Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sistem endokrin adalah suatu sistem yang terdiri atas banyak kelenjar
di tubuh kita. Kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang
memiliki susunan mikroskopis sederhana, dimana kelenjar – kelenjar ini akan
mensekresikan substansi kimia yang dihantarkan ke seluruh sistem tubuh
melalui pembuluh darah untuk menimbulkan suatu efek tertentu. Kelenjar
tiroid dan paratiroid merupakan contoh kelenjar yang berperan besar pada
tubuh manusia. Kelenjar tiroid akan mengeluarkan 2 hormon utama yakni
Triiodotironin (T3) dan Tiroksin (T4) yang memiliki peranan terhadap
metabolisme tubuh, sedangkan kelenjar paratiroid yang berukuran lebih kecil
dibanding kelenjar tiroid akan mensekreskan hormon paratiroid (PTH) yang
berperan besar terhadap keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh.
Oleh karena itu, karena sistem endokrin merupakan suatu sistem
penting dan memiliki fungsi vital pada kehidupan manusia, maka seorang
mahasiswa kedokteran haruslah mempelajari dan memahami tentang fisiologi
kelenjar tiroid – paratiroid dan pemeriksaan penunjang sehingga kelak dapat
menjadi dokter yang memiliki pengetahuan yang baik dan mampu memeriksa
pasien serta mengerti permasalahan yang nantinya ditemukan pada pasien
saat di klinis.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui pentingnya


mempelajari mengenai pentingnya kelenjar tiroid dan partiroid terhadap
fungsi tubuh manusia.

TANGANKU GEMETARAN Page 1


1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari laporan ini yaitu agar mahasiswa mampu mengetahui
pentingnya mempelajari mengenai pentingnya kelenjar tiroid dan paratiroid
terhadap fungsi tubuh manusia.

TANGANKU GEMETARAN Page 2


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Data tutorial

Hari/Tanggal
 Sesi 1 : Senin, 25 September 2017
 Sesi 2 : Rabu, 27 September 2017
Tutor : dr. Nyoman Cahyadi T.S
Moderator : Qatrunnada Emilia K
Sekretaris :
1. Dea Nur Amalia Secartini
2. Farida Yuni Pertiwi

2.2 Skenario LBM

LBM 3

TANGANKU GEMETARAN

Skenario

Ny. Tina usia 35 tahun tinggal di daerah pegunungan datang ke Puskesmas


dengan keluhan tangannya gemetaran, keluhan sudah dirasakan sejka 6 tahun
yang lalu tetapi memberat 5 bulan terakhir. Ny. Tina juga mengeluhkan terdapat
benjolan pada lehernya sebesar telur ayam, sering berkeringat dan dadanya sering
berdebar – debar.

Ny. Tina mengatakan 1 tahun yang lalu pernah memeriksakan kondisinya


ke dokter spesialis, kemudian diusulkan melkaukan pemeriksaan untuk hormon
tiroid dan paratiroidnya, tetapi Ny. Tina tidak melakukan pemeriksaan tersebut
karena takut akan dioperasi. Ny. Tina memiliki tetangga yang mempunyai
keluhan yang sama dengan Ny. Tina dan dioperasi, tapi setelah dioperasi

TANGANKU GEMETARAN Page 3


kondisinya tidak lebih baik, tetangganya jadi sering kejang – kejang, pemarah,
kulit dan kukunya kering, rambutnya rontok, sendinya sering ngilu dan pelupa
padahal sebelum operasi tidak seperti itu.

Ny. Tina bertanya kepada dokter tentang penyebab kenapa tetangganya


bisa seperti itu dan jika dia dioperasi apakah juga akan jadi seperti itu, dokter di
puskesmas kemudian menjelaskan kepada Ny. Tina tentang kemungkinan
penyakit yang dideritanya dan menjelaskan bagaimana operasi pengangkatan
benjolan pada leher bisa menyebabkan gangguan pada kelenjar paratiroid dan
hormon yang dihasilkan oleh kelenjar paratiroid sehingga menimbulkan gejala
diatas, serta perlunya dilakukan pemeriksaan penunjang.

2.3. PEMBAHASAN LBM

I. Klarifikasi Istilah

Kelenjar Tiroid : Salah satu kelenjar terbesar dalam tubuh


manusia yang terletak tepat dibawah laring dan
disebelah anterior trakea yang akan
mensekresikan hormon tiroid berupa
Triioditirosin dan Tiroksin. (Guyton and Hall,
2014)
Kelenjar Paratiroid : Kelenjar yang terletak di posterioir lobus
kelenjar tiorid yang mensekresikan hormon
paratiorid (PTH) (Price, 2006)
Hormon Tiroid : Hormon yang disekresikan oleh kelenjar tiroid
yakni berupa Triiodotirosin (T3) yang memiliki
3 atom yodium dan Tiroksin (T4) yang
memiliki 4 atom yodium. (Price, 2006)

TANGANKU GEMETARAN Page 4


II. Identifikasi Masalah
1. Bagaimana struktur anatomi dari kelenjar tiroid dan paratiroid ?
2. Bagaimana struktur histologi dari kelenjar tiroid dan paratiroid ?
3. Apa yang menyebabkan Ny. Tina mengalami adanya benjolan, sering
berkeringat dan dadanya berdebar – debar?

III. Brain Storming

1. Bagaimana struktur anatomi dari kelenjar tiroid dan paratiroid ?


Jawaban :
Anatomi Kelenjar Tiroid
Thyroid adalah suatu kelenjar endokrin yang sangat vaskular,
berwarna merah kecoklatan dengan konsistensi yang lunak. Kelenjar
thyroid terdiri dari dua buah lobus yang simetris. Berbentuk konus
dengan ujung cranial yang kecil dan ujung caudal yang besar. Antara
kedua lobus dihubungkan oleh isthmus, dan dari tepi superiornya
terdapat lobus piramidalis yang bertumbuh ke cranial, dapat mencapai
os hyoideum. Pada umumnya lobus piramidalis berada di sebelah kiri
linea mediana. (Drake, 2012)

Setiap lobus kelenjar thyroid mempunyai ukuran kira-kira 5 cm,


dibungkus oleh fascia propria yang disebut true capsule, dan di sebelah
superficialnya terdapat fascia pretrachealis yang membentuk false
capsule. (Drake, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 5


Kelenjar thyroid berada di bagian anterior leher, di sebelah
ventral bagian caudal larynx dan bagian cranial trachea, terletak
berhadapan dengan vertebra C 5-7 dan vertebra Th 1. Kedua lobus
bersama-sama dengan isthmus memberi bentuk huruf “U”. Ditutupi
oleh m. sternohyoideus dan m.sternothyroideus. Ujung cranial lobus
mencapai linea obliqua cartilaginis thyreoideae, ujung inferior meluas
sampai cincin trachea 5-6. Isthmus difiksasi pada cincin trachea 2,3 dan
4. Kelenjar thyroid juga difiksasi pada trachea dan pada tepi cranial
cartilago cricoidea oleh penebalan fascia pretrachealis yang dinamakan
ligament of Berry. Fiksasi-fiksasi tersebut menyebabkan kelenjar
thyroid ikut bergerak pada saat proses menelan berlangsung. Topografi
kelenjar thyroid adalah sebagai berikut:
 Di sebelah anterior terdapat m. infrahyoideus, yaitu m.
sternohyoideus, m. sternothyroideus, m. thyrohyoideus dan m.
omohyoideus.
 Di sebelah medial terdapat larynx, pharynx, trachea dan
oesophagus, lebih ke bagian profunda terdapat nervus laryngeus
superior ramus externus dan di antara oesophagus dan trachea
berjalan nervus laryngeus recurrens. Nervus laryngeus superior dan
nervus laryngeus recurrens merupakan percabangan dari nervus
vagus. Pada regio colli, nervus vagus mempercabangkan ramus
meningealis, ramus auricularis, ramus pharyngealis, nervus
laryngeus superior, ramus cardiacus superior, ramus cardiacus

TANGANKU GEMETARAN Page 6


inferior, nervus laryngeus reccurens dan ramus untuk sinus
caroticus dan carotid body.
 Di sebelah postero-lateral terletak carotid sheath yang
membungkus a. caroticus communis, a. caroticus internus, vena
jugularis interna dan nervus vagus. Carotid sheath terbentuk dari
fascia colli media, berbentuk lembaran pada sisi arteri dan menjadi
tipis pada sisi vena jugularis interna. Carotid sheath mengadakan
perlekatan pada tepi foramen caroticum, meluas ke caudal
mencapai arcus aortae. Fascia colli media juga membentuk fascia
pretrachealis yang berada di bagian profunda otot-otot
infrahyoideus. Pada tepi kelenjar thyroid, fascia itu terbelah dua
dan membungkus kelenjar thyroid tetapi tidak melekat pada
kelenjar tersebut, kecuali pada bagian di antara isthmus dan cincin
trachea 2, 3 dan 4.8 (Drake, 2012)

