Anda di halaman 1dari 20

KEWIRAUSAHAAN

“PROFIL USAHA”

Dosen Pengampu:

Rahmita Yuliana Gazali, M.Pd

Oleh:

Kelompok 4

Siti Nur Aisyah (306.1623.010)

Wiwit Kartika Mayang Sari (306.1623.045)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (STKIP-PGRI)

BANJARMASIN
2019
KATA PENGANTAR

Kami penyusun mengucapkan puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Profil Usaha ini dengan
penuh kemudahan, tanpa pertolongan-Mu mungkin tugas makalah ini tidak dapat kami
selesaikan.

Tujuan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan serta agar pembaca lebih
memahami sehingga di harapkan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu Kewirausahaan, Ibu


Rahmita Yuliana Gazali, M.Pd, yang telah membimbing kami dalam belajar juga
membuat makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah Profil Usaha ini bermanfaat bagi para pembaca dan
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu meridhoi segala usaha kami.

Banjarbaru, 6 April 2019


Penyusun,

Kelompok 4

2|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................3
BAB I Pendahuluan..................................................................................................4
A. Latar Belakang........................................................................................................4
B. Tujuan Penulisan.....................................................................................................4
BAB II Pembahasan.................................................................................................5
A. Pengembangan Wawasan Jenis Bidang Usaha.................................................................5
B. Rintisan Usaha Wirausaha Baru........................................................................................6
C. Perdagangan Besar……………........................................................................................8
D. Perdagangan Eceran……………....................................................................................12
E. Pedagang Kaki Lima……………....................................................................................15
F. Franchising (Waralaba) ……………...............................................................................17
BAB III Penutup.....................................................................................................20
A. Kesimpulan...........................................................................................................20
B. Saran.....................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................20

3|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Wirausaha merupakan suatu proses atau cara untuk melakukan suatu usaha yang
bertujuan untuk mendapatkan hasil atau keuntungan yang diharapkan dengan cara
memproduksi, menjual atau menyewakan suatu produk barang atau jasa. Dalam
menjalankan suatu usaha (wirausaha) seorang pelaku usaha harus memiliki:
(1) Seorang pelaku usaha harus memiliki skill (kemampuan) untuk berwirausaha karena
tanpa skill (kemampuan) seorang pelaku usaha tidak akan mungkin bisa berwirausaha
dan skill (kemampuan) ini adalah modal utama yang harus dimiliki dalam berwirausaha,
(2) Apabila seorang pelaku usaha telah mempunyai skill (kemampuan) tapi tanpa ada
tekad (kemauan yang kuat) untuk berwirausaha maka skill (kemampuan) berwirausaha
itu akan sia-sia karena tidak dapat tersalurkan, (3) Modal merupakan aspek yang sangat
menunjang dalam hal memulai dan menjalankan suatu usaha disamping mempunyai skill
dan tekad, (4)Seorang pelaku usaha apabila ingin menjalankan suatu usaha maka harus
bisa menentukan target dan tujuan pemasarannya. Karena apabila target dan tujuan tidak
direncanakan maka usaha yang dijalankan tidak mungkin dapat bertahan lama, (5)
Tempat berwirausaha merupakan aspek yang harus dimiliki karena sangat menunjang
dalam hal wirausaha dan bisa menjadikan suatu bahan pertimbangan oleh konsumen
mengenai wirausaha yang sedang dijalankan.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengembangan wawasan jenis bidang usaha.
2. Mengetahui rintisan usaha wirausaha baru.
3. Mengetahui pengertian perdagangan besar.
4. Mengetahui pengertian perdagangan eceran.
5. Mengetahui pengertian pedagang kaki lima.
6. Mengetahui pengertian franchising (Waralaba).

4|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengembangan Wawasan Jenis Bidang Usaha


Pemilihan usaha tergantung beberapa hal antara lain :
1. Minat seseorang, misalnya berminat dalam bidang industri atau kerajinan, dan
perdagangan/ jasa.
2. Modal, apakah sudah tersedia modal awal atau belum, atau apa saja yang sudah
dimiliki.
3. Relasi, apakah ada keluarga, teman, yang sudah menekuni usaha yang sama, atau
usaha yang akan dikerjakan ada relevansi/ saling menunjang dengan usaha tersebut.
4. Dan berbagai peluang lainnya.

Untuk mengetahui banyaknya bidang usaha yang bisa dimasuki oleh wirausaha
baru, maka kita dapat melihat hubungan dalam bentuk circular flow anatara Rumah
Tangga Produsen (RTK) dan Rumah Konsumen (RTK).

5|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


Bila RTP mengalami kemajuan, maka akan berdampak positif terhadap kemajuan
RTK. Pendapatan perkapita RTK akan meningkat, daya belinya pun akan meningkat.
Apabila daya beli masyarakat meningkat maka hasil produksi yang diproduksi oleh RTP
akan diserap oleh masyarakat. Kerjasama RTK dan RTP ini berjalan sepanjang masa
dalam bentuk circular flow yang saling menunjang kemajuan. Hal ini tentu banyak
peluang terbuka bagi orang kreatif dan calon-calon wirausaha untuk menciptakan sebuah
usaha.
Secara garis besar ada 5 jenis usaha yang diungkapkan diatas antara lain ;
1. Usaha Ekstraktif.
Usaha Ekstraktif merupakan usaha yang bergerak dalam bidang pertambangan
atau bidang usaha yang mengambil langsung dari alam. Contohnya hasil laut, hasil
hutan.
2. Usaha Agraris
Usaha agrais mencangkup berbagai usaha pengelolaan kebun, perdagangan hasil-
hasil pertanian (agrobisnis) yang dapat diusahakan untuk setiap produk yang
dihasilkan oleh pertanian atau perkebunan dan peternankan.
3. Usaha Industri
Usaha yang mencangkup berbagai jenis komoditi yang dihasilkan oleh industri.
Contohnya industri tekstil memproduksi benang dan kain.
4. Usaha Perdagangan
Usaha yang dilakukan oleh seseorang guna memenuhi kebutuhan hidup melalui
berdagang dari berbagai komoditi yang diperdagangkannya. Contoh usaha penjualan
daging, usaha penjualan properti rumah.
5. Jasa
Suatu usaha dengan mengandalkan kemampuan untuk mendapatkan keuntungan
dari tindakan yang dilakukan untuk konsumennya.

B. Rintisan Usaha Wirausaha Baru


Pilihan usaha yang akan dikembangkan ini tergantung kepada minat,
pengetahuan, dan fasilitas laboratorium yang ada pada masing-masing kelompok. Pilihan
mereka tampaknya mencakup dua bidang bisnis utama yaitu produksi dan perdagangan.

6|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


Jadi, kalau dikaji lebih lanjut, bagi orang-orang kreatif banyak terbuka lapangan untuk
berwirausaha. Sebelum sampai ke penetapan pilihan usaha apa yang akan dibuka maka
calon usahawan, harus melakukan survey, observasi lapangan, dan banyak bertanya
bagaimana seluk-beluk usaha bisnis dalam bidang tertentu. Perlu diingat bahwa di dalam
masyarakat, kita akan menemukan orang-orang yang berperilaku negatif, tidak sebaik
yang kita duga, atau tidak sama baiknya dengan kita. Bolehlah kita berasumsi bahwa
tidak semua orang itu baik. Asumsi ini akan membuat kita lebih waspada terjun ke
lapangan bisnis. Akan tetapi, jangan kehati-hatian ini membuat kita takut, ragu, dan batal
membuka bisnis.
Berikut ini akan diberikan beberapa cuplikan Kiat Usaha dan Profil Usaha karya
Wachyu Suparyanto, SE, MM yang telah dicetak dan laris dalam bentuk buku saku. Buku
kecil ini enak dibaca, tidak memakan waktu lama kita akan memperoleh banyak ilmu
baik teori maupun praktek.
Cara Cepat Kaya. Disini diuraikan langkah-langkah mantap yang harus dilakukan
oleh seseorang agar bisa menjadi orang kaya. Tentu kekayaan ini harus diperoleh dengan
cara halal dan baik. Adalah kecil sekali kemungkinan orang bisa cepat kaya secara halal,
biasanya usaha tersebut harus ditekuni, sabar, berdoa dan kerja keras. Memperoleh
kekayaan adalah salah satu alasan orang berwirausaha disamping sekian banyak alasan
lainnya. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk menjadi kaya, asal kekayaan itu
diperoleh dengan cara halal, dan digunakan sesuai dengan ajaran agama. Kita harus
berupaya seoptimal mungkin walaupun pada akhirnya Allah jualah yang akan
menentukan. Proses dan karakteristik orang yang berpotensi menjadi kaya adalah sebagai
berikut:
PROSES DAN KARAKTERISTIK ORANG
YANG BERPOTENSI MENJADI KAYA

IDE + KEMAMPUAN + RELASI

PELUANG USAHA

OPERASIONALISASI

KERJA KERAS MANAJEMEN USAHA HEMAT & MENABUNG

KAYA

7|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


C. Perdagangan Besar
Perdagangan besar adalah segala aktivitas marketing yang menggerakkan barang-
barang dari produsen ke pedagang eceran atau ke lembaga-lembaga marketing lainnya.
Berikut adalah skema yang dilakukan oleh pedagang besar :

Pada bagian kiri ada proses konsentrasi, artinya barang-barang yang akan
dipasarksan akan dikumpulkan terlebih dahulu, seperti para tengkulak/ perantara atau
KUD, Dolog yang mengumpulkan beras atau padi dari petani. Dilanjutkan proses equasi
yaitu proses untuk mencari informasi daerah yang memerlukan, berapa banyak, dan
kapan diperlukannya. Diakhiri dengan proses distribusi yaitu proses dimana barang
dikirim menurut jumlah dan kwalitas sesuai dengan informasi yang telah dikumpulkan.
Untuk meneliti apakah kegiatan distribusi itu merupakan kegiatan perdagangan
besar atau bukan , ada 3 macam sifat yang bisa diperhatikan:
1. Motif pembelian
Motif pembelian memiliki tujuan bahwa barang bukan untuk dikonsumsi tetapi
untuk dijual kembali dengan memperoleh keuntungan.
2. Jumlah pembelian
Pembelian perdagangan eceran ialah pembelian yang digunakan untuk keperluan
sendiri, keluarga sendiri, atau kawan sendiri. Pembelian besar ialah pembelian barang
dalam jumlah yang besar namun bukan untuk keperluan sendiri, keluarga atau kawan
sendiri.
3. Cara-cara usaha dari perusahaan tersebut
Mengenai cara berusaha ada beberapa kriteria, yaitu :
 Perdagangan besar mempunyai usaha yang diskriminatif, hanya melayani
pedagang eceran, tidak melayani pedagang eceran, tidak melayani semua
konsumen.
8|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4
 Transaksi perdagangan besar adalah besar, dalam arti lebih besar dari kebutuhan
sehari-hari
 Harga-harga dapat berubah sesuai situasi. Misalnya kortingan, kredit, cara-cara
pengiriman.

Penggolongan Grosir
Grosir dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Grosir yang berfungsi terbatas, terdiri atas:
a. Pengiriman Barang
Pengirim barang adalah pedagang besar yang membeli barang kemudian
mengirimkan barang yang dia beli kepada pelanggannya. Biasanya tidak memiliki
gudang penyimpanan.
Pada umumnya mereka bergerak dalam barang-barang berat, seperti bahan
bangunan dan dibidang agrobisnis (pertanian dan perkebunan).
b. Pedagang dengan truk
Pedagang yang menggunakan truk sebagai alat angkutan barang kemudian
menyerahkan barang yang dijualnya sewaktu melewati pedagang eceran di sekitar
kota kecil atau besar.
Pada umumnya mereka bergerak untuk barang yang tidak tahan lama, seperti
daging, bumbu masak, dan buah-buahan.
c. Grosir tunai dengan self service
Pedagang besar yang menjual barangnya secara tunai dengan harga relatif rendah.
Adapun ciri-cirinya antara lain : tidak menpergunakan petugas penjualan, tidak
melakukan pengiriman, tidak memberikan kredit.
Pada umumnya mereka bergerak dalam bidang pangan, contohnya warung rumahan
d. Pengecer yang bersama-sama memiliki grosir
Sekelompok pedagang eceran yang membuat toko grosir secara swadaya dengan
maksud menekan biaya dan dapat membeli barang dengan harga lebih rendah. Ada
seorang manajer yang mengurus toko grosir tersebut, manajer yang dimaksud
berfungsi secara cooperative sebagai pedagang besar atau melakukan fungsi
perdagangan lainnya secara bersamaan.

