Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki

lebih dari 17.480 pulau, terletak diantara dua benua (Asia dan Australia) dan

di antara dua lautan (Lautan Hindia dan Lautan Pasifik). Indonesia berada

pada pertemuan 3 lempeng dunia yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan

Pasifik, yang berpotensi menimbulkan gempa bumi apabila lempeng-lempeng

tersebut bertumbukan. Selain itu, Indonesia juga mempunyai 127 gunung api

aktif, 76 di antaranya berbahaya, bencana alam lainnya seringkali melanda

Indonesia adalah gempa, tsunami, gunung meletus, tanah longsor dan banjir.

Dampak kejadian bencana tersebut secara keseluruhan mengakibatkan

kerugian harta benda dan korban jiwa yang tidak sedikit. Hampir seluruh

provinsi di Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Indonesia

merupakan Negara yang rawan mengalami bencana.

Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan

mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh

faktor alam dan faktor non alam maupun faktor manusia sehingga

mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta

benda dan dampak psikologis. Bencana yang diakibatkan oleh faktor alam

antara lain berupa gempa, tsunami, gunung meletus, tanah longsor dan banjir.
Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh faktor non alam antara lain berupa

gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit.

Dengan adanya kejadian bencana yang banyak terjadi, pemerintah melakukan

upaya untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB). PRB harus disosialisasikan

pada masyarakat Indonesia. PRB sudah diperkuat dengan dikeluarkan

undang-undang tentang penganggulangan bencana, namun demikian belum

dipahami secara optimal oleh masyarakat. Undang-undang Nomor 24 Tahun

2007 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan bencana sebagai

peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam, mengganggu kehidupan

dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau

faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya

korban jiwa, kerugian harta benda, dan dampak manusia untuk mengatasi

masalah bencana belum banyak dilakukan secara sistematik dan suistanable

sehingga korban bencana masih menunjukkan angka-angka relatif tinggi.

Berdasarkan latar belakang diatas kelompok membahas tentang gempa,

tzunami, gunung meletus, tanah longsor dan banjir.

B. Rumusan Masalah

1. Apa sajakah jenis gempa dan karakteristik kejadian tsunami?

2. Bagaimana data kejadian dan permasalahannya?

3. Bagaimana karakteristik korban penanganan yang diperlukan?

4. Apa sajakah jenis gunung meletus dan karakteristik gunung meletus?

5. Bagaimana data kejadian dan permasalahannya?


6. Bagaimana karakteristik korban penanganan gunung meletus yang

diperlukan?

7. Apa sajakah jenis banjir dan karakteristik tanah longsor?

8. Bagaimana data kejadian dan permasalahannya?

9. Bagaimana karakteristik korban penanganan banjir dan tanah longsor yang

diperlukan yang diperlukan?

C. Tujuan

Mahasiswa diharapkan dapat:

1. Mengetahui jenis gempa dan karakteristik kejadian tsunami?

2. Mengetahui data kejadian dan permasalahannya?

3. Mengenal karakteristik korban penanganan yang diperlukan?

4. Mengetahui jenis gunung meletus dan karakteristik gunung meletus?

5. Bagaimana data kejadian dan permasalahannya?

6. Mengenal karakteristik korban penanganan gunung meletus yang

diperlukan?

7. Mengetahui jenis banjir dan karakteristik tanah longsor?

8. Mengetahui data kejadian dan permasalahannya?

9. Mengenal karakteristik korban penanganan banjir dan tanah longsor yang

diperlukan yang diperlukan?


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Gempa dan Tsunami

1. Pengertian

Gempa adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi

yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif,

akitivitas gunung api atau runtuhan batuan. Sedangkan tsunami berasal

dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan ("tsu" berarti

lautan, "nami" berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian

gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di

dasar laut akibat gempa bumi (Supartini, et.al., 2017).

2. Jenis Gempa

Berdasarkan Depkes RI (2015) jenis gempa bumi terdiri dari dua yaitu:

a. Gempa Bumi Vulkanik

Gempa bumi vulkanik adalah getaran kuat akibat kegiatan gunung

berapi.

b. Gempa Bumi Tektonik

Gempa bumi tektonik adalah getaran kuat akibat patahan bumi karena

pergesekan lempeng samudera atau lempeng bumi.

3. Tanda-tanda terjadinya gempa

a. Di dalam bangunan: semua benda yang tergantung bergoyang dan

berjatuhan, misalnya lampu gantung, pigura, jam dinding, lukisan, dll.


Semua benda yang berdiri atau terletak di atas meja bergeser dan

berjatuhan misalnya TV, radio, jam, kompor, dll.

b. Di luar bangunan: pohon, tiang listrik, lampu jalan, jembatan, serta

gedung bergetar dan jika getaran sangat kuat akan mengakibatkan

tumbang dan roboh. Retakan akan terlihat jelas pada permukaan

tanah, dinding bangunan dan jembatan.

4. Penyebab Gempa Bumi

Wilayah Indonesia itu sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena

posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu

Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik. Dari tumbukan ini terimplikasi adanya

sekitar enam tumbukan lempeng aktif yang berpotensi memicu terjadinya

gempa kuat. Wilayah Indonesia juga sangat kaya dengan sebaran patahan

aktif atau sesar aktif. Ada lebih dari 200 yang sudah terpetakan dengan

baik dan masih banyak yang belum terpetakan sehingga tidak heran jika

wilayah Indonesia itu dalam sehari itu lebih dari 10 gempa yang terjadi

sejumlah patahan aktif tersebut adalah patahan besar Sumatra yang

membelah Aceh sampai Lampung, sesar aktif di Jawa, Lembang,

Jogjakarta, di utara Bali, Lombok, NTB, NTT, Sumbawa, di Sulawesi,

Sorong, Memberamo, disamping di Kalimantan. Posisi Indonesia dikenal

berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yaitu daerah 'tapal kuda'

sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan

gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Sekitar 90%


dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi

di sepanjang Cincin Api ini (BBC, 2019).

