Anda di halaman 1dari 19

Prinsip Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

шаблоны Shape5
шаблоны онлайн магазинов joomla
Oleh I Nengah Subadra*

Pembangunan pariwisata berkelanjutan, seperti disebutkan dalam Piagam Pariwisata Berkelanjutan, adalah
pembangunan yang dapat didukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan
sosial terhadap masyarakat. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu dan terorganisasi untuk
mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan, dan
pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan.

Hal tersebut hanya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good
governance) yang melibatkan partisipasi aktif dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi juga isu
demokrasi, hak asasi manusia, dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini konsep
pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap sebagai “resep” pembangunan terbaik, termasuk pembangunan
pariwisata.
Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui prinsip-prinsipnya yang dielaborasi berikut
ini. Prinsip-prinsip tersebut, antara lain partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholders), kepemilikan lokal,
penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan masyarakat, perhatian terhadap daya
dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi.
Partisipasi

Masyarakat setempat harus mengawasi atau mengontrol pembangunan pariwisata dengan ikut terlibat dalam
menentukan visi pariwisata, mengidentifikasi sumber-sumber daya yang akan dipelihara dan ditingkatkan, serta
mengembangkan tujuan-tujuan dan strategi-strategi untuk pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata.
Masyarakat juga harus berpartisipasi dalam mengimplementasikan strategi-strategi yang telah disusun
sebelumnya.

Keikutsertaan Para Pelaku/Stakeholders Involvement

Para pelaku yang ikut serta dalam pembangunan pariwisata meliputi kelompok dan institusi LSM (Lembaga
Swadaya Masyarakat), kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi wisata, asosiasi bisnis, dan pihak-
pihak lain yang berpengaruh dan berkepentingan serta yang akan menerima dampak dari kegiatan pariwisata.

Kepemilikan Lokal
Pembangunan pariwisata harus menawarkan lapangan pekerjaan yang berkualitas untuk masyarakat setempat.
Fasilitas penunjang kepariwisataan, seperti hotel, restoran, dan sebagainya. seharusnya dapat dikembangkan
dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan
bagi penduduk setempat serta kemudahan akses untuk para pelaku bisnis/wirausahawan setempat benar-benar
dibutuhkan dalam mewujudkan kepemilikan lokal. Lebih lanjut, keterkaitan (linkages) antara pelaku-pelaku bisnis
dan masyarakat lokal harus diupayakan dalam menunjang kepemilikan lokal tersebut.
Penggunaan Sumber Daya yang Berkelanjutan
Pembangunan pariwisata harus dapat menggunakan sumber daya dengan berkelanjutan yang artinya kegiatan-
kegiatannya harus menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (irreversible) secara
berlebihan. Hal ini juga didukung dengan keterkaitan lokal dalam tahap perencanaan, pembangunan, dan
pelaksanaan, sehingga pembagian keuntungan yang adil dapat diwujudkan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan
pariwisata harus menjamin bahwa sumber daya alam dan buatan dapat dipelihara dan diperbaiki dengan
menggunakan kriteria-kriteria dan standar-standar internasional.
Mewadahi Tujuan-tujuan Masyarakat
Tujuan-tujuan masyarakat hendaknya dapat diwadahi dalam kegiatan pariwisata agar kondisi yang harmonis
antara pengunjung/wisatawan, tempat, dan masyarakat setempat dapat terwujud. Misalnya, kerja sama dalam
wisata budaya atau cultural tourism partnershipdapat dilakukan mulai dari tahap perencanaan, manajemen,
sampai pada pemasaran.
Daya Dukung
Daya dukung atau kapasitas lahan yang harus dipertimbangkan, meliputi daya dukung fisik, alami, sosial, dan
budaya. Pembangunan dan pengembangan harus sesuai dan serasi dengan batas-batas lokal dan lingkungan.
Rencana dan pengoperasiannya seharusnya dievaluasi secara reguler sehingga dapat ditentukan
penyesuaian/perbaikan yang dibutuhkan. Skala dan tipe fasilitas wisata harus mencerminkan batas penggunaan
yang dapat ditoleransi (limits of acceptable use).
Monitor dan Evaluasi

Kegiatan monitor dan evaluasi pembangunan pariwisata berkelanjutan mencakup penyusunan pedoman,
evaluasi dampak kegiatan wisata serta pengembangan indikator-indikator dan batasan-batasan untuk mengukur
dampak pariwisata. Pedoman atau alat-alat bantu yang dikembangkan tersebut harus mecakup skala nasional,
regional, dan lokal.

Akuntabilitas

Perencanaan pariwisata harus memberi perhatian yang besar pada kesempatan mendapatkan pekerjaan,
pendapatan, dan perbaikan kesehatan masyarakat lokal yang tercermin dalam kebijakan-kebijakan
pembangunan. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara harus menjamin
akuntabilitas serta memastikan bahwa sumber-sumber yang ada tidak dieksploitasi secara berlebihan.

Pelatihan
Pembangunan pariwisata berkelanjutan membutuhkan pelaksanaan program-program pendidikan dan pelatihan
untuk membekali pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan bisnis, vocational, dan profesional.
Pelatihan sebaiknya meliputi topik tentang pariwisata berkelanjutan, manajemen perhotelan, serta topik-topik lain
yang relevan.
Promosi
Pembangunan pariwisata berkelanjutan juga meliputi promosi penggunaan lahan dan kegiatan yang
memperkuat karakter lansekap, sense of place, dan identitas masyarakat setempat. Kegiatan-kegiatan dan
penggunaan lahan tersebut seharusnya bertujuan untuk mewujudkan pengalaman wisata yang berkualitas yang
memberikan kepuasan bagi pengunjung.

http://www.jejakwisata.com/tourism-studies/planning-and-development/113-prinsip-
pembangunan-pariwisata-berkelanjutan.html

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BERKELANJUTAN Oct 15, '09 2:06 PM for


everyone

PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BERKELANJUTAN Bila pengembangan


