Anda di halaman 1dari 32

MGMP PKn KLU

MATERI HASIL KEGIATAN MGMP PKn SMP KLU PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS TAHUN 2012

mgmppknklu

7 tahun yang lalu

Iklan

KEGIATAN WORKSHOP PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS

MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) PKn SMP

KABUPATEN LOMBOK UTARA

TAHUN 2012

MGMP PKn SMP

LOMBOK UTARA
DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) SMP

KABUPATEN LOMBOK UTARA

2012

PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS

(Pengembangan diri, Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatif )

A. PENGEMBANGAN DIRI

Pengembangan diri adalah upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri agar memiliki
kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan agar mampu melaksanakan tugas pokok
dan kewajibannya dalam pembelajaran/pembimbingan termasuk pelaksanaan tugas-tugas tambahan
yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah. Kegiatan pengembangan diri terdiri dari diklat fungsional
dan kegiatan kolektif guru untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensi profesi guru yang
mencakup kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana yang diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diklat fungsional
adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk mencapai standar
kompetensi profesi yang ditetapkan dan/atau meningkatkan keprofesian untuk memiliki kompetensi di
atas standar kompetensi profesi dalam kurun waktu tertentu, seperti kursus, pelatihan, penataran, atau
bentuk diklat lainnya.Sedangkan kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan
pertemuan ilmiah atau kegiatan bersama yang bertujuan untuk mencapai standar atau di atas standar
kompetensi profesi yang telah ditetapkan. Kegiatan kolektif guru mencakup : 1) kegiatan lokakarya atau
kegiatan kelompok guru (KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS, dan MKPS) atau in house training untuk
penyusunan perangkat kurikulum dan/atau kegiatan pembelajaran berbasis TIK, penilaian,
pengembangan media pembelajaran, dan/atau kegiatan lainnya untuk kegiatan PKB guru; 2) menjadi
pembahas atau peserta pada seminar, koloqium, diskusi pannel atau bentuk pertemuan ilmiah yang lain;
dan 3) kegiatan kolektif lain yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru. Kegiatan pengembangan diri
yang mencakup diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru tersebut harus mengutamakan kebutuhan
guru untuk pencapaian standar dan/atau peningkatan kompetensi profesi khususnya berkaitan dengan
melaksanakan layanan pembelajaran. Beberapa contoh materi yang dapat dikembangkan dalam kegiatan
pengembangan diri, baik dalam diklat fungsional maupun kegiatan kolektif guru, antara lain :

perencanaan pendidikan dan program kerja;

pengembangan kurikulum, penyusunan RPP dan pengembangan bahan ajar;

pengembangan metodologi mengajar;

penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik;

penggunaan dan pengembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) dalam pembelajaran;

inovasi proses pembelajaran;

peningkatan kompetensi profesional dalam menghadapi tuntutan teori terkini;

penulisan publikasi ilmiah;

pengembangan karya inovatif;

10. kemampuan untuk mempresentasikan hasil karya; dan 11. peningkatan kompetensi lain yang terkait
dengan pelaksanaan tugas-tugas tambahan atau tugas lain yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan di sekolah sesuai kebutuhan guru dan
sekolah, dan dikoordinasikan oleh koordinator PKB. Bukti pelaksanaan kegiatan pengembangan diri yang
dapat dinilai, antara lain :

Diklat fungsional yang harus dibuktikan dengan surat tugas, sertifikat, dan laporan deskripsi hasil
pelatihan yang disahkan oleh kepala sekolah.
Kegiatan kolektif guru yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dan laporan deskripsi hasil
kegiatan yang disahkan oleh kepala sekolah.

B. PUBLIKASI ILMIAH Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada
masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di
sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok
kegiatan, yaitu :

Presentasi pada forum ilmiah. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pemrasaran dan/atau narasumber
pada seminar, lokakarya, koloqium, dan/atau diskusi ilmiah, baik yang diselenggarakan pada tingkat
sekolah, KKG/ MGMP/ MGBK, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional.

Publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal. Publikasi dapat
berupa karya tulis hasil penelitian, makalah tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan
pembelajaran, tulisan ilmiah populer, dan artikel ilmiah dalam bidang pendidikan. Karya ilmiah ini telah
diterbitkan dalam jurnal ilmiah tertentu atau minimal telah diterbitkan dan diseminarkan di sekolah
masing-masing. Dokumen karya ilmiah disahkan oleh kepala sekolah dan disimpan di perpustakaan
sekolah.

Catatan :Bagi guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, karya ilmiahnya harus
disahkan oleh kepala dinas pendidikan setempat.

Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru. Buku yang dimaksud dapat
berupa buku pelajaran, baik sebagai buku utama maupun buku pelengkap, modul/diktat pembelajaran
per semester, buku dalam bidang pendidikan, karya terjemahan, dan buku pedoman guru. Buku
termaksud harus tersedia di perpustakaan sekolah tempat guru bertugas. Keaslian buku harus
ditunjukkan dengan pernyataan keaslian dari kepala sekolah atau dinas pendidikan setempat bagi guru
yang mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.

C. KARYA INOVATIF Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan
baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan
pengembangan dunia pendidikan, sains/ teknologi, dan seni. Karya inovatif ini dapat berupa penemuan
teknologi tepat guna, penemuan/ penciptaan atau pengembangan karya seni, pembuatan/ modifikasi
alat pelajaran/ peraga/ praktikum, atau penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya pada tingkat
nasional maupun provinsi.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


A. HAKEKAT PTK 1. Pengertian PTK Menurut Stephen Kemmis (1983), PTK adalah suatu bentuk kegiatan
penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilaku-kan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu
dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebe-naran dari (a)
praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap
praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan (David Hopkins, 1993: 44).
Sedangkan Tim Pelatih Proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa PTK adalah suatu bentuk kajian yang
bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari
tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan
yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan (M. Nur,
2001) 2. Tujuan PTK Tujuan PTK adalah untuk perbaikan dan pening-katan layanan profesional guru.Di
samping itu, sebagai tujuan penyerta PTK adalah untuk meningkatkan budaya meneliti bagi guru guna
memperbaiki kinerja di kelasnya sendiri. Dalam hubungannya dengan peningkatan profesionalisme guru,
kegiatan PTK penting untuk dilakukan dengan alasan: 1) PTK sangat kondusif untuk membuat guru
menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. 2) PTK dapat meningkatkan
kinerja guru sehingga menjadi profesional. 3) Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru
mampu memperbaiki proses pembelajaran di kelas. 4) Pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas
pokok seorang guru karena tidak perlu meninggalkan kelasnya. 5) Dengan PTK guru akan menjadi
kreatif. 3. Manfaat PTK Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu me-laksanakan PTK: 1)
Guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, sehingga
berkembang inovasi-inovasi pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan
pembelajaran. 2) PTK juga bermanfaat untuk pengembangan kurikulum dan untuk peningkatan
profesionalisme guru. 4. Prinsip-Prinsip PTK Terdapat enam prinsip yang mendasari PTK yang dijelaskan
Hopkins dalam Kardi (2000). Keenam prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Tugas utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang diterapkannya, sebaiknya tidak
mengganggu komotmennya sebagai pengajar.

Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga
berpeluang mengganggu proses pembelajaran.

Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta
merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi
kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk ”menjawab” hipotesis yang
dikemukakannya.

Masalah penelitian yang diambil oleh guru hendaknya masalah yang cukup merisaukannya, dan bertolak
dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri memiliki komitmen terhadap pemecahan masalah.

Dalam penyelenggaraan PTK, guru haruslah bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap
prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Meskipun kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK
sejauh mungkin harus digunakan classroom-exceeding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat
terbatas dalam konteks kelas dan / atau mata pelajaran tertentu (skala mikro), melainkan dalam
perspektif misi sekolah secara keseluruhan (skala makro).

5. Tahap – Tahap PTK PTK memiliki empat tahap yang dirumuskan oleh Lewin (Kemmis dan Mc Taggar,
1992) yaitu Planning (Rencana), Action (Tindakan), Observation (Pengamatan), dan Reflection (Refleksi).
Berikut ini adalah penjelasannya: 1) Planning (Rencana) Rencana merupakan tahapan awal yang harus
dilakukan guru sebelum melakukan sesuatu. Diharapkan rencana tersebut berpandangan ke depan, serta
fleksibel untuk menerima efek-efek yang tak terduga dan dengan rencana tersebut secara dini kita dapat
mengatasi masalah. 2) Action (Tindakan) Tindakan ini merupakan penerapan dari perencanaan yang
telah dibuat yang dapat berupa suatu penerapan model pembelajaran tertentu yang bertujuan untuk
memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan. 3) Observation (Pengamatan)
Pengamatan ini berfungsi untuk melihat dan mendoku-mentasikan pengaruh-pengaruh yang diakibatkan
oleh tindakan dalam kelas.Hasil pengamatan ini merupakan dasar dilakukannya refleksi sehingga
pengamatan yang dilakukan harus dapat menceritakan keadaan yang sesungguhnya. Dalam pengamatan,
hal-hal yang perlu dicatat oleh peneliti adalah proses dari tindakan, efek-efek tindakan, lingkungan dan
hambatan-hambatan yang muncul. 4) Reflection (Refleksi) Refleksi disini meliputi kegiatan: analisis,
sintesis, penafsiran (penginterpretasian), menjelaskan dan menyimpulkan. Hasil dari refleksi adalah
diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk
memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya. Dengan demikian, PTK tidak dapat dilaksanakan
dalam sekali pertemuan karena hasil refleksi membutuhkan waktu untuk melakukannya sebagai planning
untuk siklus selanjutnya. B. PELAKSANAAN PTK 1. Prosedur Pelaksanaan PTK PTK merupakan proses
pengkajian melalui sistema berdaur atau siklus dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Raka Joni
dan kawan-kawan (1998), terdapat 5 (lima) tahapan dalam pelaksanaan PTK. Kelima tahapan dalam
pelaksanaan PTK tersebut adalah: 1) Penetapan fokus masalah penelitian 2) Perencanaan tindakan
perbaikan 3) Pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan Interpretasi 4) Analisis data dan refleksi 5)
Perencanaan tindak lanjut Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya
permasalahan yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan
sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan / atau hasil belajar siswa, dan /
atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai adanya permasalahan
tersebut, yang besar kemungkinan masih tergambarkan secara kabur, guru kemudian menetapkan fokus
permasalahan secara lebih tajam, kalau perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara
lebih sistematis dan / atau melakukan kajian pustaka yang relevan. 1.1. Penetapan Fokus Masalah
Penelitian 1.1.1. Merasakan Adanya Masalah Kepekaan dan kepedulian guru dalam pembelajaran sangat
diperlukan. Sebab tanpa hal tersebut, tampaknya guru akan kesulitan memperoleh permasalahan PTK.
Oleh sebab itu, agar guru dapat menerapkan PTK dalam upayanya untuk mem-perbaiki dan/atau
meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional, ia dituntut keberaniannya untuk
mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat
dalam implementasi program pem-belajaran yang dikelolanya. Guru menyadari ada permasalahan dalam
belajar siswa. Misalnya : – Minat belajar siswa rendah – Partisipasi siswa di kelas rendah – Banyak siswa
yang sering tidak mengerjakan PR – Dari tahun ke tahun, banyak siswa tidak bisa menguasai suatu
konsep dengan benar. – Hasil tes siswa rendah,dll. 1.1.2. Identifikasi Masalah PTK Sebagaimana telah
dikemukakan penetapan arah PTK berangkat dari diagnosis terhadap keadaan yang bersifat umum. Guru
juga bisa merinci proses penemuan permasalahan tersebut dengan bertolak dari gagasan – gagasan yang
masih bersifat umum mengenai keadaan yang perlu diperbaiki. Menurut Hopkins (1993), untuk
mendorong pikiran – pikiran dalam mengembangkan focus PTK, kita bisa bertanya kepada diri sendiri,
misalnya: 1) Apa yang sedang terjadi sekarang? 2) Apakah yang terjadi itu mengandung permasalahn? 3)
Apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya? 1.1.3. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet
permasalahan melaui proses identifikasi ini, maka peneliti / guru kelas melakukan analisis terhadap
permasalahan – permasalahan tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. Menurut Abimanyu
(1995) arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut:

Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya, atau topic yang melibatkan guru
dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.

Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan / atau kekuasaan guru untuk
mengatasinya.

Pilih dan tetapkan permasalahn yang skalanya cukup kecil dan terbatas (manageable).

Usahakan untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan focus penelitian.

Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prioritas – prioritas yang ditetapkan dalam rencana
pengembangan sekolah.

