Anda di halaman 1dari 20

STRUKTUR BETON LANJUT UNTUK STRUKTUR

PERENCANAAN CAMPURAN
( METODE SNI )

Oleh :
AGUS SUGIANTO

0
PERANCANGAN CAMPURAN METODE SNI

Rencanakan campuran beton dengan menggunakan data – data sebagai berikut:


Direncanakan sebuah balok struktur untuk pekerjaan beton dalam ruangan yang
lingkungannya non – kohesif, dengan mutu 24 MPa. Pengawasan pelaksanaan baik.
Agregat maksimum sebesar 20 mm. Data analisis saringan dicantumkan dalam Tabel.1.
Hasil pengujian laboratorium memberikan data sebagai berikut:
Pasir sungai Amuntai (Jenis I)
Pasir sungai Rantau (Jenis II)
Agregat Kasar Palu (Jenis III)
1. Analisa Saringan Agregat Kasar dan Agregat Halus
Tabel.1.1 Analisa Saringan Agregat
Ukuran Berat Tertahan (gram)
Agregat Halus
Saringan
Pasir I Pasir II
(mm)
5,00 0,00 0,00
2,36 13,50 125,00
1,18 8,50 150,00
0,60 18,20 255,00
0,30 474,20 280,00
0,15 343,60 140,00
Pan 142,00 50,00
Jumlah 1000,00 1000

Direncanakan campuran agregat untuk agregat halus 40 % Jenis I dan 60 % jenis II,
sedangkan untuk agregat kasar 100 % Jenis III. Gabungan antara agregat halus dan
agregat kasar direncanakan terletak antara 6,0 – 7,0. Semen yang digunakan adalah Tipe
I, agregat halus yang digunakan adalah agregat alami (pasir), agregat kasar yang
digunakan adalah buatan (batu pecah). Bentuk benda uji silinder.

Data – data lainnya adalah sebagai berikut:

Tabel 1.2 Data Fisik Agregat

1
Pasir Batu Pecah
(Agregat halus) (Agregat Kasar )
Sifat dan Karakteristik Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV
Berat Jenis (kondisi SSD) 2,400 2,378 2,730 -
Penyerapan Air (%) 3,075 8,290 2,670 -
Berat Volume 1,464 1,465 1,610 -
Kadar Air (%) 1,260 4,633 2,410 -
Penyelesaian:
Dari Tabel 1.1 dapat dihitung proporsi gabungan agregat halus agar masuk dalam zona
syarat gradasi. Pada Tabel.1.3 direncanakan proposi agregat halus I ( 40%) dan II
(60%).
Tabel. 1.3 Menghitung Agregat Halus Gabungan
Berat Persen Tertahan (%) Berat Lolos Berat Lolos
Ukuran Tertahan (gram) (gram) (%) Agregat Halus
Saringan 40% (I) Gabungan (V)
(mm) I II I II + Kum I II I II (40%I+60%II)
60% (II)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
5,00 0,00 0,00 0 0 0 0 1000,00 1000,00 100,00 100,00 100,00
2,36 27,00 32,00 2,70 3,20 3,00 3,00 973,00 968,00 97,30 96,80 97,00
1,18 15,50 32,00 1,55 3,20 2,54 5,54 957,50 936,00 95,75 93,60 94,46
0,60 23,30 32,50 2,33 3,25 2,88 8,42 934,20 903,50 93,42 90,35 91,58
0,30 456,20 447,00 45,62 44,70 45,07 53,49 478,00 456,50 47,80 45,65 46,51
0,15 342,00 328,70 34,20 32,87 33,40 86,89 136,00 127,80 13,60 12,78 13,11
Pan 136,00 127,80 13,60 12,78 13,11 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 1000,0 1000,00 100,00 100,00 100,00 157,34

2
Hasil hitungan Tabel.13 kolom (12) diplotkan grafik 3.1.a sampai 3.1.d. Pada soal ini,
hasil plotting masuk dalam syarat zona 1. didapatkan pasir gradasi kasar.

