Anda di halaman 1dari 53

TUGAS

KIMIA ANALITIK
“ALKALIMETRI”

Kelompok 2
1. Afriani Bahtiar (PO713203181002)
2. Alan Dwi Saputra
3. Ananda Dwijayanti Putri
4. Hardiyanti Amanda
Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang


Maha Esa, karena rahmatNya lah kami
dapat menyelesaikan tugas ini yang
berjudul “Alkalimetri”
Dalam penyusunan ini, tidak sedikit
kesulitan dan hambatan yang kami alami,
namun berkat dukungan, dorongan dan
semangat dari orang terdekat, sehingga
kami mampu menyelesaikannya. Oleh
karena itu kami pada kesempatan ini
mengucapkan terima kasih.
Kami menyadari bahwa masih
banyak kekurangan dalam tugas ini.
Oleh karena itu segala kritikan dan saran
yang membangun akan kami terima
dengan baik. Semoga tugas "Alkalimetri"
ini bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 28 Juli 2019

Penulis,

i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ..........................................................
DAFTAR ISI .......................................................................
DAFTAR TABEL .................................................................
DAFTAR GAMBAR ...........................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................
A. Pendahuluan ..........................................................
BAB II Isi dan Pembahasan ...............................................
A. Pengertian Titrasi ...................................................
B. Pengertian Asidi-Alkalimetri.....................................
C. PengertianIndikator .................................................
D. Pengertian Alkalimetri..............................................
E. Rumus Umum Titrasi ...............................................
BAB II Penutup ..................................................................
A. Kesimpulan ............................................................
B. Saran ......................................................................
C. Lampiran ................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................

ii
Daftar Tabel
Tabel 3.1 Indikator Asam Basa ...........................................

iii
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Rangkaian alat Titrasi .....................................

3
Bab I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kimia merupakan aspek yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.
Baik secara inplisit maupun eksplisit. Ini
dikarenakan kimia dapat ditemukan
dimana saja, mulai dari hal-hal yang
sederhana seperti air, sampai dengan hal
yang kompleks seperti baja dan besi. Hal
inilah yang mendasari pendalaman ilmu
kimia ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu
kimia analisis. Kimia Analitik merupakan
salah satu cabang Ilmu Kimia yang
mempelajari tentang pemisahan dan
pengukuran unsur atau senyawa kimia.
Dalam melakukan pemisahan atau
pengukuran unsur atau senyawa kimia,
memerlukan atau menggunakan metode
analisis kimia. Kimia analitik mencakup
kimia analisis kualitatif dan kimia analisis
kuantitatif. Analisis kualitatif menyatakan
keberadaan suatu unsur atau senyawa
dalam sampel, sedangkan analisis
kuantitatif menyatakan jumlah suatu
unsur atau senyawa dalam sampel.
Alkalimetri (Alkali = basa, metri
= pengukuran) diartikan sebagai titrasi

4
untuk penetapan asam dengan standart
basa sebagai alat ukurnya. Faktor utama
dalam menentukan pengukuran adalah
[H+] dan [OH-] dalam larutan, baik
sebagai titrat maupun sebagai titran.
Alkalimetri memiliki kebalikan dalam
titrasi, yaitu asidimetri, dimana
penetapan basa dengan asam standar
sebagai alat ukurnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah metode titrasi
alkalimetri?
2. Aspek apa sajakah yang
diperhatikan ketika melakukan
titrasi alkalimetri?

C. Manfaat
Manfaat yang diperoleh setelah
membaca makalah ini :
1. Dapat mengetahui cara titrasi
alkalimetri dan metodenya
2. Dapat mengetahui detil dalam
perlakuan titrasi alkalimetri
3. Dapat mengetahui reaksi
dalam titrasi alkalimetri

Bab II

5
ISI DAN PEMBAHASAN
1. Pengertian Titrasi
Reaksi penetralan dalam
analisis titrimetri lebih dikenal sebagai
reaksi asam basa. Reaksi ini
menghasilkan larutan yang pH-nya lebih
netral. (Khopkar, 1990) Secara umum
metode titrimetri didasarkan pada reaksi
kimia sebagai berikut:

aA + tT = produk

Dimana a molekul analit A


bereaksi dengan t molekul pereaksi T.
untuk menghasilkan produk yang sifat
pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut
salah satu larutan (larutan standar)
konsentrasi dan pH-nya telah diketahui.
Saat equivalen mol titran sama dengan
mol analitnya begitu pula mol
equivalennya juga berlaku sama
(Khopkar, 1990).
N titran = N analit
N eq titran = N eq analit

dengan demikian secara stoikiometri


dapat ditentukan konsentrasi larutan ke
dua. (Day, dkk, 1986)

6
Dalam analisis titrimetri,
sebuah reaksi harus memenuhi
beberapa persyaratan sebelum reaksi
tersebut dapat dipergunakan,
diantaranya:
- Reaksi itu sebaiknya diproses
sesuai persamaan kimiawi tertentu
dan tidak adanya reaksi
sampingan
- Reaksi itu sebaiknya diproses
sampai benar-benar selesai pada
titik ekivalensi. Dengan kata lain
konstanta kesetimbangan dari
reaksi tersebut haruslah amat
besar besar. Maka dari itu dapat
terjadi perubahan yang besar
dalam konsentrasi analit (atau
titran) pada titik ekivalensi.
- Diharapkan tersedia beberapa
metode untuk menentukan kapan
titik ekivalen tercapai. Dan
diharapkan pula beberapa
indikator atau metode instrumental
agar analis dapat menghentikan
penambahan titran
- Diharapkan reaksi tersebut
berjalan cepat, sehingga titrasi

7
dapat dilakukan hanya beberapa
menit. (Day, dkk, 1986)

Titrasi merupakan suatu


metode untuk menentukan kadar suatu
zat dengan menggunakan zat lain yang
sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi
biasanya dibedakan berdasarkan jenis
reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,

8
sebagai contoh bila melibatan reaksi
asam basa maka disebut sebagai titrasi
asam basa, titrasi redoks untuk titrasi
yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi,
titrasi kompleksometri untuk titrasi yang
melibatkan pembentukan reaksi
kompleks dan lain sebagainya (Day, dkk,
1986).

Gambar 2.1
Rangkaian
Alat Titrasi
(anonim,
2009)

Larutan yang telah diketahui


konsentrasinya disebut dengan titran.
Titran ditambahkan sedikit demi sedikit
(dari dalam buret) pada titrat (larutan
yang dititrasi) sampai terjadi perubahan
warna indikator baik titrat maupun titran
biasanya berupa larutan. Saat terjadi
perubahan warna indikator, maka titrasi
dihentikan. Saat terjadi perubahan warna
indikator dan titrasi diakhiri disebut
dengan titik akhir titrasi dan diharapkan
titik akhir titrasi sama dengan titik
ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi

9
dengan titik ekivalen maka semakin
besar kesalahan titrasi dan oleh karena
itu, pemilihan indikator menjadi sangat
penting agar warna indikator berubah
saat titik ekivalen tercapai. Pada saat
tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7
(netral).
Syarat zat yang bisa dijadikan standar
primer:

- Zat harus 100% murni


- Zat tersebut harus stabil baik pada
suhu kamar ataupun pada waktu
dilakukan pemanasan, standar
primer biasanya dikeringkan
terlebih dahulu sebelum ditimbang
- Mudah diperoleh
- Biasanya zat standar primer
memiliki massa molar (Mr) yang
besar hal ini untuk memperkecil
kesalahan pada waktu proses
penimbangan. Menimbang zat
dalam jumlah besar memiliki
kesalahan relatif yang lebih kecil
dibanding dengan menimbang zat
dalam jumlah yang kecil
- Zat tersebut juga harus memenuhi
persyaratan teknik titrasi (Anonim,

10
2009)

Proses penambahan larutan


standar sampai reaksi tepat lengkap,
disebut titrasi. Titik dimana reaksi itu
tepat lengkap, disebut titik ekivalen
(setara) atau titik akhir teoritis. Pada saat
titik ekivalen ini maka proses titrasi
dihentikan, kemudian kita mencatat
volume titer yang diperlukan untuk
mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titran, volume
dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titran. Lengkapnya
titrasi, harus terdeteksi oleh suatu
perubahan, yang tak dapat disalah lihat
oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan
standar (biasanya ditambahkan dari
dalam sebuah buret) itu sendiri, atau
lebih lazim lagi, oleh penambahan suatu
reagensia pembantu yang dikenal
sebagai indikator (Anonim, 2009)
Untuk menetapkan titik akhir
pada proses netralisasi ini digunakan
indikator. Menurut W. Ostwald, indikator
adalah suatu senyawa organik kompleks
dalam bentuk asam atau dalam bentuk
basa yang mampu berada dalam

11
keadaan dua macam bentuk warna yang
berbeda dan dapat saling berubah warna
dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada
konsentrasi H+ tertentu atau pada pH
tertentu (Harjadi, 1986).
Jalannya proses titrasi
netralisasi dapat diikuti dengan melihat
perubahan pH larutan selama titrasi,
yang terpenting adalah perubahan pH
pada saat dan di sekitar titik ekuivalen
karena hal ini berhubungan erat dengan
pemilihan indikator agar kesalahan titrasi
sekecil-kecilnya (Harjadi, 1986).
Larutan asam bila direaksikan
dengan larutan basa akan menghasilkan
garam dan air. Sifat asam dan sifat basa
akan hilang dengan terbentuknya zat
baru yang disebut garam yang memiliki
sifat berbeda dengan sifat zat asalnya.
Karena hasil reaksinya adalah air yang
memiliki sifat netral yang artinya jumlah
ion H+ sama dengan jumlah ion OH-
maka reaksi itu disebut dengan reaksi
netralisasi atau penetralan. Pada reaksi
penetralan, jumlah asam harus ekivalen
dengan jumlah basa. Untuk itu perlu
ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik
ekivalen adalah keadaan dimana jumlah

12
mol asam tepat habis bereaksi dengan
jumlah mol basa. Untuk menentukan titik
ekivalen pada reaksi asam-basa dapat
digunakan indikator asam-basa.
Ketepatan pemilihan indikator
merupakan syarat keberhasilan dalam
menentukan titik ekivalen. Pemilihan
indikator didasarkan atas pH larutan hasil
reaksi atau garam yang terjadi pada saat
titik ekivalen (Harjadi, 1986).
Salah satu kegunaan reaksi
netralisasi adalah untuk menentukan
konsentrasi asam atau basa yang tidak
diketahui. Penentuan konsentrasi ini
dilakukan dengan titrasi asam-basa.
Titrasi adalah cara penentuan
konsentrasi suatu larutan dengan volume
tertentu dengan menggunakan larutan
yang sudah diketahui konsentrasinya.
Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa
maka disebut dengan titrasi adisi-
alkalimetri (Harjadi, 1986).
3. Rumus umum Titrasi
Pada saat titik ekuivalen maka
mol-ekuivalen asam akan sama dengan
mol-ekuivalen basa (Valcarcel, 2000),
maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:

13
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen
basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari
hasil perkalian antara normalitas (N)
dengan volume (Valcarcel, 2000), maka
rumus diatas dapat ditulis sebagai
berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil
perkalian antara molaritas (M) dengan
jumlah ion H+ pada asam atau jumlah
ion OH- pada basa (Valcarcel, 2000),
sehingga rumus diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x
V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH-
(pada basa)
2. Pengertian Asidi-Alkalimetri
Asidi dan alkalimetri ini
melibatkan titrasi basa yang terbentuk
karena hidrolisis garam yang berasal dari
asam lemah (basa bebas) dengan suatu
asam standar (asidimetri), dan titrasi
asam yang terbentuk dari hidrolisis

14
garam yang berasal dari basa lemah
(asam bebas) dengan suatu basa
standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion
hidrogen dan ion hidroksida untuk
membentuk air merupakan akibat reaksi-
reaksi tersebut (Ham, 2006).
Titrasi asam basa melibatkan
asam maupun basa sebagai titer ataupun
titran. Titrasi asam basa berdasarkan
reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan
basa dan sebaliknya. reaksi). Keadaan
ini disebut sebagai “titik ekivalen” (Pierce,
1967).
Pada saat titik ekivalen ini
maka proses titrasi dihentikan, kemudian
kita mencatat volume titer yang
diperlukan untuk mencapai keadaan
tersebut. Dengan menggunakan data
volume titran, volume dan konsentrasi
titer maka kita bisa menghitung kadar
titran (Pierce, 1967).
Ada dua cara umum untuk
menentukan titik ekivalen pada titrasi
asam basa, yaitu:
1. Memakai pH meter untuk
memonitor perubahan pH selama titrasi
dilakukan, kemudian membuat plot

15
antara pH dengan volume titran untuk
memperoleh kurva titrasi. Titik tengah
dari kurva titrasi tersebut adalah titik
ekuivalen.
2. Memakai indikator asam
basa. Indikator ditambahkan pada titran
sebelum proses titrasi dilakukan.
Indikator ini akan berubah warna ketika
titik ekuivalen teradi, pada saat inilah
titrasi kita hentikan (Pierce, 1967).
3. Pengertian Indikator
Untuk memperoleh ketepatan
hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih
sedekat mungkin dengan titik ekivalen,
hal ini dapat dilakukan dengan memilih
indikator yang tepat dan sesuai dengan
titrasi yang akan dilakukan. (Ham, 2006).
Keadaan dimana titrasi
dihentikan dengan cara melihat
perubahan warna indikator disebut
sebagai titik akhir titrasi (Anonim, 2009).
Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana
reaksi telah berjalan dengan sempurna
yang biasanya ditandai dengan
pengamatan visual melalui perubahan
warna indikator. Indikator yang
digunakan pada titrasi asam basa adalah
asam lemah atau basa lemah. Asam

16
lemah dan basa lemah ini umumnya
senyawa organik yang memiliki ikatan
rangkap terkonjugasi yang
mengkontribusi perubahan warna pada
indikator tersebut. Jumlah indikator yang
ditambahkan kedalam larutan yang akan
dititrasi harus sesedikit mungkin,
sehingga indikator tidak mempengaruhi
pH larutan dengan demikian jumlah titran
yang diperlukan untuk terjadi perubahan
warna juga seminimal mungkin.
Umumnya dua atau tiga tetes larutan
indikator 0,1% ( b/v ) diperlukan untuk
keperluan titrasi. Dua tetes ( 0,1 ml )
indikator ( 0,1% dengan berat formula
100 ) adalah sama dengan 0,01 ml
larutan titran dengan konsentrasi 0,1 M
(Pierce, 1967).
Indikator asam basa akan
memiliki warna yang berbeda dalam
keadaan tak terionisasi dengan keadaan
terionisasi. Sebagai contoh untuk
indikator phenolphthalein ( pp ) seperti di
atas dalam keadaan tidak terionisasi
( dalam larutan asam ) tidak akan
berwarna ( colorless ) dan akan
berwarna merah keunguan dalam

17
keadaan terionisasi ( dalam larutan basa )
(Pierce, 1967).
Warna yang akan teramati
pada penentuan titik akhir titrasi adalah
warna indikator dalam keadaan
transisinya. Untuk indikator
phenolphthalein karena indikator ini
bertransisi dari tidak berwarna menjadi
merah keungguan maka yang teramati
untuk titik akhir titrasi adalah warna
merah muda. Contoh lain adalah metil
merah. Oleh karena metil merah
bertransisi dari merah ke kuning, maka
bila indikator metil merah dipakai dalam
titrasi maka pada titik akhir titrasi warna
yang teramati adalah campuran merah
dengan kuning yaitu menghasilkan warna
orange (Anonim, 2009).
Tabel 3.1 Indikator Asam Basa

KUANTITAS
RENTANG
INDIKATOR PENGGUNAAN PER
PH
10 ML

Timol biru 1,2-2,8 1-2 tetes 0,1% larutan


Pentametoksi 1 tetes 0,1% dlm
1,2-2,3
merah larutan 0% alkohol

18
Tropeolin OO 1,3-3,2 1 tetes 1% larutan
1-2 tetes 0,1% larutan
2,4-Dinitrofenol 2,4-4,0
dlm 50% alcohol
1 tetes 0,1% larutan
Metil kuning 2,9-4,0
dlm 90% alkohol
Metil oranye 3,1-4,4 1 tetes 0,1% larutan
Bromfenol biru 3,0-4,6 1 tetes 0,1% larutan
Tetrabromfenol
3,0-4,6 1 tetes 0,1% larutan
biru
Alizarin natrium
3,7-5,2 1 tetes 0,1% larutan
sulfonat
1 tetes 0,1% larutan
α-Naftil merah 3,7-5,0
dlm 70% alkohol
p-Etoksikrisoidin 3,5-5,5 1 tetes 0,1% larutan
Bromkresol hijau 4,0-5,6 1 tetes 0,1% larutan
Metil merah 4,4-6,2 1 tetes 0,1% larutan
Bromkresol ungu 5,2-6,8 1 tetes 0,1% larutan
Klorfenol merah 5,4-6,8 1 tetes 0,1% larutan
Bromfenol biru 6,2-7,6 1 tetes 0,1% larutan

19
p-Nitrofenol 5,0-7,0 1-5 tetes 0,1% larutan

Azolitmin 5,0-8,0 5 tetes 0,5% larutan


Fenol merah 6,4-8,0 1 tetes 0,1% larutan
1 tetes 0,1% larutan
Neutral merah 6,8-8,0
dlm 70% alkohol
1 tetes 0,1% larutan
Rosolik acid 6,8-8,0
dlm 90% alkohol
Kresol merah 7,2-8,8 1 tetes 0,1% larutan
1-5 tetes 0,1% larutan
α-Naftolftalein 7,3-8,7
dlm 70% alcohol

Tropeolin OOO 7,6-8,9 1 tetes 0,1% larutan

Timol biru 8,0-9,6 1-5 tetes 0,1% larutan


1-5 tetes 0,1% larutan
Fenolftalein (pp) 8,0-10,0
dlm 70% alcohol
1-5 tetes 0,1% larutan
α-Naftolbenzein 9,0-11,0
dlm 90% alcohol
1 tetes 0,1% larutan
Timolftalein 9,4-10,6
dlm 90% alkohol

20
Nile biru 10,1-11,1 1 tetes 0,1% larutan
Alizarin kuning 10,0-12,0 1 tetes 0,1% larutan
1-5 tetes 0,1% larutan
Salisil kuning 10,0-12,0
dlm 90% alcohol
Diazo ungu 10,1-12,0 1 tetes 0,1% larutan

Tropeolin O 11,0-13,0 1 tetes 0,1% larutan

1-2 tetes 0,1% larutan


Nitramin 11,0-13,0
dlm 70% alcohol
Poirrier's biru 11,0-13,0 1 tetes 0,1% larutan
Asam
12,0-13,4 1 tetes 0,1% larutan
trinitrobenzoat

5. Pengertian Alkalimetri
Alkalimetri merupakan
penetapan kadar senyawa-senyawa
yang bersifat asam dengan
menggunakan baku basa. Basa yang
digunakan biasanya adalah natrium
hidroksida (NaOH). Sebelum digunakan,
larutan NaOH harus distandarisasi
dahulu dengan asam oksalat (H2C2O4).
Hidroksida-hidroksida dari natrium,

21
kalium dan barium umumnya digunakan
sebagai larutan standar alkalis (basa).
Ketiganya merupakan basa kuat dan
sangat mudah larut dalam air.
Pembuatan larutan standar alkalis dan
amonium hidroksida tidak dibenarkan,
kecuali bersifat sebagai basa lemah,
pada proses pelarutan dilepaskan gas
amonia (beracun).
Natrium hidroksida paling
sering digunakan karena murah dan
kemurniannya tinggi. Oleh karena
sifatnya yang sangat higroskopis, maka
diperlukan ketelitian pada proses
penimbangan. Pada saat penimbangan
gunakan botol timbang bertutup untuk
mengurangi kesalahan. Standarisasi
larutan NaOH dapat dilakukan dengan
larutan asam oksalat sesuai dengan
reaksinya sebagai berikut
NaOH (aq) + H2C2O4 (aq) →
Na2C2O4 (aq) + 2 H2O (l)
Titrasi alkalimetri adalah suatu
proses titrasi untuk penentuan
konsentrasi suatu asam dengan
menggunakan larutan basa sebagai
standar. Reaksi yang terjadi pada
prinsipnya adalah reaksi netralisasi, yaitu

22
pembentukan garam dan H2O netral (pH
= 7) hasil reaksi antara H+ dari suatu
asam dan OH- dari suatu basa.
Reaksi berlangsung
stoikiometri apabila mgrek pentitrasi
sama dengan mgrek titran, saat ini
disebut dengan titik ekivalen. Dalam
praktek kondisi ini tidak bisa dilihat
secara visual tetapi dapat dilihat dengan
bantuan indikator (asam-basa) yang
mempunyai warna yang spesifik pada ph
tertentu. Seperti indicator phenolftalein
(pp) akan berwarna pink pada ph 8,3-10.
Saat tercapainya perubahan warna pada
titran disebut dengan titik titrasi.
Asidimetri dan alkalimetri
termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi
antara ion hidrogen yang berasal dari
asam dengan ion hidroksida yang
berasal dari basa untuk menghasilkan air
yang bersifat netral. Netralisasi dapat
juga dikatakan sebagai reaksi antara
pemberi proton (asam) dengan penerima
proton (basa)
Reaksi dijalankan secara
titrasi, yaitu suatu larutan ditambahkan
dari buret sedikit demi sedikit, sampai
jumlah zat-zat yang direaksikan tepat

23
menjadi ekivalen satu sama lain. Pada
saat titran yang ditambahkan tampak
telah ekivalen, maka penambahan titran
harus dihentikan, saat ini dinamakan titik
akhir titrasi. Larutan yang ditambahkan
dalam buret disebut titran, sedangkan
larutan yang ditambahkan titran itu
disebut titrat. (http://osun.org/titrasi-
alkalimetri-pdf-3.html)
Untuk menetapkan titik akhir
pada proses netralisasi ini digunakan
indikator. Menurut W. Ostwald, indikator
adalah suatu senyawa organik kompleks
dalam bentuk asam (Hin) atau dalam
bentuk basa (InOH) yang mampu berada
dalam keadaan dua macam bentuk
warna yang berbeda dan dapat saling
berubah warna dari warna satu ke warna
yang lain. Jalannya proses titrasi
netralisasi dapat diikuti dengan melihat
perubahan pH larutan selama titrasi,
yang terpenting adalah perubahan pH di
sekitar titik ekuivalen karena hal ini
berhubungan erat dengan pemilihan
indikator agar kesalahan titrasi sekecil-
kecilnya.
1. TUJUAN

24
Menentukan kadar Asam Asetat
(CH3COOH)
2. PRINSIP
Berdasarkan reaksi netralisasi antara
asam dan basa.
3. REAKSI
CH3COOH(aq)+ NaOH(aq) –
>CH3COONa(aq) + H2O(l)
C2H2O4 (aq) + 2 NaOH(aq) –> Na2C2O4
(Aq)+ H2O(l)

25
IV. TEORI

Alkalimetri merupakan metode titrasi


asam-basa dengan menggunakan
larutan baku sekunder basa dan larutan
baku primer asam
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
dapat dilakukan analisis volumetrik
adalah sebagai berikut :

26
Reaksinya harus berlangsung sangat
cepat.
Reaksinya harus sederhana serta dapat
dinyatakan dengan persamaan reaksi
yang kuantitatif/stokiometrik.
Harus ada perubahan yang terlihat pada
saat titik ekuivalen tercapai, baik secara
kimia maupun secara fisika.
Harus ada indicator jika reaksi tidak
menunjukkan perubahan kimia atau
fisika. Indikator potensiometrik dapat pula
digunakan.
Alat-alat yang digunakan pada analisa
titrimetri ini adalah sebagai berikut :
Alat pengukur volume kuantitatif seperti
buret, labu ukur, dan pipet volume yang
telah di kalibrasi.
Larutan standar yang telah diketahui
konsentrasinya secara teliti atau baku
primer dan sekunder dengan kemurnian
tinggi.
Indikator atau alat lain yang dapat
menunjukkan titik akhir titrasi telah di
capai.

27
Larutan baku (standar) adalah larutan
yang telah diketahui konsentrasinya
secara teliti, dan konsentrasinya biasa
dinyatakan dalam satuan N (normalitas)
atau M (molaritas).
Larutan standar sekunder adalah larutan
yang konsentrasinya diperoleh dengan
cara mentitrasi dengan larutan standar
primer, biasanya melalui metode
titrimetri. Contoh: AgNO3, KMnO4,
Fe(SO4)2. Zat yang dapat digunakan
untuk larutan baku sekunder, biasanya
memiliki karakteristik seperti di bawah ini:
Tidak mudah diperoleh dalam bentuk
murni ataupun dalam keadaan yang
diketahui kemurniannya.

28
Zatnya tidak mudah dikeringkan,
higrokopis, menyerap uap air, menyerap
CO2 pada waktu penimbangan
Derajat kemurnian lebih rendah daripada
larutan baku primer
Mempunyai BE yang tinggi untuk
memperkecil kesalahan penimbangan
Larutannya relatif stabil dalam
penyimpanan
Larutan baku dapat dibuat dengan cara
penimbangan zatnya lalu dilarutkan
dalam sejumlah pelarut(air). Larutan
baku ini sangat bergantung pada jenis
zat yang ditimbangnya/dibuat.
Syarat-syarat larutan baku primer :
Larutan yang dibuat dari zat yang
memenuhi syarat-syarat tertentu .Syarat
agar suatu zat menjadi larutan baku
primer adalah:
Mudah diperoleh, dimurnikan,
dikeringkan (jika mungkin pada suhu
110-1200C) dan disimpan dalam keadaan
murni.
Tidak bersifat higroskopis dan tidak
berubah berat dalam penimbangan di
udara.

29
Zat tersebut dapat diuji kadar
pengotornya dengan uji kualitatif dan
kepekaan tertentu.
Sedapat mungkin mempunyai massa
relatif dan massa ekivalen yang besar,
sehingga kesalahan karena
penimbangan dapat diabaikan.
Zat tersebut harus mudah larut dalam
pelarut yang dipilih
Reaksi yang berlangsung dengan
pereaksi tersebut harus bersifat
stoikiometrik dan langsung. kesalahan
titrasi harus dapat diabaikan atau dapat
ditentukan secara tepat dan mudah.
Larutan baku primer biasanya dibuat
hanya sedikit, penimbangan yang
dilakukanpun harus teliti, dan dilarutkan
dengan volume yang akurat. Pembuatan
larutan baku primer ini biasanya
dilakukan dalam labu ukur yang
volumenya tertentu. Zat yang dapat
dibuat sebagai larutan baku primer
adalah asam oksalat, Boraks, asam
benzoat (C6H5COOH), K2Cr2O7, AS2O3,
NaCl.

30
Konsentrasi larutan baku yang digunakan
dapat berupa molaritas(jumlah mol zat
terlarut dalam satu liter larutan) dan
normalitas(jumlah ekivalen zat terlarut
dalam satu liter larutan). Satuan
molaritas merupakan satuan dasar yang
digunakan secara internasional,
sedangkan satuan normalitas biasa juga
dilakukan dalam analisis karena dapat
memudahkan perhitungan.
Indikator adalah zat yang ditambahkan
untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah

31
di capai. Umumnya indicator yang
digunakan adalah indicator azo dengan
warna yang spesifik pada berbagai
perubahan pH.
Kadang-kadang kita perlu mengetahui
tidak hanya atau sekedar pH, akan tetapi
perlu kita ketahui juga berapa banyak
asam atau basayang terdapat didalam
sampel. Sebagai contoh, seorang ahli
kimia lingkungan mempelajari suatu
danau dimana ikan-ikannya mati. Dia
harus mengetahui secara pasti seberapa
banyak asam yang terkandung dalam
suatu sampel air danau tersebut. Titrasi
melibatkan suatu proses penambahan
suatu larutan yang disebut tirant dari
buret ke suatu flask yang berisi sampel
dan disebut analit. Berhasilnya titrasi
asam-basa tergantung pada seberapa
akurat kita dapat mendeteksi titik
stoikiometri. Pada titik tersebut, jumlah
mol dari H3O+ dan OH– yang
ditambahkan sebagai titrant adlah sama
dengan jumlah mol dari OH- atau
H3O+ yang terdapat dalam analit. Pada
titik stoikiometri, larutan terdiri dari garam
dan air. Larutan tersebut adalah asam
apabila ion asam yang terkandung

32
didalamnya, dan basa apabila ion basa
yang terkandung didalamnya (Atkins,
1997 : 550).
Misalkan kita ingin menentukan molaritas
dari suatu larutan HCl yang tidak
diketahui konsentrasinya. Kita bisa
menentukan konsentrasi HCl tersebut
melalui suatu prosedur yang disebut
titrasi, dimana kita menetralisasi suatu
asam dengan suatu basa yang telah
diketahui konsentrasinya. Pada titrasi,
pertama-tama kita menempatkan suatu
asam yang volumenya telah ditentukan
ke dalam suatu flask. Dan tambahkan
beberapa tetes indikator seperti
penolftalein, kedalam larutan asam.
Dalam larutan asam, penolftalein tidak
berwarna. Kemudian, buret kita isi
dengan larutan NaOH yang
konsentrasinya telah diketahui. dan
dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke
asam pada flask. Kita bisa mengetahui
bahwa netralisasi telah berlangsung
ketika penolftalein dalam larutan berubah
warna menjadi merah muda. Ini disebut
titik akhir netralisasi. Dari volume yang
ditambahkan dan molar NaOH, kita dapat

33
menentukan konsentrasi asam
(Timberlake, 2004 : 354-355)

V. ALAT DAN BAHAN


Alat
Labu ukur 250 mL
Erlenmayer
Buret
Kertas putih
Pipet Volume
Pipet gondok
Corong
Neraca Analitik
2. Bahan

34
0,1575 g Asam oksalat ( H2C2O4.2H2O)
Larutan Baku Sekunder Natrium
Hidroksida (NaOH) 0,01 N
Larutan Sampel CH3COOH (BM=60,05)
Indikator Phenolptalein
Aquadest
VI. PROSEDUR
Pembuatan larutan baku primer
Asam oksalat ditimbang seberat 0,1575 g
di atas neraca analitik
Dimasukkan kedalam labu ukur 250 mL
Ditambahkan aquadest sampai tanda
kalibrasi
Labu ditutup dan dikocok
Pembakuan NaOH dengan H2C2O4.2H2O
25 mL larutan Asam olksalat di pipet
Dimasukkan kedalam erlenmayer
Ditambahkan 3 tetes indikator
phenoptalein
Dititrasi dengan menggunakan larutan
NaOH 0,01 N sampai larutan berwarna
merah jambu
Volume pemakaian NaOH dicatat
Titrasi diulangi sekali lagi
Dihitung Normalitasnya
Penentuan kadar CH3COOH
Dipipet 25 mL larutan CH3COOH
Dimasukkan kedalam erlenmayer

35
Ditambahkan 3 tetes indikator
phenoptalein
Dititrasi dengan menggunakan larutan
NaOH 0,01 N sampai larutan berwarna
merah jambu
Volume pemakaian NaOH dicatat
Kadar CH3COOH ditentukan dalam %
(b/v)
VII. DATA PENGAMATAN
Pembakuan NaOH dengan H2C2O4.2H2O
No Volume H2C2O4.2H2O Volume NaO
1 25 mL 32,00 mL
2 25 mL 31,21 mL
Rata-rata 25 mL 31,6 mL
Penentuan kadar CH3COOH
No Volume H2C2O4.2H2O Volume NaO
1 25 mL 36,5 mL
2 25 mL 36.5 mL
Rata-rata 25 mL 36,5 mL
VIII. PERHITUNGAN
Pembakuan NaOH dengan H2C2O4.2H2O
BE = bobot molekul : valensi
N= (g:v) x (1000:250 ml) = 0,01 N

36
VNaOH N NaOH = Vasam oksalat . Nasam
oksalat
31,6 mL . NNaoH = 25 mL. 0,01 N
NNaoH = 0,007911 N
Penentuan kadar CH3COOH
V1 N1 = V2 N2
25 mL . NAsam Asetat = 36,5 mL.
0,007911 N
N Asam Asetat = 0,01155 N
M= 0,01155 N
% kadar CH3COOH (b/v) = N x BM x
(100:1000)
= 0,01155 x 60,05 x (100:1000)
= 0,0693 %
Maka, Kadar CH3COOH adalah 0,0693
% (b/v)

6. Konsep teori asam basa

a. Menurut Archenius (akhir abad ke-


19)
Asam adalah suatu senyawa yang
bila dilarutkan dalam air akan
melepaskan H+ sebagai satu-
satunya ion positif.
Contoh: HCl, HNO3, CH3COOH,
dan lain-lain.

37
HCl merupakan asam kuat,
dimana dalam air akan terdisosiasi
sempurna:
HCl H+ + Cl-
+
H + HO 2 H3O+
Dari reaksi ini terlihat bahwa H+
tidak terdapat bebas dalam air
melainkan terikat pada molekul
H2O (kelemahan teori Archenius).
Basa adalah suatu senyawa yang
bila dilarutkan dalam air, akan
melepaskan ion OH-.

b. Menurut Bronsted dan Lowry


Asam adalah suatu senyawa yang
dapat memberikan proton, disebut
sebagai donor proton. Basa
adalah suatu senyawa yang dapat
menerima proton, disebut sebagai
akseptor proton.
Asam proton +
Basa konjugasi
A H+ + B
Jadi suatu asam dapat berbentuk:
Molekul, misalnya: H2SO4,
HCl, CH3COOH
Anion, misalnya: HSO4-,
H2PO4-, CH3COO-,COO-

38
Kation, misalnya: NH4+,
C6H5NH3+, Fe (H2O)3+
Suatu basa juga dapat berbentuk:
Molekul, misalnya: NH3,
C2H5NH2, H2O
Anion, misalnya: CH3COO-
, OH , HPO4-2, C2H5O-
-

Kation, misalnya: Fe
(H2O)5 (OH)2+
Reaksi ini hanya terjadi bila ada
suatu basa yang dapat menerima
proton dari asam:
A1 B 1 + H+
B2 + H+ A2
A1 + B 2 A2 + B 1
A1- B1 dan A2- B2 adalah
pasangan-pasangan konjugasi
asam-basa. Perpindahan proton
terjadi dari A1 ke B2 atau dari A2
ke B1. Asam kuat melepaskan
proton dengan segera sedangkan
basa kuat dapat menerima proton
dengan segera pula.
c. Menurut G.N. Lewis
Asam adalah suatu senyawa yang
dapat menerima sepasang
electron bebas, disebut sebagai

39
akseptor pasangan electron
bebas.
d. Menurut Boyle
Asam adalah suatu zat yang
mempunyai daya kemampuan
melarutkan tinggi.
e. Menurut Roult
Basa adalah setiap zat yang
bereaksi dengan asam
membentuk garam
Reaksi = Basa + Asam
Garam + H2O
f. Menurut Liebeg
Asam adalah senyawa yang
mengandung H, yang dapat
digantikan oleh logam yang akan
menghasilkan garam.
Contoh: 2HCl + Na NaCl
+ H2

Bab III
PENUTUP

40
A. KESIMPULAN
Titrasi asam basa sering
disebut asidimetri-alkalimetri. Reaksi
dasar dalam titrasi asam-basa adalah
netralisasi atau penetralan, yaitu reaksi
asam dan basa, yang dapat dinyatakan
dalam persamaan reaksi seperti berikut :
H+ + OH-
→ H2O
Bila kita mengukur berapa ml
larutan asam bertitar tertentu yang
diperlukan untuk menetralkan larutan
basa yang kadar atau titernya belum
diketahui, maka pekerjaan itu disebut
asidimetri. Peniteran sebaliknya, asam
dengan basa yang titernya diketahui
disebut alkalimetri.
Dalam titrasi sampel
direaksikan dengan suatu pereaksi
sehingga jumlah kedua zat tersebut
ekivalen. Bila pereaksi digunakan dalam
bentuk padat, maka beratnya harus
diketahui dengan tepat. Bila pereaksi
digunakan dalam bentuk larutan, maka
volume dan konsentrasinya harus
diketahui dengan tepat. Larutan yang
diketahui konsentrasinya disebut larutan
baku atau larutan standar. Larutan

41
standar dibagi menjadi dua yaitu, larutan
standar primer dan larutan standar
sekunder. Larutan standar primer adalah
larutan yang kadarnya dapat diketahui
secara langsung dari hasil penimbangan.
Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7.
Pelaksanaan penentuan kadar
zat dengan jalan titrasi yaitu, larutan
peniter diteteskan sedikit demi sedikit
kedalam larutan contoh sampai tercapai
titik akhir titrasi yaitu, titik dimana
indikator tepat berubah warna.
Hendaknya diusahakan agar titik akhir ini
sedekat mungkin pada titik ekivalen yaitu,
titik dimana titran dan titrat tepat saling
menghabiskan, tidak ada kelebihan yang
satu maupun yang lain.
Dalam penentuan titik akhir
titrasi digunakan indikator yaitu,
senyawaan yang digunakan sebagai
penunjuk visiual pada saat tercapainya
titik setara titrasi antara dua larutan
tertentu. Dalam asidi-alkalimetri indikator
yang digunakan adalah indikator pH yaitu
zat yang dapat berubah warna apabila
pH lingkungannya berubah.

42
Dari uraian makalah ini, dapat
diambil kesimpulan bahwa alkalimetri
merupakan penetapan kadar senyawa-
senyawa yang bersifat asam dengan
menggunakan baku basa. Titrasi yang
melibatkan asam basa dipergunakan
secara meluas dalam analisis kuantitatif.
Faktor utama dalam menentukan
pengukuran adalah [H+] dan [OH-] dalam
larutan, baik sebagai titrat maupun
sebagai titran. Dalam titrasi alkalimetri,
didalam titrat asam sudah mempunyai
harga pH tertentu. Perjalanan titrasi
dengan penambahan titran yang akan
menyebabkan perubahan pH, yang pada
suatu saat nanti dimana M eq titrat = M
eq titran akan mempunyai pH tertentu.
Dalam reaksi alkalimetri
penetapan kadar ditentukan oleh larutan
baku primer dan larutan baku sekunder.
Dan reaksi alkalimetri dan untuk untuk
mengetahui konsentrasi H+ pada pH
dalam larutan itu diperlukan suatu
indikator diantaranya indikator
phenolphtalein, jingga metil, merah
kresol dan sebagainya. Indikator adalah
suatu senyawa kompleks organik, dapat
dalam bentuk asam (Hin) ataupun basa

