Revolusi Industri di Inggris sekitar tahun 1750.

Lahirnya Kolonialisme dan Imperialisme


Merkantilisme berkembang pada abad XV sampai abad XVII di Eropa dan dianut oleh banyak negara,
seperti Portugal, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Belanda. Awalnya mereka berdagang dengan sesama
bangsa Eropa, lambat laun, mereka teralihkan pada komoditas berharga lain di luar Eropa.

Penemuan Benua Amerika (dunia baru) oleh Christopher Columbus pada tahun 1492 serta rute laut ke
India oleh Vasco dan Gama pada tahun 1497-1499 inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya era
penjajahan atau kolonialisme.

Merkantilisme memicu era penjelajahan samudra dan imperialisme dengan tujuan menguasai koloni
koloni atau wilayah wilayah yang akan menjadi sumber bahan baku dan pasar potensial. Pada waktu itu,
rempah rempah merupakan komoditas yang sangat laku di pasaran Eropa. Tidak sedikit penjelajahan dan
pelayaran bangsa bangsa Eropa yang dibiayai oleh raja atau negara. Setiap negara saling bersaing untuk
mendapatkan emas dan perak dalam jumlah yang besar.

Ekspansi ini sering dilakukan di bawah serikat dagang yang pemerintah negaranya menjamin monopoli
monopoli di bagian tertentu djnia. Contohnya EIC dan VOC. Dilandasi ambisi yang kuat, bangsa barat
menancapkan kekuasaan politik militer di negara yang dikuasainya..

Ringkasnya, merkantilisme secara langsung ataupun tidak langsung ikut berperan melahirkan penjajahan
di dunia, termasuk Nusantara.

Hal yang menyebabkan perkembangan ekonomi merkantilisme ini antara lain :

a. Adanya banyak penemuan dan penaklukan wilayah –wilayah geografi baru oleh negara –negara Eropa.

b. Adanya sumber arus modal baru, baik dari wilayah geografi baru maupun ke wilayah geografi baru
tersebut.

c. Kebangkitan para raja dan saudagar yang mendorong nasionalisme.

d. perkembangan perdagangan lokal, menuju ke perdagangan baru keluar negeri dengan tujuan untuk
mendapat keuntungan lebih besar.

e. Menurunnya kekuasaan lama gereja dan golongan ningrat.

Merkantilisme Dalam Sejarah

Dalam sejarah, merkantilisme disebut sebagai sebuah “Revolusi Perdagangan”. Hal ini terjadi disebabkan
adanya transisi atau pergeseran basis perekonomian dari basis ekonomi lokal menjadi ekonomi nasional.
Dari konsep Feodalisme menuju Praktik Kapitalisme, serta dari perdagangan dalam lingkup terbatas
menjadi perdagangan dalam Skala Internasional.

Kebijakan Merkantilisme

Kebijakan merkantilisme sendiri bervariasi pada perannya saat ini dari satu penulis ke penulis yang lain,
serta telah berkembang dari waktu ke waktu. Pemberlakuan tarif tinggi, terutama pada barang
manufaktur ialah kebijakan yang hampir universal dari merkantilisme.
Berikut kebijakan merkantilisme yang lain, yakni :

a. Membentuk koloni di luar negeri.

b. Melarang daerah koloni untuk melakukan hubungan kerja sama perdagangan dengan negara lain.
Kolonisasi perdagangan harus dilaksanakan secara ketat agar negara koloni harus tetap tunduk dan
tergantung pada negara induk.

c. Memonopoli pasar dengan program port pokok.

d. Melarang ekspor emas dan perak, bahkan untuk alat pembayaran sekalipun. Emas dan perak adalah
sebuah bentuk kekayaan yang khas dan paling banyak disukai.

e. Tidak diperbolehkan perdagangan untuk dibawa dalam kapal asing.

f. Memberikan subsidi ekspor dan mempromosikan manufaktur melalui penelitian atau subsidi langsung.
Dalam kebijakan ekspor dan impor, negara tersebut harus mencapai surplus sebesar-besarnya.

g. Pembatasan upah.

h. Memaksimalkan penggunaan sumber daya dalam negeri.

i. Pengendalian konsumsi domestik melalui hambatan non-tarif untuk perdagangan.

