Anda di halaman 1dari 7

PANDUAN

PEMANTAUAN TERAPI OBAT DAN EFEK SAMPING OBAT

SERTA PELAPORANNYA

INSTALASI FARMASI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KUALA KURUN
TAHUN 2019
Jl. Ahmad Yani No. 43 Kuala Kurun
Kabupaten Gunung Mas
KEPUTUSAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KUALA KURUN
KABUPATEN GUNUNG MAS
NOMOR................

TENTANG

PEMBERLAKUAN PANDUAN
PEMANTAUAN TERAPI OBAT DAN EFEK SAMPING OBAT
SERTA PELAPORANNYA

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KUALA KURUN

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit


Umum Daerah Kuala Kurun, maka diperlukannya penyelenggaraan
farmasi yang bermutu tinggi;
b. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit
Umum Daerah Kuala Kurun, maka diperlukan Pemberlakuan Panduan
Pemantauan Terapi Obat dan Efek Samping Obat serta Pelaporannya
di Rumah Sakit Umum Daerah Kuala Kurun;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan
b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum
Daerah Kuala Kurun.

Mengingat : a. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan;


b. Undang-undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian;
d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :
KESATU : Pemberlakuan Panduan Pemantauan Terapi Obat dan Efek Samping
Obat setar Pelaporannya di Rumah Sakit Umum Daerah Kuala Kurun;

KEDUA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya, dan apabila


dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini maka
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Kuala Kurun


Pada tanggal......... April 2019

RSUD Kuala Kurun


Direktur,

dr. Rina Sari, M.M


Pembina Tingkat I
NIP. 19770925 200501 2 012
PANDUAN
PEMANTAUAN TERAPI OBAT DAN EFEK SAMPING OBAT
SERTA PELAPORANNYA

BAB I
DEFINISI

Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk
memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien.

Monitoringn Efek Samping Obat (MESO) adalah upaya, pekerjaan dan kegiatan memonitor
tiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan, yang terjadi padadosis yang
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi.

Pemantuan dan pelaporan Efek Samping Obat/ ESO (reaksi obat yang merugikan dan tidak
dikehendaki) adalah kegiatan pemantauan dan pelaporan setiap respon terhadap obat yang merugikan
atau tidak diharapkan, yang terjadi pada dosisn normal yang digunakan untuk tujuan profilaksis,
diagnosis, dan terapi.

BAB II
RUANG LINGKUP

Kegiatan tersebut mencakup pengkajian pilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respon
terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD), serta rekomendasi atau alternatif terapi.

Pemantauan dan pelaporan ESO, dikoordinasi oleh Komite Farmasi dan Terapi (KFT). Setiap
petugas kesehatan (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan, dan tenaga
kesehatan lain) yang mengetahui adanya ESO, wajib melaporkannya pada KFT.

Reaksi yang dilaporkan adalah reaksi yang sifatnya berat, tidak dikenal, atau frekuensinya
jarang yang terjadi pada asien rawat inap dan rawat jalan, baik belum diketahui hubungan kausalnya
maupun yang sudah pasti reaksi obat yang merugikan dan tidak dikehendaki.
BAB III
TATA LAKSANA

PTO harus dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada periode
tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi daat diketahui.
Kondisi pasien yang perlun dilakukan PTO antar lain :
1. Pasien yang masuk rumah sakit dengan multi penyakit sehingga menerima polifarmasi.
2. Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika.
3. Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal.
4. Pasien geriatri dan pediatri.
5. Pasien hamil dan menyusui.
6. Pasien dengan perawatan intensif.
7. Pasien penerima regimen yang kompleks ; polifarmasi, variasi rute pemberian, variasi aturan
pakai, cara pemberian khusus (inhalasi, drip intravena (bukan bolus)), dan sebagainya.

Metode pelaksanaan PTO adalah dengan mengunakan kerangka S-O-A-P sebagai berikut.
S: Subjective
 Data subjektif adalah gejala yang dikeluhkan oleh pasien.
 Contoh : pusing, mual, nyeri, sesak nafas.
O: Objective
 Data objektif adalah tanda/gejala yang terukur oleh tenaga kesehatan. Tanda-tanda objektif
mencakup tanda vital (tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, kecepatan pernafasan), hasil
pemeriksaan laboratorum dan diagnostik.
A: Assessment
 Berdasarkan data subjektif dan objektif dilakukan analisis terkait obat.
B: Plans
 Setelah dilakukan SOA maka langkah berikutnya adalah menyusun rencana yang dapat
dilakukan untuk menyelesaikan masalah.

Setelah data terkumpul, perlu dilakukan analisis untuk identifikasi adanya masalah terkait obat.
Masalah yang dapat ditemukan antara lain sebagai berikut :
1. Adanya indikasi terapi ntidak di terapi : Pasien yang diagnosisnya telah ditegakkan dan
membutuhkan terapi obat tetapi tidak diresepkan. Perlu diperhatiakan bahwa tidak semua
keluhan/gejala klinik harus diterapi dengan obat.
2. Pemberian obat tanpa indikasi, pasien mendapatkan obat yang tidak diperlukan.
3. Pemilihan obat yang tidak tepat. Pasien mendapatkan obat yang bukan pilihan terbaik untuk
kondisinya (bukan merupakan pilihan pertama, obat yang tidak cost effective, kontra indikasi)
4. Dosis terlalu tinggi
5. Dosis terlalu rendah
6. Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD)
7. Interaksi obat

Prosedur untuk PTO :


1. Apoteker memilih pasien sesuai kriteria
2. Apoteker membuat catatan awal pengobatan pasien
3. Apoteker memperkenalkan diri
4. Apoteker mengambil data yang dibutuhkan melalui wawancara dengan pasien
5. Apoteker melakukan evaluasi
6. Apoteker mengkomunikasikan ke dokter bila menemukan ketidaksesuaian

Prosedur untuk MESO :


1. Petugas farmasi membagikan blanko MESO kepada semua penaggung jawab ruang
perawatan.
2. Petugas farmasi menjelaskan prosedur dan tata cara pengisian blanko MESO yang telah
dibagikan (bisa dalam bentuk dikumpulkan sekelompok atau dalam suatu ruang pertemuan)..
3. Dokter dan perawat mengamati setiap kejadian yang dinilai atau dicurigai terkait efek
samping obat, ditulis dalam medical record atau blanko MESO yang tersedia.
4. Kepala ruangan perawatan, kepala Instalasi Rawat inap/rawat jalan atau DPJ melaporkan
hasil MESO kepada Inastalasi Farmasi dengan tembusan Ketua Komite Medik dan Ketua
KFT disertai bukti serah terima.
5. Kepala Instalasi Farmasi meninadak lanjuti laporan tersebut bersama staf tentang kronologis
lengkap kejadian tersebut dari sudut pandang farmasi.
6. Kepala Instalasi Farmasi merekap, menganalisis data laporan dan melaporkan kepada Ketua
KFT tembusan Ketua Komite Medik.
7. Kepala Instalasi Farmasi membuat konsep surat laporan MESO Rumah Sakit untuk di tanda
tangani Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kuala Kurun.
8. Kepala Instalasi Farmasi menyampaikan Lapoaran MESI keopada Kepala BPOM RI dan
Instansi terkait sesuai dengan ketentuan.

BAB IV
DOKUMENTASI

1. FORM Pemantauan Terapi Obat (PTO)


2. FORM Monitoring Efek Samping Obat (MESO)