Tabel. 1.4 Menghitung Agregat Kasar Gabungan

Berat Persen Tertahan (%) Berat Lolos Berat Lolos


Ukuran Agreg
Tertahan (gram) (gram) (%)
Saringan Kasa
(mm) 100 % Gabun
III IV III IV Kum III IV III IV
(III)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12
63,00 0 0 0 0 0 0 16000,00 0,00 100,00 0,00 10
37,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 16000,00 0,00 100,00 0,00 10
20,00 6450,00 0,00 40.31 0,00 40,31 40,31 9550,00 0,00 59,69 0,00 5
10,00 8500,00 0,00 53,13 0,00 53,13 93,44 1050,00 0,00 6,56 0,00
5,00 820,00 0,00 5,13 0,00 5,13 98,56 230,00 0,00 1,44 0,00
2,36 230,00 0,00 1,44 0,00 1,44 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
1,18 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
0,60 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
0,30 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
0,15 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Pan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 16000,0 0,00 100,00 0,00 100,00 841,34

Dari Tabel 1.3 kolom (7) diperoleh MHB agregat halus gabungan sebesar 157,34/100
atau dibulatkan menjadi 1,57 dan Tabel 4 kolom (7) nilai MHB agregat kasar gabungan
841,34/100 sebesar 8,41. Menurut soal, MHB campuran direncanakan 6,0 – 7,0. diambil
nilai 6,25 didapat persentase agregat halus terhadap campuran dicari dengan
mengunakan persamaan : W = (K – C)/(C-P) x 100 %. Dengan, W = presentase agregat
halus (pasir) terhadap berat agregat kasar (krikil/batu belah), K adalah MHB agregat
kasar didapat 8,41 dan P adalah MHB agregat halus (1,57) serta C = Modulus halus
butiran agregat gabungan. W = (8,41 – 6,25)/(6,25 – 1,57) x 100% = 46,153%
dibulatkan menjadi 47%. Sehingga perbandingan agregat halus dengan agregat kasar
yang direncanakan 1:5,357 atau 5. Perhitungan proporsi agregat gabungan antara pasir
dengan agregat kasar dapat dibuat dengan cara tabulasi, seperti dalam Tabel. 1.5, untuk
mencari agregat gabungan (VI).
Tabel. 1.5 Menghitung Proporsi Agregat Gabungan

Ukuran Presentase lolos (%)


Saringan
(mm) Agregat Agregat Jumlah Agregat Jumlah Agregat
VI x 1 Vx5
Halus(VI) Kasar(V) Gabungan (VI) Gabungan (VI)/5

3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
63,00 0,00 0,00 0,00 500,00 500,00 100,00
37,50 0,00 100,00 0,00 500,00 500,00 100,00
20,00 0,00 59,69 0,00 298.45 298,44 59,69
10,00 0,00 6,56 100,00 32,81 132,81 26,56
5,00 100,00 1,44 100,00 7,19 107,19 21,44
2,36 91,96 0,00 91,96 0,00 91,96 18,39
1,18 82,62 0,00 82,62 0,00 82,62 16,52
0,60 66,59 0,00 66,59 0,00 66,59 13,32
0,30 30,82 0,00 30,82 0,00 30,82 6,16
0,15 8,68 0,00 8,68 0,00 8,68 1,74
Pan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Hasil agregat gabungan (kolom 7) diplotkan dalam Grafik 8.8. agregat gabungan untuk
diameter maks 40 mm (lihat grafik 3.2 a s/d 3.2 d), masuk antara kurva 1 dan kurva 2
(SK.SNI.T – 15 – 1990 – 03).

Hasil akhir hitungan proporsi agregat didapat dari Tabel1.6.