Vaskularisasi Kelenjar Thyroid


Kelenjar thyroid memperoleh darah dari arteri thyroidea
superior, arteri thyroidea inferior dan kadang-kadang arteri thyroidea
ima (kira-kira 3 %). Pembuluh darah tersebut terletak antara kapsula
fibrosa dan fascia pretrachealis.8 Arteri thyroidea superior merupakan
cabang pertama arteri caroticus eksterna, melintas turun ke kutub atas
masing-masing lobus kelenjar thyroid, menembus fascia pretrachealis
dan membentuk ramus glandularis anterior dan ramus glandularis
posterior.8 Arteri thyroidea inferior merupakan cabang truncus
thyrocervicalis, melintas ke superomedial di belakang caroted sheath
dan mencapai aspek posterior kelenjar thyroid. Truncus thyrocervicalis
merupakan salah satu percabangan dari arteri subclavia. Arteri
thyroidea inferior terpecah menjadi cabang-cabang yang menembus
fascia pretrachealis dan memasok darah ke kutub bawah kelenjar
thyroid.8 Arteri thyroidea ima biasanya dipercabangkan oleh truncus
brachiocephalicus atau langsung dipercabangkan dari arcus aortae.8

TANGANKU GEMETARAN Page 7


Tiga pasang vena thyroidea menyalurkan darah dari pleksus vena pada
permukaan anterior kelenjar thyroid dan trachea. Vena thyroidea
superior menyalurkan darah dari kutub atas, vena thyroidea media
menyalurkan darah dari bagian tengah kedua lobus dan vena thyroidea
inferior menyalurkan darah dari kutub bawah. Vena thyroidea superior
dan vena thyroidea media bermuara ke dalam vena jugularis interna,
dan vena thyroidea inferior bermuara ke dalam vena brachiocephalica.
(Paulsen, 2008)

Innervasi Kelenjar Thyroid


Persarafan simpatis diperoleh dari ganglion cervicalis superior
dan ganglion cervicalis media yang mencapai kelenjar thyroid dengan
mengikuti arteri thyroidea superior dan arteri thyroidea inferior atau
mengikuti perjalanan nervus laryngeus superior ramus eksternus dan
nervus laryngeus recurrens. Serat-serat saraf simpatis mempunyai efek
perangsangan pada aktifitas sekresi kelenjar thyroid.3, 8 Nervus
laryngeus superior mengandung komponen motoris untuk m.
cricothyroidea, dan komponen sensoris untuk dinding larynx di
sebelah cranial plica vocalis. (Paulsen, 2008)

TANGANKU GEMETARAN Page 8


Nervus laryngeus recurrens mengandung komponen motoris
untuk semua otot intrinsik laryngeus dan komponen sensoris untuk
dinding larynx di sebelah caudal dari plica vocalis.8
Nervus laryngeus superior mempercabangkan ramus internus dan
ramus eksternus. Ramus internus berjalan menembus membrana
thyrohyoidea, dinding anterior fossa piriformis dan mencapai otot-otot
lateral serta membawa komponen sensoris untuk dinding larynx di
cranial plica vocalis dan aditus laryngeus. Sedangkan ramus eksternus
mempersarafi m. cricothyroidea. (Paulsen, 2008)

Kerusakan pada nervus laryngeus superior menyebabkan


perubahan suara yang khas dan hilangnya sensasi dalam larynx di
cranial plica vocalis.8 Nervus laryngeus recurrens yang terletak dalam
sulkus tracheoesophagus memasuki pharynx dengan melewati bagian
profunda tepi inferior m. constrictor pharyngeus inferior dan berada
pada bagian dorsal articulatio cricothyroidea. Kerusakan pada nervus
recurrens menyebabkan paralisis plica vocalis. (Paulsen, 2008)

Aliran Limfe Kelenjar Thyroid


Pembuluh limfe kelenjar thyroid melintas di dalam jaringan ikat
antar lobulus dan berhubungan dengan anyaman pembuluh limfe
kapsular. Dari sini pembuluh limfe menuju ke lymphonodus cervicalis
anterior profunda prelaryngealis, lymphonodus cervicalis anterior
profunda pretrachealis dan lymphonodus cervicalis anterior profunda
paratrachealis.8 Di sebelah lateral, pembuluh limfe mengikuti vena
thyroidea superior dan melintas ke lymphonodus cervicalis profunda.
(Paulsen, 2008)

Anatomi Kelenjar Paratiroid

Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia,


yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub
superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya. Namun, letak

TANGANKU GEMETARAN Page 9


masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi,
jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.
(Paulsen, 2008)

Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3


milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran
makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid sulit untuk
ditemukan selama operasi tiroid karena kelenjar paratiroid sering
tampak sebagai lobules yang lain dari kelenjar tiroid. Dengan alasan
ini, sebelum manfaat dari kelenjar ini diketahui, pada tiroidektomi
total atau subtotals sering berakhir dengan pengangkatan kelenjar
paratiroid juga.(Guyton and Hall, 2012)

Pengangkatan setengah bagian kelenjr paratiroid biasanya


menyebabkan sedikit kelainan fisiologik. Akan tetapi, pengangkatan
pengangkatan tiga atau empat kelenjar normal biasanya akan
menyebabkan hipoparatiroidisme sementara. Tetapi bahkan sejumlah
kecildari jaringan paratiroid yang tinggal biasanya sudah mampu
mengalami hipertrofi dengan cukup memuaskan sehingga dapat
melakukan fungsi semua kelenjar.Kelenjar paratiroid orang dewasa
terutama terutama mengandung sel utama (chief cell) yang
mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum
endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi
hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih
besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria
dalam sitoplasmanya.Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit
dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi
pada sebagianbesar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak
ditemukan. Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin
merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi
sejumlah hormone Sel darah merah Sel oksifil Sel utama (chief cell).
(Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 10


2. Bagaimana struktur histologi dari kelenjar tiroid dan paratiroid ?
Jawaban :
Struktur Histologis Kelenjar Thyroid
Kelenjar thyroid hampir seluruhnya terdiri atas kista-kista
bulatyang disebut folikel. Folikel adalah unit struktural dan unit
fungsional, terdiri atas epitel selapis kubis yang mengelilingi suatu
ruangan yang berisi koloid. Folikel-folikel bervariasi ukurannya dari
diameter sekitar 50 μm sampai 1 mm dan yang terbesar tampak secara
makroskopis. Folikel dikelilingi oleh membrana basalis yang tipis dan
jaringan ikat interstisial membentuk jala-jala retikulin sekeliling
membrana basalis. Sel-sel folikular biasanya berbentuk kubis, tetapi
tingginya berbeda-beda, tergantung pada keadaan fungsional kelenjar
itu. Jika thyroid secara relatif tidak aktif, sel-selnya hampir gepeng.
Sedangkan dalam keadaan kelenjar sangat aktif, sel-sel akan berbentuk
kolumnar. (Eroschenko, 2015)

Namun keadaan fungsional kelenjar tidaklah harus secara ekslusif


berdasarkan pada tingginya epitel.
Sel - sel folikular semuanya membatasi lumen dan mempunyai inti
bulat dengan warna agak pucat. Di ruang interfolikular, terdapat
fibroblast yang tersebar dan serat-serat kolagen yang tipis. Selain itu,
terdapat sejumlah besar kapilar tipe fenestrata yang sering

TANGANKU GEMETARAN Page 11


berhubungan langsung dengan lamina basalis folikel. (Eroschenko,
2008)
Ultrastruktur sel-sel folikular memperlihatkan semua ciri-ciri sel
yang pada saat yang sama membuat, mengekskresikan, menyerap dan
mencerna protein. Bagian basal sel-sel ini penuh dengan retikulum
endoplasma kasar. Inti umumnya bulat dan terletak di pusat sel.
Kompleks Golgi terdapat pada kutub apikal. Di daerah ini terdapat
banyak lisosom dan beberapa fagosom besar. Membran sel kutub
apikal memiliki mikrovili. Mitokondria, retikulum endoplasma kasar
dan ribosom tersebar di seluruh sitoplasma.(Gartner, 2007)
Sel-sel C terletak di antara membrana basalis dan sel-sel folikular.
Berbentuk lonjong, lebih besar dan lebih pucat daripada sel folikular
dan juga berisi inti lebih besar dan lebih pucat. (Gartner, 2007)

Histologi Kelenjar Paratiroid


Secara histologis, kelenjar paratiroid dibatasi oleh kapsul fibrosa
tipis yang menindih jaringan jaringan adiposa, pembuluh darah dan
parenkim kelenjar. Jumlah stroma fibroadipose meningkat jaringan
dengan penuaan, akhirnya terdiri dari sekitar 50% dari volume kelenjar
pada lansia. (Gartner, 2007)

Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu chief cell dan oxyphill
cell. Chief cell merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid,
mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon

TANGANKU GEMETARAN Page 12


(PTH). Chief cell paratiroid adalah jenis sel utama dari kelenjar
paratiroid pada subyek sehat. Chief cell pada tahap aktif siklus
sekretori mereka akan berbentuk kuboid dan memiliki interdigitations
rumit antara sel-sel yang berdekatan. (Eroschenko, 2015)
Chief cell pada tahap aktif berbentuk oval atau berbentuk
poligonal. Membran plasma sel chief yang berdekatan dompet kursus
berliku-liku dengan interdigitations kompleks. Inti berbentuk oval atau
bulat dengan pelagica sesekali. Sel-sel kaya akan ribosom bebas dan
retikulum endoplasma kasar. Kompleks Golgi mengandung banyak
granula prosecretory. Butiran-butiran yang keluar dari 150 sampai 200
nm diameter didistribusikan di sekitar kompleks Golgi dan sitoplasma
perifer. Oxyphil cell diamati baik secara tunggal atau dalam kelompok
kecil diselingi antara chief cell. Mereka lebih besar dari chief cell dan
sitoplasma berlimpah diisi dengan berbagai besar mitokondria.
Mitokondria juga merupakan situs untuk metabolisme vitamin D.
Vitamin D 1-αOHase sangat sangat disajikan dalam sel oxyphil.
Retikulum endoplasma kasar langka dan kompleks Golgi terkait
dengan beberapa butiran prosecretory kurang berkembang. Beberapa
butiran sekretori, lisosom, tetesan lipid dan partikel glikogen yang
hadir. Oxyphil cell telah terbukti histokimia memiliki oksidatif yang
lebih tinggi dan aktivitas enzim hidrolitik dari sel chief cell terkait
dengan peningkatan yang ditandai dalam mitokondria. (Eroschenko,
2015)

