Anda di halaman 1dari 8

KISAH PENGUSAHA SUKSES DAN KONTRIBUSINYA

TERADAP LINGKUNGAN
Disusun untuk memenuhi Tugas Kewirausahaan

Disusun oleh :
Josua Bili .A
145060701111016

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
KISAH PENGUSAHA SUKSES DAN KONTRIBUSINYA
TERHADAP LINGKUNGAN

Sebagian besar orang mungkin awalnya tidak memiliki cita-cita atau


keinginan untuk menjadi seorang wirausaha. Kebanyakan orang di Indonesia, bahkan
di dunia lebih memilih untuk menjadi seorang pegawai swasta maupun pegawai
negeri sebagai profesinya. Menurut artikel yang dimuat dalam situs Republika.co.id
pada bulan Maret 2015, jumlah pengusaha/wirausahawan di Indonesia hanya 1.65%
dari seluruh penduduk. Jumlah ini tentu sangat tertinggal dengan Negara-negara Asia
Tenggara lain, misalnya Singapura yang mencapai 7% dan Malaysia 5%.

Banyak hal yang membuat banyak orang untuk tidak memiliki keinginan
menjadi seorang wirausaha, selain karena sulitnya mencari sumber dana sebagai
modal usaha, hal yang menghalangi niat seseorang untuk menjadi wirausaha adalah
ketidakpastian yang harus dihadapi oleh seorang wirausahawan.

Kebanyakan orang di Indonesia menganggap bahwa profesi sebagai


wirausaha, bukan merupakan profesi utama yang menjadi keinginan setiap orang.
“Saya akan sukses ketika saya bekerja di sebuah perusahaan yang besar dan ternama”
atau “Saya akan sukses ketika menjadi seorang abdi negara dengan baju seragam
rapid an sepatu mengkilap”, gagasan seperti itulah yang saat ini banyak tertanam
dalam pikiran kita, yang membuat seseorang akan lebih memilih untuk menjadi
seorang pegawai swasta maupun pegawai negeri. Namun, tanpa kita sadari, ada hal
lain yang lebih mulia dibanding bekerja untuk melayani perusahaan atau negara, yaitu
bekerja melayani masyarakat. Menjadi seorang wirausaha, sebenarnya merupakan
pengabdian diri yang sesungguhnya kepada masyarakat. Setiap usaha yang terbentuk,
pasti akan menyelesaikan setiap permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat,
karena pada dasarnya, ide usaha muncul dari permasalahan tersebut. Dengan
berdirinya usaha yang baru, juga akan banyak menyerap tenaga kerja, menciptakan
lapangan kerja baru, menaikkan taraf hidup masyarakat, memajukan perekonomian,
dan menambah pemasukan negara.
Setiap wirausaha baik langsung maupun tidak langsung akan memiliki
kontribusi terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar. Berikut ini adalah
beberapa contoh wirausahawan dengan kontribusinya terhadap lingkungan :

1. Martua Sitorus

Adalah pengusaha sukses yang berasal dari Kota Medan, Sumatra Utara.
Berawal dari bisnis perkebunan kelapa sawit, kini perusahaan yang dirintis sejak
tahun 80’an ini, kini telah menjadi salah satu perusahaan agrobisnis terbesar di Asia.

Pada awal karirnya di tahun 1991, Martua telah mampu memproduksi minyak
kelapa dari perkebunan kelapa sawitnya di Sumatra Utara. Pada tahun 1996 Martua
mulai membangun pabrik pengolahan sendiri yang bertempat di Malaysia.
Selanjutnya pada tahun 2000, Martua mengeluarkan merek minyak kelapa tersebut
dengan nama Sania. Seiring waktu berlalu, pada tahun 2005 perusahaan Martua telah
menjadi perusahaan besar di Asia. Dengan luas perkebunan kelapa sawit mencapai
69.217 hektar dan 65 pabrik, ia mampu mengekspor produknya di 30 negara.

Kemajuan bisnis Martua yang didapatinya dalam waktu singkat ini, diperoleh
karena ia jeli melihat segala peluang dankesempatan yang ada. Martua juga memiliki
pemikiran yang dinamis, inovatif dan agresif dalam menjalankan bisnisnya tersebut.

