Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN PALIATIF

PADA PASIEN CHF

Disusun Oleh :

1. Halida Rachma Ningrum (P1337420715029)


2. Zharifah Al Maani (P1337420715030)
3. Annisa’ul Chusnia (P1337420715039)

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan


Prodi DIV Keperawatan Magelang
2018

0
Kata Pengantar

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan
Keperawatan Paliatif pada pasien CHF dengan baik.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak lepas dari berbagai pihak, baik
berupa pengarahan maupun bimbingan. Atas dorongan, petunjuk, saran, dan fasilitas dalam
membantu penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Ibu Hermani T., S.Kep,Ns,
M.kes selaku dosen mata kuliah Keperawatan Paliatif yang telah membimbing penulis sehingga
makalah ini dapat terselesaikan.

Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan. Baik dilihat
dari isi, materi, teknik penulisan maupun bahasa. Oleh karena itu, demi kesempurnaan makalah
ini, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis berharap makalah
ini berguna dan bermanfaat sebagai tambahan wawasan serta pengetahuan mengenai Asuhan
Keperawatan Paliatif pada pasien CHF bagi pembaca.

Magelang, 17 Oktober 2018

Penulis

1
2
3
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup
pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang
dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan
penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial
dan spiritual (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).
Beberapa penyakit yang biasanya menjadi sebuah keharusan dalam perawatan
paliatif adalah penyakit kronik, penyakit infeksi, penyakit menurun seperti penyakit
jantung, kanker, gangguan pernapasan kronik, HIV/AIDS, diabetes dan lainnya. Pada
penyakit gagal jantung atau CHF sangat diperlukan karena perlunya dukungan orang
sekitar untuk meminimalisir kekambuhan.
Pada saat ini gagal jantung kongesti merupakan satu-satunya penyakit
kariovaskuler yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat
gagal jantung berkisar antara 5- 10 % pertahun pada gagal jantung ringan yang akan
meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung kongestif merupakan penyakit yang
paling sering memerlukan perawatan ulang di Rumah Sakit meskipun pengobatan rawat
jalan telah diberikan secara optimal. (R. Miftah,2004)
World Health Organization menyatakan bahwa pada tahun 2011, lebih dari 29 juta
orang (29.063.194) meninggal dunia akibat penyakit terminal. Di perkirakan jumlah
orang yang membutuhkan perawatan paliatif sebesar 20.4 juta orang. Proporsi terbesar
94% pada orang dewasa sedangkan 6% pada anak-anak. Apabila dilihat dari penyebaran
penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif adalah penyakit jantung (38,5%) dan
kanker (34%) kemudian diikuti oleh gangguan pernapasan kronik (10,3%), HIV/AIDS
(5,7%) dan diabetes (4,5%). Sedangkan berdasarkan diagnosis dokter prevalensi penyakit
gagal jantung di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,13% atau diperkirakan sekitar 229.696 orang,
sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/ gejala sebesar 0,3% atau diperkirakan sekitar 530.068
orang.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan palatif pada pasien CHF?

4
C. Tujuan
Mengetahui asuhan keperawatan paliatif pada passion CHF.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup
pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang
dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan
penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial
dan spiritual (KEPMENKES RI NOMOR: 812, 2007).
Pasien paliatif adalah pasien/orang yang sedang menderita sakit dimana tingkat
sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak mungkin
dapat menyembuhkan lagi. Oleh karena itu, perawatan paliatif bersifat meredakan gejala
5
penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk menyembuhkan. Jadi fungsi perawatan
paliatif adalah mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhan-keluhan lainnya dan
meminimalisir masalah emosi, sosial, dan spiritual yang dihadapi pasien
(Tejawinata:2000).
B. Pengertian CHF
Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah suatu kondisi
jantung mengalami kegagalan dalam memompa darah dalam mencukupi kebutuhan sel-
sel tubuh akan nutrien dan oksigen secara adekuat.
Gagal jantung kongestif (CHF) adalah suatu keadaan patofisiologis berupa
kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme jaringan dan kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian
volume diastolik secara abnormal (Mansjoer, 2007).

