Anda di halaman 1dari 19

Kasus 1

Topik: Hiperemesis gravidarum


Tanggal (kasus): Presenter : dr. Asri Mukti Nanta
Tanggal (presentasi): Pembimbing : dr. T. Johan Advicenna, Sp.OG
Pendamping : dr. Husnaina Febrita
Tempat Presentasi : -
Obyektif Presentasi:

√ Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

√ Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia √ Bumil


Deskripsi : G2P1A0 hamil 12-13 minggu, Hiperemesis gravidarum
Tujuan:
o Mampu mendiagnosis secara cepat kasus hiperemesis gravidarum
o Mampu memberikan terapi terhadap pasien hiperemesis gravidarum
o Mampu memberikan edukasi kepada keluarga pasien untuk mencegah hiperemesis gravidarum

Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset √ Kasus Audit

Cara membahas: Diskusi √ Presentasi dan diskusi E-mail Pos

Data pasien: Nama: Irene Sumayow, 28 tahun Nomor Registrasi: 109556


Nama klinik: RSUD Sabang Telp: - Terdaftar sejak: 1 Februari 2017

1
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / gambaran klinis:
Pasien datang dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari yang lalu dan memberat sekitar 1 hari sembelum masuk ke rumah
sakit. Pasien mengatakan muntah lebih kurang 5 kali perhari dengan isi cairan putih agak kekuningan. Pasien mengatakan setiap
makan dan minum selalu muntah. Pasien mengeluhkan lemas dan tampak pucat. Pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati dan
perih. HPHT : 14/11/2016 , TTP : 21/08/2017, GR : 12-13 minggu.
2. Riwayat Penyakit Dahulu:
Sebelumnya pada hamil anak pertama pasien juga mengalami gejala yang sama.
3. Riwayat Keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala yang sama
4. Riwayat Pekerjaan :
Ibu rumah tangga
5. Riwayat Pengobatan :
Pasien sembelumnya hanya minum vitamin dari bidan dipuskesmas.
6. Riwayat Obstetri :
Anak I : Laki-laki, 4 tahun, BBL 3000, lahir secara pervaginam ditolong oleh bidan
Anak II : Hamil saat ini
Riwayat kontrasepsi : IUD 4 Tahun

2
7. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB : 60 kg
TB : 160 cm
Status Gizi : Normal
Vital sign:
HR :90 kali/menit
RR : 18 kali/ menit
T : 36.5oC
Kepala : Normocephali
Wajah : Simetris, tidak ada kelainan
Mata : Konjungtiva inferior pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Refleks cahaya: langsung (+/+), tidak langsung (+/+)
Telinga : Dalam batas normal
Hidung : Nafas cuping hidung (-/-)
Mulut : Mukosa bibir kering, faring hiperemis (-), Tonsil T1 –T1
Leher : Kaku kuduk (-)
Thorax:
Pulmo : I : Simetris, bentuk normal, retraksi interkostal (-/-)
P : Pergerakan dinding dada simetris, Fremitus dekstra dan sinistra normal
P : Sonor pada semua lapangan paru
A : Vesikuler (+/+), Ronchi (-/-), wheezing (-/-)

3
Cor : I : Ictus cordis tidak terlihat
P : Ictus cordis teraba di ICS V 2 cm lateral linea midclavicula Sinistra
P : Batas atas : ICS III mid clavicula sinistra
Batas kanan : Linea parasternalis dekstra
Batas Kiri : ICS V 2 cm linea mid clavicula sinistra
A : Reguler, bising (-), BJ I > BJ II, Gallop (-)
Abdomen : Soepel, peristaltik (+) normal, nyeri tekan (-), Hepar/Lien/Renal tidak teraba, turgor kembali
cepat.
Extremitas : Edema dan pucat tidak ada pada kedua tungkai
Status Obstetric : DJJ: 155x/menit
Leopold : Leopold 1 : TFU belum dapat dinilai
Leopold 2 : belum dapat dinilai
Leopold 3 : belum dapat dinilai
Leopold 4 : belum dapat dinilai

