Anda di halaman 1dari 39

i

LITERATURE REVIEW

DISMENORE PRIMER DAN PENATALAKSANAAN NON


FARMAKOLOGI PADA REMAJA

OLEH

IDA ARIMURTI SANJIWANI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
karuniaNya karya ini yang berupa kajian beberapa literatur tentang dismenore
primer khususnya pada remaja dan beberapa teknik non farmakologi yang
diterapkan dan memberikan solusi untuk gejala dismenore berhasil disusun.

Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungannya selama


penyusunan dan pengajuan karya ini kepada para Pimpinan mulai dari Bapak
Rektor Universitas Udayana, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana,
Kepala Program studi Ilmu Keperawatan, kepada Kepala Perpustakaan di
lingkungan FK Universitas Udayana, serta para dosen dan staff di PSIK FK
Universitas Udayana.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu
kritik dan saran membangun diharapkan dapat menjadi perbaikan untuk karya ini
selanjutnya. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga tulisan ini
dapat membantu membangun dunia keperawatan.

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………….… i


KATA PENGANTAR……..……………………………………………….. ii
DAFTAR ISI ……..……………..………………………………………..… iii

Menstruasi dan Dismenore………………………………………………... 1


Terap Non Farmakologi ………………………………………………….... 9
Terapi Pijat dan akupresure ………………………………………………... 9
Aromaterapi……………… ………………………………………………... 13
Terapi Musik ……………………………………………………..………... 16
Terapi Suhu………………………………………………………..………... 17
Yoga ………………………………………………………………………... 18
Nutrisi dan Herbal …………………………..……………………………... 23

DAFTAR PUSTAKA

iii
1

KAJIAN LITERATUR

Menstruasi dan Dismenore

Menstruasi merupakan proses dalam kehidupan perempuan yang menjadi


pertanda perubahan fungsi tubuh untuk mampu bereproduksi yang diawali dengan
menarche atau haid pertama ketika berusia 10 hingga 17 tahun (Aflaq & Jami,
2012). Menstruasi merupakan perdarahan uterus secara periodik sekitar 14 hari
setelah terjadinya ovulasi yang berlangsung rata-rata setiap 28 hari namun dapat
juga berlangsung lebih sesuai dengan siklusnya (Lowdermilk, Perry, & Cashion,
2013). Berdasarkan tinjauan beberapa literatur tersebut dapat disumpulkan bahwa
menstruasi merupakan peristiwa yang terjadi pada perempuan berlangsungnya
peluruhan dinding uterus diiringi perdarahan yang terjadi setiap bulan bila tidak
terjadi proses fertilisasi. Salah satu keluhan yang dialami ketika berada pada
periode menstruasi yaitu dismenore.

Dismenore dari suku katanya dalam bahasa Yunani yaitu dys artinya menyakitkan
dan meno artinya bulanan dan rhea artinya aliran sehingga dismenore merupakan
menstruasi bulanan yang tidak nyaman (Perry, 2012). Dismenore merupakan nyeri
yang dirasakan pada sebelum atau selama menstruasi berlangsung (Lowdermilk,
Perry, & Cashion, 2013). Dismenore dapat dirasakan sebagai sensasi nyeri, kram,
kontraksi pada uterus yang lebih dari pada biasanya baik dalam intensitas,
frekuensi, dan durasinya dapat terjadi juga walaupun tanpa adanya masalah pada
organ reproduksi (Yakubova, 2012). Berdasarkan tinjauan pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa nyeri haid merupakan rasa tidak nyaman pada daerah
abdomen berupa nyeri dan kram yang timbul sebelum atau saat menstruasi
berlangsung.

Beberapa teori menyebutkan penyebab dismenore primer karena keluarnya


prostaglandin (PG) ketika haid berlangsung. PG merupakan hasil biosintesis dari
arachnoid acid dari hidrolisis phospholipid oleh phospholipase melalui sistem
Siklo Oksigenase (COX) (Dawood, 2006). PG dapat diproduksi di endometrium
saat menstruasi secara cepat sebagai respon terhadap peradangan, hipoksia, dan
trauma (Cunningham et al 2006). PG adalah asam lemak teroksigenasi dan
digolongkan sebagai hormon pada endometrium yaitu PGF2α. dan mempengaruhi
kontraksi otot polos. Pada dismenore terjadi sekresi PGF2α yang berlebihan
sehingga meningkatkan amplitudo dan frekuensi kontraksi otot polos uterus yang
menyebabkan vasospasme pada arteriol uterus yang menimbulkan iskemia dan
kram perut bawah (Lowdermilk, Perry, & Cashion, 2013).

Penelitian menyatakan penyebab lain yang diduga mempengaruhi nyeri saat


menstruasi adalah leukotrien yang diproduksi oleh endometrium terutama
leukotrien C4 dan D4 yang nilainya meningkat ketika menstruasi sehingga
menyebabkan hiperkontraktilitas uterus (Dawood, 2006). Pada situasi menstruasi
normal, kontraksi tonus kontraksi uterus adalah minimal (kurang dari 10 mmHg)
dengan frekuensi kontraksi berkisar tiga hingga empat kali dalam 10 menit yang
nilai tonus ototnya meningkat saat adanya kontraksi dapat mencapai 120 mmHg
dengan kontraksi yang berirama dan terkontrol.

Kondisi yang berbeda terjadi pada wanita yang mengalami dismenore yaitu
kontraksi basal otot utrus meningkat (lebih dari 10 mmHg) dengan frekuensi yang
lebih sering dan dapat meningkat melebihi 120 mmHg bahkan mencapai 150-180
mmHg, kontraksi dapat terjadi lebih dari empat kali dalam 10 menit, tidak ritmik
dan tidak terkontrol. Kondisi tersebut dapat menyebabkan uterus mengalami
perfusi yang tidak bagus dan hipoksia sehingga meningkatkan intensitas nyeri
(Dawood, 2006).

Dismenore memiliki gajala berupa rasa nyeri yang terjadi biasanya pada area
suprapubik atau bagian perut bawah, nyeri dapat terasa tajam, kram atau seperti
diremas dan dapat juga dirasakan nyeri tumpul yang menetap dan nyeri dapat pula
menjalar ke bagian pinggang bawah atau paha atas (Lowdermilk, Perry, &
Cashion, 2013). Sementara dikatakan bahwa sensasi nyeri pada payudara, merasa
lelah, mual hingga muntah, dan sakit kepala dapat pula dijumpai beberapa jam
sebelum atau saat menstruasi dimulai hingga hari kedua atau ketiga menstruasi

2
konsisten seiring dengan kadar prostaglandin dalam aliran darah mensrtuasi
(Hudson, 2007). Respon sistemik lainnya pada dismenore yaitu nyeri pinggang,
lemah, berkeringat, gejala pada gastrointestinal dan sistem saraf pusat seperti
ngantuk, pusing, sakit kepala dan konsentrasi buruk (Dawood, 2006).

Penelitian Adinma tahun 2008 menyatakan 66,2% remaja mengeluhkan nyeri


perut ketika menstruasi (Adinma & Adinma, 2008). Penelitian Dawood
menyatakan bahwa gejala dismenore dapat berupa rasa nyeri dan kram yang
fluktuatif yang umumnya dirasakan yang dimulai beberapa jam sebelum
menstruasi dan dapat berlangsung dua hingga tiga hari, selain itu dapat terjadi
nyeri pada punggung, pusing, mual, muntah, dan diare (Dawood, 2006). Gejala
sensasi yang berbeda seperti nyeri atau tidak nyaman pada payudara juga dapat
dijumpai pada saat mengalami dismenore (Kiesner, 2009). Gangguan dari sisi
psikologis berupa gangguan mood dapat dijumpai pada remaja dengan dismenore
(Kiran et al., 2012).

Berdasarkan kondisi klinisnya dismenore dibedakan menjadi dua yaitu dismenore


primer dan sekunder (Perry, 2012). Dismenore primer merupakan rasa nyeri dan
kram pada daerah perut ketika menstruasi yang terjadi tanpa adanya masalah
patologis dan biasanya muncul setelah menarche (Dawood, 2006). Dismenorea
sekunder merupakan nyeri yang berlangsung umumnya setelah 25 tahun yang
berhubungan dengan abnormalitas panggul seperti adenomiosis, endometriosis,
penyakit radang panggul, polip endometrium, mioma submukosa atau interstisial
atau akibat penggunaan alat kontrasepsi dalam kandungan yang tiba-tiba muncul
setelah sekian lama menstruasi tanpa gangguan nyeri yang berarti (Lowdermilk,
Perry, & Cashion, 2013). Penelitian menyatakan bahwa pada kondisi dismenore
sekunder juga dapat terjadi peningkatan kadar prostaglandin yang juga menyertai
adanya kelainan organ reproduksi yang umumnya dialami pada perempuan
dengan usia di atas 30 atau 40 tahun (Proctor & Farquhar, 2006).

Nyeri secara umum yang dipersepsikan seseorang sebagai sensasi yang tidak
nyaman dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kecemasan, budaya, keletihan,

3
pengalaman, koping dalam makna dan perhatian pada nyeri, serta dukungan
keluarga (Potter & Perry, 2006). Molton menyebutan usia berpengaruh pada nyeri
karena berkaitan dengan perubahan struktur, fungsi, serta myelinisasi saraf prifer
yang berkurang dan Farrell menyatakan volume otak juga menurun seiring usia
sehingga dijumpai pada usia lebih dewasa membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk dapat dipersepsikan nyeri. Travalaee menyatakan terdapat korelasi negatif
antara usia dengan dismenore (Farrell, 2012; Molton & Terrill, 2014; Tavallaee,
Joffres, Corber, Bayanzadeh, & Rad, 2011). Penelitian menyatakan, wanita lebih
sensitif terhadap nyeri dibandingkan pria dikaitkan dengan gender, hormon,
modulasi endogen nyeri (Fillingim, King, Dasilva, Williams, & L., 2009).

Pengaruh sosial budaya berkaitan dengan nyeri karena kondisi tersebut


berkontribusi membentuk perilaku seseorang dalam merespon nyeri yang
kemungkinan berbeda dari suatu daerah dengan daerah lainnya (Atarod, Alami,
Bahari, Hashemi, & Kianejad, 2013). Budaya berkaitan dengan norma, kebiasaan,
perilaku, dan keyakinan yang dapat berpengaruh pada respon individu terhadap
mengekspresikan nyeri serta pandangan dalam mencari cara mengatasi nyeri
(Shipton, 2013). Kaitan keletihan dengan nyeri yaitu keletihan mempengaruhi
penerimaan seseorang terhadap nyeri dan emosi (Loof, Johansson, Henriksson,
Lindblad, & Saboonchi, 2013).

Pengalaman terhadap nyeri dikatakan berkaitan dengan emosional wanita dan


pengalaman masa lalu dapat membentuk persepsi terhadap nyeri (Preis, Schmidt-
Samoa, Dechent, & Kroener-Herwig, 2013). Penelitian lainnya menyatakan
koping pria dan wanita berbeda dalam nyeri, pria lebih suka fokus mencari siasat
menangani nyeri, sementara wanita cenderung memanfaatkan dukungan sosial,
pikiran positif, kontrol emosi, dan pengalihan perhatian (Keogh & Eccleston,
2006). Penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara adanya dukungan
yang dirasakan terhadap respon rasa nyeri (Martinez, Zarazaga, & Maestre, 2008).

