Anda di halaman 1dari 95

ANALISIS KELAYAKAN AGUNAN PADA PEMBIAYAAN MUROBAHAH

DI KOPERASI SIMPAN PINJAM-PEMBIAYAAN SYARIAH (KSP-PS)


BAITUL MAAL WAT-TAMWIL (BMT) ASSYAFI’IYAH
KOTA GAJAH LAMPUNG TENGAH
TAHUN 2017

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat dan Melengkapi Tugas-Tugas


Guna memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

Oleh

ANDI RAHMANIAKIM
NPM. 13130055

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM


PROGRAM STUDI S.I PERBANKAN SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU ( IAIM NU)


METRO – LAMPUNG
1439 H / 2018 M
ABSTRAK
ANALISIS KELAYAKAN AGUNAN PADA PEMBIYAAN MUROBAHAH
DI KOPERASI SMPAN PINJAM PEMBIYAAN SYARIAH (KSP-PS)
BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT) ASSAFI’IYAH
KOTA GAJAH LAMPUNG TENGAH
TAHUN 2017

Oleh:

ANDI RAHMANIAKIM
NPM. 13130055

Agunan merupakan suatu barang berharga yang dijadikan penguat


kepercayaan dalam memperoleh utang. Barang itu menjadi milik yang berpiutag
apabila utang tidak dibayar. Agunan (jaminan) adalah suatu perikatan antara
kreditur dengan debitur, dimana debitur menjajikan semua haranya untuk
pelunsan utangnya menurut ketentuan yang telah ditetapkan apabila dalam waktu
yang telah ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang sidebitur.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaiman penentuan
kelayakan agunan pada pembiyaan Murobahah di Koperasi Simpan Pinjam
Pembiyaan Syariah (KS-PPS) Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Assyafiiyah Kota
Gajah Lampung Tengah tahun 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui jenis-jenis barang agunan untuk pembiyaan Murobahah dan
penentuan kelayakan agunan pada Pembiayaan Murobahah di BMT Assyfiiyah
Kota Gajah Lampung Tengah.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Teknik pengumpul datanya yaitu dengan teknik observasi, wawancara
dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisa datanya yaitu deskriptif kualitatif
dengan pola pikir induktif.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh jenis-jenis agunan yang bisa
digunakan untuk pembiyaan Murobahah pada BMT Assyafiiyah Kota Gajah
Lampung Tengah yaitu jaminan SKMHT, jamiana APHT, jaminan Fidusia dan
penentuan kelayakanya barang barang tersebut mempunyai nilai ekonomis dalam
arti dapat dinilai dengan uang dan memiliki nilai/harga yang relatif stabil serta
dapat dengan mudah dijadikan uang melalui transaksi jual beli dan dpat dinilai
secara umum dan pasti, bukan merupakan penilaian yang dipengaruhi faktor
subjektifitas tinggi serta mempunyai nilai yuridis dalam arti memilki bukti
kepemilikan yang sah dan kuat berdasarkan hukum positif yang berlaku, serta
dapat dipindah tangankan kepemilknya, serta bmt harus benar-benar jeli dalam
meneliti atau menilai barang yang dijadikan aguanan oleh anggota.

ii
PERSETUJUAN

iii
NOTA DINS

iv
PENGESAHAN

v
MOTTO

            

    


Artinya : “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang

baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Q.S. Al-Ahzab :

21)1

1
Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, (Bekasi: PT. Sinergi Pustaka
Indonesia, 2012), h. 595

vi
PERSEMBAHAN

Alhamdulillah Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

ridho-Nyalah penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Skripsi ini penulis

persembahkan kepada:

1. Ibu dan bapak yang telah membimbing, mendidik penulis dari kecil hingga

sekarang, dan yang menantikan keberhasilan penulis dalam menempuh

Pendidikan pada Program Studi S.1 Perbankan Syariah

2. Kakak dan Adik tercinta yang selalu memberi semangat doa untuk kelancaran

penyusunan Skripsi ini.

3. Saudara-saudara saya yang telah memotivasi dalam belajar di IAIM NU ini

hingga berhasil.

4. Teman-teman saya senasib seperjuangan.

5. Almamaterku tercinta IAIM NU Metro Lampung

vii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT seru sekalian alam.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, sang penafsir Kalam

Allah, keluarga serta penerus misi dan cita-cita profetik ila yaum al-qiyamah,

Amiin.

Melalui perjuangan dan proses yang panjang akhirnya Skripsi ini telah

selesai, adapun judul Skripsi ini adalah “ANALISIS KELAYAKAN AGUNAN

PADA PEMBIYAAN MUROBAHAH DI KOPERASI SMPAN PINJAM

PEMBIYAAN SYARIAH (KSP-PS) BAITUL MAAL WAT TAMWIL

(BMT) ASSAFI’IYAH KOTA GAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN

2017”

Skripsi ini diajukan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan

untuk memperoleh gelar Sarjana pada Jurusan Syari‟ah dan Ekonomi Islam

Institut Agama Islam Ma‟arif NU (IAIM NU) Metro Lampung.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Skripsi ini tidak lepas dari

bimbingan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Dr. Mispani, M.Pd.I. Selaku rektor Institut Agama Islam Ma‟arif NU

(IAIM NU) Metro Lampung.

viii
2. Bapak Iwannudin.M.H.I. Selaku Dekan Fakultas Syari‟ah dan Ekonomi

Islam Institut Agama Islam Ma‟arif NU (IAIM NU) Metro Lampung yang

telah menyetujui judul diatas.

3. Bapak Harto A. Satyo, S.E, M.M. selaku ketua prodi S.1 Perbankan

Syariah, sekaligus sebagai dosen Pembimbing I dalam penelitian ini.

4. Ibu Wiwik Damayanti, ME.Sy , selaku dosen Pembimbing II dalam

penelitian ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen/Karyawan Institut Agama Islam Ma‟arif NU (IAIM

NU) Metro Lampung yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan

sumbangan pemikirannya selama penulis menduduki bangku kuliah

hingga selesai Skripsi ini.

6. Sahabat-sahabat seperjuangan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu

dalam membantu penyelesaian penulisan Skripsi ini.

Akhirnya, semoga apa yang telah diberikan kepada penulis akan mendapat

imbalan yang setimpal dari Allah SWT, Amin ya robbal „alamin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Metro, Januari 2018


Penulis,

Andi Rahmaniakim
NPM. 13130004

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


ABSTRAK ...................................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN NOTA DINAS........................................................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ v
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ vi
MOTTO .......................................................................................................... vii
PERSEMBAHAN ........................................................................................... viii
KATA PENGANTAR .................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul ............................................................................ 1
B. Alasan Memilih Judul ................................................................ 5
C. Latar Belakang Masalah ................................................................ 5
D. Rumusan masalah .......................................................................... 12
E. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian ................................................. 12
BAB II LANDASAN TEORI
A. Agunan ...................................................................................... 13
1. Pengertian Agunan .................................................................. 13
2. Dasar Hukum .......................................................................... 14
3. Fungsi Agunan ........................................................................ 15
4. Syarat-Syarat Agunan ............................................................. 16
5. Jenis-Jenis Agunan .................................................................. 17
6. Pengukuran Kelayakan Agama ............................................... 20
B. Pembiayaan ................................................................................... 21
1. Pengertian Pembiayaan ........................................................... 21
2. Dasar Hukum Pembiayaan ..................................................... 21
3. Jenis-Jenis Pembiayaan ........................................................... 23

C. Murobahah ................................................................................... 26

x
1. Pengertian Murobahah ........................................................... 26
2. Dasar Hukum Murobahah ....................................................... 27
3. Rukun dan Syarat Murobahah ................................................. 30
4. Jenis-Jenis Akad Murobahah .................................................. 32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Sifat Penelitian ............................................................. 33
B. Sumber Data .................................................................................. 34
C. Teknik pengumpulan data ............................................................ 35
D. Teknik Ananlisis Data ................................................................... 38
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum BMT Assyafi‟iyah Berkah Nasional ................ 39
1. Sejarah Berdirinya BMT Assyafi‟iyah Berkah Nasional ......... 39
2. Visi, Misi dan Tujuan BMT Assyafi‟iyah ............................... 40
3. Struktur Organisasi BMT Assyafi‟iyah ................................... 41
4. Tugas Staf/Karyawan BMT Assyafi‟iyah ................................ 43
5. Cara Kerja Staf/ Karyawan BMT Assyafi‟iyah ....................... 61
6. Produk-Produk BMT Assyafi‟iyah Lampung Tengah ............. 62
7. Jenis-Jenis Agunan Di BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah ........... 65
8. Jenis-Jenis Pengikatan Agunan Di BMT Assyafi‟iyah
Kotagajah ................................................................................. 67
B. Analisi Data ................................................................................... 68
1. Analisis Jenis Agunan Pada Pembiyaan Murobahah Di
KSPPS BMT Assyafiiyah Kota Gajah ..................................... 68
2. Kelayakan Agunan Pada Pembiayaan Murobahah Di BMT
Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah .............................. 73
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................... 76
B. Saran ............................................................................................... 76
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
BAB I

PENDAHULUAN

F. Penegasan Judul

Judul merupakan cermin dari pokok persoalan karya ilmiah, karena

judul memberikan suatu gambaran tentang isi sekripsi tersebut, adapun judul

dalam skripsi penulis adalah “Analisis Kelayakan Agunan Pada Pembiyaan

Murobahah Di Koperasi Simpan Pinjam-Pembiyaaan Syariah (KSP-PS)

Baitul Maal Wat-Tamwil (BMT) Assafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah

Tahun 2017. Dengan penjelasan istilah judul sebagai berikut:

1. Analisis

Analisis adalah “penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan,

perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-

musabab, duduk perkaranya, dsb)”.2

Dari pengertian tersebut bahwa analisis merupakan penelidikan

tentang kelayakan aguanan pada pembiyaan murobahah di KSP-PS BMT

Assafi‟iyah Kota Gajah lampung tengah.

2. Kelayakan

Kelayakan dalam kamus besar bahasa Indonesia berasal dari kata

layak yang artinya “Wajar, Pantas, Patut”.3

2
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
Pustaka, 2007, hal. 43
3
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 646

1
1
Dari arti diatas bahwa kelayakan dalam penelitian ini yaitu kelayakan

agunan dalam pembiyaan murobahah pada BMTAssafiiyah Kota Gajah

Lampug Tengah.

3. Agunan

Agunan adalah “keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan

nasabah debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan yang

diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh

bank.4

Dari pengertian tersebut bahwa agunan merupakan suatu perikatan

antara kreditur dengan debitur, dimna debitur menjajikan semua hartanya

untuk pelunasan utangnya menurut ketentuan yang telah ditetapkan

apabila dalam waktu yang telah ditentukan terjadi kemacetan pembayaran

utang si debitur.

4. Pembiayaan

Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang


dipersamakandengan itu berupa:
a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudhorobah dan musyarokah.
b. Transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijaroh atau sewa beli
dalam bentuk ijaroh Muntahiya Bintamlik.
c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murobahah, salam,
istisna”.
d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qard dan
e. Transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijaroh untuk transaksi
multijasa berdasarjan persetujuan atau kesepakatan antara bank
syariah dan atau unut usaha syariah dan pihak lain yang
mewajibkan pihak yang dibiayai dan atau diberi fasilitas dana
untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu
dengan imbalan ijaroh, tanpa imbalan, atau bagi hasil.5

4
Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syari‟ah, Jakarta:
Sinar Grafika, 2014, hal. 42
5
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syari‟ah, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2015, hal.
40-41

2
Berdasarkan penegrtian diatas dapat disimpulkan bahwa

pembiyaan merupakan pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung

investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun

dijalankan oleh orang lain. Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk

mendefinisikan pendanaan yang dilakuakan oleh lembaga pembiyaaan,

seperti bank syariah kepada nasabah. Dalam kondisi ini arti pembiaayaan

sempit dan pasif.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa

pembiyaan merupakan pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung

investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun

dilakukan oleh orang lain. Dalam arti sempit, pembiyaan dipakai untuk

mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiyaan,

seperti bank syariah kepada nasabah. Dalam kondisi ini arti pembiyaan

menjadi sempit dan pasif.

5. Murobahah

Menurut adiwarman A. Karim, Murobahah adalah akad jual beli

barang dengan menyatakan hara perolehan dan keuntungan (marjin) yang

disepakati oleh penjual dan pembeli. Akad ini merupakan salah satu

bentuk natural certainty contrast, karena dalam murobahah ditentukan

berapa required rate of profit-nya (keuntungan yang ingin diperoleh ).6

6
Adiwarman A.Karim,Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2010, hal. 113

3
Berdasarkan pengertian diatas bahwa murobahah merupakan jual

beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati

antara bank dan nasabah. Dalam murobahah, penjual menyebut harga

pembelian menyebut harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian

ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu.

Pada perjanjian murobahah, bmt membiayai pembelian barang

yang dibutuhkan oleh nasabahnya dengan membeli barang itu dari

pemasok, dan kemudian menjulanya kepada nasabah dengan harga yang

ditambah keuntungan.

6. BMT Assafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah

Menurut Andri Soemitra Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) adalah

kependekan kata balai usaha mandiri terpadu atau Baitul Mal Wat-Tamwil,

yaitu lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi berdasakan

prinsip-prinsip syariah. 7

BMT Assafiiyah Kota Gajah Lampung Tengahmerupakan

Koperasi Baitul Maal Wat-Tamwil yang disingkat dengan BMT Assafiiyah

Kota Gajah Lampung Tengah yang berkedudukan di kelurahan Kauman

Kecamatan Kotagajah Lampung Tengah.

Berdasarkan pada uraian penegasan judul diatas maka dapat

disimpulkan bahwa untuk mengungkap tentang bagaimana kelyakan agunan

pada pembiyaan Murobahah dikoperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah

7
Andri Soemitra, Bank & Lembaga Keuangan Syari‟ah, Jakarta: Prenadamedia Group,
2009, hal. 451

4
(KSP-PS) Baitul Maal Wat-Tamwil (BMT) Assafiiyah Kota Gajah Lampung

Tengah Tahun 2017.

G. Alasan memilih judul

Adapun alasan penulis memilih judul ini sebagai berikut:


1. Agunan merupakan bagian penting dari dunia perbankan didalam fasilitas

pembiayaan dan sangat berkaitan dengan perkuliahan penulis yang saat ini

diambil yaitu perbankan syariah.

2. Analisis kelayakan agunan pada Pembiayaan Murobahah di Koperasi

Simpan Pinjam-Pembiyaan Syariah (KSP-PS) Baitul Maal Wat-Tamwil

(BMT) Assafiiyah Pusat Kota Gajah Lampung Tengah Tahun 2017 ini

sebelumnya belum pernah ada yang meneliti untuk digunakan penilitian

skripsi di Perbakan Syariah IAIM NUMetro Lampung.

H. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan zaman BMT sekarang menjadi

lembaga keuangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk

membantu dalam hal pemodalan. Penduduk Indonesia sebagian besar

merupakan golongan ekonomi menengah kebawah, eksistensi lembaga

keuangan yang bia menyentuh lapisan inilah yang perlu dikembangkan. BMT

pada dasarnya merupakan pengembangan diri konsep ekonomi Islam,

terutama dalam bidang keuangan.

Sebagai lembaga keuangan syrai‟ah BMT bertugas menghimpun dana

dari masyarakat (anggota BMT) yang mempercayakan dananya disimpan di

BMT dan menyalurkan dana kepada masyarakat (anggota BMT) yang

5
diberikan oinjaman oleh BMT. Baik untuk modal usaha maupun untuk

konsumsi. Praktik pembiayaan yang sebenarnya dilakukan oleh lembaga

keuangan Islam adalah pembiayaan dengan sistem bagi hasil atau syirkah.

Praktek syirkah ini terkemas dalam dua jenis pembiayaan yaitu

Pembiayaan Mudharabah dan Pembiayaan Musyarakah. Jenis pembiayaan

lainnya adalah terkemas dalam pembiayaan berakad/sistem jual beli, yaitu

pembiayaan Mudharabah, bai assalam dan bai istishna‟.

Menurut Muhammad fungsi pembiayaan yaitu :


1. Meningkatkan daya guna uang.
2. Meningkatkan daya guna barang.
3. Meningkatkan peredaran uang.
4. Menimbulkan kegairahan berusaha.
5. Stabilitas ekonomi.
6. Sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional.
7. Sebagai alat hubungan ekonomi internasional.8

Pembiayaan digunakan sebagai modal usaha bagi msyarakat yang

membutuhkan modal, akan tetapi dalam pengajuan pembiayaan diperlukan

adanaya agunan yaitu suatu barang berharga yang dijadikan penguat

kepercayaan dalammemperoleh utang. Barang itu menjadi milik yang

berpiutang apabila utang tidak dibayar.

Menurut Kasmir bahwa “ketidakmampuan nasabah dalam melunasi


kreditnya, dapat ditutupi dengan suatu jaminan kredit. Fungsi jaminan
kredit adalah untuk melindungi bank dari kerugian. Dengan adanya
jaminan kredit dimana nilai jaminan biasanya melebihi nilai kredit,
maka bank akan aman.”9

Agunan (jaminan) adalah suatu perikatan antara kreditur dengan

dbitur, dimana debitur menjanjikan semua hartanya untuk pelunasan utangnya

8
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syari‟ah., hal.40-41
9
Kasmir, Manajemen Perbankan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014, hal.89

6
menurut ketentuan yang telah ditetapkan apabila dalam waktu yang telah

ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang si debitur. Agunan dalam

pengertian yang lebih luas tidak hanya harta yang ditanggungkan saja,

melainkan hal-hal lain seperti kemampuan hidup usaha yang dikelola oleh

debitur. Untuk agunan jenis ini, diperlukan kemampuan analisis dari officer

pembiayaan untuk menganalisa perjalanan usaha debitur serta penambahan

keyakinan atas kemampuan debitur untuk mengembalikan pembiayaan yang

telah diberikan berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

Selanjutnya dalam kegiatan pinjam meminjam uang yang terjadi di

masyarakat dapat diperhatikan bahwa umumnya sering dipersyaratkan adanya

penyerahan agunan utang oleh pihak peminjam kepda pihak pemberi

pinjaman. Agunan utang dapat berupa barang (benda) sehingga merupakan

agunan kebendaan dan atau berupa janji penanggungan utang sehingga

merupakan agunan perorangan. Agunan kebendaan memberikan hak

kebendaan kepada pemegang agunan.

BMT dalam memberikan kredit kepada pengusaha/nasabah wajib

mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk

melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan, karena kredit yang

diberikan oleh BMT mengandung resiko, sehingga dalam pelaksanaanya BMT

harus memperhatikan asas perkreditan yang sehat.

Agunan adalah harta benda milik debitur atau pihak ketiga yang diikat

sebagai alat pembayar jika terjadi wanprestasi terhadap pihak ketiga. Agunan

telah dijelaskan dalam Al Qur‟an surah al-Baqarah ayat 283 berbunyi :

7
ِ ِ ِ
‫ضا فَ ْليُ َؤِّد‬ً ‫ض ُك ْم بَ ْع‬ ُ ‫وضةٌ فَِإ ْن أَم َن بَ ْع‬َ ُ‫َوإِ ْن ُكْنتُ ْم َعلَ ٰى َس َف ٍر َوََلْ ََت ُدوا َكاتبًا فَ ِرَىا ٌن َم ْقب‬
ِ ِ ِ
ُ‫َّه َاد َة َوَم ْن يَكْتُ ْم َها فَِإنَّوُ آِثٌ قَ ْلبُو‬
َ ‫الَّذي ْاؤُُت َن أ ََمانَتَوُ َولْيَت َِّق اللَّوَ َربَّوُ َوََل تَكْتُ ُموا الش‬
۞‫َواللَّوُ ِِبَا تَ ْع َملُو َن َعلِيم‬
Artinya: Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada
barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika
sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi)
menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya.10

Adapun agunan, seperti yang dijelaskan dalam hadis berikut:


‫ َوَم ْن اَ َ َذ َى يٍُريْ ُد اِتْ َفَ َهااَتْ لَ َفوُ اهللْ تَ َع َأ‬, ُ‫اس يُِر يْ ُد اََداءَ َىا َّادى اهلل‬
ِ ّ‫َم ْن اَ َخ َذ اَْم َو َال الن‬
Artinya: “barang siapa menerima harta orang dengan maksut
menunaikannya, niscaya allah tunaikan buat dia; dan barang siapa
mengambil dengan maksut merusaknya, niscaya allah rusakan dia”(HR.
Hakim)11
Berdasarkan dasar hukum tersebut bahwa agunan sudah ada sejak

zaman Rasulullah Saw dan sudah beliau praktikkan semasa hidupnya, beliau

meminta jaminan (agunan), ketika memberikan hutang. Agunan dalam istilah

Islam disebut dengan ar-Rahn yaitu harta yang dijadikan jaminan utang

(pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib

membayarnya, jika ia gagal (berhalangan) menunaikannya.

Menurut Faturrahman Djamil Bhawa jaminan secara umum berfungsi


sebagai jaminan pelunasan kredit/pembiayaan. Jaminan
kredit/pembiayaan berupa watak, kemampuan, modal, dan prospek
usaha yang dimiliki debitur merupakan jaminan immaterial yang
berfungsi sebagai first way out. Dengan jaminan immateril tersebut
diharapkan debitur dapat mengelola perusahaannya dengan baik
sehingga memperoleh pendapatan (revenue) bisnis guna melunasi
kredit/pembiayaan sesuai yang diperjanjikan. Jaminan
kredit/pembiayaan berupa agunan bersifat materiil/kebendaan

10
Al-Hikmah, Al-Qur‟an dan Terjemah, Bandung: CV. Diponegoro, hal. 49
11
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Bulughul Maram, Bandung: CV. Diponegoro, 1999,
hal. 379

8
berfungsi sebagai second way out. Sebagai second way out,
pelaksanaanya penjualan/eksekusi agunan baru dilakukan apabila
debitur gagal memenuhi kewajibannya melalui first way out.12

Berdasarkan keterangan tersebut bahwa agunan dalam pembiayaan

memiliki dua fungsi yatit, Pertama, untuk pembayaran hutang seandainya

terjadi halangan atas pihak ketiga yaitu dengan jalan menguangkan atau

menjual agunan tersebut. Kedua, sebagai akibat dari fungsi pertama, atau

sebagai indikator penentuan jumlah pembiayaan yang akan diberikan kepada

pihak debitur. Pemberian jumlah pembiayaan tidak boleh melebihi snilai

harta yang dijaminkan.

Agunan ini dipakai oleh mayoritas Lembaga Keuangan Syari‟ah yang


ditujukan untuk pembiayaan murabahah, yaitu “transaksi jual beli
suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah dnegan margin
yang disepakati oleh para pihak, dimana penjual menginformasikan
terlebih dahulu hingga perolehan kepada pembeli.”13

Murabahah merupakan jual beli barang pada harga asal dengan

tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah. Dalam

murabahah, penjual menyebut harga pembelian barang kepada pembeli,

kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu. Pada perjanjian

murabahah, BMT membiayai pembelian barang yang dibutuhkan oleh

nasabahnya dengan membeli barang itu dari pemasok, dan kemudian

menjualnya kepada nasabah dengan harga yang ditambah keuntungan.

Menurut Ascarya bahwa “murabahah pada awalnya merupakan


konsep jual beli yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
pembiayaan. Namun demikian, bentuk jual beli ini kemudian

12
Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah., hal. 44
13
Muhammad, Teknik Perhitungan bagi Hasil dan Pricing di Bank Syariah, Yogyakarta:
UII Press, 2012, hal. 10

9
digunakan oleh perbankan syari‟ah dengan menambah beberapa
konsep lain sehingga menjadi bentuk pembiayaan.14

Pembiayaan murabahah ini, merupakan pembiayaan untuk membantu

masyarakat yang membutuhkan barang tetapi tidak mampu membeli secara

lunas, maka BMT membantu para nasabah yang membutuhkan barang

tersebut melalui pembiaaan murabahah. Dalam pembiayaan murabahah perlu

memenuhi syarat yaitu adanya agunan dari calon kreditur.

Manfaat agunan bagi Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) mengenai

kemungkinan dengan kekhawatiran shahibul mal (pihak BMT) mengenai

kemungkinan terjadinya penyelewengan yang dilakukan kreditur (nasabah).

Adanya jaminan juga diharapkan dapat mengcover kemungkinan terjadinya

masalah dalam pembayaran kredit. Masalah yang timbul kemudian adalah

dalam pengajuan pembiayaan, dalam penyaluran diperlukan adanya agunan

untuk menghindari adanya penyimpangan. Namun bagi masyarakat kalangan

bawah dan menengah masih sulit melakukan pinjaman dengan adanya agunn

tersebut. Untuk itulah penulis merasa perlu untuk membahas mengenai

agunan.

Kegiatan pembiayaan ini merupakan salah satu fasilitas yang

diberikan BMT Assafiiyah Pusat Kota Gajah Lampung Tengah Tahun 2017

kepada anggotanya. Orientasi pembiyaan yang diberikan adalah untuk

pengembngan dana atau meningkatkan pendapatan anggota maupun pihak

BMT Assafiiyah Kota Gajah.

14
Ascarya, Akad & Produk Bank Syari;ah, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2011, hal. 82

10
Untuk mengurangi resiko itu, agunan pembiyaan dalam arti keyakinan

atas kemampuan dan kesanggupan anggota untuk melunasi pembiyaan sesuai

yang diperjanjikan merupakan faktor yang penting dan harus diperhatikan

oleh BMT Assafiiyah Kota Gajah.

Berdasarkan observasi yang penulis temukan di BMT Assafiiyah

Pusat Kota Gajah Lampung Tengah Tahun 2017 bahwa masih ada beberapa

anggota pembiyaan murobahah antara agunan yang diberikan dengan jumblah

pembiyaan kurang sesuai, sehinggga kesanggupan anggota untuk melunasi

pembiyaaan sesuai yang telah diperjanjikan berjalan kurang lancar

dikerenakan beberapa alasan yang dikemukakan oleh anggota. Berdasarkan

uraian tersebut penulis tertarik ntuk mengadakan penelitian yang berjudul

“Analisis Kelayakan Agunan Pada Pembiyaan Murobahah Di Koperasi

Simpan Pinjam Pembiyaaan Syariah (KSP-PS) Baitul Maal Wat Tamwil

(BMT) Assafiiyah Pusat Kota Gajah Lampung Tengah Tahun 2017.

I. Rumusan masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka penulis dapat

merumuskan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaiman

penentuan kelayakan agunan pada pembiyaaan murobahah di Koperasi

Simpan Pinjam-Pembiyaaan Syariah (KSP-PS) Baitul Maal Wat Tamwil

(BMT) Assafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah Tahun 2017?

11
J. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:

Untuk mengetahui penetapan kelayakan agunan untuk pembiyaan

murobahah di Koperasi Simpan Pinjam-Pembiyaaan Syariah (KSP-PS)

Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Assafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah

Tahun 2017

2. Kegunaan Penelitian

a. Kegunaan Secara Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

sumbangan pengembangan keilmuan terkait dengan kelayakan agunan

padapembiayaan murabahah di lembaga keuangan Islam.

b. Kegunaan Secara Praktis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

sumbangan pemikiran mengenai Kelayakan Agunan Pada Pembiayaan

Murobahah Di BMT Assafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah.

12
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Agunan

1. Pengertian Agunan

Menurut Faturhman Djamil,agunan adalah“keyakinan atas

kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi

kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor penting

yang harus diperhatikan oleh bank”.15

Menurut Veitsal Rifai dan Andria Permata Veithsal bahwa


jaminan/agunan pembiyaan adalah hak dan kekuasaan atas barang
jaminan yang diserahkan oleh debitur kepada lembaga keuanngan
guna menjamin pelunasan utangnya apabila pembiyaan yang
diterimanya tidak dapat dilunais sesuai waktu yang diperjanjikan
dalam perjanjian pembiyaan atau addendumnya.16

Berdasarakan beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa

agunan merupakan adalah suatu perikatan antara kreditur dan debitur,

dimana debitur menjanjikan semua hartanya untuk pelunasan utangnya

menurut ketentuan yang telah ditetapkan apabila dalam waktu dalam

waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang sidebitur.

Agunan merupakan sejanis harta yang dipercayakan kepada

pengadilan untuk membujuk pembebasan seorang tersangka dari penjara,

dengan pemahaman bahwa sang tersangka akan kembali kepersidangan

15
Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syari‟ah, Jakarta:
Sinar Grafika, 2014, hal. 42
16
Veithzal Rivai dan Andria Permata Veitzhal, Islamic Financial Management, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hal. 663

13
13
atau membiarkan jaminannya hangus (sekaligus)menjadikan sang

tersangka bersalah atas kejahtan kegaghalan kehadiran.

Agunan dalam pengertian yang lebih luas tidak hanya harta yang

ditanggungkan saja, melainkan hal hal lain seperti kemampuan hidup

usaha yang dikelola oleh debitur. Untuk agunan jenis ini, diperlukan

kemampuan analisis dari offiser pembiyaayariahn untuk menganalisa

perjalanan usaha debitur serta penambhan keyakinan atas kemampuan

debitur untuk mengembalikan pembiyaan yang telah diberikan berdasakan

prinsip-prinsip syariah.

2. Dasar Hukum

a. Al-Quran (Q.S Al-Baqarah)

ِ ِ ِ
‫ضا‬
ً ‫ض ُك ْم بَ ْع‬ُ ‫وضةٌ فَِإ ْن أَم َن بَ ْع‬
َ ُ‫َوإِ ْن ُكْنتُ ْم َعلَ ٰى َس َف ٍر َوََلْ ََت ُدوا َكاتبًا فَ ِرَىا ٌن َم ْقب‬
ِ ِ
َ ‫فَ ْليُ َؤِّد الَّذي ْاؤُُت َن أ ََمانَتَوُ َولْيَت َِّق اللَّوَ َربَّوُ َوََل تَكْتُ ُموا الش‬
‫َّه َاد َة َوَم ْن يَكْتُ ْم َها‬
ِ ِ ِ ِ
ٌ ‫فَإنَّوُ آِثٌ قَ ْلبُوُ َواللَّوُ ِبَا تَ ْع َملُو َن َعل‬
‫يم‬
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka
hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian
yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan
persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka
sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah)17

17
Al-Hikmah, Al-Qur‟an dan Terjemah, Bandung: CV. Diponegoro, hal. 49

14
b. Hadits

ِ
ُ‫ َوَم ْن اَ َ َذ َى يٍُريْ ُد اتْ َفَ َهااَتْ لَ َفو‬, ُ‫اس يُِر يْ ُد اََداءَ َىا َّادى اهلل‬
ِ ّ‫َم ْن اَ َخ َذ اَْم َو َال الن‬

‫اهللْ تَ َع َل‬
Artinya : “Barang siapa menerima harta orang dengan
maqshud menunaikannya, niscaya Allah tunaikan buat dia; dan
barang siapa mengambilnya dengan maqshud merusaknya, niscaya
Allah ruakkan dia “ (HR.Hakim)18
c. DSN-MUI tentang Agunan

‫ت اْ َِلبَا َحةُ اَِلَّاَ ْن يَّ ُذ َّل َدلِْي ٌل َعلَى ََْت ِريْعِها‬


ِ َ ‫اَ َلُصل ِِف الْمعا م‬
َ َُ ُ ْ
Artinya : “Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh
dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”19

Berdasarkan dasar/landasan diatas bahwa agunan diperbolehkan


dalam agama Islam, karena Rosululah saw pernah melakukan (agunan)
ketika beliau memberikan hutang kepada sahabatnya.

3. Fungsi Agunan

Menurut Faturrahman Djamil secara umum agunan berfungsi


sebagai jaminan pelunasan kredit/pembiayaan. Jaminan
kredit/pembiayaan berupa watak, kemampuan, modal dan porspek
usaha yang dimiliki debitur merupakan jaminan immateril yang
berfugsi sebagai first way out. Dengan jaminan immateril yang
tersebut diharapkan debitur dapat mengelola perusahaannya dengan
baik sehingga memperoleh pendapatan (revenue) bisnis guna
melunasi kredit/pembiayaan sesuai yang diperjanjikan. Jaminan
kredit/pembiayaan berupa agunan bersifat materiil/kebendaan
berfungsi sebagai second way out. Sebagai second way out
pelaksanaan penjualan/eksekui agunan baru dilakukan apabila
debitur gagal memenuhi kewajibannya melalui first way out. 20

18
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Bulughul Maram, Bandung: CV. Diponegoro, 1999,
hal. 379
19
Dewan Syariah Nasional No. 25/SDN-MUI/III/2002 Tentang Rahn
20
Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah., hal. 42

15
Berdasarkan keterangan tersebut bahwa agunan dalam pembiayaan

memiliki dua fungsi yaitu Pertama, untuk pembayaran hutang seandainya

terjadi halangan atas pihak ketiga yaitu dengan jalan menguangkan atau

menjual agunan tersebut. Kedua, sebagai akibat dari fungsi pertama, atau

sebagai indikator penentuan jumlah pembiayaan yang akan diberikan

kepada pihak debitur. Pemberian jumlah pembiayaan tidak boleh melebihi

nilai harta yang dijaminkan.

4. Syarat-Syarat Agunan

Adapun syarat-syarat barang yang dapat dijadikan agunan sebagai

berikut:

a. Barang jaminan (mahrun) itu dapat dijual dan dinilainya seimbang

dengan utang. Tidak boleh menggadaikan sesuatu yang tidak ada

ketika akad seperti burung yang sedang terbang. Karena hal itu

tidak dapat melunasi utang dan tidak dapat dijual.

b. Barang jaminan itu bernilai harta, merupakan mal muttaqawwim

(boleh dimanfaatkan menurut syari‟at). Oleh karena itu, tidak sah

mengadaikan bangkai, khamar, karena tidak dapat dipandang

sebgaai harta dan tidak boleh dimanfaatkan menurut Islam.

c. Barang jaminan itu jelas dan tertentu.

d. Barang jaminan itu milik sah orang yang berhutang dan berada

dalam kekuasannya.

16
e. Barang jaminan harus dapat dipilah. Artinya tidak terkait dengan

hak orang lain, misalnya harta berserikat, harta pinjaman, harta

titipan, dan sebagainya.

f. Barang jaminan itu merupakan harta yang utuh, tidak bertebaran di

beberapa tempat serta tidak terpisah dari pokoknya, seperti tidak

sah menggadaikan buah yang ada dipohon tanpa menggadaikan

pohonnya, atau menggadaikan setengah rumah pada satu rumah

atau seperempat mobil dari satu mobil.

g. Barang jaminan itu dapat diserahterimakan, baik materinya

maupun manfaatnya. Apabila barang jaminan itu berupa benda

tidak bergerak, seperti rumah dan tanah, maka surat jaminan tanah

dan surat-surat rumah yang dipegang oleh pemberi utang

diserahkan kepada pemegang jaminan (murtahin).21

Berdasarkan keterangan di atas bahwa syarat agunan merupakan

hal pokok dalam pengajuan pembiayaan murabahah karena syarat yang

tidak terpenuhi akan menyebabkan pihak yang memberikan hutang akan

mengalami kerugian apbila dalam kredit terjadi kurang lancar.

5. Jenis-Jenis Agunan

Menurut Faturrahman Djamil bahwa jenis-jenis agunan diantaranya

sebagai berikut :

21
Rozalinda, Fiqih Ekonomi Syari‟ah, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2016, hal. 245-256

17
a. Jaminan yang lahir karena Undang-Undang dan Jaminan yang lahir

karena Perjanjian

Jaminan yang lahir karena undang-undang adlah jaminan umum

yang ditunjuk oleh undang-undang, tanpa diperjanjikan oleh para

pihak. Jaminan yang lahir karena undang-undang diatur dalam Pasal

1131 KUHP Perdata yang berbunyi: “Segala kebendaan si berutang,

baik yang bergerak maupu tak bergerak, baik yanga ada maupun yang

akan dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya

perseorangan.

b. Jaminan yang bersifat Kebendaan dan Jaminan yang bersifat

Perorangan

Jaminan kebendaan terdiri dari ben dari benda bergerak dan

benda tak bergerak (misalnya tanah dan bangunan diatasnya). Jaminan

benda bergerak terdiri dari benda bergerak bertubuh (misalnya

kendaraan, mesin-mesin dan sebagaianya) dan benda bergerak tak

bertubuh (misalnya surat berharga, piutang dagang). Sedangkan

jaminan yang bersifat perorangan (penanggungan/borgtoch) ialah

jaminan yang menimbulkan hubungan langsung terhadap perorangan

tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap keseluruhan.

c. Jaminan berwujud (materiil) dan Jaminan tak berwujud

Jaminan berwujud (materiil) seperti barang agunan, menurut

penjelasan Pasal 8 ayat 1 UU Perbankan dapat diikat dengan Hak

Tanggungan, Hipotik, Fidusia atau Gadai. Sedangkan jaminan tak

18
berwujud (immateriil) menurutketentuan tersebut meliputi watak,

kemampuan, modal, dan prospek usaha debitur.

d. Jaminan berupa Benda Bergerak dan Janinan Berupa Benda tidak

Bergerak

Yang dimaksud dengan jaminan benda bergerak adalah agunan

berupa kebendaan yang dapat berpindah maupun dipindahkan keculi

kapal Indonesia dengan ukuran isi kotor paling sedikit 20 m3 yang

telah dibukukan dalam register kapal. Jaminan benda bergerak terdiri

dari benda bergerak bertubuh (misalnya kendaraan, mesin-mesin dan

sebagainya) dan benda bergerak tak bertubuh (misalnya surat berharga,

piutang dagang).

Yang dimaksud dengan jaminan benda tidak bergerak adalah

agunan berupa:

1) Tanah dengan atau tanpa bengunan/tanaman di atasnya

2) Mesin-mesin yang melekat pada tanah/ bangunan yang merupakan

satu kesatuan

3) Kapal Indonesia yang berukuran 20 m3 keatas dan sudah

didaftarkan

4) Bangunan rumah susun berikut tanah tempat bangunan berdiri serta

benda-benda lainnya yang merupakan kesatuan dengan tanah

tersebut, jika tanahnya berstatus hak milik atau hak guna bangunan

19
5) Hak milik atas rumah susun, jika tanah tempat bangunan rumah

susun beridri tersebut berstatus hak milik atau hak gunba

bangunan.

e. Agunan Pokok dan Agunan Tambahan

Yang dimaksud dengan agunan pokok adalah benda milik

debitur yang dibiayai dengan fasilitas kredit/pembiayaan

sekaligus dijadikan jaminan pelunasan kredit/pembiayaan. Yang

dimaksud dengan agunan tambahan adalah benda yang dijadikan

jaminan pelunasan kredit/pembiayaan mikik debitur atau pihak

ketiga yang tidak dibiayai dengan fasilitas dengan fasilitas

kredit/pembiayaan.22

Berdasarkan keterangan tersebut bahwa terdapat lima macam

pembagian agunan yaitu jaminan yang lahir karena Undang-Undang

dan jaminan yang lahir karena perjanjian, jaminan yang bersifat

Kebendaan dan jaminan yang bersfiat perorangan, jaminan berwujud

(materiil) dan jaminan tak berwujud, jaminan berupa benda bergerak

dan jaminan berupa benda tak bergerak, agunan pokok dan agunan

tambahan. Agunan tersebut berfungsi sebagai jaminan apabila

dikemudian hari terdapat masalah dalam pembayaran kredit pada

nasabah murabahah.

22
Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah., hal.45-50

20
6. Pengukuran Kelayakan Agama

Pengukuran kelayakan agunan secara umum adlah sebagai berikut:

a. Harga buku, artinya harga beli dikurangi jumlah penghapusan yang

pernah dilakukan terhadap barang tersebut.

b. Harga pasar, artinya nilai dari pada barang-barang tersebut bila dijual

pada saat pelaksanaan penilaian/taksasi. Informasi mengenai harga

pasar dapat diperoleh misalnya, dengan cara :

1) Mengecek langsung kepada penjual/pemasok/penyalur

2) Meminta profirma invoice/faktur pembeli

3) Melalui media massa

4) Membandingjan dengan harga beli yang sama pada nasabah lain

yang sudah/sedang kita biayai

5) Meminta keterangan harga tanah dari lurah, BPN, Pemda setempat

6) Menggunakan jasa-jasa pihak ketiga yang ahli (expert), seperti

asuransi, sucofindo, dinas perdagangan dan perindustrian,

lembaga-lembaga/perusahaan penilai (appraisal company)

7) Nilai jual objek pajak (NJOP) yang tercantum dalam PBB.23

Berdasarkan keterangan tersebut terdapat dua penetapan

pengukuran kelayakan agunan yitu pengukuran kelayakan harga buku

artinya harga beli dikurangi jumlah penghapusan yang pernah dilakukan

23
Veithzal Rivai dan Andria Permata Veitzhal, Islamic Financial Management., hal. 667

21
terhadap barang tersebut, dan penetapan pengukuran kelayakan harga

pasar.

B. Pembiayaan

4. Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang

dipersamakan dengan itu berupa:

a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudhorobah dan musyarokah:

b. Transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam

bentuk ijaroh muntohiya bittamlik.

c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murobahah, salam dan

istisna”

d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qard dan

e. Transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijaroh untuk transaksi

multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank

syariah dan atau unit usaha syariah dan pihak lain yang mewajibkan

pihak yang dibiayai dan/atau diberi faislitas dana untuk

mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan

imbalan ijarah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.24

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pembiyaan

merupakan pembiyaan pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung

24
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2015, hal. 40-41

22
investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri mauun

dijalankan oleh orang lain. Dalam arti sempit pembiyaan dipakai untuk

mendefiniskan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiyaan,

seperti bank syariah kepada nasabah. Dalam kondisi ini arti pembiyaan

menjadi sempit dan pasif.

5. Dasar Hukum Pembiayaan

a. AlQuran

Adapun dasar hukum Mudhorobah didalam al-Quran adalah:

...ِ‫ض ِل اُهلل‬
ْ ‫ض ِربُو َن ِِف ااَُْل َْر ِ يَْبتَ ُو َن ِمن َف‬
ْ َ‫َوءَ َخ ُرو َن ي‬
Artinya: dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari
sebagian karunia allah...( Q.S MUZAMMIL: 20)25

ْ‫َح َل اُلللوُ اْلْبَ ْي َع َو َحَّر َم اُ ِّلر بَو’ا‬


َ ‫َوأ‬
Artinya: allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba...(q.s al-baqarah: 275)26

b. Al-Hadits

Diantara hadis yang berkaitan dengan pembiyaan adalah hadis


yang diriwayatkan oleh ibnu majah dari shuhaib bahwa nabi saw
bersabda:
‫ اَلْ ْبي ُغ‬: ً‫ث فِْي ِهنَّالْيَ َرَكة‬
َ َ َ‫ ث‬:‫صلَ َ َم قاَ َل‬ ِ
َ َ َِّ‫ص َهْي ِ َرض اهللُ َعْن ْو اَ َّن ألن‬ ُ ‫عن‬ ْ ‫َو‬
ٍ ‫ض ْة َو َخ ْل ُ الْبُ ِّر بِالشَّعِ ِْ لِْلبَ ْي ِ َ لِْلبَ ْي‬ ِ
َ ‫ا َل اَ َ ٍل َوالْ ْمقا َر‬
Artinya: dari suhaib bahwasanya nabi bersabda: tiga perkara
yang didalamnya ada berkatnya: jual beli dengan tempo, akad qirodl,

25
Al-Hikmah, Al-Qur‟an dan Terjemah., hal. 574
26
Al-Hikmah, Al-Qur‟an dan Terjemah., hal. 47

23
mencapur gandum dengan air untuk makanan dirumah bukan untuk
dijual”. (H.R. ibnu Majah).27
Dalam hadis lain juga diterangkan tentang pembiyaan sebagai
berikut:

ُ ‫َو َع ْن َح ِكْي ٍم بْ ِن ِحَزٍام َر ِض َى اهللُ َعْنوُ اَنَّوُ َك َن يَ ْش ََِت‬


ُ‫ط َع َل الّّرة ُ َل اِّ َذ ْاعطَ ه‬
‫ فَاِ ْن فَ َع ْل َ َش ْ ءً ِم ْن‬،‫ اَ ْن َلَ ََْت َع َل َما ِ ْأ ِ ِْف بَطْ ِن َم ِسْي ٍل‬: ً‫ضة‬
َ ‫َم َلً ُم َق َر‬
) ‫(رواه ا لدارقطين‬.‫ض ِمْن َ َما ِأ‬ ِ
َ ‫ذَال َ فَ َق ْد‬
Artinya: dari hakim bin hizam bahwasanya adalah ia

mensyaratkan atas seseorang apabila ia beri modal sebagai qirodl:

jangan engkau gunakan modalku pada barang berjiwa dan jangan

taruh dia dilaut dan jangan engkau bawa dia ketengah perjalanan air

bah: jika engkau berbuat sesuatu dari yang demikian, maka engkau

tangguh modal-ku. (H.R daraqutni).28

Berdasarkan hadis tersebut bahwa pembiyaan boleh dilakukan

dalam jual beli. Karea pembiyaan merupakan bentuk kerjasama antara

orang yang mempunyai modal dengan dengan orang yang mempunyai

keahlian atau usaha. Hal ini berarti dapat diartikan bahwa pembiyaan

merupakan bentuk tolong menolong dalam kebaikan dan untuk juga

meningkatkan perekonomian masyarakat kecil khususnya yang tidak

mempunyai modal.

27
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Bulughul Maram., hal. 400
28
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Bulughul Maram., hal. 400

24
6. Jenis-Jenis Pembiayaan

Adapun jenis-jenis pembiyaan syariah diantaranya sebagai berikut:

a. Pembiyaan atas Dasar Akad Mudhorobah

Mudhorobah yaitu bentuk kotrak antara dua pihak dimna satu

pihak berperan sebagai pemilik modal dan mempercayakan sejumlah

modalnya untuk dikelola oleh pihak kedua, yakni sipelaksana usaha,

dengan tujuan untuk mendapatkan untung.29

Sedangkan menurut Rachmat Syafei bahwa mudhorobah yaitu

sebagai berikut: pemilik harta(modal)menyerahkan modal kepada

pengusaha untuk berdagang dengan modal tersebut, dan laba dibagi

diantara keduanya berdasarkan persyartan yang disepakati.”30

Berdasarkan keterangan diatas bahwa aka mudhorobah adalah

transaksi penanaman dana dari pemilik dana kepada pengelola dana

untuk melakukan kegiatan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan

pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah

yang telah disepakati sebelumnya.

b. Pembiayaan atas Dasar Akad Musyarokah

Musyarakah berasal dari kata syirkah yang berarti

percampuran. Para ahli fiqih mendefinisikan sebagai akad

antara orang-orang yang berserikat dalam modal maupun

keuntungan. Hasil keuntungan dibagihasilkan sesuai dengan

kesepakatan bersama diawal sebelum melakukan usaha.


29
Adiwarman A.Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2010, hal. 204-205
30
Rachmat Safei, Fiqih Muamalah, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001, hal. 224

25
Sedang kerugian ditanggung secara proposional sampai batas

modal masing-masing. Secra umum dapat diartikan patungan

modal usaha dengan bagi hasil menurut kesepakatan.31

Dari keterangan diatas bahwa musyarakat adalah transaksi

dana dari dua atau lebih pemilik dana dan barang untuk menjalankan

usaha tertentu sesuai syariah dengan pembagian hasil usaha antara

kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang disepakati, sedangkan

pembagian kerugian berdasarkan proporsi modal masing-masing.

c. Pembagian atas Dasar Akad Murobahah

Murubahah adalah istilah dalam fiqih islam yang berarti suatu

bentuk jual beli tertentu ketika penjual menyatakan biaya

perolehan barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain

yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut, dan

tingkat keuntungan (margin) yang di inginkan.32

Jadi murobahah yaitu transaksi jual beli suatu barang sebesar

harga perolehan barang ditambah dengan margin yang disepakati oleh

para pihak, dimna penjual menginformasikan terlebih dahulu harga

perolehan kepada pembeli.

31
Muhammad, Teknik Perhitungan bagi Hasil dan Pricing di Bank Syariah, Yogyakarta:
UII Press, 2012, hal. 139-140
32
Ascarya, Akad & Produk Bank Syari‟ah, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2011, hal. 81-
82

26
d. Pembiyaan atas Dasar Akad Salam

Akad salam adalah transaksi jual beli barang dengan cara

pemesanan dengan syarat-syarat tertentu dan pembayaran tunai

terelebih dahulu secar penuh.33

Jadi akad salam merupakan bentuk jual beli dengan

pembayaran dimuka dan penyerahan barang dikemudian hari dengan

harga, spesifikasi, jumblah, kualitas, tanggal dan tempat penyerahan

yang jelas, serta disepakati sebelumnya dalam perjanjian.

C. Murobahah

5. Pengertian Murobahah

Menurut Kasmir bahwa murobahah merupakan “kegiatan jual beli

pada harga pokok dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam

hal ini penjual harus terlebih dulu memberitahukan harga pokok yang ia

beli ditambah keuntungan yang diinginkannya”.34

Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, “Murobahah adalah

pembiayaan saling menguntungkan yang dilakukan oleh shahib al-

mal dengan pihak yang membutuhkan melalui transaksi jual beli

dengan penjelasan bahwa harga pengadaan barang dan haga jual

beli terdapat nilai lebih yang merupakan keuntungan atau laba bagi

33
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, hal. 49
34
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2015, hal. 171

27
shahib al-mal dan pengembaliannya dilakukan secara tunai atau

angsur”.35

Menurut Adiwaraman A. Karim murobahah dalah akad jual beli

barang dengan menyatakan harta perolehan dan keuntungan

(margi) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Akad ini

merupakan salah satu bentuk natural certainty contracs, karena

dalam murobahah ditentukan berapa required rate off profitnya

(keuntungan yang ingi diperoleh).36

Menurut Muhammad pembiayaan murobahah adalah transaksi

jualbeli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah dengan

margin yang disepakati oleh para puhak, dimana penjual mengiformasikan

terlebih dahulu hinggga perolehan kepada pembeli.37

Sedangkan menurut Buchori Alama dan Doni Juni Priansa

murobahah adalah transaksi jual beli diman bank syariah menyebutkan

keununganya. Bank bertindak sebagai penjual dan nasabah betrindak

sebagai pembeli. Harga jual adlah harga beli bank ditambah keuntungan.

Dari beberapa pengertian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan

bahwa murobahah merupakan jual-beli barang pada harga asal

dengan tambahan keuntungan yang disepakati anatara pihak bank

dan nasabah. Dalam murobahah, penjual menyebut harga

35
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, Jakarta: Pusat Pengkajian Hukum Islam dan
Masyarakat Madani, 2009, hal. 15
36
Adiwarman A.Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan., hal. 113
37
Muhammad, Teknik Perhitungan bagi Hasil dan Pricing di Bank Syariah., hal. 10

28
pembelianbarang kepda pembeli, kemudian ia mensyaratkan atas

laba dalam jumblah tertentu. Pada penjanjian murobahah, bank

membiayayi pembelian barang yang dibutuhkan oleh nasabahnya

dengan membeli barang itu dari pemasok, dan kemudian

menjulanya kepada nasabah dengan harga yang ditamabah

keuntungan.38

Prinsip murobahah ini diaplikasi dibeberapa lembaga keuangan

syariah sebagai salah satu prinsip atau produk dalam usaha penyaluran

dana kepada masyarakat. Dibank islam murobahah ini dipahami sebagai

mekanisme orasional penjualan suatu barang dengan harga pokok

ditamabah keuntungan yang disetujui secara bersama-sama antara pihak

bank sebagai penjual dengan nasabah sebagagi pembeli. Lebih riil, prinsip

murobahah ini dibank islam dikedepankan produk pembiyaan murobahah.

6. Dasar Hukum Murobahah

a. Al-quran

Didalam alquran telah dijelaskan tentang dasar hukum

murobahah yaitu yang diterangkan dalam surat albaqarah ayat 275

sebagai berikut

‫وم الَّ ِذي يَتَ َخبَّطُوُ الشَّْيطَا ُن ِم َن‬ ُ ‫ومو َن إَِلَّ َك َما يَ ُق‬
ُ ‫الربَا َلَ يَ ُق‬ ِّ ‫ين يَْ ُكلُو َن‬ ِ َّ
َ ‫الذ‬
ِّ ‫َّه ْم قَالُواْ إََِّّنَا الْبَ ْي ُ ِمثْ ُل‬ ِ ‫الْم‬
‫الربَا فَ َمن‬
ِّ ‫َح َّل اللّوُ الْبَ ْي َ َو َحَّرَم‬
َ ‫الربَا َوأ‬ ُ ‫س ذَل َ بَِن‬ ِّ َ

38
Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, Bandung: Alfabeta,
2009, hal. 13

29
َ ِ‫اءه مو ِعظَةٌ ِّمن َّربِِّو فَانتَ هى فَلَو ما سلَف وأَمره إِ َأ اللّ ِو ومن عاد فَ ُولَئ‬
ْ َ َ ْ ََ ُُ ْ َ َ َ َ ُ َ َ َْ ُ َ
‫اا النَّا ِر ُى ْم فِ َيها َخالِ ُدو َن‬
ُ َ ‫َص‬
ْ‫أ‬
Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak
dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang
demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang
telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti
(dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya
dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada
Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni- Tafsir Al Baqarah Ayat 275.39

b. Hadits

Dalam hadis rasululah saw juga diterangkan tentang dasar

hukum murobahah sebagai berikut:

‫ف قَا َل َح َّد‬ ٍ ‫ح َّد ثَنَ علِ بن عيا ٍس ح َّد ثَنَا اَب و َغسا َن ُُم َّم ُد بن مطََّر‬
ُ ُ ْ َ َ ُْ َ ََ ُ ْ ُّ َ َ
ِ‫ثَنِيم َّم ُد بن الْمْن َك ِد ٍر عن ا بِ ٍر ب ِن عب ِداهللِ ر ِض اهلل عْن هما اَ َّن رسو ََلهلل‬
ْ َ َ ُ َ ُ َ َ َْ ْ َ ْ َ ُ ُْ َ ُ
ِ ‫صل اهلل علَ ِيو وسلَّم قَ َال رِحم اهلل و ل َس ا اِ َذا ب‬
‫ضى‬ َ َ‫اع َوا َذاا ْشتَ َرى َواِّ َذاقْ ت‬
َ َ ً َْ ً ُ َ ُ َ َ َ َ َ َ ُ َّ َ
)‫(رواىالبخاري‬
Artinya: ali bin ayyasy memberitahu kami, abu ghassan
muhammad bin mutharrif memberitahu kami, ia berkata,muhammad
bin al-mungkadir memebritahuku, dari jabir bin abdilah
r.a.sesungguhnya rosululoh saw pernah bersabda:‟semoga allah
merahmati seseorang yang memberikan kemudahan (tidak
mempersulit) ketika menjual: ketika membeli dan ketika meminta
pemenuhan akan haknya. (H.R. Bukhori)40

c. Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah

Berdasarkan kompilasi hukum syariah pada bab V

Akibat Bai bagian keenam pasal dijelaskan bahwa:

39
Al-Hikmah, Al-Qur‟an dan Terjemah, hal. 47
40
Moh. Syamsyi Hasan, Hadits-hadits Populer (Shoheh Bukhari dan Muslim, Surabaya:
Amelia, tt, hal. 503

30
1) Penjual harus membiayai sebagian atau seluruh harga
pembelianBarang yang telah disepakati sepesifikasinya.
2) Penjual membeli barang yang diperlukan pemebeli atas nama
penjual sendiri, dan pembelian ini harus bebas riba
3) Penjual harus memberitahu secara jujur tentang harga pokok
barang kepada pembeli berikut biaya yang diperlukan.41

d. DSN-MUI tentang Murobahah

Ketentuan hukum dewan syariah nasional nomor: 04/DSN-


MUI/IV/2000 bahwa:
1) Bahwa musyarokah bahwa memerlukan bantuan penyaluran
dana dari bank berdasarkan pada prinsip jual beli.
2) Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna
melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagagi
kegiatan, bank syariaj perlu memiliki fasilitasmurobahah bagi
yang memerlukanya, yaitu menjual suatu barang dengan
menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli
membayarnya dengan harga yang lbih sebagai laba.
3) Bahwa oleh karena itu, DSN memandang perlu menetapkan
fatwa tentang murobahah untuk dijadikan pedoman oleh bank
syariah.42

Berdasarkan dalil/dasar diatas dapat disimpulkan bahwa Allah

membolehkan kepada hambanya yang memberikan kemudahan kepada

hamba lainnya dalam jual beli. hal ini berarti orang yang mau

membantu saudara dalam kebutuhannnya, maka memberikan rahmat

kepadannya.

7. Rukun dan Syarat Murobahah

a. Rukun Murobahah

41
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, Jakarta: Pusat Pengkajian Hukum Islam dan
Masyarakat Madani, 2009, hal. 46
42
Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012, hal.
141

31
Secara umum rukun dan syarat sah akad diatur dalam pasal 22

KHES (Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah) yang meliputi: subyek

akad (al 'aqidain), obyek akad (mahallul 'aqad), tujuan akad

(maudhu'ul aqad), dan sighatul akad (kesepakatan atau ijab dan

kabul).43

Rukun murobahah menurut Ascarya sebagai berlakut:

1) Pelaku akad, yaitu bai (penjual) adalah pihak yang memiliki barang

untuk dijual, dan musytari (pembeli) adalah pihak yang

memerlukan dan akan membeli barang.

2) objek akad, yaitu mabi‟ (barang dagangan) Dan tsaman

(harga):dan

3) shighah, yaitu ijab dan kabul.44

b. Syarat Murobahah

Beberapa syarat pokok murobahah yaitu diantaranaya sebagai

berikut:

1) Murabahah merupakan salah satu bentuk jual beli ketika

penjual secara eksplisit menyatakan biaya perolehan barang

yang akan dijualnya dan penjual kepada orang lain dengan

menambahakan tingkat keuntungan yang diinginkan.

43
Departemen Perbankan Syariah, Standar Produk Perbankan Syariah; Murabahah,
Jakarta: Divisi Pengembangan Produk dan Edukasi, 2016, hal. 7
44
Ascarya, Akad & Produk Bank Syari‟ah., hal. 82

32
2) Tingkat keuntungan dalam murobahah dapat ditentukan

berdasarkan sepakatan bersama dalam bentuk lumpsum atau

persentase tertentu dari biaya.

3) Semua biaya yang dikeluarkan penjual dalam rangka

memperoleh barang, seperti biaya pengiriman, pajak dan

sebagainya dimasukan kedalam biaya perolehan untuk

menentukan harga agregat dan margin keuntungan didasarkan

pada harga agregat ini. Akan tetapi, pengeluaran yang timbul

karena usaha, seperti gaji, pegawai, sewa tempat usaha, dan

sebagainya tidak dapat dimasukan kedalam harga untuk suatu

transaksi.margin keuntungan yang diminta itulah yang meng-

cover pengeluaran-pengeluaran tersebut.

4) Murubahah dikatakan sah hanya ketika biaya-biaya perolehan

barang dapat ditentukan secara pasti. Jika biaya-biaya tidak

dapat dipastikan, barang /komoditas tersebut tidak dapat dijual

dengan prinsip murobahah.45

Sighat al-'aqad adalah berupa ijab dan kabul. Syarat dalam ijab

dan kabul ini meliputi:

1) Jala'ul ma'na yaitu tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu

jelas, sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki.

2) Tawafuq yaitu adanya kesesuaian antara ijab dan kabul.

45
Ascarya, Akad & Produk Bank Syari‟ah., hal. 83-84

33
3) Jazmul iradataini yaitu antara ijab dan kabul menunjukkan

kehendak para pihak secara pasti, tidak ragu, dan tidak terpaksa.46

Berdasarkan keterangan tersebut bahwa syarat murobahah

diantanya yaitu menjual memberitahu kepada nasabah harga barang

yang diinginkan, kemudian pihak pemodal menjelaskan margin/

keuntungan dari pembiyaan tersebut.

8. Jenis-Jenis Akad Murobahah

Adapun menurut ascarya bentu-bentuk akad murobahah antara lain

sebagai berikut:

a. Murobahah sederhana

Murubahah sederhana adalah bentuk akad murubahah ketika penjual

memasarkan baranganya kepada pembeli dengan harga sesuai harga

perolehan ditambah margin keuntungan yang diinginkan.

b. Murobahah kepada pemesan

Bentuk murobahah ini melibatkan tiga pihak, yaitu pemesan, pembeli

dan penjual. Bentuk murobahah ini juga melibatkan pembeli sebagai

perantara karena keahlianya atau karena kebutuhan pemesan

pembiyaan. Bentuk murobahah inilah yang diterapakan perbankan

syariah dalam pembiyaan.47

46
Departemen Perbankan Syariah, Standar Produk Perbankan Syariah., hal. 8
47
Ascarya, Akad & Produk Bank Syari‟ah., hal. 89-90

34
Berdasarkan ketrangan diatas dapat dipahami bahwa akad

murubahah terbagi menjadi dua macam yaitu murobahah sederhana dan

murobahah kepada pemesanan. Murobahah sederhana maksudnya penjual

mempromosikan kepada pembeli secara langsung, kemudian ditambah

margin/keuntungan dari barang tersebut, sedangkan murobahah

pemesanan maksudnya murobahah ini juga melibatkan pembeli sebagai

perantara karena keahliannya atau karena kebutuhanpemesan akan

pembiyaan. Bentuk murobahah iilah yang diterapkan perbankan syariah

dalam pembiyaan.

35
BAB III

METODE PENELITIAN

E. Jenis dan Sifat Penelitian

1. Jenis Penelitian

Dilihat dari jenisn suatu penelitian ini menggunakan penelitian

lapangan (field research) yaitu metode untuk menemukan secara spesifik

dan realis tentang apa yang sedang terjadi pada suatu saat ditengah-tengah

kehidupan masyarakat.48

Dalam penelitian ini peneliti mencoba memberikan informasi yang

bertujuan menggambarkan menggambarkan secara sistematis, faktual dan

akurat menganai syarat, kriteria dan penentuan kelayakan aguanan pada

pembiyaan murobahah BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif

yaitu “bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat ini

berlaku. Didalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat,

analisis dan mengunterpretasikan konsidi-kondisi yang sekarang

ini terjadi atau ada.49

48
Moh.Nasir, Metode Penelitian, Bogor: Ghalia Indonesia, 2005, hal. 28
49
Mardalis, Metode Penelitian Suatu Penelitian Pendekatan, Jakarta: Bumi Aksara,
2004, hal. 26

33
Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan

pada potpositifisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek

yang alamiah. (sebagai lawanya adalah exsperimen) dimana

peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpul data

dilakukan secara trigulasi(gabungan), analisis data bersifat

induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna

daripada generalisasi.50

Berdasarkan keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa

panelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu bertujuan menggambarkan

atau mengungkapkan fakta secara menyeluruh objek lapangan yaitu BMT

Assyafi‟iyah Kotagajah yang meliputi syarat, ketentuan, prosedur

pembiyaan murobahah dan penetuan kelayakan agunan pada pembiayaan

murobahah BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah.

F. Sumber Data

1. Sumber Primer

Menurut Nasution, sumber primer adalah data yang diperoleh

langsung dari lapangan termasuk laboratorium ini disebut sumber primer.51

Dalam penelitian ini yang termasuk data primer adalah data yang

diperoleh dengan melakukan wawancara dan obsevasi dengan pihak

terkait yaitu pada BMT Assyafi‟iyah Kotagajah yaitu:Manager BMT

Assyafi‟iyah Kota Gajah


50
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D, Bandung: Alfabeta,
2012, hal. 9
51
Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Jakarta: Bumi Aksara, 2006, hal. 143

34
2. Sumber Sekunder

„Sumber dari bahan bacaan disebut sumber sekunder.52 Jadi data

sekunder dalam penelitian ini yaitu buku terkait tentang judul penelitian

diantanya buku Muhammad “managemen dana bank syariah”, H. Veitsal

Rivai dan Andria Permata Vitsal “Islamic Finansial Managemen”,

Faturahman Djamil “Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Di Bank

Syariah”, Muhamad “Teknik Perhitungan Bagi Hasil Dan Pricing Dibank

Syariah”, Buchori Dan Donni Juni Priansa “Managemen Bisnis Syariah”,

Ascarya “Akad Dan Produk Bank Syariah”, tentang BMT Assyafi‟iyah

Kotagajah seperti jumlah asset pembiayaan murobahah, profil BMT

Assyafi‟iyah Kota Gajah dan hal-hal yang terkait dengan kelayakan

agunan dan pembiayaan murobahah di BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah.

G. Teknik pengumpulan data

Dengan penelitian ini menggunakan siistem pengumpulan data,

dengan cara:

1. Observasi

Observasi merupakan teknik data yang lebih spesifik dan akuarat

dari sumber-sumber lainnya. Menurut Sugiyono mengemukakan bahwa:

observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang

52
Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), hal. 143

35
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya

yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.53

Dengan demikian penulis melakuakn observasi yang memang

sangat penting dalam proses pengumpulan data yang benar-benar riil.

Adapun observasi yang diteliti dalam penelitian ini yaitu:

a. Prosedur pembiyaan murobahah

b. Syarat-syarat pembiayaan murobahah

c. Penentuan kelayakan agunan pada pembiayaan murobahah di BMT

Assyafi‟iyah Kota Gajah

2. Wawancara (Interviu)

Wawancara adalah siatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan

antara pewawancara (intervuwer) dengan responden atau orang yang

diinterviu (interviue) dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang

dibutuhkan oleh peneliti.54

Wawancara dibagi menjadi dua jenis yaitu:

a. Wawancara terstruktur (struktured interviu)

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakuakan

dengan menggunakan pedoman wawncara yang telah disusun secara

sietematis dan lengakap untukpengumpualn data.

b. Wawancara tidak terstrukyut (srtuctured interviu)

53
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D, hal 145
54
Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2012, hal.40

36
Wawancara tidak terstruktur atau terbuka adalah wawancara

bebas, diman pewawancra tidak menggunakan pedoman wawancara

telah tersusun secra sistematis dan lengkap untuk pengumpualn

datanya.55

Peneliti menggunakan jenis wawncara yang tidak berstruktur atau

terbuka, yang sering digunakan dalam penelitian yang lebih mendalam

tentang responden, pada berbagai isu atau permasalahan yang ada pada

objek, sehingga peneliti dapat menentukan secara pasti permasalahan atau

variabel yang harus diteliti.untuk mendapatkan gambaran yang lengkap,

maka peneliti perlu melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang

mewakili beberapa objek yang ada pada objek.

Dapat disimpulkan bahwa metode ini merupakan metode yang

diperoleh melalui wawancara langsung dari Manager dan Marketing BMT

Assafi‟iyah Pusat Kota Gajah Lampung Tengah Tahun 2017 terkait

tentang mekanisme pembiyaan murobahah dan penentuan kelayakan

agunan pada pembiayaan murobahah.

3. Metode Dokumentasi

Menurut Eko Putro Widoyoko bahwa dokumentasi “merupakan

suatu cara pengumpulan data yang dilakuakan dengan mengananlisis isi

dkumen yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.56

55
Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian, hal.42-44
56
Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian, hal. 49-50

37
Sedangkan menurut suharsimi arikunto dokumentasi dari asal

katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Didalam

melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-

benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peratuaran-

peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.57

Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang

sejarah BMT Assyafi‟iyah Kotagajah, visi, misi dan tujuan, struktur

organisasi, data karyawan BMT Assyafi‟iyah Kotagajah dan buku-buku

yang terkait dengan judul penelitian yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

H. Teknik Ananlisis Data

Dalam mengananlisis data yang disajikan, digunakan ananlisis secara

kualitatif. Dengan ananlisis ini diharapkan dapat menghasilakan deskripsi

lebih objektif dan sistematis tentang kelayakan agunan pada pembiayaan

murobahah di BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah. Proses ananlisis secara ilmiah

tentu saja melahirkan kesimpulan. Maka untuk menarik kesimpulan dalam hal

ini digunakan metode penalaran (logika). Penelitian ini mengugunakan

penelitian deskriptif kualitatif yaitu suatu proedur penelitian yang

menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-

orang dan pelaku yang dapat diamati.

Menurut Sugiyono ananlisa data adalah: Proses mencari dan

menyusun secara sisitematis data yang diperoleh dari hasil

57
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka
Cipta, 2013, hal. 201

38
wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-

unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang

penting dan yang akan dipelajari, dan membuata kesimpulan sehingga

mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.58

Didalam mengananlisis data penelitian menggunkan metode berfikir

induktif. Yang dimaksud metode induktif adalah berangkat dari faktor-faktor

dan peristiwa yang kongkrit itu ditarik generalisasi yang bersifat umum.

Pada metode induktif, data dikaji melalui proses yang berlangsunga

dari fakta yaitu tentang “Ananlisis Kelayakan Agunan Pada Pembiayaan

Murobahah di KSP-PS BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah tahun 2017.

58
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif R&D., hal. 9

39
BAB IV

LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum BMT Assyafi’iyah Berkah Nasional

1. Sejarah Berdirinya BMT Assyafi’iyah Berkah Nasional

KSPPS Assyafi‟iyah didirikan pada tanggal 03 Septemberr 1995,

bertempat di Pondok Pesantren Nasional Assyafi‟iyah KotagJah

Kabupaten Lampung tengah dengan nama BMT Assyafi‟iyah. Pendirinya

di motori oleh beberapa tokoh Kotagajah diantaranya :

a. Bpk. Mudhofir aktifis dan praktisi koperasi

b. Bpk. Drs.Ali Nurhamid, M.Sc. PNS pada Kantor Departemen Agama

Kab. Lampung Tengah,

c. KH. Suhaimi Rais Tokoh Agama di Kec. Kotagajah

d. Drs. Ali Yurja Sharbani PNS dan Tokoh Agama

e. Pemangku Pondok Pesantren Nasional Assyafi‟iyah Kotagajah.

Berawal dari kegiatan jamaah pengajian Assyafi‟iyah dan

Pengajian Akbar Peresmian Pondok Pesantren Nasional Assyafi‟iyah

dengan penceramah Bapak KH. Drs. Agus Darmawan dari Jakarta,

menyisakan dana sebesar Rp. 800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) yang

selanjutnya digunakan sebagai modal awal BMT Assyafi‟iyah.

Pada tanggal 15 – 25 Nopember 1995 atau 21 Jumaditsani – 02

Rojab 1416 H. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Pusat

39
39
Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Lampung mengundang Pelatihan

bagi BMT yang ada di Lampung dan untuk selanjutnya berubah menjadi

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dibawah naungan PINBUK

Lampung. Untuk menambah modal kegiatan Baitul Maal pada saat itu

mendapat bantuan Dana Asnaf dari Bank Muamalat Indonesia Pusat

sebesar Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) sebagai dana

bergulir. Pada tahun 1999 pemerintah menggulirkan Dana untuk

kelompok Swadaya Masyarakat yang baru dan belum berbadan hukum,

termasuk BMT Assyafi‟iyah diberi kepercayaan untuk mengelola Dana

Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM).

Dengan Dana LEPMM itulah BMT Assyafi‟iyah mulai

memperlihatkan kemajuannya, sehingga pada tanggal 15 Maret 1999

Resmi mendapatkan status Badan Hukum Koperasi dengan Nomor :

28/BH/KDK.7.2/III/1999 tanggal 15 Maret 1999, sehingga BMT

Assyafi‟iyah berubah nama menjadi Koperasi BMT Assyafi‟iyah.

Dan Sesuai keputusan dari Kementrian dan usaha kecil dan

menengah Nomor 219/PAD/M.KUKM.2/XII/2015 tanggal 16 Desember

2015 KJKS BMT Assyafi‟iyah berubah menjadi KSPPS BMT

Assyafi‟iyah Berkah Nasional.59

59
Wawancara dengan Bapak Musbihi, Amd, selaku Manager BMT Assyafi‟iyah Kota
Gajah Tanggal 02 Februari 2018

40
2. Visi, Misi dan Tujuan BMT Assyafi’iyah

Adapun Visi dan Misi yang dianut oleh KSPPS BMT Assyafi‟iyah

Kotagajah adalah sebagai berikut:

a. Visi :

Menjadi Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syari‟ah yang

Sehat, Kuat, Bermanfaat, Mandiri dan Islami.

b. Misi :

1) Meningkatkan kesejahteraan anggota dan lingkungan kerja.

2) Meningkatkan sumber pembiayaan dan penyediaan modal dengan

prinsip syari‟ah.

3) Menumbuh kembangkan usaha produktif dibidang perdagangan,

pertaniaan, industri, dan jasa.

4) Menyelenggarakan pelayanan prima kepada anggota dengan

efektif, efisien dan transparan.

5) Menjalin kerjasama usaha dengan berbagai pihak.

c. Tujuan

1) Meningkatkan kesejahteraan anggota dan lingkungan kerja dengan

memberikan pelayanan jasa keuangan syari‟ah.

2) Menjadi gerakan ekonomi rakyat yang mendorong kehidupan

ekonomi syariah dalam kegiatan usaha mikro, kecil dan menengah

untuk turut serta membangun tatanan perekonomian nasional.

41
3. Struktur Organisasi BMT Assyafi’iyah

Adapun struktur organisasi KSPPS BMT Assyafi‟iyah dapat dilihat

dibawah ini:

42
4. Tugas Staf/Karyawan BMT Assyafi’iyah

Berdasarkan hasil wawancara dengan manager BMT Assyafi‟iyah,

maka diperoleh data tugas staf/karyawan sebagai berikut:60

a. Manager BMT Assyafi’iyah

1) Fungsi Utama Jabatan

Merencanakan, mengarahkan, mengontrol serta mengevaluasi

seluruh aktivitas dibidang operasioanl baik yang berhubungan

dengan pihak internal maupun eksternal yang dapat meningkatkan

profesional BMT Assyafi‟iyah khususnya dalam pelayanan

terhadap anggota BMT Assyafi‟iyah.

2) Tanggung Jawab

a) Terselenggaranya pelayanan yang memuaskan service excellent

(pelayanan prima) kepada anggota BMT Assyafi‟iyah.

b) Terevaluasi dan terselesaikannya seluruh permasalahan yang

ada dalam operasional BMT Assyafi‟iyah.

c) Terbitnya laporan perkembangan pembiayaan dan laporan

mengenai penghimpunan dana masyarakat secara lengkap,

akurat, dan sah baik harian,bulanan ataupun sesuai dengan

periode yang dibutuhkan.

d) Terarsipkannya seluruh dokumen-dokumen nasabah, dokumen

lembaga, dokumen pembiayaan serta dokumen penting lainnya.

60
Dokumentasi BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Tanggal 02 Februari 2018

43
e) Terarsipkannya surat masuk dan keluar serta notulasi rapat

manajemen dan rapat operasional.

f) Terselenggaranya seluruh aktivitas rumah tangga bmt

assyafi‟iyah kota gajah lampung tengah, yang mendukung

aktivitas bmt assyafi‟iyah kota gajah.

g) Terselenggranya absensi kehadiran karyawan dan

didokumentasikan hasil penilaian seluruh karyawan.

3) Tugas Pokok

1) Terselenggaranya pelayanan yang memuaskan serviceexcellent

(pelayanan prima) kepada anggota BMT Assyafi‟iyah.

a) Melakukan pengawasan terhadap pekerjaan Customer

Service atas pelayanan yang diberikan kepada angota

BMT Assyafi‟iyah

b) Memberikan masukan dan arahan pada hal-hal yang

berkenaan dengan pelayanan untuk meningkatkan kualitas

pelayanan terhadap nasabah.

c) Memperhatikan masukan seta keluhan anggota atas

pelayanan BMT Assyafi‟iyah dan membahasnya pada

tingkat rapat operasional untuk mendapatkan jalan keluar.

d) Menyelesaikan segera mungkin apabila ada kasus yang

berkaitan dengan anggota.

2) Terevaluasi dan terselesaikannya seluruh permasalahan yang

ada dalam operasional BMT Assyafi‟iyah Kotagajah.

44
a) Mengagendakan dan memimpin rapat operasional bulanan

untuk membahas rencana kerja operasional, target kerja,

dan evaluasi secara keseluruhan serta permasalahan-

permasalahan yang terjadi pada bagian operasional.

b) mendokumentasikan hasil rapat bulanan sebagai bahan

rujukan serta aktivitas selanjutnya.

c) melakukan kontrol terhadap kesepakatan dan keputusan

yang diambil dalam rapat.

3) Terbitnya laporan perkembangan nasabah, laporan

perkembangan pembiayaan dan laporan mengenai

penghimpunan dana masyarakat secara lengkap, akurat dan sah

baik harian, bulanan ataupun sesuai dengan periode yang

dibutuhkan.

a) Memeriksa laporan harian, bulanan dan mengesahkannya

(otorisasi).

b) Memeriksa laporan mengenai perkembangan pembiayaan,

tingkat kelancaran pembiayaan, dan laporan mengenai

anggota-anggota yang bermasalah.

4) Terarsipkannya seluruh dokumen-dokumen nasabah, dokumen

lembaga, dokumen pembiayaan serta dokumen penting lainnya.

a) Mengatur dan mengawasi system pengarsipan, seluruh

bagian operasional.

45
b) Menyompan dokumen lembaga serta menjaga

keamanannya seperti : akte pendirian lembaga, laporan-

laporan pajak, surat Keputusan, berita acara, surat-surat

perjanjian kerjasama, dll.

c) Membuat mekanisme/system peminjaman untuk dokumen-

dokumen berharga bila dibutuhkan.

d) Mengkaji system pengarsipan yang telah ada dalam upaya

penyempurnaan.

5) Terarsipkannya surat-surat masuk dan keluar serta noutulasi

rapat manajemen dan rapat operasional.

a) Memberikan nomor surat keluar serta mengarsipkannya.

b) Menerima surat masuk dan memberikan informasi kepada

pihak-pihak yang berkepentingan mengenai perihal inti

surat.

c) Menunjuk salah satu staff operasional untuk menjadi

notulen dalam rapat managemen ataupun operasional.

d) Mendistribusikan hasil rapat kepada pihak-pihak terkait.

e) Mengarsipkan hasil notulen rapat sesuai dengan tempatnya.

6) Terselenggaranya seluruh aktivitas rumah tangga BMT

Assyafi‟iyah yang mendukung aktivitas BMT Assyafi‟iyah.

a) Melakukan perencanaan anggaran rumah tangga BMT

Assyafi‟iyah dan mengajukan kepada Badan pengurus.

46
b) Melakukan evaluasi, kontrol, dan upaya-upaya

penghematan apabila terjadi hal-hal di luar kebiasaan

(pembengkakan biaya opersional).

c) Melakukan pengawasan atau pembayaran kewajiban setiap

akhir bulan seperti pembiayaan rekening pajak,dll.

7) Terselenggaranya absensi kehadiran karyawan dan

dokumentasi hasil penilaian seluruh karyawan serta pengajuan

gaji.

a) Membuat absensi setiap pergantian bulan.

b) Melakukan kontrol atau absensi karyawan.

c) Membuat rekapitulasi kehadiran karyawan, berkenaan

dengan pengajuan gaji yang dibuat.

d) Membuat daftar gaji dan mengajukan pada manajer untuk

disetujui oleh badan pengurus.

e) Mendokumentasikan seluruh arsip yang berkenaan dengan

prestasi dan kondisi kerja karyawan ke dalam masing-

masing map file karyawan.

f) Melakukan rekapitulasi kondisi karyawan pada setiap akhir

semester dengan arsip pendukung yang ada sebagai bahan

evaluasi terhadap karyawan yang bersangkutan.

4) Wewenang

a) Mengeluarkan biaya operasional rutin dalam batas wewenang.

47
b) Mengeluarkan biaya operasional dan kebutuhan-kebutuhan lain

yang dibutuhkan untuk mendukung pekerjaan dibidang

operasional.

c) Menyetujui pengeluaran kas untuk penarikan tabungan dalam

batas wewenang.

d) Melakukan control terhadap kehadiran karyawan.

e) Memeriksa seluruh laporan dalam bidang operasional.

f) Mengatur karyawan bidang operasional apabila bekerja tidak

sesuai dengan prosedur yang berlaku.

g) Memberikan masukan dan membantu bagian operasional

lainnya.

b. Account Officer

1) Fungsi Utama Jabatan

Melayani pengajuan pembiayaan serta memberikan rekomendasi


atau pengajuan pembiayaan sesuai dengan hasil analisa yang telah
ditentukan.
2) Tanggung Jawab

a) Memastikan seluruh pengajuan pembiayaan telah diproses

sesuai dengan proses sebenarnya.

b) Memastikan analisi pembiayaan telah dilakukan dengan tepat

dan lengkap sesuai dengan kebutuhan dan mempresentasikan

dalam rapat komite.

c) Terselesaikannya pembiayaan bermasalah.

d) Melihat peluang dan potensi pasar yang ada dalam upaya

pengembangan pasar.

48
e) Melakukan pengamatan atau angsuran pembiayaan yang

dijemput ke lokasi pasar.

3) Tugas-tugas Pokok

a) Memastikan seluruh pengajuan pembiayaan telah diproses

sesuai dengan sebenarnya.

(1) Melayani pengajuan pembiayaan dan memberikan

penjelasan mengenai produk pembiayaan.

(2) Melakukan pengumpulan informasi mengenai anggota

calon melalui kegiatan wawancara dan on the spot

(kunjungan lapangan).

(3) Mengupayakan kelengkapan surat.

b) Memastikan analisi pembiayaan yang telah dilakukan dengan

tepat dan lengkap sesuai dengan kebutuhan dan

mempresentasikan dalam rapat komite.

(1) Membuat analisis pembiayaan secara tertulis dari hasil

wawancara dan kunjungan lapangan.

(2) Memberikan penjelasan secara jelas dan lengkap atas

pertanyaan dan saran peserta komite.

c) Terselesaikannya pembiayaan Bermasalah

(1) Melakukan analisis bersama Kabag. Marketing atas

pembiayaan-pembiayaan bermasalah.

(2) Membantu menyelesaikan pembiayaan bermasalah.

49
d) Melihat Peluang dan Potensi Pasar Yang Ada Dalam Upaya

Pengembangan Pasar

(1) Memberikan masukan untuk pengembangan pasar dan

memberikan gambaran mengenai potensi pasar yang ada.

(2) Menghimpun data-data yang relevan dengan kebutuhan

untuk pengembangan pasar.

(3) Melakukan langkah-langkah secara terencana dan

terkoordinasi dengan kepala bagian. marketing dan bagian

marketting dalam kaitannya dengan pengembangan pasar.

(4) Melakukan monitoring atas ketepatan alokasi dana serta

ketepatan angsuran pembiayaan anggota

(5) Melakukan monitoring pasca dropping untuk melihat

ketepatan alokasi dana.

(6) Melakukan monitoring angsuran anggota.

(7) Melakukan peringatan baik secara lisan maupun secara

tertulis atas keterlambatan angsuran anggota.

4) Wewenang

a) Memberi usulan untuk pengembangan pasar kepada manajer.

b) Menentukan target funding dan lending bersama manajer.

c) Memipin dan menentukan agenda rapat marketing.

d) Melakukan penilaian terhadap staff marketing.

c. Funding Officer/Penghimpun Dana

1) Fungsi Utama Jabatan

50
Menerapkan strategi dan pola-pola tertentu dalam rangka
menghimpun dana masyarakat.
2) Tanggung Jawab

a) Memastikan target funding tercapai sesuai rencana

b) Membuka hubungan dengan pihak/lembaga luar dalam rangka

funding

c) Tersosialisasinya produk-produk funding di BMT Assyafi‟iyah

Kotagajah kepada masyarakat dan pihak luar lainnya.

3) Tugas-tugas Pokok

a) Memastikan target funding tercapai sesuai rencana

(1) Bersama dengan manajer marketing menyusun target

funding.

(2) Melakukan funding sesuai dengan rencana yang disepakati.

(3) Melakukan evaluasi terhadap aktivitas yang telah

dilakukan.

b) Membuka hubungan dengan pihak/lembaga luar dalam rangka

funding

(1) Menghimpun informasi dan mendata peluang-peluang

untuk mengakses dana dari pihak/lembaga yang dapat

bekerjasama.

(2) Mengakses pihak-pihak yang berpotensi dalam membantu

penggalan dana masyarakat.

51
(3) Menjaga amanah yang diberikan dan menjaga nama baik

BMT Assyafi‟iyah dalam melaksanan tugas, terutama yang

berkaitan dengan pihak luar.

c) Tersosialisasinya produk-produuk funding BMT Assyafi‟iyah

Kotagajah.

(1) Memberi usulan untuk pengembangan

d. Administrasi Pembiayaan

1) Fungsi Utama Jabatan

Mengelola administrasi pembiayaan mulai dari pencairan hingga


pelunasan dan membuat surat-surat perjanjian lain.
2) Tanggung Jawab

a) Penyiapan administrasi pencairan pembiayaan (dropping).

b) Pengarsipan seluruh berkas pembiayaan.

c) Pengarsipan jaminan pembiayaan.

d) Penerimaan angsuran dan pelunasan pembiayaan.

e) Penyiapan laporan dan kontrol terhadap kupon.

f) Pembuatan laporan pembiayaan sesuai dengan periode laporan.

g) Membuat surat teguran dan peringatan kepada anggota yang

akan dan jatuh tempo.

h) Membuat surat-surat dengan pihak lain.

3) Tugas-tugas Pokok

a) Penyiapan administrasi pencairan pembiayaan (dropping) dan

melakukan proses dropping.

52
(1) Memeriksa kelengkapan administrasi anggota yang akan di

dropping.

(2) Membuat akad pembiayaan, tanda terima jaminan, kartu

angsuran dan pengawasan, kupon pembiayaan (untuk yang

harian).

(3) Membaca akad kepada anggota yang akan pembiayaan.

(4) Mengisikan buku regristasi anggota pembiayaan secara

lengkap.

b) Pengarsipan seluruh berkas pembiayaan

(1) Memeriksa kelengkapan administrasi untuk diarsipkan.

(2) Mengarsipkan akad pembiayaan serta berkas pendukung

lainnya sesuai dengan nomor rekening.

(3) Menyimpan kartu pengawasan sesuai dengan nomor

urut/rekening anggota pembiayaan.

(4) Hanya mengeluarkan berkas pada saat dibutuhkan dengan

bukti catatan pengeluaran dan memastikan berkas yang

telah selesai digunakan telah dikembalikan pada tempatnya.

c) Pengarsipan Jaminan

(1) Memastikan jaminan telah diperiksa dan disetujui pihak

yang berwenang (AO dan Manager Keuangan) dnegan

bukti tanda tangan yang tertera pada lembar penerimaan

jaminan.

53
(2) Memberikan lembaran tanda terima jaminan asli kepada

mitra, dan mencatatnya pada buku regristasi jaminan.

(3) Menyimpan tanda terima jaminan copy dengan surat

jaminan ke dalam brankas jaminan.

(4) Mengeluarkan jaminan apabila diperlukan atas

sepengatahuan manager secara tertulis.

(5) Melakukan kontrol atas jaminan-jaminan yang ada.

d) Penerimaan Angsuran dan Pelunasan Pembiayaan

(1) Menerima angsuran dan mencatatnya ke dalam buku/kartu

pengawasan pembiayaan.

(2) Menyesuaikan angsuran anggota dengan kartu pengawasan

yang ada.

(3) Meneliti/menghitung kembali sisa hutang anggota, untuk

mitra yang akan melakukan pelunasan.

(4) Menerima setoran dari petugas kolektor.

(5) Membantu pengisian setoran dari kolektor dan meneliti

setoran yang masuk sesuai dengan jumlah kupon

dikeluarkan.

e) Penyiapan Kupon dan Kotrol Terhadap Kupon

(1) Menyiapkan kupon apabila petugas kolektor akan

berangkat.

(2) Membuat daftar kupon yang akan dikeluarkan dan

dikembalikan.

54
(3) Melakukan pengecekan apabila terjadi selisih kupon antara

yang seharusnya ada (tersisa) dengan yang tersisa.

(4) Pembuatan laporan pembiayaan sesuai dengan periode

laporan.

f) Membuat laporan pembiayaan bulanan yang terdiri dari:

(1) Laporan dropping per bulan dan total dropping selama

setahun.

(2) Laporan lengkap pembiayaan dan mutasinya.

(3) Laporan pembiayaan yang akan jatuh tempo.

