Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA INTRANATAL

OLEH :

1. I PUTU PAHANG REFORANSA PUTRA (16C11847)

2. MADE BUDI SETIAWAN ( 16C11853)

3. NI PUTU YUMI MASYUNIATI (16C11879)

PRODI ILMU KEPERAWATAN

INSTITUT TEKNOLOGI DAN ILMU KESEHATAN (ITEKES) BALI

TAHUN AJARAN 2019


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
tanpa berkat dan rahmat Nya-lah kami tidak dapat menyelesaikan makalah tentang
Asuhan Keperawatan Teoritis Pada Intranatal tepat pada waktu yang telah di
tentukan. Kami juga berterimakasih kepada pihak yang baik secara langsung
ataupun tidak langsung membantu kami dalam mengerjakan makalah ini.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang di berikan pada mata
pelajaran Keperawatan Maternitas pada semester VI di ITEKES BALI.

Penulis ini mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua


pihak yang memebantu dan menyelesaikan makalah ini, khususnya pada dosen
yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan.
Karena itu penulis meminta saran maupun kritik secara terbuka. Semoga makalah
ini bisa menjadi pedoman dan bermanfaat bagi para pembaca dan dosen penguji.
Terimakasih

Denpasar, 6 Mei 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 2

1.2 Tujuan 2

1.3 Manfaat 3

BAB II LAPORAN PENDAHULUAN 4

2.1 Pengertian 4

2.2 Penyebab/Etiologi 4

2.3 Manifestasi Klinis 6

2.4 Klasifikasi 7

2.5 Patofisiologi 8

2.6 WOC 9

2.7 Komplikasi 10

2.8 Pemeriksaan penunjang10

2.9 Pencegahan 14

2.10 Penatalaksanaan 14

2.11 Peran Orang Tua Pada Anak ADHD 15

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 16

3.1 Pengkajian 16

3.2 Intervensi 20

3.3 Implementasi 28
3.4 Evaluasi 28

BAB IV PENUTUP 30

4.1 Kesimpulan 30

4.2 Saran 31

DAFTAR PUSTAKA 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita.


Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu
untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir (Decherneyet al, 2007).
Tujuan dari pengelolaan proses persalinan adalah mendorong kelahiran yang
aman bagi ibu dan bayi sehingga dibutuhkan peran dari petugas kesehatan
untuk mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada
ibu dan bayi, sebab kematian ibu dan bayi sering terjadi terutama saat proses
persalinan (Koblinsky et al, 2006).

WHO melaporkan sekitar 99 % kematian ibu terjadi di negara


berkembang. Pada tahun 1994 dari 95.866 persalinan terdapat 67 kematian
ibu (69,9 / 100.000 kelahiran hidup). Jumlah kematian diluar rumah sakit
sangat tinggi 73,3 % dan di dalam rumah sakit 26,7 %. Menurut Survey
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 Angka Kematian Ibu
(AKI) akibat persalinan di Indonesia masih tinggi yaitu 208/100.000
kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 26/1.000 kelahiran hidup
(Kemenkes RI, 2013). Angka Kematian Ibu untuk Provinsi Jawa Tengah
tahun 2012 sebesar 116/100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian
Bayi sebesar 12/1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu merupakan salah
satu indicator untuk melihat derajat kesejahteraan perempuan dan target yang
telah ditentukan dalam tujuan pembangunan Millennium Development Goals
(MDGs) tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang
akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resikomjumlah
kematian ibu atau 102/100.000 kelahiran hidup, maka dari itumupaya untuk
mewujudkan target tersebut masih membutuhkan komitmen dan usaha keras
yang terus menerus (Kemenkes RI, 2013).

Pada akhir kehamilan ibu dan janin mempersiapkan diri untuk


menghadapi proses persalinan. Janin bertumbuh dan berkembang dalam
proses persiapan menghadapi kehidupan di luar rahim. Dalam proses
keluarnya janin terdapat beberapa teori persalinan yaitu penurunan kadar
progresteron, teori oksitosi, ketegangan oto-otot, pengaruh janin, teori
prostaglandin. Persalinan merupakan suatu proses alami yang akan
berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat
terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga
memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang
memadai. Persalinan pada manusia dibagi menjadi empat tahap penting dan
kemungkinan penyulit dapat terjadi pada setiap tahap tersebut yaitu Kala I,
Kala II, Kala III dan Kala IV.