Tabel.1.6 Hasil Komposisi Agregat
Jenis Agregat Proporsi (%)
Agregat Halus
Jenis I 40 %
Jenis II 60 %
Agregat Kasar
Jenis III 100 %
Agregat Gabungan(VI)

4
Jenis IV 47 %
Jenis V 53 %

2. Tahapan Penyelesaian
1.Kuat Tekan Karakteristik (f`c)
Yaitu kuat tekan yang disyaratkan, kuat tekan beton karakteristik umur 28 hari
yang jumlah cacat tidak lebih dari 5 % artinya selisih kekuatan yang ada hanya
5 % yang diperbolehkan dari jumlah yang dites.

fc` = 24 Mpa

2.Deviasi Standar (Sd)


Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian
pelaksanaan pencampuran betonnya, makin baik mutu pelaksanaan makin
kecil nilai deviasinya.
 Jika pelaksanaan tidak mempunyai data pengalaman
atau mempunyai pengalaman kurang dari 15 buah benda uji, maka nilai
deviasi standar diambil dari tingkat pengendalian mutu pekerjaan di bawah
ini.

Tabel 2.1 Mutu Pelaksanaan Diukur dengan Deviasi Standar


Tingkat Pengendalian Standar Deviasi
Mutu Pekerjaan (MPa)
Memuaskan 2,8
Sangat Baik 3,5
Baik 4,2
Cukup 5,6
Jelek 7,0
Tanpa Kendali 8,4

 Jika pelaksana mempunyai data pengalaman pembuatan


beton serupa minimum 30 buah silinder yang diuji kuat tekan rata-ratanya

5
pada umur 28 hari, maka jumlah data dikoreksi terhadap nilai deviasi
standar dengan suatu faktor pengali.

Rumus: Sd = ( x  x ) 2

n1

Dimana x = tegangan untuk benda uji


n = jumlah data

Tabel 2.2 Faktor pengali Deviasi Standar Bila Data Hasil Uji yang Tersedia
Kurang dari 30

Jumlah Data 30 25 20 15 < 15


Faktor Pengali 1,0 1,03 1,08 1,16 Tidak boleh
Diasumsikan mutu pelaksanaan cukup sehingga diambil deviasi standar 5,6
Mpa dengan jumlah data diuji sebanyak 30 buah.
3.Nilai Tambah Margin (M)
Nilai tambah margin yang tergantung dari hasil kali deviasi Standar dimana
faktor k tergantung dari banyaknya cacat dan jumlah benda uji.

M = 1,64 . Sd
Dimana Sd = Standar Deviasi
k = Konstanta Kegagalan 5 % = 1,64
Rumus di atas berlaku jika pelaksana mempunyai data pengalaman
pembuatan beton yang diuji kuat tekannya pada umur 28 hari. Maka nilai M =
1,64 x 5,6 = 9,184 Mpa.
4.Kuat Tekan Rata-rata (f`cr)
f`cr= f`c + M
Dimana f`cr = Kekuatan tekan rata-rata (MPa)
f`c = Kekuatan tekan karakteristik (MPa)
Maka, fcr` = 24 + 9,184 = 33,184 Mpa
5.Jenis Semen
Menurut SII 003-81 semen Portland dibagi menjadi lima jenis
Jenis I : Semen untuk penggunaan umum, tidak memerlukan
persyaratan khusus

6
Jenis II : Semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas hidrasi
sedang
Jenis III : Semen untuk beton dengan kekuatan awal tinggi (cepat mengeras)
Jenis IV : Semen untuk beton yang memerlukan panas hidrasi rendah
Jenis V : Semen untuk beton yang sangat tahan terhadap sulfat

Semen yang digunakan ,semen Gresik termasuk semen Tipe I


6.Jenis Agregat
Tentukan jenis agregat kasar dan agregat halus. Adapun jenis agregat
dibedakan menjadi dua yaitu agregat alami (tak dipecah) dan batu pecah.
Jenis Pasir dan Kerikil adalah jenis alami

7.Faktor Air Semen


Faktor air semen rencana diperoleh dari ketiga cara, yaitu:

Cara Pertama
Grafik 2.1 Hubungan FAS dan Kuat Tekan Silinder Beton

33,184

7
0,515

Untuk fcr` = 33,184 MPa dan Umur 28 hari dan Jenis semen Tipe I
maka, Faktor air-semen didapat sebesar 0,515
Cara Kedua
 Tentukan nilai kuat tekan pada umur 28 hari dengan menggunakan
Tabel 2.3, sesuai dengan semen dan agregat yang akan dipakai.
 Lihat Grafik 2.2 untuk benda uji berbentuk kubus.
 Tarik garis tegak lurus ke atas melalui faktor air semen 0,5 sampai
memotong kurva kuat tekan yang ditentukan pada sub butir 2 di atas.
 Tarik garis mendatar melalui nilai kuat tekan yang ditargetkan
sampai memotong kurva yang ditentukan pada sub butir 3 di atas.
 Tarik garis tegak lurus ke bawah melalui titik potong tersebut untuk
mendapatkan faktor air semen yang diperlukan.