3. Apa yang menyebabkan Ny. Tina mengalami adanya benjolan, sering


berkeringat, dan dadanya berdebar – debar ?
Jawaban :
Benjolan yang ditemukan pada leher bisa bermacam - macam asal
dan penyebabnya. Mulai dari kulit sampai dengan organ yang paling
dalam daerah leher. Jika ditinjau dari asalnya, benjolan tersebut bisa

TANGANKU GEMETARAN Page 13


berasal dari kulit, jaringan otot, jaringan saraf, jaringan pembuluh darah,
jaringan tulang dan tulang rawan, kelenjar getah bening, kelenjar tiroid,
atau bisa juga berasal dari kelenjar parotis. Penyebabnya pun bisa karena
infeksi dan inflamasi, neoplasia, kista, metastasis, dan lain-lain.
Namun, dari ciri ciri tersebut bisa dikatakan ada gangguan pada
hormon tiroid. Hormon tiroid ini meningkatkan aktivitas metabolisme
hampir seluruh jaringan tubuh. Bila sekresi hormon ini banyak sekali,
maka kecepatan metabolisme basal mneingkat sampai setinggi 60 sampai
100 persen di atas normal. Kecepatan penggunaan makanan sebagai
sumber energi juga meningkat. Walaupun kecepatan sintesis protein pada
saat itu juga meningkat, pada saat yang sama, kecepatan katabolisme
protein juga meningkat. (Guyton andh Hall, 2014)
Terjadi benjolan bisa saja dikarenakan kekurangan yodium yang
menghambat produksi hormon triiodotironin. Akibatnya, tidak tersedia
hormon yang dapat dipakai untuk menghambat produksi TSH hipofisis
anterior; hal ini menyebabkan kelenjar hipofisis menyekresi banyak sekali
TSH yang akan merangsang sel - sel tiroid menyekresikan banyak sekali
koloid triglobulin ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh semakin besar.
Namun, karena yodiumnya kurang, produksi tiroksin dan triiodotironin
tidak meningkat dalam molekul tiroglobulin, sehingga tidak ada
penekanan secara normal pada produksi TSH kelenjar hipofisis. Ukuran
folikelnya menjadi sangat besar, dan kelenjar tiroidnya dapat membesat 10
sampai 20 kali ukuran normal(Guyton and Hall, 2014)
Hormon tiroid ini juga dapat meningkatkan kekuatan jantung.
Peningkatan aktivitas enzimatik yang disebabkan oleh peningkatan
produksi hormon tiroid nampaknya juga meningkatkan kekuatan jantung
bila sekresi hormon tiroid sedikit berlebih. Keadaan ini analog dengan
meningkatnya kekuatan jantung yang terjadi pada pasien demam ringan
dan selama melakukan kerja fisik. Namun bila hormpon tiroid meningkat
tajam, maka kekuatan otot jantung akan ditekan akibat timbulnya
katabolisme yang berlebihan dalam jangka lama. Selain itu telah

TANGANKU GEMETARAN Page 14


dijelaskan di atas bahwa hormon tiroid menyebabkan meningkatnya
metabolisme jaringan yang dapat mempercepat pemakaian oksigen dan
memperbanyak pelepasan jumlah produk akhir metabolisme dari jaringan.
Efek ini menyebabkan vasodilatasi di sebagian besar jaringan tubuh,
sehingga meningkatkan aliran darah. Kecepatan aliran darah di kulit
terutama meningkat oleh karena meningkatnya kebutuhan untuk
pembuangan panas dari tubuh. Sebagai akibat meningkatnya aliran darah,
maka curah jantung juga akan meningkat sampai 60 persen atau lebih di
atas normal bila terdapat kelebihan hormon tiroid dan turun sampai hanya
50 persen dari normal pad keadaaan hipotiroidisme yang sangat berat.
Hormon tiroid mempunyai pengaruh langsung pada eksitabilitas jantung,
yang selanjutnya meningkatkan frekuensi denyut jantung. (Guyton andh
Hall, 2014)
Seringnya berkeringat dikarenakan hormon tiroid meningkatkan
aktivitas metabolisme hampir seluruh jaringan tubuh. Bila sekresi hormon
ini banyak sekali, maka kecepatan metabolisme basal meningkat sampai
setinggi 60 sampai 100 persen di atas normal. Kecepatan penggunaan
makanan sebagai sumber energi juga meningkat. Walaupun kecepatan
sintesis protein pada saat itu juga meningkat, pada saat yang sama,
kecepatan katabolisme protein juga meningkat, (Guyton andh Hall, 2014)

TANGANKU GEMETARAN Page 15


IV. Rangkuman Permasalahan

Sistem endokrin adalah suatu sistem yang terdiri atas banyak


kelenjar di tubuh kita, dimana kelenjar endokrin merupakan sekelompok
susunan sel yang memiliki susunan mikroskopis sederhana, dimana
kelenjar – kelenjar ini akan mensekresikan substansi kimia yang
dihantarkan ke seluruh sistem tubuh melalui pembuluh darah untuk
menimbulkan suatu efek tertentu. Kelenjar tiroid dan paratiroid merupakan
sebagain contoh kelenjar yang berperan besar dalam homeostasis tubuh.
Terletak di daerah leher. Kelebihan dari sekresi hormon tiroid akan
menyebabkan pembesaran pada kelenjar dan mengganggu fisiologis dari
sistem metabolisme dalam tubuh yang mempengaruhi salah satunya sistem
kardiovaskular dan respirasi.

TANGANKU GEMETARAN Page 16


V. Learning Issue
1. Bagaimana mekanisme biosintesis dan metabolisme kelenjar tiroid dan
paratiroid ?
2. Apa fungsi fisiologis hormon tiroid dan paratiroid ?
3. Bagaimana mekanisme metabolisme vitamin D ?
4. Bagaimanan peranan keseimbangan antara kalsium dan fosfat ?
5. Bagaimana mekanisme sekresi hormon kalsitonin dan peranannya ?
6. Mengapa proses tiroidektomi dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar
paratiroid yang menimbulkan gejala – gejala seperti yang dialami tetangga
Ny. Tina ?

TANGANKU GEMETARAN Page 17


VI. Referensi

Sistem endokrin terdiri dari berbagai macam kelenjar yang


menghasilkan hormon, di antaranya adalah kelenjar tiroid dan paratiroid.

A. Kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid, terletak tepat di bawah laring pada kedua sisi dan
di sebelah anterior trakea, merupakan salah satu kelenjar endokrin
terbesar, normalnya memiliki berat 15 sampai 20 gram pada orang dewasa
(Guyton and Hall 2016).
Sel – sel sekretorik utama tiroid, yang dikenal sebagai sel folikel,
tersusun membentuk bola - bola berongga, yang masing - masing
membentuk unit fungsional yang dinamai folikel. Folikel tampak sebagai
cincin yang terdiri dari satu lapisan sel - sel folikel yang mengelilingi
suatu lumen di bagian dalam yang terisi oleh koloid, bahan yang berfungsi
sebagai tempat penyimpanan ekstrasel untuk hormone tiroid. Koloid di
dalam lumen folikel berada di ekstrasel yaitu di luar sel tiroid, meskipun
terletak di dalam bagian interior folikel (Sherwood, 2014).
Tiroid menyekresikan dua macam hormone utama yakni tiroksin
(T4) dan triiodotironin (T3). Kedua hormon ini sangat meningkatkan
kecepatan metabolisme tubuh. Kekurangan sekresi tiroid total biasanya
menyebabkan penurunan kecepatan metabolisme basal kira - kira 40 - 50%
di bawah normal, dan bila kelebihan sekresi tiroid sangat hebat dapat
meningkatkan laju metabolisme basal sampai setinggi 60 - 100% di atas
normal. Sekresi kelenjar tiroid terutama diatur oleh hormone perangsang
tiroid yaitu thyroid stimulating hormone (TSH) yang disekresikan oleh
kelenjar hipofisis anterior. Di ruang intestinum di antara folikel –folikel
pada kelenjar tiroid terselip sel sekretorik lain yaitu sel C yang
menyekresikan kalsitonin, hormon yang penting bagi metabolisme
kalsium. (Guyton and Hall, 2016).

TANGANKU GEMETARAN Page 18


Pembentukan hormon tiroid

Fungsi sekretorik sel folikular, yang berperan dalam pembentukan


hormone tiroid di kelenjar tiroid, dikendalikan oleh thyroid sttimulasing
hormone (TSH) yang dilepaskan dari adenohipofisis. Iodide adalah unsur
penting untuk menghasilkan hormone tiroid aktif triiodotironin (T3) dan
tetraiodotironin atau tiroksin (T4) yang dibebaskan ke dalam aliran darah
oleh kelenjar tiroid (Ereschenko, 2015).

