Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN (FIELDTRIP)

DI BOGOR JAWA BARAT

AHMAD FAUZAN

D1A016137

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


PEMINATAN AGRONOMI

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

JULI 2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat


rahmat dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan
laporan kunjungan lapangan ini. Dalam penyusunan kunjungan lapangan ini
tidak sedikit kami mengalami hambatan dan kesulitan, namun berkat bantuan,
bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak serta kerja keras, alhamdulillah
laporan kunjungan lapangan ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Kami juga menyadari penyusunan laporan praktikum ini masih jauh dari
sempurna, baik dalam segi isi, maupun penulisan. Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang positif dan bersifat membangun demi
perbaikan dimasa yang akan datang. Dan kami juga berharap semoga laporan
kunjungan lapangan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin..

Jambi,20 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB. I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1

1.2 Tujuan .....................................................................................................

BAB. II. ISI

2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan .............................................................

2.2. Data yang diperoleh ...............................................................................

2.3 Pembahasan .............................................................................................

BAB. III. KESIMPULAN .............................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

LAMPIRAN ..................................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sesuai dengan kurikulum yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian


Universitas Jambi dengan salah satu usaha untuk menghasilkan lulusan yang
berkompeten dengan adanya kegiatan kunjungan lapang atau fieldtrip. Fieldtrip
diwajibkan untuk mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jambi, yang mana
fieldtrip merupakan salah satu syarat untuk ujian skripsi. Kegiatan ini bersifat
menambah wawasan mahasiswa tentang fakta yang ada di lapangan dan berkaitan
dengan mata kuliah yang dipalajari. Sehingga mahasiswa Program Studi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian akan mengunjungi Balai Besar Pelatihan
Pertanian Lembang, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian Bogor, Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor, , Wisata Farm House, Museum
Pertanian, dan Kebun Raya Bogor.

Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini
terletak 59 km di sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah
wilayah Kabupaten Bogor. Dahulu luasnya 21,56 km², namun kini telah
berkembang menjadi 118,50 km² dan jumlah penduduknya 1.081.009 jiwa (2017).
Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang
sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 Kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah
68 Kelurahan. Pada masa Kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama
Buitenzorg (pengucapan: boit'n-zôrkh", bœit'-) yang berarti "tanpa kecemasan"
atau "aman tenteram".

1.2 Tujuan

Tujuan dari kunjungan lapangan atau fieldtrip adalah untuk mengetahui


secara langsung tentang pertanian yang terdapat di luar kampus, dapat mengamati
secara langsung objek-objek yang berhubungan langsung dengan mata kuliah
yang bersangkutan dan menambah pengalaman baru dengan langsung turun ke
lapangan serta menambah wawasan dan pengetahuan dari tempat-tempat yang
dikunjungi.

1
BAB II
ISI
2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari, Pukul (WIB) Kegiatan
Tanggal
Senin 07.00 - 09.00 Persiapan dan pelepasan
29 Juli 2019 09.00 - ........ Perjalanan menuju Jakarta
Selasa ....... - 08.00 Diperkirakan tiba di Merak, Banten
30 Juli 2019 08.00 - 10.00 Sarapan pagi, bersih diri dan persiapan
10.00 - 12.00 Melanjutkan perjalanan ke Jakarta
12.00 - 17.00 Wisata MONAS
17.00 - 18.00 Melanjutkan perjalanan menuju hotel
18.00 - ....... Chek-In di hotel, istirahat, free program
Rabu 06.00 - 08.00 Persiapan dan sarapan pagi
31 Juli 2019 08.00 - 09.00 Melanjutkan perjalanan menuju BALITRO
09.00 - 11.00 Kunjungan BALITRO
13.00 - 14.00 Melanjutkan perjalanan menuju IPB
14.00 - 17.00 Kunjungan IPB
17.00 - 19.00 Melanjutkan perjalanan menuju hotel
20.00 - ........ Kembali ke hotel, istirahat, free program
Kamis 06.00 - 07.00 Persiapan Chek-Out dan sarapan pagi
01 Agustus 07.00 - 08.00 melanjutkan perjalanan menuju BSB, di Cisarua
2019 08.00 - 10.00 Kunjungan BSB
10.00 - 12.00 Melanjutkan perjalanan ke Bogor
13.00 - 16.00 Wisata Kebun Raya Bogor, Museum Tanah dan
Museum Pertanian
........ - 17.00 Melanjutkan perjalanan menuju Jambi
Jum'at ....... - 19.00 Tiba di Jambi
02 Agustus
2019

2.2 Data yang Diperoleh


2.2.1 BALITRO

Gambar 1. Tapak Dara (Vinca rosea)

2
Gambar 2. Ekor Kucing (Acalyphahispida Burm f.)

Gambar 3. MIMBA (Azadirachta indica A. Juss.)