Berkat kemajuan bisnis PT. Wilmar Nabati Indonesia yang dirintis oleh
Martua ini, perusahaan ini mampu menyerap tenaga kerja sejumlah (kurang lebih)
2.500 tenaga kerja local saat mendirikan anak perusahaan PT. Multimas nabati Asahal
di Desa Teluk Ternate dan Tidore. Kabupaten Serang, Banten. Di darah itu juga akan
dilakukan pembangunan infrastruktur pendukung aktifitas produksi yang sekaligus
juga dapat digunakan warga sekitar untuk memduahkan akses transportasinya. PT.
Wilmar juga aktif dalam pembangunan sarana pendidikan. Pada tahun 2012, PT.
Wilmar memberikan bantuan berupa 15 unit komputer untuk SDN Indro Gresik.
Sebelumnya SDN Indro juga mendapat bantuan prasarana runang belajar senilai Rp
150 juta. Pada tahun 2015 kemarin, PT. Wilmar juga menyumbangkan 150 buku
referensi kepada perpustakaan Intan Payung di Sekolah Alam Bandar Bakau di Jalan
Nelayan Laut, Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat.

Selain memberikan bantuan pada fasilitas pendidikan, PT. Wilmar juga aktif
dalam memberikan bantuan untuk pembangunan desa. Pada tahun 2011-2012
perusahaan minyak tersebut memberikan dana CSR untuk warga Kelurahan
Sidorukun mencapai 2 miliar. Dengan adanya bantuan tersebut, kini kelurahan
Sidorukun memiliki akses transportasi yang lebih baik, sehingga memudahkan
aktifitas warga disana.

Gambar 1. Bantuan CSR yang diberikan untuk warga banten (kiri) dan perpustakaan Dumai
(kanan)

2. Hendy Setiono

Nama tersebut mungkin masih asing kita dengar dalam katergori


wirausahawan Indonesia, namun apabila saya menyebutkan “Kebab Turki Baba
Rafi”, pastilah banyak dari kita yang telah mengetahuinya. Kebab Turki Baba
Rafi meerupakan bisnis yang dirintis oleh pengusaha muda beruasia 25 tahun asal
Surabaya, Hendy Setiono. Kebab Baba Rafi kini telah banyak ditemui diseluruh
wilayah Indonesia, dengan setidaknya 100 outlet di 16 kota di Indonesia, belum
termasuk gerobak-gerobak yang juga digunakan sebaga media pemasaran kebab
ini.

Bisnis Kebab Baba Rafi berawal ketika pada tahun 2003, Hendy Setiono
mengunjungi ayahnya yang sedang bekerja di Qatar. Pada saat itu, ia melihat
banyak kedai yang menjual kebab. Hendy pun kemudia mencoba untuk membeli
kebab tersebut, dan munculah ide untuk menjual kebab di Indonesia.

Hendy pun kemudian mencari seorang partner untuk menjalankan ide


bisnisnya tersebut. Ia bertemu dengan kawannya yang juga tertarik dengan bisni
kuliner, Hasan Baraja. Bersama temannya tersebut, ia mencoba mencari resep
yang sesui untuk kebabnya. Hendy juga memutuskan untuk berhenti kuliah di
tahun keduanya ia kuliah di Teknik Informatika ITS agar lebih fokus terhadap
bisnisnya tersebut.

Dalam waktu 3-4 tahun, bisnis kebab Hendy telah mampu berkembang pesat.
Pada akhir 2006 ia mampu memiliki 100 outlet yang tersebar di wilayah
Indonesia. Selain itu, kini usaha Kebab Hendy juga telah mulia dipasarkan di
beberapa Negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Filipina dan Malaysia.

Berkat keberaniannya dalam menjalankan ide usahanya tersebut, kini Kebab


Baba Rafi mampu menghasilkan omset mencapai 45 miliar pada tahun 2015, dan
25% dari omset teresebut telah masuk sebagai pendapatan bersih yang diterima
Hendy.

