Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

SISTEM PELAYANAN GAWAT DARURAT

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Gawat Darurat

Disusun oleh :

Ayu Nabilah Utami 1708182


Felia Aprianty 1708
Mega Haerani 1708
Raka Eki Febrian 1708256
Sandy Ilham R 1708
Yanti Kusumaningsih 1708303

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS DI SUMEDANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bencana merupakan peristiwa yang biasanya mendadak (bisa perlahan) disertai
jatuhnya banyak korban dan bila tidak ditangani dengan tepat akan menghambat,
mengganggu dan merugikan masyarakat, pelaksanaan dan hasil pembangunan. Indonesia
merupakan super market bencana. Bencana pada dasarnya karena gejala alam dan akibat
ulah manusia. Untuk mencegah terjadinya akibat dari bencana, khususnya untuk
mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, diperlukan suatu cara penanganan yang
jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan
kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana.
Dalam keadaan sehari-hari maupun bencana, penanganan pasien gadar melibatkan
pelayanan pra RS, di RS maupun antar RS. Memerlukan penanganan terpadu dan
pengaturan dalam sistem. Ditetapkan SPGDT-S dan SPGDT-B (sehari-hari dan bencana)
dalam Kepres dan ketentuan pemerintah lainnya.
Disadari untuk peran jajaran kesehatan mulai tingkat pusat hingga desa memerlukan
kesiapsiagaan dan berperan penting dalam penanggulangan bencana, mengingat dampak
yang sangat merugikan masyarakat. Untuk itu seluruh jajaran kesehatan perlu mengetahui
tujuan dan langlah-langkah kegiatan kesehatan yang perlu ditempuh dalam upaya
kesiapsiagaan dan penanggulangan secara menyeluruh.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa definisi sistem pelayanan gawat darurat ?
2. Apa saja komponen sistem pelayanan gawat darurat ?
3. Apa definisi sistem pelayanan gawat darurat bencana ?
4. Apa saja fase dalam manajemen bencana ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi dari sistem pelayanan gawat darurat.
2. Mengetahui komponen sistem pelayanan gawat darurat.
3. Mengetahui definisi sistem pelayanan gawat darurat bencana.
4. Mengetahui fase dalam manajemen bencana.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Sistem Pelayanan Gawat Darurat


Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan
medis segera untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan.
2. Pelayanan Gawat Darurat adalah tindakan medis yang dibutuhkan oleh
Korban/Pasien Gawat Darurat dalam waktu segera untuk menyelamatkan
nyawa dan pencegahan kecacatan.
3. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat adalah suatu mekanisme pelayanan
Korban/Pasien Gawat Darurat yang terintegrasi dan berbasis call center dengan
menggunakan kode akses telekomunikasi 119 dengan melibatkan masyarakat.
4. Kode Akses Telekomunikasi 119, yang selanjutny disebut Call Center 119 adalah
suatu desain sistem dan teknologi menggunakan konsep pusat panggilan
terintegrasi yang merupakan layanan berbasis jaringan telekomunikasi khusus
di bidang kesehatan.
5. Pusat Komando Nasional (National Command Center) adalah pusat panggilan
kegawatdaruratan bidang kesehatan dengan nomor kode akses 119 yang
digunakan di seluruh wilayah Indonesia.
6. Pusat Pelayanan Keselamatan Terpadu/Public Safety Center yang selanjutnya
disebut PSC adalah pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat
dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegawatdaruratan yang berada di
kabupaten/kota yang merupakan ujung tombak pelayanan untuk mendapatkan
respon cepat.
7. Korban/Pasien Gawat Darurat adalah orang yang berada dalam ancaman
kematian dan kecacatan yang memerlukan tindakan medis segera.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Sistem Pelayanan Gawat Darurat


3.1.1 Definisi
Sistem Pelayanan Gawat Darurat adalah suatu jejaring sumber daya yang saling
berhubungan untuk memberikan pelayanan gawat darurat dan transportasi kepada
penderita yang mengalami kecelakaan atau penyakit mendadak. Pelayanan gawat
darurat modern dimulai dari tempat kejadian, berlanjut selama proses transportasi dan
disempurnakan di fasilitas kesehatan.
3.1.2 Tujuan
1) Bagaimana agar korban/ pasien tetap hidup
2) Bagaimana menyelamatkan korban sebanyak-banyaknya
3) Mencegah kematian dan cacat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali
dalam masyarakat sebagaimana mestinya
3.1.3 Komponen
Pada dasarnya sistem ini dapat dilakukan secara sederhana, dengan komponen:
1) Akses dan Komunikasi
Semua upaya yang bertujuan agar penderita memperoleh pertolongan
secara professional secepat mungkin. Masyarakat harus mengetahui kemana
mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang khusus.
2) Pelayanan Pra Rumah Sakit
Pertolongan yang diberikan kepada penderita di tempat kejadian. Hal
yang perlu dilakukan ketika menolong dalam keadaan darurat antara lain:
Menilai penderita, menstabilkan keadaan penderita, Imobilisasi bila diperlukan,
transportasi bila perlu, dan merujuk penderita.
3) Transportasi
Setelah seseorang memperoleh pertolongan di lapangan langkah
berikutnya adalah mengirim penderita tersebut ke fasilitas kesehatan. Cara
pengiriman penderita ini dapat dilakukan dengan pelayanan ambulans.

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat memadukan penanganan gawat darurat mulai


dari tingkat pra rumah sakit, pelayanan di RS dan antar RS dengan pendekatan lintas
program dan multisektoral.. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan
time saving is life and limb saving, yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum
dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gadar dan sistem komunikasi.

