Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesehatan merupakan hal yang paling penting bagi semua orang, sehat tidak
dinilai dengan apapun. Kesehatan menurut UU No. 36 tahun 2009 adalah keadaan
sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap
orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Kesehatan juga di dukung oleh
sumber daya di bidang kesehatan yaitu perbekalan kesehatan, dana, sediaan farmasi,
alat kesehatan serta tenaga kesehatan.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan
upaya kesehatan (UU No. 36, 2009). Upaya untuk pemenuhan kesehatan yang baik bagi
masyarakat didukung dengan adanya fasilitas kesehatan seperti apotek.
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh apoteker (Permenkes No.73/2016).Pelayanan Kefarmasian adalah
suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan
sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian di apotek di lakukan oleh apoteker yang di
bantu oleh tenaga teknik kefarmasian.
Menurut Permenkes no. 73 tahun 2016, tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga
yang membantu apoteker dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas
Sarjana farmasi, Ahli Madya Farmasi dan Analis Farmasi. Untuk menjadi seorang ahli
farmasi atau tenaga teknik farmasi dibutuhkan pembelajaran tentang farmasi. Ilmu
farmasi mempelajari tentang semua sediaan farmasi yang ada, seperti obat, bahan obat,
obat tradisional, dan kosmetika. Untuk memenuhi wawasan tentang kegiatan di apotek,
maka dilakukan kegiatan magang di apotek Kimia Farma yang bertujuan untuk melihat
segala aspek yang ada di apotek baik aspek managerial, aspek pelayanan, dan
pengelolaan resep.
1.2 Tujuan Magang
Dapat mengerti dan memahami ruang lingkup pelayanan kefarmasian apotik yang
meliputi perundang-undangan mengenai perapotekan, manajemen apotek, pengelolaan
perbekalan farmasi di apotek, pelayanan informasi obat serta aspek bisnis perapotekan
sesuai dengan UU kesehatan dan kode etik kefarmasian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Aspek administrasi dan perundang-undangan
2.1.1 Aspek legal yang meliputi pendirian apotek
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 9 tahun
2017, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh apoteker. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai
apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Apoteker dibantu oleh
tenaga teknis kefarmasian dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri
atas sarjana farmasi, ahli madya farmasi dan analis farmasi.
Apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan. Dalam hal apoteker yang
mendirikan apotek bekerjasama dengan pemilik modal maka pekerjaan kefarmasian
harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang bersangkutan.
Ketentuan dan tata cara dalam hal mendirikan apotek diatur dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 9 tahun 2017 tentang apotek. Pendirian
apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:
a. Lokasi
Pemerintah daerah kabupaten/kota dapat mengatur persebaran apotek di
wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam mendapatkan
pelayanan kefarmasian.
b. Bangunan
Bangunan apotek harus memiliki fungsi keamanan, kenyamanan, dan kemudahan
dalam pemberian pelayanan kepada pasien serta perlindungan dan keselamatan
bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan orang lanjut usia.
Bangunan apotek harus bersifat permanen yaitu bagian dan/atau terpisah dari pusat
perbelanjaan, apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan
yang sejenis.
c. Sarana, prasarana, dan peralatan
Bangunan apotek paling sedikit memiliki sarana ruang yang berfungsi:
penerimaan resep, pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara
terbatas), penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan, ruang konseling,
penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan dan arsip.
Prasarana apotek paling sedikit terdiri atas: instalasi air bersih, instalasi listrik,
sistem tata udara dan sistem proteksi kebakaran.Peralatan apotek meliputi semua
peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian. Peralatan yang
dimaksud antara lain meliputi rak obat, alat peracikan, bahan pengemas obat, lemari
pendingin, meja, kursi, komputer, sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan
pengobatan pasien dan peralatan lain sesuai dengan kebutuhan.
d. Ketenagaan
Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan apotek dapat dibantu oleh
apoteker lain, tenaga teknis kefarmasian dan/atau tenaga administrasi. Apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian wajib memiliki surat izin praktik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Setiap pendirian apotek wajib memiliki izin dari menteri. Menteri
melimpahkan kewenangan pemberian izin kepada pemerintah daerah kabupaten/kota.
Izin yang diberikan berupa surat izin apotek (SIA). SIA berlaku 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh SIA, apoteker
harus mengajukan permohonan tertulis kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Permohonan harus ditandatangani oleh apoteker disertai dengan kelengkapan
dokumen administratif meliputi:
a. Fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli;
b. Fotokopi kartu tanda penduduk (KTP);
c. Fotokopi nomor pokok wajib pajak apoteker;
d. Fotokopi peta lokasi dan denah bangunan;dan
e. Daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
Setiap perubahan alamat di lokasi yang sama atau perubahan alamat dan pindah
lokasi, perubahan apoteker pemegang SIA, atau nama apotek harus dilakukan
perubahan izin. Apotek yang melakukan perubahan alamat di lokasi yang sama atau
perubahan alamat dan pindah lokasi, perubahan apoteker pemegang SIA, atau nama
apotek, wajib mengajukan permohonan perubahan izin kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.
Apotek yang telah mendapatkan surat izin apotek wajib menyelenggarakan
fungsi yaitu, pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
dan pelayanan farmasi klinik, termasuk di komunitas. Apotek hanya dapat
menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai kepada:
a. Apotek lainnya
b. Puskesmas
c. Dokter
d. Bidan praktik
e. Instalasi farmasi rumah sakit
f. Instalasi farmasi klinik
g. mandiri
h. Pasien
i. Masyarakat.
Penyerahan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai hanya
dapat dilakukan untuk memenuhi kekurangan jumlah sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai dalam hal:
a. Terjadi kelangkaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di
fasilitas distribusi; dan
b. Terjadi kekosongan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam mendirikan apotek, apotek wajib dipasang papan nama yang terdiri atas:
a. Papan nama apotek, yang memuat paling sedikit informasi mengenai nama apotek,
nomor SIA, dan alamat.
b. Papan nama praktik apoteker, yang memuat paling sedikit informasi mengenai
nama apoteker, nomor SIPA, dan jadwal praktik apoteker.
2.2 Aspek Manajerial
2.2.1 Administrasi
Administrasi pembukuan di apotik meliputi :
a. Administrasi umum
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
1) Administrasi pelayanan
Pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil
monitoring penggunaan obat (Kemenkes RI, 2004)
2) Laporan keuangan
Laporan keuangan adalah suatu proses pencatatan, pengukuran, dan
pengkomunikasian informasi keuangan yang dibuat dalam berbagai bentuk antara
lain berupa laporan laba rugi, aliran kas (cash flow) dan neraca.
Laporan laba rugi adalah laporan akuntansi keuangan yang menggambarkan
tentang jumlah penjualan, biaya variabel, biaya tetap, dan laba.Laporan aliran kas
dibuat untuk menggambarkan tentang perkiraan rencana jumlah penerimaan dan
jumlah pengeluaran uang kas apotek selama periode waktu tertentu. Unsur-unsur
yang terdapat pada laporan aliran kas adalah saldo awal, penerimaan kas dari hasil
operasi dan investasi, pengeluaran kas dari kegiatan operasi dan investasi, dan
saldoakhir.
Neraca adalah laporan akuntansi keuangan yang menggambarkan tentang
kondisi harta (aktiva), hutang (pasiva) dan modal sendiri (ekuity) yang dimiliki
apotek pada tanggal tertentu.
3) Pengelolaan resep
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada
apoteker, baik dalam bentuk paper maupun elektronik untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi pasien sesuai dengan peraturan yang berlaku. Resep yang
telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat dimusnahkan.
Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker disaksikan oleh sekurang-kurangnya
petugas lain di apotek dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang
dibuktikan dengan berita acara pemusnahan resep menggunakan formulir 2
sebagaimana terlampir dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota (Permenkes RI No 73, 2016).
2.2.2 Pengelolaan pembekalan farmasi
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dilakukan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi perencanaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan
pelaporan.
a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, budaya
dan kemampuan masyarakat.
b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi
harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis spesifikasi,
jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan
dengan kondisi fisik yang diterima.
d. Penyimpanan
 Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal
pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus
dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada
wadah baru. Wadah sekurang- kurangnya memuat nama obat, nomor batch
dan tanggal kadaluwarsa.
 Semua obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga
terjamin keamanan dan stabilitasnya.
 Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang
lainnya yang menyebabkan kontaminasi
 Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan dan
kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.
 Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (first expire first out) dan FIFO (first
in first out).
e. Pemusnahan dan penarikan
Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan
bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung
narkotika atau psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota. Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika
dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang
memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja.
Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Penarikan sediaan farmasi yang tidak
memenuhi standar/ketentuan peraturan perundang-undangan dilakukan oleh
pemilik izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall)
atau berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan
tetap memberikan laporan kepada kepala BPOM. Penarikan alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh
menteri
f. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah
persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau
pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari
terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa,
kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan
menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok
sekurang- kurangnya memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan,
jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.
g. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pengadaan (surat pesanan,
faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan
pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal
merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen apotek,
meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan
pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan
pelaporan lainnya.
2.2.3 Pengelolaan sumber daya manusia
a. Sumber daya manusia
Pelayanan kefarmasian di apotek diselenggarakan oleh apoteker, dapat
dibantu oleh apoteker pendamping dan/atau tenaga teknis kefarmasian yang
memiliki surat tanda registrasi dan surat izin praktik. Dalam melakukan pelayanan
kefarmasian apoteker harus memenuhi kriteria:
Persyaratan administrasi
 Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi
 Memiliki surat tanda registrasi apoteker (STRA)
 Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku
 Memiliki surat izin praktik apoteker (SIPA)
 Menggunakan atribut praktik antara lain baju praktik, tanda pengenal.
 Wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan/ continuing professional
development (CPD) dan mampu memberikan pelatihan yang
berkesinambungan.
 Apoteker harus mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri,
baik melalui pelatihan, seminar, workshop, pendidikan berkelanjutan atau
mandiri.
 Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan perundang
undangan, sumpah Apoteker, standar profesi (standar pendidikan, standar
pelayanan, standar kompetensi dan kode etik) yang berlaku.

Dalam melakukan Pelayanan Kefarmasian seorang apoteker harus menjalankan


peran yaitu:
1. Pemberi layanan
Apoteker sebagai pemberi pelayanan harus berinteraksi dengan pasien.
Apoteker harus mengintegrasikan pelayanannya pada sistem pelayanan
kesehatan secara berkesinambungan.
2. Pengambil keputusan
Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan dengan
menggunakan seluruh sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
3. Komunikator
Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan pasien maupun profesi kesehatan
lainnya sehubungan dengan terapi pasien. Oleh karena itu harus mempunyai
kemampuan berkomunikasi yang baik.
4. Pemimpin
Apoteker diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.
Kepemimpinan yang diharapkan meliputi keberanian mengambil keputusan
yang empati dan efektif, serta kemampuan mengkomunikasikan dan mengelola
hasil keputusan.
5. Pengelola
Apoteker harus mampu mengelola sumber daya manusia, fisik, anggaran dan
informasi secara efektif. Apoteker harus mengikuti kemajuan teknologi
informasi dan bersedia berbagi informasi tentang obat dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan obat.
6. Pembelajar seumur hidup
Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan
profesi melalui pendidikan berkelanjutan (Continuing Professional
Development/CPD)
7. Peneliti
Apoteker harus selalu menerapkan prinsip/kaidah ilmiah dalam mengumpulkan
informasi sediaan farmasi dan pelayanan kefarmasian dan memanfaatkannya
dalam pengembangan dan pelaksanaan pelayanan kefarmasian.
b. Sarana dan Prasarana
Apotek harus mudah diakses oleh masyarakat. Sarana dan prasarana apotek dapat
menjamin mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai serta
kelancaran praktik pelayanan kefarmasian.Sarana dan prasarana yang diperlukan
untuk menunjang pelayanan kefarmasian di apotek meliputi sarana yang memiliki
fungsi:
1. Ruang penerimaan resep
Ruang penerimaan resep sekurang-kurangnya terdiri dari tempat penerimaan
resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer. Ruang penerimaan
resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.
2. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)
Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara
terbatas meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang
peracikan sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan obat,
air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat,
lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label
obat. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup,
dapat dilengkapi dengan pendingin ruangan (air conditioner).
3. Ruang penyerahan obat
Ruang penyerahan obat berupa konter penyerahan obat yang dapat digabungkan
dengan ruang penerimaan resep.
4. Ruang konseling
Ruang konseling sekurang-kurangnya memiliki satu set meja dan kursi
konseling, lemari buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat bantu
konseling, buku catatan konseling dan formulir catatan pengobatan pasien.
5. Ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai.
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur,
kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan
petugas. Ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet,
pendingin ruangan (ac), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus
narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu
dan kartu suhu.
Syarat lemari penyimpanan khusus narkotik dan psikotropika menurut
peraruran menteri kesehatan republik indonesia no 3 tahun 2015 yaitu dalam
pasal 25 dan pasal 26. Dalam pasal 25 ayat 1 disebutkan bahwa tempat
penyimpanan narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi dapat berupan
gudang, ruangan atau lemari khusus. Dalam pasal 26 ayat 2 disebutkan bahwa
ruangan khusus yang dimaksud yaitu harus memenuhi syarat sebagai berikut:
 Dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang kuat
 Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jeruji besi
 Mempunyai satu pintu dengan 2 buah kunci yang berbeda-beda
 Kunci ruang khusus dikuasai oleh apoteker penanggung jawab/apoteker
yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan
 Tidak boleh dimasuki orang lain tanpa izin penanggung jawab/apoteker
yang ditunjuk.
6. Ruang arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan
pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai serta
pelayanan kefarmasian dalam jangka waktu tertentu.