dan implementasi yang konsisten tidak dilakukan, besar kemungkinannya
perkembangan wisata akan ‘menghancurkan’ sumber daya tariknya dan
menjadi tidak berkelanjutan.“Kunci untuk memecahkan masalah wisata
adalah dengan membuat industri wisata sadar akan pentingnya menyatukan
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan pada perencanaan pengembangan
dan operasi”.“bertambahnya kunjungan yang terus menerus seharusnya tidak
lagi menjadi kriteria utama untuk pengembangan wisata. Yang diperlukan
adalah pendekatan pengembangan wisata yang integratif yang bertujuan
memproteksi lingkungan, menjamin bahwa wisata menguntungkan penduduk
lokal dan membantu pelestrian warisan budaya di negara tujuan wisata.”
PRINSIP-PRINSIP PARIWISATA BERKELANJUTAN 1. Partisipasi 2.
Keikutsertaan Para Pelaku/Stakeholder Involvement 3. Kepemilikan Lokal
4. Penggunaan Sumber daya yang berkelanjutan 5. Mewadahi Tujuan-
Tujuan Masyarakat 6. Daya Dukung 7. Monitor dan Evaluasi 8.
Akuntabilitas 9. Pelatihan 10. Promosi Pariwisata berkelanjutan adalah
sebuah proses dan sistem pembangunan pariwisata yang dapat menjamin
keberlangsungan atau keberadaan sumber daya alam, kehidupan sosial-
budaya dan ekonomi hingga generasi yang akan datang. Intinya, pariwisata
berkelanjutan adalah pariwisata yang dapat memberikan manfaat jangka
panjang kepada perekonomian lokal tanpa merusak lingkungan Dalam
Konferensi Dunia tentang Pariwisata Berkelanjutan pada tahun 1995
dirumuskan Piagam Pariwisata Berkelanjutan yang isinya sebagai berikut: •
Pembangunan pariwisata harus berdasarkan kriteria keberlanjutan -dapat
didukung secara ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil
secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat. • Pariwisata harus
berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan dengan
lingkungan alam, budaya dan manusia. • Pemerintah dan otoritas yang
kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat
setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan perencanaan
pariwisata sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan. •
Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan
memperkuat bantuan, langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek
pariwisata yang berkontribusi kepada perbaikan kualitas lingkungan. •
Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di
masa depan harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan
bantuan keuangan untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan. •
Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang
sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan • Pemerintah
harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk
penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata
dan teknologi pariwisata berkelanjutan. • Penetapan kebijakan pariwisata
berkelanjutan memerlukan dukungan dan sistem pengelolaan pariwisata yang
ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor, dan
pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program
kerjasama internasional.

Permasalahan 1. Masih kurangnya kesadaran pelestarian semua pihak


dalam lingkungan kepariwisataan2. Daya saing yang kurang3. Kurang
menyadari prinsip-prinsip pembangunan/pengembangan pariwisata
berkelanjutan4. Kurang koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat
dalam pengembangannyaGuna tercapainya pembangunan pariwisata
berkelanjutan, setidak-tidaknya perlu dijalankan lima program sebagai berikut
: 1. Kesadaran tentang tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan dari
semua stakeholder kepariwisataan 2. Pergeseran peranan pemerintah pusat
dalam pembangunan pariwisata 3. Peningkatan peranan pemerintah daerah
dalam pembangunan pariwisata nasional 4. Kemantapan industri pariwisata
yang berisi tindakan-tindakan yang perlu dilakukan usaha pariwisata dalam
meningkatkan daya saingnya 5. Kemitraan dan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan pariwisata Kesadaran terhadap persoalan-persoalan
lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi yang ditimbulkan oleh model
pembangunan dan praktek kegiatan wisata yang biasa/massal mendorong
beberapa pelaku pariwisata untuk membuat produk-produk yang lebih ramah
lingkungan, sosial dan budaya, sehingga muncullah berbagai produk
pariwisata bentuk baru seperti -ecotourism, alternative tourism, appropriate
tourism, culture tourism, adventure tourism, green tourism, soft tourism,
wildlife tourism, communitiy-based tourism, dan lain sebagainya- sebagai
jawaban atas praktek pariwisata massal. Indikator yang dapat dipakai untuk
mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi wisata adalah : •
Kesejahteraan (well being) masyarakat tuan rumah • Terlindunginya aset-
aset budaya • Partisipasi masyarakat • Kepuasan wisatawan • Jaminan
kesehatan dan keselamatan • Manfaat ekonomik • Perlindungan terhadap
aset alami • Pengelolaan sumber daya alam yang langka, • Pembatasan
dampak dan • Perencanaan dan pengendalian pembangunan Pembangunan
Pariwisata Berkelanjutan Di Desa Wisata Jatiluwih, bali Untuk menjaga
keberlanjutan pariwisata di Bali, Pembangunan pariwisata di Bali selalu
berdasarkan pada penerapan konsep “Tri Hita Karana”. Konsep ini bertujuan
untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan
manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Diharapkan
dengan keharmonisan ini, manusia (orang yang tinggal di Bali) dapat
memperoleh manfaat dalam bentuk kesejastraan, kemakmuran, kebahagiaan
dan kedamaian dalam hidupnya (Darmayuda, dkk. 1991 : 6-8). Dengan pola
pembangunan berkelanjutan, generasi sekarang dan generasi yang akan
datang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk menikmati alam
beserta isinya ini. Pembangunan pariwisata berkelanjutan bertitik tolak pada
keberlanjutan tiga hal >>> ekonomi, sosial- budaya, dan lingkungan.
Pembangunan Desa Wisata Jatiluwih yang berpedoman pada ketiga hal
tersebut dilakukan baik oleh anggota desa dan perangkat Desa Dinas maupun
Desa Adat. Usaha-usaha pengembangan Desa Wisata Jatiluwih masih terus
diupayakan agar bisa terwujudnya pariwisata berkelanjutan oleh Desa Dinas
misalnya dengan penataan kawasan objek wisata. Desa Adat juga berperan
aktif dalam pembangunan pariwisata di Desa Wisata Jatiluwih. Dalam
kegiatanya, Desa Adat selalu berpegang pada konsep Tri Hita Karana. Dalam
kaitanya dengan keagamaan atau ketuhanan (parahyangan), Desa Adat
membangun dan memperbaiki pura-pura yang ada di kawasan Desa Wisata
Jatiluwih dan mengadakan upacara keagamaan yang berupa; piodalan,
pecaruan, ngenteg linggih dan sebagainya secara berkala sesuai dengan hari
baik (auspicious day). Dalam kaitanya dengan kemanusiaan (pawongan), Desa
Adat merevisi peraturan-peraturan desa atau awig-awig agar sesuai dengan
perkembangan jaman sehingga anggota masyarakat sama sekali tidak
terbebani dengan peraturan-peraturan yang bersifat konservatif. Dalam
kaitannya dengan lingkungan (palemahan), Desa Adat telah mensertifikasikan
tanah-tanah Desa Adat yang selama ini belum bersertifikat sehingga
kepemilikan tanah tersebut menjadi legal, jelas, dan tidak menimbulkan
konflik di masa yang akan datang. ASPEK EKONOMI Pembangunan pariwisata
berkelanjutan di Desa Wisata Jatiluwih belum memberikan manfaat ekonomi
secara langsung dan adil kepada masyarakat lokal (host community) karena
hanya sebagian kecil masyarakat lokal bekerja di sektor pariwisata seperti;
akomodasi, café dan restoran. Tetapi secara tidak langsung masyarakat lokal
telah mendapatkan manfaat ekonomi, manfaat ini diperoleh melalui Desa
Dinas atau Desa Adat dimana mereka berada. ASPEK SOSIAL BUDAYA
Kehidupan sosial-budaya masyarakat di Desa Wisata Jatiluwih masih sangat
kental, ini dibuktikan masih antusiasnya masyarakat lokal untuk melakukan
berbagai macam upacara keagamaan seperti; piodalan, pecaruan,
pamungkahan dan lain-lain. Dalam hal upacara keagamaan di pura,
pelaksanaannya sepenuhnya dilakukan oleh anggota (krama) desa adat dan
biayanya diperoleh dari desa adat setempat, sumbangan dari pengusaha jasa
pariwisata yang beroperasi di kawasan Desa Wisata Jatiluwih, dan
pemerintah daerah Kabupaten Tabanan. ASPEK LINGKUNGAN Pembangunan
pariwisata di Desa Wisata Jatiluwih tidak mengakibatkan dampak-dampak
negatif terhadap lingkungan dan penurunan kualitas tanah atau lahan
pertaninan baik lahan perladangan maupun persawahan. Kelestarian hutannya
masih tetap terjaga dengan baik. Masyarakat secara bersama-sama dan
sepakat untuk melestarikan hutannnya dan tanpa harus ketergantungan
terhadap hutan tersebut. Pada dasarnya masyarakat lokal telah sadar
terhadap perlunya pelestarian hutan, karena kawasan hutan yang dimaksud
merupakan daerah resapan air yang bisa dipergunakan untuk kepentingan
hidupnya maupun mahluk hidup yang lainnya serta untuk keperluan
persawahan.