(4) Laporan kolektibilitas (tingkat kelancaran pembiayaan).

(5) Laporan prestasi AO ( capaian target AO).

(6) Dan lain-lain.

g) Laporan Pembiayaan Pekanan

(1) Daftar anggota yang harus dutagih.

(2) Daftar anggota yang akan dan telah jatuh tempo tersebut.

h) Membuat surat teguran dan peringatan kepada anggota yang

akan dan telah jatuh tempo.

(1) Membuat dan memberikan surat teguran pada anggota yang

telah jatuh tempo.

(2) Membuat dan memberikan surat peringatan pada anggota

yang akan jatuh tempo.

(3) Melakukan kontrol atas tindak lanjut surat pemberitahuan

dan peringatan yang dikirimkan kepada nasabah.

55
i) Membuat surat-surat perjanjian dengan pihak lain.

Membuat surat/akad perjanjian pembiayaan maupun perjanjian


lainnya.
4) Wewenang

a) Memberikan nomor rekening anggota pembiayaan

b) Melakukan pengamanan atas data-data pembiayaan serta arsip-

arsip pendukung.

c) Mengeluarkan laporan resmi mengenai perkembangan

pembiayaan atas persetujuan manager.

d) Tidak memberikan berkas/arsip kepada pihak-pihak yang tidak

berkepentingan.

e) Ikut memberikan kontribusi/usulan dalam rapat komite.

e. Teller

1) Fungsi Utama Jabatan

Merencanakan dan melaksanakan segala transaksi yang sifatnya


tunai.
2) Tanggung Jawab

a) Terselesaikannya laporan kas harian.

b) Terjaganya keamanan kas.

c) Tersedianya laporan cashflow pada akhir bulan untuk

keperluan evaluasi.

3) Tugas-Tugas Pokok

a) Terselesainya laporan khas harian

(1) Menerima dan mengeluarkan transaksi sesuai dengan batas

wewenang.

56
(2) Melakukan pengesahan pada bukti/transaksi baik paraf

maupun validasi.

(3) Menyusun bukti-bukti transaksi keluar dan masuk dan

memberikan nomor bukti.

(4) Membuat rekapitulasi transaksi masuk dan keluar dan

meminta validasi dari pihak yang berwenang.

(5) Melakukan cross check (cek silang) antara rekapitulasi kas

dengan mutasi vault dan neraca.

b) Terjaganya keamanan kas

(1) Melakukan perhitungan kas pada pagi dan sore hari saat

akan dimulainya hari kerja dan akhirnya hari kerja yang

harus disaksikan oleh petugas yang berwenang.

(2) Meniliti setiap ruang masuk akan keaslian uang agar

terhindar dari uang palsu.

(3) Menjaga ruang dari pihak yang tidak berkepentingan.

(4) Mengarsipkan laporan mutasi vault pada tempat yang

aman.

(5) Melakukan cross check antara vault dengan neraca dan

rekapitulasi kas.

c) Tersedianya laporan cashflow (arus kas) pada akhir bulan

untuk keperluan evaluasi.

(1) Membuat laporan kas masuk dan keluar pada setiap akhir

bulan untuk setiap akun-akun yang penting.

57
(2) Meminta pengesahan laporan cashflow dari yang

berwenang sebagai laporan yang sah.

4) Wewenang

a) Menerima transaksi tunai dari transaksi-transaksi yang terjadi

di BMT Assyafi‟iyah Kotagajah.

b) Memegang kas tunai sesuai dengan kebijakan yang ada.

c) Mengeluarkan transaksi tunai pada batas nominal yang

dibeerikan atau atas persetujuan yang berwenang.

d) Menolak pengeluaran kas apabila tidak ada bukti-bukti

pendukung yang kuat.

e) Mengetahui kod brankas tetapi tidak memegang kuncinya

ataupun sebaliknya.

f) Meminta pertanggung jawaban keuangan kas kecil jika batasan

waktu pertanggungjawaban telah tiba.

f. Costumer Service

1) Fungsi Utama Jabatan

Memberikan pelayanan prima kepada mitra sehubungan dengan

produk funding (penghimpun dana) yang dimiliki BMT

Assyafi‟iyah Kotagajah. Dalam hal ini tabungan (simpanan lancar)

dan desposito (simpanan berjangka).

2) Tanggung Jawab

a) Pelayanan terhadap pembukaan dan penutupan rekening

tabungan dan desposito serta mutasinya.

58
b) Pengarsipan tabungan dan desposito.

c) Penghitungan bagi hasil dan pembukaanya.

d) Pelaporan tentang perkembangan dana masyarakat.

3) Tugas-tugas pokok

a) Pelayanan terhadap pembukaan dan penutupan rekening

tabungan dan desposito serta mutasinya.

(1) Menerima anggota dan memberikan penjelasan mengenai

produk dan desposito yang ada di BMT Assafi‟iyah

Kotagajah.

(2) Memberikan buku dan memberikan nomor rekening kepada

anggota yang baru.

(3) Memberikan warkat desposito dan memberikan nomor

desposito.

(4) Melakukan/membuat registrasi tabungandan desposito baik

dikomputer maupun di buku registrasi.

(5) Melakukan pemindahan buku tabungan/desposito apabila

diperlukan atas persetujuan yang berwenang.

b) Pengarsipan tabungan dan desposito

(1) Melakukan pengarsipan untuk permohononan tabungan dan

desposito pada binder khusus sesuai tanggal.

(2) Melakukan pengarsipan untuk kartu tabungan sesuai

dengan nomor rekening.

59
(3) Melakukan pengarsipan atas warkat deposito sesuai dengan

nomor rekening.

(4) Melakukan pengarsipan untuk berkas bagi hasil sesuai

dengan harian.

c) Penghitungan bagi hasil dan Pembukuannya

(1) Melakukan penghitungan bagi hasil harian atau akhir bulan

(tanpa software).

(2) Melakukan pendistribusian bagi hasil (khusus untuk yang

tanpasoftware).

d) Pelaporan tentang perkembangan dana masyarakat.

(1) Memberikan laporan desposito yang akan jatuh tempo.

(2) Menerbitkan laporan perkembangan/pertumbuhan

penabung/deposan serta dana yang dihimpun.

(3) Menerbitkan laporan perbandingan rencana dan

realisasitarget capaian funding.

4) Wewenang

a) Memotong biaya administrasi bagi tabungan yang tidak

bermutasi 6 bulan (atau sesuai dengan kebijakan).

b) Menutup rekening secara otomatis untuk rekening-rekening

yang saldo nominalnya dibawah saldo minimum.

c) Melakukan pemindah bukuan untuk kasus-kasus tertentu yang

telah ada kebijakannya.

60
5. Cara Kerja Staf/Karyawan BMT Assyafi’iyah Kota Gajah61

Berdasarkan pengamatan atau hasil observasi yang penulis lakukan

di BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah dapat diterangkan bahwa, Rutinitas dari

BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah sebelum melakukan

aktivitas. Pelayanan yaitu dimulai dari kedisiplinan para karyawan, semua

pegawai BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah harus sudah

sampai di kantor pada pukul 08.00 WIB dilanjutkan dengan membaca Al-

Quran dan doa bersama kemudian briefing dari manager BMT

Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah tentang tugas dan strategi yang

akan dijalankan pada hari itu. Pelayanan dimulai pukul 08.30 WIB dan

istirahat pada pukul 12.00-13.00 WIB namun dengan adanya istirahat

proses pelayanan tetap berlangsung seperti biasa, dan aktivitas pelayanan

ditutup pada pukul 15.00 WIB ditutupnya aktifitas pelayanan bukan berarti

para pegawai boleh meninggalkan kantor, melainkan menyelesaikan tugas

yang menjadi tanggungannya, baru para pegawai mulai meninggalkan

kantor kurang lebih pukul 16.00 WIB.

6. Produk-Produk BMT Assyafi’iyah Lampung Tengah62

a. Pembiayaan

1) Pembiayaan Bagi hasil

Merupakan konsep pembiyaan yang adil dan memiliki nuansa

kemitraan yang sangat kental, hasil yang diperoleh dibagi

61
Hasil Observasi di BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Tanggal 02 Februari 2018
6262
Dokumentasi BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Tanggal 02 Februari 2018

61
berdasarkan perbandingan (nisbah) yang disepakati yang bukan

sebagaimana pe netapan suku bunga pada bank dan koperasi

konvensional.

2) Mudah ceria

Akad kerjasama pembiyaan antara BMT selaku pemilik dana yang

menyediakan suatu kebutuhan modal dengan anggota sebagai

pihak yang mempunyai suatu keahlian atau keterampilan tertentu,

untuk mengelola suatu kegiatan usaha yang produktif dan syari‟ah.

3) Sama ceria

Merupakan akad kerjasama pembiayaan antara BMT dengan

anggota untuk mengelola suatu kegiatan usaha masing-masing

memasukan penyertaan dana sesuai porsi yang disepakati,

sedangkan untuk pengelola kegiatan usaha dipercayakan kepada

anggota.

4) Pembiyaan jual beli

Konsep jual beli mengandung beberapa kebaikan antara lain

pembiyaan yang diberikan selalu terikat dengan sektor riel, karena

yang menjadi dasar adalah barang yang barang yang

diperjualbelikan. Disamping itu harga yang telah disepakati tidak

akan mengalami perubahan sampai berakhirnya akad.

5) Murobahah ceria

Akad jual beli antar BMT dan anggota atas suatu jenis barang

tertentu dengan harga yang disepakati bersama, BMT akan

62
menwakalahkan barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada

anggota dengan harga setelah ditambah keuntungan yang

disepakati.

b. Pembiayaan Jasa

1) Hawalah ceria

Akad pengalihan utang pihak pertamaa kepada BMT, anggota

meminta kepada BMT agar membayarkan terlebih dahulu

piutangnya atas transaksi yang halal dengan pihak yang berutang.

2) Ihrom ceria

Pembiyaan untuk persiapan pelksanakan ibdh haji dan umroh,

anggota mengunakna akad ijaroh multijasa dengan jangkan waktu

tertentu.

c. Pembiayan Kebajikan

1) Alqard ceria

Merupakan pinjaman yang diberikan oleh BMT kepada anggota

yang ahrus dikembalikan pada waktu yang diperjanjikan tanpa

disertai imbalan apapun kecuali apabila anggota merupakan infaq.

Pinjaman yang diberikan tersebut adalah dalam rangka saling

membantu dan bukan merupakan transaksi komersial akan

menagih kepada pihak yang berhutang tersebut.

d. Simpanan

1) Ceria Utama

63
Simpanan perorangan dengan sistem keuntungan dihitung atas

saldo rata-rata harian dan diberikantiap bulan, dengan setoran awal

RP. 10.000 ribu dan saldo rata-rata minimal rp. 10.000 pada setiap

bulannya.

2) Ceria Prima

Simpanan menggunakan akad wadiah yad dhomamah dengan

pembukaan rekening atas nama perorangan, dan setoran awal

minimal 10.000, serta saldo simpanan minimal 10.000. simpanan

mendapatkan bonus yang menarik setiap bulannya.

3) Simpanan Pintar

Simpanan untuk persiapan dan keperluan anak sekolah,

menggunakan akad”wdiah yad dhomamah”, dengan pembukuan

rekening atas nama perorangan, dengan storan awal minimal

Rp.10.000 dan saldo simpanan minimal RP.5.000, simpanan

mendapatkan bonus yang menarik setiap bulannya.

4) Ceria Qurban

Simpanan persiapan untuk beribadah qurban, menggunakan akad

wadiah yad dhomamah‟, dengan pembukaan rekening atas nama

perorangan, dengan setoran awal minimal RP. 10.000, simpanan

mendapatkan bonus yang menarik.

5) Ceria Ketupat

Produk simpanan assyafi‟iyah, simpanan umum syariah yang

setoran ada batas waktu tertentu, dengan sistem paket yang berlaku

64
ditahun berjalan menggunakan akad”wadiah yad dhomamah”. Dan

mendapatkan bingkisan lebaran yang menarik.

6) Ceria Ihrom

Simpanan persiapan untuk ibadah haji/umro, akad simpanan

menggunakan, wadiah yad dmomah „. bonus menarik.

7) Ceria Berkah

Simpanan berjangka syariah yang ditujukan untuk anggota yang

ingin mengivestasikan dananya untuk kemajuan perekonomian

umat memlalui sistem bagi hasil yang dikelola secara syari‟ah

nisbah ceria berkah antara anggota dan bagi hasil.

Jangka Waktu Anggota Bmt

3 BULAN 30 % 70 %

6 BULAN 40% 60 %

12 BULAN 60% 40 %

7. Jenis-Jenis Agunan Di BMT Assyafi’iyah Kota Gajah63

a. Agunan utama

Benda tak bergerak (tanah dan bangunan) berdsarkan atas hak

kepemilikan tas tanah, maka terbagi menjadi:

1) Akte jual beli, skt, akta hibah hibah seporadik

63
Dokumentasi BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Tanggal 02 Februari 2018

65
Adapun untuk jenis agunan tersebut diatas bisa pembiayaan

maksimal RP. 10.000 nilai pokoknya.

2) Sertifikat :sertifkat hak milik bisa pembiyaan maksimal 70% dari

nilai pokonya.

3) Hak guna bangunan/surat toko: bisa pemiyaan maksimal 50 % nilai

pokoknya.

4) Bpkb mobil/motor usia maksimal 3 tahun bisa pembiayan

maksimal 50% nilai pokoknya.

5) Bpkb mobil diatas 6 tahun bisa pembiyaan maksimal 25 persen

nilai pokonnya (melihat kondisi fisik mobinya).

6) Bpkb motor usia diatas 6 tahun bisa pembiyaan maksimal

Rp.2.000.000 nilai pokoknya (melihat kondisi fisik motornya).

Untuk sertifikat selain hak milik, maka kepemilikan tanah

memiliki jangka waktu tertentu. Untuk jaminan tanah beserta

bangunan namun tidak disertai surat izin mendirikan

bangunan(IMB), maka yang dinilai oleh petugas penilai hanya

tanahnya saja.

b. Benda bergerak

1) Kebijakan KSPPS BMT ASSYAFIYAH tentang jaminan berupa

kendaraan bermotor adalah:

2) Apabila kepemilikan kendaraan bermotor terebut berasal dari pihak

lain yang dibeli oleh calon anggota dan belum dibalik nama, maka

66
calon anggota wajib menertkan bukti transaksi asli/kwitansi jual

beli.

3) Benda tak berwujud (simpanan berjangka dan simpanan wadiah).

c. Benda tak berwujud simpanan (simpanan berjangka simpanan wadiah).

1) Jaminan simpanan berjangka ini dapet diterima apabila calon

anggota menyerahkan bilyet simpanan berjangka asli.

2) Jaminan simpanan wadiah dapet diterima apabila calon anggota

adalah penabung aktif yang yang terlihat dari mutasi rekening

simpananya.

d. Jaminan tambahan

1) Borgtoccht, yaitu garansi atau jaminan kepercayaan yang diberikan

oleh pihak ketiga terhadap calon anggota atas pembiyaan yang

diajukan kepada koperassi.