C. Klasifikasi Gagal jantung kongestif


Berdasarkan American Heart Association [ CITATION Yan13 \l 1033 ] klasifikasi dari
gagal jantung kongestif yaitu sebagai berikut :
1. Stage A
Stage A merupakan klasifikasi dimana pasien mempunyai resiko tinggi, tetapi
belum ditemukannya kerusakan struktural pada jantung serta tanpa adanya
tanda dan gejala (symptom) dari gagal jantung tersebut. Pasien yang
didiagnosa gagal jantung stage A umumnya terjadi pada pasien dengan
hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, atau pasien yang
mengalami keracunan pada jantungnya (cardiotoxins).
2. Stage B

Pasien dikatakan mengalami gagal jantung stage B apabila ditemukan adanya


kerusakan struktural pada jantung tetapi tanpa menunjukkan tanda dan gejala
dari gagal jantung tersebut. Stage B pada umumnya ditemukan pada pasien
dengan infark miokard, disfungsi sistolik pada ventrikel kiri ataupun penyakit
valvular asimptomatik.

3. Stage C

6
Stage C menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan struktural pada jantung
bersamaan dengan munculnya gejala sesaat ataupun setelah terjadi kerusakan.
Gejala yang timbul dapat berupa nafas pendek, lemah, tidak dapat melakukan
aktivitas berat.

4. Stage D

Pasien dengan stage D adalah pasien yang membutuhkan penanganan ataupun


intervensi khusus dan gejala dapat timbul bahkan pada saat keadaan istirahat,
serta pasien yang perlu dimonitoring secara ketat.

The New York Heart Association (Yancy et al., 2013)

mengklasifikasikan gagal jantung dalam empat kelas, meliputi :

1. Kelas I

Aktivitas fisik tidak dibatasi, melakukan aktivitas fisik secara normal tidak
menyebabkan dyspnea, kelelahan, atau palpitasi.

2. Kelas II

Aktivitas fisik sedikit dibatasi, melakukan aktivitas fisik secara normal


menyebabkan kelelahan, dyspnea, palpitasi, serta angina pektoris (mild CHF).

3. Kelas III

Aktivitas fisik sangat dibatasi, melakukan aktivitas fisik sedikit saja mampu
menimbulkan gejala yang berat (moderate CHF).

4. Kelas IV

Pasien dengan diagnosa kelas IV tidak dapat melakukan aktivitas fisik apapun,
bahkan dalam keadaan istirahat mampu menimbulkan gejala yang berat (severe
CHF)

7
D. Manifestasi Gagal Jantung Kongestif

CHF menimbulkan berbagai gejala klinis diantaranya ;dipsnea ,ortopnea , pernapasan


cheyne-stoke , paroxysmal nocturnal dyspnea (PND), asites piting edema ,berat badan
meningkat dan gejala yang paling sering dijumpai adalah sesak nafas pada malam hari, yang
mungkin muncul tiba-tiba dan menyebabkan penderitaterbangun (udjianti,2011) , munculnya
berbagai gejala jenis pada pasien gagal jantung tersebut akan menimbulkan masalah
keperawatan dan mengganggu kebutuhan dasar manusia salah satu diantaranya adalah tidur
seperti adanya nyeri dada pada aktivitas , dispnea pada istirahat atau aktivitas , letargi dan
gangguan tidur.

E. Penatalaksanaan Gagal Jantung Kongestif

1. Terapi non farmakologi


a. Diet
Pasien gagal jantung dengan diabetes, dislipidemia atau obesitas harus
diberi diet yang sesuai untuk menurunkan gula darah, lipid darah, dan berat
badannya. Asupan NaCl harus dibatasi menjadi 2-3 g Na/hari, atau < 2 g/hari
untuk gagal jantung sedang sampai berat. Restriksi cairan menjadi 1,5-2 L/hari
hanya untuk gagal jantung berat.
b. Merokok : Harus dihentikan.
c. Aktivitas fisik
Olah raga yang teratur seperti berjalan atau bersepeda dianjurkan untuk
pasien gagal jantung yang stabil (NYHA kelas II-III) dengan intensitas yang
nyaman bagi pasien.
d. Istirahat : Dianjurkan untuk gagal jantung akut atau tidak stabil.
e. Bepergian
Hindari tempat-tempat tinggi dan tempat-tempat yang sangat panas atau lembab
(Nafrialdi dan Setiawati, 2007).
F. Tahapan perawatan pada pasien CHF
Tahap 1: Fase manajemen penyakit kronis (NYHA I-III)

8
Tujuan perawatan termasuk pemantauan aktif, terapi yang efektif untuk memperpanjang
kelangsungan hidup, kontrol gejala, pendidikan pasien dan pengasuh, dan didukung
manajemen diri Pasien diberi penjelasan yang jelas tentang kondisi mereka termasuk
nama, etiologi, pengobatan, dan prognosisnya Pemantauan reguler dan peninjauan yang
tepat sesuai dengan pedoman nasional dan protokol local.