Rokok menjadi risiko dalam dismenore. Penelitian Lii dan timnya menemukan
bahwa perokok atau perokok pasif berisiko mengalami dismenore sebesar 1,6 kali

4
mengalami dismenore dari pada bukan perokok pasif karena rokok dapat
menyebabkan vasokonstriksi dan mengurangi aliran darah pada endometrium dan
kadar enzim metabolism kimia rokok (CYP1A1) meningkat pada perokok pasif.
Penelitian Amini menemukan paparan lebih dari 12 rokok perhari berpotensi 7,3
kali mengalami dismenore dibandingkan dengan tidak terpapar (Amini, Raden,
Hidayanti, Rosalia, Dewi, Yulia, & Indrayanto, 2011; Li et al., 2007)

Gizi perlu dipertimbangkan pada dismenore. Status gizi seperti penelitian Ju dan
timnya bahwa individu dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) kurang berisiko 1,34
kali mengalami dismenore dan gizi berlebih berisiko 1,33 kali yang diduga adanya
interaksi antara lemak tubuh dan hormon yang mengontrol seperti estrogen lebih
sedikit (Ju, Jones, & Mishra, 2014). Fujiwara dan Eittah sama-sama menyatakan
bahwa meninggalkan sarapan serta status kekurangan nutrisi dapat mempengaruhi
hipotalamis-hipofisis-ovarium dan meningkatkan insiden dismenore selain itu
Fujiwara menyatakan, banyak mengkonsumsi makanan manis dapat mengganggu
penyerapan vitamin dan mineral (Eittah, 2014; Fujiwara & Nakata, 2007)

Pengaruh paritas dan dismenore pada penelitian Unsal menjumpai bahwa


dismenore menurun pada wanita yang sudah melahirkan. Juang menyatakan,
melahirkan secara normal memiliki risiko lebih rendah dari pada secara sesarea
untuk terjadinya nyeri haid karena setelah melahirkan endometrium memproduksi
PG lebih sedikit, selain itu saraf pada endometrium mengalami degenerasi pada
myometrium selama menjalani kehamilan (Juang et al., 2006; Unsal, Ayranci, &
Tozun, 2010).

Pengetahuan dikatakan turut mempengaruhi perilaku seseorang dalam proses


perubahan perilaku kesehatan (Notoatmodjo, 2012). Penelitian Lestari dan tim
menyatakan pengetahuan mempengaruhi sikap remaja dalam pelaksanaan
perawatan diri selama menstruasi (Lestari, Mulyoto, Wujeso, Suryanti, &
Tamtomo, 2014). Penelitian lainnya menyatakan bahwa pengetahuan tentang
menstruasi juga berpengaruh terhadap kemampuan memanajemen nyeri (Harun,
Hakim, & Sartika, 2016).

5
Remaja merupakan dimulainya masa pubertas yang disertai juga dengan
munculnya tanda-tanda seks sekunder dan berfungsinya organ reproduksi (Nagar
& Aimol, 2010). Remaja merupakan masa pertumbuhan yang dialami individu
setelah melalui masa kanak-kanak seperti sesuai acuan World Health
Organization (WHO) pada usia 10 hingga 19 tahun demikian juga yang
dinyatakan oleh United Nations Emergency Children's Fund (UNICEF)
(UNICEF, 2011; WHO, 2016). Batasan usia remaja yang berbeda menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 25 Tahun 2014 yaitu 10-18
tahun. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sendiri
menyatakan remaja adalah kelompok umur 10-24 tahun (BKKBN, 2011).
Berdasarkan tahapnya pengelompokkan remaja menjadi dua bagian tersebut
remaja awal pada usia 10-14 tahun, dan remaja akhir 15-19 tahun (UNICEF,
2011).

Dismenore jarang dijumpai pada dua hingga tiga tahun pertama pasca menarche
karena biasanya saat itu menstruasi tidak sepenuhnya diiringi oleh ovulasi, namun
dismenore lebih sering terjadi pada remaja pada tahap lanjut yaitu proses kerja
hormon sudah lebih stabil dan ovulasi berlangsung disetiap siklus menstruasi
(Harel, 2006). Beberapa penelitian seperti oleh Khamdan menyebutkan remaja
yang nyeri saat menstruasi mengalami masalah berbagai keluhan fisik, selain itu
Joshi menjumpai dampak psikososial, dan Umeora menjumpai dampaknya hingga
aspek spiritual (Joshi, Kural, Agrawal, Noor, & Patil, 2015; Khamdan et al., 2014;
Umeora & Egwuatu, 2008).

Dismenore merupakan salah satu masalah ginekologi yang sering dikeluhkan oleh
perempuan terutama remaja yang dapat saja menyebabkan perempuan memilih
absensi dalam sekolah ataupun bekerja (Gumanga & Aryee, 2012; Harel, 2006).
Hambatan yang terjadi akibat munculnya keluhan-keluhan selama dismenore
diteliti di Universitas di Hong Kong ternyata menyebabkan gangguan konsentrasi
pada penderitanya (Chia et al., 2013). Dampak lain akibat adanya dismenore
diketahui bahwa perempuan cenderung menarik diri dari aktivitas harian ketika

6
mengalami dismenore (Proctor & Farquhar, 2006). Sejalan dengan penelitian
tersebut Harel juga menemukan bahwa dismenore dapat menyebabkan tidak nafsu
makan, gangguan tidur, tidak berdaya, bahkan depresi (Harel, 2006).

Dismenore dapat mengurangi kualitas hidup perempuan (Kumbhar et al., 2011).


Fungsi perempuan pada tahap lebih lanjut yaitu menjalani kehamilan memiliki
hubungan antara adanya dismenore dan kejadian hyperemesis gravidarum, dan
penelitian menemukan bahwa hiperemesis gravidarum memiliki hubungan yang
erat dengan kondisi dismenore berat (Enakpene, Dalloul, Petterkin, Anopa, &
Muneyyirci-Delale, 2012)

Self care merupakan upaya yang dilakukan individu secara mandiri untuk
memperoleh dan memelihara kesehatannya yang dilakukan secara
berkesinambungan dan pelaksanaannya dipengaruhi oleh tingkat perkembangan
individu, status kesehatan, serta lingkungan (Alligood, 2014). Self care mencakup
self care agency merupakan kemampuan yang dimiliki, self care demand
kemampuan seseorang dalam melakukan perawatan dirinya (Taylor &
Renpenning, 2011). Penelitian menyatakan bahwa kemampuan remaja dalam
melakukan self care dipengaruhi oleh faktor kebiasaan keseharian mereka baik
dari diri ataupun yang diperoleh dari meniru, fungsi pelayanan kesehatan,
lingkungan yang mendukung, media masa dan tenaga kesehatan disarankan untuk
dapat lebih memanfaatkan strategi yang lebih banyak dalam memberikan asuhan
khususnya perawat sekolah dalam membantu mengatasi dismenore pada remaja
putri (Chang & Chuang, 2012).

Berdasarkan teori self care Orem dalam kasus dismenore mengacu pada tindakan
yang diambil oleh individu untuk meningkatkan kenyamanan serta respon lainnya
yang terjadi yang disebabkan oleh dismenore tersebut. Dikatakan pula self care
dibedakan menjadi sua katagori orientasi internal individu seperti pemanfaatan
sumber yang ada dan kemampuan kontrol diri. Sementara, orientasi eksternal
yang meliputi mencari pengetahuan dan informasi, ekspresi dari perasaan dan

7
emosi, serta kemampuan mengontrol faktor eksternal (Kabirian, Abedian,
Mazlom, & Mahram, 2011).

Tindakan perawat yang dapat dilakukan sesuai teori self care Orem dalam
membantu memandirikan klien untuk mengatasi keluhan dan mempertahankan
kesehatan sangat penting. Hal tersebut sesuai dengan penelitian kualitatf yang
menyatakan bahwa wanita memerlukan sosok pendampingan dari para petugas
kesehatan berhubungan dengan proses menstruasi yang dijalani (Brantelid, Nilver,
& Alehagen, 2014). Perawat dapat menjadi seorang pendidik untuk meningkatkan
pengetahuan, sebagai sumber informasi tentang dismenore yang disampaikan
berdasarkan bukti ilmiah (Perry, 2012).

Penelitian lainnya menyatakan bahwa perawat dapat menjadi manajer dalam


berlangsungnya promosi kesehatan sehingga perawat perlu memiliki kompetensi
yang komprehensif dalam pelaksanaan pemberian asuhan baik dimilikinya
kemampuan/ skill, memiliki respek terhadap klien, kemampuan menjadi contoh/
role model, serta berperan dalam membantu klien memberikan pilihan sehingga
klien mampu menentukan keputusan pada dirinya tentang tindakan yang akan
dilakukan untuk meningkatkan status kesehatannya (Kemppainen, Tossavainen, &
Turunen, 2012).

Teknik-teknik untuk mengatasi keluhan haid yang dapat dilakukan secara mandiri
harus terus dikembangkan agar penderitanya mampu memberikan pertolongan
untuk diri sendiri (Self Care) (Chang & Chuang, 2012). Berdasarkan hal tersebut
maka berikut akan disajikan mengenai tinjauan dari beberapa literatur tentang
penerapan teknik non farmakologi dalam membantu mengurangi keluhan nyeri
haid yang dirasakan oleh remajan putri. Melalui hal ini maka remaja dapat
menentikan pilihan intervensi yang dapat dilakukan secara mandiri berdasarkan
bukti ilmiah selain konsumsi obat kimia dalam membantu kelancaran aktivitas
harian selama mengalami dismernore.

8
Terapi Non Farmakologi
Penanganan non farmakologi merupakan penanganan yang diberikan tanpa
penggunaan bahan kimia yang diupayakan dapat membantu mengurangi keluhan
selama haid. Teknik yang digunakan dapat seperti suhu hangat, usapan lembut
pada perut (effleurage massage), TENS, akupresur, akupuntur, aromaterapi, olah
raga, hingga perbaikan nutrisi (Lowdermilk, Perry, Cashion, 2013). Hudson
menyatakan bahwa penggunaan model terapi tanpa penggunaan obat dapat
diterapkan pada dismenore baik dari ringan, sedang, hingga berat dengan dapat
melakukan salah satu model terapi atau mengkombinasikannya dengan terapi
lainnya untuk mencapai tujuan yang lebih optimal (Hudson, 2007).

Terapi Pijat
Terapi pemijatan merupakan metode yang popular untuk relaksasi dengan
memberikan manipulasi pada bagian tubuh menggunakan sentuhan ataupun
pemberian penekanan secara lembut menggunakan jari tangan, lengan bawah, atau
siku, bahkan dengan kaki (Sherman et al., 2010). Mekanisme pijat dapat
mengatasi nyeri menganut paham teori gate control dengan memanipulasi kerja
mielinisasi serabut saraf penghantar nyeri menuju otak berkurang sehingga nyeri
dihantarkan lebih lama bahkan terhambat, dan stimulus pijatan dapat mencapai
otak lebih cepat sehingga “menutup gerbang” masuknya persepsi nyeri (Field,
Diego, & Hernandez-Reif, 2007).

Penelitian lainnya menyatakan bahwa pijatan dapat memberikan efek relaksasi


karena dapat meningkatkan sirkulasi oksigen pada jaringan sehingga dapat
mengurangi nyeri (Apay, Arslan, Akpinar, & Celebioglu, 2012). Hasil tersebut
sejalan dengan penelitian Azima (2015), dengan cara RCT menyatakan massage
cukup efektif dipilih dalam mengurangi nyeri karena efek relaksasinya. Sehingga
ketika seseorang merasakan sensasi nyeri dengan memberikan relaksasi
diharapkan persepsi terhadap nyeri tersebut dapat berkurang bahkan hilang.

