Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR 2

KOEFISIEN MUAI PANJANG (K1)

Nama : Mila Utami Sari

NIM : 14/362772/PA/15816

Prodi : Fisika

Asisten Praktikum : Bisma Mahendra

Jurusan Fisika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Gajah Mada

Tahun Ajaran 2015/2016


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Saat siang hari (suhu tinggi) kabel – kabel listrik disepanjang pasti akan mengalami
merenggang, namun saat suhu rendah kabel – kabel tersebut akan menegang sehingga kabel
listrik harus diberi sedikit celah. Kaca jendela yang dipasang merenggang atau diberi sedikit
celah agar ketika suhu tinggi maka kaca akan merenggang. Kedua peristiwa tersebut
menunjukkan terjadinya proses pemuaian yang terjadi karena adanya pemberian kalor atau
perubahan suhu. Pemuaian dapat terjadi pada benda apa saja salah satunya adalah logam.
Setiap benda memiliki sifat pemuaian yang sering disebut koefisien muai. Koefisien muai
adalah salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya pemuaian. Sebenaranya ada tiga jenis
pemuaian yaitu pemuaian panjang, luas, dan volume. Ketiga pemuaian tersebut pasti
dipengaruhi oleh koefisien muai.

Penggunaan prinsip kerja koefisien muai panjang diterapkan diberbagai bidang


terutama di dibidang teknologi. Contoh rel kereta api yang dibuat renggang agar saat suhu
tinggi maka rel tidak akan melengkung akibat terjadinya pemuaian.

Pada dasarnya pemuaian dapat terjadi karena adanya Penambahan kalor pada suatu
zat padat seperti logam akan mengakibatkan atom – atom pada zat padat akan bergetar
sehingga jarak antar atom akan berubah sehingga terjadi ekspansi atau pemuaian pada logam
tersebut. Pada praktikum ini, praktikan akan mencari besar nilai suatu koefisien muai panjang
suatu logam.

1.2 Tujuan
1. Menentukan nilai koefisien muai panjang logam tembaga dan alumunium.
2. Membandingkan hasil percobaan (koefisien muai panjang) dengan referensi
yang didapatkan.
II. DASAR TEORI

Penambahan kalor pada suatu zat padat seperti logam akan mengakibatkan atom –
atom pada zat padat akan bergetar sehingga jarak antar atom akan berubah sehingga terjadi
ekspansi atau pemuaian pada logam tersebut. Karena kalor mempunyai sifat dapat berpindah
dari satu bagian zat kebagian yang lain, juga dapat tersimpan di dalam zat. Kalor yang
tersimpan oleh zat akan berakibat zat mempunyai temperature meningkat, dan hal ini
membuat jarak antar atom-atom penyusun zat tersebut berubah. Keadaan seperti itu, bila
berlangsung terus akan memungkinkan terjadinya efek fisis, diantaranya :
1. Efek ekspansi termal yaitu perubahan ukuran/dimensi zat, baik secara
memanjang (linear), luasan, maupun volume zat tersebut.

2. Efek perubahan sifat/wujud yaitu perubahan fase zat, misal yang asalnya padat
menjadi cair, cair menjadi gas, dan dapat berlaku sebaliknya apabila zat
melepaskan energy termalnya.

Ekspansi termal berdasarkan perubahan dimensi yang terjadi pada benda dibagi
menjadi tiga yaitu sebagai berikut.

- Ekspansi termal panjang

Bila benda mengalami pemuaian dengan dimensi panjang, maka ketika terjadi
perubahan temperature, benda akan mengalami refek ekspansi termal ke arah linear
(memanjang).

pada suhu awal (To)

Lo

Mula – mula benda yang berdimensi memanjang pada suhu (To), bila suhu berubah
menjadi (T) akibat dari adanya proses penyerapan kalor oleh benda tersebut, maka dimensi
benda akan berubah menjadi (Lt). Perubahan dimensi tersebut dapat dituliskan seperti
persamaan 2.1.

∆𝐿 = (𝐿𝑡 − 𝐿0 ) = 𝛼𝐿0 (𝑇 − 𝑇0 ) = 𝛼 𝐿0 ∆𝑇 (2.1)

𝐿𝑡 = 𝐿0 (1 + 𝛼(𝑇 − 𝑇0 )) (2.2)

Dimana ΔL adalah perubahan panjang yang dialami benda akibat proses pemuaian, Lt adalah
panjang suatu zat padat pada suhu t (m), L0 adalah panjang suatu zat padat saat suhu 0o (oC),
α adalah koefisien muai panjang suatu bahan berupa pertambahan panjang relatif untuk tiap
derajat kenaikan suhu (/oC). Nilai α pada untuk setiap benda berbeda – beda sesuai dengan
sifat benda tersebut.

