Anda di halaman 1dari 21

SKARIFIKASI BENIH

(Laporan Praktikum Silvika)

Oleh

Vita Arianasari
1614151058

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada umumnya biji tidak segera tumbuh menjadi tanaman baru akan tetapi

memerlukan waktu istirahat yang cukup lama. Oleh karena itu dilakukanlah

skarifikasi dalam rangka menghentikan masa dormansi atau masa istirahat benih

tersebut. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa

dormansinya atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih

tersebut. Dormansi dapat dipandang sebagai keuntungan biologis dari benih dalam

menghadapi siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik

musim maupun kemungkinan- kemungkinan variasi yang akan terjadi. Dormansi

pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari biji/kulit biji, keadaan

fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut.

Dilakukannya skarifikasi tentu memerlukan pengetahauan bagaimana

menskarifikasi benih yang benar. Karena setiap benih memiliki sifat yang

berbeda, mulai dari kulit luar yang keras dan juga yang tidak keras. Ada beberapa

tehnik-tehnik skarifikasi. Tetapi dalam praktikum ini yang digunakan hanya

skarifikasi menggunakan air biasa. Artinya tidak menggunakan bahan kimia yang

mana biasanya digunakan untuk biji yang memiliki kulit luar yang keras.
B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum skarifikasi benih ini adalah sebagai berikut.

1. Agar mahasiswa mengenal dan memahami sifat-sifat kulit benih dari benih

beberapa pohon.

2. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami cara-cara yang lazim dilakukan

dalam skarifikasi.

3. Agar mahasiswa dapat menentukan dan melakukan skarifikasi sesuai dengan

kondisi benihnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Benih merupakan komponen teknologi kimiawi biologis pada setiap musim tanam

untuk komoditas tanaman pangan. Benih dari segi teknologi diartikan sebagai

organisme mini hidup yang dalam keadaan “istirahat” atau dorman yang

tersimpan dalam wahana tertentu yang digunakan sebagai penerus generasi .

Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak

berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum telah

memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan (Sutopo, 2002).

Dormansi dapat dipandang sebagai keuntungan biologis dari benih dalam

menghadapi siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik

musim maupun kemungkinan- kemungkinan variasi yang akan terjadi. Dormansi

pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari biji/kulit biji, keadaan

fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut (Purwanto,

1984).

Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu untuk

memenuhi proses perkecambahan. Benih yang mempunyai kulit biji tidak

permeable dapat dirangsang dengan mengubah kulit biji untuk membuat

permeable terhadap gas–gas dan air. Perkecambahan benih dipengaruhi oleh 2

faktor yaitu faktor dari dalam (faktor genetic) berupa tingkat pemasakan benih dan
kulit benih dari luar (faktor lingkungan) yaitu pengaruh suhu, cahaya, air dan

media tumbuh (Haryuni, 2007).

Dorman artinya tidur atau beristirahat. Para ahli biologi menggunakan istilah itu

untuk tahapan siklus hidup, seperti biji dorman, yang memiliki laju metabolisme

yang sangat lambat dan sedang tidak tumbuh dan berkembang. Dormansi pada biji

meningkatkan peluang bahwa perkecambahan akan terjadi pada waktu dan tempat

yang paling menguntungkan bagi pertumbuhan biji. (Campbell, 2000).

Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengikir atau menggosok kulit biji dengan

kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, perlakuan impaction

(goncangan) untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus. Hal tersebut

bertujuan untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel

terhadap air dan gas. Salah satu tanaman yang memiliki biji keras adalah tanaman

saga (Abrus precatorius L.). Saga termasuk jenis tumbuhan perdu, dimana daun

saga yang berasa manis berkhasiat untuk mengatasi sariawan. Tanaman itu juga

mempunyai efektivitas ekspektoran yang memacu sekresi mukrosa dari trakea.

Kandungan senyawanya mampu mengeluarkan dahak dan melegakan

tenggorokan gatal. Daun saga mempunyai kandungan glycyrrhicic acid yang

memiliki sifat menyejukkan kulit dan selaput lendir pada tenggorokan. Sehingga

diperlukan teknik untuk mempercepat proses pematahan dormansi biji saga yang

berkulit keras ini, salah satunya adalah skarifikasi. Karena tanaman saga sebagai

tanaman perdu yang memiliki pohon cukup besar dapat menyejukkan lingkungan

sekitar yang selain itu daunnya dapat dimanfaatkan sebaagai obat (Al-Karaki,

2002)
Berdasarkan faktor penyebabnya, dormansi dapat dibagi atas dua macam, yaitu

Impoised dormancy (quiscense) dan imnate dormancy (rest). Imposed dormancy

(quiscence) adalah terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan

yang tidak menguntungkan. Sedangkan imnate dormancy (rest) adalah dormansi

yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ biji itu sendiri

(Dwidjoseputro, 1994).

