Anda di halaman 1dari 7

Nama : Riska Putri Utami

NIM : A031171035
Tingkat pengangguran di Indonesia berdasarkan provinsi
2012 2013 2014 2015 2016 2017
Provinsi
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari
Aceh 7.94 9.06 8.34 10.12 6.75 9.02 7.73 9.93 8.13 7.57 7.39
Sumatera Utara 6.43 6.28 6.09 6.45 5.95 6.23 6.39 6.71 6.49 5.84 6.41
Sumatera Barat 6.49 6.65 6.39 7.02 6.32 6.50 5.99 6.89 5.81 5.09 5.80
Riau 5.29 4.37 4.19 5.48 4.99 6.56 6.72 7.83 5.94 7.43 5.76
Jambi 3.69 3.20 2.89 4.76 2.50 5.08 2.73 4.34 4.66 4.00 3.67
Sumatera Selatan 5.60 5.66 5.41 4.84 3.84 4.96 5.03 6.07 3.94 4.31 3.80
Bengkulu 2.18 3.62 2.10 4.61 1.62 3.47 3.21 4.91 3.84 3.30 2.81
Lampung 5.21 5.20 5.07 5.69 5.08 4.79 3.44 5.14 4.54 4.62 4.43
Kepulauan Bangka Belitung 2.82 3.43 3.22 3.65 2.67 5.14 3.35 6.29 6.17 2.60 4.46
Kepulauan Riau 5.71 5.08 6.05 5.63 5.26 6.69 9.05 6.20 9.03 7.69 6.44
DKI Jakarta 10.60 9.67 9.64 8.63 9.84 8.47 8.36 7.23 5.77 6.12 5.36
Jawa Barat 9.84 9.08 8.88 9.16 8.66 8.45 8.40 8.72 8.57 8.89 8.49
Jawa Tengah 5.90 5.61 5.53 6.01 5.45 5.68 5.31 4.99 4.20 4.63 4.15
DI Yogyakarta 3.98 3.90 3.75 3.24 2.16 3.33 4.07 4.07 2.81 2.72 2.84
Jawa Timur 4.16 4.11 3.97 4.30 4.02 4.19 4.31 4.47 4.14 4.21 4.10
Banten 10.68 9.94 9.77 9.54 9.87 9.07 8.58 9.55 7.95 8.92 7.75
Bali 2.23 2.10 1.93 1.83 1.37 1.90 1.37 1.99 2.12 1.89 1.28
Nusa Tenggara Barat 5.23 5.23 5.28 5.30 5.30 5.75 4.98 5.69 3.66 3.94 3.86
Nusa Tengggara Timur 2.53 3.04 2.12 3.25 1.97 3.26 3.12 3.83 3.59 3.25 3.21
Kalimantan Barat 3.42 3.54 3.13 3.99 2.53 4.04 4.78 5.15 4.58 4.23 4.22
Kalimantan Tengah 2.73 3.14 1.81 3.00 2.71 3.24 3.14 4.54 3.67 4.82 3.13
Kalimantan Selatan 4.34 5.19 3.88 3.66 4.03 3.80 4.83 4.92 3.63 5.45 3.53
Kalimantan Timur 9.48 9.02 8.94 7.95 8.89 7.38 7.17 7.50 8.86 7.95 8.55
Kalimantan Utara - - - - - - 5.79 5.68 3.92 5.23 5.17
Sulawesi Utara 8.55 7.98 7.50 6.79 7.27 7.54 8.69 9.03 7.82 6.18 6.12
Sulawesi Tengah 3.75 3.95 2.67 4.19 2.92 3.68 2.99 4.10 3.46 3.29 2.97
Sulawesi Selatan 6.56 6.01 5.88 5.10 5.79 5.08 5.81 5.95 5.11 4.80 4.77
Sulawesi Tenggara 3.20 4.14 3.43 4.38 2.13 4.43 3.62 5.55 3.78 2.72 3.14
Gorontalo 4.92 4.47 4.51 4.15 2.44 4.18 3.06 4.65 3.88 2.76 3.65
Sulawesi Barat 2.10 2.16 2.02 2.35 1.60 2.08 1.81 3.35 2.72 3.33 2.98
Maluku 7.59 7.71 6.97 9.91 6.59 10.51 6.72 9.93 6.98 7.05 7.77
Maluku Utara 5.50 4.82 5.50 3.80 5.65 5.29 5.56 6.05 3.43 4.01 4.82
Papua Barat 6.57 5.42 4.36 4.40 3.70 5.02 4.61 8.08 5.73 7.46 7.52
Papua 3.03 3.71 2.91 3.15 3.48 3.44 3.72 3.99 2.97 3.35 3.96
Indonesia 6.37 6.13 5.88 6.17 5.70 5.94 5.81 6.18 5.50 5.61 5.33
Tenaga Kerja Indonesia:

dalam juta 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016


Tenaga Kerja 116.5 119.4 120.3 120.2 121.9 122.4 127.8
- Bekerja 108.2 111.3 113.0 112.8 114.6 114.8 120.8
- Menganggur 8.3 8.1 7.3 7.4 7.2 7.6 7.0

Sumber: BPS

Tenaga Kerja per Sektor:

dalam juta 2011 2012 2013 2014 2015 2016¹


Pertanian 42.5 39.9 39.2 39.0 37.8 38.3

Pedagang Grosir, Pedagang Ritel,


23.2 23.6 24.1 24.8 25.7 28.5
Restoran dan Hotel

Jasa masyarakat, Sosial dan Pribadi 17.0 17.4 18.5 18.4 17.9 19.8
Industri Manufaktur 13.7 15.6 15.0 15.3 15.3 16.0