Tahap 2: fase perawatan suportif dan paliatif: (NYHA III – IV)

Penerimaan ke rumah sakit dapat menandai fase ini Seorang profesional kunci
diidentifikasi di masyarakat untuk mengkoordinasikan perawatan dan bekerja sama
dengan spesialis gagal jantung, perawatan paliatif, dan layanan lainnya Tujuan perawatan
bergeser untuk mempertahankan kontrol gejala dan kualitas hidup yang optimal Sebuah
penilaian holistik dan multidisipliner terhadap kebutuhan pasien dan perawat dilakukan
Kesempatan untuk mendiskusikan prognosis dan kemungkinan penyakit yang diderita
secara lebih rinci disediakan oleh para profesional, termasuk rekomendasi untuk
menyelesaikan rencana perawatan lanjutan Layanan di luar jam kerja didokumentasikan
dalam rencana perawatan jika terjadi kerusakan akut

Tahap 3: fase perawatan Terminal

Indikator klinis termasuk, meskipun pengobatan maksimal, gangguan ginjal, hipotensi,


edema persisten, kelelahan, anoreksia Pengobatan gagal jantung untuk kontrol gejala
dilanjutkan dan status resusitasi diklarifikasi, didokumentasikan, dan dikomunikasikan
kepada semua penyedia perawatan Jalur perawatan terpadu untuk orang yang sekarat
dapat diperkenalkan untuk menyusun perencanaan perawatan Peningkatan dukungan
praktis dan emosional untuk pengasuh disediakan, terus mendukung berkabung
Penyediaan dan akses ke tingkat yang sama perawatan generalis dan spesialis untuk
pasien di semua pengaturan perawatan sesuai dengan kebutuhan mereka [ CITATION
Jaa09 \l 1033 ]

G. Perawatan Paliatif pada Gagal Jantung Kongestif

1. Home Based Exercise Training (HBET)

9
Selama periode akut pasien dengan gagal jantung disarankan untuk bed rest yang
bertujuan untuk memperbaiki status hemodinamik. Setelah fase akut terlewati, pasien
berada pada fase recovery. Pada fase ini, bed rest menjadi suatu saran yang kontroversial
karena dapat memicu menurunnya level toleransi aktivitas dan memperberat gejala gagal
jantung seperti sesak disertai batuk. Semua otot perlu dilatih untuk mempertahankan
kekuatannya termasuk dalam hal ini adalah otot jantung (Suharsono, 2013). Pasien gagal
jantung biasanya berpikiran bahwa melakukan aktivitas termasuk latihan fisik akan
menyebabkan pasien dengan gagal jantung sesak dan timbul kelelahan, sehingga mereka
lebih memilih untuk bed rest pada fase pemulihan. Oleh karena itu, pasien perlu untuk
diajarkan melakukan aktivitas secara bertahap dengan tujuan toleransi aktivitas dapat
meningkat pula.
Kondisi yang menyebabkan ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari
akan mengganggu rutinitas pasien. Akibatnya, pasien kehilangan kemampuan
fungsional. Pada pasien gagal jantung, kapasitas fungsional sangat berkaitan erat dengan
kualitas hidup pasien. Kapasitas fungsional dapat ditingkatkan, salah satunya dengan
melakukan latihan fisik. Latihan ini meliputi: tipe, intensitas, durasi, dan frekuensi
tertentu sesuai dengan kondisi pasien[ CITATION Suh13 \l 1057 ]. Aktivitas dilakukan
dengan melihat respon sepeti peningkatan nadi, sesak napas dan kelelahan. Aktivitas
akan melatih kekuatan otot jantung sehingga gejala gagal jantung semakin minimal.
Aktivitas ini akan dapat dilakukan secara informal dan lebih efektif apabila dirancang
dalam program latihan fisik yang terstruktur [ CITATION Nic07 \l 1057 ]. Aktivitas
latihan fisik pada pasien dengan gagal jantung bertujuan untuk mengoptimalkan
kapasitas fisik tubuh, memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga dalam mencegah
perburukan dan membantu pasien untuk dapat kembali beraktivitas fisik seperti sebelum
mengalami gangguan jantung [ CITATION Aro10 \l 1057 ].
Home-based exercise training (HBET) dapat menjadi salah satu pilihan latihan
fisik dan alternatif solusi rendahnya partisipasi pasien mengikuti latihan fisik. Pasien
yang stabil dan dirawat dengan baik dapat memulai program home based exercise
training setelah mengikuti tes latihan dasar dengan bimbingan dan instruksi. Tindak
lanjut yang sering dilakukan dapat membantu menilai manfaat program latihan di rumah,
menentukan masalah yang tidak terduga, dan akan memungkinkan pasien untuk maju ke