1.1.4. Perumusan Masalah Setelah menetapkan focus permasalahan serta menganalisanya menjadi
bagian – bagian dan lebih kecil, maka selanjutnya guru perlu merumuskan permasalahan secara lebih
jelas, spesifik dan operasional. • Menguraikan masalah-masalah pokok yang menjadi pusat perhatian
penelitian dalam bentuk rangkaian pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan diuji melalui
penelitian yang dilakukan • Upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja
yang ingin dicari jawabannya • Dijabarkan dari identifikasi dan pembatasan masalah • Merupakan
pertanyaan yang lengkap/terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti
berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah • Mengarahkan cara berpikir peneliti • Memberi arah
pada kajian teroritis berdasarkan pengetahuan ilmiah yang relevan • Memberi arah dalam melakukan
pengujian secara empiris Contoh Rumusan Masalah: Apakah melalui X dapat meningkatkan Y ? Contoh
Judul: Upaya meningkatkan Y melalui X. Atau Melalui X untuk meningkatkan Y dst. 1.2. Perencanaan
Tindakan Perbaikan 1.2.1. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan Dilihat dari sudut lain,
alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan
mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatun tindakan dilakukan. Misalnya
jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan,
perbendaharaan kata akan meningkat dengan rata – rata 10 % setiap bulannya. Dari contoh ini, hipotesis
tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkkan masalah yang ingin diatasi dengan
penyelenggaraan PTK. Agar dapt menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, sebagai peneliti guru dapat
melakukan: 1) Kajian teoretik di bidang pembelajaran pendidikan 2) Kajian hasil – hasil penelitian yang
relevan dengan permasalahan 3) Diskusi dengan rekan – rekan sejawat, pakar pendidikan, peneliti lain,
dan sebagainya. 4) Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam
bentuk program, dan 5) Mereflesikan pengalamannya sendiri sebagai guru. Dari hasil kajian tersebut
dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. Menurut Soedarsono (1997) beberapa,
hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut: 1) Rumusan
alternatif tindakan perbaikan berdasar-kan hasil kajian. Dengan kata lain, alternatif tindakan perbaikan
hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. 2) Setiap alternatif tindakan perbaikan
yang dipertimbangkan perlu dikaji ulang dan dievaluasii dari segi relevansinya. Disamping itu juga perlu
ditetapkan cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat
namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. 3) Pilih alternatif tindakan serta
prosedur implemen-tasi yang dinilai paling menjanjikan hasil optimal namun masih tetap ada dalam
jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situasi sekolah yang aktual. 4)
Pikiran dengan seksama perubahan – perubahan ( perbaikan – perbaiakn) yang secara implisit dan
dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun tehnik
mengajar guru.

Contoh Rumusan Hipotesis Tindakan:

Melalui X dapat meningkatkan Y atau

Untuk meningkatkan Y dapat melalui X

1.2.2. Analisis kelaikan hipotesis tindakan

Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan maka selanjutnya perlu
dilakukan masing – masing hipotesis tindakan itu dari segi jarak yang terdapat antara situasi riil dengan
situasi ideal yang dijadikan rujukan. Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empiris. Ini berarti
bahwa baik proses implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat
teramati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. Menurut Soedarsono (1997)
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan adalah sebagai
berikut: 1) Implementasi suatu PTK akan berhasil, hanya apabila didukung oleh kemampuan dan
komitmen guru yang merupakan aktornya. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya
komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan 2) Kemampuan siswa juga
perlu diperhitungkan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial budaya maupun etik. 3) Fasilitas dan
sarana pendukung yang tersedia di kelas atau sekolah. 4) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan,
keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. 5) Karena sekolah juga
merupakan sebuah organisasai, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4) Iklim
kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. 1.2.3. Perencanaan Tindakan
Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti perlu melak-sanakan berbagai persiapan sehingga semua
komponen yang di-rencanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah per-siapan yang perlu
ditempuh adalah: 1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan
guru, di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implemen-tasi perbaikan
yang telah direncanakan. 2) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas,
seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. 3) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data
mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. 4)
Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan, sehingga
dapat menumbuhkan serta mempertebal keper-cayaan diri dalam pelaksanaan yang sebenarnya. 1.3.
Pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan Interpretasi 1.3.1. Pelaksanaan tindakan Kegiatan
pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK, dan pada saat yang
bersama-an kegiatan pelaksanaan tindakan ini juga diikuti dengan ke-giatan observasi dan interpretasi,
serta diikuti dengan kegiat-an refleksi. 1.3.2. Observasi dan Interpretasi Secara umum, observasi adalah
upaya merekam segala perstiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan berlangsung,
dengan menggunakan atau tanpa alat bantu. Perlu dicatat adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam
rekaman observasi secara seksama. 1.3.3. Diskusi ulang balikan (review discussion) Observasi kelas
akan memberikan manfaat apabila pelak- sanaannya diikuti dengan diskusi balikan. Hal ini bisa menjan-
jikan manfaat yang optimal jika: 1) Diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi 2) Digelar dalam
suasana yang mutually supportive dan non – threatening. 3) Bertolak dari rekaman data yang dibuat oleh
pengamat. 4) Diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat
dengan kerangka pikir tindakan perbaikan yang tengah digelar. 5) Pembahasan mengacu kepada
penerapan sasaran serta pengembangan strategi perbaikan untuk menentukan perencanaan berikutnya.
1.4. Analisis Data dan Refleksi 1.4.1. Analisis Data Analisis data dalam rangka refleksi setelah
implementasi suatu paket tindakan perbaikan, mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan
perbaikan dalam suatu siklus PTK sebagai keseluruhan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
1) Reduksi data, yakni proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan, dan peng-
abstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. 2) Paparan data, yakni proses penampilan
data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, representasi grafis, dan sebagainya. 3)
Penyimpulan, yakni proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan tersebut
dalam bentuk pernyataan kalimat dan / atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung penger-
tian yang luas. 1.4.2. Refleksi Refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi
dan/atau tidak terjadi, apa yang telah diha-silkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan
perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi ini digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut
dalam upaya mencapai tujuan PTK. 1.5. Perencanaan Tindak Lanjut Sebagaimana telah diisyaratkan
hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan telah dapat
mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. Jika hasilnya belum memuaskan,
maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau
apabila perlu, dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah
yang ada. C. PENYUSUNAN PROPOSAL PTK Berikut ini adalah sistematika Proposal PTK. 1. Judul Judul
dinyatakan dengan kalimat sederhana, namun tampak jelas maksud tindakan yang akan dilakukan dan
dimana penelitian dilangsungkan, jika diperlukan cantumkan penanda waktu catur
wulan/semester/tahun ajaran. Contoh: “Aplikasi Pendekatan Problem-Based Learning (PBL) Dapat
Meningkatkan Pembelajaran Sosiologi pada Kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta Tahun
Pelajaran 2005 – 2006” 2. Pendahuluan 2.1. Latar Belakang Masalah Menguraikan kondisi objektif yang
mengharuskan dilaksanakannya PTK. Kondisi ini merupakan hasil identifikasi guru terhadap masalah
proses pembelajar-an yang diselenggarakan. 2.2. Rumusan Masalah Mengemukakan masalah-masalah
yang akan dipecahkan melalui PTK yang akan dilaksanakan. Contoh: 1) Apakah dengan pendekatan
Problem-Based Learning dapat meningkatkan pembelajaran Sosiologi pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah
Negeri 2 Surakarta tahun pelajaran 2006 – 2007? 2) Bagaimana perubahan tingkah laku yang menyertai
peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning? 2.3. Tujuan
Penelitian Tujuan penelitian merupakan proses yang akan dilaku-kan atau kondisi yang diinginkan
setelah dilaksanakan PTK. Contoh: Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS
Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta. 2) Untuk mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan
pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah
Negeri 2 Surakarta. 2.4. Manfaat Hasil Penelitian Contoh: Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini
adalah: 1) Dapat meningkatkan kompetensi dan aktivitas pembelajaran para siswa kelas XII IPS Madrasah
Aliyah Negeri 2 Surakarta. 2) Dapat menganalisis perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan
pembelajaran Sosiologi melalui perlakuan khusus pendekatan Problem-Based Learning. 3. Kajian
pustaka Kajian pustaka berisikan ulasan-ulasan teoritis dengan konsep pembelajaran dan konteks PTK
yang akan dilaksanakan. 4. Metode penelitian Metode penelitian adalah tahapan-tahapan cara dalam
melaksanakan penelitian. Contoh kerangka rancangan PTK yang lazim digunakan sebagai berikut: 4.1.
Setting Penelitian Contoh : Penelitian ini berbasis kelas dengan lokasi kelas XII IPS Madrasah Aliyah
Negeri 2 Surakarta Propinsi Jawa Tengah.Akan dilaksanakan tahun 2005 – 2006 yang melibatkan siswa
berjumlah 40 siswa. 4.2. Subyek Penelitian Contoh: Subyek penelitian adalah siswa kelas XII Madrasah
Aliyah Negeri 2 Surakarta tahun pelajaran 2005 – 2006 yang berjumlah 40 siswa, sebagaimana
digambarkan dalam tabel (lampiran). 4.3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Contoh: Instrumen
pengumpulan data dalam PTK ini ada dua, yaitu instrumen tes dan nontes: 1) Tes Tes digunakan untuk
mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran 2) Non Tes Teknik non tes yang dipilih pada penelitian ini
ada 3 yaitu observasi, wawancara, dan jurnal. Observasi digunakan untuk mengetahui tentang respon
dan sikap siswa terhadap pemahaman Wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan dan sikap
siswa dalam pelaksanaan pendekatan PBL Jurnal digunakan untuk mengetahui berbagai gejala yang
muncul dan tercatat atau terekam pada saat penerapan pendekatan PBL baik yang bersifat maju maupun
mundur untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya 4.4. Validitas Data Contoh: Hasil belajar
(nilai tes) yang divalidasi instrumen tes menentukan validasi teoritik maupun validasi empirik (analisis
kualitatif dan kuantitatif). Proses pembelajaran (observasi dan wawancara) yang divalidasi datanya
melalui trianggulasi, baik sumber maupun metoda. 4.5. Analisis Data Contoh : Teknik yang digunakan
untuk analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif analitik dengan penjelasan sebagai
berikut: 1) Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan menggunakan deskripsi
persentase. Nilai persentase dihitung dengan ketentuan sebagai berikut: ��= ���� 100% R
Keterangan: NP = Nilai persentase NK = Nilai komulatif R = Jumlah responden 2) Data kualitatif yang
diperoleh dari observasi, wawancara dan jurnal diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan
fokus analisis. Data kuantitatif dan kualitatif ini kemudian dikaitkan sebagai dasar untuk mendeskripsikan
keberhasilan penerapan pendekatan PBL, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman konsep
modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi secara klasikal, dan perubahan tingkah laku yang
menyertainya. 4.6. Indikator Kinerja Contoh: Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK)
artinya penelitian dengan berbasis pada kelas.Dengan penelitian ini diperoleh manfaat berupa perbaikan
praksis yang meliputi penanggulangan berbagai masalah belajar siswa dan kesulitan mengajar oleh guru.
Untuk mengevaluasi ada tidaknya dampak positif terhadap tindakan, diperlukan kriteria keberhasilan,
yang ditetapkan sebelum tindakan dilakukan.Dari kegiatan refleksi ini, diperoleh ketetapan tentang hal-
hal yang telah tercapai menjadi bahan dalam merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Indikator kinerja
dari data kualitatif ditetapkan bahwa peningkatan partisipasi responden (siswa) dan peningkatan 4.7.
Prosedur Penelitian Contoh: PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur 4 tahap, yaitu (1)
merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) mengamati (observasi), dan (4) merefleksi. 5. Personalia
penelitian Yakni orang-orang yang terlibat dalam PTK, kalau PTK ini dilakukan secara kolaboratif. 6.
Rencana biaya penelititan Rancangan biaya penelitian yang menyangkut berbagai kebutuhan, seperti:
Bahan dan peralatan penelitian, alat peraga, ATK, penggandaan dan penjilidan, dan lain-lain. 7. Jadwal
kerja Contoh: Kegiatan Siklus I Waktu 1. Persiapan 2. Pelaksanaan Kegiatan Siklus II Waktu 1. Persiapan
2. Pelaksanaan 3. Penyusunan Laporann Akhir dan seminar 8. Daftar Pustaka 9. Lampiran Berisi
curriculum vitae peneliti atau tim peneliti. D. PENYUSUNAN LAPORAN PTK Selanjutnya apabila guru
pelaksana penelitian tindakan kelas sudah merasa puas dengan siklus-siklus tersebut, tentu saja langkah
berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatannya. Proses penyusunan laporan ini tidak akan
dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah ia lakukan. Format
laporan PTK berbeda-beda. Berikut ini akan diberikan dua contoh format penulisan laporan. Contoh 1:
PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Analisis Masalah
D. Perumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian BAB II FORMULASI SOLUSI DAN
KELAIKAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Formulasi Solusi 1. Kajian Teoritik 2. Kajian Hasil-hasil Penelitian yang
relevan (jika ada) 3. Kajian Hasil diskusi (dengan teman sejawat, pakar pendidikan, peneliti) (jika ada) 4.
Hasil refleksi pengalaman sendiri sebagai guru 5. Perumusan Hipotesis Tindakan B. Analisis Kelaikan
Hipotesis Tindakan BAB III METODE PENELITIAN A. Sasaran Penelitian B. Tempat dan Waktu Penelitian
C. Skenario Pembelajaran D. Fasilitas dan Sarana Pendukung E. Teknik Pengumpulan Data F. Teknik
Analisis Data BAB IV PELAKSANAAN TINDAKAN, OBSERVASI INTERPRETASI A. Pelaksanaan Tindakan B.
Observasi dan Interpretasi C. Diskusi Balikan BAB V ANALISIS DATA DAN REFLEKSI A. Analisi Data 1.
Reduksi Data 2. Paparan Data 3. Kesimpulan (terhadap data yang telah direduksi dan dipaparkan) B.
Refleksi 1. Analisis 2. Pemaknaan 3. Penjelasan 4. Kesimpulan (tentang keberhasilan/kegagalan tindakan
yang telah dilakukan) Contoh 2: PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B.
Identifikasi Masalah C. Pembatasan dan Rumusan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Hipotesis Tindakan F.
Manfaat Hasil Penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori (tentang B. Kajian Hasil Penelitian BAB
III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek Tindakan B. Setting/lokasi /subjek penelitian C. Metode
Pengumpulan Data D. Metode Analisis Data E. Cara Pengambilan Kesimpulan BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Selintas Tentang Setting B. Uraian Penelitian Secara Umum C. Penjelasan Per siklus D.
Proses Menganalisis Data E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN
SARAN A. Kesimpulan B. Saran

