Anda di halaman 1dari 107

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN

NOMOR : KM 65 TAHUN 1993

TENTANG

FASILITAS PENDUKUNG KEGIATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

MENTERI PERHUBUNGAN,

Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang


Prasarana dan Lalu Lintas Jalan telah diatur ketentuan mengenai
fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan;

b. bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu diatur


lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Perhubungan;

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran


Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3186);

2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan


Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480), jo. Undang-undang
Nomor 22 Tahun 1992 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang
Penangguhan Mulai Berlakunya Undang-undang Nomor 14 tahun
1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai Undang-undang
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 99, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3494);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan


(Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3293);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1990 tentang Jalan Tol


(Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 12, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3405);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahhun 1993 tentang Prasarana dan


Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3529);

6. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok


Organisasi Departemen;
7. Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan
Organisasi Departemen, sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 58 Tahun 1993;
8. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 91/OT.002/ Phb-80 dan
Nomor KM 164/OT.002/Phb-80 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Perhubungan, sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 58 Tahun 1991;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG FASILITAS


PENDUKUNG KEGIATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN
JALAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Halte adalah tempat pemberhentian kendaraan umum untuk menurunkan dan/atau
menaikkan penumpang;
2. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk
dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran;
3. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat
sementara;
4. Fasilitas parkir pada badan jalan adalah fasilitas untuk parkir kendaraan dengan
menggunakan sebagian badan jalan;
5. Pemakai jalan adalah pengemudi kendaraan dan/atau pejalan kaki;
6. Tempat istirahat adalah lokasi di luar daerah manfaat jalan yang disediakan untuk
dipergunakan sebagai tempat istirahat dan parkir kendaraan;
7. Trotoar adalah bagian dari badan jalan yang khusus disediakan untuk pejalan kaki;
8. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat.

BAB II
PERSYARATAN TEKNIS

Pasal 2

Fasilitas pendukung meliputi :


a. fasilitas pejalan kaki;
b. fasilitas parkir pada badan jalan;
c. fasilitas halte;
d. fasilitas tempat istirahat;
e. fasilitas penerangan jalan.

Pasal 3

(1) Fasilitas pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, terdiri dari :
a. trotoar;
b. tempat penyeberangan yang dinyatakan dengan marka jalan dan/atau rambu
lalu lintas;
c. jembatan penyeberangan;
d. terowongan penyeberangan.
(2) Trotoar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, harus memenuhi
persyaratan:
a. lebar sesuai dengan kondisi lokasi atau jumlah pejalan kaki yang melalui
atau menggunakan trotoar tersebut, sebagaimana dalam lampiran keputusan
ini;
b. memiliki ruang bebas diatasnya sekurang- kurangnya 2,50 meter dari
permukaan trotoar.

(3) Tempat penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, berupa
zebra cross atau dinyatakan dengan marka berupa 2 garis utuh melintang jalur lalu
lintas dan/atau berupa rambu perintah yang menyatakan tempat penyeberangan
pejalan kaki.

(4) Jembatan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c, memiliki
lebar sekurang-kurangnya 2,00 meter dan tinggi jembatan penyeberangan bagian
paling bawah sekurang-kurangnya 5,00 meter dari atas permukaan jalan.

(5) Terowongan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d,


memiliki lebar sekurang-kurangnya 2,00 meter dan tinggi bagian atas terowongan
sekurang-kurangnya 3,00 meter dari lantai terowongan serta dilengkapi dengan
lampu penerangan.

Pasal 4

(1) Penggunaan badan jalan untuk fasilitas parkir kendaraan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 huruf b, hanya dapat dilakukan pada jalan kolektor atau lokal
dengan memperhatikan :
a. kondisi jalan dan lingkungannya;
b. kondisi lalu lintas;
c. aspek keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas.
(2) Parkir pada badan jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilakukan
secara sejajar atau membentuk sudut menurut arah lalu lintas.

Pasal 5

(1) Fasilitas halte sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c, harus memenuhi
persyaratan :
a. dibangun sedekat mungkin dengan fasilitas penyeberangan pejalan kaki;
b. memiliki lebar sekurang-kurangnya 2,00 meter, panjang sekurang-
kurangnya 4,00 meter dan tinggi bagian atap yang paling bawah sekurang-
kurangnya 2,50 meter dari lantai halte;
c. ditempatkan di atas trotoar atau bahu jalan dengan jarak bagian paling
depan dari halte sekurang-kurangnya 1,00 meter dari tepi jalur lalu lintas.
(2) Di tempat-tempat tertentu pada jalur angkut- an penumpang umum dalam kota,
dilengkapi dengan fasilitas halte sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), atau rambu
yang menyatakan tempat pemberhentian bus.

Pasal 6

(1) Fasilitas tempat istirahat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d, harus
memenuhi persyaratan:
a. terletak di luar daerah manfaat jalan;
b. jalan masuk dan keluar ke dan dari tempat istirahat dapat menjamin
keselamatan dan kelancaran lalu lintas;
c. dilengkapi dengan tempat parkir kendaraan.

(2) Fasilitas tempat istirahat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dinyatakan dengan
rambu-rambu lalu lintas.

Pasal 7

Fasilitas penerangan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e, harus


memenuhi persyaratan :
a. ditempatkan ditepi sebelah kiri jalur lalu lintas menurut arah lalu lintas atau di
pulau lalu lintas;
b. jarak tiang penerangan jalan sekurang- kurangnya 0,60 meter dari tepi jalur lalu
lintas;
c. tinggi bagian yang paling bawah dari lampu penerangan jalan sekurang-
kurangnya 5,00 meter dari permukaan jalan.

BAB III

PENYELENGGARAAN FASILITAS PENDUKUNG

Pasal 8

Penetapan lokasi, pembangunan, pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas pendukung


dilakukan oleh:

a. Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk, untuk jalan nasional kecuali jalan
nasional yang berada dalam ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II atau yang
berada dalam Kotamadya Daerah Tingkat II;

b. Pemerintah Daerah Tingkat I, untuk jalan propinsi, kecuali jalan propinsi yang
berada dalam ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II atau jalan propinsi yang
berada dalam Kotamadya Daerah Tingkat II;

c. Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten, untuk:


1) jalan kabupaten;
2) jalan propinsi yang berada dalam Ibu Kota Kabupaten Daerah Tingkat II,
dengan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;
3) jalan nasional yang berada dalam Ibu Kota Kabupaten Daerah Tingkat II
dengan persetujuan Direktur Jenderal.
d. Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya untuk:
1) jalan kotamadya;
2) jalan propinsi yang berada dalam Kotamadya Daerah Tingkat II, dengan
persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I;
3) jalan nasional yang berada dalam Kotamadya Daerah Tingkat II dengan
persetujuan Direktur Jenderal.

Pasal 9

Penetapan lokasi, pembangunan, pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas pendukung


yang berada di jalan tol dilakukan oleh penyelenggara jalan tol, dengan memenuhi
persyaratan teknis sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan ini.

BAB IV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 10

(1) Direktur Jenderal melaksanakan pembinaan dan pengawasan teknis atas


penyelenggaraan fasilitas pendukung.

(2) Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi :

a. penentuan persyaratan teknis fasilitas pendukung;


b. penentuan petunjuk teknis, yang mencakup penetapan pedoman, prosedur
dan/atau tata cara penyelenggaraan fasilitas pendukung;
c. pemberian bimbingan teknis dalam rangka peningkatan kemampuan dan
ketrampilan teknis para penyelenggara fasilitas pendukung.