Berdasarkan mekanisme dormansi dalam biji, dormansi dapat dibedakan atas dua

macam, yaitu mekanisme fisik dan mekanisme fisiologis. Mekanisme fisik

merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ

biji itu sendiri, terbagi menjadi mekanis : embrio tidak berkembang karena

dibatasi secara fisik, fisik : penyerapan air terganggu karena kulit biji yang

impermeabel, kimia : bagian biji/buah mangandung zat kimia penghambat.

Sedangkan mekanisme fisiologis merupakan dormansi yang disebabkan oleh

terjadinya hambatan dalam proses fisiologis. (Mawazin, 2013).


DAFTAR PUSTAKA

Al-Karaki. G.N. 2002. Seed size and water potential effects on water uptake,
germination and growth oflentil. Journal. Agronomy Crop Science. Vol 2.
No 4. 5 Halaman.

Campbell, Reece JB, dan Mitchell LG. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta
Erlangga.

Dwidjoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta. PT Gramedia


Pustaka Utama:

Haryuni dan Harjanto. 2007. Pengaruh Skarifikasi Sistem Oven Terhadap


Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Benih Tanaman Jati (Tectona
grandis L.F). Jurnal. Pengaruh Skarifikasi Vol.7. No.1. 3 Halaman.

Mawazin dan Atok Subiakto. 2013. Keanekaragaman dan komposisi jenis


permudaan alam hutan rawa gambut bekas tebangan di riau. Jurnal.
Rehabilitasi Hutan.Vol 1 No 2. 14 Halaman.

Purwanto, 1984. Fisiologi Biji. Bengkulu. Proyek Peningkatan dan


Pengembangan Perguruan Tinggi Universitas Bengkulu.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Fakultas. Malang. Pertanian UNBRAW.


III. METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah lembar kerja umtuk mendata

hasil pengamatan, gelas plastik untuk twmpat saat benih direndam dengan air

hangat dan bak kecambah yang berfumgsi untuk tempat kecambahan benih.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih saga (Adenanthera pavonina L),

air hangat, pasir dan tanah.

B. Cara Kerja

Cara kerja yang dilakukan pada praktikum skarifikasi benih adalah sebagai

berikut.

1. Mengambil 200 benih saga ( Adenanthera pavonina L.), amati/perhatikan

kondisi kulit benihnya sebelum diskarifikasi

2. Masukan 200 benih saga tersebut ke dalam gelas.

3. Rendamlah benih tersebut dengan air hangat (±50’C) dan biarkan selama 24

jam.

4. Meniriskan benih tersebut dan mengamatinya.


5. Benih-benih yang diberi perlakuan tersebut, masing-masing dikecambahkan

dalam bak atau wadah kecambah dengan media pasir, kemudian ditaruh di rumah

kaca untuk tugas pengamatan berikutnya.


VI. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan

Hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Pengamatan Skarifikasi Benih


No. Nama Benih Skarifikasi Kondisi kulit benih
yang dilakukan
Sebelum Sesudah
diskarifikasi diskarifikasi

1. Saga
(Adenanthera Secara fisik
pavonina L.) (perendaman)

Gambar 1. Biji Gambar 2.Biji


saga sebelum saga setelah
diskarifikasi diskarifikasi

B.Pembahasan

Praktikum skarifikasi yang dilakukan kelompok kami yaitu menggunakan biji

saga. Saga Pohon (Adenanhtera pavonina L.) memiliki kulit biji yang keras,

sehingga jenis dormansi yang dialaminya termasuk dormansi fisik. Oleh karena

itu metode yang digunakan dalam menghentikan masa dormansi adalah secara

fisik yang dilakukan dengan pengamplasan dan perendaman. Tetapi dalam


praktikum yang kami lakukan hanya menggunakan cara perendaman saja.

Perendaman yang dilakukan ialah menggunakan air hangat yang mana direndam

selama 24 jam sebelum akhirnya dilakukan persemaian atau penanaman benih

yang telah berkecambah.

