Anda di halaman 1dari 6

NAMA :

1. DINY FARIHA ZAKHIR


2. BENITA MINGGUS IGAKARTIKA

KELAS: MATRIKULASI A
ETIKA UNTUK AKUNTAN PROFESIONAL

Pengertian Etika
Secara etimologis, kata etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “Ethikos” yang
artinya timbul dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini etika memiliki sudut pandang normatif di
mana objeknya adalah manusia dan perbuatannya.
Etika (ethics) secara garis besar dapat didefinisikan sebagai serangkaian prinsip atau
nilai moral. setiap orang memiliki rangkaian nilai seperti itu, meskipun kita memperhatikan
atau tidak memperhatikannya secara eksplisit.
Etika secara sempit berarti seperangkat nilai atau prinsip moral yang berfungsi sebagai
panduan untuk berbuat, bertindak, atau berperilaku. karena berfungsi sebagai panduan,
prinsip-prinsip moral tersebut juga berfungsi sebagai kriteria untuk menilai benar atau
salahnya perbuatan atau perilaku.
Etika mewakili seperangkat prinsip moral, aturan perilaku, atau nilai-nilai. Etika berlaku
saat seorang individu harus membuat keputusan dari berbagai alternatif mengenai prinsip-
prinsip moral.
Berikut ini adalah enam nilai etis mengenai perilaku etis menurut Josephson Institute:
1. Dapat dipercaya (trustworthiness) mencakup kejujuran, integritas, reliabilitas, dan
loyalitas. kejujuran menuntut itikad baik untuk mengemukakan kebenaran. integritas
berarti bahwa seseorang bertindak sesuai dengan kesadaran tinggi, dalam situasi
apapun. reliabilitas berarti melakukan semua usaha yang masuk akal untuk memenuhi
komitmennya. loyalitas adalah tanggung jawab untuk mengutamakan dan melindungi
berbagai kepentingan masyarakat dan organisasi tertentu.
2. penghargaan (respect) mencakup gagasan seperti kepantasan (civility),
kesopansantunan (courtesy), kehormatan, toleransi, dan penerimaan seseorang yang
terhormat akan memperlakukan pihak lainnya dengan penuh pertimbangan dan
menerima perbedaan serta keyakinan pribadi tanpa berprasangka buruk.
3. Pertanggungjawaban (responsibility) berarti bertanggung jawab atas tindakan
seseorangan serta dapat menahan diri. pertanggung jawaban juga berarti berusaha
sebaik mungkin dan memberi teladan dengan contoh, mencakup juga ketekunan serta
upaya untuk terus melakukan perbaikan.
4. kelayakan (fairness) dan keadilan mencakup isu-isu tentang kesamaan penilaian,
sikap tidak memihak, proporsionalitas, keterbukaan, dan keseksamaan. perilaku yang
layak berarti bahwa situasi yang serupa akan ditandatangani dengan cara yang
konsisten.
5. perhatian (caring) berarti sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan pihak lain
dan mencakup tindakan yang memperhatikan kepentingan sesama serta
memperlihatkan perbuatan baik.
6. kewarganegaraan (citizenship) termasuk kepatuhan pada undang-undang serta
melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara agar proses dalam masyarakat
berjalan dengan baik, antara lain pemungutan suara, bertindak sebagai juri pengadilan
di AS, dan melindungi sumber daya alam yang ada.
ada dua alasan utama mengapa seseorang bertindak tidak etis: standar etika seseorang
berbeda dengan standar etika yang berlaku di masyarakat secara keseluruhan atau orang itu
memilih untuk bertindak mementingkan diri sendiri. sering kali, kedua alasan tersebut muncul
secara bersamaan.