PENYUSUNAN RPP

A. Pengertian

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi
silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran,
materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. Sesuai dengan
Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari
silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada
satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran
berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

B. Komponen RPP

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru
merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan
pendidikan. Komponen RPP adalah: 1. Identitas mata pelajaran, meliputi: a. satuan pendidikan, b. kelas,
c. semester, d. program studi, e. mata pelajaran atau tema pelajaran, f. jumlah pertemuan. 2. standar
kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester
pada suatu mata pelajaran. 3. kompetensi dasar, adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam
suatu pelajaran. 4. indikator pencapaian kompetensi, adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau
diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian
mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja
operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 5.
tujuan pembelajaran, menggambarkan proses pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakter
bangsa yang ingin ditanamkan dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai
dengan kompetensi dasar. 6. materi ajar, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan
ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. 7. alokasi
waktu, ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar. 8. metode
pembelajaran, digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan
metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap
indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. 9. kegiatan pembelajaran : a.
Pendahuluan Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang
ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi
aktif dalam proses pembelajaran. b. Inti Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai
KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi,
dan konfirmasi. c. Penutup Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpulan, penilaian dan refleksi,
umpan balik, dan tindaklanjut. 10. Penilaian hasil belajar Prosedur dan instrumen penilaian proses dan
hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar
Penilaian. 11. Sumber belajar Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan
kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

C. PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPP

1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan
jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan
sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai,
dan/atau lingkungan peserta didik. 2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik Proses pembelajaran
dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif,
inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar. 3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis Proses
pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan,
dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. 4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut RPP
memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi. 5.
Keterkaitan dan keterpaduan RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara
SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan
sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.RPP disusun dengan mengakomodasikan
pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. 6.
Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan
teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan
kondisi.

D. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN RPP

Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari
mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran,
Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai
arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan. Penjelasan tiap-tiap
komponen adalah sebagai berikut.

1. Mencantumkan Identitas

Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar,
Indikator dan Alokasi Waktu. Hal yang perlu diperhatikan adalah : a. RPP boleh disusun untuk satu
Kompetensi Dasar. b. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar
kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat
dipisahkan) c. Indikator merupakan:

ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai
kompetensi dasar

§ penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

§ dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.

§ rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

§ digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

d. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam
pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 40 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu
kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada
kompetensi dasarnya.
2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Misalnya: Kegiatan pembelajaran:
”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”. Tujuan pembelajaran, boleh salah
satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat: 1. mendeskripsikan
mekanisme peredaran darah pada manusia. 2. menyebutkan bagian-bagian jantung. 3. merespon
dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya. 4. mengulang kembali
informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru. Bila pembelajaran dilakukan
lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu
pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.

3. Menetukan Materi Pembelajaran

Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator.

Contoh:

Indikator: Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.

Materi pembelajaran:

Ciri-Ciri Kehidupan:

Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.

4. Menentukan Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau
pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.
Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam
satu kegiatan pembelajaran peserta didik:

Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran


langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.

Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, e-learning dan
sebagainya.

5. Menetapkan Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap
pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka,
kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai
berikut:

1. Kegiatan Pendahuluan

§ Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara
menunjukkan benda yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan
slide animasi dan sebagainya.

§ Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.

§ Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan
berkaitan dengan gempa bumi, dsb.

§ Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa
penjelasanmateri pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.

§ Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar (sesuai
dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).

2. Kegiatan Inti
Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai
dengan skemata (frame work) masing-masing.Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar
peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan
pembelajaran dan indikator.

Untuk memudahkan, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS), baik yang
berjenis cetak atau noncetak. Khusus untuk pembelajaran berbasis ICT yang online dengan koneksi
internet, langkah-langkah kerja peserta didik harus dirumuskan detil mengenai waktu akses dan alamat
website yang jelas. Termasuk alternatif yang harus ditempuh jika koneksi mengalami kegagalan.

3. Kegiatan penutup

Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan.

Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat dengan memberikan tes tertulis atau tes lisan atau
meminta peserta didik untuk mengulang kembali simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya
jawab dengan mengambil ± 25% peserta didik sebagai sampelnya.

Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau
tugas sebagai bagian remidi/pengayaan.

2. Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan,


sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai
dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup
tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6. Memilih Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang
dikembangkan.Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan
bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa
yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus
dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.
Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang
diacu.

Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis namafile, folder penyimpanan, dan bagian
atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

7. Menentukan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai.

Contoh minimal Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai berikut :

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

A. Identitas

Nama Sekolah : ……………………………..

Mata Pelajaran : ……………………………..

Kelas, Semester : ……………………………..

Standar Kompetensi : ……………………………..


Kompetensi Dasar : ……………………………..

Indikator : ……………………………..

Alokasi Waktu : ….. x … menit (… pertemuan)

B. Tujuan Pembelajaran

C. Materi Pembelajaran

D. Metode Pembelajaran

E. Kegiatan Pembelajaran

Langkah-langkah :

Pertemuan 1

 Kegiatan Awal

 Kegiatan Inti

 Kegiatan Penutup

Pertemuan 2
 Kegiatan Awal

 Kegiatan Inti

 Kegiatan Penutup

Pertemuan 3.dst

F. Sumber Belajar

G. Penilaian

Mengetahui

Kepala Sekolah………………., Guru Mata Pelajaran,

……………………………. …………………….

NIP. NIP.

PENULISAN ARTIKEL JURNAL DAN

KARYA ILMIAH POPULER


A. Karya Ilmiah Populer

1. Definisi

Karya ilmiah populer adalah tulisan yang dipublikasikan di media massa (koran, majalah, atau
sejenisnya). Karya ilmiah populer dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi ini merupakan
kelompok tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan, berupa ide, atau gagasan pengalaman
penulis yang menyangkut bidang pendidikan pada satuan pendidikan penulis bersangkutan.

2. Kerangka Isi

Sedangkan kerangka isinya disesuaikan dengan persyaratan atau kelaziman dari media massa yang
akan mempublikasikan tulisan tersebut

B. Artikel Ilmiah Dalam bidang Pendidikan

1. Definisi

Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan adalah tulisan yang berisi gagasan atau tinjauan ilmiah dalam
bidang pendidikan formal dan pembelajaran di satuan pendidikan yang dimuat di jurnal ilmiah.

2. Kerangka Isi
Artikel ilmiah di bidang pendidikan umumnya mengikuti aturan dari jurnal yang akan memuat artikel
ilmiah dimaksud dan setidak-tidaknya berisi: 1) pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat; 2) kajian teori, yang menguraikan tentang teori-teori
yang relevan; 3) pembahasan, yang mengemukakan tentang gagasan/ide penulis dalam upaya
memecahkan masalah yang berkaitan dengan bidang pendidikan dan pembelajaran di sekolah/
madrasahnya. Pembahasan tersebut didukung oleh teori dan data yang relevan; dan 4) kesimpulan.