Pijatan dapat diaplikasikan pada bagian tubuh guna mendapatkan kenyamanan.


Pada kasus dismenore, penerapan pijat juga langsung dapat dilakukan pada area

9
abdomen yang dilakukan dengan teknik yang lembut. Teknik pijatan pada
abdomen adalah dengan memposisikan otot perut rileks, selanjutnya hangatkan
tangan dan usap perut dengan mengaplikasikan minyak pada area di atas simpisis
dan di atas umbilikus dengan pijatan melingkar searah jarum jam dengan
menggunakan telapak tangan kanan yang disatukan dengan tangan kiri selama 15
menit dilakukan sejak dua hari sebelum perkiraan menstruasi (Azima,
Bakhshayesh, Kaviani, Abbasnia, & Sayadi, 2015).

Han dan timnya menyatakan bahwa pemberian pijatan lembut pada perut bawah
selama 15 menit dan dipadukan menggunakan minyak esensial dinyatakan dapat
meningkatkan sirkulasi oksigen pada jaringan serta meningkatkan produksi
endorphin lebih baik (Han, Hur, Buckle, Choi, & Lee, 2006). Hal tersebut
didukung oleh penelitian selanjutnya yang kembali membuktikan bahwa
pemijatan pada daerah abdomen dengan tambahan penggunaan minyak
aromaterapi menyatakan rata-rata skala nyeri yang lebih rendah ketika mengalami
dismenore dibandingkan dengan kelompok remaja yang diberikan pijatan dengan
placebo saja.

Penelitian lain di wilayah Iran yang sejalan tentang keberhasilan penerapan


pijatan untuk mengurangi nyeri haid menyatakan pijatan yang dilakukan walau
hanya dilakukan sebagai placebo ternyata juga memberikan peningkatan
kenyamanan dari nyeri haid meskipun nilai peningkatan rasa nyaman lebih rendah
dari pada pijatan yang dikombinasikan dengan aroma terapi lavender
(Bakhtshrinin, Abedi, Yusefijoy, Razmjoee, 2015). Hal ini membuktikan bahwa
kombinasi dua teknik nonfarmakologi tersebut akan lebih baik digunakan pada
kasus dismenore dibandingkan dilakukan secara terpisah (Eryilmaz & O zdemir,
2009).

Akupresure

Akupresure merupakan teknik yang serupa dengan memanfaatkan penekanan


pada tubuh pada lokasi titik tertentu. Penerapan akupresure tidak semuanya dapat
dilakukan mandiri namun dilakukan oleh akhlinya atau sudah memperoleh

10
pelatihan sebelumnya dan bila dilakukan tidak berisiko fatal secara mandiri atau
tergolong aman. Penelitian menunukkan saat ini akupresure merupakan teknik
yang mulai popular diterapkan sebagai metode mengredakan nyeri yang mengacu
pada metode pengobatan China, seperti penerapan penekanan pada titik akupuntur
meridian yang dapat melanjarkan peredaran daraah dan mengurangi nyeri (Chen
& Chen, 2010). Penelitian di Iran menyatakan bahwa penerapan akupresure pada
titik SP6 selama 120 siklus dengan durasi penekanan oleh ibu jari selama delapan
detik dan dua detik untuk istirahat (Ajorpaz, Hajbaghery,& Mosaeby, 2011).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan Chen & Chen (2010), menyatakan bahwa
dismenorea berhasil membaik gejala nyeri yang dirasakan melalui penerapan
penekanan pada titik Zuehai (SP 10) dan Sanyinjiao (SP 6) dan penekanan
tunggalpada SP 6 saja ternyata cukup efektif serta tidak memerlukan biaya yang
besar untuk meredakan nyeri serta ansietas ketika dismenore. titik penekanan
lainnya yang berfungsi untuk memberikan terapi pada organ gastrointestinal yaitu
zusanli terkadang ada yang menerapkannya sebagai kombinasi dengan titik Hegu
dan sanyijiao dalam masalah pencernaan selama dismenorrea.

Keberhasilan yang diperoleh melalui akupresure pada titik Hegu dan Sanyijnjiao
merupakan manifestasi dari implementasi teori gate control yang dapat
menjelaskan alasan berkurangnya sensai nyeri yang diterima yaitu oleh adanya
interaksi antara saraf nosiseptor dan non nosiseptor dan kontrol desenden dari
sistem saraf pusat. Stimulasi peekana pada titik tersebut dapat memproduski
analgesia melalui aktivasi aktivitas desenden saraf yang secara langsung maupun
tidak langsung menghambar nosiseptor pada lamina tulang belakang dan juga
kemungkinan dapat mengaktivasi sistem opioid endogen (Kaptchuck, 2002).

Pada penelitian yang dilakukan Chen & Chen (2010), pelaksanaan akupresure
yang diterapkan mandiri selama 20 menit pada tiga hari pertama menstruasi oleh
responden selama enam bulan pengamatan dengan sebelumnya seluruh responden
telah dilatih dalam penerapan mandiri. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
perapan pada titik hegu dan sanyinjiao memang meredakan nyeri haid. Namun

11
penekanan tunggal pada titik hegu hanya meredakan nyeri tidak sampai dapa
menstrual distress dan ansietas yang dirasakan. Sedangnkan titik zusanli tidak
menunjukkan efek perubahan yang signifikan pada dismenorea maupun ansietas.
Depresi, ansietas dan gangguan interaksi sosial berkaitan dengan nyeri haid,
karena jika selama nyeri haid dapat ditangani otomatis kecemasan juga dapat
berkurang.

Penelitian lainnya yang khusus hanya menguji pengaruh penekanan pada titik SP
6 menunjukkan bahwa intervensi tersebut efektif dalam meredakan dismenore
pada satu, dua, dan tiga jam pengamatan pasca intervensi. Hasil pada kelompok
kontrol yang juga melakukan penekanan lembut pada titik yang sama
menunjukkan perubahan namun tidak signifikan. oleh karena itu kualitas dan
durasi penekanan dinyatakan perlu dikaji lebih lanjut untuk memberikan efek
yang maksimal. (Ajorpaz, Hajbaghery,& Mosaeby, 2011).

Penelitian lainnya yang menerapkan metode akupresur pada daerah telinga juga
pernah diteliti manfaatnya dalam membantu menangani dismenore. diketahui
bahwa penekanan pada enam titik pada area auricular ini yang dilakukan oleh akhi
menunjukkan bahwa nyeri haid mereda pada penerapan penekanan yang tepat
lokasi. Pada penelitian ini pula diketahui bahwa penerapan penekanan pada daerah
auricular pada kelompok kontrol dengan teknik penekanan placebo ternyata juga
memberikan efek pada gejala nyeri dibandingkan tanpa diperlakukan apapun. Hal
tersebut menunjukkan bahwa interaksi antara terappist dan pasien juga
memberikan efek. Kajian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa titik-titik yang
dilakukan antara penekanan sungguhan dan placebo berdekatan satu sama lain
yang kemungkinan juga terstimuli dengan proses yang hampir serupa. Maka dari
itu penelitian serupa lebih lanjut perlu memberikan penekanan yang lebih tegas
pada titik-titik inti utama dibandingkan dengan penekanan pada titik placebo yang
juga dimanipulasi (Yeh, Hung, Chen, Wang, 2013).

12
Aromaterapi
Aromaterapi merupakan salah satu teknik Complementary Alternative Medicine
yang menggunakan minyak esensial berasal dari tumbuhan yang dapat diperoleh
khasiatnya melalui aplikasi topikal atau secara inhalasi (Han et al., 2006). Aroma
minyak yang terhirup akan bereaksi pada saraf penciuman yang akan dihantarkan
hingga saraf pusat dan memengaruhi pikiran untuk mencapai relaksasi, sementara
aplikasi pada kulit memungkinkan minyak akan terserap dari pori-pori menuju
pembuluh darah dan memberikan efek rilaksasi otot (Hur, Song, Lee, & Lee,
2014). Hasil penelitian 10 systematic review yang dilakukan Lee dan timnya
tentang aromaterapi dikatakan bahwa pemanfaatan aromaterapi merupakan terapi
yang efektif diterapkan pada beberapa kondisi baik psikologis maupun fisik (Lee,
Choi, Posadzki, & Ernst, 2012).

Penelitian Han menyatakan jenis minyak yang dapat mengurangi kram perut yaitu
jenis lavender, cary sage, rose (Han et al., 2006). Penelitian Marzouk
menyatakan juga jenis minyak yang dapat digunakan untuk diusapkan pada perut
adalah campuran cinnamon oil, rose, clove, juga lavender pada minyak almond,
dan tidak ada laporan adanya efek samping dalam mengatasi nyeri (Marzouk, El-
Nemer, & Baraka, 2013). Hasil penelitian Apay dan timnya menyatakan bahwa
penggunaan minyak aromaterapi yang diusapkan pada daerah perut dapat
menurunkan nyeri lebih banyak yaitu dari 82,38% menjadi 51,13% dengan
lavender dibandingkan 82,38% menjadi 51,13% pada plasebo dengan minyak soft
parafin (Apay et al., 2012).

Salah satu jenis aromaterapi yang sering digunakan dalam keperawatan yaitu
lavender karena kandungan di dalamnya seperti antidepresan juga antibiotika
diyakini dapat membantu mengurangi kecemasan dan menurunkan sensasi nyeri
(Bakhtshrinin, Abedi, Yusefijoy, Razmjoee, 2015). Penelitian secara random yang
dilakukan Matsumoto menyatakan bahwa aromaterapi lavender dapat
meningkatkan kerja saraf parasimpatis dan meningkatkan ketenangan dalam
waktu minimal 10 menit (Matsumoto, Asakura, & Hayashi, 2013). Pemberian
aplikasi minyak lavender pada permukaan kulit dinyatakan dapat meningkatkan

13
relaksasi otot, suplai darah menuju jaringan disekitarnya dan meningkatkan
elastisitasnya (Atarha, Vakilian, Ruzbehani, Bekhradi, 2009). Penelitian lain
menemukan bahwa tidak ada efek yang berbeda terhadap perubahan intensitas
nyeri yang terjadi pada kasus dismenore ketika minyak lavender diinhalasi atau
digunakan dalam massage (Choi, 2009).

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rose dengan quasi eksperimental


ditemukan bahwa pengukuran setelah 15 menit pasca pemberian aromaterapi
sudah menunjukkan penurunan nyeri pada abdomen dari mean score pre test 6,37
menjadi 2,50 pada post test (Rose, Ambika, & Williams, 2013).Penelitian lainnya
tentang pemilihan penggunaan minyak esensial lavender pada kasus dismenore
juga menunjukkan keberhasilan dalam megurangi gejala nyeri haid pada
responden dengan usia 18 sampai 24 tahun dengan hasil skor nyeri yang berbeda
hampir 50% jika minyak lavender diaplikasikan bersamaan dengan pijatan
(Bakhtshrinin, Abedi, Yusefijoy, Razmjoee, 2015).