Tabel 2.3 Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) Dengan Fas 0,5
Jenis Agregat Kuat Tekan (MPa) Pada Umur
Jenis Semen
Kasar 3 Hari 7 Hari 28 Hari 91 Hari
Semen Portland Alami 17 23 33 40
(Tipe I, II, III) Batu Pecah 19 27 37 45
Semen Portland Alami 21 28 38 44
(Tipe III) Batu Pecah 25 33 44 48

Untuk Umur 28 Hari , Jenis Semen Tipe I didapat Kuat Tekan 33 MPa

Grafik 2.2. Hubungan Antara Kekuatan Tekan Beton dan Faktor Air
Semen

8
33

0,56

Faktor air-semen didapatkan dari persamaan garis lengkung untuk Umur


28 Hari dan Kuat Tekan 33 MPa, sebesar 0,56
8.Faktor Air Semen Maksimum
Nilai faktor air semen dengan melihat persyaratan untuk berbagai pembetonan
dan lengkungan khusus, beton yang berhubungan dengan air tanah
mengandung sulfat, dan untuk beton bertulang terendam air. Ketiga hal
tersebut terlihat dari tabel berikut ini.

Tabel 2.4 Persyaratan Faktor Air-Semen maksimum untuk Berbagai


Pembetonan dan Lingkungan Khusus
FAS
Uraian
Maksimum.

9
1. Beton di dalam ruang bangunan
a. Keadan keliling non korosif 0,60
b. Keadan keliling korosif 0,52
disebabkan kondensasi atau uap-uap korosif
2. Beton di luar ruang bangunan
a. Tak terlindung hujan dan terik matahari 0,55
langsung 0,60
b. Terlindung hujan dan terik matahari langsung
3. Beton yang masuk kedalam 0,55
tanah lihat tabel 2.6
a. Mengalami keadaan basah dan kering
bergantian lihat tabel 2.5
b. Mendapat pengaruh sulfat alkali dari
tanah atau air tanah
4. Beton yang kontinu berhubungan
dengan air

Tabel 2.5 Faktor Air Semen untuk Beton Bertulang dalam Air
Berhubungan dengan Tipe Semen Faktor Air Semen
Air Tawar Semua Tipe I – IV 0,50
Air Payau  Tipe I + Pozolan(15- 0,45
40)% atau S.P.Pozolan
 Tipe II atau V 0,50
Air Laut Tipe II atau V 0,45

Tabel 2.6 Faktor Air Semen untuk Beton Bertulang dalam Air
Konsentrasi Sulfat (SO3)
Dalam Tanah
SO3 dlm SO3 Dalam FAS
Total SO3 campuran Jenis Semen Maksimu
Air Tanah
m
% (g/l) (g/l)
air : tanah =2 : 1
< 0,2 < 1,0 < 0,3 Tipe I, dengan atau tanpa 0,50
Pozolan (15-40)%

10
0,2 – 0,5 1,0 – 1,9 0,3 – 1,2  Tipe I tanpa 0,50
Pozolan 0,55
 Tipe I +
Pozolan(15-40)% atau 0,55
0,5 – 1,0 1,9 – 3,1 1,2 – 2,5 S.P.Pozolan 0,45
 Tipe II atau V
 Tipe I + 0,45
1,0 – 2,0 3,1 – 5,6 2,5 – 5,0 Pozolan(15-40)% atau 0,45
> 2,0 > 5,6 > 5,0 S.P.Pozolan 0,45
 Tipe II atau V
Tipe II atau V
Tipe II atau V dan Lapisan
Pelindung
Untuk Bangunan di luar ruang keadaan sekeliling non kohesif bergantian didapat
nilai fas maksimum sebesar 0,60 (cara ketiga)