Kadar hormone tiroid yang rendah dalam darah merangsang


pelepasan TSH dari adenihipofisis. Sebagai respons terhadap stimulus
TSH, sel folikular di kelenjar tiroid menyerap iodide dari sirkulasi melalui
pompa iodide yang terletak di membrane sel basal. Iodide kemudian
dioksidasi menjadi iodium di sel folikular dan di angkut kedalam lumen
folikel. Di lumen, iodium berikatan dengan gugus asam amino tirosin
untuk membentuk trigobulin teriodinasi, dengan produk utama adalah
hormone triiodotironin (T3) dantiroksin (T4). T3 dan T4 tetap terikat pada
trigobulin teriodinasi di folikel tiroid dalam bentuk inaktif sampai
dibutuhkan. TSH yang dilepaskan dari adenohipofisis merangsang sel
kelenjar tiroid untuk mengeluarkan hormone tiroid kedalam aliran
darah(Ereschenko, 2015).

Pelepasan hormone tiroid

Pelepasan hormone tiroid mencakup endositosis (penyerapan)


trigobulin oleh sel – sel folikular, hidrolisis trigobulin teriodinasi oleh
lisosom, dan pelepasan hormone tiroid (T3 dan T4) utama di basis sel
folikular kedalam kapiler. Adanya hormone tiroid di dalam sirkulasi
umum meningkatkan laju metabolisme tubuh dan meningkatkan
metabolisme, pertumbuhan, diferensiasi, dan perkembangan sel di seluruh
tubuh. Selain itu, hormone tiroid meningkatkan laju metabolism protein,
karbohidrat, dan lemak (Ereschenko, 2015).

TANGANKU GEMETARAN Page 19


B. KelenjarParatiroid
Kelenjar paratiroid berjumlah empat buah yang terletak tepat di
belakang kelenjar tiroid, satu kelenjar di belakang setiap kutub atas dan
kutub bawah kelenjar tiroid. Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira -
kira 6 ml, lebar 3mm, dan tebalnya 2 mm (Guyton and Hall, 2016).
Kelenjar paratiroid mengandung sel utama (chief cell) dan sel
oksifil. Sel prinsipalis (chief cell) kelenjar paratiroid menghasilkan
hormone paratiroid. Fungsi utama hormone ini adalah mempertahankan
kadar kalsium yang sesuai dalam cairan tubuh ekstraselular. Hal ini
dilakukan dengan menaikkan kadar kalsium dalam darah. Efek ini
berlawanan dengan atau antagonis terhadap efek kalsitonin, yang
dihasilkan oleh sel parafolikular di kelenjar tiroid (Ereschenko, 2015).

Pelepasan hormone paratiroid merangsang foliferasi dan


meningkatkan aktifitas osteoklas di tulang. Aktivitas ini melepaskan lebih
banyak kalisum dari tulang kedalam aliran darah, dengan demikian
mempertahankan kadar kalsium yang sesuai. Dengan meningkatkan kadar
kalsium dalam darah, produksi hormone paratiroid lebih lanjut terhambat
(Ereschenko, 2015).

Hormone paratiorid juga mempengaruhi ginjal dan usus. Tubulus


kontrotus distal ginjal meningkatkan reabsopsi kaslium dari filtrate
glomelurus dan mengeliminasi ion fosfat, natrium dan kalium de dalam
urin. Hormone paratiroid juga mempengaruhi ginjal untuk membentuk
kalsitiriol, bentuk aktif vitamin D, menyebabkan peningkatan absorpsi
kalsium dari saluran cerna unrtuk kehidupan (Ereschenko, 2015).

Sekresi dan pelepasan hormone paratiroid terutama bergantung pada


konsentrasi kadar kalsium dalam darah dan bukan pada hormone hopifisis.
Karena hormone paratiroid mempertahankan kadar kalsium dalam darah
yang optimal, kelenjar paratiroid penting untuk kehidupan (Ereschenko,
2015)

TANGANKU GEMETARAN Page 20


VII. Pembahasan Learning Issue
1. Bagaimana meknaisme biosintesis dan metabolisme kelenar tiroid dan
paratiroid ?
Jawaban :
Metabolisme Kelenjar Tiroid
 Tahap I (Penangkapan Iodida)
Iodida yang berasal dari makanan akan di absorbsi di
saluran cerna dan masuk kedalam pembuluh darah. Kemudian
iodida ini akan ditangkap menuju sel tiroid.(Guyton and Hall,
2012)
Membran basal sel tiroid mempunyai kemampuan yang
spesifik untuk memompakan iodida secara aktif ke bagian dalam
sel. Hal ini terjadi oleh aktivitas simporter natrium-iodida (NIS),
yang mentranspor satu ion iodida bersama-sama dengan dua ion
natrium menembus membran (plasma) basolateral masuk ke dalam
sel. Energi yang dipakai untuk mentranspor iodide melawan
perbedaan konsentrasi berasal dari pompa natriumkalium ATPase,
yang memompa natrium keluar dari sel, sehingga tercipta
konsentrasi natrium intraselular yang rendah dan gradien untuk
difusi terfasilitasi natrium ke dalam sel. (Guyton and Hall, 2012)
Proses pemekatan iodida dalam sel ini disebut penjeratan
iodida (iodide trapping). Pada kelenjar tiroid yang normal, pompa
iodida dapat memekatkan iodida kira-kira 30 kali konsentrasinya di
dalam darah. Kecepatan penjeratan iodida oleh tiroid dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yang paling penting adalah konsentrasi TSH;
TSH merangsang pompa iodida dan hipofisektomi sangat
mengurangi aktivitas pompa iodida di sel-sel tiroid. (Guyton and
Hall, 2012)
Iodida ditranspor keluar sel kelenjar tiroid melewati
membran apikal, masuk ke dalam folikel dengan bantuan
chlorideiodide ion counter-transporter yang disebut pendrin. Sel

TANGANKU GEMETARAN Page 21


epitel tiroid juga menyekresi ke dalam folikel tiroglobulin yang
mengandung asam amino tirosin tempat ion-ion iodida
melekat.(Guyton and Hall, 2012)
Retikulum endoplasma dan alat Golgi menyintesis serta
menyekresi molekul glikoprotein besar yang disebut tiroglobulin
Setiap molekul tiroglobulin mengandung sekitar 70 asam amino
tirosin, dan tiroglobulin merupakan substrat utama yang bergabung
dengan iodida untuk membentuk hormon tiroid. (Guyton and Hall,
2012)
Jadi, hormon tiroid terbentuk dalam molekul tiroglobulin.
Hormon tiroksin dan triiodotironin dibentuk dari asam amino
tirosin, yang merupakan sisa bagian dari molekul tiroglobulin
selama sintesis hormon tiroid dan bahkan sesudahnya sebagai
hormon yang disimpan di dalam koloid folikular.(Guyton and Hall,
2012)

 Tahap II (Oksidasi Iodida Menjadi Yoidium)


Perubahan ion iodida menjadi bentuk yodium yang
teroksidasi, baik yodium awal (nascent iodine) (I°) atau I3; yang
selanjutnya mampu langsung berikatan dengan asam amino tirosin.
Proses oksidasi yodium ini ditingkatkan oleh enzim peroksidase
dan penyertanya hidrogen peroksidase, yang menyediakan suatu
sistem kuat yang mampu mengoksidasi iodida. Enzim peroksidase
terletak di bagian apikal membran sel atau melekat pada membran
sel, sehingga menempatkan yodium yang teroksidasi tadi di dalam
sel tepat pada tempat molekul tiroglobulin mula-mula dikeluarkan
dari badan Golgi dan melalui membran sel masuk ke dalam tempat
penyimpanan koloid kelenjar tiroid.(Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 22


 Tahap III (Organifikasi Yodium Teroksidasi Menjadi
Monoyodotirosin & Diyodotirosin)

Pengikatan yodium dengan molekul tiroglobulin disebut


organifikasi tiroglobulin. Bahkan sewaktu masih dalam bentuk
molekul, yodium yang sudah teroksidasi ini akan berikatan
langsung dengan asam amino tirosin, tetapi lambat. Di dalam sel-
sel tiroid, yodium yang teroksidasi itu berasosiasi dengan enzim
tiroid peroksidase yang menyebabkan proses di atas dapat
berlangsung selama beberapa detik atau beberapa menit. (Guyton
and Hall, 2012)
Oleh karena itu, dengan kecepatan yang hampir sama
dengan kecepatan pelepasan molekul tiroglobulin dari aparatus
Golgi aparatus Golgi, atau seperti waktu disekresi melalui bagian
apikal membran sel ke dalam folikel, yodium akan berikatan
dengan kira- kira seperenam bagian dari asam amino tirosin yang
ada di dalam molekul tiroglobulin. Tirosin mula-mula diiodisasi
menjadi monoiodotirosin dan selanjutnya menjadi diiodotirosin.
(Guyton and Hall, 2012)
Kemudian, selama beberapa menit, beberapa jam, dan
bahkan beberapa hari berikutnya, makin lama makin banyak sisa
iodotirosin yang saling bergandengan (coupled) satu sama lainnya.
Hasil reaksi penggandengan ini adalah terbentuknya molekul
tiroksin (T4), yang terbentuk bila dua molekul diiodotirosin
bergabung; tiroksin tersebut kemudian tetap merupakan bagian dari
molekul tiroglobulin. Atau dapat juga terjadi penggandengan satu
molekul monoiodotirosin dengan satu molekul diiodotirosin
sehingga terbentuk triiodotironin (T3), yang merupakan kira-kira
satu perlima dari jumlah hormon akhir. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 23


