Anda di halaman 1dari 6

TUGAS AUDIT

NAMA: 1. Hendra Hermawan


2. Agum Gumelar

Substantive Testing and Evidence


A. Substantive Testing
Auditor harus menghimpun bukti yang cukup untuk memperoleh dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pengujian substantif menyediakan bukti
mengenai kewajaran setiap asersi laporan keuangan yang signifikan. Perancangan pengujian
substantif meliputi penentuan:
1. Sifat pengujian
2. Waktu pengujian
3. Luas pengujian substantif

● Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Substantif


Ada delapan prosedur untuk melaksanakan pengujian substantif yaitu:
1. Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan berkaitan dengan kinerja tugas mereka.
2. Pengamatan atau observasi terhadap personil dalam melaksanakan tugas mereka.
3. Menginspeksi dokumen dan catatan.
4. Melakukan penghitungan kembali
5. Konfirmasi
6. Analisis
7. Tracing atau pengusutan
8. Vouching atau penelusuran

● Sifat Atau Jenis Pengujian Substantif


Jika tingkat risiko deteksi yang dapat diterima adalah rendah maka auditor harus
menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya juga lebih mahal. Ada tiga tipe
pengujian substantif yang dapat digunakan yaitu:
1. Pengujian rinci atau detail saldo
2. Pengujian rinci atau detail transaksi
3. Prosedur analitis

● Pengujian Detail Saldo, metodologi perancangan pengujian detail saldo meliputi empat
tahapan, yaitu:
1. Menilai materialitas dan risiko bawaan suatu akun.
2. Menetapkan risiko pengendalian
3. Merancang pengujian transaksi dan prosedur analitis
4. Merancang pengujian detail saldo untuk memenuhi setiap tujuan spesifik audit secara
memuaskan.

Untuk melihat hubungan antara risiko deteksi dengan pengujian detail saldo, berikut ini
disajikan tabel.
Tabel. Hubungan Risiko Deteksi dengan Pengujian Detail Saldo
Tingkat Risiko Deteksi Langkah Pengujian Detail Saldo

Tinggi Scan rekonsiliasi bank yang dibuat klien dan verifikasi


ketepatan perhitungan matematisnya

Moderat Review rekonsiliasi bank yang dibuat klien dan verifikasi


pada sebagian besar item-itemnya.

Rendah Buatlah rekonsiliasi bank dan verifikasi item-item yang


direkonsiliasi tersebut

● Pengujian Detail Transaksi, pengujian detail transaksi dilakukan untuk menentukan:


1. Ketepatan otorisasi transaksi akuntansi klien.
2. Kebenaran pencatatan dan peringkasan transaksi tersebut dalam jurnal.
3. Kebenaran pelaksanaan posting atas transaksi tersebut ke dalam buku besar dan buku
pembantu.
Pengujian detail transaksi dilakukan dengan vouching dan tracing. Auditor mengarahkan
pengujiannya untuk memperoleh temuan mengenai ada tidaknya kesalahan yang bersifat
moneter.

● Prosedur Analitis, prosedur analitis meliputi jumlah yang tercatat dengan harapan yang
dikembangkan auditor juga meliputi perhitungan rasio oleh auditor.
Ada empat kegunaan prosedur analitis yaitu:
1. Untuk memperoleh pemahaman mengenai bisnis dan industri klien.
2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan usahanya.
3. Untuk mendeteksi ada tidaknya kesalahan dalam laporan keuangan klien.
4. Untuk menentukan dapat tidaknya dilakukan pengurangan atas pengujian audit
detail.

● Penentuan Saat Pelaksanaan Pengujian Substantif


Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima mempengaruhi penentuan waktu pelaksanaan
pengujian substantif. Jika risiko deteksi rendah maka pengujian substantif lebih baik
dilaksanakan pada atau dekat dengan tanggal neraca.