(3) Pengawasan teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi :

a. kegiatan pemantauan dan penilaian atas penyelenggaraan fasilitas


pendukung;
b. kegiatan pemberian saran teknis dalam penyelenggaraan fasilitas pendukung.

Pasal 11

Pembinaan dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), ayat
(2) dan ayat (3), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal.
BAB V

KETENTUAN LAIN LAIN

Pasal 12

(1) Setiap orang dilarang melakukan suatu perbuatan yang dapat berakibat merusak
atau membuat tidak berfungsinya fasilitas pendukung.
(2) Penyelenggara fasilitas pendukung wajib menjamin agar fasilitas pendukung
berfungsi sebagaimana yang ditetapkan dalam Keputusan ini.

BAB VI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 13

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal 17 September 1993.

Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : .

MENTERI PERHUBUNGAN

Dr. HARYANTO DHANUTIRTO

Salinan Keputusan ini disampaikan kepada :


1. Para Menteri Kabinet Pembangunan VI;
2. Kepala Kepolisian RI;
3. Sekretaris Jenderal dan Para Kepala Badan di lingkungan Departemen
Perhubungan;
4. Direktur Jenderal Perhubungan Darat;
5. Direktur Jenderal Bina Marga;
6. Para Gubernur Kepala Daerah Tk I;
7. Para Kepala Kepolisian Daerah;
8. Para Kakanwil Departemen Perhubungan;
9. Para Kepala Dinas LLAJ.
LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN
NOMOR : 65 Tahun 1963
TANGGAL :
------------------------------

LEBAR TROTOAR BERDASARKAN LOKASI

LEBAR
NO LOKASITROTOAR TROTOAR
MINIMUM

1 Jalan di daerah pertokoan atau 4 meter


kaki lima. 3 meter
2 Di wilayah perkantoran utama..
3 Di wilayah industri : 3 meter
a. pada jalan primer; 2 meter.
b. pada jalan akses;
4 Di wilayah pemukiman : 2,75 meter
a. pada jalan primer; 2 meter
b. pada jalan akses;

LEBAR TROTOAR BERDASARKAN JUMLAH PEJALAN KAKI

NO JUMLAH PEJALAN LEBAR


KAKI/DETIK/METER|) TROTOAR
(METER)

1 6 ORANG. 2,30 - 5,00


2 3 ORANG. 1,50 - 2,30
3 2 ORANG. 0,90 - 1,50
4 1 ORANG. 0,60 - 0,90
J A L A N
NO.: 011/T/Bt/1995

TATA CARA PERENCANAAN


FASILITAS PEJALAN KAKI
DI KAWASAN PERKOTAAN

DER P A R T E M EN PEKERJAAN UMUM


DIRE KTORAT JENDERAL BINA MARGA
DIREKTORAT BINA TEKNIK
PRAKATA

Dalam rangka mengembangkan jaringan jalan yang efisien dengan kualitas yang baik,
perlu diterbitkan buku-buku standar mengenai perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian
dan pemeliharaan.

Untuk maksud tersebut Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku pembina jalan di
Indonesia telah berusaha menyusun standar-standar yang diperlukan sesuai dengan
prioritas dan kemampuan yang ada.

Sesuai dengan ketentuan-ketentuan Dewan Standarisasi Indonesia yang diberikan


oleh Panitia Tetap Standarisasi Departemen Pekerjaan Umum, standar-standar bidang
konstruksi dikelompokkan menjadi standar mengenai Tata Cara Pelaksanaan,
Spesifikasi, dan Metode Pengujian.

Buku standar "Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki Di Kawasan


Perkotaan" ini merupakan salah satu konsep dasar yang dihasilkan oleh Direktorat
Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga yang masih memerlukan pembahasan-
pembahasan oleh Panja dan Pantap Standarisasi untuk menjadi Rancangan SNI atau
Pedoman Teknik.

Namun demikian sambil menunggu proses tersebut, kiranya standar ini dapat
diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan perencanaan fasilitas pejalan kaki di
kawasan perkotaan, dan kami mengharapkan dari hasil penerapan di lapangan dapat
diperoleh masukan-masukan berupa saran dan tanggapan guna penyempurnaan
selanjutnya.

Jakarta, Juni 1995


DIREKTUR BINA TEKNIK

MOHAMAD ANAS ALY


DAFTAR ISI

Halaman
PRAKATA
DAFTAR ISI i
DAFTAR PUSTAKA ii

BAB I. DESKRIPSI

1.1. Maksud dan Tujuan 1


1.1.1. Maksud 1
1.1.2. Tujuan 1
1.2. Ruang Lingkup 1
1.3. Pengertian 1

BAB II. KETENTUAN-KETENTUAN

2.1. Umum 3
2.1.1. Jalur Pejalan kaki 4
2.2. Teknis 8
2.2.1. Jalur Pejalan Kaki 8
2.2.2. Trotoar 9
2.2.3. Fasilitas Penyeberangan 10

BAB III. PROSEDUR PERENCANAAN

3.1. Umum 13
3.2. Teknis 13
3.2.1. Pengumpulan Data 13
3.2.2. Perencanaan 13

LAMPIRAN

i
DAFTAR PUSTAKA

1. Transport and Laboratory Overseas Development Administration TOWARD


SAFER ROADS IN DEVELOPMENT COUNTRIES Guide for Planners
Engineers.

2. S2 Program in Highway Engineering Development Institute of Technology


Bandung Directorate General Bina Marga Workshop Management of Traffic in
Arterial Streets 11-13 April 1989.

3. Lois J. Pignatoro Traffic Engineering Theory and Practice 1973 by PreuticeHall inc.
Engle Wood Clarffs. New Jersey.

4. Produced by the Institute of Highways an Transportation with the Development of


Transport Road in traffic in Urban Areas. Crown Copyright 1987.

5. Transportation Research Board National Research Council Washington DC 1985


Highway Capacity Manual Special Report 209.

6. Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga Standar


Perencanaan Geometri untuk Jalan Perkotaan, Januari 1988.

ii
BAB I
DESKRIPSI

1.1. Maksud dan Tujuan

1.1.1 Maksud

Tata cara ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam perencanaan fasilitas
pejalan kaki sebagai suatu bagian dan jaringan jalan yang merupakan suatu kesatuan
yang terpadu dengan fasilitas pejalan kaki yang disediakan sebagai pelengkap
prasarana yang lain serta tata guna lahan pada suatu kawasan perkotaan.

1.1.2. Tujuan

Tujuan tata cara ini adalah untuk mendapatkan keseragaman dalam merencanakan
suatu fasilitas pejalan kaki sebagai suatu kesatuan yang terpadu dengan sistem
jaringan jalan kota serta prasarana yang lain diperkotaan.

1.2. Ruang Lingkup

Tata cara ini meliputi deskripsi, ketentuan-ketentuan serta langkah-langkah yang


harus diikuti dalam rangka perencanaan fasilitas pejalan kaki di kawasan perkotaan.

1.3. Pengertian

Fasilitas Pejalan Kaki

Semua bangunan yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan
kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan dan
kenyamanan pejalan kaki.

Jalur Pejalan Kaki

Jalur pejalan kaki adalah jalur yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan
pelayanan kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan,
dan kenyamanan pejalan kaki tersebut.

