Anda di halaman 1dari 28

Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan

(I Wayan Pantiyasa)

STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI DESA MENJADI DESA WISATA


DI KABUPATEN TABANAN
(Studi Kasus Desa Tegal Linggah, Penebel, Tabanan)

I Wayan Pantiyasa
Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional
pantiyasawayan@yahoo.com

ABSTRACT
The purpose of the research is to know the tourism potency of Tegal Linggah village
which will be the fondastion to develop the village into community based tourism, the
community perception the plan of community based tourism development, and how to make
strategic development of community based tourism. The research use the drescriptive statistic
analysis and SWOT analysis. The result of the research is to get potencies of Tegal Linggah
village, they are natural, culture, social conomic and culinary. Then other potencies are
accessibility to the village. The perception of the community to the plan of community based
tourism development are 40,75% / very agree, 57,83% / agree, and 1,42 / only still doubt.
The strategys in the community based tourism development are: organizing of managemen,
making the house rules of th community based tourism, planning of tourist attraction,
preparing the infra and supra structure of the community based tourism, socializing to the
community, marketing the product of CBT, making the program of cleaning village.

Keywords: strategic development of community based tourism

ABSTRAK
Tujuan Penelitian ini adalah Untuk mengetahui potensi yang dimiliki desa Tegal
linggah yang akan menjadi dasar pengembangan menjadi desa wisata, sikap masyarakat
terhadap Rencana pengembangan desa wisata dan untuk merumuskan strategi pengembangan
Desa Tegal linggah menjadi desa wisata. Penelitian ini menggunakan tehnik analisis statistik
deskriptif dan SWOT analysis. Hasil penelitian ini adalah Potensi atraksi wisata dalam bentuk
alam, sosial keagamaan, sosial ekonomi, Potensi kulinery. Potensi lainnya seperti : Akses jalan
menuju desa, Jalan Tersier seperti jalan subak, jalan menuju pura sudah dikeraskan dengan beton,
listrik sudah masuk, Sikap masyarakat desa Tegal linggah terhadap rencana pengembangan desa
wisata adalah setuju dimana sangat setuju 40,75% , setuju 57,83% dan hanya 1,42% yang masih
Ragu-ragu, Strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan desa wisata melalui program–
program antara-lain : Penataan organisasi pengelolaan Desa wisata, Penyusunan aturan (role) dalam
bentuk anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kelompok sadar wisata, Perencanaan
pengembangan atraksi wisata (produk), Penyiapan sarana dan prasarana pengembangan desa
wisata,Sosialisasi kepada masyarakat, Melakukan pemasaran produk desa wisata, Membuat program
kebersihan desa.

Kata Kunci : Strategi Pengembangan potensi desa menjadi desa wisata

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 1


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

I. PENDAHULUAN kerajinan, serta berbagai sektor jasa.


1.Latar Belakang Masalah Dampak positif lainnya dari
Pengembangan Sektor Pariwisata pengembangan sektor Pariwisata dalam
merupakan salah satu instrumen yang kehidupan sosial masyarakat adalah
sangat efektif dalam upaya mendorong adanya kesadaran masyarakat akan
Pembangunan Daerah, pemberdayaan potensi alam dan warisan budaya yang
masyarakat, serta dalam upaya pe- dimililiki, kesadaran akan hidup bersih,
nanggulangan/ pengentasan kemiskin-an. meningkatnya dan wawasan serta
Dapat disebutkan demikian karena sektor informasi masyarakat tentang dunia
Pariwisata adalah sektor yang dapat internasional,serta dapat meningkatkan
dikembangkan oleh daerah-daerah dengan kecintaan masyarakat terhadap daerahnya.
potensi daerahnya masing-masing seperti Pradigma Pariwisata Kerakyatan
potensi alam yang dimiliki, keragaman dalam berbagai bentuknya telah menjadi
budaya serta tatanan kehidupan pradigma alternatif untuk dapat memberi
masyarakatnya. Pengembangan Pariwisata pemerataan kesejahteraan masyarakat dan
Bali telah memberikan pengaruh nyata pemberdayaan masyarakat menuju pari-
terhadap perekonomian Bali. Hal ini wisata yang berkelanjutan. Pembangunan
diperkuat dalam kajian Konsultan pariwisata pedesaan diharapkan menjadi
Management Project and Comprehensive suatu model pembangunan pariwisata
Tourism Development Plan for Bali dalam berkelanjutan sesuai dengan kebijakan
Erawan (1993) yang menyimpulkan bahwa pemerintah di bidang pariwisata. Pem-
pariwisata telah menjadi generator bangunan berkelanjutan diformulasikan
penggerak bagi pembangunan Bali dalam sebagai pembangunan yang berusaha
dua dasa warsa ini. Lebih lanjut dikatakan memenuhi kebutuhan hari ini tanpa
bahwa sektor pariwisata akan tetap mengurangi kemampuan generasi yang
menjadi leading sector dalam akan datang dalam memenuhi kebutuhan
pembangunan ekonomi daerah Bali dimasa mereka (Adhisakti, 2000). Pembangunan
yang akan datang.Sebagai Generator dan pengembangan pariwisata yang telah
penggerak pembangunan sektor Pariwisata dilakukan hendaknya mampu berke-
dapat memaikan peran Multi player effect lanjutan dan dipertahankan di masa depan.
yaitu Pariwisata dapat menggerakkan Keberlanjutan pariwisata tidak mesti
sektor lainnya seperti; sektor perkebunan, diwacanakan saja tanpa adanya suatu
peternakan, industri pakaian, industri komitmen dari berbagai pihak untuk

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 2


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

mempertahankan keberlanjutan alam, so- sungai, perbukitan )serta kegiatan budaya


sial ekonomi maupun budaya masyarakat masyarakat seperti bertani, berladang,
sebagai modal dasar pariwisata. (Pitana upacara agama dan adat yang berlangsung
2002:53) menyatakan dalam pariwisata didaerah tersebut. Dari kunjungan para
berkelanjutan, penekanan keberlanjutan wisatawan tersebut masyarakat sebagai
bahkan tidak cukup hanya berkelanjutan penyedia atraksi wisata yang dinikmati
ekologis dan keberlanjutan pembangunan wisatawan tidak mendapatkan benefit apa-
ekonomi, tetapi yang tidak kalah pen- apa. Daerah mereka hanya menjadi objek
tingnya adalah keberlanjutan kebudayaan, dan pelintasan wisatawan menuju kedaerah
karena kebudayaan merupakan salah satu lain. Kejadian ini terasa tidak adil bagi
sumber daya yang sangat penting dalam desa-desa ini, maka Pemuka-pemuka
pembangunan kepariwisataan. Imple- masyarakat desa – desa ini menyatukan
mentasi dari konsep-konsep ini diaplikasi- visi bagaimana mengendalikan kejadian ini
kan dalam program pengembangan pari- sehingga masyarakat desa tersebut
wisata pedesaan, sehingga pengembangan mendapatkan benefit yang dapat
desa wisata tersebut harus tetap mampu meningkatkat taraf kesejahteraan masy-
menjaga kelestarian lingkungan. Disam- arakat serta peningkatan pemberdayaan
ping strategi dan program yang dihasilkan masyarakat sehingga timbul keinginan
dapat memberikan kontribusi terhadap untuk mengembangkan ketujuh desa ini
perekonomian masyarakat, meningkatkan menjadi Desa Wisata akan tetapi hal ini
taraf hidupnya, sehingga masyarakat akan baru bentuk wacana. Berpijak dari hal ini
berusaha mempertahankan keberlanjutan peneliti tertarik untuk mengetahui potensi
pariwisata tersebut. –potensi wisata yang dimiliki desa-desa
Desa Tegal linggah yang berada di tersebut dan dapat membantu para pemuka
Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan tersebut membuat strategi alternatif dalam
melalui pemuka-pemuka masyarakatnya mengembangkan desa–desa tersebut men-
menyatakan bahwa selama ini ketujuh desa jadi desa wisata.
ini sering menjadi objek belaka dari biro 2. Rumusan Masalah
perjalanan dan para tour guide. Biro Berdasarkan latar belakang diatas dapat
Perjalanan dan Tour guide sering dirumuskan permasalahan sebagai
membawa tamu mancanegara meng- berikut:
unjungi ketujuh desa ini untuk menikmati
pemandangan alam (sawah, ladang,