4
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium 1 Februari 2016

Hemoglobin 12 g/dl
Leukosit 11.000/L
Hematokrit 35,7 %
Trombosit 324.000/L
KGDS 76 mg/dl
MCV 60,6
MCH 16,3
MCHC 270
Kalium 3,4 mmol/dl
Natrium 136 mmol/dl
Clorida 100 mmol/dl
Ureum 46 mg/dl
Kreatinin 0,7 mg/dl

DIAGNOSA KERJA
a. Hiperemesis gravidarum
b. Dehidrasi ringan sedang
PLANNING
Evaluasi keadaan umum, tanda vital

5
PENATALAKSANAAN
IVFD RL + Neurobion ( guyur ) kemudian IVFD Dextrose 5% 20 tts/menit (makro) selanjutnya IVFD RL 20 tts/menit
Inj. Ondansetron 1amp /8 jam
Lansoprazol 1x 30 mg
PROGNOSIS
 Quo ad Vitam : Dubia ad bonam
 Quo ad sanactionam : Dubia ad bonam
 Quo ad functionam : Dubia ad bonam

RAWATAN PASIEN DI RUANGAN

1 Februari 2016 S/ Mual berkurang , muntah (-) pusing (+), Nyeri ulu hati (-)
O/ Kes = CM, Kurang aktif
VS TD :120/80 mmHg
N : 90kali/menit
RR : 20 kali/menit
T : 36,6oC
Mata : Conjunctiva inferior pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-) Refleks cahaya (+/+)
Telinga : Dalam batas normal
Hidung : Nafas Cuping Hidung (-/-), Sekret (-/-)
Mulut : Sianosis (-),kering (+)
Leher : Kaku kuduk (-)
Thorax : Pulmo : simetris, pergerakan dinding dada simetris, sonor, Vesikuler, Rh (-/-), wh (-/-)

6
Cor : BJ I > BJ II, bising (-), Gallop (-)
Abdomen : simetris, soepel, nyeri tekan (-), H/L/R tidak teraba, peristaltik dbn
Extremitas : Edema dan pucat tidak ada pada kedua tungkai

A/ Hiperemesis gravidarum
Dehidrasi ringan sedang

P/ IVFD RL 20 tts/menit
Inj. Ondansetron 1amp /8 jam
Lansoprazol tab 1x 30 mg l

2 Feberuari 2016 S/ Mual berkurang , muntah (-) pusing (-), Nyeri ulu hati (-)
O/ Kes = CM
VS TD :120/80 mmHg
N : 90kali/menit
RR : 20 kali/menit
T : 36,6oC
Mata : Conjunctiva inferior pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-) Refleks cahaya (+/+)
Telinga : Dalam batas normal
Hidung : Nafas Cuping Hidung (-/-), Sekret (-/-)
Mulut : Sianosis (-), Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1 Hiperemis(-)
Leher : Kaku kuduk (-)

7
Thorax : Pulmo : simetris, pergerakan dinding dada simetris, sonor, Ves (+/+), Rh (-/-), wh (-/-)
Cor : BJ I > BJ II, bising (-), Gallop (-)
Abdomen : simetris, soepel, nyeri tekan (-), H/L/R tidak teraba, peristaltik dbn
Extremitas : Edema dan pucat tidak ada pada kedua tungkai

A/ Hiperemesis gravidarum
Dehidrasi ringan sedang

P/ Pasien rawat jalan


Edukasi saat pulang : perbanyak minum air putih, hindari makan yang asam, pedas dan berbau tajam
, makan sedikit dan sering.
Terapi ganti oral :
- Lansoprazle tab 1x30 mg
- Ondansetron tab 3x1 (AC)