Beberapa penelitian tentang aplikasi aromaterapi untuk kasus nyeri dapat


diketahui bahwa ketika minyak aromaterapi yang diberikan dengan cara dioleskan
secara topikal ataupun diinhalasi dapat diabsorbsi oleh pembuluh darah dan
kandungan minyak tersebut dapat berlangsung hongga 90 menit (Bakhtshirin, et al,
2015). Penelitian lainnya menjumpai rata-rata efek yang diberikan yaitu 19 menit
setelah aplikasi dan bekerja pada plasma untuk memberikan efek rilaksasi dan
dipercaya pula bahwa efek yang diberikan oleh minyak esensial untuk
aromaterapi adalah efek jangka pendek dan tidak terakumulasi dalam jaringan
tubuh (Bahrainy, Nagi, Manani, 2011).

Penelitian menemukan bahwa aroma lavender yang dihirup ketika seorang


perempuan mengalami periode premenstrual sindrom (PMS) dengan durasi yang
singkat pada fase late lutheal, maka dapat mempengaruhi sistem saraf dan
memperbaiki emosi yang cenderung labil ketika menstruasi (Matsumoto, 2013).
Penelitian lainnya menyatakan bahwa stimulasi selama 20 menit pada saraf
olfaktorius dinyatakan dapat menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan 17 β

14
estradiol yang memicu penurunan ansietas (Fukui et al, 2011). Mengetahui efek
tersebut berarti aromaterapi lavender dapat memberikan respon terhadap
psikologis saat menjelang maupun ketika menstruasi dan dismenore berlangsung.
Proses tersebut dapat berlangsung karena aroma lavender juga memodulasi
aktivasi cyclic adenosine monophosphate (cAMP) yang memberikan efek sedasi.
Sebelumnya aroma lavender yang diinhalasi dan kemudian ditangkap oleh saraf
olfaktorius tersebut akan diteruskan ke sistem saraf pusat dan sistem limbik, pusat
dari fungsi autonomi akan emosi. Sehingga manfaatnya diharapkan berguna baik
untuk fisik maupun pikiran bagi perempuan khususnya dalam menjalani perode
menstruasi (Matzumoto, Asakura, Hayashi, 2013).

Jenis aromaterapi yang lain yang digunakan untuk kasus dismenore yaitu
aromaterapi jahe dan peppermint seperti penelitian yang pernah dilakukan kepada
remaja dengan dismenore sedang hingga berat. Dikatakan bahwa pemberian
olesan minyak aromaterapi jahe atau pepermin selama 15 menit dapat
menurunkan sensasi nyeri dan lokasinya. Pepermin diketahui memberikan efek
pada durasi nyeri, meringankan anoreksia atau masalah pencernaan seperti diare
atau konstipasi, dan mempengaruhi mood. Efek yang diberikan oleh aromaterapi
jahe yaitu mengurangi mual, pusing, dan sakit kepala (Rizk, 2013).

Teori pada penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa aromaterapi jahe dapat
menghambat kerja enzim cyclooxygenase dan lipooxigenase sehingga terjadi
reduksi pada leukotriene dan prostaglandin yang menyebabkan berkurangnya
nyeri (Ozgoli et al, 2009). Pada penelitian lain menyatakan bahwa aromaterapi
jahe memiliki efek anti emetik sehingga memberikan rasa nyaman pada individu.
Aromaterapi jahe juga memberikan dampak untuk meningkatkan sirkulasi darah
sehingga sakit kepala dan pusing yang dirasakan ketika dismenore dapat
berkurang (Ozgoli et al, 2009).

Aroma terapi jenis pepermin dinyatakan dapat memberikan efek pada gejala
premenstruasi terutama pada masalah pencernaan karena dengan sensasi mentol
yang diberikan dapat menjadi antispasme secara langsung pada otot polos pada

15
saluran pencernaan, dan selain itu pepermin diketahui juga dapat mengurangi
produksi gas dan flatulensi dengan merelaksasi spingter esophagus. Pepermin juga
memberikan efek yang baik untuk meningkatkan memori, kesadaran, dan
meningkatkan mood (Moss et all, 2008). Berdasarkan pernyataan teori dan bukti-
bukti dari beberapa penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan aromaterapi
dapat membantu menangani masalah fisik Maupin psikologis termasuk saat
dismenore.

Terapi musik
Terapi musik adalah sebuah aktivitas terapeutik yang menggunakan musik sebagai
media untuk memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental, fisik, dan
kesejahteraan emosi (Djohan, 2009). Peran musik dalam menurunkan nyeri yaitu
sesuai dengan teori gate control, musik menghambat proses pengantaran stimulus
nyeri melalui spinal cord sehingga otak tidak lagi melanjutkan persepsi terhadap
nyeri (Tamsuri, 2006). Penelitian Lii pada pasien kanker payudara yang menjalani
mastectomy yang menerapkan terapi musik baik tempo singkat maupun lama
dinyatakan mampu mengurani nyeri yang dirasakan (Li, Yan, Zhou, Wang, &
Zhang, 2011).

Penelitian quasi eksperimen pada 60 remaja menyatakan bahwa mendengarkan


musik selama 30 menit baik selama menstruasi atau sejak tujuh hari sebelum
menstruasi dapat menekan gejala fisik maupun psikologis yang timbul
(Kushalappa, Lakshmanagowda, Shwetha, & Brathi, 2015). Hal serupa dijumpai
pada penelitian Nilsson menyatakan oksitosin menurun setelah mendengarkan
musik selama 30 menit (Nilsson, 2009). Melalui kondisi tersebut maka sensasi
nyeri yang dirasakan berkurang.

Mendengarkan musik dapat menjadi sarana pengalihan dari rasa nyeri dan
mengurangi perasaan negatif, selain itu penelitian Mitchel menjelaskan pada
penelitiannya yang bahwa pemilihan musik yang oleh individu khususnya pada
perempuan lebih memberikan dampak positif terhadap mengurangu persepsi
nyerinya (Mitchell, MacDonald, & Knussen, 2008). Penelitian lainnya

16
menyatakan bahwa mendengarkan pilihan musik sendiri dapat lebih menurunkan
emosi yang negatif pada mahasiswa setelah diberikan stressor (Labbe, Schmidt,
Babin, & Pharr, 2007). Pemilihan musik dengan tema yang sedih harus dihindari
karena dapat mempengaruhi psikologis melalui kemampuannya dalam
mengingatkan kenangan masa lalu dan diketahui pula lagu yang baru pertama kali
didengar lebih meningkatkan simpati kesedihan dari pada yang sudah familiar
(Vuoskoski & Eerola, 2012). Penerapan terapi musik bagi kalangan muda
dikatakan dapat memberikan efek yang baik pada kinerja terutama musik yang
sudah popular dan dikenal dibandingkan musik yang belum dikenal, diketahui
pula tempo musik tidak begitu berpengauh pada perubahan dari responden (Bruin
et al., 2015).

Penegasan bahwa pemanfaatan musik yang memang dekat dengan keseharian


remaja juga disampaikan karena dapat memberikan efek psikobiologikal terhadap
kondisi stress tubuh, serta berpengaruh pada system saraf autonom dan hormon
tubuh (Thoma et al., 2013). Diketahui bahwa jika individu salah memilih jenis
musik yang didengarkannya seperti musik yang memiliki kenangan buruk, sedih,
nada terlalu tinggi maka sensasi relaksasi tidak akan dapat tercapai (Tol &
Edwards, 2014). Penelitian lainnya menyatakan bahwa kegiatan lainnya seperti
mendengarkan musik yang memberikan aura positif juga baik dilakukan setiap
hari minimal 30-60 menit sehari dapat membantu meningkatkan hormon relaksasi
(Kushalappa, Lakshmanagowda, Shwetha, & Brathi, 2015; Nelson, 2014). Pada
tingkat remaja, pemahaman ini baik diperkenalkan agar mereka menyadari
kebiasaan mereka mendengarkan musik dapat dimanfaatkan lebih baik dalam
mengatasi dismenore.

Terapi Suhu
Pemanfaatan suhu hangat sebagai terapi kompres merupakan metode pemanfaatan
konduksi suhu yang untuk memberikan efek relaksasi, vasodilaasi pembuluh
darah, sehingga oksigen, sari makanan dapat lebih banyak terserap pada jaringan
tersebut yang dibuktikan dengan berkurangnya nyeri dan bengkak pada
pemasangan infus dengan kompres hangat (Sriwahyuni & Yuswanto, 2014). Alat

17
yang dipergunakan untuk melakukan kompres hangat dapat menggunakan alat
mulai yang modern misalnya heating pad, hot silica atau cara konvensional
seperti kain yang dihangatkan, penggunaan botol karet atau plastik (Sinclair,
2007). Penggunaan terapi suhu pada area topikal dikatakan akan memberikan
respon pada suhu sekitar 40-450C (Klein, 2013). Penelitian di Nigeria menyatakan
jika model terapi menggunakan air hangat menjadi pilihan 25,7% perempuan
selama dismenore (Emmanuel et al., 2013). Penelitian lain yang dilakukan Kim
dengan memanfaatkan suhu hangat dengan menggunkan bantalan hangat pada
abdomen terbukti dapat membantu memberikan kenyamanan dalam melakukan
kegiatan harian perempuan (Kim & Jeung-Im, 2013).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan untuk menilai keefektifan terapi kompres


hangat yang dapat dilihat dalam waktu satu minggu (Bharthi, Murthy, Babina,
Kadam, & Raghavendra, 2012). Namun, hasil yang lebih optimal memang
ditunjukkan dari hasil pengamatan selama lebih dari satu kali pengukuran untuk
satu intervensi yang diterapkan pada kasus dismenore yakni pada menstruasi
pertama, kedua dan ke tiga yang mengalami penurunan intensitas nyeri hampir
setengah setiap periodenya namun penelitian tersebut tidak tidak menilai
perbedaan jumlah keluhan yang dirasakan (Satyanad et al., 2016). Penelitian
lainnya yang mencoba memfasilitasi pembuatan bantal hangat untuk para remaja
dengan dismenore juga menunjukkan keberhasilan dan kebergunaannya selama
remaja menjalani aktivitas belajar dengan menempelkan kompres bantal hangat
pada daerah perut (Kim & Jeumg, 2013). Prinsip pemberian kompres hangat ini
yaitu untuk merilaksasikan otot pada abdomen sehingga aliran oksigen dapat lebih
baik termasuk pada uterus. Prinsip kompres hangat ini termasuk aman diterapkan
untuk kasus dismenore bagi remaja sebagai bentuk pertolongan pertama secara
mandiri dalam mencari solusi atas keluhan dismenore yang terjadi.

Yoga
Yoga merupakan suatu teknik olah tubuh yang berasal dari India yang dapat
kesehatan dengan menciptakan harmonisasi tubuh dan pikiran. Teknik yoga saat
ini banyak diterapkan di berbagai wilayah dengan tujuan untuk meningkatkan

18
kesehatan. Yoga juga dipercaya dapat menyeimbangkan kondisi fisik dan energy
yang bersumber dari psikologis (Satyanad et al, 2016). Harmonisasi tubuh dan
pikiran tersebut terjadi melalui kemampuannya mempengaruhi level Gamma
Aminobutyric Acid (GABA) pada otak (Parasuraman, Wen, Zhen, Hean, & Sam,
2016). Penelitian sebelumnya menjumpai bahwa penyebab dismenore yaitu selain
adanya kontraksi disritmik pada otot uterus dan hipoksia jaringan yang terjadi
oleh tidak seimbangnya kerja saraf simpatis, dan servik yang hipertonus ternyata
kondisi psikosomatis seperti ansietas dan tekanan yang dialami pada remaja juga
meningkatkan produksi prostaglandin yang meningkatkan sensitivitas
endometrium yang menyebabkan peningkatan kontraksi dengan atau tanpa
dirasakannya dismenorea (Tejwani & tejwani, 2015).