PENILAIAN KINERJA GURU

( PK-GURU)

A. Pengertian Penilaian Kinerja Guru

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun
2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya merupakan acuan dasar dalam menilai kinerja
guru maupun pengembangan karir dan kepangkatan guru, dimana dalam pasal 1 ayat 8 disebutkan
bahwa penilaian kinerja guru (PK Guru) adalah penilaian dari tiap butir kegiatan utama guru dalam
rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya. Dalam melaksanakan tugas utamanya, guru tidak
dapat melepaskan diri dari kemampuannya dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap,
serta bagaimana menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut dalam pembelajarannya di
sekolah, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007
tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Penguasaan kompetensi dan penerapan
pengetahuan serta keterampilan guru, sangat menentukan tercapainya kualitas proses dan hasil
pembelajaran peserta didik. Dalam Permendiknas ini, ditetapkan 4 (empat) kompetensi yang harus
dikuasai oleh seorang guru yang profesional, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi sosial,
kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional sesuai bidang tugas yang diembannya.Karena itu,
dikembangkan sistem penilaian kinerja guru berbasis bukti. Sistem PK Guru adalah sebuah sistem
pengelolaan kinerja berbasis guru yang didesain untuk mengevaluasi tingkatan kinerja guru secara
individu dalam rangka mencapai kinerja sekolah secara maksimal yang berdampak pada peningkatan
prestasi peserta didik.Ini merupakan bentuk penilaian yang sangat penting untuk mengukur kinerja guru
dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai bentuk akuntabilitas sekolah. Pada dasarnya sistem penilaian
kinerja guru bertujuan :
menentukan tingkat kompetensi seorang guru;

meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja guru dan sekolah;

menyajikan suatu landasan untuk pengambilan keputusan dalam mekanisme penetapan efektif atau
kurang efektifnya kinerja guru;

menyediakan landasan untuk program pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru;

menjamin bahwa guru melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya serta mempertahankan sikap-sikap
yang positif dalam mendukung pembelajaran peserta didik untuk mencapai prestasinya;

menyediakan dasar dalam sistem peningkatan promosi dan karir guru serta bentuk penghargaan lainnya.

Berkenaan dengan pelaksanaan PK Guru, mengacu pada peraturan yang disebutkan di atas, PK Guru
memiliki 2 (dua) fungsi utama berikut. 1. Untuk menilai unjuk kerja (kinerja) guru dalam menerapkan
semua kompetensi yang diperlukan pada proses pembelajaran. Dengan demikian, hasil PK Guru menjadi
profil kinerja guru yang dapat memberikan gambaran kekuatan dan kelemahan guru. Profil kinerja guru
juga dapat dimaknai sebagai suatu analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru yang
dapat dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan PKB Guru. 2. Untuk menghitung angka kredit
yang diperoleh guru atas kinerja guru. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian
dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsionalnya.
Hasil PK Guru diharapkan dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan
peningkatan mutu dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam
menciptakan insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi. C. Syarat Sistem PK Guru
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam PK Guru adalah : 1. Valid Sistem PK Guru dikatakan valid bila
aspek yang dinilai benar-benar mengukur komponen-komponen tugas guru dalam melaksanakan
pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah. 2.
Reliabel Sistem PK Guru dikatakan reliabel atau mempunyai tingkat kepercayaan tinggi bila proses yang
dilakukan memberikan hasil yang sama untuk seorang guru yang dinilai kinerjanya oleh siapapun dan
kapan pun. 3. Praktis Sistem PK Guru dikatakan praktis bila dapat dilakukan oleh siapapun dengan relatif
mudah, dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang sama dalam semua kondisi tanpa memerlukan
persyaratan tambahan. D. Prinsip Pelaksanaan PK Guru Agar hasil pelaksanaan dan PK Guru dapat
dipertanggungjawabkan, maka PK Guru harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Berdasarkan
ketentuan PK Guru harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan mengacu pada peraturan yang
berlaku. 2. Berdasarkan kinerja Aspek yang dinilai dalam PK Guru adalah kinerja yang dapat diamati dan
dipantau sesuai dengan tugas guru sehari-hari dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran,
pembimbingan, dan/atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah.

3. Berlandaskan dokumen PK Guru


Penilai, guru yang dinilai, dan unsur lain yang terlibat dalam proses PK Guru harus memahami semua
dokumen yang terkait dengan sistem PK Guru, terutama yang berkaitan dengan pernyataan kompetensi
dan indikator kinerjanya secara utuh, sehingga penilai, guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses PK
Guru mengetahui dan memahami tentang aspek yang dinilai serta dasar dan kriteria yang digunakan
dalam penilaian.

4. Dilaksanakan secara konsisten

PK Guru dilaksanakan secara teratur setiap tahun yang diawali dengan evaluasi diri, dengan
memperhatikan hal-hal berikut.

a. Obyektif

Dilaksanakan secara obyektif sesuai dengan kondisi nyata guru dalam melaksanakan tugas sehari hari.

b. Adil

Memberlakukan syarat, ketentuan, dan prosedur standar kepada semua guru yang dinilai.

c. Akuntabel

Dapat dipertanggungjawabkan.

d. Bermanfaat

Bermanfaat bagi guru dalam rangka peningkatan kualitas kinerjanya secara berkelanjutan, dan sekaligus
pengembangan karir profesinya.
e. Transparan

Memungkinkan bagi penilai, guru yang dinilai, dan pihak lain yang berkepentingan, untuk memperoleh
akses informasi atas penyelenggaraan penilaian tersebut. f. Berorientasi pada tujuan Berorientasi pada
tujuan yang telah ditetapkan. g. Berorientasi pada proses

PK Guru tidak hanya terfokus pada hasil, tetapi juga perlu memperhatikan proses, yakni bagaimana guru
dapat mencapai hasil tersebut.

h. Berkelanjutan

Dilaksanakan secara periodik, teratur, dan berlangsung secara terus menerus (on going) selama
seseorang menjadi guru.

i. Rahasia

Hanya boleh diketahui oleh pihak-pihak terkait yang berkepentingan.

E. Aspek yang Dinilai dalam PK Guru

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru terdapat 4 (empat) kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu,
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional dengan 14 (empat belas) subkompetensi
sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sedangkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Konselor menjelaskan bahwa seorang guru BK/Konselor juga harus memiliki (empat)
kompetensi (pedagogik, keperibadian, sosial, dan profesional) dengan 17 sub-kompetensi.
Pengembangan instrumen penilaian kinerja guru kelas/mata pelajaran dan guru BK/Konseloryang
mencakup 3 dimensi tugas utama dengan indikator kinerjanya masing-masing yang dinilai berdasarkan
unjuk kerja akibat kompetensi yang dimiliki oleh guru. Untuk masing-masing indikator kinerja dari setiap
dimensi tugas utama akan dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian yang lebih rinci untuk melihat
apakah unjuk kerja dari kepemilikan kompetensi tersebut tergambarkan dalam hasil kajian dokumen
perencanaan termasuk dokumen pendukung lainnya dan/atau hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh
penilai pada saat melakukan pengamatan dalam pembelajaran selama proses penilaian kinerja.
Sedangkan penilaian kinerja guru yang terkait dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah, dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu : 1. Tugas tambahan yang
mengurangi jam mengajar tatap muka meliputi

Kepala sekolah/ madrasah,

Wakil kepala sekolah /madrasah,

Ketua program keahlian/program studi atau yang sejenisnya,

Kepala perpustakaan;

Kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang sejenisnya.