Tujuan Merkantilisme

Sistem merkantilisme merupakan suatu kebijakan ekonomi nasional yang memiliki tujuan untuk
mengumpulkan cadangan moneter melalui keseimbangan perdagangan positif, terutama barang jadi.
Serta memperoleh neraca perdagangan yang baik, mengembangkan pertanian dan industri, dan
memegang monopoli atas perdagangan luar negeri. Dalam hal ini suatu negara harus mencari cara untuk
memperkuat ekonomi dan melemahkan ekonomi pesaing.

Dampak Merkantilisme

Kebijakan merkantilisme sering menyebabkan perang dan menimbulkan pergerakan ekspansi kolonal.
Saat itu kesadaran negara sudah mulai muncul dan memicu intervensi suatu negara yang mengatur
perekonomiannya dan akhirnya pada jaman tersebut sistem kapitalisme mulai lahir.

Kebutuhan akan pasar yang di terapkan dari merkantilisme pada akhirnya memicu terjadinya banyak
peperangan di kalangan negara Eropa. Serta saat itu era imperialisme Eropa dimulai. Sistem
merkantilisme berangsur menghilang pada abad 18, seiring dengan munculnya teori ekonomi baru oleh
Adam Smith.

Adapun dampak-dampak lain dari paham merkantilisme antara lain :

a. Munculnya uang sebagai alat tukar, setelah pada masa merkantilisme yang digunakan ialah logam
mulia.
b. Lahirnya perdagangan surat berharga, kemudian diikuti bursa efek atau pasar modal.

c. Latar belakang dibentuknya Lembaga Keuangan Bank di Kota Besar.

d. Terciptanya perusahaan-perusahaan asuransi untuk melindungi keamanan harta benda.

e. Gerakan penjajahan di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam. Di sinilah awal mula negara
kita, Indonesia dijajah oleh bangsa Spanyol, Portugis, Belanda dan lain sebagainya.

Ciri – Ciri Negara Penganut Merkantilisme

Apa saja ciri-ciri negara menganut merkantilisme ?

a. Negara atau Pemerintah melakukan pengawasan serta ikut andil dalam setiap perkembangan serta
perekonomian yang terjadi.

b. Negara tersebut meningkatkan jumlah produksi industrinya, namun dengan orientasi barang tersebut
untuk tujuan ekspor.

c. Untuk mencapai ekspor yang tinggi dan impor yang minim, maka negara tersebut berusaha untuk
mengendalikan impor dengan cara proteksionisme, yakni pemberlakuan tarif tinggi pada barang impor.

d. Negara tersebut melakukan memonopoli perdagangan dengan cara hanya memberi izin impor bahan
baku atau bahan mentah dari negara produsen yang dikuasai oleh negara tersebut secara tunggal.

e.Negara tersebut juga meningkatkan jumlah pertumbuhan penduduk guna tersedianya tenaga kerja
industri yang melimpah.

f. Mencari negara yang kaya akam sumber daya alam untuk dijadikan sebagai daerah jajahan.

negara yang menganut paham merkantilisme kala itu antara lain

1.) Inggris

2.) Belanda

3.) Perancis

4.) Jerman

5.) Spanyol

Teori Perdagangan Merkantilisme

Teori yang mendasari munculnya sistem merkantilisme sebenarnya sangat sederhana, yaitu bahwa dunia
memiliki keterbatasan sumberdaya atau kekayaaan (wealth), sehingga mengumpulkan kekayaan
sebanyak-banyaknya menjadi salah satu penilaian untuk menunjukkan kemakmuran suatu negara.
Kemakmuran menjadi sebuah simbol kekuatan sebuah negara, oleh karena itu untuk meningkatkan
kekayaan , negara tersebut haruslah melakukan pertukaran kekayaan dengan negara lain melalui
perpindahan barang. Perpindahan barang inilah yang sekarang ini dikenal dengan istilah ekspor dan
impor.