 Tahap IV (Penyimpanan)
Sesudah hormon tiroid disintesis, setiap molekul
tiroglobulin mengandung sampai 30 molekul tiroksin, dan rata-rata
terdapat sedikit molekul triiodotironin. Dalam bentuk ini, hormon
tiroid disimpan di dalam folikel dalam jumlah yang cukup untuk
menyuplai tubuh dengan kebutuhan normal hormon tiroid selama 2
sampai 3 bulan. (Guyton and Hall, 2012)

 Tahap V (Sekresi Hormon)


Permukaan apikal sel-sel tiroid menjulurkan pseudopodia
mengelilingi sebagian kecil koloid sehingga terbentuk vesikel
pinositik yang masuk ke bagian apeks sel-sel tiroid. Kemudian
lisosom pada sitoplasma sel segera bergabung dengan vesikel-
vesikel ini untuk membentuk vesikel-vesikel digestif yang
mengandung enzim-enzim pencernaan yang berasal dari lisosom

TANGANKU GEMETARAN Page 24


yang sudah bercampur dengan bahan koloid tadi. (Guyton and
Hall, 2012)
Beragam protease yang ada di antara enzim-enzim ini akan
mencerna molekul-molekul tiroglobulin serta akan melepaskan
tiroksin dan triiodotironin dalam bentuk bebas. Kedua hormon
bebas ini selanjutnya akan berdifusi melewati bagian basal sel-sel
tiroid ke pembuluh-pembuluh kapiler di sekelilingnya. (Guyton
and Hall, 2012)
Jadi, dengan demikian hormon tiroid dilepaskan ke dalam
darah. Kira-kira tiga perempat tirosin yang telah diiodinasi di
dalam tiroglobulin tidak akan pernah menjadi hormon tiroid tetapi
akan tetap sebagai monoiodotirosin dan diiodotirosin. (Guyton and
Hall, 2012)
Selama terjadinya proses pencernaan molekul tiroglobulin
untuk melepaskan tiroksin dan triiodotironin, tirosin yang sudah
mengalami iodinasi ini juga turut dilepaskan dari molekul
tiroglobulin. Akan tetapi, tirosintirosin itu tidak disekresi ke dalam
darah. Sebaliknya, dengan bantuan enzim deiodinase, yodium
dilepaskan dari tirosin sehingga akhirnya membuat semua yodium
ini cukup tersedia di dalam kelenjar, untuk digunakan kembali
dalam pembentukan hormon tiroid tambahan. (Guyton and Hall,
2012)

Metabolisme Hormon Paratiroid

Hormon paratiroid pertama kali dibentuk di ribosom dalam bentuk


praprohormon, suatu rantai polipeptida yang terdiri atas 110 asam amino.
Praprohormon ini diubah pertama kali menjadi suatu prohormon dengan
90 asam amino, kemudian diubah menjadi hormon itu sendiri dengan 84
asam amino oleh retikulum endoplasma dan aparatus Golgi, dan akhirnya

TANGANKU GEMETARAN Page 25


dibentuk dalam granula-granula sekretori di dalam sitoplasma sel. Hormon
akhir mempunyai berat molekul kirakira 9.500. (Guyton and Hall, 2012)
Senyawa-senyawa yang lebih kecil, dengan 34 asam amino yang
terletak dekat bagian terminal N dari molekul, juga telah diisolasi dari
kelenjar paratiroid, memperlihatkan aktivitas PTH yang Iengkap. Pada
kenyataannya, karena ginjal dengan cepat mengeluarkan semua hormon
yang mengandung 84 asam amino dalam beberapa menit tetapi gagal
untuk mengeluarkan banyak fragmen dalam beberapa jam, maka sebagian
besar aktivitas hormonal disebabkan oleh fragmen-fragmen ini. (Guyton
and Hall, 2012)

2. Apa fungsi fisiologis hormon tiroid dan paratiroid ?


Jawaban :
Hormon Tiroid

Kebanyakan Tiroksin yang Disekresi oleh Tiroid Dikonversi menjadi


Triiodotironin.
Sebelum bekerja pada gen untuk meningkatkan transkripsi genetik,
satu ion iodida dipindahkan dari hampir semua tiroksin, sehingga
membentuk triiodotironin. Karena Reseptor hormon tiroid intrasel
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap triiodotironin. Akibatnya, lebih
dari 90 persen molekul hormon tiroid yang akan berikatan dengan reseptor
adalah triiodotironin. (Sherwood, 2016)

Hormon Tiroid Mengaktivasi Reseptor Inti Sel.


Reseptor – reseptor hormon tiroid melekat pada untaian genetik
DNA atau terletak berdekatan dengan rantai genetik DNA. Reseptor
hormon tiroid biasanya membentuk heterodimer dengan reseptor retinoid
X (RXR) pada elemen respons hormon tiroid yang spesifik pada DNA. Saat
berikatan dengan hormon tiroid, reseptor menjadi aktif dan mengawali
proses transkripsi. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 26


Kemudian dibentuk sejumlah besar tipe RNA caraka (messenger)
yang berbeda, kemudian dalam beberapa menit atau beberapa jam diikuti
dengan translasi RNA pada ribosom sitoplasma untuk membentuk ratusan
tipe protein yang baru. Namun, tidak semua protein meningkat. dengan
persentase yang sama beberapa protein hanya sedikit, dan yang lain paling
sedikit sebesar enam kali lipat. Diyakini bahwa sebagian besar kerja
hormon tiroid dihasilkan dari fungsi enzimatik dan fungsi lain dari protein
yang baru ini. (Guyton and Hall, 2012)

Efek Hormon Tiroid pada Pertumbuhan

Pada manusia, efek hormon tiroid terhadap pertumbuhan lebih


nyata terutama pada masa pertumbuhan anak-anak. Pada pasien
hipotiroidisme, kecepatan pertumbuhan menjadi sangat terbelakang. Pada
pasien hipertiroidisme, sering kali terjadi pertumbuhan tulang yang sangat
berlebihan, sehingga anak tadi menjadi lebih tinggi daripada anak lainnya.
Akan tetapi, tulang juga menjadi matang lebih cepat dan epifisisnya sudah

TANGANKU GEMETARAN Page 27


menutup pada usia yang relatif muda, sehingga durasi pertumbuhan
menjadi lebih singkat dan tinggi badan saat dewasa mungkin malah lebih
pendek. (Sherwood, 2016)
Pengaruh penting hormon tiroid adalah meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan janin dan
beberapa tahun pertama kehidupan pascalahir. Bila janin tidak dapat
menyekresi hormon tiroid dalam jumlah cukup, maka pertumbuhan dan
pematangan otak sebelum dan sesudah bayi itu dilahirkan akan sangat
terbelakang dan otak tetap berukuran lebih kecil daripada
normal.(Sherwood, 2016)

Efek Rangsang pada Sistem Saraf Pusat.


Pada umumnya hormon tiroid meningkatkan kecepatan berpikir,
tetapi juga sering menimbulkan disosiasi pikiran, dan sebaliknya,
berkurangnya hormon tiroid akan menurunkan fungsi ini.
Pasien hipertiroid cenderung menjadi sangat cemas dan
psikoneurotik, seperti kompleks ansietas, kecemasan yang sangat
berlebihan, atau paranoia.(Guyton anad Hall, 2012)

Peningkatan Motilitas Saluran Cerna.


Selain meningkatkan nafsu makan dan asupan makanan, seperti
yang telah dibicarakan, hormon tiroid meningkatkan kecepatan sekresi
getah pencernaan dan pergerakan saluran cerna. Oleh karena itu,
hipertiroidisme sering kali menyebabkan diare, sedangkan kekurangan
hormon tiroid dapat menyebabkan konstipasi. (Guyton and Hall, 2012)

Efek pada Fungsi Otot.


Sedikit peningkatan hormon tiroid biasanya menyebabkan otot
bereaksi dengan kuat, namun bila jumlah hormon ini berlebihan, maka
otot-otot malahan menjadi lemah akibat berlebihannya katabolisme

TANGANKU GEMETARAN Page 28


protein. Sebaliknya, kekurangan hormon tiroid menyebabkan otot sangat
lamban, dan otot tersebut berelaksasi dengan perlahan setelah kontraksi.
Tremor Otot. Salah satu gejala yang paling khas dari hipertiroidisme
adalah timbulnya tremor halus pada otot. (Guyton anad Hall, 2016)

Peningkatan Frekuensi Denyut Jantung.


Frekuensi denyut jantung lebih meningkat di bawah pengaruh
hormon tiroid daripada perkiraan peningkatan curah jantung. Oleh karena
itu, hormon tiroid tampaknya mempunyai pengaruh langsung pada
eksitabilitas jantung, yang selanjutnya meningkatkan frekuensi denyut
jantung. Efek ini sangat penting sebab frekuensi denyut jantung
merupakan salah satu tanda fisik yang sangat peka sehingga para klinisi
harus dapat menentukan apakah produksi hormon tiroid pada pasien itu
berlebihan atau berkurang. (Ganong, 2008)

Peningkatan Kekuatan Jantung.