2. Tugas tambahan yang tidak mengurangi jam mengajar tatap muka, meliputi

tugas tambahan minimal satu tahun (misalnya menjadi wali kelas, guru pembimbing program induksi,
dan sejenisnya) dan

tugas tambahan kurang dari satu tahun (misalnya menjadi pengawas penilaian dan evaluasi
pembelajaran, penyusunan kurikulum, dan sejenisnya).

PK Guru dengan tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka dinilai dengan
menggunakan instrumen khusus yang dirancang berdasarkan kompetensi dan sub-kompetensi yang
dipersyaratkan.

F. Perangkat Penilaian PK Guru

Perangkat yang harus digunakan oleh penilai untuk melaksanakan PK Guru agar diperoleh hasil penilaian
yang obyektif, akurat, tepat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah :

1. Pedoman PK Guru
2. Instrumen penilaian kinerja

Jenis instrumen PK Guru merupakan paket instrumen yang dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk
masing-masing indikator kinerja dari setiap tugas utama guru :

Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembelajaran untuk guru kelas/mata pelajaran

Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembimbingan untuk guru BK/ Konselor

Instrumen penilaian pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah

G. Prosedur dan Waktu Pelaksanaan PK Guru

1. Periode Pelaksanaan

PK Guru dilakukan sekali dalam setahun, tetapi prosesnya dilakukan sepanjang tahun terutama dalam
memantau unjuk kerja guru dalam mengimplementasikan kompetensi kepribadian dan kompetensi
sosial.Kegiatan PK Guru diawali dengan kegiatan evaluasi diri yang dilaksanakan pada awal semester
pertama. Rentang waktu antara pelaksanaan kegiatan evaluasi diri dan kegiatan PK Guru adalah 2 (dua)
semester. Dalam rentang waktu tersebut, guru wajib melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB Guru) untuk memperoleh pembinaan keprofesiannya sebelum mengikuti PK Guru.

a. Evaluasi Diri

Dilakukan untuk memperoleh profil kompetensi guru yang bermanfaat sebagai salah satu dasar bagi
kepala sekolah dan/atau koordinator PKB untuk merencanakan program PKB yang harus dilaksanakan
guru.Evaluasi diri dan penyusunan rencana PKB dilaksanakan dalam kurun waktu 4 – 6 minggu di awal
semester pertama.Dokumen evaluasi diri guru dan rencana PKB individu guru dapat dilihat dalam
Panduan PKB.

Bagi guru yang mutasi di pertengahan tahun ajaran, evaluasi dirinya dapat menggunakan hasil evaluasi
diri yang dilaksanakan di sekolah asal.
b. PK Guru

PK Guru dilakukan di akhir rentang waktu 2 semester setelah melaksanakan PKB yang telah
direncanakan, harus dilaksanakan dalam waktu 4 – 6 minggu di semester kedua. Hasil PK Guru digunakan
: (1) sebagai dasar usulan penetapan angka kredit tahunan guru kepada tim penilai angka kredit, (2)
sebagai salah satu dasar pelaksanaan PKB untuk rentang waktu 2 semester berikutnya disamping hasil
evaluasi diri yang harus dilakukan secara periodik sebagaimana telah dijelaskan di atas.

2. Metode PK Guru

PermenPAN dan RB 16/2009 mengelompokkan ke dalam 3 kelompok penilaian, yaitu :

a. Guru Kelas/ Mata Pelajaran

Dilakukan melalui pengamatan dan/atau pemantauan. Pengamatan adalah kegiatan untuk menilai
kinerja guru sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan proses pembelajaran. Sedangkan pemantauan
adalah kegiatan untuk menilai kinerja guru melalui pemeriksaan dokumen, wawancara dengan guru yang
dinilai, dan/atau wawancara dengan warga sekolah. Pengamatan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan
di kelas dan/atau di luar kelas tanpa harus mengganggu proses pembelajaran.

b. Guru BK/ Konselor

Dilakukan dengan pengamatan dan/atau pemantauan.Pengamatan adalah kegiatan penilaian terhadap


pelaksanaan layanan BK (layanan klasikal, layanan bimbingan kelompok, dan/atau layanan konseling
kelompok tidak termasuk layanan konseling individual).Sedangkan pemantauan adalah kegiatan
penilaian melalui pemeriksaan dokumen, wawancara dengan guru BK/ Konselor dan/atau wawancara
dengan warga sekolah.Khusus untuk layanan konseling individual, pemantauan dilakukan melalui
transkrip pelaporan layanan. Pengamatan kegiatan pembimbingan dapat dilakukan selama proses
pembimbingan baik yang dilakukan dalam kelas maupun di luar kelas, baik pada saat pembimbingan
individu maupun kelompok
c. Guru dengan Tugas Tambahan yang Relevan dengan Fungsi Sekolah

Metode pelaksanaan PK Guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah sama dengan
metode pelaksanaan PK Guru pembelajaran/ pembimbingan. Perbedaannya terletak pada pelaksanaan
penilaian kinerja yang mencakup 2 (dua) kegiatan penilaian kinerja untuk kegiatan pembelajaran/
pembimbingan dan penilaian kinerja tugas tambahan.Sedangkan nilai penilaian kinerja merupakan
penjumlahan dari prosentase yang telah ditetapkan dari nilai dua kegiatan penilaian kinerja tersebut.

d. Guru PNS di Sekolah Swasta

PK Guru terhadap guru PNS yang diperbantukan di sekolah swasta dilaksanakan dengan prosedur dan
tahapan penilaian yang sama dengan guru PNS yang bertugas di sekolah negeri. Penilaian dilakukan oleh
Kepala Sekolah dimana guru bertugas, kemudian hasil penilaian beserta dengan seluruh dokumen
pendukungnya diketahui oleh Kepala Sekolah Negeri yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota/Provinsi. Selanjutnya nilai kinerja tersebut dilaporkan ke Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota/Provinsi dan tim penilai angka kredit untuk ditetapkan Angka Kredit Tahunan bagi guru
tersebut.