Dalam persalinan terjadi perubahan-perubahan fisik yaitu, ibu akan merasa


sakit pinggang dan perut, merasa kurang enak, capai, lesu, tidak nyaman
badan, tidak bisa tidur enak, sering mendapatkan kesulitan dalam bernafas
dan perubahan-perubahan psikis yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan
dirinya sendiri, takut kalau terjadi bahaya atas dirinya pada saat persalinan,
takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan
dengan pengalaman yang sudah lalu misalnya mengalami kesulitan pada
persalinan yang lalu. Ketakutan karena anggapanya sendiri bahwa persalinan
itu merupakan hal yang membahayakan.

Dari berbagai pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada saat
persalinan normal memiliki hambatan dan masalah saat melahirkan. Dengan
adanya masalah-masalah yang telah dijabarkan maka penulis tertarik untuk
menulis mengenai “Asuhan Keperawatan Teoritis Pada Intranatal”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah bagaimana


kajian teori dan asuhan keperawatan teoritis pada Intranatal ?

1.3 Tujuan

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kajian teori dan asuhan keperawatan teoritis pada
persalinan normal.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian dari persalinan normal.

b. Untuk mengetahui etiologi pada persalinan normal

c. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari persalinan normal

d. Untuk mengetahui patofisiologi dari persalinan normal

e. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari persalinan normal

f. Untuk mengetahui langkah – langkah persalinan normal

g. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan medis dan


keperawatan pada persalinan normal

1.4 Manfaat

1. Manfaat Teoritis
Manfaat dari penulisan makalah ini diharapkan bisa menjadi acuan
pembelajaran untuk menambah ilmu mengenai keperawatan maternitas
khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada intranatal.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi
Asuhan keperawatan teoritis ini diharapkan mampu menambah
keperpustakaan yang akan digunakan dalam penambahan ilmu
mengenai Keperawatan Maternitas khususnya dalam menangani ibu
dengan persalinan normal.
b. Bagi Pembaca
Diharapkan bisa menjadi acuan pembelajaran mengenai
Keperawatan anak khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan
pada intranatal

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN
2.1 Pengertian Persalinan Normal

Menurut WHO, persalinan normal adalah persalinan yang dimulai secara


spontan (dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko
rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada usia
kehamilan antara 37  42 minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada
dalam kondisi yang baik.

Persalinan atau Partus adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput
ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya
terjadi pada usia kehamilan yang cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa
disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus
berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan
menipis dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap.Ibu dikatakan
belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks
(Damayanti et all, 2015).
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran
bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran
plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu (Harianto.2010).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun
ke dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan, lahir spontan
dengan presentasi belakang kepala tanpa komplikasi baik ibu maupun janin
(Bandiyah, 2009).

2.2 Etiologi

1. Penurunan kadar progesteron


Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya
Estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat
keseimbangan antara kadar Progesteron dan Estrogen di dalam darah,
tetapi pada akhir kehamilan kadar Progesteron menurun sehingga timbul
his.
2. Teori oxytosin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocsin bertambah. Oleh karena itu
timbul kontraksi otot-otot rahim.
3. Keregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung bila
dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi
untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula dengan rahim, maka dengan
majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin
rentan.
4. Pengaruh janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga
memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih
lama dari biasa.
5. Teori Prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi
salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan
bahwa Prostaglandin F2 dan E2 yang diberikan secara intra vena, intra dan
extraamnial menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur
kehamilan. Hal ini juga di sokong dengan adanya kadar Prostaglandin
yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer pada ibu-ibu
hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.

2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persalinan

Menurut Mochtar ,2003 faktor yang mempengaruhi persalinan diantaranya :

1. Passage (Jalan Lahir)

Merupakan jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari
rongga panggul, dasar panggul, serviks dan vagina.Syarat agar janin
dan plasenta dapat melalui jalan lahir tanpa ada rintangan, maka jalan
lahir tersebut harus normal.

