Anda di halaman 1dari 7

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

MAKALAH
ANALISIS FAKTOR EKONOMI TERHADAP PT UNITED TRACTORS TBK

Dosen Pengampu:
Sony Warsono, MAFIS., Ak., CA., Ph.D.

Disusun oleh:
Rohmad Budiarto
(18 / 432685 / PEK / 23951)

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARYA
2019
A. Profil Singkat Perusahaan
PT United Tractors Tbk adalah salah satu anak perusahaan salah satu perusahaan
konglomerat di Indonesia yaitu PT Astra International Tbk. Perseroan didirikan pada
tanggal 13 Oktober 1972. Pada awal berdirinya bergerak pada bidang penjualan alat berat
yaitu sebagai agen tunggal pemegang merk mesin konstruksi Komatsu dan Tadano.
Selanjutnya perseroan berekspansi pada sektor-sektor yang lain diantaranya yaitu
kontraktor penambangan, pertambangan, industri konstruksi, dan energi. PT United
Tractors Tbk adalah perusahaan terbuka yang 59% sahamnya dimiliki oleh PT Astra
International Tbk, sedangkan 41% lainnya dimiliki oleh publik dan diperdagangkan di
Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten UNTR. Pada penutupan perdangangan saham
tanggal 8 Juli 2019 harga saham berada pada Rp. 27.300,00.
Pada tahun 2018 perseroan berhasil membukukan pendapatan terbesar sepanjang
sejarah perusahaan yaitu sebesar 84 trilyun dan laba bersih sebesar 11 trilyun rupiah.
Kontribusi pendapatan perusahaan secara berurutan mulai dari yang terbesar adalah
kontraktor penambangan 48%, mesin konstruksi 35%, pertambangan 13%, dan industri
konstruksi 4%, sedangkan sektor energi belum memberikan kontribusi finansial karena
proyek pembangkit listrik tenaga uap di daerah Jawa Tengah yang dimiliki perseroan
masih dalam tahap konstruksi.
Saat ini perseroan tengah berupaya melakukan hilirisasi pada komoditas batu bara
dengan memiliki tambang batu bara, kontraktor penambangan, ekspedisi batu bara dan
pembangkit listrik tenaga uap, selain itu perseroan juga mendiversifikasikan lini usahanya
ke sektor yang lain dengan mengakuisisi perusahaan kontraktor umum di tahun 2015 dan
akusisi tambang emas di daerah Sumatra Utara pada tahun 2018. Dengan berbagai lini
bisnis yang dimiliki, saat ini kontribusi pendapatan paling besar masih berkaitan dengan
komoditas batu bara. Hilirisasi pada komoditas batu bara diharapkan dapat menciptakan
sinergi pada lini bisnis yang berkaitan sehingga tercipta operasional yang efektif dan
efisien, sedangkan diversifikasi usaha yang dilakukan ditujukan untuk mengurangi resiko
atas ketergantungan perusahaan pada salah satu lini usaha yang dimiliki.

B. Pengaruh Faktor Ekonomi Terhadap Perseroan


Bisnis apapun di dunia ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi baik itu
ekonomi makro maupun mikro, mulai dari harga komoditas sampai kinerja ekonomi pada
sektor terkait. Hal tersebut tidak terkecuali untuk PT United Tractors Tbk. Faktor ekonomi
bukanlah faktor yang dapat dikendalikan oleh perseroan, akan tetapi faktor yang harus
disikapi dan diantisipasi melalui kebijakan-kebijakan dan strategi agar kondisi tersebut
tetap berpihak pada perusahaan.

1. Kondisi Ekonomi Makro


Tahun 2015 adalah tahun dimana semua perusahaan yang bergerak pada sektor
batu bara mengalami perlambatan dikarenakan harga komoditas yang mencapai level
terendahnya dalam dekade terakhir yaitu USD 50/metric ton. Harga batu bara di dunia
terbentuk murni karena permintaan dan penawaran pasar. Cina dan India merupakan
salah dua diantara konsumen dan pengimpor batu bara terbesar di dunia, pada tahun
2015 mengurangi nilai impor batu bara mereka secara signifikan. Cina saat itu
bermasalah dengan perlambatan ekonomi di negara tersebut yang memaksa industri
untuk mengerem laju produksinya, sehingga berimbas juga pada penggunaan energi.
Sementara India juga mengurangi nilai impor baturbara dan mulai menggenjot
produksi batu bara lokal. Hal tersebut membuat stok batu bara di luar Cina dan India
melimpah, sehingga para produsen kesulitan untuk memasarkan batu bara yang sudah
diproduksi. Harga batu bara newcastle dalam 10 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.