10
tingkat pengerahan yang lebih tinggi jika tingkat kerja yang lebih rendah dapat
ditoleransi dengan baik [ CITATION Pie11 \l 1057 ]. Menurut Suharsono (2013),
intervensi yang dilakukan berupa home based exercise training berupa jalan kakiselama
30 menit, 3 kali dalam semingguselama 4 minggu dengan intensitas 40-60% heart rate
reserve, dan peningkatan kapasitas fungsional dilakukan dengan SixMinute Walk Test
(6MWT).
2. Terapi Penyekat Beta sebagai Anti-Remodelling pada Gagal Jantung
Gagal jantung merupakan sindrom kompleks yang ditunjukkan dengan gejala
seperti sesak napas saat beraktivitas dan membaik saat beristirahat, tanda retensi cairan
berupa kongesti pulmoner, edema ekstremitas, serta abnormalitas struktur dan fungsi
jantung. Keadaan tersebut berhubungan dengan penurunan fungsi pompa jantung.
Penurunan fungsi pompa jantung dapat terjadi akibat infark miokard, hipertensi kronis,
dan kardiomiopati. Dalam hal ini, jantung mengalami remodelling sel melalui berbagai
mekanisme biokimiawi yang kompleks daakhirnya menurunkan fungsi jantung.
Metroprolol merupakan salah satu jenis beta blocker yang berfungsi meningkatkan
fungsi jantung dengan menghambat remodelling pada jantung. Metoprolol secara
signifikan meningkatkan fungsi ventrikel dosis tinggi 200 mg (n=48) sebagai terapi anti
remodeling, terbukti dengan penurunan LVESV 14 mL/m2 dan peningkatan EF
sebanyak 6% (Amin, 2015).

Berdasarkan pedoman tatalaksana gagal jantung oleh (Siswanto dkk, 2015)


bahwa penyekat β harus diberikan pada semua pasien gagal jantung simtomatik dan
fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 %. Penyekat β memperbaiki fungsi ventrikel dan kualitas
hidup, mengurangi perawatan rumah sakit karena perburukan gagal jantung, dan
meningkatkan kelangsungan hidup Indikasi pemberian penyekat β yaitu:

a. Fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40 %


b. Gejala ringan sampai berat (kelas fungsional II - IV NYHA)
c. ACEI / ARB (dan antagonis aldosteron jika indikasi) sudah
d. diberikan
e. Pasien stabil secara klinis (tidak ada perubahan dosis diuretik,
f. tidak ada kebutuhan inotropik i.v. dan tidak ada tanda retensi

11
g. cairan berat).
Sedangkan kontraindikasi pemberian penyekat β yaitu:

a. Asma
b. Blok AV (atrioventrikular) derajat 2 dan 3, sindroma sinus sakit (tanpa pacu jantung
permanen), sinus bradikardia (nadi < 50x/menit)
Cara pemberian penyekat β pada gagal jantung yaitu:

a. Inisiasi pemberian penyekat β


b. Penyekat β dapat dimulai sebelum pulang dari rumah sakit pada pasien
dekompensasi secara hati-hati
c. Naikan dosis secara titrasi
d. Pertimbangkan menaikan dosis secara titrasi setelah 2 - 4
e. minggu. Jangan naikan dosis jika terjadi perburukan gagal jantung, hipotensi
simtomatik atau bradikardi (nadi < 50 x/menit)
f. Jika tidak ada masalah diatas, gandakan dosis penyekat β sampai dosis target atau
dosis maksimal yang dapat di toleransi
Efek tidak mengutungkan yang dapat timbul akibat pemberian penyekat β adalah:

a. Hipotensi simtomatik
b. Perburukan gagal jantung
c. Bradikardia
3. Pengaruh Latihan Nafas Dalam Terhadap Sensitivitas Barofleks Arteri
Penyakit gagal jantung dapat mengakibatkan berbagai kerusakan yang
berdampak pada kualitas hidup klien. Salah satu kerusakan yang terjadi adalah
kerusakan pada baroreflek arteri. Baroreflek arteri merupakan mekanisme dasar yang
terlibat dalam pengaturan tekanan darah. Hasil penerapan evidance based nursing,
latihan nafas dalam dapat memberikan pengaruh terhadap sensitivitas barorefleks. Hasil
setelah diberikan intervensi selama seminggu terdapat peningkatan tekanan darahsistolik
dari 80 mmHg menjadi 100 mmHg, nilai denyut nadi mengalami penurunan dari 88
kali/menit menjadi 80 kali/menit dan pada frekuensi pernafasan terjadi penurunan dari
24 kali/menit menjadi 18 kali/menit.