2. Power

Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri


dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power
merupakan tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan oleh
adanya kontraksi dan retraksi otot-otot rahim.
Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) terdiri dari :

a. His (kontraksi otot uterus);

His adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim


bekerja dengan baik dan sempurna.Pada waktu kontraksi otot-otot
rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek.Kavum
uteri menjadi lebih kecil serta mendorong janin dan kantung
amneon ke arah segmen bawah rahim dan serviks.

b. Kontraksi otot-otot dinding perut;

c. Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan;

d. Ketegangan dan ligmentous action terutama ligamentum rotundum.

3. Passanger

a. Janin

Bagian yang paling besar dan keras dari janin adalah kepala
janin.Posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan.

b. Sikap (habitus)

Menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan sumbu


janin, biasanya terhadap tulang punggungnya.Janin umumnya
dalam sikap fleksi, di mana kepala, tulang punggung, dan kaki
dalam keadaan fleksi, serta lengan bersilang di dada.

c. Letak janin

Letak janin adalah bagaimana sumbu panjang janin berada


terhadap sumbu ibu, misalnya letak lintang di mana sumbu janin
sejajar dengan dengan sumbu panjang ibu; ini bisa letak kepala,
atau letak sungsang.

d. Presentasi
Presentasi digunakan untuk menentukan bagian janin yang
ada di bagian bawah rahim yang dapat dijumpai pada palpasi atau
pemeriksaan dalam. Misalnya presentasi kepala, presentasi
bokong, presentasi bahu, dan lain-lain.

e. Posisi

Posisi merupakan indikator untuk menetapkan arah bagian


terbawah janin apakah sebelah kanan, kiri, depan atau belakang
terhadap sumbu ibu (maternal pelvis). Misalnya pada letak
belakang kepala (LBK) ubun-ubun kecil (UUK) kiri depan, UUK
kanan belakang.

f. Placenta

Placenta juga harus melalui jalan lahir, ia juga dianggap


sebagai penumpang atau pasenger yang menyertai janin namun
placenta jarang menghambat pada persalinan normal.

g. Psikis (psikologis)

Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah-olah pada saat


itulah benar-benar terjadi realitas kewanitaan sejati yaitu
munculnya rasabangga bisa melahirkan atau memproduksi
anaknya. Merekaseolah-olah mendapatkan kepastian bahwa
kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang
belum pasti sekarang menjadi hal yang nyata.

h. Penolong

Peran dari penolong persalinan dalam hal ini Bidan adalah


mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi
pada ibu dan janin. Proses tergantung dari kemampuan skill dan
kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan.

2.4 Jenis – Jenis Persalinan

Berdasarkan usia kehamilan, terdapat beberapa jenis persalinan yaitu :


a. Persalinan aterm: yaitu persalinan antara umur hamil 37-42
minggu, berat janin di atas 2.500 gr;

b. Persalinan prematurus: persalinan sebelum umur hamil 28-36


minggu, berat janin kurang dari 2.499 gr;

c. Persalinan serotinus: persalinan yang melampaui umur hamil 42


minggu, pada janin terdapat tanda postmaturitas;

d. Peralinan presipitatus: persalinan yang berlangsung cepat kurang


dari 3 jam.

Berdasarkan proses berlangsungnya persalinan dibedakan sebagai berikut :

a. Persalinan spontan: bila persalinan ini berlangsung dengan


kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir;

b. Persalinan buatan: bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar


misalnya ekstraksi dengan forceps/vakum, atau dilakukan operasi
section caecarea;

c. Persalinan anjuran: pada umumnya persalinan terjadi bila bayi


sudah cukup besar untuk hidup di luar, tetapi tidak sedemikian
besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan.
Persalinan kadang-kadang tidak mulai dengan segera dengan
sendirinya tetapi baru bisa berlangsung dengan dilakukannya
amniotomi/pemecahan ketuban atau dengan induksi persalinan
yaitu pemberian pitocin atau prostaglandin.

2.5 Fase Persalinan

1. Kala I

Kala I disebut juga dengan kala pembukaan, terjadi pematangan


dan pembukaan serviks sampai lengkap. Dimulai pada waktu serviks
membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin
kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir
yang tidak lebih banyak daripada darah haid.
Berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada
periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi).Selaput ketuban
biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.

