Anda di halaman 1dari 4

A.

JUDUL PENELITIAN
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika dengan Model Pembelajaran
Problem Based Learning berbantuan Media Video Pembelajaran
(Suatu Penelitian Tindakan Kelas di Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bojongmanik)

B. LATAR BELAKANG
Kurikulum 2013 memberikan perhatian khusus terhadap mata pelajaran
matematika di SMA/SMK sederajat. Permendikbud No. 24 Tahun 2016 telah
merumuskan kompetensi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
mencapai untuk tujuan pembelajaran matematika. Tujuan pembelajaran
matematika adalah agar peserta didik memiliki kemampuan antara lain: (1)
memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat
dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan pola sebagai dugaan dalam
penyelesaian masalah, dan mampu membuat generalisasi berdasarkan fenomena
atau data yang ada; (3) menggunakan penalaran pada sifat, melakukan manipulasi
matematika baik dalam penyederhanaan maupun menganalisa komponen yang ada
dalam pemecahan masalah dalam konteks matematika maupun di luar matematika;
(4) mengkomunikasikan gagasan, penalaran serta mampu menyusun bukti
matematika dengan menggunakan kalimat lengkap, simbol, tabel, diagram, atau
media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; (5) memiliki sikap
menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan; (6) memiliki sikap dan
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam matematika dan pembelajarannya; (7)
melakukan kegiatan-kegiatan motorik yang menggunakan pengetahuan
matematika; (8) menggunakan alat peraga sederhana maupun hasil teknologi untuk
melakukan kegiatan-kegiatan matematika (Permendikbud No. 59 Tahun 2014).
Berdasarkan tujuan pembelajaran di atas, terlihat jelas bahwa kemampuan
matematika merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai oleh peserta didik.
Sehingga proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas merupakan suatu hal
yang serius untuk dilaksanakan. Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi
proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berkualitas apabila
peserta didik terlibat secara aktif, bersemangat dalam belajar dan memiliki rasa
percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, pembelajaran matematika dikatakan baik
jika menghasilkan peserta didik yang menguasai pembelajaran matematika.
Menurut Permendikbud No. 4 Tahun 2018 bahwa penilaian hasil belajar
peserta didik meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik
yang dikatakan tuntas apabila skor hasil belajar matematika peserta didik mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan. Oleh karena itu,
peserta didik harus mencapai KKM untuk setiap kompetensi dasar mata pelajaran
matematika yang telah ditetapkan sekolah. Oleh karena itu, peserta didik harus
mencapai KKM untuk setiap kompetensi dasar mata pelajaran matematika yang
telah ditetapkan sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti terhadap peserta
didik kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bojongmanik diperoleh data Penilaian harian
pada materi matriks, sebanyak 22 peserta didik dari 35 peserta didik tidak
memenuhi nilai KKM dengan nilai KKM 75. Artinya hanya 13 peserta didik yang
memenuhi KKM.
Melihat rendahnya hasil belajar matematika tersebut, peneliti mencari
penyebab yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar matematika peserta didik
melalui proses wawancara terhadap guru dan peserta didik serta melihat langsung
proses pembelajaran yang dilaksanakan. Berdasarkan pengamatan peneliti pada
proses pembelajaran yang dilakukan guru matematika di kelas XI IPA 1 SMA
Nergeri 1 Bojongmanik tahun pelajaran 2019/2020 terlihat bahwa guru masih
menjadi pusat semua aktivitas peserta didik dalam belajar.
Guru menggunakan metode pembelajaran ekpositori yaitu metode
pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan berupa definisi,
prinsip dan konsep terlebih dahulu serta memberikan contoh-contoh soal latihan
dalam bentuk ceramah, tanya jawab dan penugasan. Menurut penuturan guru,
metode ini dipilih karena lebih mudah untuk melihat dan menegur peserta didik
yang tidur atau main-main di kelas saat pembelajaran berlangsung. Hal ini menjadi
permasalahan sebab mayoritas peserta didik kurang memahami materi yang
diajarkan sehingga berdampak hasil belajar matematika yang tidak mencapai KKM.
Peserta didik juga menyatakan intensitas pengerjaan soal berupa permasalahan
kontekstual masih kurang. Guru biasanya hanya memberikan soal yang berupa
angka. Bahkan ketika peneliti memberikan sebuah permasalahan kontekstual untuk
dikerjakan, masih banyak peserta didik yang salah dalam menjawabnya. Hasil
wawancara yang dilakukan kepada peserta didik menunjukan bahwa kurangnya
penggunaan media pembelajaran membuat siswa jenuh. Media pembelajaran
merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi suatu
pembelajaran (Tasmalina dan Prabowo, 2018). Media pembelajaran sangat penting
untuk hubungan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Salah satu
fungsi utama dari media pembelajaran adalah membantu peserta didik dalam
mempelajari bahan pelajaran. Dengan adanya keluhan dari peserta didik terhadap
proses pembelajaran yang monoton dan membosankan, variasi media
Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya pembelajaran yang
memfasilitasi peserta didik agar kegiatan belajar lebih menarik dan bermakna. Jika
semua faktor yang mendukung proses pembelajaran tadi dapat diciptakan maka
akan terbentuk proses pembelajaran efektif, meningkatnya hasil belajar peserta
didik dan tercapainya tujuan pembelajaran matematika. Untuk itu perlu diterapkan
model pembelajaran yang membantu peserta didik berkomunikasi, mencerna,
memecahkan masalah untuk membuat pengetahuannya sendiri, dan
mengembangkan kegiatan peserta didik untuk mengkomunikasikan gagasan dalam
memecahkan masalah matematika untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Salah satu modelnya yaitu pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning).
Permendikbud Nomor 59 Tahun 2014 menyatakan bahwa pembelajaran
berbasis masalah (problem based learning) adalah pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan
baru. Agustin (2013) berpendapat pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) adalah model pembelajaran yang berorientasi untuk memecahkan
masalah. Dalam proses PBL dilakukan secara kolaboratif, di mana peserta didik
belajar dalam kelompok kecil yang terfasilitasi, sebagaimana mereka bekerja secara
individu (Mustofa, 2016). Penerapan PBL dengan berbantuan video pembelajaran
diharapkan dapat membantu guru untuk memperbaiki proses pembelajaran
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
“Apakah model pembelajaran Problem Based Learning dengan berbantuan
media video pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar matematika peserta
didik Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bojongmanik tahun pelajaran 2019/2020?”

D. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk
memperbaiki proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
matematika dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning
terhadap hasil belajar matematika peserta didik kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1
Bojongmanik tahun pelajaran 2019/2020.

E. MANFAAT PENELITIAN
Beberapa manfaat yang ingin didapatkan melalui penelitian ini ialah:
1. Bagi peserta didik, melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah
dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik
kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bojongmanik pada materi matriks.
2. Bagi guru, model pembelajaran berbasis masalah diharapkan dapat menjadi
salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan pada
pembelajaran matematika kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bojongmanik.
3. Bagi sekolah, model pembelajaran berbasis masalah diharapkan dapat
dikembangkan menjadi salah satu model pembelajaran dalam pembelajaran
matematika kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bojongmanik.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk
mengembangkan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam
pembelajaran matematika dalam ruang lingkup yang lebih luas.