Sektor pertambangan batu bara yang merupakan penyumbang pendapatan


terbesar bagi perseroan merasakan langsung dampak perlambatan ekonomi sektor
batu bara, karena pelanggan perseroan adalah para pemilik konsesi pertambangan di
Indonesia. PT United Tractors Tbk adalah perusahaan dengan pendekatan usaha
business to business model sehingga jika dilihat dari pandangan pareto hanya 20%
konsumen saja yang menyumbang 80% total pendapatan perseroan. Diantara 20%
konsumen tersebut diantaranya adalah produsen-produsen batu bara terbesar di
Indonesia yaitu PT Kaltim Prima Coal, PT Adaro Indonesia, PT Berau Coal, PT
Kideco Jaya Agung dan PT Arutmin Indonesia. Ketika harga komoditas rendah, para
pemilik konsesi lebih memilih untuk mengurangi produksi, mengistirahatkan mesin
produksi untuk mengurangi biaya perawatan, dan mengerem investasi baru baik lahan
maupun mesin produksi untuk melindungi capital perusahaan dengan harapan
pasokan batu bara di pasar kembali normal dengan harapan harga berangsur-angsur
kembali membaik.
Dimasa-masa sulit seperti itu PT United Tractors Tbk langsung terdampak
kepada permintaan jasa kontraktor penambangan. Pengurangan permintaan
pengupasan kulit tanah (overburden) dan pengambilan batu bara membuat perseroan
outlook revenue perseroan terkoreksi dalam. Penurunan ini juga berdampak langsung
di bisnis alat berat dengan menurunnya permintaan alat pertambangan seperti heavy
duty truck, excavator dan wheel loader. Berita baiknya, para pemilik alat berat di masa
sulit ini memilih momentum ini untuk melakukan perawatan dan restorasi untuk alat-
alat berat yang mengalami kerusakan. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan alat
untuk produksi dimasa yang akan datang dengan nilai investasi yang lebih kecil dari
pembelian unit baru. Justru peluang inilah yang dapat dimanfaatkan perseroan untuk
mengeruk banyak pendapatan dari pelayanan after sales service dengan banyak
menjual jasa perbaikan dan penjualan sparepart disaat bisnis penambangan dan
penjualan alat lesu di industri batu bara.
Mulai tahun 2017 harga komoditas batu bara dunia berangsur membaik, hal
ini merangsang pelaku industri untuk meningkatkan produksi di tambang masing-
masing. PT United Tractors Tbk pun langsung merasakan imbas tersebut dengan
meningkatnya permintaan jasa penambangan dan lonjakan permintaan alat berat dari
para konsumennya. Pada akhir tahun 2018 perseroan mencetak rekor pendapatan dan
laba terbesar sejak perusahaan berdiri tahun 1972 yang lalu.
Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Cina sangat
mempengaruhi ekonomi dunia karena negara tersebut adalah salah satu negara dengan
jumlah ekspor dan impor yang besar di perdagangan dunia. Ketidakselarasan diantara
negara tersebut dapat menggeser keseimbangan yang sudah ada dan membentuk
keseimbangan baru perdangan dunia. Produsen-produsen alat elektronik yang
berbasis di Cina berbondong-bondong mengalihkan produksinya ke negara tetangga
seperti Vietnam untuk menghindari tarif tinggi impor Amerika Serikat atas produk-
produk Cina. Perang dagang yang berkepanjangan dikhawatirkan akan memicu resesi
global melemahkan perekonomian dunia. Efek domino dari perang dagang juga tidak
dapat dihindari yang mengakibatkan industri di negara-negara yang berafilisasi secara
bisnis diantara negara yang sedang perang dagang/ perang tarif menjadi melemah. Hal
ini dapat menyebabkan permintaan energi untuk industri berkurang dan menekan
harga batu bara.
The Fed, bank sentral Amerika serikat yang selalu dinantikan kebijakannya
oleh dunia dalam beberapa kesempatan terakhir lebih memilih untuk meningkatkan
suku bunga acuan. Kebijakan ini akan membuat para pemilik modal mengalihkan
dananya dari negara berkembang seperti Indonesia ke Amerika Serikat. Biasanya hal
tersebut diantisipasi oleh bank sentral masing-masing negara untuk menaikkan suku
bunga mencegah larinya dana ke Amerika Serikat, akan tetapi hal tersebut juga
berefek melemahkan industri karena pemilik modal lebih memilih mengalokasikan
dananya di deposito atau obligasi negara daripada digunakan untuk berbisnis.
Akibat perang dagang dan kebijakan suku bunga the Fed sampai saat ini harga
batu bara dunia juga ikut tertekan di kisaran USD 70 per metric ton, yaitu yang
terendah selama tahun 2019. Pertemuan di konferensi tingkat tinggi anggota G20 di
Osaka Jepang pada Juni 2019 lalu diharapkan dapat membawa angin segar bagi
perekonomian dunia. Amerika Serikat dan Cina juga melakukan pertemuan secara
bilateral pada forum tersebut untuk membahas kemungkinan perdamaian perang
dagang. Positifnya perkenomian dunia akan membuat iklim bisnis menjadi lebih
menarik dan dapat menjadi faktor yang menyokong peningkatan kinerja PT United
Tractors Tbk.