1
Trotoar

Yang dimaksud dengan trotoar adalah jalur pejalan kaki yang terletak pada
Daerah Milik Jalan, diberi lapisan permukaan, diberi elevasi yang lebih tinggi dari
permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas
kendaraan.

Pelican Crossing

Adalah fasilitas penyeberangan pejalan kaki yang dilengkapi dengan lampu lalu
lintas untuk menyeberang jalan dengan aman dan nyaman.

Arus Pejalan Kaki

Adalah jumlah pejalan kaki yang melewati suatu titik tertentu, biasanya
dinyatakan dengan jumlah pejalan kaki per satuan waktu (pejalan kaki/menit).

Non Trotoar

Yang dimaksud dengan non trotoar adalah jalur pejalan kaki yang dibangun pada
prasarana umum lainnya diluar jalur; seperti pada taman, di perumahan dan
lain-lain.

Lapak Tunggu

Adalah tempat dimana penyeberang jalan dapat berhenti untuk sementara dalam
menunggu kesempatan menyeberang.

Klasifikasi Jalan Tipe II Kelas I

Adalah standar tertinggi bagi jalan dengan 4 jalur atau lebih, memberikan
pelayanan angkutan cepat bagi angkutan antar kota atau dalam kota, dengan
kontrol.

Klasifikasi Jalan Tipe II kelas II

Adalah standar tertinggi bagi jalan dengan 2 atau 4 jalur dalam melayani
angkutan cepat antar kota dan dalam kota, terutama untuk persimpangan tanpa
lampu lalu-lintas.

Klasifikasi Jalan Tipe II Kelas III

Adalah standar menengah bagi jalan dengan 2 jalur untuk melayani angkutan
dalam distrik dengan kecepatan sedang, untuk persimpangan tanpa lampu lalu -
lintas.

2
BAB I I
KETENTUAN-KETENTUAN

2.1. Umum

Fasilitas pejalan kaki harus direncanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagai


berikut :

1) Pejalan kaki harus mencapai tujuan dengan jarak sedekat mungkin, aman dari lalu
lintas yang lain dan lancar.

2) Terjadinya kontinuitas fasilitas pejalan kaki, yang menghubungkan daerah


yang satu dengan yang lain.

3) Apabila jalur pejalan kaki memotong arus lalu lintas yang lain harus dilakukan
pengaturan lalu lintas, baik dengan lampu pengatur ataupun dengan marka
penyeberangan, atau tempat penyeberangan yang tidak sebidang. Jalur pejalan
kaki yang memotong jalur lalu lintas berupa penyeberangan (Zebra Cross),
marka jalan dengan lampu pengatur lalu lintas (Pelican Cross), jembatan
penyeberangan dan terowongan.

4) Fasilitas pejalan kaki harus dibuat pada ruas-ruas jalan di perkotaan atau pada
tempat-tempat dimana volume pejalan kaki memenuhi syarat atau ketentuan-
ketentuan untuk pembuatan fasilitas tersebut.

5) Jalur pejalan kaki sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa dad jalur lalu lintas
yang lainnya, sehingga keamanan pejalan kaki lebih terjamin.

6) Dilengkapi dengan rambu atau pelengkap jalan lainnya, sehingga pejalan kaki
leluasa untuk berjalan, terutama bagi pejalan kaki yang tuna daksa.

7) Perencanaan jalur pejalan kaki dapat sejajar, tidak sejajar atau memotong jalur lalu
lintas yang ada.

8) Jalur pejalan kaki harus dibuat sedemikian rupa sehingga apabila hujan
permukaannya tidak licin, tidak terjadi genangan air serta disarankan untuk
dilengkapi dengan pohon-pohon peneduh.

9) Untuk menjaga keamanan dan keleluasaan pejalan kaki, harus dipasang kerb jalan
sehingga fasilitas pejalan kaki lebih tinggi dari permukan jalan.

3
2.1.1. Fasilitas Pejalan Kaki

Fasilitas Pejalan kaki dapat dipasang dengan kriteria sebagai berikut :

1) Fasilitas pejalan kaki harus dipasang pada lokasi-lokasi dimana pemasangan


fasilitas tersebut memberikan manfaat yang maksimal, baik dad segi keamanan,
kenyamanan ataupun kelancaran perjalanan bagi pemakainya.

2) Tingkat kepadatan pejalan kaki, atau jumlah konflik dengan kendaraan dan
jumlah kecelakaan harus digunakan sebagai faktor dasar dalam pemilihan fasilitas
pejalan kaki yang memadai.

3) Pada lokasi-lokasi/kawasan yang terdapat sarana dan prasarana umum.

4) Fasilitas pejalan kaki dapat ditempatkan disepanjang jalan atau pada suatu
kawasan yang akan mengakibatkan pertumbuhan pejalan kaki dan biasanya
diikuti oleh peningkatan arus lalu lintas serta memenuhi syaratsyarat atau ketentuan-
ketentuan untuk pembuatan fasilitas tersebut. Tempat-tempat tersebut antara lain :
- Daerah-daerah industri
- Pusat perbelanjaan
- Pusat perkantoran
- Sekolah
- Terminal bus
- Perumahan
- Pusat hiburan

5) Fasilitas pejalan kaki yang formal terdiri dad beberapa jenis sebagai berikut :

(1) Jalur Pejalan Kaki yang terdiri dari :


a) Trotoar
b) Penyeberangan
(a) jembatan penyeberangan
(b) zebra cross
(c) pelican cross
(d) terowongan
c) Non Trotoar

(2) Pelengkap Jalur Pejalan kaki yang terdiri dari :


a) Lapak tunggu
b) Rambu
c) Marka
d) Lampu lalu lintas
e) Bangunan pelengkap

4
1. Jalur Pejalan Kaki

1). Trotoar

Trotoar dapat dipasang dengan ketentuan sebagai berikut :

(1) Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi luar bahu jalan atau sisi luar jalur
lalu lintas. Trotoar hendaknya dibuat sejajar dengan jalan, akan tetapi
trotoar dapat tidak sejajar dengan jalan bila keadaan topografi atau keadaan
setempat yang tidak memungkinkan.

(2) Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi dalam saluran drainase terbuka
atau di atas saluran drainase yang telah ditutup dengan plat beton yang
memenuhi syarat.

(3) Trotoar pada pemberhentian bus harus ditempatkan berdampingan /sejajar


dengan jalur bus. Trotoar dapat ditempatkan di depan atau dibelakang
Halte.

2). Zebra Cross

Zebra Cross dipasang dengan ketentuan sebagai berikut :

(1) Zebra Cross harus dipasang pada jalan dengan arus lalu lintas, kecepatan
lalu lintas dan arus pejalan kaki yang relatif rendah.

(2) Lokasi Zebra Cross harus mempunyai jarak pandang yang cukup, agar
tundaan kendaraan yang diakibatkan oleh penggunaan fasilitas penyeberangan
masih dalam batas yang aman.

3). Pelican Cross

Pelican Crossing harus dipasang pada lokasi-lokasi sebagai berikut :

(1) Pada kecepatan lalu lintas kendaraan dan arus penyeberang tinggi

(2) Lokasi pelikan dipasang pada jalan dekat persimpangan.

(3) Pada persimpangan dengan lampu lalu lintas, dimana pelican cross dapat
dipasang menjadi satu kesatuan dengan rambu lalu lintas (traffic signal)

5
4). Jembatan Penyeberangan

Pembangunan jembatan penyeberangan disarankan memenuhi ketentuan sebagai


berikut :

(1) Bila fasilitas penyeberangan dengan menggunakan Zebra Cross dan Pelikan
Cross sudah mengganggu lalu lintas yang ada.