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 3


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

a. Apa Potensi yang dimiliki Desa bangkan desanya dalam pengem-


Tegal Linggah untuk dapat bangan wisata alternatif.
dikembangkan menjadi desa wisata? c. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali
b. Bagaimanakah sikap masyarakat Internasional yaitu dapat dijadikan
Desa Tegal Linggah terhadap Ren- dasar informasi dalam mengambil
cana pengembangan desa wisata? peran dalam rangka pengabdian
c. Bagaimana Strategi pengembangan masyarakat.
Desa Tegal Linggah untuk menjadi II. KAJIAN PUSTAKA
Desa Wisata? Komponen Pengembangan Desa Wisata
3. Tujuan Penelitian Komponen–komponen dalam pe-
Adapun tujuan penelitian ini adalah: ngembangan desa wisata adalah:
a. Untuk mengetahui potensi yang di- a. Atraksi dan kegiatan wisata
miliki desa tagtag dan ketujuh desa “Atraksi wisata dapat berupa seni,
yang akan menjadi dasar pengem- budaya, warisan sejarah, tradisi,
bangan menjadi desa wisata. kekayaan alam, hiburan, jasa dan lain-
b. Untuk mengetahui sikap masyarakat lain yang merupakan daya tarik wisata.
terhadap Rencana pengembangan Atraksi ini memberikan ciri khas
desa wisata. daerah tersebut yang mendasari minat
c. Untuk menyusun strategi pengem- wisatawan untuk berkunjung ke tempat
bangan Desa Tegal linggah menjadi tersebut” (karyono, 1997).
desa wisata. “Kegiatan wisata adalah apa yang
4. Manfaat Penelitian dikerjakan wisatawan atau apa
Penelitian ini diharapkan dapat ber- motivasi wisatawan datang ke destinasi
manfaat bagi: yaitu keberadaan mereka disana dalam
a. Bagi Pemuka Tegal linggah: Dapat waktu setengah hari sampai
dipakai sebagai Pertimbangan dalam berminggu- minggu” (hadinoto, 1996).
pengembangan desa Tegal Linggah b. Akomodasi
menjadi desa wisata “Akomodasi pada desa wisata yaitu
b. Bagi Pemuka Masyarakat Desa Lain sebagian dari tempat tinggal penduduk
di Kabupaten Tabanan: Dapat dipa- setempat dan atau unit- unit yang
kai sebagai bahan bandingan dalam berkembang atas konsep tempat tinggal
menyusun rencana untuk mengem- penduduk ”(Wikipedia, 2011).

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 4


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

c. Unsur institusi atau kelembagaan dan Pendekatan pertama yang cen-


SDM. derung dikaitkan dengan perencanaan for-
Dalam pengembangan desa wisata mal sangat menekankan pada keuntungan
lembaga yang mengelola harus me- potensial dari ekowisata.
miliki kemampuan yang handal. Pendekatan ke dua, cenderung di-
d. Fasilitas pendukung wisata lainnya kaitkan dengan istilah perencanaan yang
Pengembangan desa wisata harus me- partisipatif yang lebih concern dengan
miliki fasilitas-fasilitas pendukung ketentuan dan pengaturan yang lebih
seperti sarana komunikasi. seimbang antara pembangunanan dan
e. Infrastruktur lainnya perencanaan terken-dali. Pendekatan ini
Insfrastruktur lainnya juga sangat lebih menekankan pada kepekaan terhadap
penting disiapkan dalam pengem- lingkungan alam dalam dampak pem-
bangan desa wisata seperti sitem bangunan ekowisata. Salah satu bentuk
drainase, perencanaan yang partisipatif dalam
f. Transportasi pembangunan pariwisata adalah dengan
Transportasi sangat penting untuk menerapkan Community Based Tourism
memperlancar akses tamu. (CBT) sebagai pendekatan pembangunan.
g. Sumber daya lingkungan alam dan Definisi CBT yaitu:
soasial budaya. a. bentuk pariwisata yang memberikan
h. Masyarakat kesempatan kepada masyarakat lokal
Dukungan masyarakat sangat besar untuk mengontrol dan terlibat dalam
peranannya seperti menjaga kebersihan manajemen dan pembangunan pari-
lingkungan, keamanan, keramah tama- wisata
han. b. masyarakat yang tidak terlibat lang-
i. Pasar domestik dan Mancanegara sung dalam usaha–usaha pariwisata
Pasar desa wisata dapat pasar wisata juga mendapat keuntungan,
domestik maupun mancanegara. c. menuntut pemberdayaan secara politis
1. Konsep Pariwisata berbasis Masy- dan demokratisasi dan distribusi
arakat (Community Based Tourism) keuntungan kepada komunitas yang
Menurut Garrod (2001:4), terdapat kurang beruntung di pedesaan.
dua pendekatan berkaitan dengan pene- Dengan demikian dalam pan-
rapan prinsip–prinsip perencanaan dalam dangan Hausler CBT merupakan suatu
konteks pariwisata. pendekatan pembangunan pariwisata yang

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 5


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

menekankan pada masyarakat local (baik b. mengikutsertakan anggota komunitas


yang terlibat langsung dalam industri dalam memulai setiap aspek,
pariwisata maupun tidak) dalam bentuk c. mengembangkan kebanggaan komu-
memberikan kesempatan (akses) dalam nitas,
manajemen dan pembangunan pariwista d. mengembangkan kualitas hidup komu-
yang berujung pa da pemberdayaan politis nitas,
melalaui kehidupan yang lebih demikratis, e. menjamin keberlanjutan lingkungan,
termasuk dalam pembagian keuntungan f. mempertahankan keunikan karakter
dari kegitan pariwisata yang lebih adil bagi dan budaya di area,
masyarakat. Hauler menyampaikan gaga- g. membantu berkembangnya pembel
san tersebut sebagai wujud perhatian yang ajaran tentang pertukaran budayapada
kritis pada pembangunan pariwisata yang komunitas,
seringkali mengabaikan hak masyarakat h. menghargai perbedaan budaya dan
lokal di daerah tujuan wisata. Suansri martabat manusia,
(2003:14) mendefinisikan CBT sebagai i. mendistribusikan keuntungan secara
pariwisata yang memperhitungkan aspek adil pada anggota komunitas,
keberlanjutan lingkungan, dan budaya. j. berperan dalam menentukan prosen-
CBT merupakan alat pembangun-an tase pendapatan (pendistribusian pen-
komunitas dan konservasi lingkungan. dapatan) dalam proyek yang ada di
Atau dengan kata lain CBT merupakan alat komunitas.
untuk mewujudkan pembangunan pariwi- Sepuluh prinsip dasar tersebut
sata yang berkelanjutan. harus menjadi tumpuan, arah dan prinsip
Dalam definisi yang disampaikan dasar dari pembangunan pariwisata agar
Suansri, gagasan untuk memunculkan keberlanjutannya terjamin. Meski dalam
tools berpadigma baru dalam pemba- prinsip dasar yang disampaikan secara
ngunan pariwisata adalah semata-mata eksplisit Suansri lebih memfokus kan pada
untuk menjaga keberlangsungan pariwisata kepen-tingan masyarakat lokal tetapi ide
itu sendiri. Untuk itu ada beberapa prinsip utama yang disampaikan Suansri dalam
dasar CBT yang disampaikan Suansri prinsip dasar tersebut adalah hubungan
(2003:12) dalam gagasannya yaitu: yang lebih seimbang atara wisatawan dan
a. mengakui, mendukung dan mengem- masyarakat lokal dalam industri pari-
bangkan kepemilikan komunitas dalam wisata. Keseimbangan yang dimaksud
pariwisata, antara lain dalam hal status kepemilikan

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 6


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

komunitas, pembagian keuntungan yang e. Dimesi politik, dengan indikator:


adil, hubungan faktor budaya yang didasari meningkatkan partisipasi dari
sikap saling menghargai, dan upya ber- penduduk lokal, peningkatan
sama untuk menjaga lingkungan. Sebagai kekuasaan komunitas yang lebih luas,
tindak lanjut Suansri (2003:21 -22) menjamin hak-hak dalam pengelolaan
menyampaikan point-point yang meru- sumber daya alam
pakan aspek utama pengembangan CBT CBT berkaitan erat dengan adanya
berupa 5 dimensi, yaitu: partisipasi dari masyarakat lokal. Menurut
a. Dimensi ekonomi, dengan indikator Timothy (1999:372) partisipasi masyarakat
berupa adanya dana untuk pengem- dalam pariwisata terdiri dari dua perspektif
bangan komunitas, terciptanya lapan- yaitu dalam partisipasi masyarakat lokal
gan pekerjaan di 7 actor pariwisata, dalam proses pengambilan keputusan dan
timbulnya pendapatan masyarakat partisipasi masyarakat lokal berkaitan
lokal dari sector pariwisata; dengan keuntungan yang diterima
b. Dimensi sosial dengan indikator me- masyarakat dari pembangunan pariwisata.
ningkatnya kualitas hidup, peningkatan Berkaitan dengan CBT, Timmoty meng-
kebanggaan komunitas, pembagian gagas Model normatif partisipasi dalam
peran yang adil antara laki–laki pere- pembangunan pariwisata yaitu:
mpuan, generasi muda dan tua, mem- ada 3 hal pokok dalam perencanaan pari-
bangun penguatan organisasi komu- wisata yang partisipatif yaitu
nitas; a. Berkaitan dengan upaya mengikut-
c. Dimensi budaya dengan indikator sertakan anggota masyarakat dalam
berupa mendorong masyarakat untuk pengambilan keputusan,
meng hormati budaya yang berbeda, b. Adanya partisipasi masyarakat lokal
membantu berkembangnya pertukaran untuk menerima manfaat dari kegiatan
budaya, budaya pembangunan melekat pariwisata,
erat dalam budaya lokal. c. Pendidikan kepariwisataan bagi
d. Dimensi lingkungan, dengan indikator masyarakat lokal, yang dikenal dengan
mempelajari carryng capacity area, nama Albeit Western Perspektif.
mengatur pembuangan sampah, me- Ciri-ciri khusus dari Community
ningkatkan keperdulian akan perlunya Based Tourism menurut Hudson (Timothy,
konservasi; 1999:373) adalah berkaitan dengan
manfaat yang diperoleh dan adanya upaya

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 7


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

perencanaan pendampingan yang membela keuntungan akan diterima kelompok/


masyarakat lokal serta lain kelompok masyarakat lokal,
memiliki ketertarikan/minat, yang c. Sebagai capacity building bagi
memiliki kontrol besar dalam proses sosial kelompok masyarakat agar mereka
untuk mewujudkan kesejahteraan. memahami apa itu ekowisata dan
Sedangkan Murphy (1985:153) mene- peranannya dalam pembangunan
kankan strategi yang terfokus pada berkelanjutan. (terjamin bahwa yang
identifikasi tujuan masyarakat tuan rumah terlibat sangat nampak keikutsertaannya
dan keinginan serta kemampuan mereka secara aktif dalam proyek dengan
menyerap manfaat pariwisata. pelatihan formal/informal serta kegiatan
Menurut Murphy setiap masyarakat untuk meningkatkan keperdulian),
harus didorong untuk mengidentifikasi d. Pemberdayaan lokal meningkat dengan
tujuannya sendiri dan mengarahkan memberi masyarakat lokal yang lebih
pariwisata untuk meningkatkan kebutuhan besar terhadap sumber daya dan
masyarakat lokal. Untuk itu dibutuhkan memutuskan penggunakan sumber daya
perencanaan sedemikian rupa sehingga yang berpengaruh/ penting sesuai
aspek soosial dan lingkungan masuk dalam dengan tempat tinggal mereka. (artinya
perencanaan dan industri pariwisata menjamin jika masyarakat lokal
memperhatikan wisatawan dan jutga menerima keuntungan yang sesuai
masyarakat setempat dengan penggunaan sumberdaya),
Keuntungan dari pendekatan peren- e. Pembagian keuntungan dengan warisan
canaan yang partisipatif menurut Drake lokal (local beneficiaries), misal biaya
dan Paula (dalam Garrod, 2001:6) adalah: tenaga kerja, biaya keuangan,
a. Mengkonsultasikan proyek dengan operasional dan perawatan proyek
masya rakat atau melibatkan masya- dan/atau monitoring dan evaluasi
rakat dalam manajemen penerapan proyek.
proyek dan/ atau pengopeasian proyek Lebih lanjut Garrod (2001)
dapat meningkatkan effisiensi proyek, menyampaikan elemen-elemen dari peren-
b. Efektifitas proyek jauh lebih meningkat canaan pariwisata partisipatif yang sukses
dengan mengikutsertakan masyarakat yaitu:
yang dapat membantu memastikan jika a. Membutuhkan kepemimpinan yang
tujuan proyek bisa ditemu-kan dan efektif (memiliki kredibilitas sebagai
orang yang memahami, empati dan

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 8


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

perduli den gan pendapat stakeholder, fasilitator, kordinator atau badan


memiliki kredibilitas sebagai seseorang penasehat SDM dan penguatan kelem-
yang memiliki keahlian yang bagaan.
dibutuhkan di daerah tersebut, mandiri, b. Partisipasi dari stakeholder, CBT didis-
memiliki kemam-puan mengidentifi- kripsikan sebagai variasi aktivitas yang
kasi masalah yang nyata dan tidak meningkatkan dukungan yang lebih luas
nyata, mememiliki kemampuan meng- terhadap pembangunan ekonomi dan
atur partisipan, ber sedia mengem- sosial masyarakat. Konservasi sumber
bangkan kelompok), mampu meng- daya juga dimaksudkan sebagai upaya
arahkan keterlibatan yang sifatnya top me lindungi dalam hal memperbaiki
down ke bottom up), mata pencaharian/ penghidupan masya-
b. Pemberdayaan masyarakat lokal, rakat. CBT secara umum bertujuan
c. Mengkaitkan keuntungan ekonomi untuk penganekaragaman industri,
dengan konservasi, Peningkatan skope partisipasi yang
d. Melibatkan stakeholder lokalmdalam lebih luas ini termasuk partisipasi
setiap tahapan proyek, dalamsektor informal, hak dan hu-
e. Adanya partisipasi lokal mengadakan bungan langsung/ tidak langsung dari
monitoring dan evaluasi proyek. lainnya. Pariwisata berperan dalam
Sementara itu Yaman & Mohd pem-bangunan internal dan mendorong
(2004: 584-587) menggaris bawahi be- pembangunanan aktivitas ekonomi yang
berapa kunci pengaturan pembangunan lain seperti industri, jasa dan seba-
pariwisata dengan pendekatan CBT yaitu: gainya. Anggota masyarakat dengan
a. Adanya dukungan pemerintah: CBT kemampuan kewirausahaan dapat
membutuhkan dukungan struktur yang menentukan/ membuat kontak bisnis
multi institusional agar sukses dan dengan tour operator, travel agent
berkelanjutan. Pendekatan CBT ber- untuk memulai bisnis baru.
orientasi pada manusia yang men- c. Pembagian keuntungan yang adil. Tidak
dukung pembagian keuntungan dan hanya berkaitan dengan keuntungan
manfaat yang adil serta mendukung langsung yang diterima masyarakat
pengentasan kemiskinan dengan men- yang memiliki usaha di sector
dorong pemerintah dan masyarakat pariwisata tetapi juga keuntungan tidak
untuk tetap menjaga SDA dan budaya. langsung yang dapat dinikmati
Pemerintah akan berfungsi sebagai masyarakat yang tidak memilki usaha.