Peningkatan aktivitas enzimatik yang disebabkan oleh peningkatan
produksi hormon tiroid tampaknya juga meningkatkan kekuatan jantung
bila sekresi hormon tiroid sedikit berlebih. Keadaan ini analog dengan
meningkatnya kekuatan jantung yang terjadi pada pasien demam ringan
dan selama melakukan kerja fisik. (Ganong, 2008)

Peningkatan Aliran Darah dan Curah Jantung.


Meningkatnya metabolisme jaringan mempercepat pemakaian
oksigen dan memperbanyak pelepasan jumlah produk akhir metabolisme
dari jaringan. Efek ini menyebabkan vasodilatasi di sebagian besar
jaringan tubuh, sehingga meningkatkan aliran darah.

TANGANKU GEMETARAN Page 29


Efek Hormon Tiroid pada Mekanisme Tubuh yang Spesifik
Stimulasi pada Metabolisme Karbohidrat.
Hormon tiroid merangsang hampir semua aspek metabolisme
karbohidrat, termasuk penggunaan glukosa yang cepat oleh sel,
meningkatkan glikolisis, meningkatkan glukogenesis, meningkatkan
kecepatan absorpsi dari saluran cerna, dan bahkan juga meningkatkan
sekresi insulin dengan hasil akhirnya adalah efeknya terhadap
metabolisme karbohidrat. (Guyton anad Hall, 2012)

Stimulasi pada Metabolisme Lemak.


Pada dasarnya semua aspek metabolisme lemak juga ditingkatkan
di bawah pengaruh hormon tiroid. Secara khusus, lipid secara cepat
diangkut dari jaringan lemak, yang menurunkan cadangan lemak tubuh
lebih besar dibandingkan dengan hampir seluruh elemen jaringan lain.
Hormon tiroid juga meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas di
dalam plasma dan sangat mempercepat oksidasi asam lemak bebas oleh
sel. (Ganong, 2008)

Efek pada Plasma dan Lemak Hati.


Peningkatan hormon tiroid menurunkan konsentrasi kolesterol,
fosfolipid, dan trigliserida dalam darah, walaupun sebenarnya hormon ini
juga meningkatkan asam lemak bebas. Sebaliknya, penurunan sekresi
tiroid sangat meningkatkan konsentrasi kolesterol, fosfolipid, dan
trigliserida plasma serta hampir selalu menyebabkan pengendapan lemak
berlebihan di dalam hati.
Salah satu mekanisme penurunan konsentrasi kolesterol plasma oleh
hormon tiroid adalah dengan meningkatkan kecepatan sekresi kolesterol
secara bermakna di dalam empedu sehingga meningkatkan jumlah
kolesterol yang hilang melalui feses.
Suatu mekanisme yang mungkin terjadi untuk meningkatkan
sekresi kolesterol yaitu peningkatan jumlah reseptor lipoprotein densitas

TANGANKU GEMETARAN Page 30


rendah yang diinduksi oleh hormon tiroid di sel-sel hati, yang mengarah
kepada pemindahan lipoprotein densitas rendah yang cepat dari plasma
oleh hati dan sekresi kolesterol dalam lipoprotein ini berikutnya oleh sel-
sel hati. (Guyton and Hall, 2012)

Peningkatan Kebutuhan Vitamin.


Oleh karena hormon tiroid meningkatkan jumlah berbagai enzim
tubuh dan karena vitamin merupakan bagian penting dari beberapa enzim
atau koenzim, maka hormon tiroid meningkatkan kebutuhan vitamin.
Dengan demikian, bila sekresi hormon tiroid berlebihan maka
dapat timbul defisiensi vitamin relatif, kecuali bila pada saat yang sama
kenaikan kebutuhan vitamin itu dapat dicukupi. (Ganong, 2008)

Efek pada Kelenjar Endokrin Lain.


Meningkatnya hormon tiroid meningkatkan kecepatan sekresi
beberapa kelenjar endokrin lain, tetapi hormon ini juga meningkatkan
kebutuhan jaringan terhadap hormon ini. (Guuyton and Hall, 2012)
Contoh, meningkatnya sekresi hormon tiroksin, meningkatkan laju
metabolisme glukosa di seluruh bagian tubuh sehingga meningkatkan
kebutuhan insulin yang diekskresi oleh pankreas. Selain itu, hormon tiroid
meningkatkan sebagian besar aktivitas metabolisme yang berkaitan
dengan pembentukan tulang dan berakibat pada peningkatan kebutuhan
hormon paratiroid. Hormon tiroid juga meningkatkan kecepatan inaktivasi
hormon glukokortikoid adrenal oleh hati. (Guyton and Hall, 2012)
Keadaan ini menyebabkan timbulnya peningkatan umpan balik
produksi hormon adrenokortikotropik (ACTH) oleh kelenjar hipofisis
anterior sehingga juga meningkatkan kecepatan sekresi glukokortikoid
oleh kelenjar adrenal. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 31


Fungsi Hormon Paratiroid
Hormon Paratiroid Meningkatkan Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari
Tulang
PTH mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan
absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang pertama merupakan suatu tahap
cepat yang dimulai dalam waktu beberapa menit dan meningkat secara
progresif dalam beberapa jam. Tahap ini disebabkan oleh aktivasi sel-sel
tulang yang sudah ada (terutama osteosit) untuk meningkatkan absorpsi
kalsium dan fosfat.(Guyton and Hall, 2012)
Tahap yang kedua adalah tahap yang lebih lambat, dan
membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk
menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh adanya proses
proliferasi osteoklas, yang diikuti dengan sangat meningkatnya reabsorpsi
osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat
kalsium dari tulang. (Guyton and Hall, 2012)

Fase Cepat Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari Tulang Osteolisis.


PTH dapat menyebabkan pemindahan garam-garam tulang dari
dua tempat di dalam tulang:
 Dari matriks tulang di sekitar osteosit yang terletak di dalam
tulangnya sendiri, dan
 Di sekitar osteoblas yang terletak di sepanjang permukaan
tulang.
Osteoblas dan osteosit membentuk suatu sistem sel yang saling
berhubungan satu sama lain, yang menyebar di seluruh tulang dan semua
permukaan tulang kecuali sebagian permukaan kecil yang berdekatan
dengan osteokla.
Kenyataan menunjukkan bahwa prosesus¬prosesus yang panjang
dan tipis menyebar dari satu osteosit ke osteosit yang lain di seluruh
struktur tulang, dan prosesus ini juga berhubungan dengan osteosit dan
osteoblas yang terletak di permukaan tulang. Sistem yang luas ini disebut

TANGANKU GEMETARAN Page 32


sistem membran osteositik, dan sistem ini diyakini merupakan suatu
membran yang memisahkan tulang dengan cairan ekstraselular.
(Sherwood, 2016)
Di antara membran osteositik dan tulang ada sedikit cairan tulang.
Penelitian menunjukkan bahwa membran osteositik memompa ion
kalsium dari cairan tulang ke dalam cairan ekstraselular, menciptakan
suatu konsentrasi ion kalsium di dalam cairan tubuh hanya satu pertiga
dari konsentrasi kalsium di dalam cairan ekstraselular. Bila pompa
osteositik ini sangat aktif, maka konsentrasi kalsium dalam cairan tulang
turun bahkan lebih rendah dan kemudian garam kalsium fosfat dari tulang
diabsorpsi. (Sherwood, 2016)
Efek ini disebut sebagai osteolisis, dan proses ini berlangsung
tanpa proses absorpsi matriks gelatin dan fibrosa tulang. Bila pompa ini
menjadi tidak aktif, konsentrasi kalsium dalam cairan tulang naik lebih
tinggi, dan garam-garam kalsium fosfat kemudian ditimbun lagi dalam
matriks tulang.(Sherwood, 2016)
Pertama,membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein
reseptor untuk mengikat PTH. PTH dapat mengaktifkan pompa kalsium
dengan kuat, sehingga menyebabkan pemindahan garamgaram kalsium
fosfat dengan cepat dari kristal tulang amorf yang terletak dekat dengan
sel. PTH diyakini merangsang pompa ini dengan meningkatkan
permeabilitas kalsium pada sisi cairan tulang dari membran osteositik,
sehingga mempermudah difusi ion kalsium ke dalam membran sel cairan
tulang. Selanjutnya, pompa kalsium di sisi lain dari membran sel
memindahkan ion kalsium yang tersisa tadi ke dalam cairan
ekstraselular.(Sherwood, 2016)

o Fase Lambat Absorpsi Tulang dan Pelepasan Kalsium dan


Fosfat—Aktivasi Osteoklas.
Efek PTH yang dikenal jauh lebih baik dan satu hal
yang memiliki bukti yang lebih jelas adalah perannya dalam