Dilema Etika
profesi auditor, akuntan, serta pelaku bisnis lainnya menghadapi banyak dilema etika
dalam menjalankan tugasnya. terkadang auditor menghadapi beberapa tekanan dalam
menjalankan tugasnya sebagai seorang auditor, seperti adanya ancaman akan mencari
auditor baru kecuali bersedia menerbitkan suatu pendapat wajar tanpa pengecualian, adanya
tawaran menerima bonus, hal-hal tersebut merupakan suatu dilema etika.
berikut ini adalah metode-metode rasionalisasi yang sering digunakan, yang dengan
mudah dapat mengakibatkan tindakan tidak etis. (1) setiap orang melakukannya, mereka
berpendapat hal tersebut merupakan hal yang umum dilakukan,sehingga merupakan perilaku
yang dapat diterima. (2) jika sah menurut hukum, hal itu etis, menggunakan argumen bahwa
semua perilaku yang sah menurut hukum adalah perilaku yang etis sangat bergantung pada
kesempurnaan hukum. (3) kemungkinan Penemuan dan konsekuensi, mereka berpendapat
bahwa orang lain akan menemukan perilaku tersebut, mereka memperhitungkan risiko yang
akan mereka peroleh apabila penyimpangan tersebut terbongkar.
dewasa ini, telah dikembangkan kerangka kerja formal untuk membantu orang-orang
menyelesaikan dilema etik. tujuan dari kerangka kerja seperti itu adalah membantu
mengidentifikasi isu-isu etis dan memutuskan serangkaian tindakan yang tepat dengan
menggunakan nilai dari orang itu sendiri. pendekatan enam langkah berikut ini dimaksudkan
agar dapat menjadi pendekatan yang relatif sederhana untuk menyelesaikan dilema etika:
1. memperoleh fakta yang relevan
2. mengidentifikasi isu-isu etis berdasarkan fakta tersebut
3. menentukan siapa yang akan terpengaruh oleh akibat dari dilema tersebut dan
bagaimana setiap orang atau kelompok itu terpengaruhi
4. mengidentifikasi berbagai alternatif yang tersedia bagi orang yang harus
menyelesaikan dilema tersebut
5. mengidentifikasi konsekuensi yang mungkin terjadi dari setiap alternatif
6. memutuskan tindakan yang tepat.

Kebutuhan Khusus Akan Perilaku Etis dalam Profesi


Arti istilah profesional adalah tanggung jawab untuk bertindak lebih dari sekedar
memenuhi tanggung jawab diri sendiri maupun ketentuan hukum dan peraturan masyarakat.
akuntan publik, sebagai profesional, mengakui adanya tanggung jawab kepada masyarakat,
klien, serta rekan praktisi, termasuk perilaku yang terhormat, meskipun itu berarti
pengorbanan diri.
alasan utama seorang auditor untuk berperilaku profesional dalam menjalankan
tugasnya sebagai akuntan publik adalah kebutuhan akan kepercayaan publik atas kualitas
jasa yang diberikan oleh profesi, tanpa memandang individu yang menyediakan jasa tersebut.
kepercayaan klien dan pemakai laporan keuangan eksternal atas kualitas audit dan jasa
lainnya sangatlah penting.
Kantor Akuntan Publik (KAP) memiliki hubungan khusus dengan para pemakai
laporan keuangan yang berbeda dengan bentuk hubungan antara profesional lainya dengan
para pemakai jasanya. KAP bertugas dan dibayar oleh perusahaan yang menerbitkan laporan
keuangan, tetapi yang mendapat manfaat utama dari audit ini adalah para pemakai laporan
keuangan. sering kali, auditor tidak mengetahui atau tidak mempunyai hubungan dengan para
pemakai laporan keuangan tetapi sering melakukan pertemuan dan mengadakan hubungan
yang berkesinambungan dengan personil klien.
hal ini menyebabkan sangat penting bahwa pemakai laporan memandang kantor
akuntan publik sebagai pihak yang kompeten dan objektif. jika pemakai laporan yakin bahwa
kantor akuntan publik tidak memberikan jasa yang bernilai, maka nilai laporan audit serta
laporan jasa atestasi lainnya dari kantor akuntan publik tersebut akan berkurang dan
karenanya, permintaan akan jasa audit juga berkurang. karena itu, ada insentif yang cukup
banyak bagi kantor akuntan publik untuk berperilaku pada tingkat profesionalisme yang tinggi.