2) Avalist, adalah jaminan yang berupa uang giral seperti cek, giro,

dan wesel.

8. Jenis-Jenis Pengikatan Agunan Di BMT Assyafi’iyah Kotagajah

Ada beberapa jenis pengikatan agunan di BMT Assyafiiyah

diantaranya sebagai berikut:64

No Jenis Agunan Pengikat

1 Legalisasi Pijanman <Rp.10.000.000

Pinjaman >RP. 10.000.000

64
Wawancara dengan Marketing BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah pada
tanggal 02 Februari 2018

67
2 SKMHT pinjaman s/d Rp.50.000.000.-

(sudah termasuk biaya pengecekan, akad

perjanjian, akta skmht, dan free notaris

3 APHT Pinjaman s/d Rp. 1 M (sudah termasuk cek

sertifikat, pnpb, akad perjanjian, skmht,

sertifikat hak tanggung, dan free notaris

4 Fidusia Pinjaman s/d Rp.5.000.000 (sudah termasuk

biaya pendaftaran PNPB, akad perjanjian

sertifikat fidusia dan free notaries

B. Analisi Data

3. Analisis Jenis Agunan Pada Pembiyaan Murobahah Di KSPPS BMT

Assyafiiyah Kota Gajah

Jenis-jenis barang agunan untuk pembiyaan murobahah pada BMT

Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah dibagi menjadi 4 jenis,

diantaranya sebagai berikut.

a. Jaminan SKMHT (surat kuasa memberikan hak tanggung) adalah surat

kuasa yang diberikan pemberikan hak tanggung kepada krditur sebagai

penerima hak tanggung untuk membebankan hak tanggung diatas

objek hak tanggung SKMHT merupakan surat kuasa kusus yang

memberikan kuasa kepada kreditur untuk membebankan hak tanggung.

Surat ini wajib dibuat dengan akta notaris atau akta ppat.

68
Kreditur setelah memeperoleh SKMHT dari debitur atau pemilik

jaminan, maka selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah diberikan

SKMHT diwajibkan untuk memasang akta hak tanggung (APHT),

namun SKMHT yang kemudian dilamjutkan dengan pengesahan hak

tanggungoleh kreditur mengakibatkan pengeluarn yang cukup besar,

sedangkan debitur hanya mendapat fasililtas kredit hasil sehingga

untuk menghemat biaya-biaya yang dikeluarkan oleh debitur, maka

ada kebijakan dari pemerintah dengan menentukan bahwa bagi kredit

usaha kecil cukup digunkan SKMHT.

Unsur-unsur pada jaminan SKMHT pada pembiyaan

murobahah di BMT Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah

diantaranya:

1) Adanya hak jaminan.

2) Adanya objek, yaitu benda tidak bergerak (tanah) untuk jaminan

ini, pemohon wajib melengakapi surat keterangan riwayat tanah

yang diketahui oleh kepala desa dan camat dimana jaminan berada

dan dapat diubah dengan APHT (akta pemberian hak tanggung)

yang tujuannya apabila debitur cedera janji benda yang dijadikan

jaminan utang akan dijual untuk melunasi hutangnya.

3) Benda yang menjadi objek tetap berada dalam penguasaan debitur

(debitur tetap bisa mengelola tanahnya).

69
4) Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada keditur.65

Berdasarkan jaminan diatas bahwa jaminan SKMHT (surat

kuasa memberikan hak tanggung) merupakan jaminan yang sering

dipakai untuk pengajuan pembiyaan murobahah di BMT Assyafi‟iyah

Kota Gajah Lampung Tengah untuk kalangan usaha kecil, seperti

kebijakan pemerintah bahwa bagi kredit usaha kecil cukup

menggunakan SKMHT. Meskipun jumlah nilai pinjamnya kecil tetapi

jaminan ini layak dan sudah sesuai dengan teori ilmiah.

b. Jaminan APHT

Jaminan APHT adalah akta pemberian hak tanggung yang

diperlukan sebagai jaminan bahwa pinjaman yang diberikan kreditur

kepada debitur bakal dilunasi.yang dimaksud hak tanggung adalah hak

jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud

dalam undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar

pokok-pokok agraria, berikut atau benda-benda lain yang merupakan

suatu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang

memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu

terhadap kreditur-debitur lain.

Pemberian hak tanggung adalah orang perseorangan atau badan

hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan

hukum terhadap objek hak tangung yang bersangkutan. Pemegang hak

tanggung adalah orang perseorangan atau badan hukum yang

65
Wawancara dengan Marketing BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah pada
tanggal 02 Februari 2018

70
berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang. Hak atas tanah yang

dapat dibebani hak tanggung adalah hak milik, hak guna usaha, hak

guna bangunan dan hak pakai atas tanah negara.

Unsur-unsur pada jaminan APHT pada pembiyaan murobahah

di BMT Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah diantaranya:

1) Adanya hak jaminan

2) Objek, yaitu benda tidak bergerak (tanah) untuk jaminan ini,

pemohon wajib melengkapi surat keterangan riwayat tanah yang

diketahui oleh kepala desa dan camat dimana jaminan berada dan

dapat dipindah tangankan, karena apabila debitur cedera janji

benda yang dijadikan jaminan utang akan dijual untuk melunasi

hutangnya.

3) Benda yang menjadi objek tetap berada dalam penguasaan debitur

(debitur tetap bisa mengelola tanahnya).

4) Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada debitur.66

Berdasarkan jaminan diatas bahwa jaminan APHT (akta

pembebanan hak tanggung) merupakan jaminan yang sering dipakai

untuk pengajuan pembiayaan pengajuan murobahah di BMT

Assyfiiyah Kota Gajah Lampung Tengah untuk kalangan usaha

menengah keatas da jaminan APHT ini merupakan yang layak dan

sesuai dengan teori ilmiah.

c. Jaminan fidusia

66
Wawancara dengan Marketing BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah pada
tanggal 02 Februari 2018

71
Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik

yang terwujud maupun tidak terwujud, sehubungan dengan hutang-

piutang antara kreditur dan debitur. Jaminan fidusia diberikan oleh

debitur kepada kreditur untuk menjamin pelunasan hutangnya.

Jaminan fidusia ini memberikan kedudukan yang diutamakan

privilige/suatu hak yang di berikan kepada seseorang terhadap piutang

yang diistimewakan dalam suatu lelang harta debitur jika mengalami

pailit. Jika dikaitkan dengan piutang maka privilige adalah piutang

yang lebih didulukan karena debitur mengalami kebangkitan sehingga

harta pribadinya harus dilelang untuk menutupi hutang tersebut.

Unsur unsur pada jaminan fidusia pada pembiyaan mudrobah di

BMT Assyafiiyah Lampung Tengah

1) Adanya hak jaminan

2) Adanya objek,yaitu benda bergerak,dengan ciri ciri usia kendaraan

bermotor (sepeda montor dan mobil niaga) maksimal 7 tahun dan

mobil 10 tahun terhitung pada saat calon anggota mengajukan

pembiyaan

3) Benda yang menjadi objek tetap berada dalam penguasa pemberi

fidusia

4) Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada debitur.

Berdasarkan keterangan diatas bahwa jaminan fidusia merupakan

agunan untuk benda bergerak dan jaminan fidusia ini sering

digunakan BMT Assayafiiyah Lampung Tengah dalam

72
pembiayaan murobahah. Jaminan fidusia ini sudah sesuai dengan

teori ilmiah.67

4. Kelayakan Agunan Pada Pembiayaan Murobahah Di BMT

Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah

Jaminan atau agunan kredit diperlukan guna menjamin pelunasan

hutang kredit yang diterima debitur. Juga untuk mengantisipasi apabila

cicilan kredit tidak dapat dilunasi sesuai dengan waktu dalam perjanjian

kredit atau kredit macet. Dengan jaminan kredit, BMT Assyfiiyah kota

gajah lampung tengah dapat menghindari kerugian karena kredit macet.

Secara umum, jaminan atau agunan yang ideal untuk kredit harus

memenuhi beberapa faktor hukum dan ekonomis, yaitu:

a. Faktor hukum

1) Jaminan berwujud atau memiliki wujud nyata

2) Jaminan harus merupakan milik sah debitur, yang dapat dibuktikan

dengan surat-surat dan dokumen yang sah.

3) Jaminan tidak sedang dalam proses hukum/pengadilan atau

sengketa.

4) Jaminan tidak terkena proyek pemerintah.

b. Faktor ekonomis

1) Memiliki nilai ekonomis dan lebih besar dari plafon kredit.

67
Wawancara dengan Marketing BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah pada
tanggal 02 Februari 2018

73
2) Jaminan harus mempunyai pasaran yang cukup luas sehingga

mudah untuk dijual kembali.

3) Tranfereble, yaitu jaminan harus sudah dipindah baik secara fisik

maupun secara hukum.

4) Ascertainability of value, yaitu jaminan kredit harus memiliki

standar harga pasar tertentu.68

Berdasarkan keterangan diatas bahwa faktor hukum dan faktor

ekonomi sudah sesuai dengan teori ilmiah karena kedua faktor ini

menentukan kualitas barang yang dijadikan agunan untuk pembiyaaan

murobahah, faktor hukum menentukan barang tersebut dimiliki oeh

nasabah dan faktor ekonomi menentukan harga barang tersebut sudah

sesuai dengan pembiayaan yang diberikan BMT untuk pembiayaan

murobahah.

Syarat dan kritera barang yang dapat dijadikan agunan pada BMT

Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah diantaranya sebagai berikut:

1) Memiliki nilai ekonomis dalam arti dapat dinilai dengan uang dan

memiliki nilai/harga yang relatif stabil (voluabilty), serta dapat dengan

mudah dijadikan uang melalui transaksi jual beli (marketabilty).

2) Dapat dinilai secara umum dan pasti, bukan penilaian yang

dipengarungi faktor subjektifitas tinggi. Contoh barang yang tidak

dimiliki kriteria tersebut misalnya lukisan, barang antik, benda pusaka

atau sarang burung walet. Mempunyai nilai yuridis (legality) dalam

68
Wawancara dengan Marketing BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah pada
tanggal 02 Februari 2018

74
arti memiliki bukti kepemilikan yang sah dan kuat berasarkan hukum

positif yang berlaku, serta dipindah tangankan kepemilikannya.69

Keterangan diatas memberikan pemahaman bahwa kriteria agunan

pada BMT Assyafiiyah Kota Gajah Lampung Tengah dinilai berdasarkan

dua kriteria yaitu nilai ekonomis dan nilai secara umum (pasti),

maksudnya barang tersebut mudah didapat dimasarakat.

69
Wawancara dengan Marketing BMT Assyafi‟iyah Kota Gajah Lampung Tengah pada
tanggal 02 Februari 2018

75
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarakan hasil penelitian yang telah diuraikan oleh penulis, maka

kesimpulan yang diperoleh dari sekripsi adalah:

Penentuan kelayakan agunan pada Pembiayaan Murobahah di Koperasi

simpan pinjam (KSP-PS) Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Assyafiiyah Kota

Gajah Lampung Tengah sudah layak yaitu: jaminan atau agunan untuk

pembiayaan sudah memenuhi bebrapa faktor:

1. Faktor hukum, meliputi: jaminan berwujud, jaminan harus merupakan

milik sah, jaminan tidak sedang dalam proses hukum/pengadilan atau

sengketa serta jaminan tidak terekna proyek pemerintah dan

2. Faktor ekonomis, meliputi: memiliki nilai ekonomis dan lebih besar dari

plafon kredit, jaminan harus mempunyai pasaran yang cukup luas

sehingga mudah untuk dijual kembali, transferable, serta ascertainabllti of

value.

B. Saran

Saran yang penulis sampaikan yaitu BMT merupakan lembaga

keuangan syariah yang menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat yang

tujuanyaa untuk menyejahterakan kehidupan masyarakat kususnya masyarkat

kalangan menengah kebawah. Agunan pada pembiayan murobhah sebagai

jaminan kredit diperlukan guna menjamin pelunasan hutang yang diterima

76
debitur, juga untuk mengantisipsi ketika cicilan kedit tidak dapat dilunasi

sesuai dengan waktu dalam perjanjian kredit.

BMT harus benar-benar jeli dalam meneliti barang yang dijadikan

agunan baik, serupa SKMHT, APHT, fidusia. Ketiga jaminan tersebut harus

diperiksa dan diteliti dengan cermat baik status hukum maupun legalitasnya,

karena terjadi masalah dengan barang agunan tersebut BMT bisa mengalami

kerugian.

77
DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqih Dan Keuangan, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2010)

Andri Soemitra, Bank dan lembaga keuangan syariah, (Jakarta: Prenadamedia


Group, 2009)

Ascarya, akad dan produk Bank Syari‟ah, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2011)

Buchori dan Donni Juni Priansa, managemen bisnis syariah, (Bandung: Alfabeta,
2007)

Departemen Pendidikan Pendidikan nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


(Jakarta:Balai Pustaka, 2012)

Eko Putro Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian,


(Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2012)

Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Dibank Syariah,


(Jakarta: Sinar Grafika, 2014)

Ibnu Hajar Al-Asqolani, Terjemah Bulughul Marom, (Bandung:CV. Diponegoro,


1999)

Kasmir, Managemen Perbankan, (Jakarta:Pt. Raja grafindo persada, 2014)

Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2015)

Kerajaan Saudi Arabia, Alquran Dan Terjemahanya, (Jakarta:Mujamma‟ Al-


Malik Fahd Li Thiba‟at Al-Mushaf, 1418/1995 M)

Kompilasi Hukum Ekonomi Syai‟riah,(Jakarta: Pusat Pengkajian Hukum Islam


dan Masyarakat Madani,2004)

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta Bumi Aksara,


2014)

Mardani, Fiqh Ekonimi Syariah, (Jakarta:Kencana Prenadamadia Group, 2012)

Moh. Syamsi Hasan, Hadis-Hadis Populer(Shohih Bukhori Dan Muslim),


(Surabaya : Amalia,tt)

78
Moh.Nasir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005)

Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah),(Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Muhammad Firdaus dkk, Fatwa-Fatwa Ekonimi Syariah Kontemporer,(Jakarta:


Renaisan,2007)

Muhammad, Managemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo


Persada, 2015)

Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung:CV. Pustaka Setia, 2001)

Rozalinda, Fiqih Ekonomi Syariah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016)

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R Dan D, (Bandung:


Alfabeta,2012)

Suhartimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:


Rineka Cipta, 2013)

Muhammad, Teknik Perhitungan Bagi Hasil Dan Pricing Di Bank


Syariah(Yogyakarta : UII Press, 2012)

Veithsal Rivai dan Andria Permata Veitsal, Islamicfinansial Managemen, (Jakarta


: PT. Raja Grafindo Persada, 2008).

79
DOKUMENTASI

Agunan Bergerak

Agunan Tidak Bergerak

80