Benih saga mempunyai kadar air rata-rata di bawah 10%. Benih yang mempunyai

kadar air di bawah 10% umumnya mempunyai sifat ortodoks, yaitu benih yang

toleran terhadap penurunan kadar air (kurang dari 10%) dan viabilitasnya dapat

dipertahankan selama penyimpanan pada suhu rendah. Sifat ortodoks ini yaitu

toleran terhadap pengeringan dan suhu rendah, kadar air penyimpanan 5-7%

dengan suhu 0-20ºC. Benih ortodoks kebanyakan dapat disimpan untuk jangka

panjang pada suhu kamar jika kadar airnya rendah. Dengan kadar air yang rendah

tersebut, biji lebih sesuai disimpan dengan wadah yang kedap udara. Tujuan

utama dari penyimpanan kedap udara adalah untuk mencegah penyerapan

kelembaban oleh benih kering. Benih saga pohon sebelum disimpan dikeringkan

hingga kadar airnya berkisar antara 5-10%. Benih disimpan menggunakan wadah

kedap udara dan disimpan di ruang kamar.

Skarifikasi merupakan salah satu upaya perawatan benih, yang ditujukan untuk

mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang

seragam.

Macam-macam skarifikasi adalah sebagai berikut

1. Skarifikasi Fisik

Skarifikasi fisik dilakukan dengan merendam biji dalam air panas atau biji juga

bisa di oven lebih dahulu sebelum meredam dengan air panas. Perlakuan fisik
dengan perendaman benih pada air panas selama 7-10 menit. Hal ini bertujuan

supaya benih lebih lunak sehingga memudahkan terjadinya perkecambahan.

2. Skarifikasi Kimia

Skarifikasi kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang bertujuan

supaya kulit biji yang digunakan sebagai benih lebih bersifat permeabel dan lebih

lunak sehingga lebih mudah untuk menyerap air dan udara pada masa imbibisi.

Biji dilindungi oleh kulit biji yang terdiri atas jaringan yang secara identik dengan

tanaman induknya dan biasanya berkembang dari intergumen biji. Larutan kimia

yang biasa digunakan adalah asam sulfat pekat (H2SO4 96 %) dengan cara

merendam benih kedalam larutan atau menggunakan KNO3, sebagai pengganti

fungsi cahaya dan suhu serta untuk mempercepat masuknya oksigen kedalam

benih.

3. Skarifikasi Mekanik

Skarifikasi secara mekanik umumnya digunakan untuk memecah dormansi benih

akibat impermeabilitas kulit, baik terhadap air maupun gas, resisten mekanisme

kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit benih. Dormansi benih adalah

ketidakmampuan benih hidup untuk berkecambah pada lingkungan yang optimum

untuk perkecambahannya. Cara mekanisme yang dilakukan adalah dengan

menggosok kulit biji menggunakan amplas, sedangkan perlakuan “impaction”

(goncangan) dilakukan untuk benih yang memiliki sumbang gabus. Skarifikasi

dengan cara mekanik pada setiap benih dapat diberi perlakuan individu sesuai

dengan ketebalan biji. Semua benih dibuat permeabel dengan resiko kerusakan

kecil, asal daerah radikel tidak rusak


Dormansi merupakan suatu keadaan pertumbuhan dan metabolism yang

terhambat, dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik atau oleh

faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Dengan kata lain dapat didefenisikan

sebagai suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi

lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Dormansi terjadi dalam

banyak tipe dan bentuk. Seperti pada biji, banyak biji dorman untuk suatu perioda

waktu setelahnya keluar dari buah. Contoh umum yang menunjukkan dormansi

antara lain misalnya, gugurnya daun untuk menghindari bahaya sewaktu udara

mulai menjadi dingin atau pun kemarau. Banyak tumbuhan atas bagian atasnya

mati selama perioda musim dingin atau kekeringan, sedangkan bagian yang ada

dibawah tanah seperti bulbus, kormus, atau umbi masih tetap hidup dibawah

tanah, tetapi dalam keadaan dorman.

Dormansi juga merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan diri terhadap

suhu yang sangat rendah pada musim dingin, atau kekeringan di musim panas

yang merupakan bagian paling penting dalam perjalanan hidup tumbuhan

tersebut. Dormansi harus berjalan pada saat yang tepat dan membebaskan diri

atau mendongkraknya apabila kondisi telah memungkinkan untuk memulai

pertumbuhan. Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda

perkecambahanya, sehingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk

melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun

pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan

kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan

dormansi dan memulai proses perkecambahanya. Teknik skarifikasi digunakan


untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk

mengatasi dormansi embrio.

Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor

penyebab, mekanisme, dan bentuknya.

a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi

1. Imposed dormancy (quiscense), yang berarti terhalangnya pertumbuhan katif

karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan

2. Imnate dormancy (rest), dimana dormansi disebabkan oleh keadaan atau

kondisi didalam organ biji itu sendiri.

b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji

1. Mekanisme Fisik

Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatanya disebabkan oleh organ

biji itu sendiri, terbagi menjadi :

- Mekanis, embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik

- Fisik, penyerapan air terganggu karena kulit biji yang bersifat impermeable

- Kimia, bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia penghambat.

2. Mekanisme fisiologis

Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses

fisiologis, terbagi menjadi:

- Photodormancy, proses fisiologis dalam biji terhambat oleh faktor cahaya

- Immature embryo, proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embryo

yang tidak/belum matang

- Thermodormancy, terhambat oleh pengaruh suhu


c. Berdasarkan bentuk dormansi

1. Kulit biji immpermeabel terhadap air (O2)

- Bagian biji yang immpermeabel, membrane biji, kulit biji, nukleus, perikarp, dan

endokarpium

- Kulit biji yang keras di lapisan epiderm nya disebabkan oleh pengaruh genetic

maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji inii dapat dilakukan dengan

stratifikasi mekanisme secara fisik.

-.Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi

pada membrane(missal: cutin, lignin)

-.Bagian biji yang mengatur masuknya air kedalam biji, mikrofil, kulit biji,

raphi/hilum , strophiole, mekanisme higroskopismenya diatur oleh hilum.

-.Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji.

Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat

dipatahkan dengan perlakuan temperature tinggi dan pemberian larutan asam kuat.

2. Embrio belum masak (Immature embryo)

- Ketika terjadi absisi, embrio masih belum menyelesaikan tahap

perkembanganya. Misalnya melinjo (Gnetum gnemon)

- Embrio belum terdiferensiasi

- Embrio secara morfologis telah berkembang, namun masih butuh waktu untuk

mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.

3. Biji membutuhkan pemasakan sempurna setelah panen dalam penyimpanan

kering
Dormansi karena kebutuhan akan afterripenning ini dapat dipatahkan dengan

perlakuan temperature tinggi dan pengelupasan kulit.

4. Biji membutuhkan suhu rendah

Biasa terjadi pada spesies daerah temperature sedang, seperti apel dan family

rosaceae. Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara biji dorman selama

musim gugur melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim

semiberikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat

dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendahdengan pemberian aerasi dan

imbibisi.

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:

- Jika kulit dikupas, embrio tumbuh

- Embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah

- Embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih

membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi

- Perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumbuh

kerdil

- Akan keluar pada musim semi, namun epikotil baru keluar pada musim semi

berikutnya (setelah melampaui satu musim dingin)

5. Biji bersifat Light sensitive

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara:

1. Intensitas (kuantitas) cahaya

2. Kualitas cahaya(panjang gelombang)

3. Fotoperiodisme (panjang hari)


Kendala yang dialami dalam praktikum skarifikasi benih saga ini adalah benih

saga tidak berkecambah seluruhnya, hanya beberapa biji saja yang berhasil

berkecambah sehingga kami mengulangi percobaan skarifikasi ini. Setelah

diulangi dan menghasilkan lebih banyak kecambah dari skarifikasi sebelumnya

kemudian menyemainya di media yang telah dipersiapkan yaitu campuran pasir

dan tanah tetapi lebih banyak jumlah pasirnya. Setelah beberapa hari dari jumlah

benih saga yang di semai hanya beberapa benih saja yang berhasil tumbuh dan

ada yang mengalami kerusakan benih atau busuk.


V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum skarifikasi benih ini adalah

sebagai berikut.

1. Saga termasuk jenis biji ortodoks karena cirri-ciri jenis biji ini adalah berukuran

kecil, kedar air rendah, bentuk bulat dan permukaan halus.

2. Cara yang digunakan dalam skarifikasi benih saga ini adalah secara fisik atau

perendaman dengan air.

3. Karena saga termasuk jenis benih yang ortodoks, maka skarifikasi

menggunakan cara fisik atau perendaman.


LAMPIRAN
DOKUMENTASI

Gambar 1.Benih saga saat skarifikasi (perendaman)

Gambar 2. Benih setelah di tanam dalam media pasir


Gambar 3. Benih sebelum diskarifikasi

Gambar 4. Benih setelah diskarifikasi