TANGANKU GEMETARAN Page 33


menggiatkan osteoklas. Tetapi osteoklas itu sendiri tidak
memiliki protein reseptor membran untuk PTH. Sebaliknya,
diyakini bahwa osteoblas dan osteosit yang teraktivasi
mengirimkan "sinyal" sekunder ke osteoklas. (Guyton and Hall,
2017)
Seperti telah diuraikan sebelum ini, sinyal sekunder
utama adalah ligan osteoprotegerin, yang mengaktifkan
reseptor pada sel preosteoklas dan mengubahnya menjadi
osteoklas dewasa yang siap memulai tugasnya melahap tulang
untuk selama periode berminggu-minggu atau beberapa bulan.
Aktivasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap:
 Aktivasi yang berlangsung dengan segera dari osteoklas
yang sudah terbentuk, dan
 Pembentukan osteoklas baru.
Kelebihan PTH selama beberapa hari biasanya
menyebabkan sistem osteoklastik berkembang dengan baik,
tetapi karena pengaruh rangsangan PTH yang kuat,
pertumbuhan ini berlanjut terus selama berbulan-bulan.
Setelah kelebihan PTH selama beberapa bulan, resorpsi
osteoklastik tulang dapat menyebabkan lemahnya tulang dan
menyebabkan rangsangan sekunder pada osteoblas yang
mencoba memperbaiki keadaan tulang yang lemah. Oleh
karena itu, efek yang terakhir tersebut sebenarnya adalah untuk
meningkatkan aktivitas osteoblastik dan osteoklastik. Namun,
bahkan pada tahap akhir, masih terjadi lebih banyak absorpsi
tulang daripada penimbunan tulang dengan adanya kelebihan
PTH yang terus menerus. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 34


Hormon Paratiroid Menurunkan Ekskresi Kalsium dan
Meningkatkan Ekskresi Fosfat oleh Ginjal
Pemberian PTH menyebabkan pelepasan fosfat dengan cepat ke
dalam urine karena efek hormon tersebut yang menyebabkan
berkurangnya reabsorpsi ion fosfat di tubulus proksimal.
PTH juga meningkatkan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal pada
waktu yang sama dengan berkurangnya reabsorpsi fosfat oleh hormon
paratiroid. Selain itu, hormon ini meningkatkan kecepatan reabsorpsi ion
magnesium dan ion hidrogen, saat hormon ini mengurangi reabsorpsi ion
natrium, kalium dan asam amino dengan cara yang sangat mirip seperti
hormon paratiroid memengaruhi fosfat. Peningkatan absorpsi kalsium
terutama terjadi di bagian akhir tubulus ginjal, duktus koligens, bagian
awal duktus koligens, dan mungkin berlanjut ke ansa Henle asenden.
Bila bukan oleh karena efek PTH pada ginjal dalam meningkatkan
reabsorpsi kalsium, pelepasan kalsium yang berlangsung terus-menerus itu
akhirnya akan menghabiskan mineral tulang dan cairan ekstraselular dari
tulang. (Guyton and Hall, 2012)

Hormon Paratiroid Meningkatkan Absorpsi Kalsium dan Fosfat di


Usus
Pada bagian ini diingatkan kembali bahwa PTH sangat
meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus yakni dengan cara
meningkatkan pembentukan 1,25- dihidroksikole-kalsiferol dan vitamin.
(Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 35


3. Bagaimana metabolisme vitamin D ?
Jawaban :

Vitamin D memiliki efek kuat untuk meningkatkan absorpsi


kalsium dari usus, vitamin ini juga memiliki efek yang penting bagi
pembentukan dan absorpsi tulang, yang akan dibicarakan kemudian. Akan
tetapi, vitamin D itu sendiri bukanlah zat aktif yang menimbulkan efek-
efek tersebut. Bahkan, vitamin D terlebih dulu harus diubah melalui
rangkaian reaksi di hati dan ginjal untuk membentuk produk akhir yaitu
1,25- dthidroksikolekalsiferol, yang juga disebut 1,25(OH)2D3. (Guyton
and Hall, 2012)

Kolekalsiferol (Vitamin D3) Dibentuk di Kulit.


Sejumlah senyawa yang berasal dari sterol termasuk dalam famili
vitamin D, dan semuanya kurang lebih menjalankan fungsi yang sama.
Vitamin D3 (yang juga disebut kolekalsiferol) adalah yang terpenting dari
senyawa-senyawa tersebut dan dibentuk di kulit akibat radiasi sinar
ultraviolet dari matahari terhadap 7- dehidrokolestrol, yaitu suatu zat yang
normalnya dijumpai di kulit. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 36


Akibatnya, paparan sinar matahari yang sesuai mencegah
terjadinya defisiensi vitamin D. Senyawa vitamin D tambahan yang kita
telan dalam makanan, identik dengan kolekalsiferol yang dibentuk di kulit,
kecuali untuk substitusi satu atau lebih atom yang tidak memengaruhi
fungsinya. (Guyton and Hall, 2012)
Kolekalsiferol Diubah di Hati menjadi 25-Hidroksikolekalsiferol.
Langkah pertama dalam aktivasi kolekalsiferol adalah
pengubahannya menjadi 25-hidroksikolekalsiferol yang terjadi di hati.
Proses ini ada batasnya, karena 25- hidroksikolekalsiferol memiliki efek
umpan balik penghambatan pada reaksi pengubahan. Efek umpan balik ini
sangat penting karena dua alasan berikut.
Pertama, mekanisme umpan balik secara tepat mengatur
konsentrasi 25-hidroksikolekalsiferol dalam plasma. Perhatikan bahwa
asupan vitamin D3 dapat meningkat beberapa kali namun konsentrasi 25-
hidroksikolekalsiferol tetap hampir normal. Pengaturan umpan balik yang
ampuh ini mencegah kerja vitamin D yang berlebihan ketika asupan
vitamin D3 berubah dalam kisaran yang luas. (Guyton and Hall, 2012)
Kedua, konversi terkontrol vitamin D3 menjadi 25-
hidroksikolekalsiferol ini akan mempertahankan vitamin D yang disimpan
di hati untuk penggunaan lebih lanjut di masa mendatang. Begitu vitamin
D ini dikonversi, vitamin D tersebut akan berada dalam tubuh hanya untuk
beberapa minggu, sedangkan dalam bentuk vitamin D, vitamin tersebut
dapat disimpan di hati selama berbulan-bulan. (Guyton and Hall, 2012)

Pembentukan 1,25-Dihidroksikolekalsiferoldi Ginjal danPengaturannya


oleh Hormon Paratiroid.
Disini memperlihatkan pengubahan 25-hidroksikolekalsiferol
menjadi 1,25-dihidroksikolekalsiferol di tubulus proksimal ginjal. Zat
terakhir ini merupakan bentuk yang paling aktif dari vitamin D, karena
produk sebelumnya pada skema Gambar 79-7 memiliki efek vitamin D

TANGANKU GEMETARAN Page 37


sebesar kurang dari 1/1.000. Oleh karena itu, bila tidak ada ginjal, vitamin
D kehilangan hampir semua keefektifannya. (Guyton and Hall, 2012)
Konversi 25- hidroksikolekalsiferol menjadi 1,25-
dihidroksikolekalsiferol membutuhkan PTH. Bila tidak ada PTH, hampir
tidak ada 1,25- dihidroksikolekalsiferol yang dibentuk. Oleh karenanya,
PTH berpengaruh penting dalam menentukan efek fungsional vitamin D
dalam tubuh. (Guyton and Hall, 2012)

4. Bagaimana peranan keseimbangan antara kalsium dan fosfat ?


Jawaban :

Absorpsi dan Ekskresi Kalsium dan Fosfat


Absorpsi Kalsium dan Fosfat oleh Usus dan Ekskresinya
dalam Feses.
Asupan untuk masing-masing kalsium dan fosfat adalah sekitar
1.000 mg/hari, yaitu jumlah yang setara dengan 1 L susu. Normalnya,
kation divalen seperti ion kalsium sulit untuk diabsorbsi dari usus. Akan
tetapi, seperti yang akan dijelaskan nanti, vitamin D meningkatkan
absorpsi kalsium oleh usus, dan sekitar 35 persen (350 mg/hari) kalsium
yang masuk biasanya akan diabsorpsi; sisa kalsium yang berada dalam
usus akan dieksresi ke dalam feses. Kalsium tambahan sebesar 250
mg/hari akan memasuki usus melalui getah sekresi saluran cerna dan sel
mukosa yang terlepas. Jadi, sekitar 90 persen (900 mg/hari) asupan
kalsium harian akan diekskresikan ke dalam feses. (Guyton and Hall,
2012)
Absorpsi fosfat dalam usus terjadi dengan sangat mudah. Hampir
semua fosfat dalam makanan akan diabsorbsi ke dalam darah dari usus dan
kemudian diekskresi ke dalam urine kecuali bagian fosfat yang diekskresi
dalam feses dalam bentuk terikat dengan kalsium yang tidak diserap.
(Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 38