2.3 Aspek pelayanan kefarmasian


2.3.1 Pengkajian dan pelayanan resep
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 Tahun 2016 tentang standar
pelayanan kefarmasian di apotek menyebutkan pengkajian dan pelayanan resep
meliput administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis.
Kajian administratif meliputi:
a. Nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan;
b. Nama dokter, nomor surat izin praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan paraf;
c. Tanggal penulisan resep.
Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:
a. Bentuk dan kekuatansediaan;
b. Stabilitas;dan
c. Kompatibilitas (ketercampuran obat). Pertimbangan klinismeliputi:
d. Ketepatan indikasi dan dosisobat;
e. Aturan, cara dan lama penggunaan obat;
f. Duplikasi dan/atau polifarmasi;
g. Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi klinis
lain);
h. Kontra indikasi;dan
i. Interaksi.
Jika ditemukan adanya ketidak sesuaian dari hasil pengkajian maka apoteker
harus menghubungi dokter penulis resep. Pelayanan resep dimulai dari penerimaan,
pemeriksaan ketersediaan, penyiapan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan disertai
pemberian informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya
pencegahan terjadinya kesalahan pemberian obat (medication error).

2.3.2 Pelayanan obat


A. Pelayanan over The Counter
Over the counter (OTC) merupakan obat yang dapat dibeli tanpa resep
dokter biasa disebut dengan obat bebas yang terdiri dari obat bebas dan obat bebas
terbatas.Obat-obatan yang termasuk kategori ini dijual bebas di pasaran.Walalupun
berlabel “bebas”, bukan berarti obat-obat bebas dapat dikonsumsi begitu saja tanpa
aturan.Akan tetapi obat-obat ini dikonsumsi sesuai anjuran dosis karena pada
dasarnya semua obat dapat bersifat racun pada pemakaian yang berlebihan
(American Collage of Preventive Medicine, 2011).
Obat bebas, yaitu obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa
resep dokter.Tanda khusus untuk obat bebas adalah berupa lingkaran berwarna
hijau dengan garis tepi berwarna hitam.
Contoh: paracetamol, multivitamin, dan lain-lain.
Obat bebas terbatas merupakan obat yang sebenernya tergolong obat keras
tetapi masih dapat dijual dan dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai tanda
peringatan. Obat-obatan ini memiliki tanda khusus lingkaran biru dengan garis tepi
berwarna hitam. (Rahayuda,2016). Contoh : CTM, antimo, noza.
Peringatan yang terdapat pada kemasan obat bebas terbatas yaitu:
 P No. 1: Awas! Obat Keras. Bacalah aturan, memakainya ditelan
 P No. 2: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan
 P No. 3: Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian luar dari badan
 P No. 4: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar.
 P. No. 5: Awas! Obat Keras. Tidak boleh ditelan.
 P. No: 6: Awas! Obat Keras. Obat wasir, jangan ditelan
B. Obat wajib apotik
Obat wajib apotik adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker
pengelola apotek tanpa resep dokter. Obat wajib apotek dibuat bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sehingga tercipta
budaya pengobatan sendiri yang tepat, aman, dan rasional (Kemenkes RI, 2017).
contoh: albendazol, dexametason, diclofenac, ibuprofen, ketokonazoledll.
C. Obat keras
Obat keras adalah obat yang berbahaya sehingga pemakaiannya harus di
bawah pengawasan dokter dan obat hanya dapat diperoleh dari apotek, puskesmas
dan fasilitas pelayanan kesehatan lain seperti balai pengobatan dan klinik dengan
menggunakan resep dokter. Obat ini memiliki efek yang keras sehingga jika
digunakan sembarangan dapat memperparah penyakit hingga menyebabkan
kematian. Obat keras dulunya disebut sebagai obat daftar g. Obat keras di tandai
dengan lingkaran merah tepi hitam yang ditengahnya terdapat huruf “k” berwarna
hitam (rahayuda, 2016).
Contoh: antibiotik seperti amoxicylin, obat jantung, obat hipertensi dan lain-lain.
D. Psikotropika dan narkotika
Psikotropika merupakan zat atau obat yang secara alamiah ataupun buatan
yang berkhasiat untuk memberikan pengaruh secara selektif pada sistem syaraf
pusat dan menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku. Obat
golongan psikotropika masih digolongkan obat keras sehingga disimbolkan
dengan lingkaran merah bertuliskan huruf “k” ditengahnya (Undang-undag RI,
1997).Sedangkan narkotika merupakan obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan
perubahan kesadaran dari mulai penurunan sampai hilangnya kesadaran,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan. Narkotika disimbolkan dengan lingkaran merah yang
ditengahnya terdapat simbol palang (+) (Undang-undang RI, 2009)

Tabel 1.1: penggolongan obat berdasarkan jenisnya

2.3.3 Pelayanan informasi obat


Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh apoteker
dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi dengan
kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada profesi
kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk obat resep,
obat bebas danherbal.informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute
dan metode pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi,
keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efeksamping, interaksi,
stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat dan lain-lain.
Kegiatan pelayanan informasi obat di apotek meliputi:
a. Menjawab pertanyaan baik lisan maupuntulisan;
b. Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan masyarakat
(penyuluhan);
c. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien;
d. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang
sedang praktikprofesi;
e. Melakukan penelitian penggunaanobat;
f. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forumilmiah;
g. Melakukan program jaminanmutu.

Pelayanan informasi obat harus didokumentasikan untuk membantu penelusuran


kembali dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan formulir 6
sebagaimana terlampir.Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi pelayanan
informasi obat :