Yoga memperbaiki ketidakseimbangan sistem saraf autonom dan mengontrol


aktivitas saraf simpatis yang berlebih. Yoga tersebut dapat mengontrol
hiperaktivitas dan kontraksi disritmik dari uterus yang mencetuskan munculnya
dismenore pada periode menstruasi. Pada kondisi ini Yoga memberikan kontrol
yang lebih pada saraf parasimpatis sehingga kondisi uterus dapat lebih stabil
(Tejwani & Tejwani, 2015).

Yoga juga berperan dalam mekanisme gate control nyeri (Rakhshaee, 2011).
Mengetahui hal tersebut pemilihan yoga sebagai materi dapat dilakukan oleh
individu dengan memberikan solusi untuk remaja tingkat SMA untuk memperoleh
relaksasi setelah berbagai aktivitas sosial, kesibukan, dan tanggung jawab sebagai
seorang siswi sehingga keluhan haid dapat dikurangi. Intervensi yang menerapkan
teknik untuk meningkatkan relaksasi tersebut memang tidak secara langsung
memengaruhi hormon reproduksi namun memberikan pengaruh pada kadar
hormon endorphin sebagai anti nyeri alami dalam tubuh. Ketika berada pada
siklus menstruasi, maka individu akan mengalami respon yang lebih emosional
baik dari pengaruh dalam diri maupun dari lingkungan. Pada kondisi tersebut,
yoga menenangkan pikiran sehingga kondisi emosional dapat dikontrol saat siklus
menstruasi berlangsung (Tejwani & Tejwani, 2015).

19
Yoga merupakan perpaduan gerakan tubuh dinamis juga pelan dan dipadukan
dengan teknik nafas sehingga oksigen selama penerapannya lebih banyak terserap,
memelihara pikiran, dan saraf terutama parasimpatis yang lebih dominan yang
juga dapat menyeimbangkan aktivitas uterus (Tejwani & Tejwani, 2015).
Penelitian Ekta tahun 2014 menyatakan yoga dapat membantu menyeimbangkan
fleksibilitas otot tubuh, pernafasan, dan pikiran sehingga tercipta harmonisasi
tubuh dan pikiran dalam mengatasi nyeri karena menekan prostaglandin dan
mediator inflamasi (Ekta, Kamalesh, Kousik, & Tapas, 2014). Selain itu
implementasi bagian gerakan yoga juga dapat diterapkan sekaligus efektif
mengatasi stress (Nag, Chakravarthy, & Burra, 2013).

Yoga merupakan aktivitas fisik yang dilakukan seperti menggerakkan badan yang
nantinya dapat akan berdampak pada diproduksinya β endorphin yang akan
ditangkap oleh reseptor hipotalamus sehingga mengurangi sensasi nyeri serta
mengendalikan emosi (Munwar, Nurjanah, & Nurviana, 2013). Pernayataan
tersebut sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa gerakan
peregangan selama olah raga selain menghasilkan endorphin juga dapat
mengurangi nyeri karena mengakibatkan vasodilatasi, dan mengurangi iskemia,
menekan kerja prostaglandin dan menutup alirannya dalam darah menuju jaringan
organ pelvis dan disarankan untuk menggunakan pakaian yang tidak ketat, tetap
mengatur nafas, dan perut tidak penuh dengan makanan (Renuka & Jeyagowri,
2015).

Yoga dapat mengurangi sensasi nyeri tersebut karena dapat memberikan efek
rilaksasi dengan menurunkan aktivitas saraf simpatis, menurunkan denyut nadi,
dan meningkatkan volume pernafasan. Teknis nafas dalam yang diterapkan
seiring dengan gerakan tubuh selama yoga berlangsung maka dapat memberikan
suplai oksigen ekstra kepada tubuh sehingga tubuh dapat melepas endorphin yang
merupakan hormon untuk memberikan efek kenyamanan (Satyanad et al, 2013).
Endorphine merupakan peptide endogen yang memodulasi sekresi GnRH. Yoga
seperti gerakan pada Yogasana dapat mengontrol aktivitas tiroid yang juga
mempengaruhi fungsi ovarium melalui gerakan-gerakan yang dilakukan di daerah

20
leher. Yoga menurunkan kerja kortisol yang merupakan kerja anabilik, antagonis
insulin, dan meningkatkan glukosa darah, memecah lemak sehingga yoga juga
tergolong olah raga (Tejwani & Tejwani, 2015).

Teknik olah tubuh aman diterapkan seluruhnya kapan saja, dimana saja bahkan
mungkin tanpa biaya. Untuk hasil yang lebih baik gerakan dapat dilakukan hingga
dua kali sehari (Kaur, Kaur, Shanmugam, & Kang, 2014). Penelitian lainnya
menyatakan bahwa paling tidak upaya olah tubuh atau yoga dilakukan minimal
dua minggu sebelum siklus menstruasi tiba untuh dapat melihat hasil yang
diharapkan (Rakhshaee, 2011). Pada nyeri haid teknik olah tubuh dalam yoga
lebih difokuskan pada area tubuh sekitar abdomen dengan melakukan gerakan
asana untuk memberikan efek pada otot abdomen (Satyanad et all, 2013).

Teknik yoga baik diterapkan bersama guru yoga tetapi gerakan yoga yang mudah
dapat ditiru melalui objek yang mudah dipahami seperti pada penelitian
Rakhshaee membuktikan menurunkan nyeri dalam pemantauan selama dua siklus
haid dari mean 1,50 menjadi 1,26 (Rakhshaee, 2011). Teknik yoga asana sangat
bermanfaat bagi wanita seperti penelitian yang menyatakan penerapan teknik-
teknik yogasanas maksimal 45 menit dapat diterapkan dapat menurunkan nyeri
dari pemantauan bulan I 4,16 menjadi 2,38 pada penilaian bulan ke II (Satyanad
et al., 2016). Penerapan yoga selama 20 menit setiap hari pagi atau sore hari sejak
fase lutheal atau sekitar 14 hari sebelum menstruasi dapat membantu mengurangi
nyeri (Rakhshaee, 2011).

Konsep yoga yaitu pada gerakan statis dan agak dinamis yang memberikan efek
pada neuro-hormonal axis. Gerakannya yang juga melatih nafas menjadikan
karbon dioksida lebih banyak tereksresi. Semua teknik yoga memililiki
karakteristik pada pengontrolan atas tujuan yang ingin diraih, pemurnian, dan
koordinasi dari saraf dibandingkan memfokuskan pada kekuatan otot. Melalui
Yoga ini kontrol suplai darah dalam tubuh juga meningkatkan tekanan interkapiler
juga pembuluh limpe memiliki kinerja yang lebih baik untuk mendukung peroses
regenerasi jaringan tubuh (Tejwani & Tejwani, 2015).

21
Teknik yoga ada bernagai macam dan memiliki manfaat masing-masing salah
satunya yaitu Asanas. Teknik Tadasana berfungsi untuk peregangan pada daerah
tulang belakang. Matsyasana dilakukan untuk memberikan peregangan pada
tungkai bawah. Paryankasana, Ustrasana, Vakrasana, Hasapadanqusthasana,
Bhadrasana, Yoga Mudra, Pawanmuktasana, Pranayama. Relaksasi dan
konsentrasi. Pada penelitian yang menerapkan tenik yoga ini secara teratur yang
diamati selama enam bulan menunjukkan bahwa 38 wanita yang teratur
menyatakan ada perubahan yang signifikan atas keluhan dismenorenya sementara
12 orang diantaranya tang melakukan gerakan yoya tersebut tidak dengan teratur
tidak menunjukkan hasil yang signifikan berbeda (Tejwani & Tejwani, 2015).

Penerapan Yoga Asanas dengan kombinasi teknik yang berbeda juga diterapkan
untuk mengatasi keluhan dismenore. Berikut merupakan pose pada Asanas dan
manfaatnya:
Supta pawanmuktasana. Pose ini dapat memberikan pijatan pada otot pelvik dan
organ reproduksi
Padmasana : pose ini dilakukan dengan memposisikan kepala dan leher pada
posisi tegak dengan menstabilkan posisi tangan dan tungkai pada posisi duduk
diam, dan menenangkan pikiran.
Vajrasana : pose asana ini mengantarkan aliran darah dan impuls saraf pada
daerah pelvis dan menguatkan otot pelvis. Pose ini memberikan efek pada saraf
yang bekerja pada organ genital dan mampu mengurangi keluhan menstruasi.
Simhagarjanasana : pose yang dilakukan dengan maksud meredakan frustasi dan
stress emosional.
Marjarisana : pose yoga ini adalah gerkan lembut untuk organ reproduksi wanita
dan membantu menurunkan sensasi kram ketika haid
Shashankasana : pose ini membantu memberikan peregangan pada otot punggung
dan dipercaya juga bermanfaat untuk sistem reproduksi.
Bhujangasana : pose ini membantu mengatasi gangguan menstruasi
Shalabhasana : membantu peregangan pada sekitar pinggang dan organ
reproduksi

22
Gomukhasana : pose asana yang bertujuan memberikan rikalsasi. Dilakukan
selama 10 menit dapat membantu mengatasi kelelahan dan kecemasan.
Brahmari pranayama : tahap ini bertujuan menenagkan saraf dan menciptakan
ketenangan pikiran (Ekta, Kamalesh, Kousik, Tapas, 2014).

Gerakan – gerakan yang dilakukan pada Asana Yoga memnatu memberikan solusi
untuk keluhan dismenore karena pose-pose yang diterapkan mampu menambah
suplai darah pada organ sehingga oksigen ke jaringan organ tersebut juga
meningkat dan mengatasi hipoksia jaringan yang merupakan salah satu penyebab
timbulnya kram pada otot uterus ketika dismenore terjadi. Penerapan pranayama
selama yoga dapat membantu stimulasi saraf parasimpatis yang mengundang
ketenangan baik jasmani maupun rohani (Ekta, Kamalesh, Kousik, Tapas, 2014).

Nutrisi dan Herbal


Gizi perlu dipertimbangkan pada kasus dismenore. Status gizi seperti penelitian Ju
dan timnya bahwa individu dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) kurang berisiko
1,34 kali mengalami dismenore dan gizi berlebih berisiko 1,33 kali yang diduga
adanya interaksi antara lemak tubuh dan hormon yang mengontrol seperti
estrogen lebih sedikit (Ju, Jones, & Mishra, 2014). Fujiwara dan Eittah sama-sama
menyatakan bahwa meninggalkan sarapan serta status kekurangan nutrisi dapat
mempengaruhi hipotalamis-hipofisis-ovarium dan meningkatkan insiden
dismenore selain itu Fujiwara menyatakan, banyak mengkonsumsi makanan
manis dapat mengganggu penyerapan vitamin dan mineral (Eittah, 2014; Fujiwara
& Nakata, 2007)

Hudson (2007) menyatakan pengaturan diet pada kasus dismenore dapat


dilakukan dengan mengurangi konsumsi makanan dengan kandungan asam
arakidonat yang berlebihan seperti mentega, minyak, kelapa, ayam, karena
memicu produksi prostaglandin. Konsumsi makanan manis juga dianjurkan tidak
berlebihan karena memperlambat penyerapan vitamin dan mineral kasus nyeri
haid yang lebih sering (Fujiwara, 2007). Hudson dan Hansen sama-sama
menjelaskan nutrisi yang dibutuhkan dalam memberikan solusi nyeri haid adalah

23
makanan yang mengandung omega 3 dan omega 6 yang terkandung dalam ikan,
telur, kedelai ataupun dalam bentuk suplemen makan karena dapat memberikan
efek relaksasi pada otot (Hansen & Knudsen, 2013; Hudson, 2007).