(2) Pada ruas jalan dimana frekwensi terjadinya kecelakaan yang melibatkan
pejalan kaki cukup tinggi.

(3) Pada ruas jalan yang mempunyai arus lalu lintas dan arus pejalan kaki yang
tinggi.

5). Terowongan

Pembangunan terowongan disarankan memenuhi persyaratan sebagai berikut :

(1) Bila fasilitas penyeberangan dengan menggunakan Zebra Cross dan


Pelikan Cross serta Jembatan penyeberangan tidak memungkinkan untuk
dipakai.
(2) Bila kondisi lahannya memungkinkan untuk dibangunnya terowongan.
(3) Arus lalu lintas dan arus pejalan kaki cukup tinggi.

6). Non Trotoar

Fasilitas pejalan kaki ini bila menjadi satu kesatuan dengan trotoar harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut
Elevasinya harus sama atau bentuk pertemuannya harus dibuat sedemikan rupa
sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan pejalan kaki

2. Pelengkap Jalur Pejalan Kaki

1) Lapak Tunggu

(1) Lapak tunggu harus dipasang pada jalur lalu lintas yang lebar, dimana
penyeberang jalan sulit untuk menyeberang dengan aman.

(2) Lebar lapak tunggu minimum adalah 1,20 meter

(3) Lapak tunggu harus di cat dengan cat yang memantulkan cahaya (reflective)

6
2) Rambu

(1) Penempatan rambu dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah terlihat


dengan jelas dan tidak merintangi pejalan kaki.

(2) Rambu ditempatkan di sebelah kiri menurut arah lalu lintas, diluar jarak
tertentu dari tepi paling luar jalur pejalan kaki.

(3) Pemasangan rambu harus bersifat tetap dan kokoh serta terlihat jelas pada
malam hari.

3) Marka

(1) Marka jalan hanya ditempatkan pada jalur pejalan kaki yang memotong
jalan berupa zebra cross dan Pelikan cross.

(2) Marka jalan dibuat sedemikian rupa sehingga mudah terlihat dengan jelas bagi
pemakai jalan yang bersangkutan.

(3) Pemasangan marka harus bersifat tetap dan kokoh serta tidak
menimbulkan licin pada permukaan jalan dan terlihat jelas pada malam
hari.

4) Lampu lalu lintas

(1) Lampu lalu-lintas ditempatkan pada jalur pejalan kaki yang memotong jalan

(2) Pemasangan lampu lalu-lintas harus bersifat tetap dan kokoh

(3) Penempatan lampu lalu-lintas sedemikian rupa sehingga terlihat jelas oleh
lalu-lintas kendaraan

(4) Cahaya lampu lalu-lintas harus cukup terang sehingga dapat dilihat dengan
jelas pada siang dan malam hari

5) Bangunan Pelengkap

Bangunan Pelengkap harus cukup kuat sesuai dengan fungsinya memberikan


keamanan dan kenyamanan bagi pejalan kaki.

7
2.2. Teknis

3.2.1. Jalur Pejalan Kaki

1) Lebar dan alinyemen jalur pejalan kaki harus leluasa, minimal bila dua orang
pejalan kaki berpapasan, salah satu diantaranya tidak harus turun ke jalur lalu
lintas kendaraan.

2) Lebar minimum jalur pejalan kaki adalah 1,50 meter.

3) Maksimum arus pejalan kaki adalah 50 pejalan kaki/menit.

4) Untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada pejalan kaki maka
jalur harus diperkeras, dan apabila mempunyai perbedaan tinggi dengan
sekitarnya harus diben pembatas (dapat berupa kerb atau batas
penghalang/barrier).

5) Perkerasan dapat dibuat dan blok beton, beton, perkerasan aspal, atau plesteran.
Permukaan harus rata dan mempunyai kemiringan melintang 2 - 4 % supaya
tidak terjadi genangan air. Kemiringan memanjang disesuaikan dengan
kemiringan memanjang jalan dan disarankan kemiringan maksimum adalah 10
%.

6) Lebar jalur pejalan kaki harus ditambah, bila patok rambu lalu lintas, kotak
surat, pohon peneduh atau fasilitas umum lainnya ditempatkan pada jalur
tersebut.

7). Lebar minimum jalur pejalan kaki diambil dari lebar yang dibutuhkan untuk
pergerakan 2 orang pejalan kaki secara bergandengan atau 2 orang pejalan kaki
yang berpapasan tanpa terjadinya persinggungan.
Lebar absolut minimum jalur pejalan kaki ditentukan 2 x 75 cm + jarak antara
dengan bangunan-bangunan di sampingnya, yaitu (2 x 15 cm) = 1,80m.

Dalam keadaan ideal untuk mendapatkan lebar minimum dipakai rumus sebagai
berikut :

LT = Lp + Lh

Dimana :

LT = Lebar total jalur pejalan kaki


Lp = Lebar jalur pejalan kaki yang diperlukan sesuai dengan tingkat
kenyamanan yang diinginkan.
Lh = Lebar tambahan akibat halangan bangunan-bangunan yang ada
disampingnya ditentukan tabel 1.

8
8) Besarnya penambahan lebar dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Penambahan Lebar Jalur Pejalan Kaki

Fasilitas Lebar Tambahan (cm)

1) Patok penerangan 75 - 100

2) Patok lampu lalu-lintas 100 - 120

3) Rambu lalu-lintas 75 - 100

4) Kotak surat 100 - 120

5) Keranjang sampah 100

6) Tanaman peneduh 60 - 120

7) Pot bunga 150

2.2.2. Trotoar

1). Trotoar dapat direncanakan pada ruas jalan yang terdapat volume pejalan kaki
lebih dari 300 orang per 12 jam (jam 6.00 - jam 18.00) dan volume lalu lintas
lebih dan 1000 kendaraan per 12 jam (jam 6.00 -jam 18.00).

2). Ruang bebas trotoar tidak kurang dari 2,5 meter dan kedalaman bebas tidak
kurang dari satu meter dan permukaan trotoar. Kebebasan samping tidak kurang
dan 0,3 meter. Perencanaan pemasangan utilitas selain harus memenuhi ruang
bebas trotoar juga harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam buku petunjuk
pelaksanaan pemasangan utilitas.

3. Lebar trotoar harus dapat melayani volume pejalan kaki yang ada. Lebar
minimum trotoar sebaiknya seperti yang tercantum dalam tabel 2 sesuai dengan
klasifikasi jalan.

9
Tabel 2. Lebar Trotoar Minimum

Klasifikasi Jalan Rencana Standar Lebar Minimum


Minimum (m) (Pengecualian)
Tipe II Kelas I 3.0 1,5

Kelas II 3.0 1,5

Kelas III 1.5 1,0

Keterangan :

Lebar minimum digunakan pada jembatan dengan panjang 50 meter atau lebih pada daerah
terowongan dimana volume lalu-lintas pejalan kaki (300 - 500 orang per 12 jam).