1. Topik pertanyaan;
2. Tanggal dan waktu pelayanan informasi obat diberikan;
3. Metode pelayanan informasi obat (lisan, tertulis, lewat telepon);
4. Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti riwayat
alergi, apakah pasien sedang hamil/menyusui, datalaboratorium);
5. Uraianpertanyaan; jawaban pertanyaan
6. Referensi;
7. Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, via telepon) dan data apoteker yang
memberikan pelayanan informasi obat. (Permenkes ri,2016)
2.3.4 Pelayanan konseling
Konseling merupakan proses interaktif antara apoteker dengan pasien/keluarga untuk
meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi
perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang
dihadapi pasien. Untuk mengawali konseling, apoteker menggunakan three prime
questions.Apabila tingkat kepatuhan pasien dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan
metode health belief model.Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau
keluarga pasien sudah memahami obat yang digunakan.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:
a. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal,
ibu hamil danmenyusui).
b. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: tb, dm, aids,
epilepsi).
c. Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus (penggunaan
kortikosteroid dengan tappering down/off).
d. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin,
teofilin).
e. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk indikasi
penyakityang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari
satu obatuntuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu
jenisobat.
f. Pasien dengan tingkat kepatuhanrendah.
Tahap kegiatan konseling:
 Membuka komunikasi antara apoteker denganpasien.
 Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui three prime
questions, yaitu:
a. Apa yang disampaikan dokter tentang obatanda?
b. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obatanda?
c. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan
setelah anda menerima terapi obat tersebut?
 Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasi masalah penggunaanobat.
 Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
penggunaan obat.
 Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahamanpasien.
2.3.5 Pemantauan terapi obat
Pemantauan terapi obat merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien
mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi
dan meminimalkan efek samping.
kriteria pasien:
a. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.
b. Menerima obat lebih dari 5 (lima)jenis.
c. Adanya multi diagnosis.
d. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atauhati.
e. Menerima obat dengan indeks terapisempit.
f. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat
yangmerugikan.
g. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.
h. Mengambil data yang dibutuhkan yaitu riwayat pengobatan pasien yang terdiri
dari riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat dan riwayat alergi; melalui
wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau tenaga kesehatan lain.
i. Melakukan identifikasi masalah terkait obat. Masalah terkait obat antara lain
adalah adanya indikasi tetapi tidak diterapi, pemberian obat tanpa indikasi,
pemilihan obat yang tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah,
terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan atau terjadinya interaksiobat
j. Apoteker menentukan prioritas masalah sesuai kondisi pasien dan menentukan
apakah masalah tersebut sudah atau berpotensi akanterjadi.
k. Memberikan rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang berisi rencana
pemantauan dengan tujuan memastikan pencapaian efek terapi dan
meminimalkan efek yang tidak dikehendaki.
l. Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah dibuat
oleh apoteker harus dikomunikasikan dengan tenaga kesehatan terkait untuk
mengoptimalkan tujuanterapi.
m. Melakukan dokumentasi pelaksanaan pemantauan terapi obat dengan
menggunakan formulir.
2.3.6 Monitoring efek samping obat
Monitoring efek samping obat merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap
obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau
memodifikasi fungsi fisiologis.
kegiatan pada meso:
a. Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami
efek sampingobat.
b. Mengisi formulir monitoring efek samping obat(meso).
c. Melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat nasional dengan
menggunakan formulir 10 sebagaimana terlampir.
Faktor yang perlu diperhatikan:
 Kerjasama dengan tim kesehatan lain.
 Ketersediaan formulir monitoring efek samping obat(Permenkes RI,2016).
BAB III
TINJAUAN TEMPAT MAGANG
3.1 Tinjauan Tentang Apotek
Kimia Farma adalah perusahan industri farmasi pertama di Indonesia yang didirikan
oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1817. Pada tahun 1958, berdasarkan keputusan
nasional diawal kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia melebur sejumlah perusahan
farmasi menjadi Perusahan Farmasi Negara (PNF) Bhineka Kimia Farma. Kemudian pada
tahun 1971 dibentuk badan hukum menjadi perseroan terbatas, sehingga nama perusahan
berubah nama menjadi PT. Kimia Farma (Persero).
PT. Kimia Farma mendirikan apotek yang tersebar diseluruh Indonesia salah satunya
di Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya di kota kupang. Dikota kupang terdapat
beberapa outlet, salah satunya apotek Kimia Farma yang terletak di Jln. Cak Doko No.43
Oebobo-Kupang. Apotek Kimia Farma Cak Doko didirikan sejak tahun 2015 dan merupakan
apotek Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Letak apotek Kimia Farma Cak Doko sangat
strategis yaitu terletak diarea pertokoan, sekolahan, perkantoran dan rumah sakit.
A. Personalia
Personalia apotek Kimia Farma Cak Doko Kupang memiliki 6 karyawan yang terdiri

dari:

1. Apoteker penanggung jawab apotek : 1 orang ( Ibu Seraviani Cilantri Lakus,

S.Farm., Apt)

2. Tenaga teknik kefarmasian : 4 orang

3. Bagian Kasir : Karyawan Kimia Farma Cak Doko

4. Tenaga cleaning service : 1 orang

Tugas dan tanggung jawab masing-masing personalia yaitu:

a. Apoteker Pengelola Apotek (APA)

Bertanggung jawab untuk kegiatan yang berlangsung di apotek, antara lain:

1) Memeriksa keuangan dan omset harian

2) Melakukan rekrumen karyawan dan membuat jadwal untuk 1 periode.