● Luas Pengujian Substantif


Semakin rendah tingkat risiko deteksi yang dapat diterima, semakin banyak bukti yang harus
dikumpulkan, auditor dapat mengubah jumlah bukti yang harus dihimpun dengan cara
mengubah luas pengujian substantif yang dilakukan.
Keputusan auditor tentang rancangan pengujian substantif didokumentasikan dalam kertas
kerja dalam bentuk program audit
B. Evidence
Bukti (evidence) adalah segala hal yang dapat membuat seseorang meyakini bahwa fakta,
proposisi atau asersi tersebut benar atau salah. Bukti audit (audit evidence)adalah seluruh
informasi yang digunakan auditor dalam mengambil sejumlah kesimpulan sebagai dasar bagi
opini audit
1. Kesaksian lisan pihak yang diaudit (klien)
2. Komunikasi tertulis dengan pihak luar
3. Observasi oleh auditor
4. Data elektronik dan data lain tentang transaksi
Bukti audit (audit evidence) merupakan seluruh informasi baik itu berupa catatan akuntansi
atau informasi pendukung lainnya digunakan auditor dalam membuat opini audit. bukti audit
misalnya faktur, surat jalan, pesanan pembelian (purchase order),pesanan penjualan (sales
order), bukti penerimaan barang, buku besar, jurnal, penyesuaian-penyesuaian, bukti
transfer/bank dsb. Sedangkan informasi lainnya bisa berupa pengungkapan/hasil wawancara
dari manajemen/staf, konfirmasi hutang piutang, surat menyurat, notulen hasil rapat dsb.

● Syarat-syarat Bukti Audit


Syarat-syarat bukti audit:
1. Cukup, Bukti audit dikatakan cukup apabila jumlahnya memenuhi syarat untuk
mendukung temuan auditor.
2. Relevan, Bukti audit dikatakan relevan apabila mempunyai hubungan yang logik dan
dapat di mengerti dengan kriteria audit yang ditetapkan.
3. Kompeten, Bukti audit dikatakan kompeten apabila bukti yang diperoleh berasal dari
sumber yang independen dan dapat dipercaya serta terjamin keakuratannya.