2.2.3. Fasilitas Penyeberangan

2.2.3.1.Penyeberangan Sebidang

a) Fasilitas penyeberangan pejalan kaki ada kaitannya dengan trotoar, maka


fasilitas penyeberangan pejalan kaki dapat berupa perpanjangan dan trotoar.

b) Untuk penyeberangan dengan Zebra cross dan Pelikan cross sebaiknya


ditempatkan sedekat mungkin dengan persimpangan.

c) Lokasi penyeberangan harus terlihat jelas oleh pengendara dan ditempatkan


tegak lurus sumbu jalan.

1. Dasar-dasar penentuan jenis fasilitas penyeberangan adalah seperti tertera


pada tabel 3 berikut :

10
Tabel 3. Fasilitas Penyeberangan berdasarkan PV2

PV2 P V Rekomendasi

> 108 50 - 1100 300 - 500 Zebra Cross

> 2 x 108 50 - 1100 400 - 750 Zebra Cross dengan


lapak tunggu

> 108 50 - 1100 > 500 Pelican

> 108 > 1100 > 300 Pelican

> 2x108 50 - 1100 > 750 Pelican dengan lapak


tunggu

> 2 x 108 > 1100 > 400 Pelican dengan lapak


tunggu
Dimana :
P = Arus lalu-lintas penyeberang jalan yang menyeberang jalur lalu lintas
sepanjang 100 meter, dinyatakan dengan pejalan kaki/jam;
V = Arus lalu-Iintas dua arah per jam, dinyatakan dalam kendaraan/jam

11
Catatan :

1) Arus penyeberang jalan dan arus lalu-lintas adalah rata-rata arus lalu-lintas
pada jam-jam sibuk

2) Lebar jalan merupakan faktor penentu untuk perlu atau tidaknya dipasang
lapak tunggu

2.2.3.2. Penyeberangan Tidak Sebidang

Mengingat biaya konstruksi jembatan penyeberangan atau terowongan cukup


mahal, maka fasilitas penyeberangan ini sangat tepat dibangun bila volume
pejalan kaki yang menyeberang jalur lalu-Iintas pada jam sibuk sangat tinggi.
Penyeberangan jenis ini diuraikan dalam buku lain.

12
BAB III
PROSEDUR PERENCANAAN

3.1. Umum

Dalam perencanaan jalur pejalan kaki yang perlu diperhatikan adalah kebebasan
berjalan untuk mendahului serta kebebasan waktu berpapasan dengan pejalan
kaki lainnya tanpa bersinggungan, dan kemampuan untuk memotong pejalan
kaki lainnya. Keamanan terhadap kemungkinan terjadinya. benturan dengan
pengguna jalan yang lain (lalu lintas kendaraan) serta Tingkat kenyamanan
pejalan kaki yang optimal seperti faktor kelandaian dan jarak tempuh serta
rambu-rambu petunjuk pejalan kaki.

3.2. Teknis

3.2.1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data harus dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut :

1) Volume lalu-lintas kendaraan;

2) Volume lalu-lintas pejalan kaki;

3) Volume lalu-lintas penyeberang jalan;

4) Data Geometrik.

3.2.2. Perencanaan

1. Tentukan besarnya arus lalu-lintas penyeberang jalan (P) pada kawasan


yang terdapat sarana dan prasarana umum.

2. Tentukan volume lalu-lintas kendaraan (V).

3. Hitung PV 2

4. Tentukan lebar jalur jaringan untuk ruas-ruas tersebut, dan tabel 2.

5. Tentukan fasilitas penyeberangan yang sesuai/cocok dengan ketentuan


yang ada.

6. Buat desain fasilitas penyeberangan pejalan kaki dengan memperhatikan


persyaraan-persyaratan seperti telah diuraikan dimuka.

13
14
15
16
LAMPIRAN A

DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA

1). Pemrakarsa

x Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga

x Direktorat Bina Jalan Kota Direktorat Jenderal Bina Marga

2). Tim Penyusun

x Sub Direktorat Penyusunan Standar

3). Tim Pembahas

1. Ir. Sukawan Mertasudira, MSc. Direktorat Bina Teknik

2. Ir. Buddy Darma Setiawan, MSc. Direktorat Bina Teknik

3. Ir. Utang Kadarusman Direktorat Bina Teknik

4. Ir. Hartom MSc. Direktorat Bina Jalan Kota

5. Ir. Palgunadi MEng.Sc. Direktorat Bina Jalan Kota

6. Ir. Triharjo Direktorat Bina Jalan Kota

7. Ir. Budi Harimawan, MEng.Sc. Direktorat Bina Jalan Kota

8. Ir. Heru Budi Santoso, CES. Direktorat Bina Jalan Kota

9. Ir. Yayah Sumardiyah Direktorat Bina Jalan Kota

10. Dr. In I.F. Purnomosidhi Pusat Litbang Jalan

11. Ir. Agus Bari MSc. Pusat Litbang Jalan


PEDOMAN TEKNIK

PEDOMAN
PERENCANAAN JALUR PEJALAN KAKI PADA
JALAN UMUM

No.032/T/BM/1999
Lampiran No. 10 Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga
No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


Diterbitkan oleh PT. Mediatama Saptakarya ( PT. Medisa )

YAYASAN BADAN PENERBIT PEKERJAAN UMUM

1
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
ALAMAT : JALAN PATTIMURA NO. 20 TELP. 7221960 - 7203165 - 7222806 FAX 7393938
KEBAYORAN BARU - JAKARTA SELATAN KODE POS 12110

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA


NOMOR : 76/KPTS/Db/1999

TENTANG

PENGESAHAN LIMA BELAS PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL


BINA MARGA

DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA,

Menimbang :

a. bahwa dalam rangka menunjang pembangunan nasional di bidang kebinamargaan dan kebijaksanaan
pemerintah untuk meningkatkan pendayagunaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, diperlukan
pedoman-pedoman teknik bidang jalan;

b. bahwa pedoman teknik yang termaktub dalam Lampiran Keputusan ini telah disusun berdasarkan konsensus
pihak-pihak yang terkait, dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan dan keselamatan umum serta
memperkirakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh manfaat sebesar-
besarnya bagi kepentingan umum sehingga dapat disahkan sebagai Pedoman Teknik Direktorat Jenderal
Bina Marga;

c. bahwa untuk maksud tersebut, perlu diterbitkan Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga.

Mengingat

1. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen;


2. Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1984, tentang Susunan Organisasi Departemen;
3. Keputusan Presidcn Nomor 278/M Tahun 1997, tentang Pengangkatan Direktur Jenderal Bina Marga;
4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 211/KPTS/1984 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Pekerjaan Umum;
5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 111/KPTS/1995 tentang Panitia Tetap dan Panitia Kerja serta
Tata Kerja Standardisasi Bidang Pekerjaan Umum;
6. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 28/KPTS/1995 tentang Pembentukan Panitia Kerja
Standardisasi Naskah Rancangan SNI/Pedoman Teknik Bidang Pengairan/Jalan/ Permukiman;

Membaca

Surat Ketua Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan Nomor UM 01 01-Bt.2005/768 tanggal 20 Desember 1999
tentang Laporan Panja Standardisasi Bidang Jalan.

Memutuskan ...................... /2.

2
MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA TENTANG PENGESAHAN LIMA


BELAS PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

Kesatu : Mengesahkan lima belas Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga,
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini yang merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari ketetapan ini.

Kedua : Pedoman Tenik tersebut pada diktum kesatu berlaku bagi unsur aparatur pemerintah
bidang kebinamargaan dan dapat digunakan dalam perjanjian kerja antar pihak-pihak
yang bersangkutan dengan bidang konstruksi.