12
sensitivitas baroreflek dapat ditingkatkan secara signifikan dengan bernafas
lambat. Halini menunjukkan adanya hubungan peningkatan aktivitas vagal dan
penurunan simpatis yang dapat menurunkan denyut nadi dan tekanan darah. Penurunan
tekanan darah dan reflek kemoresptor juga dapat teramati selama menghirup nafas
secara lambat dan dalam. Metode latihan relaksasi nafas dalam adalah dalam sistem
saraf manusia terdapat sistemsaraf pusat dan sistem saraf otonom. Fungsi sistem saraf
pusat adalah mengendalikan gerakan yang dikehendaki, misalnya gerakantangan, kaki,
leher, dan jari-jari. Sistem saraf otonom berfungsi mengendalikan gerakan yang otomatis
misalnya fungsi digestif dan kardiovaskuler. Sistem saraf otonom terdiridari dua sistem
yang kerjanya saling berlawanan yaitu saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Saraf
simpatis bekerja meningkatkan rangsangan atau memacu organ-organ tubuh
meningkatkan denyut jantung dan pernapasan serta menimbulkan penyempitan
pembuluh darah perifer dan pembesaran pembuluh pusat. Saraf parasimpatis bekerja
menstimulasi naiknya semua fungsi yang diturunkan oleh saraf simpatis. Pada
waktuorang mengalami ketegangan dan kecemasanyang bekerja adalah sistem saraf
simpatis sehingga denyut jantung, tekanan darah, jumlah pernafasan, aliran darah keotot
sering meningkat[ CITATION Bal07 \l 1033 ].

H. Evidence Based Gagal Jantung Kongestif


1. Mendengarkan Murrotal

Melalui terapi pembacaan Al Quran terjadi perubahan arus listrik di otot,


perubahan sirkulasi darah, perubahan detak jantung dan kadar darah pada kulit (Asman,
2008). Perubahan tersebut menunjukan adanya penurunan ketegangan saraf reflektif
yang mengakibatkan terjadinya vasodi-latasi dan peningkatan kadar darah dalam kulit,
diiringi dengan penurunan frekuensi detak jantung. Pemberian Terapi bacaan Al Quran
terbukti mengaktifan sel-sel tubuh dengan mengubah getaran suara menjadi gelombang
yang ditangkap oleh tubuh, menurunkan rangsangan reseptor nyeri sehingga otak
mengeluarkan opioid natural endogen. Opioid ini bersifat permanen untuk memblokade
nociceptor nyeri.
Gelombang suara dari pembacaan ayat Al Quran akan masuk melalui telinga,
kemudian menggetarkan gendang telinga, mengguncang cairan di telinga dalam serta

13
menggetarkan sel-sel berambut di dalam Koklea. Selanjutnya melalui saraf Koklearis
menuju ke otak. Tiga jaras Retikuler yang berperan dalam gelombang suara yaitu jaras
retikuler-talamus, hipotalamus.

Gelombang suara diterima langsung oleh Talamus yaitu suatu bagian otak yang
mengatur emosi, sensasi, dan perasaan, tanpa terlebih dahulu dicerna oleh bagian otak
yang berpikir mengenai baik-buruk maupun intelegensia. Kemudian melalui
Hipotalamus memengaruhi struktur basal forebrain termasuk sistem limbik.
Hipotalamus merupakan pusat saraf otonom yang mengatur fungsi perna-pasan, denyut
jantung, tekanan darah, pergerakan otot usus, fungsi endokrin, memori, dan lain-lain.
Selanjutnya, melalui akson neuron berdifusi mempersarafi neo-korteks (Qadri, 2003).
Zulkurnaini, Kadir, Murat, & Isa (2012) mengung-kapkan bahwa mendegarkan
bacaan ayat suci Al-quran memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan
ketegangan urat saraf reflektif, dan hasil ini tercatat dan terukur secara kuantitatif dan
kualitatif oleh sebuah alat berbasis komputer. Adapun pengaruh yang terjadi berupa
adanya perubahan arus listrik di otot, perubahan daya tangkap kulit terhadap konduksi
listrik, perubahan pada sirkulasi darah, perubahan detak jantung, dan kadar darah pada
kulit. Perubahan tersebut menunjukkan adanya relaksasi atau penurunan ketegangan
urat saraf reflektif yang mengakibatkan terjadinya vasodilatasi dan penambahan kadar
darah dalam kulit, diiringi dengan peningkatan suhu kulit dan penurunan frekuensi
denyut jantung.
Kemajuan tehnologi telah mendeteksi secara akurat bahwa mendengarkan ayat-
ayat Al Quran dapat merelaksasi saraf reflektif, memfungsikan organ tubuh, serta
memberikan aura positif pada tubuh manusia. Bacaan Al-Quran berefek pada sel-sel
dan dapat mengembalikan keseimbangan. Otak merupakan organ yang mengontrol
tubuh, dan darinya muncul perintah untuk relaksasi tubuh, khususnya sistem imunitas
[ CITATION Ril14 \l 1033 ]