3. Mekanisme Pelaksanaan PK Guru

a. Tahap Persiapan

Dalam tahap persiapan, penilai kinerja guru maupun guru yang akan dinilai, harus memahami pedoman
penilaian kinerja guru yang mencakup :

1) Konsep PK Guru;

2) Prosedur pelaksanaan PK Guru;

3) Instrumen PK Guru yang terdiri dari :


a) format hasil pemantauan dan pengamatan;

b) format PK Guru; dan

c) rekap hasil PK Guru, dan penggunaannya;

4) Tugas dan tanggung jawab penilai dan guru yang akan dinilai.

b. Tahap Pelaksanaan

1) Pelaksanaan Evaluasi Diri

Evaluasi Diri dilaksanakan dalam periode 4 – 6 minggu pertama di awal rentang waktu 2 semester, hasil
evaluasi diri digunakan guru untuk menyusun program PKB yang dilaksanakan sampai dengan menjelang
pelaksanaan PK Guru yang dilaksanakan dalam kurun waktu 4 – 6 diakhir rentang waktu 2 semester.
Setelah guru mengikuti PK Guru, maka hasil penilaian tersebut bersama-sama dengan hasil evaluasi diri
berikutnya dipergunakan untuk menyusun program PKB untuk periode selanjutnya. a) Pada saat
pelaksanaan evaluasi diri, guru kelas/ mata pelajaran harus juga menyusun dokumen pendukung
pembelajaran, antara lain : Program Tahunan, Program Semester, Silabus, RPP, Bahan Ajar, LKS,
Instrumen Penilaian, Nilai Hasil Belajar, Analisis Penilaian Hasil Belajar, Program Tindak Lanjut (Remidial
dan Pengayaan) dan Daftar Nama Peserta Didik; b) Dokumen pendukung yang harus diserahkan oleh
guru BK/Konselor antara lain Program Pelayanan BK, Instrumen dan Analisis Assesmen, RPL (Rencana
Pelaksanaan Layanan), Satlan (Satuan Layanan), Satkung (Satuan Pendukung), Instrumen dan Analisis
Evaluasi Proses serta Hasil dan Laporan Pelaksanaan Program BK (Lapelprog BK). c) Dokumen-dokumen
tersebut semuanya akan dikumpulkan pada saat pelaksanaan PK Guru dalam periode 4 – 6 minggu
terakhir di kurun waktu 2 semester setelah kegiatan evaluasi diri dan PKB dilaksanakan.

2) Pelaksanaan PK Guru
PK Guru dilaksanakan pada 4 – 6 minggu di akhir kurun waktu 2 semester menggunakan instrumen yang
dilengkapi dengan rubrik penilaiannya. PK Guru dilakukan dengan pengamatan dan/atau pemantauan
yang dilengkapi rubriknya dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : a) Sebelum Pengamatan
dan/atau Pemantauan

Dilakukan pertemuan awal antara penilai dengan guru yang akan dinilai. Guru kelas/ mata pelajaran
harus menyerahkan perangkat pembelajaran antara lain; Program Tahunan, Program Semester, Silabus,
RPP, Bahan Ajar, Lembar Kerja Siswa, Instrumen Penilaian, Nilai Hasil Belajar, Analisis Penilaian Hasil
Belajar, Program Tindak Lanjut (Remedial dan Pengayaan) dan Daftar Nama Peserta Didik.

Sedangkan guru BK/Konselor harus menyerahkan dokumen pelayanan BK berupa Program Pelayanan BK,
Instrumen dan Analisis Assesmen, RPL (Rencana Pelaksanaan Layanan)/ Satlan (Satuan Layanan)/Satkung
(Satuan Pendukung), Instrumen dan Analisis Evaluasi Proses dan Hasil dan Laporan Pelaksanaan Program
BK (Lapelprog BK).

Penilai melakukan penilaian terhadap semua dokumen perangkat pembelajaran/ pembimbingan.


Diskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas pokok guru dengan mengacu pada instrumen.

Catat semua hasil diskusi ke dalam instrumen untuk masing-masing indikator kinerja setiap tugas utama
guru sebagai bukti penilaian kinerja.

Sepakati jadwal pelaksanaan PK Guru, khususnya untuk kegiatan pengamatan dalam penilaian kinerja.

Untuk pelaksanaan PK Guru yang mendapat tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah
menggunakan instrumen sesuai dokumen penilaian kinerja tugas tambahan.

b) Selama Pengamatan (1) Pengamatan terhadap guru kelas/mata pelajaran Gunakan instrumen PK
Guru pembelajaran untuk menetapkan ketercapaian/ keterlaksanaan semua indikator secara valid,
reliabel, dan konsisten tentang hasil PK Guru, pengamatan dimungkinkan dapat dilakukan lebih dari satu
kali. (2) Guru BK/ Konselor

Menyerahkan dokumen layanan BK/ Konselor.

Lakukan pengamatan proses pelaksanaan layanan BK di dalam dan atau diluar kelas dan catat semua
kegiatan yang dilakukan oleh guru.

Gunakan instrumen PK Guru untuk menetapkan ketercapaian/ keterlaksanaan semua indikator secara
valid, reliabel, dan konsisten tentang hasil PK Guru, pengamatan dapat dilakukan lebih dari satu kali.

(3) Guru dengan Tugas Tambahan Dalam proses penilaian pelaksanaan tugas tambahan, data dan
informasi dapat diperoleh melalui pengamatan, wawancara dengan stakeholder (guru, komite sekolah,
peserta didik, Dunia Usaha/Dunia Industri mitra). Bukti-bukti yang dimaksud dapat berupa bukti yang
teramati (tangible evidences) seperti :  Dokumen-dokumen tertulis  Kondisi sarana/prasarana
(hardware dan/atau software) dan lingkungan sekolah  Foto, gambar, slide, video.  Produk-produk
siswa,dan/ atau bukti yang tak teramati (intangible evidences) seperti  Sikap dan perilaku kepala
sekolah  Budaya dan iklim sekolah Semua bukti yang teridentifikasi ditulis di tempat yang disediakan
pada masing-masing indikator penilaian. c) Setelah Pengamatan Setelah pengamatan dan/atau
pemantauan pembelajaran/ pembimbingan, penilai dapat melakukan, antara lain :

Dilakukan pertemuan antara penilai dan guru yang dinilai untuk mengklarifikasi beberapa aspek yang
masih

diragukan dan menyepakati program tindak lanjut dari hasil pengamatan/ pemantauan;

Catat semua hasil pertemuan pada instrumen PK Guru;

Jika penilai merasa belum cukup bukti untuk menentukan skor/nilai kinerja, maka penilai dapat
melakukan pengamatan ulang. Sampaikan kekurangannya kepada guru yang dinilai dan sepakati jadwal
pelaksanaan pengamatan ulang.

c. Tahap Pemberian Nilai

Pada tahap ini penilai menetapkan nilai untuk setiap indikator kinerja setiap dimensi tugas utama guru
dengan skala nilai 1, 2, 3, atau 4.Sebelum pemberian nilai tersebut, penilai terlebih dahulu
mengidentifikasi melalui pemantauan dan/atau pengamatan apakah setiap indikator kinerja untuk
masing-masing dimensi tugas utama guru dapat teramati dan/atau terpantau.

Iklan

Kategori: Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

MGMP PKn KLU

Blog di WordPress.com.

Kembali ke atas

Iklan