Keempat : Menugaskan kepada Direktur Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga untuk:
a. menyebarluaskan Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga;
b. memberikan bimbingan Teknik kepada unsur pemerintah dan unsur masyarakat
yang bergerak dalam bidang kebinamargaan;
c. menghimpun masukan sebagai akibat dari penerapan Pedoman Teknik ini untuk
penyempurnaannya di kemudian hari.

Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bahwa, jika terdapat
kesalahan dalam penetapan ini, segala sesuatunya akan diperbaiki sebagaimana
mestinya.

'I'embusan Keputusan ini disampaikan kepada Yth. :


1. Kepala Badan Penelitian dan pengembangan PU, selaku Ketua Panitia Tetap Standardisasi.
2. Direktur Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku Ketua Panitia Kerja Standardisasi
Bidang Jalan.
3. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, selaku Sekretaris Panitia Kerja Standardisasi
Bidang Jalan.
Lampiran
Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga
Nomor : 76 /KPTS/Db/1999
Tanggal : 20 Desember 1999

PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

Nomor NOMOR P'EDOMAN


JUDUL PEDOMAN TEKNIK
Urut TEKNIK

(1) (2) (3)


1 Pedoman Pelaksanaan Campuran Beraspal Dingin untuk 023/T/BM/I999
Pemeliharaan
2 Pedoman Pembuatan Aspal Emulsi Jenis Kationik 024/T/BM/1999
3 Pedoman Perencanaan Campuran Beraspal Panas dengan 025/T/BM/1999
Pendekatan Kepadatan Mutlak
4 Pedoman Perencanaan Bubur Aspal Emulsi (Slurry seal) 026/T/BM/1999
5 Jembatan untuk Lalu Lintas Ringan dengan Gelagar Baja 027/T/BM/1999
Tipe Kabel, Tipe Simetris, Bentang, 125 meter (Buku 2)
6 Pedoman Penanggulangan Korosi Komponen Baja 028/T/BM/1999_
Jembatan dengan Cara Pengecatan
7 Tata Cara Pelaksanaan Pondasi Cerucuk Kayu di Atas 029/T/BM/1999
Tanah Lembek dan Tanah Gambut
8 Tata Cara Pencatatan Data Kecelakaan Lalu Lintas (Sistem 030/T/BM/1999
3L)
9 Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan 031/T/BM/1999
10 Pedoman Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki pada Jalan 032/T/BM/1999
Umum
11 Persyaratan Aksebilitas pada Jalan Umum 033/T/BM/1999
12 Pedoman Pemilihan Berbagai Jenis Tanaman untuk Jalan 034/T/BM/1999
13 Pedoman Penataan Tanaman untuk Jalan 035/T/BM/1999
14 Pedoman Perencanaan Teknik Bangunan Perendam Bising 036/T/BM/1999
15 Tata cara Penentuan Lokasi Tempat Istirahat di Jalan Bebas 037/T/BM/1999
Hambatan
DAFTAR ISI

Halaman

Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 tanggal, 20


Desember 1999

DAFTAR ISI i

BAB I DESKRIPSI

1.1 Maksud dan Tujuan 1


1.2 Ruang Lingkup 1
1.3 Pengertian 1
BAB II KETENTUAN-KETENTUAN

2.1 Umum 3
2.1.1 Fasditass Pejalan Kaki 3
2.1.2 Kriteria Fasilitas 4
2.1.3 Aspek Lokasi 6
2.2 Kriteria Desain 8
2.2.1 Jalur Pejalan Kaki 8
2.2.2 Jenis Jalur Pejalan Kaki 9

BABIIIPROSEDURPERENCANAAN

3.1 Umum 12
3.2 Teknik 12
3.2.1 Pengumpulan Data 12
3.2.2 Perencanaan 12

DAFTAR PUSTAKA

L A M P I R A N C : DAFTAR N A M A DAN L E M B A G A

i
BAB I
DESKRIPSI

1.1 Maksud dan Tujuan

Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam


perencanaan fisilitas Jalur Pejalan Kaki, menyangkut lebar jalur
dan fasilitasnya.
Tujuan pedoman ini adalah untuk mendapatkan keseragaman dalam
merencanakan geometrik jalur
Pejalan Kaki sebagai suatu kesatuan yang terpadu dengan sistem
jaringan jalan.

1.2 Ruang Lingkup

Pedoman ini meliputi deskripsi, ketentuan-ketentuan, dan langkah-


langkah pekerjaan yang harus diikuti.

1.3 Pengertian

1) Fasilitas Pejalan Kaki adalah seluruh bangunan pelengkap


yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan
demi kelancaran, keamanan dan kenyamanan, serta
keselamatan bagi pejalan kaki.

2) Jalur Pejalan Kaki adalah lintasan yang diperuntukkan untuk


berjalan kaki, dapat berupa Trotoar, Penyeberangan
Sebidang (penyeberangan zebra atau penyeberangan pelikan),
dan Penyeberangan Tak Sebidang.

3) Trotoar adaai Jalur Pejalan Kaki yang terletak pada Daerah


Milik Jalan yang diberi lapisan permukaaan dengan elevasi
yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada
umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.

4) Penyeberangan Zebra adalah fsilitas penyeberanganan bagi


pejalan kaki sebidang yang dilengkapi marka untuk memberi
ketegasan/batas dalam melakukan lintasan.

1
5) Penyeberangan Pelikan adalah fasilitas untuk penyeberangi
pejalan kaki sebidang yang dilengkapi dengan marka dan
lampu pengatur lau lintas.

6) Arus Pejalan Kaki adalah jumlah pejalan kaki yang melewati


suatu penapang tertentu, yang biasanya dinyatakan dengan
jumlah pejalan kaki per satuan waktu (pejalan/menit).

7) Lapak Tunggu adalah fasilitas untuk berhenti sementara pejalan


kaki dalam melakukan penyeberangan, Penyeberangan dapat
berhenti sementara sambil menunggu kesempatan melakukan
penyeberangan berikutnya. Fasilitas tersebut diletakan pada
median jalan.

2
BAB II
TENTUAN-KETENTUAN

2.1 Umum

Jalur Pejalan Kaki dan perlengkapannya harus direncanakan sesuai


ketentuan. Ketentuan secara umum adalah sebagai berikut:

1) Pada hakekatnya pejalan kaki untuk mencapai tujuannya ingin


menggunakan lintasan sedekat mungkin, dengan nyaman, lancar
dan aman dari gangguan.

2) Adanya kontinuitas Jalur Pejalan Kaki, yang menghubungkan


antara tempat asal ke tempat tujuan, dan begitu juga sebaliknya.

3) Jalur Pejalan Kaki harus dilengkapi dengan fisilitas-fasilitasnya


seperti: rambu-rambu, penerangan, marka, dan perlengkapan
jalan lainnya, sehinga pejalan kaki lebih mendapat kepastian dalam
berjalan, terutama bagi pejalan kaki penyandang cacat.

4) Fasilitas Pejalan Kaki tidak dikaitkan dengan fungsi jalan.

5) Jalur Pejalan Kaki harus diperkeras dan dibuat sedemikian rupa


sehingga apabila hujan permukaannya tidak licin, tidak terjadi
genangan air, serta disarankan untuk dilengkapi dengan peneduh.

6) Untuk menjaga kesalamatan dan keleluasaan pejalan kaki,


sebaiknya dipisahkan secara fisik dari jalur lalu lintas kendaraan.