8
DAFTAR PUSTAKA:

1. Wibowo B, Soejoenoes A. Hiperemesis Gravidarum. Dalam: Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Cetakan ketujuh.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2005. hal 275-279
2. Mochtar R. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC. 2004
3. Cunningham FG. Obstetric Williams. Edisi ke-22. McGraw-Hill Companies, Inc. 2007
4. Moeloek FA. Hiperemesis Gravidarum. Standar Pelayanan Medik: Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan Obstetri
dan Ginekologi Indonesia. 2006. hal 21-22

Hasil pembelajaran:
1. Definisi dan etiologi Hiperemesis gravidarum
2. Diagnosis Hiperemesis gravidarum
3. Langkah penatalaksanaan Hiperemesis gravidarum
4. Edukasi dan pencegahan Hiperemesis gravidarum

Rangkuman

1. Subjektif:
Pasien datang dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari yang lalu dan memberat sekitar 1 hari sembelum masuk ke rumah
sakit. Pasien mengatakan muntah lebih kurang 5 kali perhari dengan isi cairan putih agak kekuningan. Pasien mengatakan setiap
makan dan minum selalu muntah. Pasien mengeluhkan lemas dan tampak pucat. Pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati dan perih.

9
2. Objektif:
Dari hasil pemeriksaan Vital sign: Tekanan Darah : 120/80, Nadi:90 kali/menit, RR: 18 kali/ menit, T : 36.5oC, dan dari
pemeriksaan fisik:
Kepala : Normocephali
Wajah : Simetris, tidak ada kelainan
Mata : Konjungtiva inferior pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-)
Refleks cahaya: langsung (+/+), tidak langsung (+/+)
Telinga : Dalam batas normal
Hidung : Nafas cuping hidung (-/-)
Mulut : Mukosa bibir kering, faring hiperemis (-), Tonsil T1 –T1 dan hipe
Leher : Kaku kuduk (-)
Thorax:
Pulmo : I : Simetris, bentuk normal, retraksi interkostal (-/-)
P : Pergerakan dinding dada simetris, Fremitus dekstra dan sinistra normal
P : Sonor pada semua lapangan paru
A : Vesikuler (+/+), Ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Cor : I : Ictus cordis tidak terlihat
P : Ictus cordis teraba di ICS V 2 cm lateral linea midclavicula Sinistra
P : Batas atas : ICS III mid clavicula sinistra
Batas kanan : Linea parasternalis dekstra

10
Batas Kiri : ICS V 2 cm linea mid clavicula sinistra
A : Reguler, bising (-), BJ I > BJ II, Gallop (-)
Abdomen : Soepel, peristaltik (+) normal, nyeri tekan (-), Hepar/Lien/Renal tidak teraba, turgor kembali
cepat.
Extremitas : Edema dan pucat tidak ada pada kedua tungkai

3. Asessment (penalaran klinis):

Hiperemesis(Morning Sickness, Emesis Gravidarum) adalah mual dan muntah selama kehamilan yang terjadi antara 4 dan 8
minggu kehamilan dan terus berlanjut hingga 14-16 minggu kehamilan dan gejala biasanya akan membaik. Mual dan muntah selama
1
kehamilan dapat berupa gejala yang ringan hingga berat. Mual dan muntah adalah keluhan utama pada 70 %-80 % kehamilan.
Hiperemesis Gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang berat selama kehamilan, yang terjadi pada 1 %-2 % dari semua
4
kehamilan atau 1-20 pasien per 1000 kehamilan.
Hiperemesis gravidarum menyebabkan tidak seimbangnya cairan, elektrolit, asam-basa, defisiensi nutrisi dan kehilangan berat
badan yang cukup berat. Pada hiperemesis gravidarum dapat terjadi dehidrasi, asidosis akibat kelaparan, alkalosis akibat hilangnya
2
asam hidroklorida pada saat muntah, hipokalemia dan ketonuria, sehingga mengharuskan pasien masuk dan dirawat di rumah sakit.
Etiologi
Hingga saat ini penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti dan multifaktorial. Walaupun beberapa
mekanisme yang diajukan bisa memberikan penjelasan yang layak, namun bukti yang mendukung untuk setiap penyebab hiperemesis
gravidarum masih belum jelas. Beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan penyebab hiperemesis gravidarum. Teori yang
dikemukakan untuk menjelaskan patogenesis hiperemesis gravidarum, yaitu faktor endokrin dan faktor non endokrin. Yang terkait