2. Kondisi Ekonomi Indonesia


Laju perekonomian Indonesia yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2018
adalah 5,4%, akan tetapi data dari Badan Pusat Statistik Nasional menunjukkan angka
5,17% yang berarti target dari pemerintah tidak tercapai. Nilai inflasi tahun 2018 di
angka 3,13%, masih dalam toleransi target pemerintah yaitu 3,5%  1%. Nilai tukar
dollar Amerika Serikat terhadap rupiah di akhir tahun 2018 berada di angka 14.400
dan masih bertahan di kisaran 14.000 sampai bulan Juni 2019. Nilai tukar dollar
Amerika Serikat terhadap rupiah sempat menyentuh nilai tertingginya sejak krisis
ekonomi Indonesia tahun 1998 yaitu di angka 15.200 pada bulan Oktober 2019.
Dari sisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk dapat bertahan dalam era
VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity) ini. Peningkatan secara
gradual suku bunga Amerika Serikat oleh bank sentral The Fed telah membuat banyak
spekulasi terhadapa masa depan ekonomi dunia, sehingga banyak negara yang
mengalami pelemahan mata uang seperti Indonesia. Dibantu intervensi oleh
pemerintah, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat saat ini stabil di kisaran
14.000/USD.
Kondisi ekonomi yang stabil akan membuat iklim investasi menjadi lebih
kondusif dan sehat. Pemerintah juga terus berusaha meningkatkan infrastruktur untuk
meningkatkan laju ekonomi Indonesia melalui pemerataan pembangunan. Perseroan
melalui lini bisnis industri konstruksi juga turut andil dalam pembangunan
infrastruktur di Indonesia dengan mengambil proyek LRT (light rail transit) dan
pembangunan jalan tol di Jakarta. Meningkatnya aktivitas konstruksi juga berefek
pada meningkatnya permintaan alat konstruksi seperti crane dan excavator ukuran
sedang. Hal tersebut turut menyokong kinerja perseroan.
Proyeksi pemerataan ekonomi Indonesia dari Sabang sampai Merauke dapat
semakin mendekati kenyataan apabila ditunjang juga dengan ketersediaan energi
dalam hal ini electricity untuk menunjang berbagai aktivitas. Komitmen pemerintah
terhadap energi listrik dengan target 35.000 KW telah dimanfaatkan perseroan dengan
membangun pembangkit listrik tenaga uap di daerah Jawa Tengah. Direncanakan
pembangkit listrik tersebut akan memberikan output sebesar 2 x 1.000 MW dan dijual
kepada PLN melalui skema perjanjian pembelian listrik (power purchase agreement).
Ditengah gejolak harga acuan batu bara yang terus menurun sejak awal tahun
2019, industri batu bara masih berjalan baik dengan target produksi nasional sebesar
480 juta ton. Sebesar 128 juta ton wajib dalokasikan untuk industri dalam negeri
Indonesia, hal ini tentu menjadi penyeimbang ketika penjualan ekspor batu bara
nasional tidak banyak terserap pasar, maka pasar nasional siap untuk menyerapnya.
Dengan rencana 35.000 MW listrik yang didominasi oleh PLTU dengan sumber
energi batu bara, masa depan bisnis perseroan cukup menjanjikan karena selama
produksi batu bara meningkat, maka penjualan jasa penambangan, alat berat, jasa
perawatan dan sparepart akan meningkat, demikian juga dengan bisnis pertambangan
batu bara dan pembangkit listrik yang dimiliki.
Akhir-akhir ini industri batu bara nasional sedang dihebohkan oleh aturan
pemerintah terkait perpanjangan ijin PKP2B (perjanjian karya pertambangan batu
bara) yang akan diubah menjadi IUPK (izin usaha pertambangan khusus). Hal ini
dirasakan mengancam para pemegang PKP2B yang akan habis masanya dalam waktu
dekat seperti Kaltim Prima Coal, Arutmin Indonesia, dan Adaro Indonesia yang jika
digabung menghasilkan produksi sebesar 150 juta ton. Hal ini bisa menjadi threat
sekaligus opportunity bagi perseroan. Tiga pemegang konsesi tambang tersebut
adalah konsumen yang signifikan prosentasenya bagi pendapatan perseroan. Akan
menjadi ancaman ketika tiga perusahaan tersebut tidak lagi beroperasi sehingga
pendapatan perseroan akan tergurus dalam. Bisa menjadi opportunity ketika
perusahaan baru yang mengambil alih tambang-tambang tersebut membutuhkan
banyak investasi peralatan tambang dan juga menggunakan jasa perseroan untuk jasa
penambangannya.