https://m.facebook.com/notes/desa-jatiluwih-penebel-tabanan/pengembangan-kawasan-wisata-
berkelanjutan/181293645216209/

Konsep Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan


Posted on 10 April 2013 | 1 Komentar

Definisi pembangunan pariwisata berkelanjutan bisa memiliki makna


beragam. Orang dari banyak bidang yang berbeda menggunakan istilah
berbeda di dalam konteks yang berbeda dan mereka mempunyai
konsep, bias dan pendekatan yang berbeda (Heinen dalam Sharpley,
2000:1).
WTO mendefinisikan pembangunan pariwisata berkelanjutan sebagai
pembangunan yang memenuhi kebutuhan wisatawan saat ini, sambil
melindungi dan mendorong kesempatan untuk waktu yang akan datang.
Mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sedemikian rupa
sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi sambil
memelihara integritas kultural, proses ekologi esensial, keanakeragaman
hayati dan sistem pendukung kehidupan. Produk pariwisata berkelanjutan
dioperasikan secara harmonis dengan lingkungan lokal, masyarakat
danbudaya, sehingga mereka menjadi penerima keuntungan yang
permanen dan bukan korban pembangunan pariwisata (Anonim, 2000:
XVI). Dalam hal ini kebijakan pembangunan pariwisata berkelanjutan
terarah padapenggunaan sumber daya alam dan penggunaan sumber
daya manusia untuk jangka waktu panjang. (Sharpley, 2000:10).
Berkaitan dengan upaya menemukan keterkaitan anatara aktifitas
pariwisata dan konsep pembangunan berkelanjutan Cronin (dalam
Sharpley,2000:1) mengkonsepkan pembangunan pariwisata
berkelanjutan sebagai pembanguan yang terfokus pada dua
hal, keberlanjutan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi di satu sisi dan
lainnya mempertimbangkan pariwisata sebagai elemen kebijakan
pembangunan berkelanjutan yang lebih luas. Stabler dan Goodall, dalam
Sharpley, 2000:1) menyatakan pembangunan pariwisata berkelanjutan
harus konsisten dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
Lane (dalam Sharpley, 2000:8) menyatakan bahwa pariwisata
berkelanjutan adalah hubungan triangulasi yang seimbang antara
daerah tujuan wisata (host areas) dengan habitat dan manusianya,
pembuatan paket liburan (wisata), dan industri pariwisata, dimana tidak
ada satupun stakehorder dapat merusak keseimbangan. Pendapat yang
hampir sama disampaikan Muller yang mengusulkan suatu istilah, yaitu
‘magic pentagon’ yang merupakan keseimbangan antara elemen-elemen
pariwisata, dimana tidak ada satu faktor atau stakeholder yang
mendominasi.
Prinsip dasar pembangunan pariwisata berkelanjutan menurut Sharpley
(2000:9-11) yang mengacu pada prinsip dasar pembangunan
berkelanjutan. Pendekatan yang holistik sangat penting. Untuk
diterapkan secara umum, pada sistem pariwisata itu sendiri dan khusus
pada individu di daerah tujuan wisata atau sektor industri. Selama ini
meskipun pariwisata diterima dan terintegrasi dalam strategi
pembangunan nasional dan lokal, namun fokus utama pembangunan
pariwisata berkelanjutan masih ke arah produk center. Tidak heran jika
pada tingkat operasional sulit mengatur penerimaan yang komplek,
fragmentasi, pembagian multisektor dari keuntungan pariwisata secara
alamiah. Oleh karenanya menurut Forsyth (dalam Sharpley, 2000:9)
pariwisata berkelanjutan dalam prakteknya cenderung terfokus eksklusif
setempat, proyek pembangunan relatif berskala kecil, jangkauanya jarang
melebihi wilayah/lingkungan lokal atau regional, atau sebagai sektor
industri yang spesifik/khusus. Pada saat yang bersamaan, sektor yang
berbeda dari industri pariwisata mengalami perkembangan dalam
berbagai tingkat, mengadopsi kebijakan lingkungan dan meski kecil telah
menunjukkan filosofi bisnis dan pembangunan yang mengarah pada
prinsip-prinsip keberlanjutan antar industri. Menurut Sharpley
peningkatan kebijakan pembangunan pariwisata berkelanjutan sangat
tergantung pada variasi faktor politik ekonomi yang dapat menghalangi
diterapkannya pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Aronsson (200:40) mencoba menyampaikan beberapa pokok pikiran
tantang intepretasi pembangunan pariwisata berkelanjutan, yaitu :

1. Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus mampu mengatasi


permasalahn sampah lingkungan serta memilislppki perspektif
ekologis.
2. Pembangunan pariwisata berkelanjutan menunjukkan
keberpihakannya pada pembangunan berskala kecil dan yang
berbasis masyarakat lokal/setempat.
3. Pembangunan pariwisata berkelanjutan menempatkan daerah
tujuan wisata sebagai penerima manfaat dari pariwisata, untuk
mencapainya tidak harus dengan mengeksploitasi daerah setempat.
4. Pembangunan pariwisata berkelanjutan menekankan pada
keberlanjutan budaya, dalam hal ini berkaitan dengan upaya-upaya
membangun dan mempertahankan bangunan tradisional dan
peninggalan budaya di daerah tujuan wisata.
Pembangunan pariwisata berkelanjutan atau Sustainable Tourism
Development menurut Yaman dan Mohd (2004: 584) ditandai dengan 4
kondisi, yaitu :
1. Anggota masyarakat harus berpartisipasi dalam proses perencanaan
dan pembangunana pariwisata.
2. Pendidikan bagi tuan rumah, pelaku industri dan
pengunjung/wisatawan.
3. Kualitas habitat kehidupan liar, penggunaan energi dan iklim mikro
harus dimengerti dan didukung.
4. Investasi pada bentuk-bentuk transportasi alternative.
Sedangkan indikator yang dikembangkan pemerintah RI tentang
pembangunan pariwisata berkelanjutan (Agenda 21 sektoral, 2000)
adalah :
1. Kesadaran tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, bahwa
strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan harus menempatkan
pariwisata sebagai green industry(industri yang ramah lingkungan),
yang menjadi tanggungjawab pemerintah, industri pariwisata,
masyarakat dan wisatawan.
2. Peningkatan peran pemerintah daerah dalam pembangunan
pariwisata.
3. Kemantaban/keberdayaan industri pariwisata yaitu mampu
menciptakan produk pariwisata yang bisa bersaing secara
internasional, dan mensejahterakan masyarakat di tempat tujuan
wisata.
4. Kemitraan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan
pariwisata yang bertujuan menghapus/meminimalisir perbedaan
tingkat kesejahteraan wisatawan dan masyarakat di daerah tujuan
wisata untuk menghindari konflik dan dominasi satu sama lain. Hal
ini juga didukung dengan memberi perhatian/pengembangan usaha
skala kecil oleh masyarakat lokal. (Editor : Rafans Manado),-