11
dengan faktor endokrin antara lain Human Chorionic Gonodotrophin, estrogen, progesteron, Thyroid Stimulating Hormone,
Adrenocorticotropine Hormone, human Growth Hormone, prolactin dan leptin. Sedangkan yang terkait dengan faktor non endokrin
antara lain immunologi, disfungsi gastrointestinal, infeksi Helicobacter pylori, kelainan enzym metabolik, defisiensi nutrisi, anatomi
dan psikologis. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan adalah sebagai
berikut:
1. Primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda. Pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda, faktor hormon memegang peranan
dimana hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu
terhadap perubahan tersebut.
3. Alergi, sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak.
4. Faktor psikologis Faktor psikologis seperti depresi, gangguan psikiatri, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut
terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, tidak siap untuk menerima kehamilan memegang
peranan yang cukup penting dalam menimbulkan hiperemesis gravidarum1.

Patofisiologi
Patofisiologi dasar hiperemesis gravidarum hingga saat ini masih kontroversial. Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan
cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, makaterjadilah
ketosis dengan tertimbunya asam aseton asetik, asam hidroksi butirik, dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan
kehilangan cairan akibat muntah akan menyababkan dehidrasi, sehingga cairan ekstra vaskuler dan plasma akan berkurang. Natrium
dan khlorida darah turun, demikian juga dengan klorida urine.
Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehigga aliran darah ke jaringanberkurang. Hal ini menyebabkan zat

12
makanan dan oksigen ke jaringan berkurang dan tertimbunya zat metabolik dan toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah
dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, meningkatkan frekuensi muntah yang lebih banyak, merusak hati, sehigga memperberat
keadaan penderita.1,4
Batasan seberapa banyak terjadinya mual muntah yang disebut hiperemesis gravidarum belum ada kesepakatannya. Akan tetapi
jika keluhan mual muntah tersebut sampai mempengaruhi keadaan umum ibu dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari sudah
dapat dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam tiga
tingkatan, yaitu:3
1. Tingkat I.
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun
dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit menurun, lidah
mengering dan mata cekung.
2. Tingkat II.
Penderita tampak lebih lemas dan apatis, turgor kulit lebih menurun, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu
kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan
konstipasi. Aseton dapat tercium dalam baupernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam
3. Tingkat III.
Keadaan umum lebih buruk, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat
dan tensi menurun.
Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai Encephalopathy Wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia,
dan perubahan mental. Keadaan ini terjadi akibat defisiensi zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus
menunjukan adanya gangguan hati.

13
Penegakan diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang.1-4
a. Anamnesis
Dari anamnesis didapatkan amenorea, tanda kehamilan muda, mual, dan muntah. Kemudian diperdalam lagi apakah mual dan muntah
terjadi terus menerus, dirangsang oleh jenis makanan tertentu, dan mengganggu aktivitas pasien seharihari. Selain itu dari anamnesis
juga dapat diperoleh informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan terjadinya hiperemesis gravidarum seperti stres, lingkungan
sosial pasien, asupan nutrisi dan riwayat penyakit sebelumnya (hipertiroid, gastritis, penyakit hati, diabetes mellitus, dan tumor serebri).