● Prosedur-Prosedur Audit untuk Memperoleh Bukti Audit


Auditor melakukan sejumlah prosedur penilaian risiko dalam upaya memberikan dasar bagi
penilaian risiko. Namun sejumlah prosedur penilaian risiko itu sendiri tidak memberikan
kecukupan bukti audit yang memadai sebagai dasar opini audit, sehingga perlu dilengkapi
dengan pengujian pengendalian dan prosedur substantif.
Prosedur-prosedur audit (teknik pengumpulan bukti):
1. Keterangan (Inquiry)
Termasuk pencarian informasi ke pihak-pihak yang memiliki pengetahuan, baik dari
dalam maupun luar entitas. Informasi dapat diperoleh baik tertulis maupun lisan,
formal/informal dari klien untuk merespons pertanyaan-pertanyaan tertentu selama
audit. Bukti yang berasal dari keterangan ini tidak dapat dianggap konklusif karena
berasal dari pihak yang tidak independen sehingga diperlukan penguatan atas bukti-
bukti tersebut dengan menggunakan sejumlah prosedur alternatif, misalnya
menanyakan sistem pengendalian internal, sistem akuntansi dsb.
2. Observasi (Observation)
Termasuk pencarian proses atau prosedur yang sedang dilakukan oleh pihak-pihak lain,
misalnya observasi yang dilakukan oleh auditor dengan menghitung persediaan
bersama personel entitas. Dalam hal observasi auditor dapat mengunjungi fasilitas-
fasilitas milik klien seperti peralatan yang digunakan klien, persediaan yang dimiliki
klien. Teknik observasi ini harus diikuti oleh tipe prosedur pengumpulan bukti lainnya
seperti inspeksi.
3. Inspeksi (Inspection)
Termasuk pemeriksaan catatan, dokumen, atau aset berwujud. Inspeksi adalah
pemeriksaan auditor atas sejumlah dokumen dan catatan klien untuk memperkuat
informasi yang ada atau yang seharusnya disertakan dalam laporan keuangan.
Contohnya mereviu order penjualan, dokumen pengiriman, laporan bank, dokumen-
dokumen pengembalian dari pelanggan, surat keluhan pelanggan dll.
Vouching adalah proses audit yang mana auditor memilih komponen-komponen sampel
dari akun dan kembali melalui sistem akuntansi untuk menemukan dokumen sumber
yang mendukung komponen-komponen yang dipilih tersebut (misalnya faktur
penjualan).
Penelusuran (tracing) adalah prosedur audit yang mana auditor memilih komponen-
komponen sampel dari dokumen sumber yang menjadi dasar dan prosesnya melalui
sistem akuntansi untuk menemukan pencatatan akhir dari transaksi.
4. Perhitungan ulang
Termasuk pengecekan akurasi aritmatika atas dokumen sumber dan catatan akuntansi
atau melakukan perhitungan yang independen. Contoh perhitungan ulang biasanya
mencakup faktur penjualan dan persediaan, menambahkan jurnal dan catatan
pembantu, mengecek perhitungan atas beban depresiasi dan beban yang dibayar
dimuka. Perhitungan ulang dapat dilakukan menggunakan CAATs(Computer Assisted
Audit Techniques), yaitu perangkat dan teknik yang digunakan untuk menguji logika
internal dari suatu aplikasi komputer yang digunakan untuk mengolah data.
5. Pelaksanaan ulang
Pelaksanaan ulang merupakan tindakan yang dilakukan auditor independen atas
sejumlah prosedur atau pengendalian yang awalnya dilakukan sebagai bagian dari
pengendalian internal entitas, baik itu secara manual maupun melalui CAATs, misalnya
pelaksanaan ulang terkait penentuan umur piutang usaha.
6. Konfirmasi
Termasuk respons atas keterangan yang diperoleh dari pihak ketiga untuk memperkuat
informasi yang tercantum dalam catatan-catatan keuangan. Konfirmasi ini bisa terkait
dengan keberadaan piutang usaha dan utang usaha, memverifikasi saldo rekening bank
yang tercantum dengan pihak bank yang terkait, nilai penyerahan uang untuk asuransi
jiwa, utang wesel dengan para peminjam atau pemilik obligasi.
Keunggulan konfirmasi adalah bukti audit yang sangat persuasif. Sebaliknya
kelemahan dari konfirmasi adalah mahal dan memakan waktu dan kesulitan untuk
meminta pihak-pihak yang terkait memberikan informasi yang diinginkan.
Konfirmasi eksternal menurut ISA 505. 6 adalah bukti audit yang diperoleh sebagai
suatu respons tertulis langsung kepada auditor dari pihak ketiga (pihak yang
dikonfirmasi), baik dalam bentuk kertas, atau secara elektronik atau media lainnya.
Terdapat dua bentuk konfirmasi menurut ISA 505.6 yaitu:
a. Permintaan konfirmasi positif, Merupakan suatu permintaan konfirmasi kepada
pihak ketiga untuk merespons secara langsung kepada auditor yang
menunjukkan apakah pihak yang dikonfirmasikan tersebut setuju atau tidak
setuju dengan informasi yang terdapat dalam permintaan konfirmasi, atau
menyediakan informasi yang diminta.
b. Permintaan konfirmasi negatif, Merupakan suatu permintaan konfirmasi kepada
pihak ketiga untuk merespons secara langsung kepada auditor hanya jika pihak
yang dikonfirmasi tidak setuju dengan informasi yang terdapat dalam
permintaan konfirmasi.
Ketika auditor tidak mendapatkan jawaban terkait konfirmasi positif, auditor akan
mengirimkan konfirmasi kedua. Selanjutnya apabila masih belum memperoleh
jawaban atas konfirmasi tersebut, auditor harus melakukan prosedur analitis alternatif.
Selanjutnya auditor juga dapat menentukan implikasi dari auditnya.
7. Prosedur analitis
Termasuk analisis rasio dan analisis tren yang penting, di dalamnya terdapat hasil
investigasi atas fluktuasi dan hubungan yang tidak konsisten dengan informasi relevan
lainnya atau ada penyimpangan dari jumlah yang dapat diprediksikan. Menghitung
trend penjualan selama beberapa tahun sebelumnya, membandingkan laba bersih
sebagai persentase penjualan dalam tahun berjalan dengan persentase tahun
sebelumnya, membandingkan current ratio industri, serta membandingkan anggaran
dengan hasil aktualnya.