Kode Perilaku Profesional


kode etik ini terdiri dari empat bagian: prinsip-prinsip, peraturan perilaku, interpretasi
atas peraturan perilaku, dan kaidah etika.
a. Prinsip-prinsip etis:
1. Tanggung jawab. dalam mengembankan tanggung jawabnya sebagai
profesional, para anggota harus melaksanakan pertimbangan profesional dan
moral yang sensitif dalam semua aktivitas mereka.
2. Kepentingan Publik. Para anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak
sedemikian rupa agar dapat melayani kepentingan publik, menghargai
kepercayaan publik, serta menunjukkan komitmennya pada profesionalisme.
3. integritas. untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik, para
anggota harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesionalnya dengan
tingkat integritas tertinggi.
4. objektivitas dan independensi. anggota harus mempertahankan objektivitas
dan bebas dari konflik kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawab
profesionalnya. anggota yang berpraktik bagi publik harus independen baik
dalam fakta maupun dalam penampilan ketika menyediakan jasa audit dan
jasa atestasi lainnya.
5. keseksamaan. anggota harus memperhatikan standar teknis dan etis profesi,
terus berusaha keras meningkatkan kompetensi dan mutu jasa yang
diberikannya. serta melaksanakan tanggung jawab profesional sesuai dengan
kemampuan terbaiknya.
6. ruang lingkup dan sifat jasa. anggota yang berpraktik bagi publik harus
memperhatikan prinsip-prinsip kode perilaku profesional dalam menentukan
lingkup dan sifat jasa yang akan disediakannya.
Ada enam prinsip dasar pedoman etika yang berlaku untuk semua akuntan menurut
Rick Hayes, yaitu:
■ integritas, seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam semua
hubungan bisnis dan profesionalnya
■ objektivitas, seorang akuntan profesional seharusnya bersikap adil, jujur secara
intelektual, dan bebas dari konflik kepentingan, atau di bawah pengaruh orang lain
sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional.
■ kompetensi profesional dan kehati-hatian, seorang akuntan profesional mempunyai
kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara
berkelanjutan pada tingkat yang diperlukan untuk menjamin seorang klien atau atasan
menerima jasa profesional yang kompeten yang didasarkan atas perkembangan
praktik, legalitas, dan teknik terkini. seorang akuntan profesional harus bekerja secara
tekun serta mengikuti standar-standar profesional harus bekerja secara tekun serta
mengikuti standar-standar profesional dan teknik yang berlaku dalam memberikan
jasa profesional.
■ kerahasiaan, seorang akuntan profesional harus menghormati kerahasiaan
informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnis serta
tidak boleh mengungkapkan informasi apapun kepada pihak ketiga tanpa izin yang
benar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional
untuk mengungkapkannya. informasi rahasia dapat diungkapkan ketika
pengungkapan tersebut atas izin klien, diwajibkan oleh hukum, atau di mana ada tugas
profesional atau hak untuk mengungkapkan. ketika pengungkapan diberikan izin oleh
pihak klien, akuntan harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak, termasuk
pihak ketiga, atau pihak-pihak yang mungkin berpengaruh.
■ perilaku profesional, seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan
perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi.
■ standar teknis. Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar audit yang
berlaku, meliputi standar teknis dan profesional yang relevan.
b. Peraturan perilaku. para praktisi berperilaku dalam praktiknya, dalam hal ini auditor
dalam melakukan audit independen, harus memiliki tingkat profesionalisme pada
tingkat yang tinggi yaitu berdasarkan pada prinsip-prinsip yang ada. dalam praktiknya
auditor tidak diperbolehkan berperilaku pada tingkat di bawah minimum yang
ditetapkan oleh profesi, yaitu yang mengacu pada prinsip-prinsip etis tersebut.
c. Interpretasi atas peraturan perilaku. interpretasi peraturan perilaku secara formal akan
susah diberlakukan, tetapi penyimpangan dari interpretasi itu akan sulit dan bahkan
mustahil untuk dijustifikasi oleh praktisi dalam mendengar pendapat disipliner.
d. Kaidah Etika. penjelasan oleh komite eksekutif dari divisi etika profesional tentang
situasi faktual khusus.