b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perhatikan keadaan umum pasien, tanda-tanda vital, tanda dehidrasi, dan besarnya kehamilan. Selain itu perlu
juga dilakukan pemeriksaan tiroid dan abdominal untuk menyingkirkan diagnosis banding.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding. Pemeriksaan yang
dilakukan adalah darah lengkap, urinalisis, gula darah, elektrolit, USG (pemeriksaan penunjang dasar), analisis gas darah, tes fungsi
hati dan ginjal. Pada keadaan tertentu, jika pasien dicurigai menderita hipertiroid dapat dilakukan pemeriksaan fungsi tiroid dengan
parameter TSH dan T4. Pada kasus hiperemesis gravidarum dengan hipertiroid 50- 60% terjadi penurunan kadar TSH. Jika dicurigai
terjadi infeksi gastrointestinal dapat dilakukan pemeriksaan antibodi Helicobacter pylori. Pemeriksaan laboratorium umumnya
menunjukan tanda-tanda dehidrasi dan pemeriksaan berat jenis urin, ketonuria, peningkatan blood urea nitrogen, kreatinin dan
hematokrit. Pemeriksaan USG penting dilakukan untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda ataupun mola hidatidosa.

14
4 Plan
Laboratorium4
Pemeriksaan yang dilakukan adalah darah lengkap, urinalisis, gula darah, elektrolit, tes fungsi hati dan ginjal. Pemeriksaan
laboratorium umumnya menunjukan tanda-tanda dehidrasi dan pemeriksaan berat jenis urin, peningkatan blood urea nitrogen, kreatinin
dan hematokrit.

Hemoglobin 12 g/dl
Leukosit 11.000/L
Hematokrit 35,7 %
Trombosit 324.000/L
KGDS 76 mg/dl
MCV 60,6
MCH 16,3
MCHC 270
Kalium 3,4 mmol/dl
Natrium 136 mmol/dl
Clorida 100 mmol/dl
Ureum 46 mg/dl
Kreatinin 0,7 mg/dl

Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan dasar untuk menentukan usia kehamilan dan untuk mendeteksi adanya kehamilan
ganda ataupun mola hidatidosa 4

Pengobatan

15
Pada pasien dengan hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dilakukan rawat inap dirumah sakit, dan dilakukan
penanganan yaitu :
Medikamentosa
Obat-obatan yang dapat diberikan diantaranya suplemen multivitamin, antihistamin, dopamin antagonis, serotonin antagonis,
dan kortikosteroid. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6 seperti pyridoxine (vitamin B6). Pemberian pyridoxin cukup
efektif dalam mengatasi keluhan mual dan muntah. Anti histamin yang dianjurkan adalah doxylamine dan dipendyramine. Pemberian
antihistamin bertujuan untuk menghambat secara langsung kerja histamin pada reseptor H1 dan secara tidak langsung mempengaruhi
sistem vestibular, menurunkan rangsangan di pusat muntah.3 Selama terjadi mual dan muntah, reseptor dopamin di lambung berperan
dalam menghambat motilitas lambung. Oleh karena itu diberikan obat dopamin antagonis.
Dopamin antagonis yang dianjurkan diantaranya prochlorperazine, promethazine, dan metocloperamide. Prochlorperazin dan
promethazine bekerja pada reseptor D2 untuk menimbulkan efek antiemetik. Sementara itu metocloperamide bekerja di sentral dan di
perifer. Obat ini menimbulkan efek antiemetik dengan cara meningkatkan kekuatan spincter esofagus bagian bawah dan menurunkan
transit time pada saluran cerna.4 Pemberian serotonin antagonis cukup efektif dalam menurunkan keluhan mual dan muntah. Obat ini
bekerja menurunkan rangsangan pusat muntah di medula. Serotonin antagonis yang dianjurkan adalah ondansetron. Odansetron
biasanya diberikan pada pasien hiperemesis gravidarum yang tidak membaik setelah diberikan obat-obatan yang lain. Sementara itu
pemberian kortikosteroid masih kontroversial karena dikatakan pemberian pada kehamilan trimester pertama dapat meningkatkan risiko
bayi lahir dengan cacat bawaan.1
2. Terapi Nutrisi
Pada kasus hiperemesis gravidarum jalur pemberian nutrisi tergantung pada derajat muntah, berat ringannya deplesi nutrisi dan
peneriamaan penderita terhadap rencana pemberian makanan. Pada prinsipnya bila memungkinkan saluran cerna harus digunakan. Bila
peroral menemui hambatan dicoba untuk menggunakan nasogastric tube (NGT). Saluran cerna mempunyai banyak keuntungan