1. Pra Rumah Sakit, dengan diketahui adanya penderita gawat darurat oleh masyarakat,
penderita gawat darurat dilaporkan ke pelayanan penderita gawat darurat untuk
mendapatkan pertolongan, dilakukan pertolongan di tempat kejadian oleh anggota
masyarakat awam atau awam khusus (satpam, pramuka, polisi, dan lain-lain),
Pengangkutan penderita gawat darurat untuk pertolongan lanjutan dari tempat kejadian
ke rumah sakit (sistim pelayanan ambulan).
2. Pelayanan Rumah Sakit, melalui pertolongan di unit gawat darurat rumah sakit,
pertolongan di kamar bedah (jika diperlukan), dan pertolongan di ICU/ICCU
3. Antar Rumah Sakit. Rujukan ke rumah sakit lain (jika diperlukan)

3.2 Manajemen Bencana


3.2.1 Definisi
Bencana adalah peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan
kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan
pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari
pihak luar (Depkes RI).
Manajemen bencana (Disaster Management) adalah Adalah seluruh kegiatan
yang meliputi aspek perencanaan penanggulangan bencana pada sebelum, saat dan
sesudah terjadi bencana mencakup tanggap darurat, pemulihan, pencegahan, mitigasi
dan kesiapsiagaan.

3.2.2 Tujuan Manajemen bencana


1. Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, dan Negara melalui tindakan
sedini mungkin.
2. Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat dan Negara berupa
kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila
bencana terjadi, serta efektif bila bencana itu telah terjadi.
3. Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan masyarakat
yang terkena bencana. Membantu individu dan masyarakat yang terkena
bencana supaya dapat bertahan hidup.
4. Memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai resiko dari
bencana.
5. Memperbaiki kondisi sehingga individu dan masyarakat dapat mengatasi
permasalahan akibat bencana.

3.2.3 Fase Pada Manajemen Bencana


1. Fase Mitigasi
Mitigasi merupakan kegiatan mengurangi resiko dan potensi kerusakan
akibat keadaan darurat. Mitigasi mencakup pendidikan kepada public,
tindakan untuk menyiapkan bencana pada individu, keluarga, dan komunitas.
Mitigasi yang dilakukan adalah dengan pembangunan struktural dan
non struktural di daerah rentan bencana alam. Tindakan mitigasi struktural
contohnya dengan pemasangan sistem informasi peringatan dini tsunami.
Mitigasi non struktural adalah penataan ulang tata ruang area rentan bencana.
2. Fase kesiapsiagaan dan pencegahan (Prevention phase)
Fase kesiapsiagaan adalah fase persiapan yang baik dengan berbagai
tindakan untuk meminamalisir kerugian yang ditimbulkan akibat terjadinya
bencana dan menyusun perencanaan agara dapat melakukan kegiatan
pertolongan serta perawatan yang efektif saat terjadi bencana. Contohnya
pemetaan daerah rawan bencana gempa, regionalisasi daerah bencana gempa,
penetapan daerah yang menjadi wilayah basis pencapaian lokasi bencana
gempa, serta penetapan daerah lokasi evakuasi saat dilakukan penanganan
korban gempa bumi.
3. Fase tindakan (Respon phase)
Fase tindakan merupakan fase dimana dilakukan berbagai aksi darurat
yang nyata untuk menjaga diri sendiri atau harta kekayaan. Tujuan dari fase
tindakan adalah mengontrol dampak negatif dari bencana. Aktivitas yang
dilakukan: instruksi pengungsiaan; pencarian dan penyelamatan korban;
menjamin keamanan dilokasi bencana; pengkajian terhadap kerugian akibat
bencana; pembagian dan penggunaan alat perlengkapan pada kondisi darurat;
pengiriman dan penyerahan barang material; dan menyediakan tempat
pengungsian.
4. Fase pemulihan
Fase pemulihan merupakan fase dimana individu atau masyarakat
dengan kemampuannya sendiri dapat memulihkan fungsinya seperti kondisi
sebelumnnya. Pada fase ini orang-orang mulai melakukan perbaikan darurat
tempat tinggal, mulai sekolah atau bekerja, memulihkan lingkungan tempat
tinggalnya.
5. Fase Rehabilitasi
Fase Rehabilitasi merupakan fase dimana individu atau masyarakat
berusaha mengembalikan fungsinya seperti sebelum bencana dan
merencanakan rehabilitasi terhadap seluruh komunitas.

3.2.3 Peran Perawat dalam Manajemen Bencana


1) Peran perawat dalam fase Pre-impact
a. Mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam penanggulangan ancaman bencana
b. Terlibat dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan menghadapi
bencanakepada masyarakat
c. Terlibat dalam promosi kesehatan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat
menghadapi bencana melalui :
1. Pertolongan diri sendiri
2. Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga
3. Informasi menyimpan, membawa persediaan makanan, dan
penggunaan air
4. Memberi alamat dan nomor telepon darurat
2) Peran perawat dalam fase Impact
a. Bertindak cepat
b. Konsentrasi penuh
c. Bersama pihak terkait merancang revitalizing
3) Peran perawat dalam fase Post-impact
a. Bekerjasama dengan unsur lintas sector menangani masalah kesehatan
masyarakat pasca gawat darurat serta mempercepat pemulihan
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2006.Tanggap Darurat Bencana (Safe Community modul 4).

Dirjen Bina Yanmed Depkes RI.2006. Seri Penanggulangan Penderita Gawat Darurat
(PPGD) / General Emergency Life Support (GELS) : Sistem Penanggulangan Gawat
Darurat Terpadu (SPGDT). Cetakan ketiga.

Efendy, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika