Anda di halaman 1dari 9

Laporan Pratikum Ipa ( Pesawat sederhana )

SABTU, 22 OKTOBER 2016

Laporan Pratikum IPA ( Pesawat Sederhana )

  Judul: Pesawat Sederhana

I.         KAJIAN PUSTAKA

A.      Pengertian Pesawat Sederhana

Pesawat sederhana adalah alat sederhana yang dipergunakan untuk mempermudah

manusia melakukan usaha. Pesawat sederhana berdasarkan prinsip kerjanya dibedakan

menjadi : tuas/pengungkit, bidang miring, katrol dan roda berporos/roda bergandar.

Pesawat sederhana mempunyai keuntungan mekanik yang didapatkan dari perbandingan

antara gaya beban dengan gaya kuasa sehingga memperingan kerja manusia..

B.       Macam-Macam Pesawat Sederhana

1.        Tuas atau Pengungkit

Menurut Much. Azam (2008) tuas adalah alat yang digunakan untuk mengungkit benda

yang berat. Tuas atau pengungkit dapat berupa kayu atau besi panjang yang diberi gaya

pada satu sisinya. Gaya yang diberikan pada pengungkit biasa disebut kuasa. Jadi, kuasa

adalah gaya yang diberikan pada suatu benda untuk memindahkannya.

Menurut Muslimin dkk dkk (2013) pada dasarnya sistem kerja sebuah tuas terdiri dari

beban (B), titik tumpu (TP), dan kuasa (K). Beban adalah berat benda, sedangkan titik

tumpu merupakan tempat bertumpunya suatu gaya, dan kuasa adalah gaya yang bekerja

pada tuas.

Menurut Much. Azam (2008) berdasarkan titik beben, titik tumpu, dan titik kuasa

pengungkit dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:


a.         Pengungkit jenis Pertama

Pada pengungkit jenis pertama, titik tumpunya terletak diantara titik beban dan titik

kuasa. Contoh alat pengungkit jenis pertama adalah obeng, pemotong kuku, tang, pencabut

paku, linggis dan gunting.

b.        Pengungkit Jenis Kedua

Pada pengungkit jenis kedua, titik bebannya terletak diantara titik tumpu dan titik

kuasa. Contohnya pemecah biji-bijian, pembuka tutup botol, dan gerobak roda satu.

c.         Pengungkit Jenis Ketiga

Pada pengungkit jenis ketiga, titik kuasanya terletak diantara titik tumpu dan titik

beban. Contohnya sekop, alat penjepit es, stapler, dan pingset.

2.        Bidang Miring

Bidang miring merupakan salah satu jenis pesawat sederhana yang digunakan untuk

memindahkan benda dengan lintasan yang miring. Keuntungan mekanik bidang miring

bergantung pada panjang landasan bidang miring dan tingginya. Semakin kecil sudut

kemiringan bidang, semakin besar keuntungan mekanisnya atau semakin kecil gaya kuasa

yang harus dilakukan. Pemanfaatan bidang miring dalam kehidupan sehari-hari terdapat

pada tangga dan jalan di daerah pegunungan.

3.        Katrol

Katrol merupakan roda yang berputar pada porosnya. Biasanya pada katrol juga

terdapat tali atau rantai sebagai penghubungnya. Berdasarkan cara kerjanya, katrol

merupakan jenis pengungkit karena memiliki titik tumpu, kuasa, dan beban. Katrol

digolongkan menjadi tiga, yaitu katrol tetap, katrol bebas, dan katrol majemuk.

a.         Katrol Tetap

Katrol tetap merupakan katrol yang posisinya tidak berpindah pada saat digunakan.

Katrol jenis ini biasanya dipasang pada tempat tertentu. Pada katrol tetap, panjang lengan

kuasa sama dengan lengan beban sehingga keuntungan mekanik pada katrol tetap adalah
1, artinya besar gaya kuasa sama dengan gaya beban.

Contoh : katrol yang digunakan pada tiang bendera dan sumur timba.

b.        Katrol Bebas

Berbeda dengan katrol tetap, pada katrol bebas kedudukan atau posisi katrol berubah

dan tidak dipasang pada tempat tertentu. Katrol jenis ini biasanya ditempatkan di atas tali

yang kedudukannya dapat berubah. Salah satu ujung tali diikat pada tempat tertentu. Jika

ujung yang lainnya ditarik maka katrol akan bergerak. Katrol jenis ini bisa kita temukan

pada alat-alat pengangkat peti kemas di pelabuhan. Pada katrol bebas, panjang lengan

kuasa sama dengan dua kali panjang lengan beban sehingga keuntungan mekanik pada

katrol tetap adalah 2, artinya besar gaya kuasa sama dengan setengah dari gaya beban

c.         Katrol majemuk

Katrol majemuk merupakan perpaduan dari katrol tetap dan katrol bebas. Kedua

katrol ini dihubungkan dengan tali. Pada katrol majemuk, beban dikaitkan pada katrol

bebas. Salah satu ujung tali dikaitkan pada penampang katrol tetap. Jika ujung tali yang

lainnya ditarik maka beban akan terangkat beserta bergeraknya katrol bebas ke

atas. Keuntungan mekanik pada katrol majemuk adalah sejumlah tali yang digunakan

untuk mengangkat beban.

4.        Roda Berporos

Roda berporos merupakan roda yang di dihubungkan dengan sebuah poros yang dapat

berputar bersama-sama. Roda berporos merupakan salah satu jenis pesawat sederhana

yang banyak ditemukan pada alat-alat seperti setir mobil, setir kapal, roda sepeda, roda

kendaraan bermotor, dan gerinda

II.      PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A.      Praktikum I: Pengungkit

1.        Alat

a.         Tiang neraca
b.        Dudukan neraca beralur

c.         Lengan neraca beralur

d.        Penggantungan piring neraca

e.         Piring neraca

f.         Neraca pegas

g.        Kubus aluminium

h.        Kotak KIT IPA

2.        Langkah Kerja

a.         Menyediakan alat dan bahan yang dibutuhkan.

b.        Meletakkan tiang neraca tegak lurus (berdiri) di atas meja.

c.         Memasukkan lengan neraca beralur ke dalam dudukan neraca beralur.

d.        Meletakkan dudukan neraca di atas tiang neraca pada kedudukan yang seimbang.

e.         Meletakkan piring neraca pada ujung kiri lengan neraca beralur dengan

menggunakan penggantung piring neraca.

f.         Mengaitkan neraca pegas pada ujung lengan kanan neraca beralur.

g.        Meletakkan kubus aluminium di atas piring neraca.

h.        Menarik neraca pegas agar terjadi keseimbangan antara lengan kanan dan lengan kiri.

Kemudian mencatat panjang regangan pegas.

i.          Mengulang kegiatan di atas dengan memindahkan titik tumpu neraca, yakni, yng

pertama bergeser dua lubang kekanan dan yang kedua bergeser dua lubang ke kiri.

Kemudian mencatat panjang regangan pegas masing-masing.

j.          Menjawab pertanyaan sesuai hasil pengamatan.


k.        Membuat kesimpulan dari percobaan tersebut.

B.       Praktikum II: Bidang Miring

Alat

a.         Tutup kotak resonansi

b.        Neraca pegas

c.         Kubus kayu

d.        Kubus aluminium

e.         Kotak KIT IPA

f.         Papan plastik

2.        Langkah Kerja

a.         Menyediakan alat dan bahan

b.        Mengangkat kotak resonansi dengan cara mengaitkan pengait pada neraca pegas pada

kaitan kotaak resonansi. Menghitung regangan pegas.

c.         Membuat bidang miring dengan cara memiringkan papan plastik dan meletakkan

kotak resonansi yang telah dikaitkan di atas bidang miring tersebut. Menarik kotak

resonansi dari bawah ke atas dan menghitung panjang regangan pegas.

d.        Malandaikan kemiringan papan plastik dan menarik kotak resonansi dari bqwah ke

atas. Menghitung regangan pegas.

e.         Meninggikan kemiringan papan plastik dari kondisi awal dan menarik kotak

resonansi dari bawah ke atas. Menghitung panjang regangan pegas.

f.         Membuat table pengamatan sesuai krativitas, kemudian mengisi table tersebut sesuai

hasil pengamatan.
g.        Membandingkan panjang regangangan pegas pada langkah 1, 2, dan 3, 4, dan 5,

kemudian membuat kesimpulan.

C.      Praktikum III: Katrol

1.        Alat

a.         Piring neraca.

b.        Katrol tunggal 2 buah.

c.         Penggantung piring.

d.        Kubus kayu

e.         Gantungan hampa udara

f.         Kubus aluminium.

g.        Mur baut dudukan.

h.        Tali.

2.        Langkah kerja

a.         Menyediakan alat dan bahan.

b.        Menggantung piring neraca pada neraca pegas dan mengisi piring neraca dengan

kubus kayu dan aluminium, kemudian menghitunh panjang regangan neraca pegas

tersebut.

c.         Memasang gantungan hampa udara pada dinding yang permukaannya halus,

kemudian menggantung neraca pegas yang telah dibebani piring neraca pada

gantungan hampa udara yang telah dikaitkan dengan katrol. Meletakkan kubus kayu

diatas piring neraca. Menghitung panjang regangan neraca pegas tersebut.

d.        Melakukan langkah kerja nomor 2 dan mengaitkan katrol kedua lalu meletakkan

kubus aluminium dan kubus kayu di atas piring neraca. Menghitung panjang regangan

neraca pegas tersebut.


e.         Mencari selisih antara langkah 1, 2, dan 3, kemudian membuat kesimpulan pada

percobaan ini.

III.   ANALISIS HASIL PRAKTIKUM

A.      Analisis Hasil Praktikum I: Pengungkit

Sebelum praktikum I dimulai, terlebih dahulu menyiapkan alat dan bahan yang

dibutuhkan, seperti tiang neraca, dudukan neraca beralur, lengan neraca beralur,

penggantungan piringan neraca, piring neraca, neraca pegas, kubus aluminium, dan kotak

KIT IPA. Selanjutnya tiang neraca diletakkan tegak lurus di atas meja. Kemudian lengan

neraca beralur dimasukkan ke dalam dudukan neraca beralur, dan dudukan neraca

diletakkan di atas tiang neraca pada kedudukan yang seimbang, serta piringan neraca

diletakkan pada ujung kiri lengan neraca beralur dengan menggunakan penggantug piring

neraca. Setelah itu neraca pegas   dikaitkan pada ujung lengan kanan neraca beralur.

Setelah itu, kubus aluminium diletakkan di atas piring neraca, kemudian neraca pegas

di tarik pada kedudukan yang seimbang. Kegiatan tersebut diulangi dengan memindahkan

titik tumpu neraca yakni, yang pertama bergeser dua lubang ke kanan dan yang kedua

bergeser dua lubang ke kiri. Pada saat seimbang panjang panjang regangan sebesar 0,3N,

pada saat di geser 2 kali ke kanan sebesar 0,4N, sedangkan pada saat digeser 2 kali ke kiri

sebesar 0,2N.

B.       Analisis Hasil Praktikum II: Bidang Miring

Sebelum praktikum ke II dimulai terlebih dahulu menyiapkan alat bahan yang

dibutuhkan, seperti tutup kotak resonansi, neraca pegas, kubus kayu, kubus aluminium,

kotak KIT IPA, dan papan plastik. Kemudian kotak resonansi dikaitkan pada neraca pegas,

selanjutnya kotak resonansi di tarik pada bidang miring, dan pada saat papan dilandaikan,

serta pada saat bidang miring ditinggipapan ditinggikakan. Pada saat kotak resonansi

dikaitkan pada neraca pegas panjangnya sebesar 0,9N. Kemudian pada saat di tarik pada
bidang miring panjang pegangan pegas sebesar 0,4N, pada saat papan dilandaikan panjang

pegas sebesar 0,4N, sedangkan pada saat ditinggikan panjang pegas ssebesar 0,5N.

C.      Analisis Hasil Praktikum III: Katrol

Sebelum melakukan pengamatan terlebih dahulu menyiapkan alat dan bahan yang

dibutuhkan, seperti piring neraca, katrol tunggal 2 buah, penggantung piring, kubus kayu,

gantungan hampa udara, kubus aluminium, mur baut dudukan, dan tali.

Kemudian, piring neraca di gantung pada neraca pegas dan mengisi piring neraca

dengan kubus kayu serta kubus aluminium. Selanjutnya, gantungan hampa uadara di

pasang pada dinding yang permukaannya halus, kemudian menggantung neraca pegas

yang telah dibebani piring neraca pada gantungan hampa udara yang telah dikaitkan

dengan katrol, dan piring neraca di isi dengan kubus kayu. Selanjutnya kubus kayu dan

kubus aluminium di letakkan bersamaan di atas piring neraca. Pada jenis katrol tetap

panjang regangan sebesar 0,3N, pada jenis katrrol majemuk panjang regangan sebesar 0,4,

sedangkan jenis katrol bebas panjang regangan sebesar 0,6N.

D.      Analisis Hasil Praktikum IV: Roda

Sebelum melakukan pengamatan terlebih dahulu menyiapkan alat dan bahan yang

dibutuhkan, seperti kereta roda empat, kotak resonansi dan neraca pegas. Selanjutnya

neraca pegas dikaitkan dengan kotak resonansi, kemudian pasanglah kereta roda empat

sebagai alat pengangkut. Pada saat  neraca pegas dikaitkan dengan kotak resonansi,

panjang regangannya sebesar 1,0N, sedangkan pada saat  dipasangkan kereta beroda

empat diatas papan plastik panjang regangannya sebesar 0,4N, maka didapat selisih antara

keduanya yai

IV.      KESIMPULAN

A.      Kesimpulan Praktikum I: Pengungkit

Dari pengamatan yang telah dilakukun dapat disimpulkan bahwa semakin dekat titik

tumpu terhadap beben, maka panjang regangannya semakin kecil dan semakin jauh titik

tumpu terhadap beban, maka panjang regangannya semakin besar.


B.       Kesimpulan Praktikum II: Bidang Miring

Dari pengamatan yang telah dilakukun dapat disimpulkan bahwa semakin tingi bidang

miring yang dilalui oleh kotak resonansi, maka pergerakannya akan lambat dan panjang

regangan pegasnya semakin besar. Begitu pula sebaliknya.

C.      Kesimpulan Praktikum III: Katrol

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, apabila

sebuah benda dikaitkan dengan katrol untuk mengangkat beban maka panjang

regangannya semakin kecil. Sedangkan ketika tidak menggunakan katrol, panjang

regangannya akan semakin besar. Maka dari prcobaan tersebut dapat diketahui selisih

antara katrol tetap ke katrol majemuk sebesar 1N, dan selisih dari katrol majemuk ke

katrol bebas sebesar 0,2

D.      Kesimpulan Praktikum IV: Roda

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan

roda mempengaruhi panjang regangan neraca pada kotak resonansi. Apabila sebuah roda

dijadikan titik tumpu, maka regangan pegas akan semakin kecil, sedangan ketika tidak

menggunakan roda, maka panjang regangannya semakin besar.

DAFTAR PUSTAKA

Azam Much.2008.Akrab Dunia IPA Kelas V.Solo:Platinum

Sukajiyah.2011.PesawatSederhana.http://sukasains.com/materi/pesawat-sederhana/. ( Di
akses pada tanggal 12 November 2013)

muhaemin emin di 08.38

Berbagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda mungkin juga menyukai