3) Mengatur jadwal stok opname


4) Membuat laporan narkotika dan psikotropika tiap bulan.

b. Tenaga Teknik Kefarmasian (TTK)

1) Melayani penjualan obat resep dan non resep

2) Menerima barang dari supplier serta memeriksa expired date dan batch

number sesuai faktur

3) Rekap resep harian.

c. Kasir

1) Mengecek dan mengentri harga obat

2) Menyiapkan uang kembalian

3) Menyerahkan barang ke pelanggan

4) Melakukan pelaporan penjualan pada setiap shift.

d. Cleaning Service

1) Bertanggung jawab atas kebersihan apotek

2) Menjaga kebersihan dan kerapian ruang racik

B. Kegiatan Di Apotek

Pelayanan di apotek Kimia Farma Cak Doko selama 18 jam, dengan pembagian shift

kerja yaitu:

Shift Pagi : jam 08.00 -15.00 WITA

Shift Siang : jam 15.00 - 22.00 WITA

3.2 Aspek Manajerial


3.2.1. Laporan keuangan
a. Omzet penjualan
Omzet penjualan di apotek Kimia Farma Cak Doko dilaporkan setiap hari
melalui sistem online dan manual kepada Big manager apotik Kimia Farma.
b. Faktur pajak
Faktur pajak obat reguler mampun obat psikotropika tercatat dalam sistem
software sehingga pelaporan yang dilakukan kepada Brand Manager dalam bentuk
sistem software.

3.2.2. Pengelolaan resep


a. Rekapan resep, resep yang diterima di apotek Kimia Farma Cak Doko direkapitulasi
dalam sistem software.
b. Arsip resep, untuk pengarsipan resep dipisahkan berdasarkan golongan obat yaitu,
antara obat golongan psikotropika disimpan ditempat yang berbeda dengan resep
obat biasa atau reguler.
3.3. Pengelolaan pembekalan farmasi
a. Perencanaan
Perencanaan obat di apotek Kimia Cak Doko, berdasarkan pola penyakit dan
perputaran barang. Obat-obat yang ingin dipesan dicacat pada buku sebagai dasar
stok apotek untuk melakukan pemesanan obat ke pedagang besar farmasi.
b. Pengadaan
Pengadaan obatdan alat kesehatan di apotek Kimia Cak Doko dilakukan pada
saat ketersediaan obat dan alat kesehatan sudah hampir habis yang dilihat pada buku.
Pemesanan dilakukan dengan membuat surat pesanan kepada distributor resmi
(Pedagang Besar Farmasi) dengan melihat legalitasnya.Surat pesanan untuk obat
psikotropika dan prekusor berbeda dengan surat pesanan obat lainnya.
Prosedur penerimaan barang di apotek Kimia Cak Doko yaitu, petugas
apotek menerima barang dari pemasok disertai dengan Surat Pengantar
Barang/Faktur (SPB/F), petugas memeriksa kesesuaian permintaan barang yang ada
di SP dan SPB/F, petugas menandatangani yang disertai stempel pada faktur asli.
Faktur asli diserahkan kepada pemasok dan fotokopi faktur disimpan di apotek.
c. Penyimpanan
Penyimpanan obat di apotek Kimia Cak Doko Kupang baik sediaan sirup,
tablet, injeksi, salep dan krim disimpan berdasarkan efek farmakologi yang disusun
berdasarkan alphabet. Obat paten disimpan secara terpisah dari obat
generiknya.Obat-obat over the counter (OTC) disimpan pada lemari swalayan
farmasi dipisahkan sesuai efek farmakologi. Frekuensi penggunaan untuk obat yang
sering digunakan (fast moving) disimpan pada rak yang mudah dijangkau. Obat
golongan psikotropika disimpan pada tempat penyimpanan khusus yaitu pada lemari
yang dikunci dan untuk obat yang harus tersimpan pada suhu dingin disimpan pada
lemari pendingin. Obat lainnya dalam jumlah yang besar disimpan didalam gudang
penyimpanan obat.
d. Pendistribusian
Penyaluran sediaan farmasi dilakukan melalui penjualan obat bebas,
peresepan dan obat wajib apotek, termaksud dalam peresepan sebagai berikut:
1. Pengelolaan Resep
a) Penerimaan Resep
1) Pemeriksaan kelengkapan resep
2) Nama, alamat, nomor telepon, nomor SIP dan tanda tangan atau paraf
dokter penulis resep
3) Nama, umur, alamat, nomor telpon pasien
4) Pemberian nomor resep
5) Pemeriksaan ketersediaan obat
6) Pemberian harga.
b) Persetujuan dan pembayaran
1) Ada persetujuan pasien
2) Pembayaran tunai
3) Pembuatan kwuitansi atau salinan resep
c) Peracikan
1) Pengambilan obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan
melihat nama obat, kadaluarsa dan keadaan fisik obat.
2) Peracikan obat, pemberian etiket warna putih untuk obat yang melalui
pemberian per oral dan warna biru untuk obat pada pemakaian luar
dengan memperhatikan aturan penggunaan obat.
3) Memasukkan obat kedalam wadah yang sesuai, untuk obat yang berbeda
disimpan secara terpisah untuk menghindari terjadinya penggunaan obat
yang salah.
d) Pemeriksaan akhir
1) Kesesuaian hasil racikan dengan resep yang meliputi nama pasien, nama
obat, bentuk dan jenis sediaan, dosis, jumlah dan aturan pakai.
Kesesuaian salinan resep dengan resep asli.
2) Tanda terima pasien atau penerima obat
3) Penyerahan obat dan pemberian informasi obat yang meliputi nama obat,
kadaluarsa dan keadaan fisik obat, bentuk dan sediaan, dosis, jumlah dan
aturan pakai.
f. Pemusnahan