Independensi
Persyaratan Independensi yaitu Independensi auditor dari perusahaan yang diaudit
adalah salah satu dasarnya persyaratan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap
keandalan laporan audit. Independensi menambah kredibilitas pada laporan audit di mana
investor, kreditor, karyawan, pemerintah dan pemangku kepentingan lain bergantung pada
pengambilan keputusan tentang perusahaan. Manfaat menjaga independensi auditor meluas
sampai ke tingkat efisiensi keseluruhan dari pasar modal.
Independensi adalah peraturan perilaku profesi yang pertama. Kode Perilaku
Profesional AICPA dan Kode Etik bagi Perilaku Profesional IESBA menyatakan bahwa
independensi terdiri dari dua komponen, yaitu : Independensi dalam berpikir mencerminkan
pikiran auditor yang memungkinkan audit dilaksanakan dengan sikap yang tidak bias.
Independensi dalam berpikir mencerminkan persyaratan lama bahwa anggota harus
independen dalam fakta; dan Independensi dalam penampilan adalah hasil dari interpretasi
lain atas independensi ini. Bila auditor independen dalam fakta tetapi pemakai yakin bahwa
mereka menjadi penasihat untuk klien, sebagian besar nilai dari fungsi audit telah hilang.
Securities and Exchange Commision (SEC) mengesahkan aturan-aturan yang memperkuat
independensi auditor pada bulan Januari 2003 sejalan dengan persyaratan Sarbanes-Oxley
Act. SEC membatasi ketentuan jasa nonaudit untuk klien audit, mencakup juga pembatasan
atas pengangkatan karyawan dari mantan karyawan kantor akuntan oleh klien dan rotasi
partner audit guna mempertinggi independensi. PCAOB menerbitkan aturan independensi
tambahan yang berkaitan dengan ketentuan jasa perpajakan tertentu. Ketentuan Sarbanes-
Oxley Act dan SEC yang membahas Independensi Auditor sebagai berikut:
1. Jasa Non Audit
Ketentuan Sarbanes-Oxley Act dan SEC membatasi, namun tidak benar-benar
menghilangkan jenis jasa non-audit yang dapat diberikan kepada klien audit yang
merupakan perusahaan terbuka. Jenis jasa non-audit yang tidak diperkenankan
antara lain: jasa pembukuan dan akuntansi lain; perancangan dan implementasi
sistem informasi keuangan; jasa penaksiran atau penilaian; jasa aktuarial;
outsourcing audit internal; fungsi manajemen dan sumber daya manusia; jasa
pialang atau dealer atau penasihat investasi atau bankir investasi; jasa hukum dan
pakar yang tidak berkaitan dengan audit; semua jasa lain yang ditentukan oleh
peraturan PCAOB sebagai yang tidak diperkenankan.
Kantor akuntan publik tidak dilarang melaksanakan jasa-jasa tersebut untuk
perusahaan swasta dan perusahaan publik yang bukan klien audit. KAP juga masih
dapat memberikan jasa yang tidak dilarang kepada klien audit perusahaan publik,
seperti jasa perpajakan kecuali kepada eksekutif yang bertanggung jawab terhadap
laporan keuangan, serta jasa perencanaan keringanan pajak. Jasa non-audit yang
tidak dilarang oleh Sarbanes-Oxley Act dan SEC harus terlebih dahulu disetujui
oleh komite audit perusahaan. Selain itu, KAP akan tidak independen jika partner
audit menerima imbalan karena menjual jasa kepada klien selain jasa audit, review,
dan atestasi.
2. Komite Audit
Komite audit adalah sejumlah anggota dewan direksi perusahaan yang
bertanggung jawab membantu auditor agar tetap independen dari manajemen.
Komite audit terdiri dari 3-5 orang direktur yang bukan merupakan bagian dari
manajemen perusahaan. Komite audit harus mencakup anggota yang independen,
dan perusahaan harus mengungkapkan dalam komite audit tersebut minimal ada
satu pakar keuangan.
Sarbanes-Oxley Act mensyaratkan komite audit bertanggung jawab atas
penunjukan, kompensasi, dan pengawasan atas kerja auditor dengan menyetujui
terlebih dahulu semua jasa audit dan not-audit dan mengawasi penyelesaian
ketidaksepakatan laporan keuangan antara auditor dan manajemen. Auditor
bertanggung jawab mengkomunikasikan semua hal yang signifikan yang
teridentifikasi selama pelaksanaan audit kepada komite audit. Ketentuan ini dapat
meningkatkan independensi dan peran komite audit. persyaratan tersebut
menambah independensi auditor dengan secara efektif membuat komite audit
menjadi klien bagi perusahaan publik, bukan manajemen perusahaan.
3. Konflik yang Timbul dari Hubungan Personalia
Penerimaan karyawan dari mantan anggota tim audit pada sebuah klien
meningkatkan masalah independensi. Menurut SEC, sesuai dengan persyaratan
Sarbanes-Oxley Act seorang anggota tim audit dapat bekerja dengan klien dan
menduduki posisi manajemen tertentu jika sudah “cooling off” selama satu tahun.
SEC juga menyatakan bahwa Kantor Akuntan Publik dianggap tidak independen
berkenaan dengan klien audit jika mantan partner, prinsipal, pemegang saham,
atau karyawan profesional dari kantor tersebut diterima bekerja klien dan
mempunyai kepentingan keuangan yang berkelanjutan dalam kantor akuntan
bersangkutan atau dalam posisi yang mempengaruhi kebijakan operasi atau
keuangan kantor akuntan tersebut.
4. Rotasi Partner
Sarbanes-Oxley Act dan SEC mengharuskan pimpinan dan partner audit
merotasi penugasan audit setelah 5 tahun. SEC mewajibkan “time out” selama 5
tahun kepada pimpinan dan partner audit sesudah rotasi sebelum mereka kembali
ke klien yang sama. Partner audit lainnya yang memiliki keterlibatan cukup besar
pada audit harus dirotasi sesudah tujuh tahun dan dikenakan time-out selama dua
tahun.
5. Kepentingan Kepemilikan
SEC mengatur hubungan keuangan berfokus pada perspektif penugasan dan
melarang kepemilikan pada klien audit bagi orang-orang yang dapat mempengaruhi
audit. Hal tersebut melarang setiap kepemilikan oleh orang-orang yang terlibat
dalam audit dan keluarga dekat mereka, termasuk: anggota tim penugasan; orang-
orang yang dapat mempengaruhi penugasan audit dalam rantai komando
perusahaan; partner dan manajer yang memberikan lebih dari 10 jam jasa non-audit
kepada klien; dan partner dalam kantor partner yang terutama bertanggung jawab
atas penugasan audit.