Gambar 4. PACI-PACI( Leucas lavandulifolia)

Gambar 5. Bidara Upas( Merremia mammosa)

3
Gambar 6. Hanjeli (Coix lacryma-jobi)

Gambar 7. Kembang Sepatu ( Hibiscus rosa-sinensis )

Gambar 8. Pacar Kuku Gambar 9. Benih lada


( Lawsonia inermis) Natar

4
2.2.2 Fakultas Pertanian IPB

Gambar 10. Sesi tanya jawab dengan Dekan Fakultas Pertanian Dr. Ir.
Suwardi M.Agr

Gambar 11. Auditorium Toyib Hadiwijaya

2.2.3 Bina Sarana Bakti (BSB), Cisarua

Gambar 12. Gedung BSB

5
Gambar 13. Penyiapan media tanam

Gambar 14. Penyemaian sebelum di pindah ke lahan

Gambar 15. Beberapa tanaman yang dibudidayakan

6
Gambar 16. Proses Penyortiran

Gambar 18. Proses Pengemasan

Gambar 19. Pembuatan Kompos

7
2.2.4 Museum Pertanian

Gambar 20. Gedung Museum Pertanian

2.2.5 Kebun Raya Bogor

2.3 Pembahasan

1. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO)

Balittro secara struktural merupakan unit pelaksana teknis yang berada di


bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, yang berdiri pada tahun
1817 dengan asal nama land plantentuin buitenzorq. Departemen Pertanian yang
memiliki mandat untuk meneliti tanaman obat, rempah-rempah, dan sumberdaya
industri nabati lainnya.
Penelitian yang dilakukan di Balittro seperti Pemuliaan yang memiliki 47
varietas yang telah dilepas, antara lain jahe putih besar (1), jahe putih kecil (4),
jahe merah (2), kencur (3), kunyit (3), kunyit naungan (1), pegagan (2),
temulawak (3), mentha (1), akar wangi (2), sambiloto (1), nilam (5), serai wangi

8
(3), cengkeh (3), lada (9), purwoceng (1), dan kumis kucing (3). Selain pemuliaan,
penelitian di sana yang dilakukan juga terdapat ekofisiologi perbenihan, GAP
tanaman obat, mikoriza, azotobacter, mikroba endofit, dan produk jamu untuk
ternak. Di Balittro juga terdapat penelitian proteksi yang terdiri dari teknologi dan
produk pengendalian OPT.
Balittro sendiri memiliki produk unggulan, seperti ramuan demam
berdarah dengue (DEHAF), jamu anti penyakit koksi (koksidiosis), jamu
peningkatan fertilitas sapi jantan, jamu peningkatan fertilitas sapi betina, minuman
fungsional berbasis tanaman obat (bahan baku: ashitaba, pegagan, jahe merah),
kapsul androcap (sambiloto) dan asiaticap (pegagan).
Balittro memiliki orientasi program penelitian yang menghasilkan inovasi
teknologi sehingga dapat diterapkan di tingkat petani untuk meningkatkan
kuantitas dan kualitas produk tanaman rempah, obat, dan atsiri agar memiliki daya
saing dalam kompetisi global dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani
serta semua pihak yang terlibat di dalam agribisnis tanaman rempah, obat, dan
atsiri. Sedangkan program utama penelitian Balittro difokuskan pada penelitian
dasar untuk menghasilkan varietas unggul, dan teknik budidaya ramah lingkungan
yang berkelanjutan serta melakukan riset pengembangan produk. Balittro
memiliki komoditas prioritas seperti, tanaman rempah berupa lada, pala, dan
cengkeh; tanaman obat berupa jahe, temulawak, pegagan, dll; tanaman aromatik
berupa nilam, serai wangi, akar wangi, dan mentha; serta tanaman industri berupa
jambu mete.