g. Pengendalian
h. Pencatatan dan Pelaporan
Pelaporan untuk obat golongan narkotik dan psikotropik dilaporkan ke Dinas
Kota Kupang melalui sistem informasi pelaporan penggunaan sediaan jadi narkotika
dan psikotropika nasional (SIPNAP) setiap bulan sebelum tanggal 10 dilaporkan
oleh apoteker pengelolah apotek, namun tetap dilakukan pemeriksaan dari Dinas
Kota Kupang ke apotek Kimia Farma untuk menjamin kesesuaian antara obat yang
tersedia secara fisik di apotek dengan obat pada sistem SIPNAP.

3.4 Aspek pelayanan kefarmasian


3.4.1. Pelayanan atas resep

Penerimaan Resep

Skrining Resep

Skrining klinis :
Skrining administratif : Skrining Farmasetik :
 Nama Dokter, SIP dan  Bentuk sediaan  Ketepatan indikasi
alamat  Dosis apakah sesuai dan dosis
 Tanggal penulisan usia, umur dan berat  Aturan,cara dan
resep badan pasien
lama
 Nama, alamat, jenis  Potensi obat
kelamin, dan berat  Stabilitas penggunaanobat
badan pasien  kompatibilitas  Efek samping
 Kontraindikasi dan
interaksi
Pemberian Harga

Pasien tidak setuju Pasien setuju

Diajukan obat alternatif dengan jenis, jumlah, jumlah


item dan harga sesuai kemampuan pasien

Pasien tidak setuju Pasien setuju

Penyiapan/peracikan obat

Pemeriksaan akhir

Penyerahan obat

Pemberian informasi obat

Gambar 3.1 Pelayanan Resep

3.4.2. Pelayanan Non Resep

Pasien datang dengan permintaan obat tertentu/ dengan keluhan tertentu


berkonsultasi ke Apoteker/TTK untuk menentukan obat yang sesuai

Pemeriksaan stok obat dan harga

Jika pasien setuju dengan harga yang ditentukan, dilakukan pembayaran

Penyerahan obat (jenis dan jumlah), diberi wadah/plastik

Penyerahan obat pada pasien disertai dengan informasi, aturan pakai, indikasi,
efek samping, dan lain hal yang perlu diperhatikan pasen