Peraturan Perilaku dan Interpretasi


Peraturan 101 AICPA menyatakan seorang anggota yang berpraktik untuk
perusahaan publik harus independen dalam pelaksanaan jasa profesionalnya sebagaimana
disyaratkan oleh standar yang dirumuskan lembaga yang dibentuk oleh Dewan. Dalam
Auditing Standards Boards (ASB) mensyaratkan para auditor yang mengaudit laporan
keuangan historis harus bersikap independen. interpretasi mengizinkan akuntan publik
melakukan audit dan menjadi direktur atau komisaris kehormatan bagi organisasi-organisasi
nirlaba (organisasi sosial atau keagamaan) sejauh posisi tersebut benar-benar jabatan
kehormatan.

Pemberlakuan Peraturan
Kelalaian untuk mengikuti peraturan perilaku dapat mengakibatkan pemecatan dari
AICPA. Hal ini tidak mencegah seorang akuntan publik untuk melakukan praktik akuntansi
publik tetapi merupakan sanksi sosial yang berat. Divisi etika profesional AICPA bertanggung
jawab untuk menyelidiki pelanggaran atas kode dan menentukan tindakan disipliner. PCAOB
memiliki kewenangan untuk menyelidiki dan mendisiplinkan kantor akuntan publik yang
terdaftar serta orang-orang yang terkait dengan kantor akuntan karena ketidaktaatan atas
Sarbanes-Oxley Act, termasuk peraturan PCAOB dan SEC yang mengatur audit perusahaan
publik. Saat ditemukan pelanggaran, PCAOB dapat menjatuhkan sanksi yang sesuai,
termasuk penangguhan atau pencabutan terhadap registrasi perusahaan, penangguhan atau
pembatasan individu dari pergaulan dengan kantor akuntan publik terdaftar, dan denda uang.