I. Peran Perawat Dalam Penatalaksanaan Proses Perawatan Paliatif


Menurut Matzo dan Sherman (2006) dalam Ningsih (2011) peran perawat paliatif meliputi :

14
1. Praktik di Klinik
Perawat memanfaatkan pengalamannya dalam mengkaji dan mengevaluasi
keluhan serta nyeri. Perawat dan anggota tim berbagai keilmuan mengembangkan
dan mengimplementasikan rencana perawatan secara menyeluruh. Perawat
mengidentifikasikan pendekatan baru untuk mengatasi nyeri yang
dikembangkanberdasarkan standar perawatan di rumah sakit untuk melaksanakan
tindakan. Dengankemajuan ilmu pengetahuan keperawatan, maka keluhan
sindroma nyeri yangkomplek dapat perawat praktikan dengan melakukan
pengukuran tingkat kenyamanan disertai dengan memanfaatkan inovasi, etik dan
berdasarkan keilmuannya
2. Pendidik
Perawat memfasilitasi filosofi yang komplek,etik dan diskusi tentang
penatalaksanaan keperawatan di klinik,mengkaji pasien dan keluarganya serta
semua anggota tim menerima hasil yang positif. Perawat memperlihatkan
dasarkeilmuan/pendidikannya yang meliputi mengatasi nyeri neuropatik,berperan
mengatasi konflik profesi, mencegah dukacita, dan resiko kehilangan. Perawat
pendidik dengan tim lainnya seperti komite dan ahli farmasi, berdasarkan
pedoman dari tim perawatan paliatif maka memberikan perawatan yang berbeda
dan khusus dalam menggunakan obat-obatan intravena untuk mengatasi nyeri
neuropatik yang tidak mudah diatasi.
3. Peneliti
Perawat menghasilkan ilmu pengetahuan baru melalui pertanyaanpertanyaan
penelitian dan memulai pendekatan baru yang ditunjukan padapertanyaan-
pertanyaan penelitian. Perawat dapat meneliti dan terintegrasi pada penelitian
perawatan paliatif.
4. Bekerja sama (collaborator)
Perawat sebagai penasihat anggota/staff dalam mengkaji bio-psiko-sosialspiritual
dan penatalaksanaannya. Perawat membangun dan mempertahankan hubungan
kolaborasi dan mengidentifikasi sumber dan kesempatan bekerja dengan tim
perawatan paliatif,perawat memfasilitasi dalam mengembangkan dan
mengimplementasikan anggota dalam pelayanan, kolaborasi perawat/dokter dan
komite penasihat. Perawat memperlihatkan nilai-nilai kolaborasi dengan pasien

15
dan keluarganya,dengan tim antar disiplin ilmu, dan tim kesehatan lainnya dalam
memfasilitasi kemungkinan hasil terbaik.
5. Penasihat (Consultan)
Perawat berkolaborasi dan berdiskusi dengan dokter, tim perawatan paliatif dan
komite untuk menentukan tindakan yang sesuai dalam pertemuan/rapat tentang
kebutuhan-kebutuhan pasien dan keluarganya. Dalam memahami peran perawat
dalam proses penatalaksanaan perawatan paliatif sangat penting untuk mengetahui
proses asuhan keperawatan dalam perawtan paliatif.
Asuhan keperawatan paliatif merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan
praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien paliatif dengan
menggunakan pendekatan metodologi proses keperawatan berpedoman pada
standar keperawatan, dilandasi etika profesi dalam lingkup wewenang serta
tanggung jawab perawat yang mencakup seluruh proses kehidupan, dengan
pendekatan yang holistic mencakup pelayanan biopsikososiospiritual yang
komprehensif, dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
[ CITATION Ilm16 \l 1033 ]