Ekskresi Kalsium dan Fosfat oleh Ginjal.
Kira-kira 10 persen (100 mg/hari) kalsium yang masuk akan
diekskresi ke dalam urine. Sekitar 41 persen kalsium plasma terikat
dengan protein plasma sehingga tidak akan difiltrasi oleh kapiler
glomerulus. Sisanya bergabung dengan anion seperti fosfat (9 persen) atau
terionisasi (50 persen) dan difiltrasi melalui glomerulus ke dalam tubulus
ginjal.(Guyton and Hall, 2012)
Pada keadaan normal, tubulus ginjal mereabsorbsi 99 persen
kalsium yang terfiltrasi, dan sekitar 100 mg kalsium dieksresi ke dalam
urine setiap harinya. Sekitar 90 persen kalsium dalam filtrat glomerulus
direabsorbsi di tubulus proksimal, ansa Henle, dan bagian awal tubulus
distal. (Guyton and Hall, 2012)
Kemudian di bagian akhir tubulus distal dan bagian awal duktus
koligens, proses reabsorpsi untuk sisa kalsium sebesar 10 persen sangat
selektif, bergantung pada konsentrasi ion kalsium dalam darah. Ketika
konsentrasi ion kalsium rendah, proses reabsorbsi tersebut sangat
meningkat, sehingga hampir tidak ada kalsium yang terbuang lewat urine.
Sebaliknya, bahkan dengan sedikit peningkatan konsentrasi ion kalsium
dalam darah yang melebihi normal akan sangat meningkatkan ekskresi
kalsium secara nyata. Faktor terpenting yang mengatur reabsorpsi kalsium
di bagian distal nefron, dan karenanya juga mengatur kecepatan ekskresi
kalsium, adalah hormon paratiroid. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 39


Ekskresi fosfat ginjal diatur oleh suatu mekanisme overflow. Yaitu,
bila konsentrasi fosfat dalam plasma menurun di bawah nilai kritis sebesar
1 mmol/L, semua fosfat dalam filtrat glomerulus akan direabsorpsi dan
tidak ada fosfat yang terbuang dalam urine. Namun bila konsentrasinya
melebihi nilai kritis tersebut, kecepatan pembuangan fosfat akan
berbanding lurus dengan jumlah penambahannya. Jadi, ginjal mengatur
konsentrasi fosfat dalam cairan ekstraselular dengan cara mengubah
kecepatan ekskresi fosfat dengan memperhatikan konsentrasi fosfat
plasma dan kecepatan filtrasi fosfat oleh ginjal. (Guyton and Hall, 2012)

5. Bagaimana mekanisme sekresi hormon kalsitonin dan peranannya ?


Jawaban :

Kalsitonin, suatu hormon peptida yang disekresi kelenjar tiroid,


cenderung untuk menurunkan konsentrasi kalsium plasma dan, umumnya,
mempunyai efek yang berlawanan dengan efek yang dihasilkan oleh PTH.
Namun, peranan kalsitonin pada manusia secara kuantitatif lebih lemah
dibandingkan PTH dalam mengatur konsentrasi ion kalsium. (Guyton and
Hall, 2012)
Sintesis dan sekresi kalsitonin terjadi di sel-sel parafolikel, atau
sel-sel C, yang terletak di dalam jaringan interstisial di antara folikel
kelenjar tiroid. Sel-sel tersebut mencakup hanya 0,1 persen dari kelenjar
tiroid manusia. Kalsitonin merupakan polipeptida besar dengan berat
molekul kira-kira 3.400 dan mempunyai rantai yang terdiri atas 32 asam
amino. (Guyton and Hall, 2012)

Peningkatan Konsentrasi Kalsium Plasma Merangsang Sekresi


Kalsitonin.
Rangsang utama untuk sekresi kalsitonin adalah peningkatan
konsentrasi ion kalsium cairan ekstraselular. Ini kebalikan dari sekresi

TANGANKU GEMETARAN Page 40


PTH, yang terangsang oleh penurunan konsentrasi kalsium. Peningkatan
konsentrasi kalsium plasma sekitar 10 persen menyebabkan peningkatan
kecepatan sekresi kalsitonin sebanyak dua kali lipat atau lebih.
Kondisi ini memungkinkan terjadinya mekanisme umpan balik
hormon kedua dalam pengaturan konsentrasi ion kalsium plasma, namun
mekanisme tersebut relatif lebih lemah dan cara kerjanya berlawanan
dengan sistem PTH. (Sherwood, 2016)

Kalsitonin Mempunyai Efek yang Lemah terhadap Konsentrasi


Kalsium Plasma pada Manusia Dewasa.
Penyebab lemahnya efek kalsitonin pada kalsium plasma ada dua
hal. Pertama, setiap awal pengurangan konsentrasi ion kaisium yang
disebabkan oleh kalsitonin dalam waktu beberapa jam akan menimbulkan
rangsangan yang kuat untuk sekresi PTH, yang hampir seluruhnya
mengatasi efek kalsitonin. Ketika kelenjar tiroid diangkat dan kalsitonin
tidak lagi disekresi, konsentrasi ion kalsium darah dalam waktu lama tidak
berubah secara bermakna, yang sekali lagi menunjukkan bahwa
pengaturan yang dilakukan oleh sistem PTH mengatasi hal tersebut.
(Sherwood, 2016)
Kedua, pada orang dewasa, kecepatan absorpsi dan penimbunan
kalsium sehari-hari sangat kecil, dan bahkan sesudah kecepatan absorpsi
diperlambat oleh kalsitonin, ternyata kecepatan ini masih mempunyai
pengaruh yang sedikit sekali terhadap konsentrasi kalsium plasma. Pada
anak- nak, efek kalsitonin ini jauh lebih besar sebab pembentukan tulang
kembali pada anak-anak terjadi lebih cepat, disertai dengan absorpsi dan
penimbunan kalsium sampai sebesar 5 gram atau lebih per hari-jumlah ini
setara dengan 5 sampai 10 kali lipat dari jumlah total kalsium dalam
seluruh cairan ekstraselular. Selain itu, pada penyakit - penyakit tulang
tertentu, seperti penyakit Paget, ketika terjadi aktivitas osteoklastik yang
sangat cepat, ternyata kalsitonin masih mempunyai efek yang lebih kuat
dalam mengurangi proses absorpsi kalsium. (Guyton and Hall, 2012)

TANGANKU GEMETARAN Page 41


6. Mengapa proses tiroidektomi dapat menyebabkan gangguan pada kelenjar
paratiroid yang menimbulkan gejala – gejala seperti yang dialami tetangga
Ny. Tina ?
Jawaban :
Salah satu efek dari proses tiroidektomi (total atau subtotal) yakni
hipoparatiroidisme. Secara letak anatomi, kelenjar paratiroid berdekatan
dengan kelenjar tiroid, bahkan terlihat layaknya nodulus – nodulus pada
kelenjar tiroid, sehingga dala proses pengangkatan kelenjar tiroid dapat
menyebabkan kelenjar paratiroid ikut terangkat. Manifestasi klinik yang
muncul berupa hipokalsemia dan hiperfosfatemia. (Price, 2006)
Hipokalsemia adalah dimana keadaan konsentrasi ion kalsium
turun dibawah nilai normal (kurang dari 9 mg/100 ml). Hal ini akan
memungkinkan sistem saraf menjadi lebih mudah terangsang sehingga
mengakibatkan peningkatan permeabilitas membran neuron terhadap ion
natrium, sehingga potensial aksi lebih mudah terjadi. (Guyton and Hall,
2012)
Pada konsentrasi ion kalsium plasma sebesar 50% dibawah normal,
serat saraf perifer menjadi lebih mudah peka rangsang sehingga serat –
serat ini mulai melepaskan impuls secara spontan, yang akan
menimbulkan terjadinya rentetan impuls saraf melalui otot perifer
sehingga terjadi kontraksi otot tetanik. Akibatnya penderita hipokalsemia
mengalami tetani, hal tersebut juga mengakibatkan terjadinya kejang
karena hipokalsemia meningkatkan eksitasi di otak. (Guyton and Hall,
2012)
Selain itu penderita hipokalsemia biasanya mengeluhkan berbagai
gangguan emosi seperti lebih mudah tersinggung, emosi tidak stabil
(pemarah), gangguan ingatan (pelupa), dan perasaan menjadi kacau.
Hipoparatiroidisme yang berkelanjutan akan mengakibatkan perubahan –
perubahan pada kulit kuku, rambut, gigi, dan lensa. (Price, 2006)

TANGANKU GEMETARAN Page 42


BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Sistem endokrin adalah suatu sistem yang terdiri atas banyak


kelenjar di tubuh kita, dimana kelenjar endokrin merupakan sekelompok
susunan sel yang memiliki susunan mikroskopis sederhana, dimana
kelenjar – kelenjar ini akan mensekresikan substansi kimia yang
dihantarkan ke seluruh sistem tubuh melalui pembuluh darah untuk
menimbulkan suatu efek tertentu. Kelenjar tiroid dan paratiroid merupakan
sebagain contoh kelenjar yang berperan besar dalam homeostasis tubuh.
Kelenjar tiroid sendiri terletak di bagian leher diikuti dengan kelenjar
paratiroid yang terletak dibagian posterior lobusnya. Kelenjar tiroid
berperan besar terhadap peningkatan metabolisme di tubuh manusia,
sedangkan kelenjar paratiroid lebih dominan bekerja untuk mengontrol
metabolisme kalsium dan fosfat.

Pembesaran dari kelenjar tiroid dapat menyebabkan kelebihan


sekresi hormon tiroid yang berdampak mengganggu fungsi normal tubuh.
Jika sudah parah maka diperlukan tindakan tiroidektomi atau
pengangkatan kelenjar tiroid, yang mana memiliki resiko besar terjadinya
hipoparatiroid, yakni kurangnya sekresi hormon paratiroid karena ikut
terangkatnya kelenjar paratiroid selama proses pengangkatan.

TANGANKU GEMETARAN Page 43