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 9


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

Keuntungan tidak langsung yang paling baik adalah terbentuk lembaga


diterima masyarakat dari kegiatan dengan pimpinan yang dapat diterima
ekowisata jauh lebih luas antara lain semua anggota masyarakat. Penguatan
berupa proyek pembangunan yang bisa kelembagaan lokal dilakukan melalui
dibiayai dari hasil penerimaan pelatihan dan pengembangan individu
pariwisata. dengan ketra mpilan kerja yang
d. Penggunaan sumber daya lokal secara diperlukan (teknik, managerial, komuni
berkesinambungan. Salah satu kekuatan kasi, pengalaman kewirausahaan, dan
ekowisata adalah ketergantungan yang pengalaman organisasi. Penguatan
besar pada sumber daya alam dan kelembagaan dapat berbentuk forum,
budaya setempat, Dimana aset tersebut perwakilan, dan manajemen komite.
dimiliki dan dikelola oleh seluruh f. keterkaitan antara level regional dan
anggota masyarakat, baik secara nasional. Komunitas lokal seringkali
individu maupun kelompok, termasuk kurang mendapat link langsung dengan
yang tidak memiliki sumber daya pasar nasional atau internasional, hal ini
keuangan. Hal itu bisa menumbuhkan menjadi penyebab utama mengapa
kepedulian, penghargaan diri sendiri menfaat ekowisata tidak sampai
dan kebanggaan pada seluruh anggota dinikmati di level masyarakat. Perantara
masyarakat. Dengan demikian sumber yaitu yang menghubungkan antara
daya yang ada menjadi lebih meningkat aktifitas ekowisata dengan masyarakat
nilai, harga dan menjadi alasan dan turis justru memetik keutungan
mengapa pengunjung ingin datang ke lebih banyak.
desa. III. METODE PENELITIAN
e. Penguatan institusi lokal. Pada awalnya 3.1 Lokasi Penelitian
peluang usaha pariwisata di daerah Penelitian ini dilakukan di Desa
pedesaan sulit diatur oleh lembaga yang Tegal Lingggah Kecamatan Penebel
ada. Penting untuk melibatkan komite Kabupaten Tabanan. Desa Tegal Linggah
dengan anggota berasal dari memiliki batas-batas:
masyarakat. Tujuan utamanya adalah Sebelah Utara : Desa Penatahan
mengatur hubungan antara penduduk, Sebelah Selatan : Desa Rejasa
sumber daya dan pengunjung. Hal ini Sebelah Timur : Desa Jegu
jelas mem-butuhkan perkembangan Sebelah Barat : Desa Pesagi
kelembagaan yang ada di sana. Yang

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 10


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

Desa Linggah ditempat tinggali oleh 476 b. Data kuantitatif adalah data yang
Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk berupa angka atau data kualitatif yang
1466 orang, mata pencaharian pokok dikuantitatifkan seperti: Sikap Masya-
masyarakatnya adalah bertani / berkebun rakat terhadap rencana Pengembangan
(75%),pegawai swasta 10 %, Pegawai Desa wisata
negeri 3 %, Buruh Tani 3 %, pengusaha 3.3.2 Sumber data
kecil dan menengah 1% dan sisanya 8 % Sumber data yang digunakan
diperbagai bidang seperti TNI, POLRI, adalah:
pengrajin, pedagang, montir, dan lain-lain a. Sumber data primer adalah sumber
3.2 Difinisi operational Variabel data yang diperoleh pertama langsung
1. Potensi wisata adalah hal-hal yang dari objek penelitian seperti: keterang-
dapat dijadikan daya tarik bagi an atau informasi seperti pendapat
wisatawan untuk berkunjung yang masyarakat masyarakat setempat.
terdiri dari atraksi alam dan buatan b. Sumber data sekunder yaitu data yang
manusia diperoleh berupa data yang telah jadi.
2. Sikap Masyarakat masyarakat adalah Seperti data yang diperoleh dari doku-
pendapat yang ditunjukkan oleh warga mentasi
Masyarakat berkaitan dengan peren- 3.4 Tehnik Pengumpulan data
canaan Pengembangan desa wisata Tehnik Pengumpulan data yang
khususnya sikap masyarakat dalam digunakan adalah:
mewujudkan sapta pesona. 1. Wawancara yaitu melakukan wawan-
3.3 Jenis dan sumber data cara dengan pihak terkait seperti
3.3.1 Jenis data pemuka masyarakat
Jenis data yang dikumpulkan 2. Observasi mengamati langsung untuk
dalam penelitian ini: menginventori potensi wisata
a. Data kualitatif adalah data yang tidak 3. Kuisioner yaitu membuat pertanyaan
berupa angka melainkan berupa tertulis yang ditujukan kepada respon-
keterangan atau informasi seperti: den (masyarakat)
Potensi desa Tegal linggah.

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 11


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

Tabel 1. Kisi-Kisi Kuisioner


Sikap Masyarakat Terhadap Rencana Pengembangan Desa Wisata
Variable oprasional Indikator Item pertanyaan
Sikap masyarakat Keamanan Kesiapan menjaga keamanan wisatawan
Ketertiban Berperilaku tertib mengikuti norma yang
berlaku seperti tidak kebut-kebutan dijalan
,tidak anarkis ,main hakim sendiri dll
Kebersihan a. Kesiapan menjaga kebersihan rumah
b. Bergotong royong menjaga kebersihan
lingkungan
c. Menyiapkan tong sampah di rumah
masing-masing
d. Tidak membuang sampah
sembarangan

Keindahan a. Kesiapan menata pekarangan dengan


penanaman Karang Kitri dan atau
Karang sari
b. Ikut menjaga keasrian lingkungan

Kesejukan Kesiapan ikut menjaga memelihara


tanaman/pepohonan di area umum
Keramah tamahan 1. Bersikap ramah jika bertemu
wisatawan
2. Bersedia jika menerima wisatawan
berkunjung untuk melihat rumah
3. Kesiapan membantu tamu jika
dibutuhkan (menunjukkan tempat
upacara, sesuatu unik dll)
Kenangan Kesiapan membuat wisatawan terkesan,
senang,sehingga ada kenangan yang
dibawa pulang

4. Dokumentasi yaitu memperoleh da- Sampling adalah sebagin


ta melalui dokumen–dokumen yang populasi yang dijadikan responden
berhubungan dengan penelitian. dalam penelitian ini mengingat
3.5 Populasi dan Sampling banyaknya populasi maka dalam
Populasi adalah keseluruhan penelitian ini tehnik sapling yang
responden yang akan dijadikan subyek digunakan adalah Proorsionate Ran-
penelitian.Dalam penelitian ini popu- dom sampling, dengan menggunakan
lasi penelitian ini adalah seluruh kepala Rumus slovin untuk tingkat toleransi
keluarga masyarakat desa Tegal Ling- 10%. Rumus untuk menghitung sampel
gah. dari populasi sebagai berikut:

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 12


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

N 476 maka dengan menggunakan rumus


n = ----------------------------------- slovin dengan taraf toleransi 10% maka
1 + N (e)2
sampel penelitian ini berjumlah 83 kepala
Dimana : keluarga, supaya hasil kuisioner lebih
n : jumlah sampel merepresentasikan pendapat masyakat
N : jumlah populasi maka kuisioner yang disebarkan lebih
e : taraf toleransi besar dari yang seharusnya ,yaitu kepada
Populasi penelitian ini adalah Kepala 100 kepala keluarga yang terbagi dalam 4
Keluarga Desa Tegal linggah berjumlah dusun yaitu:

Tabel 2. Proporsi Sampling


NO NAMA DUSUN PROPORSI JML. SAMPLE

1 Dusun Pondok 25 % 25
2 Dusun Tegal Linggah Kaja 25 % 25
3 Dusun Tegal Linggah Kelod 25 % 25
4 Dusun Tegal Linggah Kelod 25 % 25
JUMLAH 100 % 100

3.6 Tehnik Analisis data SWOT merupakan suatu analisis yang


Tehnik analisis digunakan adalah: dapat dipergunakan untuk merumuskan
a. Analisis statistik diskriptif adalah strategi, yang terdiri atas analisis
untuk memberi gambaran potensi keunggulan, kelemahan, peluang, dan
wisata yang dimiliki desa tegal linggah ancaman yang dihadapi oleh suatu
dan sikap masyarakat tentang rencana perusahaan untuk mencapai tujuan.
pengembangan desa tegal linggah Dalam mengembangkan alternatif stra-
menjadi desa wisata tegi, dapat dilakukan dengan alat bantu
b. Analisis SWOT (Strengths, Weak- analisis SWOT (Strengths, Weak-
nesses, Opportunities, dan Threats). nesses, Opportunities, dan Threats) ya-
Analisis SWOT digunakan untuk ng didasarkan pada situasi lingkungan
menganalisis data untuk memperoleh internal dan eksternal. Rangkuti (2006
alternatif strategi dalam pengembangan :18), menyatakan bahwa untuk meru-
potensi desa wisata Tegal linggah muskan strategi didasarkan pada logika
menjadi desa wisata. yang dapat memaksimalkan kekuatan