Konsumsi makanan berlemak dan makanan cepat saji dengan porsi seminggu tiga
kali atau lebih meningkatkan risiko terjadinya dismenore (Lakshmi, 2013).
Penelitian lainnya menyatakan konsumsi makanan manis berlemak, makanan asin
berlemak, makanan cepat saji, kafein berlebihan dan paparan rokok meningkatkan
kasus dismenore pada anak SMA (Mohamadirizi & Kordi, 2015). Penelitian
menyatakan 72,2% kasus dismenore banyak terjadi pada wanita yang
mengkonusmsi kopi berlebihan (Unsal, Ayranci, Tozun, Arslan, & Calik, 2010).

Bahan lain bersumber dari biji-bijian, kacang-kacangan, sayur dan buah juga
penting karena mengandung magnesium, kalsium, potasium, serat, vitamin E dan
B kompleks dan dapat membantu sintesis Gama–Linolenic acid (GLA) yang juga
memberikan efek relaksasi otot (Hudson, 2007). Kajian tersebut juga sejalan
dengan kajian literatur dari cochraine yang menyatakan konsumsi vitamin B1, E,
Zink dan magnesium membatu mengatasi nyeri haid (Sangestani, Khatiban,
Marci, & Piva, 2015).

Mengkonsumsi makanan yang berasal dari gandum kaya akan vitamin B1, B6,
dan E serta memiliki efek yang baik terhadap peradangan (Atallahi, Akbari,
Mojab, & Majd, 2014). Kalsium penting dikonsumsi baik berupa susu atau keju
atau suplemen, karena kekurangan kalsium dapat meningkatkan sesitifitas saraf
dan menimbulkan spasme otot kalsium juga dapat membantu mengontrol mood
dan gejala somatik terkait Premenstrual Syndrome (PMS) (Razzak, Ayoub, Taleb,
& Obeidat, 2010).

Makan makanan yang berserat dari sayur dan buah-buahan penting dikonsumsi
setiap hari untuk mencegah dismenore, karena peneitian menjumpai konsumsi
yang rendah pada sayuran dan buah meningkatkan kasus dismenore (Fjerbæk &
Knudsen, 2007). Konsumsi air putih yang cukup juga merupakan komponen yang

24
penting seperti penelitian yang dilakukan Ningsih menyatakan bahwa konsumsi
air putih paling tidak delapan gelas perhari ketika menstruasi dan ditambah
dengan melakukan peregangan perut dapat menurunkan intensitas nyeri (Ningsih,
Setyowati, & Rahmah, 2011).

Sumber bahan makanan tradisional yang telah dilakukan uji klinis juga dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu solusi mengatasi dismenore. Curcumin atau zat
yang terkandung pada kunyit salah satu contoh dari apotik hidup yang banyak
diteliti dengan manfaat seperti antidepresan, anti inflamasi, antri microba, dan
hipoglikemik. Penelitian menyatakan bahwa kunyit dapat mereduksi sintesis
prostaglandin dan menghambat kerja enzim cyclooxygenase 2 (COX 2). selain itu
juga dapat memodulasi neurotransmitter (serotonin, dopamine, norepinephrine)
yang memberikan efek antidepresi. Enzim COX 2 berespon pada produksi
prostaglandin E2 yang menimbulkan gejala nyeri, meriang, dan peradangan yang
kerap muncul pada Premenstrual sindrom (Khayat, Fanaei, Kheirkhaa,
Moghadam, Kasaeian, Javadimehr, 2015).

Sumber herbal lainnya yang dimanfaatkan untuk mengatasi dismenore yaitu jahe.
Jahe masih satu rumpun dengan kuyit berupa toga berbentuk akar yang diketahui
berkhasiat untuk anti inflamasi, anti kanker, anti mual unstuk kasus kehamilan,
kemoterapi, dan pasca bedah. Jahe juga diketahui bekerja sebagai penghambat
enzim COX dan lipooxygenase, dan menghalangi sintesis prostaglandin. Jahe
tergolong aman dikonsumsi oleh perempuan dengan dismenore sejak tiga hari
sebelum menstruasi dengan dosis satu sendok bubuk jahe yang dilarutkan dalan
200 cc air hangat dan dapat diminum sebanyak tiga kali sehari dengan hasil bahwa
nyeri haid berbeda signifikan pada hari pertama dismenore dibandingkan
sebelumnya (Awed, El-saidy, Amro, 2013). Penelitian di wilayah yang berbeda
yaitu di cina juga menjumpai hasil yang serupa dimana konsumsi jahe dapat
mengurangi keluhan nyeri haid yang dirasakan dan dijumpai pula jahe memiliki
efek yang sama efektifnya dengan konsumsi ibuprofen atau asam mefenamat pada
kasus dismenore primer (Ozgoli et al, 2009).

25
DAFTAR PUSTAKA

Adinma, E. D., & Adinma, J. I. (2008). Perceptions and Practices on


Menstruation. African Journal of Reproductive Health, 12(1), 74–83.

Aflaq, F., & Jami, H. (2012). Experiences and Attitudes Related to Menstruation
among Female Students. Pakistan Jurnal of Psycological Recearch, 27(2),
201–224.

Ajorpaz, N, M., Hajbaghery, M.A., Mosaebi, F. (2011). The effects of acupressure


on primary dysmenorrhea: A randomized controlled trial. Elsevier
Complementary Therapies in Clinical Practice 17 (2011) 33e36.

Alligood, M.R,. (2014). Nursing Theorist and Their Work. Edisi 8.Misoiri:
Elsevier Mosby.

Amini, R., Raden, A., Hidayanti, Rosalia, S., Dewi, Yulia, L., & Indrayanto, Y.
(2011). The Effect Of Passive Smoking On The Incidence Of Primary
Dysmenorrhea. Folia Medica Indonesiana, 47(3), 160–165.
http://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.

Apay, S. E., Arslan, S., Akpinar, R. B., & Celebioglu, A. (2012). Effect of
Aromatherapy Massage on Dysmenorrhea in Turkish Students. Pain
Management Nursing, 13(4), 236–240.
http://doi.org/10.1016/j.pmn.2010.04.002.

Atallahi, M., Akbari, A. A. S., Mojab, F., & Majd, A. H. (2014). Effects Of Wheat
Germ Extract On The Severity And Systemic Symptoms Of Primary
Dysmenorrhea: A Randomized Controlled Clinical Trial. Iranian Red
Crescent Medical Journal, 16(8), e19503.
http://doi.org/10.5812/ircmj.19503.

Atarha M, Vakilian K, Ruzbehani N, Bekhradi R. (2009). Effect of preneal


massage with lavender essential on episiotomy and preneal rupture. J Arak
Univ Med Sci 2009;11:26-8.

Atarod, Z., Alami, S., Bahari, M., Hashemi, S. A., & Kianejad, A. (2013).
Prevalence of Menstrual Disorders and Associated Factors in High School
Girls in Sari during 2010 to 2011. J Mazand Univ Med, 23(104), 42–49.

Awed, H., El-saidy, T., Amro, T. (2013). The Use of Fresh Ginger Herbs As A
Home Remedy To Relieve Primary Dysmenorrhea. The Use of Fresh
Ginger Herbs As A Home Remedy To Relieve Primary Dysmenorrhea.
Journal of Research in Nursing and Midwifery (JRNM)
doi.org/10.14303/JRNM.2013.068

26
Azima, S., Bakhshayesh, H. R., Kaviani, M., Abbasnia, K., & Sayadi, M. (2015).
Comparison of the Effect of Massage Therapy and Isometric Exercises on
Primary Dysmenorrhea: A Randomized Controlled Clinical Trial. Journal
of Pediatric and Adolescent Gynecology, 28(6), 486–491.
http://doi.org/10.1016/j.jpag.2015.02.003.

Bahrainy S, Nagi A, Manani R. Aromatherapy and it s application.. J Urmia Nurs


Midwifery Fac 2011;9:1-8.

Froozan Bakhtshirin1, Sara Abedi1, Parisa Yusefi Zoj2, Damoon Razmjooee.


(2015). The effect of aromatherapy massage with lavender oil on severity
of primary dysmenorrhea in Arsanjan students. Iranian Journal of Nursing
and Midwifery Research. Vol. 20. Issue 1 156

Bharthi, H. P., Murthy, S. N., Babina, N., Kadam, A., & Raghavendra, M. (2012).
Management of pelvic pain in primary dysmenorrhea using a Hot Hip-
bath: A pilot study. Alternative Therapies in Health and Medicine, 18(1),
24–25.

BKKBN. (2011). ProfilPenduduk Remaja (10-24 Thn): Ada apa dengan Remaja?.
Policy Brief. Seri 1. No. 6. http://doi.org/10.1177/0022146513479002.

Brantelid, I.E., Nilver, H., & Alehagen, S. (2014). Menstruation During A


Lifespan: A Qualitative Study Of Women’s Experiences. Health Care for
WomenaInternational,35(6),60016.http://doi.org/10.1080/07399332.2013.
868465

Bruin, N. D., Kempster, C., Doucette, A., Doan, J. B., Hu, B., & Brown, L. A.
(2015). The Effects of Music Salience on the Gait Performance of Young
Adults. Journal of Music Therapy, 52(3), 394–419.
http://doi.org/10.1093/jmt/thv009.

Chang, S.F., & Chuang, M. (2012). Factors That Affect Self-Care Behaviour Of
Female High School Students With Dysmenorrhoea: A Cluster Sampling
Study. International Journal of Nursing Practice, 18(2), 117–24.
http://doi.org/10.1111/j.1440-172X.2012.02007.x.

Chia, C. F., Lai, J. H. Y., Cheung, P. K., Kwong, L. T., Lau, F. P. M., Leung, K.
H., … Ngu, S. F. (2013). Dysmenorrhoea Among Hong Kong University
Students: Prevalence, Impact, And Management. Hong Kong Medical
Journal, 19(3), 222–228. http://doi.org/10.12809/hkmj133807.

Chen, C.H & Chen, H. M. (2010). Effects of acupressure on menstrual distress in


adolescent girls: a comparison between Hegu–Sanyinjiao Matched Points
and Hegu, Zusanli single point. Journal of Clinical Nursing, 19, 998–
1007. doi: 10.1111/j.1365-2702.2009.02872.x

Choi EH. Comparison of effect lavender abdominal massage and inhalation on

27
dysmenorrhea, pain, anexiety and depression..J Korean Acad Fundam
Nurs 2009;16:300-6.

Cunningham, F.G., Gant, N.F., Leveno, K.J., Gilstrap, L.C., Hauth, J.C.,
Wenstrom, K.D. (2006). Obstetri Williams. Edisi 21. Vol 1. Jakarta: EGC

Dawood, M. Y. (2006). Primary Dysmenorrhea Advances in Phatogenesis and


Management. Clinical Expert Series Continuing, 108(2), 428–441. ISSN
0029-7844/06.

Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher.

Eittah, H. F. A. (2014). Effect Of Breakfast Skipping On Young Females


Menstruation. Health Science Journal, 8(4), 469–484.

Ekta, Kamalesh, S., Kousik, M. ., & Tapas, B. (2014). Role of Yoga in Primary
Dysmenorrhoea. Journal of Pharmaceutical & Scientific Innovation, 3(5),
410–412. http://doi.org/10.7897/2277-4572.035184.

Emmanuel, A., Achema, G., Gimba, S., Mafuyai, M., Afoi, B., & Ifere, I. O.
(2013). Dysmenorrhoea : Pain relief strategies among a cohort of
undergraduates in Nigeria. International Journal of Medicine and
Biomedical Research, 2(2), 142–146.

Enakpene, C. A., Dalloul, M., Petterkin, C., Anopa, J., & Muneyyirci-Delale, O.
(2012). Dysmenorrhea As A Risk Factor For Hyperemesis Gravidarum.
Fertility and Sterility, 98.
http://dx.doi.org/10.1016/j.fertnstert.2012.07.736.

Eryilmaz, G., &O¨ zdemir, F. (2009). Evaluation of menstrual pain management


approaches by northeastern Anatolian adolescents. Pain Management
Nursing, 10, 40–47.

Farrell, M. . (2012). Age Related Changes in the Structure and Function of Brain
Regions Involved in Pain Processing. Pain Medicine, 13.
http://doi.org/10.1111/j.1526-4637.2011.01287.x

Field, T., Diego, M., & Hernandez-Reif, M. (2007). Massage Therapy Research.
Developmental Review, 27(1), 75–89.
http://doi.org/10.1016/j.dr.2005.12.002.

Fillingim, R. B., King, C. D., Ribeiro, M. C., Williams, B., & Riley, J. L. (2009).
Sex, Gender, and Pain: A Review of Recent Clinical and Experimental
Findings. Journal of Pain, 10(5), 447–485.
http://doi.org/10.1016/j.jpain.2008.12.001.

Fjerbæk, A., & Knudsen, U. B. (2007). Endometriosis, Dysmenorrhea And Diet-


What Is The Evidence?. European Journal of Obstetrics Gynecology and

28
Reproductive Biology, 132(2), 140–147.
http://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2006.12.006.

Fujiwara, T. (2007). Diet During Adolescence Is A Trigger For Subsequent


Development Of Dysmenorrhea In Young Women. International Journal
of Food Sciences and Nutrition, 58(September), 437–444.
http://doi.org/10.1080/09637480701288348.

Fujiwara, T., & Nakata, R. (2007). Young Japanese College Students With
Dysmenorrhea Have High Frequency Of Irregular Menstruation And
Premenstrual Symptoms. The Open Medical Informatics Journal, 1, 8–11.
http://doi.org/10.2174/1874431100701010008

Gumanga, S.K, & Aryee,K. R. (2012). Prevalence and Severity of Dysmenorrhoea


Among Some Adolescent Girls in a Secondary School in Accra , Ghana.
Postgraduate Medical Journal of Ghana, 1(1), 1–6.

Han, S.H., Hur, M.H., Buckle, J., Choi, J., & Lee, M. S. (2006). Effect Of
Aromatherapy On Symptoms Of Dysmenorrhea In College Students: A
Randomized Placebo-Controlled Clinical Trial. Journal of Alternative and
Complementary Medicine (New York, N.Y.), 12(6), 535–41.
http://doi.org/10.1089/acm.2006.12.535.

Hansen, S. O., & Knudsen, U. B. (2013). Endometriosis, Dysmenorrhoea And


Diet. European Journal of Obstetrics Gynecology and Reproductive
Biology, 169(2), 162–171. http://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2013.03.028.

Harel, Z. (2006). Dysmenorrhea in Adolescents and Young Adults: Etiology and


Management. Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology, 19(6),
363–371. http://doi.org/10.1016/j.jpag.2006.09.001.

Harun, O., Hakim, A., & Sartika, L. (2016). The Correlation of Students
Knowledge Level About Menstrual with Dysmenorrhea Handling Effort
on Classes XII Students At SMA Negeri 1 Parongpong. International
Journal of Scientific & Technology Research, 5(02), 170–178. ISSN:
2277-8616.

Hudson, T. (2007). Using Nutrition to Relieve Primary Dysmenorrhea. Alternative


and Complementary Therapies, 13, 125–128.
http://doi.org/10.1089/act.2007.13303.

Hur, M.H., Song, J.A., Lee, J., & Lee, M. S. (2014). Aromatherapy For Stress
Reduction In Healthy Adults: A Systematic Review And Meta-Analysis
Of Randomized Clinical Trials. Maturitas, 79(4), 362–369.
http://doi.org/10.1016/j.maturitas.2014.08.006.

Joshi, T., Kural, M., Agrawal, D., Noor, N., & Patil, A. (2015). Primary
Dysmenorrhea And Its Effect On Quality Of Life In Young Girls.

29
International Journal of Medical Science and Public Health, 4(3), 1.
http://doi.org/10.5455/ijmsph.2015.0711201472.

Ju, H., Jones, M., & Mishra, G. (2014). The Prevalence And Risk Factors Of
Dysmenorrhea. Epidemiologic Reviews, 36(1), 104–113.
http://doi.org/10.1093/epirev/mxt009.

Juang, C.M., Yen, M.S., Horng, H.C., Cheng, C.Y., Yuan, C.C., & Chang, C.M.
(2006). Natural Progression Of Menstrual Pain In Nulliparous Women At
Reproductive Age: An Observational Study. Journal of the Chinese
Medical Association : JCMA, 69(10), 484–8.
http://doi.org/10.1016/S1726-4901(09)70313-2.

Kabirian, M., Abedian, Z., Mazlom, S. R., & Mahram, B. (2011). Self
management in Primary Dysmenorrhea: Toward Evidence based
Education. Life Science Journal, 8(2), 42–52.

Kaptchuk TJ (2002) .Acupuncture: theory, efficacy and practice. Annals of


Internal Medicine 136, 374–383.

Kaur, S., Kaur, P., Shanmugam, S., & Kang, M. K. (2014). To Compare The
Effect Of Stretching And Core Strengthening Exercises On Primary
Dysmenohrrea In Young Females. IOSR Journal of Dental and Medical
Sciences (IOSR-JDMS), 13(6), 22–32. ISSN: 2279-0853.

Kemppainen, V., Tossavainen, K., & Turunen, H. (2013). Nurses’ roles in health
promotion practice: An integrative review. Health Promotion
International, 28(4), 490–501. http://doi.org/10.1093/heapro/das034

Keogh, E., & Eccleston, C. (2006). Sex differences in adolescent chronic pain and
pain-related coping. Pain, 3, 275–84.

Khamdan, H. ., Aldallal, K., Almoosa, E. , AlOmani, N., Haider, Aalaa, S.,


Abbas, Z, ( … ) Hamadeh, R. . (2014). The Impact of Menstrual Period on
Physical Condition, Academic Performance and Habits of Medical
Students. Journal of Women’s Health Care, 03(05), 3–6.
http://doi.org/10.4172/2167-0420.1000185.

Khayat, S., Fanaei,H., Kheirkhaa,M. Moghadam, Z.B., Kasaeian, A., Javadimehr,


M. (2015). Curcumin attenuates severity ofpremenstrual syndrome
symptoms:A randomized, double-blind,placebo-controlled trial.
Complementary Therapies in Medicine .
doi.org/10.1016/j.ctim.2015.04.001.

Kiesner, J. (2009). Physical Characteristics Of The Menstrual Cycle And


Premenstrual Depressive Symptoms. Psychological Science, 20(6), 763–
770. http://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2009.02358.x.

30
Kim, & Jeung, I. (2013). Effect of Heated Red Bean Pillow Application for
College Women with Dysmenorrhea. Korean Journal of Women Health
Nursing, 19(2), 67–74. http://doi.org/10.4069/kjwhn.2013.19.2.67.

Kim, E., Lovera, J., Schaben, L., Melara, J., Bourdette, D., & Whitham, R. (2010).
Novel Method For Measurement Of Fatigue In Multiple Sclerosis: Real-
Time Digital Fatigue Score. Journal of Rehabilitation Research and
Development, 47(5), 477–484. http://doi.org/10.1682/JRRD.2009.09.0151

Kiran, B., Sandozi, T., Akila, L., Chakraborty, A., Meherban, & Rani, R. J.
(2012). A Study Of The Prevalence , Severity And Treatment Of
Dysmenorrhoea In Medical And Nursing Students. International Journal
of Pharma and Bio Sciences, 3(1), 161–170. ISSN 0975-6299.

Kumbhar, S. K., Reddy, M., Sujana, B., K, R. R., K, D. B., Balkrishna, C., &
Pradesh, A. (2011). Prevalence of Dysmenorrhea Among Adolescent Girls
( 14-19 Yrs ) of Kadapa District and Its Impact on Quality of Life : a
Cross. National Journal of Community Medicine, 2(2), 265–268.

Kushalappa, J. , Lakshmanagowda, P., Shwetha, B., & Brathi, C. (2015). Effect


Of Music Therapy In Dysmennorhic Subjects During Menstrual Phase Of
Menstrual Cycle Jayamala. International Journal of Biomedical Research,
6(11), 869–873. http://doi.org/10.7439/ijbr.

Labbe, E., Schmidt, N., Babin, J., & Pharr, M. (2007). Coping With Stress: The
Effectiveness Of Different Types Of Music. Applied Psychophysiology
and Biofeedback, 32(3-4), 163–168. http://doi.org/10.1007/s10484-007-
9043-9.

Lakshmi, A. (2013). Impact of Life Style and Dietary Habits on Menstrual Cycle
of College Students. International Journal of Science and Research, 6(14),
2845–2847.

Lee, M. S., Choi, J., Posadzki, P., & Ernst, E. (2012). Aromatherapy For Health
Care: An Overview Of Systematic Reviews. Maturitas, 71(3), 257–260.
http://doi.org/10.1016/j.maturitas.2011.12.018.

Lestari, P., Mulyoto, Wujeso, H., Suryanti, N., & Tamtomo, D. (2014). Hubungan
Pengetahuan Menstruasi dan Komunikasi Teman Sebaya dengan Personal
Hygiene Selama Menstruasi Pada Siswa. (Magister Tesis). Universitas
Sebelas Maret. Retrived from: https://dglib.uns.ac.id.

Li, Yan, H., Zhou, K. ., Wang, D. ., & Zhang, Y. . (2011). Effects Of Music
Therapy On Pain Among Female Breast Cancer Patients After Radical
Mastectomy: Results From A Randomized Controlled Trial. Breast
Cancer Res Treat, 2. http://doi.org/10.1007/s10549-011-1533-z

31
Lowdermilk, Perry,&Potter. (2013). Keperawatan Maternitas. Edisi 8. Singapura:
Elsevier

Loof, H., Johansson, U.B., Henriksson, E. W., Lindblad, S., & Saboonchi, F.
(2013). Pain And Fatigue In Adult Patients With Rheumatoid Arthritis:
Association With Body Awareness, Demographic, Disease-Related,
Emotional And Psychosocial Factors. Open Journal of Nursing, 03(02),
293–300. http://doi.org/10.4236/ojn.2013.32040.