https://tabeatamang.wordpress.com/2013/04/10/konsep-pembangunan-pariwisata-berkelanjutan/

PENGELOLAAN PARIWISATA BERKELANJUTAN


Latar Belakang
Pembangunan pariwisata yang terpadu dan berkelanjutan perlu memperhatikan dampak serta aspiratif
dengan adat istiadat masyarakat di sekitar daerah tujuan wisata. Seluruh stake holders yang
berhubungan langsung dengan dunia pariwisata terlibat dalam perencanaan pembangunan suatu obyek
daerah tujuan wisata. Masyarakat setempat, wisatawan, pengusaha (investor), biro perjalanan serta
Pemerintah Daerah harus saling terpadu untuk berupaya secara maksimal mengembangkan potensi
wisata yang memperhitungkan keuntungan dan manfaat rakyat banyak.
Industri pariwisata yang berkembang dengan baik akan membuka kesempatan terciptanya peluang usaha,
kesempatan berwiraswasta, serta terbukanya lapangan kerja yang cukup luas bagi penduduk setempat,
bahkan masyarakat dari luar daerah. Secara langsung dengan dibangunnya sarana dan prasarana
kepariwisataan di daerah tujuan wisata tersebut maka akan banyak tenaga kerja yang diperlukan oleh
proyek-proyek, seperti pembuatan jalan-jalan ke obyek-obyek pariwisata, jembatan, usaha kelistrikan,
penyediaan sarana air bersih, pembangunan lokasi rekreasi, angkutan wisata, terminal, lapangan udara,
perhotelan, restoran, biro perjalanan, pusat perbelanjaan, sanggar-sanggar kesenian dan tempat-tempat
hiburan lainnya.
Perputaran uang akan meningkat dengan adanya kunjungan para wisatawan baik domestik maupun non
domestik, hal ini tentu akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan penerimaan devisa
negara, pendapatan nasional serta pendapatan daerah. Walaupun demikian ada beberapa alasan di luar
faktor ekonomis yaitu yang bersifat non ekonomis dalam pengembangan pariwisata. Salah satu contoh
adalah dalam rangka mempertahankan kelestarian kebudayaan masyarakat setempat, keindahan alam
serta menyamakan persepsi seluruh komponen masyarakat akan ke arah mana pariwisata dikembangan.
Pembangunan pariwisata perlu direncanakan secara matang dan terpadu dengan memperhatikan segala
sudut pandang serta persepsi yang saling mempengaruhi. Para pengambil kebijakan hati-hati dalam
implementasinya, akan sangat bagus apabila sebelum kebijakan dijalankan dilakukan terlebih dahulu
penelitian dan pengkajian yang mendalam terhadap semua aspek yang berkaitan dengan dunia
pariwisata. Mulai dari potensi yang dimiliki daerah setempat, adat istiadat kebiasaan hidup masyarakat
sekitar lokasi pariwisata, kepercayaan yang dianutnya, sampai kepada kebiasaan dan tingkah laku
wisatawan yang direncanakan akan tertarik untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata yang siap
dikembangkan.
Dengan kebijakan yang memperhatikan kompleksitas permasalahan tersebut diharapkan akan tercipta
suasana lokasi daerah tujuan wisata yang harmonis, aman, nyaman, bersih, bebas polusi dan memiliki
lingkungan yang terpelihara, sehingga menyenangkan semua pihak khususnya para wisatawan.

Konsep dan Pengertian Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan


Pemenuhan kebutuhan dan aspirasi masyarakat adalah tujuan utama pembangunan. Kebutuhan dasar
sebagian besar penduduk di bumi ini seperti pangan, sandang, papan, pekerjaan perlu terpenuhi,
disamping mempunyai cita-cita akan kehidupan yang lebih baik.
Konsep pembangunan berkelanjutan mengimplikasikan batas bukan absolut akan tetapi batas yang
ditentukan oleh teknologi dan organisasi masyarakat serta oleh kemampuan kehidupan bumi menyerap
dampak kegiatan manusia.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan adalah sebagai berikut (Djajadiningrat, 2001):
1.Menjamin pemerataan dan keadilan sosial
2.Menghargai keanekaragaman (diversity)
3.Menggunakan pendekatan integratif
4.Meminta perspektif jangka panjang
Di dalam pembangunan berkelanjutan terkandung dua gagasa penting, yaitu gagasan kebutuhan yaitu
kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia serta gagasan keterbatasan yang
bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi
kebutuhan kini dan hari depan. Sehingga untuk memenuhi dua gagasan tersebut diperlukan syarat-syarat
untuk pembangunan berkelanjutan (Djajadiningrat, 2001), sebagai berikut
1.Keberlanjutan Ekologis
2.Keberlanjutan Ekonomi
3.Keberlanjutan Sosial dan Budaya
4.Keberlanjutan Politik
5.Keberlanjutan Pertahanan dan Keamanan
Dalam kaitannya dengan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang perlu mendapatkan perhatian
adalah bagaimana agar supaya obyek daerah tujuan wisata dapat dikembangkan dengan tidak
mengganggu ekosistem lingkungan yang ada, serta masyarakat setempat tidak terpinggirkan
kepentingannya untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih baik.