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 13


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

(Strengths) dan peluang (Opportu- dengan cara meminimalkan ke-


nities), namun secara bersamaan dapat lemahan yang ada.
meminimalkan kelemahan (Weakness- 4. Strategi WT (Weakness– Threat),
es) dan ancaman (Threats). strategi ini didasarkan pada
Setelah semua informasi terkumpul, kegiatan yang bersifat defensif dan
baik analisis lingkungan internal berusaha meminimalkan kelemah-
maupun analisis eksternal, tahap an yang ada serta menghindari
berikutnya adalah mengembangkan ancaman.
alternatif strategi. Untuk merumuskan IV. HASIL PENELITIAN DAN
strategi dapat dipergunakan alat bantu PEMBAHASAN
berupa matrik SWOT yang dapat Potensi Desa Tegal Linggah yang
menggambarkan bagaimana peluang dapat dikembangkan sebagai daya tarik
(opportunities) dan ancaman (threats) wisata dan potensi lain dalam peng-
eksternal yang dihadapi perusahaan embangan menjadi Desa Wisata
atau organisasi, yang selanjutnya Berdasarkan hasil penelitian bahwa
disesuaikan dengan kekuatan potensi yang dimiliki oleh desa Tegal
(strengths) dan kelemahan Linggah memiliki potensi wisata yang
(weaknesses) internal yang dimiliki- dapat dikembangkan menjadi daya tarik
nya. Matrik ini mampu menghasilkan wisata dan potensi antara lain:
empat set kemungkinan strategi seperti 4.1 Potensi Atraksi
yang dipaparkan berikut ini. 4.1.1 Alam
1. Strategi SO (Strengths – Opportu- Potensi alam yang dimiliki desa
nities) yaitu memanfaatkan seluruh Tegal Linggah antara lain:
kekuatan untuk merebut dan a. Sungai Yeh Mawa yang memiliki
memanfaatkan peluang sebesar- panjang 6 Kilo meter yang dapat
besarnya. dipakai untuk atraksi wisata tubing
2. Strategi ST (Strengts – Threats) yaitu menelusuri sungai dengan
yaitu strategi dalam menggunakan peralatan ban dalam mobil
kekuatan yang dimiliki untuk b. Persawahan yang luasnya kurang lebih
mengatasi ancaman. 215 Hektar, hamparan sawah dengan
3. Strategi WO (Weaknesses – Oppo- terasering merupakan pemandangan
rtunities), strategi ini diterapkan yang indah untuk para wisatawan, dan
berdasarkan peluang yang ada

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 14


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

juga jalan subak kesawah yang sangat 4.1.2.1 Hasil karya yang berbentuk
baik untuk bersepeda (cycling). bangunan antara lain:
c. Perkebunan luasnya 21,5 Hektar, 1. Rumah Tempat Tinggal Ciri khas
dengan jenis tanamaman hortikultura arsitektur Bali. Kebanyakan rumah
asli tropis seperti :manggis, durian, penduduk masih bercirikan arsitektur
juwet, kelapa, dan tanaman lain yang Bali dengan pedoman asta kosala, asta
dibudidayakan seperti cengkeh, kakao, bumi dengan letak bangunan sebagai
kayu albesia dan lain-lain merupakan berikut:
potensi sebagai atraksi wisata a. Pemerajan/sanggah terletak di
agronomi. utara/timur laut konsep arah suci
d. Panorama Gunung Batu Karu yang “Luanan”
sangat indah dan kenampakan bukit b. Bale tempat tidur:
dan lembah sangat indah merupakan  Meten (bale Bandung) terletak
daya tarik wisata. di Utara
e. Tanah ampo yaitu tebing yang masa  Bale sake Nem, Sake sanga,
lalu tanahnya dapat dimakan setelah saka roras terletak diselatan
melalui proses tertentu. c. Dapur (paon) terletak di selatan
f. Bukit Buung yaitu sebuah bukit yang d. Lumbung untuk menyimpan padi
tidak mau ditumbuhi tanaman selain terletak di barat atau dibelakang
alang-alang yang memilili panorama dapur
yang sangat indah karena dari sini e. kandang (bade) di tebe (halaman
dapat melihat bebas kesegala arah dan belakang rumah)
terlihat laut dikejauhan dan gunung 2. Tempat Suci (Pura)
batukaru. Desa Tegal Linggah sebagi desa adat
g. Terowongan yang panjangnya 800 memiliki Pura Kahyangan Tiga yaitu
meter yang dipakai saluran air yang Pura Puseh, Pura Dalem Pura Bale
dapat dipakai untuk atraksi tubing agung. Disamping itu juga memiliki
(seperti di singapura tetapi buatan). pura –pura lain seperti Pura Taman
4.1.2 Budaya Suci, Pura Batur, Pura Bunut putih
Potensi budaya yang dimiliki oleh serta beberapa pura yang disebut pura
desa Tegal Linggah yang merupakan Ibu.
potensi wisata yang dapat dikemas
menjadi atraksi wisata antara lain:

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 15


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

4.1.3 Kesenian seperti ngaben dan upacara buta yadnya


Kesenian yang dimiliki dan seperti mecaru.
terpelihara dengan baik yang berpotensi 4.1.5 Kehidupan Sosial Ekonomi
sebagai daya tarik wisata antara lain: Kehidupan sosial ekonomi masya-
1. Seni Tabuh. Seni tabuh berkembang rakat sebagian besar bersumber dari bida-
dengan baik dan telah memiliki wadah ng pertanian dan perkebunan. Pengerjaan
dalam bentuk organisasi “seka” yaitu : sawah saat ini sudah dilakukan secara
seka Gong, seka angklung dan seka moderen tetapi masih ada yang dikerjakan
geguntangan secara tradisional karena persawahannya
2. Seni Tari. Seni tari berkembang berbentuk terasering dan ditanami tanaman
dengan baik dalam wadah sanggar tari padi beras merah maupun ketan (beras
3. Seni Rupa. Seni rupa tumbuh dalam hitam) yang sudah semakin langka. Per-
bentuk membuat ukiran (I Made kebunan masyarakat memiliki tanaman
Kertadana), membuat patung (I Gusti holtikultura yang cukup beragam seperti
Nyoman Sudi Adnyana dan I Wayan durian, manggis, cengkeh dan lain-lain.
Setiawan). Pematung terkenal Bapak Pengerjaan sawah (bertani) dan perbunan
Nuarta berasal dari Desa Tegal dapat dijadikan atraksi yang menarik.
Linggah. 4.1.6 Kulinery
4. Seni Lukis. Seni lukis juga tumbuh dan Masyarakat bali secara umum
berkembang. pelukis yang sudah secara turun temurun telah memiliki jenis
profesional di desa tegal linggah yaitu I masakan dalam kehidupannya bahkan ada
Wayan Rsi Aryana. sumbernya referensinya berupa lontar.
5. Seni Suara. Seni suara tradisional Masyarakat desa tegal linggah seperti
tumbuh dalam wadah seka santi (seka masyarakat Bali umumnya memiliki
kidung). masakan bali seperti sete, lawar, bali
4.1.4 Kehidupan sosial keagamaan guling, timbungan, jukut ares dll, demikian
Masyarakat secara mayoritas me- juga jajan bali seperti jaja uli, jaja gina,
nganut agama Hindu memiliki upacara satuh, klepet, bantal, klepon dan lain-lain.
yang dapat dijadikan daya tarik wisata Ada yang unik yang mungkin tidak
seperti upacara piodalan di pura yang ada dikenal di daerah lain yaitu:
di desa Tegal linggah, upacara manusa 1. Entil yaitu makanan yang terbuat dari
yadnya seperti perkawinan, potong gigi, beras dengan cara pembuatannya :
tiga bulanan anak, upacara pitra yadnya beras direndam terlebih dahulu kurang