9|KEWIRAUSAHAAN (Profil Usaha) Kelompok 4


e. Kelompok sukarela bergabung dengan grosir
Kelompok ini terdiri dari sekumpulan toko-toko eceran yang dimiliki secara bebas
oleh pengusaha-pengusahanya yang dengan sukarela bergabung dengan seorang
pedagang besar untuk pembelian, reklame, dan aktivitas lainnya.

2. Pengumpul hasil pertanian, macamnya antara lain:


a. Pembeli lokal khusus adalah dealer lokal yang berdiri sendiri dan kadang
merupakan wakil dari dealer dan produsen.
b. Pembeli yang berkeliling mendatangi perusahaan pertanian satupersatu atau
membuka tempat pengangkutan lokal sebagai tempat pembelian hasil pertanian atau
peternakan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, telur , kapas, ternak.
c. Saudagar dengan truk artinya menggunakan truk sebagai alat untuk mengangkut
barang yamg dibeli seperti buah-buahan, sayur-sayuran, telur, ternak kemudian
langsung menjualnya ke pabrik, gorosir, dan pedagang eceran.
d. Pembeli berdasar perintah yang memiliki para grosir pasar sentral dan distributor,
mereka membeli berdasarkan perintah dan pemberian tugas dengan kwalitas
tertentu, dengan kata lain sebagai agen perantara.

3. Menurut jenis barang yang diperdagangkan, terdiri atas:


a. Grosir barang umum dapat memenuhi setiap kebutuhan pedagang eceran karena
mempunyai bermacammacam produk dan mengambil keuntungan dari order dengan
cukup besar. Contoh sabun, rokok, kertas, kosmetik, kecap, dan sebagainya.
b. Grosir barang khusus bergerak dibidang penjualan pangan dan obatobatan seperti
pakaian jadi. Biasanya memliki pengetahuan yang luas mengenai barang yang
diperdagangkannnya.
4. Menurut lapangannya
a. Grosir yang melayani pabrik (industrial distributor). Mereka menjual berbagai
barang hasil industri ke pabrik-pabrik.
b. Penjual barang khusus ke pabrik. Grosir ini memperdagangkan produk khusus yang
dijual kepada bermacam-macam industri dan bertidak sebagai drop shipper.
Contohnya grosir kertas, grosir kimia, grosir baja, atau grosir alat perkantoran.

10 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
5. Menurut daerah operasi atau daerah yang dilayaninya.
a. Grosir tingkat nasional yaitu grosir yang daerah kerjanya meliputi satu wilayah
negara.
b. Grosir tingkat provinsi yaitu grosir yang daerah kerjanya hanya meliputi satu
wilayah provinsi.
c. Grosir lokal yaitu grosir yang daerah kerjanya meliputi kota besar atau bagian
dari kota atau kota kecil yang berdekatan.

Fungsi-fungsi pedagang besar


Fungsi-fungsi pedagang besar yaitu :
1. Pengumpulan dan penyebaran
Fungsi utama grosir yaitu berusaha mengumpulkan barang dari berbagai produsen
kemudian meyebarkan ke pedagang eceran.
2. Pembelian dan pejualan
Kegiatan pembelian sangat menentukan kelancaran grosir dalam mengembangkan
tugas dan tanggungjawab dalam menyampaikan barang dan jasa ke konsumen. Setiap
pembelian harus berdasarkan barang yang laku dipasar.
3. Pemilihan barang
Pemilihan barang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan jual beli. Grosir melakukan
pemilihan barang berdasarkan jenis, mutu, dan harga barang pilihannya. Keahlian
grosir dalam memilih barang merupakan jaminan bagi produsen untuk mengetahui
bahwa hasil produksinya mendapat permintaan dari konsumen atau laku dipasaran.
Pilihan grosir yang ahli merupakan pedoman bagi produsen.
4. Pemberian kredit
Dengan meningkatnya hasil perusahaan dan meluasnya pasaran barang, maka
pemberian kredit meningkat. Dalam hal ini, funasi kredit sangat memegang peranan
penting umumnya dalam hasil industri yang ditampung oleh grosir. Grosir
memberikan kredit kepada pedagang eceran yang dikenal dengan istilah kredit
leveransir.