2. IPB

Sambutan disampaikan langsung oleh dekan fakultas pertanian IPB Bapak Dr.
Ir. Suwardi M.Agr, beliau senang dengan kehadiran mahasiswa fakultas pertanian
Universitas Jambi karena dapat mengenalkan kampus IPB kepada para
mahasiswa,sambutan dilakukan di gedung Auditorium Toyib Hadiwijaya yang
mana ini adalah Auditorium utama di Fakultas Pertanian IPB. Auditorium ini
dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan Seminar, Simposium,
Lokakarya, Rabuan Bersama, Wisuda dan acara ceremonial lainnya di lingkungan
Fakultas Pertanian IPB. Auditorium ini memiliki kapasitas optimum sebanyak

9
kurang lebih 400 orang dan dilengkapi dengan fasilitas AC, Alat dan Ruang
Audio Visual dan Toilet.

Fakultas Pertanian IPB mempergunakan beberapa kebun percobaan untuk


kegiatan praktikum dan penelitian tertentu. Adapun kebun percobaan tersebut
antara lain: Kebun Percobaan Cikabayan, Kebun Sarongge, One Stop Garden
Center AGROPROMO, Kebun percobaan Sindang Barang, Kebun Percobaan
Jonggol dan Leuwikopo

Fakultas pertanian IPB terdiri dari 4 departemen yaitu: departemen Ilmu


Tanah dan Sumberdaya Alam,Agronomi dan Hortikultura, Proteksi Tanaman dan
Arsitektur Lanskap

3. BSB

Yayasan Bina Sarana Bakti (BSB) didirikan pada tanggal 07 Mei 1984,
merupakan hasil pemikiran dari Pater Agatho Elsener, OFMCap. Inisiatif ini
didukung sepenuhnya oleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE)
Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), khususnya Rm. Gregorius Utomo, Pr
dan Ibu C. Djoeariah SH. Pendirian yayasan ini juga mendapatkan rekomendasi
dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 1985

BSB berkeyakinan bahwa sikap organis itulah yang menjadi dasar


kemajuan. Di dalam alam segala sesuatunya menghasilkan lebih daripada yang
dibutuhkannya sendiri, lebih banyak menguntungkan yang lain daripada diri
sendiri. Maka pasti akan cukup untuk semua. Sebaliknya sikap egois tidak pernah
akan puas, sampai melalap habis semua yang ada, dan akhirnya menelan dirinya
sendiri. Untuk membangun masa depan, sikap egois mesti dikalahkan oleh sikap
organis. Maka dari itu Yayasan Bina Sarana Bakti mempunyai visi dan misi , Visi
mereka adalah “Hidup harmonis dengan sesama, alam dan Tuhan”, dan Misi
mereka adalah Membina (menyiapkan, mengembangkan) berbagai sarana
(metode, alat) agar setiap manusia bisa makin berbakti dan melayani sesama,
alam, dan Tuhan..

10
Dengan luas sekitar 15 hektar yang dikelola oleh Yayasan Bina Sarana
Bakti (BSB).tentu mereka mempunyai banyak kegiatan diantaranya produksi
organis, penelitian dan pengembangan, pemasaran organis,

4. Museum Pertanian

Pada museum pertanian ini kita bisa menemukan berbagai informasi


tentantang komoditas pangan di Indonesia yang diilustrasikan dalam bentuk
diorama pengolahan lahan sawah, rumah petani hingga alat pertanian yang sangat
menarik. Museum Pertanian menawarkan sensasi yang menyenangkan dengan
dekorasi yang sangat menarik.
Beranjak ke lantai 2 dari Museum Pertanian, kita akan mendapatkan Geleri
Kebijakan dan Komoditas yang menggambarkan perkembangan pertanian
Indonesia dari era kolonial (VOC dan Pemerintah Belanda) sejak tahun 1600
sampai 1945. Hingga perkembangan pertanian pada era setelah kemerdekaan
hingga saat ini yang dipamerkan berdasarkan periodisasi kabinet dari tahun 1945
sampai 2019. Di Geleri yang merangkum pembangunan pertanian dari tahun
1600 sampai dengan 2019 ini, terdapat area coffee corner yang menjadi tempat
icip – icip produk kopi, teh dan kakao dari berbagai daerah di Indonesia.
Kita juga akan dimanjakan melalui Galeri Pertanian Masa Depan dan
Lumbung Pangan Dunia 2045 yang terdapat di lantai 3. Dalam galeri ini
pengunjung dapat melihat bagaimana pengembangan pertanian 4.0 dengan sangat
menarik. Ilustrasi penggunaan teknologi canggih seperti drone, market smart
farming hingga “Atutonomous Tractor” traktor tanpa awak yang menggunakan
sistem GPS berbasis Real Time Kinematika juga dapat pengunjung temukan di
galeri ini. Museum ini memiliki tujuan utama yaitu untuk meningkatkan minat
dan kepedulian masyarakat khususnya para generasi muda terhadap pertanian.
Galeri keempat dari Museum ini terletak di Gedung D yang juga masih
berada di komplek Museum Tanah dan Pertanian Bogor. Galeri ini memiliki lima
zona ruangan terpisah dengan spot edukasi dan visualisasi yang menarik. Galeri
Peternakan menampilkan berbagai perkembangan teknologi peternakan yang
disajikan dalam bentuk video pendek, diorama, poster dan beberapa artefak.

