Anda di halaman 1dari 13

BAB 5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menyajikan tentang gambaran tingkat pengetahuan

siswa tentang Bantuan Hidup Dasar dan gambaran karakteristik siswa mengenai

informasi pribadi seperti jenis kelamin, usia, paparan informasi, dan tingkat

pengetahuan, serta tahapan-tahapan bantuan hidup dasar.

5.1 Hasil Penelitian

Uji Normalitas

Uji normalitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Kolmogorov-

smirnov karena jumlah responden >50. Data dikatakan terdidtribusi secara normal

jika nilai p>0,05. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan untuk melihat

apakah nilai usia terdistribusi secara normal atau tidak.

Tabel 5.1 Hasil uji normalitas data usia pada responden di SMAN 1 Kalisat
Kabupaten Jember, (n=77)
Data p α
Usia 0,001 0,05
Sumber: Data Primer Peneliti, 2019

Tabel 5.1 menunjukan bahwa data usia responden terdistribusi secara tidak

normal karena nilai p=0,001 sehingga penyajian data hanya menampilkan nilai

median, minimal dan maksimal.

5.1.1 Karaktreristik Responden

Karakteristik responden pada penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin

dan penerimaan informasi oleh responden.


Tabel 5.2 Ditribusi frekuensi karakteristik responden berdasarakan usia di SMAN
1 Kalisat Kabupaten Jember, (n=77)
Karakteristik
Median Min-Max
Responden
Usia 18 17-19
Sumber: Data Primer

Tabel 5.2 menunjukan bahwa usia respondenpada penelitian ini memiliki

nilai median 18 tahun dengan nilai minimal 17 tahun dan nilai maksimal 19 tahun.

Tabel 5.3 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin


dan penerimaan paparan informasi di SMAN 1 Kalisat Kabupaten Jember, (n=77)
No. Karakteristik Responden Jumlah (n) Presentase (%)
Jenis Kelamin
a. Laki-laki 35 45,5
1.
b. Perempuan 42 54,5
Total 77 100
Paparan Informasi
a. Ya 19 24,7
2.
b. Tidak 58 75,3
Total 77 100
Sumber: Data Primer

Tabel 5.3 menunjukan jenis kelamin responden pada penelitian ini terdiri

dari 35 siswa laki-laki dan 42 siswa perempuan. Untuk paparan informasi

sebanyak 19 responden telah menerima informasi mengenai BHD sedangkan 58

responden masih belum pernah menerima informasi.


5.1.2 Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Bantuan Hidup Dasar

(BHD) Berdasarkan Karakteristik Responden

1. Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan Usia

Tabel 5.4 Nilai tingkat pengetahuan tentang BHD berdasarkan usia responden di
SMAN 1 Kalisat Kabupaten Jember (n=77)
Tingkat Pengetahuan Total
Usia
Baik % Cukup % Kurang % N %
17 Tahun 0 0 11 14,3 8 10,4 19 24,7
18 Tahun 0 0 29 37,7 25 32,5 54 70,1
19 Tahun 0 0 1 1,3 3 3,9 4 5,2
Total 0 0 41 53,2 36 46,8 77 100
Sumber: Data Primer Peneliti

Pada tabel 5.4 didapatkan bahwa pada responden yang berusia 17 tahun

memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 11 responden (14,3%) dan

responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 8 responden

(10,4%), responden yang berusia 18 tahun memiliki tingkat pengetahuan cukup

sebanyak 29 responden (37,7%) dan responden yang memiliki tingkat

pengetahuan kurang sebanyak 25 responden (32,5%), responden yang berusia 19

tahun memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 1 responden (1,3%) dan

responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 3 responden

(3,9%)

2. Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.5 Nilai tingkat pengetahuan tentang BHD berdasarkan jenis kelamin
responden di SMAN 1 Kalisat Kabupaten Jember (n=77)
Tingkat Pengetahuan Total
Jenis Kelamin
Baik % Cukup % Kurang % N %
Laki-laki 0 0 20 26 15 19,5 35 45,5
Perempuan 0 0 21 27,3 21 27,3 42 54,5
Total 0 0 41 53,2 36 46,8 77 100
Sumber: Data Primer Peneliti
Pada tabel 5.5 didapatkan responden dengan jenis kelamin laki-laki yang

memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 20 responden (26%) dan yang

memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 15 responden (19,5%). Responden

dengan jenis kelamin perempuan yang memiliki tingkat pengetahuan cukup

sebanyak 21 responden (27,3%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang

sebanak 21 (27,3%).

3. Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan Paparan Informasi

Tabel 5.6 Nilai tingkat pengetahuan tentang BHD berdasarkan paparan informasi
responden di SMAN 1 Kalisat Kabupaten Jember (n=77)
Paparan Tingkat Pengetahuan Total
Informasi Baik % Cukup % Kurang % N %
Ya 0 0 13 16,9 6 7,8 19 24,7
Tidak 0 0 28 36,4 30 39 58 75,3
Total 0 0 41 53,2 36 46,8 77 100
Sumber: Data Primer Peneliti

Pada tabel 5.6 didapatkan bahwa responden yang sudah pernah

mendapatkan informasi yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 13

responden (16,9%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 6

responden (7,8%). Responden yang belum pernah mendapatkan informasi dan

memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 28 responden (36,4%) dan yang

memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 30 responden (39%).

5.1.3 Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) Di SMA

1 Kalisat Kabupaten Jember

Gambaran variabel pengetahuan siswa tentang BHD di Kecamatan

Kalisat Kabupaten Jember yang diukur dengan kuesioner, disajikan dalam bentuk

presentase. Hasil penelitian tentang tingkat pengetahuan berdasarkan indikator


disajikan pada tabel 5.7 dan tingkat pengetahuan secara umum disajikan pada

tabel 5.8

Indikator pengetahuan BHD terdiri dari 6 indikator pembentuk. Indikator

tersebut terlihat dalam tabel 5.7 berikut

Tabel 5.7 Nilai indikator tingkat pengetahuan tentang BHD di SMAN 1 Kalisat
Kabupaten Jember(n=77)
No. Indikator Mean SD
1. Definisi BHD 0,63 0,20
2. Airway 0,56 0,32
3. Breathing 0,39 0,26
4. Circulating, Bleeding 0,63 0,10
5. Disability 0,49 0,18
6. Expose, Environment 0,37 0,28
Sumber: Data Primer Peneliti

Tabel 5.7 menunjukan bahwa dari 6 indikator yang ada dalam kuesioner

tingkat pengetahuan tentang BHD didapatkan nilai rata-rata tertinggi ada pada

indikator nomor 1 dan nomor 4 yang berarti padapenelitian ini responden paling

banyak menjawab pertanyaan yang ada dalam indikator nomor 1 dan 4.

Sedangkan nilai rata-rata terendah ada pada indikator nomor 6 yang berarti dalam

penelitian ini responden paling banyak menjawab salah pada pertanyaan yang ada

dalam indikator nomor 6

Tabel 5.8 Nilai tingkat pengetahuan tentang BHD pada responden di SMAN 1
Kalisat Kabupaten Jember (n=77)
No. Tingkat Pengetahuan Jumlah (n) Presentase (%)
1. Baik 0 0
Cukup 41 53,2
Kurang 36 46,8
Total 77 100
Sumber: Data Primer
Pada tabel 5.8 didapatkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang

BHD berada pada tingkat pengetahuan cukup sebanyak 41 responden (53,3%) dan

tingkat pengetahuan kurang sebanyak 36 responden (46,8%).

5.2 Pembahasan

5.2.1 Karakteristik Responden

a. Usia

Hasil dari tabel 5.2 menunjukkan bahwa nilai median 18 tahun dengan

nilai minimal 17 tahun dan nilai maksimal 19 tahun. Penelitian yang dilakukan

oleh Rachmawaty (2012) didapatkan bahwa usia responden mempunyai nilai

median 20 tahun dengan nilai minimal 18 tahun dan nilai maksimal 21 tahun.

Pada usia ini responden dalam penelitian ini termasuk dalam tahap perkembangan

remaja akhir atau dewasa muda. Pada masa perkembangan ini remaja mencapai

kematangan fisik, mental, sosial dan emosional (Asrori, 2012). Individu dengan

usia yang masih muda sangat mampu untuk menerima ataupun menerima hal baru

(Potter & Perry, 2005). Pada usia yang masih muda masih belum ada penurunan

kognitif dalam mengingat informasi, masa muda juga mampu memecahkan

masalah yang kompleks dengan kapasitas berpikir yang abstrak, logis dan rasional

(Dariyo, 2003). Responden dalam penelitian ini adalah remaja dengan rentang

usia 17-19 tahun. Peneliti berasumsi bahwa responden yang masih tergolong

muda ini mempunyai kognitif yang masih bagus untuk memproses informasi

sehingga dapat membentuk pengetahuan yang cukup tentang BHD.


a. Jenis Kelamin

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang menjadi responden

dalam penelitian ini adalah perempuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Sudarman dkk. (2019), dimana dalam hasil

penelitiannya juga didapatkan bahwa mayoritas respondennya adalah perempuan

yaitu 76,2%. Salah satu faktorlpredisposisilyang meningkatkan outcome

penyelamatan CPR yangldilakukan olehlmasyarakat awam yakniljenis kelamin

perempuan (Adielsson dan Anna, 2011). Perbedaanlkognitif antaralperempuan

dan laki-lakiltidak selalu muncul dalam berbagai bidang, lada kalanya menghilang

dilbidang lain, dan ketikalmereka muncul hanya sedikit yang terlihatl (Santrock,

2003).

Berdasarkanbringkasanbpencapaian statusbMDGS di Indonesiabpada

tujuan tiga yakni mendorongbkesetaraan gender danbpemberdayaan. Upaya untuk

mendorongbkesetaraan gender danbpemberdayaan telah mencapai sasaranbMDGs

tahun 2015 (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2011). Proporsibyang

lebihbbanyak pada penelitianbini menunjukkanbbahwa kesempatanbperempuan

dalam kesetaraanbgender dan pemberdayaan dibIndonesia sudah teraktualisasi.

Penelitibberasumsibbahwabpada penelitian ini tingkatbpengetahuan antara

perempuan danblaki-laki keduanya tidakbmemiliki perbedaan yangbsignifikan.

Antara perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki tingkat pengetahuan yang

cukup. Hal ini disebabkan karena di SMAN 1 Kalisat tidak terdapat perbedaan

antara siswa laki-laki dan perempuan dalam hal penerimaan informasi dari pihak

sekolah. Selain itu, antara siswa laki-laki dan perempuan keduanya saling
berinteraksi dengan baik sehingga informasi yang diterima oleh keduanya hampir

sama karena mereka saling berbagi informasi.

b. Paparan Informasi

Untuk paparan informasi mayoritas responden tidak atau belum pernah

menerima informasi tentang BHD, hanya terdapat sebanyak 19 responden yang

menerima informasi mengenai BHD. Dari 19 responden yang sudah pernah

menerima informasi tentang BHD 13 diantaranya memiliki tingkat pengetahuan

yang cukup dan 28 dari 58 responden yang belum pernah menerima informasi

tentang BHD juga memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang BHD. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh wijaya (2016) mendapatkan bahwa 36 responden

sudah pernah mengikuti pelatihan BHD dan 329 responden belum pernah

mengikuti BHD. Dalam penelitian Wijaya ini juga didapatkan bahwa 204 dari 329

responden yang belum pernah mengikuti pelatihan memiliki tingkat pengetahuan

yang baik tentang BHD dan 90 responden memiliki tingkat pengetahuan yang

cukup. Pelatihan merupakan salah satu bentuk dari pendidikan non formal untuk

menemukan pengetahuan melalui informasi yang didapat (Wawan dan Dewi,

2011). Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa informasi yang diterima oleh

seseorang akan membuat seseorang tersebut memiliki pengetahuan yang baik.

Pengetahuan yang dimiliki oleh responden dalam penelitian ini mungkin bisa

didapatkan dari pengalaman dan lingkungan responden.