J. Asuhan Keperawatan Paliatif


1. Pengkajian Fisik
a.Dyspnea
1) Mengklarifikasi pola sesak napas, memicu / mengurangi faktor dan gejala
yang terkait.
2) Apakah pengobatan penyakit yang mendasarinya tepat?
3) Carilah penyebab reversibel dari sesak napas: infeksi, efusi pleura,
anemia, aritmia, emboli paru, atau bronkospasme.
4) Periksa saturasi oksigen (jika oksimeter pulsa tersedia).
5) Mintalah pasien untuk menilai tingkat keparahan gejala dan tingkat
gangguan / kecemasan terkait.
6) Mengeksplorasi ketakutan, berdampak pada kemampuan fungsional, dan
kualitas hidup.
b. Nyeri
1) Kaji penyebab utama nyeri
2) pengkajian nyeri pada pasien dengan CHF, harus terlebih dahulu
mengetahui nyeri berasal dari mana, apakah dari penyakit sendi
degeneratif, sakit punggung kronis, kegelisaan dan depresi.
3) Kaji skala nyeri dengan menggunakan PQRST atau Visual Analog Skala
(VAS)

16
c.Edema
Edema merupakan masalah yang di alami oleh pasien dengan CHF. edema
merupakan penyebab yang signifikan terhadap ketidaknyamanan dengan pasien
CHF biasanya di sertai dengan dyspnea. Kaji apakah terdapat edema pada
ekstermitas bawah.
d. Kelelahan
1) Pasien perawatan paliatif harus diskrining untuk kelelahan dan dampaknya.
2) Pola gejala, durasi; faktor yang terkait atau meringankan.
3) Gangguan dengan fungsi dan kualitas hidup.
4) Tingkat keparahan: ringan, sedang atau berat, atau dinilai pada skala 0-10.
5) Ketidakseimbangan cairan / elektrolit: periksa sodium, potasium, kalsium,
magnesium
6) Status dan pengobatan penyakit:
a) Mengecualikan kekambuhan atau perkembangan kanker.
b) Pengobatan hormon sering menyebabkan kelelahan.
c) Kaji ulang obat - beta-blocker, obat penenang, kortikosteroid, opioid.

2. Pengkajian Psikologis
a. Gejala fisik yang sering dikaitkan dengan depresi mungkin karena penyakit fisik atau
Pengobatannya jadi kurang membantu dalam melakukan diagnosa.
1) Perubahan berat badan / nafsu makan
2) Insomnia
3) Hilangnya energi
4) Kelelahan
5) Lambatnya psikomotor
6) Hilangnya libido
b. Gejala depresi pada pasien perawatan paliatif meliputi:
1) Tingkat keparahan dysphoric yang lebih parah.
2) Perasaan putus asa yang berlebihan, rasa bersalah, tidak berharga.
3) Penarikan sosial; kehilangan kenikmatan dalam aktivitas sehari-hari.
4) Sebuah harapan untuk kematian dini (atau pikiran untuk bunuh diri).
5) Respon positif terhadap pertanyaan "Apakah Anda merasa tertekan?
c. Sosial
1) Kaji aktivitas sehari-hari
2) Kaji apakah masih bekerja atau tidak
3) Kaji apakah hubungan dengan keluarga atau saudara terdekat
3. Pengkajian Spiritual
a. Afiliasi agama
1) Partisipasi agama klien dalam kegiatan keagamaan
2) Jenis partisipasi dalam kegiatan keagamaan
b. Keyakinan / spiritual agama
17
1) Praktik kesehatan : diet, mencari dan menerima terapi / upacara keagamaan
2) Dalam awal diagnosa pasien dengan CHF akan menyangkal atau tidak terima
dengan penyakit yang di alaminya sehingga pada awal pengobatan pasien
akan menolak semua terapi kesehatan yang di berikan kepadanya sehingga
pasien tidak mau menerima semua pengobatan, tetapi dengan berjalan nya
waktu pasien akan mencari dan menerima terapi terkhusus upacara keagmaan
sebagai kebutuhannya.
3) Persepsi penyakit : hukuman, cobaan terhadap keyakinan
4) Strategi koping
c. Pengkajian data subyektif meliputi :
1) Konsep tentang Tuhan atau ketuhanan
2) Sumber harapan dan kekuatan
3) Praktik agama dan ritual
4) Hubungan antara keyakinan dan kondisi kesehatan.
d. Pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinik yang meliputi :
1) Afek dan sikap
2) Perilaku
3) Verbalisasi
4) Hubungan interpersonal
5) Lingkungan.
4. Diagnosis Keperawatan yang Mungkin Muncul
a.Ketidakefektifan Pola Napas
b. Kelelahan
c.Nyeri
d. Depresi
5. Intervensi
a. Dsypnea
1) Perlakukan penyebab reversibel, jika sesuai.
2) Jika stridor atau tanda obstruksi vena kava superior - rujukan darurat ke
rumah sakit.
3) Berikan steroid dosis tinggi dalam dosis terbagi: deksametason 16mg, atau
prednisolon 60mg.
4) Oksigen: penilaian pasien secara hati-hati. Penting untuk menghindari
ketergantungan psikologis.
5) Buka jendela untuk mendapatkan udara yang segar.
6) Jika saturasi oksigen kurang dari 90%, pertimbangkan percobaan oksigen.
7) Nebulised sodium chloride 0,9%, 5ml sesuai kebutuhan dapat membantu
melonggarkan sekresi.
8) Bronkodilator: dengan inhaler atau spacer: Berhenti jika tidak ada manfaat
simtomatik.