43
(InOH) yang mampu berada dalam
keadaan dua bentuk warna yang
berbeda dan dapat saling berubah warna
dari bentuk satu kebentuk yang lain pada
konsentrasi H+ pada pH tertentu.
B. Saran
Metode alkalimetri dilakukan
untuk mengetahui penetapan kadar
asam dari suatu sample dengan larutan
basa yang sesuai. Metode alkalimetri
juga ditemukan dalam titrasi asam-basa
yang mendasar pada reaksi netralisasi
yaitu reaksi antara ion hidrogen dan ion
hydroksida yang membentuk molekul air.
Pemahaman reaksi ini harus dimengerti
karena dalam ilmu kimia analisis reaksi
ini diperlukan jika kita dihadapkan
dengan suatu permasalahan yaitu
penetapan kadar asam dari suatu sample
yang akan digunakan.

LAMPIRAN

44
45
Gambar 2.1 Rangkaian Alat Titrasi
(anonim, 2009)

Tabel 3.1 Indikator Asam Basa

KUANTITAS
RENTANG
INDIKATOR PENGGUNAAN PER
PH
10 ML

Timol biru 1,2-2,8 1-2 tetes 0,1% larutan


Pentametoksi 1 tetes 0,1% dlm larutan
1,2-2,3
merah 0% alcohol
Tropeolin OO 1,3-3,2 1 tetes 1% larutan
1-2 tetes 0,1% larutan
2,4-Dinitrofenol 2,4-4,0
dlm 50% alkohol
1 tetes 0,1% larutan dlm
Metil kuning 2,9-4,0
90% alcohol
Metil oranye 3,1-4,4 1 tetes 0,1% larutan
Bromfenol biru 3,0-4,6 1 tetes 0,1% larutan
Tetrabromfenol
3,0-4,6 1 tetes 0,1% larutan
biru
Alizarin natrium 3,7-5,2 1 tetes 0,1% larutan

46
sulfonat
1 tetes 0,1% larutan dlm
α-Naftil merah 3,7-5,0
70% alkohol
p-Etoksikrisoidin 3,5-5,5 1 tetes 0,1% larutan
Bromkresol hijau 4,0-5,6 1 tetes 0,1% larutan
Metil merah 4,4-6,2 1 tetes 0,1% larutan
Bromkresol ungu 5,2-6,8 1 tetes 0,1% larutan
Klorfenol merah 5,4-6,8 1 tetes 0,1% larutan
Bromfenol biru 6,2-7,6 1 tetes 0,1% larutan

p-Nitrofenol 5,0-7,0 1-5 tetes 0,1% larutan

Azolitmin 5,0-8,0 5 tetes 0,5% larutan


Fenol merah 6,4-8,0 1 tetes 0,1% larutan
1 tetes 0,1% larutan dlm
Neutral merah 6,8-8,0
70% alkohol
1 tetes 0,1% larutan dlm
Rosolik acid 6,8-8,0
90% alkohol
Kresol merah 7,2-8,8 1 tetes 0,1% larutan
α-Naftolftalein 7,3-8,7 1-5 tetes 0,1% larutan

47
dlm 70% alkohol

Tropeolin OOO 7,6-8,9 1 tetes 0,1% larutan

Timol biru 8,0-9,6 1-5 tetes 0,1% larutan


1-5 tetes 0,1% larutan
Fenolftalein (pp) 8,0-10,0
dlm 70% alkohol
1-5 tetes 0,1% larutan
α-Naftolbenzein 9,0-11,0
dlm 90% alkohol
1 tetes 0,1% larutan dlm
Timolftalein 9,4-10,6
90% alcohol
Nile biru 10,1-11,1 1 tetes 0,1% larutan
Alizarin kuning 10,0-12,0 1 tetes 0,1% larutan
1-5 tetes 0,1% larutan
Salisil kuning 10,0-12,0
dlm 90% alkohol
Diazo ungu 10,1-12,0 1 tetes 0,1% larutan

Tropeolin O 11,0-13,0 1 tetes 0,1% larutan

1-2 tetes 0,1% larutan


Nitramin 11,0-13,0
dlm 70% alkohol
Poirrier's biru 11,0-13,0 1 tetes 0,1% larutan

48
Asam
12,0-13,4 1 tetes 0,1% larutan
trinitrobenzoat
(
Sumbe
r :
Analisi
s Kimia
kuantit
atif,
Edisi
Kelima)

49
DAFTAR PUSTAKA
Anonim .2009. Analisis Volumetri atau
Titrimetri. http://belajarkimia.com
(Diakses pada 26 Februari 2013)
Day, RA dan Underwood. 1986. Analisis
Kimia kuantitatif. Edisi Kelima: Erlangga.
Jakarta
HAM, Mulyono. 2006. Kamus Kimia .
Edisi Pertama. Bumi Aksara. Jakarta
Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik
Dasar, PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta
Khopkar SM. 1990. Konsep dasar Kimia
Analitik. UI Press. Jakarta
Pierce WC, Sawyer DT, Haenisch EL.
1967. Quantitative Analysis.
John Wiley and Sons, Inc.
New York,U.S
Valcarcel M. 2000. Principles of Analytical
Chemistry. Springer. New York, U.S
Watson D G.2009. Analisis Farmasi.
EGC. Jakarta

50
51