11 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
5. Penyimpanan
Penyimpanan merupakan fungsi grosir yang tidak dapat diabaikan apalagi dengan
semakin jauhnya tempat konsumen. Setiap kali proses pembelian terjadi biasanya
barang disimpan lebih dulu di gudang untuk diolah dan dipilih untuk memudahkan
penjualan.
6. Pengangkutan
Mengingat jauhnya pedagang eceran dan konsumen yang harus ditemui oleh grosir,
maka fungsi pengangkutan sangat penting untuk kelancaran dalam pengiriman barang
kepada pedagang eceran atau konsumen.
D. Perdagangan Eceran
1. Pengertian Perdagangan Eceran
Kegiatan perdagangan besar dan pedagangan eceran sangat penting dalam
proses penyaluran barang dan jasa. Tanpa adanya usaha perdagangan besar dan
eceran, sulit bagi produsen untuk menyalurkan barang hasil produksinya ke
konsumen, walaupun ada beberapa produsen yang langsung menyalurkan barang
kepada konsumen atau pengecer, namun hal itu tidak efisien.
Perdagangan eceran dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan menjual barang
dan jasa kepada kosumen akhir. Perdagangan eceran adalah mata rantai terakhir
dalam penyaluran barang dari produsen ke konsumen. Pedagang eceran adalah orang-
orang atau toko yang kerja utamanya mengecer barang yang diperoleh dari produsen
kemudian menyalurkan ke konsumen akhir.
Perdagangan eceran ini mempunyai peran penting bagi produsen, karena
melalui pengecer produsen dapat memperoleh informasi berharga tentang barang
yang dipasarkannnya. Produsen dapat memperoleh informasi tersebut melalui
interview dengan pengecer, seperti bagaimana respon konsumen, mengenai bentuk,
rasa, daya tahan, harga, serta hal yang berkaitan dengan produk. Simbiosis
mutualisme bisa dilakukan antara produsen dengan pengecer misalnya dengan
pemasangan iklan di Toko pengecer. Produsen tidak kesulitan untuk mempromosikan
produknya kepada konsumen dan pengecer mendapatkan kemudahan dalam
mendapatkan barang dari produsen.

12 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
2. Klasifikasi Perdagangan Eceran
Perdagangan eceran dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Perdagangan eceran besar
b. Perdagangan eceran kecil, yang terdiri dari :
1) Eceran kecil berpangkalan
2) Eceran kecil tidak berpangkalan
Berikut adalah skema perdagangan eceran :

3. Persaingan Tajam dari Berbagai Jenis Toko Eceran


Persaingan pada tingkat perdagangan eceran di Indonesia begitu ketat, hal itu terjadi
karena diizinkannya perdagangan eceran asing yang beroperasi di Indonesia. Pemberian
izin dagang ini telah disepakati oleh masyarakat regional dan internasional.
Para pebisnis retail asing yang masuk di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi
empat (Bob Foster, 2004:4) kelompok yaitu:
a. Kelompok grosir dan hypermarket
b. Kelompok supermarket
c. Kelompok minimarket modern
d. Peritel kecil tradisional

13 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
AC Nielsen dalam Bob Foster (2004:13) untuk ritel di Indonesia menemukan
bahwa loyalitas konsumen mudah berubah, konsumen ratarata, konsumen memiliki
tempat berbelanja dengan 4 toko ritel per orang, konsumen cendrung ingin mencoba
peritel baru. Ada fenomena baru yaitu konsumen lebih menyukai ritel modern dengan
alasan barang yang dijual lebih berkwalitas, dan retail modern memiliki citra atau
reputasi yang baik.
Kotler (2003:536) dalam Bob Foster membagi tipetipe pedagang eceran menjadi
tiga bagian besar yaitu :
1. Store Retailer (pedagang eceran bertoko)
a. Speciality store/toko khusus (
b. Department store/toko serba ada
c. Supermarket/toko swalayan
d. Convenience store/toko barang kebutuhan sehari-hari
e. Superstore, Combination Store, and Hypermarket (toko super, toko gabungan,
dan hypermarket)
f. Discount storeAoko pembeli potongan harga
g. Off price retailerAoko gudang
h. Catalog showroom/ruung pamer katalog
2. Non Store Retailer (pedagang eceran bukan toko)
a. Direct selling (penjualan langsung)
b. Direct marketing (pemasaran langsung)
c. Automatic vending machine (mesin penjaja otomatis)
d. Buying service (pelayanan pembeli)
3. Retailer Organization (organisasi pedagang eceran)
a. Corporate chain (mata rantai perusahaan)
b. Voluntary chain and retail cooperative (rantai suka rela dan koperasi pedagang
eceran)
c. Customer cooperative (koperasi konsumen)
d. Franchise organization (organisasi hak guna paten/franchise)
e. Merchandising conglomerate (konglomerat dagang)

14 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
4. Keuntungan dan Kelemahan Perdaganngan Eceran
Beberapa keuntungan dari perdagangan eceran kecil adalah
1) Modal yang diperlukan kecil.
2) Untuk mengisi waktu luang guna mencari pendaptan tambahan.
3) Umumnya lokasi yang digunakan oleh pedagang eceran kecil strategis karena
dekat dengan pusat konsumen.
4) Hubungan antara pedagang eceran kecil dan konsumen ialah kuat, terbukti
konsumen dan pedagang bisa berbincang bincang bebas.
Beberapa kelemahan dari perdagangan eceran kecil adalah
1) Keahlian kurang.
2) Administrasi dalam bentuk pembukuan tidak diperhatikan, sehingga terkadang
hasil pendapatan habis untuk memenuhi kebutuhan makan.
3) Pedagang kecil tidak dapat melakukan sales promosi.
5. Faktor-faktor yang mendorong majunya toko eceran
1) Lokasi/tempat toko eceran
2) Kelengkapan barang
3) Ketepatan harga
4) Suasana toko (Store Atmosphere)
E. Pedagang Kaki Lima
Pedagang kaki lima sangat populer di negara kita. Kepopuleran pedagang kaki
lima ini mungkin dalam arti yang positif dan mungkin juga dalam arti negatif. Positifnya,
perdagangan kaki lima, secara pasti dapat menyerap lapangan pekerjaan, dari sekian
banyak penganggur. Para penganggur ini mencoba berkreasi, berwirausaha, dengan
modal sendiri ataupun tanpa modal. Yang penting mereka adalah orang-orang berani
menempuh kehidupan dan mencoba untuk merubah nasibnya, berjuang memenuhi
tuntutan hidup, jika tidak demikian mereka berarti mati. Menteri Tenaga Kerja, beserta
ketua Kadin Pusat, telah mencanangkan, agar kehidupan pedagang kaki lima, dibina,
diatur, jangan dikejar-kejar, jangan dimatikan, digusur karena mereka sudah turut
menyumbangkan andil dalam membangun lapangan kerja. Pedagang kaki lima sangat
membantu konsumen, mudah mendapat barang, servis cepat, sambil lewat di kaki lima,
dapat membeli sekedar oleh-oleh buat anak-anaknya. Harga dan merek yang ditawarkan,