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 16


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

lebih setengah jam kemudian 3. Listrik sudah masuk


ditiriskan, selanjutnya dibungkus deng- 4. Tersedia tempat untuk makan dan
an daun pisang menyerupai bantal minum
dengan ukuran kurang lebih 12 x 6 cm. 5. Adanya usaha jasa Loundry
Setelah itu diikat secara berpasangan 6. Beberapa rumah penduduk dapat
lalu direbus minimal 4 jam. Entil direnopasi untuk dijadikan sarana
dengan proses demikian akan dapat akomudasi
bertahan selama 2 hari dengan 7. Adanya organisasi berupa Peguyuban
digantung (hanging).entil dihidangkan kebersihan (pengelolaan sampah) yang
dengan saur, kacang, sambal dan ikan beranggotakan tokoh masyarakat
air tawar. sebagai embrio untuk dijadikan
2. Ketopot yaitu makanan sejenis entil Kelompok sadar wisata.
hanya saja bentuknya menyerupai 8. Beberapa anggota kelompok telah
bantal guling dengan panjang kurang menguasai IT dan telah membuat Web
lebih 15 cm. Ketopot dibungkus siAte untuk kelompoknya
dengan daun bambu dan proses 9. Anggota kelompok memiliki jaringan
pembuatannya sama dengan entil. dan akses cukup baik ke lingkungan
Kedua jenis makanan ini biasanya Pemerintahan Kabupaten dan
disiapkan untuk perayaan hari raya Nyepi. pengusaha travel
4.1.7 Potensi lain 4.2 Sikap Masyarakat
Potensi lain yang sebagai pen- Kecendrungan Sikap Warga
dukung memungkinkan pengembangan masyarakat Desa Tegal Linggah terhadap
Desa Tegal Linggah menjadi desa wisata rencana pengembangan Desa Tegal
antara lain Linggah Menjadi Desa Wisata Berda-
1. Akses jalan menuju desa dari jalan sarkan hasil kuisioner yang disebarkan
utama sudah bagus sudah diaspal dapat diperoleh data seperti dalam tabel
2. Jalan Tersier seperti jalan subak, jalan berikut ini.
menuju pura sudah dikeraskan dengan
beton.

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 17


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

Tabel 3. Rekapitulasi Kecendrungan Sikap Masyarakat Desa Tegal Linggah Tentang


Rencana Pengembangan Desa Wisata

NO PERNYATAAN SS S R TS STS JML


1 Bersedia jika menerima 57 43 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
2 Bersedia jika menerima 47 53 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
3 Bersedia jika menerima 37 60 3 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
4 Bersedia jika menerima 42 58 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
5 Bersedia jika menerima 47 51 2 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
6 Bersedia jika menerima 38 62 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
7 Bersedia jika menerima 31 69 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
8 Bersedia jika menerima 35 61 4 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
9 Bersedia jika menerima 40 57 3 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
10 Bersedia jika menerima 42 57 1 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
11 Bersedia jika menerima 41 55 4 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah
12 Bersedia jika menerima 32 68 100
wisatawan berkunjung untuk
melihat rumah

Dari data diatas diolah dengan


statistik diskriptif di dapat seperti dalam
Tabel di bawah ini.

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 18


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

Tabel 4. Rekapitulasi Sikap Masyarakat Desa Tegal Linggah


NO SS S R TS STS JML SS S R TS STS M SS (%) S (%) R (%) TS(%) STS(%)

1 57 43 0 0 0 100 285 172 0 0 0 4,57 57 43 0 0 0


2 47 53 0 0 100 235 212 0 0 0 4,47 47 53 0 0 0
3 37 60 3 0 0 100 185 240 9 0 0 4,25 37 60 3 0 0
4 42 58 0 0 100 210 232 0 0 0 4,42 42 58 0 0 0
5 47 51 2 0 0 100 235 204 6 0 0 4,39 47 51 2 0 0
6 38 62 0 0 100 190 248 0 0 0 4,38 38 62 0 0 0
7 31 69 0 0 100 155 276 0 0 0 4,31 31 69 0 0 0
8 35 61 4 0 0 100 175 244 12 0 0 4,19 35 61 4 0 0
9 40 57 3 0 0 100 200 228 9 0 0 4,28 40 57 3 0 0
10 42 57 1 0 0 100 210 228 3 0 0 4,38 42 57 1 0 0
11 41 55 4 0 0 100 205 220 12 0 0 4,25 41 55 4 0 0
12 32 68 100 160 272 0 0 0 4,32 32 68 0 0 0
4,35 40,75 57,83 1,42 0 0

Dari Tabel diatas dapat dinyatakan menyatakan setuju dan hanya 1,42 %
bahwa Sikap Masyarakat Desa Tegal masih ragu.
Linggah setuju (Mean 4,35) dengan akan Sikap masyarakat Desa Tegal
dikembangkan desanya menjadi Desa Linggah dapat digambarkan dalam
Wisata. Jika dipresentasekan bahwa 40,75 diagram berikut ini:
% menyatakan sangat setuju, 57,83 %

70

60

50

40

30

20

10

0
Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat Tidak
Setuju

Gambar 1. Sikap Masyarakat Desa Tegal Linggah

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 19


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

4.3. Strategi Pengembangan Desa Tegal administrasi, pelayanan akomudasi,


Linggah Menjadi Desa Wisata makan dan minum)
Dalam penelitian ini akan dikaji 2. Keterbatasan dana/ modal financial
kemungkinan rumusan strategi yang dapat yang dimiliki
dipakai dalam pengembangan potensi desa 3. Kemampuan berbahasa asing terutama
Tegal linggah untuk menjadi desa wisata. bahasa inggris dari masyarakat
Berdasarkan data yang diperoleh dapat terutama calon pengelola masih kurang
diidentifikasikan faktor internal yaitu Disamping faktor intrenal dapat
strang (kekuatan) dan sekaligus weakness diidentifikasi faktor eksternal yang terdiri
(kelemahan ) dari desa tegal linggah. Oportunity (peluang) dan Threat (anca-
Adapun strang (kekuatan) sebagai man/ hambatan).
berikut: Adapun opportunity (peluang) ya-
1. memiliki potensi besar berupa alam, ng dapat mendorong pengembangan desa
budaya, dan potensi pendukung wisata:
lainnya untuk mengembangkan desa 1. Adanya regulasi Pemerintah yang
wisata mendorong pengembangan pariwisata
2. sikap masyarakat yang setuju atau berbasis masyarakat dengan berbagai
mendukung adanya pengembangan kemudahan seperti tidak adanya beban
pariwisata. pajak, bantuan modal.
3. sudah ada organisasi sebagai embrio 2. Adanya peluang pasar manca negara
lahirnya kelompok sadar wisata untuk yang cukup baik dimana saat ini
mengelola. adanya trend wisatawan yang berminat
4. beberapa anggota kelompok memiliki kembali ke alam (back to natural) dan
akses ke pemerintahan maupun juga pasar domestik yang mulai
pengusaha travel tertarik untuk mendapat pengalaman
5. Dekat dengan objek wisata gunung alam pedesaan.
Batu karu, Yeh panes, kawasan 3. Adanya kepedulian Perusahaan peme-
heretage dunia Jati luwih rintah maupun swasta terutama Per-
Sedangkan Weaknes (kelemahan): bankan melalui program CSR untuk
1. Sumber daya manusia yang belum memberi bantuan modal.
profesional untuk mengelola dari segi Sedangkan Threat (ancaman/ hambatan)
Management oprasional (perencanaan yang mungkin terjadi:
paket meninap/ tour, marketing,