7) Pertemuan antara jenis Jalur Pejalan Kaki yang menjadi satu


kesatuan harus dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan
keamanan dan kenyamanan bagi pejalan kaki
2.1.1 Fasilitas Pejalan Kaki

1) Jalur Pejalan Kaki terdiri atas:

a) Trotoar
b) Penyeberangan Sebidang

3
x Penyeberangan Zebra
x Penyeberangan Pelikan.

c) Penyeberangan Tak Sebidang


x Jembatan penyeberanganan
x Terowongan.

2) Lapak tunggu
3) Lampu penerangan
4) Rambu
5) Pagar pembatas
6) Marka jalan.
7) Pelindung/Peneduh

2.1.2 Kriteria Fasiltas

Fasilitts Pejalan Kaki dapat dipasang dengan kriteria sebagai berikut:

1) Jalur Pejalan Kaki


(1) Pada tempat-tempat dimana pejalan kaki keberadaannya
sudah menimbulkan konflik dengan lalu lintas kendaraan
atau mengganggu peruntukan lain, seperti taman, dan lain-
lain.

(2) Pada lokasi yang dapat memberikan manfaat baik dari segi
keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kelancaran.

(3) Jika berpotongan dengan jalur lalu lintas kendaraan harus


dilengkapi rambu dan marka atau lampu yang menyatakan
peringatan/petunjuk bagi pengguna jalan.

(4) Koridor Jalur Pejalan Kaki (selain terowongan) mempunyai


jarak pandang yang bebas ke semua arah.

(5) Dalam merencanakan lebar lajur dan spesifikasi teknik


harus memperhatikan peruntukan bagi penyandang
cacat.

4
2) Lapak Tunggu
(1) Disediakan pada median jalan.
(2) Disediakan pada pergantian roda, yaitu dari pejalan kaki
ke roda kendaraan umum.

3) Lampu Penerangan
(1) Ditempatkan pada jalur penyeberangan jalan.
(2) Pemasangan bersifat tetap dan bernilai struktur.

(3) Cahaya lampu cukup terang sehingga apabila pejalan


kaki melakukan penyeberangan bisa terlihat pengguna
jalan baik di waktu gelap/malan hari.

(4) Cahaya lanpu tidak membuat silau pengguna jalan lalu


lintas kendaraan.

4) Perambuan

(1) Penempatan dan dimensi rambu sesuai dengan


spesifikasi rambu

(2) Jenis rambu sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan


keadaan medan.

5) Pagar Pembatas

(1) Apabila volume pejalan kaki di satu sisi jalan sudah > 450
orang/jam/lebar efektif (dalam meter).

(2) Apabila volume kendaraan sudah > 500 kendaraan/jam.

(3) Kecepatan kendaraan > 40 km/janl.

(4) Kecenderungan pejalan kaki tidak meggunakan fasilitas


penyeberangan.

(5) Bahan pagar bisa terbuat dari konstruksi bangunan atau


tanaman.

5
6) Marka
1) Marka hanya ditempatkan pada J a lur Pejalan Kaki
penyeberangan sebidang.
2) Keberadaan marka mudah terlihat dengan jelas oleh
pengguna jalan baik di siang hari maupun malam hari.
3) Pemasangan marka harus bersifat tetap dan tidak berdampak
licin bagi penguna jalan.

7) Peneduh / Pelindung
(1) Jenis peneduh disesuaikan dengun jenis Jalur Pejalan Kaki,
dapat berupa:
x Pohon pelindung, atap (mengikuti pedoman teknik
lansekap)
x Atap
x dll.

2.1.3 Aspek Lokasi

Lokasi Jalur Pejalan Kaki dan fisilitasnya dengan ketentuan sebagi


berikut:

1) Trotoar

(1) Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi luar bahu jalan


atau sisi luar jalur Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA).
Trotoar hendaknya dibuat sejajar dengan jalan, akan tempat
Trotoar dapat tidak sejajar dengan jalan bila keadaan
topografi atau keadaan setempat yang tidak memungkinkan.

(2) Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi dalam saluran


drainase terbuka atau di atas saluran drainase yang telah
ditutup.

(3) Trotoar pada tempat pemberhentian bus harus ditempatkan


secara berdampingan/sejajar dengan jalur bus.

6
2) Penyeberangan Sebidang
(1) Penyeberangan Zebra
x Bisa dipasang di kaki persimpangan tanpa apil atau
di ruas/link.

x Apabila persimpangan diatur dengan lampu pengatur


lalu lintas, hendaknya pemberian waktu penyeberangan
menjadi satu kesatuan dengan lampu pengatur lalu
lintas persimpangan.

x Apabila persimpangan tidak diatur dengn lampu


pengatur lalu lintas, maka kriteria batas kecepatan
adalah < 40 km/jam.

(2) Penyeberangan Pelikan

x Dipasang pada ruas/link jalan, minimal 300 meter


dari persimpangan.

x Pada jalan dengan kecepatan operasional rata-rata lalu


lintas kendaraan > 40 km/jam.

3) Penyeberangan Tak Sebidang


(1) Jembatan
x Bila jenis jalur penyeberangan dengan menggunakan
zebra atau pelikan sudah mengganggu lalu lintas
kendaraan yang ada.

x Pada ruas jalan dimana frekwensi terjadinya


kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki cukup
tingi.

x Pada ruas jalan yang mempunyai arus lalu lintas dan


arus pejalan kaki yang cukup.

(2) Terowongan

x Bila jenis jalur penyeberangan dengan


menggunakan jembatan tidak memungkinkan
untuk diadakan.

7
x Bila lokasi lahan atau medan memungkinkan untuk
dibangun terowongan

2.2 Kriteria Desain

Kriteria desain yang dibahas secara teknik hanya untuk Jalur Pejalan
Kaki, sedangkan kelengkapannya dibahas di lain tempat.

2.2.1 Jalur Pejalan Kaki

1) Lebar efektif minimum ruang pejalan kaki berdasarkan


kebutuhan orang adaah 60 cm ditambah 15 cm untuk
bergoyang tanpa membawa barang, sehingga kebutuhan total
minima untuk 2 orang pejalan kaki bergmidengul atau 2 ora ng
pejaan kaki berpapasan tanpa terjadi berpapasan menjadi 150
cm.

2) Dalam keadaan ideal untuk mendapatkan lebar minimum Jalur


Pejalan Kaki (W) dipakai rumus sebagai berikut:

p
w= + 1,5
35
Keterangan:
P = volume pejalan kaki (orang/menit/meter)
W = lebar Jalur Pejalan Kaki.

3) Lebar Jalur Pejalan Kaki harus ditambah, bila pada jalur tersebut
terdapat perlengkapan jalan (road furniture) seperti patok
rambu lalu lintas, kotak surat, pohon peneduh atau fasilitas
umum lainnya.

4) Penambahan lebar Jalur Pejalan Kaki apabila dilengkapi fasilitas


dapat dilihat seperti pada Tabel 1. tersebut di bawah ini.

8
Tabel 1. Penambahan Lebar Jalur Pejalan Kaki

No. Jenis Fasilitas Lebar Tambahan (cm)

1. Kursi roda 100 - 120


2. Tiang lampu penerang 75 - 100
3. Tiang lampu lalu lintas 100 -120
4. Rambu lau lintas 75 - 100
5. Kotak surat 100 - 120
6. Keranjang sampah 100
7. Tanaman peneduh 60 - 120
8. Pot bunga 150

5) Jalur Pejalan Kaki harus diperkeras dan apabila mempunyai


perbedaan tinggi dengan sekitarnya harus diberi pembatas yang
dapat berupa kerb atau batas penghalang.

