Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT, karna berkat rahmat beliaulah makalah
ini dapat kami selesaikan. Salawat dan salam tertuju buat Rasullullah SAW, yang telah sukses
mengembangkan agama islam dalam kehidupan manusia.
Terima kasih kepada dosen yang mengajar mata kuliah Sosiologi ekonomi yang telah
membimbing kami dalam pembuatan makalah ini yang membahas tentang moral ekonomi dan
tindakan ekonomi Makalah ini berasal dari tugas Sosiologi ekonomi dari Jurusan Akuntansi di
Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang. Dengan tujuan dapat menjadi pedoman bagi
mahasiswa dalam menjalankan diskusi.
Sesuai dengan materi yang akan kami diskusikan yaitu “moral ekonomi dan tindakan
ekonomi” maka kami mencoba mengeluarkan makalah yang mungkin keberadaannya kurang
sempurna. Maka kami selaku mahasiswa yang masih dalam proses pencarian ilmu,
mengharapkan masukan dan saran kepada dosen yang bersangkutan. Karna kami menyadari
sepenuhnya bahwa makalah kami sangat jauh dari kesempurnaan dalam segala hal. Untuk itu
kepada para pembaca kami juga sangat mengharapkan saran dan kritiknya demi kesempurnaan
makalah kami ini.

Pamulang, 03 November 2016

Penulis

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 1


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................................. 1


Daftar Isi ...................................................................................................................................... 2
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................................................... 3
B. Masalah ................................................................................................................................. 3
C. Tujuan ................................................................................................................................... 3
BAB II : PEMBAHASAN
Moral Ekonomi dan Tindakan Ekonomi...................................................................................... 4
A. Moral Ekonomi Petani .......................................................................................................... 4-6
B. Moral Ekonomi Pedagang...................................................................................................... 6-9
C. Perbedaan Moral Ekonomi Petani dengn Ekonomi Pedagang .............................................. 9-10
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................................ 11-12
B. Saran ...................................................................................................................................... 12
Daftar Pustaka .............................................................................................................................. 13

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 2


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Moral ekonomi menjadi topik perbincangan yang semakin menarik akhir-akhir ini seiring
dengan semakin derasnya arus globalisasi. Konsep moral ekonomi itu secara khusus menurut
mellah dan madsen (1991) dan block (2006) mendefinisikan moral ekonomi pertukaran ekonomi
melalui sentimen-sentimen dan norma-norma moral.

B. Masalah
Dalam makalah ini membahas masalah tentang moral ekonomi dan tindakan ekonomi.
Karena masih banyak orang yang belum memahami tentang apa itu moral ekonomi dan
tindakan ekonomi dan juga belum tau apa itu pengertian dari ekonomi, serta penjelasan lainnya
yang membahas tentang moral dan tindakannya.

C. Tujuannya
Untuk memberikan pengetahuan kepada orang yang belum mengetahui tentang moral
ekonomi dan tindakan ekonomi, agar masyarakat juga dapat memahami apa yang telah
diketahuinya,dan tidak hanya menjadi ilmu tapi untuk diamalkan dan dimanfaatkan.

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 3


BAB II
PEMBAHASAN

MORAL EKONOMI DAN TINDAKAN EKONOMI


Dalam kajian sosiologi, Moral Ekonomi adalah suatu analisa tentang apa yang
menyebabkan seseorang berperilaku, bertindak dan beraktivitas dalam kegiatan perekonomian.
Hal ini dinyatakan sebagai gejala sosial yang berkemungkinan besar sangat berpengaruh
terhadap tatanan kehidupan sosial.

Menelaah lebih lanjut, beberapa buku referensi bagi mahasiswa dalam perkuliahan,
diajukan beberapa teori tentang moral ekonomi. James C. Scott mengajukan sebuah analisa
tentang kehidupan petani sedangkan H.D. Evers mengemukaakn teori tentang moral ekonomi
pedagang. Inti pembahasannya adalah apa yang menyebabkan sekelompok masyarakat
berperilaku, bertindak dan beraktivitas dalam kegiatan perekonomian.
Bagian ini menjelaskan bagaimana hubungan antara moral ekonomi yang memiliki oleh
suatu kelompok masyarakat dan tindakan ekonomi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari
mereka. Terlebih dahulu yang membahas tentang moral ekonomi petani yang ditulis oleh Jemes
C. Dan terakhir moral ekonomi pedagang diedit oleh H.D Ever dan Heiko Schrader. Kemudian
dilakukan perbandingan antara kedua tulisan tersebut, untuk memperoleh jawaban dari
pertanyaan tersebut.

A. MORAL EKONOMI PETANI


Dapat di defenisikan moral ekonomi sebagai pengertian petani tentang keadilan ekonomi
dan defenisi kerja mereka tentang eksploitasi pandanga mereka tentang pungutan-pungutan
terhadap hasil produksi mereka mana yang dapat ditolerir mana yang tidak dapat. Dalam
mendefinisikan moral ekonomi, petani akan memperhatikan etika subsistensi dan norma
resiprositas yang berlaku dalam masyarakat mereka. Etika subsistensi merupakan perspektif dari
mana petani yang tipikal memandang tuntutan-tuntutan yang tidak dapat diletakkan atas sumber
daya yang dimilikinya dari pihak sesama warga desa,tuan tanah atau pejabat.
Etika subsistensi tersebut, menurut james Scott (1976), muncul dari kekhawatiran akan
mengalami kekurangan pangan dan merupakan konsekuensi dari suatu kehidupan yang begitu
dekat dengan garis batas dari krisis subsistensi. Oleh karena itu, kebanyakan rumah tangga petani

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 4


hidup begitu dekat dengan batas-batas substensi dan menjadi sasaran-sasaran permainan alam
serta tuntutan dari pihak luar maka mereka meletekkan landasan etika subsistensi atas dasar
pertimbangan prinsip safety first (dahulukan selamat).
Dari sudut pandang moral ekonomi petani,subsistensi itu sendiri merupakan hak oleh
sebab itu ia sebagai tuntutan moral. Maksudnya adalah petani merupakan kaum yang miskin
mempunyai hak sosialatas subsistensi. Oleh karena itu, setiap tuntutan terhadap petani dari pihak
tuan tanah sebagai elit desa atau negara tidaklah adil apabila melanggar kebutuhan subsistensi.
Pandangan moral ini mengandung makna bahwa kaum elit tidak boleh melanggar cadangan
subsistensi kaum miskin pada muslim baik dan memenuhi kewajiban moralnya yang positif
untuk menyediakan kebutuhan hidup pada musim jelek.
Norma resiprositas merupakan rumus moral sentral bagi perilaku antar indivindu: antara
petani dengan sesama warga desa, antara petani dengan tuan tanah, antara petani dengan negara.
Prinsip moral ini berdasarkan gagasan bahwa orang harus membantu mereka yang pernah
membantu atau paling tidak jangan merugikan. Prinsip moral ini mengandung arti bahwa satu
hadiah atau jasa yang diterima menciptakan, bagi si penerima, satu kewajiban timbal balik untuk
membalas satu hadiah atau jasa dengan nilai yang setidak-tidaknya membanding dikemudian
hari. Ini berarti bahwa kewajiban untuk membalas budi merupakan satu prinsip moral yang
paling utama yang berlaku bagi hubungan baik antara pihak-pihak sederajat. James scott (1976)
telah meletakkan dasar stratifikasi sosial masyarakat petani atas tingkat keamanan subsistensi
mereka, bukan pada penghasilan mereka. Keamanan subsistensi mereka dijamin oleh tuan tanah
yang menjadi patron mereka.sedangkan lapisan terbawahnya adalah buruh. Pertumbuhan negara
kolonial dan komersiliasi pertanian yang membawa masyarakat petani kedalam ekonomi dunia
telah memperumit dilema keterjaminan subsistensi kaum petani.
Hal ini disebabkan sekurang-kurangnya oleh lima cara yaitu:
 Ketidakstabilan bersumber dari pasar
Ekonomi pasar yang diperkenalkan ke dalam masyarakat petani tidak hanya berlingkup pasar
setempat (lokal) tetapi juga pasar dunia. Pada dasar dunia hubungan antara hasil panen setempat
dan harga terputus. Dengan kata lain naik turunnya harga terlepas dari permintaan dan
penawaran setempat.

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 5


 Perlindungan desa yang semakin lemah
Terjadi erosi dalam pemberian perlindungan dan pemikul resiko oleh kelompok kerabat dan
pada nilai desa, karena terjadi perubahan struktural seperti berkurangnya sumber daya yang
dimiliki oleh kelompok kerabat maupun desa secara bersama (komunal) dan diperkenalkannya
hukum positif kolonial sebagai pengganti huku-hukum yang di warisi secara turun temurun
(tradisi).

 Hilangnya sumber-sumber daya subsistensi sekunder


Tanah milik desa dimana para warga mengembalakan ternak dan dan hutan milik desa
dimana petani mengambil kayu bakar bukan lagi milik komunal masyarakat desa, ia sudah
menjadi sesuatu yang komersial dan seseorang yang memanfaatkannya harus bayar pajak.

 Buruknya hubungan-hubungan kelas agraris


Ditandai dengan perubahan sifat peran tuan tanah dari paternalistik dan pelindung menjadi
impersonal dan kontraktual.tuan tanah bukan lagi pemikul resiko dimasa sulit tetapi menjadi
tukang kutip uang sewa tetap, bukan hanya dilakukan pada masa baik dan tetapi juga pada masa
buruk.

 Negara kolonial yang semakin ekstensif dan intensif dalam memungut pajak
Bukan hanya pajak kepala dan tanah, yang pernah dipungut oleh pemerintah tradisional pra-
kolonial, tetapi juga diperluas kepada aktivitas yang berkaitan dengan subsistensi seperti pajak
perahu, pajak garam, dan seterusnya.

B. MORAL EKONOMI PEDAGANG


Dalam moral ekonomi ini setuju dengan pendapat james scott (1976-176) yang menyatakan
bahwa masyarakat petani umumnya dicirikan dengan tingkat solidaritas yang tinggi dan dengan
suatu sistem nilai yang menekan kan tolong menolong, pemilikan bersama sumber daya dan
keamanan subsistensi. Hak terhadap subsistensi merupakan suatu prinsip moral yang aktif dalam
tradisi desa kecil. Dalam kondisi seperti ini pedagang menghadapi dilema yaitu memilih antara
memenuhi kewajiban moral kepada kerabat-kerabat dan tetangga-tetangga untuk menikmati
bersama pendapatan yang di perolehnya sendiri disatu pihak dan untuk mengakumulasikan

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 6


modal dalam wujud barang dan uang di pihak lain.di luar desa para pedagang dihadapkan dengan
tuntunan anonim yang sering bersifat anarkis dan berasal dari pasar terbuka dengan fluktuasi
harga yang liar. Pedagang cendrung terperangkap ditengah dan dalam hal ini bisa disebut sebagai
tengkulak karena mereka tidak hanya menaggung resiko kerugian secara ekonomi tetapi juga
resiko terhadap diskriminasi dan kemarahan petani.
Para pedagang dalam masyarakat petani telah mencoba mengatasinya dengan cara-cara
mereka sendiri. Evers (1994:10) telah menemukan 5 solusi atau jalan keluar yang berbeda yang
dilakukan oleh para pedagang menghadapi dilema tersebut, yaitu:
1. Imigrasi pedagang minoritas
Kelompok minoritas baru dapat diciptakan melalui migrasi atau dengan etno-genesis, yaitu
munculnya identintas etnis baru. Contoh yang menarik dari pemikiran ini adalah “pedagang
kredit” yang sebagian berasal dari suku batak dan beragama kristen yang melakukan aktivitas
dagangnya di sumatera barat.

2. Pembentukan kelompok-kelompok etnis atau religius


Munculnya dua komoditas moral yang menekankan pentingnya kerja sama tetapi tidak keluar
dari batas-batas moral. Menurut evers (1994:8-9) ada beberapa cara yang dilakukan agar hal ini
dapat berlangsung. Satu kemungkinan, misalnya menerima suatu agama baru atau menganut
sebuah agama sebgaimana yang di gariskan oleh aturan-aturan yang di tentukan dengan
memperlihatkan kegairahan dalam menjalankan aturan-aturan tersebut. Dan kemungkina lain
menekankan nilai-nilai budaya hingga batas menentukan identitas etnis milik sendiri. Hal ini
berarti terdapat hubungan kerja sama yang saling menguntungkan antara masyarakat pendesaan
sumatra barat dan pedagang kredit yang masing-masing memiliki komonitas moral tersendiri,
yaitu agama islam dan agama kristen.

3. Akumulasi status kehormatan (modal budaya)


Kembali kepada studi geerzt. (1963), kedermawan, keterlibatan dalam urusan masyarakat,
berziarah, menunaikan ibadah haji yang dilakukan oleh santri memberi dampak kepada
akumulasi modal budaya yang dimiliki. Dengan kata lain, peningkatan akumulasi modal budaya
berarti peningkatan derajat kepercayaan masyarakat sehingga memudahkan pedagang untuk
melakukan aktivitasnya

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 7


4. Munculnya perdagangan kecil dengan ciri” ada uang ada barang”
Dengan mengambil fenomena pedagang bakul di Jawa, Evers melihat bahwa para pedagang
bakul kurang di tundukan oleh tekanan solidaritas desa di bandingkan dengan pedagang yang
lebih besar dan lebih kaya serta suka pamer. Perdagangan kecil yang diperlihatkan diatas
merupakan ciri-ciri standar pada semua masyarakat petani.

5. Depersonalisasi (ketidakterlekatan) hubungan-hubungan ekonomi


Jika ekonomi pasar berkembang dan hubungan-hubungan ekonomi relatif tidak terlekat atau
terdiferensiasi, maka dilema pedagang ditransformasikan kedalam dilema sosial semua pasar
ekonomi.
Persoalan moral ekonomi menjadi topik perbincangan yang semakin menarik akhir-akhir ini
seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi. Konsep moral ekonomi itu secara khusus
menurut Mellah dan Madsen (1991) dan block (2006) mendefinisikan moral ekonomi pertukaran
ekonomi melalui sentimen-sentimen dan norma-norma moral. Terdapat dua alasan mendasar
yang menyebabkan isu moral ekonomi menjadi pusat perhatian banyak kalangan.
 Berkaitan dengan semakin intensifnya praktik fair trade yang menurut komitmen moral
tinggi, baik di kalangan produsen maupun kalangan konsumen.
 Praktik kehidupan sehari-hari, tidak terbatas di dunia bisnis, semakin menjauhkan sisi-sisi
moralitas dalam kalkulasi ekonomi.
Perspektif ini memegang teguh prinsip ekonomi yang melandasi setiap tindakan ekonomi,
yaitu memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan biaya yang serendah-
rendahnya. Persoalan yang menyentuh moral berkaitan dengan tindakan ekonomi yang di ambil
menjadi biaya eksternal. Komitmen moral konsumen adalah dalam penggunaan hak-hak
konsumen jika terdapat pelanggaran hukum maupun moral yang berkaitan dengan produksi
barang.
Persoalan-persoalan moral ekonomi yang sering terjadi dimasyarakat yaitu:
a. Seorang manajer pabrik pokok menghadapi dilema moral ekonomi antara menggunakan
pilihan mekanisme pabrik sehingga mengakibatkan PHK massal atau tetap menggunakan
cara produksi lama dengan resiko keuntungan yang diperolehnya tidak sebesar mengunakan
mesin baru.

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 8


b. Seorang manajer pabrik gula menghadapi dilema moral antara melaksanakan ritual upacara
yang dilakukan sebelum giling tebu pertama kali. Upacara tersebut merupakan tradisi yang
telah berlangsung puluhan tahun dan dalam pelaksanaanya memakan biaya yang besar.
c. Segala macam bentuk suap, kolusi, korupsi, nepotisme, manipulasi dan berbagai bentuk
tindakan penyalahgunaan wewenang lainnya yang dilakukan pejabat berwenang. Apalagi
terjadi ditengah penderitaan dan kemiskinan masyarakat sekitar dengan tujuan memperkaya
diri jelas merupakan persoalan moral selain tentunnya persoalan hukum.
d. Berbagai bentuk moral hazzard (permanfaatan kesempatan sekecil mungkin untuk tujuan
memperkaya diri atau dalam bahasa jawa sering diekspresikan dengan ungkapan) merupakan
persoalan moral ekonomi. Sebagai contoh dalam kebijakan pemerintah mengenai
pengurangan subsidi BBM akan dilakukan pembedaan harga bensin untuk mobil dan motor.
e. Pada 1998, sesaat telah terjadinya krisis moneter, banyak masalah sosial baru yang muncul,
seperti anak jalanan.

C. PERBEDAAN MORAL EKONOMI PETANI DENGAN MORAL EKONOMI


PEDAGANG
Dari dua penelitian tentang moral ekonomi yang dilakukan dengan obyek yang berbeda yaitu
moral ekonomi petani menurut James C Scott dan moral ekonomi pedagang menurut Hans
Dieter Evers, memberikan kesimpulan bahwa reaksi petani dan pedagang dalam menerima moral
ekonomi berbeda.
Pada kelompok masyarakat petani, tindakan ekonomi merupakan cerminan langsung dari
moral ekonomi yang mereka terima. Sedangkan pada kelompok masyarakat pedagang ia
merupakan kombinasi antara moral ekonomi dan kepentingan ekonomi. Perbedaan ini muncul
karena obyek yang diteliti berbeda, dan metode atau pendekatan yang digunakan tidak sama.
Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, diantaranya :
1. Hakikat Manusia
Dalam pandangan James C Scott, manusia merupakan makhluk yang terikat kepada norma-
norma yang berlaku ditengah-tengah masyarakat, termasuk moral ekonomi. Manusia ibaratkan
robot yang harus tunduk dan patuh terhadap norma-norma tersebut, dan setiap tindakan yang
mereka lakukan harus merujuk kepada norma-norma yang terdapat dalam masyarakat tersebut.

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 9


Sementara dalam pandangan Hans Dieter Evers, manusia merupakan makhluk yang relatif
kreatif. Memang terdapat norma-norma yang mengganjal para pedagang dalam mencapai
kepentingan pribadi mereka, seperti norma adat, hukum dan lain sebagainya, namun mereka
berusaha untuk mencari solusi antara kepentingan individu mereka dengan kepentingan
masyarakat. Solusi tersebut ditemukan dengan cara berinteraksi antara individu dengan individu,
individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
2. Dimensi Sosial
James C Scott memandang moral ekonomi dalam suatu kelompok masyarakat petani sebagai
suatu yang statis. Hal ini dapat diidentifikasi dengan cara mempehatikan para pengemban moral,
perilaku mereka haruslah sesuai dengan norma-norma moral yang berlaku. Jika suatu individu
ada yang keluar dari kewajiban moral yang seharusnya ia emban, maka ia akan dikucilkan dari
masyarakat, dan ia akan kehilangan reputasinya sebagai warga yang terhormat.
Sedangkan Hans Dieter Evers melihat kolompok masyarakat petani itu sebagai makhluk
yang dinamis. Moral yang berkembang ditengah-tengah masyarakat merupakan suatu yang
dipertentangkan oleh para pedagang dengan kepentingan pribadinya. Situasi ini mendatangkan
dilema bagi para pedagang, namun situasi ini pula yang memberi solusi kepada para pedagang
untuk menemukan moral baru.
3. Tindakan Sosial
Menurut James C Scott, tindakan ekonomi merupakan refleksi langsung dari tindakan
ekonomi, selama tidak keluar dari etika subsistensi.
Menurut Evers, tindakan ekonomi merupakan sintesis dari tindakan ekonomi yang ada, dan
kepentingan ekonomi yang dimiliki yaitu akumulasi modal dalam bentuk barang dan uang.
4. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan Scott dalam membahas moral ekonomi petani adalah perspektif
aktor lebih tersosialisasi.
Sedangkan Evers menggunakan pendekatan sosiologi ekonomi dalam membedah moral
ekonomi pedagang. Mereka melihat tindakan ekonomi sebagai suatu proses interaksi antara
individu pedagang dengan individu petani, dan individu pedagang dengan kelompok pedagang,
dan kelompok pedagang dengan kelompok petani.

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 10


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari penjabaran isi makalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan yang
mendasar antara moral ekonomi menurut James C Scott dengan Hans Dieter Evers adalah bahwa
moral ekonomi petani menurut James C Scott lebih mengutamakan rasa solidaritas antar rumah
tangga petani, dengan cara memanfaatkan sumber daya yang ada pada saat memungkinkan
bersama-sama, dan pada saat sulit patron akan menjamin kelangsungan hidup Kliennya.
Sementara moral ekonomi pedagang masih mengalami dilema dalam menentukan
tindakan antara moral ekonomi dengan kepentingan pribadi. Dan Evers memberikan solusi untuk
memecahkan dilema yang dihadapi oleh para pedagang dengan memberikan lima solusi, yaitu :
1. Imigrasi pedagang minoritas
2. Pembentukan kelompok-kelompok etnis atau religius
3. Akumulasi status kehormatan
4. Munculnya perdagangan kecil dengan ciri ada uang “Ada Barang”.
5. Depersonalisasi (ketidak lekatan) hubungan-hubungan ekonomi
Ada 4 faktor perbedaan yang mendasar dari moral ekonomi petani dan moral ekonomi
pedagang, yaitu :
1. Hakikat manusia
Dalam pandangan James C Scott, manusia merupakan makhluk yang terikat kepada
norma-norma yang berlaku ditengah-tengah masyarakat, termasuk moral ekonomi.
Dalam pandangan Hans Dieter Evers, manusia merupakan makhluk yang relatif kreatif.
2. Dimensi moral
James C Scott memandang moral ekonomi dalam suatu kelompok masyarakat petani
sebagai suatu yang statis.
Hans Dieter Evers melihat kolompok masyarakat petani itu sebagai makhluk yang
dinamis.
3. Tindakan ekonomi

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 11


Menurut James C Scott, tindakan ekonomi merupakan refleksi langsung dari tindakan
ekonomi, selama tidak keluar dari etika subsistensi.
Menurut Evers, tindakan ekonomi merupakan sintesis dari tindakan ekonomi yang ada, dan
kepentingan ekonomi yang dimiliki yaitu akumulasi modal dalam bentuk barang dan uang.
4. Pedekatan
Pendekatan yang digunakan James C Scott dalam membahas moral ekonomi petani adalah
perspektif aktor lebih tersosialisasi.
Hans Dieter Evers menggunakan pendekatan sosiologi ekonomi dalam membedah moral
ekonomi pedagang.

B. SARAN
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh karena
itu penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman agar sudi memberikan kritik
dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan
makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

Sosiologi ekonomi, Akuntansi S1 Page 12