Kendala dalam Pengembangan Pariwisata


Sejak diundangkannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka berbagai upaya
pengembangan potensi daerah menjadi menarik dan bahkan banyak dibicarakan serta diupayakan oleh
berbagai pihak untuk didayagunakan semaksimal mungkin. Semua sektor dicari kemungkinan untuk dapat
dikembangkan sedemikian rupa sehingga memberikan kontribusi terhadap suksesnya implementasi roda
pemerintahan. Hal ini juga terjadi pada dunia pariwisata. Dalam banyak hal pariwisata memang menjadi
potensi fokus orientasi kebijakan guna mendongkrak sumbangan pendapatan daerah. Sejalan dengan
pemikiran itu agaknya dapat difahami manakala terjadi eksploitasi secara berlebihan terhadap aset
wisata yang dimiliki daerah-daerah tertentu.
Inipun juga sejalan dengan semangat ditetapkanya Otonomi Daerah, dimana dengan dilaksanakan
otonomi daerah diharapkan terjadi revitalisasi dan pemberdayaan daerah yang lebih tepat dan sesuai
dengan kehendak masyarakat secara proporsional. Pemerintah Propinsi, Kabupaten/ Kota diharapkan
mampu mengartikulasikan kepentingan dan merumuskan kebijakan serta mengambil kebijakan secara
tepat, cepat dan sesuai dengan kebutuhan, sehingga pengembangan terhadap potensi yang ada dapat
dilaksanakan dengan lebih optimal dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
secara keseluruhan.
Tetap dalam bingkai implementasi otonomi daerah, pendelegasian berbagai kewenangan kepada
pemerintah daerah termasuk urusan kepariwisataan sudah semestinya dimanfaatkan dengan sebaik-
baiknya dalam artian haruslah dikelola secara efektif dan sistematik baik dijajaran pemerintahan
maupun masyarakat pengelola aset pariwisata.
Potensi pariwisata jika dicermati dengan seksama dapat didekati dari berbagai aspek, seperti aspek
ekonomi, sosial budaya, aspek fisik, aspek politik, sumberdaya alam dan manusia serta lainnya. Oleh
karena itu, dalam kaitan dengan bidang pariwisata, berbagai potensi tadi merupakan aset jika
dimanfaatkan dengan baik akan mampu meningkatkan performance pengelolaan kepariwsataan secara
holistik dengan pendekatan multidisilpliner, lintas sektoraldan lintas regional (meski tanpa
mengesampingkan lokalitas yang ada).
Menyimak pengalaman pengelolaan bahkan pengembangan pariwisata yang ada, betapapun masih
terdapat berbagai kendala yang menyebabkan pengelolaan tidak optimal. Beberapa kendala tersebut
antara lain:
1.Nilai tambah rendah. Hal ini berkait dengan kreativitas, inovasi dan kurangnya kemampuan interpretasi
peluang. Dalam banyak pertimbangan pengembangan pariwisata, terkadang tidak disadari bahwa
sebenarnya ada aset wisata yang jika dikelola dengan baik akan memiliki nilai tambah yang menggiurkan.
Namun kenyataannya masih ada beberapa aset atau obyek yang saat ini kondisi nilai tambahnya masih
rendah sehingga kurang mendapat perhatian. Hal ini tentunya tidak luput dari kurangnya kreatifitas,
inovasi, serta interpretasi yang dimiliki baik oleh pemerintah, pelaku maupun masyarakat sendiri.
2.Keterlibatan rendah dalam arti ketidaksiapan masyarakat dan kurangnya fasilitasi dari pihak terkait.
Potensial tidaknya suatu dijadikan obyek wisata, selalu erat hubungannya dengan kesediaan masyarakat
untuk berpartisipasi secara aktif dan positif dalam pengembangan, pengelolaan serta pemeliharaannya.
Jika ada salah satu dari unsur ini tidak terpenuhi, bisa jadi menyebabkan perkembangan pariwisata tidak
menguntungkan. Oleh karena itu, masyarakat setempat haruslah diberi akses atau fasilitasi untuk siap
dilibatkan atau terlibat dalam pengembangan, pengelolaan, serta pemanfaatan obyek yang ada sebagai
partisipan aktif bukan sebagai penonton pasif. Tentu banyak hal yang menguntungkan pengembangan
kedepan jika peran serta masyarakat ditetapkan menjadi pertimbangan.
3.Orientasi fisik, terlena karena kekayaan alam dan budaya sebagai daya dianggap “given”. Ini bisa saja
menyebabkan para pihak berkompeten dengan kepariwisataan menganggap bahwa aset yang dimiliki
merupakan temuan belaka, sehingga menerapkan kebijakan bahwa temuan tersebut perlu
dikomersialkan hanya dengan bermodalkan keindahan yang melingkupi obyek tersebut sebagai satu-
satunya kriteria untuk menentukan prospek pengembangan dan pemasarannya. Berhasil tidaknya suatu
potensi wisata untuk dijadikan obyek wisata dan dikomersialkan, sebenarnya memberlukan banyak
persyaratan baik aspek teknis, administratif maupun nilai setempat. Contoh ada panorama gunung yang
indah, tetapi jika di sekitar kawasan tersebut ada gas beracun, maka kurang tepat jika aset itu dijadikan
obyek wisata umum.
4.Pemahaman yang kurang dari berbagai stakeholders. Seiring dengan berbagai perubahan yang ada,
termasuk didalamnya perubahan kelembagaan pemerintahan dan kebijakan sebagai dampak
dilaksanakannya otonomi daerah, maka terjadi semacam “culture shock” di berbagai level. Jika hal
semacam itu terjadi secara berkelanjutan maka bukannya tidak mungkin pengembangan kepariwisataan
daerah menghadapi dilema yang kurang menguntungkan. Untuk mengeliminir terjadi trend itu, maka
perlu kiranya bagi stakeholders yang ada menyatukan atau setidaknya menyamakan persepsi dalam
pengembangan pariwisata sehingga idiom “Itik bertelor Emas” tidak terjadi.
5.Orientasi jangka pendek untuk mengeruk keuntungan. Kesinambungan pemikiran jangka panjang
memang perlu ditumbuh kembangkan dalam menyikapi pengembangan wisata utamaya bagi obyek wisata
yang tidak terbarukan. Memang kadangkala kepentingan jangka pendek seolah lebih menjanjikan, namun
hal ini tentunya harus dipertimbangan arti segi kemanfaatan jangka panjangnya. Jika hal ini kurang
mendapat porsi yang memadai, kemungkinan akan terjadi kerugian di kemudian haru (jangka panjang).
6.Kurangnya kebersamaan antar pelaku pariwisata dengan sektor lain. Kita dapat melihat, pengalaman:
dimana ada gula disitu ada semut. Tidak seekstrim ungkapan tadi, namun kenyataannya jika ada ODTW
(Obyek Daerah Tujuan Wisata) baru, berbagai pihak datang untuk memanfaatkan keunggulan komparatif
dan kompetitif dari aset yang ada. Agaknya perlu dipertimbangkan bahwa keunggulan komplementatif
sebuah aset wisata juga perlu menjadi pertimbangan para pengembang kepariwisataan. Para
pengembang kepariwisataan bisa saja berasal dari berbagai kalangan misalnya pemerintah, lembaga
swadaya masyarakat, biro perjalanan, pemandu wisata dan lainnya. Untuk mengembangkan pariwisata
dengan lebih baik, agaknya diperlukan penyamaan langkah garapan sesuai dengan kompetensi masing-
masing sehingga tidak terjadi "saling tubrukan" ”alam memanfaatan aset wisata yang ada. Bisa
dibayangkan jika tidak terjadi kebersamaan dalam pengembangan kepariwisataan maka hasil yang
dicapai hampir pasti kurang menggembirakan.