¹ data dari Februari 2016


Sumber: Badan Pusat Statistik
Data angkatan kerja, penduduk bekerja dan pengangguran© BPS /Beritagar.id
Melemahnya daya serap tenaga kerja di beberapa sektor industri, membuat angka
pengangguran bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran
di Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang
dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 7,24 juta jiwa.
Pada Agustus 2015, tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan didominasi oleh
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12,65 persen, disusul Sekolah Menengah Atas
sebesar 10,32 persen, Diploma 7,54 persen, Sarjana 6,40 persen, Sekolah Menengah
Pertama 6,22 persen, dan Sekolah Dasar ke bawah 2,74 persen.
Dikutip CNNIndonesia, Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS
Razali Ritonga mengatakan jumlah angkatan tenaga kerja meningkat sedangkan daya
serap tenaga kerja dari beberapa industri melemah.
Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2015 bertambah 510 ribu orang menjadi 122,38 juta,
dibandingkan Agustus 2014 yang sebanyak 121,87 juta jiwa. "Ada PHK dan daya serap
yang agak menurun, sehingga pengangguarn meningkat," kata Rizali di kantor pusat
BPS, Jakarta, Kamis (5/11).
Razali mengatakan sebagian industri yang melakukan PHK adalah industri yang memiliki
ketergantungan terhadap bahan baku impor. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar AS turut menambah beban biaya produksi sektor industri tersebut.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional ditambah terseoknya nilai rupiah terhadap
dolar memicu terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di seluruh
Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja, jumlah karyawan yang
dirumahkan 26.506 orang sepanjang September 2015.
Pemerintah sudah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang diharapkan bisa menarik
investasi dan membuka lapangan pekerjaan. Pemerintah memberi banyak insentif bagi
penanaman modal, salah satunya kemudahan berinvestasi di kawasan industri.
Dari data BPS, selama setahun terakhir (Agustus 2014-Agustus 2015) kenaikan
penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor Konstruksi sebanyak 930 ribu orang
(12,77 persen), Sektor Perdagangan sebanyak 850 ribu orang (3,42 persen), dan Sektor
Keuangan sebanyak 240 ribu orang (7,92 persen).
Penyerapan tenaga kerja hingga Agustus 2015 masih didominasi oleh penduduk bekerja
berpendidikan rendah, yaitu SD ke bawah 50,8 juta orang (44,27 persen) dan SMP 20,7
juta (18,03 persen). Penduduk bekerja berpendidikan tinggi hanya sebanyak 12,6 juta
orang, mencakup 3,1 juta diploma dan 9,5 juta sarjana.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan tingkat pengangguran


terbuka pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta orang atau 5,5 persen. Namun
jumlah pengangguran tersebut menurun bila dibandingkan dengan Februari 2015, yang
mencapai 7,45 juta orang (5,81 persen).
"Apabila dibandingkan dengan Agustus 2015, tingkat pengangguran terbuka ini juga
menurun. Pada Agustus 2015, tingkat pengangguran mencapai 7,56 juta orang atau 6,18
persen," kata Suryamin di kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu, 4 Mei 2016.
Suryamin berujar, ditinjau berdasarkan taraf pendidikannya, persentase lulusan sekolah
dasar ke bawah yang menganggur menurun, yakni dari 3,61 persen menjadi 3,44
persen. "Tingkat pengangguran tertinggi adalah lulusan sekolah menengah kejuruan
dengan persentase 9,84 persen, meningkat dari 9,05 persen," ujarnya.
Suryamin menambahkan, persentase penduduk berpendidikan sekolah menengah
pertama yang menganggur juga menurun, yakni dari 7,14 persen menjadi 5,76 persen.
Begitu juga dengan persentase penduduk berpendidikan sekolah menengah atas
menurun dari 8,17 persen menjadi 6,95 persen.
Adapun persentase penduduk berpendidikan diploma I, II, dan III yang menganggur
juga menurun. "Namun tingkat pengangguran lulusan universitas malah meningkat dari
5,34 persen menjadi 6,22 persen," tuturnya.
Dilihat dari sisi pekerjaannya, kata Suryamin, penduduk yang bekerja di sektor
pertanian turun dari 40,12 juta orang menjadi 38,29 juta orang. Penduduk yang bekerja
di sektor industri juga mengalami penurunan dari 16,38 juta orang menjadi 15,97 juta
orang.
Suryamin menduga, turunnya pekerja di sektor pertanian diakibatkan adanya
mekanisasi dan perkembangan teknologi pertanian. "Sehingga harus mengurangi
pekerja. Kalau sektor industri, kemungkinan karena PHK (pemutusan hubungan kerja)
yang terjadi beberapa waktu lalu," ujarnya.
Di sisi lain, kata Suryamin, terjadi peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di sektor
perdagangan, yakni dari 26,65 juta orang menjadi 28,5 juta orang. Pekerja jasa
kemasyarakatan meningkat dari 19,41 juta menjadi 19,79 juta orang. "Kami menilai,
ada pergeseran pekerja dari sektor pertanian dan industri ke sektor perdagangan dan
jasa kemasyarakatan," kata Suryamin.
Sedangkan berdasarkan wilayah, kata dia, tingkat pengangguran tertinggi terjadi di
Kepulauan Riau dengan 9,03 persen dan terendah terjadi di Bali dengan 2,12 persen.