Kemajuan usaha Kebab Baba Rafi ini tidak hanya dirasakan oleh Hendy saja,
banyak masyarakat sekitar yang merasa senang karena dengan dibukanya outlet
maupun gerobak jualan kebab ini, dapat memberikan lapangan kerja baru oleh
masyarakat sekitar. Hendy juga aktif dalam peningkatan dan pelatihan wirausaha
yang ada di Indonesia melalui pelatihan wirausaha yang diberikan. Hendy sadar
bahwa wirausaha memiliki peran penting dalam kemajuan ekonomi suatu negara,
dan dalam menjadi seorang wirausaha, tidak hanya perlu menyiapkan modal yang
besar, melainkan ide bisnis yang bagus, dan kemampuan manajemen usaha yang
baik. Selain itu, Kebab Baba rafi juga aktif dalam pemberian bantuan kepada
panti asuhan, sekolah, usaha kecil, dan pembangunan fasilitas desa.
Gambar 2. Pelatihan wirausaha baba rafi (kiri) dan bantuan kepada panti asuhan
Muhammadiyah Kebon Melati, tanah Abang (kanan)

3. Hafiza Elfira

Wanita cantik alumni Universitas Indonesia ini merupakan salah satu


wirausaha inspiratif sekaligus kontributif terhadap sesama. Wanita kelahiran
Jakarta 22 September 1990 ini, mampu memberdayakan ibu-ibu mantan penderita
kusta dalam menjalankan ide bisnisnya. Hafiza menjadi seorang wanita
entrepreneur yang tidak hanya mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru,
melainkan juga menginspirasi wirausahawan lainnya.

Bisnis Hafiza berawal ketika ia menerima tugas kuliah (KKN). KKN yang
memiliki waktu tiga bulan dan dana sebesar 7,5 juta ini dilanjutkan Hafiza hingga
sekarang. Pada awalnya, Hafiza bersama teman-temannya mengumpulkan 20 ibu-
ibu OYPMK (Orang yang Pernah Menderita Kusta), melalui Nalacity Foundation
ia pun kemudian mengajarkan ibu-ibu OYPMK dalam membuat jilbab dan
manik-manik. Hafiza melihat peluang bisnis jilbab saat ini sangat besar, karena
mode jilbab yang semakin beragam dan banyak peminatnya.

Setiap bulannya, hafiza membeli 60-80 bahan kain di Jakarta untuk bahan
baku jilbabnya. Produk-produk yang telah diposes menjadi jilab jadi kemudian
diambil oleh Nalacity Foundation setiap minggunya. Media pemasaran yang ia
gunakan ialah melalui online. Produk jilbab dan manik-manik buatan Hafiza pun
kini telah mencapai pasar ekspor hingga Qatar.
Walaupun Hafiza belum mendapatkan keuntungan besar seperti wirausaha
lain dalam menjalankan bisnisnya, namun ada poin penting yang membuat Hafiza
lebih bernilai secara sosial menurut saya. Hafiza tidak merasa khawatir ketika
bersosialisasi dengan mantan penderita kusta tersebut. Hafiza juga mampu
memberikan pandangan baru bahwa, setiap orang pasti memiliki kekurangan dan
kelebihannya masingmasing, namun setiap orang tersebut pasti dianugerahi
kemampuan dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Oleh sebab itu,
tempatkanlah seseorang dengan pekerjaannya yang sesuai, dan jangan kita
membatasi kemampuan orang lain dari kekurangan yang ia miliki.

Gambar 3. Hafiza (kanan) bersama ibu-ibu OYPMK


REFERENSI

Sasongko, Agung. “Jumlah Pengusaha Indonesia Hanya 1,65 persen”. www.


Republika.co.id. Diakses pada tanggal 18 Febuari 2016.

Wahib. “PT Wilmar Nabati Indonesia Berikan CSR ke SDN Indro Gresik”.
www.gresik.co. Diakses pada tanggal 20 Febuari 2016.

Darjat. “PT Wilmar Bangun Perusahaan Baru”. www.bantenraya.com. Diakses pada


tanggal 20 Febuari 2016.

Irfanudin. “Hendy Setiono Menjadi Miliarder di Usia Muda”. www.sukses-


biz.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 20 Febuari 2016

Anonymus. “CSR Baba Rafi”. www.babarafi.com. Diakses pada tanggal 20 Febuari


2016

Audriene, Dinda. “Kisah Inspiratif Hafiza Alfira membantu OYPMK”.


www.peluangusaha.kontan.co.id. Diakses pada tanggal 20 Febuari 2016

Budiharjo, Ety. “Hafiza, Pemberdaya Para Mantan Penderita Kusta”.


www.kartunet.com. Diakses pada tanggal 20 Febuari 2016