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 20


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

1. Kemungkinan adanya perbedaan 3. Kelompok segera melakukan so-


budaya antara wisatawan khususnya sialisasi kepada masyarakat
wisatawan asing yang menyebabkan 4. Kelompok melakukan pendekatan
adanya salah pengertian,terutama dengan Pemda Kabupaten dan
masalah kesucian tempat, etika berpa- Perbankan untuk mecari bantuan
kaian. modal
2. Generasi muda sebagian besar tidak B. Strategi ST
menyukai hidup di desa. Jika Para wisatawan sudah ada yang
Dari identifikasi faktor Strang, berkunjung ke desa saat baru tiba
Weakness, Opportunity, dan Threat dapat disampaikan hal-hal yang boleh dan
dirumuskan strategi pengembangan yang tidak dilakukan, cara berpakaian dan
dapat dipakai panduan oleh pemuka lain-lain
masyarakat untuk mengembangkan desa C.Strategi WO
Tegtal Linggah untuk menjadi desa wisata. 1. Melakukan studi banding ke desa
A. Strategi SO lain yang telah mengebangkan desa
1. Pengurus Peguyuban melakukan wisata
pertemuan dengan tokoh masya- 2. Membuat pelatihan berkaitan deng-
rakat untuk membentuk kepeng- an pelayanan akomudasi, makan
urusan yang difinitif untuk menge- dan minuman, pemandu
lola desa wisata .apabila Kepeng- 3. Melakukan pendekatan
urusan telah terbentuk kelompok D. Strategi WT
dapat menyusun aturan–aturan 1. Memberikan pembekalan kepada
pengelolaan berkaitan dengan masyarakat tentang pengetahuan
benefit untuk masyarakat atau hak silang budaya (cross culture knowl-
dan kewajiban edge) kepada masyarakat
2. Apabila kelompok sudah terbentuk 2. Merancang program Promosi yang
segera melakukan perencanaan efektif.
berkaitan dengan perencanaan Dari analisis SWOT dan strategi
produk (paket wisata, akomudasi, SO, ST, WO, WT dapat disusun strategi
makanan dan minuman), peren- Pengembangan desa wisata Tegal Linggah
canaan pemasaran, perencanaan dalam dalam bentuk program antara lain:
oprasional kerja.

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 21


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

1. Penataan organisasi: mendifinitifkan embrio organi-sasi


Sebagai langkah awal diperlukan yang telah ada. Susunan Kepengu-
adanya wadah pengelolaan dalam rusannya dapat disesuaikan dengan
bentuk kelompok yang dinamakan kebutuhan oprasional.sebagai bahan
Kelompok Sadar Wisata (POK pertimbangan kepengurusan kelompok
DARWIS), seperti yang telah diurai- sadar wisata dapat disusun dalam
kan diatas dapat dilakukan dengan bagan berikut ini:

TIM INISIATOR
(BOARD)

GENERAL
MANAGER

ADMINISTRASI OPRASIONAL MARKETING


MANAGER MANAGER MANAGER

STAFF SEKSI PEMESANAN STAFF


DAN PENERIMAAN
TAMU

SEKSI AKOMUDASI

SEKSI PENYIAPAN
MAKANAN DAN MINUMAN

SEKSI PEMANDU
WISATA

Gambar 2. Organisasi Kelompok Sadar Wisata

a. Tim Pengembang (inisiator). 4. Tokoh Masyarakat yang memiliki


Tim pengembang terdiri dari: pengalaman dibidang bisnis pari-
1. Kepala Desa (ex oficio), wisata
2. Bendesa adat (ex oficio) b. Tim oprasional
3. Kelian Banjar (ex oficio) Tim oprasional dibentuk untuk menja-
lankan bisnis pariwisata yang dikem-

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 22


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

bangkan. Kepengurusannya dapat disu- 3) Sale/Marketing Manager


sun sebagai berikut: Sale/Marketing Manager memiliki
1) General Manager tugas:
General Manager bertugas:  Membuat perencanaan Market-
 Bersama Komponen lainnya ing
membuat perencanaan produk,  Melakukan hubungan dengan
marketing dan kegiatan lainnya pengusaha biro perjalanan/
 Melakukan Kemitraan dengan travel agent
instansi pemerintah, assosiasi  Menyiapkan psarana dan sarana
Pariwisata, Biro perjalanan dan marketing
lain-lain  Melaksanakan kegiatan sale
 Melakukan monitoring dan dan marketing
evaluasi kegiatan  Melakukan hubungan dengan
 Bertanggung jawab atas keselu- pihak sponsor
ruhan oprasional  Secara bersama merancang
2) Administrasi Manager produk yang akan dijual/ dip-
Administrasi Manager memiliki asarkan
tugas: Bagian Marketing pada awal
 Secara bersama menyusun pendirian dapat dilakukan oleh satu
rencana anggaran belanja orang dan dibantu oleh pengurus
 Menata administrasi keuangan, lain dan selanjutnya penambahan
 Melaksanakan Urusan perbank- personalia disesuaikan dengan
an/ peminjaman modal kebutuhan sesuai perkembangan.
 Menangani administrasi umum 4) Oprasional Manager
(surat menyurat) Oprasional Manager betugas:
Administrasi manager dapat diban-  Mengkordinasikan sarana dan
tu oleh staf disesuai kebutuhan dan prasarana akomudasi,makan
kemampuan keuangan Kelompok dan minum, tour, event, dan
(sebagai awal akan lebih baik kegiatan- kegiatan yang akan
dikerjakan sendiri oleh administrasi dilakukan.
manager  Mengkoordinasi proses chek in,
check out tamu

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 23


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

 Memberikan sosialisasi/ infor- (kontribusi) untuk desa dan kelompok,


masi kepada tamu tentang hal- Hak dan kewajiban pengurus.
hal yang boleh dan tidak 3. Perencanaan Pengembangan Atraksi
dilakukan Wisata/ Produk wisata.
 Menyiapkan para pemandu un- Perencanaan produk wisata dibuat
tuk mendampingi tamu dalam berdasarkan potensi yang dimiliki
melakukan aktivitas di Desa seperti alam, budaya dan spiritual.
 Mengkomunikasikan kegiatan Program atraksi yang dapat dikebang-
yang akan dilakukan kepada kan antara lain:
masyarakat a. Tubing

 Secara bersama komponen lain Tubing adalah Kegiatan menyusuri

terlibat dalam penyusunan pe- aliran sungai dan terowongan air

rencanaan dengan peralatan apung

Oprasional Manager memiliki tug- b. Cycling Tour

as dan tanggung jawab yang sangat Cykling yaitu Kegiatan bersepeda

komplek maka perlu dibantu oleh menyusuri jalan subak

beberapa seksi antara lain: c. Hiking Tour

a. Seksi Pemesanan dan Peneri- Hiking yaitu kegiatan menyusuri

maan Tamu sawah, ladang, sungai, pada jalan

Tugasnya: setapak di desa Tegal linggah

 menerima pemesanan pe- d. Cooking Lesson

langgan (tamu/ travel Seperti yang telah diuraikan di atas

agent), masyarakat desa memiliki makanan

 menangani kedatangan dan khas yaitu entil dan Ketopot dan

keberangkatan tamu masakan bali secara umum, Kuli-

b. Seksi Akomudasi ner ini dapat dijadikan kegiatan

c. Seksi Penyediaan Makanan dan cooking lesson.

Minuman e. Farm Lesson

d. Seksi pemandu wisata Farm Lesson merupakan kegiatan

2. Penyusunan aturan main (Role) bisa yang menawarkan tentang cara-

dalam bentuk Anggaran dasar dan cara dan tehnik bertani, berkebun

anggaran rumah tangga.pada intinya tradisional kepada wisatawan dari

berisikan: pembagian keuntungan pengolahan lahan, pemilihan bibit,

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 24


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

cara menanam dan memetik hasil an ini dapat dipandu oleh pemandu
memanen serta upacara-upacara lokal.
/ritual nya i. Dance Lesson
f. Mejejahitan Lesson Tarian Bali merupakan salah satu
Mejejahitan lesson merupakan atraksi yang sangat diminati oleh
kegitan yang ditawarkan kepada wisatawan, oleh karena itu Dance
wisatawan dengan bentuk kegiatan lesson sangat mungkin dilakukan
membikin sarana upakara hindu dengan memanfaatkan bale banjar.
seperti membuat ketupat, canang j. Painting lesson
sari, segehan dan bentuk sesajen Painting lesson dapat dikembang-
sederhana. kan karena warga masyarakat
g. Yoga and Meditation Program memiliki beberapa pelukis yang
Program ini dapt dilakukan dengan cukup baik.
bentuk kegiatan yoga atau meditasi k. Dinner Party .
dengan tujuan menenangkan diri Dinner Party dapat dilakukan
dan menyatu dengan alam, mem- untuk memberi hiburan kepada
bersihkan fikiran dari kejenuhan tamu dengan menampilkan keseni-
kegiatan yang sifatnya mengejar an tradisional maupun penyajian
materi. Kegiatan ini dapat dila- makanan dan minuman khas Bali
kukan di pura dalem yang terletak dan khususnya makanan khas desa.
ditengah sawah dan jauh dari 4. Penyiapan sarana dan prasarana
kegiatan penduduk. Program penyiapan sarana dan prasa-
h. Village and tample tour. rana yang segera perlu dikerjakan
Program ini dapat berupa meng- antara lain:
unjungi rumah penduduk meng- a. Menawarkan kepada masyarakat
amati kegiatan keseharian pen- yang mau rumahnya dipakai men-
duduk dan tempat suci (pura yang jadi tempat menginap para tamu
ada didesa Tegal linggah) mem- kemudian melakukan renovasi te-
berikan informasi tentang fungsi rutama terutama ketersediaan
pura, penetapan odalan, beberapa kamar mandi, tempat tidur yang
fungsi dan makna kegiatan yang mendekati standar internasional.
dilakukan oleh masyarakat. Kegiat-