- Ekspansi termal luasan


Bila perubahan dimensi ke dua arah, maka ekpansi termal terjadi secara luasan atau
benda berbentuk dimensi bidang (X,Y); (Y,Z); atau (Z,X). Untuk bidang (X,Y) maka
persamaan yang berlaku seperti persamaan 2.5 dan 2.6.

𝐴𝑇 = 𝑋𝑇 𝑌𝑇 (2.3)
𝐴𝑂 = 𝑋𝑂 𝑌𝑂 (2.4)
𝑋𝑇 = 𝑋𝑂 {1 + 𝛼𝑋 (𝑇 − 𝑇𝑂 )} (2.5)
𝑌𝑇 = 𝑌𝑂 {1 + 𝛼𝑌 (𝑇 − 𝑇𝑂 )} (2.6)

- Ekspansi termal volume


Ekspansi termal volume dapat terjadi pada sembarang wujud benda baik itu cair,
padat, dan gas. Namun pada ekspansi linear luasan hanya terjadi pada benda berwujud padat
saja sedangkan cair dan gas tidak. Perubahan volume suatu benda akibat ekspansi termal saat
suhu To dapat dirumuskan seperti persamaan 2.8 dan 2.9.

𝑉𝑜 = 𝑋𝑂 𝑌𝑂 𝑍𝑂 (2.8)
𝑉𝑇 = 𝑉𝑂 {1 + 3𝛼(𝑇 − 𝑇𝑂 )} (2.9)

Dimana 3α=β= koefisien muai panjang volume.


III. METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
1. Alat muai logam
2. Teropong
3. Batang berskala
4. Pita pengukur
5. Termometer
6. Bejana uap
7. Batang tembaga
8. Batang alumunium
9. Penggaris

3.2 Skema Penelitian

3.3 Tata Laksana


1. Alat dan bahan disiapkan kemudian dirangkai sesuai dengan gambar 3.1
2. Batang tembaga dimasukkan ke dalam tabung pada alat muai logam.
Kemudian cermin diletakkan diatasnya.
3. Kemudian cermin diposisikan sehingga batang berskala dapat terlihat pada
teropong. Diusahakan batang berskala terlihat tepat di tengah benang salib
pada teropong.
4. Kemudian bejana uap dihidupkan hingga air mendidih dan termometer atas
menunjukkan angka ± 90oC.
5. Setelah termometer atas menunjukkan angka ± 90oC, bejana uap dimatikan.
Lampu dihidupkan, perubahan panjang pada batang berskala yang terlihat
pada teropong dan perubahan suhu pada termometer bawah dicatat untuk
setiap perubahan suku 5oC sehingga didapatkan 10 data.
6. Langkah nomor 1 sampai dengan 5 diulangi dengan mengganti batang
tembaga dengan batang alumunium.

3.4 Analisa Data

Pada praktikum ini akan didapatkan data berupa t´(oC), t(oC), K´(cm), K(cm), Lt(cm),
X(cm), dan d(cm). Kemudian data tersebut diolah dengan menggunakan metode regresi
linear sehingga didapatkan nilai koefisien muai panjang (α) pada logam tembaga dan
alumunium.

3.4.1 Analisa data

2 𝛼 𝑋 𝐿𝑡
(𝐾 ′ − 𝐾) (𝑡 ′ − 𝑡)
𝑑
↓ = ↓ ↓ (3.1)
𝑦 𝑚 𝑥

𝑚𝑑
𝛼 = 2 𝑥 𝐿𝑡 (3.2)

𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2
∆𝛼 = √(𝜕𝑚 ∆𝑚) + (𝜕𝑑 ∆𝑑) + (𝜕𝑥 ∆𝑥) + (𝜕𝐿𝑡 ∆𝐿𝑡) (3.3)

3.4.2 Metode regresi linear


∆= 𝑁 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 (3.4)

1 ∑ 𝑥 2 (∑ 𝑦)2 −2 ∑ 𝑥 ∑ 𝑥𝑦 ∑ 𝑦+𝑁(∑ 𝑥𝑦)2


𝑆𝑦 2 = [∑ 𝑦 2 − ] (3.5)
𝑁−2 ∆

𝑁 ∑ 𝑥𝑦−∑ 𝑥 ∑ 𝑦
𝑚
̅= (3.6)