5. Penyebab Tsunami

Menurut Fatma (2017) hal-hal yang dapat menyebabkan tsunami antara

lain:

a. Gempa Bumi bawah laut

Gempa bumi bawah laut menimbulkan banyak getaran yang akan

mendorong timbulnya gelombang tsunami. Hampir 90 persen kejadian

tsunami di dunia ini disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di

bawah laut. Gempa bumi yang terjadi dibawah laut ini merupakan

jenis gempa bumi tektonik yang timbul akibat adanya pertemuan atau

tubrukan lempeng tektonik. Gempa bumi bawah laut yang dapat

menimbulkan tsunami apabila pusat gempa terletak di kedalaman 0

hingga 30 kilometer dibawah permukaan air laut. Semakin dangkal

pusat gempa, maka akan semakin besar kesempatan untuk terjadi

tsunami. Dengan kata lain semakin dangkal pusat gempa bumi, maka

peluang terjadinya tsunami juga semakin besar. Hal ini karena getaran

yang dirasakan juga semakin besar dan semakin kuat, sehinnga

peluang terjadinya tsunami pun juga semakin kuat.

b. Gempa yang terjadi berskala di atas 6,5 skala richter. Kekuatan

minimal 6,5 skala richter dianggap sudah mampu untuk

mempengaruhi gelombang air laut, yang pada akhirnya akan

menyebabkan terjadinya tsunami.


c. Jenis sesar gempa adalah sesar naik turun. Adanya persesaran naik

turun ini akan dapat menimbulkan gelombang baru yang mana jika

bergerak ke daratan, maka bisa menghasilkan tsunami. Hal ini akan

diperparah apabila terjadi patahan di dasar laut, sehingga akan

menyebabkan air laut turun secara mendadak dan menjadi cikal bakal

terjadinya tsunami.

d. Letusan gunung api yang ada di bawah laut

Beberapa gunung aktif yang ada di bawah laut bisa berpotensi

meledak atau erupsi sewaktu- waktu. Akibat adanya letusan yang

besar atau kuat dari gunung berapi bawah laut ini, maka menyebabkan

terjadinya tsunami.

e. Terjadiya longsor bawah laut

Tsunami yang disebabkan karena adanya longsor di bawah laut

dinamakan Tsunamic Submarine Landslide. Longsor bawah laut ini

pada umunya disebabkan oleh adanya gempa bumi tektonik atau

letusan gunung bawah laut. Selain gempa bumi tektonik dan letusan

gunung berapi, tabrakan lempeng yang ada di bawah laut juga bisa

menyebabkan terjadinya longsor. Pada tahun 2008 dilakukan

penelitian di Samudera Hindia yang menyebutkan adanya palung laut

yang membentang dari pulau Siberut hingga ke pesisir Pantai

Bengkulu yang mana apabila palung tersebut longsor maka akan

terjadi tsunami di pantai barat Sumatera.


f. Adanya hantaman meteor

Tsunami dapat terjadi karena hantaman meteor atau benda langit. Hal

ini terjadi karena ukuran dari meteor yang besar. Selain itu karena

kecepatan atau laju meteor yang mencapai puluhan ribu kilometer per

jam. Seperti yang disimulasikan oleh komputer canggih, bahwa

apabila ada meteor besar (karena meteor kecil biasanya akan habis

terbakar di atmosfer bumi) misalnya berdiameter lebih dari 1

kilometer saja, maka dapat menimbulkan bencana alam yang dasyat.

Mega tsunami yang ditimbulkan memiliki ketinggian hingga ratusan

meter.

6. Tanda-tanda Tsunami

Menurut Fatma (2017) tanda awal terjadinya tsunami antara lain:

a. Terjadinya gempa atau getaran yang berpusat dari bawah laut

Terjadinya tsunami diawali oleh adanya gempa bumi atau semacam

getaran yang asalnya dari bawah atau dari dalam lautan yang berpusat

atau memiliki kedalam kurang dari 30 kilometer dan getarannya

melebihi 6,5 scalarichter.

b. Air laut tiba- tiba surut

Surutnya air laut secara tiba- tiba ini merupakan tanda- tanda yang

paling jelas ketika akan terjadi tsunami. Semakin jauh surut air laut,

maka kekuatan tsunami yang akan terjadi akan semakin besar.

Surutnya air laut disebabkan oleh permukaan laut turun secara

mendadak sehingga terdapat kekosongan ruang dan menyebabkan air


laut pantai tertarik. Dan ketika gelombang tsunami telah tercipta yang

baru, maka air akan kembali ke pantai dengan wujud gelombang yang

sangat besar.

c. Tanda- tanda alam yang tidak biasa

Sebelum terjadinya tsunami, juga terdapat beberapa tanda alam yang

tidak biasa. Tanda- tanda alam yang tidak biasa ini seperti gerakan

angin yang tidak biasa, perilaku hewan yang aneh. Beberapa perilaku

hewan yang aneh ini contohnya adalah aktifnya kelelawar di siang

hari, kemudian banyak burung- burung terbang bergerombol (padahal

biasanya tidak pernah terlihat), dan juga beberapa perilaku binatang

darat.

d. Terdengar suara gemuruh

Tanda akan terjadinya tsunami yang selanjutnya adalah terdengarnya

suara gemuruh. Seperti pengalaman Aceh yang mengalami tsunami

tahun 2004 di Aceh, dimana beberapa saat sebelum tsunami terjadi

mereka mendengar suara gemuruh yang sangat keras dari dalam laut,

yakni seperti suara kereta pengangkut barang. Beberapa diantaranya

juga mendengar suara ledakan dari dalam lautan. Hal ini cukup

menjadi suatu pertanda yang kuat akan terjadinya bencana tsunami.

7. Data Gempa Bumi dan Tsunami

a. Gempa bumi

Kejadian gempa bumi terkini di Indonesia terjadi pada 04 September

2019 pukul 20:37 WIT dengan kekuatan 4.9 SR kedalaman 36 Km


berpusat di Halmahera Barat Maluku Utara dan getaran gempa terasa

sampai di Manado Sulawesi Utara. Gempa tidak berpotensi tsunami

dan belum ada laporan tentang kerusakan dan korban dalam peristiwa

ini (BMKG, 2019).

BMKG menguraikan sepanjang sejarah gempa terbesar yang pernah

terjadi di Indonesia adalah di Banda Aceh pada 26 Desember 2006

07:58 WIB dengan kekuatan 9.1 SR. Gempa tektonik ini berpusat di

bagian pantai barat Sumatera Indonesia.

b. Tsunami

Kejadian Tsunami terbaru di Indonesia terjadi di Palu Sulawesi

Tengah pada 28 September 2018 pukul 18.02 WITA yang di awali

dengan gempa bumi yang dangkal akibat jalur sesar Palu koro yang

dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan struktur

sesar mendatar miring yang mengakibatkan terjadinya tsunami

(KEMENKES, 2018).

Akhir tahun 2018 tsunami kembali terjadi di Banten dan Lampung

pada 22 Desember 2018 pukul 21:27 WIB tsunami Banten dan

Lampung terjadi di sebabkan oleh gelombang pasang surut air laut

yang tidak normal karena bulan purnama dan longsor yang terjadi di

bawah laut setelah letusan gunung berapi anak gunung krakatau

(Humanity Road/Animals in Disaster, 2018).

Dalam katalog tsunami Indonesia perwilayah yang diluncurkan oleh

BMKG, tsunami terbesar yang pernah terjadi di Indonesia adalah


tsunami yang terjadi di Banda Aceh pada 26 Desember 2006.

Tsunami ini di awali dengan gempa bumi 9.1 SR pukul 07:58 WIB,

setelah gempa air laut surut selama 30 menit. Tepat 44 menit setelah

gempa gelombang tsunami pertama datang pada pukul 08.42.

Gelombang kedua pada pukul 08:53 WIB terjadi lebih besar dari

gelombang pertama kemudian pada pukul 09:15 WIB terjadi

gelombang tsunami paling besar dari sebelumnya yang meluluh

lantakan kota Banda Aceh dan sekitarnya (BMKG, 2018).

8. Permasalahan Akibat Gempa Bumi dan Tsunami

Menurut BBC (2018) akibat gempa dan tsunami yang terjadi dapat

menyebabkan beberapa permasalahan yaitu:

a. Korban manusia

Gempa dan tsunami dapat mengakibatkan banyak orang meninggal

dunia, luka berat, ribuan orang harus mengungsi.

b. Masalah infrastruktur

Secara infrastruktur kerusakan yang terjadi akibta gempa dan tsunami

dapat berupa kerusakan rumah dan bangunan, kerusakan infrastruktur

seperti jembatan, dan jalan.

c. Kegiatan perekonomian terhambat

Kerusakan akibat gempa maupun tsunami menyebabkan lumpuhnya

perekonomian di wilayah tertentu. Misalnya hancurnya pertokoan,

kantor-kantorakan menyebabkan kegiatan perekonomian terhenti.

d. Kerugian spiritual
Kerugian spiritual dalam hal ini berkaitan dengan masalah kejiawaan.

Para korban gempa maupun tsunami yang kehilangan harta benda dan

juga keluarganya tentu akan mengalami trauma yang mendalam.

e. Muncul bibit penyakit

Ketika gelombang tsunami meluluhlantakkan daratan maka banyak

benda-benda kotor, tanah berlumpur, lingkungan tidak bersih, jasad-

jasad manusia dan hewan-hewan yang akan mengakibatkan kuman

penyakit mudah berkembang biak.

9. Karakteristik Tsunami

Tsunami dapat terjadi bersamaan dengan gempa bumi apabila getaran

sangat kuat, menimbulkan kerusakan hebat, air laut surut secara drastic

dan selang beberapa menit muncul gemuruh dari air laut.

10. Penanganan Gempa Bumi dan Tsunami

Secara umum penanganan gempa bumi dan tsunami menurut Kurniati,

et.al (2018) meliputi:

a. Tahap pencegahan bencana

Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan dan atau

mengurangi ancaman bencana. Kegiatan ini dalam UU Bencana

dibagi dalam pencegahan dan mitigasi, serta kesiapsiagaan bencana.

b. Tahap tanggap darurat

Merupakan kegiatan yang dilakukan dengan segera saat bencana

untuk mengurangi dampak bencana yang diantaranya: evakuasi,


penyelamatan, pengobatan korban bencana, pengungsian serta

pemulihan sarana dan prasarana.

c. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi

Rehabilitasi untuk pemulihan semua aspek pelayanan dan kondisi

masyarakat serta rekonstruksi untuk pembangunan kembali sarana dan

prasarana agar masyarakat dapat berfungsi kembali.

Menurut Depkes (2019) tahapan penanganan bencana meliputi:

a. Tanggap Darurat

Tujuan : Penyelamatan Jiwa

1) Pembentukan Tim Tanggap Darurat/ Klaster Kesehatan

2) Memobilisasi SDM untuk Penyelamatan Korban

3) Melaksanakan Pelayanan Kegawatdaruratan dan tindakan operasi

bedah

4) Melakukan penilaian cepat kerusakan Faskes dan Sarpras

5) Mendirikan posko kesehatan di beberapa wilayah

6) Pengendalian Vektor Penyakit

7) Memobilisasi logistik

b. Rehabilitasi

Tujuan: pemulihan standar pelayanan minumun

1) Koordinasi Pelayanan Kesehatan dengan Sub Klaster Kab/Kota

2) Mengaktifkan Pelayanan Kesehatan Primer dan Sekunder

3) Mengaktifkan sistem rujukan

4) Pemantauan perkembangan penyakit pasca bencana (surveilans)


5) Rehabilitasi Psikologis

6) Pendistribusian Bahan Kontak (Higyne Kit, Persalinan Kit dll).

c. Rekonstruksi

Tujuan : Pembangunan Kembali Seluruh Sistem

1) Mengembalikan pelayanan klaster dan sub klaster ke program

2) Memulihkan sistem rujukan

3) Pemenuhan standar pelayanan pada Fasyankes

4) Pemenuhan standar SDMK pada Fasyankes

Menurut BNPB (2017) hal-hal yang perlu dilakukan secara mandiri pada

saat terjadi gempa bumi meliputi:

a. Jangan panik, kepanikan bisa menimbulkan korban, sebaiknya ikuti

jalur evakuasi dari petugas.

b. Tentukan jalan melarikan diri, pastikan tahu jalan yang paling aman

untuk meninggalkan rumah setelah gempa.

c. Tentukan tempat bertemu (titik kumpul) jika teman atau keluarga

berpencar.

d. Hindari benda-benda yang bisa jatuh menimpa badan dan gunakan

segitiga aman.

e. Jika berada di dalam bangunan segera menuju tempat terbuka sembari

lindungi kepala, atau berlindung di bawah meja yang kokoh sambil

memegang kakinya.

f. Jika berada di tangga berpegangglah pada pagar untuk menjaga

keseimbangan agar tidak jatuh.


g. Jika terjebak dalam ruangan atau tertimpa benda sehingga tidak dapat

bergerak jangan menghabiskan energi dengan terus menerus berteriak.

Lebih baik ketuk benda yang ada mendapatkan pertolongan.

B. Gunung Meletus

1. Jenis Gunung Meletus dan Karakteristik Letusan Gunung Api

Meningkatnya aktifitas gunung merapi ternyata secara teoritis merupakan

rangkaian akitifitas vulkanisme akibat meningkatnya aktifitas kegempaan

di zona subduksi yang membentang dari sebelah barat pulau sumatera,

selatan pulau jawa, bali, NTT, NTB, Sulawesi, dan irian jaya. Dijalur ini

dikenal sebagai ‘’ring of fire’’ ditandai dengan deratan gunung api yang

jumlahnya di Indonesia mencapai 129 tergolong aktif. Kejadian gempa

bumi di yogya dan jawa tengah tahun 2006 juga seirama dengan

meningkatnya aktifitas gunung merapi.Ini berarti bahwa antara kegiatan

kegempaan di zona subduksi (gempa bumi) semakin rentan terhadap

bahaya bencana alam. Data di BNPB menunjukkan bahwa indeks resiko

bencana untuk DIY dan jawa tengah termasuk tinggi hingga sangat tinggi,

karena ada ancaman lain berupa tanah longsor, banjir, kekeringan, putting

beliung dan tsunami maupun ancaman kenaikan muka air laut

(Sudibyakto, 2011).

Secara umum letusan gunung dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu :

a. Erupsi magma

yang disebabkan tekanan gas di dalam perut bumi.


b. Letusan Freatomagma atau hidrovulkanik

Terjadi akibat adanya kontak antara magma dengan air bawah

permukaan atau formasi batuan yang banyak mengandung air

menghasilkan abu dan material vulkanik halus.Erupsi ini dicirikan

dengan semburan abu vulkanik yang kadang kala diselingi oleh suara

gemuruh dan dentuman.

c. Letusan freatik

Adalah erupsi yang disebabkan adanya kontak air dengan

magma.Bedanya dengan erupsi freatomagma, erupsi freatik sebagian

besar terdiri dari gas atau uap air.

Dari tiga kategori ini, erupsi dibagi lagi berdasarkan tingkatan

kedahsyatan letusan serta tinggi tiang asap yaitu :

1) Tipe Hawaiian, yaitu erupsi yang umumnya berupa semburan lava

pijar seperti air mancur dan pada saat bersamaan diikuti leleran

lava pada celah-celah gunung berapi atau kepundan. Semburan ini

bisa berlangsung selama berjam-berjam hingga berhari-hari.

Karena sangat cair, semburan lava ini bisa mengalir berkilometer-

kilometer jauhnya dari puncak gunung. contoh erupsi jenis ini

adalah letusan kawah Kilauea Iki di puncak Gunung Kilauea

(1959) dan letusan Maula Ulu pada 1969-1974 yang terkenal akan

semburan lavanya yang spektakuler.

2) Tipe Merapi diambil dari letusan gunung Merapi. Tipe letusan ini

biasanya terjadi pada gunung api tipe andesit yang berbentuk


kerucut. Fragmen-fragmen guguran lava terbentuk ketika kubah

lava tidak stabil pada gunung api.

3) Tipe Strombolian, hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan

lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada

gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua. Nama

Strombolian diadopsi dari letusan gunung berapi Stromboli di

Italia. Contohnya seperti beberapa letusan gunung berapi di

Indonesia, seperti gunung raung di Bali dan Gunung Sinabung di

Sumatera Utara dapat dikategorikan sebagai tipe Strombolian yang

mengeluarkan lava yang cair tipis, tekanan gas yang sedang,

material padat, gas, serta cairan. Letusan tipe ini tidak terlalu kuat,

tetapi bersifat terus menerus, berlangsung dalam jangka waktu

yang lama, serta tak dapat diperkirakan kapan berakhir.

4) Tipe Vulkanian, adalah erupsi magmatis berkomposisi andesit

basaltik sampai dasit, umumnya melontarkan bongkahan di sekitar

kawah. Material yang dilontarkan tidak hanya berasal dari magma

tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik. Letusan tipe

ini dicetuskan Guiseppe Mercalli yang menyaksikan letupan di

Pulau Vulcano, sebelah utara Italia, tahun 1888-1890. Letusan ini

diawali dengan letusan freatomagmatik yang menghasilkan suara

dentuman yang sangat keras. Hal ini terjadi karena adanya interaksi

antara magma dan air di bawah permukaan. Material yang

dihasilkan oleh letusan tipe Vulcanian lebih luas dibandingkan


letusan tipe Hawaiian dan Strombolian. Letusan tipe Vulcanian

pernah terjadi pada gunung api Guego (Guatemala, 1944),

Augustine (Alaska, 1976), Sakurajima (Jepang, 1985).

5) Letusan Tipe Pelean, adalah letusan tipe ini dinamai sesuai dengan

letusan Gunung Pelee di Pulau Martinique, kawasan Karibia, tahun

1902. Jenis erupsi ini menyerupai letusan Vulkanian, hanya saja

terdapat campuran gabungan lava dan tingkat gas yang tinggi. Saat

erupsi, lava tersebut cenderung encer dan mengalir dengan

kecepatan tinggi sehingga sangat membahayakan. Contoh letusan

tipe Pelean adalah gunung Hibok-Hibok (1948-1951).

6) Tipe Plinian, merupakan letusan paling eksplosif. Material yang

dilontarkan bisa berupa gas dan abu setingi 50 kilometer dengan

kecepatan beberapa ratus meter per detik. Biasanya erupsi tipe

Plinian berwujud seperti jamur. Letusan jenis ini dinamai sesuai

dengan sejarawan Romawi, Pliny, yang mencatat sejarah

meletusnya Gunung Vesuvius pada tahun 79 Sesudah Masehi.

Letusan tipe Plinian bisa menghilangkan seluruh puncak gunung,

seperti yang terjadi pada Gunung St Helens pada 1980. Namun,

durasinya cukup singkat, kurang dari sehari atau beberapa hari.

Beberapa gunung berapi yang mempunyai karakteristik letusan tipe

Planian yaitu Krakatau (Indonesia, 1883) dan Tambora (Indonesia,

1815). (https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42080857).
2. Data Kejadian dan Permasalahannya

Di Indonesia kurang lebih terdapat 80 buah dari 129 buah gunung aktif

yang diamati dan dipantau secara menerus. Beberapa bahaya letusan

gunung api antara lain berupa aliran lava, lontaran batuan pijar, hembusan

awan panas, aliran lahar dan lumpur, hujan abu, hujan pasir, dan semburan

gas beracun. Data kejadian gunung meletus di indonesia dari 2018-2019

bahwa telah terjadi 63 kali letusangunung api. Jumlah kejadian letusan

gunung api pada tahun 2018 di berbagai provinsi di indonesia adalah di

sumatera utara 16 kali letusan, sumatera barat 2 kali, lampung 1 kali, jawa

tengah 6 kali, bali 24 kali, sulawesi utara 2 kali, maluku utara 1 kali

letusan.

Peristiwa letusan merapi tahun 2006 yang mengakibatkan ratusan warga

lereng merapi harus mengungsi (evakuasi) selama hampir dua bulan

berada di tenda-tenda pengungsian yang telah disiapkan sebelumnya oleh

Pemda Sleman.Berbagai persoalan terkait dengan nasib pengungsi

menyebabkan mereka tidak sanggup bertahan lama tinggal dipengungsian.

Masalah yang mereka hadapi antara lain tidak tersedianya sarana dan

prasarana pengungsian yang memadai, variasi makanan yang kurang

bergizi, memburuknya kondisi sinitasi dan kesehatan lingkungan

dipengungsian, kebutuhan biologis terhambat, nasib anak-anak sekolah,

keamanan rumah, dan segudang masalah terkait dengan masalah jaminan

hidup dan jaminan kesehatan. Meskipun model penanganan pengungsian


di lereng Merapi ini merupakan praktek baik bagi penanganaan

pengungsian akibat letusan gunung api, bila dibandingkan dengan

penanganaan bencana di tempat lain. Permasalahan lain yang sering timbul

akibat letusan gunung api adalah :

a. Luka bakar dengan berbagai derajat keparahan,

b. Cedera dan penyakit langsung akibat batu, krikil, larva dan lain-lain.

c. Perburukan penyakit yang sudah lama diderita oleh pasien yang tinggal

di pengungsian.

d. Dampak abu gunung berapi (baik jenis gas seperti S02, H2S, N02 dan

lain-lain serta dalam bentuk TSP atau PM.

e. Dampak lain seperti kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu, jatuh

karena panik, kontaminasi makanan.

3. Karakteristik Korban Gunung Meletus Dan Penangannya

a. Luka Bakar Parah

Karakteristik:

1) Luka bakar partial thickness 15-25% area permukaan tubuh total

pada individu dewasa

2) Luka bakar full thickness kurang dari 10% area permukaan tubuh

total yang tidak menckup area perawataan khusus (mata, telinga,

wajah, telapak tangan, telapak kaki dan perineum)

3) Lebih dari 25% area permukaan tubuh total pada individu dewasa

4) Semua luka bakar full thickness 10 % atau lebih area permukaan

tubuh total
Penanganan:

1) Apabila pakaian korban terbakar, gunakan selimut, handuk atau

sprei tebal untuk mematikan api

2) Segera cari bantuan kesehatan

3) Periksa pernapasan korban. Apabila dibutuhkan, berikan napas

bantuan (jika kamu terlatih)

4) Hentikan perdarahan

5) Sambil menunggu bantuan datang, pindahkan korban ke tempat

perawatan.

6) Singkirkan benda-benda yang menahan panas, seperti pakaian atau

perhiasan. Gunakan gunting untuk memotongsekeliling pakaian

yang dapat dengan mudah dilepas, tetapi jangan memindahkan

pakaian yang melekat pada lika bakar.

7) Dinginkan luka di bawah air yang mengalir

8) Tutupi luka yang sudah dingin dengan kasa atau kain basah yang

bersih. Jangan menggunakan kapas atau kain berbulu.

9) Angkat bagian tubuh yang terluka.

10) Apabila korban sadar dan haus, beri mereka banyak minum air

hangat.

11) Resutitasi

Untuk mengatasi syok luka bakar, panduan resusitasi cairan dan

elektrolit berlebihan yang berkaitan dengan cidera luka bakar


parah. Pengantian cairan diperlukan pada semua luka bakar yang

mencakup lebih dari 20 % TBSA.

a) Cairan kristaloid diberikan melalui 2 kateter berdiameter besar

lebh dipilih dipasang pada kulit yang tidak mengalami luka

bakar. Larutan laktat ringer yang dihangatkan adalah cairan IV

yang paling sering digunakan pada 24 jam pertama.

b) Rumus yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

i. Rumus parkland, ketika larutan laktat ringer diberikan 4 Ml

x KG x % TBSA luka bakar

ii. Rumus Brooke yang dimodifikasikan, ketika larutan laktat

ringer diberikan 2 ml x kg x %TBSA luka bakar

Rumus ini menentukan volume cairan yang di infuskan

dalam 24 jam pertama dari waktu cedera luka bakar, dengan

50% cairan yang di infuskan selama 8 jam pertama, yang

dilanjutkan dengan 50% sisanya pada 16 jam berikutnya

(25% per 8 jam). Dalam 24 jam kedua, cairan untuk pasien

yang mengalami luka bakar yang lebih besar (misalnya

lebih dari 30% TBSA) digantikan dengan larutan kristaloid

dekstrosa 5% dalam air yang dititrasi untuk

mempertahankan haluaran urin.

4. Luka Bakar Ringan

Karakteristik
a. Luka bakar partial thickness kurang dari 15% area permukaan

tubuh total pada individu dewasa.

b. Luka bakar full thickness kurang dari 2% area permukaan tubuh

total yang tidak menckup area perawataan khusus (mata, telinga,

wajah, telapak tangan, telapak kaki dan perineum).

Penanganan

a. Dinginkan luka di bawah air yang mengalir selama 10 menit atau

gunakan kain lembab.

b. Tutupi luka dengan pembalut atau kain bersih yang tidak lengket.

Pastikan bahwa pembalut atau kain yang menutupi seluruh bagian

luka itu bersih.

5. Kecemasan

Karakteristik

a. Aspek Fisik

Suhu badan meninggi, emnggigil, badan terasa lesu, mual-mual,

pening, ketidakmampuan menyelesaikan masalah, sesak napas, panik.

b. Aspek Emosi

Hilangnya gairah hidup, ketakutan, dikendalikan emosi, dan merasa

rendah diri.

c. Aspek Mental

Kebingungan, tidak mudah berkonsentrasi, tidak mampu mengingat

dengan baik, tidak dapat menyelesaikan masalah.

d. Aspek Perilaku
Sulit tidur, kehilangan selera makan, makan berlebihan, banyak

merokok, minum alkohol, menghindar, sering menangis, tidak mampu

berbicara, tidak bergerak, gelisah, terlalu banyak gerak, mudah marah,

ingin bunuh diri, menggerakkan tubuh secara berulang-ulang, rasa

malu berlebihan, mengurung diri, menyalahkan orang lain.

e. Aspek Spiritual

Putus asa, kehilangan harapan, menyalahkan Tuhan, berhenti ibadah,

tidak berdaya, meragukan keyakinan dan tidak tulus, dll.

Penanganan

a. Usahakan seluruh anggota keluarga berkumpul dalam satu tempat

pengungsian, tidak terpisah-pisah.

b. Bila bertemu anak-anak yang mengalami kecemasan atau ketakutan

coba tenangkan dan beri waktu yang cukup, biarkan bercerita tentang

pengalaman dan perasaan mereka selama kejadian gunung meletus.

c. Libatkan anak-anak dalam kegiatan pasca gunung meletus dengan

kegiatan yang menyenangkan. Berikan suasana renponsif dan tidak

menambah suasana takut.

d. Bila ketakutan berlarut-larut diduga terjadi trauma psikologis, segera

konsultasikan kepada psikolog.(Priscilla, Lemone. 2015).

C. Tanah Longsor dan Banjir

1. Permasalahan dan Penanganan Tanah Longsor dan Banjir

a. Jenis banjir dan karakteristik


1) Banjir : Banjir merupakan bencana yang sangat ruti terjadi terutama

saat musim penghujan tiba. Umumnya banjir terjadi akibat

penyumbatan dialran sungai akibat sampah yang berserakan.

Banjir dibagi menjadi 3 kategori :

1) Banjir (genangan)

2) Banjir Bandang : merupakan banjir yang sangat berbahaya,

seringkali menimbulkan korban jiwa. Mengangkut air dan juga

lumpur.

3) Banjir Rob : terjadi akiat air laut yang pasang umumnya menerjan di

kawasan pesisir pantai.

Hal hal yang bisa mengakibatkan kefatalan (cidera sampai meninggal).

1) Arus : arus air sangat kuat dan bisa menghanyutkan

2) Kedalaman atau ketinggian air

3) Benda yang terbawa arus

4) Hewan berbisa

5) Listrik

6) Benda tajam atau keras di dalam air

7) Air yang tercemar

2. Data kejadian dan Permasalahnnya

a. Data Kejadian

Badan Nasional penanggulanganan Bencana (BNPB) menyatakan

bahwa telah terjadi 1.538 kejadian bencana di indonesia selama 2019,

terhitung sejak 1 januari hingga 30 April. Jumalah bencana ini


mengakibatkan 325 orang meninggal, 113 orang hilang, 1.439 orang

luka-luka dan sebanyak 996.143 orang mengungsi dan menderita.

Berdasarkan sebaran kejadian bencana per provinsi, maka bencana

paling banyak terjadi di Jawa Tengah (472 kejadian), Jawa Barat (367),

Jawa Timur (245), Sulawesi Selatan (70) dan Aceh (51).

b. Permasalahan yang sering timbul karena banjir antara lain :

1) Diare / amebasis

2) Dermatitis : kontak jamur, bakteri, skabies

3) ISPA

4) ASMA

5) Leptospirosis

6) Konjungtivitis (bakteri dan virus)

7) Gastritis

8) Trauma / memar

3. Karakteristik Korban dan Penanganan yang diperlukan.

Karakteristik korban :

a. Korban tenggelam dan nyaris tenggelam

b. Waspadai bahaya, utamakan keselamatan.

c. Jangan langsung menolong orang tenggelam atau nyaris tenggelam.

Ingat keselamatan anda.

d. Periksa kesadaran korban

e. Periksa apakah korban masih bernafas? Bebaskan jalan nafas


f. Bila tidak bernafas, segera untuk mencari pertolongan, kecuali jika

kamu terlatih untuk melakukan pertolongan pertama pada kedaruratan,

maka kamu dapat memberikan pernafasan buatan dan pijitan punggung.

g. Selalu gunakan pelampung disaat anda akan menolong orang yang

tenggelam atau nyaris tenggelam.

Bila Korban tidak sadarkan diri dan tidak bergerak

a. Hubungi nomor darurat di daerah anda

b. Jika kamu terlatih untuk melakukan pertolongan pertama

kegawatdaruratan maka lakukanlah prosedur seperti berikut:

1) Baringkan korban. Dan berlututlah disamping korban, dekat dengan

bahunya

2) Bersihkan saluran nafas korban. Angkat dagu korban dan miringkan

kepala kebelakang dan keatas, pegang rahangnya dengan tangan.

Pastikan tidak ada hal yang menyumbat saluran pernapasan, apa bila

ada hal-hal yag menyumbat, gunakan kedua jari kamu untuk

mengeluarkan hal tersebut.

3) Priksa pernapasanya. Liat naik turun dada bagian bawah dan perut.

Dengar dan rasakan keluarnya udara darihidung dan mulut dengan

meletakkan pipi kamu kewajah korban. Apabila tidak bernafas 5

sampai 10 detik, segera berikan nafas bantuan mulut ke mulut.

4) Apabila korban belum bernafas dengan sendirinya lakukanlah

kompresi dada/mulailah penekanan dada. Tekan dada korban


sedalam 4-5 cm dengan lembut dan cepat (100x tekanan/menit).

Setelah 30 tekanan beri 2 nafas bantuan

5) Lanjutkan pemberian nafas bantuan setiap 30 kali tekanan 8.

6) Setelah 5 putaran lihat dengar dan rasakan untuk mengetahui apakah

korban telah bernafas dengan sendirinya

7) Apabila korban mulai bernafas miringkan badan dalam posisi

recovery serta periksa pernafasan secara berkala.

Bila Korban hipotermia:

1) Pindahkan korban dari lingkungan yang dingin

2) Ganti pakaian yang basah dengan yang kering Selimuti

3) Bila sadar berikan minuman hangat

4) Bila bisa mengunyah berikan makanan berkalori tinggi pantau

kesadaran

5) segera kirimkan ke rs atau instansi kesehatan bila : mengalami

kebingungan atau disorientasi, tidak sadarkan diri, sangat menggigil,

tubuhnya sangat dingin, jagalah jalan nafas sepanjang menuju

4. Hal yang harus dilakukan ketika banjir:

a. Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus

banjir.

b. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk

mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana.


c. Mengungsi ke daerah aman atau posko banjir sedini mungkin saat

genangan air masih memungkinkan untuk dilewati.

d. Segera amankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

e. Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan

penanggulangan bencana

5. Jenis longsor dan karakteristika.

a. Longsor : Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah

atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar

lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun

lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan

pada tanah/batuan penyusun lereng. Dibagi menjadi 6 kategori :

1) Longsoran translasi : longsor yang terjadi akibat pergerakan masa

tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau

menggelombang landai.

2) Longsoran rotasi : pergerakan masa tanah dan pada bidang gelinci

berbetuk cekung, ummnya terjadi di perbukitan.

3) Pergerakan blok : longsoan yang disebabkan oleh perpindahan

batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata

4) Runtuhan batu : terjadi karena ada sejumlah batu dan material batu

yang jatuh kaarah bawah dalam jumlah banyak, terjadi di lereng

terjal terutama daerah pantai.

5) Rayapan tanah : jenis tanah longsor yang bergerak lambat


6) Aliran bahan rombakan : longsor ini terjadi karena masa tanah

bergerak didorong oleh air.

b. Data kejadian dan permasalahannya

1) Data kejadian longsor

2) Permasalahan yang sering timbul karena bencana longsor :

a) Fraktur tulang

b) Luka memar

c) Luka sayatan

d) Hipoksia

3) Karakteristik korban dan penanganan yang diperlukan :

a) Korban Luka

i. Teteap tenang dan selamatkan diri terlebih dahulu, kemudian

baru menolong orang lain.

ii. Cari bantuan jika memungkinkan, kirimlah seseorang untuk

mencari bantuan karena korban sebaiknya tidak ditinggal

sendiri.

iii. Hubungi rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat


iv. Jangan pindahkan korban patah tulang atau luka di bagian

pungung tanpa menggunakan tandu

v. Jangan memberikan makan atau minuman pada korban

vi. Beri korban dukungan kejiwaan. Dukungan kejiwaan

meningkatkan kemungkinan korban bertahan hidup

vii. Pindahkan bahu korban secara perlahan sambil menanyakan

beberapa pertanyaan mudah seperti nama korban, dll. Orang

yang sadar akan membalas dengan gerakan, membuat suar atau

menjawab pertanyaan.

4) Penanganan longsor yang harus dilakukan :

a) Sebelum terjadi Longsor

i. Segera keluar dari daerah longsoran atau aliran

reruntuhan/puing ke area yang lebih stabil.

ii. Bila melarikan diri tidak memungkinkan, lingkarkan tubuh

anda seperti bola dengan kuat dan lindungi kepala anda.

iii. Bila memungkinkan dan tidak membahayakn diri,segera

menutup retakan tanah dengan material kedap 9menimbun

dengan tanh lempung0, agar air hujan meresap masuk ke

dalam lereng.

iv. Bila memungkinkan dan tidak membahayakan diri segera

membuat saluran air permukaan yang kedap air, untuk

mengalirkan air permuikaan (air hujan) menjauh dari lereng

yang retak.
v. Bila memungkinkan dan tidak membahayakan diri, segera

membuat saluran bawah permukaan (denagn pipa/bambu)

untuk menguras air yang telah meresep ke dalam lereng.

vi. Menjauh dari lereng rentan pada saat hujan

vii. Seluruh langkah di atas JANGAN DILAKUKAN apabila

hujan masih berlangsung, harus menunggu hujan reda selama

beberapa jam.

b) Setelah terjadi Longsor

i. Mematuhi larangan memsuki area eakuasi dan bantu sosialisasi

larangan itu kepada warga, untuk memperlancarkan proses

pencarian, pertolongan dan mencegah bertambahnya korban.

ii. Membantu penanganan warga atau keluarga yang

membutuhkan penanganan gawat darurat, termasuk membantu

rujukan ke rumah sakit bila diperlukan.

iii. Membantu memberikan data kepada petugas pengkajian cepat

tentang kerusakan, kebutuhan dan kehilangan asset keluarga.

iv. Membantu orang lain yang memerlukan bantuan khususnya

anak-anak, orang tua dan orang cacat.

v. Medengarkan siaran radio local atau teleisi untuk informasi

keadaan terkini

vi. Mewaspadai akan adanya banjir atau aliran reruntuhan setelah

longsor
vii. Melaporkan kerusakan fasilitas umum yang terjadi kepada

pihak yang berwenang.

viii. Memeriksa kerusakan pondasi rumah dan tanah disekitar

terjadinya longsor.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Gempa adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang

disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas

gunung api atau runtuhan batuan. Sedangkan tsunami berasal dari bahasa

Jepang yang berarti gelombang ombak lautan ("tsu" berarti lautan, "nami"

berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak

laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa

bumi (Supartini, et.al., 2017).

Jenis gempa berdasarkan Depkes RI (2015) jenis gempa bumi terdiri dari dua

yaitu gempa bumi vulkanik dan gempa bumi tektonik. Permasalahan akibat

gempa bumi dan tsunami yaitu korban manusia, masalah infrastruktur,

kegiatan perekonomian terhambat, kerugian spritual, muncul bibit penyakit.

Karakteristik korban gunung meletus yaitu luka bakar parah, luka bakar

ringan dan kecemasan.

Banjir merupakan bencana yang sangat rutin terjadi terutama saat musim

penghujan tiba. Umumnya banjir terjadi akibat penyumbatan dialiran sungai

akibat sampah yang berserakan. Jenis banjir dibagi menjadi 3 yaitu : banjir

genangan, banjir bandang dan banjir rob. Karakteristik tanah longsor yaitu
longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu rayapan

tanah, aliran bahan rombakan.

B. Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sehingga dapat

dicontohi dan dipakai kedepannya. Penulis menyadari bahwa makalah diatas

banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan

memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber

yang dapat dipertanggung jawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan

kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.


DAFTAR PUSTAKA

Badan Metodologi Klimatologi dan Geofisika. 2018. Katalog Tsunami Indonesia

Tahun 416-2017.

BBC. 2018. Mengapa Gempa Terus Terjadi di Indonesia. Diakses dari

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45086874.

Depkes. 2018. Update Data Bencana Sulawesi Tengah. Diakses dari

https://www.depkes.go.id

Depkes RI. 2019. Kesiapan Menghadapi Bencana di Sulteng. Diakses dari

https://www.depkes.go.id

BNPB. 2012. Buku saku tanggap tangkas tangguh menghadapi bencana. BNPB :

jakarta.

BMKG. 2018. Tsunami Provinsi Banten Indonesia. Diakses dari

https://cdn.bmkg.go.id/.

Fatma, Dessy. 2017. Bencana Tsunami Pengertian, Penyebab, Dampak dan

Tanda-Tanda. Diakses dari

https://ilmugeografi.com/bencanaalam/bencana-tsunami.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Buku penanggulangan krisis

kesehatan untuk anak sekolah. Jakarta. Diakses pada tanggal 4 September

2019. Http://penanggulangankrisis.kemenkes.go.id

Kurniati, Amelia, et.al. Ed. 2018. Keperawatan Gawat Darurat dan Bencana

Sheehy. Singapura: Elsevier.

Priscilla, Lemone. 2015. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta; EGC
Sudibyakto.(2011). Manajemen Bencana di Indonesia.Yogyakarta; Gadjah Mada

University Press. Di akses dari https://www.bbc.com/indonesia/majalah-

42080857.

Supartini , Eny, et.al. 2017. Buku Pedoman Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana.

Jakarta: BNPB.