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 25


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

b. Perbaikan jalan tersier untuk V. SIMPULAN DAN SARAN


cicling race serta menjaga 5.1 Simpulan
kebersihan jalan desa. Berdasarkan hasil penelitian dan
c. menyiapkan sepeda, peralatan pembahasan dapat disimpulkan sebagai
untuk tubing. berikut:
d. melakukan renovasi dan penataan 1. Potensi yang dimiliki desa untuk
terhadap tempat tamu diterima pengembangan desa wisata Tegal
check in (main office) tempat linggah cukup refresentatif antara lain:
makan tamu, tempat memproduksi a. Potensi atraksi wisata dalam
makanan. bentuk alam seperti sungai,
e. Penyiapan Peralatan kantor persawahan, panorama perbukitan,
f. Penyiapan sarana pemasaran terowongan air, budaya seperti
seperti pemasangan papan infor- kesenian, hasil karya masyarakat
masi desa wisata, brosur dan web – dalam bentuk bangunan rumah,
site pura , Potensi atraksi wisata dalam
5. Membuat Program kebersihan desa bentuk sosial keagamaan seperti
Program kebersihan desa dapat dila- upacara keagamaan sehari-hari
kukan oleh kelompok sadar wisata dirumah, upacara di Pura, Potensi
dengan penanganan sampah yang baik atraksi wisata dalam bentuk sosial
dan berkelanjutan. Program ini ini dapat ekonomi seperti cara bercocok
dilakukan dengan melibatkan semua tanam di sawah maupun di tegalan,
warga untuk melakukan pemilahan potensi kulinery yaitu memiliki
sampah organik dan an organik, masakan khas masyarakat.
kelompok sadar wisata menyediakan b. Potensi lainnya seperti: Akses jalan
lahan untuk menampung dan sarana menuju desa dari jalan utama sudah
pengangkutan untuk menjemput sampah bagus / sudah diaspal, Jalan Tersier
warga masyarakat. Sampah plastik seperti jalan subak, jalan menuju
dapat diolah dalam bentuk setengah jadi pura sudah dikeraskan dengan
(bijih plastik) yang dapat dijual dan beton, listrik sudah masuk.
sampah an organik dapat diolah Tersedia tempat untuk makan dan
dijadikan pupuk (kompos) minum , adanya usaha jasa loundry
Beberapa rumah penduduk dapat
direnopasi untuk dijadikan sarana

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 26


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

akomudasi, adanya organisasi f. Melakukan pemasaran produk desa


berupa Peguyuban kebersihan wisata
(pengelolaan sampah) yang ber- g. Membuat program kebersihan desa
anggotakan tokoh masyarakat se- 5.2 Saran
bagai embrio untuk dijadikan ke- Berdasarkan simpulan dapat disa-
lompok sadar wisata, beberapa rankan sebagai berikut:
anggota kelompok telah menguasai 1. Tokoh Masyarakat desa agar duduk
IT dan telah membuat web site bersama menyatukan visi dan misi dan
untuk kelompoknya. Anggota ke- menyusun perencanaan dalam meng-
lompok memiliki jaringan dan embangkan desa wisata
akses cukup baik ke lingkungan 2. Pemerintah Kabupaten Tabanan
Pemerintahan Kabupaten dan melalui Dinas Pariwisata agar dapat
pengusaha travel memberi bantuan teknis maupun
2. Sikap masyarakat desa Tegal linggah kemudahan–kemudahan
terhadap rencana pengembangan desa 3. Para pengusaha Biro Perjalanan agar
wisata adalah setuju dimana sangat membantu memasarkan pruduk wisata
setuju 40,75% , setuju 57,83% dan di desa tegal linggah
hanya 1,42% yang masih ragu-ragu 4. Para akademisi dapat membantu
3. Strategi yang dapat dilakukan dalam membuat kemasan ragam pruduk wi-
pengembangan desa wisata melalui sata yang dapat dipasarkan dan
program – program antara-lain : membantu penyiapan sumber daya
a. Penataan organisasi pengelolaan manusia melalui pelatihan seperti
Desa wisata bahasa.
b. Penyusunan aturan (role) dalam DAFTAR PUSTAKA
bentuk anggaran dasar dan Anonim, 2000, Agenda 21 Sektoral Agen-
anggaran rumah tangga kelompok da Pariwisata untuk Pengembang-
sadar wisata an Kualitas Hidup Secara Berke-
c. Perencanaan pengembangan atraksi lanjutan (Jakarta: Proyek Agenda
wisata (produk) 21 Sektoral Kerjasama Kantor
d. Penyiapan sarana dan prasarana Menteri Negara Lingkungan Hidup
pengembangan desa wisata dan UNDP,
e. Sosialisasi kepada masyarakat

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 27


Strategi Pengembangan Potensi Desa Menjadi Desa Wisata di Kabupaten Tabanan
(I Wayan Pantiyasa)

Adams, W.M., 1990, Green Development Eco Tourism: A Rivised Model Ap-
and Sustainability in the Word, proach, Bristol: University of The
London: Routledge West Of England
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Pe- Hajar Ibnu S, 1999, Dasar-dasar Metode-
nelitian suatu pendekatan Praktek, logi Penelitian Kwantitatif dalam
Rineka Cipta. Jakarta Pendidikan, Raja Grafindo Prasa-
Aronsson, Lars, 2000, The Development of da, Jakarta
Sustainable Tourism: London, Co- Mowfort, Martin & I, Munt,1998, Tourism
ntinum and Sustainability New Tourism in
Baiquni, M, 2002 “Integrasi Ekonomi dan the Word, London: Routedge
Ekologi dari Mimpi Menjadi Aksi,” Richard Sharpley, 2000, “Tourism and
dalam Wacana, III, 12, Sustainable Development : Explor-
Becker, Egon, & T. Jahn (eds.), 1999. ing the Theorical Divice” Journal
Sustainability and The Social of Sustainable Tourism, VIII (1-19)
Sciences (New York: UNESCO Simamora.Bilson, 2004, Panduan Riset
and SOI Prilaku Konsumen, Gratmedia
Depbudpar, 2009, pengembangan pari- Pustaka Utama, Jakarta
wisata, jakarta Suansri, Potjana, 2003, Community Based
Derektorat Pemberdayaan Masyarakat Tourism Hand Book, Thailand:
depbudpar, 2009 pengembangan Rest Project
inti rakyat, Jakarta Sugiyono, 2000 Metode Penelitian Bisnis,
Fakih, Mansour, 2001, Sesat Pikir Teori CV. alfa beta, Bandung
Pembangunan dan Globalisasi, Suryabrata, Sumadi, 1983, Metode Pene-
Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan litian, Raja Grafindo Prasada
Insist Press Jakarta
Indriati, Etty, 2001, Menulis Karya Ilmiah Timothy, DJ, 1999, “Participatory Plann-
(artikel,Skripsi,Tesis dan desertasi, ing a View of Tourism in
Gramedia Pustaka Utama, jakarta Indonesia” dalam Annuals Review
Wikepedia, 2011 pengembangan desa wi- of Tourism Research, XXVI (2),
sata Jakarta
Garrod, Brian, 2001 Local Partisipation in
the Planning and Management of

Jurnal Ilmiah Hospitality Management, Vol. 4 No. 1 Juli-Desember 2013, hlm 28