Martinez, A. E., Zarazaga, R., & Maestre, C. (2008). Perceived Social Support
and Coping Responses Are Independent Variables Explaining Pain
Adjustment Among Chronic Pain Patients. The Journal of Pain, 9(4), 373–
379. http://doi.org/10.1016/j.jpain.2007.12.002.

Marzouk, T. M. F., El-Nemer, A. M. R., & Baraka, H. N. (2013). The Effect Of


Aromatherapy Abdominal Massage On Alleviating Menstrual Pain In
Nursing Students: A Prospective Randomized Cross-Over Study.
Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2013, 1–7.
http://doi.org/10.1155/2013/742421.

Matsumoto, T., Asakura, H., & Hayashi, T. (2013). Does Lavender Aromatherapy
Alleviate Premenstrual Emotional Symptoms?: A Randomized Crossover
Trial. BioPsychoSocial Medicine, 7(1), 12. http://doi.org/10.1186/1751-
0759-7-12.

Mitchell, L. a., MacDonald, R. a. R., & Knussen, C. (2008). An Investigation Of


The Effects Of Music And Art On Pain Perception. Psychology of
Aesthetics, Creativity, and the Arts, 2(3), 162–170.
http://doi.org/10.1037/1931-3896.2.3.162.

Mohamadirizi, S., & Kordi, M. (2015). The Relationship Between Food


Frequency And Menstrual Distress In High School Females. Iranian
Journal of Nursing and Midwifery Research, 20(6), 689.
http://doi.org/10.4103/1735-9066.170000.

Molton, I. R., & Terrill, A. L. (2014). Overview of Persistent Pain in Older


Adults. American Psychologist, 69(2), 197–207.
http://doi.org/10.1037/a0035794.

Moss M, Hewitt S, Moss L, Wesnes K.( 2008). Modulation ofcognitive


performance and mood by aromas of peppermint and ylang-ylang. Int J
Neurosci.2008;118(1):59-77.

Munwar, Nurjanah, & Nurviana. (2013). Proseding from: The 3rd Annual
International Conference Syiah Kuala University (AIC Unsyiah). (pp.
244–247). Indonesia.

Nag, U., Chakravarthy, V., & Burra, K. (2013). Effect Of Yoga On Progesterone

32
Levels And Pain Relief In Primary Dysmenorrhea. IOSR Journal of Dental
and Medical Sciences, 3(2), 32–34. ISSN: 2279-0853

Nelson, L. M. (2014). Menstruation And The Menstrual Cycle. Frequently Asked


Question. Retrieved from http://www.womenshealth.gov/

Ningsih, R., Setyowati, & Rahmah, H. (2011). Efektifitas Paket Pereda Terhadap
Intensitas Nyeri pada Remaja dengan Dismenore di SMAN Kecamatan
Curup. (Tesis. Tidak dipublikasikan). Universitas Indonesia: Jawa Barat.

Nilsson, U. (2009). Soothing Music Can Increase Oxytocin Levels During Bed
Rest After Open-Heart Surgery: A Randomised Control Trial. Journal of
Clinical Nursing, 18(15), 2153–2161. http://doi.org/10.1111/j.1365-
2702.2008.02718.x

Notoatmojo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Cetakan I. Jakarta:


PT. Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2012). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ozgoli G, Goli M, Moattar F. (2009). Comparison of effects of ginger,


mefenamic acid, and ibuprofen on pain in women with primary
dysmenorrhea. J Alternative and Complementary Med . 15(2):129-132.

Parasuraman, S., Wen, L. E., Zhen, K. M., Hean, C. K., & Sam, A. T. (2016).
Exploring The Pharmacological And Pharmacotherapeutic Effects Of
Yoga. PYB Reports, 2(1), 6–10. http://doi.org/10.5530/PTB.2016.1.2.

Perry, M. (2012). Looking At The Diagnosis And Treatment Of Dysmenorrhoea.


British Journal of School Nursing, 7(6), 278–282.
http://doi.org/10.12968/bjsn.2012.7.6.278.

Potter, Patricia A., & Anne Griffin Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik, Edisi 4, Volume II. Jakarta:
EGC.

Preis, M. A., Schmidt.S, C., Dechent, P., & Kroener, B. (2013). The Effects Of
Prior Pain Experience On Neural Correlates Of Empathy For Pain: An
Fmri Study. Pain, 154(3), 411–418.
http://doi.org/10.1016/j.pain.2012.11.014.

Proctor, M., & Farquhar, C. (2006). Clinical Review Diagnosis And Management
Of Neuropathic Pain. BMJ, 332(box 1), 1134–1138.
http://doi.org/10.1136/bmj.b3002.

Rakhshaee, Z. (2011). Effect of Three Yoga Poses (Cobra, Cat and Fish Poses) in
Women with Primary Dysmenorrhea: A Randomized Clinical Trial.
Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology, 24(4), 192–196.

33
http://doi.org/10.1016/j.jpag.2011.01.059.

Razzak. K., Ayoub, N., Taleb, A., & Obeidat, B. (2010). Influence Of Dietary
Intake Of Dairy Products On Dysmenorrhea. Journal of Obstetrics and
Gynaecology Research, 36(2), 377–383. http://doi.org/10.1111/j.1447-
0756.2009.01159.x

Rizk, S.A. (2013). Effect of Aromatherapy Abdominal Massage using Peppermint


Versus Ginger oils on Primary Dysmenorrhea among Adolescent Girls.
Journal of American Scienc. 9(11). ISSN: 1545-1003.

Renuka, K., & Jeyagowri, S. (2015). Stretching Exercise Therapy and Primary
Dysmenorrhea – Nursing Perspectives. IOSR Journal of Nursing and
Health Science Ver. III, 4(3), 2320–1940. http://doi.org/10.9790/1959-
04330104.

Rose, T., Ambika, K., & Williams, S. (2013). A Study To Assess The
Effectiveness Of Nesting On Posture And Movements Among Preterm
Babies In Selected Hospitals At Mysore. International Journal of Nursing
Care., 1(2), 27–31. http://doi.org/10.5958/j.2320-8651.1.2.050.

Sangestani, G., Khatiban, M., Marci, R., & Piva, I. (2015). The Positive Effects of
Zinc Supplements on the Improvement of Primary Dysmenorrhea and
Premenstrual Symptoms: A Double-blind, Randomized, Controlled Trial.
Journal of Midwifery & Reproductive Health, 3(3). Retrieved from
http://jmrh.mums.ac.ir/article_4463_548.html.

Satyanad, V., Hymavathi, K., Panneerselvam, E., Mahaboobvali, S., Basha, S. A.,
& Shoba, C. (2016). Effects of Yogasanas in the Management of Pain
during Menstruation. JMSCR, 2(11), 2969–2974. ISSN: 2347-176x

Sherman, K. J., Cherkin, D. C., Cook, A. J., Hawkes, R. J., Deyo, R. A., (…) &
Khalsa, P. S. (2010). Comparison Of Yoga Versus Stretching For Chronic
Low Back Pain: Protocol For The Yoga Exercise Self-Care. Trials, 11, 36.
http://doi.org/10.1186/1745-6215-11-36.

Shipton, E.A. (2013). The Pain Experience And Sociocultural Factors. Journal of
the New Zealand Medical Association. Vol 126 No 1370; ISSN 1175
8716.

Sinclair, M. (2007). Modern Hidrotherapy for Massage Therapist. Baltomore:


Lippincott Williams & Wilkins. ISBN: 13978-07-7817-9209-7.

Sriwahyuni, N., & Yuswanto, T. J. (2014). The Effectiveness of Hot Compress


toward Pain Reduction Due To Phlebitis Caused By Intravenous Line Set
Up In Malang and Ponorogo East Java-Indonesia. IOSR Journal of
Nursing and Health Science (IOSR-JNHS), 3(4 Ver. III (Jul-Aug. 2014)),
28–31. ISSN: 2320-1959.p.

34
Tamsuri, A. 2006. Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jilid Pertama. Edisi
Pertama, Jakarta : EGC.

Tavallaee, M., Joffres, M. R., Corber, S. J., Bayanzadeh, M., & Rad, M. M.
(2011). The Prevalence Of Menstrual Pain And Associated Risk Factors
Among Iranian Women. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research,
37(5), 442–451. http://doi.org/10.1111/j.1447-0756.2010.01362.x

Taylor, S. G. S. G., & Renpenning, K. M. L. K. M. (2011). Self-care science,


nursing theory, and evidence-based practice. Diakses dari
http://books.google.com/books?id=alHquhnlbHwC.

Tejwani, N., & Tejwani, L. (2015). Effect Of Yoga In Menstrual Disorders.


Njirm, 6(1), 45–48. ISSN: 0975-9840.

Thoma, M. V., La, M. R., Brönnimann, R., Finkel, L., Ehlert, U., & Nater, U. M.
(2013). The Effect of Music on the Human Stress Response. PLoS ONE,
8(8), 1–12. http://doi.org/10.1371/journal.pone.0070156

Tol, V., & Edwards, J. (2014). Listening To Sad Music In Adverse Situations:
How Music Selection Strategies Relate To Self-Regulatory Goals,
Listening Effects, And Mood Enhancement. Psychology of Music, 43(4),
473–494. http://doi.org/10.1177/0305735613517410

Umeora, O. U. J., & Egwuatu, V. E. (2008). Menstruation In Rural Igbo Women


Of South East Nigeria: Attitudes, Beliefs And Practices. African Journal of
Reproductive Health, 12(1), 109–15. http://doi.org/10.2307/25470641.

Undang Undang No 11 Tahun (2008). Undang Undang Informasi Dan Transaksi


Elektronik. Indonesia: Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Republik
Indonesia. Diakses dari : http://www.kemenag.go.id/.

Undang Undang Repiblik Indonesia No. 36 Tahun 2009. Kesehatan. Dewan


Perwakilan Rakyat Indonesia dan Presiden Republik Indonesia. Avaliable
from: http://www.kemenpppa.go.id/.

UNICEF. (2011). Adolescence An Age of Opportunity. United Natio Children’s


Found. Diakses dari: http://www.unicef.org/adolescence/.

Unsal, A., Ayranci, U., & Tozun, M. (2010). A Study of Dysmenorrhea Among
Female Residents Aged 18 – 45 Years in Semirulal Area Of West Turkey.
Pak J Med, 26(2), 335–340.

Unsal, A., Ayranci, U., Tozun, M., Arslan, G., & Calik, E. (2010). Prevalence Of
Dysmenorrhea And Its Effect On Quality Of Life Among A Group Of
Female University Students. Upsala Journal of Medical Sciences, 115(2),

35
138–145. http://doi.org/10.3109/03009730903457218.

Vuoskoski, J. K., & Eerola, T. (2012). Can Sad Music Really Make You Sad?
Indirect Measures Of Affective States Induced By Music And
Autobiographical Memories. Psychology of Aesthetics, Creativity, and the
Arts, 6(3), 204–213. http://doi.org/10.1037/a0026937.

Yakubova, O. (2012). Juvenile Dysmenorrhea Associated With Hypomagnesemia


And Connective Tissue Dysplasia. Medical and Health Science Journal,
11(2), 85–88. ISSN: 1805-5014.

Yeh, M. L., Hung, Y. L., Chen, H. H., Lin, J. G., & Wang, Y. J. (2013). Auricular
Acupressure Combined With An Internet-Based Intervention Or Alone For
Primary Dysmenorrhea: A Control Study. Evidence-Based Complementary
and Alternative Medicine, 2013, 1–8. http://doi.org/10.1155/2013/316212.

36