Terdapat 2 fase pada Kala 1 ini, yaitu :

a. Fase laten: pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8


jam.

b. Fase aktif: pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm),


berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas:

1) Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.

2) Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9


cm.

3) Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+


10 cm).

Perbedaan proses pematangan dan pembukaan serviks (cervical


effacement) pada primigravida dan multipara :

a. Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih terlebih dahulu


sebelum terjadi pembukaan, sedangkan pada multipara serviks telah
lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses
penipisan dan pembukaan;

b. Pada primigravida, ostium internum membuka terlebih dahulu daripada


ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti
lingkaran kecil di tengah), sedangkan pada multipara, ostium internum
dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak
berbentuk seperti garis lebar);
c. Periode Kala 1 pada primigravida lebih lama (12 jam) dibandingkan
multipara (8 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase
laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

Sifat His pada Kala I :

a. Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik.


Serviks terbuka sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus
meningkat;

b. Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir;

c. Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60


mmHg, frekuensi 2-4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka
sampai lengkap (+10cm).

Peristiwa penting Kala I :

a. Keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus


(mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis,
akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara
selaput ketuban dengan dinding dalam uterus;

b. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis


dan mendatar;

c. Selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan


ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum
pembukaan 5 cm).

Kemajuan persalinan dalam kala I :

a. Kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala I :

1) Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekuensi dan


durasi;
2) Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm perjam selama
persalinan faseaktif (dilatasi serviks berlangsung atau ada disebelah
kiri garis waspada);

3) Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin.

b. Kemajuan yang kurang baik pada kala I :


1) Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten;
2) Kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm perjam selama
persalinan fase aktif (dilatasi serviks berada disebelah kanan garis
waspada);
3) Serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin.
c. Kemajuan pada kondisi ibu.
1) Jika denyut nadi ibu meningkat, mungkin ia sedang dalam keadaan
dehidrasi atau kesakitan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral
atau IV dan berikan analgesik secukupnya;
2) Jika tekanan darah ibu menurun, curigai adanya perdarahan;
3) Jika terdapat aceton didalam urine ibu, curigai masukan nutrisi yang
kurang. Segera berikan dextrose IV.

d. Kemajuan pada kondisi janin.


1) Jika didapati DJJ tidak normal (kurang dari 100 atau lebih dari 180 x
/ menit) curigai adanya gawat janin;
2) Posisi atau presentasi selain oksiput anterior dengan reflek fleksi
sempurna digolongkan dalam malposisi atau malpresentasi.
2. Kala II

Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir


pada saat bayi telah lahir lengkap.Pada Kala II ini His menjadi lebih kuat,
lebih sering, dan lebih lama.Selaput ketuban mungkin juga sudah pecah/
baru pecah spontan pada awal Kala II ini. Rata-rata waktu untuk
keseluruhan proses Kala II pada primigravida ± 1,5 jam, dan multipara ±
0,5 jam.
Sifat His :
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks
mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin
(pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum.
Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot dinding
abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Peristiwa penting pada Kala II:

a. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai


dasar panggul.

b. Ibu timbul perasaan/ refleks ingin mengedan yang semakin kuat;.


Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologis);.

c. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis


(simfisis pubis sebagai sumbu putar/ hipomoklion), selanjutnya
dilahirkan badan dan anggota badan;.

d. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk


memperbesar jalan lahir (episiotomi).

Proses pengeluaran janin pada Kala II (persalinan letak belakang kepala) :

a. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak
lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring /
membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior /
posterior).

b. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung


dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari
cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma
(mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.

c. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala


berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi
diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
d. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala,
putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis),
membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter
biparietalis.

e. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah


oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir
berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.

f. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai


dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan
posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan
bahu depan dan bahu belakang.

g. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan


dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan,
pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