𝑁
∆𝑚
̅ = 𝑆𝑦√ ∆ (3.7)
IV. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini akan diperoleh data berupa d, x, L, Ta, dan Tb. Dimana d adalah
jarak atau panjang kaki pada cermin (cm), x adalah jarak antara batang berskala ke cermin
(cm), L adalah panjang batang logam (cm), Ta adalah suhu pada termometer atas (oC), Tb
adalah suhu pada termometer bawah (oC). L nantinya akan diolah sehingga didapatkan data
berupa ΔK dimana K adalah panjang batang logam pada suhu Ta paling rendah sedangkan K´
adalah panjang batang logam setiap kenaikan 5oC. Data Ta dan Tb kemudian akan dirata –
rata dan diolah sehingga didapatkan data t´-t. Kemudian data – data tersebut diolah dengan
menggunakan metode regresi linear sehingga didapatkan hasil berupa m±Δm dan α (koefisien
muai logam). Pada praktikum ini akan menggunakan dua batang logam yaitu logam tembaga
dan alumunium. Setiap penurunan suhu 5oC panjang L diukur dengan cara melihat batang
berskala pada teropong.

4.1 Pengukuran Koefisien Muai Panjang pada Batang Tembaga

Pada praktikum koefisien muai panjang pada batang tembaga didapatkan hasil
seperti tabel 4.1.

Ta (oC) Tb (oC) t'-t (oC) ΔK=K'-K (cm)


90 93,5 37,25 27
85 93 34,5 25
80 92,5 31,75 23
75 91 28,5 22
70 88,5 24,75 20
65 84,5 20,25 17
60 80 15,5 13
55 76,5 11,25 9
50 70 5,5 5
45 64 0 0
Tabel 4.1 Pengukuran Koefisien Muai Panjang Batang Tembaga

Dari tabel 4.1 dapat dilihat selisih antara suhu pada termometer atas (Ta) dan termometer
bawah (Tb) cukup besar. Setiap penurunan suhu 5oC pada termometer atas (Ta) maka
semakin bertambah ΔK. Tabel 4.1 kemudian diinterpretasikan kedalam grafik seperti gambar
4.1.
Grafik ΔK vs (t'-t)
Pengukuran Koefisien Muai Panjang pada Batang Tembaga
35

30

25
Y=ΔK=K'-K

20

15

10

0
5.5 11.25 15.5 20.25 24.75 28.5 31.75 34.5 37.25

X = t'-t

Gambar 4.1 Grafik Pengukuran Koefisien Muai Panjang Batang Tembaga

Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa persebaran data yang didapatkan cukup baik untuk
digunakan sebagai data percobaan yang selanjutnya akan diolah menggunakan metode regresi
linear sehingga didapatkan nilai 𝑚 ̅ = 0,71 ± 0,03 dan α ± Δα = (1,75 ± 0,45) x 10-
̅ ± ∆𝑚
4 o
/ C. Berdasarkan referensi yang diambil pada buku Fisika Dasar jilid 1 karangan Halliday
diketahui bahwa besar nilai koefisien muai panjang (α) pada logam tembaga yaitu sebesar 1,7
x 10-5/oC. Jika nilai koefisien muai panjang (α) yang didapatkan pada percobaan
dibandingkan dengan referensi yang diketahui bahwa hasil percobaan tersebut tidak sesuai
dengan referensi. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor seperti suhu ruangan yang
terlalu rendah, dan kesalahan praktikan saat membaca batang berskala menggunakan
teropong.

4.2 Pengukuran Koefisien Muai Panjang pada Batang Alumunium

Pada praktikum koefisien muai panjang pada batang alumunium didapatkan hasil
seperti tabel 4.2.

Ta (oC) Tb (oC) t'-t (oC) ΔK=K'-K (cm)


90 94 35 37
85 93,5 32,25 35
80 92,8 29,4 32
75 91,5 26,25 29
70 89 22,5 25
65 86 18,5 21
60 83 14,5 17
55 78,5 9,75 11
50 74,5 5,25 6
45 69 0 0
Tabel 4.2 Pengukuran Koefisien Muai Panjang Batang Alumunium

Dari tabel 4.1 dapat dilihat selisih antara suhu pada termometer atas (Ta) dan termometer
bawah (Tb) cukup besar. Setiap penurunan suhu 5oC pada termometer atas (Ta) maka
semakin bertambah ΔK. Tabel 4.2 kemudian diinterpretasikan kedalam grafik seperti gambar
4.2.