Mekanisme Penyelenggaraan Kepariwisataan


Setelah diketahui secara jelas kewenangan Pemerintah Daerah dalam rangka otonomi daerah khususnya
di Bidang Pariwisata, maka Pemerintah Daerah perlu mendukung dan memacu keberhasilan otonomi
daerah, dengan cara meningkatkan mekanisme penyelenggaraan kepariwisataan utamanya dalam hal
kualitas pelayanan publik, yaitu kemampuan mengembangkan pelayanan secara lebih baik, lebih cepat
dan lebih mudah.
Dalam penyelenggaraan kepariwisataan, dari sisi administrasi pembangunan kepariwisataan, pemerintah
disini hanya berperan sebagai regulator/ fasilitator sekaligus pendorong. Pemerintah hanya menjalankan
fungsi pembinaan teknis, sedangkan pihak swasta diberikan keleluasaan gerak serta dukungan yang
seluas-luasnya. Mekanisme yang diharapkan terjadi adalah pihak swasta mampu berada di garis depan
serta mendominir dalam pengembangan kepariwisataan.
Dalam penyelenggaraan kepariwisataan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami isu-isu
yang akan menjadi dasar di dalam pengembangan pariwisata selanjutnya. Isu-isu tersebut dapat berupa
permasalahan-permasalahan, dampak-positif, dampak negatif, keinginan sekelompok masyarakat/
pengusaha, rencana pengembangan dan sebagainya yang merupakan potensi dan hambatan dalam
pengembangan kepariwisataan. Kemudian isu-isu tersebut diinventarisir dan semua pihak yang terkait
dengan kepariwisataan harus sepaham dan dapat menjawab secara sepakat isu-isu tersebut dengan
obyektif dan logis.
Identifikasi potensi dan hambatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mengumpulkan data serta
informasi tentang potensi dan hambatan serta keadaan umum kawasan yang akan dikembangkan sebagai
daerah tujuan wisata. Kegiatan identifikasi potensi dan hambatan tersebut meliputi aspek-aspek daya
tarik dan keunikan alam, kondisi ekologis/ lingkungan, kondisi sosial, budaya dan ekonomi, peruntukan
kawasan, sarana dan prasarana, potensi pangsa pasar ekowisata serta pendanaan.
Dari hasil identifikasi potensi dan hambatan tersebut selanjutnya dilakukan analisis potensi dan
hambatan, meliputi hal-hal sebagai berikut: aspek legalitas dan dasar-dasar hukum, potensi sumberdaya
dan keunikan alam, analisis usaha, analisis dampak lingkungan, analisis ekonomi (cost and benefit
analysis), analisis sosial (partisipasi masyarakat) serta analisis tata ruang.
Dari identifikasi dan analisis potensi dan hambatan tersebut, hasil yang diharapkan dapat menjawab
komponen-komponen yang terdapat dalam analisa menurut sistem 5 W + 1 H (Robby, 2001), yaitu:
1.Apa (What) yang akan dikembangkan. Obyek wisata alam untuk umum, yaitu wisatawan masal, atau
wisata minat khusus untuk kelompok wisatawan selektif, wisata budaya, wisata agro, atau wisata bahari.
2.Mengapa (Why) ada rencana pengembangan.
-Karena banyak peminatnya?
-Usaha wisata daerah tersebut prospektif?
-Karena ada obyek wisata lain jenis yang dapat dipaketkan bersama obyek wisata yang akan
dikembangkan?
-Hanya untuk menaikkan PAD?
3.Bagaimana (How) mengembangkannya?
-Dana?
-Dari pemerintah Pusat atau Daerah?
-Dari sektor mana?
-Apakah dari pihak swasta?
-Dari segi teknis bagaimana perencanaannya?, Zonasinya?, Daya dukungnya?, Sirkulasi pengunjungnya?
-Apakah akan ditangani sendiri oleh Pemda atau diserahkan ke swasta?, bagaimana bentuk
kerjasamanya?
3.Siapa (Who) yang akan mengembangkannya. Pihak swasta? Pemda? Perum Perhutani ? Departemen
Kehutanan? Pemerintah Pusat? Direksi Perkebunan Swasta? Warga Setempat? Siapa konsultannya?
4.Kapan (When) akan dikembangkan? Sesudah mendapatkan semua izin atau sebelumnya? Setelah dana
terkumpul atau membangun sambil mencari dana? Segera dikembangkan atau menunggu hasil konsultasi
oleh tim pakar?
5.Dimana (Where) rencana lokasi pengembangan akan dibangun?
-Pertimbangan tidak sebatas zona inti kunjungan, tetapi meliputi seluruh wilayah pengelolaannya,
-Adakah kemungkinan tergusurnya lahan-lahan garapan atau tanah hak milik penduduk setempat,
-Berapa jauh dari Sumber air? Pemukiman? Dari sarana prasarana yang sudah ada?
-Sudahkah terdapat peta berskala 1: 5.000?
Dari hasil identifikasi dan analisis potensi dan hambatan tersebut di atas, kemudian baru disusun
perencanaan atau rancang tindak pengembangan kepariwisataan. Sehingga usaha-usaha pengembangan
yang akan dilakukan akan membawa manfaat yang maksimal bagi wilayah dan masyarakat, serta
meminimalkan biaya dan dampak yang mungkin terjadi bila pengembangan kepariwisataan dilakukan.
Pada akhirnya kebijakan serta arah pembangunan kepariwisataan ditentukan oleh seluruh pihak yang
terlibat dalam kepariwisataan.
Konsep perencanaan pariwisata yang baik hendaknya dilakukan dengan melalui pendekatan
berkelanjutan, ikremental, berorientasi sistem, komprehensif, terintegrasi dan memperhatikan
lingkungan, dengan fokus untuk pencapaian pembangunan berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat.
Konsep perencanaan ini tertuang dalam RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah),
dimana dalam penyusunan RIPPDA Kabupaten/ Kota secara hirarki harus mengacu yang lebih tinggi yaitu
RIPPDA Propinsi serta Rencana Tata Ruang Wilayah, sehingga dengan memperhatikan hirarki tersebut
pengembangan dapat terintegrasi secara baik.
Dalam penyelenggaraan kepariwisataan, tahapan serta tata caranya dibuat secara berkesinambungan,
artinya tahapan dalam pelaksanaan sudah dipikirkan dengan matang pada tahapan perencanaan. Hal-hal
apa yang perlu dikembangkan dalam tahapan pelaksanaan sudah menjadi bahan pertimbangan serta
masukan dalam tahapan perencanaan, misalnya aspek pengembangan masyarakat; pengembangan
produk yang mencakup aspek tata ruang, sarana dan prasarana, atraksi dan kegiatan, pendidikan dan
sistem penghargaan; pengembangan usaha; pengembangan pemasaran dan akhirnya pada tahapan
pemantauan dan evaluasi.
Aspek lain selain yang telah diuraikan tersebut di atas dalam mekanisme penyelenggaraan
kepariwisataan perlu diperhatikan bagaimana bentuk kelembagaan yang berfungsi melakukan
pengelolaan kepariwisataan, yang berkewajiban dalam penyelenggaraan kepariwisataan. Selain
keberadaan dinas atau instansi khusus yang menangani kepariwisataan, pembentukan Tim Koordinasi
yang terdiri atas Tim Teknis, Tim Pembina dan Sekretariat yang tergabung dari instansi-instansi terkait
diperlukan, agar dalam pengelolaan kepariwisataan dapat terpadu, berdayaguna dan berhasilguna.
Pada akhirnya dalam setiap mekanisme penyelenggaraan kepariwisataan khususnya dalam hal
pengembangannya memang harus terpadu dan melibatkan seluruh stake holders. Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah Propinsi, Kabupaten/ Kota dalam perencanaan pengembangan potensi wisata di
daerahnya diharapkan mempunyai keterkaitan program, hal tersebut menjadi tugas bersama dalam
rangka pengembangan bidang kepariwisataan yang terpadu dan berkelanjutan, sehingga masing-masing
daerah dapat merasakan manfaatnya secara bersama-sama dengan mengedepankan kepentingan
nasional.