3. Kala III
a. Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap, dan berakhir dengan
lahirnya plasenta.
b. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus,
serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
c. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze)
ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-
Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak
sentral dan marginal.
d. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus
adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan
berdarah.
e. Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus
setinggi sekitar / di atas pusat.
Sifat His :
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas
uterus menurun.Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini,
namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan
aktif (manual aid).
4. Kala IV
Dimulai pada saat plasenta telah lahir lengkap, sampai dengan 1
jam setelahnya. Hal penting yang harus diperhatikan pada Kala IV
persalinan :
a. Kontraksi uterus harus baik.
b. Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain.
c. Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap.
d. Kandung kencing harus kosong.
e. Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma.
f. Resume keadaan umum ibu dan bayi.
2.6 Patofisiologi
Persalinan normal terjadi karena kadar hormone menurun,oksitoksin
bertambah, prostaglandin, Rahim yang membesar dan ganglion tertekan
menimbulkan His.
His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks
membuka dan mendorong janin ke bawah pada letak kepala, bila his sudah
cukup kuat, kepala akan turun dan mulai masuk ke dalam rongga panggul.
Kontraksi dimulai pada salah satu cornue (tanduk) uterus kiri atau kelenjar
ke seluruh miometrium sehingga menghasilkan kontraksi yang
simetris.Fundus uteri berkontraksi lebih kuat dan lebih lama dari bagian-
bagian lain dari uterus.Bagian tengah uterus berkontraksi pada fundus uteri.
Bagian bawah uterus-uterus serviks tetap pasif atau kontraksi lemah.Setelah
kontraksi terjadi relaksasi tonus otot diluar his tidak seberapa jauh meningkat.
Pada waktu his kemudian keluar pada keadaan semula. Tahap persalinan:

a. Kala I yaitu pembukaan antara 4 cm dan kontraksi terjadi teratur


minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik.

b. Kala II yaitu untuk memastikan apakah pembukaan sudah lengkap


atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5-6cm.
c. Kala III yaitu pengeluaran aktif plasenta.

d. Kala IV yaitu sejak lamanya plasenta 1 sampai dengan 2-4 jam


setelah persalianan dan keadaan itu menjadi stabil kembali.

2.7 Tanda dan Gejala Persalinan


1. Lightening

Lightening yang dimulai dirasa kira-kira dua minggu sebelum


persalinan adalah penurunan bagian presentasi bayi ke dalam pelvis minor.
Pada presentasi sefalik, kepala bayi biasanya menancap setelah lightening.
Wanita sering menyebut lightening sebagai “kepala bayi sudah turun”.
Hal-hal spesifik berikut akan dialami ibu:

a. Ibu jadi sering berkemih karena kandung kemih ditekan sehingga


ruang yang tersisa untuk ekspansi berkurang.

b. Perasaan tidak nyaman akibat tekanan panggul yang menyeluruh,


yang membuat ibu merasa tidak enak dan timbul sensasi terus-
menerus bahwa sesuatu perlu dikeluarkan atau ia perlu defekasi.

c. Kram pada tungkai, yang disebabkan oleh tekanan foramen


ischiadikum mayor dan menuju ke tungkai.

d. Peningkatan statis vena yang menghasilkan edema dependen akibat


tekanan bagian presentasi pada pelvis minor menghambat aliran balik
darah dari ekstremitas bawah.

2. Perubahan Serviks

Mendekati persalinan, serviks semakin “matang”. Kalau tadinya


selama masa hamil, serviks dalam keadaan menutup, panjang dan lunak,
sekarang serviks masih lunak dengan konsistensi seperti pudding, dan
mengalami sedikit penipisan (effacement) dan kemungkinan sedikit
dilatasi. Evaluasi kematangan serviks akan tergantung pada individu
wanita dan paritasnya sebagai contoh pada masa hamil. Serviks ibu
multipara secara normal mengalami pembukaan 2 cm, sedangkan pada
primigravida dalam kondisi normal serviks menutup. Perubahan serviks
diduga terjadi akibat peningkatan instansi kontraksi Braxton Hicks.
Serviks menjadi matang selama periode yang berbeda-beda sebelum
persalinan. Kematangan serviks mengindikasikan kesiapannya untuk
persalinan.

3. Persalinan Palsu

Persalinan palsu terdiri dari kontraksi uterus yang sangat nyeri,


yang memberi pengaruh signifikan terhadap serviks. Kontraksi pada
persalinan palsu sebenarnya timbul akibat kontraksi Braxton Hicks yang
tidak nyeri, yang telah terjadi sejak sekitar enam minggu kehamilan.
Bagaimanapun, persalinan palsu juga mengindikasikan bahwa persalinan
sudah dekat.