15 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
biasanya mula-mula tinggi, tapi akhirnya dapat ditawar serendah mungkin. Dengan cara
demikian baik pembeli maupun penjual merasa mendapat keuntungan.
Pengertian Pedagang Kaki Lima
Menurut pengamatan dari Fakultas Hukum Unpar dalam penelitiannya yang
berjudul "Masalah Pedagang Kaki Lima di Kota Bandung dan penertibannya melalui
operasi TIBUM 1980", menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pedagang kaki lima
ialah orang (pedagang) golongan ekonomi lemah, yang berjualan barang kebutuhan
sehari hari, makanan atau jasa dengan modal yang relatif kecil, modal sendiri atau modal
orang lain, baik berjualan di tempat terlarang ataupun tidak. Istilah kaki lima diambil dari
pengertian tempat di tepi jalan yang lebarnya lima kaki (5 feet). Tempat ini umumnya
terletak ditrotoir, depan toko dan tepi jalan.
Ada yang menyatakan bahwa istilah pedagang kaki lima berasal orang yang
berdagang yang menggelarkan barang dagangannya, mereka menyediakan tempat
darurat, seperti bangku-bangku yang biasanya ya berkaki empat, ditambah dengan
sepasang kaki pedagangnya sehingga berjumlah lima, maka timbullah julukan pedagang
kaki lima. Terlepas asal usul nama kaki lima tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
pedagang kaki lima ialah setiap orang yang melakukan kegiatan usaha dengan maksud
memperoleh penghasilan yang sah, dilakukan secara tidak tetap, dengan kemampuan
terbatas, berlokasi di tempat atau pusat-pusat konsumen, tidak memiliki izin usaha.
Adapun ciri-ciri pedagang kaki lima ialah:
1. Kegiatan usaha, tidak terorganisir secara baik.
2. Tidak memiliki surat izin usaha.
3. Tidak teratur dalam kegiatan usaha, baik ditinjau dari tempat usaha maupun jam kerja.
4. Bergerombol di trotoir, atau di tepi-tepi jalan protokol, di pusat-pusat di mana banyak
orang ramai.
5. Menjajakan barang dagangannya sambil berteriak, kadang-kadang berlari mendekati
konsumen.
Masalah pedagang kaki lima ini sudah diseminarkan di negara lain yang
diprakarsai oleh International Development, mengenai hawkers and vendors = pedagang
kaki lima (hawkers = penjaja, vendors = penjual keliling), seperti diadakan di Malaysia,
Philipna, Singapura dan Indonesia (Jakarta, Bandung).

16 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
Sesuai dengan perkembangan adanya era reformasi di Indonesia, maka
Walikotamadya Bandung dalam kata pembukaan pada Lokakarya Pemberdayaan
Pedagang Kaki Lima (PKL) tanggal 6-7 Juli 1999, menyatakan: PKL bukan untuk
dilarang, bukan untuk diusir, bahkan bukan untuk dijadikan sapi perahan. Namun, lebih
dari itu PKL adalah merupakan asset yang potensial apabila dibina, ditata, dan
dikembangkan status usahanya. Lebih khusus dalam peningkatan laju pertumbuhan
ekonomi kota atau dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.
PKL memiliki karakteristik pribadi wirausaha, antara lain mampu mencari dan
menangkap peluang usaha, memiliki keuletan, percaya diri, dan kreatif, serta inovatif
PKL mempunyai potensi yang sangat besar dan dapat dimanfaatkan sebagai
berikut:
a. PKL tidak dapat dipisahkan dari unsur budaya dan eksistensinya tidak dapat
dihapuskan.
b. PKL dapat dipakai sebagai penghias kota apabila ditata dengan baik.
c. PKL menyimpan potensi pariwisata.
d. PKL dapat menjadi pembentuk estetika kota bila didisain dengan baik.

F. Franchising (Waralaba)
Akhir-akhir ini berkembang usaha dalam bidang franchising. Usaha ini dipelopori
oleh pengusaha-pengusaha Amerika yang memberi hak kepada partnernya misalnya di
Indonesia untuk menjual atau mendistribusikan produk-produk Amerika di pasaran
Indonesia. Yang paling terkenal adalah produk-produk fast food seperti Me Donald,
Kentucky dan sebagainya.
Hisrich-Peters (1995:513) memberikan definisi:
Franchising may be defined as "an arrangement where by the manufacturer or
sole distributor of a trade marked product or service gives exclusive rights of local
distribution to independent retailers in return for their payment of royalties and
conformance to standardized operating procedures. (Artinya: Franchising didefinisikan
sebagai pelimpahan dari pabrikan atau distributor suatu produk atau jasa yang diberikan
kepada agen-agen lokal atau pengecer dengan membayar sejumlah royalti).