6) Perkerasan dapat dibuat dari blok beton, perkerasan aspal atau


plesteran.

7) Permukaan harus rata dan mempunyai kemiringan melintang 2-3


% supaya tidak terjadi genangan air. Kemiringan memanjang
disesuaikan dengan kemiringan memanjang jalan, yaitu maksimum
7 %.

2.2.2 Jenis Jalur Pejalan Kaki

1)Trotoar

a) Geometrik Trotoar harus mengikuti pedoman teknik tentang


spesifikasi Trotoar.

b) Tinggi ruang bebas tidak kurang dari 2,2 meter dan


kedalaman bebas tidak kurang dari 1 meter, yang diukur dari
permukaan trotoar, kebebasan samping tidak kurang dari
0,3 meter.

9
c) Pemasangan utilitas harus mempertahankan ruang bebas
Trotoar.

2) Penyebrangan Sebidang

a) Geometrik penyebrangan jalan harus mengikuti spesifikasi


teknik penyebrangan jalan dan manual geometri perkotaan.

b) Jalur penyeberangan sebidang pejalan kaki yang merupakan


terusan dari jalur Trotoar, maka dimensi lebar jalur minimal
dibuat sama dengan dimensi lebar jalur Trotoar.

c) Dasar penentuan jenis-jenis fasilitas penyeberangan adalah


seperti tertera pada Tabel 2. sebagi berikut

Tabel 2. Jenis Fasilitas Penyeberangan Berdasarkan PV2

P V2 P V Rekomendasi

> 10" 50 - 1100 300 - 500 Zebra


> 2 x 108 50 - 1100 400 - 750 Zebra dengan lapak tunggu
> 10 8 50 - 1100 > 500 Pelikan
> 10 8 > 1100 > 300 Pelikan
> 2 x 108 50 - 1100 > 750 Pelikan dengan lapak tunggu
> 2 x 108 > 1100 > 400 Pelikan dengan lapak tunggu

Keterangan :
P = Arus lalu lintas pcnyebcrangan pejalan kaki sepanjang 100 meter,
dinyatakan dengan orang/jam;
V = Arus lalu lintas kendaraan dua arah per jam, dinyatakan
kendaraan/jam

Catatan :
Arus penyeberangan jalan dan arus lalu lintas adalah rata-rata
arus lalu lintas pada jam-jam sibuk.

d) Lokasi penyeberangan harus terlihat oleh pengendara


kendaraan, minimal memenuhi jarak pandangan henti.

e) Ditempatkan tegak lurus terhadap sumbu jalan.

10
3) Penyeberangan Tak Sebidang

a. jembatan Penyeberangan

x Konstruksi harus mengikuti spesifikasi, teknik jembatan


penyeberangan.
x Ruang bebas jalur lalu lintas kendaraan tidak kurang dari
2,5 meter.

b. Terowongan

x Konstruksi harus mengikuti spesifikasi teknik terowongan.


x Dilengkapi dengan penerangan.

11
BAB III
PROSEDUR PERENCANAAN

3.1 Umum

Dalam perencanaan Jalur Pejalan Kaki yang perlu diperhatikan adalah


kondisi medan, dan kebutuhan bagi pengguna fasilitas prasarana Jalur
Pejalan Kaki seperti: umur, asal dan tujuan, penyandang cacat, dll.

3.2 Teknik

3.2.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data harus dilakukan terhadap hal-hal sebagai berikut:

1 Volume lalu lintas kendaraan (kendaraan/jam).


2 Kecepatan lalu lintas kendaraan (km/jam).
3 Volume lalu lintas pejalan kaki dalam satu lintasan
(orang/jam).
4 Volume lalu lintas penyeberangan 2 arah sepanjang 100
meter (orang/jam).
5 Data geometrik jalan seperti, lebar lintasan lalu lintas
kendaraan, lebar hahu, lebar median, dan kemiringan, bahwa
data tersebut diilustrasikan dalam bentuk denah.

3.2.2 Perencanaan

1) Trotoar

a Tentukan besarnya arus pejalan kaki dalam orang/menit/meter


dalam satu lintasan, satu seksi yang mewakili ruas jalan.

b Dengan menggunakan rumus dimensi lebar Jalur Pejalan


Kaki, tetapkan lebar Jalur Pejalan Kaki (W, sub-Bab. 2.2.1)
dalam meter.

C Kalau ada fasilitas pelengkap, tetapkan penambahan lebar


Jalur Pejalan Kaki.

12
2) Penyeberangan Sebidang

a) Tentukan besarnya arus lalu lintas penyeberangan jalan (P)


dalam orang/jam.

b) Tentukan volume lalu lintas kendaraan (V) dalam


kendaraan/jam.

c) Hitung besarnya nilai PV2.

d) Dengan nilai PV2, Tetapkan jenis fasilitas penyeberangan jalan


dari Tabel 2.

3) Penyeberangan Tak Sebidang

a) Tentukan besarnya arus lalu lintas penyeberangan jalan (P)


dalam orang/jam.

b) Tentukan volume lalu lintas kendaraan (V) dalam


kendaraan/jam.

c) Hitung besarnya nilai PV2.

d) Dengan nilai PV2, Tetapkan jenis fasilitas penyeberangan pejalan


kaki dari Tabel 2.

4) Ikuti ketentuan-ketentuan sesuai menurut jenis Fasilitas Pejalan


Kaki yang direncanakan.

13
DAFTAR PUSTAKA

A.Kelompok Buku
Transportation Research Board (TRB), Highway Capacity Manual, Special Report 209,
Washington, 1994.

Longo, Gianni dan Roberto Grambilla, For Pedestrian Only, Whitney Library of Design,
New York, 1997.

Untermann, Richard K., Accomodating The Pedestrian, Van Nostrand Reinhold Company
Inc., New York, 1986.

Walpole, Ronald E. and Myers, Raymond H., Ilmu Peluang dun Statistik untuk Insinyur dan
Ilmuan, ITB, 1986.

Homburger, S. and Kell, H. (1984) : "Fundamental of Traffic Engineering", 11th.California.

Department of Engineering (UK), H.M.S.O, Rood in Urban Areas, London 1966.

Fruin, 1994: 191: "New York City Transit Authority" (NYTCA)

B.Kelompok Thesis
Widjayanti Endang, Pedestrian Flow and Level of Service for Sidewalks in Central Jakarta,
Thesis tidak dipublikasikan. Program Magister Sistem dan Teknik Jalan Raya,
Program Pasca Sarjana, ITB, 1974.

C.Kelompok Manual
Ditjen Bina Marga/Sweroad, Indonesian Highway Capacity Manual (IHCM), Jakarta, 1996.

Ditjen Bina Marga, Pedoman Teknik, Standar Perencanaan Geometrik Jalan Kota, Jakarta,
1992.

Ditjen Bina Marga, Pedoman Teknik, Standar Spesifikasi Trotoar, Jakarta, 1992.
Department of Transport Highway and Traffic, Design Considerations for Pelican And
Zebra Crossing, TA 28/87.

Department of Transport Highway And Traffic, Design Considerations for Pelican and
Zebra Crossing, TA 52/87.

14