4. Ketuban Pecah Dini

Pada kondisi normal, ketuban pecah pada akhir kala I


persalinan.Apabila terjadi sebelum waktu persalinan, kondisi itu disebut
Ketuban Pecah Dini (KPD).Hal ini dialami oleh sekitar 12% wanita hamil.
Kurang lebih 80% wanita yang mendekati usia kehamilan cukup bulan dan
mengalami KPD mulai mengalami persalinan spontan mereka pada waktu
24 jam.

5. Bloody Show

Bloody show merupakan tanda persalinan yang akan terjadi,


biasanya dalam 24 hingga 48 jam. Akan tetapi bloody show bukan
merupakan tanda persalinan yang bermakna jika pemeriksaan vagina
sudah dilakukan 48 jam sebelumnya karena rabas lendir yang bercampur
darah selama waktu tersebut mungkin akibat trauma kecil terhadap atau
perusakan plak lendir saat pemeriksaan tersebut dilakukan.

6. Lonjakan Energi

Terjadinya lonjakan energi ini belum dapat dijelaksan selain bahwa


hal tersebut terjadi alamiah, yamg memungkinkan wanita memperoleh
energi yang diperlukan untuk menjalani persalinan.Wanita harus
diinformasikan tentang kemungkinan lonjakan energi ini untuk menahan
diri menggunakannya dan justru menghemat untuk persalinan.

7. Gangguan Saluran Cerna

Ketika tidak ada penjelasan yang tepat untuk diare, kesulitan


mencerna, mual, dan muntah, diduga hal-hal tersebut gejala menjelang
persalinan walaupun belum ada penjelasan untuk kali ini.Beberapa wanita
mengalami satu atau beberapa gejala tersebut (Varney, 2007).

2.8 Langkah – Langkah Persalinan Normal

Asuhan Persalinan Normal (APN) terdiri dari 60 langkah, sebagai berikut :


1. Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk
mematahkan ampul oksitosin dan memasukan alat suntik sekali
pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan degan
sabun dan air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan
digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi
dengan oksitosin dan letakan kembali ke dalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan
gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam (pastikan pembukaan sudah lengkap
dan selaput ketuban sudah pecah).
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai
(pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik,
meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa
ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk
dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam
60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu,
jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu.
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan
alat dan bahan.
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm,
memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin pada perut ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin.
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi.
Dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu
depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas
dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah ke arah perineum ibu untuk
menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan
tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku
sebelah atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung ke
arah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai
bawah (selipkan jari telunjuk tangan kiri di antara kedua lutut janin).
25. Melakukan penilaian selintas : (a) Apakah bayi menangis kuat dan
atau bernafas tanpa kesulitan? (b) Apakah bayi bergerak aktif ?
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti
handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi di
atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit
IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-
kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal
(ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi
perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat di antara 2 klem
tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya
dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di
kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari
vulva.
35. Meletakan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas
simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke
arah dorsokrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik,
hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul
kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37. Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti
poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta
dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta
dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu
pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase (pemijatan) pada
fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler
menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi
uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan
kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput
ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan ke dalam kantong plastik
yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
43. Celupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam
larutan klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh, lepaskan
secara terbalik dan rendam sarung tangan dalam larutan klorin 0,5 %
selama sepuluh menit. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih
mengalir, keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang
bersih dan kering. Kemudian pakai sarung tangan untuk melakukan
pemeriksaan fisik bayi.
44. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
paling sedikit 1 jam.
45. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di
paha kiri anterolateral.
46. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi
Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
47. Celupkan tangan dilarutan klorin 0,5% ,dan lepaskan secara terbalik
dan rendam, kemudian cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang
mengalir, keringkan dengan handuk bersih dan pakai sarung tangan.
48. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
49. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
50. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
51. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua pasca persalinan.
52. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik.
53. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan
setelah di dekontaminasi.
54. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa
cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian
bersih dan kering.
56. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum.
57. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
58. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan
sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan
klorin 0,5%.
59. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
60. Melengkapi partograf.