5.2.2 Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Bantuan Hidup Dasar

(BHD) Berdasarkan Karakteristik Responden


1. Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan Usia

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa mayoritas responden pada kelompok usia

18 tahun memiliki tingkat pengetahuan cukup. Hasil ini berbeda dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Buamona dkk. (2017), dalam hasil penelitiannya

hanya 1 orang responden yang berusia 18 tahun. Menurut Piaget usia ini masuk

kedalam usia remaja. Piaget juga menyebutkan dalam tahapan ini remaja mulai

berinteraksi dengan lingkungan dan semakin luas dari pada tahapan anak-anak,

remaja mulai berinteraksi dengan teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk

dapat berinteraksi dengan orang dewasa, karena pada tahapan ini anak sudah

mulai mampu mengembangkan pikiran yang normal, mereka juga mampu

mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan

kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan

lebih memberikan akibat positif pada perkembangan kognitifnya (Asrori, 2012).

Peneliti berasumsi bahwa tingkat pengetahuan responden pada usia

tersebut mayoritas cukup karena mereka sebagian besar tidak menerima atau tidak

mengetahui tentang BHD. Pengetahuan yang mereka dapatkan mayoritas hanya

berasal dari media informasi elektronik seperti internet bukan dari sekolah.

Berdasarkan keadaan di tempat penelitian, masih banyak dari responden yang

tidak antusias untuk mencari informasi tentang BHD karena mereka tidak tertarik

dan merasa aman di tempat tinggal mereka, sehingga mereka tidak perlu mencari

tau tentang BHD tersebut sampai mereka mendapatkan informasi langsung dari

sekolah atau dari petugas yang bertugas memberikan pendidikan mengenai BHD.

2. Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan Jenis Kelamin


Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik responden laki-laki atau

perempuan memiliki pengetahuan yang cukup tentang bantuan hidup dasar.

Namun jika dibandingkan antara laki-laki dan perempuan, perempuan memiliki

pengetahuan yang lebih baik (27,3%) dibandingkan laki-laki (26%). Sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Sopka dkk. (2013), dalam penelitiannya

terjadi peningkatan kemampuan atau tingkat pengetahuan pada partisipan

perempuan setelah diberikan pelatihan tentang BHD.

P eneliti berasumsi bahwa perbedaan kognitif antara perempuan dan laki-

laki ini disebabkan karena perempuan lebih rajin daripada laki-laki. Perempuan

memiliki kemauan untuk belajar lebih tinggi daripada laki-laki. Hal itu terlihat

dari sikap dan tindakan yang dilakukan oleh responden saat pengisian kuesioner.

Responden perempuan lebih antusias menanyakan terkait BHD dibandingkan

responden laki-laki.

3. Tingkat Pengetahuan Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan Paparan Informasi

Hasil penelitian yang disajikan pada tabel 5.6 menunjukkan ahwa

responden yang menerima paparan informasi mayoritas memiliki pengetahuan

cukup sedangkan responden yang tidak menerima paparan informasi mayoritas

memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Peneliti berasumsi bahwa paparan

informasi menjadi hal yang penting untuk dapat meningkatkan pengetahuan

responden terkait BHD, karena mayoritas responden yang memiliki tingkat

pengetahuan kurang karena responden tidak terpapar informasi mengenai BHD.

Kurangnya paparan informasi juga disebabkan oleh faktor lingkungan.

Lingkungan adalah suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal

tersebut terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang akan direspon sebagai

pengetahuan (Notoadmojo, 2011). Lingkungan yang ada di sekitar lokasi

penelitian terlihat kurang baik terkait pemberitahuan mengenai BHD, karena

mereka merasa mereka jauh dari pantai, gunung, dan jalan raya sehingga mereka

berpikir mereka jauh dari bencana hal itulah yang membuat mereka kurang

antusias untuk mengetahui terkait BHD.

5.2.3 Tingkat Pengetahuan Siswa Tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) Di SMA

1 Kalisat Kabupaten Jember

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat

pengetahuan yang cukup. Hasil ini menunjukan bahwa lebih dari setengah jumlah

responden di SMAN 1 Kalisat memiliki tingkat pendidikan yang cukup tentang

Bantuan Hidup Dasar. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Hasanah (2015) yang mendapatkan sebanyak 23 responden (76,6%) memiliki

tingkat pengetahuan cukup. Penelitian yang dilakukan oleh Astutik (2017) juga

mendapatkan hasil bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan cukup

sebanyak 20 responden (40,8%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang

sebanyak 3 responden (6,1%).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah melakukan pengindraan

terhadap suatu objek tertentu yang dilakukan oleh lima panca indera manusia

yaitu indra pendengaran, indra penglihatan, indra penciuman, indra perasa, dan

indra peraba. Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia membutuhkan sebua proses
yang sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek

tertentu (Notoadmojo, 2012). Pengetahuan adalah kemampuan untuk mengatakan

kembali dari ingatan hal-hal khusus dan umum, metode dan proses atau

mengingat suatu pola, susunan, gejala atau peristiwa (Khairani, 2012).

Pengetahuan merupakan hasil dari informasi berupa common sense yyang tidak

memiliki metode serta mekanisme tertentu (Besung, 2007). Pengetahuan yang

dimiliki oleh seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti pendidikan,

media masa, social budaya, ekonomi, lingkungan, pengalaman dan usia

(Notoadmojo, 2011). Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden pada

penelitian ini lebih dari 50 persen memiliki tingkat pengetahuan yang cukup.

Peneliti berasumsi bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh responden

tersebut didapatkan setelah melakukan proses pengindraan terhadap berbagai

informasi yang telah diperoleh. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh

responden tersebut dapat dipengaruhi oleh usia, lingkungan dan pengalaman

responden.

Tingkat pengetahuan tentang BHD memiliki 6 indikator diantaranya

definisi BHD, airway, breathing, circulating dan bleeding, disability, expose,

environment. Pada penelitian ini yang memiliki nilai rata-rata tertinggi adalah

indikator nomor 1 (definisi BHD) dan nomor 4 (circulating dan bleeding) yang

berarti pada penelitian ini responden paling banyak menjawab pertanyaan yang

ada dalam indikator nomor 1 dan 4. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Erawati (2015), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mayoritas

responden memiliki pengetahuan yang baik tentang definisi BHD. Keterampilan


BHD menjadi penting karena didalamnya diajarkan tentang bagaimana teknik

dasar penyelamatan korban dari berbagai kecelakaan atau musibah sehari-hari

yang biasa dijumpai (Fajarwati, 2015). Sejak 1961 Norwegia telah mewajibkan

RJP menjadi kurikulum wajib di Sekolah Menengah Atas, dan negara-negara di

Eropa lainnya sudah membiasakan siswa lulusan SMA untuk menguasai Bantuan

Hidup Dasar, (Colquhoun, 2012).

Sedangkan nilai rata-rata terendah ada pada indikator nomor 6 yang berarti

dalam penelitian ini responden paling banyak menjawab salah pada pertanyaan

yang ada dalam indikator nomor 6 terkait expose dan environment. Indikator

expose dan environment digali dalam pertanyaan nomor 24 (memberikan posisi

miring kepada korban saat korban menunjukkan tanda-tanda perbaikan), 28

(pengecekan lebih lanjut akan adanya memar ataupun perdarahan ke bagian tubuh

yang tidak terekspos), dan 30 (membawa korban kerumah sakit atau tidak).

Responden banyak menjawab salah di ketiga pertanyaan tersebut. Hal inilah yang

,membuat nilai rata-ratanya menjadi rendah. Peneliti berasumsi bahwa responden

menjawab salah di ketiga pertanyaan tersebut karena sebagian besar responden

belum pernah melakukan pertolongan terhadap korban kecelakaan atau bencana.

Berdasarkan tanya jawab dengan responden diketahui bahwa ketika ada

kecelakaan dan ada korban mereka hanya melihat dan tidak membantu secara

langsung karena mereka takut dan merasa itu bukan tugas mereka. Selain itu

mereka juga menyampaikan bahwa mereka takut disalahkan jika terjadi hal-hal

yang tidak diinginkan terhadap korban.