● Sampling
Tujuan auditor saat menggunakan sampling audit adalah memberikan landasan yang
memadai untuk mengambil sejumlah kesimpulan terkait populasi (misalnya faktur,
dokumen pengiriman, dan materi sumber asli lainnya) dari sampel yang dipilih.
Sampling audit (sampling) adalah penggunaan sejumlah prosedur audit untuk komponen-
komponen yang kurang dari 100 persen dalam populasi terkait relevansi audit, sehingga
seluruh unit sampling memiliki peluang untuk dipilih dalam upaya memberikan landasan
yang memadai bagi auditor untuk mengambil sejumlah kesimpulan mengenai seluruh
populasi. Sampling audit dapat menggunakan pendekatan statistik dan nonstatistik.
Risiko sampling (sampling risk) adalah risiko bahwa kesimpulan auditor yang didasarkan
pada sampel mungkin berbeda dari kesimpulan jika menyertakan seluruh populasi dengan
prosedur audit yang sama (Hayes dkk., 2017:413).

● Estimasi Audit
Beberapa komponen laporan keuangan tidak dapat diukur dengan tepat, tetapi hanya dapat
diestimasi. Komponen-komponen tersebut adalah estimasi akuntansi. Estimasi akuntansi
(accounting estimate) adalah perkiraan jumlah moneter terkait tidak adanya cara
pengukuran yang tepat. Istilah ini digunakan untuk jumlah yang diukur pada nilai wajar
yang mana terdapat estimasi yang tidak pasti, serta untuk jumlah lainnya yang memerlukan
estimasi.
Estimasi akuntansi menurut SA 540.7 adalah suatu penaksiran atas suatu jumlah moneter
ketika metode pengukuran yang akurat tidak tersedia.
Ketika mempertimbangkan estimasi audit, tujuan auditor adalah memperoleh kecukupan
bukti audit yang memadai terkait apakah estimasi akuntansi, termasuk estimasi akuntansi
nilai wajar dalam laporan keuangan dan pengungkapan terkait dalam laporan keuangan telah
memadai.

● Evaluasi Salah Saji yang Diidentifikasi selama Audit


Evaluasi atas salah saji yang diidentifikasi selama audit merupakan tanggung jawab auditor
saat menyusun opini terhadap laporan keuangan untuk menyimpulkan apakah asuransi yang
memadai telah diperoleh terkait apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
salah saji material.
Auditor harus mengakumulasikan salah saji yang diidentifikasi selama audit, selain dari hal-
hal yang dianggap kurang berarti. Temuan selama audit mungkin mengharuskan auditor
untuk merevisi strategi audit dan rencana audit. setelah itu auditor perlu
mengkomunikasikan salah saji dengan pihak manajemen untuk segera diperbaiki. Apabila
manajemen memperbaiki maka auditor masih harus melakukan sejumlah prosedur
tambahan untuk menentukan apakah masih terdapat salah saji. Jika manajemen menolak
untuk memperbaiki, auditor harus mempertimbangkan alasan-alasan terkait penolakannya.
Auditor harus menentukan apakah salah saji yang tidak dapat diperbaiki bersifat material
dan bagaimana pengaruh dari salah saji tersebut terhadap opini audit. Selain dengan
manajer, auditor juga diminta berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab
terhadap tata kelola.