9.Faktor Air Semen Yang Digunakan


Nilai fas yang digunakan adalah nilai terendah dari nilai fas rencana dan fas
maksimum yaitu sebesar 0,450

10. Nilai Slump Beton


Nilai slump beton yang akan digunakan untuk memeriksa kekentalan suatu
adukan beton. Nilai slump juga dapat ditentukan sebelumnya, tetapi bila tidak
ditentukan nilai slump dapat diperoleh dari Tabel 2.7.

Tabel 2.7 Penetapan Nilai Slump


Slump (Cm)
No Uraian
Max Min

11
1 Dinding plat pondasi telapak bertulang 12,5 5,0
2 Pondasi telapak tidak bertulang, kaison, 9,0 2,5
dan konstruksi bawah tanah
3 Plat, balok, kolom, dan dinding 15,0 7,5
4 Pengerasan jalan 7,5 5,0
5 Pembetonan massal 7,5 2,5

Untuk penggunaan beton (balok dan kolom) dari tabel diambil Nilai
Slump sebesar 75 - 150 mm

11. Ukuran Maksimum Agregat


Penetapan butir maksimum diperoleh melalui pengayakan, dan tidak boleh
melebihi ketentuan-ketentuan berikut ini:
 ¾ kali jarak bersih minimum antar tulangan atau berkas baja
tulangan atau tandon prategang atau selongsong.

1
/3 kali tebal plat

1
/5 jarak terkecil antara bidang samping cetakan
Untuk penetapan butir maksimum dapat menggunakan diameter maksimum 40
mm, 20 mm, dan 10 mm.
Dari Soal didapatkan ukuran maksimum agregat 40 mm

12. Kebutuhan Air


Kebutuhan air ditentukan sebagai berikut:
 Agregat tak dipecah dan dipecah (Jenis agregat sama) dipergunakan tabel
2.8
 Agregat campuran (Jenis agregat berbeda) dihitung menurut:

A = 2/3 Ah + 1/3 Ak

Dimana, A = Kebutuhan air


Ah = perkiraan jumlah air untuk agregat halus
Ak = perkiraan jumlah air agregat kasar pada tabel 2.8
Karena Jenis agregat sama, dari tabel didapat kebutuhan air 175

12
Tabel 2.8 Penentuan Kebutuhan Air
Ukuran Max Slump (mm)
Jenis Agregat
Agregat (mm) 0 – 10 10 - 30 30 - 60 60 - 180
Alami 150 180 205 225
10
Batu Pecah 180 205 230 250
Alami 135 160 180 195
20
Batu Pecah 170 190 210 225
Alami 115 140 160 175
40
Batu Pecah 155 175 190 205

13. Kebutuhan Semen Rencana


Kadar semen merupakan jumlah semen yang dibutuhkan per m3 beton sesuai
faktor air semen yang didapat dari membagi kadar air bebas dengan faktor air
semen.
Kebutuhan Air
Kebutuhan Semen Re ncana 
Faktor Air Semen Re ncana

175
Kebutuhan Semen Re ncana  = 388,889 Kg
0,450

Maka Kebutuhan semen rencana 389 Kg

14. Kebutuhan Semen Minimum


Kadar semen minimum ditetapkan lewat tabel antara lain untuk menghindari
beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus misalnya lingkungan korosif,
air payau dan air laut.
Dari tabel 2.9 didapatkan kebutuhan semen minimum 275 kg

Tabel 2.9 Kebutuhan Semen Minimum untuk Berbagai Pembetonan dan


Lingkungan Khusus
Jumlah Semen Minimum
Uraian
Per m3 Beton (kg)