18
9) Steroid: percobaan dexamethasone oral 8-16mg sehari untuk limfangitis
atau hambatan saluran udara yang telah menanggapi steroid sebelumnya.
10) Jika tidak menjalani terapi darurat, berikan steroid di pagi hari.
b. Kelelahan
1) Mengakui kenyataan gejala, dan pengaruhnya terhadap pasien / keluarga.
2) Mengetahui pemahaman tentang penyakit / pengobatan; jelaskan
kemungkinan penyebab kelelahan.
3) Riwayat aktivitas / kelelahan dapat membantu mengidentifikasi
presipitan / waktu gejala.
4) Aktivitas fisik:
5) Latihan bernutrisi, latihan aerobik dan kekuatan; pertimbangkan rujukan
fisioterapi.
6) Konservasi energi: menetapkan prioritas; kecepatan; menjadwalkan
aktivitas pada saat energi puncak; menghapuskan kegiatan yang tidak penting;
Tidur siang siang pendek jika tidur di malam hari tidak terpengaruh; menghadiri
satu aktivitas pada suatu waktu
7) menghemat energi untuk aktivitas berharga.
8) Intervensi psikososial: manajemen stres; terapi relaksasi; kebersihan tidur
c. Nyeri
1) Apabila nyeri ringan berikan obat paracetamol atau NSAID
2) Apabila nyeri sedang berikan obat opioid (kodein 30-60mg) +paracetamol
atau NSAID+obat lain
3) Apabila nyeri hebat/ berat berikan obat opioid (morphine 5mg)+
paracetamol atau NSAID+ obat lain
d. Depresi
1) Pada depresi ringan, dukungan psikologis bisa sama efektifnya dengan
pengobatan.
2) Kontrol nyeri yang adekuat dapat memperbaiki gejala depresi secara
signifikan.
3) Ketergantungan spiritual mungkin merupakan komponen depresi, atau
berbeda dari itu.
4) Pertimbangkan psikoterapi suportif atau terapi perilaku kognitif.
5) Pasien dengan depresi berat dan / atau ide bunuh diri jarang terjadi tetapi
harus dirujuk untuk pengobatan psikologis / psikiatri untuk penilaian.

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan diskusi dan mencari sumber literature yang dapat dipercaya,
gagal jantung sering juga disebut Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung
kongestif adalah suatu kondisi jantung mengalami kegagalan dalam memompa darah
dalam mencukupi kebutuhan sel-sel tubuh akan nutrien dan oksigen secara adekuat.
Intervensi Perawatan Paliatif pada Gagal Jantung Kongestif yaitu dengan melakukan
pengkajian pola nafas, dukungan psikologis, mengkaji nyeri dan melakukan intervensi
Home Based Exercise Training (HBET), Terapi Penyekat Beta sebagai Anti-Remodelling
pada Gagal Jantung, Latihan Nafas Dalam Terhadap Sensitivitas Barofleks Arteri.
B. Saran

Penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat atau


pembaca dalam melakuakan perawatan paliatif pada pasien dengan gagal jantung
kongestif serta selalu memberi dukungan psikologis bagi para penderita gagal jantung
kengestif.

i.

20
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta: EGC

Carepenito, L.J.2009. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC

Cemy Nur Fitria. 2010. Jurnal Palliative Care pada Penderita Penyakit Terminal. Diakses

Tanggal 17 Oktober 2018. download.portalgaruda.org/article.php?

article=119492&val=5466

21

Anda mungkin juga menyukai