Penutup
Pembangunan pariwisata berkelanjutan mempunyai arti pembangunan dalam sektor pariwisata dalam
upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk berekreasi pada saat ini dengan tanpa mengurangi
kemampuan atau kebutuhan generasi mendatang. Perencanaan menjadi titik awal dalam proses
pembangunan pariwisata, sehingga keterlibatan seluruh stake holders sangat diperlukan dalam langkah
awal yang sangat menentukan tersebut. Akan dikembangkan menjadi daerah pariwisata seperti apa suatu
wilayah, tentunya memerlukan kajian yang sangat mendalam agar supaya prinsip berkelanjutan dapat
terpenuhi.
Mekanisme dalam penyelenggaraan kepariwisataan akan baik apabila sesuai dengan alur proses
manajemen, mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi. Di dalam
tahapan perencanaan harus sudah mulai dipikirkan kemungkinan tercapainyanya dalam tahapan
pelaksanaan, artinya rencana kegiatan akan diupayakan secara maksimal dalam pelaksanaannya. Aspek-
aspek apa yang perlu direncanakan untuk dilaksanakan sebagai contoh adalah bagaimana aspek
pengembangan masyarakat; pengembangan produk yang mencakup aspek tata ruang, sarana dan
prasarana, atraksi dan kegiatan, pendidikan dan sistem penghargaan; pengembangan usaha;
pengembangan pemasaran. Akhirnya untuk menilai keberhasilan proses perencanaan dan pelaksanaan
tersebut diperlukan mekanisme tahapan pemantauan dan evaluasi yang dapat diukur baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
Walaupun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa masih dijumpainya kendala-kendala penyelenggaraan
kepariwisataan dalam upaya pembangunan pariwisata berkelanjutan. Misalnya dalam hal strategi
pembinaan, kerangka penataan termasuk di dalamnya pembentukan perangkat organisasi yang sesuai
dengan kemampuan masing-masing daerah yang masih memerlukan beberapa peraturan daerah serta
koordinasi dengan sektor terkait secara terpadu dan mempunyai komitmen bersama untuk kepentingan
pemenuhan hajat hidup masyarakat saat ini dan berkelanjutan sampai pada generasi masa depan.

http://totoksuharto.blogspot.com/2011/02/pengelolaan-pariwisata-berkelanjutan.html
Konsep Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

The World Commission on Environment and Development yang didirikan tahun 1983 dan diketuai

oleh Harlem Bruntland - seringkali disebut juga sebagai Komisi Bruntland - sebagai respon atas

resolusi Majelis/Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyampaikan laporannya yang

berjudul “Our Common Future” pada tahun 1987.

Di dalam laporan tersebut untuk pertama kali dinyatakan pentingnya Pembangunan Berkelanjutan

yang didefinisikan sebagai : “Pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa

mengorbankan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka” (Development which

meets the needs of present without compromising the ability of future generations to meet their own

needs).

Pendekatan pembangunan berkelanjutan hanyalah sebuah gagasan bila tidak dijabarkan ke dalam

tindakan yang dapat mengurangi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh model pembangunan

yang selama ini dilaksanakan. Pada tahun 1992, dalam United Nation Conference on Environment and

Development -the Earth Summit- di Rio de Janeiro, dirumuskan program tindak yang menyeluruh

hingga abad ke-21 yang disebut Agenda 21, yang kemudian diadopsi oleh 182 negara peserta

konferensi termasuk Indonesia.

Agenda 21 merupakan cetak biru untuk menjamin masa depan yang berkelanjutan dari planet bumi

dan merupakan dokumen semacam itu yang pertama mendapatkan kesepakatan internasional yang

sangat luas, menyiratkan konsensus dunia dan komiment politik di tingkat yang paling tinggi.

Dalam tataran kepariwisataan internasional, pertemuan Rio ditindaklanjuti dengan Konferensi Dunia

tentang Pariwisata Berkelanjutan pada tahun 1995 yang merekomendasikan pemerintah negara dan

daerah untuk segera menyusun rencana tindak pembangunan berkelanjutan untuk pariwisata serta
merumuskan dan mempromosikan serta mengusulkan Piagam Pariwisata Berkelanjutan.

Prinsip-prinsip dan sasaran-sasaran dari piagam tersebut adalah bahwa:1.Pembangunan pariwisata

harus berdasarkan kriteria keberlanjutan -dapat didukung secara ekologis dalam waktu yang lama,

layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat.

2.Pariwisata harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan dengan

lingkungan alam, budaya dan manusia.

3.Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan

masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan perencanaan pariwisata

sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.

4.Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan memperkuat bantuan,

langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek pariwisata yang berkontribusi kepada perbaikan

kualitas lingkungan.

5.Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di masa depan harus

diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan bantuan keuangan untuk pembangunan

pariwisata berkelanjutan.

6.Promosi/dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang sesuai dengan prinsip-

prinsip pembangunan berkelanjutan

7.Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk penelitian,

diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata dan teknologi pariwisata

berkelanjutan.

8.Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan dan sistem pengelolaan

pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor, dan pelaksanaan

berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama internasional.

Sebagai industri terbesar di dunia, pariwisata memiliki potensi yang sangat besar untuk

mempengaruhi -negatif maupun positif- lingkungan, keadaan sosial dan ekonomi dunia. Agar

pariwisata dapat secara efektif memberikan kontribusi yang positif, program tindak global Agenda 21

dan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dalam Piagam Pariwisata Berkelanjutan perlu


diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata yang relevan bagi pariwisata. World Tourism and

Travel Council (WTTC) bersama-sama dengan World Tourism Organization dan Earth Council kemudian

menerjemahkannya ke dalam program tindak bagi industri perjalanan dan pariwisata yang disebut

Agenda 21 untuk Industri Perjalanan dan Pariwisata.

Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah: “Pariwisata yang

memenuhi kebutuhan wisatawan dan wilayah yang didatangi wisatawan (destinasi wisata) pada saat

ini, sekaligus melindungi dan meningkatkan kesempatan di masa depan. Pengertian tersebut

mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sedemikian sehingga kebutuhan ekonomi, sosial

dan estetika dapat terpenuhi sekaligus memelihara integritas kultural, berbagai proses ekologi yang

esensial, keanekaragaman hayati dan berbagai sistem pendukung kehidupan.”