16
misalnya dapat mengabsorsi banyak nutrien, adanya mekanisme defensif untuk menanggulangi infeksi dan toksin. Selain itu dengan
masuknya sari makanan ke hati melalui saluran porta ikut menjaga pengaturan homeostasis nutrisi.1 Bila penderita sudah dapat makan
peoral, modifikasi diet yang diberikan adalah makanan dalam porsi kecil namun sering, diet tinggi karbohidrat, rendah protein dan
rendah lemak, hindari suplementasi besi untuk sementara, hindari makanan yang emetogenik dan berbau sehingga menimbulkan
rangsangan muntah. Pemberian diet diperhitungkan jumlah kebutuhan basal kalori seharihari ditambah dengan 300 kkal perharinya.4
3. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, cerah, dan memiliki peredaran udara yang baik. Sebaiknya hanya dokter dan
perawat saja yang diperbolehkan untuk keluar masuk kamar tersebut. Catat cairan yang keluar dan masuk. Pasien tidak diberikan
makan ataupun minum selama 24 jam. Biasanya dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.4.
4. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada pasien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan. Hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan dan
persalinan karena itu merupakan proses fisiologis, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik lainnya yang
melatarbelakangi penyakit ini. Jelaskan juga bahwa mual dan muntah adalah gejala yang normal terjadi pada kehamilan muda, dan
akan menghilang setelah usia kehamilan 4 bulan.4
5. Cairan parenteral Resusitasi
Cairan merupakan prioritas utama, untuk mencegah mekanisme kompensasi yaitu vasokonstriksi dan gangguan perfusi uterus.
Selama terjadi gangguan hemodinamik, uterus termasuk organ non vital sehingga pasokan darah berkurang. Pada kasus hiperemesis
gravidarum, jenis dehidrasi yang terjadi termasuk dalam dehidrasi karena kehilangan cairan (pure dehidration). Maka tindakan yang
dilakukan adalah rehidrasi yaitu mengganti cairan tubuh yang hilang ke volume normal, osmolaritas yang efektif dan komposisi cairan
yang tepat untuk keseimbangan asam basa. Pemberian cairan untuk dehidrasi harus memperitungkan secara cermat berdasarkan: berapa
jumlah cairan yang diperlukan, defisit natrium, defisit kalium dan ada tidaknya asidosis.4.

17
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat, dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologis
sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambahkan kalium dan vitamin, terutama vitamin B kompleks dan vitamin C, dapat
diberikan pula asam amino secara intravena apabila terjadi kekurangan protein. Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang
dikeluarkan. Urin perlu diperiksa setiap hari terhadap protein, aseton, klorida, dan bilirubin Suhu tubuh dan nadi diperiksa setiap 4 jam
dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila dalam 24
jam pasien tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat dicoba untuk memberikan minuman, dan lambat laun makanan dapat
ditambah dengan makanan yang tidak cair. Dengan penanganan ini, pada umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan aman
bertambah baik.

Terapi farmakologi yang diberikan pada pasien ini


- IVFD RL + Neurobion ( guyur ) kemudian IVFD Dextrose 5% 20 tts/menit (makro) selanjutnya IVFD RL 20 tts/menit
- Inj. Ondansetron 1amp /8 jam
- Lansoprazol 1x 30 mg

Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Sebagian besar penyakit ini dapat membaik
dengan sendirimya pada usia kehamilan 20-22 minggu, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat membahayakan
jiwa ibu dan janin.1

18
Pembimbing, Pendamping ,

dr. T. Johan Advicenna, Sp.OG dr. Husnaina Febrita

19