13
1. Beton di
dalam ruang bangunan 275
a. Keadan keliling non korosif
b. Keadan keliling korosif
disebabkan kondensasi atau uap-
uap korosif
2. Beton di 325
luar ruang bangunan
a. Tidak terlindung dari hujan dan 275
terik matahari langsung
b. Terlindung dari hujan dan terik
matahari langsung 325
3. Beton
yang masuk kedalam tanah lihat tabel 2.11
a. Mengalami keadaan basah dan
kering berganti-ganti lihat tabel 2.10
b. Mendapat pengaruh sulfat alkali
dari tanah atau air tanah
4. Beton
yang kontinu berhubungan dengan air
tawar/ payau / laut

Tabel 2.10 Kandungan Semen Minimum Beton Bertulang dalam Air


Ukuran Agregat (mm)
Berhubungan dengan Tipe Semen
40 20
Air Tawar Semua Tipe I – IV 280 300
Air Payau  Tipe I + Pozolan(15- 340 380
40)% atau S.P.Pozolan
 Tipe II atau V 290 330
Air Laut Tipe II atau V 330 370

14
Tabel 2.11 Kandungan Semen Minimum untuk Beton yang berhubungan
dengan Air tanah yang Mengandung Sulfat
Konsentrasi Sulfat (SO3) Kandungan
Dalam Tanah
Semen Minimum
SO3 Dalam (kg/m3)
SO3 dlm
Air Tanah Jenis Semen
Total SO3 % campuran (g/l)
(g/l) Ukuran Agregat
air : tanah =2 : 1
40 20 10
< 0,2 < 1,0 < 0,3 Tipe I, dgn atau tanpa 280 300 350
Pozolan(15-40)%
0,2 – 0,5 1,0 – 1,9 0,3 – 1,2  Tipe I tanpa Pozolan 290 330 380
 Tipe I + Pozolan
(15-40)% atau
S.P.Pozolan
250 290 430
 Tipe II atau V
0,5 – 1,0 1,9 – 3,1 1,2 – 2,5 340 380 430
 Tipe I + Pozolan
(15-40)% atau
S.P.Pozolan
290 330 380
 Tipe II atau V
1,0 – 2,0 3,1 – 5,6 2,5 – 5,0 Tipe II atau V 330 370 420
> 2,0 > 5,6 > 5,0 330 370 420
Tipe II atau V dan
Lapisan Pelindung

15. Kebutuhan Semen Yang Dipakai


Untuk menetapkan kebutuhan semen, yang dipakai adalah harga terbesar dari
kadar semen rencana dan kadar semen minimum.
Karena Kebutuhan semen rencana lebih besar dari kebutuhan semen
minimum, maka kebutuhan semennya 389 kg/m3

16. Penyesuaian Faktor Air-Semen

15
Tentukan faktor air semen yang disesuaikan jika jumlah semen berubah, maka
faktor air semen harus diperhitungkan kembali dengan:
 Jika akan menurunkan faktor air semen, maka faktor air semen dihitung
lagi dengan cara jumlah air dibagi jumlah semen minimum.
 Jika akan menaikkan jumlah air, maka jumlah semen minimum
dikalikan faktor air semen.
Karena kebutuhan semen tidak berubah maka tidak perlu penyesuaian,
jadi nilai fas 0,450 dan kebutuhan air sebesar 175 Liter

17. Persentase Agregat Halus dalam Campuran


Tentukan persentase agregat halus terhadap campuran berdasarkan nilai slump
120 mm, FAS = 0,450, dan besar nominal agregat maksimum 10 mm (Gambar
2.3.b). Didapatkan zona I maka proporsi campuran 55 % - 42 %. Dari hitungan
agregat campuran di dapat proporsi yang memenuhi syarat untuk agregat
campuran sebesar 47 %.
Grafik 2.3 Presentase Agregat Halus terhadap Agregat Keseluruhan

55%

42%

0,450

18. Berat Jenis Relatif Agregat Gabungan


Berat jenis relatif agregat ditentukan sebagai berikut:

 Apabila memiliki data (dari hasil uji) dapat menggunakan rumus:

16
BJ Ag.Gabungan = (% Agr. Halus x BJ Agr. Halus) +
(% Agr. Kasar x BJ Agr. Kasar)

Tabel. 2.12 Hitungan Berat Jenis Relatif


Pasir Batu Pecah
Uraian
(Agregat Halus) (Agregat Kasar)
Sifat dan Karakteristik Jenis I Jenis II Jenis III
Berat Jenis (kondisi SSD) 2,400 2,378 2,730
Proporsi dalam Campuran 40 % 60 % 100 %
Proporsi dalam beton 47 % 53 %
Berat jenis gabungan 0,4 x 2,400 + 0,6 x 1,00 x 2,730= 2,730
2,378 = 2,386.8
Berat Jenie relatif 0,47 x 2,386.8 + 0,53 x 2,730 = 2,568.696

19. Berat Jenis Beton


Tentukan berat jenis beton menurut Grafik 2.4 sesuai dengan kadar air bebas
yang sudah ditentukan dan berat jenis relatif agregat gabungan.
Grafik 2.4 Berat Jenis Agregat Gabungan

2320

2,569

175

Untuk kebutuhan air 175 Liter dan BJ Agr.Gabungan 2,569 Kg/m 3


didapat BJ Beton 2320 Kg.

17
20. Kebutuhan Agregat Gabungan (Berat Pasir + Berat Kerikil)
Kebutuhan Agr. Gab.= BJ Beton Basah – Kebutuhan Semen – Kebutuhan Air
Maka
Kebutuhan Agregat Gabungan = 2320 – 389 – 175 = 1756 Kg

21. Kebutuhan Agregat Halus


Kebutuhan. Agr.Halus = Kebutuhan Agr. Gab x % Agr. Halus
Maka
Kebutuhan Agregat Halus = 1756 x 47% = 825,32 Kg
22. Kebutuhan Agregat Kasar
Kebutuhan.. Agr. Kasar = Kebutuhan. Agr. Gab – Kebut. Agr. Halus
Maka
Kebutuhan Agregat Kasar = 1756 – 825,32 = 930,68 Kg

Proporsi Campuran :

Jadi proporsi campuran per meter kubik beton segar secara teoritis :
a. Semen Type I = 389 Kg
b. Air = 175 Liter
c. Agregat Halus (Pasir)
 Pasir Sungai Amuntai ( I ) = 330,13 Kg
 Pasir Sungai Rantau ( II ) = 495,19 Kg

d. Agregat Kasar (Rantau) = 920,68 Kg

Koreksi campuran dilakukan terhadap jumlah air yang terdapat dalam agregat dari
Tabel 2.13, untuk pelaksanaan di Laboratorium.

Tabel 2.13 Koreksi Campuran

18
Pasir Batu Pecah
(agregat Halus) (agregat kasar)
Jumlah
Sifat dan Karakteristik Jenis I Jenis II Jenis III -
Berat Jenis (kondisi SSD) 2,400 2,378 2,730 -
Penyerapan Air (%) 3.075 8.290 2.670 -
Kadar Air (%) 1.260 4.633 2.410 -
Komposisi Bahan Penyusun Beton
Semen Portland (kg) 389 389
Air (ltr) 175 175
Agregat (kg) 825.32 930.68 1756
Proporsi agregat (kg) 330.13 495.19 930.68 1756
Jumlah air yang terdapat (1.260 – 3.075) x (4.633 – 8.290) x (2.410 –2.670 ) x -26.52073
Dalam agregat (kg) (330.13/100) = (495.19/100) = (930.68/100) =
(-5.99186) (-18.10910) (-2.41977)
Koreksi Proporsi 330.13 +(-5.9918) 495,19+(-18.1091) 930.68+(-2.4197) 1729.2291
Agregat (kg) =324.1382 =477.0809 = 928.01
Koreksi kebutuhan air (ltr) 175 – (-5.99189-18.1091-2.41977) = 201.52 201.52
Komposisi koreksi Semen = 389 kg
Air = 201.52 ltr
Agregat Halus Jenis I = 324.1382 kg
Agregat Halus Jenis II = 477.0809 kg
Agregat Kasar Jenis III = 928.01 kg
Jumlah = 2319.7491 kg

19