11
Ke depan lantai 4 Gedung D ini akan dibangun zona rooftop, yang
memungkinkan pengunjung untuk menikmati panorama Gunung Salak, dengan
fasilitas gazebo sederhana yang dikelilingi sarana edukasi hidroponik.

5. Museum Tanah

Museum Tanah Bogor menempati sebuah ruangan di lantai dasar yang


relatif berukuran kecil di sebuah gedung di bagian belakang kompleks Balai
Penelitian Tanah yang beralamat di Jl. Ir H. Juanda No. 98, Bogor. Jalan masuk ke
kompleks gedung dimana museum ini berada letaknya berseberangan dengan
lokasi Museum Zoologi Bogor. Museum Tanah Bogor didirikan pada 29
September 1988, dan merupakan tempat penyimpanan jenis contoh tanah dari
seluruh wilayah penting di Indonesia yang dipajang dalam ukuran kecil dalam
bentuk makromonolit. Di museum ini juga terdapat contoh berbagai batuan,
pupuk, perangkat uji tanah, peta-peta, maket, dan alat survei tanah.
Salah satu pajangan di Museum Tanah Bogor menunjukkan bagaimana
proses dilakukannya pengambilan Makromonolit di lapangan. Makromonolit
adalah merupakan irisan tegak dari penampang tanah utuh yang diambil
contohnya dan kemudian diawetkan sebagai bahan penelitian dan dokumentasi.
Makromonolit biasanya dibuat dengan ukuran standar 150 x 25 x 4 cm. Contoh
Ultisol di Museum Tanah Bogor yang berasal dari daerah Muarabungo, Jambi.
Ultisol adalah jenis tanah yang ditemukan di daerah dengan suhu tanah rata-rata
lebih dari 8°C, yang banyak ditemukan di daerah lahan kering di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya, yang belum dipergunakan untuk pertanian.
Kata "ultisol" berasal dari kata "ultimate" atau "akhir", karena ultisol dipandang
sebagai produk akhir dari pelapukan mineral yang berlangsung secara terus
menerus. Ultisol umumnya tidak mengandung bahan gamping, dengan kandungan
mineral lapuk kurang dari 10% di lapisan atas tanah yang ekstrim dengan
kejenuhan basa rendah. Museum tanah juga banyak menyimpan sampel tanah dari
berbagai provinsi di Indonesia, selain itu juga proses pembuatan biochar juga ada
di museum tersebut.

6. Kebun Raya Bogor

12
Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan
buatan atau taman buatan) yang setidaknya telah ada pada pemerintahan Sri
Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda,
sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk
keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih
kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di
perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian
dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga
Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah
satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.
Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang
mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik
mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik.
Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut membangun Kew Garden di
London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik.
Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2019. Museum Pertanian Terbesar se-Asia Tenggara Ada di Bogor.


[https://regional.kompas.com/read/2019/04/22/15550141/museum-
pertanian-terbesar-se-asia-tenggara-ada-di-bogor]. Diakses pada tanggal 20
Agustus pada pukul 20.18 WIB

Anonim. 2019. Museum Pertanian Bogor Jadi Wisata Edukasi Mengasyikkan.


[https://republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/pq5pxw453/museum-
pertanian-bogor-jadi-wisata-edukasi-mengasyikkan]. Diakses pada tanggal
20 Agustus pada pukul 20.20 WIB

Solehudin, Imam. 2019. Museum Pertanian Segera Diresmikan


[https://www.jawapos.com/jpg-today/19/04/2019/museum-pertanian-segera-
diresmikan-yuk-intip-apa-saja-keunikannya/]. Diakses pada tanggal 18
Agustus pada pukul 20.20 WIB VINA