Produk-produk pariwisata berkelanjutan adalah produk-produk yang dioperasikan secara harmonis

dengan lingkungan, masyarakat dan budaya setempat sehingga mereka terus menerus menjadi

penerima manfaat bukannya korban pembangunan pariwisata. Selain itu, dokumen tersebut

menyiratkan bahwa membuat perubahan ke arah pariwisata yang berkelanjutan memerlukan

perubahan orientasi cara kerja yang fundamental dari dua pihak yaitu:

Pertama, Pemerintah dalam mengarahkan pembangunan pariwisata serta;

Kedua, usaha perjalanan dan pariwisata dalam menjalankan usahanya. Oleh karenanya, Dokumen

Agenda 21 untuk Industri Perjalanan dan Pariwisata menyarankan berbagai program tindak yang

perlu dilakukan oleh kedua institusi tersebut. Agenda 21 sektor pariwisata dirumuskan ketika

bangsa Indonesia menghadapi isu-isu good governance (tata pemerintahan yang baik), hak azasi

manusia dan pengembangan manusia yang berkelanjutan sehingga isu-isu tersebut begitu mewarnai

program tindak di dalam agenda pembangunannya.

Agenda 21 Sektor Pariwisata Indonesia tidak hanya menganggap pariwisata berkelanjutan sebagai

tanggung jawab dua pelaku utama dalam pariwisata: pemerintah dan usaha pariwisata. Tetapi

melihat seluruh pihak -pemerintah, usaha pariwisata, LSM dan masyarakat, wisatawan- yang terlibat

dalam kepariwisataan mempunyai tanggung jawab dalam mewujudkan pariwisata yang

berkelanjutan sehingga program tindak disusun untuk seluruh pelaku.

Dalam kaitannya dengan tanggung jawab pemerintah, terjadi pergeseran wewenang yang cukup

signifikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah sehingga porsi yang cukup besar diberikan

untuk program tindak bagi pemerintah daerah.


Guna tercapainya pembangunan pariwisata berkelanjutan, setidak-tidaknya perlu dijalankan lima

program sebagai berikut :

1. Kesadaran tentang tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan dari

semuastakeholder kepariwisataan, karenanya program tindak untuk mengembangkan landasan dan

kerangka hukum yang tangguh, penegakan hukum, peningkatan kesadaran masyarakat melalui

pendidikan publik, pengembangan dan peningkatan peran lembaga swadaya masyarakat,

pengembangan sistem informasi pendukung pariwisata berkelanjutan menjadi program-program

yang diprioritaskan.

2. Pergeseran peranan pemerintah pusat dalam pembangunan pariwisata yang berisi tentang

berbagai tindakan yang perlu dilakukan pemerintah pusat dalam perencanaan, pelaksanaan,

pemantauan dan pengendalian pembangunan pariwisata dalam era otonomi daerah.

3. Peningkatan peranan pemerintah daerah dalam pembangunan pariwisata nasional yang berisi

tindakan-tindakan yang perlu dilakukan pemerintah daerah dalam perencanaan, pelaksanaan,

pemantauan dan penendalian pembangunan pariwisata agar berkelanjutan dalam era otonomi

daerah.

4. Kemantapan industri pariwisata yang berisi tindakan-tindakan yang perlu dilakukan usaha

pariwisata dalam meningkatkan daya saingnya melalui peningkatan kehandalan dan kredibilitas,

pengelolaan usaha secara berkelanjutan, penjalinan kerjasama diagonal, promosi nilai-nilai lokal

dalam usaha pariwisata.

5. Kemitraan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata yang berisi program tindak

untuk menumbuhkan kepemimpinan lokal, pengembangan skema bantuan, pelembagaan partisipasi

masyarakat, penciptaan kaitan ke depan dan ke belakang dengan usaha pariwisata, peningkatan

kesempatan berwisata dan peningkatan kesadaran terhadap resiko pengembangan pariwisata.

Perkembangan konsep pembangunan berkelanjutan tidak sesederhana dan selinier yang

disampaikan di atas. Gagasan pembangunan berkelanjutan secara simultan dan sporadik telah

ditanggapi sejak dini oleh berbagai pihak yang terkait dengan pariwisata di berbagai belahan dunia.

Kesadaran terhadap persoalan-persoalan lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi yang ditimbulkan
oleh model pembangunan dan praktek kegiatan wisata yang biasa/massal mendorong beberapa

pelaku pariwisata untuk membuat produk-produk yang lebih ramah lingkungan, sosial dan budaya,

sehingga muncullah berbagai produk pariwisata bentuk baru seperti -ecotourism, alternative tourism,

appropriate tourism, culture tourism, adventure tourism, green tourism, soft tourism, wildlife

tourism, communitiy-based tourism, dan lain sebagainya- sebagai jawaban atas praktek pariwisata

massal.

Untuk menjamin bahwa produk-produk yang ditawarkan usaha dan destinasi pariwisata betul-betul

ramah lingkungan dan berkelanjutan dan mudah dikenali pasar yang menginginkan produk

tersebut, beberapa negara telah mengembangkan berbagai skema penilaian dan sertifikasi terhadap

komponen produk wisata mulai dari daya tarik nasional:

1. Blue Flag untuk pantai,

2. Green Leaf, - untuk akomodasi,

3. Green Suitcase- untuk biro perjalanan,

4. Green Globe- untuk kawasan wisata dan destinasi.

Sementara itu WTO mengembangkan indikator untuk pembangunan/pengembangan pariwisata

berkelanjutan (Indicators of Sustainable development for Tourism Destinations), yang merupakan bukti

komitmennya untuk mendukung Agenda 21, sebagai kelanjutan dari disusunnya Agenda 21 Sektor

Pariwisata bersama WTTC dan EC pada tahun 1995. Indikator yang dapat dipakai untuk mengukur

tingkat keberlanjutan suatu destinasi wisata adalah :

1. Kesejahteraan (well being) masyarakat tuan rumah

2. Terlindunginya aset-aset budaya

3. Partisipasi masyarakat

4. Kepuasan wisatawan
5. Jaminan kesehatan dan keselamatan

6. Manfaat ekonomik

7. Perlindungan terhadap aset alami

8. Pengelolaan sumber daya alam yang langka,

9. Pembatasan dampak dan

10. Perencanaan dan pengendalian pembangunan

Indikator ini dapat diartikan sebagai arah kemana program pembangunan pariwisata harus

dilakukan atau ukuran keberhasilan yang harus dicapai, jadi bukan banyaknya jumlah pengunjung.

Untuk itu perlu penjabaran ke dalam program tindak ( action plan) yang lebih rinci. Hal ini telah

dilakukan di beberapa provinsi di tanah air, walaupun secara keseluruhan

(comprehensive), diperlukan penelitian yang lebih seksama.

http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/konsep-pembangunan-pariwisata.html