Paham merkantilisme juga dipercaya sebagai alasan utama banyak negara Eropa yang melakukan
kolonialisme atas negara-negara lain yang memiliki kekayaan alam dan sumber-sumber produksi,
terutama di wilayah Asia Afrika.

Istilah merkantilis pertama kali diperkenalkan oleu Victor de Riqueti, marquis de Mirabeau pada tahun
1763. Selanjutnya dipopulerkan oleh Adam Smith pada tahun 1776. Merkantilis sendiri berasal dari
bahasa latin “mercari” yang berarti mengadakan pertukaran dan berakar dari kata “merk” yang memiliki
arti komoditas.

Pada kenyataannya, Adam Smith lah yang menjadi orang pertama kali menyebut istilah merkantilis
terhadap ilmu ekonomi dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nations. Kata merkantilis yang
mulanya hanya digunakan oleh para kritikus seperti Mirabeau dan Smith, namun kemudian kata ini telah
digunakan dan diadopsi para sejarawan.

Perdagangan Internasional dalam Merkantilisme

Merkantilisme yang telah berkembang pesat sekitar abad 16 ini, meyakini bahwa ekonomi nasional dan
pembangunan ekonomi dapat dicapai dengan meningkatkan jumlah ekspor sebesar-besarnya dari
jumlah impor atau surplus.

Jika dihubungkan dengan perdagangan luar negeri, maka dapat ditarik dua ide pokok terkait kebijakan
merkantilis, yakni :

1.) Pemupukan Logam Mulia

Pemupukan logam ini bertujuan untuk pembentukan negara nasional yang kuat dan peningkatan
kemakmuran nasional demi mempertahankan dan mengembangkan kekuatan negara.

2.) Politik Perdagangan untuk mencapai surplus.

Setiap politik perdagangan beserta segala kebijakan negara, dimaksudkan untuk menunjang kelebihan
ekspor di atas impor demi mencapai neraca perdagangan yang aktif.

Para kaum merkantilis memiliki suatu target yang besar untuk dapat melakukan monopoli atas
perdagangan. Dari target ini, kemudian lahirlah kebijakan-kebijakan lain terkait yaitu dengan
memperoleh daerah-daerah jajahan seluas mungkin guna memasarkan hasil industri.

Hal inilah yang menimbulkan terjadinya pencairan wilayah geografis baru yang semakin luas oleh kaum
merkantilis dengan tujuan peningkatan kesejahteraan. Pokok utama dari kaum merkantilis ialah
mengenai bagaimana bisa mencapai kesejahteraan menurut ukuran mereka.
Merkantilisme Era Modern

Sistem merkantilisme mungkin telah meredup menjelang abad ke 17. Namun, bukan berarti nilai-nilai
dari kebijakan paham ekonomi merkantilisme ini sama sekali ditinggakan. Bahkan merkantilisme justru
mengalami perkembangan lewat kritik-kritik dan saran yang diberikan para sejarawan.

Sekarang ini, nilai-nilai dari merkantilisme juga masih banyak dijalankan oleh sebagian negara, namun
dalam bentuk “neo merkantilisme”. Neo merkantilisme adalah suatu kebijakan yang berisikan kebijakan
proteksi atau perlindungan dengan tujuan melindungi dan mendorong ekonomi industri nasional melalui
kebijakan tarif.

Kebijakan tarif atau tariff barrier sekarang ini dalam rangka proteksi banyak menerapkan bentuk
countervailing duty, bea anti dumping dan surcharge. Namun di sisi lain, kebijakan proteksi yang lebih
banyak digunakan biasanya adalah dalam bentuk Nontariff Barrier, misalnya kebijakan larangan, sistem
kuota, ketentuan teknis, harga patokan, peraturan kesehatan, dan sebagainya.