Grafik ΔK vs (t'-t)
Pengukuran Koefisien Muai Panjang pada Batang Alumunium
45
40
35
30
Y=ΔK=K'-K

25
20
15
10
5
0
5.25 9.75 14.5 18.5 22.5 26.25 29.4 32.25 35

X = t'-t

Gambar 4.2 Grafik Pengukuran Koefisien Muai Panjang Batang Alumunium

Dari gambar 4.2 dapat dilihat bahwa persebaran data yang didapatkan cukup baik untuk
digunakan sebagai data percobaan yang selanjutnya akan diolah menggunakan metode regresi
linear sehingga didapatkan nilai 𝑚 ̅ = 0,71 ± 0,02 dan α ± Δα = (2,6 ± 0,4) x 10-4/oC.
̅ ± ∆𝑚
Berdasarkan referensi yang diambil pada buku Fisika Dasar jilid 1 karangan Halliday
diketahui bahwa besar nilai koefisien muai panjang (α) pada logam tembaga yaitu sebesar 1,2
x10-5/oC. Jika nilai koefisien muai panjang (α) yang didapatkan pada percobaan dibandingkan
dengan referensi yang diketahui bahwa hasil percobaan tersebut tidak sesuai dengan
referensi. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor seperti suhu ruangan yang terlalu
rendah, dan kesalahan praktikan saat membaca batang berskala menggunakan teropong.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab empat dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Besar nilai koefisien muai panjang (α ± Δα) pada batang tembaga yaitu (1,75 ± 0,45)
x 10-4/oC. Besar nilai koefisien muai panjang (α ± Δα) pada batang alumunium yaitu
(2,6 ± 0,4) x 10-4/oC.
2. Hasil percobaan yang didapatkan tidak sesuai dengan referensi yang didapatkan dari
buku Fisika Dasar jilid 1 karangan Halliday.
5.2 Daftar Pustaka

Staff Laboratorium Fisika Dasar.2015. Buku Panduan Fisika Dasar 2.FMIPA:


Yogyakarta

Halliday, David.dkk.1998.Fisika Edisi:Ketiga jilid I.Jakarta:Erlangga

Sunarta,Ms.Drs.2013.Modul Fisika Dasar I.Yogyakarta:BOPTN P3-UGM

Yogyakarta, 8 Juni 2015

Asisten Praktikum, Praktikan,

Bisma Mahendra Mila Utami Sari


Lampiran

I. Perhitungan
1. Tabel 1 Percobaan Pengukuran Koefisiem Muai Panjang logam tembaga.

X Y XY X2 Y2
37,25 27 1005,75 1387,563 729
34,5 25 862,5 1190,25 625
31,75 23 730,25 1008,063 529
28,5 22 627 812,25 484
24,75 20 495 612,5625 400
20,25 17 344,25 410,0625 289
15,5 13 201,5 240,25 169
11,25 9 101,25 126,5625 81
5,5 5 27,5 30,25 25
0 0 0 0 0
∑ 𝒙 = 209,25 ∑ 𝑦 = 161 ∑ 𝑥𝑦 = 4395 ∑ 𝑥 2 =5817,813 ∑ 𝑦 2 = 3331
(∑ 𝒙)2 = 43785,56 (∑ 𝑦)2=25921 (∑ 𝑥 𝑦)2=19316025 - -

 ∆= 𝑁 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 = 10 (5817,813) − (43785,56) = 14392,5625


1 ∑ 𝑥 2 (∑ 𝑦)2 −2 ∑ 𝑥 ∑ 𝑥𝑦 ∑ 𝑦+𝑁(∑ 𝑥𝑦)2
 𝑆𝑦 2 = [∑ 𝑦 2 − ]
𝑁−2 ∆

1 (5817,813)(25921)−2(209,25)(4395)(161)−10(19316025)
= [3331 − ]
10−2 14392,5625

= 0,923787677

𝑆𝑦 = √0,923787677 = 0,96113874

𝑁 ∑ 𝑥𝑦−∑ 𝑥 ∑ 𝑦 10(4395)−(209,25)(161)
 𝑚
̅= = =0,712920302
∆ 14392,5625

𝑁 10
 ∆𝑚
̅ = 𝑆𝑦√ ∆ = 0,96113874√14392,5625 =0,025334773

Jadi, 𝑚
̅ ± ∆𝑚
̅ = 0,71 ± 0,03

𝑚𝑑 (0,712920302)(3)
 𝛼= = = 0,000175173
2 𝑥 𝐿𝑡 2 (119,7)(51)
𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2
 ∆𝛼 = √( ∆𝑚) + ( ∆𝑑) + ( ∆𝑥) + ( ∆𝐿𝑡)
𝜕𝑚 𝜕𝑑 𝜕𝑥 𝜕𝐿𝑡