17 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
Definisi lain diberikan oleh Bygrave (1994:353):
Robert T. Justis, Professor of Franchising at the University of Nebraska, defines
franchising in general as a business opportunity by which the owner, producer, or
distributor (franchisor) of a service or trade marked product grants exclusive rights to an
individual (franchisee) for the local distribution of the product or service, and in return
receives a payment or royalty and conformance to quality standards. (Artinya: franchising
merupakan sebuah peluang bisnis di mana pemilik, produsen atau distributor sebagai
franchisor dari barang dan jasa atau merek tertentu memberi hak kepada individu atau
franchising untuk menjadi agen lokal dari barang dan jasa dan sebagai imbalannya
menerima pembayaran atau royalti yang telah ditetapkan).
Orang yang memberikan franchising disebut franchisor sedangkan orang yang
menerima franchising disebut franchisee setelah adanya perjanjian perlimpahan
franchising ini maka terbuka peluang bagi franchisee untuk niemasuki bisnis baru dan
mempunyai kesempatan untuk sukses.
Untuk pelaksanaan franchising dibuat semacam kontrak antara franchisor dan
franchisee. Format kontrak ini mencakup rencana pemasaran prosedur aliran-aliran
dokumen, pelaksanaan bantuan dan usaha pengembangan bisnis.
Kontrak franchising ini disebut pula license agreement atau franchise contract.
Merek dagang merupakan aset yang paling berharga bagi franchisor oleh sebab itu faktor-
faktor bentuk bangunan dan disain yang spesifik, disain perabot dan perlengkapan serta
formula dan resep-resep makanan yang dirahasiakan merupakan bagian terpenting tetap
menjadi milik franchisor. Aset tersebut hak paten bagi franchisor.
Produk-produk yang dapat di jadikan franchising adalah:
a) Barang atau jasa yang telah mempunyai pasran luas dan citra unggul.
b) Formula paten atau desain tertentu
c) Nama dagang atau merk dagang
d) Konsultan manajemen keuangan atau pengawasan
e) Promosi advertising dan pembelian
f) Kantor pusat pelayanan

18 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
Keuntungan franchising
1. Produk yang ditawarkan telah memasuki pasaran yang luas dan diterima oleh
umum
2. Franchising tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk memperkenalkan
kredibilitas perusahaan induknya.
3. Keahlian manajemen karena pengalaman sudah lama dari franchisor dia dapat
memberikan bantuan manajemen kepada franchisee. Dapat diberikan pelatihan-
pelatihan dalam bidang akunting, manajemen personalia, marketing dan
produksi.
4. Kelengkapan modal ini mencangkup fasilitas perlengkapan, tata letak, kontrol
persediaan sebagainnya.
5. Pengetahuan tentang pasar.
6. Pengawasan.
Sebagai kesimpulan dari uraian diatas ialah umumnya waralaba dibedakan
menurut tiga karakteristik:
1. Pemberi waralaba memiliki merek dagang atau jasa dan memberi lisensi
kepada pewaralaba dengan imbalan royalti.
2. Pewaralaba diharuskan membayar kewajiban untuk menjadi bagian system
tersebut. Kewajiban ini merupaakna sebagaian kecil modal awal yang harus
dikeluarkan pewaralaba.
3. Pemberian waralaba (franchisor) menyediakan suatu sistem pemasaran dan
sistem operasi untuk menjalankan kegiatan bisnis.

19 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam menjalankan suatu usaha (wirausaha) seorang pelaku usaha harus
memiliki:
(1) Seorang pelaku usaha harus memiliki skill (kemampuan) untuk berwirausaha
karena tanpa skill (kemampuan) seorang pelaku usaha tidak akan mungkin bisa
berwirausaha dan skill (kemampuan) ini adalah modal utama yang harus dimiliki
dalam berwirausaha,
(2) Apabila seorang pelaku usaha telah mempunyai skill (kemampuan) tapi tanpa
ada tekad (kemauan yang kuat) untuk berwirausaha maka skill (kemampuan)
berwirausaha itu akan sia-sia karena tidak dapat tersalurkan,
(3) Modal merupakan aspek yang sangat menunjang dalam hal memulai dan
menjalankan suatu usaha disamping mempunyai skill dan tekad,
(4)Seorang pelaku usaha apabila ingin menjalankan suatu usaha maka harus bisa
menentukan target dan tujuan pemasarannya

B. Saran

Kritik dan saran yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
memperbaiki dan kesempurnaan makalah kami. Dan menjadikan makalah ini sebagai
sarana yang dapat mendorong para mahasiswa berfikir dan kreatif.

Daftar Pustaka
Buchari Alma, Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta, cet, 22,23, 2017,2018.

20 | K E W I R A U S A H A A N ( P r o f i l U s a h a ) K e l o m p o k 4