𝑑 2 𝑚 2 𝑚𝑑 2 𝑚𝑑 2
= √( ∆𝑚) + ( ∆𝑑) + ( 2 ∆𝑥) + ( ∆𝐿𝑡)
2 𝑥 𝐿𝑡 2 𝑥 𝐿𝑡 2 𝑥 𝐿𝑡 2𝑥

2 2 2 2
3 (0,712920302) (0,712920302)3 (0,712920302)3
= √( (0,025334773)) + ( (0,5)) + ( 2
(0,5)) + ( (0,5))
2 (119,7)(51) 2 (119,7)(51) 2(119,7) (51) 2 (119,7)

= √(6,225065851 𝑥 10−6 )2 + (2,919555023 𝑥 10−5 )2 + (2,43906017 𝑥 10−7 )2 + (4,466919185 𝑥 10−3 )2


= √1,995426414 𝑥 10−5 = 4,467019603 𝑥 10−3

Jadi, α ± Δα = (1,75 ± 0,45) x 10-4/oC

2. Tabel 2 Percobaan Pengukuran Koefisiem Muai Panjang logam alumunium.

X Y XY X2 Y2
35 37 1295 1225 1369
32,25 35 1128,75 1040,063 1225
29,4 32 940,8 864,36 1024
26,25 29 761,25 689,0625 841
22,5 25 562,5 506,25 625
18,5 21 388,5 342,25 441
14,5 17 246,5 210,25 289
9,75 11 107,25 95,0625 121
5,25 6 31,5 27,5625 36
0 0 0 0 0
∑ 𝒙 = 193,4 ∑ 𝑦 = 213 ∑ 𝑥𝑦 =5462,05 ∑ 𝑥 2 =4999,86 ∑ 𝑦 2 = 5971
(∑ 𝒙)2 37403,56 (∑ 𝑦)2=45369 (∑ 𝑥 𝑦)2=29833990 - -

 ∆= 𝑁 ∑ 𝑥 2 − (∑ 𝑥)2 = 10 (4999,86) − (37403,56) = 12595,04


1 ∑ 𝑥 2 (∑ 𝑦)2 −2 ∑ 𝑥 ∑ 𝑥𝑦 ∑ 𝑦+𝑁(∑ 𝑥𝑦)2
 𝑆𝑦 2 = [∑ 𝑦 2 − ]
𝑁−2 ∆

1 (4999,86)(45369)−2(193,4)(5462,05)(213)−10(29833990)
= [5971 − ]
10−2 12595,04

= 0,357220928

𝑆𝑦 = √0,357220928 = 0,59767962

𝑁 ∑ 𝑥𝑦−∑ 𝑥 ∑ 𝑦 10(5462,05)−(193,4)(213)
 𝑚
̅= = =0,712920302
∆ 12595,04
𝑁 10
 ∆𝑚
̅ = 𝑆𝑦√ ∆ = 0,59767962√12595,04 =0,016841031

Jadi, 𝑚
̅ ± ∆𝑚
̅ = 0,71 ± 0,02

𝑚𝑑 (0,712920302)(3)
 𝛼= = = 0,000262444
2 𝑥 𝐿𝑡 2 (119,7)(50,9)

𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2 𝜕𝛼 2
 ∆𝛼 = √( ∆𝑚) + ( ∆𝑑) + ( ∆𝑥) + ( ∆𝐿𝑡)
𝜕𝑚 𝜕𝑑 𝜕𝑥 𝜕𝐿𝑡

𝑑 2 𝑚 2 𝑚𝑑 2 𝑚𝑑 2
= √( ∆𝑚) + ( ∆𝑑) + ( 2 ∆𝑥) + ( ∆𝐿𝑡)
2 𝑥 𝐿𝑡 2 𝑥 𝐿𝑡 2 𝑥 𝐿𝑡 2𝑥

2 2 2 2
3 (0,712920302) (0,712920302)3 (0,712920302)3
= √( (0,025334773)) + ( (0,5)) + ( (0,5)) + ( (0,5))
2 (119,7)(50,9) 2 (119,7)(50,9) 2(119,7)2 (50,9) 2 (119,7)

= √(6,237295843 𝑥 10−6 )2 + (2,925290888 𝑥 10−5 )2 + (2,443852036 𝑥 10−7 )2 + (4,466919185 𝑥 10−3 )2


= √1,995426171 𝑥 10−5 = 4,46709332 𝑥 10−3

Jadi, α ± Δα = (2,6 ± 0,4) x 10-4/oC